Chanyeol.
Malam bersalju di bulan November itu adalah kali pertama Sangjoong bertemu dengannya, tepat tiga puluh tahun yang lalu. Bocah itu duduk di dekat gang sepi dengan tatapan kosong dan tubuh menggigil. Beberapa kali ia melirik pintu belakang sebuah restoran sambil sesekali menggosok kedua telapak tangannya untuk mencari kehangatan.
Sangjoong tahu saat itu Chanyeol sedang menunggu koki membuang makanan sisa. Namun pintu belakang restoran itu tak kunjung terbuka dan cuaca semakin dingin. Sebenarnya Sangjoong bisa saja mengabaikan Chanyeol dengan melanjutkan langkahnya menuju bar di samping restoran itu, tapi tidak. Pria itu terus bergeming di sana, memandang lurus manik kelam si bocah yang juga tengah menatapnya.
Tanpa bertanya pun Sangjoong tahu bahwa Chanyeol tidak memiliki tempat tinggal atau bahkan sebuah keluarga. Bocah itu hidup sebatang kara dan satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan melawan situasi menyedihkan ini. Hal itulah yang mengundang rasa penasaran Sangjoong hingga ia mengulurkan tangannya.
Karena Chanyeol mengingatkannya pada dirinya yang dulu.
Lalu seiring berjalannya waktu, rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi kasih sayang yang nyata. Tanpa disadarinya, Sangjoong tak lagi melihat Chanyeol sebagai seseorang yang bekerja untuknya, melainkan sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri. Mengesampingkan ekspresi dingin dan sikap tegas yang melekat erat dalam dirinya, Sangjoong diam-diam sering menganakemaskan Chanyeol. Tak sekali-dua kali pula Sangjoong mengajarkannya beberapa hal yang tak pernah ia beri pada RENWICK lainnya.
Dan semua itu hanya untuk Chanyeol.
Namun semuanya hancur ketika Chanyeol mendatanginya di hari berhujan pada bulan Oktober.
"Aku ingin berhenti."
Kalimat itu bagaikan peluru musuh yang berhasil menembus dada Sangjoong dalam sekali tembak. Rasanya sangat sakit dan terjadi begitu saja, tanpa peringatan atau apa pun. Bagian terburuknya Sangjoong tak bisa berbuat banyak selain mempertahankan raut tenangnya, terlebih ketika manik kelam Chanyeol menunjukkan keseriusan.
Bahwa bocah yang selama tiga belas tahun terakhir ini dibesarkannya, kini justru memilih menjadi bagian dari hidup orang lain.
"Cukup lama aku memikirkan ini dan kuputuskan untuk memulai hidup bersama Baekhyun."
Dan itu gara-gara bocah bernama Baekhyun.
Sambil lamat-lamat menekan rasa sesak dalam dadanya, Sangjoong mengangkat dagunya dengan angkuh. Ego setinggi langit membuat mulutnya enggan berkomentar. Alih-alih ia malah menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu menyesap kopi-nya. Tepat saat Chanyeol hendak keluar dari ruangannya, detik itulah suara Sangjoong terdengar.
"Bukan aku yang akan menyesal jika kau berani berhenti, tapi kau."
Namun kalimat ultimatum itu seolah tak berarti apa pun bagi Chanyeol. Pada akhirnya, ia tetap berhenti sebagai RENWICK dan memilih Baekhyun.
"Selamat tinggal, Abeoji."
Meninggalkan Sangjoong dan dendam pekat dalam hatinya.
.
.
.
###
ORPHIC
Chapter 9 – It's Painful
Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun
Support Casts: Kim Sangjoong, Park Haejin, Oh Sehun, Lee Yeonhee, Go Ahra, Do Kyungsoo, Lee Hyunwoo, Kang Daniel (Wanna One)
Genre : Romance, Drama, Crime/Action
Rate : M
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy
###
.
.
.
