Part 10
.
.
.
Neji memarkir mobilnya di seberang mini market. Shion sedang bersembunyi di dalam menunggu kedatangan pemuda itu untuk menjemputnya.
"Shion, bagaimana keadaanmu?" Neji mendapati gadis itu tengan meringkuk ketakutan di dekat rak makanan kaleng.
"Neji..." Gadis itu langsung menghambur ke pelukan Neji sambil menangis sesegukan.
Pemuda itu refleks mengelus puncak kepala Shion, "Tenanglah, kau sudah aman sekarang.."
"Ne..neji.. aku takut..." Jawabnya terbata-bata. "Ayo kita pergi dari sini."
"Sudah, berhenti menangis dan hapus air matamu. Kita akan keluar sekarang."
Shion mengangguk patuh lalu menyeka kedua matanya.
Wajar saja Shion sampai trauma, dulu ia juga sempat dikuntit. Malah lebih parah, ia hampir diculik. Lima tahun lalu, Neji yang waktu itu masih kelas 6 SD bertemu dengan Shion yang saat itu berlari dengan panik memasuki minimarket. Waktu itu Neji sedang membeli es krim, melihat keadaan Shion yang langsung meringkuk ketakutan di pojok toko, ia akhirnya mendekat dan menawarkan bantuan pada gadis itu. Dengan meminjam telepon pada kasir minimarket, beberapa menit kemudian orang tua Shion langsung datang dan menjemputnya. Jadi sejak saat itu mereka mulai berteman dekat. Apalagi ternyata jarak rumah mereka dulunya berdekatan.
Sebenarnya dulu Neji pernah meminta gadis itu menjadi pacarnya, tetapi Shion menolak pemuda itu dengan alasan ia takut merusak hubungan persahabatan yang telah lama terjalin diantara mereka berdua.
Tapi sekarang Neji menganggap Shion seperti adiknya sendiri. Jika dijabarkan seperti ini, hubungan mereka berdua memang kedengaran rumit.
...
Suasana di mobil Neji diselimuti keheningan, baik ia dan Shion sama-sama memilih bungkam setelah insiden penguntitan itu.
Neji menghidupkan radio untuk memecah keheningan.
"Neji-kun.." panggil gadis itu, akhirnya ia memutuskan untuk memulai percakapan diantara mereka.
"Hn?"
"Kalau seandainya aku dikuntit lagi bagaimana?" Tanya Shion dengan suara bergetar
Pemuda itu menggela nafas, "Telepon aku." Jawabnya singkat
Shion tersenyum, ia sudah menduga jawaban apa yang akan dilontarkan Neji, "Baiklah."
Lalu suasana di mobil itu kembali hening.
Lagu Let Me Love You milik Justin Bieber mengalun dengan enerjik, sangat kontras dengan suasana di luar mobil yang tampak mendung.
"Neji... Ini mungkin kedengaran gila tapi aku mungkin 'saat ini' menyukai Neji-kun." Jawab gadis itu sambil menatap ke arah lain.
"Aku tahu. Aku juga menyukaimu Shion, kau sudah kuanggap adikku sendiri, seperti Hinata."
Kali ini Shion menoleh ke arah pemuda itu, " Bukan begitu Neji-kun! Ini perasaan suka yang lain, seperti ingin menjadikanmu pacarku."
Neji langsung menoleh pada Shion, ia sedikit shock dengan apa yang baru didengarnya. Shion sudah benar-benar gila. "Shion aku..."
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, aku hanya ingin mengatakan hal ini padamu Neji-kun." Jawab gadis itu lalu tersenyum
Neji diam seribu bahasa.
Pemuda itu memarkir mobilnya di seberang rumah Shion.
Gadis berponi itu membuka pintu mobil, "Terimakasih atas bantuannya hari ini Neji-kun. Take care! Dan tolong jangan salah paham tentang apa yang kukatakan tadi Neji-kun." jawab gadis itu lalu menutup pintu mobil.
Neji hanya membalas gadis itu dengan tersenyum singkat lalu segera berlalu dari hadapan Shion.
Harusnya pemuda itu merasa senang dengan pengakuan Shion tadi. Tetapi ia samasekali tidak merasakan apa-apa, seolah rasa ingin memiliki itu telah lama hilang dan menguap entah kemana.
Satu-satunya hal yang melintas di pikiran pemuda itu sejak tadi adalah apakah Tenten sudah sampai ke rumah dengan selamat, hanya itu yang bisa ia pikirkan saat ini.
.
.
.
Tenten menyeret kedua kakinya lalu menghempaskan tubuh kurusnya diatas kasur. Ia sangat lelah.
Gadis itu membentangkan kedua tangannya dan tidur menatap langit-langit kamar. Tanpa sadar gadis itu menangis.
"Ya Tuhan apa yang terjadi padaku?" Lirihnya sambil mengusap tangis yang tahu-tahu telah menganak sungai di kedua pipinya. Tetapi tangis itu tak kunjung usai. Ia terus menangis tanpa alasan yang jelas.
Langkah kaki seseorang terdengar jelas mendekati pintu kamarnya, kemudian orang itu mengetuk pintu kamar Tenten dengan halus.
"Ten, kau dirumah?"
Itu suara Neji.
Bodohnya air mata gadis itu makin deras mengalir. Tenten meremas sprei seolah berusaha menahan gejolak emosi sambil berusaha menghentikan tangisnya. Lagipula ia malas menjawab. Semoga Neji mengira gadis itu sudah tidur.
