MAAF! MAAAAAAAF banget banget banget, buat reader yang udah pada jamuran nunggu Q update fic *sujud ala Gokudera* Bukannya Ley males atau kena WB, tapi gara2 laptop kesayangan Ley ilang di bis huwaaaaa! Pas turun dari bis Jakarta-Bandung, dengan watadosnya berlalu begitu saja, setelah 10 menit jalan kaki, baru nyadar kalo tas laptop ketinggalan lah, sedih hiks hiks... jadi waktu itu Ley sama sekali gak megang laptop nih, papa juga ngambek gara2 kecerobohan Ley yang parah, jadinya harus ngumpulin uang sendiri buat beli laptop baru T_T makanya publishnya lama banget huhu

Tapi tenang saudara-saudara sebangsa dan setanah air, karena sekarang... JENG JENG! Ley udah beli laptop baruuuu! Hehehe *sombong* *plak* jadi pubishnya gak akan tersendat-sendat deh cihuy!

Ok, intermezzo nya cukup sampai di sini, soalnya pasti udah gak sabar pengen baca kan?

Please enjoy read! ^^

.


Day 10. The Truth part I

...Mengetahui apa yang seharusnya tidak diketahui, harus dibayar dengan kematian...


"Apa maksudmu?" Aku mengernyitkan alis, dengan mata menyipit menatap gadis yang sekarang duduk di depanku.

Hujan turun semakin deras seiring dengan bertambahnya awan hitam yang berkumpul menutupi langit. Rasa dingin terasa mencabik, seluruh tubuhku gemetaran. Aku mulai kesulitan melihat sekeliling dan nafasku mulai tidak beraturan, tapi aku masih bisa melihat gadis di depanku itu tersenyum.

Sungguh sebuah senyuman yang sama persis, ia juga memiliki wajah yang mirip dengan Tsuna—terlalu mirip. Dan gestur yang ramah itu, yang seolah-olah tak pernah mencurigai orang asing, adalah sifat khas Tsuna yang paling mencolok.

Aku mungkin sudah memanggil namanya kalau saja sesuatu di dalam hatiku mengatakan bahwa ia bukanlah Tsuna yang selama ini kuketahui. Di samping semua kemiripan pada fisiknya, gadis ini memiliki aura yang berbeda. Sorot mata yang sayu itu teralu kosong, dan tangan pucat yang semula membelaiku dengan lembut itu terasa terlalu dingin. Aku tak bisa merasakan apapun dengan keberadaannya, ia begitu hampa, seolah-olah ia tidak hidup, tapi juga tidak mati.

"Siapa kau?" Suaraku terdengar sangat pelan di tengah derasnya hujan.

Aku diam menunggu jawaban, namun alih-alih menjawab, gadis itu malah memelukku—membuatku terkesiap, kaget dan kebingungan dengan perlakuannya yang tiba-tiba. Selama beberapa detik aku bahkan tak bereaksi sama sekali, melotot seperti orang bodoh, dan begitu sadar tubuhku sudah bergerak membalas pelukannya, merangkul tubuh yang ringan dan dingin seperti es.

Ah, ini pertama kalinya aku memeluk perempuan selain ibuku, tapi aku sama sekali tidak merasa malu. Aku tidak malu dan canggung ketika tangan kananku bergerak membelai rambut panjangnya yang basah. Meski tubuhnya terasa dingin hingga menusuk sampai ke tulang, dekapan gadis itu membuat hatiku terasa hangat dan nyaman dengan cara yang tak bisa dijelaskan.

"Maaf." Ia berbisik pelan di telingaku—sebuah kata yang sama sekali tidak kuprediksi dalam pelukannya yang semakin erat.

"Maafkan aku."

Kenapa...?

"Maaf."

Kenapa ia meminta maaf dengan nada yang sedih seperti itu? Seperti menahan sesuatu yang menyakitkan dalam waktu yang lama.

"Kau pasti menderita selama ini, maafkan aku Tsunayoshi."

Tahu-tahu air mataku jatuh begitu saja, berbaur dengan air hujan yang membasahi wajah dan tubuhku. Aku hanya diam membiarkan gadis itu terus mengulang-ngulang kata yang sama sambil memelukku.

Tapi aku tak mengerti—

Mendengar gadis ini meminta maaf seperti itu membuat hatiku berdesir. Seakan-akan aku telah lama merindukannya. Rasanya seperti kembali bertemu dengan orang yang kau cintai setelah terpisah sekian lama. Perasaan yang aneh dan sejuk.

Sedikit demi sedikit hujan mulai reda. Gadis berambut coklat itu melepas pelukannya setelah enam menit berlalu, kemudian kembali menatapku sambil tersenyum lagi. Senyum yang masih sama, tatapan yang masih sama, namun kali ini aku tidak meragukan siapa dia sebenarnya.

"Tsuna?"

Ia tersenyum cerah dan mengangguk pelan.

"Kau masih hidup?"

Secercah harapan membuatku hampir tersenyum senang, namun aku mengurungkan niat begitu melihatnya menggeleng.

"Tapi—"

"Aku yang sekarang ini hanyalah sebuah jiwa." Katanya.

Aku berkedip, Tsuna pasti bisa membaca tatapanku yang seolah-olah memberinya sebuah tanda tanya besar.

"Jiwa?"

Iakembali mengangguk.

"Tapi—kau terlihat sangat nyata."

"Sebenarnya aku tidak nyata, yang ada di sini pun semuanya tidak nyata, termasuk tempat ini."

Tempat ini tidak nyata?

Aku melihat sekeliling. Padang rumput kecoklatan yang hampir mati mendominasi tempat ini, awan hitam masih berkumpul di langit lepas, hawa dingin masih merasuki tubuh. Sama sekali bukan pemandangan yang indah.

"Sebenarnya ini di mana?"

"Alam sadarmu." Jawaban dari gadis itu membuat mataku membulat. Ia tertawa singkat sebelum memberi penjelasan yang lebih sederhana, "dengan kata lain, tempat ini seperti suasana yang ada di dalam hatimu."

