Je t'aime

Genre : Drama, Hurt/Comfort

Cast : Lee Sungmin, Cho Kyuhyun and other

Rate : T

Warning : Genderswitch, OOC, bad diction, miss typing, RE-PUBLISH, RE-EDIT, RENAME

Disclimer : Fict ini sudah pernah di-publish sebelumnya dengan judul yang berbeda. I just borrow their name as the cast of this story. All belongs to God and this story is absolutely mine. Please don't read if you don't like this story


Chapter 9 : It's Really Him


Kyuhyun bergerak berbalik membelakangi ruang tamu setelah beberapa saat membeku di ambang pintu ruang tamu keluarga Lee. Ia tidak tahan melihat pemandangan menyayat hati di depannya. Seumur hidupnya baru kali ini Kyuhyun benar-benar menyesali apa yang telah diperbuatnya.

Sesak. Seperti ada sebongkah batu besar yang menghimpit paru-parunya. Dan juga perih. Hatinya seperti tercabik oleh taring harimau yang begitu tajam. Mengoyak hatinya sampai remuk tak bersisa.

Air mata perlahan menerobos kelopak matanya. Lelehan air bening itu turun tanpa bisa dicegah.

Kyuhyun melangkah pelan meninggalkan mansion keluarga Lee. Tidak berniat memberi selamat atas pertunangan Sungmin dan tunangannya— Siwon.

Demi Tuhan, Kyuhyun benar-benar tidak sanggup melihat Sungmin dan Siwon bersanding di depan sana. Ia merasa dunianya hancur. Karena Sungmin, pusat dunianya kini telah berada dalam dekapan orang lain. Yang seharusnya dia 'lah yang berada dalam posisi itu.

Sungmin menatap Kyuhyun yang perlahan bergerak menjauh dari pandangannya, dari balik dada bidang Siwon yang terbalut tuxedo hitam. Air mata yang sejak tadi menggenangi pelupuknya turun semakin deras. Seluruh persendiannya terasa lemas. Ia butuh sesuatu untuk dijadikan sandaran.

Tangannya yang semula terdiam di atas tuxedo Siwon bergerak mencengkeram kerah tuxedo Siwon erat. Siwon merasakan cengkeraman kuat Sungmin di tuxedo-nya. Ia lalu menunduk untuk menatap Sungmin.

Pria itu terkejut mendapati Sungmin semakin menangis dalam diam. Menurutnya tangisan Sungmin sudah tidak seperti tangisnya yang tadi. Ada kesedihan yang terpancar dari mata gadis itu.

"Kau menyesal?" Siwon bertanya lirih. Tepat di telinga Sungmin. Ia tidak mau orang-orang mendengar ucapannya dan juga Sungmin.

Sungmin menggeleng pelan. "Aniyo," ia membalas lirih.

"Kau tidak bahagia?" Siwon kembali bertanya. Tangannya bergerak menyeka air mata di pipi Sungmin.

Sungmin menatap Siwon dengan mata basahnya. Ia terkejut mendengar pertanyaan pria itu. Dengan cepat ia menggeleng. "Aniyo," ucapnya lalu memutuskan pandangannya dari Siwon dan menunduk.

"Aku bahagia. Sangat bahagia, oppa. Hanya saja…aku tidak percaya jika kita sudah bertunangan," ujar Sungmin terpaksa berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Bahwa ia menangis karena memutuskan untuk melupakan Kyuhyun.

Siwon tersenyum lembut. Ternyata ia hanya terlalu berprasangka setelah melihat reaksi Sungmin, membuatnya sedikit merasa bersalah.

"Syukurlah. Kukira kau menyesal bertunangan denganku. Terima kasih sudah mau bertunangan dengan denganku, Minnie-ya," ucapnya pelan lalu mencium kening Sungmin. Sungmin hanya bisa mengangguk pelan dalam dekapan Siwon. Ia tidak mampu membalas ucapan pria itu.

'Mianhaeyo, oppa.'

Sungmin membatin pedih. Dalam hati ia berjanji tidak akan memikirkan tentang Kyuhyun lagi, karena ia tidak mau menyakiti Siwon dan membohongi pria itu untuk kesekian kali.


Kyuhyun mendudukkan tubuhnya di kursi VIP bar hotelnya setelah meminta bagian bar untuk mengosongkannya. Ia tidak ingin ada seorang pun di sana yang akan mengganggunya.

Selepas meninggalkan mansion keluarga Lee, Kyuhyun mengemudikan mobilnya ke hotelnya. Entah mengapa tempat itu yang tiba-tiba terpikirkan di benaknya yang tengah kacau. Kyuhyun hanya ingin menenangkan diri. Setidaknya jika ia mabuk nanti, tidak terlalu merepotkan jika ia berada di hotel miliknya sendiri.

Kyuhyun sudah memesan beberapa botol whiskey. Minuman alkohol berkadar tinggi yang selalu dipesannya ketika laki-laki itu sedang kacau. Seperti hanya alkohol yang mampu menenangkan pikirannya. Meski hanya sementara dan berakhir dengan hangover yang menyiksanya di pagi hari.

Laki-laki itu mulai menuangkan whiskey ke dalam gelas kosong di depannya, kemudian meneguknya pelan. Kyuhyun menghela nafas setelah meminum setengah isinya. Ia mengeluarkan ponselnya. Menekan beberapa deret nomor yang dihafalnya di luar kepala, lalu mendialnya.


Donghae menatap penuh memuja kepada Eunhyuk. Kekasihnya itu berdandan dengan sangat cantik malam ini, dengan A-Line dress di atas lutut berwarna biru muda yang menampakkan kaki halusnya. Rambutnya digerai dengan hiasan tiara kecil, dan juga riasan natural yang semakin mempercantik wajahnya. Sepasang stiletto hitam juga menghiasi kedua kakinya. Sangat serasi dengan Donghae yang mengenakan setelan jeans hitam dan kemeja biru muda.

"Kita pergi sekarang?" Eunhyuk tersipu ditatap seperti itu oleh Donghae.

"Ne? Ah, ya. Tentu saja," Donghae menjawab tergugu. Suara Eunhyuk menyadarkan Donghae akan pesona Eunhyuk.

Donghae beranjak dari duduknya di sofa, lalu berjalan menghampiri Eunhyuk yang berdiri beberapa meter dari sofa yang didudukinya.

"You're so beautiful, my lady." Donghae berbisik tepat di telinga Eunhyuk, kemudian mengulurkan tangannya.

Pujian Donghae membuat Eunhyuk merona. "Thank you."

Eunhyuk menyambut uluran tangan Donghae. Donghae tersenyum lalu menggandeng Eunhyuk keluar dari apartemen gadis itu. Mereka akan berkencan malam ini.

Drrrttt… Drrrttt…

Baru beberapa langkah meninggalkan apartemen Eunhyuk, langkah mereka sudah diinterupsi oleh getaran panjang ponsel Donghae. Sepertinya ada telepon.

Donghae berdecak kesal. Ia terpaksa melepaskan genggaman tangannya di tangan Eunhyuk.

"Sebentar, sayang," ucapnya kemudian meraih ponsel dari dalam saku celananya.

"Ne," Eunhyuk tersenyum melihat wajah kesal Donghae. Sangat lucu menurutnya.

Dahi Donghae berkerut melihat siapa yang sedang meneleponnya.

"Siapa?" Eunhyuk bertanya ketika melihat kerutan di wajah kekasihnya.

"Kyuhyun." Donghae menjawab singkat sebelum menerima panggilan itu. Perasaannya mengatakan jika ada sesuatu yang tidak beres dengan Kyuhyun. Laki-laki itu tidak mungkin menghubunginya jika tidak terjadi sesuatu.

Eunhyuk memberikan isyarat untuk mengaktifkan pengeras suara ponselnya. Donghae menurut lalu mengaktifkan pengeras suara itu.

"Ne, Kyu," jawabnya.

"Hyung," suara Kyuhyun terdengar serak dari ujung sana. "Bisakah kau menemaniku?"

Donghae melirik ke arah Eunhyuk sebelum menjawab. Ia meminta pendapat kepada gadis itu.

