Hai, ini Kaeru Kodok ganti nama. Maaf karena tiba-tiba ganti pane-name di tengah chapter begini. Tapi saya lebih nyaman dengan nama ini, Lee Audrey. Yoroshiku.

PREVIEW:

"Helios….";

"Kau sedang menunggu ajakannya untuk berkencan?";

"Jika Yin adalah bayangan, maka Yang adalah cahaya.";

"Kau menakjubkan, Atsumi.";

"Kuroko, boleh… aku duduk di situ?";

"Ketemu lagi, Tetsu."

.

.

God, I'm (really) in Love!
© Lee Audrey / Kaeru Kodok

Kuroko no Basket
© Fujimaki Tadatoshi

.

.

TYPOs, GENDERBENDs, CRACK-PAIRs, dsb

HaiAo / KagaKuro / HiMura / NijiAka

.

Don't like the pair(s)? Then just bear with it.

.

.

.

"Ne, Ryouta-kun, tahu nggak?"

"Apa, Satsucchi?"

"Kalau bagi sebagian orang, cinta itu tidak perlu dicari, tapi menemukan mereka."

"Wah, indah, ya! Kalau begitu, tugasmu apa, Satsucchi?"

"Aku? Cuma bagian-bagian kecil. "

.

.

.

CHAPTER 10: Problems

"Ah, ini dia!"

Saat itulah sebuah tangan yang hangat mendarat di pundaknya. Kuroko berbalik dengan sumringah, berseru, "Taiga—" Namun menelan bulat-bulat ludahnya.

Sosok itu, tinggi dengan rambut dan kulit gelap, senyum miring melengkung tinggi bagai bulan sabit di wajahnya. Kuroko langsung membeku. Ia bergetar.

"Ketemu lagi, Tetsu," sapa Aomine Daiki versi perempuan, bahkan tak mau repot untuk menunduk. Ia bagai menatap Kuroko dengan lubang hidungnya. "Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu kau di sini."

Yah, memang tidak. Karena rencana awal Aomine ke Bumi bukanlah misi penculikan atau pembujukan agar Kuroko mau kembali ke Olimpus. Ia sudah berjanji pada Nijimura, ingat?

Dan untuk mengetahui kenapa gadis tomboy itu ada di sini, kita harus mundur ke beberapa jam sebelumnya.

.

-:-

-:-

.

Setelah berbicara dengan Nijimura, Aomine pun kembali ke Dunia Bawah seperti yang sudah ia katakan pada Haizaki.

"Oi, Makoto, sudah ketemu obatnya, belum?"

Hanamiya Makoto berbalik dengan cepat, sayap kelelawarnya mengepak gusar melihat siapa yang muncul dari balik pintu onyx kantor Imayoshi.

"Belum, dan sepertinya tidak. Kau ini sinting karena berharap menemukan resep obat di istana kematian ini. Lagipula kenapa aku yang harus mencarikan obat untukmu, hah? Jika kau ingin, cari sendiri! Aku sibuk, tahu."

"Ckh, yah, terserah saja." Aomine kemudian membuang muka dengan malas. "Lagipula Shintarou sudah berjanji akan membuatkannya untukku. Dan ngomong-ngomong, ke-tsundere-an kalian nggak jauh beda, lho."

"Hah?! Kenapa tiba-tiba berganti topik dari ini ke itu?"

Tanpa mempedulikan Hanamiya, Aomine pun menatap sekeliling. "Mana Imayoshi-san?" tanyanya.

"Tidur."

Sepertinya sang raja telah mengambil kebiasaan Aomine.

"Hei, ada sesuatu yang bisa kupinjam, tidak?"

"Pinjam? Maksudmu?"

Yah, kelihatannya Hanamiya masih tidak sadar peliharaannya menghilang.

"Kekuatanku melemah, Makoto, kau tahu itu," ujar Aomine, melangkah ke singgasana Imayoshi dan duduk di atasnya. Hanamiya pada dasarnya tidak pernah peduli apa yang Aomine lakukan selama tidak berpotensi merepotkannya. Jadi, dia membiarkan 'Dewi' Bencana itu ongkang-ongkang kaki di meja kerja Imayoshi.

"Ya, aku tahu," jawab Hanamiya tidak peduli. Fokusnya kembali pada buku hitam tebal dan pena di tangannya.

"Jadi… aku berpikir, apakah teman baikku ini," Hanamiya merinding hebat, "mempunyai sesuatu yang dapat membantuku jika sesuatu yang diluar dugaan terjadi? Seperti… yah, kau tahu lah, alat-alat ajaib?"

Debuman keras terdengar ketika Hanamiya menutup Buku Kematian di tangannya. Ia pun menegakkan diri, punggungnya yang lebar terlihat begitu gelap dari pandangan Aomine. Gadis itu sendiri lumayan kaget, hingga tidak tahu apa yang harus dilakukan selain menunggu reaksi lain sang Dewa Kematian.

"Tentu, Daiki," balasan Hanamiya di luar perkiraan Aomine. Pria beralis tebal itu pun berbalik, kemudian mendekat perlahan sambil tersenyum hangat. Jemari panjangnya membelai pipi Aomine yang jadi membeku ketakutan. "Dengan senang hati kubantu."

"E-eh?"

Ada yang salah.

Kemudian jari-jari yang dingin itu meluncur cepat ke lehernya, dan mencekiknya. "Mana mungkin aku bilang begitu, bodoh." Tatapan Hanamiya berubah setajam kobra. Aura hitam menguar dari balik tubuhnya. "Kau masih bisa menggunakan kutukan dan pedangmu pun masih tajam, jadi seharusnya itu cukup untukmu bertahan diri. Lagipula, untuk apa kau membutuhkan alat-alat bantuan? Jika terjadi sesuatu kau tinggal kabur saja jika tidak sanggup."

"Itu masalahnya, jenius," balas Aomine, tak kalah tajam. Ia mencengkram erat tangan Hanamiya yang masih mencekik lehernya. Tatapan mata biru itu pun sama-sama kesal. "Sekarang sayap ini hanya pajangan. Aku tidak sanggup terbang lagi."

Manik abu Hanamiya membesar.

"Tapi, terimakasih sudah bersimpati padaku." Aomine mendorong Hanamiya menjauh. Ia bangkit dan berjalan keluar ruangan. "Aku menghargainya." Tangan berkulit coklat yang ramping itu kemudian melambai. Tanpa Hanamiya tahu, tangan Aomine yang satu lagi sedang memasukkan sesuatu ke kantong celananya.

