"Dan Kai, kupikir daripada menyewa apartemen bagaimana jika aku memberi kalian sebuah rumah di dekat sini untuk ditempati sementara waktu hingga pembangunan rumah yang kau katakan itu selesai?"
Complementary (9th Chapter)
Present by RoséBear
Main cast: Kai x Kyungsoo (KaiSoo)
Content: GS. Family. Friendship. Marriage life. Musik. Surgery
The Paradox of Lost Complementary
"Kai bangun."
Kai merasakan seseorang menepuk pipinya. Ya ampun. Itu Kyungsoo, ia segera bangun dan tersenyum pada gadis manis yang duduk di pinggir ranjang. Tubuhnya sedikit condong ke depan karena berusaha membangunkan Kai.
"Kau harus bekerja pagi ini Kai."
Kyungsoo mengingatkan. Mereka telah tinggal di sebuah rumah berukuran kecil. Sebuah rumah sementara yang mereka tempati berdua.
Dengan sedikit gerakan lambat pria itu bangkit, dia tersenyum walau sadar rambutnya sedikit berantakan. Ini sudah dua minggu sejak setiap pagi Kyungsoo selalu membangunkannya.
"Selamat pagi sayang."
Hal yang paling Kai sukai setiap pagi selama dua minggu ini adalah rona merah pada wajah Kyungsoo. Gadis itu selalu tersipu dengan semua perbuatan manis yang Kai lakukan.
"Ayah akan tiba sepuluh menit lagi, dia akan sarapan bersama kita."
Masih sulit pria itu membuka mata, namun kemudian ia mengangguk.
Chup
Sebuah kecupan singkat pada bibir hati Kyungsoo.
Mereka telah berjanji menjalani pernikahan ini sebaik-baiknya. Kai berusaha menerima keinginan Kyungsoo setelah mendengar cerita sebenarnya dari dokter Do. Tapi pria itu masih kesulitan, sementara Kyungsoo berusaha menahan diri untuk tidak memainkan violinnya saat Kai di rumah.
Toleransi.
Keduanya mencoba memahami dan mengerti tujuan dari pernikahan ini terutama untuk kesehatan kakek Kai serta keinginan Kyungsoo.
Mereka perlu mendapatkan keturunan, namun tidak dalam waktu dekat. Baik Kyungsoo maupun Kai sudah memutuskannya. Lima atau enam tahun lagi itu bukanlah masalah. Umur Kyungsoo masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu dan melahirkan seorang anak.
Sementara Kyungsoo menghabiskan waktunya dengan belajar menjadi seorang istri, di saat yang sama Ayah Kyungsoo mengajari Kai banyak hal mengenai rumah sakit dan juga pasien.
~ RoséBear~
Waktu itu, ketika rumah masih diisi oleh seorang ayah, ibu dan anak perempuannya. Semua tampak sangat bahagia dengan aktivitas yang mereka miliki, anak perempuan itu masih berumur tiga tahun, masa di mana dia masih belajar merangkai kalimat pendek untuk bisa berkomunikasi dengan baik bersama orang-orang di sekitar.
Ketika dia masih mendapatkan pelukan sang Ayah tiba-tiba saja telepon rumah berdering. Panggilan dari rumah sakit memberi kabar jika sebuah mobil mengalami kecelakaan lalu lintas. Satu korban meninggal di tempat dan satu lagi dalam keadaan kritis.
Anak perempuan itu tidak tahu kenapa tiba-tiba sang Ayah yang menerima panggilan meningalkannya ke rumah sakit waktu itu juga.
Ibunya bilang semua akan baik-baik saja. Mereka perlu menyelesaikan makan malam lalu menyusul sang Ayah. Diketahui jika kakek dan neneknya telah mengalami sebuah kecelakaan lalu lintas di mana sang nenek meninggal malam itu juga sementara kakeknya masih kritis.
Satu minggu setelah itu korban kritis di nyatakan meninggal. Sejak saat itu Ayah anak perempuan mulai sangat sibuk. Selesai acara pemakaman, ayahnya didatangi beberapa orang berpakaian rapi. Ayahnya yang seorang kepala bedah adalah satu-satunya penerus dari rumah sakit yang sebelumnya di pimpin oleh kakeknya. Di umurnya yang masih terbilang muda dia harus mengurus satu-satunya warisan keluarga.
Tidak banyak yang langsung setuju dengan surat wasiat pimpinan sebelumnya atas pimpinan baru yang masih sangat muda.
