Main cast : Luhan , Sehun , Chanyeol
Main pairing : HanHun , ChanHun
Genre : Psyho , romance
Rated : M
Note : BoyxBoy
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kedua sosok itu saling bertatapan. Lelaki bersurai hitam itu sesekali mengecup jemari mungil milik lelaki yang satunya yang sedang ia genggam erat.
Angin yang masuk melalui jendela yang terbuka sedikit membuatkan malam itu lebih dingin dari malam-malam yang lain. Namun, kedinginan itu tidak mampu untuk membuatkan kedua sosok itu merasakan kesepian ataupun kesunyian.
Karna mereka sudah mendapatkan apa yang bisa membahagiakan hidup mereka.
Mereka mendapatkan kembali cinta yang dulunya pernah menghilang.
Mereka melengkapkan keluarga mereka yang dulunya terpisah jauh.
" Maafkan aku, Sehunna. Selama ini, selama kau tak ada di sisi ku, aku seperti orang gila yang tidak mempunyai hala tuju."
Sehun menggeleng kecil. Gilirannya mengecup jemari Lu Han yang dipegang itu.
" Aku tak bisa bilang yang aku tidak apa-apa selama ini, ge. Tapi mulai sekarang, mulai detik ini, aku ingin memulaikan semuanya. Aku ingin membina cerita dengan mu semula. Aku, kau dan juga Hanse." Bisiknya pada Lu Han. Keheningan kamar itu membuatkan suasana menjadi kelam. Hanse sudah lama tertidur di perantaraan mereka berdua. Anak itu memeluk sang ayah dengan erat.
Lu Han melirik Hanse yang sedang tertidur lena sembari memeluknya. Wajah kecil itu kelihatan seperti malaikat saat ia tidur. Bibir yang hampir sama dengan Sehun itu mengerecut kedepan, begitu imut sekali. Ia mengecup penuh kasih puncak kepala anaknya.
Iya, anaknya. Dan Lu Han berjanji dengan nyawanya bahawa ia akan menjaga Hanse sepenuh hatinya.
Hanse dan Sehun.
Lu Han tidak akan pernah melepaskan mereka lagi.
" Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kalian berdua. Aku tidak ingin kehilangan mu lagi, Sehunna." Suaranya lirih dan Sehun bisa merasakan takut kehilangan melalui lirihan itu.
" Tidak akan, ge. "
Lama mereka bertatapan, Lu Han mengangkat tangannya dan menekap pipi mulus Sehun. Mengelus nya dengan sayang sebelum membisikkan kalimah itu.
" Mau kah kau menikahi ku, Sehun ? Aku berjanji akan menjaga dan mencintai mu sepanjang kehidupan ku."
Lu Han bisa merasakan pipi yang dipegangnya itu memanas. Suasana kamar itu gelap tapi Lu Han tau wajah manis Sehun pasti sedang merona sekarang. Memikirkan betapa wajah merona Sehun sangat indah, membuatkan senyuman terukir di wajah nya.
" Ge, kau sedang melamarku ?"
" Iya, Sehun."
" Kau tidak romantis sekali ! Setidaknya pikir lah tempat yang romantis untuk melamar ku. Bukan saat ini. Bukan saat kita baring di atas kasur dengan Hanse yang sedang tertidur."
Lu Han tercengir. " Aku tidak tau bagaimana mau romantis, Sehunna. Yang ku tau, aku hanya ingin memilikimu seutuhnya. Aku hanya ingin menatap wajahmu sewaktu aku bangun di pagi hari untuk selamanya. Dan aku inginkan Hanse ada di setiap detik dengan kita berdua."
Semakin panas. Lu Han tertawa kecil saat merasakan pipi mulus Sehun semakin memanas yang mana menandakan bahawa pipinya semakin memerah.
" Pipimu panas, Sehunna."
Mendengar ucapan itu, Sehun buru-buru menepis jauh telapak tangan Lu Han yang menekap di pipinya. Ia beralih memeluk anaknya yang sedang tidur membelakanginya itu. Sehun memeluknya erat dan menengelamkan hidung mancung di helaian rambut hitam milik Hanse yang harum seperti bayi itu.
" Aku mau tidur. Dan jangan ketawa, ge. Itu tidak lucu. Hanse bisa bangun mendengar tawa jelek mu itu."