Kepulan asap dari cerutu yang dibakar mengisi sebagian kecil ruangan Sangjoong. Tak dihiraukannya tumpukan abu di ujung cerutu itu juga eksistensi Sehun yang sedari hanya terdiam menunggu perintah, tatapan Sangjoong terus terpaku ke depan.
Hari ini adalah hari yang dinantikan pria paruh baya itu. Hari penentu di mana usahanya selama ini akan menjadi ujung tombaknya atau justru menjadi bumerang baginya. Semuanya akan dibuktikan hari ini, tepatnya setelah Baekhyun kembali dari misinya.
Jujur, Sangjoong tak bisa menebak apakah Baekhyun akan berhasil atau tidak dalam misi kali ini. Bukannya tidak memercayai kemampuan Baekhyun, justru Sangjoong yang paling memahami seberapa mahir si mungil dalam menyerap segala yang ia ajari selama ini.
Yang Sangjoong khawatirkan adalah target Baekhyun sendiri—Park Chanyeol. Mengingat dulu rasa sayang Baekhyun pada Chanyeol begitu kuat dan cukup sulit mencuci otak Baekhyun agar ia membenci Chanyeol, bisakah remaja itu melakukan misi ini seorang diri?
"Ikuti dia." ucap Sangjoong, menggeser atensi Sehun. "Cukup perhatikan dari jarak jauh saja, tidak perlu sampai terlibat. Entah dia berhasil atau tidak, aku yang akan memberi perintah selanjutnya."
Sehun mengangguk patuh. "Baik, Tuan."
Begitu Sehun pergi meninggalkan ruangannya, Sangjoong mematikan cerutu itu. Sorot tajamnya kembali menatap ke depan kala kejadian sembilan tahun yang lalu berputar dalam otaknya.
.
.
.
"Kau sendirian?"
Baekhyun menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Uh..begitulah."
"Sungguh? Memang kau mau pergi ke mana? Berbahaya lho anak sepertimu pergi sendirian."
"Aku tahu kok, Ahjussi. Tapi," Bibir Baekhyun membentuk senyum tipis. "Aku tetap ingin pulang ke rumahku. Aku ingin tinggal bersama Chanyeol.."
"Begitukah?" Sangjoongmenanggapi kemudian. Sudut bibirnya menyunggingkan seringaian tipis tanpa Baekhyun sadari. "Tapi sayang sekali itu takkan terjadi."
Mendapatkan respon aneh begitu, alis Baekhyun sontak menukik tajam. "Eh? Apa maksud Ahjussi?"
Sangjoong tidak langsung menjawab, alih-alih mengambil sesuatu dari balik mantelnya. "Chanyeol tidak ingin kau pulang," Lalu melirik sinis Baekhyun. "Dia sudah membuangmu."
"A–apa?"
Belum sempat Baekhyun mencerna situasi ini, Sangjoong sudah lebih dulu menyuntikkan obat bius di lengannya. Dalam hitungan detik, pandangan Baekhyun kian kabur dan ia jatuh pingsan tak lama setelahnya.
"Target sudah kuurus. Ledakan bom-nya dalam tiga menit." ucap Sangjoong pada seseorang yang terhubung dengan earphone nirkabel di telinga kirinya.
"Baik, Tuan."
Suara bising helikopter terdengar begitu Sangjoong membopong tubuh Baekhyun ke gerbong paling ujung. Bersamaan dengan ledakan bom pada roda depan kereta, Sangjoong dan Baekhyun berhasil kabur dengan menggunakan tangga tali yang terhubung dengan helikopter itu. Kereta yang oleng pun terjatuh ke dalam jurang, tanpa meninggalkan satu pun saksi mata.
.
.
Awalnya Sangjoong pikir akan mudah untuk memengaruhi pikiran Baekhyun, tapi nyatanya ia salah. Keyakinan bocah itu lebih kuat dari yang ia kira, bahkan setelah diikat dengan rantai layaknya binatang dan beberapa kali dipukuli. Yang ada Sangjoong malah dibuat pusing oleh kekeraskepalaan dan isak bocah itu.