Dokter Do
Saat itu bekerja sangat keras untuk mendapat pengakuan Dewan direksi yang belum setuju untuk menggantikan posisi ayahnya. Benar-benar bekerja keras hingga ia lupa bagaimana kabar keluarga kecilnya.
Pria itu menjadi sering di rumah sakit dan hanya pulang untuk beristirahat. Hari pertama anaknya masuk ke taman kanak-kanak dia terburu-buru pulang ke rumah namun tidak mendapati anak perempuannya lagi.
Dengan susah payah menyusul ke sekolah. Anak itu marah? Tentu saja. Tapi ibunya yang cantik menjelaskan jika ayahnya terlambat untuk menyiapkan makan siang.
Itu sebuah kebohongan. Istri yang sangat baik tidak ingin anaknya membenci sang Ayah.
Hanya setengah tahun sejak anak perempuan itu, -Kyungsoo kecil belajar di taman kanak-kanak.
Ibunya jatuh sakit, dirawat di rumah sakit untuk waktu yang sangat lama."istriku menolak melakukan operasi. Dia dan aku tahu operasi itu hanya menyisahkan lima persen keberhasilan. Istriku tidak ingin meninggal di meja operasi. Saat dia dalam masa kritis aku malah melakukan operasi untuk pasien lain. Tadinya Kyungsoo masih mau bicara denganku, setiap hari dia menungguku pulang, tapi tiap kali melihatnya mengingatkan aku pada istriku. Aku merasa begitu bodoh, harusnya kulakukan operasi itu walau kemungkinan hanya satu persen saja. Lalu kupikir tidak mengganggu Kyungsoo akan membuatnya lebih baik, tapi anak itu terlalu baik, ternyata dia berusaha menarik perhatianku. Kyungsoo belajar dengan sangat giat, aku selalu memperhatikannya melalui supir keluarga. Saat dia sakit, ketika itu aku mulai panik. Namun aku takut untuk bersamanya, bukankah aku ayah yang sangat bodoh karena meminta dokter lain merawat putriku? Kai, kumohon padamu untuk menjaganya. Aku akan mengatur jam kerjamu, aku juga akan mengajarimu banyak hal. Jika waktunya tiba tolong kau jelaskan pada Kyungsoo. Aku hanya tidak ingin Kyungsoo ataupun kau mendapat masalah oleh Dewan direksi yang sampai saat ini masih menunggu waktu untuk merebut posisi ini. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian."
~ RoséBear~
Kai memperhatikan Kyungsoo yang sedang menyusun meja makan. Tersedia empat piring membuat pria tan mengerutkan dahi. Dia berjalan mendekat, sementara tangannya masih menggesek handuk pada rambut basahnya. Kai membawa kepalanya di sebelah wajah Kyungsoo, sedikit menunduk membuat bibirnya berada di dekat telinga Kyungsoo.
"Kenapa ada empat?"
"Woahh!"
Sayangnya sapaan Kai yang terlalu dekat mengejutkan Kyungsoo. Hampir saja poci di tangannya akan jatuh jika Kai tidak segera menahan poci kecil itu.
"Hati-hati Kyungsoo. Jangan sampai menimpa kakimu."
Dia menempatkan benda itu ke atas meja. Memperhatikan Kyungsoo yang sekarang memandang dengan bibir terpout dan mata mengintimidasi.
"Ayah bilang kakekmu juga akan kemari," dia bicara pelan. Kembali bekerja seperti pagi-pagi sebelumnya.
Sementara Kai hanya memandangi bagaimana Kyungsoo melanjutkan pekerjaan paginya. Mengatur meja makan sedemikian rupa sampai meletakkan sebuket bunga potong di tengah-tengah meja.
Pagi itu, Kai sadar Kyungsoo terlihat begitu kikuk. Tentu saja karena dokter Do memberinya tatapan yang begitu dalam. Bahkan hampir sepenuhnya seperti menelanjangi Kyungsoo. Kai tahu tatapan itu adalah perasaan rindu yang masih tertahan. Ayah dan anak ini harusnya bicara dan saling mendengarkan, namun ego mereka seperti anak tangga menuju langit saja. Tidak menemui ujungnya.
Suasana melebur karena percakapan kakek Kai mengenai masakan Kyungsoo yang lebih baik daripada masakan di rumah sakit. Pria tua itu tidak berhenti memuji masakan Kyungsoo, seperti 'sangat menyenangkan bisa sarapan di sini.' Atau 'andai aku bisa menginap di rumah ini.'