"Baiklah. Kau ada di mana?" Donghae berujar berat setelah mendapat anggukan kepala dari Eunhyuk. Ia merasa sepertinya kencan mereka akan batal malam ini.

"Di bar hotel kita. Ruang VIP."

"Baiklah. Aku akan segera ke sana," Donghae kembali berujar berat.

"Gomawo, hyung," ucap Kyuhyun sebelum mematikan sambungan telepon itu.

Donghae mendesah berat setelah telepon itu terputus. "Kurasa kita akan batal berkencan malam ini," ujarnya lirih seperti sebuah gerutuan.

Eunhyuk tersenyum lalu meraih wajah Donghae. Membelai lembut pipi kekasihnya. Ia tahu jika Donghae sebenarnya kesal karena kencan mereka memang harus dibatalkan.

"Gwaencaha. Kita masih bisa berkencan besok. Kyuhyun lebih membutuhkan kita," Eunhyuk berucap menenangkan.

Donghae menggenggam tangan Eunhyuk yang berada di pipinya. "Hm," kedua sudut bibirnya ikut tertarik membentuk senyuman. Eunhyuk memang pengertian. Ia sangat beruntung mendapatkan gadis itu.


Kyuhyun melepaskan jasnya dan melemparnya asal ke kursi kosong di sampingnya. Menyisakan kemeja putih yang melekat pas di tubuhnya. Laki-laki itu kemudian kembali meneguk wishkey di gelasnya— gelas yang kesekian kali, lalu membiarkan gelas itu kembali kosong tanpa berniat mengisinya.

Tangan kanannya mengepal erat, mencengkeram gelas dengan lapisan kaca tipis di tangannya dengan begitu kuat. Kyuhyun terus menekan benda dari kaca itu dengan kuat dan semakin menguat. Terus menekannya seolah ingin menghancurkannya dengan tangan kosong.

"Arrgghhh!" Kyuhyun berteriak meluapkan semua emosinya. Perasaan kesal, sedih, menyesal dan juga marah. Semuanya keluar begitu saja seiring dengan semakin menguatnya tekanan tangannya pada gelas itu.

Lagi. Tanpa bisa dicegah, bulir air mata kembali mengalir turun dari pelupuknya. Rasa sakit saat melihat Sungmin bersanding dengan orang lain kembali menyerangnya. Membuat Kyuhyun semakin menekan gelas itu hingga jari-jarinya memerah. Seolah ingin mengenyahkan rasa sakit itu dari dalam dadanya dengan menjadikan gelas itu sebagai pelampiasan.

PRANG!

Akhirnya gelas itu tidak mampu lagi menerima tekanan tangan Kyuhyun. Gelas itu pecah dan hancur di tangan Kyuhyun. Membuat darah mengalir dari telapak tangan dan sela-sela jarinya.

Kyuhyun menatap tangannya yang terus mengeluarkan darah. Ia tersenyum miris menahan tangis. Rasa sakit di tangannya akibat pecahan kaca itu tidak terasa. Justru rasa sakit dihatinya yang terasa sangat perih. Kyuhyun meremas pecahan gelas itu dalam genggamannya. Ia bahkan tidak peduli jika pecahan kaca itu akan masuk ke dalam tangannya. Ia hanya ingin mengungkapkan betapa perih hatinya saat ini.

Donghae menuntun Eunhyuk masuk ke dalam ruang VIP bar di Shappire Hotel. Beberapa menit lalu mereka sampai di hotel tempat mereka bekerja itu.

"Ya Tuhan!" Eunhyuk memekik melihat keadaan Kyuhyun sambil menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. Ia melihat Kyuhyun duduk dengan tangan bercucuran darah. Tangannya seperti tengah meremas sesuatu.

Donghae melepaskan genggaman tangannya dari tangan Eunhyuk lalu menghampiri Kyuhyun. Ia menarik tangan Kyuhyun yang tengah meremas sesuatu dan menghempaskan sesuatu dalam genggaman Kyuhyun, yang ternyata adalah pecahan gelas kaca.

"Ya! Apa yang kau lakukan?! Kau ingin mati kehabisan darah?!" Donghae berteriak marah di depan Kyuhyun. Ia hanya terkejut melihat Kyuhyun hingga berteriak seperti ini.

"Sepertinya akan lebih baik jika aku mati, hyung," Kyuhyun menjawab lirih.

Eunhyuk menatap Kyuhyun iba. Gadis itu segera berlari keluar mencari kotak P3K. Luka Kyuhyun harus segera diobati. Ia tahu Donghae bisa mengatasi Kyuhyun.


"Tahan sebentar, Kyu," Eunhyuk membasuh luka Kyuhyun dengan air garam hangat untuk membersihkan tangan Kyuhyun yang terkena pecahan gelas kaca. Beruntung tidak ada serpihan kaca yang masuk ke tangan Kyuhyun. "Bagaimana bisa kau menghancurkan gelas itu dengan tanganmu?" Eunhyuk berujar sedih.

Kyuhyun hanya terdiam. Tidak ada ringisan yang keluar dari bibirnya saat Eunhyuk mengeringkan lukanya. Rasa sakit dari luka di tangannya tidak sebanding dengan luka yang menghantam dadanya.

"Sebenarnya ada apa denganmu, Kyu?" Donghae bertanya prihatin. Ia duduk di sebelah Kyuhyun yang sedang diobati Eunhyuk.

Kyuhyun tidak langsung menjawab. Ia terdiam cukup lama. "Hyung…kalian memang benar," Kyuhyun menjawab kemudian. Menjawab dengan ambigu.

"Ne?" Donghae bertanya tidak mengerti.

"Kalian benar. Aku memang mulai mencintai Sungmin saat itu. Rasa itu bukan sekedar rasa bersalah ataupun simpati. Dan sekarang aku benar-benar mencintainya. Tapi aku sudah terlambat," Kyuhyun berujar serak.

"Terlambat? Apa maksudmu, Kyu?" Donghae kembali bertanya.

"Malam ini, Sungmin sudah bertunangan dengan orang lain. Aku benar-benar sudah terlambat, hyung," Kyuhyun menjeda ucapannya.

"Aku benar-benar sudah kehilangannya. Dan aku benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan gadis sebaik dirinya," Kyuhyun menumpahkan semuanya. Air matanya kembali bergulir. Mengundang rasa iba Eunhyuk yang tengah membalut lukanya dengan perban.

Eunhyuk dan Donghae tidak pernah melihat Kyuhyun serapuh dan seputus asa ini. Laki-laki itu tidak pernah menyiksa dirinya seperti ini. Bahkan saat mengenang hari pernikahannya dengan Ryeowook yang tak pernah terwujud pun tidak separah ini. Eunhyuk segera menghentikan pergerakannya memperban luka Kyuhyun. Membawa Kyuhyun ke dalam pelukannya.

"Aniya," Eunhyuk mengusap lembut punggung Kyuhyun. Menenangkan laki-laki itu. "Kau belum benar-benar terlambat, Kyu. Kau masih punya kesempatan."

"Benarkah aku masih punya kesempatan?" Kyuhyun melepaskan pelukan Eunhyuk. Memandang gadis itu tak percaya.

Donghae menepuk pelan bahu Kyuhyun. "Ne. Eunhyuk-ie benar. Kau masih punya kesempatan, Kyu. Aku yakin Sungmin masih mencintaimu. Buatlah dia kembali kepadamu."

"Tapi kau tidak boleh memaksanya. Jika dia lebih memilih tunangannya, maka kau harus berhenti dan melepaskannya," kali ini Eunhyuk yang berbicara.

"Percayalah. Jika kau memang berjodoh dengan Sungmin, dia akan kembali padamu." Gadis itu tersenyum menenangkan lalu kembali membalut luka di tangan Kyuhyun.

Ucapan Eunhyuk dan Donghae seolah memberikan ruang di dadanya. Rasa sakit dan sesak itu sedikit berkurang. Jika memang benar Kyuhyun masih punya kesempatan, maka ia tidak akan pernah menyia-nyiakannya.

"Gomawo, Hyuk," Kyuhyun menatap Eunhyuk penuh terima kasih. Ia berujar tulus.

"Ne," Eunhyuk tersenyum membalasnya.