Aku diam sejenak, mencerna kata-kata Tsuna sementara gadis itu tersenyum sambil memandangiku, menunggu untuk pertanyaanku yang lain.

"Kalau aku berada di alam sadarku sendiri—apakah artinya aku sudah mati?"

Tsuna tertawa kecil sebelum menjawab, "Tentu saja tidak, aku pun tidak tahu kenapa kau bisa sampai di tempat ini, tapi bila memang kau sudah mati maka aku dan tempat ini seharusnya akan hilang."

"Lalu kenapa kau ada di sini? Maksudku—bukankah ini alam sadarku?"

"Karena aku tinggal di sini, Tsunayoshi."

"Tinggal?" Aku mengernyitkan alis, "sejak kapan?"

"Sejak kau lahir. Tempat ini sudah tercipta sejak kau lahir."

Aku mengalihkan pandangan dari Tsuna.

Tempat ini tercipta sejak aku lahir...?

Tanganku mencoba memetik daun rerumputan yang rapuh dan basah. Meski luas seperti tak berbatas, namun tempat ini miskin akan kehidupan, sama sekali bukan tempat yang menyenangkan untuk ditinggali.

"Apa suasana di sini...dari dulu sudah seperti ini?"

"Tidak, dulu di sini indah sekali." Tsuna membetulkan posisi duduknya, kini ia duduk bersebelahan denganku. "Dulu tempat ini sangat hijau, langitnya cerah, hawanya hangat, dan bunga-bunga bermekaran, seperti pemandangan yang ada di dongeng."

"Lalu kenapa bisa jadi sampai seperti ini?"

"Karena suasana hati manusia itu berubah-ubah Tsunayoshi, itulah yang terjadi pada tempat ini. Berubah-ubah, sesuai dengan apa yang sedang kau rasakan. Saat kau kesepian, sedih, atau kecewa, hujan akan turun. Ketika kau marah, kesal, atau murka, badai akan datang. Dan pada waktu kau sedang bahagia, senang, atau gembira, tempat ini akan dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah sekali." Tsuna tersenyum, seperti sedang membayangkan ketika tempat ini dipenuhi oleh berbagai bunga yang menghiasi hamparan tanah. Kemudian senyum itu memudar perlahan-lahan ketika ia melanjutkan, "Tempat ini menjadi seperti ini, sejak kau bertemu dengan Mukuro."

Oh tentu saja.

Tentu saja Mukuro lah yang membuat tempat ini jadi hampir mati. Sejak bertemu dengan iblis itu rasanya aku menjadi gila, ia jelas-jelas telah merusakku. Semua yang kumiliki dihancurkannya hingga berkeping-keping. Ia mengklaim semua yang kumiliki dan terlebih lagi aku tak bisa melarikan diri darinya.

"Sepertinya tempat ini sudah tak bisa seindah yang kau ceritakan lagi, Tsuna."

Tsuna menoleh, aku pun menoleh. Kami berdua kembali bertatap-tatapan.

"Kenapa?" tanyanya, sama sekali tak terbesit perasaan heran. Mungkin ia sudah tahu apa yang akan kukatakan selanjutnya.

"Bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku kalau tempat ini jadi seperti ini sejak aku bertemu dengan Mukuro? Mungkin kau juga tahu kalau Mukuro tak akan pernah melepaskanku, jadi tempat ini akan selamanya begini, mungkin sampai aku mati."

"Masih bisa." Kata Tsuna mantap, "masih bisa seperti dulu."

"Bagaimana caranya?"

"Rokudo Mukuro bukanlah orang yang selama ini kau bayangkan, Tsunayoshi. Pandangan burukmu terhadapnya lah yang membuat tempat ini mati, kau menutup hatimu rapat-rapat, dibutakan oleh rasa takut dan kebencian." Tsuna membetulkan posisi duduknya lagi, kami kembali berhadap-hadapan. "Sekarang aku akan memperlihatkan semuanya padamu, Rokudo Mukuro yang sesungguhnya dan kenyataan yang selama ini kau cari."

Ia mendekatkan wajahnya, menempelkan dahinya yang dingin ke dahiku. Aku tak mengerti apa yang hendak dilakukannya, aku hanya menutup mata, kemudian gambar-gambar abstrak tiba-tiba saja terbayang di benakku.

Berputar-putar.

Dan suara-suara itu—

Semakin lama semakin jelas di telinga.

.

.

.

Kala itu takdir mempertemukan kami dalam keadaan yang tidak menyenangkan

Tidak seperti kisah cinta dalam romantika yang indah

Saat itu kami berdua tidak melihat apapun selain kegelapan dan darah

Berdua, bersama-sama, berusaha untuk melarikan diri dari malaikat kematian

.

.

.

"Kau janji?"

.

.

.

"Kau janji tidak akan membunuhku?"

Perempuan itu duduk bersandar pada dinding tanah yang basah. Suaranya terdengar serak di antara nafasnya yang letih. Tangan kanannya memegangi luka sayatan yang memanjang di lengan kirinya. Darah segar mengalir dari kulitnya yang pucat dan penuh goresan, menggenang di pakaiannya yang tak lagi putih dan utuh. Sesekali ia merintih menahan sakit, sesekali mengatur nafas agar tetap tersadar. Gadis itu nyaris sekarat, luka-luka di tubuh dan sayapnya memberinya jaminan bahwa ia tidak akan bertahan lebih dari sehari.

Tiga meter dari sang gadis, laki-laki bersayap hitam dengan pedang emas yang menancap di kaki kirinya sama-sama bersandar pada dinding tanah. Sama-sama terluka.

"Aku janji." Laki-laki itu bergumam.

