I Wish A Miracle
Cast :
Lu Han
Kim Minseok
Oh Sehun
Pairing :
Xiuhan Xiuhun
Rate:
T
Yaoi, Romance, Sad
Must Playing : Up10tion - I wish a miracle *harus biar nambah feelnya haha
Happy Reading
Chapter 10
"Luhan hyung jangan. Sini biar aku saja"
"Luhan hyung jangan sentuh itu. Biar aku saja"
"Luhan hyung..."
"Luhan hyung..."
"Luhan hyung berani kau mengambil itu aku akan... Ya! Luhan hyung"
Ini masih pagi tapi kedai Luhan sudah berisik akibat teriakan dua pegawai Luhan -Kyungsoo dan Yixing.
"Aish kalian ini berisik sekali! Dan kau Yixing kenapa kau berteriak padaku aku hanya membuang sampah" kata Luhan kesal karena dari tadi dia selalu diteriaki.
"Aku khawatir denganmu hyung. Kau baru saja pulang dari rumah sakit semalam"
"Aish kalian berlebihan aku sudah baik-baik saja"
"Baik dari mananya hyung. Kau tidak lihat hampir separuh wajahmu terbalut perban" sahut Kyungsoo.
"Ya!..."
"Sudahlah hyung kau istirahat saja. Pulihkan tenagamu agar kau bisa menemui Minseok hyung lagi" potong Yixing.
"Ah kau benar aku harus istirahat dan memulihkan tenagaku. Hah aku akan balas dendam dengan orang-orang itu, belum tahu mereka siapa Luhan itu. Kalau begitu aku keruangan ku dulu. Anyeong"
"Ck ck ck. Dasar" decak Kyungsoo
"Mengapa aku punya bos seperti itu" Yixing menggelengkan kepalanya.
"Kamsahamnida, datang lagi! Baiklah antrian selanjutnya, mau pesan a- Minseok hyung!!" teriak Yixing saat tahu siapa pelanggan diantrian terakhir itu. Yixing keluar dari tempat kasir dan menghampiri Minseok.
"Minseok hyung ini benar kau kan. Aku sangat merindukanmu" kata Yixing sambil memeluk Minseok.
"Aku juga merindukanmu Yixing, sudah lama sekali aku tidak kesini." Minseok melepaskan pelukan Yixing.
"Yixing-ah bisa bantu aku untuk- Minseok!" kaget Luhan. Saat dia ingin menghampiri Yixing dia malah menemukan seseorang yang sangat dia rindukan. Minseok.
Grep
"Minseok aku sangat merindukanmu" Luhan memeluk Minseok erat, Minseok membalas pelukan Luhan.
'Aku juga sangat merindukanmu Luhan'
"Tapi kenapa kau bisa ada disini? Apa ayahmu tahu kau disini, apa dia tidak marah?" tanya Luhan beruntun, Minseok melepas pelukannya.
"Appa memperbolehkan aku keluar. Emmm Lu aku ingin membicarakan sesuatu denganmu"
"Mau bicara apa? a. ah tahan dulu Min-ie, kita bicara ditempat rahasia kita. Kajja!!" Luhan menarik tangan Minseok tapi Minseok menahannya.
"Tapi Luhan a- "
"Sudahlah Min-ie aku punya kejutan disana. Kajja" Luhan menarik Minseok keluar kedai.
Dilain tempat.
Sehun yang sedari tadi berada dimobil menunggu Minseok mulai bosan.
"Aish Minseok hyung lama sekali"
Sehun menyandarkan kepalanya di jok. Saat dia melihat kepintu kedai dia melihat Minseok yang ditarik Luhan pergi keluar kedai.
"Mau kemana mereka? Aish kenapa harus pegangan tangan segala"
Sehun keluar dari mobil dan mengikuti Luhan dan Minseok diam-diam.
"Tara!!!!" teriak Luhan begitu mereka sampai.
"Rumah pohon!" kaget Minseok.
"Iya bukankah kau ingin tinggal disini"
"Ah ya kau benar" kata Minseok pelan.
