I Hate Him, But I Love Him!
Kamichama Karin©Koge-Donbo
T/Romance & H/C
Warning: Typo(s), OOC!
-KazuRin-
Haruka Hitomi 12 proudly presents...
-Chapter 10-
.
Sudah dua hari sejak kejadian itu dan ucapan pemuda itu masih terngiang begitu jelas dalam kepalanya. Walau sesekali ia sudah mencoba untuk tetap tersenyum karena hari ini adalah tempat tujuan terakhir dalam filmnya—tetap saja. Pernyataan di malam itu begitu menganggunya.
Sudah beberapa hari pula Ami menegurnya karena kerjanya yang benar-benar buruk setelah mendapat pernyataan itu. Tapi tak ada yang tahu tentang hal ini—ah, tidak. Himeka tahu karena notabene ia adalah sahabat Karin. Tapi tahu apa tanggapannya?
'Karin-chan jawab saja sesuai dengan perasaan Karin-chan!'—dengan nada ceria pula. Dasar setan. Setelah ucapan itu, Karin ragu kalau itu adalah salah satu saran yang diberikan seorang sahabat bila sahabatnya tengah sangat membutuhkan saran untuk masalahnya. Ukh... menyebalkan...
Bahkan ketika ia dan kru lain meninggalkan Korea dan menuju ke Venice, ia seperti sama sekali tak punya pikiran lain dalam otaknya selain pernyataan cinta itu. Rencananya, ia ingin berjalan-jalan barang sejenak bersama kru lain sebelum berangkat, tapi karena jadwal yang padat, itu nyaris mustahil—tapi ia sama sekali tak memikirkan itu! Yang ada di kepalanya hanya Kujyo Kazune.
Bukankah menyebalkan, jika kau masih mencintai orang yang dulu pernah melukaimu tapi sekarang malah berbalik lagi mencintaimu? Ia serasa dipermainkan—tapi tak bisa dipungkiri juga, ia senang perasaannya berbalas—untuk yang kedua kalinya. Tapi tetap saja, ini mengesalkan!
"Jaa nee... Seoul..."
Lelaki bermanik onyx disebelahnya tampak menahan tawa mendengar ucapan gadis itu. Lihat saja, manik emerald yang dibuat-buat sok sedih dan suara sok lirih—menggelikan, "Kau ini kenapa Karin?" tanya Jin.
"Ukh... aku masih ingin lebih lama disini~..." ucap Karin sambil menatap keluar jendela pesawatnya lalu mengambil salah satu majalah didepan kursinya.
Jin terkekeh, "Tenang saja, kau juga akan terpesona oleh Venice."
"Hoh? Memang kau pernah kesana?" tanya Karin sambil mengerjapkan mata.
"Ya," lelaki itu mengangguk, "Saat kecil. Venice adalah salah satu tempat bulan madu terbaik diantara Hawaii dan Paris."
Karin mengerucutkan bibirnya sambil bersidekap, "Kita kesana untuk syuting, bukan untuk bulan madu, bodoh."
Jin mengerling jahil, "Yaahh~ siapa tahu kau mau denganku? Akan kupesankan hotel yang terbaik deh!"
BHUAGH!
"Urusai. Aku tak tertarik denganmu!" ucap Karin dengan rona merah di pipinya tapi ia menutupinya dengan menjulurkan lidahnya—balik meledek lelaki itu.
Jin terkekeh, "Hoo, benarkah?" dan dibalas gadis itu dengan anggukan tegas. Lelaki itu kembali terkekeh lalu ia terdiam, "Kau tahu?" Karin menoleh, "Kau akan tetap menjadi salah seorang dari orang-orang yang kusayang dan kuanggap berharga."
Karin terdiam. Ia menatap keluar jendela—yang cukup mendung, lalu tersenyum kecil dan bergumam sambil mengangguk pelan, "Ya."
.