"Di sini bukan rumahku! Aku mau pulang! Aku ingin bertemu Chanyeol!"
Mendengus lelah, Sangjoong menghempaskan cengkeramannya pada rambut Baekhyun, lalu kembali menegakkan tubuhnya. Kalau sudah begini, tak ada jalan lain selain mencuci otak bocah itu. Bahkan jika perlu, disiksa sampai airmatanya kering. Dan Sangjoong tahu siapa yang cocok untuk tugas itu.
"Ck, keras kepala sekali." Ekor mata Sangjoong melirik Sehun yang baru saja menghampirinya. "Beri dia pelajaran."
Begitu perintah mutlak itu dilontarkan, bisa Sangjoong tangkap raut kaget di wajah Baekhyun, tepat saat bocah itu melihat sosok Sehun. Dalam hati Sangjoong tersenyum penuh kemenangan. Ternyata tidak sia-sia ia mengirim Sehun untuk memata-matai kehidupan Chanyeol dan Baekhyun. Karena dengan mengetahui watak asli keduanya, itu akan mempermudah Sehun dalam proses mencuci otak Baekhyun.
"T–tidak! Hiks..kumohon jangan lakukan ini, Sehun-ah!"
Layaknya robot yang sudah diprogram untuk menjadi mesin pembunuh, Sehun laksanakan perintah Sangjoong detik itu juga. Ia lepaskan ikatan pada tangan dan kaki Baekhyun, lalu menyeretnya secara paksa menuju ruangan gelap di ujung lorong. Sama sekali tak Sehun menghiraukan isak maupun rintih keputusasaan Baekhyun, bahkan secuil belas kasih tak ia tunjukkan dalam air mukanya.
"TIDAK! HENTIKAN! AAAAAAARGH!"
Karena sejak awal, Sehun tak pernah menganggap Baekhyun seseorang yang penting, apalagi seorang teman.
.
.
Empat musim telah berlalu semenjak Sehun menyeret Baekhyun ke ruangan gelap di ujung lorong itu untuk dicuci otak. Bocah itu jauh dari kata 'baik-baik saja'. Tubuhnya semakin kurus, dengan lebam di mana-mana dan darah mengotori setiap jengkal pakaiannya.
Semula penyiksaan yang Sehun lakukan hanya sejauh memukul tubuh Baekhyun. Namun kekeraskepalaan Baekhyun membuat Sehun berbuat lebih jauh. Dan beberapa minggu terakhir ini adalah tingkat penyiksaan yang paling parah.
Baekhyun tak dibiarkan duduk juga tak diberi makan dengan layak. Rantai yang menggantung di langit-langit ruangan mengikat tangan kirinya, sementara tangan kanannya diapit kuat oleh penjepit besi yang menempel di meja sehingga ia tak bisa bergerak barang sedikit.
Sehun akan membiarkannya dalam posisi itu selama berhari-hari jika Baekhyun hanya diam seharian. Tapi lain hal jika Baekhyun berani mengucapkan nama 'Chanyeol'. Sehun pasti akan langsung melempar penjapit masa (yang tersambung dengan saklar listrik) ke dalam air yang merendam kedua kaki Baekhyun dan menyetrumnya selama beberapa detik.
Sebanyak mulut bocah itu memanggil nama 'Chanyeol', sebanyak itu pula Sehun tak ragu untuk menyiksanya. Dan ini sungguh menyiksa Baekhyun secara fisik maupun psikis, karena Sehun tak membiarkannya mati atau bernapas lega. Yang ada Baekhyun dibuat menangis dan berteriak kesakitan setiap hari, menahan rasa sakit yang datang menyerangnya tanpa henti.
TRAK.
Suara benda logam yang diletakkan di atas meja sontak membangunkan Baekhyun yang waktu itu sedang terlelap. Ia menangkap sosok Sehun, sibuk berkutat dengan sesuatu.
