Konbawa Minna-san~
Miyu-chan desu~
Weeeeh, kok berasa ngomong sendiri ya? Ada yang nungguin gak?
(Gak)
Uuwuwuwuwu~
Ini chapter 10 nya~
Sorry telat update sampek seminggu lebih, Miyu kebanjiran urusan pribadi dan tertekan pasca main Doki Doki literature club kemaren itu, karena ceritanya hampir mirip sama yang Miyu buat.
Maunya sih update Senin kemarin, tapi lagi pengen istirahat.
Gomennasai ne~
.
Warning : Full of ampas, GaJe, absurd, EYD berantakan, typo galak, sisanya liat sendiri. Don't LDR (?)
.
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies © Utauloid ©
.
.
.
Watashi ni Kasei o Misete.
.
Chapter 10 : Kimi no... Namae Wa?
.
Len's POV.
.
"Hemmm."
"Jadi?"
"Siapa yang akan mulai duluan? Aku yakin ini akan sulit untuk dijelaskan, benar kan, Len?"
"Yah, kurasa lebih baik dimulai dari penjelasan Aria."
"Apa yang kau maksud, bocah pirang sialan?! Berani-beraninya kau memanggil Centina-sama dengan panggilan kecil!"
"Nah itu dia, apa maksudnya dengan 'Centina'? Apa yang kau sembunyikan, Aria?"
.
Well, ini akan sangat runyam. Kami (aku, Kaito, Oliver, Aria dan pelayanannya) ada di ruangan tempat Aria dirawat, didepan meja teh berbentuk bundar ini. Untuk apa? Hei, yang kumaksudkan itu tentang identitas Aria! Ayolah lihat tempat ini! Ini lantai teratas dan termewah di rumah sakit Tokyo. Bagaimana dia bisa menempatinya? Terlebih dia punya pelayanan sendiri dan memiliki nama lain. Apa kalian tidak ingin tahu penjelasan tentang semua itu?
.
Awalnya aku hanya ingin meminta penjelasan mengenai keadaannya, apa yang 'diambil' oleh VRd? Dia adalah korban ketiga di kelas kami, tapi kami sama sekali tidak tahu. Kenapa ditutupi, apa yang salah? Tapi setelah aku diajak ke tempat ini— tempat Aria dirawat, aku semakin ingin mengetahui siapa dia sebenarnya.
.
Ya pada dasarnya memang aku tidak punya hak memaksanya untuk menjelaskan semua padaku, karena memang aku bukan siapa-siapa kecuali teman sekelas. Tapi jika ditelusuri ulang, Aria lah yang mengajak kami kesini, jadi kupikir... Ah kalian pasti tahu apa maksudku kan?
.
Aku hanya ingin tahu siapa dia sebenarnya.
.
"Baiklah, agar lebih mudah, bisa kita awali ini dengan perkenalan diri dulu?" Tawarku.
"Ya, lagipula aku adalah yang paling tidak mengenal gadis manis ini," tambah Kaito. Dan yah, kata 'manis' itu jelas ditujukan pada Aria. Aku yakin dia berkata seperti itu karena dia baru kali ini melihat Aria, karena saat pertama kali Aria masuk sekolah, Kaito tidak hadir karena sakit.
"Jaga mulutmu, brengsek! Lihat siapa yang kau ajak bicara! Ingat derajatmu dimasyarakat!" Sahut perempuan disamping Aria— pelayanannya, kurasa.
.
Aku semakin tidak mengerti, dari tadi orang ini selalu membahas soal derajat dan kedudukan. Memangnya apa yang salah?
.
"Sudahlah, Yukari-san, mereka itu temanku, tolong jangan bersikap kasar kepada mereka," ucap Aria menengahi.
"Tapi Centina-sama, mereka sudah berani-beraninya menggoda nona dengan kata-katanya yang tidak pantas!"
"Aku tidak berpikir bahwa kata-kata yang orang tadi gunakan
adalah hal yang tidak pantas. Lagipula mereka adalah tamuku, tolong perlakukan mereka dengan pantas ya."
"Baik, Centina-sama."
.
Setelah itu semuanya menjadi hening sejenak. Kami masih canggung untuk bertanya karena orang yang bernama Yukari itu selalu membentak ketika kami berbicara. Aku bahkan tidak tahu dimana letak kesalahan dalam kalimat yang kami gunakan. Haruskah aku berkata formal?
.
"Anu..."
"Eh?" Aku sedikit terkejut, Aria memulai pembicaraan.
