.

.

.

Love Shake

Jeon Wonwoo l Kim Mingyu l Other Cast

Rated : T

Disclaimer : Cerita hasil imajinasi saya sedangkan castnya milik bersama

.

.

.

Wen Junhui : SIAGA SATU KAWAN !

Choi Seungcheol : Ada apa?

Lee Jihoon : Ada apa? (2)

Kwon Soonyoung : Ada apa? (3)

Hong Jisoo : Ada apa? (4)

Wen Junhui : AKU BARU SAJA MELIHAT KIM MINGYU!

Lee Jihoon : Kau terlalu merindukannya, ya? Sampai berhalusinasi seperti itu

Wen Junhui : Merindukannya? Lee Jihoon sedang mencoba melucu

Yoon Jeonghan : Kim Mingyu yang itu? Dia mahasiswa baru kedokteran.

Boo Seungkwan : Benarkah?! Hansol bilang Mingyu melanjutkannya di Jepang.

Hong Jisoo : Wonwoo juga pernah bilang begitu.

Boo Seungkwan : Tapi aku lebih percaya pada Hansol.

Lee Jihoon : Jelas-jelas hubungan Wonwoo dengan Mingyu lebih meyakinkan tapi kau lebih percaya dengan Hansol daripada Wonwoo.

Boo Seungkwan : Sebuah hubungan harus dilandasi dengan kepercayaan, Hyung.

Choi Seungcheol : Ewh Boo Seungkwan

Yoon Jeonghan : Ewh Boo Seungkwan (2)

Wen Junhui : Ewh Boo Seungkwan (3)

Lee Jihoon : Ewh Boo Seungkwan (4)

Kwon Soonyoung : Tapi aku dan Jihoon tak seperti itu! Jihoon sering menuduhku selingkuh dengan Seokmin! Padahal kami itu hanya teman seperti aku yang berteman dengan kalian semua.

Lee Jihoon : Tak ada teman yang mencium temannya sendiri, sayang.

Choi Seungcheol : Seokmin terlalu gemas dengan Soonyoung yang berisik jadi begitulah.

Wen Junhui : Tolong ingat fungsi grup ini, kawan. Ayo balik ke awal permasalahan.

Yoon Jeonghan : Tadi sampai mana?

Choi Seungcheol : Sampai kau yang mengatakan Mingyu anak kedokteran.

Yoon Jeonghan : Aku tahu karena Ara Noona yang menceritakannya. Ara Noona tau dari adiknya yang juga anak kedokteran. Semua perempuan di kelasku menjerit saat Ara Noona menunjukkan foto Mingyu.

Lee Seokmin : Kim Mingyu itu selalu saja digandrungi oleh kaum hawa. Ya Tuhan, Aku kapan?!

Lee Jihoon : Setelah usiamu diatas lima puluh tahun.

Boo Seungkwan : Setelah usiamu diatas lima puluh tahun (2)

Choi Seungcheol : Setelah usiamu diatas lima puluh tahun (3)

Yoon Jeonghan : Jawabannya adalah mustahil, Lee Seokmin.

Hong Jisoo : Dimana Wen Junhui?

Wen Junhui : Di hati Xu Minghao.

Hong Jisoo : Bagus, Kalau begitu coba kau tanyakan pada Minghao alasan Mingyu kembali ke korea.

Wen Junhui : Aku sedang bersama Wonwoo bukan Minghao.

Kwon Soonyoung : Bilangnya di hati Minghao tapi sedang berduaan dengan Wonwoo.

Choi Seungcheol : Bilangnya di hati Minghao tapi sedang berduaan dengan Wonwoo. (2)

Boo Seungkwan : Bilangnya di hati Minghao tapi sedang berduaan dengan Wonwoo. (3)

Lee Jihoon : Bilangnya di hati Minghao tapi sedang berduaan dengan Wonwoo. (4)

Yoon Jeonghan : Bilangnya di hati Minghao tapi sedang berduaan dengan Wonwoo. (5)

Lee Seokmin : Aku sedang bersama Minghao. Aku saja yang menanyakannya.

Choi Seungcheol : Cepat laksanakan!

Lee Seokmin : Siap Kapten!

Lee Seokmin : Ngomong-ngomong Minghao manis sekali jika dilihat dari dekat.

Lee Jihoon : Junhui hati-hati.

Boo Seungkwan : Junhui hati-hati (2)

Choi Seungcheol : Junhui hati-hati (3)

Yoon Jeonghan : Junhui hati-hati (4)

Kwon Soonyoung : Seokmin jangan mencari masalah!

Lee Jihoon : Aww Betapa perhatiannya pacarku dengan Lee Seokmin

Hong Jisoo : Mereka teman, Jihoon. Jangan berpikiran macam-macam

Lee Jihoon : Pikiranku hanya ada satu macam, Hyung. Soonyoung dan Seokmin semakin mencurigan. Sudah.

Yoon Jeonghan : Pertama kalinya aku lihat Jihoon cemburu

Choi Seungcheol : Pertama kalinya aku lihat Jihoon cemburu (2)

Boo Seungkwan : Pertama kalinya aku lihat Jihoon cemburu (3)

Lee Seokmin : Ayo berkumpul di gerbang. Aku punya sesuatu yang menarik.

Boo Seungkwan : Kenapa di gerbang? di kantin saja.

Yoon Jeonghan : Aku sedang menuju kantin.

Choi Seungcheol : Sudah berada di kantin.