Kyuhyun kemudian beralih menatap Donghae. "Gomawo, hyung."

"Hm," Donghae mengangguk sambil tersenyum.


"Oppa," Sungmin menghampiri Siwon yang tengah duduk di lobi perusahaan L'automne. Siwon tersenyum lalu berdiri, mensejajarkan tubuhnya dengan Sungmin.

"Oppa sudah menunggu lama?"

Siwon menggeleng. "Aniyo. Aku baru saja sampai," bibirnya mengulas senyum. Pria itu berkata jujur. Sungmin tersenyum lega mendengarnya.

"Kajja," Siwon meraih tangan Sungmin dan menggenggamnya lembut. Sungmin terkejut ketika Siwon menggenggam tangannya dan menariknya keluar dari lobi. Sebelumnya Siwon tidak pernah menggenggam tangannya seperti ini.

Gadis itu menatap kosong ke arah tangannya yang sedang digenggam Siwon. Rasanya memang hangat, tapi tidak sehangat saat Kyuhyun menahan pergelangan tangannya.

"Minnie-ya," Siwon membelai pipi Sungmin lembut. Sudah tiga kali gadis itu dipanggilnya namun tidak memberikan respon. Pria itu sudah membukakan pintu mobilnya, hendak menyuruh Sungmin masuk tapi gadis itu justru melamun.

"Ne, oppa," Sungmin terkejut lalu menatap Siwon.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tegur Siwon.

Sungmin terkesiap. "Ne? Oh…aniya. Eobseoyo," gadis itu menggeleng pelan lalu tersenyum.

"Geurae. Masuklah kalau begitu," Siwon tersenyum ke arah Sungmin.

"Ne," Sungmin mengangguk lalu masuk ke dalam mobil Siwon.

Kyuhyun memandang hampa ke arah Volvo Siwon yang baru saja melaju meninggalkan pelataran perusahaan L'automne dari balik kaca mobilnya. Sudah seminggu ini Kyuhyun selalu menghabiskan waktu istirahat makan siangnya untuk menunggu Sungmin di dalam mobilnya, yang terparkir di seberang pintu masuk perusahaan L'automne. Menunggu gadis itu keluar dari kantornya.

Laki-laki itu bermaksud untuk menemui Sungmin saat istirahat makan siang. Ia ingin berbicara dengan Sungmin. Namun pemandangan itu yang selalu didapatinya. Sungmin pergi bersama tunangannya. Siwon selalu mendahuluinya untuk menemui Sungmin.

Kyuhyun menghela nafas panjang dan menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi kemudi. Ia kembali gagal menemui gadis itu untuk kesekian kali.

"Kenapa selalu seperti ini?" keluhnya tak mengerti. Dadanya bergemuruh sesak.

'Haruskah aku melakukannya?' Kyuhyun membatin risau.

Kyuhyun sudah memikirkan hal ini lebih dari sepuluh kali. Bagian lain dari hal gila yang pernah dipikirkannya. Sekali lagi ia menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan. Sepertinya ia memang harus melakukannya. Atau ia tidak akan pernah bertemu dengan Sungmin.

"Geurae. Aku akan melakukannya," ia bergumam pelan. Membulatkan tekadnya.


Keesokan harinya…

Kedua mata indah Sungmin menatap tanpa jemu ke layar komputer di depannya. Sungmin sedang melihat beberapa desain dan sketsa gaun yang dikirimkan Kibum melalui e-mail.

Direkturnya itu masih berada di Paris. Melakukan tur fashion ke beberapa galeri milik rekannya di Paris Fashion Institute dulu. Kibum juga diundang untuk menghadiri pekan fashion yang kebetulan sedang diadakan oleh siswa di universitas tempatnya belajar dulu itu. Tidak heran jika Kibum masih berada di Paris hingga saat ini.

Gadis itu terlarut dengan desain dan sketsa gaun yang dibuat sangat apik oleh teman-teman Kibum yang juga berprofesi sebagai fashion designer di Paris. Membuatnya sedikit berjengit ketika telepon di mejanya berdering. Sungmin tahu itu pasti telepon dari Jiyoon. Wanita yang menjadi asistennya itu sudah kembali bekerja setelah masa cuti pernikahannya habis.

"Ne, Jiyoon-ah," Sungmin mengangkat gagang telepon itu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.

"Sungmin-ssi, bagian resepsionis mengatakan jika ada tamu yang ingin bertemu dengan anda. Tamu itu menunggu anda di lobi."

Keningnya mengerut kecil. Sungmin melirik arloji di pergelangan tangannya. Lima belas menit lagi jam istirahat makan siang. Mungkinkah itu Siwon?

"Siapa?" Sungmin ingin memastikan siapa orang yang ingin menemuinya.

"Jwesonghaeyo, Sungmin-ssi. Bagian resepsionis tidak mengatakan siapa tamu itu," Jiyoon sedikit menyesal.

"Oh, keureo guna," Sungmin sedikit kecewa tidak mendapat informasi tentang tamunya. "Baiklah, aku akan segera ke sana. Gomapta, Jiyoon-ah."

"Ne," Jiyoon kemudian menutup telepon itu.

Sungmin meletakkan kembali gagang telepon itu di tempatnya. Ia segera beranjak menuju lobi. Ia tidak mau membuat tamunya menunggu lebih lama lagi. Gadis itu masuk ke dalam lift dan menekan angka satu yang akan mengantarkannya ke lobi.

Pintu lift terbuka. Suara stiletto-nya sedikit bergema ketika Sungmin melangkah ke lobi untuk menemui tamunya. Sungmin menemukan seorang pria yang berdiri membelakanginya. Pria itu menatap ke jendela kaca yang membingkai pemandangan di luar kantornya.

Gadis itu merasa tidak asing dengan postur pria itu. Postur itu seperti postur tubuh…Kyuhyun?

Sungmin menggeleng pelan. Tidak. Itu tidak mungkin. Seingatnya Kyuhyun tidak memiliki potongan rambut belakang yang pendek seperti pria di depannya. Mungkin itu hanya perasaannya saja.

"Maaf, apakah anda sudah menunggu lama?" Sungmin akhirnya membuka suaranya setelah cukup lama terdiam memandangi postur belakang pria itu.

Mendengar suara Sungmin menyapa pendengarannya, pria itu kemudian berbalik. Membuat Sungmin benar-benar terkejut hingga mulutnya terbuka. Pria itu benar-benar Kyuhyun. Sungmin segera berbalik. Ia tidak mau bertemu dengan Kyuhyun, atau usahanya untuk melupakan Kyuhyun akan hancur berantakan.

"Lee Sungmin, tunggu!" Kyuhyun menangkap pergelangan tangan Sungmin ketika gadis itu hendak melangkah pergi. Ia tahu Sungmin pasti tidak mau bertemu dengannya.

"Aku ingin berbicara denganmu. Kumohon…sebentar saja," Kyuhyun berujar memohon saat Sungmin berusaha melepaskan tangannya.

Sungmin menghela nafas panjang. Ia akhirnya berhenti menggerakkan tangannya. "Geurae."


Sungmin membawa Kyuhyun ke lantai tujuh, ke lantai di mana ruangannya berada. Namun gadis itu tidak mempersilakan Kyuhyun masuk ke ruangannya. Gadis itu membawa Kyuhyun ke ujung lorong, ada sebuah tangga darurat di sana. Mereka berdiri berdampingan menghadap tangga darurat dalam diam. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Kyuhyun memandangi Sungmin. Gadis itu terus mengalihkan pandangannya, sama sekali tidak ingin menatapnya. Kyuhyun menghela nafasnya. Terus berdiam seperti ini hanya membuat keadaan semakin canggung.

"Jika tidak ada yang ingin kau katakan, sebaiknya aku pergi," Sungmin berujar memecah keheningan. Sekuat tenaga ia menahan suaranya agar tidak terdengar bergetar.

Gadis itu menyadari jika sedari tadi Kyuhyun memperhatikannya. Membuat pertahanannya perlahan goyah. Jika ia berada lebih lama lagi bersama Kyuhyun, maka perasaan yang semula sudah mulai dipendamnya akan kembali bersemi untuk Kyuhyun. Dan itu artinya, ia akan menyakiti Siwon.