Lu Han tetap saja tertawa. Ia melirik dua sosok yang berhasil membuatkan kehidupan nya menjadi sempurna itu. Dengan lengannya yang kokoh, Lu Han memeluk Sehun, mengecup puncak kepala lelaki yang sudah ia cintai separuh nyawa itu.
" Hey, kau belum menjawab soalan ku, Sehunna. Mau kah kau menikahiku ?"
Sehun mendongak. Menatap Lu Han dengan mata indahnya.
" Aku mau, ge. Tanpa kau mendengar jawapan ku, kau tau kan
"
" Aku mencintaimu, Sehunna. "
Sontak ia tersenyum manis. " Aku juga mencintaimu, Lu ge."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi itu Chanyeol memasuki perusahaan dengan senyuman lebar menghiasi wajah tampannya. Di sebelah tangan kanannya ada segelas kopi panas dan di sebelah lagi ada satu minuman khusus yang sangat disukai oleh seseorang.
Saat dia memasuki ruang kantornya, rakan-rakan nya yang lain sudah duduk di meja masing-masing. Sontak mata bulatnya mencari sosok yang mampu membuatkannya tersenyum lebar begini.
Dan saat menemukan wajah manis yang sedang tersenyum lebar kepada Suho itu, Chanyeol melajukan langkahnya.
" Pagi, hyung !" Sapanya ceria. Dan senyuman nya menghangat saat matanya bertatapan dengan milik mata indah itu. " Dan selamat pagi, Sehunna." Suara bass nya bahkan berubah lembut.
" Selamat pagi, hyung !"
Tidak seperti hari-hari biasa, Sehun kelihatan lebih hidup hari ini. Kelihatan lebih berseri dengan senyuman manis yang menghiasi wajah indahnya. Matanya bahkan terbentuk bulan sabit.
Dan Chanyeol harus akui, betapa ia merindukan senyuman tulus itu.
" Wah, kau membawakan minuman untukku, Yeol ?"
Suara halus Suho menyentak lamunannya. Ia melirik kopi dan Bubble tea di tangannya itu.
" Maaf, hyung. Aku hanya membawakan Bubble Tea untuk Sehun. "
Sontak Suho mempout bibirnya sok kesal. Tidak lama ia kembali memasangkan senyuman lembut bak malaikatnya.
" Tidak apa, Yeol. Lagian aku hanya bercanda. "
" Maaf, yah hyung."
Suho menggeleng kecil. Ia meninggalkan kedua sosok manusia itu dan memasuki ruangannya.
" Bubble tea, Hunna." Ucapnya sembari menghulurkan cup berisi Chocolate itu.
Sehun melirik cup itu sebelum tersenyum kecil. " Terima kasih, hyung. " dan menyambut huluran cup Bubble tea itu.
Chanyeol tersenyum lebar. Ia ikut menghirup kopi pahitnya itu dan anehnya rasa pahit itu seperti digantikan dengan rasa manis saat melihat Sehun. Lelaki manis itu kelihatan bercahaya di bawah sinaran suria yang menerangi bumi. Surainya ditiup angin kelihatan begitu lembut, membuatkan Chanyeol ingin menyentuhnya, membelainya sama seperti saat dia memiliki lelaki itu.
Senyumannya sempat memudar saat melihat cincin yang menghiasi jari manis Sehun.
" Cincinnya cantik. "
Chanyeol bisa melihat kedua pipi milik Sehun merona. Pandangan matanya berubah hangat. Tidak seperti saat pertama kali mereka bertemu semula setelah lima tahun berpisah. Sekarang, saat ini, detik ini, sinaran di mata indah itu kelihatan cantik. Seolah mengatakan bahawa dia sedang bahagia. Sinaran yang sangat berbeda saat Sehun menjadi miliknya.
" Lu Han ge datang kepada ku, hyung. Dan dia melamarku."
Deg
Deg
Deg
Air kopi yang tadinya terasa manis sekarang berubah pahit. Senyuman nya kelihatan sangat tidak padan di wajah tampannya. Bahkan jemarinya bergetar.
" Lu Han ?"
Mata indah itu menatapnya hangat. " Iya, hyung. Lu ge kembali untukku. Dia juga menceritakan kalian bertemu beberapa hari yang lalu. Terima kasih, hyung. Terima kasih karna masih mau memaafkan kami berdua. Aku merasa berdosa kepada mu. "
Tidak.