Hong Jisoo : Sepuluh menit lagi. Aku sedang di perpustakaan.

Wen Junhui : Berdiskusilah tanpa aku. Kelas perdanaku dimulai hari ini dan aku sekelas dengan Wonwoo.

Lee Seokmin : Mungkin aku akan sangat terlambat.

Boo Seungkwan : Kenapa? Kau yang paling dibutuhkan disini.

Lee Seokmin : Aku tak tahu dimana letak kantinnya.

.

.

.

.

.

"Hao, Mingyu melanjutkan disini, ya?"

"Iya. Mingyu ambil kedokteran."

"Tadi aku sempat melihatnya. Memang kenapa dengan Jepang?"

"Jepang? Kau tau darimana?"

"Dari Wonwoo Hyung."

"Entahlah. Aku belum menanyakannya."

"Tanyakan kalau begitu."

"Menurutku Mingyu kembali ke korea untuk mengejar cintanya."

"Jadi, Mingyu tak ingin meninggalkan pacarnya sendirian disini?"

"Bukan begitu, Seokmin. Mingyu tak punya pacar disini."

"Lalu? Kau terlalu berbelit-belit, Hao."

"Kau saja yang tak mengerti!"

"Jelaskan pelan-pelan."

"Mingyu kembali ke korea dengan seorang perempuan. Namanya Chaeyeon. Jung Chaeyeon. Orang korea yang besar di Jepang. Chaeyeon ingin melanjutkan pendidikannya di korea dan tinggal bersama neneknya."

"Apa hubungannya dengan, Mingyu?"

"Kenapa kau masih tak mengerti juga?!"

"Sudah kubilang kau itu berbelit-belit."

"Mingyu menyukai Chaeyeon, Bodoh!"

"Hah? Tapi dari sisi mananya Mingyu kelihatan menyukai Chaeyeon?"

"Mingyu rela kembali ke korea demi menemani Chaeyeon. Itu hanya pemikiranku saja sebenarnya."

"Lalu, Chaeyeon juga disini? Di kampus ini?"

"Iya. Mengambil jurusan yang sama dengan Mingyu. Posisiku benar-benar telah tergantikan olehnya."

"Tenang saja, Hao. Masih ada aku yang akan menemanimu kemanapun dan kapanpun."

"Kalau begitu ayo temani aku ke perpustakaan."

"Kapan-kapan, ya? Aku sibuk sekarang. Sampai nanti, Hao!"

Suara rekaman yang diputar dari ponsel Seokmin terhenti sudah. Semuanya langsung saling tatap dan berakhir dengan menatap Jeonghan.

"Tidak. Aku tidak kenal dengan Jung Chaeyeon," tolak Jeonghan yang mengerti arti tatapan teman-temannya.

"Bukan kau yang kenal tapi adik Ara Sunbae. Jadi, tolong tanyakan pada adik Ara Sunbae," Seungcheol meluruskan pemikiran salah Jeonghan.

"Aku tak kenal dengan adiknya," tolak Jeonghan lagi.

"Kau bisa tanyakan lewat kakaknya, kan?"

"Aku dan Ara Noona berada di kelas yang berbeda sekarang."

"Tunggu dulu," Seungkwan menghentikan obrolan Jeonghan dan Seungcheol yang pasti akan berujung dengan adu mulut, "Ara Sunbae tahu Mingyu pasti Ara Sunbae juga tahu Chaeyeon, kan? Tidak usah repot-repot bertanya pada adiknya."

"Tidak usah mencari tahu tentang Chaeyeon. Kita tak punya masalah apapun dengannya. Yang terpenting sekarang tugas kita selesai karena Mingyu sudah dengan Chaeyeon," putus Jisoo.

"Kalau begitu, Ayo kita rayakan!" Seru Seokmin dengan penuh semangat. Sampai-sampai ia bangun dari duduknya.

"Night Club?" tanya Seungkwan antusias. Seokmin mengiyakan lalu keduanya berhigh five, "Night Club Yeahh!"

"Tidak. Kalian masih terlalu kecil untuk masuk kesana," nasihat Jeonghan.

"Kalau begitu ajari kami menjadi orang dewasa, Hyung" rengek Seokmin.

"Aku dan Seokmin belum pernah masuk ke tempat seperti itu, Hyung. Kami ingin merasakan sensasinya." Seungkwan ikut-ikutan.

"Kita ke night club tanpa Jeonghan. Seungkwan, ajak pacarmu juga kalau dia mau," Seungcheol memberikan keputusan seenaknya sendiri.

"Yak mana bisa begitu?!" Jeonghan mengamuk. Meja kantin tanpa sadar di gebraknya.

"Sudah saatnya Seokmin dan Seungkwan mengenal dunia orang dewasa, dunia kita."

"Dewasa apanya. Kau hanyalah orang dewasa yang berwatak anak-anak."

"Yak Yoon Jeonghan!" gantian Seungcheol yang menggebrak meja.

"Apa? Mau mengomel? Mau memukulku? Silahkan saja."

Merasa ditantang, Seungcheol makin berapi-api. Lengannya kemejanya ia gulung sampai siku. Kedua tangannya sudah mengepal dan siap di arahkan ke Jeonghan.

"Kita ke sana dengan Jeonghan, Junhui dan Wonwoo. Tidak ada yang berkelahi atau batalkan saja acaranya," Jisoo kembali menjadi orang yang memutuskan.

"Wonwoo Hyung diajak?" tanya Seokmin.

"Tentu saja. Ini kan perayaan untuknya."

