Dua pria yang sama dewasa duduk bersebelahan di bangku penonton. Euforia disekitar mereka rupanya tidak menular. Keduanya tetap saling diam, padahal memegang lightstick yang sama. Mata mereka seperti fancam focus, mengikuti salah satu gadis yang sedang dengan sangat energik nge-rap dan menggerakkan tubuh.

Meski mata mereka sama-sama terfokus pada gadis itu, kedua memiliki sinar yang berbeda. Yang satu sedih, sedang lainnya terhibur. Riuh sekitar mereka dengan fanchant. Keduanya tak terpengaruh. Duduk diam menatap panggung seperti manekin.

Seunghyun melirik ke sebelahnya, memperhatikan ekspresi Lee Soohyuk yang nampak cerah. Jiyong, pasti karena Jiyong. Seunghyun ratusan persen yakin akan itu.

Memutar kembali waktu. Ia mengingat apa yang Jiyong dan Soohyuk lakukan tadi di ruang tunggu. Tertawa lepas tanpanya. Meninggalkan Seunghyun yang diam saja di pojok ruangan. Pikirannya melayang, membuatnya hanya tepuk tangan ala kadarnya ketika 2NE1 selesai perform. Tatapannya bergantian, ke arah Jiyong dan ke arah Soohyuk. Begitu beberapa kali. Didapatkannya kesimpulan dari segala hal yang berkecamuk. Ya, Soohyuk mencintai Jiyong dan Jiyong sedang berusaha membalas perasaan pria itu.

Lalu bagaimana dengan Choi Seunghyun?


Bagaimana Jika Akulah Orang yang Dipilih Tuhan Untuk Mencintaimu

Cast: Kwon Jiyong, Choi Seunghyun

Last Chapter


Roda kursinya terseret di lantai, menimbulkan bunyi yang khas. Lee Soohyuk mendorong kursi roda itu menuju ke ruang tunggu 2NE1 setelah penampilan berakhir. Tanpa kata, keduanya mungkin canggung satu sama lain. Persoalan perasaan bertanggung jawab sekali akan keadaan itu.

"Ehm..." deheman Soohyuk memecahkan suasana. "Bagaimana keadaan anda, Seunghyun-ssi?" tanyanya basa-basi.

"Baik," Seunghyun menjawab singkat. Kaget, tak habis pikir ia mengapa mendadak saingannya ini menanyakan kabar. Apakah ia juga harus balas menanyakan kabar? "Apakah anda mencintai Jiyong?" daripada menanyakan kabar basa-basi, Seunghyun lebih memilih untuk menanyakan hal yang menjadi benalu pikirannya. Lebih cepat mendapat jawaban, rasanya lebih baik. Daripada menebak-nebak berapa isi buah manggis, kan?

Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Soohyuk gelagapan. Ia menatap rambut Seunghyun dengan tatapan kaget. Bagaimana bisa pria ini bertanya langsung tentang perasaannya? Bukankah kalau Soohyuk mengatakan yang sebenarnya, Seunghyun akan terluka?

Tiba-tiba, sebuah tangan mendarat tepat di atas tangan Soohyuk. Menepuk-nepuk punggung tangan Soohyuk seolah sang model adalah adiknya. "Katakan saja," Seunghyun berkata ceria, menggoda. Beberapa detik setelah kalimat tadi selesai diucapkannya, Seunghyun menarik tangannya kembali.

Kenyataannya, pria itu sama sekali tidak ceria. Oh... Demi apapun, Seunghyun hanya ingin ia tahu perasaan Lee Soohyuk terhadap Kwon Jiyong, dan ia harus bertingkah seperti gadis remaja yang sedang menyembunyikan perasaannya. Bodoh. Bodoh sekali. Seperti menuang air garam di atas luka terbuka.

"Aku..." mendadak tenggorokan Soohyuk terasa kering. Dorongannya pada kursi roda Seunghyun melambat, langkahnya hati-hati. Otaknya berpikir keras, memutuskan haruskah ia jujur atau tidak. "Aku mencintainya,"

Jantung Seunghyun serasa berhenti berdetak. Rasanya tetap sakit sekali walaupun jawaban itu sudah diprediksinya akan keluar dari mulut Soohyuk.