Tenten dapat mendengar Neji berbicara dengan seseorang di luar.
"Ah, pasti dia sudah tidur... Baiklah, terimakasih bibi Atsuko." Jawab pemuda itu di seberang sana
"Untunglah..." bisik Tenten begitu mendengar suara langkah kaki Neji menjauh.
Gadis itu terkesiap, apa yang harus ia lakukan saat berhadapan dengan Neji besok? Kalau dirumah ia masih bisa menghindar dengan berangkat ke sekolah lebih awal, tetapi di sekolah? Gadis itu tak bisa berbuat apa-apa karena mereka duduk bersebelahan.
.
.
.
Setelah kejadian itu, Tenten terus-terusan menghindari Neji dengan menyibukkan diri mengobrol dengan Shikamaru atau teman-temannnya. Gadis itu tidak tahu apakah Neji menyadari penghindaran yang dilakukan Tenten tadi pagi, tapi siang ini gadis itu benar-benar sial, soalnya ia dan Neji mendapat jadwal piket harian berbarengan. Dan yang memang piket hari itu hanya mereka berdua.
Suasana hening dan awkward menyelimuti ruang dewan siswa itu. Yang terdengar hanya suara jari-jari Neji yang beradu dengan keyboard laptop dan suara printer yang sibuk mencetak kertas-kertas agenda mingguan seluruh divisi dewan siswa.
Lucunya, sejak mereka memasuki ruangan itu sampai saat ini baik ia dan Neji sama-sama kompak bungkam dan memilih melakukan pekerjaan masing-masing tanpa bertegur sapa atau mengobrol seperti biasanya. Tenten serasa ingin terjun dari jendela saking gemasnya, suasana semacam ini bisa membunuhnya pelan-pelan.
"Neji pinjam straplesnya dong." Akhirnya Tenten memutuskan untuk memecah keheningan diantara mereka.
"Hn.." Pemuda itu memberi barang yang diminta gadis itu tanpa menoleh lalu kembali sibuk mengetik.
Oke, kali ini Tenten yakin.. sepertinya Neji memang menyadari penghindaran yang ia lakukan pada pemuda itu.
"Bagaimana keadaan Shion kemarin?" Entah kenapa topik ini tiba-tiba meluncur dari bibir gadis itu, Tenten harus memecah suasana mematikan ini, tetapi ia malah membuka topik pembicaraan yang paling tidak ingin ia bicarakan. Gadis itu merutuki kebodohannya sendiri.
Pemuda itu menghentikan aktivitasnya lalu menatap gadis bercepol dua itu, "Dia ketakutan sekali.." jawabnya datar. Neji menggantung kata-katanya, seolah ingin mengucapkan sesuatu tetapi ragu untuk mengatakannya.
Tenten mengangguk paham, "Oh, aku paham perasaan itu. Dulu hal yang sama pernah terjadi padaku." Jawab gadis itu menerawang.
"Kau pernah dikuntit?"
Gadis itu mengangguk, "Hanya sekali, tapi itu benar-benar menyeramkan. Dulu waktu masih di Shanghai aku tak sengaja menjadi saksi kasus penganiayaan di salah satu gang sempit. Si pelaku melihatku lalu mengejarku. Untungnya aku bertemu dengan seorang security yang berjaga di depan toko perhiasan di sekitar sana jadi aku ditolong oleh paman itu dan pelaku penganiayaannya berhasil ditangkap." Gadis itu berhenti sebentar, "Dulu aku sampai tidak berani pergi ke sekolah selama beberapa hari dan trauma selama berbulan-bulan. Tetapi sekarang keadaaannya sudah lebih baik, aku sudah bisa sepergian seorang diri, setidaknya di tasku harus selalu ada gunting atau cutter untuk berjaga-jaga."
Pemuda itu mendengarkan kisah Tenten dengan serius, hari ini ia mendapatkan potongan lain dari kisah kehidupan Tenten. Tapi, serius... Neji tak menyangka gadis sekuat dan sesantai Tenten pernah mengalami kejadian menyeramkan seperti itu. "Kau benar-benar gadis yang kuat, kalau Shion... dia masih trauma sampai saat ini. Terkadang aku ingin mendesaknya untuk menyembuhkan traumanya tetapi di sisi lain aku tak tega memakasanya, ia sudah seperti adikku sendiri."
"Semuanya perlu waktu, apalagi penyembuhan trauma. Kau harus menuntunnya pelan-pelan Neji."
"Mungkin nanti akan kucoba."
"Shion kau anggap sebagai adik, lalu bagaimana denganku? Musuh? Habis kita hampir selalu beradu mulut dan bahkan taruhan dimanapun dan kapanpun." Gadis itu terkekeh pelan.
"Kau berbeda Ten, kan kita rival." Neji menteringai pada Tenten.
Tenten memutar bola matanya, "Yah, kita memang tidak pernah sejalan sejak dulu."
"Sejak pertama bertemu lebih tepatnya." Koreksi pemuda itu.
"Tentu saja Nejii.."
Mereka berdua tertawa, jarang-jarang mereka bisa mengobrol santai seperti ini, jarang banget lebih tepatnya.
"OH! Besok festival Iwagakurenya. Kita mau gimana? Berangkat bareng atau sendiri-sendiri? Tanya Tenten. Ingat kan? mereka punya agenda luar untuk menghadiri festival sekolah lain. Shikamaru dan Temari sudah pergi minggu lalu, katanya sih menyenangakan.
