Bite (Versi Kaisoo)

Pairing : Kaisoo and other

Warning : Yaoi. OOC. OC. Lime. Lemon. Bahasa kasar. GS (untuk beberapa cast).

Rating : M

Summary : Kyungsoo terpaksa menyamar menjadi kakak perempuannya yang baru saja meninggal untuk mendapatkan dana asuransi kesehatan yang dimiliki kakaknya. "Aku benar-benar kecewa padamu Baek" –Kyungsoo. "… jika aku punya pasangan hidup, aku ingin orang itu adalah kau…" –Baekhyun. /Kaisoo/Chanbaek/and other pair.

A/N : Fic ini milik Nymous senpai selaku author originally-nya, Je Ra Cuma mengubah castnya dan sedikit meng-edit aja ( Je Ra tidak berniat merubah banyak karena terlalu suka sama seluruh isi fic ini ) dan Je Ra sudah mendapatkan izin untuk me-republish fic yang berjudul Bite ini ke Versinya Kaisoo jadi bagi Readers yang mugkin sudah pernah baca fic 'Bite' yang aslinya, Je Ra tegaskan ini bukan Plagiat ne ^^.

Chapter 10

Dikuncinya pintu kayu tebal itu lalu berbalik menatapku, mengacuhkan gedoran keras dari pintu di belakangnya dan caci maki Baekhyun yang murka di luar sana.

"Mau apa kau?!" tanyaku ketus.

Kai melangkah maju perlahan sambil melepas dua kancing atas kemejanya, "Ini sudah tiga hari, Kyungsoo."

Aku mengernyit tanda mengerti sekaligus tak senang, "Kau bilang kau bisa tahan lebih dari tiga hari jika aku sedang sakit." Sahutku. Apalagi ini semua gara-gara kau!

"Aku tau," katanya lalu bergerak mendekati ranjang tempatku berbaring, "Karena itu aku akan mengurus ini dulu." Sambungnya kemudian dan langsung menarik kain tebal yang menyelimutiku dan lalu membuka kancing celana panjang milikku serta menurunkan resletingnya kemudian menariknya lepas dalam satu kali tarikan.

"HEEEEEKKKKKHHH?! APA YANG KAU LAKUKAN BRENGSEEEKKK?!" teriakku histeris spontan menutupi forbiden spot-ku dengan kedua tangan.

Tangan kokoh milik Kai pun mulai bergerak mendekat ke pinggulku namun segera saja telapak tanganku melayang ke wajah stoic miliknya itu lalu mendorongnya penuh kejengkelan. "K-Kau pikir apa yang mau kau lakukan, ugh, berengsek...jangan berani-berani...," ujarku geram sambil terus mendorong wajah itu agar tangan Kai berada di luar jangkauannya untuk menyentuhku.

Dalam beberapa detik kami saling berseteru –aku menahan (mendorong) wajah Kai dan Kai terus saja menjulurkan tangannya yang kugenggam erat dengan tanganku yang satunya agar tidak bisa menyentuhku– tanpa mengeluarkan satu kata pun, hanya suara geraman jengkel tidak jelas keluar dari kerongkongan kami masing-masing.

Akhirnya Kai menarik diri. "Kau ini keras kepala sekali!" serunya dengan dahi yang berkedut.

"Kau sendiri apa?! Jangan pikir kau bisa seenaknya!" balasku tak kalah berkedut dahi dari Kai.

"Aku ingin membantumu, bodoh."

"Hah? Kau mau membantuku untuk apa dengan menanggalkan celanaku hah?! Vampir mesum!"

Kai hanya bisa memijit kening mendengar perkataanku itu lalu mendengus jengkel, "Dengar, aku ingin menolongmu." Katanya lagi sambil menunjuk tubuhku –pinggulku tepatnya.

"Ha? Bagaimana caranya?" tanyaku dengan wajah tidak percaya. Apa dia punya obat aneh lagi? – seperti minuman penambah darah waktu itu? Tapi apa hubungannya dengan menanggalkan celanaku?

"Makanya jangan banyak protes." Sahut Kai lalu kembali melangkah mendekat dan kemudian duduk di atas ranjang tepat di samping tubuhku.

Kemeja yang kugunakan cukup panjang jadi aku bisa menutupi wilayah selangkanganku –yang aku tidak ingin Kai lihat– dengan ujung kain bawahnya.

Kai lalu menggenggam pahaku sambil memasang wajah datar. Sementara wajahku sendiri sudah mulai merona karena disentuh seperti itu.

"J-Jangan macam-macam...aku tidak akan memaafkanmu...," ujarku gugup saat Kai mulai meraba wilayah dari perpotongan paha dan tulang pinggulku, membuatku harus menahan diri mati-matian untuk tidak mengeluarkan suara aneh dan juga teriakan.

Saat Kai merasa menemukan tempat yang tepat di pahaku ia lalu menggenggamnya kuat seolah siap untuk menggerakkan bagian itu. "Ini akan sedikit sakit," ujarnya sambil menatapku lirih dan setelah itu ia pun langsung menggerakkan tulang pahaku hingga terdengar suara tulang yang digeser dari tendonnya ke posisi yang benar.

"AAARRRRGGGGGHHHHHHH! AAAAARRRRGGGGGHHHHH! AAAAAAAAAAGGGGGGGGHHHHHH!" teriakan yang melengking hebat keluar dari tenggorokanku.

Kai sama sekali tidak bergeming untuk menutup lubang telinganya meski pun aku berteriak kencang di dekatnya, tapi aku sangat yakin suaraku bisa terdengar sampai ke dalam hutan. Dan pastinya juga oleh pria yang berada di luar pintu kamar ini.

"KYUNGSOO?! KYUNGSOOO?! KIM KAI APA YANG KAU LAKUKAN PADA KYUNGSOO?! BUKA PINTUNYA, BRENGSEK! KYUNGSOO!" suara gedoran di pintu kamarku sudah tidak terdengar seperti suara seseorang yang mengetuk menggunakan kepalan tangannya, tapi juga kini dengan kaki, bahu serta apapun yang bisa ia gunakan untuk membuat pintu itu bisa didobrak.

"Hahh...hahh...hahhh...ugh," nafasku terengah-engah. Yang tadi itu, hell! Sakit sekali! Aku berani taruhan kalau itu adalah rasa tersakit yang pernah aku rasakan seumur hidupku.

"Bagaimana sekarang?" tanya Kai bangkit dari duduknya sambil menatapku yang masih dalam posisi tidur terlentang dengan kepala yang sedikit medongkak di atas bantal sandaranku, mengambil nafas sebanyak yang aku bisa.

Eh? Tunggu dulu. Aku meraba-raba perpotongan pahaku –wilayah yang seharusnya nyeri tiap kali aku menyentuhnya. "Rasa sakitnya...hilang...," ujarku pelan nyaris kegirangan.

"B-Bagaimana bisa...?" tanyaku pada sosok yang masih berdiri di dekatku itu.

"Memang seharusnya di geser kembali ke tempatnya. Aku minta maaf soal itu...," kata Kai memasang wajah bersalah,

"Aku tidak sempat memperbaikinya kemarin, sudah terlanjur pagi. Aku cukup salut dengan dokter itu karena berhasil membuatmu bisa berjalan, tapi tetap saja ia hanya memberi obat anti sakit tanpa mengobati masalah yang sebenarnya. Kau tidak perlu khawatir, aku janji lain kali akan lebih berhati-hati."

"Ah, iya...kau harus..HEEKH? LAIN KALI?! LAIN KALI APANYA?! Jangan pikir aku mau...," protesku yang segera disambut sergapan Kai.

Pria berambut kelam ini langsung merebahkan dirinya ke atas tubuhku, memelukku dan membenamkan wajahnya di pundakku. Aku bisa merasakan bagaimana ia menghirup aroma tubuhku dalam-dalam di sana. Membuatku geli.

"S-Sialan...apa yang, NGH!" Lidahnya mulai menjilati leherku hingga ke belakang telinga dan membuat darahku segera berdesir hangat.

Sepasang taring –dengan tanpa persetujuanku– segera ditancapkan di sana perlahan. Tertanam sedikit demi sedikit seolah ingin aku menderita lebih lama dengan penetrasi menyakitkan itu.

"Guh, K-Ka..iihh..apa yang, AKH!" gigi taring itu pun segera ditancapkan keras dengan seenaknya. Membuatku hanya bisa menggerutu dalam hati.

Sakit...nyeri...dan sangat menusuk, seperti rasa pegal hebat menyerang bahumu lalu dihujani dengan ratusan jarum yang membuat luka berdarah di sana yang kemudian ditaburi garam, perih...sangat sakit, lebih dan lebih menyakitkan lagi saat mulut itu menghisap semua cairan merah yang bisa ia dapatkan dari lubang kecil yang ia buat di sana.

Tenggorokanku sampai terasa serak hingga tidak bisa mengeluarkan jeritan yang biasanya sangat mudah aku lakukan. Hanya suara berat dan gumaman yang tidak jelas yang mampu aku hasilkan selama kegiatan ini berlangsung. Seluruh energiku seolah ikut tersedot setiap Kai melakukan hisapan kuat dengan mulutnya.

'Acara' ini pun akhirnya selesai. Lebih cepat dari biasanya, baguslah. Kai bangkit lalu menatapku dengan kedua tangannya berada di sisi kepalaku sebagai penompang berat tubuhnya. Sempat aku berpikir setelah aku membongkar identitasku, aku tidak akan perlu lagi melakukan ini –menjadi 'makanannya'–, memang aku sendiri yang memberi tawaran, tapi aku 'kan mengatakan itu sebagai Sookyung.