Sudah hampir empat jam mereka berdua terjebak di sebuah jurang yang gelap dan dalam dengan keadaan terluka. Tak ada seorang pun yang turun menolong, padahal suara prajurit dengan semangat juang yang berkobar masih terdengar di atas sana. Mulut jurang yang tertutup oleh tanaman-tanaman berdaun lebar membuat mereka berdua luput dari mata prajurit lainnya. Mustahil akan ada yang menyadari bahwa di dasarnya terdapat dua makhluk dengan latar belakang yang kontras sedang bertahan melawan maut.

Peperangan antara kaum Άngelos dan Diávolos memang berlangsung lama, dalam tiap masa bertempur paling tidak akan memakan waktu sampai 365 hari—dan ini hari ke 301, tapi mereka berdua tidak akan bertahan selama itu dengan tubuh yang terluka parah, tanpa makanan atau minuman, dan tanpa perlindungan.

Satu-satunya pilihan agar bisa bertahan hidup, tentu saja adalah dengan keluar dari jurang, terbang menggunakan sayap mereka. Tapi sayap milik gadis itu terluka cukup parah, ia tidak bisa menggerakannya sama sekali, bila dipaksakan bergerak maka resikonya akan patah.

Sementara sayap hitam laki-laki di depannya masih utuh dan kuat. Entah bagaimana caranya ia berhasil meminimalisir luka yang diterima sayap-sayap hitam itu ketika jatuh ke dalam jurang. Dan saat ini iblis itu mungkin saja sudah terbang kalau sebuah pedang emas yang terus mengeluarkan cahaya dalam kegelapan tidak menancap di kaki kirinya.

Ierá spathí—pedang suci milik kaum Άngelos . Yang bisa menyentuhnya hanyalah keturunan murni kaum bersayap putih. Ierá spathí menembus kakinya hingga ke tanah, memastikan ia tak bisa bergerak ke manapun sebelum salah satu kaum Άngelos mencabutnya.

"Jadi kau akan mencabut kembali pedangmu atau tidak?" tanya sang iblis, nada suaranya lebih terkesan seperti sedang menantang daripada bertanya. "Kalau kau tidak membebaskanku, kita berdua akan mati di sini."

Perempuan itu ragu. Selama ini orang-orang Diávolos terkenal dengan tipu daya dan akal licik mereka, makhluk paling munafik yang pernah ada. Siapa tahu begitu ia mencabut Ierá spathí, laki-laki itu akan membunuhnya, atau mungkin pergi meninggalkannya begitu saja hingga ia mati sendrian di dasar jurang.

"Hei, jangan diam saja!" Diávolos berambut zig-zag kusut itu mulai tampak tak sabar.

"Sebelum itu, beritahu dulu namamu."

Mengangkat sebelah alis karena heran, laki-laki itu bertanya, "Untuk apa?"

"Kalau setelah aku membebaskanmu...kemudian ternyata kau membunuhku, aku akan ber-reinkarnasi kemudian mencarimu dan membunuhmu."

Iblis itu diam sesaat kemudian tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggema di antara dinding-dinding jurang.

"Kenapa kau tertawa?"

"Kufufu, baru pertama kalinya aku bertemu dengan Άngelos yang bodoh sepertimu."

Gadis itu mengerutkan kening kesal, tampak jelas garis mukanya bahwa ia tidak menyukai sebutan bodoh yang dilontarkan si Diávolos.

"Kalau begitu, kau juga harus memberitahu namamu." Kata pria berpakaian serba hitam itu.

"Kenapa?"

"Kalau ternyata karena kebodohanmu itu kau tidak jadi membebaskanku hingga kita berdua mati di tempat ini, aku akan ber-reinkarnasi kemudian mencari reinkarnasimu dan membunuhnya." Jawab iblis itu dengan seringai yang terlihat jelas dalam kegelapan jurang.

"Orang-orang Diávolos memang pendendam."

"Bukankah kau yang pertama kali bilang kalau reinkarnasimu akan membunuhku?"

"Setelah kubebaskan, kau janji tidak akan meninggalkanku di sini?"

"Aku janji."

Gadis itu menarik nafas panjang, nampaknya ia tak punya pilihan lain selain mencoba membebaskannya.

Setelah bergerak susah payah ke arah sang iblis, ia memeriksa luka yang ditimbulkan Ierá spathí di betisnya. Luka yang dalam, bagaimana mungkin iblis itu bisa menahan luka separah ini tanpa merintih atau mengeluh sedikit pun? Ia menarik nafas lagi untuk mengumpulkan tenaga yang tersisa, kemudian meraih gagang pedang yang bersinar seraya menatap laki-laki yang menunggu kebebasannya sambil menyeringai.

"Jadi, siapa namamu?"

"Rokudo Mukuro." Jawab si iblis, "namamu?"

"Kau cukup memanggilku Tsuna."

Tsuna mengerahkan sisa tenaganya untuk mencabut Ierá spathí. Ternyata besi yang bercahaya itu benar-benar menancap dalam hingga membuat Mukuro merintih kesakitan akibat gesekannya. Tapi sepertinya laki-laki itu memang tidak ditakdirkan untuk lepas, karena tepat di saat seluruh mata pedang terlepas dari kaki Mukuro, beberapa bebatuan besar tiba-tiba menggelinding dari atas jurang, siap menghujani tubuh mereka berdua.

Kejadian itu terjadi begitu cepat—

Tsuna sama sekali tak sempat bereaksi atau bahkan menjerit. Kini seluruh tubuhnya yang sudah terluka terasa remuk tertimpa benda berat, ia tak bisa bergerak sama sekali. Jangankan bergerak, untuk bernafas pun rasanya sudah begitu menderita. Ia sudah membayangkan bahwa sebentar lagi malaikat maut akan menarik roh dari tubuhnya.

"Hei,"

Suara itu mengalihkan Tsuna dari rasa sakitnya. Menghilangkan bau kematian yang sudah tercium dari jauh.

"Kau—masih hidup?"

Pelan-pelan, ia memberanikan diri untuk membuka mata.