Apakah dia akan kehilangan Sehun sekali lagi ?
Chanyeol memerhati benak mata yang indah itu. Begitu indah. Begitu penuh dengan sinaran.
Chanyeol tidak akan pernah bisa merampas sinar itu. Tidak jika sinaran itu bisa membahagiakan Sehun.
" Hyung."
Seolah baru sadar dalam mimpi, Chanyeol kembali melakarkan senyuman khususnya. Ia beralih memeluk lelaki yang masih ia cintai itu. Menghirup aroma yang tidak pernah berubah meskipun lelaki yang ia cintai itu sudah menginjak dewasa. Merasakan bagaimana tubuh mungil itu tetap sama meskipun bukan miliknya lagi.
" Semoga berbahagia, Sehunna. Apapun terjadi, kau tetap dongsaeng ku. Dan bilang sama dia, jangan pernah berani untuk melukai dongsaeng kesayangan ku. Akan ku patahkan lehernya."
Dia tersenyum lirih saat mendengar kekehan dari Sehun. Hatinya terluka namun tidak apa. Memang dari awal Sehun tidak akan pernah menjadi miliknya lagi. Chanyeol hanya bisa mendoakan kebahagiaan lelaki yang ia cintai.
" Kau memang terbaik, hyung. "
Chanyeol menutup matanya pelan. Mengabaikan setetes airmata yang jatuh membasahi pipinya.
' Selamat tinggal, cinta pertama ku. '
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hanse tidak berhenti mengoceh itu ini semenjak dia keluar dari sekolah. Tangan mungilnya mengenggam erat tangan kokoh Lu Han. Sesekali ia akan tersenyum lebar menampakkan matanya yang berbentuk bulan sabit. Sesekali pula ia akan tertawa nyaring.
" Papa, Saem bilang Hanse anak yang baik. Apa papa juga rasakan Hanse anak yang baik ?"
Lu Han tersenyum kecil mendengar pertanyaan polos itu. Ia menyamakan ketinggiannya dengan Hanse.
" Anak papa anak yang paling baik di dunia. Anak papa sudah bisa menjaga mama nya dengan baik saat papa tak ada di sini." Diiringi dengan kecupan hangat di pipi tembam anak kecil itu.
Merasa senang dengan jawapan itu, Hanse memeluk erat leher sang ayah. Berteriak senang karna sudah berhasil membuat sang ayah memujinya sebagai anak yang baik.
Kedua sosok itu menuju ke mobil hitam yang sudah terparkir di hujung jalan. Lu Han membuka pintu di sebelah pemandu dan menutupnya apabila Hanse sudah duduk dengan nyamannya. Kemudian buru-buru memasuki tempat pemandu.
" Kita akan kemana, pa ? " bocah lelaki itu bertanya dengan sinaran di mata nya. Mata rusa yang mirip sekali dengannya itu.
" Menjemput mama dan ke kafe favorit Hanse." Tangannya naik untuk mengusap puncak kepala anaknya itu.
Ia tersenyum kecil saat melihat Hanse tertawa riang begitu mendengar mereka akan menjemput Sehun.
Lu Han mulai menghidupkan enjin mobil dan memulaikan perjalanan mereka. Sesekali ia akan melirik Hanse dan mengusap kepala bocah itu dengan kasih sebelum kembali fokus ke jalanan.
Beberapa menit kemudian, mobil hitamnya berhenti di parkir gedung di mana Sehun bekerja. Ia melirik jam tangannya dan mengeluarkan ponsel saat melihat jarum panjang itu menunjuk ke jam lima.
" Helo, sayang ?"
" Lu ge ! "
Tersenyum mendengar panggilan itu, Lu Han melirik Hanse. " Kami sedang menunggu di bawah. "
" Sebentar. Aku akan turun sebentar lagi."
" Baiklah. Jangan tergesa-gesa, Hunna. "
Lu Han menyimpan kembali ponselnya sebelum memberikan senyuman untuk anaknya itu. Memberikan usapan lembut pada puncak kepala Hanse, Lu Han melirik ke gedung di mana Sehun berkerja.
Beberapa menit kemudian, bibirnya mengukir senyuman saat melihat sosok yang ia tunggu itu muncul. Dan dia tidak berseorangan. Sehun datang bersama sosok lelaki jangkung di sisinya.