"Barengan." Jawab Neji mutlak tak terbantahkan.
"Kalau begitu besok jemput aku di salonnya Ino."
"Salon? Bukannya kita cuma perlu pakai seragam saja?"
Gadis itu mendecih, "Tck! Kau gak baca undangannya? Kita diundang saat private partynya bukan saat festivalnya yang diadakan siang hari. Dan di undangan ini jelas tertulis kalau dress codenya adalah formal." Tenten menyodrokan undangan itu ke Neji.
"Ah, benar juga." Jawab pemuda itu sambil membaca undangan. "Untung aku sudah punya jas waktu kencan buta itu, jadi tak perlu beli lagi." Sambungnya enteng tanpa dosa.
Sementara Tenten sudah merona malu sambil mengingat kencan buta yang mereka lakoni minggu lalu. Kencan buta yang secara tak langsung membuat mereka menjadi lebih akrab, atau bisa dibilang tidak juga?
"Tak usah malu begitu Ten, anggap saja kita cuma jalan-jalan biasa." Ledeknya pada Tenten.
Wajah Tenten memerah menahan emosi dan rasa malu yang sama-sama memuncak, ingin rasanya gadis itu menendang Neji saking kesalnya. "Ck! Baka! Cepat selesaikan ketikannya. Kalau bukan karena kita harus pulang bersama lagi hari ini aku pasti sudah meninggalkanmu dari tadi." Ancam gadis beriris hazel itu.
Neji kontan tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Tenten.
Sekali lagi, pemuda itu berhasil menggoda Tenten.
.
.
.
Lagu-lagu bernuansa mellow mengalun di sebuah ruangan 5×9 meter itu. Tenten, Ino, Sakura, dan Hinata siang sedang ada di salah satu private room dalam salon milik Ino. Mereka bertiga sepakat akan membantu Tenten berdandan dalam rangka mengahadiri undangan festival Iwagakure.
Si cepol dua itu duduk dengan gelisah sembari memperhatikan ketiga sahabat-sahabatnya yang tengah sibuk membolak-balik majalah fashion. Ceritanya sih mereka sedang mencari style yang cocok untuk Tenten.
Tingkah mereka bertiga tampak serius membandingkan apa yang mereka lihat di majalah dengan apa yang dimiliki gadis bercepol dua itu. Sebentar-sebentar memelototi majalah, lalu menatap Tenten dari atas sampai bawah secara berulang, begitu seterusnya... Oke, lama-lama Tenten bisa gila. Masalahnya ini sudah 1 jam lebih dan pencarian mereka belum membuahkan hasil.
"Ayolah teman-teman, berhenti menatapku seperti itu. Lama-lama aku bisa gila." Keluh Tenten sambil mengacak rambutnya frustasi.
Ino melotot kesal, "Ck! Mau cantik gak? Diam deh, kita lagi konsentrasi, kamu itu tomboy, jadi kita gak bisa sembarangan dandanin kamu Ten." Jelasnya lalu menghela nafas.
"Iya Ten, apalagi kamu gak pernah berpakaian feminim." Timpal Hinata.
Sakura masih sibuk membolak-balik majalah, mata emeraldnya terpaku pada foto seorang model yang menggunakan sebuah dress panjang, di kakinya melekat sepasang platform heels dan sebagai pelengkap, model itu membawa sebuah clutch simple. Sederhana namun terlihat stylish!
"Hei, kalau yang ini gimana? Cocok banget sama Tenten." Sakura menyodorkan majalah itu pada Ino dan Hinata.
Hinata bertepuk tangan antusias, "Saku! kau hebat. Ini pasti cocok!"
Sementara Ino tampak berpikir keras membayangkan akan jadi seperti apa jika look model itu saat dipakaikan pada Tenten.
"Aku percaya pada kalian teman-teman. Tapi sekedar pengingat, satu jam lagi Neji akan menjemputku, kalian gak mau kan kena omel si gletser itu?" celetuk gadis bercepol dua itu mengingatkan ketiga temannya.
"Sudah diputuskan! Ten, aku akan mempermakmu menjadi seperti ini!" Gadis bersurai pirang itu mengacungkan foto model tadi tepat di depan wajah Tenten dengan antusias.
Harus Tenten akui, gadis itu setuju dengan pilihan ketiga sahabatnya. Tenten tersenyum, "Baiklah, aku percaya pada kalian."
Ino, Sakura, dan Hinata tersenyum lega.
"Tunggu sebentar." Ino segera berlari keluar hendak mengambil beberapa dress untuk Tenten.
Beberapa saat kemudian gadis beriris aquamarine itu datang dengan membawa 3 buah long dress bertipe berbeda, "Mau yang mana Ten?"
"Aku mau.."
"Pilihan yang bagus!" Ino menjentikkan jarinya, "Ok girls! waktu kita cuma sejam! Hinata urus rambutnya, Sakura urus manicure dan pedicurenya. Aku akan urus sisanya."
"Tapi aku belum bilang mau dress yang mana..."
"Baik Bos!" Ucap Sakura dan Hinata berbarengan lalu langsung berpencar mengambil peralatan yang dibutuhkan.
'Sial, aku dikacangin...' gumam Tenten sebal.
...
Bel kecil yang menggantung di pintu salon Ino berdentang lembut tanda ada orang yang memasuki salon itu. Neji melongokkan kepalanya dengan ragu, salon Ino tampak tenang.
