Ringkasan: Kehidupan tidak semudah mimpi kanak-kanak. Terutama jika takdir mengikatmu dalam status bernama shinobi. Siapa yang bisa menebak apa yang ada di ujung mimpi itu?
Peringatan: canon setting; future fict; alternate reality; almost Shikamaru-centric. Belum di-beta.
Disclaimer: Naruto series is the property of Kishimoto Masashi. I gain no financial advantage by writing this.
DARI BAGIAN SEMBILAN
… "Takdir bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan. Takdir adalah sesuatu yang bisa diubah." Jeda. Neji melanjutkan, "Takdir bukanlah sesuatu yang akan membawa langkah kita—takdir adalah sesuatu yang kita bawa, untuk kita temukan akhirnya."
Takdir. Shikamaru tidak tahu bagaimana ia bisa berujung mengeluarkan kata abstrak itu, namun kata-kata Neji seperti menusuk sesuatu di sudut dirinya.
Neji memberi jeda lagi, menurunkan pandangan dan menatap lekat Shikamaru yang masih menekuri jalan di bawahnya. "Tidak cukup hanya dengan berusaha," Neji berujar jernih. "Kadang kau juga perlu melawannya."
Satu kata terakhir seperti menyentak Shikamaru. Tidak ada nyeri di pipinya, namun Nara Shikamaru merasa seperti baru saja tertampar sadar untuk kedua kalinya dalam hari ini.
.
#
.
Ujung Mimpi
©fariacchi
Sepuluh: Determinasi
.
#
.
Jika dihitung, waktu dua minggu ternyata berjalan begitu cepat. Sejak pertama kali mendengar mengenai kehamilan Temari, waktu bergulir nyaris tanpa disadari Shikamaru.
Shikamaru mengingat estimasi waktu yang diberikan Haruno Sakura dua minggu lalu. Dua bulan. Mereka punya waktu dua bulan untuk melakukan sesuatu, sebelum semuanya tidak lagi bisa dihindari. Dan kini, tersisa tidak lebih dari satu setengah bulan bagi Shikamaru dan Temari untuk bertindak—memutuskan sesuatu.
Dari mana ia harus memulai? Shikamaru tidak tahu. Setiap saat, pertanyaan itu melintasi pikirannya. Kemudian dengan hati-hati, Shikamaru mencoba menyusun fakta, langkah, lalu menarik solusi. Namun dalam hitungan detik, keraguan menghempasnya—meninggalkan dirinya di titik yang sama seperti awal ia mulai.
Menghela nafas, Shikamaru merasa sedikit lelah terus berputar di tempat yang sama. Karena itu, hari ini ia memutuskan melakukan sesuatu yang berbeda. Bagaimana pun, hari kemarin berhasil memaksa kedua matanya terbuka untuk memahami sesuatu.
Pintu geser di lantai dua gedung pertemuan Konoha terbuka. Dari ruangan besar itu, beberapa sosok ninja dengan hitai-ate berlambang asing mulai berhamburan keluar. Mata hitam Shikamaru mengawasi dari dinding tempatnya bersandar tidak jauh dari koridor. Kemudian, sosok yang dicarinya terlihat berjalan keluar dari ruangan menggenggam beberapa dokumen.
"Temari," pemuda itu memanggil.
Gadis berkuncir empat yang dicari Shikamaru itu mengenakan kimono hitamnya yang biasa, dengan obi berwarna hijau toska—sepertinya warna itu menjadi kesukaannya belakangan ini. Kipas besar tampak tersangga kuat di punggung gadis semampai itu.
Butuh waktu beberapa detik sebelum Temari benar-benar berhenti dan menoleh—untuk sesaat mengira dirinya salah mendengar. Mata turquoise gadis itu sedikit membulat mendapati sosok pemuda yang melangkah mendekatinya. "Shikamaru—?"
Nara Shikamaru memberikan senyum tipis. "Kenapa wajahmu seperti itu? Seperti melihat hantu saja," ia berujar.
Temari mengerjapkan mata beberapa kali. Kemudian mendecak singkat dan mengayunkan kaki di sisi pemuda itu. "Kau mengejutkanku," sahutnya. Meski berusaha terdengar wajar, Temari agaknya tidak bisa menyembunyikan gurat kemerahan di pipinya. Gadis itu baru saja teringat bahwa ia belum bertemu Shikamaru lagi sejak percakapan terakhir mereka dua minggu lalu.