Sungmin berbalik, bersiap melangkah. Namun Kyuhyun kembali menahan pergelangan tangannya.

"Hajima," Kyuhyun mencegah pelan. Ia melepaskan tangannya dari tangan Sungmin. Sungmin kemudian kembali berbalik menghadap tangga.

Suasana kembali menjadi hening. Kyuhyun kembali menatap Sungmin yang sama sekali tidak mau menatap matanya.

"Apa kau bahagia dengan tunanganmu?" Kyuhyun bertanya pelan. Terselip nada kesedihan di sana.

Sejenak Sungmin tertegun mendengar pertanyaan itu. "Hm. Aku sangat bahagia bersama Siwon oppa," ia menjawab kemudian. Menjawab dengan jawaban yang sangat bertentangan dengan hatinya. Sungmin mempertahankan suara tegasnya. Tidak ingin terlihat jika sebenarnya ia ingin menangis.

"Begitukah?" Kyuhyun tersenyum pahit. Ia terdiam beberapa saat. "Mianhae," ucapnya kemudian.

Sungmin akhirnya menatap Kyuhyun yang kini sedang menatap lurus ke bawah tangga. "Untuk?"

"Untuk semuanya," Kyuhyun beralih menatap Sungmin yang tengah menatapnya. Pandangan mereka bertemu. "Maaf telah menyakitimu dengan ucapan dan juga perlakuanku. Aku tahu aku begitu jahat selama ini. Mungkin kesalahanku sudah tak termaafkan olehmu," Kyuhyun berujar penuh penyesalan. Sungmin bahkan dapat melihat ketulusan dan kejujuran di kedua obdisiannya.

"Dwaesso." Sungmin menunduk, memutuskan kontak mata mereka. Ia tidak bisa menatap kedua mata tajam Kyuhyun lebih lama lagi. Mata yang membuatnya jatuh hati. Apalagi dengan potongan rambut pendek Kyuhyun yang sekarang, membuat Kyuhyun semakin terlihat menawan di matanya.

"Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kau meminta maaf," suara sungmin semakin mengecil di ujung kalimatnya.

Kyuhyun tersenyum tipis. Ia begitu lega telah menyampaikan permintaan maafnya kepada Sungmin. Terlebih gadis itu memaafkannya dengan begitu mudah.

"Apa kau mencintainya?" Kyuhyun kembali bertanya saat keheningan kembali menyelimuti mereka beberapa saat. Pertanyaan yang sesungguhnya membuat dadanya berdenyut sakit. Ia hanya ingin tahu apakah Sungmin mencintai tunangannya atau tidak. Ia akan mundur jika Sungmin benar-benar mencintai Siwon.

Pertanyaan Kyuhyun kali ini begitu menyentaknya. Lidah Sungmin mendadak kelu. Ada sepercik rasa sesak yang menyusup ke dalam dadanya.

'Kenapa harus menanyakan hal ini?' Sungmin membatin perih. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

"Kau mencintainya?" Kyuhyun mengulangi pertanyaannya, meski itu justru semakin menggores hatinya.

"Siwon oppa pria yang sangat baik. Jadi tidak ada alasan untuk membuat seorang gadis tidak mencintainya," Sungmin berusaha mencari jawaban yang membuat Kyuhyun puas. Ia tidak ingin membohongi hatinya dengan mengatakan bahwa ia mencintai Siwon. Sungmin hanya sedang belajar untuk mencintai pria itu. Namun sepertinya Kyuhyun tidak puas dengan jawabannya.

"Apa itu artinya kau mencintainya?" Kyuhyun kembali bertanya untuk kesekian kali. Ia hanya ingin memastikan saja.

Sungmin kembali tertegun. "Kurasa itu bukan urusanmu," ia menjawab datar kemudian.

Gadis itu merasa sudah tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Sungmin tidak ingin Kyuhyun bertanya lebih jauh lagi, atau ia akan kembali terjerat oleh pesona Kyuhyun.

"Sepertinya sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Aku permisi," Sungmin berbalik dan mulai membuka pintu yang menjadi akses menuju tangga darurat.

"Itu bukan sebuah jawaban, Lee Sungmin," Kyuhyun menahan pergelangan Sungmin. Menghentikan pergerakan gadis itu. "Jika jawabanmu seperti itu, itu artinya kau tidak mencintai tunanganmu."

Sungmin terkejut hingga kedua matanya memanas. Tidak. Kyuhyun tidak boleh tahu jika memang dia tidak mencintai Siwon. Bukan tidak, tapi belum.

"Cho Kyuhyun-ssi, kumohon jangan bertingkah seolah kau peduli dan mengetahui semuanya. Aku mencintai Siwon oppa atau tidak, itu sama sekali bukan urusanmu." Sungmin berujar menahan air mata, tanpa berbalik menghadap Kyuhyun. Gadis itu berusaha melepaskan tangannya dari tangan Kyuhyun.

"Tentu saja aku peduli. Karena aku mencintaimu," Kyuhyun berucap tegas dan sungguh-sungguh. Tidak ada keraguan atau kepura-puraan dalam suaranya.

Kedua bola mata indah Sungmin melebar. Ia kembali dikejutkan oleh ucapan Kyuhyun. "Kumohon jangan bercanda, Kyuhyun-ssi. Ini sama sekali tidak lucu," kali ini Sungmin tidak mampu menahan suara bergetarnya saat rasa sesak perlahan menyerbu dadanya.

"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?" Kyuhyun membalik tubuh Sungmin untuk menghadapnya. Ia menahan kedua lengan Sungmin dengan kedua tangannya.

Sungmin menatap ke dalam mata Kyuhyun. Tidak ada sedikitpun kebohongan di dalam sana. Gadis itu bahkan melihat kesungguhan Kyuhyun. Laki-laki itu benar-benar mencintainya.

'Kenapa? Kenapa baru sekarang kau membalas perasaanku, Kyu? Kenapa harus di saat aku baru memulai semuanya dengan Siwon oppa?' Sungmin membatin sesak. Pertahanan Sungmin runtuh. Air matanya perlahan turun begitu saja membasahi pipinya.

Kyuhyun tertegun melihat Sungmin menangis. 'Uljimara, Lee Sungmin,' ia hanya mampu mengungkapkan dalam hati. Hatinya meringis melihat air mata yang terus bergulir itu.

Ingin rasanya ia menyeka air mata Sungmin dan memeluk gadis itu, namun Kyuhyun tidak bisa melakukannya. Kyuhyun merasa dirinya begitu jahat karena membuat Sungmin menangis. Dan ini bukan pertama kalinya ia membuat gadis itu menitikkan air mata.

Sungmin akhirnya melepaskan kedua tangan Kyuhyun di lengannya. Ia sudah tidak sanggup lagi menatap Kyuhyun. Ia berbalik dan mulai melangkah pergi. Namun lagi-lagi Kyuhyun menahan tangannya.

"Kumohon jangan temui aku lagi. Biarkan aku bahagia bersama Siwon oppa," Sungmin berujar tegas dengan suara parau. Membuat genggaman Kyuhyun di pergelangan tangannya melemah dan perlahan terlepas. Kyuhyun mendadak kehilangan kedua kakinya untuk bertumpu. Tubuhnya melemas mendengar ucapan gadis yang sekarang begitu dicintainya.

Sungmin bergegas pergi setelah genggaman tangan Kyuhyun terlepas. Sungmin melangkah cepat dan menangis sejadinya. Setengah hatinya berteriak merutuki ucapannya yang meminta Kyuhyun untuk tidak menemuinya lagi, namun sebagian hatinya yang lain membenarkan apa yang sudah dilakukannya. Ia tidak boleh menyakiti Siwon yang sudah begitu baik kepadanya.

Kyuhyun merasa terhempas jatuh ke dalam jurang setelah Sungmin menolaknya. Rasanya beribu-ribu kali lipat lebih sakit daripada terkena pecahan gelas kaca. Apakah begini rasanya saat Kyuhyun menolak Sungmin dulu? Ia tidak pernah membayangkan bahwa rasanya akan sesakit ini.