Mendengar itu, Kai mulai tidak memahami kondisi kakeknya. Bagaimana pria tua itu dengan sangat mudah mengatakan hal-hal yang tidak mungkin terus menerus dia dapatkan jika kondisinya tidak menunjukkan perkembangan yang lebih baik.
Hari ini Kai berangkat kerja seperti biasa, pagi hari. Semua terjadi setelah jadwalnya diatur ulang oleh pihak administrasi rumah sakit atas perintah dokter Do. Hanya saja beberapa kali dia pulang malam saat mendapat pelatihan khusus dari dokter Do di ruang operasi. Sepertinya pria tua itu benar-benar serius ingin menyerahkan kepemimpinan rumah sakit kepada Kai. Dalam dua pekan ini saja sudah dua kali Kai ikut serta dalam rapat direksi. Itu merupakan waktu yang luar biasa panjang bagi Kai.
Seperti pagi ini, Kai mengendarai mobil pemberian kakeknya. Sebuah mobil sederhana yang membawanya ke pergi bekerja sementara di akhir minggu dia akan menemani Kyungsoo berbelanja bahan makanan. Mereka hidup layaknya suami istri pada umumnya.
"Ya! Ternyata kau menikah dengan putri direktur heoh?"
Suara Kris yang begitu menyebalkan. Datang membawa berita pernikahan Kai. Oh astaga, berita itu harusnya tidak tersebar sekarang. Kai belum siap, seperti apa yang dokter Do katakan sebelumnya.
'Tidak sekarang Kai. Jangan mendapatkan perhatian karena pernikahan kalian. Mereka tidak akan menyukaimu jika menganggap kau menggunakan putriku sebagai tangga pijakkan. Karena kau butuh pengakuan terlebih dahulu. Aku tidak ingin kau mengalami apa yang pernah terjadi padaku.'
Tidak masuk akal untuk menempatkan Kai pada posisi seperti ini. Dia masih orang asing di dalam keluarga Do. Sementara Kyungsoo benar-benar menjadi bagian dari keluarganya sendiri.
Bahkan setelah percakapan seminggu yang lalu hampir satu hari di akhir pekan Kai memperhatikan Kyungsoo secara mendetail. Lelaki itu hanya bisa menaikkan alisnya, memandang sedikit tidak mengerti. Kyungsoo seperti anak perempuan pada umumnya, meringis ketika jarinya terjepit bahkan berteriak jika Kai tidak sengaja menginjak kakinya. Mengomel saat pria tan menjatuhkan cemilan ke lantai yang baru saja dia bersihkan atau bertanya dengan wajah penuh harap setiap kali selesai menyajikan sarapan ataupun makan malam untuk Kai.
Kembali lagi pada Kris yang tiba-tiba Kai abaikan keberadaan pria tinggi ini. Pria tan hanya tidak suka pada teman seangkatan kakaknya ini, Kris adalah playboy dan dia bahkan pernah berusaha merayu Yixing ketika wanita cantik itu jelas-jelas menjadi kekasih Suho. Ahh bajingan! Pria tinggi ini juga mempunyai adik dari Ayah yang berbeda, Henry Lau. Bukankah dua minggu lalu Kai bertemu dengan adik dari ayah yang berbeda itu. Tatapan adiknya hampir sama dengan sang kakak. Membahayakan.
"Kau menyembunyikannya? Wanita hari itu ternyata putri direktur? Bagaimana kau berkenalan dengannya? Ceritakan padaku Kai."
Lebih baik berfokus pada data pasien pembedahan daripada Kai harus menjawab pertanyaan tidak berarti Kris.
"Aku terkejut mendengar beritanya. Suho sulit sekali memberiku informasi, namun teman istrimu memberitahu juga."
Masih saja Kai membolak balik berkasnya, dia mendengarkan secara samar-samar, selebihnya otak Kai fokus pada berkas di tangannya.
"Bagaimana malam pertama kalian? Apa dia masih perawan atau..."
Kai mulai kesal sendiri mendengar celoteh Kris. "Apa kau ini seorang pengangguran hingga punya waktu untuk datang bermain ke departmen bedah saraf?"
Hanya satu kalimat panjang dan dia kembali fokus pada berkasnya.
"Heii!" Pria itu berseru pelan. "Tidak perlu menyebutku pengangguran jika tidak mau membahasnya. Aku kemari untuk meminta bantuanmu. Mulai mendesak karena tertunda dua minggu. Akibat pernikahanmu dan kau tidak lagi bekerja di malam hari, sulit menemuimu Kai."
Kai menoleh setelah dia selesai.
"Ya?"