Shikamaru menahan keinginan untuk menyeringai. Sungguh hal yang langka menemukan gadis Suna itu bersikap begitu manis. Pada titik itu, Shikamaru merasa seperti mereka kembali ke masa-masa alami di mana tidak ada masalah rumit yang mengacaukan pikiran mereka.
Dengan kedua tangan di saku, Shikamaru berjalan menyusuri koridor bersisian dengan gadis berambut pirang itu. "Bagaimana persiapan Pertemuan Aliansi-nya?" Ia bertanya.
"Lancar. Semuanya sesuai jadwal. Pertemuan akan diadakan sebulan lagi."
Langkah Shikamaru terhenti sesaat.
Temari mengangkat satu alis. "Shika—?"
Detik berikutnya, Shikamaru sudah melanjutkan langkah, membiarkan Temari melirik tidak mengerti sebelum kembali mengikuti. Pemuda itu baru ingat—lagi—bahwa ia punya pekerjaan untuk menyiapkan materi yang akan dibawa Konoha. Bagus sekali, ia nyaris melupakan sesuatu yang sempat diingatnya ketika terakhir kali bertemu Naruto.
Tapi sekarang bukan waktunya untuk memikirkan itu. Shikamaru sudah menunda tugasnya begitu lama. Tidak ada bedanya jika ia menunda lagi beberapa waktu.
"Bagaimana keadaanmu?" Shikamaru bertanya.
Temari menggenggam dokumen di tangannya dengan agak keras. "Baik—" jawabnya. Ia teringat mengenai dua minggu terakhir yang sudah dilaluinya sendiri. Tidak begitu baik, sejujurnya. Tapi secara teknis, jika yang dimaksud Shikamaru adalah kondisi fisiknya, Temari tidak berbohong.
Diam. Shikamaru mengawasi Temari dari sudut matanya. Jelas, ia menemukan keraguan di ekspresi gadis itu. Temari tidak pernah benar-benar pandai berbohong.
"Setelah ini apa rencanamu?" Shikamaru menuruni tangga dengan lambat, mengikuti tempo gadis di sampingnya.
"Belum ada. Urusan persiapan Pertemuan Aliansi untuk hari ini sudah selesai."
Jeda sedikit sebelum Shikamaru berbicara, "Mau ikut denganku?"
Langkah Temari terhenti. Ia menoleh, menatap pemuda itu dengan agak bingung. Bibirnya nyaris mengujarkan kata 'ke mana', namun sesuatu di pandangan Shikamaru menghentikannya. "Tentu," akhirnya itulah yang dijawabnya.
Shikamaru menyimpan senyum tipis untuk dirinya sendiri. Agaknya ia merasa seperti suasana hatinya perlahan membaik.
.
#
.
Temari tertegun. Gadis itu sudah mengikuti Shikamaru menyusuri pinggiran Desa Konoha, juga menapaki wilayah hutan perbatasan Negara Api. Agaknya Shikamaru mengkhawatirkan kondisi Temari, sehingga memutuskan untuk berjalan menembus hutan terang itu—daripada melompati dahan pohon seperti biasanya. Dan sekarang ia berdiri tidak jauh dari Shikamaru, memandangi pepohonan renggang dan rumput hijau cerah yang indah diterpa sinar matahari.
Shikamaru menghentikan langkahnya di hadapan sebuah pohon besar. Di sekitarnya, semak-semak hijau tua membatasi pandangan, dan pemuda itu menghirup udara segar yang menguar di sana.
Temari memandangi sekelilingnya dengan ganjil. Gadis itu tidak mengerti mengapa Shikamaru membawanya ke tengah hutan Negara Api seperti ini. Seingat Temari, wilayah ini berada di luar garis Desa Konoha—tepat di luar dan berbatasan dengan wilayah Negara Api. Temari memandang langit di atasnya. Dari tempat itu, awan putih memang terlihat, namun tidak sejelas dari gubuk tua tempat Shikamaru biasa menghabiskan waktu.
Merasakan kebingungan gadis di belakangnya, Shikamaru memutar tubuh. "Kenapa diam di sana?" tanyanya.
Temari mengangkat satu alis. Bagaimana ia tidak diam jika tiba-tiba ia dibawa ke tempat antah berantah seperti ini? Temari merasa Shikamaru mulai bertingkah aneh. Gadis itu memutuskan mendekat beberapa langkah.
Namun begitu saja, suara gemerisik semak menghentikan langkah Temari. Mata turquoise gadis itu mengawasi dengan refleks—kebiasaan khas dari pekerjaannya sebagai shinobi.
Shikamaru, di sisi lain, menyeringai pendek ketika menangkap bayangan yang berkelebat di sekitar semak.