Penerbangan diatas pesawat mungkin bukan hal bagus dalam situasi mendung begini. Mereka tak kunjung mendarat—yah, walau jarak dari Seoul sampai Venice bisa sampai berjam-jam, setidaknya, harusnya kini mereka sudah mendarat. Tapi karena hujan, pesawat itu serasa berputar terus di udara.
Karin hanya bersidekap di kursinya dengan selimut tebal membalut tubuhnya yang hanya ditutupi sehelai dress putih polos selutut—walau lengannya panjang, bahan kainnya cukup tipis sehingga udara dingin benar-benar serasa menusuk kulitnya. Merasa bosan, ia bangun dari posisi semula lalu menatap Jin yang juga berbalut selimut disebelahnya tapi lelaki itu tampak santai-santai saja memejamkan mata dengan musik yang mengalun di earphone nya.
Karin mengerucutkan bibir kesal lalu menarik earphone itu—membuat yang empunya berjengit, "Ada apa?" tanya Jin.
"Aku bosan~~..."
Jin mengerjapkan mata sejenak lalu melirik arlojinya, "Sepertinya masih lama dan badainya masih sama-sama saja. Sudah, kau tidur saja. Sudah jam tujuh juga."
"Tidak," gadis itu menggeleng, "Ayo ngobrol saja—ah ya, mengenai calon kekasihmu yang akan menjadi penggantiku itu..."
Jin menggeleng, "Sudahlah. Tak apa. Kau tak perlu repot mencari pengganti seperti itu. Aku cukup bahagia sekarang—kau sudah tak terjebak lagi denganku," lalu ia tersenyum.
"Ja-jangan bilang dengan bahasa seperti itu!" sergah Karin, "Aku tak pernah merasa begitu!"
Keduanya terdiam. Karin mencoba mengingat-ingat gadis-gadis yang ia kenal. Tak banyak memang. Miyon? Sudah punya pacar. Rika? Mungkin bisa dipertimbangkan. Himeka? Sudah punya pacar. Ami? Mungkin ya. Kirika? Umur terpaut jauh. Kazusa? Boleh ju—eh? Kazusa? Kujyo Kazusa?
Karin menyeringai, "Aku punya calonnya kok."
Jin menoleh dengan sepasang alis terangkat, "Apa tadi?"
"Calonnya. Calon kekasihmu yang baru. Ada dua sih, cuma kuyakin kau akan lebih menyukai pilihan terakhir," ucap Karin.
Jin mengerjap lalu tertawa sesaat kemudian, "Oke, oke. Coba katakan dan anggap aku setuju dengan saranmu ini."
Karin memberengut lalu berdehem, "Ehem, ini menurut beberapa gadis yang kukenal. Bagaimana kalau Ami?" tawarnya. Jin mengerutkan dahi lalu menjulurkan kepalanya dan mengamati seluruh isi pesawat yang khusus diisi oleh anggota ku syuting. Ia menatap gadis bermanik hazel yang ia kenal sebagai manajer Karin itu tengah duduk dengan Rika dan berdiskusi. Sorot matanya tajam dan tegas—tipe gadis yang tegas akan permintaannya dan tahu apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuannya. Mungkin tidak.
"Err.. tidak," jawab Jin.
"Rika-chan?"
Jin melongok lagi dan kali ini memandang Rika yang ada disebelah Ami. Ukh, mungkin tidak. Membayangkan Rika menceramahinya seperti gadis itu dulu menceramahi Kazune membuatnya mual—ditambah, dia tipe gadis yang ambisius dalam meraih keinginannya.
"Kurasa tidak."
Karin menghela nafas, "Pilihan terakhir dari tiga gadis yang kuanggap paling ideal. Kujyo Kazusa?"
Jin mengerutkan dahinya, "Siapa itu?"