Melihat sebuah seringai terpampang di wajah pucat yang menahan sakit itu membuat matanya membulat. Tsuna bukan tertimpa batu, melainkan tertimpa tubuh Mukuro yang melindunginya dari bebatuan. Sayap-sayap Mukuro tercabik karena ia membentangkannya untuk melindungi mereka berdua, lebih dari itu, darah mengalir dari kepalanya dan menetes di wajah Tsuna yang masih shock.

"Kau—" Mukuro terbatuk dua kali, nafasnya yang kepayahan berhembus panas di hidung Tsuna. Terengah-engah, namun ia berusaha keras untuk mengatakan sesuatu yang terasa menyangkut di tenggorokannya, "—dasar wanita bodoh."

Itu adalah kalimat terakhirnya sebelum Mukuro kehilangan kesadaran.

.

.

.

Kejadian itu membuka mataku

Mukuro memang menyerangku dalam pertempuran

Dan aku menancapkan pedang di kakinya

Tapi ia bukanlah makhluk yang jahat dan kejam layaknya kaum Diávolos

.

.

.

"Terima kasih telah melindungiku."

.

.

.

"Mukuro—kau mendengarku?"

Mukuro menengokkan kepalanya ke samping, menatap mata cokelat yang bersinar tertimpa cahaya fajar. Gadis yang duduk di kursi di samping ranjang itu diam menunggu jawaban dalam sela waktu yang lama, menatap sepasang mata biru yang sendu dengan sabarnya. Namun Mukuro hanya memalingkan kepalanya lagi, memperhatikan langit-langit dengan pandangan kosong dan pikiran yang tak bisa ditebak, seolah enggan menghadapi wajah familiar dari gadis yang pernah ditemuinya.

Tsuna tak bisa menyalahkan sifat dingin Mukuro. Hal yang wajar, karena ruangan besar dengan berbagai ukiran indah pada dindingnya itu mungkin terasa seperti penjara baginya. Terbaring di ranjang besar, dengan perban yang melingkari kepala, tubuh penuh luka yang telah ditangani obat tradisional, dan rantai yang diberi mantera suci membelenggu tangan kanannya, semua itu membuat dirinya terlihat lemah dan payah.

Adalah tabu bagi pemuda Diávolos untuk 'bersinggah' ke wilayah Άngelos dengan keadaan tak berdaya, memperlihatkan sisi terlemahnya, hal itu sama dengan menginjak-injak harga dirinya sebagai kaum bersayap hitam yang maha kuat. Andai saja pemimpin Diávolos yang tengah berkuasa saat ini bukan Xanxus, peraturan itu pastilah tidak akan ada, dan mungkin sekarang sikap Mukuro tidak akan sedingin ini terhadap gadis yang telah merawat luka-luka di seluruh tubuhnya.

"Maaf kau harus dirantai seperti ini. Ini satu-satunya syarat agar mereka memperbolehkanku merawatmu. Besok aku akan minta Giotto agar kau bisa be—"

"Bagaimana kita bisa selamat?" Suara Mukuro begitu serak. Sejujurnya, hanya untuk mengeluarkan empat kata dengan pelan saja sudah membuat tenggorokannya sakit, tapi ia tak bisa menahan diri untuk mengetahui apa yang terjadi di jurang tempo hari yang lalu.

Apa yang terjadi setelah ia pingsan karena melindungi wanita bodoh itu dari bebatuan yang jatuh?

"Tak lama setelah kau pingsan, Giotto dan Alaude menemukanku. Giotto melihat cahaya yang dikeluarkan oleh Ierá spathí ketika terbang melintasi jurang, kemudian ia mengeluarkan kita dari sana."

"Kenapa kau menyelematkanku?"

"Menyelamatkanmu? Justru kau yang menyelamatkanku, Mukuro. Kau melindungiku dari bebatuan yang berjatuhan."

"—Jangan salah paham, waktu itu aku tak berniat menolongmu, kalau saja ketika kau mencabut pedang itu tidak ada bebatuan yang jatuh, aku akan pergi meninggalkanmu di jurang."

"Bohong."

"Kenapa kau begitu yakin?" Mukuro mendelik ke arah Tsuna, dan ia cukup heran melihat gadis itu tersenyum.

"Karena yang mengatakan bahwa kau janji tidak akan meninggalkanku adalah hatimu."

.

.

.

Mukuro dingin namun jujur

Ia kuat secara fisik namun lemah pada batinnya

Ia selalu bersikap tidak peduli namun pemerhati sebenarnya

Hanya dalam waktu sepuluh hari aku bisa mengenal Mukuro sampai sejauh itu

.

.

.

"Aku memiliki kemampuan untuk membaca pikiran."

.

.

.

Mukuro melirik Tsuna untuk pertama kalinya siang itu, sendok berisi sup herbal yang hampir saja masuk ke dalam mulutnya terhenti begitu saja di tengah jalan, dikembalikan ke mangkuk yang dipegangnya sementara perhatian Mukuro tertuju pada gadis yang tengah menuangkan air ke dalam gelas.

"Kau tidak perlu sekaget itu kan, Mukuro?"

"Membaca pikiran—" ulang Mukuro seakan-akan dua kata itu adalah sebuah penemuan bersejarah, "Kufufu, jadi itu sebabnya mengapa selama ini kau tahu apa saja yang sedang kupikirkan?"

"Benar," Tsuna menyodorkan segelas air yang tadi dituangnya pada Mukuro.

"Dan alasan mengapa kau begitu yakin aku tidak akan meninggalkanmu di jurang waktu itu juga karena kekuatanmu?"

Tsuna mengangguk.

"Kekuatanku memang tidak terlalu spesial bila dibandingkan dengan yang lainnya, tapi sangat berguna ketika kau bertemu dengan orang asing yang pertama kali kau kenal, kau akan mengetahui apakah ia bermaksud baik atau buruk—hanya dengan satu sentuhan seperti ini." Gadis itu menyentuh tangan Mukuro yang dingin, setelah beberapa detik yang singkat, ia menarik kembali tangannya sambil tersenyum seperti biasa.