Beberapa menit kemudian gadis berambut biru itu menemukan dirinya sedang duduk bengong di atas gondola panjang yang dikemudikan oleh Kharon, penjaga sungai-sungai di Dunia Bawah sekaligus satu-satunya orang yang dapat menyeberangkan roh dari Dunia Atas ke Dunia Bawah. Biasanya, Kharon meminta bayaran berupa sekeping obolos, koin kecil yang disimpan di mulut jenazah oleh keluarga atau kerabat. Tapi khusus bagi para Jendral—khususnya Aomine yang kalau bad mood langsung mengeluarkan pedang—Kharon menyerah saja.

Saat ini saja Aomine bertampang seolah tidak ingin diganggu, membuat iblis bertudung kepala besar itu tak berani menanyakan alasan Aomine menaiki gondolanya. Padahal, gadis itu cuma bengong memikirkan tempat yang sebaiknya ia kunjungi untuk membunuh waktu.

Hm… karena masih musim semi, tidak ada salahnya kalau mengikuti tradisi manusia untuk melihat bunga sakura.

Taman Yamashita di Yokohama langsung menjadi pilihan destinasi Aomine selanjutnya, untuk sekedar keliling atau duduk-duduk sambil menunggu sisa sepuluh jam bagi Midorima untuk menyelesaikan ramuannya. Udara yang sejuk di pagi hari berpadu dengan kesibukan warga kota yang tak melulu menggunakan pakaian formal kerja. Malah, lebih sering anak muda Jepang dengan warna-warni pakaian mereka yang seliweran di depan mata.

Aomine memilih salah satu bangku yang menghadap lautan untuk beristirahat. Di belakangnya pohon sakura yang mulai menanggalkan bunganya berdiri memayungi Aomine. 'Dewi' Bencana itu pun menghela napas. Ternyata asyik juga melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Selama ini yang dihadapinya hanya panasnya api Dunia Bawah atau kelamnya hari-hari di sana. Sangat tidak menarik jika dibandingkan Tokyo yang berwarna-warni ini.

Tanpa terasa menit pun berlalu, dan Aomine mulai bosan. Ia bangkit dan kembali berjalan. Beberapa kedai makanan pun menarik minatnya dan ia sambangi satu-satu. Walau tak memiliki uang, tapi bakat mencuri yang ia pelajari dari roh-roh penjahat veteran sudah cukup untuk mengambil dompet dari beberapa orang tanpa ketahuan. Perjalanan kulinernya bahkan sampai menjelajah daerah pecinan terbesar di Jepang, Yokohama Chukagai, sampai-sampai tangan dan mulutnya penuh dengan manju. Secara iseng, ia bahkan menertawai orang-orang yang sedang berdoa di Klenteng Kanteibyo karena ketololan mereka menyembah sesuatu yang kosong.

Kakinya kembali berjalan tak tentu arah, hanya menurut ke mana arus manusia membawanya. Tanpa sadar Aomine sudah ada di daerah Minato Mirai 21 dan berkeliling menara Landmark, yang merupakan gedung tertinggi di Jepang. Selain melihat-lihat seperti apa di dalamnya, gadis yang memanfaatkan jubah biru tua berbulu serta boots baja sebagai fashion item-nya itu juga menyempatkan diri mampir ke mal tak jauh dari sana, Landmark Plaza dan Queen's Square. Ia juga mampir ke Hard Rock Café untuk membeli cendera mata dan makan siang.

Setelah puas memborong beberapa T-shirt di outlet Uniglo di Queen's Square, Aomine segera menyeberang jalan dan menuju lokasi kunjungan terakhirnya di Yokohama, yaitu dermaga Osanbashi.

Saat itu hari sudah sore dan mentari mulai tergelincir di ufuk barat. Selama berjalan menuju lokasi, insting wanitanya kembali tergoda ketika menemukan dua mal besar yang membuat jantungnya berdetak kencang, World Porters dan Red Brick Warehouse, atau lebih dikenal dengan Akarenga Soko. Mal yang terakhir ini cukup unik. Berhubung gedung tersebut bekas gudang pelabuhan, maka bangunan bergaya kolonial itu sengaja ditemaramkan.

Namun keinginannya berbelanja harus ditahan, kalau tidak ia akan kehilangan sisi maskulin dan seratus persen menjadi perempuan. Ugh, tidak, tidak. Dewa Bencana harus garang dan macho tanpa cela. Apa jadinya jika ia masuk ke World Porters yang penuh Hello Kitty? Hanamiya dan Imayoshi bisa tertawa hingga istana runtuh.

Begitu sampai dermaga Osanbashi, hal pertama yang Aomine lakukan adalah membeli beberapa teriyaki burger setelah mencium aromanya dari jarak yang lumayan jauh. Ia pun memilih untuk duduk-duduk di pinggir dermaga, menyaksikan kapal-kapal pesiar dari luar negeri yang masuk lewat Yokohama.

Tenggelamnya mentari di depan mata juga menjadi sesuatu yang baru bagi kehidupan Aomine. Gelombang air laut pun beriak pelan, berkilauan dengan cahaya emas dari sang mentari. Gadis itu memicingkan mata. Ia tidak tahu bahwa matahari bisa seindah ini, padahal dewa yang bertanggung jawab akannya sedang tak sadarkan diri di sana.

Hingga setelah mentari menggelinding di cakrawala, ia teringat akan janjinya dengan Midorima. Segera ia singkirkan dulu teriyaki burger di tangannya, dan mengeluarkan layar LCD dengan sekali jentikan jari untuk menghubungi Dewa Bumi itu.

"Ya?" jawab Midorima begitu menerima video-call Aomine.

"Udah jadi, belum?" Gadis itu kembali mengunyah teriyaki burger-nya.

"Sudah. Kau tinggal mengambilnya di sini."

"Apa? Aku ke sana?" Aomine sedikit tersedak. Ia pun menaikkan sebelah alisnya. "Kau tahu sendiri sayapku tidak berfungsi, hijau. Kau saja yang antarkan."

"Jangan sembarangan menyuruh orang, Daiki!" seru Midorima, kelihatan benar-benar kesal. Penampilannya yang terbilang rupawan terlihat kacau berkat lengkungan hitam di bawah mata. "Siapa sebenarnya yang butuh, hah? Aku juga tidak dalam kondisi prima, tahu."

"Kalau begitu suruh asistenmu itu antarkan. Siapa namanya, ya? Takumi?"

"Takao Kazunari, Daiki! Jangan sembarangan mengubah nama orang!" seru Midorima lagi.

"Aah, iya, iya. Kau cerewet sekali, Midori-Megane."

"Oi! Daiki, kubilang—"

"Blah blah blah." Aomine membuang mukanya. "Cepat, aku di pinggir laut, jadi kau pasti mudah menemukanku."