Karin mengeluarkan ponsel dan menunjukkan salah satu fotonya dengan Kazusa lalu langsung mematikan ponselnya lagi segera setelah Jin melihatnya—mengingat mereka masih ada didalam pesawat, "Cantik kan?"
Jin masih berkutat dengan foto gadis bersurai pirang dengan iris safir yang jernih juga senyumannya yang manis itu didalam pikirannya. Gadis yang cantik—memang. Tapi kenapa ia merasa gadis itu mirip seseorang?
Kazusa eh? Kazusa, Kazusa, Kujyo Kazu—APA?!
Onyx nya melebar lalu ia segera menoleh kearah Karin sementara gadis itu mengangkat alis menunggu jawaban Jin.
"Kazusa Kujyo?" tanya Jin memastikan.
Karin mengangguk dengan wajah polosnya, "Iya. Kau pernah bertemu dengannya? Dia kan adik perempuan Kazune!"
"TIDAK!" sergah Jin cepat. Cukuplah, ia tak mau banyak urusan dengan Kujyo Kazune lagi setelah masalah mereka bertiga itu.
Karin mengernyit, "Kenapa memangnya? Dia cantik, baik, sopan—aku sendiri yang menilainya lho dan sebagai sahabatmu, aku bisa mempercayakan dia untuk—tunggu, apa ini ada kaitannya karena dia keluarga Kujyo?" tanya gadis itu dengan tatapan menyelidik.
Jin mendengus, "Aku tak mau berurusan lebih banyak dengan Kujyo Kazune selain film ini."
"Dia kan adiknya, bukan Kazune-kun nya..." bela Karin masih memaksakan Kazusa untuk Jin.
"Aku tidak mau kalau dia!" ucap Jin sambil bersidekap. Karin menghela nafas lalu menatap keluar jendela dengan tangan di dagu. Ia tahu ia tak bisa memaksa. Tapi... apakah hal buruk untuk mencoba mendekatkan mereka?
Saatnya melupakan masalahku dengan Kazune-kun dan menjadi mak comblang~! Khukhukhu~...
.
.
Keluar dari bandara untuk mencapai hotel ternyata harus menaiki kanal. Bagi Karin cukup menyenangkan—karena ini pengalaman baru baginya dan baginya pula, kanal ini terkesan romantis ditambah pemandangan yang menakjubkan membuatnya semakin terlihat elok—nilai plus untuk kota di Italia ini.
"Jin benar. Kota ini terkesan romantis dan indah. Cocok untuk bulan madu," komentar Karin pada Ami yang ada disebelahnya.
Ami malah mengerling jahil, "Memang kenapa, eh? Kau mau bulan madu dengan Jin Kuga? Atau malah dengan Kujyo-san? Kau masih kecil—masih polos. Ingat itu."
"Sialan kau. Maksudku bukan begitu!" balas Karin sambil menggembungkan pipinya.
"Kau menjadi tak terlalu fokus saat syuting akhir-akhir ini. Apa ini ada hubungannya dengan salah satu dari mereka? Kalau terus begini, pamormu bisa turun saat kembali ke Jepang nanti karena aktingmu didepan kamera tak terlalu natural," ucap Ami.
Karin memutar bola matanya melihat Ami yang masih sempat-sempatnya membuka laptop nya dan mengetik sesuatu, "Yah, mungkin," kata gadis bersurai brunette itu cuek. Tapi dalam hati ia masih tetap gelisah karena pernyataan cinta itu—maksudnya, bagaimana ia menjawabnya? Yang benar saja. Entahlah. Mungkin yang harus ia benar-benar pikirkan adalah kelanjutan syuting—bukan Kazune. Ya, bukan dia.
.
"Wow. Kamar sebesar ini untuk tiga orang? Bukankah luasnya berlebihan?" tanya Rika pada salah satu kru yang membantunya membawakan barangnya ke kamar. Lelaki itu menggeleng, "Ini perintah dari Kujyo-san."