" Chanyeol..." senyuman yang tadinya menghiasi bibirnya mati. Pikirannya dihujani dengan bertubi-tubi persoalan.
Apakah pikiran Sehun sudah berubah ?
Apakah cinta itu kembali datang untuk Chanyeol ?
Lu Han tidak tahu. Pikirannya dipenuhi dengan pelbagai andaian yang sangat tidak membantunya saat ini. Bahkan Hanse yang menguncang pelan lengannya juga tidak disadarinya.
" Papa, kenapa diam ? Mama sudah ada di luar sana dengan temannya. "
Lu Han menoleh seketika kepada Hanse sebelum kembali melirik Sehun yang masih betah tertawa di samping lelaki jangkung itu.
Tidak lama ia mendesah lemah. Bukan, lebih kepada putus asa. Memangnya kalau pilihan Sehun berubah, ia tidak akan menghalang. Pilihan Sehun adalah kebahagiannya. Jadi Lu Han tidak akan menghalang sebarang andaian itu daripada terjadi.
Ia mencoba mengukir senyuman dan menoleh ke arah anaknya. Perlahan ia mengusap surai lembut itu dan memberi isyarat agar mereka turun dari mobil.
Hanse mengenggam erat jemari nya sembari tersenyum lebar. Lebar sekali.
" Ge."
Suara lembut Sehun mengisi gegendang telinganya. Lu Han disapa dengan dua sosok yang berdiri di depannya. Yang satunya memberikan senyuman termanisnya sementara yang satu lagi memasang senyuman yang terkesan ... bagaimana yah ... seperti menyedihkan.
" Selamat, Bro."
Huh ?
" Maaf, ge. Aku memberitahu Chanyeol hyung soal kita. Tidak apa-apa kan ?" Pipi lelaki pujaan nya itu bersemu kemerahan. Ia tersenyum malu saat mata mereka bertembung dan hatinya menghangat.
" Tidak apa dan Chanyeol, terima kasih."
" Hmm, aku masuk ke mobil duluan yah. Ayo Hanse." Seperti mengerti, Sehun menarik pelan tangan kecil Hanse dan masuk ke mobil hitam Lu Han yang terparkir, meninggalkan Lu Han dan Chanyeol.
" Best man wins. "
" Chanyeol, maafkan aku."
Lu Han bisa melihat raut wajah Chanyeol yang terluka meskipun ia tersenyum lebar seperti biasa.
" Kalau kau membuatnya menangis atau terluka, aku tidak teragak-agak merampasnya kembali !" Ucap Chanyeol. Meskipun nadanya kedengaran main-main, Lu Han bisa mengesan keseriusan nya.
" Aku akan membahagiakannya dengan nyawa ku, Chanyeol."
Lelaki jangkung itu tersenyum kecil, ia menghulur tangannya dan Lu Han menyambutnya.
" Sekali lagi, selamat hyung."
" Terima kasih, Chanyeol."
Chanyeol berlalu pergi setelah memberikan senyuman kecil kepada Sehun yang sudah duduk dengan nyaman di dalam mobil.
Perlahan Lu Han melangkah mendekati mobil hitamnya. Sedetik perasaan tidak nyaman menghinggap dalam hati. Desahan pelan kedengaran.
Dan saat ia mendongak, seolah semua perasaan itu pergi begitu saja.
Kini, di depan matanya, ada sosok yang selama ini ia idamkan sedang tersenyum manis kepadanya.
Di depan matanya, ada Sehun sedang tersenyum. Senyuman yang selama ini menghantui tidurnya. Senyuman yang selama ini ia anggap tidak akan pernah ia miliki.
Sehun menyambutnya masuk ke dalam dekapan.
Lu Han membenamkan hidung mancung nya dalam helaian rambut milik lelaki idamannya itu. Membiarkan haruman Sehun memompa denyutan nadinya. Membiarkan haruman Sehun menenangkannya.
Senyuman hangat menghiasi wajahnya.
' Maafkan aku, Chanyeol. Tapi... aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa sosok ini.'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#short update.
Maafkan Chiey karna otak Chiey tidak bisa menghasilkan update yang lebih panjang.
Chiey akan usahakan untuk memanjangkan lagi chapter depan !
Thanks for support and reading my story _
Love you so strong, kekeke ~
Kiss&Hugs