.

.

.

.

.

Lee Seokmin : Party! Party!

Boo Seungkwan : Yeah Party!

Kwon Soonyoung : Aku akan mengajari kalian menjadi orang dewasa. Kalau perlu aku praktekan dengan Jihoonie langsung.

Yoon Jeonghan : Kalian sudah ketahap itu? Luar biasa.

Lee Jihoon : Mungkin kau bisa threesome dengan Seungcheol Hyung dan Jisoo Hyung.

Yoon Jeonghan : Cuih dengan Seungcheol.

Choi Seungcheol : Kau mau mencari masalah lagi denganku, Yoon Jeonghan-ssi?

Lee Seokmin : Threesome denganku saja, Hyung.

Choi Seungcheol : Jadi, Sainganku bertambah hmm?

Yoon Jeonghan : Kenapa kau sensitif sekali hari ini, hah? Sedang datang bulan?

Choi Seungcheol : Seharusnya kau yang datang bulan.

Junhui memutar matanya malas. Tadi Jihoon dan Soonyoung yang bertengkar sekarang para tetua. Sumber pertengkarannya juga tak jauh-jauh dari Lee Seokmin. Apa enaknya bertengkar lewat chat? Hanya bisa adu mulut saja seperti anak gadis. Bukan tipe Junhui sekali.

Junhui yang mulai muak pun memberikan ponselnya pada Wonwoo yang berjalan disebelahnya. Sejak tadi mereka berdua selalu menempel bak perangko dengan amplopnya. Mereka punya ikatan sebagai teman sekelompok yang sedang mengerjakan tugas.

Wen Junhui : Party? Threesome? Jadi, Kita berpesta sambil Threesome?

Junhui ingin tertawa dan menangis secara bersamaan saat tahu apa yang Wonwoo ketik atas namanya.

Lee Seokmin : Ide bagus!

Hong Jisoo : Tolong kendalikan pikiran tak bermutumu itu, Wen Junhui.

Boo Seungkwan : Apa aku sudah cukup umur untuk melakukan itu?

Yoon Jeonghan : Memang begitulah dunia orang dewasa.

Boo Seungkwan : Jadi, Hyung pernah? Dengan Seungcheol Hyung dan Jisoo Hyung?

Wen Junhui : Benar kita berpesta sambil threesome? Kita hanya ada sepuluh orang, kan?

Hong Jisoo : Wen Junhui!

Yoon Jeonghan : Simpan pikiran mesummu itu untuk nanti, Tuan Wen. Kita hanya akan bersenang-senang saja.

Wen Junhui : Dimana dan jam berapa?

Choi Seungcheol : Di tempat biasa pukul delapan.

Wen Junhui : Tidak bisa. Aku ada tugas.

Junhui langsung merebut ponselnya dari tangan Wonwoo. Ia sudah muak dengan tugas dari Prof. Hwang. Deadline yang diberikan benar-benar mencekiknya.

Wen Junhui : Aku ikut. Sejak tadi Wonwoo yang membalasnya.

"Tugas kita belum selesai, Tuan Wen" protes Wonwoo.

"Masih ada beberapa jam lagi," Junhui menunjukkan jam yang ada di ponselnya, "tinggal proses akhirnya saja, kan? Kalau belum selesai juga kita bisa kerjakan di toilet sana."

Wonwoo memicing tak suka, "Kita disana untuk menghibur diri bukan menambah penat."

"Kalau begitu ayo cepat kita selesaikan."

Junhui menarik tangan Wonwoo. Pandangannya menatap lurus kedepan. Bertekad penuh untuk menyelesaikan tugasnya secepat mungkin agar bisa ikut melepas penat bersama teman-temannya. Wonwoo saja sampai kewalahan menyamakan langkahnya dengan Junhui.

"Mingyu..." bisik Junhui saat melihat sosok lelaki tan itu berada diantara gerombolan mahasiswa yang melintas tak jauh di di depannya.

"Kim Mingyu? Itu Mingyu, kan? Junhui, Itu Mingyu, kan?"

Pertanyaan Wonwoo menyadarkan Junhui. Ia segera menarik tangan Wonwoo untuk memutar arah. Mengabaikan temannya yang terus saja mengulang pertanyannya.

"Kita ke toilet dulu. Aku ada panggilan alam."

"Tapi, itu Mingyu, kan? Kim Mingyu temannya Minghao."

"Mustahil. Kau sendiri yang bilang Mingyu melanjutkan ke jepang."

"Tapi mereka mirip."

"Hanya mirip, kan? Kau juga mirip Seulgi Noona. Tapi bukan berarti kau itu Seulgi Noona."

"Tapi, Seharusnya kita belok ke kiri kalau kau ingin ke toilet."

"Tidak jadi. Aku sudah mengeluarkannya di jalan."

"Wen Junhui?!"

.

.

.

.

.

Junhui duduk diatas toilet dengan laptop yang berada di pangkuannya. Mendengarkan dengan cermat apa yang didiktekan oleh Wonwoo lalu segera mengetiknya.

"Lalu?" tanya Junhui yang telah selesai mengetik.

"Sudah," balas Wonwoo singkat.

Junhui mendongak, "Sudah?"

"Iya, Sudah. Cepat kirimkan tugasnya."

"Separuhnya masih ada di flashdisk, kan?"

"Flashdisknya ada padamu, Junhui."

"Ada di tasku."