Jika tidak membahas keluarga kecilnya maka Kai akan mulai mendengarkan Kris. Mungkin sesuatu yang benar-benar mendesak atau mungkin...
"Mengenai permintaanku dua minggu yang lalu. Tentang pasien skizofrenia..."
"Aku tidak tertarik."
Kai bicara cepat untuk memotong perkataan Kris. Seharusnya dia paham maksud permintaan Kris.
"Bagaimana kau tidak tertarik, dia menjadi pasienku selama dua tahun Kai. Bayangkan dua tahun. Obat-obatan dan psikoterapi sudah tidak bisa menyembuhkannya. Aku sudah bicara pada orang tuanya dan saat dia tidak mengalami semester aku sudah menjelaskannya mengenai psychosurgery. Mereka semua setuju Kai."
Kai menghela napasnya, kenapa harus dia? Apa Kris tidak bisa membiarkan keluarga pasien mencari dokter bedah saraf lain. Tentu saja dia bisa, tapi kenapa harus memaksa Kai?
"Dengar! Ini operasi bedah saraf otak untuk mengatasi kelainan psikis dan kau bisa meminta dokter lain melakukannya. Secara teori maupun jurnal yang kubaca, Kemungkinkan keberhasilan psychosurgery cukup tinggi Kris. Jangan memaksaku."
Kai menatap tajam pria yang lebih tinggi ini. Dia mulai tidak nyaman dengan percakapan mereka sekarang.
"Aku tidak percaya pada dokter bedah saraf selain kau. Kumohon Kai, lakukanlah untukku, sekali saja kau harus membantuku."
Brak
Kai menghempaskan berkas di tangannya ke atas meja. Ia berkacak pinggang menatap pria yang lebih tinggi secara fisik dan juga umur di hadapannya kini. Mereka beruntung ketika Kris berkunjung ruang istirahat para dokter sedang sepi.
"Aku tidak merasa berhutang budi padamu. Untuk apa aku membantumu? Kau bisa mengajukan pasien itu ke rumah sakit, pihak manajemen akan mengatur operasinya. Tunggu dan lihat saja siapa yang akan bertanggung jawab."
"Tapi aku ingin kau yang melakukannya Kai. Aku... Pasien ini adalah cinta pertamaku."
"Sudah kukatakan daftarkan saja dia ke... Apa? Cinta pertamamu?"
Alis Kai naik satu tingkat, dia bersidekap tangan memperhatikan wajah merona Kris. Ya ampun. Cinta pertama? Romantis? Tidak! Ini seperti cerita picisan bagi Kai.
Bagi Kai cinta pertamanya adalah hal yang harus dilupakan.
Sementara untuk urusan ini Kai memang menjadi sedikit pemilih dalam mengatasi pasien.
"Ya. Jadi aku butuh dokter yang bisa kupercaya. Aku tidak mau otaknya dirusak oleh para dokter itu, aku butuh orang yang berkompeten Kai."
"Tidak!"
"Apa yang harus aku lakukan agar kau mau melakukannya?"
Saat itu ponsel Kai berdering. Panggilan dari UGD membebaskannya dari Kris.
"Tidak ada. Karena aku tidak mau melakukannya selama rumah sakit ini masih menyediakan dokter bedah saraf lainnya."
Ia berlari tergesa-gesa setelah mengambil jaz putih kebanggaannya. Menjelang siang hari rumah sakit terkadang benar-benar berisik namun menyadarkan para dokter jika pasien butuh mereka. Terkadang Kai rindu tentang tugas berjaga malam.
~ RoséBear~
Kyungsoo memandang posel yang sebenarnya milik Kai. Tapi pria itu sama sekali tidak peduli.
Lama dia memandangi ponsel itu dan menghela napas saat ingin menyerah.
"Bagaimana caraku menghapus data itu? Aku tidak memiliki laptop untuk kusambungkan."
Ia mempout lucu, terkadang Kyungsoo bosan, maka dia akan mengeluarkan violinnya dan bermain seorang diri. Dua minggu sejak tinggal bersama Kai dia tidak berkeliaran seperti biasanya.
Menghabiskan cemilan, membaca buku, mengerjakan soal latihan yang dititipkan ayahnya melalui Kai lalu belanja bersama suaminya.
Drrttt
Ponselnya bergetar. Kyungsoo buru-buru meraih ponselnya. Itu adalah panggilan dari Chanyeol.
"Ya! Kenapa baru menghubungiku sekarang? Pergilah ke rumahku bersama Baekhyun karena aku bosan sendirian. Setidaknya datang dan berceritalah padaku."