Entahlah, aku rasa 'hal' ini akan terus berlanjut sampai aku pergi dari rumah ini, sampai aku menyelesaikan urusanku dengan pihak asuransi. Setelah itu, aku akan kembali ke kota, mengajak Baekhyun pulang dan hidup sebagai orang biasa lagi. Yah, mungkin aku akan butuh pekerjaan untuk menghidupiku, tapi aku rasa jumlah uang yang akan kuambil dari perusahaan asuransi akan cukup untuk membiayai hidupku dan keluargaku dalam waktu yang cukup lama.

Jadi aku mungkin tidak perlu terlalu ambil pusing soal cari kerja itu, aku tidak ingin berakhir seperti Baekhyun, dan aku juga tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi lagi pada sahabatku itu.

Kai mendekat, turun, dan menciumku.

Mataku membelalak karena disadarkan dari lamunanku dengan cara itu.

Segera saja aku berontak dengan mendorong badannya dengan kedua tanganku, tapi Kai langsung menahan kedua tanganku dengan menahannya di samping tubuhku.

Ia terus saja menempelkan bibir kami, sesekali memanggutnya dan beberapa kali menjilati belahan bibirku. "Unghh...mm..," tidak akan kubiarkan masuk!

"KYUNGSOOO! KYUNGSOO!" teriak Baekhyun dari luar.

Dia tidak henti-hentinya berteriak di luar sana, bahkan suara teriakannya semakin melengking sejak ia mendengar teriakanku tadi. Aku sampai mendengar ia sesekali terbatuk dan suaranya menjadi serak karena terus teriak.

Kai menghentikan aksinya dan menatapku dengan wajah yang jelas terlihat merasa terganggu dengan interupsi Baekhyun di luar sana. Tapi ia berusaha mengacuhkannya sekali lagi dan kembali menciumiku, tapi sebelum ia melakukan itu aku segera menepis,

"B-Baekhyun bisa mendobrak pintunya, Kai." Kataku dengan nada yang menyakinkan.

"Tubuhnya memang ringkih, tapi jangan remehkan otaknya, ia bisa membuat pintu itu terdobrak dengan cara lain," sambungku lagi sambil menatap Kai dengan yakin. Aku bohong sebenarnya...

Untuk beberapa detik Kai menatapku kurang yakin. Tapi akhirnya ia pun menyingkir dari atas tubuhku lalu berjalan untuk membuka pintu kamar yang tadi dikuncinya.

Adegan selanjutnya sangat mudah ditebak.

Baekhyun masuk dengan punggung berlatar belakang kobaran api, melabrak Kai segera dan memberinya semburan makian mentah-mentah dan hanya dibalas dengan cuek oleh si vampir menyebalkan ini.

Aku seribu persen yakin cercahan yang kurang begitu enak di dengar yang keluar dari mulut Baekhyun bisa berlangsung berjam-jam jika saja aku tidak segera menginterupsinya –apa lagi saat Baekhyun mendapati kondisiku (hanya memakai kemeja tanpa celana) dan Kai (yang kancing kemejanya sudah terlepas dua buah) – maka amarah Baekhyun pun semakin menjadi-jadi, berkoar-koar murka sudah seperti monster yang mengamuk.

Satu malam berakhir hanya dengan itu.

0l=======* Choose me *=======l0

"Hoammmhh!"

Hari ini aku bangun kesiangan. Ini semua gara-gara Kai yang terlihat begitu menyebalkan di mata Baekhyun, hingga Baekhyun nekat tidak pulang sebelum matahari terbit. Dan Kai juga menolak untuk turun sebelum Baekhyun keluar dari rumah ini.

Ahhh...! Mereka berdua itu..benar-benar masalah!

Siang ini aku terpaksa membuat makanan sendiri. Begitu malas keluar rumah –karena jika aku keluar itu artinya aku harus memasang gaun renda-renda itu–, jadi aku pun memasak sendiri. Hanya sayuran...dan itu sungguh menyiksa.

Si hijau, katak jelek peliharaan Sookyung, muncul dari tong sampah. Dia pasti mencari sisa-sisa makanan yang sepertinya hasilnya tidak begitu memuaskan. Kulemparkan potongan sayur selada ke arahnya dan segera di tolaknya dengan melompat di atas daun hijau segar itu.

"Cih! Dasar pilih-pilih! Aku juga menderita tau, hanya makan sayur aja! Terima saja nasibmu, katak jelek!" cercahanku yang hanya dibalas dengan suara "Froog~" keras yang tidak aku mengerti artinya.

Selesai memakan sayur-sayuran yang kuberi sedikit bumbu aku pun akhirnya menggerutu juga, "Aku tidak bernasib lebih baik dari seekor kambing. Makan daun hijau begini...hoekk, tidak enak!" ujarku sambil melempar garpu ke atas mangkuk berisi sayuran.

Terpaksa aku harus menggunakan gaun untuk mencari makanan layak untuk manusia di desa.

Secepat kilat aku segera menyambar satu baju sederhana dan menata wig-ku sebagus mungkin lalu segera membuka pintu.

"HYAAHH!" seruku kaget saat sesosok berambut coklat segera menyodorkan sebuah kotak sewarna dengan surainya yang dibungkus plastik tepat di depan hidungku. Apa itu? Bom?

"Makan siang." Sahut si 'penodong' datar, tidak merespon teriakanku seolah sudah biasa dengan itu.

"B-Baekhyun..kau, bisakah kau menyodorkan sesuatu dengan lebih sopan?" sahutku dengan muka kecut.

"Kau ini mudah sekali kaget, Kyungsoo. Belakangan ini...,"

"Ah, iya..terlalu banyak hal yang mengejutkan terjadi belakang ini soalnya...," kataku. Adegan hot yang kau lakukan dengan dokter itu juga salah satunya.

Baekhyun tidak mengubris dan langsung masuk sambil menanggalkan rompinya lalu menyampirkannya ke sofa. Duduk di sana dan menatap ke arahku.

"Apa lagi yang kau lakukan di sana? Ayo kemari, kita makan sama-sama. Aku juga belum makan dari tadi pagi." Panggilnya.

Aku pun segera meringsut ke sofa yang ada di hadapan Baekhyun dan langsung membuka kotak yang Baekhyun berikan padaku tadi.

Saat kotak coklat itu terbuka aroma bumbu menguar kuat meninju indra penciumanku. "WUAAHHH! Daging panggang!" seruku kegirangan. "Aku ambilkan tempat dulu, ya!" kataku kemudian dan segera berlari ke dapur.

Menyambar pisau dan sepasang piring secepat kilat dan kembali ke ruang tamu. Menata piring itu di sana, tak lupa menyodorkan satu piring, pisau dan juga garpu untuk Baekhyun.

"Kau yang terbaik Baek!" seruku dan langsung memotong daging panggang yang masih hangat itu kemudian memindahkan potongannya ke piring milikku. Baekhyun pun segera menyusul dengan melakukan hal yang sama.

"Nyem..nyem..kau buga bagu bagung sigang igi?" (baca: kau juga baru bangun siang ini?) tanyaku sambil mengunyah rakus potongan besar dari daging panggang bagianku pada Baekhyun yang tengah memotong kecil-kecil daging bagiannya dan mengunyahnya dengan lebih sopan.

"Hm, iya." Jawabnya mengerti betul dengan gumaman tidak jelasku.

Aku menelan semua kunyahanku sebelum kembali berkata, "Kau keras kepala sekali, sih. Sampai memilih pulang setelah mentari terbit."

"Aku sangat kesal padanya."

"Dia menolongku, Baekhyun."

"Tapi dia juga yang melukaimu. Kau tidak bisa menganggap itu sebagai hutang budi hanya karena ia memperbaiki kesalahan yang ia buat sendiri." Tepis Baekhyun.

Aku hanya bisa manyun mendengarnya. Aku mau bilang apa? Kalau aku terus-terusan membela Kai, kesannya jadi gimanaa gitu. Idih!

Setelah piring bekas makan kami bereskan bersama dan daging empuk yang –sedikit– sisanya kami berikan pada si hijau, lalu aku dan Baekhyun pun memutuskan berjalan-jalan di sekitar pekarangan rumah. Suhunya begitu sejuk meski aku yakin matahari sudah menggunakan tenaga penuhnya untuk membuat bumi seterik mungkin siang ini.

Baru saja aku akan memulai percakapan ringan dengan sahabatku ini saat tiba-tiba seseorang yang terlihat terburu-buru, panik, kesal, benci, dan tidak sabaran datang menghampiri kami dan segera berteriak. "DIMANA KAI?!"

EHH?

"Aku bilang dimana Kai?!" tanyanya sekali lagi dengan wajah penuh peluh, membuat riasan wajahnya agak sedikit luntur oleh keringat. Padahal wajahnya sudah cantik, kenapa harus di rias lagi?

"Apa kau tuli?! Aku bertanya padamu!" serunya lagi-lagi dengan suara yang sama sekali tidak ada sopan-sopannya. Dia ini kenapa sih?

"Eh, a-aku? Aku maksudmu?" kenapa dia bertanya tentang Kai? Dia ini...siapa?

"Kau ini bodoh atau apa?!" bentaknya lagi dan kali ini segera dilerai oleh Baekhyun. Baekhyun menjadikan tanganya sebagai pembatas di antara kami.

"Maaf, nona. Anda ini siapa? Dan apa yang Anda bicarakan? Kami tidak mengerti. Tolong...bisakah Anda sedikit bersikap sopan pada orang lain?" ujar Baekhyun memberi death glare yang tersembunyi di balik kulit wajah innocent-nya itu.