"Aku benar-benar akan membunuhmu nanti, Daiki."

"Ya, ya. Dan aku sudah cukup berurusan dengan tsundere hari ini. Jadi, mana?" Gadis itu mengulurkan tangannya, membuat urat-urat di pelipis Midorima berkedut.

"Kau dengar perkataanku tidak, sih? Aku sedang tidak bisa meninggalkan Olimpus, begitu juga Takao. Dia sedang sibuk melakukan hal lain, tidak senggang sepertimu. Dan sayangnya, Daiki, tidak ada lift sihir yang menghubungkan Olimpus dengan Dunia Manusia."

"Aku juga tahu itu, Ibu, makanya aku tidak bisa ke sana mengambilnya."

"I-Ibu?! Beraninya—"

"Haah! Lakukan saja sesuatu! Suruh orang lain, kek. Lempar, kek. Terserah! Kau jago lempar, kan?"

Ada sedikit jeda untuk Midorima terdiam. Aomine menggunakan kesempatan itu untuk menghabiskan burgernya.

Kemudian Midorima membuang muka. Di balik kacamatanya, Aomine bisa melihat ia berkedip beberapa kali dengan semburat tipis di bawah mata. "Yah… nggak begitu jago juga. Lagipula, sudah lama aku tidak berlatih. Po-pokoknya jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi pada botolnya!"

Si biru navy mengangguk malas.

Video-call pun dimatikan. Aomine langsung menengadahkan kepala dan melihat di antara bintang-bintang yang mulai muncul. Salah satunya pasti Venus, walau ia tidak yakin yang mana. Momoi pernah mengatakan sesuatu tentang itu.

Perlahan tapi pasti, sebuah cahaya pun berpendar di kejauhan. Ia berkerlap-kerlip seperti bintang yang lain, hanya saja, semakin lama cahayanya semakin terang.

Aomine lantas berdiri untuk bersiap meraih cahaya yang ia yakin adalah botol ramuannya itu. Benar saja, tak berapa lama sebuah botol mendarat tepat di tangannya yang terulur. 'Seperti yang diharapkan dari Shintarou,' pikirnya, tersenyum puas.

Tapi setelah bergesekan dengan atmosfir bumi dengan kecepatan tinggi, botol berbahan kaca khusus itu menjadi bersuhu sangat tinggi. Aomine tidak menyadarinya untuk beberapa saat, karena sudah terbiasa dengan benda-benda mendidih dari dasar Dunia Bawah. Kemudian ia ingat bahwa hal itu saat dia masih berkekuatan dewa.

Ia pun berteriak keras, kaget dan kesakitan. Secara reflek ia melempar botol itu yang kemudian sukses tenggelam di laut. Ia berteriak lagi, kali ini karena kebodohannya.

Haduh, haruskah ia berenang di malam musim semi? Tubuhnya bukan dewa lagi, lho.

Saat kebingungan itu, lagi-lagi ada sesuatu yang berpendar di langit. Sepertinya itu botol cadangan dari Midorima, Aomine pun menunggu dengan bahagia—kali ini mengenakan jubahnya sebagai alas di atas tangan. Namun, ada yang aneh. Baru pada jarak sepuluh meter di atas tanah—ukhm, mungkin lebih tepatnya air laut, Aomine baru sadar bahwa cahaya, atau benda itu, tidaklah sekecil botol ramuan pada umumnya. Karena pada dasarnya, itu bukanlah botol.

Semburan yang besar pun tercipta ketika sesuatu itu jatuh ke laut, menciprati Aomine yang masih ternganga di pinggir dermaga.

Apa itu tadi? Jangan-jangan, Midorima sendiri?

Tak berapa lama gelembung-gelembung air pun muncul ke permukaan, disusul sesuatu yang berwarna putih dan mengeluarkan asap.

Aomine tidak tahu harus melakukan apa.

Ia menapak lebih dekat pada ujung dermaga dan mengeluarkan pedangnya. Dengan ujung runcing berlapis sarung pedang, Aomine menusuk-nusuk sesuatu yang mengapung itu, dan menyeretnya ke tepi.

Benda itu bergerak sekilas. Aomine tersentak.

Akhirnya ia memutuskan untuk mengangkat benda aneh itu, walau harus mengerahkan seluruh tenaganya sebagai perempuan.

"Ba-bagaimana bisa Malaikat-Bangsat ini…?!" serunya, terlonjak hingga jatuh terduduk. Tanpa diduga tenyata Haizaki Shougo-lah yang jatuh dari langit, walau Aomine sangat yakin, beberapa saat lalu ia masih terperangkap di jaring laba-laba peliharaan Hanamiya. Kali ini asisten pribadi Zeus itu muncul dengan tampang babak belur dan tanpa sayap.

Aomine langsung mengerti ini ulah siapa.

Cepat-cepat ia menyalakan video-call lagi, kali ini untuk menghubungi orang yang paling berkemungkinan menjadi biang keladi, sang Raja Olimpus, Nijimura.

"Huh? Apa lagi ini? Oh, Daiki?" sapa Nijimura, walau terlihat tidak senang dengan alis yang menekuk dan bibir yang berkerut.

Aomine ciut sekilas. Niatnya untuk marah-marah duluan pun hilang. "Ra-Raja…" Ia menelan dulu ludahnya sebelum rasa takut menelannya lebih dalam. "Apa terjadi sesuatu antara kau dan Shougo?"

"Kenapa? Bukan urusanmu."

"Maaf saja, tapi sekarang jadi urusanku karena dia jatuh tepat di depanku."

Nijimura terdiam. Dengan pose bibir ciri khasnya, pria berambut hitam itu mengalihkan muka. "Oh, begitu."

"Jangan cuma 'oh, begitu'! Lakukan sesuatu! Aku juga punya urusan."

"Kukira kau senggang."

"Hah? Siapa yang bilang?"

"Shintarou."

Ugh, kenapa pula Midorima harus cerita-cerita tentang Aomine? Eh, tapi, Midorima bukan tipe yang suka membocorkan sesuatu. Apakah ini memang kemampuan Nijimura sendiri, untuk mengetahui segalanya? Dengar-dengar sih, dia memang bisa membaca pikiran.

"Pokoknya, apa yang harus kulakukan? Mayatnya bisa membusuk kapan saja, dan aku tidak mau kena baunya!"

Nijimura memutar bola matanya dengan malas. Ia pun membuang napas keras. "Aku yakin Shougo tidak mati."

"Lihat saja, akan kubuat begitu."

"Kau juga akan kubunuh."