"Aku membawa mainan baru, kau mau mencobanya?"
Ucapan Sehun tak elak menghilangkan rasa kantuk Baekhyun, berganti dengan perasaan was-was. Entah kenapa Baekhyun punya firasat buruk soal ini.
"Ini," Jantung Baekhyun berdentum kencang saat Sehun menunjukkan salah satu benda logam yang tadi ia maksud dengan 'mainan'. "Akan mengupas kulit putihmu jika kau berani menyebut nama pria itu lagi."
Dalam satu nanodetik, wajah Baekhyun memucat.
.
.
Menginjak tahun kedua di mana Baekhyun dicuci otak dalam ruangan minim cahaya itu, akhirnya pintu ruangan tersebut dibuka oleh orang lain. Itu Sangjoong. Pria paruh baya itu menghampiri Baekhyun dan berhenti tepat di hadapannya. Diraihnya dagu si mungil agar pandangan mereka bertemu. Senyum kepuasan tertera di sudut bibir Sangjoong kala menangkap sorot yang lama ingin ia lihat.
Bocah di hadapannya kini bukanlah Park Baekhyun yang selalu memanggil nama 'Chanyeol', melainkan sosok yang baru. Tak ada lagi raut lemah dalam paras manis itu, yang mendominasi hanyalah sorot dingin yang tajam. Tatapan seorang pembunuh.
"'Keir'. Itu namamu yang baru." ucap Sangjoong, jemarinya mengusap bibir bawah Baekhyun yang sedikit robek. "Mulai detik ini, kau adalah seorang RENWICK. Gunakan segala cara untuk mencari tahu rahasia dan kelemahan target demi memenuhi keinginan klien. Jika kau kalah dalam permainan tipu daya ini, maka nyawamu yang akan menjadi jaminannya. Kau mengerti?"
Bibir Baekhyun membentuk seringaian tipis, sebelum suaranya yang lirih menjawab Sangjoong, "Baik, Tuan."
Kemudian dimulailah permainan kotor Sangjoong yang sesungguhnya.
.
.
.
Helaan napas panjang Baekhyun hembuskan setelah ia mengambil sebuah kaleng kopi dari lemari pendingin minuman. Beberapa detik pupilnya memandang lurus kaleng kopi itu, tanpa ada minat langsung meminumnya atau membawanya ke meja kasir. Pikirannya melayang entah ke mana, satu-satunya yang menggema dalam kepalanya hanyalah suara Sangjoong yang menyuruhnya untuk menemui Chanyeol. Dan bukan sekadar menemui, Sangjoong juga ingin Baekhyun membunuh Chanyeol setelahnya.
Ini adalah ujian Baekhyun, untuk menguji loyalitasnya sebagai seorang RENWICK.
Jika dipikir-pikir lagi, itu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Baekhyun bahkan pernah dihadapkan dengan sederet misi yang jauh lebih sulit daripada yang satu ini, Chanyeol mungkin takkan melakukan perlawanan ketika Baekhyun menodongkan pistolnya dan itu sangat menguntungkannya. Namun anehnya, hal itu pula yang membuat Baekhyun gelisah tak keruan. Sesuatu dalam dirinya menolak keras misi kali ini. Jangankan membunuh, bertemu Chanyeol saja Baekhyun rasanya enggan. Entah kenapa.
"Sejak kapan kau suka kopi?"
Dentuman jantung Baekhyun meningkat drastis karena suara bass di samping kanannya. Itu jelas suara Chanyeol. Langkahnya terdengar mendekati Baekhyun yang membeku di tempat, sebelum menyentakkan remaja bersurai ash grey itu dengan mengambil kopi di tangannya dan menggantinya dengan susu strawberry.
"Untukmu." kata Chanyeol, tersenyum simpul pada si mungil. "Aku khawatir sekali kau mungkin tertangkap oleh anak buah Bennett, tapi syukurlah kau bisa keluar dari sana. Apa kau baik-baik saja?"