"Tapi ia mencintaimu, Seunghyun-ssi..." lanjut Soohyuk pelan. Hanya mereka berdua yang dapat mendengar kalimat itu. Hanya mereka berdua yang bereaksi dengan kalimat itu.

"Aniya," Seunghyun akhirnya berucap setelah sempat hening panjang. Mereka berhenti di depan ruang tunggu 2NE1. Terdengar sedih dan lemah. Seunghyun mengucapkan sesuatu yang tidak sama dengan hatinya, sebuah penolakan.

"Ia mencintaimu. Ia menemanimu, memasak untukmu. Dia tidak pernah melakukan itu padaku," sambung Soohyuk.

"Apa kau menyerah?" tanya Seunghyun.

"Kurasa begitu. Aku... hanya ingin jadi temannya,"

"Ah! Oppadeul ayo masuk!" Chaerin yang baru saja datang langsung mengajak kedua pria itu untuk masuk. Soohyuk tersenyum padanya lalu mendorong kursi roda Seunghyun ke dalam.

Mereka tersenyum, memberi selamat pada masing-masing member 2NE1. Seunghyun menampakkan senyumnya yang tampan sambil memberi selamat. Khusus untuk sang leader, ia memperlebar senyumnya. "Daebak," puji pria itu.

Jiyong ikut tersenyum manis membalasnya. Tangannya menjabat tangan Seunghyun yang terulur. "Terima kasih, Oppa!"

Hangat dipermukaan, namun terasa dingin di dalam sana. Menyadari bahwa senyum itu bukanlah senyum yang tulus hanya untuknya, adalah kenyataan terpahit dalam hidup Seunghyun. Oh... kemana saja ia selama ini? Mengapa ia baru saja menyadarinya kini, bahwa Jiyong tidak mungkin menaruh hati padanya.

Jiyong tidak mungkin mencintainya.

.

.

.

"Oppa," panggil Jiyong. Kakinya melangkah ke ruang tv rumah Seunghyun dan menemukan pria itu sedang menonton televisi. "Oppa," panggilnya sekali lagi saat dilihatnya Seunghyun tidak menoleh padanya.

"Ya?" sahut Seunghyun kemudian.

"Ayo makan dulu, Oppa!" Jiyong beralih ke belakang kursi roda itu, mengarahkannya ke ruang makan. Seunghyun menurut saja.

Sungguh pria ini ingin waktu berhenti sekarang juga. Jiyong selamanya diam dibelakangnya, mendorong kursi rodanya. Lukisan pasangan yang sempurna.

Perlahan tangannya berada di atas tangan Jiyong. Ia menggenggamnya erat seolah takut kehilangan. Memorinya terbang ke peristiwa kemarin. Tentang perasaan Jiyong, perasaan Soohyuk, dan perasaannya sendiri.

Seunghyun kini berharap ia punya pena dan kertas untuk menulis takdirnya sendiri. Ia akan menulis dirinya dan Jiyong menyatu dalam pernikahan. Punya keturunan berwajah sempurna dan berbakat seperti Jiyong.

Sesuatu yang tak mungkin terjadi.

Dihela nafasnya, ketika itulah lamat-lamat Seunghyun mendengar Jiyong memanggilnya. Beberapa kali matanya dikerjapkan, lalu dilihatnya wajah Jiyong berada dekat dengannya. "Oppa kenapa melamun? Sedang memikirkan apa?" tanyanya.

Memikirkanmu dan hubungan kita. Sungguh Seunghyun ingin berkat begitu di depan wanita ini. Namun sesuatu menahannya. Tenggorokannya tercekat. Ia lantas memikirkan alasan yang logis untuk menjawab pertanyaan Jiyong. "Aku... hanya memikirkan sedikit masalah perusahaan," dustanya.

Jiyong tersenyum dan menepuk pundak Seunghyun perlahan. "Jangan dipikirkan terlalu dalam? Bukankah sudah ada orang yang mengurusnya?"