Aomine mengunci mulutnya.

"Dengar, Daiki, tadi aku ada sedikit masalah dengannya. Dan sekarang aku juga ada urusan. Perginya Tetsuki dan rehatnya Seijuurou meninggalkan banyak kerjaan, tahu. Syukurnya Shougo jatuh di depanmu, sehingga aku tidak perlu khawatir lagi."

"Kalau kau tidak ingin khawatir tentangnya, bisakah kau mulai dengan tidak menghajarnya setiap ada kesempatan?"

"Oh, kau peduli padanya?"

"Cuih, nggak! Hanya saja orang lain bisa kerepotan, tahu!"

"Kalau begitu, untuk kali ini saja, aku mohon padamu. Tolong urus dia, oke. Ciao."

"Oi, tung—!"

Terlambat. Layar di depan wajah Aomine sudah keburu hitam.

Ia mencoba menghubungi Nijimura lagi namun orang itu telah menon-aktifkan koneksinya. Aomine pun menyerah. Ia menunduk untuk melihat malaikat yang tak sadarkan diri di dekat kakinya, kemudian teringat pada botol ramuan dari Midorima. 'Pasti sudah ada di dasar dermaga.' Dan Aomine malas melepas pakaiannya untuk terjun ke air yang dingin.

Apa pula Nijimura itu? Mentang-mentang dia bos dari segala bos, sok menyuruh-nyuruh orang!

Nah, sekarang bagaimana ia bisa kembali ke wujudnya?

Aomine menghubungi Midorima lagi, dan memutar bola mata melihat tampang kesal yang sudah terduga.

"Apa lagi?" sembur Midorima tajam.

"To the point aja, botolnya jatuh ke laut, aku terlalu malas berenang mengambilnya, dan sekarang ada malaikat sekarat di depanku. Aku harus ngapain?"

Midorima mengedipkan mata. "Sudah kubilang aku tidak bertanggung jawab jika sesuatu terjadi pada botolnya."

"Iya, ingat. Jadi, ada botol yang lainnya, tidak?"

"Botol? Banyak. Cuma ramuan yang tadi sudah habis."

"Apa?"

"Tingkat kesulitannya bukan hanya pada cara meraciknya, tapi kelangkaan bahannya juga. Kau tidak tahu Takao setengah mati mencarikannya untukmu! Dan sekarang hilang? Terima saja takdir, Daiki."

"Jangan melawak sekarang, mata empat. Yang kubutuhkan adalah sesuatu untuk bisa kembali semula."

"Kalau itu, aku ada satu cara. Sebenarnya sederhana, tapi sekarang merepotkan."

"Hah?"

"Yang bisa mengembalikan kekuatanmu hanya orang yang telah mengambilnya darimu. Di lain kata, Seijuurou. Masalahnya dia sedang tidak sadarkan diri sampai kekuatannya juga kembali. Kalau kau sebegitu tergesanya, bantulah dia mengembalikan kekuatannya."

"Ke-kenapa tidak bilang dari kemarin-kemarin, kuso-megane! Kalau tahu begitu kan, aku sudah minta tolong Seijuurou sebelum dia pingsan begini. Terus, sekarang bagaimana caranya aku mendapatkan kekuatannya, coba?"

"Cari saja orang yang memiliki sebagian kekuatan Seijuurou. Tidak perlu kau bawa orangnya, tapi kekuatannya saja. Kau bisa menyimpannya sementara dalam sesuatu yang dapat menjadi 'wadah'. Dan, Daiki, aku benar-benar tidak suka caramu memanggilku."

"Hanya itu?" tanya Aomine, mengedip-edipkan mata.

"Ya, hanya itu." Midorima membetulkan posisi kacamatanya. "Hanya saja, bagaimana kau menemukan dan mengambil kekuatannya, itu kau pikirkan sendiri. Dah."

Video-call pun dimatikan secara sepihak.

Dalam dasiran angin yang membawa kelopak bunga sakura, Aomine membeku. Ia duduk memeluk kaki di samping Haizaki yang tak bergerak.

Astaga, sekarang semuanya semakin susah. Bagaimana pula caranya menemukan orang itu? Dan kalau tidak salah, menurut penjelasan Nijimura, orang itu adalah orang yang bersama Kuroko beberapa hari lalu, kan?

Ah, kalau begitu menemukannya jadi gampang. Tinggal mencari jejak Kuroko, maka orang itu juga akan muncul sendiri. Untungnya penciumannya tajam, dan wangi vanila bercampur blueberry itu sudah dihapalnya di luar kepala.

Sekarang, apa yang harus dilakukannya pada malaikat jatuh ini, si Haizaki Shougo-sialan yang telah merebut ciuman pertamanya?

Kalau diperhatikan, tampang Haizaki memang tampan, walau sekarang jadi agak aneh. Ada lingkaran biru di sekitar matanya, serta benjolan lumayan besar di pipi. Rambut abu yang biasanya berdiri kaku itu kali ini terlihat lemas menempel di wajahnya. Dan berkat air laut pula, tonjolan-tonjolan otot di tubuhnya bisa terlihat jelas dari balik kemeja putih.

Tangan Aomine bergerak maju tanpa sadar. Ia hendak meraih perut Haizaki dan meraba ototnya. Tapi tidak boleh! 'Sial, aku juga laki-laki!' erangnya, sekuat tenaga menahan naluri alamiah perempuan.

Tapi tatapannya tak bisa beralih dari perut berotot itu, pundak lebar itu, leher jenjang itu, dan lengannya yang ternyata lumayan kekar.

Melihat Haizaki seperti harus menahan diri di depan hidangan lezat. Napasnya pun terasa berat.

'Kulitnya juga putih banget.' Aomine menggigit bibirnya.

Ia tak dapat lagi menahan tangannya. Jemari itu terulur untuk menyentuh lengan Haizaki, dan meluncur turun untuk merasakan kulit putihnya yang tak tertutup lengan kemeja yang tersingsing.

Begitu lembut, tapi juga dingin. Aomine pun sadar, bahwa bulu halus Haizaki sudah lama berdiri dan menggigil.

Gadis itu menarik sudut bibirnya untuk tersenyum geli.

Jubah kulit yang tadi ia lepaskan, ia bentangkan di atas tubuh Haizaki. Walaupun tidak seberapa, tapi sekiranya cukup untuk kehangatan di malam musim semi.

Aomine pun mengangkat kepala abu itu dan menaruhnya di atas pahanya. Kemudian ada dorongan dalam dirinya untuk mencoba menyelami helaian-helaian rambut itu. Ia membuka jemarinya, menyisirnya perlahan, dan takjub karena selama ini mengira rambut Haizaki sama seperti sapu ijuk.

