PARADISE
Part X
"Stay With Me"
Malam ini Chanyeol kembali ke tempat yang terasa tidak asing itu lagi. Namun kali ini suasana tidak segelap seperti sebelumnya. Cahaya di ujung lorong itu kembali. Kali ini dengan cahaya yang lebih terang. Chanyeol menajamkan indera pendengarnya ketika dengan perlahan ia melangkah untuk mendekati cahaya itu. Hening. Tidak ada gumaman wanita yang biasanya mengiringi. Ketika tangan Chanyeol akhirnya berhasil meraih kenop pintu yang lagi-lagi terbuka sedikit itu, ia mendengar teriakan nyaring seorang wanita yang memekakkan telinga hingga membuat Chanyeol melepaskan pegangannya pada kenop pintu untuk menutup telinganya.
Nafas Chanyeol memburu ketika ia membuka matanya. Kali ini tidak ada Kukkie di sampingnya, Mr. Park memperingatkannya untuk tidak terlalu sering membiarkan anjing itu tidur di kamarnya. Tanpa punya alasan untuk mengelak, Chanyeol dengan terpaksa membiarkan anjing itu tidur di kandangnya yang bertempat di halaman rumah.
Karena tidak bisa kembali tertidur, Chanyeol memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Keadaan di luar gelap mengingat semua orang yang tinggal di rumah itu sudah tertidur. Semua kamar utama berada di lantai dua, termasuk kamar Chanyeol dan Ayahnya. Sementara kamar yang ditempati Bibi Kim berada di lantai bawah, berdampingan dengan kamar tamu.
Setelah membasahi tenggorokannya dengan segelas air dingin, Chanyeol memilih untuk kembali ke kamarnya. Ketika ia menaiki tangga dan berhenti di lorong yang menghubungkan kamar-kamar yang ada di lantai dua, entah kenapa Chanyeol merasakan de javu. Ia seperti pernah mengalami hal ini sebelumnya. Lorong gelap dengan beberapa pintu di kiri kanannya. Chanyeol menyipitkan matanya, berusaha menyambungkan ingatannya dengan kenyataan yang dihadapinya saat ini.
"Kau tidak tidur?" Suara Mr. Park yang mendadak muncul dari balik pintu kamarnya membuat Chanyeol terlonjak. Ia hampir saja menjatuhkan gelas yang dipegangnya.
"Aku baru saja mengambil minum." Ujar Chanyeol mengangkat gelasnya agar Mr. Park bisa melihatnya.
"Kembali tidur." Perintah Mr. Park.
Tanpa berkata apa pun Chanyeol masuk kembali ke kamarnya. Namun ia tidak berniat untuk kembali tidur dan justru menyibakkan tirai yang menutup jendela kamarnya dan menatap ke luar.
Selama beberapa tahun belakangan, Chanyeol sering mengalami kesulitan tidur. Ada kalanya ia akan tertidur begitu pulas seperti orang pingsan, namun ia lebih sering terjaga dan tidak bisa kembali tidur setiap malamnya. Mimpi buruk yang ia alami beragam, kebanyakan mengenai kejadian-kejadian yang ia sendiri merasa tidak pernah mengalaminya. Namun belakangan ini, ia sering bermimpi mengenai lorong gelap dan pintu yang sedikit terbuka itu. Ia tidak menceritakan hal itu pada psikiaternya tentu saja, karena ia yakin dokter gila itu akan memberinya resep obat-obatan lain yang justru menyiksanya.
"Aku tidak ingin kau berakhir seperti Ibumu."
Chanyeol kembali terngiang ucapan Ayahnya beberapa waktu yang lalu. Entah kenapa kalimat itu seakan tidak bisa keluar dari kepalanya. Ia terus berusaha mencari makna di balik kalimat itu karena hingga sekarang ia sama sekali tidak mengerti maksudnya. Semenjak ia lahir, bahkan sekalipun, ia tidak pernah melihat wajah Ibunya.
Mr. Park akan memilih diam atau justru memarahinya setiap kali pemuda itu menanyakan tentang orang yang telah melahirkannya. Pernah Bibi Vic—pengasuhnya dulu mengatakan bahwa Ibunya telah meninggal karena melahirkannya. Tetapi yang ia tidak mengerti, kenapa Mr. Park seolah tidak ingin Chanyeol mengenal Ibunya.
.
.
.