Kemana perginya gadis-gadis bawel itu? Terutama kemana perginya Tenten? Kalau 15 menit lagi mereka berdua belum berangkat juga, mereka pasti akan telat ke acaranya.
"Osh Neji!" Sapa Ino yang tiba-tiba muncul lalu menyunggingkan senyum misterius pada Neji.
"Mana Tenten?" Balas pemuda itu dengan nada luar biasa datar dan to the point. Dasar Neji...
Ino menyipitkan matanya, "Tenang saja, kami tidak menculik pacarmu kok, kau akan kaget melihat hasilnya. Tunggu sebentar..." Lalu gadis itu langsung ngacir meninggalkan Neji yang sibuk ngedumel kesal.
Dan gerutuan pemuda itu berhenti tatkala melihat penampakan seorang gadis yang mengenakan long dress putih bermotif bordir sepanjang pergelangan kaki lengkap dengan sepasang high heels open toe berwarna putih dan clutch gold di genggaman tangannya. Rambut yang biasa dicepol dua itu kali ini ditata bohemian bun. Tenten benar-benar terlihat seperti perempuan tulen dengan semua perubahan dan make up itu.
Walaupun sebenarnya tanpa make up ia sudah terlihat kawaii sih.
Neji sukses melongo melihat penampilan Tenten sore itu. Sungguh tidak elit dan menjatuhkan harga dirinya.
Ino menyeringai puas, "Bagaimana? Siapa dulu yang make over."
Sakura dan Hinata mengangguk-angguk dengan puas, mereka bertiga sukses merubah penampilan Tenten dari tomboy menjadi 100% cewek feminim.
Tenten mengangkat kepalanya, ada rasa malu bercampur kesal dalam raut wajah gadis itu, "Ayo pergi sekarang!" Gadis itu menarik tangan Neji lalu menyeret pemuda itu keluar dari salon Ino secepat mungkin.
"TENTEN, JANGAN LUPA CERITANYA YA!" teriak Ino yang kemudian dibalas dengan acungan jari tengah oleh Tenten.
Mereka bertiga menghembuskan nafas dengan heran, Tenten casingnya saja yang berubah jadi feminim, dalamnya ya tetap saja si serampangan Fujishima Tenten.
.
.
.
Tenten ngos-ngosan berusaha mengatur nafasnya. Neji barusaja menjalankan mobilnya meninggalkan salon Ino.
Saat ini mereka sedang menuju sebuah hotel dekat Iwagakure Academy.
Jadi mereka berdua hanya diundang saat rangkaian acara terakhir di festival Iwagakure Academy dan acara itu diadakan di hotel, semacam celebration night atau apalah namanya.
Sejak tadi Neji terus melirik-lirik Tenten,
Sore itu, Neji mengenakan setelan tuxedo berwarna biru donker lengkap dengan shirt putih, vest hitam dan dasi hitam polos. Di kakinya melekat sepasang sepatu split toe blutcher berwarna hitam.
Tenten akui, saat ini Neji terlihat lebih baik dari segi penampilan.. walau hanya sedikit.
"Berhenti melirikku seperti itu, nanti matamu copot." Sindir gadis itu.
Neji tertangkap basah... (lagi)
Pemuda itu mendengus sebal, "Dasar nenek lampir."
Tenten memilih tidak memerdulikan gerutuan Neji, ia ingin cepat-cepat sampai ke acaranya lalu segera pulang.
.
.
.
Hal pertama yang menarik perhatian Tenten dan Neji saat menginjakkan kaki di ballroom hotel itu adalah alunan musik bergenre EDM, serta pemandangan siswa-siswa Iwagakure Academy yang tampak asyik bercengkrama dan berfoto ria dengan berbagai gaya. Wajar sih, ini kan pesta sekolah mereka.
Akhirnya Tenten dan Neji memutuskan untuk duduk bersebelahan di area bar sambil menunggu humas dari dewan siswa Iwagakure Academy.
Jangan salah sangka dulu, minuman yang diracik oleh bartender di bar ini 100% tanpa alkohol dan sebagian besar berjenis mocktail jadi masih tergolong aman untuk anak SMA.
Tenten sudah meminum 3 gelas mojito dan saat ini ia mulai meneguk gelas keempatnya. Sedangkan Neji hanya melirik gadis itu dengan heran sambil memakan kacang almond, sungguh kurang kerjaan.
Masalahnya ini pesta sekolah lain, tentu saja Tenten dan Neji yang merupakan tamu dari luar tidak mengenal sebagian besar orang-orang di ballroom ini. Belum lagi Darui, bagian humas di dewan siswa Iwagakure Academy yang mereka tunggu sejak tadi tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Bisa dibilang satu-satunya orang yang mereka kenal disini adalah pemuda itu.
Neji terus mengunyah kacang almond, sementara Tenten saat ini telah meletakkan kepalanya di meja bar karena terlalu bosan.
Seorang pemuda berkulit eksotis tiba-tiba duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Neji, "Hai Neji-san, dan... wow apa kau Tenten? Fujishima Tenten yang tempo hari datang ke forum komunikasi dewan siswa se-Tokyo itu?" Darui menatap Tenten dari atas sampai bawah dengan takjub.
Gadis itu mendecih, "Ck! Memangnya siapa lagi?"