"Aku. Namaku Xi Luhan. Aku mencari Kim Kai. Katakan di mana dia sekarang!"

"A-Aku...," ujarku tergagap. Apa yang harus aku katakan? Dia ini mau apa mencari Kai...

"Kumohon...," gumam gadis cantik berambut pink panjang yang ia urai ke belakang punggungnya ini. Gaun merahnya begitu indah, sempat aku berpikir kalau dia ini pemain opera – dari mendengar nada tinggi suaranya juga–. "Aku...hiks, aku harus bertemu dengan Kai, sekarang...,"

"Kenapa Nona berpikir Kai ada di sini?" tanya Baekhyun tanpa sedikit pun menyiratkan kalau Kai memang ada di sini.

Gadis bernama Luhan di hadapanku ini langsung berbalik bengis, "Jangan berbohong, aku dengar dari warga desa kalau gadis berambut pirang ini selalu berada di dekat Kai, aku yakin, dia pasti tinggal di sini. Kau pasti menyembunyikannya!" serunya sambil menunjuk-nunjuk wajahku.

Eh? Tu-tunggu dulu... dia ini sebenarnya siapa sih? Menyebalkan sekali sikapnya ini!

"Kau ini siapa? Kenapa kau mencari-carinya?!" balasku sudah tidak tahan sejak tadi terus-terusan dikatai, tuli, bodoh, pembohong! Enak saja mulutnya itu!

Baekhyun sampai berdelik ke arahku. Oke, jangan salah paham Baekhyun, aku bukannya sedang membela Kai atau terlihat tidak ingin ada yang mendekati Kai. Aku hanya...benci terus-terusan dikatai seperti itu oleh orang yang tidak aku kenal.

Luhan kembali ke mode sedih –dia ini benar-benar pemain opera ya? Mudah sekali ia mengubah-ubah emosinya–.

"Aku...," ujarnya lirih, terdengar begitu berat untuk melanjut kalimatnya. Di pegangnya perutnya yang datar dengan kedua tangannya lalu menunduk dalam dengan wajah memerah dan mata penuh air mata. "Aku hamil... Aku hamil anak Kai..."

.

Syok.

Lidahku keluh dan mataku membulat sempurna mendengar penuturannya. Bisa kurasakan kakiku membatu seolah tertanam ke dasar tanah hingga aku tidak bisa bergerak seinchi pun dari tempatku.

Gadis di hadapaku ini...mengandung anak Kai? Apa tidak salah? Dia...

"Kyungsoo, masuklah ke dalam, aku akan berbicara sebentar dengan Nona ini." Sahut Baekhyun yang tidak begitu terdengar jelas ditelingaku, aku begitu terhenyak dengan pernyataan gadis merah muda ini.

Aku hanya bisa mendengar kata "masuk" dari keseluruhan kalimat yang Baekhyun katakan padaku. Tapi aku mengerti, kakiku segera bergerak dengan sendirinya membawaku masuk ke dalam rumah.

Di dalam naungan bangunan berlantai dua yang sejuk ini aku mulai bisa menyegarkan kembali kesadaranku. Aku mengerti, aku mengerti alasan kenapa Baekhyun menyuruhku masuk ke dalam rumah.

Aku harus menemui Kai!

Suara langkah kaki yang terburu-buru dan papan kayu –yang menjadi pintu masuk ke ruang bawah tanah– yang kubanting agak keras membuat rumah ini menjadi begitu gaduh tapi hanya sebatas di dalam rumah. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membangunkan seseorang di bawah sana bahkan sebelum aku menemuinya di dalam jeruji tempat ia sedang berbaring.

"Duduk, Kyungsoo. Tempatmu berdiri membuatmu terlalu silau untuk mataku." Sahut suara bariton yang ada di hadapanku ini saat aku berdiri di tempat di mana sinar matahari yang masuk dari ventlasi satu-satunya di ruangan gelap ini jatuh tepat di wajahku.

Tapi aku tidak menuruti tawaran Kai untuk duduk di dekatnya, melainkan melangkah mundur menjauh –hanya untuk sekedar agar sinar matahari itu tidak menerangiku lagi.

"Ada apa?" tanyanya saat menyadari kalau aku sedang dalam mood yang tidak begitu baik saat ini.

"Seorang gadis diluar sana...sedang mencarimu." Jawabku ketus.

"Siapa?"

"Namanya Xi Luhan."

"Hn."

"Apanya yang 'Hn'? Aku pernah mendengar kau menyebut namanya di kedai desa waktu itu. Kau bilang pada bibi pelayan itu kalau kau sibuk menjadi pengacara Nona Xi. Tapi selanjutnya kau bilang padaku kalau itu bohong. Lalu siapa gadis rambut permen bernama Luhan di luar sana itu?" tanyaku tegas.

Kai mendengus sambil tersenyum geli, "Apa ini? Apa sekarang kau mau bilang kalau kau cemburu?"

EHK?

"Aku tidak! Tapi kau berbohong padaku! Luhan bilang kalau kau...kalau dia...,"

Kai menatapku lurus, menunggu lanjutan kalimat yang terasa begitu susah untuk aku utarakan...berat.

"Dia bilang kalau dia sedang hamil. Dia mengadung anakmu." Kataku akhirnya dengan susah payah.

Kai tidak begitu merespon seolah ia tidak mendengar kalimat yang barusan aku katakan. Kutatap mata kelam miliknya itu dan terkejut melihat bagaimana sorot mata itu menatapku tajam seolah berkata 'Kau yakin dengan ia berkata seperti itu?'

"Kau sungguh-sungguh percaya dengan apa yang ia katakan? Apa aku nampak seperti orang yang seperti itu, Kyungsoo?" tanyanya lagi tanpa mengurangi intensitas tatapan tajamnya, membuatku segera kikuk dan gugup.

"Err...kau..kau ini mesum, jadi...," kataku bergumam tidak jelas sambil menoleh ke arah lain.

Kai segera menggenggam tanganku dan membiarkan sebagian kulit tangannya terkena terpaan sinar matahari. Kulitnya segera berasap seperti besi yang ditetesi asam sulfat pekat. Tapi Kai tidak bergeming dan terus menatapku tajam, "Apa aku terlihat seperti itu, Kyungsoo?" tanyanya sekali lagi.

Aku tidak bisa menjawab. Aku tau dia gay tapi tetap saja, sifat mesumnya yang kelewatan itu mau tidak mau membuatku berpikir apa dia itu bisa melakukan hal 'itu' dengan siapa saja kapan pun ia mau atau tidak. Jangan salahkan aku! Kau itu mesum! Jadi bisa saja 'kan!

"AH!" aku memekik saat Kai tiba-tiba menarikku ke arahnya, membuatku jatuh setengah terbaring di sampingnya –persis dengan posisi saat pertama kali dia akan 'memakanku'. Menyadari posisi yang tidak begitu aman itu aku segera memberontak dan mengambil posisi duduk yang benar di atas tumpukan jerami itu sementara Kai –karena tadi sempat kudorong– melangkah mundur dan berdiri di depanku.

Kami saling bertatapan sesaat sebelum Kai melangkah mendekat, jongkok di depanku yang masih duduk di atas tumpukan jerami. Lagi-lagi iris onyx itu menatapku serius.

"Aku pernah bertemu dengan Xi Luhan di sebuah bar minuman dan lalu berbincang sebentar saat aku ke kota. Hanya itu, tidak lebih." Ujar Kai.

Aku bisa melihat kejujuran di matanya. Tapi… "Bisa saja kau mabuk dan...," kataku.

Kai mendengus, "Kau pikir akan membiarkan diriku mabuk? Apa jadinya jika aku mabuk lalu terbangun di sebuah kamar dengan jendela besar terbuka lebar dan mengundang semua sinar matahari masuk untuk membakarku hidup-hidup? Aku tidak seceroboh itu, Kyungsoo. Aku sudah hidup ratusan tahun untuk tidak pernah membiarkan diriku jatuh dalam lubang kekonyolan seperti itu." jelas Kai.

"Err...," um, apa lagi yang bisa aku katakan? Mungkin aku bisa bilang pada Luhan kalau Kai...eh? Tunggu dulu.., "Apa Luhan tau kau ini...vampir?" tanyaku mawas diri.

"Tidak." Jawab Kai.

Begitu, ya...

Melihatku yang terdiam dan sibuk memikirkan kalimat apa lagi yang harus kukatakan Kai lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirku lembut.

"Eh!" pekikku segera menutupi mulutku saat Kai mundur dan memberiku senyuman.

"Aku hanya tertarik padamu. Tidak semudah itu aku berpaling pada wanita seperti Luhan itu." Sahut Kai lalu mulai mengusap betisku ke atas hingga ke paha. Membuat gaun yang kugunakan juga ikut tertarik ke atas.

Diselipkannya kedua tangannya itu ke dalam rok milikku dan menarik turun celana panjang yang kugunakan di baliknya dalam sekali tarikan.

"EHHH! Kau mau apa?!" seruku panik sambil mendorong bahunya dengan kedua tanganku.

Saat celana panjangku itu Kai biarkan tergeletak di atas lantai berjerami lima senti dari kakiku yang mengantung karena duduk di atas tumpukan jerami yang agak tinggi, si vampir menyebalkan ini lalu menganggkat rokku dengan seenaknya dan secara refleks kusambut dengan menahan bagian yang bisa menutupi bagian selangkanganku agar tidak dilihat oleh Kai yang sedang dalam posisi yang membahayakan –jongkok di depanku.

