Title: My Pretty Girl
Author : Dae Lee Moon
Genre : Romance, Family, Drama
Rate : T (GS)
Cast :
Do Kyungsoo a.k.a Kim Kyungsoo
Kim Jongin a.k.a Kim Jongin
And others!
.
.
.
.
Warning: GS (mianhae for DKS), Typo's Bertebaran, Tidak sesuai dengan EYD, Cerita Pasaran, GAJE, Alur Kecepetan, OOC.
Summary :Apa salah jika aku jatuh cinta padanya?/ "Aku tidak pernah berbohong padamu Kim Jongin!"-Kyungsoo/ "Mianhae.. jika aku harus menyingkirkanmu"- Jongin/ "Apa dia benar-benar ingin membunuhku..hiks"/ Bad Summary/GS!/KaiSoo in here. RnR plis!^^
.
.
.
.
.
Don't be a plagiator!
.
.
.
.
Tidak terima bash
.
.
.
Just my imajination
.
.
.
.
NO SILENT READER
.
.
.
.
.
.
YAKSOK?
.
.
.
.
.
.
Let's be a good reader and happy reading^^
.
.
My Pretty Girl
Chapter 10
.
.
.
Di hari pemakaman
Sehun ternyata masih belum juga menemukan keberadaan Kyungsoo.
Pemakaman ayah mereka baru saja selesai dua jam yang lalu. Dan Sehun belum juga melihat Kyungsoo mengisi perutnya sejak kembali bersama Jongin pagi tadi.
Sehun hanya ingin memberikan makanan yang ada di tangannya itu pada Kyungsoo. Sehun melangkahkan kakinya melewati dapur kemudian berjalan menuju taman belakang.
Tempat yang harus ia datangi adalah tempat-tempat yang sepi. Karena Sehun yakin, sekarang Kyungsoo sedang menyendiri di salah satu tempat untuk menghindari tamu-tamu mereka.
Tapi yang Sehun lihat di taman itu bukanlah Kyungsoo. Melainkan Krystal, bersama dengan seorang namja dengan gerak-gerik yang mencurigakan.
Sehun tidak dapat melihat wajah namja itu. Karena pria itu menggunakan masker hitam dan sebuah topi yang menutupi rambutnya. Dengan warna yang senada.
Sehun memilih untuk menjaga jarak dengan mereka dan bersembunyi di balik daun pintu sambil mengamati mereka berdua melalui celah jendela di sebelahnya.
Sehun sangat tidak sabar untuk mengetahui wajah yang disembunyikan di balik masker itu.
Jantung Sehun berpacu dua kali lebih cepat ketika namja itu hendak membuka maskernya. Tangannya yang masih setia membawa makanan untuk Kyungsoo pun ikut bergetar hebat.
Dan namja di balik masker hitam itu adalah...
Kim Jongin?
"Ani! Dia bukan Kim Jongin. Dia pasti hanya orang yang kebetulan mirip dengan Jongin" Sehun berargumen sendiri setelah melihat wajah asli namja itu.
Sehun sempat berpikir hingga ia tidak sadar telah berputar-putar di tempat yang sama.
"Dia hanya orang yang mirip... mirip... itu..DIA!"
Entah bagaimana Sehun berpikir, tapi sepertinya dia telah menemukan sesuatu.
Tapi sebelum Sehun berani mengambil langkah lebih jauh atau setidaknya hanya keluar dari tempat persembunyiannya, tubuhnya lebih dulu ditarik oleh seseorang untuk menjauh dari sana.
"Mwoya. Apa yang kau lakukan!" Sehun meronta.
Dan akhirnya berhasil melepaskan genggaman orang yang telah berani menariknya keluar.
Dia bukan orang biasa, tapi seorang wanita paruh baya.
Sehun pun melihat name tag wanita yang telah diketahui sebagai salah satu pelayan di rumah itu jika dilihat dari baju yang ia kenakan saat ini. Namanya Park Mi Nam.
"Ibu kepala?"
Sehun mencoba mencerna sesuatu dari nama itu. Kakaknya pernah sesekali menceritakan wanita paruh baya bernama Park Ni Man itu padanya.
Dan dari semua cerita tentang wanita ini adalah baik. Jadi Sehun tidak harus anti pati dengannya.