"Ayo naik, kita bicara didalam saja"
"Tidak Lu kita bicara disini saja, aku hanya sebentar kok"
"Maksudmu hanya sebentar" tanya Luhan bingung.
Minseok tidak menjawab, dia membuka tasnya lalu mengeluarkan kertas berbentuk persagi panjang.
"Ini untukmu" Minseok memberikan kertas tersebut kepada Luhan.
"Undangan. Ini undangan apa? Kau akan membuat pesta" Luhan membolak-balik undangan yang ada ditangannya.
"Aku akan menikah Lu" kata Minseok pelan.
Tangan Luhan yang membolak-balik undangan terhenti dia lalu memandang Minseok.
"Menikah kau jangan bercanda Minseok. Aku bahkan belum mendapatkan..."
"Aku akan menikah Luhan dan itu bukan denganmu. Undangan itu adalah undangan pernikahanku" potong Minseok cepat.
Luhan terperangah dia lalu membuka undangan tersebut tak sabaran, didalamnya tertulis nama Kim Minseok dan Oh Sehun. Siapa Oh Sehun?
"Tidak tidak, Minseok ini tidak benar kan?" tanya Luhan.
"Itu benar Lu, aku-"
"Tidak kau pasti bercanda, kau hanya mengerjaiku iya kan. Ha ha " suara Luhan terdengar sedikit bergetar.
"Aku serius Luhan"
"Tidak Minseok, tidak"
"Luhan!"
"TIDAK!!" bentak Luhan. Minseok mundur selangkah, dia ketakutan.
"Ya! Jangan membentak Minseok hyung!"
Luhan dan Minseok menoleh keasal suara.
"Sehun" kata Minseok pelan.
"Minseok-ie siapa dia, kenapa dia ada disini?"
"Aku Oh Sehun, calon suaminya Minseok hyung" Sehun merangkulkan tangannya kebahu Minseok.
"Minseok-ie itu tidak benar kan?" tanya Luhan memastikan.
Minseok menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Luhan.
"Sayangnya itu benar tuan Lu" Sehun menjawab.
"Aku tidak bertanya padamu sialan."
"Hahaha sama saja, kau bertanya pada Minseok hyung pun jawabannya tetap sama, ya kan Minseok-ie hyung" Minseok menganggukkan kepalanya dalam tunduknya.
"Aku benar kan" Sehun tersenyum mengejek ke Luhan.
Luhan menundukkan kepalanya.
"Kenapa? Kenapa Minseok, bukankah kau akan menungguku. Kau sudah berjanji padaku Minseok"
Luhan menatap Minseok yang masih menundukkan kepalanya.
"Minseok jawab aku!" air mata keluar dari kedua mata indah Luhan.
Minseok perlahan mendongakkan kepalanya, mati-matian menahan air matanya agar tidak jatuh dihadapan Luhan.
"Luhan... aku... itu..."
"Itu karena menunggu sangatlah membosankn tuan Lu. Mau sampai kapan Minseok hyung harus menunggumu" sahut Sehun cepat.
"Biarkan dia menjawabnya brengsek!!" Luhan menaikkan suaranya.
"Benar yang dikatakan Sehun Lu, sampai kapan aku harus menunggumu"
"Minseok... Kau..." Luhan tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Sudahlah tuan Lu, untuk apa Minseok hyung harus menunggumu jika ada aku yang bisa mencukupi semua kebutuhannya, memenuhi semua keinginannya" Sehun menyeringai.
"Tidak. Kau mencintaiku Minseok, kau tidak bisa menikah dengannya karena kau mencintaiku"
"Cukup Luhan" Luhan mengalihkan pandangannya ke Minseok.
"Aku tidak mencintaimu"
Bagai dipukul palu yang sangat besar hati Luhan hancur berkeping-keping mendengar pernyataan pelan Minseok.
"Minseok itu tidak benar kan?" tanya Luhan berharap dia salah mendengar.
"Itu memang benar, aku tidak mencintaimu... Luhan"
"Kau mencintai ku Minseok!!" suara Luhan meninggi.