"Barusan kau berpikir kalau kekuatanku mengagumkan."

"Omong kosong." Sanggah Mukuro sambil kembali memakan sup di tangannya. Setelah suapan terakhir, ia memberikan mangkuk kosong itu pada Tsuna, meminum air yang telah disuguhkan dengan sekali tegukandan kembali membaringkan tubuh di ranjang.

"Kalau begitu kau tidak akan keberatan kalau kau memberi tahu kekuatanmu padaku kan?" tanya Tsuna.

Mukuro menghela nafas, membalikkan tubuhnya membelakangi Tsuna.

"Aku tak punya kekuatan spesial seperti yang lainnya." Nada lirih pada suara Mukuro yang barusan terdengar jelas di telinga Tsuna, hingga senyum yang semula masih menghiasi wajah cantik itu menghilang seketika.

Mukuro memandangi tangan kirinya yang masih terbalut perban dengan perasaan benci.

Ia benci.

Sampai detik ini, dirinya tak memiliki kemampuan yang patut dibanggakan. Bila dibandingkan dengan saudara tirinya yang memiliki kemampuan dalam menciptakan ilusi terbaik, atau sepupu jauhnya yang memiliki kemampuan untuk mengikat kontrak, ia sama sekali tak berarti apapun. Mungkin itu pula sebabnya mengapa Xanxus memanfaatkan Mukuro sebagai decoy dalam setiap peperangan.

Karena ia tak memiliki kekuatan sejati sebagai kaum bersayap hitam.

Karena ia tak sekuat yang lainnya.

Karena ia lemah.

Ia benci sekali.

"Kalau begitu mau kuajarkan agar kau bisa membaca pikiran orang lain?"

Mata Mukuro membulat, ia kembali membalikkan badan menghadap Tsuna.

"Mengajarkan kekuatanmu?" Dibalik perban yang melilit kepalanya, alis laki-laki itu berkerut. "Bagaimana caranya?"

Tsuna hanya tersenyum.

.

.

.

Aku membaca pikirannya saat itu

Mengetahui betapa ia sangat membenci dirinya yang lemah

Maka aku janjikan Mukuro kekuatanku

Sebagai ganti nyawa yang telah kuhutangi padanya

.

.

.

"Anágno̱si̱ tou myaloú (membaca pikiran) hanya bisa kau lakukan apabila hatimu bisa mendengar."

.

.

.

Mukuro hanya bisa menatap Tsuna yang sedari tadi memainkan air kolamdengan tampang ragu sekaligus tak percaya.

Ini malam ke dua puluh satu sejak Mukuro dirawat. Luka-luka parah di sekujur tubuhnya perlahan membaik, begitu pula dengan luka-luka Tsuna. Bahkan gadis itu sembuh lebih cepat. Perban yang semula melilit di lengan kirinya sudah lepas sejak enam hari yang lalu.

Di malam ke dua puluh satu ini, Tsuna sudah berjanji akan mengajarkan anágno̱si̱ tou myaloú pada Mukuro. Dan di sinilah mereka berdua, di tepi kolam belakang kastil, duduk berhadapan tanpa obrolan.

"Hanya itu?" tanya Mukuro.

"Hanya itu."

Mukuro mendengus, "Kau mencoba membohongiku?"

"Kau ini, belum apa-apa hatimu sudah tertutup begitu." Tsuna memukul kepala Mukuro pelan dengan punggung tangannya, membuat laki-laki itu merintih. "Setidaknya kau coba saja dulu."

"Memang bagaimana caranya agar hati bisa mendengar?"

"Dengan mendengarkan alam."

"Kau ini gila?"

"Sudah kubilang coba saja dulu!" Lagi-lagi Tsuna memukul kepala Mukuro, kali ini agak keras dan tepat di bagian lukanya yang baru saja sembuh. "Alam juga sebenarnya seperti kita, mereka bisa mendengar dan berbicara, hanya saja kita tak bisa mendengarnya karena sejak awal kita selalu menyangka mereka bisu dan tuli, sehingga suara mereka tak terjangkau oleh kita."

"Jadi, kalau aku bisa mendengar alam berbicara, aku bisa membaca pikiran?"

"Tepat."

"Konyol."

Lagi-lagi Tsuna mengarahkan kepalan tangannya ke kepala Mukuro, hanya saja kali ini Mukuro berhasil menghindar. Laki-laki berambut zig-zag itu menyeringai melihat ekspresi kesal Tsuna karena pukulannya meleset.

"Kalau begitu sekarang coba dengarkan nyanyian air, kalau kau bisa mendengarnya, kuanggap kau sudah bisa."

Lagi-lagi Mukuro menatap mata Tsuna dalam keraguan, tapi gadis itu benar-benar serius akan hal ini. Tak ada pilihan, akhirnya Mukuro mengalah. Ia mencelupkan tangan kirinya ke air kolam, menutup mata sejenak sambil berkonsentrasi untuk mendengarkan.

"Tidak terdengar apa-apa." Ujarnya setelah sepuluh detik berlalu.

"Jangan berusaha mendengar suara air dengan telinga, dengarkan dengan hatimu."

Mukuro menghela nafas kemudian mencoba lagi. Ia memiliki pendengaran yang sangat baik, tapi mendengarkan dengan hati bukanlah keahliannya, ini pasti akan sulit.

"Masih tidak terdengar."

"Sudah kubilang kan, belajar menguasai anágno̱si̱ tou myaloú itu tidak mudah, kau harus mencoba terus."

"Tsuna."

Sebuah suara yang dalam dan tenang membuat mereka berdua menoleh.

"Giotto!"

Laki-laki dengan enam sayap keemasan itu menghampiri Tsuna dan Mukuro. Tsuna segeraberdiri untuk menyambut laki-laki itu dengan sebuah pelukan hangat. Sementara Mukuro hanya memandangi mereka berdua tanpa ekspresi.