Tangannya yang lain pun ikut tergoda membelai wajah pria itu. Lecet dan bercak darah meninggalkan goresan merah di beberapa tempat, jadi Aomine berhati-hati saat menyapukan jarinya. Kemudian ia teringat, bahwa sebelum pergi meninggalkan Olimpus, Momoi selalu menyisipkan barang-barang aneh di saku jubahnya. Kali ini ia beruntung ia menemukan sapu tangan.

"Kau tahu," ujar Aomine, kali ini tak berharap untuk didengar. Ia terus menyapukan sapu tangan itu pada luka Haizaki dengan lembut. "kalau babak belur, seharusnya kau pilih-pilih jatuh di depan siapa. Di depan Tetsu, kek. Shintarou, kek. Ryouta, kek. Atau, karena kau suka sekali perempuan, kau pasti lebih senang kalau jatuh di depan Satsuki. Tapi kenapa aku? Dewa Bencana tidak bisa menyembuhkan luka, tahu. Sekarang, aku jadi tidak tahu harus ngapain, kan?"

Keheningan yang menyambut perkataan Aomine. Diam-diam, ia tertawa miris dalam hati karena berbicara sendiri. Pada musuhnya, lagi.

"Tapi aku bersyukur kok, jatuh di depan kamu."

Sebuah sentakan menghantam jantung Aomine. Ia membeku seketika. Perlahan, dengan gerakan yang kaku, ia menunduk.

"Dan kau yang sekarang sama cantiknya dengan Satsuki, lebih malah. Jadi aku tidak menyesal."

Aomine tidak mengerti ia membeku karena kaget atau malu menatap sepasang manik abu itu. Yang telas, pipinya terasa panas. "Berisiik!" Pikirannya juga kacau, jadi tanpa sadar belaian lembutnya berubah menjadi gosokan beringas di wajah Haizaki.

"Oi! Ouch—sakit!"

"Ka-kau mendengarnya?" seru Aomine, belum menghentikan tangannya.

"Jelas, lah!"

"Se-semuanya?"

"Iya!"

"Sejak kapan kamu sadar?"

"Sejak kau meraba-rabaku."

"Aku nggak ngeraba kamu! Dan kenapa nggak bilang dari tadi, heh?"

"Kalau nggak, aku nggak dapat kesempatan tidur di pahamu."

Oke, cukup. Cowok ini memang seratus persen keterlaluan. Tanpa ampun, Aomine mendorong kepala abu-abu itu dari pahanya hingga jatuh membentur tanah.

"Aduh!" teriaknya, setelah debuman keras terdengar dengan menyakitkan.

"Huh." Gadis itu membuang muka.

Aomine pun mengambil keputusan untuk tak menoleh atau bicara pada si abu itu lagi. Ia masih malu luar biasa, walau setengah mati menjaga sikap agar terkesan biasa saja.

Haizaki sendiri menikmati tidur-tiduran di ujung dermaga, dengan lengan sebagai alas kepalanya. Mereka berdua menengadah untuk menatap langit ungu yang sama, yang bergradasi dengan jingga di ujung barat dan kilauan permata nun jauh di angkasa.

Kemudian Aomine teringat misinya dan berdiri.

"Mau ke mana?" tanya Haizaki, merasa kesepian.

"Aku ada urusan."

"Hei, hei, kau mau meninggalkanku?"

"Memangnya aku punya pilihan lain?"

"Kau bisa mengajakku."

"Heh, nggak."

Haizaki bangkit dan duduk. Ia masih menengadah, kali ini untuk menatap wajah Aomine. "Aku bisa membantumu, kau tahu."

"Apa yang bisa dilakukan malaikat yang kehilangan sayapnya?" cibir Aomine, berkacak pinggang. Yah, semua orang di Olimpus tahu, kalau malaikat tanpa sayap sama seperti para dewa tanpa rambut panjangnya.

"Setidaknya aku bisa menjagamu."

"Hah! Sejak kapan Dewa Bencana butuh penjaga?"

"Dewa Bencana mungkin tidak, tapi gadis manusia yang berjalan-jalan hanya dengan celana pendek dan kaus tipis? Kurasa iya."

Aomine menaikkan sebelah alisnya.

"Kau tidak ingin ada pria mesum yang mengganggumu, kan?" sambung Haizaki lagi, tersenyum meyakinkan.

Aomine memutar matanya. "Kalau begitu seharusnya aku lebih khawatir pada pria di hadapanku ini."

"Oi, oi, apa maksudmu?"

Tanpa menunggu Haizaki buka mulut lagi, Aomine sudah berbalik dan melangkah pergi bersama dentuman sepatu bajanya.

"Oi, kau benar-benar meninggalkanku, nih?" seru Haizaki.

"Kalau begitu sebutkan tiga alasan kenapa aku harus mengizinkanmu mengikutiku."

"Satu, sayapku hilang karena Shuuzo-sama, jadi aku tidak bisa kembali ke Olimpus. Dua, aku tidak mengenal siapapun di dunia manusia ini. Dan tiga…" ada jeda untuk deru angin menginterupsi. Aomine yang sudah terlanjur mendengarkan, menjadi penasaran dan menghentikan langkahnya. Gadis itu pun berbalik, dan menemukan Haizaki sudah berjalan mendekat dengan jubahnya di tangan. "aku sekarat, Daiki."

Jubah biru tua itu berkibar ketika Haizaki melingkarkan tangannya di atas kepala Aomine. Bersamaan dengan itu, jemarinya yang panjang dan kurus mengaitkan kancing jubah di sekitar leher dewi yang membeku, kemudian tersenyum.

"Sekarang aku sangat membutuhkanmu."

Detik berikutnya, Aomine tidak bisa peduli pada apa pun yang terjadi di dunia. Waktu seolah berhenti berputar bersama pikirannya. Ia hanya bisa terpaku, menatap wajah Haizaki yang berseri dengan senyum lembutnya.

Mungkinkah ia begini karena Haizaki jarang tersenyum seperti itu? Biasanya kan, malaikat ini selalu tersenyum iblis.

Haizaki sendiri melihat hal ini sebagai kesempatan emas. Wajah oval Aomine yang bersemu begitu manis bagai brownis yang masih hangat, membuat tenggorokannya gatal. Tangannya pun tak sabar untuk merengkuh kedua pipinya dengan lembut. Perlahan, wajahnya mendekat. Tanpa Aomine sadari hidung mereka sudah bertemu.

Dan saat itulah ia menyadari arti dari tatapan itu, juga apa yang akan Haizaki lakukan.