Tadinya Sehun sempat syok ketika tiba-tiba tubuhnya ditarik keluar. Sehun mengira dirinya telah ketahuan oleh Krystal dan orang yang mirip dengan Jongin tadi.
Heol. Untuk orang itu, Sehun tidak boleh melepaskannya begitu saja.
Seolah mengerti arti dari guratan di wajah Sehun, ibu kepala angkat bicara "Dia bukan Tuan Kim Jongin yang kau kenal".
Heol.
Sehun kembali dikejutkan oleh perkataan ibu kepala yang tiba-tiba itu.
"Arra. Keundae..."
"Ahjumma. Jongin dan Kyungsoo lebih sering memanggilku 'ahjumma' dan kau bisa menggunakan kata itu juga sekarang" timpalnya.
"Tapi ahjumma, darimana kau tahu?"
"Aku tahu sejak mereka datang untuk pertama kalinya ke rumah tuan besar yang dulu. Dan ini adalah kali pertama aku melihat dia lagi setelah 20 tahun"
"Mereka?" Sehun mengangkat sebelah alisnya karena bingung.
"Ya. Dia dan ayahnya"
"Kau sudah pernah bertemu dengan mereka secara langsung?" tanya ibu kepala menyelidik.
"Hanya dengan Kai" jawab Sehun.
"Kai? Dia bahkan berani memberitahukan nama aslinya padamu? Apa yang dia katakan?" Ibu kepala sempat dibuat heran dengan tindakan Kai yang terkesan blak-blakkan.
"Ani geunyang... aku tidak boleh mengatakan pada siapapun tentang keberadaannya" jawab Sehun ragu.
'Tinggalkan tempat ini. Aku memberimu dua pilihan. Menghilang sebelum aku yang menghilangkanmu. Atau tetap tinggal untuk melihat kakakmu yang cantik itu menjadi korban berikutnya?'
"Itulah yang aku ingat ahjumma" ungkap Sehun sedih.
SKIP
"Pertama kau harus menuruti kemauannya. Jangan sampai ada yang tahu tentang rencana ini"
"Arraseo.." Sehun hanya mengiyakan perkataan ahjumma.
"Kau harus meyakinkan kakakmu terlebih dahulu. Tapi jangan memaksanya. Jika itu tidak berhasil, maka kita gunakan rencana kedua"
Pada saat mereka sedang menyusun rencana itulah, Jongin tiba-tiba muncul menginterupsi mereka.
.
.
.
.
.
Pukul 10.00 KST at Incheon International Airport
Sehun sedang menunggu dengan cemas mendekati waktu keberangkatannya.
Meskipun pilihan yang ia ambil ini sangat bertentangan dengan keinginan mendiang kakeknya. Tapi Sehun tetap tidak peduli. Dia sudah yakin dengan pilihannya.
Bahwa inilah keputusan yang terbaik untuknya.
Sehun sangat berharap jika Kyungsoo muncul dan bersedia untuk pergi bersama dengannya. Ia sengaja datang satu jam lebih awal dari jadwal penerbangannya untuk hal itu.
Apa karena dia datang lebih awal sehingga Sehun sudah merasa terlalu lama menunggu kakaknya. Haruskah dia menelfon Kyungsoo sekarang?
Tuut tuut tuut
Sehun sudah berusaha untuk menghubungi kakaknya. Tapi panggilannya tak kunjung mendapat jawaban dari Kyungsoo.
.
.
.
.
.
"Anda tidak seharusnya menerima tantangan tadi, Presdir" ucap sekretaris Lee yang sedang berdiri tepat satu langkah di belakang Kyungsoo.
Mereka berdua baru saja masuk ke dalam lift setelah menghadiri rapat dadakan selama lebih dari satu jam yang lalu.
Rapat barusan bukanlah rapat biasa. Tapi juga tidak bisa dikatakan sebagai rapat yang cukup penting bagi perkembangan SM Group.
Karena pada intinya mereka hanyalah ingin mengguncang posisi Kyungsoo. Terlebih setelah mereka mengetahui bahwa ayah Kyungsoo baru saja meninggal dunia.
Mereka memang sungguh kejam. Bahkan ketika Kyungsoo sedang dalam suasana berkabung seperti ini mereka masih saja memaksanya.
