IrohaxMikiya
Warning: bahasanya jahat, alur (sangat) kecepetan, gaje, typo. Mungkin agak OOC
Iroha, gadis pendiam nan alim, yang berwibawa dan anggun ini, gadis sangat pintar.
"Aku suka senpai! Jadian denganku!" tiba-tiba ada anak kelas dua SMA menyatakan cinta kepada Iroha.
"Gomen," kata Iroha sedetik kemudian. "Aku saja tidak mengenalmu."
JLEB!
"O-oh, begitu ya," kata anak laki-laki itu.
"Maafkan aku. Siapa namamu?"
"Mikiya Furukawa, adik dari Miki Furukawa. Beliau sekelas dengan senpai."
"Ah, Miki Furukawa," kata Iroha mengingat nama cewek yang pendiam itu.
"Maaf sudah mengganggu senpai. Arigatou," kata Mikiya Furukawa pergi dengan loyo.
Iroha menghela napas, dan pergi dari tempat itu. Diam-diam, tiga orang cewek mengintip mereka.
"YEEES!" teriak seorang dari ketiga cewek itu.
"Stt! Kuga-chan!" kata yang lain berbisik.
"Susah juga ya kalau tiga cewek kepo bersatu," kata yang lainnya. Ketiga gadis itu adalah Scorpio no Kuga, YamiRei28 yang ganti akte kelahiran jadi Kurotori Rei, dan Rainna Kudo. Scorpio no Kuga dari cerita Miku Kaito, YamiRei28 a.k.a Kurotori Rei dari Luka Gakupo, dan Rainna Kudo dari Ring Lui.
"Sudah dapat?" kata Rei fokus.
"Sudah!" kata Rainna mengeluarkan evil smirknya.
"Sudah?" kata suara lain.
"Sudah! Budek ya!" kata Kuga.
"Eh? Kita ngomong sama siapa?" kata Rainna bingung. Perlahan, dibaliknya tubuhnya, dan…
"KYAAA!" ketiga cewek kepo itu berteriak serentak. Dia melihat sosok gurunya, Kagane Mikasa-san05, atau kita panggil Mikasa-sensei, menahan mereka bertiga.
"JADI KALIAN BOLOS PELAJARANKU DAN ASYIK MAIN, HAH!?"
"KYAAA! AMPUN, MIKASA-SENSEI!"
"Eh, ngomong-ngomong kalian lagi ngapain?" kata Mikasa ikutan jongkok dengan mereka.
"Kami sedang ngintip Iroha Nekomura ditembak Mikiya Furukawa- pfft!" kata Scorpio no Kuga yang langsung dibungkam oleh Rainna.
"Hooo…" kata Mikasa-sensei bergaya berpikir. "Okelah, sekarang, kalian cepat masuk kelas!"
"Ha'i!"
Siang itu, seorang wanita muda duduk di café milik keluarga Len.
"Selamat siang, mau pesan apa?" kata Rin.
"Ah, aku pesan-"
"MIKASA-SENSEI!?" kata Rin kaget setelah baru 'ngeh' bahwa orang itu adalah gurunya.
"STTTT!" kata Mikasa menyuruh Rin diam.
"Sedang apa sensei di sini?" kata Rin.
"Aku sedang mengerjakan tugas!"
"Tugas apa?" kata Rin memiringkan kepalanya.
"Eits! Jangan lihat! Soalnya ini untuk soal ulangan kelas 3!" kata Mikasa menutupi.
"Kan aku masih kelas 2."
"Tapi nantikan kamu naik ke kelas tiga!"
"Iya deh," kata Rin pasrah. "Jadi, sensei mau pesan apa?"
"Hm… cake aja deh," kata Mikasa serius.
"Oke. Siap. Tunggu sebentar ya…" kata Rin meninggalkan Mikasa.
Kling-klong…
"Selamat datang," kata Rin.