Pemuda berkulit gelap itu menyunggingkan senyum tipis, "Ayolah, jangan seperti itu Tenten-chan. Bagaimana kalau kita pacaran saja? Sepertinya kau oke juga..." rayunya lalu tersenyum menantang.
Untuk ukuran cowok, pemuda berkulit eksotis itu terlalu straight foward. Tenten hampir terkesiap kaget, tetapi untungnya gadis itu masih dapat menguasai diri.
"Not even in your dream Darui-san." Tenten meneguk gelas kelimanya lalu kembali meletakkan kepalanya di atas meja bar, entah kenapa kepala gadis itu tiba-tiba terasa sangat pusing.
Darui tersenyum miring, "Aku suka gadis cuek sepertimu."
Neji memutar bola matanya, pemuda itu jadi ikut kesal dengan ulah Darui, "Jadi Darui-san kenapa kau baru datang jam segini?" Tanya pemuda itu sambil berusaha mengalihkan pembicaraan.
Lalu Darui menceritakan alasannya pada Neji dengan panjang lebar. "Hehehe... maafkan aku." Pemuda itu menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
"Hn, terserah. Aku dengar kau akan mencalonkan diri menjadi ketua forum, benarkah itu?"
"Sepertinya begitu, entahlah... karena aku dan Karui mempunyai ambisi sama untuk menduduki jabatan ketua dewan siswa, tetapi melihat tekad gadis itu, aku jadi ingin mengalah dan memutuskan untuk mencalonkan diri di forum komunikasi saja." Ia berhenti sebentar, "Jadi Karui yang akan naik menjadi ketua dewan siswa Iwagakure di periode depan."
"Baka, itu namanya kau mengambil jabatan yang lebih tinggi lagi."
Darui tertawa, " Ternyata kau mengerti jalan berpikirku Neji-san."
Pemuda beriris amnethyst itu mendecih, "Dasar licik."
Darui tertawa semakin keras, pemuda berambut panjang ini memang selalu merespon lawan bicaranya dengan nada sarkastik dan cara bicaranya hampir selalu terdengar lucu di telinga pemuda berkulit gelap itu.
Mereka berdua terus mengobrol, bahkan mereka tidak menghiraukan Tenten yang tak kunjung bangun.
Tiba-tiba Tenten menarik rambut panjang Neji dengan kuat, "Hik.. Neji rambutmu bagus sekali... hik... pasti rajin ke salon ya? Hehehehehehehehe" gadis itu terkekeh.
Neji seketika menoleh kebelakang. Ia mendapati rambut panjangnya tengah dimainkan oleh Tenten. "Kamu kenapa sih Ten? Lepasin gak!" ancamnya galak.
Namun Tenten makin keras menarik rambut pemuda itu sambil tertawa senang.
"Oh tidak, jangan bilang..." pemuda itu meraih gelas minuman yang tadi di minum Tenten lalu menghirup aroma minuman di dalamnya. Sesuai dugannya.. minuman yang diminum gadis itu mengandung alkohol, Tenten sedang mabuk.
"Hei, kenapa bisa ada alkohol di minuman gadis ini?" Neji mengacungkan gelas minuman Tenten pada sang Bartender.
"Ah itu... tadi gadis itu bilang ia ingin minuman yang membuatnya tenang, jadi kubuatkan dia segelas cocktail." Jawab bartender itu dengan enteng.
"Bukannya kau hanya menyediakan minuman non-alkohol?"
"Hei bro! Aku ini bartender, mana mungkin aku tidak membawa sebotol alkohol saat bekerja." Balas bartender itu lalu pergi meninggalkan Neji.
"Darui! Katamu disini tidak ada minuman beralkohol..." Neji beralih pada Darui sembari meminta penjelasan pada si ketua panitia acara festival itu. Fix, Neji benar-benar kesal sekarang.
Darui menepuk jidatnya, "Duh.. memang harusnya tidak ada. Aku mohon maaf sebesar-besarnya Neji-san. Lebih baik kau bawa pulang gadis itu sekarang. Aku akan mengurus masalah ini."
Neji mengangguk lalu langsung memapah Tenten.
"Eh, tunggu... tolong jangan bilang hal ini pada siapapun ya, hehehe.." Mohon pemuda berkulit gelap itu lalu nyengir kuda.
Neji mendengus sebal, "Hn! Terserah."
.
.
.
Udara dingin dari AC yang terpasang di sepanjang lorong hotel itu berhembus dengan lembut namun cukup menusuk tulang. Neji sedang sibuk memapah Tenten yang 'sialnya' mabuk gara-gara tidak sengaja meminum segelas cocktail. Tapi berkat ini, mereka bisa mendapat alasan untuk kabur dari pesta membosankan itu. Menurutnya, akan lebih baik jika seandainya mereka diundang saat perayaan festivalnya saja, dasar Darui... berkat pemuda itu mereka berdua hampir mati kebosanan tadi.
"Ah, sakit..." Tenten meringis sambil berusaha menyentuh kakinya.
Untung saja lorong hotel yang dilewati Tenten dan Neji malam itu dalam keadaan sepi. Bahkan tidak ada seorangpun yang melintas disana kecuali mereka berdua.
Neji melirik kaki Tenten, ternyata kakinya sedikit memar. Wajar saja, Tenten yang biasa memakai sepatu keds ke sekolah pasti kakinya akan berakhir memar setelah menggunakan high heels.
Terpaksa deh... Neji mengangkat tubuh kurus gadis itu dan menggendongnya ala bridal style. Lagipula tidak ada yang melihat, tak apa-apa lah.
