.

.

.

Title: Tredici

Genre: Romance

Rating: T

Summary: Tiga belas tahun. Tiga belas tanggal penting. Tiga belas pengalaman pertama Byakuran dan Mukuro Rokudou. 10069.

Prompt(s): Pewaris.

Warnings: kemungkinan OOC, gay marriage, kemungkinan typo.

Disclaimer: Kateikyoushi Hitman Reborn © Amano Akira

.

.

.

.: 14 Maret, usia 20 tahun :.

~ First Contact After Awhile ~

.

.

.

"—Jadi, kesimpulannya, hanya tinggal menunggu hari hingga Hinagiku gulung tikar dan tidak ada lagi yang bisa mengancam kekuasaan kita di bidang busana bertema gothic."

"Dan kau menyarankan agar kita melebarkan sayap kita ke tema lain, seperti pakaian kasual?"

"Begitulah, Rokudou-sama."

Mukuro, yang duduk di kursi di belakang meja direktur, mengetuk-ngetukan jarinya pada bantalan tangan kursi berputarnya. Penasehat sekaligus wakilnya, seorang pria paruh baya yang sudah mengabdi pada perusahaan keluarganya sejak lama, diam tak bergeming menunggu keputusan sang direktur muda. Ketika ketukan pada bantalan tangan itu berhenti, keputusan yang ditunggu-tunggu tersebut itupun meluncur dari mulutnya.

"Baiklah. Kita akan coba membuat pakaian kasual yang modis, dimulai dengan jaket dan mantel. Lihat apakah masyarakat akan menyukainya, setelah itu kita bisa memikirkan untuk mulai membuat baju atasan."

"Saya mengerti. Saya akan minta para desainer untuk segera merancang beberapa desain. Anda bisa melihatnya besok."

"Terima kasih."

"Saya permisi, kalau begitu."

Pria itu membungkuk, memberi hormat kepada Mukuro, sebelum berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan. Pengusaha muda itu menghela napas dan menyandarkan punggungnya pada kursinya. Sudah setahun berlalu semenjak ia mengambil alih perusahaan ayahnya, namun ia tak kunjung terbiasa dengan segala rutinitas sebagai seorang direktur.

Hari masih siang namun ia sudah merasa bosan. Waktu pulang kerja masih lama dan ia tidak bisa pergi seenaknya karena ia harus menjadi contoh yang baik bagi para karyawannya. Padahal jika ia tidak bekerja seperti ini, jam segitu ia berada di rumah, menonton televisi ditemani kudapan lezat atau membaca buku favoritnya. Sayang ia tidak bisa melakukannya lagi.

Mukuro berdiri dan merenggangkan tubuhnya. Ia benar-benar merasa penat. Ia jadi tergoda untuk membuka jendela ruang kantornya, melongokkan kepala keluar jendela dan berteriak keras-keras. Barang kali ia bisa merasa lebih lega, begitu.

Sayangnya, sebelum ia sempat melaksanakan niatnya tersebut, pintu diketuk dua kali dan, tanpa perlu dipersilahkan, seseorang memasuki ruangan.

"Bosan, Onii-sama?"

"Sangat, Nagi." Mukuro tersenyum hangat menyambut sang adik. "Kencanmu dengan Hibari-kun sudah selesai?"

Nagi mengangguk mengiyakan seraya berjalan mendekati abangnya. "Peneliti di perusahaannya tiba-tiba saja menelepon setelah kami selesai makan siang, jadi dia harus membatalkan rencana kami untuk pergi nonton."

"Sayang sekali."

Mukuro sebenarnya tidak terlalu ambil pusing dengan hubungan antara Nagi dengan Hibari Kyouya, calon pewaris sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang bioteknologi. Tapi akhir-akhir ini pria yang lebih tua darinya itu tampaknya agak mengabaikan adiknya karena sibuk bekerja. Entah bagaimana perasaan Nagi karena diperlakukan seperti itu. Yang jelas, Mukuro tidak akan berbuat apa-apa sebelum ia melihat Nagi menangis.

"Tapi aku sempat membeli beberapa buku untuk kau baca." Gadis dengan surai hitam keunguan itu menunjukkan tas kertas yang ia bawa dan mengeluarkan isinya satu persatu. "Oh, ya. Seseorang meninggalkan kartu ini di meja resepsionis, jadi kubawa sekalian."

"Kartu?"

Mukuro mengambil kartu yang disodorkan Nagi. Bentuknya seperti kartu ucapan biasa, tidak ada yang aneh dari tampilannya. Hanya saja, ketika dibuka, isinya cukup mengejutkan. Tertulis di dalamnya:

Dear pemilik merek dagang Monochrome,

Aku menantangmu untuk mengikuti pertaruhan kecil untuk menentukan siapa yang terbaik di dunia industri fashion, Monochrome milikmu atau Mille Fiori milikku.

Pertaruhannya mudah saja: dalam waktu setahun Mille Fiori yang baru kudirikan akan lebih digemari daripada Monochrome milikmu. Jika sampai waktu saat itu aku tidak bisa memenuhinya, maka kau menang dan boleh meminta apa saja dariku—termasuk berhenti dari bidang ini. Jika aku yang menang, maka sebaliknya, aku boleh memintamu melakukan apa saja untukku.

Terima atau tidak, kau tahu cara untuk menyampaikan balasan tantangan ini padaku.

Di pojok kanan bawah kartu itu terdapat gambar bunga anggrek, yang menandakan identitas si pengirim tantangan. Mukuro menyeringai tipis. Ia tahu benar siapa orang nekat nan bodoh yang menulis kartu tersebut.

Tanpa perlu menunggu lama, ia meraih pena tintanya dan menuliskan sesuatu di atas gambar bunga anggrek tersebut. Setelah selesai, ia menutup kembali kartu tersebut dan menyodorkannya pada Nagi.

"Tolong antarkan kartu ini ke kediaman Gesso." Ujarnya. "Katakan padanya bahwa kado White Day-nya sangat menyenangkan."

Ya, kado, Mukuro tersenyum tipis setelah Nagi meninggalkan ruang kantornya. Kado yang berhasil mengusir rasa bosanku.

.

.

.

Bersambung...

.

.

.

Komentar?