"Akan kutunjukkan sesuatu yang menarik. Anggap saja ini juga sebagai permintaan maafku karena telah menyakitimu kemarin lalu," ujar Kai memandangku dengan tatapan penuh arti.

Glek!

Kai kembali mendekatkan wajahnya dan lagi-lagi menciumku. "Ngh...!" lengguhku saat ciuman Kai mulai berubah menjadi panggutan. Apa-apaan ini? Kenapa aku tidak bisa menolak? Tubuhku rasanya tidak punya niatan untuk menolak sentuhan ini.

Tangan Kai menarik daguku untuk memperdalam ciumannya. Terasa geli saat Kai menjilati bibir dan wajahku, "Ngh...AH!" pekikku terkejut saat sebuah tangan besar menggenggam 'milikku' tiba-tiba. Sejak kapan dia berhasil menerobos?!

"Ah! Ahn...ah, Kai...hentikan! Ngh!" desahku terus-terusan saat dengan perlahan dan begitu sensual Kai memijat-mijat penisku naik turun, "Uh, Ngh...jangan..!" rasanya benar-benar memalukan!

Sambil terus berusaha menyingkirkan tangan yang tengah 'menggangguku' itu Kai menggunakan kesempatannya untuk membuka lebar-lebar rok milikku dan lalu mendekatkankan wajahnya.

"AH! J-Jangan! Jangan, Kai! Itu cukup...NGH! kau tidak perlu sampai...aahhnn..ngh.."

Desahanku tak tertahankan saat kurasakan Kai menciumi dan menjilati penisku dengan erotis.

Dan kembali aku tercekat saat Kai tiba-tiba memasukkan semua 'milikku' itu ke dalam mulutnya yang basah dan begitu lembab. Menghisapnya dengan lembut sambil bergerak maju mundur menciptakan sensasi yang begitu memabukkan menjalar ke seluruh engsel tubuhku, membuatku lemas seketika.

"Ahn...ngh, ah...nh...ah, ngh...," rasanya begitu hebat. Aku memang pernah melakukan masturbasi tapi...bermain dengan tangan rasanya tidak senikmat ini.

"NH!" desahku sambil meremas rambut hitam Kai dengan gemas. Melihat bagaimana kepalanya itu naik turun di selangkanganku membuat seluruh darah di tubuhku mengalir deras bak air terjun.

Ruangan ini agak gelap tapi aku bisa dengan jelas melihat dari jarak sedekat ini bagaimana penisku masuk ke dalam mulut Kai. Dibasahi dan didalam sana.."NGH!" dihisap dan dimainkan dengan begitu vulgar oleh lidahnya. Ah! Bagaimana bisa lidahnya bermain seperti itu...

Normal POV:

Sementara itu Baekhyun akhirnya tidak berhasil menyakinkan Luhan untuk kembali. Bagaimana pun ia berusaha menyakinkan gadis itu untuk tidak menganggu Kai, meski pun dengan berat hati ia harus berkata kalau Kai sudah memiliki orang yang penting dalam hidupnya.

Si gadis berambut merah muda yang keras kepala itu pun bersikeras untuk menemui Kai. Meski Baekhyun sudah memperingatkannya, tapi Luhan tetap ingin menemui Kai dengan dalih untuk meminta pertanggung jawaban.

Pria bertampang stoic dengan surai brown itu pun lalu mengantar Luhan ke ruang bawah tanah dan dengan tidak sabarannya si rambut pink pun segera menuruni tangga tergesa-gesa dan bersiap meneriakkan nama Kai di tempat yang gelap itu sebelum suara-suara aneh tertangkap oleh indra pendengarannya.

"NGH! Cu-Cukup Kai! AH! Ah! Ngh! Cukup...aku mau...NGH!" dari dalam kegelapan, samar-samar iris mata deer nya melihat gerakan mencurigakan yang dengan mudah ia simpulkan dan tau gerakan apa itu dari balik ruangan berjeruji di ujung ruangan sana.

Nafasnya tercekat melihat pemandangan samar-samar namun sangat jelas bagi imajinasinya itu.

"Bagaimana? Apa kau sudah puas, Nona Luhan?" sahut Baekhyun dari atas.

Dengan wajah penuh air muka kecewa dan memerah kesal Luhan lalu segera beranjak pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Sementara itu di bawah sana. Di balik ruang berjeruji tempat Kyungsoo dan Kai tadi 'bermain'. "Hahh...hahh...hahhh...," Kyungsoo kewalahan, tubuhnya yang penuh peluh namun masih dengan pakaian lengkap –minus celana panjangnya– terlentang di atas tumpukan jerami.

Kai bangkit berdiri dari tempatnya sambil mengelap mulutnya dengan telapak tangan kanan miliknya, "Kau datang cepat sekali." Ujarnya sambil menatap mesum pada Kyungsoo yang masih sibuk mencari oksigen.

Kyungsoo mendelik, " DASAR BRENGSEK ! APA-APAAN KAU ITU!" teriaknya kesal.

"Memangnya kenapa? Kau menikmatinya juga 'kan?" sahut Kai sambil menjilati bibir bawahnya, membuat Kyungsoo kembali blushing karena teringat bagaimana Kai menelan sperma yang ia keluarkan saat ia klimaks tadi.

"K-Kau...vampir menyebalkan dan mesum! Si gadis kepala permen itu masih ada di atas dan kau seenaknya malah..., ugh! Bagaimana kalau ada yang lihat, brengsek! Dasar yadong!" hardik Kyungsoo lagi.

"Memang sudah ada yang lihat. Gadis bernama Luhan itu tadi datang diantar oleh si pretty boy itu kemari." Ujar Kai berekspresi seolah itu bukan masalah besar. Justru merasa kalau itu menyelesaikan masalahnya.

Tapi berbeda dengan Kyungsoo, dia...

"AAAPPAAAHHHHHHH?!"

Setelah teriakan mengelegar itu, Kyungsoo segera menyambar celana panjangnya dengan asal-asalan sambil memaki-maki Kai dengan kesal. Setelah itu ia pun meninggalkan Kai untuk naik ke atas dan segera menemui Baekhyun.

"Dia sudah pergi." Jawab Baekhyun saat Kyungsoo menanyakan keberadaan Luhan. Jadi tadi dia benar-benar melihatnya?

"Baekhyun..kau, kenapa kau membiarkan Luhan turun?" tanya Kyungsoo berkerut dahi. Bukankah Baekhyun tidak suka dengan Kai? Seharusnya dia membiarkan Luhan menemui Kai bukannya..

"Aku tau kau pasti akhirnya menemui Kai, dan aku yakin setelah kau menjelaskan tentang kedatanganLuhan padanya dia pasti akan melakukan 'sesuatu' padamu. Aku menggunakan kesempatan itu untuk membuat Luhan menyerah." Jelas Baekhyun, entah mengapa kedua orang ini memilik jalan pikiran yang hampir sama.

Apa orang-orang jenius memang punya ikatan pikiran yang kuat?

"Tapi Luhan itu mengandung anaknya...,"

"Kyungsoo, kau ini benar-benar naif." Sela Baekhyun sambil menatap Kyungsoo lirih.

Kyungsoo hanya bisa menatapnya bingung. Apa maksud perkataannya itu?

"Kau seharusnya lebih tau, kalau Kai tidak akan tidur dengan wanita itu," oke, Kyungsoo tau kalau Kai memang gay, lalu?

"Kau sendiri sudah dengar 'kan kalau sebelumnya dia membunuh semua wanita penghibur di desa ini dengan menghisap darahnya?" Kyungsoo mengagguk,

"Memangnya kau pikir alasan logis apa yang Kai punya untuk tidak membunuh si gadis berambut pink itu setelah menidurinya?"

Kyungsoo terdiam sesaat, berpikir,"Ah...aku tidak mengerti...jadi maksudnya?"

Baekhyun mendengus pasrah, "Dia berbohong, Kyungsoo. Dia tidak hamil. Itu tipuan yang sangat kuno untuk mendapatkan seorang pria." Ujarnya

"Jadi dia tidak...? Tapi 'kan..." Kyungsoo masih belum paham.

"Aku yakin si gadis bernama Luhan itu bertemu dengan Kim Kai di suatu tempat dan mungkin mereka mengobrol sebentar kemudian Luhan tergila-gila padanya hingga akhirnya memilih berpura-pura hamil untuk mendapatkan Kim Kai." Jelas Baekhyun sekali lagi membuat Kyungsoo kembali takjub.

Kesimpulan sederhana begitu saja sama sekali tidak bisa Kyungsoo pikirkan sebelumnya dan malah langsung menelan metah-mentah apa yang di katakan oleh gadis merah muda itu.

Untuk menjernihkan kepala atas insiden tadi, Baekhyun lalu mengajak Kyungsoo untuk ke desa. Ada sebuah festival kecil-kecilan yang sedang berlangsung di sana. Dan itu segera membuat Kyungsoo menarik dompet yang berisi uang seadanya miliknya untuk segera meluncur ke sana.

Akan ada banyak hal menarik menurutnya, karena itu ia harus membawa semua persediaan uangnya. Toh sebentar lagi dana asuransi akan segera datang, jadi ia bisa sedikit bersenang-senang.

Sesampai di sana terlihat satu desa telah diubah menjadi pasar. Kios-kios dan tenda-tenda berbagai macam bentuk bertengger di pinggir jalan. Semua orang begitu antusias bahkan Baekhyun sekalipun.

"Aku kesana, Kyungsoo." Seru Baekhyun.

"Tu-Tunggu Baek! Kau mau kemana?! Ayo kita coba tenda ramalan di sana!"