That should be me, holdin your hand

That should be me, makin you laugh

That should be me, this is so sad

That should be me, that should be me

That should be me, feelin' your kiss

That should be me, buyin you gift

This is so wrong, I can't go on

Do you believe

That that should be me

That should be me


Sungmin menyeka air matanya yang terus berjatuhan. Istirahat makan siang sudah lewat setengah jam yang lalu. Ia yakin Siwon pasti tengah menunggunya sekarang. Sungmin tidak mau Siwon melihatnya sedang menangis. Gadis itu mempercepat langkahnya menuju lift yang berada di lantai tujuh, tetapi ia dikejutkan oleh Siwon yang tiba-tiba muncul dari dalam lift yang berjarak beberapa meter darinya.

"Oppa," Sungmin berujar lemah. Siwon menatapanya dengan sebuah senyuman.

Air mata yang sudah dihapusnya kembali mengalir. Melihat senyuman tulus Siwon membuat Sungmin benar-benar merasa bersalah. Ia sudah membuat Siwon lama menunggunya, sementara ia justru menemui Kyuhyun. Pria itu bahkan sampai menyusul ke ruangannya untuk menjemputnya.

"Oppa," Sungmin akhirnya berlari ke arah Siwon dan menubruk tubuh tegap itu. Ia menangis sambil memeluk Siwon erat. Menumpahkan semua rasa sakit dan bersalahnya.

Siwon terkejut ketika Sungmin tiba-tiba memeluknya sambil menangis. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Sungmin, namun isakan gadis itu menahannya. Siwon membiarkan Sungmin memeluknya. Tangannya kemudian bergerak membalas pelukan Sungmin. Bergerak mengusap lembut punggung bergetar Sungmin.

"Jangan menangis. Oppa ada di sini bersamamu," Siwon mencoba menenangkan Sungmin. Ia mengecup pelan puncak kepala Sungmin. Bukannya tenang, Sungmin justru semakin menagis menerima perlakuan lembut dari Siwon.

Kyuhyun akhirnya melangkah keluar dari tangga darurat. Ia berniat mengejar Sungmin, meminta kesempatan kepada gadis itu. Namun bukan kesempatan yang didapatinya, melainkan sebuah kehancuran. Hatinya hancur melihat pemandangan di depannya. Ia menyaksikan Sungmin berlari dan memeluk tunangannya, dan Siwon membalas pelukan Sungmin. Dan hatinya semakin terbelah melihat Siwon mencium pucuk kepalanya, dan Sungmin sama sekali tidak menolaknya.

Apakah ini artinya ia benar-benar tidak punya kesempatan? Kyuhyun menatap Sungmin dan Siwon di depannya dengan mata berair. Entah sejak kapan air matanya berkumpul dan jatuh begitu saja. Rasa sakit yang bergemuruh di dadanya membuatnya lemah.


Siwon membawa Sungmin ke taman di dekat kantor Sungmin. Melihat keadaan Sungmin yang seperti tadi membuat Siwon tidak tega mengajak gadis itu pergi makan siang. Ia ingin Sungmin merasa lebih tenang dulu.

Sungmin duduk termenung di bangku taman. Pohon rindang yang memayunginya membuatnya sedikit lebih tenang. Ia merasa bisa bernafas lebih lega setelah berada di sini.

Bibir Sungmin tersenyum kecil mendapati satu cone es krim coklat yang tiba-tiba muncul di depannya. Ia tahu, itu pasti Siwon. Pria itu memang meminta ijin untuk pergi sebentar setelah Sungmin duduk di bangku taman.

Sungmin menoleh ke samping kanan dan menemukan Siwon berdiri di belakangnya dengan satu cone es krim di tangannya.

"Es krim?" Siwon tersenyum lembut menatapnya.

"Gomawo, oppa," Sungmin menerima es krim itu dengan senyum di bibirnya. Siwon mendesah lega melihat Sungmin kembali tersenyum. Ia kemudian bergabung untuk duduk di sebelah Sungmin.

"Oppa tahu jika aku menyukai es krim rasa coklat?" Sungmin memandangi satu cone es krim coklat di tangannya.

"Oh, geuraeyo (benarkah)?" Siwon menatap Sungmin tak percaya. Ia tidak tahu jika Sungmin menyukai es krim rasa coklat. Ia hanya ingin membelinya untuk menghibur Sungmin.

Sungmin menatap Siwon, "Ne."

"Syukurlah jika kau menyukainya. Aku hanya berpikir…mungkin rasa manis dari es krim coklat bisa mencairkan satu kesedihan," Siwon tersenyum lega. "Makanlah. Jika tidak lekas dimakan akan mencair."

Gadis itu tersenyum lalu mulai memakan es krim di tangannya. Siwon kembali tersenyum menatap Sungmin yang duduk di sampingnya. Sungmin begitu cantik jika tersenyum. Entah apa yang membuatnya menangis. Meski sangat penasaran, namun Siwon menahan rasa ingin tahunya. Ia tidak ingin melihat Sungmin menangis lagi.

Sungmin tahu jika Siwon terus menatapnya yang sedang memakan es krim. Dan ia tertegun saat tangan Siwon bergerak menyelipkan rambut ke belakang telinganya, kemudian membelai rambutnya lembut. Membuat Sungmin sedikit tidak nyaman dengan keadaan ini.

"Oppa...kenapa menatapku seperti itu?" Sungmin berhenti memakan es krimnya lalu memandang Siwon di sebelahnya.

Siwon menggeleng pelan. "Aniya. Aku hanya…kau sangat cantik saat tersenyum seperti tadi, Minnie-ya. Jangan pernah menangis lagi."

Sungmin tertegun beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum. "Geurae. Aku tidak akan menangis lagi," ucapnya lalu menunduk. "Oppa tidak ingin aku menangis lagi, keutji?"

"Keurom," Siwon mengangguk.

"Kalau begitu, oppa harus membantuku menghabiskan ini," Sungmin menyodorkan es krimnya kepada Siwon.

"Ne?" Siwon tertegun sejenak lalu tertawa. "Arasseo."

Sungmin menyuapkan es krim di satu sisi yang belum dimakannya ke depan mulut Siwon. Siwon tersenyum lalu membuka mulutnya. Namun es krim itu tidak masuk ke mulutnya, justru mengenai hidungnya.

"Ya!" Siwon berteriak saat es krim itu mengenai hidung mancungnya. Sepertinya Sungmin sedang mengerjainya. Sungmin tertawa melihat hidung Siwon ternoda oleh es krim coklat.

"Mianhae, oppa," Sungmin masih tertawa. Ia membuka tas tangannya lalu mencari tisu untuk mengusap noda es krim di hidung Siwon.

Dari balik kaca mobilnya, Kyuhyun menghela nafas. Entah perasaan apa yang bisa melukiskan perasaannya saat ini. Yang jelas hanya rasa sakit yang mendominasi. Ia menatap sedih ke arah Siwon dan Sungmin dari dalam mobilnya yang terpakir di sisi taman.

Laki-laki itu mengikuti Volvo Siwon setelah ia melihat Sungmin menangis dalam pelukan Siwon. Ternyata Siwon membawa Sungmin ke taman dan menghibur gadis itu.

Kyuhyun benci mengakui hal ini, namun ia juga tidak bisa menampiknya. Sepertinya sangat kecil kemungkinan untuknya dapat kembali mengambil hati Sungmin.

Siwon, tunangan gadis itu melakukannya dengan saat baik. Pria itu berhasil meredakan tangis Sungmin, memeluknya, menciumnya, memberikan sesuatu yang bisa menghiburnya, dan…membuatnya tertawa. Semua hal yang tidak bisa dilakukan olehnya. Yang bisa dilakukannya hanya membuat Sungmin menangis dan menangis.

Seharusnya dirinya 'lah yang berada di posisi Siwon. Seharusnya ia 'lah yang melakukan semua itu, jika saja ia tidak bertindak bodoh dengan menyia-nyiakan gadis sebaik Sungmin. Sekarang hanya penyesalan 'lah yang didapatinya. Kyuhyun merasa dirinya benar-benar menyedihkan, namun ia tidak akan menyerah untuk membuat Sungmin kembali kepadanya. Ia akan menyerah saat Sungmin mengatakan bahwa gadis itu sudah tidak mencintainya.