"Jangan pulang lebih dari jam 11 malam, Yifan." Mrs. Wu mengingatkan putranya yang sedang mengikat sepatunya itu.
"Hn." Yifan hanya menjawab singkat sebelum keluar dari gedung apartemen. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku dan mendapatkan sms bahwa Chanyeol sudah menunggu di bawah.
Dengan sedikit terburu-buru Yifan segera turun ke lobi dan menemukan mobil Chanyeol yang terparkir di halaman gedung apartemen itu. Setelah memastikan bahwa benar Chanyeol yang mengendarai mobil sport merah itu, Yifan membuka pintunya dan masuk ke dalam di mana Chanyeol sudah bersiap di belakang kemudi sambil memainkan sebuah game di ponselnya.
"Ku kira aku akan menunggu sampai pagi sebelum kau siap." Ejek Chanyeol yang segera menyalakan mesin mobilnya.
"Shut up!" Ini adalah kali kedua Yifan menaiki mobil Chanyeol. Setelah mengetahui profesi Ayah Chanyeol, maka Yifan tidak terlalu heran dari mana Chanyeol mendapatkan fasilitas-fasilitas tertentu dan uang saku yang tidak sedikit.
"Ppfftttt." Chanyeol menahan tawanya ketika mobil melaju menembus petang di hari Sabtu itu.
Mereka sudah hampir sampai di tempat tujuan mereka ketika Chanyeol tiba-tiba mengerem mobilnya dengan mendadak. Untung saja Yifan sempat memasang sabuk pengaman setelah ia masuk ke dalam mobil tadi. Mereka berhenti di samping sebuah area dengan ruko pertokoan di setiap jalannya. Yifan menengok ke arah Chanyeol yang menghentikan mobilnya dan melepaskan sabuk pengaman.
"Sorry. Aku harus keluar sebentar." Tanpa menarik kunci mobilnya Chanyeol keluar dan berlari mengejar sesuatu –atau lebih tepatnya seseorang. Yifan hanya bisa mengawasi dari dalam mobil sambil memperhatikan area di sekitarnya.
"Bibi Vic!" Chanyeol berlari sekuat tenaganya untuk mengejar seorang wanita paruh baya yang berjalan di trotoar dengan kedua tangannya penuh kantong belanjaan.
"Bibi Victoria!" Chanyeol kembali memanggil wanita itu hingga akhirnya ia menoleh. Wanita itu awalnya mengernyit sambil membetulkan letak kacamatanya untuk memperjelas penglihatannya. Raut wajahnya segera berubah ketika Chanyeol akhirnya sudah berdiri di hadapannya.
"Chanyeol-goon?" Wanita itu memastikan karena ia sendiri masih tidak percaya.
Chanyeol mengangguk. Senyum lebar merekah di wajahnya. Tanpa menunggu lagi, Chanyeol memeluk wanita yang tingginya hanya sampai pundaknya itu.
"Aigoo. Apa aku sedang bermimpi sekarang?" Wanita itu melepaskan kantong belanjaannya begitu saja dan membalas pelukan Chanyeol tak kalah eratnya.
"Aku merindukan Bibi Vic." Ungkap Chanyeol sambil melepaskan pelukannya.
"Bibi juga merindukan Chanyeollie." Bibi Vic mengacak rambut hitam Chanyeol.
Mereka kemudian bertukar kabar satu sama lain cukup lama di tempat itu hingga mereka mendengar suara klakson mobil yang dibunyikan. Chanyeol baru ingat ia tadi meninggalkan Yifan di dalam mobil sendirian.
"Ah, kau pergi dengan temanmu?" Tanya Bibi Vic yang melihat seorang pemuda duduk di dalam mobil Chanyeol yang terparkir di pinggir jalan.
"Kau sedang terburu-buru? Bagaimana kalau mampir ke rumah Bibi sebentar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bibi akan masak Kimchi Jiggae kesukaanmu."
Chanyeol terlihat tertarik dengan tawaran pengasuh masa kecilnya dulu itu. Namun ia kembali teringat dengan janjinya pada Yifan untuk pergi ke klub.
"Hmmm, tunggu sebentar." Chanyeol berpikir sebentar sebelum kembali ke mobilnya. Ia mengetuk kaca jendela di sisi Yifan duduk. Yifan menurunkan kaca jendelanya dengan tampang bosan.
"Kita pergi atau tidak?" Tanya Yifan melihat Chanyeol menggaruk belakang kepalanya.