"Maaf sebelumnya, sebaiknya perkenalan ini dimulai dari kalian untuk menghindari Yukari-san bertindak kasar lagi. Tidak masalah kan?"
"Ya, kami juga tidak keberatan. Namaku Usagi Oliver, 16 tahun, teman sekelasmu, ingat? Aku tidak yakin apakah kita pernah bicara sebelumnya karena saat itu aku dan Len terlambat masuk saat perkenalanmu. Yoroshiku onegaishimasu."
"Heh, orang yang sering bolos rupanya," kata Yukari sinis.
"Apa masalahmu sih?! Dari tadi kau terus-terusan memandang rendah kami," balas Oliver.
.
Mau bagaimanapun sikap orang yang bernama Yukari ini sangat mengesalkan! Judes! Kasar dan tidak feminim! Walaupun harus kuakui kalau wajahnya sangat manis. Rambut ungu miliknya membuat pandanganku sejuk. But Hell please! Secantik apapun orang jika sikapnya seperti ini ya sama saja memuakkan.
.
Normal POV.
.
"S-sudahlah Yukari-san, jangan bertengkar. Ini hanya perkenalan antar teman sekelas," tengah Aria lagi. Yukari hanya bisa diam terhadap perintah tuannya.
"Maaf ya, Yukari-san memang sangat protektif terhadapku, dia yang menemaniku sejak kecil, dia sudah seperti kakak bagiku. Dan ya, kau Oliver yang itu kan? Yang dari meja disamping tempatku dan Len kan? Yoroshiku," tambahnya.
"A-ah iya, hehehe. Oi Kaito, perkenalkan dirimu."
"Eh? Kenapa harus aku? Len saja duluan."
"Hei sampah, cepat bicara, jangan buat Centina-sama menunggu." Yah kalian pasti tahu siapa yang berkata seperti itu, iya kan?
.
Oliver mulai naik pitam, dia menggebrak meja teh ini, menyebabkan beberapa jajanan jatuh dari tempatnya semula. Wajahnya menunduk, Len dan Kaito sangat yakin kalau saat ini dia sedang kesal.
.
"Oi! Sebenarnya apa maksudmu?! Kau pikir kau siapa? Anak Sultan? Dan apa maksudmu dengan derajat di masyarakat? Hellooo, lihatlah dirimu sendiri, kau pelayanan kan? Apa yang membuatmu berpikir derajatmu lebih tinggi dari kami?"
"Diamlah, orang pinggiran! Suatu kesalahan bagimu mendekati nona Centina!"
"Hei-hei jangan bertengkar di rumah sakit! Hargailah pasien yang lain," tengah Len.
"Ha? Apa hakmu melarangku bicara, hah?" Lawannya balik.
"CUKUP!"
.
DEGH.
.
Seisi ruangan tersentak, Aria selaku sumber suara berdiri dari tempatnya duduk.
"Yukari-san, maaf, bisakah kau keluar sebentar dari ruangan ini? Kurasa keberadaanmu membuat pembicaraan ini jadi tidak kondusif," lanjutnya.
"Maaf, nona Centina, saya tidak bisa meninggalkan anda bersama orang-orang yang belum lama anda kenal. Bisa saja—"
"Ini perintah."
"Tapi, Centina-sama, saya—"
"Turuti, Yukari-san, turuti perintahku."
"Baik, Centina-sama."
.
-Sreeet.
.
Yukari lalu pergi meninggalkan ruangan tadi, menyisakan Len, Kaito, Oliver dan Aria.
"Maaf ya, Yukari-san terlalu banyak melampaui batas. Dia hanya ingin memprioritaskan hal yang layak dalam setiap urusan. Dan harus kuakui itu kadang banyak membuat masalah. Namun walaupun begitu, tolong jangan diambil hati ya?"
"A-ah iya, ya, tidak apa-apa kok," gagap kami bertiga serempak.
"Tapi, Aria, boleh aku tahu apa hubunganmu dengannya?" Tanyaku.
"Akan ku jawab saat perkenalan ini sampai pada giliranku. Nah, sampai dimana tadi?"
.
Seisi ruangan— kecuali Aria saling berpandangan. 'Siapa selanjutnya?' adalah inti dari tatapan mereka, atau lebih tepatnya antara Len dan Kaito. Oliver sudah memperkenalkan diri, ingat?
.
"Haaah, baiklah aku saja," Len menghela napas pertanda mengalah.