"Heh? Aku tidak tau kalau kau percaya dengan hal-hal seperti itu, Kyungsoo." Sahut Baekhyun menatap sahabatnya itu bingung. Tapi ia tidak ada waktu untuk hal-hal yang seperti itu, ia ingin sekali membeli sebuah jam pasir dengan penyangga bewarna merah hitam di kios sana.

"Hehe, iseng saja, ayolah! Kau 'kan sudah punya jam pasir Baek, sebentar saja, sini!"

"Kau ke sana saja, aku akan ke kios itu sebentar lalu kembali lagi ke sini."

Kyungsoo merunggut tidak senang tapi akhirnya setuju saja.

Baekhyun pun menghilang di dalam kerumunan dan Kyungsoo segera melangkah mendekati nenek tua berjubah hitam di dalam tenda kecil yang juga bewarna hitam itu seorang diri. Agak menyeramkan tampang nenek tua ini, itulah mengapa Kyungsoo bersikeras ingin Baekhyun menemaninya.

"Hoo...manis sekali...kemarilah, letakkan tanganmu di atas meja kecilku ini." Seru si nenek tua lirih.

Kyungsoo pun segera meletakkan tangannya di sana dan si wanita tua segera menggumamkan sesuatu, "Berhati-hatilah dengan seseorang yang tengah dekat denganmu."

'Heh? Kai maksudnya?' pikir Kyungsoo.

"Dia...berpotensi menghianatimu...,"

'Hoo...aku rasa yang ia maksud adalah Luhan...tapi 'kan Luhan berbohong jadi...'

"Bukan...," kata nenek itu lirih, seolah bisa membaca pikiran Kyungsoo. "Tapi oleh jenisnya sendiri...,"

'Hehhh? Nenek ini tau kalau Kai gay?!' pekik Kyungsoo dalam hati.

"Ada banyak rahasia yang belum ia ceritakan padamu dan kemungkinan tidak akan pernah ia beritahukan...,"

"A-Apa sebenarnya maksud perkataanmu, nenek?" tanya Kyungsoo semakin bingung. Nenek ini benar-benar mencurigakan. Apa semua peramal memang tampangnya berkeriput dan menyebalkan begini?

Wanita tua dibalik tundung hitam itu mengangkat wajahnya dan lalu tersenyum miris.

"Kau bisa 'mati'..."

.

.

.

'Kai berpotensi menghianatiku? Memangnya...hubungan kami ini apa? Kenapa Kai bisa menghianatiku kalau hubungan kami...tidak jelas?'

'Aku akan 'mati'... itu...'

"Huh? Eh, dia ini 'kan...," seru Baekhyun yang sudah kembali sambil mengendong jam pasir incarannya di lengan. Kyungsoo segera berbalik agak terkejut.

"Ah, aku ingat. Kau ini peramal yang waktu itu berkata padaku kalau aku akan pendapatkan harta karun saat aku baru saja memberikan boneka beruangku pada Kyungsoo, iya 'kan?" sambung Baekhyun sambil menepuk kepalan tangannya di atas telapak tangan yang satunya –meniru gerakan yang biasa Kyungsoo lakukan–, tetapi dengan wajah datar.

"EH?"

Bibir Baekhyun sedikit mengerucut, "Tapi itu tidak benar. Aku sama sekali tidak pernah mendapatkan harta karun apapun sampai sekarang. Ini penipuan." Sahut Baekhyun nampak tidak senang di balik wajah innocent-nya itu.

"Ehehe, begitu, ya?" Kyungsoo tertawa gugup, entah mengapa ada sedikit rasa lega bersemayam di dadanya. Peramal ini mungkin salah...

"Apa yang ia katakan padamu?" tanya Baekhyun berbalik pada Kyungsoo.

"Bu-Bukan hal penting. Aha-ha-haha...,"

0l=======* Difficulity *=======l0

Hari itu Baekhyun datang hanya sekedar untuk membelikan makanan untuk Kyungsoo. Seolah bisa tau kalau Kyungsoo akan bangun kesiangan dan pasti lebih memilih untuk memakan apapun di dalam rumah itu daripada harus menggunakan gaun lagi –setelah akhirnya bisa menggunakan kemeja dan celana– untuk keluar mencari makan.

Baekhyun bahkan rela untuk tidur di dalam kereta yang tengah membawanya ke desa untuk mengganti tidurnya yang masih sangat kurang untuk bisa sampai ke tempat Kyungsoo tepat waktu. Kyungsoo tidak perlu tau tentang pengorbanannya itu, lebih baik ia tidak tau sebanyak apa ia berkorban selama ini untuk si pirang itu. Lebih baik tetap seperti ini...itu akan jauh lebih membuat Baekhyun tenang.

Sahabatnya itu adalah satu-satunya aset yang menjadi alasannya untuk tetap hidup, tidak peduli betapa pun Kyungsoo akan marah dengan sikapnya itu, ia akan tetap berkorban untuk Kyungsoo...sekali pun suatu saat nanti, jika Kyungsoo akan bahagia dengan orang yang paling Baekhyun benci sekali pun, ia akan rela.

Rela jika itu benar-benar akan membuat Kyungsoo jauh merasa lebih baik. Hal itu perlu dicamkan baik-baik...'Hanya jika Kyungsoo merasa lebih baik dengan itu.'

"Haahh...Baekhyun itu, kenapa dia tidak sekalian datang malam saja, kalau harus kembali lagi tadi siang? Merepotkan sekali harus pulang balik dua kali antara kota dan desa ini." Gerutu Kyungsoo sambil tidur telungkup di atas sofa panjang dengan bertumpu dagu, menatap bosan pada pintu ruang tamu yang ada di depannya, tempat Baekhyun menghilang pergi beberapa jam yang lalu.

Jendela-jendela besar yang berjejer di kedua sisi pintu utama itu mulai terlihat bewarna jingga oleh pantulan sinar matahari yang tengah beranjak dari singgasananya menuju sisi lain dari bumi ini.

Kegelapan segera menyelimuti dan membuat Kyungsoo semakin malas untuk beranjak dari tempatnya. Apa lagi yang bisa ia lakukan memangnya? Tugas selanjutnya yang harus ia lakukan adalah tinggal menunggu Baekhyun untuk membawakan dana yang sudah diurusnya.

Kyungsoo sudah berdandan sebaik mungkin seperti yang Baekhyun pesan. Dan menunggu adalah hal termenyebalkan yang bisa Kyungsoo pikirkan, keringat gerah karena baju besar yang ia gunakan membuat Kyungsoo agak risih. Riasan yang Kyungsoo gunakan seadanya pun jadi agak luntur dan Kyungsoo begitu enggan untuk membereskannya kembali.

"Bisakah kau nyalakan lampunya setelah langit gelap, mata besar?"

Mendengar sahutan itu, dahi Kyungsoo mengerut dan memilih tetap pada posisinya. "Sejak kapan kau suka terang, hah?" balasnya ketus.

"Hoo, jadi kau suka kegelapan sekarang? Menarik sekali." Sahut si rambut raven berusaha menggoda.

Kyungsoo akhirnya memilih bangkit dan mengambil posisi duduk yang benar. Kalau di pikir-pikir lagi posisinya tadi 'agak' sedikit mengundang, apalagi bagi seseorang yang hobi 'main belakang' seperti si vampir menyebalkan dan gila –menurut Kyungsoo– itu.

Kai melangkah mendekat, duduk di samping Kyungsoo dan membuat si pirang jadi agak kikuk, "Apa-apaan riasan aneh ini, lutur semua. Apa kau tidak mandi sore?" ujar Kai lalu mulai mengusap pipi dan kening Kyungsoo lembut dengan jemari tangannya.

"A-Aku tau! Aku akan mencuci muka saja. La-Lagipula...mandi hanya akan membuatku kerepotan untuk menanggalkan dan memasang baju payung ini!" tepis Kyungsoo segera bangkit dan merentangkan pakaiannya, menunjukkan pada Kai betapa merepotkannya kain besar yang menjadi roknya itu.

Kai tersenyum sambil menyipitkan mata, "Hm, aku bisa membantumu menanggalkan dan memasangkan kembali gaun itu jika memang itu masalahnya."

Kyungsoo merunggut tidak senang.

"Kyungsoo...," ucap Kai lirih kemudian, "Ada yang ingin aku tanyakan padamu...,"

"He? Apa?" tanya Kyungsoo menyipitkan matanya, bersiap-siap kalau Kai akan mengatakan hal-hal yang bertujuan menggodanya lagi.

Tapi Kai menatapnya dengan serius dan lalu terlihat membuka bibirnya untuk bicara.

"Apa kau...mencintai Baekhyun, Kyungsoo?"

Ada keheningan sesaat yang melingkupi kedua pria itu dalam keremangan cahaya yang tidak begitu memadai untuk menerangi semua bagian ruangan tempat mereka berada.

Kyungsoo berdiri hening di tempatnya, sementara Kai duduk di atas sofa empuk tanpa melepaskan tatapan matanya, seolah siap menangkap sekecil apapun gerakan yang akan Kyungsoo buat yang akan membantunya membuat kesimpulan sendiri akan pertanyaannya.

Tapi Kyungsoo tetap mematung, menatap lurus pada onyx milik Kai dengan bingung. Apa maksudnya bertanya seperti itu?

Oke. Baiklah, Kyungsoo memang tidak amnesia dan ingat betul kalau Kai pernah berkata kalau ia jatuh hati padanya –meski pun ia mengatakan itu ketika ia masih berpikir Kyungsoo adalah Sookyung– tapi Kai itu 'kan gay, jadi otomatis pernyataannya waktu itu secara tidak langsung sebenarnya ditujukan pada Kyungsoo, bukan Sookyung.