Pukul lima sore. Sebentar lagi jam kerja Sungmin habis. Gadis itu meraih ponselnya di atas meja. Ia merasa bersalah kepada Siwon. Karena dirinya, Siwon melewatkan waktu makan siang begitu saja.

Sungmin mencari kontak Siwon di ponselnya, kemudian mendialnya.

"Yeoboseyo," terdengar suara Siwon menjawab panggilannya.

"Apa aku mengganggu oppa?" Sungmin bertanya sungkan. Ia tahu jika Siwon masih bekerja saat ini.

"Aniya. Wae geurae?"

"Mianhaeyo, oppa," ucapnya menyesal.

"Ne? Kenapa meminta maaf?" Siwon bertanya tak mengerti dari ujung sana.

"Karena aku…oppa tidak jadi makan siang," Sungmin menggigit bibirnya.

Siwon terkekeh kecil. "Gwaenchana."

Sungmin merasa tidak enak dengan Siwon. Siwon begitu baik kepadanya. "Sebagai gantinya…bolehkah aku memasak sesuatu untuk oppa?"

"Ah, aniya. Tidak perlu seperti itu, Minnie-ya."

"Kumohon, oppa…" Sungmin sedikit kecewa ketika Siwon menolaknya.

"Geurae. Jika itu tidak merepotkan," Siwon mengalah pada akhirnya. Ia tidak tega menolak permintaan Sungmin.

"Gomawo, oppa. Kkeunheo," Sungmin tersenyum lalu menutup teleponnya. Ia merasa lega karena setidaknya ia bisa melakukan sesuatu untuk Siwon.


18.30 pm

Sungmin melihat isi lemari pendingin Siwon. Hanya ada sekotak pasta, tiga buah paprika hijau dan juga sekotak daging. Gadis itu sudah berada di apartemen Siwon setelah setengah jam yang lalu Siwon menjemputnya.

"Waeyo?" Siwon menghampiri Sungmin yang terdiam di depan lemari pendinginnya.

"Ah, aniyo," Sungmin menggeleng pelan lalu menatap Siwon di belakangnya. "Oppa belum berbelanja?" tanyanya kemudian.

"Hm, ne. Ahjumma belum sempat berbelanja kemarin," Siwon tersenyum lalu. Tangannya bergerak mengusap belakang lehernya.

Sungmin tersenyum maklum. "Gwaenchana. Aku akan membuat pasta saja. Apa oppa menyuakainya?" Sungmin bertanya ragu.

"Hm. Aku menyukainya," Siwon menjawab dengan senyuman. Membuat Sungmin ikut tersenyum.


Siwon duduk dengan tenang di meja pantry yang menyatu dengan dapur sambil memainkan macbook. Sesekali ia memandang Sungmin yang tampak sibuk dengan pasta yang tengah dimasaknya. Gadis itu beberapa kali menyeka rambut panjangnya yang terurai ke belakang agar tidak menutupi sebagian wajahnya. Siwon tersenyum gemas melihat Sungmin. Ia kemudian beranjak menghampiri Sungmin.

"O—oppa!" Sungmin terkejut ketika Siwon tiba-tiba mengambil sebuah sumpit dan menggulung rambut panjangnya. Menusukkan sumpit itu ke dalam rambutnya hingga rambut panjang itu tersanggul rapi.

"Apa aku mengejutkanmu?" Siwon tersenyum menatap Sungmin yang kini tengah menatapnya.

"Nne," Sungmin mengangguk kaku. Antara malu dan juga gugup dengan hal manis yang dilakukan Siwon kepadanya.

"Mianhae. Aku hanya ingin menggulung rambutmu agar kau lebih nyaman," Siwon menyelipkan anak rambut yang tertinggal di telinga kiri Sungmin.

"Gwaenchana," Sungmin mengalihkan tatapannya dari Siwon ke arah topping daging yang sedang dibuatnya.

"Apa masih lama?" Siwon ikut menatap ke arah topping daging yang tengah di masak Sungmin. Aromanya sangat harum dan terlihat lezat.

"Sebentar lagi, oppa."

"Geurae," Siwon mengangguk lalu kembali duduk di meja pantry.


"Ini benar-benar lezat, Minnie-ya. Gomawo," Siwon tersenyum tulus memuji masakan Sungmin setelah menghabiskan pasta di piringnya.

"Ne," Sungmin tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum.

Gadis itu meraih piringnya dan piring Siwon lalu membawanya ke bak cuci piring. Siwon mengikutinya dengan membawa dua gelas kotor di tangannya

"Gomawo, oppa," Sungmin tersenyum meraih kedua gelas itu dari tangan Siwon lalu mulai mencucinya.

Siwon memperhatikan Sungmin yang tengah mencuci piring dan gelas itu. Ia bahagia. Teramat bahagia mendapatkan calon istri seperti Sungmin. Gadis itu tidak hanya cantik, tapi juga berbakat dan bisa melakukan pekerjaan rumah. Semua yang diimpikan seorang gadis melekat tanpa cela pada dirinya. Dan Siwon akan benar-benar bahagia jika ia bisa memperistri Sungmin kelak.

"Oppa," Sungmin memanggil Siwon ketika ia sudah menyelesaikan pekerjaannya.

"Nne?" Siwon menjawab tergugu. Ia terkesiap. "Kau sudah selesai?"

Sungmin mengangguk, "Ne."

Siwon tersenyum kemudian mengulurkan tangannya untuk melepas sumpit yang masih menggelung rambut Sungmin. Membuat rambut Sungmin teurai seketika. Sungmin terlihat lebih cantik dengan rambut sedikit berantakan seperti ini.

Sungmin membeku ketika tangan Siwon bergerak menyeka rambut yang menutupi sebagian pipinya. Tangan Siwon berhenti bergerak dan berhenti di pipinya. Kedua matanya menatap wajah Sungmin tanpa berkedip, lalu perlahan tangannya bergerak turun ke dagu gadis itu.

Hembusan nafas Siwon mulai menerpa wajah Sungmin. Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Sungmin. Lagi. Tangannya bergerak sedikit mengangkat dagu Sungmin.

Pikiran Sungmin terasa kosong. Ia tidak bisa melakukan apapun selain hanya terdiam. Perlakuan Siwon yang begitu hati-hati membuatnya cukup terbuai. Siwon merasa tidak ada penolakan dari Sungmin. Tanpa ragu lagi, ia bergerak meraih bibir Sungmin. Namun sebelum bibir mereka bertemu, Sungmin tersadar dan mendorong bahu Siwon.

Keduanya sama-sama terkejut. Terlebih Sungmin. Gadis itu bergegas meninggalkan Siwon di dapur lalu mengambil tasnya di sofa ruang tamu. Kedua matanya memanas mengingat Siwon yang ingin mencium bibirnya.

"Minnie-ya!" Siwon mengejar Sungmin dan meraih tangannya ketika gadis itu hendak membuka pintu.

"Aku harus pulang sekarang. Selamat malam, oppa," Sungmin melepaskan tangan Siwon di tangannya lalu membuka pintu.

Siwon kembali menahan tangan Sungmin. "Mianhae. Aku tidak bermaksud untuk berbuat lancang."

Sungmin terdiam sejenak sebelum menjawab. "Gwaencaha." Ia sama sekali tidak ingin menatap Siwon.

"Biarkan aku mengantarmu," Siwon memohon. Ia benar-benar merasa bersalah.

"Ani. Biarkan aku pulang sendiri, oppa. Kumohon…" Sungmin menatap Siwon dengan mata berkaca.

Siwon menghela nafas panjang melihat mata merah Sungmin. "Geurae," ujarnya mengalah dan membiarkan Sungmin keluar dari apartemnnya. Ia lebih memilih mengalah daripada harus melihat air mata Sungmin.

Sungmin berjalan pelan menyusuri lorong apartemen Siwon. Air matanya bergulir saat rasa sesak menghampirinya. Ia marah. Bukan marah kepada Siwon, namun kepada dirinya. Entah mengapa ia tidak bisa membiarkan Siwon menciumnya. Hatinya berkata jika hanya Kyuhyun yang boleh melakukannya. Mencium bibirnya. Karena Kyuhyun 'lah yang sudah mengambil ciuman pertamanya.