Terdengar suara tawa ringan dari seberang panggilan. "Maaf nona Do.. Upsss Nyonya Kim. Kami baru melewati ujian. Kau mau mendengarkan kabar terbaru yang kudapatkan?"
"Apa Chan?" Kyungsoo terlihat antusias.
"Kami akan tiba sepuluh menit lagi jadi siapkan makan siang untuk kami Kyungsoo."
Gadis itu memberengut mendengar permintaan Chanyeol.
Ya ampun, apa dia pelayan sekarang yang tugasnya menyediakan makanan bagi para tuan? Tapi Kyungsoo tidak menolak, terakhir kali Chanyeol dan Baekhyun datang saat mereka pindah ke rumah ini.
Tidak banyak yang berubah dari rumah pemberian ayah Kyungsoo. Mereka masih menunggu renovasi rumah yang telah dibeli Kai dengan tabungannya sendiri.
Rumah ini sungguh sederhana, tidak ada halaman depan. Jarak pintu masuk ke pagar pembatas hanya satu meter setengah. Hingga Kyungsoo harus menanam beberapa bunga di dalam pot untuk kemudian ia letakkan di dekat tempat pencucian.
Dia sedang bersiap-siap. Tidak banyak yang ia siapkan, nasi goreng, mengeluarkan kimchi, gorengan telur lalu nori.
Kyungsoo sedikit terkejut mendapati Henry ikut bergabung dalam daftar tamu yang dibawa Chanyeol. Ia pikir hanya akan ada Chanyeol dan Baekhyun saja.
Sungguh Kyungsoo benar-benar malu menyiapkan makanan sederhana.
"Wahh terima kasih Kyungsoo."
Saat itu Chanyeol segera masuk dan menyerbu ke meja makan dengan menarik Baekhyun.
Meninggalkan Kyungsoo dan Henry yang berjalan di belakang. "Jadi kau benar-benar sudah menikah ya?"
Kyungsoo sedikit tersentak karena ucapan Henry. Dia memang tidak mengundang siapapun, hanya keluarga Park dan keluarga inti Kai saja yang datang. Karena Pernikahan itu sangat mendadak.
"Ya. Maafkan aku Henry. Tapi aku akan mengirimkan kartu undangan jika resepsi akan dilangsungkan."
Lelaki manis itu berhenti membuat Kyungsoo ikut terdiam karena bingung. Henry mencondongkan wajahnya memperhatikan pergerakan Kyungsoo yang tiba-tiba menjadi kikuk.
"Dengan dokter itu?"
Tanpa sadar Kyungsoo mengigit bibir bawahnya dan mengangguk.
"Tapi dia terlihat kasar saat menarikmu keluar. Apa kau benar mencintainya? Tidak ada hubungannya dengan Ayahmu? Kudengar dari Kris dia bekerja di rumah sakit Ayahmu."
"Kalian jangan hanya bicara berdua. Kemarilah! Kita makan lalu membahas hal penting bersama-sama."
Chanyeol sedikit berteriak. Pria tinggi itu sedikit risih jika Kyungsoo -mereka- walau sudah memiliki suami di dekati oleh pria manapun. Sistem pelindung Chanyeol tiba-tiba saja berfungsi, walau dia yang membawa Henry kemari tapi itu sebuah ketidaksengajaan.
Namun pada akhirnya mereka duduk dan makan bersama.
"Masakanmu tidak pernah berubah Kyung. Pergi dan belajar masaklah pada ibuku. Bagaimana perasaan Kai menerima makanan semacam ini setiap hari? Dia harus bekerja dengan awww!"
Perkataan Chanyeol terhenti saat tiba-tiba Baekhyun menyikut perutnya.
"Jika sudah selesai segera bawa piring di wastafel. Aku akan mencucinya."
Baekhyun yang pertama bangkit di susul oleh Kyungsoo. Kedua wanita itu berdiri berdua saja. Tepat setelah para lelaki meninggalkan mereka menuju ruang tengah, Baekhyun sedikit menggeser tubuhnya mendekat.
"Bagaimana dokter Kim? Dia memperlakukan denganmu dengan baik kan?"
Mendadak saja pipi Kyungsoo merona mendengar pertanyaan Baekhyun. Oh. Apa wanita ini jatuh cinta pada suaminya sendiri?
"Dia baik Baek."
Tapi Baekhyun sadar Kyungsoo masih sedikit tertutup padanya. Baekhyun menghela napasnya. Meletakkan sarung tangan karet dan memaksa tubuh Kyungsoo untuk berbalik menghadapnya.