"Mereka datang," ujarnya.
"Eh?" Temari baru saja akan mengujarkan sesuatu ketika langkah-langkah kecil terdengar beradu dengan rerumputan di sekitarnya. Gadis itu menoleh, dan kedua matanya membulat sempurna.
Sekawanan rusa muncul dari balik semak dan batang pohon. Hewan-hewan berbulu coklat itu seolah memandangi Shikamaru dan Temari dengan mata hitam mereka yang tampak cerdas.
"Shika—?" Temari tercekat. Ia tidak tahu bahwa di hutan itu tinggal sekelompok hewan cantik seperti yang sedang dilihatnya sekarang.
Shikamaru tertawa kecil. "Ya, shika*," gumamnya.
Temari melemparkan pandangan tajam ke arah pemuda di depannya. "Tidak lucu," komentarnya.
Shikamaru mengabaikan komentar Temari dan membiarkan tawa kecil meluncur lagi. Kemudian pemuda itu menjulurkan tangannya ke arah kawanan rusa, dengan lembut membentuk gestur yang mengisyaratkan agar hewan-hewan itu mendekat.
Temari hanya terbius ketika mengamati hewan-hewan berkaki empat itu seperti mengerti isyarat Shikamaru. Sekumpulan rusa itu mendekat, berakhir mengelilingi pemuda berambut hitam yang tampak tersenyum lembut. Sesuatu berdesir di dalam diri Temari ketika pemandangan tenang itu memantul di matanya.
Shikamaru memandang Temari, membiarkan tangannya berhenti di ujung kepala seekor rusa jantan bertanduk indah. Pemuda itu membuka suara, "Wilayah ini adalah hutan milik klan Nara." Seekor anak rusa mungil berlarian di dekat kaki Shikamaru. "Rusa-rusa hidup bebas di wilayah ini. Klan kami juga mengembangkan obat-obatan langka dari sel tubuh mereka. Selebihnya, mereka dibiarkan berkembang biak sebagai lambang klan Nara—"
Penjelasan itu tanpa sadar membuat Temari mengangguk perlahan.
Shikamaru membelai bulu coklat seekor rusa betina di sisinya. "—Sebenarnya, ini adalah wilayah rahasia. Hanya anggota klan yang dibolehkan memasuki tempat ini, dan menyentuh rusa-rusa ini."
Temari merasakan detak jantungnya sedikit kehilangan tempo untuk alasan yang tidak dipahaminya.
Berhenti dari perhatian kepada rusa di sekitarnya, Shikamaru memandang lurus Temari. "Mendekatlah," ujarnya jernih.
Temari tidak paham mengapa ia seperti berdebar ketika mendengar suara Shikamaru. Apakah emosinya memang sedikit menjadi aneh karena kehamilannya? Apa pun, Temari tetap mengayunkan kaki menuju pemuda di depannya.
Shikamaru dengan sabar memperhatikan ketika Temari melangkahkan kakinya dengan ragu, sesekali memandangi beberapa ekor rusa di sekitar mereka. Sesaat kemudian, pemuda itu menggamit lengan Temari yang terbalut sarung tangan hitam, menarik lembut gadis itu ke sisinya.
Temari terpaku. Gadis itu membiarkan tubuhnya bertabrakan pelan dengan bahu bidang Shikamaru. Kini, ia berdiri memunggungi Shikamaru, dengan tangan pemuda itu terkait di lengannya. Dan Temari merasa menahan nafas untuk sesuatu yang tidak dimengertinya.
Shikamaru membimbing Temari untuk menjulurkan lengannya menuju kawanan rusa bermata hitam mengilat yang sejak tadi mengawasi tanpa suara. "Tidak apa-apa," ia bersuara di sisi telinga Temari, "tatap mereka lekat-lekat, julurkan lenganmu seperti memanggil—"
Temari sedang bertanya-tanya apakah Shikamaru bisa mendengar debar jantungnya yang memacu cepat. Gadis itu merasakan tangan lain Shikamaru melingkari pinggangnya yang terlilit obi. Sedikit menelan ludah, Temari mencoba mengikuti intruksi pemuda di belakangnya.
Mata turquoise Temari bertemu dengan berpasang-pasang mata hitam pipih yang tampak cerdas dari kawanan rusa berbulu coklat indah itu. Satu tangan Temari terjulur, dalam bimbingan Shikamaru mencoba memberi isyarat agar hewan-hewan itu mendekat.