"Namaku Kagamine Len, 16— ah maaf, maksudku 17 tahun, Desember tahun lalu adalah ulang tahunku dan Rin. Kita semeja, dan ada saat kejadian di perpustakaan, kuharap kau mengingatku. Yoroshiku ne."
"Ah, tentu saja, Len-kun. Tapi maaf, aku belum mengenal Rin yang kau maksud. Aku cuma sedikit berinteraksi saat hari pertamaku di sekolah."
"Hahahaha, ya tidak masalah, nanti akan kukenalkan kalian. Hei, Kaito, sekarang giliranmu."
.
Kaito memperbaiki kerah kemeja biru miliknya, sedikit menarik napas sambil memejamkan mata. Entah kenapa Len melihatnya sebagai suatu kekonyolan, 'sok tampan', pikirnya.
.
"Aaaa... Aku harus apa ya?"
.
-GUBRAK!
.
"PERKENALKAN DIRIMU, BAKA! SIAPA NAMAMU! UMURMU! DAN IDENTITASMU YANG LAIN!" Bentak Len dan Oliver serempak. Kekonyolan orang ini sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.
"Lah? Bukannya kalian berdua sudah tau siapa aku? Kenapa malah bertanya lagi?"
"Maksudku-kau-itu-memperkenalkan-diri-kepada-Aria," jelas Len dengan penekanan pada setiap kata pada kalimatnya.
"Oooh, kenapa tidak bilang dari tadi sih? Bisanya cuma membuat bingung saja."
.
'Ingin ku berkata kasar,' batin Len dan Oliver.
.
"Yosh! Perkenalkan, namaku Shion Kaito, kau boleh memanggilku 'sayang' atau 'honey'. Yoroshiku!" Ucap makhluk biru itu dengan penuh— ummm, bagaimana menyebutkan sinonim dari kata konyol? Idiot? Yah, mungkin itu.
"Um! Salam kenal juga, BaKaito-kun."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Pffft—"
"NAMA APA ITU?!"
"AHAHAHAHA!" Len dan Oliver tertawa terbahak-bahak mendengar panggilan Aria pada Kaito. Ini adalah hal baru abad ini.
.
"Ba-BaKai-Ahaha-to?! Hahaha— ugh.. HAHAHA! Sialan, aku tidak bisa berhenti tertawa— AHAHAHAHA!"
"Ya ampun, perutku sakit! Ahaha— uhuk-uhuk! Len! Tolong pukul punggung— hahaha ku!"
"Kau ini bicara apa— hahaha... Mana ada punggung hahaha— uhuk!" Len dan Oliver semakin terbahak karena kelakuan satu sama lain.
"URUSAI! Kalian menyebalkan!"
"Terimalah, Kaito, bagaimanapun panggilan itu adalah yang paling mendeskripsikan dirimu," jawab Len disela tawanya.
"Aaargh! Hei, darimana kau dapat kata laknat itu sih?!" Tanya Kaito.
.
Aria terlihat berpikir, Kaito menahan napasnya, dan tidak lama setelah itu ia menjawab.
.
"Sebelumnya aku pernah mendengar Len dan Usagi-san berbicara sambil menyebut nama seseorang bernama 'Baka Kaito' berkali-kali namun terdengar samar-samar, dan jujur pengucapan nama itu sulit dilidahku, jadi aku menyingkatnya. Kemudian saat kau datang bersama Len, lalu mempunyai nama yang mengandung kata 'Kaito' dan Len-kun memanggilmu 'Baka', aku langsung tau kalau itu kau. Yoroshiku ne," jelasnya.
.
-KRAKK.
.
"Uuugh..."
"That's must be hurt," komentar Len dan Oliver atas alasan Aria terhadap panggilannya kepada Kaito. Ya, mereka kurang yakin, tapi sepertinya tadi ada suara hati yang pecah berkeping-keping. Just in fantasy, right?
"DAMAREEE...! Oi, jangan panggil aku seperti itu lagi! Namaku Shion Kaito! Bukannya Baka Kaito!"
"Eh? Salah ya? Ummm, padahal aku sudah mulai akrab dengan nama itu," murung Aria.
"Hei BaKaito, jangan membuat seorang perempuan bersedih! Ayolah, pasrah saja dengan panggilan itu. Lagipula kami menyukainya, iya kan, Oliver?"
"Hai'. Dan aku yakin seluruh teman sekelas juga setuju."
"Setuju jidatmu! Ini kan gara-gara kalian!"
"Anooo..."
"Eh?" Mereka bertiga menghentikan percakapan mereka karena selaan Aria.
"Sekarang giliranku untuk memperkenalkan diri... Jadi... Ummm..."