"Dengar Kyungsoo. Aku temanmu, aku seorang wanita. Ada hal yang tidak bisa kau bagi dengan teman lelaki, maka katakan padaku. Kumohon lupakan masa lalu kita. Aku mau kau percaya padaku lagi Kyung. Rasanya sangat canggung ketika..."
"Aku sudah melupakan itu. Tapi masih sulit untuk percaya Baek. Kumohon kau mengerti, ada beberapa hal yang tidak bisa kuberitahu padamu."
Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Memang kesalahan Baekhyun pada waktu itu.
Semua hanya karena ambisi dan ego yang bersarang di pikiran anak-anak.
Saat itu mereka masih delapan tahun. Ketika Kyungsoo mengatakan ambisinya tentang belajar dan mendapatkan peringkat demi menarik perhatian ayahnya. Kyungsoo yang waktu kecil masih berniat menjadi seorang dokter agar bisa bersama ayahnya.
Namun tiba-tiba Baekhyun mengatakan itu pada teman-temannya sekelasnya membuat Kyungsoo ditertawakan. Dia masih anak delapan tahun yang tak biasa menerima ejekkan teman-temannya.
Karena umurnya masih begitu labil, tidak bisa berpikir lebih baik. Dia mengatakan membenci Baekhyun.
Lebih buruknya lagi, satu minggu setelah itu Baekhyun pindah dari Kota ini.
Tidak ada yang lebih buruk daripada kedatangan Baekhyun beberapa tahun yang lalu. Mengingatkan Kyungsoo pada ambisinya yang pernah menginginkan menjadi seorang dokter hanya untuk mengejar keberadaan Ayahnya.
"Sungguh aku sudah melupakannya Baek. Tapi beri aku waktu untuk kembali percaya padamu."
"Apa dua tahun begitu lama Kyungsoo?"
Kyungsoo terdiam di ambang pintu. Mereka menyelesaikan masalah cucian dan hendak bergabung dengan para pria di luar sana.
"Ini bukan masalah waktu Baek. Hanya ada beberapa hal yang benar-benar tidak bisa kujelaskan padamu. Dua tahun itu bukan waktu yang lama. Maaf jika aku bersikap begitu kekanak-kanakkan."
Baekhyun mendekat memeluk Kyungsoo membuat kedua pria yang tidak sengaja melihatnya nenautkan alis bingung.
"Tidak apa. Aku akan menunggu Kyungsoo. Aku temanmu."
Tidak ada yang lebih baik dari sebuah pelukan penenang. Pelukan Baekhyun masih saja sama, begitu hangat dan bersahabat. Tapi Kyungsoo masih memiliki masalah dengan dirinya sendiri. Dia telah mecoba lebih terbuka pada Baekhyun namun nyatanya sulit sekali.
~ RoséBear~
"Kompetisi violin tingkat national. Mencakup dua tingkatan anak-anak dan umum dengan empat tahapan seleksi. Pemenang tiga besar akan mendapatkan uang tunai atau bisa di tukar dengan beasiswa dari salah satu akademi musik yang ada di negara ini. Seleksi pertama satu bulan lagi."
Kyungsoo terdiam, beberapa saat dia menunduk menatap karpet di bawah sofa. Jemarinya bertautan. Kompetisi violin tingkat national.
Di lain sisi dia harus bersiap untuk ujian skolastik, di sisi lain dia menantikan kompetisi ini. Lama mereka bertiga menunggu keputusan Kyungsoo.
"Lupakan tentang pertunjukkan terakhirmu. Diskualifikasi karena kau tidak mengikuti di bagian tengah partitur. Seleksi pertama melihat kemampuanmu. Kau hanya akan bermain satu menit saja Kyungsoo."
Mata bulatnya menatap penjelasan Henry.
"Ya. Henry adalah juara pada kompetisi lima tahun lalu dan menerima beasiswa dari perguruan tinggi kami."
Dia menatap seisi rumahnya. "Tapi Kai..."
"Heii kau bisa berlatih di rumahku Kyungsoo. Rumah sudah direnovasi. Ayah memberiku studio kecil."
Chanyeol memotong ucapan Kyungsoo disusul anggukan Baekhyun.
"Atau kau bisa menggunakan kafe milik saudaraku Kyungsoo. Terserah padamu mau memilih di mana?"
"Aku ingin mendaftar. Tapi bisakah aku memikirkan tempat latihanku nanti?"
"Ya Kyungsoo. Aku akan melatihmu kembali."