"Aku tidak!!!" suara Minseok juga ikut meninggi.
"Baiklah kalau begitu, tatap mataku dan katakan kalau kau tidak mencintaiku Minseok"
"Ya! Kau tidak bisa memaksanya!" Sehun akan melangkah menghampiri Luhan, namun dicegah oleh Minseok.
"Minseok hyung..." Minseok menggeleng.
Minseok menatap Luhan tepat pada mata rusanya. Mata rusa yang penuh dengan pengharapan terpancar dari sana. Minseok menghela nafas panjang.
"Aku..."
'Aku mencintaimu Luhan'
"Aku... Tidak mencintaimu.. Luhan" kata Minseok tegas dan sedikit bergetar.
"Itu yang ingin ku katakan padamu" Minseok sekuat tenaga membendung air matanya yang ingin keluar.
"Aku sudah selesai bicara padamu. Ayo Sehun kita pulang" Minseok menggandeng lengan Sehun dan berbalik.
BRUK
Luhan terduduk ditanah, air matanya mengalir deras dari kedua matanya.
"Aaaaarrrrrrgggghhhh!!! Minseok!!!! Hiks Minseok" teriak Luhan.
Minseok yang masih bisa mendengar teriakkan Luhan, menangis. Dia sudah tidak bisa mrnahan air matanya.
'Mianhae Luhan. Selamat tinggal'
Disinilah Luhan sejak dua hari yang lalu setelah kejadian Minseok yang meninggalkannya, duduk termenung di tepi jendela rumah pohon dengan menekuk kakinya.
Pandangannya lurus menatap dinding kayu rumah pohon itu, lebih tepatnya menatap foto-foto yang tertempel hampir memenuhi dinding kayu itu. Foto kenangannya dengan Minseok, orang yang selalu menghiasi hari-harinya dan orang yang telah menorehkan luka yang teramat dalam dihatinya.
Aku berharap menemukan titik terang dalam perjalanan sedih ku ini.
Aku beeharap ada sesuatu yang luar biasa diakhir nanti, itu akan membalikkan semuanya.
"Lu-ge palli!! Kalau tidak cepat-cepat nanti bisa tidak kebagian" kata Minseok menarik ah lebih tepatnya menyeret Luhan menuju toko es krim yang baru buka dan membagikan es krim gratis.
"Pelan-pelan Min-ie" Luhan dengan susah payah mencoba mengimbangi lari Minseok.
"Uwwwwaaahhhh!!" mata Minseok berbinar melihat es krim warna-warni yang disusun di mangkuk membentuk sebuah menara. Tanpa pikir panjang Minseok langsung memakan eskrimnya dengan cepat.
"Pelan-pelan saja makannya Min-ie, aku tidak akan minta kok" Luhan mengelengkan kepalanya disaat melihat wajah kekasihnya belepotan es krim.
Luhan mengeluarkan sapu tangannya dan membersihkan mulut dan pipi Minseok.
"Dasar anak kecil" Minseok tersenyum lebar memperlihatkan gigi kelincinya.
Air mata Luhan keluar lagi saat mengingat kenangan manisnya bersama Minseok. Luhan mengalihkan pandangannya keluar jendela, terlihat hamparan bunga warna-warni yang sedang bermekaran cantik dengan banyak sekali kupu-kupu yang beterbangan diatasnya. Dipinggir terdapat danau yang berkilauan membiaskan sinar matahari. Sangat indah berbanding terbalik dengan orang yang saat ini memandangi pemandangan indah itu.
"Wahh Lu ada kupu-kupu banyak sekali ayo kita tangkap" Minseok menunjuk gerombolan kupu-kupu yang terbang diatas hamparan bunga.
Melihat Minseok yang begitu antusias berlari kesana-kemari membuat Luhan juga tertarik untuk bergabung.
"Luhan aku ingin tinggal disini" kata minseok sambil mengelus rambut Luhan.
"Heiii siapa tadi yang tidak mau kesini tapi sekarang ingin tinggal" goda Luhan.