'Ahh...bagaimana ini?'

Apa dia bertanya seperti itu karena cemburu? Cemburu pada Baekhyun?

Tapi kalau ditanya apa Kyungsoo cinta pada Baekhyun rasanya bingung juga. Ia menyukai Baekhyun, Baekhyun adalah sahabatnya sejak kecil. Tidak ada yang paling mengerti Kyungsoo selama ini selain Baekhyun. Apa itu artinya Kyungsoo mencintai Baekhyun...begitu?

"Kyungsoo?"

"A-Aku...Aku...," Kyungsoo bingung, "Ke-Kenapa kau harus bertanya hal seperti itu, sih?" serunya kemudian, memasang wajah tidak senang. Kalau ditanya begitu dia 'kan juga bingung!

"Kenapa? Apa pertanyaan itu sebegitu sulitnya untuk kau jawab?" sahut Kai sinis. Kalau si Baekhyun itu hanya dianggap sebagai teman saja, Kyungsoo pasti tidak akan susah menjawab pertanyaannya 'kan? Kecuali kalau dia memang...

Kyungsoo tertegun, "Baekhyun itu sahabatku! Aku menyukainya, dia adalah satu-satunya orang yang paling mengerti seperti apa aku ini bahkan melebihi orang tuaku sendiri...bahkan lebih dari Sookyung sendiri...," gumam Kyungsoo terlihat berpikir.

Dia benar-benar menganggap Baekhyun spesial untuknya...begitukah?

"La-Lagipula itu tidak ada hubungannya denganmu! Bukan urusanmu jika aku mencintai atau menyukai Baekhyun atau tidak!" bentak Kyungsoo, tidak senang urusannya diganggu lebih dari ini. Tidak suka jika Kai membuatnya kebingungan.

Dia masih ingin marah pada Kai yang selalu mengganggunya. Tidak peduli walaupun sekarang ia sudah tau kalau dirinya bukan Sookyung, si vampire menyebalkan ini masih saja suka seenaknya.

Kai bangkit dari sofa dan menarik tubuh Kyungsoo, mendorongnya dan membenturkan tubuh yang lebih kecil darinya itu ke tembok yang ada di belakang Kyungsoo.

"UGH!" pekik Kyungsoo saat punggungnya berbenturan dengan tembok beton yang keras. Di bukanya mata biru miliknya perlahan untuk menatap onyx yang tengah melemparkan deathglare mentah padanya itu.

Tubuhnya diangkat sedikit dari tanah oleh kedua tangan Kai yang menahan pinggulnya hingga kedua kakinya menggantung di udara.

"Tu-Turunkan aku!" gerutu Kyungsoo sambil berusaha seberani mungkin untuk menatap langsung kedua iris mata Kai yang masih memandangnya tajam.

"Apa mau kutunjukkan 'sekali lagi' alasan kenapa hal itu ada hubungannya denganku?" gumam Kai.

Kai mendekatkankan wajahnya dan mencium kasar Kyungsoo. Memanggut bibir si pemilik iris shappire itu dengan paksa.

Kyungsoo tidak punya cukup pilihan untuk melawan. Posisinya yang menggantung membuatnya tidak bisa leluasa untuk menggunakan kedua tangannya dan hanya bisa melenguh tertahan dengan serangan Kai yang memabukkan itu.

Tiap kali Kyungsoo menghirup nafas yang Kai hembuskan, ia semakin tidak bisa berpikir jernih. Tidak peduli Kai memanggutnya dengan kasar dan penuh paksaan, Kyungsoo tetap merasa nikmat dengan sentuhan itu, betapa pun hal itu sangat bertentangan dengan harga dirinya. Membuat Kyungsoo semakin kebingungan.

Tidak butuh waktu lama untuk Kyungsoo membuka mulutnya agar disambut oleh Kai. Tapi baru saja Kai akan mengeksplorasi salah satu bagian terfavoritnya itu ketukan pintu yang tepat berada di samping mereka segera menginterupsi dengan menyebalkannya.

Kai ingin sekali membawa Kyungsoo pergi ke ruang bawah tanah saat itu juga atau mungkin ke kamar Kyungsoo lalu menguncinya dari dalam untuk melanjutkan 'serangan'nya. Tapi bagaimana pun juga ia tidak bisa seenaknya merusak rencana Kyungsoo untuk menyelesaikan urusannya dengan pihak asuransi.

Mau tidak mau, Kai harus menundanya dulu. Kyungsoo pun ia turunkan dan segera menjauh.

Sebelum Kyungsoo membuka pintu, ia mengelap bibirnya yang basah terlebih dahulu dengan wajah memerah dan mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghindari bertatapan dengan Kai, 'vampir brengsek!' gerutunya dalam hati.

Setelah membenahi wig-nya, Kyungsoo lalu menggenggam kenop bulat dari pintu depan yang akan dibukanya. Ia berbalik sebentar untuk melihat apa Kai sebaiknya tetap di sini atau tidak saat ia menerima tamu dari pihak asuransi ini, tapi ternyata Kai sudah menghilang dari ruangan itu, membuat Kyungsoo pun segera membuka pintu rumahnya untuk menyambut tamu penentu dari berakhirnya perannya sebagai Sookyung palsu itu, dan juga yang akan menentukan apa ia akan tetap berada di rumah ini atau tidak.

Semuanya tergantung dari sejauh mana ia bisa berperan baik sebagai Sookyung di hadapan tamunya kali ini.

"Selamat malam Do Sookyung ssi," ucap pria cantik berambut brown saat Naruto membuka pintu. Baekhyun hadir sebagai pihak asuransi yang mengantarkan uang kepada Kyungsoo dan lalu pria di belakangnya itu...

"Perkenalkan, ini tuan Shindong, beliau adalah inspektur yang bertugas menemaniku ke tempat ini dan juga yang menjagaku selama transaksi berlangsung." Sambung si rambut brown sopan, kembali bersikap layaknya sedang berhadapan dengan Sookyung.

Pria bertubuh subur itu memberikan senyuman ramah pada Kyungsoo. Entah bagaimana cara polisi gendut ini melindungi Baekhyun jika sampai ada yang merampoknya dalam perjalan kemari. Apa dia bisa berlari? Ataukah...dia seorang penembak jitu sebagai ganti ketidakmampuannya dalam berlari dengan perut tambun seperti itu?

"Rumah ini tidak banyak berubah dari terakhir kali aku mengunjunginya, Nona Do." Sahut suara lain dari belakang si inspektur bertubuh gemuk di hadapan Kyungsoo ini.

Seorang pria berseragam lainnya tapi dengan tubuh yang lebih kurus segera mengambil tempat untuk berdiri di samping inspektur Shindong sambil menyelipkan kedua tangannya ke dalam kantong celana.

"Halo," sapanya kemudian.

Kyungsoo memandangi pria jangkung di hadapannya itu. Dia belum pernah melihat orang itu, tapi sepertinya dia pernah datang ke tempat ini sebelumnya dan itu bukan pertanda bagus untuk Kyungsoo, apalagi orang ini sepertinya mengenal Sookyung.

"Ah, benarkah?" sahut Kyungsoo berusaha menghidari kalimat dimana ia harus menyebut nama orang ini, yang jelas-jelas tidak ia tau sama sekali. Gawat, mana orang ini kelihatannya bukan orang bodoh seperti teman gendutnya itu lagi.

"Choi Siwon," ujar Baekhyun berusaha membantu Kyungsoo secara samar.

"Tentu.. Siwon ssi, Shindong ssi, Baekhyun, silahkan masuk."

Baekhyun dan siwon segera masuk berurutan, disusul Shindong yang menenteng dua koper besar di tangannya.

"Biar kubuatkan teh dulu," kata Kyungsoo sambil tersenyum manis dan beranjak ke dapur.

'Sungguh menyusahakan. Apa yang harus kulakukan sekarang? mereka bisa saja mengetahui kalau aku bukan Sookyung tapi...um, mungkin masih bisa aku atasi. Ahhh, kenapa aku jadi gugup begini...!'

Kyungsoo menuangkan gula pada keempat gelas yang ada di depannya, mengaduknya, kemudian membawanya menggunakan nampan ke ruang tamu. Sempat ia melirik ke sudut dapur –tepatnya di lantai tempat pintu masuk ke ruang bawah tanah berada– sebelum ia meninggalkan dapur.

Balok kayunya tertutup rapat. Kai diam di bawah sana, memasang alat pendengarannya sebaik mungkin pada situasi di atasnya. Berjaga-jaga jika ia harus ikut turun tangan untuk membantu Kyungsoo jika Baekhyun tidak mampu melakukannya.

"Silahkan!" tawar Kyungsoo setelah meletakkan semua gelas di atas meja lalu segera mendaratkan pantatnya di atas kursi.

Ketiga tamunya –Shindong, Siwon dan Baekhyun– duduk di satu sofa panjang sementara Kyungsoo berada di seberang meja, duduk sendirian di sofa yang sama panjangnya dengan yang digunakan oleh ketiga tamunya itu.

Membuat suasana terlihat sedang tidak berpihak pada Kyungsoo. Bak seorang yang hendak diintrogasi saja.

"Kau terlihat lebih kurus ya, nona Do?" tanya Shikamaru sambil tersenyum penuh makna.

Kyungsoo diam, tidak tau harus menjawab apa. Memangnya berat badannya terlihat begitu berbeda dengan Sookyung? Sama saja rasanya...orang ini terlalu mendetail. Membuat Kyungsoo merasa kesal.