Giotto katanya? Dia kah laki-laki yang disebutkan Tsuna waktu itu? Yang menyelamatkannya dari jurang tiga minggu yang lalu? Tampangnya masih muda namun sudah memiliki enam sayap, ia pasti bukan Άngelos biasa.

"Kau sudah kembali? Mana yang lain? Bagaimana pertempurannya?" tanya Tsuna. Giotto hanya tersenyum sambil menepuk kepala gadis itu pelan. Walau hanya sesaat, Mukuro merasakan sebuah lirikan tajam dari mata emas pemimpin Άngelos yang ditujukan padanya, sebuah lirikan yang sangat tidak bersahabat.

"Aku ingin bicara berdua denganmu sebentar." Kata Giotto.

Tsuna mengangguk, gadis itu menyempatkan diri untuk memperingati Mukuro agar ia terus berlatih 'mendengarkan' air sebelum akhirnya mengikuti Giotto menjauh dari kolam menuju ke sebuah lorong berpilar.

"Ada apa Giotto?"

"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mengingatkanmu agar kau jangan terlalu dekat dengannya."

"Dengannya? Maksudmu Mukuro?"

"Ugetsu mengatakan padaku kalau selama tiga minggu ini kau selalu berduaan dengannya." Nada bicara Giotto meninggi.

"Aku tidak berduaan dengannya Giotto, aku hanya—"

"Merawatnya sebagai balas budi karena telah menyelamatkan nyawamu?" sambung Giotto. "Apa kau harus merawatnya setiap hari seperti itu? Sampai memberikan perhatian lebih padanya selagi aku tidak ada?"

"Hei, kenapa kau marah Giotto? Bukankah kau yang waktu itu memberiku izin untuk merawatnya?" tanya Tsuna lembut, tangan kanannya meraih wajah Giotto yang bersinar terkena cahaya bulan, kemudian ketika gadis itu menatap matanya, ia segera menyadari apa yang berusaha disampaikan laki-laki itu, "kau cemburu?"

Giotto menurunkan tangan Tsuna dari pipinya sebelum ia menjawab dengan suara yang dibuat sehalus mungkin, "Apakah aku tidak boleh cemburu apabila tunanganku dekat dengan laki-laki lain yang bahkan tidak kukenal?"

"Tapi aku hanya ingin membalas budi padanya, tidak lebih dari itu."

"Ini bukan soal balas budi atau semacanya, Tsuna. Apa kau tidak menghargai perasaanku? Aku hanya khawatir kau akan—" kata-kata Giotto terhenti. Tsuna memeluknya sangat erat, sampai ia bisa merasakan degup jantung gadis itu.

"Aku hanya mencintaimu, Giotto, kau tahu itu."

Mendengar pernyataan Tsuna, Giotto membalas pelukan gadis itu sambil memejamkan mata pelan-pelan, menikmati kehangatan dari pelukan kekasihnya. Tak ada yang lebih menenangkan daripada dipeluk dengan orang yang kita cintai.

"Aku takut kehilanganmu, kau belum pernah sedekat itu dengan laki-laki lain sebelumnya."

"Maaf membuatmu khawatir, tapi aku hanya sekedar membalas budi, aku tidak akan menaruh perasaan apapun padanya, aku janji."

.

.

.

Kupikir aku bisa menjaga janji itu dengan baik

Kupikir aku tak akan sedikit pun berpaling darinya

Namun sikap manis Mukuro telah mengubah segalanya

Perlahan-lahan menumbuhkan perasaan terlarang yang menggenang di hatiku

.

.

.

Hari ke-dua puluh empat—

"Maukah tuan putri menerima setangkai mawar dariku?" canda Mukuro sambil memberikan setangkai mawar putih pada Tsuna yang tengah berbaring di hamparan rumput hijau dengan mata terpejam. Gadis itu membuka matanya sambil bangkit perlahan –lahan.

"Terima kasih." Pipinya bersemu merah ketika menerima bunga berwarna terang dari tangan Mukuro. Ia belum pernah melihat mawar putih di hutan sebelumnya, meskipun sebenarnya ia sering sekali mengunjungi hutan itu terutama ketika sedang bosan. "Dari mana kau mendapatkannya?"

"Aku menemukannya saat berjalan-jalan di sekitar sana."

"Jalan-jalan? Kukira kau kemari untuk belajar mendengarkan' hutan?"

"Coba kemari, akan kusimpan di rambutmu." Tidak mempedulikan perkataan Tsuna, Mukuro mengambil kembali mawar dari tangannyadan memasangkannya di telinga kiri sang gadis.

"Kau jangan mengalihkan perha—"

"Ah, sudah kuduga, cantik sekali."

Tsuna terdiam. Kata-katanya tenggelam di tenggorokannya setelah mendengar sepatah pujian dari Mukuro.

"Warna putih cocok untukmu, kau kelihatan cantik."

Betapa ia terpesona dengan senyuman Mukuro saat itu, hingga tak ada satu pun kata-kata yang sanggup keluar dari bibirnya. Susah payah berusaha agar wajahnya tidak berubah merah, namun tentunya hal itu sia-sia saja. Ini pertama kalinya ada seseorang yang mengatakan bahwa ia begitu cantik, Tsuna sangat gembira.

Hari ke-dua puluh lima—

"Hahaha, apa-apaan kau itu?" Tsuna tertawa terbahak-bahak melihat Mukuro basah kuyup tersapu ombak besar ketika sedang berbaring di pantai untuk mendengarkan laut. Laki-laki itu segera berlari menjauh dari ombak-ombak lain yang mengejarnya, menghampiri Tsuna sambil bersin dan terbatuk-batuk.

"Air laut di sini rasanya asin." Ungkap Mukuro sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk yang ditawarkan Tsuna.

"Semua air laut kan rasanya pasti asin."

"Laut di tempatku berbeda—"

"Oh ya?" Tsuna memiringkan kepalanya sedikit untuk menangkap wajah Mukuro, "aku jadi ingin melihatnya."