'Kenapa aku seperti ini? Bukankah aku harus melupakannya?' Sungmin membatin tak mengerti dengan air mata yang terus berjatuhan.


"Minnie-ya."

Siwon menghampiri Sungmin yang baru saja keluar dari rumahnya. Seperti biasa, pria itu akan menjemput Sungmin dan berangkat ke kantor bersama. Namun pagi ini Siwon tidak masuk ke dalam rumah Sungmin seperti biasanya.

"Maafkan aku,"ujarnya pelan seraya menggenggam tangan Sungmin. Sungmin bisa melihat penyesalan di mata Siwon.

"Aku sudah memaafkan oppa," ucap Sungmin. Ia tersenyum kecil. "Seharusnya aku yang minta maaf. Aku sudah kekanakan kemarin. Maafkan aku, oppa,"gadis itu berpikir ia sudah keterlaluan kepada Siwon semalam.

Siwon tersenyum lebar mendengar ucapan Sungmin. "Aniya. Tidak perlu meminta maaf. Terima kasih, Minnie-ya." Sungmin hanya tersenyum menanggapi.

"Kita berangkat sekarang?" Siwon bertanya masih dengan senyumnya.

Sungmin tersenyum lalu mengangguk. "Ne."


Seseorang mengetuk pintu ruangannya ketika Sungmin tengah serius memeriksa sketsa yang dikerjakan oleh Jiyoon. Sungmin menoleh ke arah pintu yang perlahan terbuka dan menemukan Kibum tersenyum di ambang pintu.

"Eonnie sudah kembali?" Sungmin tidak bisa menyembunyikan senyum gembiranya.

"Ne," Kibum berjalan menghampiri Sungmin dan duduk di depan gadis itu. "Ini untukmu, Minnie-ya," Kibum menyodorkan sebuah paper bag kepada Sungmin. Buah tangan dari Paris untuk Sungmin.

Sungmin meraih paper bag itu dan membuka isinya. Ia menemukan sekotak parfum yang terkenal menjadi parfum kesayangan para wanita Perancis— parfum Fracas dari Robert Pigeut.

"Eonnie…apa ini tidak terlalu berlebihan?" Sungmin menatap tak percaya ke arah Kibum dan parfum itu bergantian. Sungmin tahu harga parfum itu tidak murah, bahkan bisa mencapai ratusan dolar.

Kibum menggeleng lalu tersenyum. "Aniya. Anggap saja itu sebagai hadiah atas pertunanganmu karena aku tidak bisa menghadirinya, Minnie-ya."

"Kumohon terimalah. Jangan menolaknya," Kibum berucap penuh harap.

Sungmin mendesah pelan melihat tatapan penuh harap Kibum. Ia tahu ia tidak mungkin menolak pemberian Kibum.

"Baiklah. Gomawo, eonnie," ia tidak bisa mengucapkan apapun selain terima kasih.

"Hm," Kibum tersenyum lega. "Ah, Minnie-ya. Karena aku sudah kembali dari Paris, aku akan menagih janjimu untuk memperkenalkanku kepada tunanganmu," Kibum benar-benar tidak bisa menahan rasa penasarannya kali ini.

Sungmin tersenyum melihat raut penasaran Kibum. "Baiklah. Aku akan memperkenalkan eonnie dengan Siwon oppa."

Kibum tertegun mendengar Sungmin memanggil tunangannya dengan sebutan 'Siwon oppa'.

'Kuharap Siwon oppa-mu bukan Siwon yang kukenal, Minnie-ya. Semoga saja bukan,' Kibum tiba-tiba membatin sesak memikirkan kemungkinan itu.

"Baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu, Minnie-ya. Pekerjaan sudah menantiku," Kibum mencoba tersenyum lebar. Meski kini hatinya dilanda sesak yang tiba-tiba muncul itu.

"Ne," Sungmin mengangguk sebelum Kibum meninggalkan ruangannya.


Istirahat makan siang sudah menyapa. Sungmin menutup buku sketsanya dan beranjak meninggalkan ruangannya. Namun gadis itu tidak langsung turun ke lobi. Ia masuk ke dalam lift dan pergi ke lantai sembilan di mana ruangan Kibum berada.

Sungmin sudah memberitahu Kibum bahwa ia akan pergi ke ruangannya sebelum mereka turun ke lobi. Gadis itu mengetuk pintu ruangan Kibum setelah sekretaris Yang mempersilakannya untuk masuk ke ruangan Kibum.

"Eonnie sudah selesai?" Sungmin masuk setelah mengetuk pintu.

Kibum beranjak berdiri dari kursinya. "Ne."

Sungmin mengangguk pelan. Kedua gadis itu kemudian berjalan beriringan menuju lift yang akan membawa mereka menuju lobi.


Siwon melirik arlojinya. Istirahat makan siang sudah lewat lima belas menit, namun Sungmin belum turun juga ke lobi. Pria itu menjadi cemas. Ia khawatir jika Sungmin akan menangis lagi seperti kejadian beberapa hari yang lalu. Siwon kemudian memutuskan untuk meraih ponselnya. Ia berniat mengirimkan pesan kepada Sungmin.

Pintu lift yang membawa Sungmin dan Kibum terbuka. Kedua gadis itu sudah sampai di lobi. Sungmin membimbing Kibum menuju sofa tamu yang berada di lobi.

Jantung Kibum tiba-tiba menghentak teramat kencang. Tangannya terasa basah oleh keringat. Langkahnya menjadi berat ketika ia menatap seorang pria dari kejauhan. Ia memang belum bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa pria itu. Namun melihat postur tubuhnya, Kibum merasa tidak asing.

'Ya Tuhan…kumohon jangan. Semoga dia bukan Choi Siwon yang sama dengan Choi Siwon yang pernah ku kenal,' Kibum membatin resah. Perasaannya mendadak menjadi tidak enak.

Nafasnya kian memendek ketika Kibum semakin dekat dengan pria itu. Dan sekarang, ia sudah berada tetap di hadapan pria itu. Pria itu sepertinya belum menyadari keberadaannya dan juga Sungmin karena ia tampak sibuk dengan ponselnya. Sampai akhinya Sungmin memanggilnya.

"Oppa." Sungmin memanggil pria itu dan pria itu menoleh.

Saat itu juga jantung Kibum berhenti berdetak. Ia terkejut. Teramat terkejut. Begitu juga dengan pria yang kini telah berdiri menghadapnya dan juga Sungmin. Kibum dan pria itu— Siwon— sama-sama terkejut. Keduanya membeku dengan kedua mata yang saling berpandangan.

'Itu benar-benar dia. Dia benar-benar Choi Siwon yang kukenal,' Kibum membatin tak percaya. Nafasnya tercekat.

'Ki—Kibum-ie…' Siwon membatin sama tak percayanya dengan Kibum. Ia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Kibum.

Keduanya dapat dengan mudah saling mengenali karena tidak ada yang berubah dari keduanya. Kecuali paras mereka yang semakin tampan dan cantik, serta pembawaan yang semakin matang.

"Oppa?"

Kibum dan Siwon tersadar setelah Sungmin memanggil Siwon. Sungmin merasa sedikit aneh dengan keadaan ini.

"Nne," Siwon tergugu. Tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.

"Oppa, perkenalkan. Ini Kibum eonnie. Atasanku," Sungmin berujar ramah memperkenalkan Kibum.

Keduanya kembali berpandangan sejenak sebelum akhirnya Kibum memutuskan kontak mata itu. Tidak. Ia tidak boleh seperti ini. Ia harus menjaga perasaan Sungmin. Sungmin tidak boleh tahu tentang hal ini, jika sebenarnya Kibum dan Siwon sudah saling mengenal. Bahkan jauh sebelum Sungmin mengenal Siwon.

"Kim Kibum," Kibum akhirnya mengambil tindakan. Gadis itu mengulurkan tangannya di depan Siwon. Bertingkah seolah mereka memang tidak saling mengenal dan baru pertama kali bertemu.

Siwon bisa membaca mata gadis itu. Ia tahu Kibum sedang berpura-pura tidak mengenalnya. Dan ia bisa melihat bahwa alasan Kibum melakukannya adalah karena Sungmin.