Wonwoo membuka resleting tas Junhui yang menggantung pada gagang pintu. Tak sulit mencari flashdisk yang dimaksud karena tas Junhui sendiri kosong. Hanya untuk menyimpan laptop saja beserta chargernya. Setelah ketemu, Ia langsung memberikannya pada Junhui.

Junhui mencolokkan flashdisknya pada port sebelah kanan. Setelah flashdisknya terdeteksi, lelaki cina itu segera mengcopy tugasnya. Terakhir, Ia mengeject flashdisknya, mencabutnya lalu mengembalikannya pada Wonwoo.

"Sudah aku copy. Tinggal disatukan lalu dikirim," lapor Junhui yang ditanggapi dengan anggukan pelan oleh Wonwoo.

Jari-jari Junhui bergerak lincah. Menyatukan tugas-tugas yang telah dikerjakannya dalam satu tempat lalu mengirimkannya pada Prof. Hwang melalui email. Tidak perlu di baca ulang karena keduanya sudah yakin dan malas juga. Senyum sumringah terukir di bibir dua sekawan itu setelah tugas mereka berhasil terkirim.

"Saatnya bersenang-senang," Junhui mengucapkannya dengan nada sing a song.

Wonwoo mengambil tas Junhui lalu membukanya lebar-lebar. Ia menutup resletingnya kembali setelah laptop Junhui berhasil dimasukkan. Kemudian, Ia menyerahkan tasnya pada sang empu.

"Kau benar-benar telah mengirimkannya, kan?" tanya Wonwoo, memastikan. Tangannya membuka pintu toilet kemudian keluar lebih dulu.

"Kenapa kau tak percaya sekali? Ada namaku dalam tugas ini."

Wonwoo mengangguk pelan. Tangannya merogoh saku celana kemudian mengeluarkan ponselnya. Benda persegi itu dinyalakan lebih dulu lalu jari telunjuknya langsung melesat ke grup chat. Ia Ingin tahu apa teman-temannya sudah datang atau belum. Biasanya mereka akan mengirimkan chat jika sudah datang lalu mengomel jika menunggu terlalu lama.

Selagi Wonwoo sibuk dengan ponselnya, Junhui membenahi penampilannya di cermin. Menata ulang rambutnya lalu pakaiannya yang sedikit berantakan. Siapa tau ia menemukan tambatan hati yang kedua disini.

"Ayo, Jeon"

Junhui merangkul pundak Wonwoo. Menuntun pemuda itu keluar dari toilet karena fokus Wonwoo masih pada ponselnya. Tepat saat Junhui hendak membuka pintu, seseorang lebih dulu membukanya dari luar. Mata Junhui membulat saat mengetahui siapa orang tersebut. Kim Mingyu lagi.

Junhui sengaja sekali menyenggol tangan Wonwoo lumayan kencang agar ponselnya jatuh. Benar saja, Ponsel Wonwoo yang hanya digenggam menggunakan tangan kiri terjatuh. Sudah terjatuh ditendang Junhui pula hingga keluar toilet.

"Wen Junhui!" geram Wonwoo yang kemudian menghampiri ponselnya lalu memungutnya.

Disaat yang bersamaan, Junhui mendorong tubuh Mingyu masuk ke toilet lalu menutupnya. Mingyu yang tak tau apa-apa tak bisa menolak. Apalagi gerakan Junhui yang tiba-tiba.

"Maaf, aku tak sengaja," Junhui berjongkok di sebelah Wonwoo seraya Merangkul pundak Wonwoo erat.

"Untung saja tak ada orang yang lewat."

Wonwoo bangun bersamaan dengan Junhui. Tangan Junhui masih setia berada di pundak Wonwoo. Keduanya melenggang pergi dari sana. Langkah mereka berdua terkesan terburu-buru apalagi Junhui. Lelaki cina itu berasalan takut yang lain menunggu lama. Bagus sekali, Wen Junhui.

.

.

.

.

.

Sesampainya disana, Wonwoo dan Junhui disambut dengan omelan dari Jeonghan, gerutuan dari Seungkwan dan tatapapn sinis dari Jihoon. Keduanya menciut dan hanya bisa mengulang kata maaf. Meminta pengertian pada teman-temannya dengan membawa embel-embel tugas dan deadline tengah malam nanti.

"Lebih baik terlambat daripada tak datang," gerutu Junhui.

"Menyindir Jisoo?" Seungcheol bertanya dengan sinis.

"Tidak, Hyung!" elak Junhui.

"Memang Jisoo Hyung tak ikut?" tanya Wonwoo.

"Jisoo pulang ke kampung halamannya. Ada urusan mendadak," jawab Jeonghan.

"Aku juga ada tugas. Seharusnya kalian memakluminya," Junhui ngotot tak mau disalahkan.

"Jika kau mencari tugasmu sampai ke negeri tetangga baru aku memakluminya," Jeonghan tak mau kalah.

"Tapi itu mempengaruhi masa depanku, Hyung!"

"Kau boleh bicara seperti itu saat kebiasaan membolosmu hilang sudah," sang tetua mulai ikut campur.

"Seperti kau tak pernah bolos saja."

"Menyerah saja, Hyung. Tak akan ada habisnya melawan tim pembela Hong Jisoo," Seokmin berbisik.

"Baiklah, aku bersalah dan aku minta maaf," Junhui berucap ogah-ogahan. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya. Tangan kanannya memaksa Wonwoo untuk ikut membungkuk.

"Masalah sudah selesai. Sekarang, Ayo berpesta!" Seru Seungkwan sembari mengangkat gelas minumannya.