Mukuro tersenyum menatap binar-binar yang dipancarkan mata gadis itu. Tiap kali Tsuna menginginkan sesuatu, matanya akan bersinar penuh harap hingga membuat siapapun yang melihatnya akan luluh. Tapi laut dunia bawah tempat Mukuro tinggal tidak seindah laut di sini. Airnya berwarnya merah pekat dan kental seperti darah, beracun, dan pasir-pasir tepinya sangat mematikan, menenggelamkan siapapun yang menapakkan kakinya di sana.

"Tidak boleh."

"Eh? Kenapa?"

"Aku tak ingin mencemari matamu dengan pemandangan yang mengerikan." Jawab Mukuro sambil meletakkan handuk basah yang dipakainya ke kepala Tsuna. "Tapi suatu saat nanti aku akan mengajakmu ke tempat yang indah—lebih indah dari matamu." Kemudian ia kembali pergi berbaring di pantai dengan mata terpejam, mendengarkan suara laut. Sementara di balik handuk basah yang masih menutupi kepalanya, Tsuna tersenyum malu.

Hari ke-dua puluh enam—

Tsuna mengajak Mukuro terbang bersama untuk mendengarkan angin, mengelilingi kastil dengan sayap-sayap mereka yang sudah pulih, bersenda gurau di langit senja hingga malam hari.

Rasa letih yang datang setelah terbang selama dua jam penuh membuat keduanya beristirahat di atap sebuah menara, berbaring terlentang bersebelahan sambil memandangi ribuan bintang.

"Mereka indah sekali ya saat malam." Komentar Tsuna. Tangan kanannya mengacung ke atas seperti berusaha meraih ribuan benda langit yang bersinar itu, "kuharap aku bisa menjadi salah satu dari mereka."

"...Kau ini membuatku bingung." Respon Mukuro.

"Bingung bagaimana?"

"Kenapa kau ingin menjadi sesuatu yang indah hanya pada saat malam sementara kau sendiri indah baik siang dan malam."

"Haha Mukuro—kau ini...selalu membuatku senang."

Sepi sejenak.

"Aku jadi ingin melihat bintang jatuh." Gumam Tsuna setelah hening selama enam menit.

"Memangnya ada apa dengan bintang jatuh?"

"Kau tidak tahu? Legendanya bintang jatuh itu dapat mengabulkan harapan."

"Terdengar konyol."

"Yah, itu kan hanya legenda." Tsuna menghela nafas panjang, memaklumi sifat Mukuro yang selalu menganggap konyol hal-hal berbau fantasi.

"—Tapi kalau memang benar-benar bisa mengabulkan harapan, aku bersedia menunggu bintang jatuh setiap malam." Ungkap Mukuro.

"Hmm? Kenapa?"

"Aku memiliki harapan yang sangat ingin terkabul."

"Oh ya? Apa itu?"

Tangan kiri Mukuro yang terasa hangat tiba-tiba menggenggam tangan kanan Tsuna yang kecil, membuatnya kaget sekaligus keheranan, namun ia tak berusaha melepaskan genggaman tangan laki-laki itu. Bukan karena kehangatannya membuat Tsuna nyaman atau karena ia takut menyinggung perasaan Mukuro, tapi karena ia memang tidak ingin melepaskannya.

Terutama setelah ia membaca pikiran Mukuro—

'Aku ingin terus begini, bersama-sama, berdua dengan Tsuna...'

.

.

.

Hari ke-27, 28, 29—aku semakin tertarik pada Mukuro

Hari ke-30, 31, 32—aku jadi sangat menyukai Mukuro

Hari ke-33, 34,35—aku mulai menyayangi Mukuro

Namun pada hari ke-36, Giotto mengetahui segalanya

.

.

.

Di ruangan besar tak berjendela, enam petinggi Άngelos berseragam resmi mengisi deretan meja sidang dengan wajah tak menyenangkan, tiap-tiap mata mereka tertuju pada orang yang sama, pada perempuan berambut coklat yang duduk di sebuah kursi tunggal dengan wajah menghadap ke bawah, tidak bergerak sama sekali.

Sidang tertutup itu sudah berlangsung selama empat jam tanpa jeda istirahat, namun suasana tegang sama sekali tak menurun sedikit pun sejak para petinggi itu membahas kesalahan-kesalahan Tsuna yang dianggap melampaui batas toleransi.

"Jadi, apa saja kesalahanmu tadi, nona?" Laki-laki berambut hitam dengan kain merah yang diselendangkan pada bahunya bertanya seolah menguji apakah Tsuna bisa menarik kesimpulan dari persoalan yang dibahas selama empat jam tadi atau tidak.

Tsuna mendongakkan kepala, berusaha memasang ekspresi menyesal yang terlihat meyakinkan. Ia terpaksa melakukannya karena kalau tidak, laki-laki itu—yang biasa disapa Knuckle oleh Giotto, akan memberinya ceramah tambahan yang mungkin saja akan menghabiskan waktu puluhan menit. Knuckle adalah pendeta dengan religi yang sangat kuat dan penentang budaya kaum Diávolos tergigih, pengagum sang pencipta paling fanatik yang sangat sensitif bila sudah menyangkut kesucian, dosa, dan pemurnian. Tak mungkin ia akan melewatkan dosa sekecil apapun mengotori kaum sekawannya.

Sidang yang melelahkan ini tidak akan ada kalau saja kejadian kemarin tidak pernah terjadi.

Sungguh—Tsuna sama sekalitidak berpikir panjang dan waspada ketika ia pergi sendirian ke perpustakaan inti yang letaknya terpencil dan sangat rahasia. Tiada maksud untuk membocorkan rahasia apapun, gadis itu hanya ingin menunjukkan sebuah buku pada Mukuro.

Perpustakaan inti—yang menyimpan semua sejarah, rahasia, kekuatan, dan kelemahan orang-orang Άngelos—adalah tempat di mana Tsuna untuk pertama kalinya menemukan buku bersampul kulit tua berwarna merah, berisi langkah-langkah untuk menguasai teknik membaca pikiran yang ia ajarkan pada Mukuro.