Seunghyun mengangguk, membalas senyuman Jiyong. Setelah itu, dengan cerianya gadis itu mengambilkan makanan dan menyuruh Seunghyun makan. Tidak ada satupun yang berbicara selama makan, tidak ada yang berniat memulai percakapan. Jiyong memakan masakannya sendiri, Seunghyun tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Sungguh menyesal ia dulu pernah menyakiti gadis itu. Bila tahu begini jadinya, Seunghyun pasti tidak menyia-nyiakan Jiyong. Dia tentu bisa belajar mencintai sang rapper. Beberapa tahun setelah SMA, atau sekarang ini, mereka pasti sudah hidup berdua sebagai sepasang suami istri.

Tidak bisakah Jiyong berusaha mencintainya? Sebagian diri Seunghyun tertawa keras mengejek. Tentu tidak bisa, bodoh! ujarnya sendiri di dalam hati. Mana ada wanita yang mau menerima seorang pria yang pernah membubuhkan kotoran anjing di wajahnya? Apalagi kini pria itu cacat. Tak bisa lagi berjalan dan selalu merepotkan.

Dalam hening, airmata Seunghyun menggenang di kelopak matanya. Ia melirik Jiyong yang masih makan dengan khidmat, mencoba meresapi keberadaannya sekarang. Kembali Seunghyun ingin menghentikan waktu. Namun tak bisa, tiba-tiba ia merasa bodoh memiliki keinginan semacam itu.

"Enak?" tanya Jiyong.

Seunghyun mengangguk saja.

"Lalu kenapa dari tadi hanya dimakan sedikit?"

"Ah..." pria itu gelagapan. Saking asyiknya ia tenggelam di dalam imajinya sendiri, ia sampai lupa menyuapkan masakan Jiyong ke dalam mulutnya. "Maafkan aku," Seunghyun lalu memakannya.

Sampai piring licin tandas tak menyisakan makanan secuil apapun, keduanya tidak menjalin percakapan. Hanya sesekali saja, bukan percakapan yang penting. Harus diakui Seunghyun, Kwon Jiyong memang tidak menaruh hati sama sekali padanya. Membuatnya sedih dan hancur.

Harus menunggu berapa lama lagi ia sampai gadis itu bisa mencintainya?

.

.

.

Temaram cahaya rembulan menyinari tubuh Seunghyun yang duduk di balkon. Sunyi. Hanya ada deru lembut angin dan suara binatang malam yang menemaninya. Tak ada Jiyong. Seunghyun lalu tersenyum miris.

"Jiyong-ah..." ia menggumam pelan, lalu menggelengkan kepalanya. Sudah lebih dari tiga bulan ia bersama dengan gadis itu. Secara harfiah. Belum secara perasaan. Jiyong hanya menemaninya karena ia kasihan. Sudah. Tak ada perasaan cinta seperti dulu yang wanita itu rasakan padanya.

Haruskah Seunghyun menunggu lebih lama lagi? Mungkin saja sekarang ini Jiyong sedang berusaha mencintainya namun belum bisa. Namun tidak menutup kemungkinan itu juga tidak terjadi kan?

Sebuah getaran halus membuatnya menoleh. Siluet tinggi sedang berada di dalam kamar Seunghyun, sedang berjalan keluar menuju ke balkon.

"Ya," gumam orang itu lembut, tangannya menyentuh gagang kursi roda Seunghyun. "Kenapa belum tidur?" tanyanya.

Seunghyun tersenyum menatap wajah hyung-nya. "Aku tidak bisa tidur,"

"Wae? Jiyong lagi?" Dongwook berkata lembut. Meski lembut, menyimpan perasaan cemas di dalam hatinya. Seunghyun tak menjawab. Pekat malam nampak lebih menarik bagi Seunghyun. Ia menatap kosong pemandangan di depannya.

Apa adiknya dengar apa yang Jiyong dan dirinya bicarakan kemarin?

Throwback. Dongwook ingat apa yang kemarin Jiyong katakan padanya di depan rumah.

"Aku tidak mencintainya, Oppa…" suara wanita itu terngiang makin jelas di telinganya ketika Dongwook memejamkan mata. "Aku mencari api itu dalam hatiku tapi tidak ada, sudah padam…"

Tangan Dongwook bergerak mengusap lembut bahu adiknya. "Tidurlah," pintanya pelan. Ia lalu mulai menggerakkan kursi roda Seunghyun, mendorongnya masuk kamar.