Angin berdesir lembut ketika Temari menemukan langkah-langkah kecil rusa mulai mendekatinya dan Shikamaru. Sekali lagi, gadis itu merasakan bisikan Shikamaru di telinganya, "Kau bisa membelai mereka pelan-pelan—"
Dan Temari melakukannya.
Ketika jari-jari ramping Temari menyusuri helai bulu halus dari seekor rusa jantan yang menyentuh ujung telapak tangannya, gadis itu merasakan kehangatan aneh menjalari tubuhnya. Tanpa sadar, Temari melengkungkan senyum ketika memandang lekat hewan cantik di dekatnya.
Mata hitam Shikamaru mengamati ketika rusa lain mulai mendekat dan berdiri anggun dalam empat kaki di hadapan Temari. Shikamaru tahu, rusa-rusa itu mengerti.
Rusa-rusa itu menerima Temari.
Rasanya seperti Temari baru saja menjadi bagian dari klannya, dan Shikamaru tidak bisa menahan luapan emosi yang menyapunya.
Temari—gadis itulah yang dicarinya. Gadis itulah yang ingin dilindunginya—gadis itulah yang ingin dipastikannya untuk menemani hidupnya.
Ketika merasakan Shikamaru membenamkan wajah di pundaknya, tangan Temari berhenti. Gadis itu tercekat ketika dua lengan kuat Shikamaru melingkar di pinggangnya, memeluknya erat.
"Shika—" ia bersuara pelan. Rusa-rusa di sekitar dua sosok itu tidak bergerak, diam mengamati dengan tenang.
Suara Shikamaru sedikit tertahan, namun Temari bisa mendengarnya begitu jelas. "Aku menyayangimu, Temari …."
Itu cukup untuk membuat Temari merasa seperti jantungnya berhenti berdetak sesaat.
Shikamaru, untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka, mengatakan sesuatu yang begitu tidak diduga Temari.
Tahun-tahun yang mereka lalui selama ini hanya menyisakan ungkapan ketertarikan, dan keheningan. Mereka tak banyak bicara mengenai perasaan—keduanya cukup memahami ketertarikan satu sama lain. Tidak ada janji, tidak ada pengikatan verbal. Segalanya mengalir begitu saja. Alami, wajar, dan tanpa sadar menjadi bagian satu sama lain.
Ketika suara Shikamaru mengalun jernih seperti itu, Temari bahkan tidak menyadari bahwa setetes kilau air mata jatuh lembut di pipinya.
Aroma tubuh, pelukan, benaman kepala, juga suara Shikamaru menjadi campuran yang membuat Temari merasa begitu bahagia. Ya, ikatan mereka terjalin begitu sederhana, namun begitu kuat sehingga jika satu sisi saja bergetar, maka sisi yang lain akan merasakannya dengan jelas.
Untuk sesaat, Temari mengerti. Seperti Shikamaru, gadis itu membiarkan semua kekacauan dan masalah di sekitar mereka menguap menjadi awan.
Dalam hening, dua sosok itu hanya saling menggenggam jemari, memastikan aroma tubuh masing-masing.
Angin hari itu begitu bersahabat, dan kawanan rusa baru saja menerima satu sosok lagi di wilayah tinggal mereka. Kawanan hewan cantik itu hanya mengamati, seolah memberikan dukungan tanpa suara kepada dua sosok yang saling bertaut di hadapan mereka.
Mereka tidak ragu lagi.
.
#
.
Namikaze Naruto mengetuk-ngetukan jarinya di meja. Rokudaime Hokage itu tampak mengerutkan dahi di balik meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan dokumen.
"Naruto, kau tidak bisa membawa hal semacam itu dalam Pertemuan Aliansi," Haruno Sakura bersuara, mendesah pendek di sisi meja pemuda berambut pirang yang tampak mengabaikannya.
Tak jauh dari sosok gadis berambut merah jambu itu, Uchiha Sasuke melipat kedua tangan di dada dan mengawasi perbincangan mantan teman satu tim genin-nya tanpa ekspresi.
Pemuda berambut hitam kebiruan itu memakai sergam jounin—menghabiskan hari libur dari tugasnya sebagai salah satu pimpinan Anbu. Sasuke mulai sedikit jengah dengan adu mulut yang sejak tadi didengarnya di ruangan kerja Hokage itu.
"Naruto!" Sakura meninggikan suaranya. Gadis bermata hijau cemerlang itu meletakkan satu tangan di meja Naruto. "Dengar, akan lebih baik jika masalah ini diperbincangkan dalam lingkup Konoha dan Suna saja. Kau dan Kazekage pasti akan bisa melakukan sesuatu. Dua desa berhak melakukan perjanjian khusus untuk masalah tertentu," ia beragumen.