Junhui menarik tangan Wonwoo keluar dari kerumunan. Ia mengajak Wonwoo untuk duduk dan memesan minum. Kebetulan mereka kenal dengan bartendernya karena saking seringnya mereka kemari. Tetutama Junhui.

"Yak Minhyun Hyung! Kenapa kau tak bilang pada mereka?! Jelas-jelas aku dan Wonwoo datang paling awal," omel Junhui pada sang bartender.

Sang bartender menghampiri mereka sembari tersenyum, "Maaf, Hari ini sedang ramai. Aku saja kewalahan melayani para pelanggan."

Wonwoo dan Junhui melepas tas mereka kemudian menyerahkannya pada sang bartender. Sudah menjadi kebiasaan mereka menitipkan tas pada bartender disini. Malas jika harus pulang dulu untuk menaruh tas. Di tinggal di mobil juga tak menjamin keamanan.

"Hyung, seperti biasa saja," pesan Wonwoo.

"Lalu kau, Junhui?"

"Samakan dengan Wonwoo."

"Air putih? Tumben."

"Bukan. Maksudku yang biasa sama seperti Wonwoo."

"Tunggu sebentar, oke?"

"Lama aku tinggal, Hyung" ancam Junhui. Masih kesal rupanya.

"Paket kilat untukmu, Wen. Tapi ada biaya tambahan. Bagaimana?"

"Biaya tambahan sebagai permintaan maaf? Cukup adil menurutku."

"Baiklah, Tuan Wen yang terhormat."

"Hyung, aku yang biasa saja. Tanpa biaya tambahan," Wonwoo mengulang pesanannya.

Tak lama pesanan Wonwoo dan Junhui datang. Segelas minuman beralkohol untuk Junhui dan segelas air putih untuk Wonwoo. Diantara teman-temannya yang lain, hanya Jisoo dan dirinya yang tak minum alkohol. Biasanya ia akan pesan air putih atau jika Minhyun punya susu, maka mereka akan meminum susu.

"Hyung, Ayo ke tengah. Kita menari bersama," ajak Seokmin seraya meliuk-liukkan tubuhnya.

"Tidak. Aku disini saja," tolak Wonwoo.

"Ya sudah. Jangan kemana-mana. Aku malas mencarimu."

Junhui meneguk minumannya beberapa kali kemudian setengah berlari menghampiri Seokmin. Keduanya lalu hilang diantara kerumunan orang-orang yang menari.

Wonwoo meletakkan kepalanya diatas meja. Ponselnya yang semula di genggam, Ia taruh di samping kepalanya. Matanya menatap lurus kearah minuman Junhui yang nampak begitu menggoda. Selama ia datang ke tempat ini, belum pernah Wonwoo memesan selain air putih. Takut muntah-muntah lagi seperti setahun lalu saat ia minum soju dengan kakaknya.

"Coba sedikit saja tak masalah, kan?" Wonwoo bersuara sangat pelan.

Tangannya perlahan terulur kearah gelas minuman Junhui. Ia meraba-raba gelasnya. Meyakinkan diri sendiri bahwa tidak akan terjadi apa-apa setelah ia meminumnya nanti. Hanya mencoba seteguk saja.

Gelas minuman Junhui sudah berada di tangan. Wonwoo menoleh ke kanan dan ke kiri. Memastikan bahwa semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing bukan sedang menatap kearahnya. Setelah itu, Ia baru mencoba minuman milik Junhui.

Rasanya tidak buruk. Tidak menimbulkan pusing lalu mual juga sepertinya karena rasanya berbeda jauh dengan soju. Dengan pemikiran seperti itu, Wonwoo kembali meneguk minuman Junhui. Begitu seterusnya sampai tersisa sedikit.

"Aku masih—hik—baik baik saja—hik—hahaha."

Wonwoo memang masih baik-baik saja tapi sekarang ia sudah mabuk. padahal ia hanya minum setengah karena setengahnya sudah diminum oleh sang pemilik.

"Kau baik-baik saja, Wonwoo-ya?" tanya Minhyun yang mulai mendapat waktu senggang.

Wonwoo mengangkat kepalanya. Menatap Minhyun dengan senyum lebar yang kemudian berubah menjadi tertawa terbahak-bahak.

"Apa aku—hik—terlihat tak baik, Hyung?"

"Kau mabuk Wonwoo-ya. Apa air putih sekarang dapat memabukkan?"

"Hyung, jangan-hik-bilang-bilang pada—hik—Junhui kalau aku menghabiskan—hik—minumannya,"

"Ya tuhan, pantas saja kau mabuk."

"Hyung, kepalaku—hik—pusing,"

Wonwoo memegangi kepalanya. Memijat-mijat pelan keningnya dengan harapan sakit kepala yang menyerangnya bisa hilang seketika. Bukannya hilang malah bertambah. Sekarang perutnya malah terasa seperti dikocok-kocok.

"Kau mau kemana?" tanya Minhyun saat mendapati Wonwoo beranjak dari tempatnya.

"Toilet."

Wonwoo berjalan sempoyong menuju toilet. Tangan kananya memegangi kepala sedangkan tangan kirinya memegangi perut. Pandangannya yang mulai mengabur memperparah segalanya.

Brukk

Wonwoo jatuh tersungkur saat tubuhnya bertabrakan dengan seseorang. Matanya terpejam erat sekali untuk mengurangi sakit kepala yang bertambah parah akibat tubrukan tadi. Ia tak tahu siapa yang menubruknya. Tapi ia merasakan ada tangan seseorang yang menarik tangannya, membantunya untuk bangun.