Sepanjang perjalanan menuju areal parkir, Tenten terus menggumamkan kata-kata aneh. Neji terkekeh pelan, jadi seperti ini keadaan gadis itu jika sedang mabuk..
Pemuda itu membeku, Tenten tiba-tiba mengelus pipinya sambil tersenyum lembut.
Neji memilih mengacuhkan tindakan gadis itu sambil terus berjalan.
Tapi yang terjadi selanjutnya benar-benar mengejutkan, Gadis itu tiba-tiba menarik wajah Neji dan mencium bibirnya. Neji menghentikan langkahnya dengan perasaan kaget luar biasa, tetapi pemuda itu tidak berusaha menjauhkan wajahnya sedikitpun, ia malah menutup mata dan membiarkan Tenten menciumnya.
Beberapa detik kemudian gadis itu menjauhkan wajahnya dari neji lalu bergumam, 'Neji aku membencimu...' Kemudian ia tertidur dengan polos seolah ciuman itu tidak pernah terjadi.
Keadaan Neji? Jangan ditanya.. pemuda itu shock berat, "Apasih maunya gadis ini?"
Bukannya makin rileks tapi debaran jantung pemuda itu makin berpacu. Neji menatap wajah polos Tenten yang sedang tertidur pulas di gendongannya, kalau gadis itu membencinya kenapa tadi ia malah mencium pemuda itu?
Tatapannya berhenti pada bibir gadis itu, "Tadi bibir itu..." ucapan Neji tiba-tiba berhenti dan wajahnya seketika memanas.
Pemuda itu menepis niatan untuk mencium gadis itu (yang entah kenapa bisa muncul di pikirannya) sambil berjalan cepat mencari mobilnya.
Dan Neji teringat sesuatu, Tenten telah merebut ciuman pertamanya, duh...
Oke, mereka harus cepat-cepat pergi dari tempat ini, sebelum Neji menjadi gila.
.
.
.
Satu hal yang Neji syukuri saat ini adalah untung areal kamarnya dan kamar tenten memiliki pintu masuk yang terpisah dari areal kamar tousan dan kasannya. Bisa bahaya jika mereka berdua sampai melihat kondisi Tenten saat ini. Lagipula Jun pasti udah tidur, baiklah... yang harus dilakukan pemuda itu adalah menggendong gadis itu dan berjalan perlahan agar tidak ketahuan.
...
Neji meletakkan tubuh Tenten di atas kasur, pemuda itu berhasil menggendong gadis itu ke kamarnya. Ia menyelimuti tubuh kurus itu lalu mengelus poni tipis yang membingkai wajahnya, Neji merasa pernah melihat sosok gadis ini tetapi ia tak ingat dimana dan kapan ia bertemu dengan Tenten. Lagipula tidak mungkin... Tenten kan tinggal di Cina, mana mungkin mereka pernah bertemu sebelumnya?
Neji menghalau pikiran-pikiran ngawur yang terlintas dalam benaknya, ia segera mematikan lampu kamar Tenten dan langsung kembali ke kamarnya dengan perasaan campur aduk.
.
.
.
Tenten meremas kepalanya yang masih pusing, pagi itu ia bangun dengan keadaan super absurd. Masih mengenakan dress pestanya, make up luntur dimana-mana, high heels, clutch beserta isinya berserakan di lantai kamar, rambut cepolan yang kusut hampir menyamai singa masai, oh, dan plus kedua kakinya juga memar.
Sebenarnya apa yang terjadi kemarin sampai keadaan gadis itu jadi seperti ini?
Sayup-sayup ia mendengar suara pintu kamarnya di ketuk. Saat gadis itu membuka pintu ada Atsuko obasan yang sedang tersenyum padanya sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas susu hangat.
"Ojousama, ayo makan dulu. Sudah saya bawakan semangkuk bubur dan segelas susu hangat." jawab bibi Atsuko lalu tersenyum.
"Tidak usah repot-repot bibi, aku akan bersiap dan turun sarapan bersama yang lain." Tolak gadis itu.
"Tapi ojousama, tadi Neji-sama bilang anda sedang sakit, makanya ia menyuruh saya membawa sarapan anda ke atas."
'Eh? Neji... sejak kapan dia punya inisiatif merepotkan seperti ini?'
Tenten menerima nampan yang dibawa pelayan itu, "Ah, kalau begitu terimakasih banyak obasan. Aku akan makan dengan lahap."
Wanita paruh baya itu mengangguk sambil tersenyum hangat, "Sama-sama ojousama, nikmatilah makanannya. Kalau perlu apa-apa saya ada di bawah."
"Tentu saja, sekali lagi arigatou gozaimasu obasan."
Atsuko mengangguk kemudian ber-ojigi dan segera turun ke ruang makan keluarga.
...
Tenten bersandar pada pintu kamarnya dengan heran, tangan gadis itu masih memegang nampan berisi sarapan yang tadi diberikan Atsuko obasan. Di benaknya terlintas banyak kemungkinan aneh.
Apa sebenarnya yang terjadi kemarin? Ia samasekali tidak ingat apapun...
Lebih baik ia berhenti memikirkan hal-hal aneh. Lagipula ada semangkuk bubur dan segelas susu hangat yang menanti untuk dimakan.
.
.
.
"Naruto oper kesini!" Teriak Sasuke sambil melambaikan tangannya.