Akhirnya Rika mengangguk, mengucapkan terimakasih dan menjatuhkan diri diatas salah satu kasur empuk dari tiga ranjang disana. Ia menatap teman sekamarnya kali ini. Miyon Yii dan Hanazono Karin—sebenarnya ini permintaannya dan mereka sudah sama-sama setuju—Karin tengah memandang pemandangan diluar jendela besar yang ada disalah satu dinding disana sedang Miyon masih menata peralatannya dan bolak-balik antara kamar dan kamar mandi.
"Huwaahh~... hari pertama di Seoul langsung kerja, disini disuruh istirahat dulu. Dasar Kirio plin-plan!" seru Karin sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Yah, dia kakak yang agak-lebih-buruk-dari-Kirika," timpal Rika membuat Karin menoleh dengan tatapan bingung.
"Karin-chan," mendengar suara Miyon, Karin segera bangkit.
"Ya?"
Miyon melipat handuk yang ia bawa lalu duduk di atas kasurnya yang ada di paling ujung—disebelah ranjang Karin, "Kirio bilang kau sering tak fokus sejak dua hari lalu. Ada apa? Apa kau mau cerita?" tawarnya, "Ia memintaku menanyakan ini padamu—mengingat kita sesama wanita jadi kita akan lebih paham masalah satu sama lain. Aku tahu aku tak begitu dekat denganmu, tapi... kalau kau mau, aku mau menjadi teman wanita yang selalu siap membantumu."
Rika hanya diam sambil menatap keduanya bergantian. Karin menghela nafas, "Oke, terimakasih banyak Miyon... tapi kumohon jangan ceritakan pada siapapun, ya?" pintanya. Rika mengangguk lalu mendekat—begitu juga dengan Miyon. Keduanya diam dan tak menyela selama Karin bicara. Gadis itu menceritakan hubungannya dengan Jin yang putus—dimana hubungan itu menjadi rahasia umum keduanya—sehingga tak ada orang selain mereka yang tahu perihal putusnya hubungan itu sampai Kazune yang sehari setelahnya menculiknya dari syuting dan menyatakan perasaan secara mendadak.
"Ini menyebalkan," umpat gadis itu akhirnya.
Rika mendengus, "Benar kan kubilang? Kalian itu memang tak pernah mau mengakui perasaan secara terang-terangan. Dasar bodoh."
Gadis bersurai brunette itu menggembungkan pipinya, "Siapa yang kau panggil bodoh, hah? Kalau aku menerimanya, kesannya aku gampang sekali melupakan Jin, aku hanya tak ingin ada rumor buruk kau—"
"Sudahlah, jangan mungkir," sergah Rika, "Kalau ada perasaan katakan saja. Kau akan menyesal kalau kau menahannya terus—percayalah. Aku tak bohong."
Dan setelahnya gadis bermarga Karasuma itu melenggang keluar dari kamar itu diiringi wajah memberengut Karin dan tawa kaku Miyon.
"Y-yah... Rika-san memang selalu tajam. Tapi... kurasa dia ada benarnya. Kau harus katakan perasaanmu yang sebenarnya pada Kazune-san," ucap Miyon akhirnya.
Dan gadis bermanik hijau zamrud dihadapannya hanya terpekur dalam keheningan.
.
.
"Aku bodoh ya," lelaki pirang itu menggumam. Ia memandang gelas wine yang ada di tangannya sejenak. Menyesapnya sekali lagi lalu meletakkannya di meja kecil disampingnya—menyadari jika ia minum terlalu banyak ia takkan bisa menahan diri.
"Ya. Kau memang sangat bodoh, Kujyo."
Lelaki itu menoleh kala mendengar suara seseorang dibelakangnya—dan hal itu langsung membuatnya mendecih kesal lalu memalingkan wajah, "Kuga," gumamnya lagi.