Bukannya menjawab pertanyaan itu, Baekhyun justru mengepalkan tangan kirinya. Rasa sesak dan ngilu mendominasi hatinya sampai ia tak tahu harus berkata apa. Sementara fakta bahwa Chanyeol mengkhawatirkan keadaannya hanya membuatnya semakin dilema.
"Baekhyun-ah—"
Belum sempat Chanyeol menyelesaikan kalimatnya, Baekhyun malah pergi meninggalkannya tanpa berkata apa pun. Langkahnya sedikit tergesa, namun Chanyeol berhasil menyusul remaja itu dan menahan tangannya.
"Kenapa kau menghindariku, Baek?"
"Lepas." desis Baekhyun, tidak suka.
"Aku punya banyak pertanyaan untukmu dan yang tadi bukan satu-satunya. Jadi berhentilah menjadi keras kepala dan tatap mataku, Park Baekhyun."
"JANGAN MEMANGGILKU DENGAN NAMAMU, SIALAN!"
Chanyeol tersentak dibuatnya. Bukan karena intonasi Baekhyun yang tinggi, namun karena apa yang ia lihat saat ini.
"Kau.." Chanyeol mengulurkan tangannya ke wajah Baekhyun, tepat pada bagian memar. "Siapa yang melakukan ini padamu?"
Baekhyun menepis tangan Chanyeol, sebelum membalas dengan ketus, "Bukan urusanmu!"
"Semua yang berhubungan denganmu akan selalu menjadi urusanku."
"Atas dasar apa, hah?! Kau bukan temanku, juga bukan keluargaku!"
"AKU KELUARGAMU, BAEKHYUN!" Chanyeol mempertegas dengan lantang. "Kau pikir kenapa aku masih di sini jika bukan karena kau? Aku ini mengkhawatirkanmu, Baek.." Jemarinya mengelus wajah Baekhyun dengan hati-hati, seolah laki-laki mungil di hadapannya ini adalah benda rapuh. "Kumohon jangan menghindariku lagi dan beri tahu aku siapa orang yang telah melakukan ini padamu?"
Berada diambang dilema dan mati-matian menahan gejolak aneh dalam hatinya, Baekhyun tak mampu membalas ucapan Chanyeol, hanya diam-diam mengertakkan gigi. Sungguh, Baekhyun tidak paham situasi ini. Kenapa Chanyeol harus begitu peduli padanya setelah semua yang terjadi? Baekhyun bahkan tak perlu menatap terlalu lama obsidian kelam itu untuk tahu bahwa Chanyeol tulus mengatakan kalimat itu. Dan itu bukan pertanda bagus.
"Apa itu Kim Sangjoong? Atau Oh Sehun?" selidik Chanyeol, matanya memicing penuh dendam. "Katakan apa yang telah mereka lakukan padamu, Baek?"
"Misimu selanjutnya adalah Park Chanyeol."
Karena pada akhirnya Baekhyun tetap harus membunuh Chanyeol.
"Kau sungguh ingin tahu?" Baekhyun balik bertanya, suaranya hampir menyerupai bisikan, tapi Chanyeol masih bisa mendengarnya.
"Ya, beri tahu aku semuanya." tandas Chanyeol kemudian. Ia sama sekali tak menaruh curiga pada Baekhyun. Daripada itu, Chanyeol justru mengikuti si mungil yang membawanya entah ke mana.
.
.
The Godfrey Hotel.
Chanyeol merasakan firasat aneh ketika Baekhyun membawanya masuk ke sana. Laki-laki bermata sipit itu bahkan tak menjawab pertanyaannya dan malah beranjak ke lantai tiga setelah mengambil kunci dari resepsionis.