"KYAAA! RINNY!" teriak seorang gadis langsung meluk Rin.
"Siapa?"
"AKU KIIRO, FANSNYA RIN-CHAN! KYAA! LOVELY DOVEY RINXLEN!" kata gadis itu.
"Senseiii…" pinta Rin setengah menangis. Mikasa menghela napas, dan menjauhkan gadis bernama Kiiro dari Rin.
"Apa-apaan kamu terhadap muridku?" kata Mikasa. "Eh? Kamu yang kelas satu itu kan?"
"Ya. Aku Kiiro, anak kelas satu di sekolah Rinny! Aku sekelas sama adiknya Rinny!" kata Kiiro menjulurkan lidah.
"Rin!? Ada apa ribut?" kata Len langsung keluar dari dapur.
"Ano… anak ini…"
"KYAAA! RinxLen! Lenny, cium Rinny dong!"
"Len-sama," kata Rin mau menangis. Len menghela napas.
"Dia pelanggan setia café ini. Rin enggak tahu karena kalau enggak ada aku atau kamu dia enggak overaktif. Dia sangat fangirling sama kita. Untung bukan fan fanatik," kata Len.
"Ap-… no!" kata Rin ketika Kiiro memeluknya lagi.
"Hahaha… selamat deh ya," kata Mikasa.
"Mikasa-sensei? Ada apa ke sini?"
"Numpang ngerjain tugas buat anak kelas 3. Oh iya, Len," kata Mikasa. "Mau tanya."
"Apa?"
"Tapi jangan di sini, ya!" kata Mikasa menyeret Len jauh dari Rin dan Kiiro yang sibuk meluk-meluk Rin sampai gadis itu enggak bisa bergerak. Setelah selesai, Len kembali lagi.
"Ada apa, Len-sama?" kata Rin.
"Enggak. Enggak apa-apa," kata Len tebar senyum.
"KYAA! LEN-KUN KAWAII!" teriak Kiiro.
"Sebelum ngomongin masalah Mikasa-sensei, gimana kalau kita buang dulu ini anak satu?"
Iroha duduk termangu sambil menatap kosong ke luar jendela.
"I-ro-ha?" kata gadis berambut pink lembut.
"Ah, Luka-san?"
"Ini bukunya. Bagus sekali loh. Aku suka. Aku juga punya novel pengarang yang sama. Iroha mau pinjam?" kata Luka tersenyum, sambil mengembalikan buku milik Iroha.
"Hm. Ia memang pandai menulis. Tulisannya memang menyentuh," ucap Iroha.
"Baiklah. Besok akan aku bawakan," kata Luka. "Iroha kenapa? Kok hari ini aneh? Yah… kamu memang diam sih, tapi seringnya kamu tidak semurung ini. Seringnya kamu lebih banyak bicara kepadaku."
"Benarkah?" kata Iroha. "Entah. Mau memasuki masa haid kali."
"Mungkin juga. Jaga-jaga ya," kata Luka pergi. Iroha memasukkan bukunya ke dalam tas.
GUSRAK!
Iroha menoleh ke arah jendela. Ia melihat tiga orang cewek jatuh secara bersamaan dari pohon.
"Sedang apa?" kata Iroha.
"Ah, kami… ehehehe…" kata gadis itu, Kuga, ketawa garing.
"Ehm… yaah…" kata Rainna bingung.
"SAMPAI JUMPA!" kata Rei berlari sambil menyeret kedua temannya pergi dari sana. Iroha hanya mengangkat bahu, dan tidak peduli lagi.
.
.
"Dia temanmu?"
"Eh?"
Iroha ngomong secara lurus dan tepat kepada adik kelasnya, Mikiya yang dari tadi memandanginya. Mikiya kaget ditegur oleh Iroha.
"Aku bilang, dia temanmu?" kata Iroha menghela napas, dan menoleh ke arah Mikiya. Mikiya merasakan jantungnya berdebar kencang.