"Aku tahu tentang pernyataan itu—walau Karin sama sekali tak menceritakannya padaku," ucap Jin sambil berdiri disamping pemuda pirang itu—Kazune Kujyo, "Aku bisa sama sepertimu. Kita adalah lelaki yang punya mata dimanapun."
"Lalu? Apa itu penting untukku?" respon Kazune sambil tetap memandang lurus kearah pemandangan malam kota Venice yang tersaji di balkon lounge itu.
Jin menghela nafas, "Yah... aku memutuskan Karin dengan harapan dia akan bahagia dengan laki-laki yang ia cintai—aku takkan egois. Aku takkan memaksakan keinginanku. Dia pantas bahagia—dan itu denganmu."
Kazune menoleh kearah lelaki itu—tapi ia diam saja. Mungkin benar, sesama lelaki kadang butuh waktu untuk bicara.
"Yang jelas," Jin menatap lurus Kazune, "Kalau ia menerimanya, jaga dia untukku—jika bukan untukku, lakukanlah untuk Karin. Aku tak mau melihat dia menderita—kalau sampai itu terjadi, aku takkan segan-segan lagi merebut dia."
"Kalau kau merebutnya dariku sama saja kau menyakitinya," timpal Kazune.
"Setidaknya ia takkan terjebak dengan orang sepertimu lagi. Jadi buat Karin bahagia. Untuk Karin, aku memohon padamu Kujyo."
Seketika suasana hening. Hanya ada angin malam yang berhembus lalu sesaat kemudian Jin tertawa, "Yah, itu saja. Kita sudah lama tak bicara antar pria—lain waktu kalau bisa kita bicarakan di tempat yang lebih nyaman ya! Disini benar-benar menyesakkan—apalagi topiknya tentang cinta. Haha, besok hari yang berat. Selamat malam pak produser~!" lalu ia berjalan pergi darisana menyisakan pemuda keluarga Kujyo itu yang masih diam ditempatnya.
Kazune meraih gelas wine disampingnya—bersumpah dalam hati ia meneguk minuman ini untuk terakhir kalinya malam ini, "Untuk kesempatan kedua ini... kau bisa percayakan dia padaku Kuga."
.
"Terimakasih."
.
.
"CUTT!" suara Kirio kembali menggema. Dari wajahnya terpancar raut puas atas kerjasama tim kru film ini, 'Ini pasti akan sukses', pikirnya, "Bagus Karin!" serunya.
Karin yang ada didepan sana tersenyum lalu menundukkan badannya, "Terimakasih semuanya, mohon bantuannya!" serunya lalu berlari kearah Ami—manajernya.
"Kau sudah selesaikan masalahmu?" tanya gadis itu lalu duduk di sisi Karin dan membuka data-data dalam laptop nya.
Karin menggeleng, "Belum. Untuk sementara, prioritasku adalah film ini. Hei, apa itu jadwalku?" tanyanya.
Ami mengangguk, "Ya. Jadwalmu di Jepang menumpuk."
"Ukh, kenapa tak menolak beberapa? Aku sedang fokus ke film ini!" seru gadis bersurai brunette itu.
"Tidak bisa," ucap Ami tegas, "Persiapanmu kurang—dan ini salah satu cara termudah meraih kembali pamormu dan menaikkan namamu di dunia hiburan—selain film ini. Sudahlah, terima saja takdirmu~"
Sialan. Pikir Karin kala ia melihat Ami malah tertawa-tawa. Tapi kemudian ia kembali fokus dengan pikirannya. Benar, ia harus meluruskan segala masalahnya dengan Kazune.
To: Kazune Kujyo
Subject: -
Aku ingin kita bicara. Di tempat yang bagus ya? Kau punya saran?
.
.
.