Si kumis kucing itu tersenyum miring, "Baik terimalah!" Pemuda itu mengoper bola sepaknya.
Pagi itu Neji sedang menonton kawan-kawan satu team basketnya sedang bermain bola dari bangku pemain cadangan bersama teman-teman lain yang tidak ikut bermain. Apa sih yang dipikirkan oleh sekelompok orang itu? 'Ngapain mereka main sepak bola di tengah lapangan basket? Dan dari mana asal bola sepak itu?' Apalagi si kapten, Sabaku Gaara tak kunjung menampakkan diri sejak setengah jam yang lalu.
Mereka tidak bisa memulai latihan tanpa Gaara.
Ponsel Neji tiba-tiba bergetar, pemuda itu merogoh saku celananya. Ternyata ada sebuah sms dari Shion.
'Neji-kun, coba lihat ke sebelah kirimu! ^^'
Begitu isi pesannya.
Saat pemuda itu menoleh, ternyata Shion berdiri di pinggir lapangan, tangan kirinya menenteng sebuah tas yang entah apa isinya. Sementara tangan satunya melambai sambil mengisyaratkan Neji untuk mendekat padanya.
Dari mana dia tahu kalau pemuda itu sedang latihan basket pagi ini?
...
"Hei..." Sapa Shion lalu tersenyum cerah.
"Hn, darimana kau tahu aku sedang latihan?" Tanya Neji to the point.
Mereka sedang berada di sebelah gedung penyimpanan alat-alat olahraga, jauh dari lokasi lapangan basket.
Gadis berambut pirang itu memiringkan kepalanya, "Tentu saja dari Gaara." ia tersenyum, "Aku kan sekelas dengan si galak itu."
Neji terkekeh, "Benar juga."
"Ah, aku bawakan kau sekotak bento dan minuman isotonik." Gadis itu menyodorkan tas yang ia bawa pada Neji.
"Arigatou, tapi lain kali kau tak perlu repot-repot menyiapkan semua ini." Neji tersenyum, "Aku sudah bawa roti dan air di tasku."
"Tidak apa-apa. Kau bisa memakannya bersama teman satu teammu nanti."
"Baiklah. Sepertinya latihannya sebentar lagi akan dimulai..." Neji melirik jam tangannya, "Pergilah, dan terimakasih sudah datang." Pemuda itu mengulas senyum berterimakasih pada Shion.
"A..ano, Neji-kun..." Gadis itu meremas ujung bajunya dengan gugup "Aku ingin itu.."
"Hn? Ingin apa?"
"Aku ingin first kissmu." Shion menatap Neji tepat di kedua manik amnethystnya, ada kesungguhan dalam tatapan mata gadis itu.
"Hei..hei..."
Shion mendekatkan wajahnya pada Neji, tetapi pemuda itu keburu mundur beberapa langkah menjauhi gadis itu. "Hei, kan aku pernah bilang. Aku akan menjaga hal itu sampai hari pernikahanku." Neji berhenti sebentar, " Kau gadis yang baik Shion-chan... Pergilah, aku harus latihan sekarang." Pemuda itu mengacak rambut Shion dengan lembut kemudian berjalan menjauh tanpa menoleh ke belakang.
Shion menatap kepergian pemuda itu dalam diam, setetes kristal bening mengalir dari kedua mata gadis itu. ia bertanya dalam benaknya, 'Apa yang sebenarnya terjadi pada Neji? Kenapa ia berubah sedrastis ini?'
.
.
.
TBC
.
.
.
[BACOT AUTHOR]
Ah, halo mina! plis tolong jangan timpug hun T_T saya sadar sepenuhnya kok dosa saya dimana wkwkwk
Oke pertama-tama, "selamat natal dan tahun baru! (telat) semoga di tahun ini apa yang diinginkan kita semua yang belum tercapai tahun lalu dapat tercapai dengan hasil yang memuaskan." ^^
Saya mau minta maaf (lagi lagi dan lagi) gara" up kelamaan. penyebabnya ada 3,
pertama leppie hun terserang virus (lagi) gara" adik hun main masukin file" bervirus:')
kedua, setelah internalnya bener giliran charger leppie hun sempat meledak dan hun lumayan shock berat gara" kejadian itu. sumpah serem banget. serasa ada pesta kembang api di kamar hun hmm.. *untung gak dimarah bokap -_-*
ketiga, hun banyak tugas kuliah, apalagi dosen hun pada galak" semua semester ini huhuhuuuu syedih...
sekali lagi tolong jangan timpug hun apalagi sampe salty sama hun T_T
demi menebus dosa, w udah bikin part ini lumayan panjang dan super cepat spesial buat readers" kece sekalian!
semoga suka yaa, xoxo (o^^)o
Seperti biasa, kalau ada typo/error lainnya boleh kasitau hun via dm/review soalnya hun juga masih belajar bikin ff yang bagus itu kayak gimana:
.
.
.