.
Len's POV.
.
Aria terlihat sedikit terganggu, kini gilirannya yang melakukan perkenalan. Walaupun sebelumnya dia sudah memperkenalkan diri di kelas, tapi kenyataan bahwa dia menyimpan rahasia atau apalah itu membuat kami— khususnya aku penasaran. Apa? Aku hanya ingin tahu.
.
"Anu, seperti yang kalian tahu, namaku Ta-Takanashi Aria, 16 tahun. Y-yoroshiku."
"Namamu bukan Aria kan?"
"Eh?"
"Oi-oi Oliver, apa-apaan kau?" Tanya Kaito.
"Etto, Usagi-san, apa maksudmu?"
"Sudahlah, tidak usah berpura-pura."
"A-aku tidak mengerti maksudnya."
"Len, bagaimana menurutmu?"
.
Aku melihat ke arah Aria. Namun dia tetap menatap lurus pintu di depannya. Sebenarnya dia selalu menatap pintu itu, sejak awal memasuki ruangan ini.
"Siapa kau sebenarnya, Aria?"
"Len..."
"Oi Len! Kenapa kau malah ikut-ikutan Oliver? Ada apa ini? Dia kan sudah memperkenalkan diri, dia Aria kan? Tidak mungkin salah orang. Dan tidak mungkin palsu juga."
"Seyakin apa kau mempercayai itu, Kaito?"
"Oliver, bisa kau jelaskan teorimu? Kurasa kita punya pemikiran yang sama kali ini. Atau mungkin, Aria, kau mau menjelaskan sesuatu sebelum kami bicara?"
.
Sekarang ini suasana kembali hening. Aria masih terdiam, memejamkan matanya. Aku dan Oliver saling menatap. Kaito? Lupakan saja dia, jangan mengurusi orang yang lemah otak.
.
"Aku ingin mendengarkan kalian terlebih dahulu."
"Boleh kami tahu kenapa?" Tanya Oliver.
"Entahlah. Insting, mungkin?" Ragunya. Kami saling mengangguk.
"Baiklah. Tapi sebelumnya, Yukari-san, bisakah kau berhenti menguping dari balik pintu itu?"
"Eh?"
.
-Sreeet.
.
"Heh, kau sadar juga ya, bocah perban?" Pintu bergeser, lalu muncullah Yukari-san, tentu dengan wajah yang tampak marah— atau mungkin meremehkan. Dia mulai memasuki ruangan ini.
"Lain kali hilangkan dulu hawa keberadaanmu jika ingin melakukan itu."
"Aku merasa terhina karena diceramahi orang pinggiran sepertimu."
"Biarlah, toh kau juga hanya babu, tidak lebih dari sesama orang pinggiran."
"Cih! Beraninya—"
"Eiiits! Jangan lepas kendali dulu, atau mungkin tuanmu satu ini akan mengusirmu sekali lagi. Benar begitu, A-R-I-A."
"Tsk! MEMA—"
"Cukup, Yukari-san, aku belum menyuruhmu untuk masuk kesini. Jadi silahkan keluar sekarang."
"Maaf, Cent—"
"Apa sulitnya mematuhi perintahku, Yukari-san? Sepertinya kau sudah tidak bisa lagi ada disampingku kalau begini terus. Aku baik-baik saja disini. Ah dan jangan menguping pembicaraan kami." Potong Aria. Yukari langsung mematuhinya, kelihatannya ini jadi masalah yang serius.
.
"Silahkan dilanjutkan," ucap Aria selepas keluarganya Yukari dari tempat ini.
"Baiklah, Len, kau mau duluan?"
"Kuberikan kehormatan itu padamu saja."
"Heh, ini jadi seperti gelar kebangsawanan saja. Oke, sebelumnya aku ingin kalian melihat ini." Oliver mengeluarkan smartphone miliknya dari kantong celananya. Terdapat beberapa data disana.
"Apa itu, Oliver?" Tanya Kaito yang mulai memasuki pembicaraan.
"Ini adalah data keseluruhan siswa di sekolah kita."
"Lalu apa hubungannya?"
"Awalnya aku penasaran dengan korban ketiga UniVR yang tidak dapat ditemukan, padahal itu ada di kelas kita, jadi aku mengumpulkan semua data ini minggu lalu untuk survey. Kalau kau cermati, tidak ada tercatat nama 'Takanashi Aria', berapa kali pun kau mencarinya di data sekolah. Benar begitu, A-R-I-A?"
.