"Aishh aku serius. Aku ingin punya rumah disini"Minseok mengerucutkan bibirnya kesal.
"Hahaha iya iya. Ngomong-ngomong soal rumah bagaimana kalau rumah pohon? Akan kubuatkan untukmu"
"Jinja? Ohww kau memang kekasih yang baik." Minseok mencubit pipi Luhan.
Kenangan itu datang lagi, Luhan membenamkan kepalanya dilipatan kakinya. Kenagan itu terus muncul membuat hatinya makin sakit, dia butuh Minseok untuk menyembuhkannya. Tapi bahkan sekarang Minseok tidak dapat dijangkaunya, Minseok telah meninggalkannya. Meninggalkannya dengan luka permanen dihatinya.
Untuk waktu yang lama kita tidak bisa mengatakan apa-apa.
Bahkan tidak untuk selamat tinggal.
"Aku tidak mencintaimu"
"Aku... Tidak mencintaimu.. Luhan"
Tidak berbeda jauh dengan Luhan Minseok juga termenung di tepi jendela menatap harap pada tembok pagar rumahnya, berharap Luhan ada disana dan mengatakan kata-kata cinta untuknya.
Tapi itu adalah hal mustahil karena Luhan mungkin saja sudah menbencinya.
Aku melihat di luar jendela seperti orang bodoh.
Aku tidak bisa bertatapan langsung denganmu.
Aku hanya hanya bisa mendengar suaramu dalam bayanganku.
"MINSEOK-AH!!!! MIN-IE!!!"
"MINSEOK-AH!!!!"
Minseok yang mendengar teriakkan namanya mendekat ke jendelanya.
"Luhan" Minseok kaget dengan kehadiran Luhan.
'Kenapa dia ada disini?'batin Minseok.
"LUHAAAN!!!!" Minseok balas berteriak.
"Minseok-ah bogoshipoyo!!!!"
"Nado!!" balas Minseok.
"Minseok-ah! Kau percaya padaku kan?!" Luhan melihat Minseok mengangguk.
"Minseok-ah! Aku akan buktikan kalau aku bukan kaum rendahan dan pantas berada disisimu!!"
"Tunggu aku Minseok-ah!! Aku akan jadi pengusaha yang sukses dan aku akan melamarmu. SARANGHAE MIN-IE!!" Luhan membuat tanda hati dengan kedua tangannya dan Minseok juga mengikutinya.
"Nado saranghae Luhan!!"
Minseok menangis, tapi ini memang pilihannya. Setidaknya dengan begini Luhan bebas dari gangguan Sehun.
Tok tok tok
"Tuan muda, tuan muda Sehun datang"
Minseok menghapus air matanya.
"Ah ya ahjuma, aku akan segera turun".
Seorang namja dengan pasti berjalan menuju gedung yang telah dipenuhi dengan hiasan bunga warna-warni disetiap sudutnya, dan juga berjejer rapi karangan bungan berisikan ucapan selamat untuk yang sedang barbahagia.
Namja itu -Luhan telah sampai di dalam gedung dan disana dia melihat dua orang sedang berdiri dihadapan pastor sedang mengucapkan janji suci pernikahan. Dua orang itu Minseok dan Sehun.
Luhan menguatkan hatinya dan perlahan mendekati kursi kosong di bagian belakang dan mendudukinya.
"A- aku... bersedia" Luhan mendengar suara Minseok yang ragu-ragu.
Setelah mengucapkan janji pernikahan Sehun dan Minseok berbalik menghadap para tamu undangan, yang dilihat pertama kali oleh Minseok adalah Luhan yang duduk dibagian balakang yang juga menatap tajam kearahnya.
Minseok tahu Luhan sangat membencinya sekarang, karena tatapan mata Luhan penuh dengan kemarahan dan kebencian. Luhan tidak pernah menatapnya seperti itu.
Sehun yang melihat Minseok diam dan menatap lurus kedepan mengikuti arah pandang Minseok. Dia menemukan Luhan yang tengah menatap tajam kearah Minseok.