Kyungsoo baru menyadari. Inilah yang disebut sebagai pertempuran yang sesungguhnya. Bahkan pada kenyataannya bisa jauh lebih sengit dari pada pertempuran dalam artian yang sebenarnya.
"Jangan memanggilku 'presdir'!" kata Kyungsoo tiba-tiba.
"Seperti yang mereka katakan tadi, aku tidak layak menyandang posisi ini sebelum aku berhasil menjawab tantangan mereka" kata Kyungsoo kemudian.
"Keundae.." sekretaris Lee mencoba menyela.
"Sudahlah. Bagaimanapun aku tetap harus mencobanya. Lagi pula aku belum melakukan apapun untuk perusahaan ini" kata Kyungsoo bijak.
"Jika tuan Kim Jongin ada di sana, dia pasti sudah menolak tantangan itu untuk Anda" sekretaris Lee menggerutu di belakang Kyungsoo.
"Benarkah? Aku tidak begitu yakin"
Memang. Jongin tidak ikut andil dalam rapat itu. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa ini merupakan rapat dadakan. Sehingga Kyungsoo pun tidak sempat menghubungi Jongin.
Tapi seandainya Kyungsoo tahu, Jongin sangat marah ketika mengetahui orang-orang itu telah membuat Kyungsoo terpojok di belakangnya.
Jongin langsung mendatangi ruang rapat itu ketika rapat tengah berlangsung. Namun sangat disayangkan. Jongin tidak diizinkan masuk dengan alasan dia datang terlambat.
Bagaimana dia tidak terlambat jika tidak ada seorangpun yang memberitahunya mengenai rapat itu. Jika saja Jongin masuk ke dalam ruangan pada saat itu juga pasti akan berbeda ceritanya.
Dan kini berakhirlah dengan Jongin yang menunggu Kyungsoo kembali tepat di depan ruangan Kyungsoo.
Jongin buru-buru mendekati pintu lift begitu pintu itu terbuka. Jongin yakin jika Kyungsoolah yang ada di dalam sana.
"Oh ya Tuhan!" Kyungsoo dibuat kaget.
"Kau membuatku hampir jantungan Tuan Kim!"
Kyungsoo benar-benar terkejut ketika melihat Jongin sudah berdiri di depan liftnya yang baru saja terbuka.
Tanpa aba-aba Jongin langsung menarik Kyungsoo keluar dan membawanya ke dalam ruangan Kyungsoo. Sekretaris Lee pun tidak sempat menghentikan aksi Jongin.
"Apa yang ada dipikiranmu Kyung!"
Begitu mereka berada di dalam ruangan Jongin langsung membentaknya. Nada bicaranya menyiratkan kemarahan juga kekhawatiran yang mendalam.
"Mwonde?"
Kyungsoo menghempaskan tangan Jongin dan menjauhi namja itu.
"Jelaskan padaku apa yang baru saja terjadi"
Jongin mencoba berbicara dengan nada yang lebih rendah agar emosinya tidak tersulut kembali.
Kyungsoo duduk di atas kursinya dengan tenang.
Sedangkan Jongin lebih memilih berdiri di samping jendela sambil menunggu penjelasan Kyungsoo tanpa melihatnya sekalipun. Matanya tertuju pada sebuah pemandangan di luar sana yang sebenarnya tidak menarik perhatiannya sedikitpun.
"Melihatmu yang datang dengan cara seperti ini dan langsung marah-marah padaku, aku yakin bahwa kau sudah tahu apa yang terjadi" jawab Kyungsoo.
"Bukan itu yang aku tanyakan!" sanggah Jongin tetap pada posisi awal.
"Ara. Kau ingin mendengar keputusanku bukan?"
Jongin tidak menjawab. Tentu saja itu yang ia inginkan.
"Mereka ingin aku menangani pabrik yang ada di daerah Mokyo, lebih tepatnya aku harus memperbaiki pabrik yang sudah busuk itu"
"Kau sudah tahu akan hal itu. Dan kau tahu apa yang mereka inginkan dari itu semua?" kini Jongin berbalik menatap Kyungsoo.
"Ara. 100 %.. ani. Bahkan 1000 % aku yakin bahwa mereka hanya ingin aku mundur" jawab Kyungsoo tegas.