"Maafkan—hik—aku," Wonwoo membungkukkan sedikit tubuh sempoyongannya.

"Yak Jeon, kenapa kau bisa seperti ini, hah?!" Omel Junhui sembari menepuk-nepuk kedua pipi Wonwoo bergantian. Ia langsung menghampiri Wonwoo, saat Minhyun memanggilnya dan memberikan ponsel Wonwoo padanya tadi.

"Aku meminum—hik—minumanmu hehehe."

Junhui menghela nafasnya. Ia melirik kearah lelaki yang berdiri di dekat Wonwoo. Kim Mingyu lagi dan lagi. Entah kenapa ia merasa seperti sedang diteror oleh Mingyu.

Junhui mengeluarkan kunci mobil dari dalam kantung celananya lalu memberikannya pada Mingyu, "Bawa dia pulang dengan mobilku. Tanyakan pada penjaga di depan yang mana mobilku."

"Tapi hyung..."

"Tidak ada tapi-tapian, Mingyu. Kasihanilah pamanmu yang mabuk parah. Dia tak biasa minum."

Mingyu mengangguk pelan. Tak ada kesempatan untuk menolak.

"Berikan padanya nanti."

Junhui pergi berlalu setelah memberikan ponsel Wonwoo pada Mingyu. Ia kembali bergabung dengan orang-orang yang makin menggila di dance floor sana.

.

.

.

.

.

Mingyu mengendarai mobil Junhui dalam keadaan hening. Tak ada musik yang diputar dan tak ada suara orang yang mengobrol. Wonwoo yang sepertinya sedang tertidur tak mungkin diajak mengobrol oleh Mingyu.

"Junhui..."

Wonwoo membuka matanya perlahan kemudian mengerjap-ngerjapkannya. Membiasakan cahaya lampu jalan masuk ke netranya.

"Aku bukan Junhui Hyung."

Wonwoo menoleh kearah Mingyu. Kepalanya dimiringkan sedikit, "Benarkah? Lalu kau siapa?"

"Aku Mingyu, Hyung."

"Mingyu? Pantas saja kau—hik—lebih tampan dari—hik—Junhui."

Mingyu tak bisa menahan senyumanannya saat mendengar pujian Wonwoo. Darahnya berdesir dan jantungnya seakan melompat. Biasanya orang mabuk itu bicara kejujuran, kan?

"Tunggu dulu. Kau Mingyu? Kim Mingyu?" Wonwoo menatap Mingyu tak percaya.

"Kim Mingyu calon keponakanmu."

"Apa?! Bukannya kau—hik—di Jepang?"

"Aku telah kembali, Hyung."

"Bohong—hik—Kau bukan Mingyu—hik—kau pasti penculik," Wonwoo meringkuk ketakukan.

"Aku Mingyu, Hyung."

"Kau penculik! Hentikan—hik—mobilnya."

Mingyu benar-benar menghentikan mobilnya sesuai kata Wonwoo. Kedua tangannya mencengkram tangan Wonwoo yang hendak membuka pintu. Membalikkan tubuh Wonwoo kemudian menangkup pipinya.

"Aku Kim Mingyu dan aku telah kembali dari Jepang," ucap Mingyu dengan penuh penekanan di setiap kalimat.

"Kenapa kembali?" tanya Wonwoo pelan sekali. Matanya yang semula beradu pandang dengan Mingyu beralih menatap kebawah.

"Karena aku ingin—"

Tok tok tok

"To...tolong aku... kumohon..."

Mingyu dan Wonwoo sama-sama menoleh kearah jendela. Seorang perempuan berambut cokelat kehitaman kembali mengetuk jendela mobil. Mingyu yang mengenali sosok itu segera keluar dari mobil. Sedangkan Wonwoo memandanginya dari jendela.

"Jung Chaeyeon!" Panggil Mingyu

"Kim Mingyu hahaha," perempuan yang dipanggil Chaeyeon tertawa terbahak-bahak kemudian tubuhnya ambruk.

Mingyu menggeram seraya mengacak-acak rambutnya, "Kenapa aku harus berurusan dengan orang-orang mabuk?!"

Mingyu membuka pintu belakang lebar-lebar. Ia mengangkat tubuh Chaeyeon lalu membaringkannya di jok belakang. Ditekuknya lutut Chaeyeon agar pintu bisa tertutup.

Saat Mingyu hendak menutup pintu, Chaeyeon menarik tangannya. Mingyu seharusnya jatuh menindih tubuh Chaeyeon namun lutut Chaeyeon menghalangi semuanya.

"Mingyu—hik—cium aku."

Bibir Chaeyeon telah mengerucut sempurna. Dengan mata setengah terpejam, gadis itu mengangkat kepalanya. Berusaha meraih bibir Mingyu yang hanya diam mematung.

Brak brak brak

"Yak Kim Mingyu! lakukan—hik—dengan cepat! Kepalaku mulai pusing—hik—lagi dan perutku—hoekk"

Wonwoo yang memukuli dashboard seraya berceloteh mengalihkan atensi Mingyu. Lelaki itu panik saat Wonwoo hampir saja muntahkan isi perutnya. Ia buru-buru kembali ke kursi pemudi, menyalakan mobilnya lalu melaju dengan kecepatan tinggi.

"Jangan dikeluarkan disini, Hyung!"

"Mingyu aku—hoekk"

"Jangan dulu, Hyung! Bersabarlah."