Semua mata mengarah pada Henry. Pria berkulit putih itu mengambil cangkir dan mengesap teh hangatnya.
"Bukankah aku pelatih terakhirmu?" Dia sedang berusaha mencairkan suasana.
Tiba-tiba Baekhyun berbisik pada Chanyeol. Membuat pria itu mengangguk mengerti.
"Ya. Besok kita bisa memulainya."
"Hah? Besok? Besok aku masuk ke kelas persiapan. Ini memang mendadak, tapi Kai telah mendaftarkannya. Aku akan mengikuti simulasi tes."
Kening semuanya berkerut kembali. Memang sulit mengatur waktu.
"Sebenarnya aku juga bekerja dari pagi hari, kita berlatih tiga jam setiap harinya. Aku akan menunggumu jam dua siang Kyungsoo."
Dengan susah payah wanita itu mengatur senyumnya. "Bagaimana jika jam empat?"
"Ya. Jam empat kami juga tidak memiliki kegiatan jadi bisa menemanimu."
Baekhyun memutuskan setelah mendengar penawaran Kyungsoo.
"Tapi kau mengambil kelas persiapan di mana Kyung?"
"Tidak begitu jauh. Sepuluh menit berjalan kaki dari sini."
Chanyeol mengangguk paham. "Kalau begitu kami harus pulang."
Kyungsoo harus mengantar mereka ke depan pintu. Saat itu Chanyeol berbalik dan memeluk Kyungsoo. "Bicarakan dengan Kai sebelum kau memutuskan. Persetujuannya akan sangat penting Kyungsoo. Aku berharap Kai tidak melarangmu. Lalu kau bisa bicara..."
Kyungsoo mengangguk pada pesan Chanyeol. Tapi Ia sedikit meneguk salivanya kasar mendengar bagian akhir pesan teman lelakinya ini ketika Chanyeol berbisik dengan tatapan menggoda.
"Hati-hati di jalan."
Rasanya Kyungsoo melihat Henry tidak suka ketika Chanyeol memeluk Kyungsoo barusan. Entahlah, itu hanya perasaannya saja karena ekspresi lelaki itu sulit dimengerti
Tapi Kai lebih sulit lagi. Kadang pria tan itu bersikap sangat baik, mendadak dingin, kemudian kembali bersikap manis.
~ RoséBear~
Chanyeol tidak langsung mengantar Baekhyun pulang, setelah mengantar Henry mereka pergi ke rumah Chanyeol. Rumah ini terlihat baru, beberapa bagian menjadi lebih luas. Tinggi lantai juga disesuaikan dengan penghuninya. Yaitu tuan Park yang mulai menua.
"Kenapa kau tiba-tiba mau ke rumah?"
"Aku mau belajar masak pada ibumu?"
Percakapan singkat mereka saat Chanyeol mengantar Baekhyun ke bagian belakang di mana Ibunya menikmati sore hari.
"Masak? Mengenai ucapanku pada Kyungsoo? Kau mau menikah..."
Plak
Lelaki itu mendapat sebuah tepukan pada bahunya karena Baekhyun.
"Bukan. Hanya beberapa variasi coklat. Aku ingin membuatnya untuk Kyungsoo. Dua tahun lalu Kyungsoo membuat coklat sendiri untuk kita. Jadi aku mau belajar untuk membuatkannya."
Chanyeol mengangguk paham. Tentu saja berkaitan dengan ujian Kyungsoo. Nilai sekolah anak itu sangat baik, hanya membutuhkan nilai yang baik pada ujian agar dia bisa mencoba sekolah kedokteran. Koneksi ayahnya pasti akan sangat membantu.
Berharap Kyungsoo mendengarkan pesannya. Sebenarnya usulan untuk bicara dengan Kai adalah dari Baekhyun. Walau bagaimana pun, kekasihnya sangat khawatir terhadap teman mereka.
~ RoséBear~
Seoul merupakan salah satu Kota yang diramaikan oleh gedung-gedung pencakar langit, berlomba-lomba mencapai langit. Namun tidak semua daerah seperti itu, beberapa tetap merendah dan menikmati alam yang telah tersaji. Menanti sunset yang mengubah bangunan seperti kubah emas di senja musim gugur. Lalu putih biru ketika musim dingin, berkeliaran kembali saat musim semi dan menikmati terik matahari musim panas.
'-Konon dikatakan, musim gugur sangat cocok untuk mencari pasangan.'
"Kupikir bacaan romantis itu sangat cocok untukmu."
"Oh. Kau sudah pulang?"