Aria masih termenung, tatapannya tetap lurus ke depan. Aku sendiri mulai menghubung-hubungkan premis Oliver dengan dugaanku.
.
"Kenapa, Aria? Kenapa kau tidak menjawab? Lihatlah data ini. Sanggahlah pernyataan Oliver! Kau yang asli kan?"
"Percuma, Kaito. Dia tidak dapat melihat data yang kuberikan. UniVR 'mengambil' fungsi matanya. Dengan kata lain, dia buta. Apa aku salah?"
.
Kaito tersentak, begitu pula aku dan Aria. Tsk, dugaanku kini diperkuat dengan pernyataan Oliver tadi. Awalnya aku tidak ingin mempercayai ini, tapi tingkahnya yang selalu menatap lurus tanpa melirik membuatku terganggu. Aku menduga kalau matanya terkena gangguan, tetapi setelah pernyataan Oliver barusan, ini menjadi lebih jelas. Ayolah, kalau dia rabun, pasti dia akan sedikit panik dan gelisah karena berusaha melihat siapa yang bicara. Tapi sikap tatapan kosong itu seakan dia sudah berhenti berusaha untuk melihat. Ditambah lagi dengan fakta bahwa seluruh player UniVR 'diambil' satu atau beberapa fungsi tubuhnya.
.
"Tidak ada komentar? Baik, kita lanjutkan. Sebenarnya aku ingin bertanya dulu hubunganmu dengan pelayan sinting tadi, tapi mungkin itu bisa nanti saja. Yang penting adalah bagaimana caranya namamu tidak ada didaftar murid Voca Gakuen, sedangkan kau secara resmi mendaftar disana? Apa yang kau sembunyikan? Siapa kau? Kenapa harus disembunyikan? Apa—"
"Sudah dulu, Oliver. Jangan terlalu mendesaknya, dia bukan android yang dapat membuka beberapa tab dalam sekali waktu."
"Yah, baiklah. Sisanya kuserahkan padamu, Len."
.
Aku menatap wajah Aria, walau secara teoritis dia tidak bisa melihatku. Semoga argumentasi yang kusiapkan dapat mengungkap ini semua.
"Aria."
"..."
"Kau—"
"Baiklah, Len-kun, aku akan bicara. Aku tidak ingin menambah pembicaraan ini menjadi lebih rumit, itu lebih baik kan, Usagi-san?"
"Ya, kurasa begitu. Kami juga lelah membuat premis tanpa kejelasan. Toh akhirnya kau juga harus menjelaskannya."
"Oke, tapi beri aku sedikit waktu."
"Ambil semaumu."
.
Aria kembali memejamkan matanya, suasana hening ini kembali untuk kesekian kalinya. Sudah hampir 5 menit, tapi masih belum ada tanda-tanda dia akan bicara.
.
"Aku bingung harus memulai darimana."
"Mulai saja dari nama asli dan keluargamu."
"Um. Maaf sebelumnya, aku akan memperkenalkan diriku sekali lagi. Namaku Alleria Centina, 16 tahun, putri dari Perdana Menteri Jepang. Yoroshiku onegaishimasu."
.
Kami semua menatapnya dengan tidak percaya.
"A-ah?!"
"Pe-perdana menteri Jepang, katamu? Hikishima AL?"
"Ya, dia ayahku."
"Tapi bagaimana bisa?! Anak perdana menteri Jepang hanya ada satu orang, yaitu Hikishima Mayu! Tidak ada yang—"
"Bagaimana jika kubilang bahwa... Aku anak perdana menteri yang sebenarnya?"
.
.
.
To be continued.
.
.
.
A/N time~
Uwaaaaaaaaa..!
Kenapa nyampah gini yak?
/Ndasmu lah yu
Hadeh, jangan kecewa ya udah telat update malah hasilnya ginian.
.
Len lumpuh dan Aria buta. Mayu juga ikutan nimbrung nama.
Dan ada request khusus dari senpai : Gore please.
Itu juga ide Miyu diawal sih, tapi gak terlalu greget. Miyu gak tahan darah
So, ntar ada yang mat—
/JANGAN SPOILER BENGAK!/
.
Ah iya, judul chapter kali ini samaan kayak "Kimi no Nawa".
/Memang sama pekok!
.
Stay tune aja yaaa, semoga kalian tidak bosan melihat dan tidak segan mereview..
Karena review kalian adalah semangat dan penghargaan untuk Miyu yang akan meningkatkan kualitas fict ini °w°
Prioritaskan fav/foll wal review~
.
Akhir kata, ja ne..!