"Ng.. Kau mau ikut ke rumah Bibi Vic denganku?" Chanyeol balik bertanya. Ia tampak kebingungan mengungkapkan keinginannya. Yifan memandang wanita yang masih berdiri di tempatnya itu.
"Aku janji aku akan mentraktirmu setelah ini, tapi bisakah kita tunda sebentar dan pergi ke rumah Bibi Vic? Aku akan menemanimu sampai pagi setelah ini." Ungkap Chanyeol penuh harap.
Entah kenapa Yifan tidak bisa mengatakan tidak pada pemuda itu. Toh ia juga tidak bisa pergi sendiri tanpa Chanyeol mengingat pemuda itu yang biasa mengatur segalanya. Maka ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Chanyeol menepukkan tangannya dengan penuh semangat melihat jawaban Yifan sambil berlari menghampiri wanita itu kembali.
.
.
Rumah Bibi Vic tidak terlalu jauh dari jalan mereka bertemu tadi. Chanyeol memperkenalkan Yifan pada wanita itu yang segera memuji ketampanannya dan bertanya apakah dia berbahasa Korea atau tidak. Chanyeol cukup terhibur melihat kecanggungan Yifan yang harus menjawab setiap pertanyaan yang Bibi Vic ajukan.
"Aku senang Chanyeol-goon mendapatkan banyak teman di sekolah." Ujar Bibi Vic ketika ia menghidangkan Kimchi Jiggae ke meja makan di ruang keluarga apartemen yang ia tinggali sendiri itu.
Chanyeol hanya tersenyum kecil sementara Yifan memasang wajah datar. Mereka kemudian mulai makan ketika Bibi Vic juga sudah menempati tempatnya. Yifan tidak terlalu mengerti dengan hubungan Chanyeol dan pengasuhnya, tapi ia bisa merasa kalau Chanyeol sedang bahagia saat ini.
"Makanlah yang banyak. Bibi akan menyiapkan Pat Bing So untuk hidangan penutup setelah ini." Bibi Vic meletakkan beberapa potong daging ke atas mangkuk nasi Yifan dan Chanyeol.
Chanyeol sudah akan menyerah dan tidak sanggup makan lagi ketika Bibi Vic mengeluarkan hidangan penutupnya. Tapi ini adalah kesempatan langka baginya, maka ia dengan lahap menghabiskan hidangan es serut dengan toping bubur kacang merah itu.
"Bagaimana keadaan Ayahmu?" Tanya Bibi Vic sambil memangku wajahnya pada salah satu tangannya.
Yifan melirik ekspresi wajah Chanyeol yang berubah. Otot wajahnya terlihat menegang sebentar sebelum senyum kecil mengembang di wajahnya.
"Aboeji baik-baik saja. Ia masih sama." Jawab Chanyeol sambil meletakkan sendoknya.
Ia kemudian meregangkan kakinya yang sedari tadi duduk bersila. Yifan yang sudah menyelesaikan makannya sedari tadi duduk menepi dan bersandar pada tembok. Ia merasa bahwa percakapan selanjutnya akan lebih serius dan ia seharusnya tidak ikut campur di dalamnya.
"Aku sebenarnya ingin menanyakan beberapa hal pada Bibi." Kata Chanyeol lirih.
Bibi Vic terlihat gelisah. Ia menatap ke arah Yifan dan Chanyeol secara bergantian. Ia seolah memberikan kode pada Chanyeol apakah itu akan baik-baik saja jika mereka berbicara di hadapan Yifan.
"Aku akan menunggu di mobil." Ujar Yifan yang tahu diri. Ia sudah akan beranjak ketika Chanyeol menarik ujung kaosnya.
"Bisakah kau tinggal saja?" Tanya Chanyeol masih dengan menggenggam kaos Yifan.
Mau tidak mau Yifan akhirnya tinggal dan kembali ke tempatnya. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya untuk mulai membaca novel dan berusaha untuk tidak terlalu memperhatikan percakapan Chanyeol dengan pengasuhnya itu.
"Aku sudah lama mencari Bibi Vic, tapi Aboeji tidak memberikan informasi apapun." Kata Chanyeol memulai. Ia tidak pernah mempersiapkan diri untuk peristiwa ini, di mana ia bisa kembali bertemu dengan Bibi Vic, tapi bukan berarti ia juga tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi.