Berdiri berdua di jembatan Rialto setelah menaiki kanal dan mencoba vaporetto dan gondola—yang bagi Karin harganya benar-benar menguras dompet, lalu melihat seperempat panorama menakjubkan kota Venice—mungkin bukan hal buruk—ide bagus malah. Inilah salah satu keuntungan bila salah satu kenalanmu sering bolak-balik mengelilingi sepertiga daratan di bumi—mengetahui banyak tempat menakjubkan yang mampu membuat siapapun yang pertama melihatnya hanya bisa bergumam kagum.
"Huwaa~~ beruntungnya aku pernah mengenalmu Kazune-kun!" seru Karin sambil mereggangkan otot-otot tangannya.
Kazune hanya bergumam dan tetap memandang lurus kedepannya, "Jadi... kau sudah dapat jawaban untuk yang waktu itu?"
Karin menoleh sejenak. Gadis itu menunduk lalu menghela nafas—untuk sejenak suasana menjadi sangat lengang hanya terdengar deru beberapa speed boat yang lewat di sungai dibawah jembatan itu dan suara orang-orang lain yang berjalan di belakang keduanya.
"Mungkin begitu," respon gadis bermarga Hanazono itu.
"Lalu?" ujar Kazune, "Kalau kau menolakku, apa kau memilih Kuga—artinya?"
Karin terdiam lalu ia memutar badannya dan memandang pemuda itu lurus-lurus. Lalu menggeleng, "Tidak. Tidak diantara kalian," dan Kazune terhenyak, "aku memilih fokus dulu pada karirku," sambung Karin dengan senyuman kecil yang terulas di wajah ayu nya.
"Yah," lelaki itu bergumam lagi—tapi kali ini ia tersenyum, "Aku hanya butuh jawabanmu dan aku menghargainya. Mungkin kesempatan kedua memang bukan untukku, ya kan?"
"Tidak," Karin menggeleng, "Semua orang pantas dapat kesempatan kedua—dan aku sama sekali tak menyalahkanmu atas kejadian tujuh tahun lalu. Kita bertambah dewasa—tahu mana yang baik dan yang buruk. Kita tak boleh meninggikan ego dan bersikap kekanakan. Ayo kita lupakan masa lalu dan fokus dengan apa yang kita hadapi sekarang."
Lelaki pirang itu terdiam mendengar ucapan gadis dihadapannya. Namun sesaat kemudian ia malah terkekeh pelan dan mengacak surai gadis itu, "Kau tambah bijaksana, tahu itu?"
Karin terkekeh sambil berpura-pura memukul lengan lelaki itu dan merapikan rambutnya, "Sialan kau. Rambut ini ditata secara eksklusif oleh Miyon!"
"He? Yii bisa menata rambut?" balas Kazune dengan tatapan tak yakin.
"Ya, bagaimana? keren kan~?" tanya Karin sambil berpose dengan gaya imutnya.
Kazune mendengus, "Jelek kalau kau yang menggunakan," sambil menjulurkan lidahnya disambut rengekan kesal gadis dihadapannya. Namun sejenak kemudian—setelah keduanya tertawa bersama, lelaki itu meraih bahu putri tunggal keluarga Hanazono itu dan memandangnya lurus.
"Kalau begitu, boleh aku tetap menunggumu?" tanyanya.
Karin terkekeh, "Kau tahu? Di mata orang-orang kau terlihat dingin dan cuek—tapi bagiku, kau jauh lebih terbuka daripada dulu."
Kazune tersenyum kecil, "Setiap orang perlu perubahan baik kan?"
"Ya."
"Jadi, soal perasaanmu padaku... bagaimana?"
"Hem, aishiteru. Tapi kita perlu waktu."
.
Dan dibawah cahaya bulan bernaungan langit malam kota Venesia, keduanya saling bertatapan dan sedetik kemudian jarak diantara mereka terhapuskan dengan menyadari perasaan satu sama lain di hati masing-masing. Mereka hanya perlu waktu—dan waktu akan terus berjalan untuk menciptakan konklusi akhir dari afeksi keduanya. Ya, suatu saat nanti, Karin yakin, jika keduanya sudah ditakdirkan untuk bersama, mereka akan bersama.