Naruto menggelengkan kepalanya. "Sakura-chan, bagiku masalah itu bukan hanya berhubungan dengan Suna, tapi juga dengan desa lain. Aturan itu terlalu tidak masuk akal!" Naruto mengangkat wajahnya dan memandang Sakura.
"Aku tahu," Sakura membalas, "tapi tidak semudah itu. Kita akan perlu mencari celah aturan, menyelesaikan birokrasi dengan tetua Konoha, mengurus status dari orang yang sudah terlibat dalam aturan—semua itu memakan waktu! Kita butuh persiapan yang lebih matang!"
Naruto menyandarkan tubuh di kursinya. "Sakura-chan … kau ini terlalu metodis," gumamnya. "Kalau hanya bicara dengan Gaara, aku tidak perlu menunggu sampai Pertemuan Aliansi. Tapi kalau untuk menundanya, kita harus menunggu Pertemuan Aliansi tahun depan."
Sakura memandang tajam Naruto. "Itu lebih baik," sahutnya.
Sang Hokage muda mengabaikan komentar terakhir Sakura dan menolehkan pandangan ke arah sosok pemuda bermata hitam yang sejak tadi memilih tidak terlibat. "Na, Sasuke," ia memulai, "kau setuju denganku, kan?"
Mata hijau Sakura beralih pada sosok pemuda yang tampak enggan berkomentar. "Sasuke-kun, kau mengerti logikaku, kan?"
Uchiha Sasuke mendengus pelan. Pemuda itu berharap tidak perlu menjawab apa pun. Mereka sudah membahas topik ini berkali-kali dalam seminggu terakhir—meski belakangan ini mulai dibahas dengan lebih serius dan mendalam. Sasuke tidak pernah menyukai birokrasi. Bagi pemuda itu, kedua pendapat yang dilontarkan sama saja. Perbedaannya hanya ada pada waktu.
"Teme! Aku bertanya padamu!" Naruto tampak tidak sabar.
Sasuke memutar bola matanya. Ia menghela nafas, sedikit mengutuk sifat Naruto yang tidak pernah gagal membawanya dalam situasi yang tidak begitu menyenangkan. Belum sempat pemuda itu membuka suara, ketukan pintu menyelamatkannya.
Nyaris bersamaan, tiga pasang mata di ruangan itu tertuju pada pintu yang terbuka. Sosok Nara Shikamaru berdiri di sana, dan ada sesuatu di mata pemuda itu yang menyiratkan keseriusan.
"Shikamaru—" Sakura bergumam, mengamati ketika pemuda berkuncir itu memasuki ruang kerja Hokage dan dengan mantap berdiri di hadapan sang pemuda pirang.
"Aku sudah memutuskan mengenai materi yang akan dibawa Konoha dalam Pertemuan Aliansi mendatang," Shikamaru berujar. Pemuda itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kertas yang dilipat, lalu meletakkannya di atas meja kerja.
Bahkan Uchiha Sasuke bisa melihat judul yang tertulis di kertas berisi coretan tangan dari tempatnya berdiri: Aturan Pernikahan Antardesa Ninja.
Tiga sosok di ruangan itu memandang Shikamaru. Dalam sekali lihat, mereka mengerti; Nara Shikamaru tidak main-main.
Namikaze Naruto menyunggingkan senyum tipis ke arah gadis di dekatnya. "Lihat, aku tahu gagasanku adalah yang terbaik—" ujarnya puas.
Haruno Sakura menghela nafas, tidak mengerti mengapa Konoha dipenuhi oleh orang-orang yang keras kepala. Dalam satu tarikan nafas lagi, gadis itu akhirnya menyerah setuju atas keputusan Naruto—dan Nara Shikamaru.
.
#
.
.
Bersambung
.
*) Shika: Rusa; dalam bahasa Jepang.
.
Catatan Faria:
Benar, itu hutan Klan Nara. Tempat Shikamaru mengubur dalam-dalam kepala Hidan dan mengawasinya atas kematian Sarutobi Asuma. Juga, tempat yang menjadi setting dari dua fanfic oneshot yang menjadi semacam alternate sekuel dari karya ini: 'Seperti Awan' dan 'Seperti Mimpi'.
Saya cinta rusa-rusa itu, sungguh.
Terima kasih sudah membaca. Semoga menikmati yang satu ini :)
.
~fariacchi – 140329~