"Chanyeol-goon mungkin sudah mengira apa yang terjadi pada Bibi setelah Bibi tidak lagi kembali ke rumah itu. Bibi ingin sekali mendampingimu, tapi beberapa hal membuatnya mustahil." Chanyeol sudah tahu bahwa Ayahnya lah yang memecat Bibi Vic sejak ia menyinggung sesuatu mengenai Ibunya.
Bibi Vic bahkan masih memanggilnya dengan embel-embel –goon, sebuah sebutan yang ia pakai untuk memanggil Chanyeol kecil.
"Ayah sering menasihatiku agar aku menjaga sikapku dan tidak berakhir seperti Ibu..."
"...Apa yang terjadi pada Ibuku, Bibi Vic?"
Bibi Vic menundukkan kepalanya mendengar pertanyaan Chanyeol. Yifan sungguh tidak ingin menguping pembicaraan mereka, tapi mengingat posisinya yang duduk tidak terlalu jauh membuatnya mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut keduanya.
"Bibi Vic pernah memberitahuku kalau Ibu meninggal setelah melahirkan aku. Apakah itu benar-benar terjadi?" Chanyeol mendekatkan diri pada Bibi Vic yang masih belum bisa mengangkat kepalanya.
"Maafkan Bibi, Chanyeol-goon. Bibi sudah lancang memberitahumu hal-hal yang seharusnya kau tanyakan pada Ayahmu." Bibi Vic meletakkan tangannya pada bahu Chanyeol.
"Aku sudah sering menanyakan hal itu pada Aboeji. Dan bukannya jawaban yang aku dapat, Aboeji justru sering menghukumku karena terlalu banyak bertanya." Chanyeol tampak frustrasi.
"Bibi tahu sejak lahir aku tidak pernah melihat wajah Ibuku. Kalau Bibi memang tahu sesuatu, bisakah Bibi menolongku untuk menceritakannya padaku?"
Bibi Vic masih terdiam dan kembali menunduk. Ia tidak berani menatap mata Chanyeol.
"Sejak Bibi Vic pergi dari rumah, Aboeji sering menyuruhku untuk menemui Dokter Choi." Chanyeol kembali berkata, kali ini sambil menggenggam tangan Bibi Vic.
Seperti mendapatkan kekuatan, Bibi Vic menarik nafasnya dalam-dalam sebelum kembali menatap Chanyeol dan meletakkan tangannya di atas tangan Chanyeol.
"Ibumu tidak meninggal karena melahirkanmu. Ibumu meninggal karena bunuh diri."
.
.
Seorang wanita tampak menimang-nimang seorang anak kecil di gendongannya. Bayi berusia tiga tahun itu terkikik ketika Ibunya menciumi pipi gembulnya. Wanita itu kemudian meletakkan bayinya di atas karpet di mana berbagai macam mainan berserakan di sekitarnya.
Wanita itu mencium puncak kepala bayi itu sebelum berkata, "Ibu menyayangi Chanyeollie." Sebelum akhirnya ia beranjak keluar dari kamar bayi tanpa menutup pintunya. Bayi yang dipanggil Chanyeollie itu kemudian sibuk dengan mainan di sekelilingnya hingga tidak begitu menyadari kepergian Ibunya.
Namun setelah hampir 15 menit, ia akhirnya sadar bahwa ia sendirian di kamar itu. Bayi itu kemudian menangis dan memanggil-manggil Ibunya dengan celotehan sebisanya. Tubuh kecil itu kemudian merangkak mengikuti arah pintu yang terbuka lebar. Ketika ia merangkak keluar kamar, ia dihadapkan pada lorong sepi. Bayi itu masih terus menangis dan tidak berhenti merangkak ketika ia berhenti di sebuah pintu yang tidak tertutup sepenuhnya.
Ketika ia akan merangkak masuk, seseorang berlari dari ujung lorong dan menangkap tubuhnya ke dalam gendongannya.
"Chanyeol-goon." Wanita itu memeluk Chanyeol ke dadanya sebelum tanpa sengaja matanya menatap ke arah pintu itu. Tubuh wanita bergetar melihat apa yang dilihatnya.
Dengan tangisan Chanyeol yang tak juga berhenti, wanita itu menjerit sekuat tenaga.
"Tuan Park! Tuan Park!"
Chanyeol berhenti menangis ketika melihat tubuh Ibunya tergeletak tak bernyawa di lantai dengan obat-obatan tercecer di sekitarnya.
.
.