"Choi Siwon," Siwon akhirnya mengikuti permainan Kibum. Ia menjabat tangan Kibum. Ikut bertingkah seolah mereka tidak saling mengenal. Kibum cepat-cepat melepaskan tangan mereka setelah Siwon memperkenalkan dirinya. Sementara Sungmin tersenyum melihat keduanya sudah saling berkenalan.

"Oppa, apa oppa keberatan jika Kibum eonnie makan siang bersama kita?" Sungmin bertanya kemudian.

"Ne?" Kibum dan Siwon berseru bersamaan. Mereka terkejut mendengar pertanyaan Sungmin.

"Aniya—" mereka menjawab hampir bersamaan.

Keadaan menjadi canggung sekarang. Kibum dan Siwon sama-sama terdiam. Kibum yang tidak mau membuat Sungmin curiga akhirnya membuka mulutnya.

"Ani, Minnie-ya. Aku tidak bisa ikut makan siang bersama kalian. Aku lupa jika ada janji dengan direktur Hyun. Beliau menghubungiku sebelum istirahat makan siang dan memintaku untuk menemuinya," Kibum terpaksa mengarang semuanya. Ia tidak mungkin tiba-tiba masuk dan berada di tengah-tengah mereka. Ia bisa mengacaukan semuanya.

"Mianhae, Minnie-ya," Kibum menatap Sungmin menyesal. Bukan karena ia tidak bisa ikut makan Siang, tapi karena ia harus membohongi Sungmin.

"Ah, gwaenchana, eonnie," Sungmin menatap Kibum dengan senyumnya.

Kibum ikut tersenyum. Memaksakan senyum lebih tepatnya. "Baiklah. Aku permisi dulu, Minnie-ya, Siwon-ssi," Kibum membungkuk sekilas ke arah Siwon sebelum berjalan cepat meninggalkan mereka.

Sungmin dan Siwon memandangi Kibum yang melangkah menuju lift yang akan membawanya ke basement.

'Kibum-ie…kenapa kita harus kembali bertemu dalam keadaan seperti ini dan berpura-pura saling tidak mengenal?' Siwon membatin tak mengerti.

"Oppa," Sungmin kembali memanggil Siwon ketika pria itu tampak melamun memandangi lift yang sudah tertutup.

"Ne?" Siwon segera menoleh ke arah Sungmin.

"Oppa melamun?"

Siwon cepat-cepat menggeleng, "Aniya."

"Kita pergi sekarang?" Siwon berusaha membuat Sungmin tidak curiga kepadanya.

"Ne," Sungmin mengangguk.

Siwon tersenyum lalu menggenggam tangan Sungmin seperti sebelum-sebelumnya. "Kajja," ucapnya kemudian membawa Sungmin keluar dari perusahaan L'automne.


Kibum menyandarkan punggungnya di dinding lift setelah pintu lift itu tertutup. Kedua kakinya terasa melunak. Kibum memejamkan kedua matanya, membuat bulir-bulir bening itu berjatuhan dari pelupuknya. Air mata yang sedari tadi ditahannya tumpah saat itu juga.

Gadis itu meraba hatinya. Di sana terasa sakit.

Kenapa? Kenapa pria yang bisa mengembalikan senyuman dan wajah ceria Sungmin harus Choi Siwon yang ini? Kenapa bukan Choi Siwon yang lain? Kibum benar-benar tak mengerti.

Setelah delapan tahun tidak bertemu, kenapa mereka harus dipertemukan kembali? Tidak, bukan itu yang menjadi masalahnya. Kenapa mereka harus dipertemukan saat Siwon sudah menjadi tunangan Sungmin? Jika saja mereka bertemu jauh sebelum Siwon bertunangan dengan Sungmin, mungkin ia tidak akan merasa seperti ini.

'Ya Tuhan…aku tidak boleh begini,' Kibum menggelengkan kepalanya pelan. Air matanya masih mengalir.

Tidak. Kibum tidak boleh egois. Sungmin sudah terlalu banyak menderita selama ini karena Kyuhyun. Ia ingin melihat gadis yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri itu bahagia, meski itu harus bersama dengan Siwon.

Kibum tersenyum miris dalam tangisnya. Ia merasa dirinya benar-benar menyedihkan. Bukankah ia dan Siwon tidak memiliki hubungan apapun? Kenapa ia harus merasakan sakit seperti ini? Seolah ia adalah kekasih yang dicampakkan oleh Siwon. Ya, mereka memang tidak memiliki hubungan yang lebih, kecuali…Kibum yang menyimpan perasaanya kepada Siwon.


TBC

Oke, akhrinya chapter ini bisa selesai dengan cerita yang panjang dan membosankan. Saya sangat menyadari hal itu. Jadi saya memohon maaf kepada teman-teman yang tidak puas dengan chapter ini, karena saya sendiri juga merasa chapter ini benar-benar buruk dan mengecewakan. Dan maaaaff, saya tidak bermaksud menambah penderitaan Sungmin dan Kyuhyun. Itu semua tuntutan alur yang mengalir di kepala saya. Saya hanya menyalurkannya lewat tulisan saja. Mianhae.

Sebenarnya saya ingin segera mengakhiri penderitaan Kyumin, tapi sepertinya akan tidak mungkin dituangkan semuanya dalam chapter ini. Jadi, saya harap teman-teman bersabar :) Silakan jika teman-teman ingin mengkritik chapter ini. Semoga nanti saya bisa menulis dengan lebih baik lagi untuk kedepannya :)

Terima kasih karena teman-teman masih mau mendukung fict ini. Terima kasih untuk review teman-teman, review teman-teman benar-benar memberikan semangat untuk saya di tengah-tengah tugas kuliah yang membuat stress. Dan selamat datang untuk para reader baru :)

Sekali lagi terima kasih sudah mau membaca. Dan…see you next month or maybe infinite months. Karena saya akan kembali hiatus. Mianhae :(

Special Thanks to:

KobayashiAde, HAEppy911, younchanzai. dvjewelselfsuju, skjinie, reiasia95, Aey raa kms, KMalways89, imAlfera, Pumkins yellow, Guest, dessykyumin, Guest, minoru, rhara, Chikyumin, LiveLoveKyumin, NR, nova137, I am E. L. F and JOYer, GG, dhinarizki, endah. kyumin137, Cho Zhen Min, sjkms137, Cho MeiHwa, 137Line, Kim Ae Rin, KyuMinHyuk1019, YunJaeee Shipper, Ria, HeeKyuMin91, chika. sparkyu. 9, Santiyani. febby, teukiangle, Arevi. are. vikink, PaboGirl, byun, kyuna saranghae, Puput Kyuminshipper, KyuMing, camomile137, TeukHaeKyu, MingKyuMingKyu, keroro. r. kero, aprilbunny9, BluelfRose, vila13kyuvil, abilhikmah, LittleMing137, siatara1083, nhia yemeo, KikyWP16, Kang Dong Jae, littlecupcake noona, Kyura0205, melee, chakm137, shin, nanayukeroo, adekgaemgyu, 143 is 137, Sera Lee, Minhyunni1318, L. s, kyumin, mayasiwonest. everlastingfriend, ELFBANA, cloudswan, Helda Cho, shippo. chan. 7, zyln, Guest, sandra. devina, Lee Anta, Kyumin Joyer ChoLee, akaitchie, bluelfsj, Imtwins, septimaulanaa, Guest, thiafumings, IYou, Alunaa, haegvrl, dewi. k. tubagus, Lova9irl, Nayoung, Violetta, Cywelf, icha. likepachulsaklawasenoother, santyfishy, Heldamagnae, fuji, Meka, devyuhuu, riesty137, win-ie, ajolbada, Guest, fivah, Anik0405, chominhyun, kyumin1001, JT, 1004hoteuk, Alfia Retno S, rini. first, Minge-ni, Shallow Lin, kimteechul, ChristyTaniaElf, leejisung4, Kyuminsimple0713, dirachan824, airi. tokieda, Hyomin137, lee yong in, Qiqii, anis kyumin, farahauliaputri21, kyukyu, chonaira

See you next chapter

Mind to review again? :)