"Ah… iya… bukan…" kata Mikiya bingung. Iroha mengangkat bahu, tanda tidak peduli. Sebelum Iroha berhasil memutar dirinya, Mikiya menahan bahu gadis itu.
"Apa?"
"Maaf!" kata Mikiya panik menyadari sikap refleksnya itu. "Aku… tidak sengaja…"
"Apa? Apa yang ingin kamu bicarakan?" kata Iroha.
"Ehm… senpai…"
"Ya?"
"Maafkan aku, tapi bolehkah kita berteman? Mungkin pernyataan cintaku waktu itu terlalu dadakan, jadi senpai mungkin kaget," kata Mikiya resah.
"… Baiklah." Iroha membenarkan sikap duduknya.
"Terima kasih, senpai!" kata Mikiya duduk di depan Iroha.
"… Kamu kesulitan belajar, ya?"
"Apa?"
"Kamu kesulitan belajar?" kata Iroha datar. "Kamu mendekatiku untuk minta bantuan belajar, kan?"
"Apa? Buk-"
"Besok jangan pulang dulu. Datanglah ke kelasku," ucap Iroha tanpa mengijinkan Mikiya bicara.
Aku capek. Aku mau semua urusan selesai sekarang, tanpa bertele-tele. Muak…
"Baiklah, semua. Silakan pulang. Jangan lupa kerjakan PRnya, ya!" kata Mikasa-sensei seusai bel selesai pelajaran berbunyi. Semua murid berombong-rombongan pergi meninggalkan kelas. Namun Iroha duduk di tempatnya.
"Nekomura-san? Kamu tidak pulang?" tegur guru MTKnya itu.
"Mau mengajari Furukawa," ucap Iroha sembari menggeleng.
"Furukawa? Kan dia…"
"Adiknya," ucap Iroha mengetahui perkataan Mikasa. Mikasa mengangguk mengerti.
"Berjuanglah kalau begitu," ucap gurunya itu sambil melambaikan tangan. Semenit kemudian, Furukawa Mikiya masuk ke kelas kosong itu, tengah terengah-engah.
"Maaf telat, Senpai! Aku harus membantu Kisasa-sensei dulu," kata Mikiya meminta maaf.
"Tidak apa-apa," ucap Iroha.
Mereka memulai pelajaran singkat mereka.
"Kerjakan soal ini. Nanti aku periksa. Jangan bertanya," ucap Iroha judes. Dia tidak peduli akan pertemanan dengan laki-laki. Selagi Mikiya mengerjakan soal, Iroha mengerjakan PR buat besok.
.
.
.
"Selesai, senpai," ucap Mikiya. Iroha mengambil buku soal, dan mengoreksinya.
.
.
"Salah dua," kata Iroha. Diam-diam dia kagum akan adik kelasnya itu. "Kamu belajar juga, ya. Padahal soal itu lumayan sulit."
"Ehehe… aku senang. Terima kasih, ya," kata Mikiya tersenyum. Iroha diam-diam blushing.
"Sudahlah! Kerjakan soal berikutnya! Tidak ada komentar jika nilai dibawah 80!" kata Iroha memalingkan wajahnya.
"Baaik!"
Pukul 4 sore. Mereka sudah selesai belajar.
"Terima kasih, senpai," kata Mikiya.
"Doita," ucap Iroha.
"Senpai mau pergi jalan-jalan sama aku, sebentar?" kata Mikiya. Anak itu langsung menggandeng tangan Iroha dan menariknya.
"Apa-apaan kamu!?"
"Cepat, senpai! Sebelum gerbang sekolah ditutup!" kata Mikiya berlari. Iroha mengikutinya berlari.
"Tu-tunggu, jangan cepat-cepat," kata Iroha terengah-engah.
"Maaf," ucap Mikiya menghentikan lariannya.