Ini terlalu aneh—batin Chanyeol. Tapi ia tetap mengikuti Baekhyun, sampai akhirnya mereka berada di dalam sebuah kamar. Masih dengan kesunyian mengisi, Chanyeol mengedarkan pandangannya sejenak ke sekeliling. Entah kenapa perasaannya mengatakan ini semua sudah direncanakan sebelumnya.
"Baek, kenapa—"
Belalak mata menjadi reaksi pertama Chanyeol saat mendapati Baekhyun melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya.
"Y–yak, apa yang kau lakukan? Cepat pakai kembali bajumu!" seru Chanyeol, agak panik. Tapi alih-alih menurut, Baekhyun justru mendekati si jangkung dengan raut tenang.
"Bukankah kau bilang kau ingin tahu apa yang telah mereka lakukan padaku?"
"Apa?"
"Ini jawabanku."
Tanpa rasa canggung, Baekhyun bersimpuh di depan selangkangan Chanyeol dan mengeluarkan kenjatanan pria itu dari celana. Dikocoknya benda panjang itu dengan kecepatan konstan sambil sesekali menjilat lubang kencingnya.
"B–Baekhyun—nghh.." Chanyeol tak mampu menahan lenguhannya lagi. Ia berusaha mendorong kepala Baekhyun, namun entah bagaimana remaja itu berhasil melumpuhkannya dengan sentuhan memabukkan. "Aish..Baek, henti—kanhh.."
Lagi, Baekhyun tak memedulikan perintah Chanyeol. Ia malah memasukkan kejantanan Chanyeol ke dalam mulutnya, menghisap dan memainkan lidahnya di sana seolah itu adalah permen. Semakin lama, temponya semakin cepat. Beruntung akal sehat Chanyeol masih bekerja sehingga ia tidak terlena begitu saja oleh permainan Baekhyun di bawah sana. Jadi dengan mengerahkan sisa tenaganya, Chanyeol menarik diri hingga kejantanannya (yang nyaris mencapai klimaks) keluar dari mulut Baekhyun.
"Kau sudah gila, hah? Apa yang sebenarnya kau pikirkan?" tanya Chanyeol sambil mengatur napasnya yang sedikit tersenggal.
Baekhyun mengusap sudut bibirnya, sebelum menegakkan tubuhnya kembali. Raut remaja itu masih terlihat tenang, bahkan cenderung datar.
"Mereka menjadikanku RENWICK. Sebagai Keir." ucap Baekhyun lugas. "Dan tugas seorang RENWICK adalah menggunakan segala cara untuk mencari tahu rahasia dan kelemahan target demi memenuhi keinginan klien."
"Apa?"
"Kenapa kaget begitu? Kudengar kau dulunya seorang RENWICK, itu artinya kau juga pernah memanipulasi target dengan cara seperti ini, iya kan?"
Mendengar langsung kalimat menjijikan itu dari mulut Baekhyun, rahang Chanyeol sontak mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh, menahan emosi yang nyaris meledak. Dalam hati Chanyeol merutuk keras Sangjoong dan Sehun yang telah meracuni pikiran Baekhyun, bahkan sampai ke titik di mana Baekhyun berani menggunakan tubuhnya demi menyelesaikan sebuah misi. Chanyeol bersumpah begitu ia keluar dari situasi ini, ia akan mencari Sangjoong dan Sehun, lalu membunuh mereka dengan tangannya sendiri.
"Kau mau tahu hal menarik lainnya yang mereka ajarkan padaku?" bisik Baekhyun seduktif di dekat telinga Chanyeol. "Aku bisa mempraktikkannya sekarang~"
Menghempaskan tubuh Baekhyun ke ranjang, Chanyeol kemudian menahan kedua tangan si mungil di sisi kepalanya. Obsidian kelam pria itu menusuk hazel Baekhyun, dengan napasnya yang sedikit memburu. Bukan karena tergoda atau semacamnya, itu karena Chanyeol gusar setengah mati pada dirinya sendiri juga orang-orang dari masa lalunya yang sudah menyeret Baekhyun ke dunia kelam itu.