Sebuah urat di keningnya berkedut.

Tanpa ancang-ancang Aomine melepas tinjunya yang sudah terkepal mantap menuju ulu hati Haizaki. Lantas, pria abu-abu itu terhuyung dan mundur tiga langkah.

Ah, siapa yang mengira sebuah momen romantis dapat dihancurkan oleh sekepal tinju?

"Bangsat. Aku sudah tidak peduli lagi padamu."

Dengan ucapannya itu, Aomine berbalik dan kembali berjalan. Kali ini kegelapan yang menelannya.

.
-:-

-:-

.

"Ketemu lagi, Tetsu," sapa Aomine Daiki versi perempuan, bahkan tak mau repot untuk menunduk. Ia bagai menatap Kuroko dengan lubang hidungnya. "Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu kau di sini."

Kuroko bangkit dari bangku taman dan mundur selangkah. Kembali, perasaan mencekam merasukinya seperti malam saat Aomine menemukannya di lapangan basket. Jantungnya berpacu kencang, membuat kakinya bergetar dan peluh dingin membasahi pelipis. "Apa lagi yang kau inginkan, Daiki-kun?"

Kemudian ia teringat rumah Kagami dan Himuro yang diberi kutukan, membuatnya mengepalkan tinju.

Aomine hanya terkekeh dengan senyum miring. Melihat Kuroko yang berubah takut padanya terasa ganjil sekaligus menyedihkan. Biasanya gadis itu hanya akan menatapnya datar dengan argumen-argumen yang tanpa cela. "Hanya mengambil sisa kekuatan Sei."

Kuroko membulatkan matanya. 'Sisa kekuatan… Akashi-kun?' Bukankah itu berarti Kagami? Aomine akan mengambil Kagami? Kuroko tidak akan membiarkannya.

"Tidak akan kuserahkan."

"Hah? Ini tidak ada hubungannya denganmu, Tetsu."

"Tidak akan kuserahkan."

"Jangan mengulangi perkataan yang sudah kau ucapkan!"

"Pokoknya aku tidak mau."

"Chk. Kau keras kepala sekali. Aku hanya ingin setengah kekuatan Sei."

"Lalu?"

"Tentu saja kubawa ke Olimpus."

Kagami… ke Olimpus? Untuk apa? Apakah ia akan diadili karena menyembunyikan Kuroko? Tapi, kalau begitu, Kuroko juga seharusnya diseret pulang! Atau… para petinggi Olimpus sudah tahu apa yang terjadi pada Kagami? Astaga, apakah ia akan dihukum karena mendapat kekuatan Akashi? Itu kan, juga bukan keinginannya! Harusnya Akashi dong, yang dihukum karena seenaknya membagi kekuatan ke manusia. Kenapa harus Kagami?

Belum apa-apa Kuroko sudah resah sendiri.

"Cepat, Tetsu, tunjukkan aku siapa orang brengsek yang membawa setengah kekuatan Sei. Kuseret dia ke Olimpus kalau perlu."

Kuroko semakin mengeratkan tinjunya. Dengan mantap, ia mendongak menghadapi tatapan tajam Aomine. "Tidak mau."

"Haah? Jangan sombong kau, Tetsu." Lagi, urat-urat di pelipis Aomine berkedut. "Kau juga mau kuseret pulang, hah?"

"Lakukan saja semaumu, tapi aku tidak akan menyerahkan Taiga-kun."

"Apaan sih, kau? Sok jadi penjaganya segala. Membuatku kesal." Aomine lantas berkacak pinggang. Dengan gerakan yang cepat, ia mencondongkan tubuh ke arah Kuroko dan mencengkram jengkel kepalanya. "Dan ingat, ya, masalah kita yang kemarin belum selesai," geramnya, hingga gigi bergemelatuk.

"Aku sudah tidak peduli tentang pernikahanku. Pokoknya tidak akan kubiarkan kau menyentuh Taiga-kun."

"Haah? Bocah ini…!"

Saat itulah Kagami menarik napas lega karena akhirnya bisa menemukan Kuroko setelah berdesak-desakan keluar dari keramaian, dan melihat seorang gadis berambut biru dengan gaya ekor kuda, bermantel merah, bermata biru bening, sedang tatap-tatapan dengan cewek yankee yang mencengkram erat kepala Kuroko dengan urat nadi berkedut. Mereka sama-sama terlihat kesal dengan tinju yang terkepal. Kemudian Kuroko mengatakan sesuatu, sayangnya tak terdengar. Dan reaksi lawan bicaranya langsung membuat Kagami jantungan, hingga menjatuhkan vanilla shake yang setengah mati didapatkannya.

"Kuroko!" Pemuda Leo itu pun berlari, berusaha secepat mungkin mencapai Kuroko walau harus membelah lautan manusia. Setiap langkahnya berlalu bagai detikan jam yang begitu lambat.

Saat gadis biru tua itu mengangkat kepalan tangannya tinggi-tinggi, saat teriakan marahnya terdengar, "Bocah ini…!" saat Kuroko menutup erat matanya, saat itulah Kagami berdiri dengan sigap di depan Kuroko. Tangannya yang besar dapat dengan mudah meraih tinju orang asing itu, yang ia akui lumayan kuat untuk ukuran perempuan. Mungkin lebih kuat dari Alex sekalipun.

"Chk, chk." Pemuda marun itu menggeleng-gelengkan kepalanya, tersenyum miring. "Aku tidak suka ada yang mengganggu pacarku," ujarnya, dengan tatapan tajam. "Sayangnya aku tidak menghajar perempuan." Ia pun berbalik dan langsung meraih tangan Kuroko. Diseretnya gadis biru muda itu dalam langkahnya yang lebar dan panjang. "Jadi, sampai nanti!" serunya.

Aomine membeku beberapa saat sebelum sadar bahwa orang yang menyeret Kuroko adalah yang ia cari. "Oi, tunggu!" serunya, tapi mana mungkin ada orang yang langsung berhenti di kondisi seperti ini, bukan? Ia pun mengerang dan ikut mengejar. "Kubilang tunggu! Oi, Tetsu!"

Kagami pada dasarnya tidak peduli pada apa yang terjadi, apalagi masalah yang diargumentasikan Kuroko dengan 'kawannya' itu. Ia hanya tidak mau melihat Kuroko tersakiti lagi. Jadi, ia tidak peduli jika Kuroko menyuruhnya berhenti, atau menarik tangannya dengan gusar.

Walau pada kenyataannya, Kuroko juga tak berniat melakukan itu. Ia hanya berseru, "Ta-Taiga-kun?" karena kaget. Selebihnya ia menerima cengkraman erat Kagami di tangannya dan ikut berlari.