"Sebentar," ucap Iroha mengambil napas panjang. Mereka berlari lagi, tepat sebelum gerbang sekolah ditutup.
"Tunggu! Jangan ditutup!" kata Mikiya. Akhirnya mereka bisa bebas dari yang namanya 'terjebak di sekolah berduaan saja'.
Mikiya mengajak Iroha ke taman.
"Senpai mau es krim?" kata Mikiya. Iroha menggeleng.
"Sebenarnya kamu mau ke mana?"
"Ah, aku mau mengucapkan terima kasih kepada senpai, jadi aku mau mentraktir senpai," ucap Mikiya.
"Oh," ucap Iroha cuek.
"Senpai mau apa?"
"…" Iroha terdiam sambil mengamati ke sekeliling.
"GUK! GUK!" kedua orang itu menoleh.
"Lui?" kata Mikiya melihat temannya bersama gadis pacarnya.
"Yo! Mikiya!" kata Lui cengir. Anjing Ring, Ai berlari-lari dengan gembiranya.
"Manisnya," kata Iroha sambil mengelus leher anjing mungil itu. Anjing tersebut merasa nikmat, dan menjilati jemari mungil Iroha.
"Senpai, selamat sore!" kata Ring gugup sambil menundukkan kepalanya.
"Selamat sore juga, Suzune-san," kata Iroha tersenyum.
"Senpai kenal aku?"
"Tentu. Aku melihat temanmu yang kepo itu (Rainna) dari tadi keliaran sambil manjat pohon."
Rainna! Kata Lui dalam hati.
"Kami ijin pergi, ya, senpai," kata Lui menundukkan kepalanya.
"Silakan. Ini bukan area kekuasaanku," ucap Iroha tersenyum kecil.
Lui dan Ring beserta Ai pergi meninggalkan Iroha dan Mikiya yang duduk di bangku taman.
"Senpai, aku mau ijin ke toilet dulu, ya," ucap Mikiya. Iroha mengangguk.
Skip time!
Sesudah Mikiya buang air dari toilet, dia keluar dari wc umum, dan mendapati Iroha sedang memperhatikan ke dalam toko pernak-pernik.
"Senpai?"
"Ya?"
"Lihat apa?"
"Ah, enggak," kata Iroha gugup. "Lucu saja, barang itu."
"Nekomimi?"
"Aneh, ya? Aku yang enggak akan cocok sama barang kayak gitu," kata Iroha tertawa garing.
"Cocok kok," kata Mikiya.
"Apaan sih."
"Cocok. Tunggu sebentar ya," kata Mikiya pergi meninggalkan Iroha. Anak itu pergi ke dalam toko tersebut, dan kembali lagi. "Nih."
"Apa?"
"Pakai deh," kata Mikiya memberikan kantong kertas kepada Iroha. Iroha membukanya, dan melihat kuping kucing berwarna pink.
"Enggak. Enggak akan cocok," kata Iroha mengembalikan kantong kertas itu.
"Apa yang senpai bilang? Kalau jelek, senpai boleh patahin jadi dua puluh bagian, dibuang, dibakar, terus abunya ditebar ke laut."
"Apaan sih?" kata Iroha tertawa kecil. Dipakainya nekomimi itu ke rambutnya.
"Manis!" kata Mikiya. Laki-laki itu memberikan cermin ke Iroha, sehingga Iroha dapat melihat dirinya di cermin. Gadis itu kaget, bahwa ia cocok dengan kuping kucing itu.
"Bodoh," kata Iroha. "Arigatou."
"Iroha," ucap Luka.
"Ya?"
"Ini bukunya," ucap Luka memberikan buku yang hendak dipinjam oleh Iroha.
"Terima kasih," ucap Iroha. "Besok aku kembalikan."
"Minggu depan juga boleh," kata Luka tersenyum, lalu pergi meninggalkan Iroha karena dipanggil Luki, adiknya.