"Dan warna kulitmu itu...juga terlihat berbeda dari sebelumnya, kalau tidak salah, perkerjaanmu adalah sebagai seorang guru yang mengajar di rumahmu sendiri 'kan? Bagaimana bisa kulitmu jadi lebih gelap begitu?" Sambung Shikamaru lagi.

Kyungsoo mengelus punggung tangannya pelan, "Benarkah? Ah, aku belakangan ini sering makan siang di kedai desa dan ada festival baru-baru ini diadakan di sana, kau tau sendiri bagaimana jarak rumah ini dengan desa. Aku rasa karena itulah kulitku jadi...," ujar Kyungsoo.

"Sayang sekali, padahal sebagai wanita seharusnya hal itu tidak bisa dianggap remeh bukan? Apa Anda tidak punya payung untuk menghindari kulit Anda agar tidak terbakar sinar matahari?" tepis Siwon seenaknya.

Cukup sudah. Kyungsoo yakin pria bernama Siwon ini pasti dengan sengaja menciptakan percakapan menjebak seperti ini. Dia pasti sudah merencanakannya. Apa ini? Apa sekarang pihak asuransi mencurigai kalau dia adalah Sookyung palsu? Bagaimana bisa?

Dia tidak boleh gagal di saat genting seperti ini. Inilah hari final dimana pengorbanannya selama ini –menyamar menjadi wanita yang membuat serangkaian kejadian yang tidak pernah Kyungsoo duga sebelumnya harus terjadi, seperti dimana ia harus bertemu dengan Kai, menahan diri agar tidak ketahuan olehnya yang akhirnya gagal dan berlanjut menjadi lebih rumit setelah 'malam itu', kemudian disusul dengan sebuah kenyataan mengerikan tentang sahabat terbaiknya, Baekhyun– semua itu...tidak akan Kyungsoo biarkan berakhir sia-sia hanya karena penyamarannya harus terbongkar di saat-saat terakhir!

Akhirnya Kyungsoo menundukkan wajahnya, menggeliat tidak nyaman di tempat duduknya. Terlihat begitu kurang senang dengan apa yang dikatakan Siwon. Ia pun lalu mendongkakkan wajahnya sambil memasang mata berkaca-kaca dengan ekspresi memelas yang sangat manis plus jari telunjuk yang ia sodorkan di belahan bibir ranumnya, begitu moe yang akan membuat Kai menahan mimisannya jika ia sampai melihat ekspresi itu.

"Si-Siwon ssi, apa perubahan warna kulitku ini benar-benar begitu nampak jelas ya? Ra-Rasanya malu sekali...kalau sampai benar-benar terlihat ka-kalau kulitku terlihat lebih gelap karena terbakar matahari...," ujar Kyungsoo dengan suara bergetar, melirik ke arah lain dengan wajah yang dipeuhi semburat pink. –pura-pura– Malu.

Baekhyun sendiri sampai tercekat meihat Kyungsoo membuat ekspresi dan mimik wajah yang sangat girly begitu, hal yang Baekhyun yakin tidak akan pernah si pirang lakukan.

Sementara Shindong dan Siwon pun ikut terhenyak dari kursinya dan akhirnya memilih untuk tidak mengatakan apapun yang bisa membuat 'nona' di hadapan mereka ini tersinggung lagi.

Dengan begitu transaksi pun berjalan dengan mulus.

0l=======* Difficulity *=======l0

"AHAHAHAHAHA! Apa kau melihat tampang mereka Baek?! Hahahaha! Gila! Lucu sekali wajah mereka itu!" tawa membahana keluar dari mulut si pirang yang tengah terjungkal geli di atas sofa sambil memegangi perutnya di hadapan Baekhyun.

Baekhyun hanya bisa menghela nafas maklum dan juga lega melihat tingkah sahabatnya itu."Yup! Urusan sudah selesai," seru Kyungsoo akhirnya setelah puas tertawa sambil menepuk koper besar di sampingnya.

"Maafkan aku ya, Kyung. Aku benar-benar tidak menyangka kalau direktur akan meminta Siwon untuk mengantarku. Dia itu salah satu orang kepercayaannya yang cukup jeli. Tapi kau tenang saja, dia atau pun orang-orang di pihak asuransi tidak ada yang mencurigaimu sebagai Sookyung palsu sama sekali kok. Aku rasa mereka hanya...um...mungkin mencurigaiku dan Sookyung bekerja sama untuk mendapatkan uang ini." Ujar Baekhyun, menatap Kyungsoo datar.

"begitu, ya? Padahal kalimat-kalimat yang ditujukannya itu benar-benar membuatku nyaris kelimpungan, tapi syukurlah semuanya berjalan lancar! Ah! Aku mau mandi sekarang, kau menginap malam ini 'kan Baek?" tanya Kyungsoo kemudian. Baekhyun mengangguk mengiyakan.

"Kau tidak ingin mandi juga? Kau bisa menggunakan kamar mandi di kamar yang ada di sebelah kamarku kalau kau mau." Tawar Kyungsoo.

"Aku sudah cukup mandi sebelum kemari."

"Heh? Kau 'kan baru saja meninggalkan desa ini tadi siang dan lalu pulang ke kota, setelah itu datang lagi ke desa ini malamnya, apa kau benar-benar punya waktu sebanyak itu sampai sempat mandi? Kerjaanmu di tempat asuransi sepertinya lowong sekali ya?" sahut Kyungsoo manyun namun dibalas dengan kebisuan dari Baekhyun yang tidak begitu terlihat bagus di mata kyungsoo.

'Oh crap!' batin Kyungsoo, dia lupa kalau di sana Baekhyun 'kan...

"Oh, be-begitu ya? Ya sudah aku ke atas dulu!" seru Kyungsoo dan segera bergegas ke kamarnya.

Setelah urusan Kyungsoo selesai dengan orang asuransi yang menyebalkan tadi, Baekhyun juga akan terlepas dari masalahnya...itu pasti!

Kamar Kyungsoo segera berantakan karena ia mengobrak abrik isi lemarinya untuk mencari kemeja dan celana panjang yang ia sembunyikan di bagian terdalam dari lemarinya –untuk jaga-jaga kalau-kalau pihak asuransi akan memeriksa kamarnya–,

cerdas sekali ya?

Setelah menemukan sepasang celana dan kemeja yang ia lempar ke atas ranjang, Kyungsoo pun segera menanggalkan semua kain yang melekat di tubuhnya, Kyungsoo mendesah lega dengan aura sejuk yang langsung menerpa sekujur tubuhnya.

Dengan tak lupa menyambar sebuah handuk berukuran sedang di dekat lemari dan melempar wig-nya ke meja, Kyungsoo yang bertelanjang ria segera masuk ke kamar mandi. Menyalakan shower dan langsung mandi di bawah siraman titik air yang menyegarkan itu.

Suara gemericik air yang menerpa tubuhnya membuat suasana yang sangat bagus untuk merenung, bahkan untuk seorang Do Kyungsoo yang sangat jarang melakukan sesuatu seperti 'berpikir serius' sekali pun.

Setelah ini...setelah ini apa yang harus ia lakukan selanjutnya?

Dana asuransi yang Sookyung kumpulkan sekarang sudah ada di tangannya. Sekarang, apa yang harus dilakukannya untuk mengakhiri penyamarannya ini?

Dia tidak mungkin dengan entengnya kembali ke rumahnya yang ada di kota dan meninggalkan rumah Sookyung ini kemudian menjalani hidup seperti biasa setelahnya bukan? Harus ada yang menjelaskan kemana hilangnya Sookyung pada semua orang.

Pada warga desa, pada teman-teman Sookyung, pada anak didikannya, pada para tetangga dan yang paling utama pada pihak asuransi!

Apa mungkin sebaiknya Kyungsoo beritahukan saja pada semua orang kalau Sookyung sudah meninggal karena penyakitnya? Tapi bagaimana kalau berita itu sampai ke telinga pihak asuransi dan mereka tau kalau Sookyung telah meninggal jauh-jauh hari sebelum penarikan dana yang Kyungsoo lakukan terjadi? Bisa dituntut satu keluarga nantinya Kyungsoo...

'Aaaggghh! Rumit sekali! Kenapa sih masalah ini tidak bisa dibuat mudah saja seperti soal dua tambah dua sama dengan empat?!' gerutu kyungsoo dalam hati sambil mengacak-ngacak surai pirangnya yang sudah basah.

Dan lagi...dari semua masalah itu, ada satu hal lagi yang membuat Kyungsoo galau akut.

Ini soal Kai...

Apa yang akan Kyungsoo lakukan pada pangeran es itu setelah semua ini selesai?

Meninggalkannya?

Kyungsoo menghela nafas berat sambil bergerak turun untuk duduk dengan memeluk kedua lututnya di lantai kamar mandi. Matanya menerawang dibalik rambut pirangnya yang terlihat lebih panjang karena basah oleh air dari shower yang terus menghujani tubuhnya.

Dia tidak bisa berbohong kalau Kai saat ini 'bukanlah siapa-siapa' untuknya. Mereka memang bukan sepasang kekasih betapa pun banyaknya hal yang terjadi diantara mereka –yang notabene rata-rata hanya dilakukan oleh sejoli yang saling mencintai seperti berpelukan, berciman dan...bercinta– tapi...

Kyungsoo juga tidak bisa bilang kalau hubungan mereka hanya biasa-biasa saja dan semua kejadian itu adalah kesalahpahaman yang bisa dijelaskan baik-baik setelah itu dilupakan karena memang sama sekali tidak layak.