Kyungsoo segera bangkit setelah dikejutkan oleh kedatangan Kai yang tiba-tiba. Ia memandang jam di dinding. Dua jam berselang setelah kepergian teman-temannya.
Pria itu mengangguk. Ia melonggarkan dasinya, memilih untuk duduk di mana merupakan tempat Kyungsoo sebelumnya.
"Duduklah, aku ingin berbaring di pangkuanmu."
"Tidakkah kau ingin mandi terlebih dahulu Kai?"
Kyungsoo tidak menolak sepenuhnya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri dan telah mengatakan pada Kai. Selama pria ini mengizinkan Kyungsoo menyimpan violinnya, ia akan menjadi istri yang baik. Kai tidak keberatan tentang itu, selama Kyungsoo tidak mengganggu jam istirahatnya di rumah.
"Mau memijat tanganku?"
Seperti biasa. Kyungsoo tidak menolak.
"Kai, ada yang mau kubicarakan denganmu?"
"Hmm? Tentang persiapan dua minggu ini? Aku juga akan membantu ketika di rumah agar kau mendapat nilai yang memuaskan Kyungsoo."
Gadis itu menggeleng. Samar-samar Kai memastikan gelengan Kyungsoo. Ia membuka sebelah matanya. Dengan tangan yang bebas Kai menekan bibir Kyungsoo, melepaskan gigitan kecil itu.
"Sudah berapa kali kukatakan jangan gigit bibirmu. Bicaralah Kyungsoo, aku akan mendengarkan."
Jika ada yang melihat mereka dalam posisi ini, sudah dipastikan betapa irinya orang-orang itu terhadap satu sama lain.
"Aku... Bisakah aku mengikuti kompetisi violin tingkat nasional?"
"Hng?" Kai hanya bergumam. Dia masih menikmati pijatan Kyungsoo dengan mata tertutup.
"Kompetisi violin national. Ada empat tahapan dengan seleksi pertama satu bulan lagi." Kyungsoo mencoba menjelaskan dengan hati-hati.
"Aku mau kau fokus belajar Kyungsoo."
"Tapi Kai..."
Pria itu beranjak bangkit mengejutkan Kyungsoo. Dia duduk bersila berhadapan, jemari telunjuknya mengangkat dagu Kyungsoo agar wanita itu menatapnya.
"Ya. Aku pernah berkata akan mengizinkan. Hanya saja tidak berdekatan dengan waktu ujianmu."
Kyungsoo kembali mengigit bibir bawahnya. Tanpa sadar wajah pria itu maju mengejutkan Kyungsoo.
Kai merasakan wajah Kyungsoo menegang, bibir kenyal nan lembut itu terlepas dari gigitannya. Rasanya tertarik oleh bibir tebal Kai.
Hanya sebuah ciuman singkat, tadinya.
Kai semakin menekan bibir kyungsoo, ia mengecup, menjilati bibir Kyungsoo bergantian.
Ciuman itu mengalir begitu saja, bagi Kyungsoo yang bahkan tidak pernah belajar melakukannya harus menerima ciuman yang begitu lembut dari Kai, membuatnya menginginkan lebih.
Kai sama sekali tidak ingin mendominasi Kyungsoo, selama ini ia hanya memberikan kecupan selamat pagi yang begitu singkat, Ia sadar Kyungsoo sangat jarang melakukan sebuah ciuman. Tapi oh ayolah, dia suami Kyungsoo. Dia tidak berdosa jika melakukannya. Ia memberi kesempatan untuk wanita itu membalas lumatan kecilnya, merasakan bibir Kyungsoo mengecup bibir tebalnya. Dengan sadar Kai menarik diri, dilihatnya Kyungsoo yang terengah-engah. Betapa meronanya wanita ini sekarang.
"Jangan memaksaku Kyungsoo. Fokuslah pada ujianmu terlebih dahulu."
"..."
"Jangan gigit bibirmu lagi."
Jari lembut berotot itu kembali melepaskan tautan Kyungsoo. Menarik Kyungsoo dalam sebuah pelukan hangat. "Kumohon jangan membuatku memaksamu Kyungsoo."
"Kai... Apa kau mau menghabiskan malam ini denganku?"
to be Continue...
Hallo ^^ Akhirnya kita sampai pada bagian ini. please corect me if yu find some typo and mistake. ask me if you confused ^^ Aku tidak dapat memberitahu lebih banyak hal lagi.
Good night and sleep well after read this chapter ^^
-nothing preview for next chapter-
[Part 2 : Get in TOUCH 171001]