Iroha memasukkan buku itu ke dalam laci. Ia merasakan sebuah buku lain, sehingga buku tersebut tidak bisa masuk.
"Eh? Ada sesuatu ya?" kata Iroha sambil mengambil buku yang menghalanginya. Tertera tulisan 'Furukawa Mikiya, kelas 2-A'. "Aku lupa kembalikan," gumam Iroha. Gadis itu hendak mengembalikan buku Mikiya. Dibawanya buku itu, dan gadis itu menyusuri lorong, ke kelas 2, yang ada di lantai dua.
"Senpai?" ucap Kuga bingung. Gadis itu langsung memanggil kedua temannya, dan mengikuti Iroha.
"Ada Furukawa?" kata Iroha kepada anak di kelas 2-A, Ring.
"Ah, senpai. Furukawa-san ada di…"
"Bagaimana?" telinga Iroha terpasang, mendengar seseorang berbicara dengan kerasnya.
"SUDAH! Jangan libatkan aku lagi dalam taruhan kalian!"
"Tapi Mikiya-chan benar-benar hebat, ya. Menerima tantangan itu."
"Kamu berhasil mendekati Iroha-senpai! Selamat!"
"Tunggu kalian pacaran, dan taruhan selesai!"
"Untung aku taruhan bahwa Mikiya akan berhasil. Aku dapat untung banyak nih. Ingat ya, dua ribu yen per orang!"
"Kalau aku berhasil, kalian jangan ajak aku lagi taruhan! Aku-"
Iroha menjatuhkan buku yang ia pegang. Mikiya, serta anak-anak yang taruhan itu menoleh. Tampak Iroha tengah menangis.
"Sen-senpai!?"
"Itu urusanmu, Mikiya-chan. Bukan kami."
"Benar."
Kuga, Rainna dan Rei yang tengah mengintip, juga terbalak, bahwa itu adalah taruhan. Mereka pikir Mikiya benar-benar menyukai Iroha.
"Sen-senpai…"
Iroha berbalik, berlari meninggalkan kelas itu. Kuga, Rainna dan Rei mengikutinya. Mikiya panik, mengetahui Iroha mendengar semua pembicaraan mereka.
Iroha berlari sampai taman sekolah, dan jatuh terduduk. Rei langsung memeluknya, begitu juga Rainna dan Kuga.
"Maaf, Iroha-san. Aku tidak tahu kalau," ucapan Rei terpotong oleh Iroha yang tengah sesunggukan.
"Bukan salah kalian," kata Iroha pelan.
"Gawat," gumam Kuga. Dibukanya ponselnya, dan dipencetnya tombol dan mengirim pesan kepada seseorang.
"SENPAI!" Mikiya mengejar mereka. Iroha bangkit berdiri, dan lari lagi.
Aku bodoh. Lari dari kenyataan. Aku memang sudah dipermainkan. Aku… aku… harus berbuat secara bijaksana, dan melaksanakan kegiatan seperti biasa, seakan tidak ada apa-apa.
"Senpai, tunggu!"
Iroha mengusap air matanya, dan berbalik, menerima kenyataan.
"Apa?" ucap Iroha dingin.
"Senpai, aku, maaf, tapi, aku benar-benar-"
"Diam," ucap Iroha sinis. "Aku sudah mengetahui semuanya. Kita sudahi saja. Memang dari awal aku sudah menolakmu, kan? Jangan ganggu hidupku lagi. Kita lanjutkan aktivitas seperti biasa, oke?" kata Iroha tajam, dan berbalik, berjalan dengan tegap, tidak mau orang lain tahu bahwa ia sedang bersedih.
"…" Mikiya terdiam. "TAPI AKU TIDAK MAU KALAU JADINYA SEPERTI INI!"
Mikiya langsung berlari, mengejar Iroha, dan mencium bibir gadis itu dengan lembut. "Aku tidak mau, kalau senpai marah kepadaku. Aku memang salah, telah jahat kepada senpai," ucap Mikiya tengah menangis.