"Kau tahu betul akan hal itu" Jongin kembali memandang ke luar.
"Aku sudah memperlajarinya. Pabrik itu sudah bermasalah bahkan ketika pabrik itu belum berdiri"
"Bagaimanapun, bahkan keadaannya berbalik sekalipun, aku tetap akan melakukannya" kata Kyungsoo lagi.
"Mwo! Michoseo?" Jongin mendatangi Kyungsoo.
Jongin menganggap Kyungsoo telah membuat keputusan yang sangat bodoh. Kyungsoo sama saja menggali kuburannya sendiri.
"Ani. Aku dalam keadaan yang sangat baik sekarang"
Sial. Jika sudah seerti ini Jongin tidak bisa berbuat apapun.
Kyungsoo baru saja membuka ponselnya dan dia mendapatkan puluhan panggilan tak terjawab. Kebanyakan panggilan itu dari Sehun dan Jongin.
Kyungsoo sempat melirik ke arah Jongin. Namun dia terlihat sedang melamun. Tapi Kyungsoo tahu dengan pasti bahwa lamunan Jongin sangat berbeda dengan lamunannya.
Ketika Jongin sedang melamun dengan wajah serius seperti itu, pasti karena dia juga sedang memikirkan sesuatu.
Dan ketika Kyungsoo melihat jam tangannya... Astaga. Dia melupakan sesuatu.
Kyungsoo mencoba menelfon orang yang telah dilupakannya berulang-ulang. Tepatnya adalah Sehun, tapi tak kunjung mendapat jawaban darinya.
"Ya ampun.. sekarang sudah jam 11 lewat. Sehun pasti sudah tinggal landas" gerutu Kyungsoo.
Kyungsoo membuka pesan video yang dikirimkan Sehun.
'Noona kau jahat! Aku kecewa padamu! Kenapa kau tidak datang! Kuharap kau akan segera menyusulku. Kalau tidak kau tidak akan melihat wajahku yang tampan ini lagi. Bye!'
Itulah yang dikatakan Sehun padanya.
"Mwoya.."
Tadinya Kyungsoo mengira akan mendapat amukan dari Sehun. Tidak disangka adiknya itu sangat imut.
"Wae? Apa apa?" Jongin penasaran.
"Pesan dari Sehun. Dia baru saja pergi ke China"
"Mwo!" Jongin berteriak keras sekali.
"Aishh.. kenapa kau terkejut seperti itu. Berlebihan"
"Tidak akan ada apa-apa. Ada banyak teman kami di sana"
"Bukan itu yang aku takutkan. Bagaimana dengan kuliahnya?"
"Dia sudah meninggalkannya" jawab Kyungsoo santai, sangat santai.
Kyungsoo mengemas berkas-berkasnya. Bersiap untuk meninggalkan ruangan itu.
"Kau mau kemana?"
"Kemana lagi memangnya? Aku harus bergerak cepat. Dan kau tidak boleh membantuku. Kau juga tidak boleh ikut bersamaku!" tegas Kyungsoo.
"Mwo? Kau juga akan pergi ke pabrik itu?"
"Geurom. Tentu aku harus melihatnya secara langsung. Baru aku bisa mengetahui apa yang salah dari pabrik itu"
"Aku ikut ne!" pinta Jongin.
"Jolthae andwae!" Kyungsoo tetap pada pendiriannya.
Jongin masih saja membuntuti Kyungsoo hingga keluar dari ruanggannya dan menemui sekretaris Lee di luar ruangan.
"Pak Lee, bisa ikut denganku?"
"Ne"
Mereka bertiga memasuki lift bersama.
"Bagaimana dengan kuliahmu? Kita akan segera wisuda" bisik Jongin. Dia tidak mau pak Lee mendengar ucapannya. Jongin bisa dibuat malu nanti.
"Aku sudah mengerjakan tugas akhirku. Untuk wisuda, anggap saja wisudaku ditunda beberapa bulan"
"Bagaimana bisa seperti itu!"
Ting
Pintu lift terbuka tepat di lantai di mana ruangan Jongin berada.
"Kha.. kembali ke ruanganmu"
Kyungsoo sengaja mengantar Jongin menuju ruangannya. Dia tidak mau Jongin mengikutinya sampai di lantai dasar.
Dengan berat hati Jongin keluar dari lift.