"Cepatlah, Gyu!"

"Tahan dulu, Hyung!"

.

.

.

.

.

Wonwoo menyibak selimutnya kemudian mengubah posisinya menjadi bersandar pada kepala ranjang. Pusing dan mual yang di deranya sudah hilang. Potongan-potongan kejadian semalam mulai tersusun rapih di dalam ingatannya.

"Jadi, Kim Mingyu benar-benar kembali?" tanya Wonwoo sembari menerawang ke langit-langit kamar.

Kamar yang pernah ia singgahi beberapa malam. Kamar yang menjadi saksi bisu perpisahan yang mengharukan. Kamar milik Kim Mingyu, seseorang yang mengaku jatuh cinta padanya.

Wonwoo buru-buru turun dari ranjang. Ia meraih ponselnya yang berada diatas nakas kemudian mengantonginya. Kakinya melangkah dengan cepat menuju pintu, memutar kenopnya lalu membukanya dengan tarikan yang sangat kuat.

Bersamaan dengan Wonwoo yang keluar kamar, seorang perempuan yang tak asing bagi Wonwoo keluar dari kamar sebelah. Perempuan itu tersenyum namun Wonwoo malah memalingkan wajahnya. Tersenyum pada orang tak di kenal bukan tipenya sekali. Apalagi dengan seorang perempuan.

Setengah berlari kedua kaki Wonwoo menuruni tangga. Menghampiri pasangan ayah dan anak keluarga kim yang sedang duduk di sofa bersama dengan seorang perempuan. Dari belakang terlihat seperti Hyosung namun rambut perempuan itu pendek. Bisa dipastikan itu bukanlah Hyosung, kakaknya. Lagipula Hyosung baru kembali dari pulau jeju besok sore.

"Selamat pagi," sapa Wonwoo sembari sedikit membungkukkan tubuhnya.

Percakapan yang terjadi diantara ketiga orang tersebut langsung membeku. Pandangan mereka teralihkan pada Wonwoo sepenuhnya.

"Wonwoo!"

Suara melengking Hyosung membuat telinga Wonwoo mendadak sakit. Perempuan berambut pendek itu benar-benar Jeon Hyosung, kakaknya. Apa Hyosung menyempatkan diri untuk pergi ke salon saat di jeju? Tatanan rambutnya benar-benar berubah.

"Noona, bukannya kau kembali besok sore?" tanya Wonwoo, heran.

"Kau seperti tak senang aku kembali," balas Hyosung, sinis.

"Bukan begit—"

"Selamat pagi."

Ucapan Wonwoo terpotong oleh sapaan seorang perempuan. Orang yang sama dengan yang ditemuinya tadi di depan kamar. Perempuan itu tersenyum saat Wonwoo menoleh kearahnya.

"Chaeyeon-ah, Selamat pagi" Himchan membalas sapaan perempuan yang disebutnya Chaeyeon.

"Karena semuanya sudah berkumpul, Ayo kita sarapan bersama," ajak Hyosung.

Chaeyeon tersenyum kikuk. Ia tak kenal perempuan yang baru saja berbicara. Seingatnya Mingyu hanya tinggal dengan ayahnya saja di korea. Itu yang Mingyu ceritakan padanya.

"Ngomong-ngomong, Aku Jeon Hyosung dan lelaki yang berdiri tak jauh darimu itu Jeon Wonwoo, adikku" Hyosung memperkenalkan diri.

"Dan Hyosung ini calon istriku. Sebentar lagi kami akan menikah. Tunggu saja undangannya, Chaeyeon-ah," tambah Himchan yang diakhiri dengan kekehan kecil.

"Sepertinya akan menganggu jika aku ikut sarapan disini. Aku akan pulang saja, Ahjussi" Chaeyeon berucap dengan sangat sopan. Acung jempol untuk tata kramanya.

"Tidak apa, Chaeyeon-ah. Kau juga sebentar lagi akan menjadi bagian dari kami. Kau pacar Mingyu, kan?"

Semburat merah langsung menghiasi kedua pipi Chaeyeon. Gadis itu menunduk sembari tersenyum malu-malu. Hyosung, selaku penanya, terkekeh pelan. Sesekali ia akan melirik adiknya yang tak menunjukkan ekspresi apapun. Seharusnya Wonwoo kesal sekarang.

"Tidak. Aku dan Mingyu tidak berpacaran, Ahjumma," jawab Chaeyeon pelan.

"Bukan tidak tapi belum," sanggah Mingyu.

Himchan langsung meledek putra semata wayangnya itu. Hyosung juga ikut berpartisipasi. Suasana ruang tengah keluarga Kim menjadi sangat ramai. Hanya Wonwoo saja yang diam dan menjadi pendengar yang baik.

"Kita kapan sarapannya?" Pertanyaan Wonwoo membekukan segala keseruan yang ada.

"Ahh iya sampai lupa, kan. Ayo kita ke meja makan dan menyantap sarapan buatanku!"

Himchan menarik tangan Mingyu untuk bangun lalu merangkul pundaknya. Pasangan ayah dan anak itu berjalan beriringan ke meja makan. Begitu juga dengan Hyosung yang menggandengan Chaeyeon. Meninggalkan Wonwoo yang masih diam di tempat.

Kenapa jadi Wonwoo yang posisinya seolah bukan keluarga disini?!

"Yak Jeon Wonwoo, Cepat kemari!" Teriak Hyosung dari meja makan.