Rainna disikut Kuga. Rainna sebenarnya pengen ngomong kalau 'ternyata Mikiya itu crybaby ya…'
"Tapi aku sudahi semua. Maafkan aku, senpai. Sumimasen…" ucap Mikiya menunduk. Iroha masih memasang tampang datarnya, dan menendang perut Mikiya. "Ugh… senpai?"
"Pembalasan, cengeng," kata Iroha. "Seenaknya saja kamu mempermainkan perasaanku, dan kamu hanya meminta maaf! setidaknya ijinkan aku menghajarmu sampai aku puas! Tanganku sudah gatal, dan kakiku hendak melayang ke mukamu! Demo…"
Iroha menarik kerah baju Mikiya yang jatuh terduduk, dan mencium bibir Mikiya dengan lembut. Manis…
"Demo… tapi aku sudah menyukaimu, dan perasaan ini sulit hilang! Kamu harus tanggung jawab!"
Mikiya melongo, tidak percaya akan perkataan Iroha yang tengah ngeblushing. Iroha menutup mulutnya dengan punggung tangan kirinya. Mikiya tersenyum, dan menangkap kedua tangan Iroha.
"Dengan senang hati, tuan putri~" ucap Mikiya mencium bibir Iroha dengan lembut, dan Iroha tidak menolak.
"Dasar iseng…"
IN ANOTHER PLACE
Isi pesan yang dikirim oleh Kuga berisi begini: sensei, sepertinya mereka berdua berantem.
Dan pihak lain menjawab: tenang saja, mereka akan baikkan, kok. Karena mereka saling suka. Dan terima kasih, kalian sudah mau memata-matai mereka.
Rainna menjawab: asalkan nilai MTK kami dibaguskan, kami rela segalanya.
Rei: woi, itu nyogok dong?
Pihak lalin menjawab: dan bilang terima kasih sama Len ya, bahwa sudah memberitahu soal Mikiya. Dia punya informasi lengkap, seperti Reynyah-san. Mungkin Len itu Reynyah versi cowok? :3 ufufufu…
Ketiga gadis itu menjawab: mungkin juga…
Can you guess who the people behind the background?
If you say Kagane Mikasa-san05, or Mikasa-sensei, you are correct!
END IROHAXMIKIYA
SaeSite
Sae: fiuuuuh… selesai, minna! Gomenne buat Kagane Mikasa-san05 kalau tokohnya tidak mirip sama aslinya, ya! Untuk Rinto Lenka, Sae serahkan kepada Ai Mitsuka, adik Sae. ID: 5671177. Mohon Minna-Minna temenan sama Ai-chan, ya!
Ai: yo-yoroshiku, Minna… #malu-malu#
Sae: eh, kok malu-malu sih? Ayolah, buat Onee-chanmu ini. Mohon dukungan Minna agar mendukung Ai-chan. Dan mohon review dan reading di fict my very kawaii imouto itu. Terutama fict pertamanya, yang berjudul 'This Day'. Chapter-1nya Sae yang buat, dan selebihnya dia.
Ai: Ai-chan desu! Ai adalah Sae imouto… (in real world) ngomong-ngomong, sejak kapan ada nama your very kawaii imouto? #ngelirik dialog Sae di atas#
Sae: OC! Kenalan!
ALL OC: YOROSHIKU, IMOUTO-SAMA!
Ai: Nee-chan, kenapa di cerita ini ada anjing yang namanya mirip sama aku?
Sae: enak aja! Aku duluan yang kasih nama tuh anjing, sebelum kamu jadi author, tau!
Ai: #sweatdropped#
Sae: oke, Mitsu, Mitsuru, RnR!
Ann: tumben kakak adik suruh RnR?
Rinka: kyaa! INCEST! #ditabok kakak adek Mitsu(ki+ru)#
Mitsu(ki+ru): RnR?