Tsuna bermaksud akan menyerahkan buku setebal 332 halaman itu padanya hingga ia tak perlu lagi menemani Mukuro berlatih. Dengan begitu, mungkin ia masih bisa menyelamatkan perasaannya. Mungkin—dengan mengurangi frekuensi pertemuan mereka, Tsuna tidak akan menyimpan perasaan yang terlalu jauh pada Diávolos tersebut, sehingga ia masih bisa menepati janji pada Giotto untuk tidak mencintai Mukuro.

Tsuna sebenarnya tidak menyesal menyayangi Mukuro, namun ia menyesal karena nyaris melanggar janji penting pada tunangannya—Giotto. Sayang memang, karena bila ia menyerahkan buku tua itu, maka Tsuna tak akan bertemu dengan lelaki itu sesering sebelumnya, ia tak akan lagi mendengar kata-kata manis dan pujian-pujian menyanjung dari Mukuro yang selalu membuatnya senang. Tapi di samping semua itu, Giotto jauh lebih penting.

Tsuna memeluk buku tua itu seolah-olah benda itu adalah hartanya yang paling berharga, ia menghela nafas sejenak, dan ketika berbalik—kejutan yang sama sekali tidak ia prediksi menyerang jantungnya.

Mata Tsuna melebar, di iris cokelat itu terpantul bayangan Mukuro yang tersenyum menyapanya. Ia berdiri tepat di sana—selangkah di depan Tsuna—di koridor perpustakaan inti yang menyimpan banyak deretan buku dan ilmu rahasia Άngelos.

'Bagaimana ia bisa berada di sini?'

Otak Tsuna berputar-putar berusaha menjawab pertanyaan tersebut. Namun ia segera menemukan jawaban yang paling memungkinkan: Mukuro membuntutinya.

Laki-laki itu gemar membuat 'kejutan-kejutan' kecil untuk Tsuna agar ia bisa melihat ekspresinya saat terkejut. Mukuro sering mengagetkan Tsuna dari belakang saat gadis itu sedang membaca buku di kamarnya, ia sering mencipratkan airketika mereka di laut, ia juga sering sekali membawakan bunga-bunga indah dan unik yang dibawanya dari hutan. Dan kali ini pun, ia pasti membuntuti gadis itu diam-diam dari belakang untuk membuatnya kaget, tanpa tahu bahwa tempat yang dikunjungi Tsuna merupakan tempat yang paling rahasia bagi Άngelos.

Dalam panik, Tsuna segera pergi sambil menarik tangan Mukuro. Ia harus membawa laki-laki itu keluar dari perpustakaan secepat mungkin sebelum ada yang melihat, atau akibatnya akan fatal—sangat fatal. Ia tak sanggup membayangkan apa yang akan dilakukan oleh para petinggi Άngelos bila mereka mengetahui hal ini.

Namun—

Sepertinya Tuhan senang sekali mempermainkan nasib.

Atau mungkin Ia ingin menghukumnya karena melanggar janji? Entahlah...

Yang pasti, apapun akibat fatalnya, hal itu akan segera menimpa Tsuna dalam waktu dekat.

Karena tepat ketika ia menggeser pintu perpustakaan yang dikunci dengan kode rumit, yang menunggu di balik pintu penuh ukiran itu adalah laki-laki dengan rambut pirang dan enam sayap emas.

"Nona, tolong-sebutkan-apa saja-kesalahanmu." Ulang Knuckle. "Satu persatu."

Tsuna tersadar dari lamunan singkatnya, tapi pikirannya masih melayang. Ia masih terbayang-bayang dengan adegan ketika Giotto menangkap basah mereka berdua, dan yang lebih parah lagi—laki-laki itu memergoki Tsuna memegangi tangan Mukuro. Maka tak heran di sidang tertutup ini, orang yang memasang tampang paling masam adalah Giotto.

"Aku berduaan dengan Mukuro selama lebih dari waktu yang diperbolehkan." Jawab Tsuna tak semangat.

"Berapa batas waktu yang diizinkan?"

"Tiga puluh hari."

"Baiklah, lalu apalagi?"

"Mengajarkan anágno̱si̱ tou myaloú pada Mukuro tanpa persetujuan enam petinggi."

"Ya, dan—? "

"Melanggar janji...pada Giotto."

"Baiklah, selain itu?"

"...Me-membiarkan... Diávolos memasuki perpustakaan inti."

"Nah, itu yang paling fatal, seharusnya kau dihukum seberat mungkin akibat kecerobohan yang bisa membahayakan Άngelos, tapi dengan mempertimbangkan jasa serta bantuan yang telah kau lakukan selama ini, kami memutuskan untuk menjatuhkan hukuman pengasingan bagi Tsuna

.

.

.

"Dan hukuman mati bagi Rokudo Mukuro."

.

.

.


Huaaaaaa...ngegantung yaaa? Hahah *plak* Q terpaksa motong Chapter ini jadi 2 part, kaya pas Sorrow, habisnya kepanjangan banget, ntar bosen lagi bacanya. Terus masih berputar2 sama si Tsuna, padahal Ley mau ngeluarin adegan Full 6927 secepat mungkin, tapi timingnya belum bagus x_x

Dan ampun! Skali lagi maaf yaaaaaa buat semua reader yang nunggu2 Q publish chapter. Padahal janjinya bakal update tiap minggu, tapi gara2 laptop ilang di bis jadi tersendat2 HUWAAAA! *nangis*huhu padahal itu laptop kesayangan banget... mana didalemnya ada draft fic2 yang lain T.T

Tapi yah, lupakan yang lama, sekarang ada laptop baru yang siap menemani! :D
Jadi moga2 aja dengan laptop baru yang sebenernya gak bagus-bagus amat ini, Ley makin lancar publish fic, AMIN!

OK, sekian dlu minna-san! ^^

Tapi sebelumnya, review plis? Biar makin semangat publish chapternya hehe X9