Remaja di hadapannya ini, Chanyeol tak yakin mengenalnya. Dia jelas bukan Baekhyun-nya, tapi kenapa mata bak puppy itu mengingatkannya pada Baekhyun yang lama ia rindukan? Si mungil dengan eye-smile yang cantik dan otak cemerlang, bagaimana bisa makhluk menggemaskan itu berubah menjadi seorang RENWICK? Ini sungguh menyakitkan.
"Kau tak perlu melakukan ini, Baek.." Chanyeol memandang Baekhyun dengan sirat luka. "Kembalilah menjadi Baekhyun yang dulu. Aku mohon.."
"Cerewet!" Merasa kesal, Baekhyun pun menggulingkan Chanyeol ke samping dan membuat posisinya berada di atas pria itu. Digenggamnya kejantanan Chanyeol, lalu mengarahkannya pada lubang anusnya. "Diam dan nikmati saja, Park."
Tanpa aba-aba, tumpul yang telah menegang itu masuk pada belahan pantat Baekhyun dan bersarang sempurna di sana. Desis antara nikmat dan perih Baekhyun keluarkan, sementara Chanyeol yang masih terkejut tengah menahan mati-matian hasratnya.
Chanyeol hendak menghentikan aksi gila ini, tapi Baekhyun lebih cepat satu detik dengan menaik-turunkan tubuhnya di atas batang tegang itu, membuat otak Chanyeol blank seketika. Dan itu bukan bagian terburuk. Puncaknya adalah ketika Baekhyun mengapit tajam eksistensi kejantanan Chanyeol di dalam sana sambil memainkan nipple-nya sendiri.
Demi Tuhan, pemandangan erotis itu nyaris merenggut akal sehat Chanyeol. Di satu sisi ia merasa ini semua salah dan harus segera dihentikan, tapi sialnya libidonya mulai terpancing, terlebih saat desahan si mungil menjadi pemicu utama kenikmatan ini. Apa yang harus dilakukannya?
"Kenapa diam saja, hm?" goda Baekhyun di antara napasnya yang agak berantakan. "Kau tidak suka melakukan seks dengan laki-laki atau memang tak punya nyali untuk menyetubuhiku?"
"Hentikan semua ini, Baekhyun." desis Chanyeol, lamat-lamat menahan geraman beserta libidonya. Namun peringatan itu tak Baekhyun indahkan, alih-alih remaja itu malah memperparah keadaan dengan menaik-turunkan tubuhnya lebih cepat daripada sebelumnya.
"Kalau aku menolak, memang kau mau apa?"
Tantangan Baekhyun sontak membangunkan jiwa buas dalam diri Chanyeol. Diabaikannya akal sehatnya yang tadi menyuruhnya agar tidak melewati batas, beralih mengambil kontrol atas tubuh mungil Baekhyun. Chanyeol bahkan tak membuang waktu hanya untuk sekadar mengecek raut Baekhyun yang terkejut dan langsung saja mendorong keras batangnya yang tegak itu di lubang senggama Baekhyun.
"Mnhh..nghh..ahh..ahh..ahh.."
Seiring dengan gerakan Chanyeol yang tak terkontrol, perpaduan suara desahan Baekhyun pun melebur bersama suara tubrukan kelamin mereka. Chanyeol bahkan mulai berani menghisap leher dan nipple Baekhyun hingga warna kemerahan tertera cantik di beberapa sudutnya.
Sementara di sisi lain, Baekhyun merasa kepalanya terasa begitu pening. Berbanding terbalik dengan niatannya yang semula hanya ingin menguji Chanyeol, sekarang Baekhyun malah tak bisa mengontrol desahan juga pikirannya. Pada akhirnya kakinya melingkar di pinggang Chanyeol, tangannya pun secara refleks menekan kepala Chanyeol, seolah tak ingin mengakhiri pergumulan panas itu.
Perasaan aneh apa ini? Kenapa aku terlena oleh permainannya?