Tubuhnya...entah sejak kapan menjadi begitu sulit untuk lepas dari kenyataan bahwa dirinya sudah 'ditandai' oleh vampir berwajah tampan itu. Kyungsoo tidak ingat kapan bibirnya yang tengah ia sentuh dibawah air pancuran saat ini merespon setiap ciuman yang Kai hujamkan di sana. Ia tidak ingat kapan pertama kali ia begitu tertarik dan gugup tiap kali tubuhnya itu dekat dengan sosok yang sangat miskin bicara itu.

Tidak ingat kapan ia bisa sampai segalau ini hanya karena memikirkan harus meninggalkan pria menyebalkan, mesum dan selalu menggodanya itu atau tidak! Padahal kalau memang ia membenci Kai, membenci semua hal yang ia lakukan pada dirinya, ia tidak akan sesulit ini memutuskan untuk membuang orang itu jauh-jauh dari kehidupannya!

"Ugh, sial...brengsek! Apa yang sudah kau lakukan padaku...gh,"

Sementara Kyungsoo sedang galau di dalam kamar mandi yag bersuhu dingin di malam hari yang begitu sejuk ini, suhu di lantai satu justru memanas.

Hal yang Kyungsoo lupa untuk ia khawatirkan jika meninggalkan Baekhyun, sahabatnya itu sendirian bersama Kai akhirnya terjadi.

Beberapa menit yang lalu bendera perang dingin yang terjadi antara kubu Byun Baekhyun dengan kubu Kim Kai yang baru keluar dari 'sarangnya' berkibar dengan ganasnya.

Saling lempar tatapan sinis, hinaan-hinaan singkat yang menusuk dan juga senyuman sinis menyindir dari kedua manusia berbeda tujuan hidup itu berakhir dengan diseretnya Kai ke ruang penyimpanan arsip yang sempit oleh pria yang bertubuh lebih ramping darinya itu untuk melanjutkan perang dingin mereka di tempat yang tidak bisa langsung di lihat Kyungsoo–subjek utama pertempuran sengit mereka yang sedang galau di kamar mandi– jika ia turun ke bawah.

Kai dibuat bersandar di rak lemari yang cukup tinggi dengan Baekhyun yang berada di depannya menatap dengan dingin.

Kai berdengus kecil melihat pria yang aura uke-nya lebih kental dari Kyungsoo ini ternyata lebih agresif di banding kekasihnya itu.

Keheningan tercipta untuk beberapa saat sebelum akhirnya Baekhyun angkat bicara, "Sebenarnya apa tujuanmu, Kim Kai? Apa tujuanmu tetap berada di dekat Kyungsoo?" tanya Baekhyun dengan intonasi yang ditekan.

"Kau bisa mendapatkan beribu-ribu wanita bahkan pria sekali pun di luar sana yang lebih dari Kyungsoo dan lebih mudah kau kuasai, kenapa harus Kyungsoo?" sambung Baekhyun sekali lagi tanpa mengurangi tekanan intimidasi dalam nada bicaranya.

Kai hanya tersenyum sinis dan membuat Baekhyun semakin jengkel, ditariknya kerah baju Kai dengan kesal dan mendekatkan kedua wajah stoic mereka. Berniat menantang.

"Kim Kai..," gumam Baekhyun, "Jika kau ingin tubuh, aku bisa berikan padamu...tapi sebagai gantinya, menjauhlah dari Kyungsoo."

Kai tertegun mendengar penuturan sosok dihapannya ini. Bingung apa harus berpikir Kyungsoo begitu beruntung memiliki sahabat seperti ini atau justru menyusahkan.

Kai melirik Baekhyun dari ujung kaki hingga ujung rambut saat Baekhyun melepaskan genggamannya dari kemeja miliknya untuk memberikan kesempatan pada Kai melihat dirinya. Berharap si pangeran es tertarik padanya dan menjauhi Kyungsoo.

Kai tersenyum tipis. "Andai saja masalahnya sesederhana itu," Sahutnya tenang.

Dahi Baekhyun berkerut. Ia ditolak?

Dan apapula maksudnya andai sesederhana itu?

Baekhyun menatap Kai dengan jauh lebih tajam, "Kau...kau tidak akan berkata kalau kau sekarang jatuh cinta pada Kyungsoo, kan? Bullshit! Aku tidak akan percaya dengan omong kosongmu itu!"

Mendengar cercahan itu membuat Kai tersinggung. Cara Baekhyun menatapnya itu membuatnya muak. Sorot mata itu persis dengan sorot mata para pemburu vampir, mata yang tidak mengharapkan keberadaannya, menganggapnya sebagai mahluk yang tidak layak mendapatkan apa yang bisa didapatkan manusia biasa. Apa itu? Tidak bolehkah ia jatuh cinta?

"Apa maksudmu?" geram Kai.

Baekhyun merentangkan kedua tangannya, "Apa bedanya jika kau memilihku dibanding Kyungsoo?" toh, dirinya juga tidak kalah cantiknya dengan Kyungsoo jika memang si Kim ini suka pada pria cantik. Dan soal tubuh, Baekhyun cukup percaya diri –meski tidak bermaksud berbangga– jika ia jauh lebih 'ahli' dibanding Kyungsoo.

Kai menggemerutukkan gigi lalu kembali ke mode tenang. Tidak ingin terlalu terbawa emosi menghadapi sahabat dari si pirang yang ia sukai itu.

Onyx Kai kembali menelusuri tubuh Baekhyun sekali lagi.

"Bola mata seindah langit biru...," ujar Kai menatap iris emerald Baekhyun, "...lalu surai secerah mentari...," sambungnya sambil menatap rambut brown milik Baekhyun, "...dua hal di dunia ini yang tidak akan pernah bisa aku lihat lagi seumur hidupku...ada pada diri Kyungsoo dan sama sekali tidak ada pada dirimu, kau tidak akan bisa mengubah perasaanku padanya semudah itu,"

"K-Kau...!" gerutu Baekhyun kesal dan segera menarik kerah kemeja Kai sekali lagi sembari mendorong tubuh jangkung itu ke rak lemari belakangnya dengan murka.

"Eh? Baek? Ka-Kai? Apa yang...," celetuk sebuah suara yang tidak asing bagi kedua telinga milik dua pria yang sedang bersiteru di dalam ruang arsip –gelap-gelapan– dan saling menempelkan badan –menurut penglihatan si pemilik suara yang menegur tadi– itu.

Kyungsoo...spontan saat itu juga terpaku ditempatnya, "dia berpotensi mengkhianatimu", perkataan wanita tua peramal saat festival di desa terlintas di pikirannya begitu saja.

0l=======* Difficulity *=======l0

Suasana hening.

Kyungsoo duduk di sebuah sofa bersama Baekhyun yang mengambil jarak setengah meter darinya meski berada di sofa yang sama sementara Kai berada di seberang meja.

Kyungsoo yang malam itu menggunakan kemeja asal-asalan dan rambut yang terlihat masih sedikit basah dan sesekali meneteskan air bekas mandinya memasang wajah kecut dan bisu. Sementara Baekhyun dan Kai seperti sedang kontes, berusaha memenangkan siapa yang wajahnya paling datar.

Suasana hening.

Kyungsoo merasa gerah, bagaimana pun ia sudah mandi dan membuatnya harus keluar dari kamar mandi dengan badan gemetar tidak berhasil untuk tidak membuatnya berkeringat dalam sutuasi ini.

Suasana hening.

Kai melirik Kyungsoo sekilas, sementara Baekhyun terlihat sedang memikirkan sesuatu.

Masih hening.

Kyungsoo terus saja mencuri pandang pada kedua pemuda yang berada satu ruangan dengannya itu menunggu jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan tadi.

"Kyungsoo."" Panggil Kai dan Baekhyun bersamaan yang membuat si pemilik nama nyaris melompat dari tempat duduknya karena kaget saat tiba-tiba dua suara bariton memecah kesunyian.

"Ha-Apa?" sahut Kyungsoo.

"Sebaiknya kita memberitahu mereka saja bahwa Sookyung sebenarnya sudah meninggal." Ujar Baekhyun berusaha mendahului Kai.

"He? Tapi 'kan...,"

"Kita buat reka ulangnya saja." Sambut Kai.

"Reka ulang?" Kyungsoo menatap Kai. Ia semakin merasa bingung.

"Kita bisa membuat kejadian ulang dimana Sookyung meninggal yang kali ini akan diperankan olehmu, Kyungsoo." Kata Baekhyun.

"Eh, maksudnya...? Aku tidak mengerti..," sahut Kyungsoo kali ini berbalik menghadap pada Baekhyun.

Kai dan Baekhyun saling berpandangan –terlihat ada persetujuan dari cara mereka bertatapan meski pun tidak ditunjukkan dengan anggukan. Mereka berdua lalu berbalik menatap Kyungsoo yang masih menunggu jawaban dari pertanyaan "Apa maksudnya?" itu.

"Kau harus 'mati', Kyungsoo"

TBC

Apakah ceritanya mengecewakan?

Atau aneh?

Je Ra hampir merasa drop waktu melihat jumlah reviewnya semakin lama semakinberkurang T^T . Tapi Je Ra senang kok masih ada yang bersedia untuk review :)

Terima kasih buat yang udah RnR, fav dan follow ^_^ Je Ra harap chap ini dan seterusnya masih ada yang berkenan untuk mereview dan semoga jumlahnya makin banyak agar Je Ra lebih semangat lagi ngelanjutin-nya O.O

See you in next chap :)