Mereka menelusuri jalan utama menuju pintu keluar taman hiburan, menerobos kerumunan, menyenggol begitu banyak orang, hingga membuat keributan kecil.

Himuro sedang bergandengan tangan dengan Atsumi saat itu. Mereka baru saja selesai mengantri dari kedai permen di sudut taman. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menabraknya dari belakang. "Hei!" Belum sempat ia berbalik dan mengomel, orang itu sudah berlalu begitu cepat dan tak dapat lagi dilihat. Hanya saja, matanya masih bagus untuk memastikan sesuatu. 'Warna rambut itu… Taiga?'

Teriakan nyaring seorang wanita terdengar dari arah punggungnya. Bukan teriakan minta tolong, tapi lebih ke… garang?

"Oi, Tetsu!" Aomine masih tak menyerah. Ia mengerahkan seluruh kekuatan fisiknya yang terlatih untuk mengikuti setiap langkah Kagami. Di satu sisi, kerumunan orang membuatnya kesal karena menutupi pandangan. Ia kemudian menggunakan tangannya untuk menyingkirkan semua pengganggu tanpa pandang bulu, tak terkecuali Himuro, yang lagi-lagi kena apes.

Murasakibara reflek saja menarik tubuh Himuro yang hampir kehilangan keseimbangan. Kehangatan pun semakin terasa mengalir melalui tangan mereka yang mencengkram kuat. Namun bukan itu prioritasnya. Sekilas Atsumi sempat melihat orang yang terakhir berlari melewati mereka, dan sedikit terkejut, "Mine-chin?" gumamnya.

Dan bukankah tadi sepertinya ada yang meneriaki nama Kuroko? Hal itu semakin membuat Murasakibara gusar saja.

"Hm? Kau ngomong apa, Atsumi?" tanya Himuro, bingung dengan pasangannya yang tiba-tiba terlihat khawatir.

Tanpa banyak omong, cuma dengan, "Maaf, Muro-chin," Murasakibara ikut berlari walau tak melepaskan genggamannya. Sudut matanya berhasil menemukan sosok Aomine yang berlari mengikuti Kuroko dan Kagami berkat tingginya yang di atas rata-rata. Himuro sendiri pasrah diseret-seret, walau sebenarnya tidak mengerti apapun.

Di luar pintu gerbang taman hiburan, Kagami langsung mengambil tikungan tajam menuju daerah padat penduduk di sekitaran Yokohama Chukagai demi menutupi jejak. Daerah ini bahkan lebih ramai daripada di dalam taman hiburan tadi, penuh dengan lampu, pedagang, dan pejalan kaki yang berlalu-lalang, sehingga lumayan susah untuknya bergerak bebas.

Di tengah-tengah kerumunan, Kagami menghentikan larinya dan menoleh ke belakang. Dengan napas memburu, ia bertanya pada Kuroko, "Sudah aman?"

Kuroko sendiri tak sanggup lagi berdiri tegak. Napasnya terasa begitu berat dan lututnya bergetar. Telapak kakinya pun serasa tak sanggup lagi berpijak. Saat satu tangannya meremas lutut sambil terengah, satunya lagi menjadikan tangan besar Kagami sebagai penyangganya berdiri.

Payah, padahal kekuatannya sudah kembali.

Kuroko menjawab pertanyaan Kagami setelah memutar pandangannya di antara kerumunan manusia, "Kurasa…" ia terengah, "tidak lagi."

Melihat Kuroko seperti itu membuat Kagami kesal dengan dirinya sendiri. Ia sendiri yang tidak ingin Kuroko menderita, sekarang malah karenanyalah Kuroko terlihat sebegitu tidak berdaya.

"Tetsu!" seruan membahana itu kembali meremangkan bulu roma keduanya. Tampak dari jauh, di ujung gang pecinan, Kagami bisa melihat gadis berambut biru gelap itu melangkah kesal dalam desakan manusia.

Jantung pun berpacu keras. Sensasi ini bahkan lebih dahsyat ketimbang memasuki zone atau di dalam rumah hantu. Lebih, ada sesuatu yang membuat kejar-kejaran kali ini terasa mencekam. Mungkinkah… aura si pengejar? Kagami sendiri tidak mengerti, tapi insting liarnya berkata dia dalam bahaya.

Tanpa berpikir dua kali ia pun membopong Kuroko dalam sekali sentakan. Gadis itu tentu terlonjak kaget, "Ta-Taiga-kun? Biarkan aku berlari sendiri," pintanya.

"Jangan bodoh, Kuroko! Kau sudah tidak sanggup lagi. Diamlah dan jadi anak baik!"

Kakinya yang panjang memudahkan Kagami untuk bergerak cepat, walau tentu dua kali lebih kerepotan dengan Kuroko dalam gendongan. Melihat orang-orang yang menyingkir dengan kesal memberikan Aomine petunjuk di mana Kuroko berada. Segera ia mengejar, tak peduli berapa banyak orang yang ia dorong untuk membuka jalan.

"Jangan lari kau, Tetsu!"

Kuroko pun merasakan sensasi mencekam ini. Pandangannya terkunci ke arah belakang kepala Kagami, mengawasi kedatangan Aomine yang tidak diharapkan. Cengkramannya yang semakin erat pada pundak Kagami, lantas membuatnya sadar tentang sesuatu yang dapat ia lakukan. Dengan sedikit energi ia dapat menggunakan kekuatan menghilangnya, dan membaginya dengan Kagami.

Semakin lama Kuroko yakin jarak di antaranya dengan Aomine sudah semakin jauh. Bersamaan dengan itu, Kagami sudah mencapai ujung dari gang pecinan tua. Napasnya terdengar jelas di telinga Kuroko dan detak jantungnya menggetarkan tubuhnya juga. Rasa panas pun ikut menjalar bersama peluh.

Kuroko menengadah untuk menatap Kagami.

"Taiga-kun, turunkan aku. Aku sudah tidak apa-apa. Lagipula, aku tahu tempat untuk kita bersembunyi."

Kagami terlalu terfokus pada kakinya sehingga tidak ingin mendebat Kuroko. Setelah berbelok di tikungan, ia langsung menurunkan gadis itu walau tetap menggenggam tangannya.

"Ayo." Kini giliran Kuroko yang menyeret Kagami. Langkahnya terlihat mantap dan yakin. Dalam kepala, ia mengingat-ingat pengalamannya tersesat di daerah pertokoan yang sama, walau dengan suasana pagi yang berbeda.