"Sampai jumpa.." ucap Kyungsoo sambil melambaikan tangannya.
"Yak! Yak! Kyungsoo-ya!"
Terlambat. Mau digedor-gedor sampai berkali-kalipun pintu itu tidak akan terbuka secepat itu.
Jongin kembali ke ruangannya dengan lesu. Jika dia tetap bertahan di sana, Jongin hanya akan mendapat malu karena banyak pegawai wanitanya yang sedang menatap Jongin heran.
Bagaimana bisa bos mereka yang biasanya sangat 'pelit' dengan suaranya itu mereka lihat tengah melakukan hal konyol. Sangat jungkir balik dengan image yang telah ia bangun selama ini.
.
.
.
.
.
"Nona, mohon Anda tunggu di sini. Saya akan mengambil mobil"
"Baiklah.."
Kyungsoo menunggu sekretaris Lee di lantai dasar. Posisi Kyungsoo sekarang tidak jauh dari pintu keluar.
Kyungsoo masih berdiri sambil mengecek berkas yang akan ia butuhkan nanti.
Saat sedang menata berkasnya kembali, Kyungsoo melihat dua anak kecil sedang berlari menyusul ibu mereka yang baru saja keluar dari cafe yang ada di dalam gedung SM Group.
Sepertinya mereka baru berkunjung ke cafe itu.
Seperti yang pernah Kyungsoo katakan sebelumnya, cafe itu dibuka untuk umum. Jadi tidak heran jika kalian melihat ada anak kecil atau orang asing yang berkeliaran di lantai dasar gedung.
Kembali ke anak-anak tadi. Ibu mereka sudah keluar dari gedung. Dan kedua anak itu menyusul ibu mereka ke arah Kyungsoo. Karena pintu keluar gedung itu tepat di belakang Kyungsoo.
Mereka anak laki-laki dan satunya lagi anak perempuan, sepertinya anak perempuan itu adalah kakaknya.
Si anak laki-laki tertinggal di belakang karena kalah cepat dengan sang kakak.
Bugh!
"Huwee..."
Dan anak laki-laki itu tiba-tiba saja tersungkur karena tersandung kakinya sendiri tepat dihadapan Kyungsoo.
"Ya ampun. Gwaenchana?"
Kyungsoo langsung menghampiri anak itu. Membantunya untuk berdiri kemudian berjongkok di depannya. Sedangkan anak perempuan itu keluar dari gedung untuk mengejar ibu mereka. Tadinya dia juga ikut berhenti ketika adiknya terjatuh.
"Hajima... huwe...eomma..."
"Cup...cup... mereka akan segera kembali hm..."
Kyungsoo terlihat sedang mencari sesuatu dari dalam tasnya.
"Tada! Mau permen?"
Ternyata Kyungsoo mengeluarkan sebuah permen lolipop berukuran lumayan besar berbentuk hati. Dan hebatnya anak itu langsung berhenti menangis ketika Kyungsoo memberikan permen itu padanya.
"Gomawo noona"
"Eh?" Kyungsoo terkejut dengan panggilan itu.
"Noona? Ahh.. memang wajahku ini masih terlihat imut kan? Hehehe"
"Adik kecil, siapa namamu?" tanya Kyungsoo lagi.
"Nae irreumi..."
Anak kecil itu mengulurkan tangan kecilnya pada Kyungsoo.
Nginggg~~
Tiba-tiba saja kepala Kyungsoo terasa sangat pusing. Dia seperti telah mereasakan de javu yang Kyungsoo sendiri tidak tahu ingatan siapa yang ada di kepalanya itu.
"Agassi...agassi... gwaenchana?"
Kyungsoo tersadar kembali ketika ia merasa ada yang mengguncang-guncangkan tubuhnya. Dia adalah ibu dari anak kecil tadi.
"Oh.. gwaenchana, nan gwaenchana.."
Kyungsoo memijat pelipisnya. Dia sudah merasa lebih baik sekarang. Tapi dia belum bisa berdiri sendiri.
"Nona, anda baik-baik saja?" Sekretaris Lee terlihat sangat khawatir begitu melihat Kyungsoo terkapar di sana. Dia membantu Kyungsoo berdiri lalu memapahnya.