"Hyung…" Seunghyun berkata. "Aku ingin mengajak Jiyong ke villa weekend ini,"

"Untuk?" Dongwook bertanya. Perlahan ia mengangkat tubuh sang adik, membaringkannya di tempat tidur.

"Mengungkapkan perasaanku padanya. Kurasa tempat itu cocok,"

Wajah Dongwook memucat. Kalau begitu Seunghyun akan segera tahu bahwa Jiyong tidak bisa mencintainya lagi. Bibirnya mengatup. Dalam hati ia hanya dapat mendoakan yang terbaik untuk adiknya.

.

.

.

Berkelok jalan yang ditempuh Seunghyun dan Jiyong. Sang sopir menyetir dengan santai, mobilnya melewati jalan di tengah hutan pinus. Jiyong menatapi pemandangan hijau di sekitarnya dengan wajah senang. Sudah lama ia tidak melihat yang seperti ini. Hijau dan nampak menyegarkan.

"Kau suka ya?" suara berat Seunghyun membuat Jiyong menoleh dan mengangguk senang. "Kau juga akan melihatnya nanti dari balkon villa. Bagus sekali," sambung Seunghyun. Ia melihat mata Jiyong berbinar senang sekali meskipun garis wajahnya hanya bergerak ke atas sedikit. Gadis itu kembali menatap jalanan di sekitarnya dengan hati senang. Tenggelam dalam kesejukannya.

Sementara Seunghyun menatap punggung Jiyong dengan gugup. Ia sudah mempersiapkan kata-kata untuk memenangkan hati Jiyong namun nampaknya tak akan berhasil. Apakah mereka akan bersatu?

Jalan berkelok di tengah hutan pinus berakhir di sebuah villa besar. Letaknya pas sekali di atas bukit. Mata Jiyong melebar ketika melihat bagaimana pemandangan kota terlihat dari sana. Sopir membantu Seunghyun keluar. Pria itu langsung mengarah ke Jiyong, menatapnya penuh cinta. "Bagus?"

"Bagus sekali, Oppa! Ini milik Oppa?" sebenarnya pertanyaan bodoh. Jiyong merasa di dalam kepalanya sudah terkontaminasi segarnya udara. Ia tak dapat memikirkan pertanyaan bagus apa yang dapat ditanyakannya.

Seunghyun tersenyum, lalu menjawab di luar dugaan. "Ini milikku. Milikmu juga kalau nanti kau menikah denganku,"

Jiyong menatap Seunghyun dengan ekspresi yang tak terbaca. Sulit. Campuran antara sedih dan bingung. Begitu melihat itu, Seunghyun lalu maklum. "Ayo masuk," ajak Seunghyun. Ia menggerakkan sendiri kursi rodanya, meninggalkan Jiyong di belakang yang sedang menatapnya sedih.

Pada akhirnya, Jiyong masuk juga. Takjub ia akan dekorasi villa itu. Minimalis, namun mewah. Berkelas. Merepresentasikan sang pemilik yang juga berkelas.

"Apa dekorasinya sesuai seleramu?" tanya Seunghyun. Ia sudah ada di sebelah Jiyong yang asik menatap sekeliling.

"Hmm... Iya. Aku suka gaya seperti ini," gadis itu menjawab pelan sambil terus mengagumi semua benda yang tertata apik di dalam ruangan.

"Kurasa kita memang..." Seunghyun menatap lekat Jiyong sebelum melanjutkan kalimatnya. "Berjodoh..."

Ekspresi tak terbaca itu nampak lagi. Paras manis Jiyong terlihat bingung, matanya terlihat sedih. Seunghyun maklum. Kini ia sudah berada di suatu kesimpulan. Dan saatnya memang sudah tiba.

"Tolong dorong aku ke balkon. Kita bisa melihat pemandangan hutan pinus di sana,"

.

.

.