Aroma kopi yang khas begitu merasuk ke jiwanya hingga dapat ia temukan dengan mudah di antara seribu satu aroma. Dengan cepat dan tanpa ragu, setelah melihat papan bertuliskan 'Pandora House', tubuhnya yang kecil mendobrak pintu kedai kopi milik Mamiya Satsuke. Pria berambut merah jambu itu tengah berdiri di balik meja bar sambil mengelap gelas-gelas kristal, ternganga kaget, ketika Kuroko tersandung salah satu kaki meja dan jatuh tepat di depan etalase kaca sambil menyeret Kagami.

Debuman keras terdengar. Kiyuki Rika yang sedang berdiri di samping pelanggan pun sampai menutupi wajahnya dengan nampan. Semua orang di dalam kedai menahan napas. Namun, ternyata reflek Kagami bukan hanya dapat membuat lengannya bergerak sendiri untuk menyangga tubuh besarnya, tapi juga menahan kepala Kuroko untuk tidak membentur lantai kayu yang dingin.

Kini mereka saling berhadapan, dalam jarak yang begitu dekat untuk kedua kalinya.

"Kau tidak apa-apa?" ujar Kagami, begitu pelan hingga terdengar seperti desahan. Napasnya pun masih berpacu cepat.

Kuroko mengangguk perlahan. "Un."

Sementara itu, semua orang hanya bisa terdiam. Hingga Kiyuki Rika bersuara, "Tetsu—eh, Ku-Kurokocchi?!" Gadis berambut pirang panjang itu mendekat.

Kuroko, yang merasa terpanggil pun, menoleh. "Ah, Kiyuki-san." Pandangannya datar seperti biasa, walau masih kaget dengan apa yang terjadi.

"A-apa yang terjadi-ssu?"

Apa yang terjadi sungguh begitu tiba-tiba, dan Kuroko tidak tahu harus mengurutkannya dari mana. Sehingga, ia sangat bersyukur ketika nada dering handphone Kagami menginterupsi.

Dan seperti yang sudah diduga Kagami, nama kecil Himuro terpampang pada layar kecil itu. Ia mengatur napas dulu sebelum menjawab, "Tatsuya?"

"Ah, Taiga!" suara Himuro terdengar khawatir seperti biasa. "Di mana kau? Aku mencarimu!"

Kagami lantas menyingkir dari atas tubuh Kuroko dan membantu gadis itu duduk. "Aku juga tidak tahu sedang di mana. Tapi sepertinya semacam kedai ko—"

"Kedai kopi? Kebetulan! Aku sedang berdiri di depan salah satunya. Jadi, kedai kopi yang mana?"

Mendengar itu, bukan hanya Kagami, tapi Kuroko juga ikut menoleh ke luar etalase, dan membeku. Dengan berat, Kagami menelan ludahnya.

Di tengah-tengah jalan, di antara kerumunan orang, Himuro mengedarkan pandangannya dengan sumringah. Murasakibara sendiri langsung menarik tangan si Skorpio ketika melihat kepala biru Kuroko. "Muro-chin."

Himuro pun mengikuti arah pandangan Murasakibara. "Ah, di situ rupanya kau, Taiga!"

Langkahnya langsung tertuju pada pintu Pandora House yang bergaya klasik. Diseretnya Murasakibara, yang kini bertampang seolah sedang menahan kekesalan.

Namun bukan pandangan tajam itu yang membuat Kuroko dan Kagami banjir keringat dingin. Tapi sesuatu yang lain, orang lain. Bayangan biru gelap yang berjalan di belakang Murasakibara, perlahan terlihat jelas tatkala langkahnya mantap membelah keramaian. Senyumnya begitu tinggi dan dingin.

"Kau tidak bisa lari lagi."

Tampaknya Aomine Daiki juga kesal.

.

.

-:-

-:-

-:-

.

.

TBC

Huahaha, saya telat update lagi. Biasa, gegara WB.

Oh, halo, ini Kaeru Kodok. Akhirnya kesampaian ganti nama juga. Lee Audrey seperti… semacam 'plesetan' dari inisial nama saya, Lia Arfianti. Sama-sama L.A., haha. Jadi, sekali lagi, terserah jika Anda mau memanggil saya apa.

Yosh, akhirnya chapter 10 terbit, ya. Jika chapter 9 saya capek banget ngerjainnya, kali ini bingung banget. Banyak hal di kepala yang tiba-tiba melenceng dari plot. Pusing, pusing.

Ohya, chapter ini (dan fic ini) ada berkat Eamaki Devy yang menjadi teman saya berbagi dan mengembangkan ide. Kepalanya kaya kotak gede yang isinya imajinasi, serius. Omake dan adegan HaiAo juga ada berkat dia. Thank you, Vy.

Para readers dan reviewers juga berperan penting dalam membangkitkan semangat saya. Kalau nggak ada yang review, rasanya lebih baik fic ini berhenti di sini aja. *menatap jurang* (Yang ngasi komentar lewat PM FB, juga terimakasih!)

Oke, special thanks-nya lanjut begitu cerita ini selesai (yang berarti masih lumayan jauh, ugh).

PENJELASAN:

Kharon: kalau sudah pernah nonton Percy Jackson – The Lightning Thief, pasti tahu dong sosok mirip Reaper yang narik gondola ini.

Pelesir Aomine keliling Yokohama saya ambil dari Yahoo!Travel (entah edisi kapan). Saya sendiri belum pernah ke sana, jadi rincian tempat berdasarkan khayalan.

Nama kedainya Mamiya nggak ada hubungannya sama Pandora Heart. Saya cuma nggak ada ide.

Di fic ini, Aomine benar-benar memakai 'Okaa-san' untuk memanggil Midorima dengan 'Ibu'. Walaupun, dalam cerita asli Kuroko no Basket, Akashi-lah yang mendapat sebutan itu dari Aomine. Sayangnya Akashi lagi nggak ada, haha.

Saya lupa Aomine biasanya nyebut Midorima pake apa, jadinya saya milih Midori-Megane (secara harfiah berarti kacamata hijau).

Sebenarnya saya mau nulis lebih banyak lagi, tapi kayaknya bakal kepanjangan. Nggak puas? Saya juga. *dihajar* Oh ya, jika ada sesuatu yang membuat Anda tidak nyaman saat membaca fic ini, tolong beritahu saya, seperti typo, kurang huruf/kalimat, tanda baca, ada yang OOC, nggak suka dengan sikap karakter, alur ceritanya nggak memuaskan, dsb. Saya sangat butuh komentar Anda, bukan terus-terusan pujian yang membutakan.

Sebenernya mau ada Omake, cuma saya WB parah. Sori, mungkin chapter depan.

.

( )
Whole-hearted,
LeeA