"Chakkaman. Apa mereka anak-anakmu?" tanya Kyungsoo pada ibu itu.
"Ah ne, mianhae telah merepotkanmu agassi. Tadi saya sedan buru-buru"
"Gwaenchana, anakmu lucu. Kalau begitu saya permisi, geurom"
.
.
.
.
.
"Anda benar-benar tidak papa noona? Apa perlu kita ke rumah sakit sekarang?"
"Ani. Aku baik-baik saja"
"Haruskah saya memberi tahu Tuan Kim tentang kondisi Anda?"
"Tidak. Jangan. Jangan menghubunginya"
Beberapa kali Sekretaris Lee melihat Kyungsoo melalui kaca sepion di dalam mobilnya. Kyungsoo masih terlihat memikirkan sesuatu sambil terus saja memijat pelipisnya. Mereka dalam perjalanan menuju bandara.
"Apa anda masih merasa pusing?"
"Oh? Ani geunyang..."
Baru saja Kyungsoo sempat bertatapan dengan sekretaris Lee melalui spion.
"Aku seperti mengingat sesuatu. Ini bukan pertama kalinya. Waktu itu saat aku tersesat di hutan aku juga mengalami hal ini. Tapi yang tadi itu, aku tidak bisa mengingatnya"
Kyungsoo terlihat seperti orang ling lung. Dia mencoba mengingatnya kembali. namun semakin ia berusaha untuk mengingatnya, kepalanya akan berdengung dan itu membuat kepalanya semakin sakit.
"Kalau boleh saya tahu, ingatan seperti apa itu nona?"
"Hmm.. hanya dua anak kecil... yang sedang bermain trampolin bersama. Selanjutnya...akh!"
Mendengar Kyungsoo berteriak, sekretaris Lee segera menepikan mobil mereka.
Kyungsoo merintih kesakitan. Dia menyerah. Hanya sebatas itu yang bisa diingatnya.
"Anda baik-baik saja?"
"Sudahlah nona, jangan dilanjutkan" mereka melanjutkan perjalanannya kembali.
.
.
.
.
.
Setelah melakukan perjalanan udara selama kurang lebih dua jam akhirnya mereka sampai di Mokyo. Kyungsoo dan sekretaris Lee.
Mereka harus transit terlebih dahulu di sebuah hotel untuk menginap selama beberapa malam. Setelah itu barulah Kyungsoo akan mengunjungi pabrik.
"Nona, taxi anda sudah siap di depan loby hotel"
"Oke kita berangkat sekarang pak Lee!"
Taxi pun meluncur ke daerah pabrik itu berada.
"Bukankah kita terlihat seperti pasangan ayah dan anak yang sedang berlibur bersama?"
"Apa yang anda bicarakan nona?"
Sekretaris Lee tahu pasti jika Kyungsoo sedang merindukan ayahnya. "Ah tidak! Keundae.. semakin aku memikirkannya, aku menjadi semakin ingin bertanya. Apa dulu di rumah haraboji ada trampolin?"
"Ye? Tram-po-lin?" Sekretaris Lee terlihat kebingungan.
"Ne. Bentuknya lingkaran terbuat dari karet. Biasanya dipakai oleh anak-anak kecil untuk bermain dan melompat-lompat"
"Ah.. benda itu. Sepertinya sekarang masih ada di sana"
"Eh?" Kyungsoo mengangkat sebelah alisnya.
"Ne, benda itu selalu berada di teras rumah besar kakek Anda yang dulu"
"Ah.. benarkah?"
"Wae? Apa yang Anda pikirkan? Apa Anda mengingat sesuatu?"
"Ne, sepertinya begitu. Aku melihat ada anak kecil yang rambutnya dikuncir kuda menggunakan ikat rambut berbentuk pororo. Sepertinya itu aku. Dan aku sedang bermain trampolin bersama seorang anak laki-laki, tapi aku tidak bisa mengingat siapa anak laki-laki itu"
"Ah.. jadi Anda mengingatnya. Sepertinya anak laki-laki itu adalah Tuan Kim Jongin saat kecil"
"Ye? Kim Jong-in?"
"Ne. Sepertinya Anda belum bisa mengingat masa-masa itu"
"Ye?" kepala Kyungsoo kembali berputar.
'Mwoya. Apa ini. Aku tidak bisa mengingat apa? Kenapa bisa seperti itu?'