Tubuh Chanyeol mendadak lemas padahal sebelumnya ia merasa menjadi orang yang paling bertenaga setelah menghabiskan semangkuk penuh Kimchi Jiggae dan Pat Bing So buatan Bibi Vic. Yifan yang sedari tadi berusaha fokus pada ponselnya pun ikut mendongak ketika kalimat itu meluncur dari mulut Bibi Vic. Wanita itu menangis ketika menceritakan kejadian yang menimpa Mrs. Park pada Chanyeol.
"Nyonya Park tampak begitu bahagia hari itu. Wajahnya yang biasanya murung terlihat berseri-seri. Ia bangun pagi-pagi sekali menyiapkan sarapan untukmu dan Tuan Park. Ia menemanimu bermain seharian sebelum..." Bibi Vic tidak sanggup melanjutkan ketika air mata terus menuruni pipinya.
Chanyeol melepaskan genggaman tangannya pada tangan Bibi Vic dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Dan pada saat itu mata Chanyeol tanpa sadar beradu pandang dengan mata Yifan yang kala itu menatapnya.
Bagi Yifan, tatapan Chanyeol terlihat kosong. Ia tampak tidak terkejut ataupun sedih mendengar cerita Bibi Vic. Pemuda itu terlalu tenang untuk reaksi orang normal.
"Bibi seharusnya tidak menceritakan hal ini padamu." Bibi Vic tampak menyesal ketika ia menyeka ujung matanya.
Chanyeol berusaha tersenyum pada wanita itu.
"Tuan Park mengira Nyonya Park mengalami sebuah sindrom yang biasa dialami Ibu yang baru saja melahirkan. Tapi bahkan beberapa tahun sejak kelahiranmu, Nyonya Park tidak kunjung stabil. Dokter Choi mendiagnosanya dengan sebuah penyakit kelainan jiwa –aku tidak terlalu ingat namanya. Nyonya Park mungkin sudah lama menderita, tapi ia baru menunjukkannya setelah kau lahir." Bibi Vic kembali bercerita.
Chanyeol diam sebentar.
"Tidak apa-apa. Aku yang memohon padamu untuk menceritakannya. Aku lega Bibi mau melakukan hal itu untukku."
"Tolong jangan katakan pada Tuan Park kalau kau sudah tahu yang sebenarnya. Bibi tidak bisa membayangkan apa yang Ayahmu itu akan lakukan padamu."
Wajah Chanyeol terlihat kaku, tapi ia berusaha menarik bibirnya. Lagi-lagi tersenyum.
"Aku akan baik-baik saja. Terima kasih, Bibi Vic." Chanyeol memeluk Bibi Vic kembali namun kali ini ia mengalihkan pandangannya dari Yifan yang masih menatapnya.
.
.
.
Perjalanan di dalam mobil dari rumah Bibi Vic diiringi keheningan. Chanyeol yang entah fokus menyetir atau justru melamun sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak mereka keluar dari rumah Bibi Vic.
"Kita pulang saja." Kata Yifan ketika Chanyeol sudah akan membelokkan mobilnya ke arah klub yang akan mereka kunjungi.
Chanyeol menengok ke arah Yifan dengan ekspresi wajah dan tatapan mata yang sama seperti ketika ia berada di rumah Bibi Vic. "Aku akan menepati janjiku." Jawab Chanyeol.
"Kau bisa melakukannya lain kali. Aku ingin pulang saja."
Chanyeol kemudian memutar balik mobilnya dan mengemudikannya ke arah rumah Yifan.
"Maaf aku mengacaukan malam ini." Gumam Chanyeol.
Yifan menggigit pipi dalamnya. "Berhenti minta maaf."
Keheningan kembali menyelimuti keduanya hingga mobil Chanyeol berhenti di depan gedung apartemen Yifan.
"Thank you." Yifan membuka pintu mobil dan keluar ketika Chanyeol memanggil namanya pelan.
Yifan membungkukkan tubuhnya untuk melihat Chanyeol yang masih terpaku di balik kemudi. Pemuda itu menggigit bibir bawahnya. Ia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu-ragu.
"Kau mau mampir?" Tanya Yifan pada akhirnya.
"Is it okay?" Chanyeol masih belum mematikan mobilnya dan Yifan kembali masuk.
"Kau bisa parkir di dalam." Yifan mengarahkan Chanyeol untuk memasukkan mobilnya ke area parkir khusus penghuni apartemen.
.
.