"AKH!"
Baekhyun melotot kaget saat Chanyeol berhasil menemukan sweet spot-nya. Tubuhnya menegang seketika dan desahannya kian menjadi. Chanyeol yang menyadari hal itu pun segera mempercepat sentakan pinggulnya. Tak lupa ia sentuh titik sensitif Baekhyun, merangsang kedutan itu agar mereka bisa datang bersama di menit berikutnya.
Tubuh Chanyeol ambruk di sisi Baekhyun, sesaat setelah ia melepaskan persatuan tubuh mereka. Napasnya memburu di dekat telinga Baekhyun, dengan tatapan berfokus pada si mungil yang menolak balik menatapnya. Didekapnya Baekhyun begitu erat, mengelus lembut rambutnya yang banjir oleh keringat.
"Kembalilah padaku, Baekhyunnie.." bisik Chanyeol, penuh akan sarat rindu. "Kumohon.."
Muak dengan sikap Chanyeol yang lembut, Baekhyun dengan cepat mengambil pisau di bawah ranjang (yang telah dipersiapkan sebelumnya), lalu menindih Chanyeol dengan posisi ujung pisau terarah ke samping lehernya. Sedikit saja Chanyeol membuat pergerakan, bisa dipastikan pisau itu mengenai pembuluh darahnya.
"Kau lengah." Baekhyun mencibir dengan seringaian. "Aku penasaran sehebat apa Noir yang selalu menjadi bahan perbincangan orang-orang itu, tapi sepertinya kau tidak seperti yang mereka duga, heh?"
Alih-alih merasa tersindir atau terancam, Chanyeol justru menatap sendu laki-laki mungil itu. Sebenarnya ia bisa saja melakukan perlawanan, namun entah bagaimana semuanya terasa begitu sulit ketika Baekhyun yang dihadapinya. Lebih dari apa pun, Chanyeol tak ingin Baekhyun-nya terluka.
"Jangan menjadi sosok yang Kim Sangjoong inginkan, Baek."
"Diam kau!"
"Kau lebih baik dari ini."
"KUBILANG DIAM!" Baekhyun mengeratkan genggamannya pada pisau itu. Kini hanya tinggal membutuhkan satu dorongan ketika ujung benda tajam itu menyentuh samping leher Chanyeol. "Kau itu bukan siapa-siapa di mataku! Jadi tutup mulutmu dan berhenti mencampuri kehidupanku, sialan!"
Seketika atmosfer tak mengenakkan melingkupi keheningan di antara keduanya. Tetapi berbeda dengan sebelumnya, Chanyeol menangkap sesuatu yang berbeda dari hazel si mungil yang kini berlinang airmata. Seperti panggilan SOS yang terhalang kabut benci. Baekhyun tersesat.
"Lalu kenapa kau ragu?"
"Aku tidak ragu!"
"Kau pasti sudah membunuhku sejak tadi jika memang tidak ragu."
Tak bisa membantah perkataan Chanyeol, tanpa sadar Baekhyun mengeraskan rahangnya. Padahal otaknya sudah memberi komando untuk segera membunuh Chanyeol, namun sesuatu di dalam hatinya menahan niatan itu. Sesuatu yang Baekhyun sendiri tidak tahu apa dan kenapa.
"Kumohon, hentikan semua ini, Baek.." ucap Chanyeol lirih. Tangannya menggenggam tangan Baekhyun yang masih memegang pisau. "Ayo kita pulang bersama.."
Airmata Baekhyun pun jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
TBC
Maaf sebelumnya kalo chapter kali ini kurang panjang. Awalnya mau saya labaskan sampe 5k, tapi entah kenapa kesannya malah agak terburu-buru. Makanya saya cut dulu sampe di sini, biar saya bisa mikirin alur yang lebih smooth buat lanjutannya nanti.
Anyway, HAPPY PCY'S DAY! Moga kamu dikasih kado bagus dari BBH ya, wkwk~