Wonwoo berdecak kemudian berjalan gontai menuju meja makan. Disana telah terhidang berbagai macam jenis makanan. Padahal hanya sarapan tapi Hyosung memasak banyak sekali.

Wonwoo menarik kursi yang bersebrangan dengan Mingyu. Bukan tanpa alasan ia memilih duduk disitu. Ada semangkuk sup toge dan beberapa olahan sayuran lainnya disana. Namun, Chaeyeon malah menempatinya.

Wonwoo menatap tak suka kearah perempuan itu. Ia akhirnya mengisi kursi disebelah kanan perempuan itu. Tepat bersebrangan dengan Hyosung. Himchan sendiri duduk di tengah-tengah dan menghadap kearah selatan.

"Selamat makan!" Seru Hyosung dengan riang. Di masing-masing tagannya sudah ada sendok dan sumpit yang bersiap untuk melahap makanan.

"Selamat makan!" Susul Chaeyeon tak kalah riangnya.

Wonwoo menatap tak minat menu yang tersaji di depannya. Bisa-bisanya Hyosung memasak sea food untuk sarapan. Biasanya ia akan sarapan dengan roti dan segelas susu jika dirumah Jihyun Imo.

"Kau harus makan banyak, Chaeyeon-ie" Mingyu menukar sepiring sea food yang berada di hadapan Wonwoo dengan sup toge, "Aku mulai hapal makanan kesukaanmu sekarang."

Wonwoo melirik kearah Mingyu bersamaan dengan Mingyu yang juga melirik kearahnya. Keduanya langsung membuang muka sedetik kemudian. Wonwoo fokus pada sup togenya sedangkan Mingyy fokus pada Chaeyeonnya.

Drrt Drrt Drrt

Ponsel Wonwoo yang ditaruh diatas meja makan bergetar. Ia meraihnya dan langsung mengeceknya. Siapa tahu saja Hanbin yang membawa pengumuman.

Ternyata personal chat dari Seungcheol. Sepertinya penting dan rahasia sekali sampai-sampai Seungcheol melakukan personal chat. Biasanya ia akan mempostnya di grup chat.

Choi Seungcheol send an image

Choi Seungcheol : Masih cantik seperti dulu, ya?

Choi Seungcheol : Apa kau merindukannya, kawan?

Choi Seungcheol : Kantin kampus sekarang juga.

Wonwoo menghabiskan sup togenya dengan terburu-buru kemudian beranjak dari tempatnya, "Aku ada kelas pagi hari ini."

"Memang kau sudah mandi?" tanya Hyosung setengah mengejek.

"Mandi di rumah Imo kan bisa."

"Yasudah sana."

Wonwoo menunduk sedikit kemudian setengah berlari menuju pintu. Sejujurnya hari ini ia hanya punya satu kelas. Itu juga setelah makan siang nanti. Tapi, Ia tak sepenuhnya berbohong karena memang benar ia akan ke kampus. Bukan menghadiri suatu kelas tapi bertemu Choi Seungcheol di kantin.

"Wonwoo, Ponselmu!" Hyosung setengah berteriak saat menyadari bahwa adiknya lupa membawa ponsel.

Hyosung bangun dan berniat mengejar Wonwoo. Sayangnya, Himchan menahan tangan kanannya lalu mendudukkannya kembali.

"Biar Mingyu saja yang mengantarkannya nanti, Hyosung-ah"

Hyosung mengangguk patuh. Ia kembali melanjutkan acara makannya yang sempat terpotong. Hingga ponsel Wonwoo yang bergetar kembali mengganggunya.

Hyosung membuka ponsel adiknya yang memang tak di kunci dengan sebuah pola atau kombinasi beberapa digit angka. Ada satu Chat dari Choi Seungcheol dan Hyosung langsung membukanya.

Choi Seungcheol : Cepatlah! Dia sudah mulai beranjak dari tempatnya.

Hyosung mengerutkan kening. Tak mengerti dengan maksud chat Seungcheol. Ia lalu menscroll keatas dan menemukan sebuah foto seorang perempuan yang sedang tersenyum dengan sekaleng soda berada digenggaman.

"Park Siyeon?!"

.

.

.

.

.

Tbc

.

.

.

.

.

Kenapa makin kesini makin aneh ya /mikir keras

Aku tak tahu Jung Chaeyeon itu bisa bahasa jepang atau tidak. Awalnya aku ingin pakai member jepangnya Twice. Tapi masa Twice lagi u.u Jadi aku pakai Chaeyeon karena tiba-tiba kepikiran sama dia. Chaeyeon itu member DIA sekaligus I.O.I dan temannya Gfriend's Yuju. Kayaknya sih sebaya sama Mingyu ._.

Janji aku terpenuhi buat ngeluarin Park Siyeon disini. Aku bikin keduanya itu punya pasangan jadi biar hati sama perasaan mereka yang main. Tugas teman-teman Wonwoo kan sudah selesai. Mungkin bakalan ada beberapa member grup lain yang perannya keterbalikan sama temen-temennya Wonwoo. Gak banyak cuma biar rame aja xDD

tolong jangan ada yang tanya hubungan Seokmin, Soonyoung dan jihoon trus sama cinta segitiganya para tetua ._. aku aja bingung mereka posisinya gimana :v tapi aku udah ngerencanain ending hubungan mereka gimana di final chap nanti wkwk

Makasih buat yang udah review, baca, follow and fav ^^) terutama buat pereview setia xDD

Terakhir, Review again Juseyo:))