[BALASAN REVIEW]
Heilene : Hello heilene san! salken ya:) seneng deh ff hun sukses bikin kamu giggling" wkwkwk.. suka banget baca review kamu! Iya nih, hun lumayan suka ngikutin high fashion sama lumayan peka sama barang" bermerek hehehe.. kamu juga kan? Kalo menurutku, karena Tenten cs masih pada sma jadi brand yg pas buat mereka itu macem HnM, urban outfitters, f21, stylenanda, dll... kalo macem valentino kayaknya terlalu 'wah' buat anak sma. Tapi nanti coba hun upgrade deh biar keliatan holkay dikit wkwkwk makasi sarannya btw :D oiya, soal scene sama latar waktu yg loncat" itu maksudnya, kalo tanda pemisah antar scenenya tiga titik yg berurut (...) itu artinya scene itu masih berkaitan satu sama lain dari segi latar, entah itu latar waktu/latar tempat. tapi kalo tanda pemisah antar scenenya titik di-enter 3 kali itu maksudnya scene itu gak ada hubungannya samasekali, misal : beda latar waktu sama tempat. Semoga gak bingung ya baca ffku. Anyway part 10 udah up! semoga suka! xoxo ^_^
Uchiha Nuari : Hello nuari chan! makasi udah mampi:3 jangan minta maaf, hun yang harusnya minta maaf gara" kelamaan up T_T semangat sekolahnya ya! Anyway part 10 udah up spesial untuk kamuu! semoga makin suka dan makin melting! xoxo ^_^
Leepah764 : Hello leepah san! salken ya! makasi udah bersedia mampir baca ff abal ini:3 maaf sebelumnya, hun gabisa nge-pair tenten kalo selain sama neji, gatau kenapa tapi kyk semacam gak dpt feelnya gitu:') *udh pernah nyoba juga dan gagal hmm* dan maaf kelamaan upnya. Anyway part 10 udah up! semoga suka! xoxo ^_^
Cydonia25 : Hello cydonia chan! makasi udah balik lagi baca ff hun:3 aaah kamu bisa aja deh wkwkwk. hun suka banget baca review kamuu samasekali gak nyampah kok ciusan deh! hehe.. btw shikatennya masih hun simpan buat suatu dan lain hal *rahasia* tunggu aja yaa.. kamu minta konflik kan? nih udah hun kasi banyak, tapi gatau greget atau enggak wkwkwk.'-'v dan maaf banget hun ngupdatenya kelamaan huhuhuuu semoga kamu masih mau mampir lagi baca lanjutannya:') Anyway part 10 udah up! semoga suka! xoxo ^_^
Genie Luciana : Hello genie chan! makasi udah bersedia mampir lagi baca ffnya hun:3 yah, biarpun dia gangguin neji namanya juga si shion usaha wkwkwk.. maaf banget hun upnya kelamaan T-T Anyway part 10 udah up! semoga suka! xoxo ^_^
Nana Lavender : Hello nana chan! salken ya! makasi udh mampir baca ffnta hun:3 ah enggak kok, kamu bisa aja deh ::_:: maaf banget nih hun upnya kelamaan T_T Anyway part 10 udah up! semoga suka! xoxo ^_^
Pandaman23 : Hello panda san! makasi udah mau bersedia mampir dan baca ff hun:3 aa.. kamu bisa aja deh wkwkwk ::_:: namanya juga shion usaha, biarpun caranya gangguin sih. kasian juga tenten jadi ditinggal neji:" gatau sih, suka aja ngeliat side pair shikaten (bahkan sering kupake dimana" *peace) semoga gak aneh jadinya hehe.. maaf banget sebelumnya, hun rada telat up part ini T_T Anyway part 10 udah up spesial untuk kamu! semoga suka! xoxo ^_^
Rahasia : Hello rahasia san! makasi udah bersedia mampir baca ff hun:3 ciee pernah pulang sendirian ya? tenang, hun juga selalu pulang sendirian kok wkwkwk (semacam teriakan hati seorang jones T_T) makasi ya udah ngasi semangat*blow kiss* kamu juga semangat loh! Fighting! (^_^)9 btw maaf banget upnya kelamaan T_T Anyway part 10 udah up spesial buat kamuu! semoga suka! xoxo ^_^
Ana : Hello ana san! salken yaa:) makasi udah mampir baca ff hun:3 semoga makin suka sama pair nejiten ya hehehe... maaf nih upnya kelamaan, Anyway part 10 udah up! semoga suka! xoxo ^_^
Satennejyp : Hello satennejyp san! makasi udah mampir lagi baca ff hun:3 biar gangguin dan mungkin agak ngeselin/? namanya juga shion usaha wkwkwk maaf banget upnya kelamaan T_T Anyway part 10 udah up! semoga suka! xoxo ^_^
Aihara-Chan25 : Hello aihara chan! makasi udh bersedia mampir baca ff hun:3 maaf banget hun lama upnya T_T huhuhuuu maaf:((( semoga gak lupa sama ceritanya hehe Anyway part 10 udah up spesial untuk kamu! semoga suka! xoxo ^_^
Fycha Hyuura : Hello Hyuura chan! makasi udah mampir lagi baca ff hun:3 sumpah review kamu, ngakak hun bacanya wkwkwk terbaek dah XD *thumbs up* btw hun tambahin nih konfliknya jangan marah" yaa hehehe.. semoga misteri 5 thn lalunya terjawab disini. eh, tenten gak polos" banget kok... baca aja di atas huehehehe *ketawa evil* ~^O^~ Anyway part 10 udah up spesial untuk kamuu! semoga suka! xoxo ^_^
.
.
.
Akhir kata kritik/saran/masukan bisa langsung disampaikan di kolom review. Hun sangat menerima segala jenis saran yang disampaikan dengan baik yaaa hehehe let's be friends!
Makasi buat fav/follnya hun seneng banget banyak yg suka ff ini! o
Sincirely,
Sherleenten alias Hunyeobo