Mrs. Wu tampak baru bangun tidur ketika ia membukakan pintu untuk Chanyeol dan Yifan. Ia tersenyum ketika melirik ke arah jarum jam yang masih menunjukkan pukul 10.45 malam. Mereka kemudian masuk ke kamar Yifan. Si pemilik kamar menyerahkan sehelai handuk dan setelan piyama pada Chanyeol yang terlihat canggung. Pemuda itu kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh tubuhnya.
Setelah itu Yifan bergantian masuk ke kamar mandi setelah Chanyeol selesai. Tanpa kata-kata keduanya berkomunikasi melalui gestur dan bahasa tubuh masing-masing. Chanyeol mematikan ponselnya dan berbaring di atas tempat tidur Yifan. Ia menarik bed cover berwarna putih itu dan menutupi tubuhnya hingga menyisakan ujung kepalanya menyembul. Bukankah ia seharusnya hanya mampir? Tapi Chanyeol justru semakin melesakkan tubuhnya di balik bed cover itu.
Chanyeol mendengar Yifan keluar dari kamar mandi dan tanpa berkata apapun ikut berbaring di sampingnya.
"Tempat tidur ini terlalu sempit untuk kita berdua." Ujar Yifan dan berniat untuk menggelar tempat tidur lipat di lantai ketika Chanyeol menarik kaosnya, membuatnya urung bangkit.
Dengan membisu Chanyeol menggeser tubuhnya sedikit untuk memberi sedikit ruang pada Yifan dan menata bed cover agar cukup menutupi tubuh mereka berdua.
Yifan yang berbaring dengan posisi menghadap ke langit-langit kamarnya melirik ke arah Chanyeol yang berbaring miring disampingnya. Pemuda itu memejamkan matanya.
"Kalau kau mau bercerita sesuatu padaku aku akan mendengarkan. Aku bukan pendengar yang baik, tapi—" Tangan Chanyeol tiba-tiba membungkam mulut Yifan, membuatnya berhenti bicara. Yifan berhenti sejenak sebelum ia menyingkirkan tangan Chanyeol dari mulutnya. Pemuda itu tidak melepaskan tangannya dari tangan Chanyeol ketika ia memiringkan tubuhnya menghadap Chanyeol yang masih belum membuka matanya.
"Kau tidak tidur." Yifan menggenggam tangan Chanyeol.
Ketika Chanyeol membuka matanya ia mendapati Yifan sedang menatapnya. Dan pada saat itu, dunia seperti berhenti berputar untuk mereka berdua. Chanyeol mengalihkan pandangan matanya hanya untuk kemudian menatap tangannya yang Yifan genggam.
"Aku benar-benar berharap setidaknya aku bisa menangis sekarang." Bisik Chanyeol.
Yifan mengeratkan genggaman tangannya.
"Tapi untuk sekadar merasakan saja sudah susah sekali."
Bertahun-tahun Chanyeol berpikir bahwa ia adalah letak kesialan dalam keluarganya. Bahwa ia tidak cukup baik untuk Ayahnya banggakan. Nyatanya memang Chanyeol adalah sebuah kegagalan.
Yifan melepaskan genggaman tangannya hanya untuk meletakkannya pada pipi Chanyeol yang terasa dingin. Ia kemudian mengusap lembut dahi Chanyeol yang mengerut ketika otot wajahnya menegang. Tubuh Chanyeol bergetar dan seperti hampir menggigil. Entah apa yang dirasakan pemuda itu saat ini, tapi Yifan hanya bisa membaca kekosongan dari tatapan matanya.
Kali ini Yifan yang mendekatkan wajahnya dan mengecup ujung bibir Chanyeol. Tidak ada lidah atau pagutan-pagutan di antara keduanya, hanya dua bibir yang saling menempel dengan tangan Yifan menahan rahang Chanyeol agar tidak bergerak.
"Sleep." Yifan menarik kepala Chanyeol pada lekukan lehernya, membiarkan pemuda itu memejamkan matanya dengan tangan erat mencengkeram kaosnya.
Chanyeol tidak menangis malam itu, tapi gumaman-gumaman yang ia keluarkan ketika ia tidur dan sesekali guncangan tubuhnya membuat Yifan sedikit memahami apa yang dirasakannya.
Yifan sendiri adalah sebuah ketidakutuhan, tapi ia ingin menyelamatkan Chanyeol.
Bersambung
Semoga nggak makin ngebosenin ya. Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan review.
Dengan cinta,
Mutmut Chan.