"Argh. Aku pusing. Bisa kau jelaskan padaku apa yang terjadi pada masa-masa itu pak Lee?"
"Jusunghamnida, tapi saya tidak yakin"
"Tidak masalah.." Kyungsoo hanya ingin mendengarnya sekarang juga.
"Menurut cerita yang pernah saya dengar, saat Anda berusia 5 tahun Anda pernah mengalami trauma masa kecil yang sangat luar biasa. Itu terjadi setelah Anda dan ayah Anda meninggalkan rumah besar"
"Ani. Ayahku meninggalkan rumah itu bukan karena kemauannya"
Kyungsoo terlihat marah. Dia teringat kembali akan kejahatan yang telah pamannya lakukan pada keluarganya. Dan itu yang membuat Kyungsoo muak pada Jongin, dulu.
"Jusunghamnida, tapi itulah yang saya dengar. Dan karena trauma yang sangat menyiksa itu, anda kehilangan semua ingatan di masa lalu. Dan.."
"Dan itu masih berlaku sampai sekarang?" tanya Kyungsoo tak percaya.
Jadi inilah alasan kenapa dia sangat sulit untuk mengingat wajah ibunya. Tawa ibunya. Dan suara ibunya ketika sedang memanggil namanya. Oh tuhan, Kyungsoo sampai menitihkan air matanya.
"Mianhamnida..." sekretaris Lee merasa bersalah karena telah membuat Kyungsoo kembali merasakan kesakitan itu.
..
Kyungsoo turun dari taxi dengan lemah. Bahkan sekretaris Lee sampai harus menuntunnya untuk berjalan. Mereka baru saja sampai di tempat tujuan.
"Kyungsoo-ya! Gwaenchana?"
"Eoh?"
Kyungsoo mendongakkan kepalanya ketika mendengar seseorang memanggilnya begitu cemas. Suara itu terdengar familiar di telinganya.
"Chanyeol sunbae!"
"Ne. Ini aku. Ada apa denganmu, apa kau sakit?"
Tanpa mempedulikan Kyungsoo yang sepertinya kaget dengan kemunculannya , Chanyeol lebih mengurusi rasa khawatirnya pada Kyungsoo.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini sunbae?"
"Aku? Menunggumu" Jawab Chanyeol sembari tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
.
.
.
.
.
.
TBC
..
ANNYEONG...
Kembali lagi nih, nggak lama kan?
Walaupun saya tdk bisa buat jadwal update sendiri (takut gak bisa sesuai jadwal), tapi saya usahakan akan update secepat mungkin.
Saya akui chap kemarin itu pendek bingit. Dan chap ini juga nggak kalah
Yang pengin KaiSoo lovely-dovely di chap ini kayaknya belum bisa
..
Kebanyakan review kalian itu
'sebenernya Jongin jahat apa baik sih?'
Semua cash disini aslinya baik-baik, yang jahat adalah saya yang sudah membuat karakter mereka menjadi nggak jelas seperti itu.
Jongin kadang baik, kadang jahat.
Iya itu benar.
Gimana cara jawabnya yah..
Jongin di cerita ini awalnya jahat, terus gedenya jadi tambah jahat, mulai baik, jadi baik, baik banget, kembali jahat, kadang baik. Aduh susah juga yah.
Biar lebih jelas baca aja kelanjutannya ye..
Yang tanya My Pretty Girl bakalan Sad/Happy ending~
Well, kita bakalan tahu di chap akhir. #ngumpet
Oh ya! Itu summary saya ambil dari chapter akhiran. Jadi tunggu aja
..
Ceritanya bikin kepo.
saya memang sengaja bikin kayak gini, biar rada beda dikit sama cerita yang lain.
Di chap ini sepertinya all cash sudah keluar.
Jadi tinggal mempertemukan mereka semua. Yeey~
Pintu-pintu rahasia sudah mulai terbuka.
Yang bisa saya katakan adalah semua yang terlihat di dalam cerita ini bukanlah segalanya. Jadi hati-hati dengan kata-kata yang memiliki makna tersembunyi.
Saya harap cerita ini tetap menjadi bacaan wajib kalian sampai kita bertemu di akhir chap nanti.
..
Annyeong~
#pyong#