Begitu sampai di balkon, aroma segar pinus menyambut indera penciuman mereka. Keduanya diam tetap pada posisinya. Jiyong asik menikmati pemandangan sekaligus menyegarkan paru-parunya, sedang Seunghyun tengah menyiapkan diri. Tak lagi ada debar itu di dadanya. Sudah ciut. Ia hanya ingin mengembalikan tujuan awal mengapa mereka ada di sini. Tak usahlah meminta gadis itu untuk membalas cintanya. Seunghyun tahu masalah cinta-cintaan ini hanya ada di mimpinya.

"Yong-ah…" Seunghyun memulai.

"Ne?"

"Kuharap waktu bisa berhenti sekarang," angin sejuk berhembus semilir. Ujung rambut Jiyong tertiup cantik. Seunghyun menatap lurus ke pemandangan hijau di depannya.

"….wae?" Jiyong bertanya bingung dengan pernyataan Seunghyun.

"Karena kita terlihat seperti suami istri," Seunghyun tertawa kecil. Jantung Jiyong berhenti sejenak karena itu. Rasa tidak enak mulai meluap. Kalau sampai pria ini menyatakan cinta padanya, bagaimana Jiyong harus menjawab? Sedang ia ternyata sudah tak lagi bisa merasakan getaran asmara menderanya kala melihat Seunghyun. Api itu tak ada lagi. Sudah padam bertahun lalu. bahkan tak meninggalkan asap.

"Kau tahu, aku selalu berkhayal bisa berdua denganmu sejak dulu. Membicarakan banyak hal. Dari berita terkini hingga menggosip. Mencoba makanan-makanan enak, pergi jalan-jalan..."

"Oppa..." Rasa tak enak meluap begitu saja di dada Jiyong.

"Tapi tidak bisa ya?" sungguh Seunghyun ingin tertawa miris. Namun, ada sesuatu yang meluap di tenggorokannya. "Karena kau tidak mencintaiku,"

"Kau merawatku karena kasihan,"

"Aniya, Oppa... Aku..." gadis itu mencoba untuk melanjutkan kalimatnya. Hanya, tak ditemukannya kata yang tepat. Ia bingung harus menanggapi bagaimana.

"Kau akan bahagia dengan Soohyuk-ssi, Yong-ah! Dia orang yang baik," seperti yang pernah dilakukannya pada Soohyuk, tangan Seunghyun menepuk punggung tangan Jiyong yang sedang memegang grip kursi rodanya. "Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Maafkan aku atas kejadian di SMA dulu," Seunghyun tercekat ketika mengucapkan kalimat ini.

Jiyong membeku. Tiupan angin yang makin keras menambah dramatis suasana. Dua orang itu masih di sana. Terpaku. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Aku bisa minta tolong?" Seunghyun berkata lebih lirih. "Tolong buatkan teh. Aku ingin minum teh denganmu di sini,"

"N-ne... Tunggu sebentar," Jiyong masuk ke dalam dengan patuh.

Ketika langkah itu menjauh, Seunghyun merasa bebas. Air mata yang menggenang di kelopak matanya mengalir. Bertambah volume-nya, dua sungai kecil terbentuk di paras rupawannya. Sekali lagi ia menangis gara-gara Jiyong. Bedanya kini ia tak lagi punya harapan untuk mendekati gadis itu. Tak adanya respon membuat Seunghyun yakin Jiyong memang mencintai Soohyuk. Tak ada lain.

Tamatlah sudah riwayat percintaannya. Setidaknya itu menurut Seunghyun sendiri. Mungkin ia tak akan menikah, mendekam dalam kesepian hingga ajal menjemput. Saat-saat ini adalah saat-saat terakhir sebelum ia merelakan Jiyong pergi. Setiap momen adalah hadiah. Sesuatu yang sebetulnya tidak pantas diterima Seunghyun karena perilakunya di masa lalu.

"Terima kasih," Seunghyun berujar menerima tehnya tanpa menoleh. Air matanya masih mengalir. Ia tak ingin Jiyong melihatnya lemah seperti ini. Namun ia memang lemah. Apakah yang dapat diperbuat lelaki cacat yang patah hati?

Rasa teh yang manis mulai merasuk ke lidahnya. Jauh lebih manis dari kehidupan cintanya.

Tamat.