.
'Sou. Aishiteru.'
.
-TSUZUKU-
Wuuuaaa! Maafkan saya yang ngeret banget updated nya! Dah masuk, tugas saya banyak, persiapan minggu depan UTS. Maaf ya, readers sekalian? Makasih banyak yang sudah mereview.
Key, bales repiu dulu. Soal evaluasi, readers aja ya yang mengevaluasi—taruh di repiu, nanti saya jawab ^^
Dci: Ok, ni dah lanjut. Makasih ya~!
Rizki Kinanti: salam kenal juga. Hehe, iya Rizki-san kelas berapa? Haha, oke, ini agak ngeret nih, maaf ya. Hem, kalo dipanjangin, tunggu mood nya ada ya #PLAK! Oke, makasih banyak atas repiu dan dukungannya~!
Sehunnieoppa: oke, oke~~! Hehe, ni updated nya rada ngeret nih, maaf ya, tapi makasih banyak atas repiu nya~!
Syofalira: haha, daijobu desu. Wah, makasih ya, ganbatte mo!
Guest: hee... benarkah? Wah, makasih banyak ya~! Ganbatte mo
Tasya: haha, oke, ini dah lanjut, tapi maaf agak lemot ya, makasih banyak~!
Jamilah: ah ya, gak papa kok. Tenang aja. Ini dah updated tapi rada lemot jadi maaf ya, makasih banyak~!
Nuri: oke, makasih banyak~!
AnandaPtrAbsri: haha, iya ya, aku juga mau tuh #DoublePLAK! (?) hehe, oke. Makasih lagi untuk yang kali ini!
Dhica: hoe? Lebih romantis? Oke, saya usahain, tapi kasih ide juga ya, maunya Dhica-san gimana. Biar pas githuuu~~ hehe, salam kenal juga dan terimakasih.
Guest: haha, iya, ini dah updated. Maaf ya kalo agak ngaret. Hehe, makasih banyak.
Natali-chan: iya, wah kita sama~! Yeyyy! *highfive* hee, gak sekreatif itu, aku Cuma menuliskan imajinasi ku aja kok. Hehe, maaf ya, agak ngaret, melenceng dari dead line anda. Hehe, tapi ganbatte mo, gomennasai & arigato gozaimasu.
Yume sora: heemm, di chap ini semua terjawab~ Jin sekarang hanya berposisi sebagai sahabatnya saja~! Hehe, makasih banyak ya repiunya.
Wulan: hehe, makasih banyak ya~!
KK LOVERS: haha, benarkah? Makasih banyak ya. Oke, kalo ada ide lagi, bakal saya publish terus deh. Hehe... ganbatte mo, Kazurin forever dan sekali lagi terimakasih.
Kira: aa... oke, makasih banyak ya? Hee... gomen, aku banyak tugas di kehidupan nyata(?) hehe, gomenne? Ini dah lanjut, makasih banyak ya~!
Uzumaki Kira-kun: Oke, ini dah lanjut. Em, apa Uzumaki Kira-kun penggemar Naruto juga? *sekedar tanya* hehe, intinya makasih banyak ya~!
Guest: hehe, iya, ini dah lanjut, tapi maaf agak ngaret. Hehe, iya, semangat, semangaatt~~! Oke, makasih banyak ya~!
.
Wah, review sampai segini banyaknya saya gak pernah nyangka lo... pertama kalinya. Makasih banyak ya semuanya, maaf ni, gak saya bold nama reviewers sekalian—capek saya... #PLAK! Oke, maafkan segala kekurangan fic ini, chapter 10 'I Hate Him But I Love Him' updated, mind to review?
.
.
Boyolali, 22 Juli 2013 *BesokHariPenting,Bro!YangTahuPMSaya~!* *gananya*, 19.49 P.M.