Sehun menyeringai dan memutar tubuh Minseok berhadapan dengannya dan dengan cepar mencium bibir Minseok. Ditempatnya Luhan mengepalkan kedua tangannya dan pergi dari gedung tersebut.
"Sehun!!" Minseok yang tersadar dari lamunannya langsung mendorong Sehun mundur. Minseok mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan Luhan dikursinya.
Tanpa sadar Minseok berlari keluar, dia ingin mengejar Luhan, dia ingin melihat Luhan.
"Minseok hyung!!" teriak Sehun dan ikut berlari mengejar Minseok.
"Ya! Kalian mau kemana, acaranya belum selesai!" teriak tuan Oh berdiri dari kursinya dan akan mengejar Sehun dan Minseok tapi ditahan oleh tuan Kim.
"Biarkan mereka menyelasaikan urusan mereka, dan jangan ikut campur lagi" kata tuan Kim. Tuan Oh mendudukkan dirinya lagi.
Katakan bahwa kau mencintaiku.
Katakan kau tak pernah berubah.
Karena tawamu, yang selalu ku bayangkan dalam pikiranku.
"Luhan!! Luhan tunggu!" Minseok berhasil meraih tangan Luhan.
Luhan melepaskan genggaman tangan Minseok.
"Kenapa kau disini Minseok, bukankah acaranya belum selesai" kata Luhan dingin.
"Aku..." Minseok ingin menjelaskan semuanya pada Luhan, ingin Luhan mengerti tentang keadaannya.
"Sudahlah Minseok, kita sudah tidak ada apa-apa. Oh ya selamat atas pernikahanmu, semoga kau bahagia. Aku pergi" Luhan melangkah meninggalkan Minseok.
Minseok tersadar dan ingin mengejar Luhan, tapi tangannya ditahan Sehun.
"Sehun lepaskan aku ingin-"
"Hyung, kau ingat dengan janjimu kan. Ayo kembali orangtua kita pasti khawatir."
Mengapa cintaku tak pernah berakhir.
Ini sangat menyakitkan, tapi aku tetap saja tidak membencimu.
Sekali lagi aku berharap ada keajaiban.
Meskipun itu tak akan terjadi.
Meskipun tidak bisa terjadi.
Ku tetap berharap.
Ku akan menunggu.
"Hyung kau akan benar-benar menetap di China?" tanya Yixing yang membantu Luhan membawa tasnya.
Saat ini mereka bertiga berada di bandara mengantar Luhan yang akan pulang ke China.
"Lalu bagaimana dengan kafe kita, bukankah kau juga ikut patungan." kali ini Kyungsoo yang bertannya.
Luhan tersenyum. "Untuk kalian saja" kata Luhan santai.
"Tapi -"
"Aku berngkat" kata Luhan memotong kalimat Kyungsoo saat mendengarkan paggilan untuk pesawatnya.
"Aku akan sangat merindukanmu hyung" Yixing memeluk Luhan.
"Ya aku juga pasti akan merindukanmu"
"Hyung aku pasti akan merindukan teriakanmu haha" kali ini giliran Kyungsoo yang memeluk Luhan. Luhan mengusak rambut Kyungsoo.
"Aku pergi, jaga diri kalian baik-baik, anyeong" Luhan melambaikan tangannya pada Yixing dan Kyungsoo, dan dibalas lambaian semangat dari keduanya.
'Minseok-ah mungkin kita tidak ditakdirkan bersama. Tapi aku berharap kita bisa bersama. Aku tidak benar-benar membencimu. Aku masih sangat mencintaimu. Selamat tinggal Minseok.'
END
Ah akhirnya END juga.
Aduuuuuuh Endingnya jelek banget ya. Haaaah ya sudahlah yang ada di otak seperti ini.
Maaf ya Sad Ending huhuhuhu. Jangan salahkan aku, jangan timpukin aku. Maafkan aku baba Lu karena tak menyatukanmu degan mamih Min
makasih yang udah review, yang fol/fav makasih juga.
aku menyayangi kalian chu chu.
