Love Letter
.
.
.
Remake dari Lisa Kleypas 'Love in the afternoon', novel berseri tentang perjalanan cinta anak-anak Hathaway
_Semua hanya pinjaman, nama tokoh dan cerita. Latar belakang victoria era.
.
.
Huntao gs...gk suka gk usah baca! Thanks, lets read!
.
.
Chapter 10
.
.
.
"Apa ada pilihan ketiga?" tanya Zitao lemah, dadanya berdenyar dibawah sentuhan Sehun.
Sebagai jawaban, Sehun mengangkatnya dengan kemudahan yang mencengangkan dan membawanya ke ranjang. Ia dilemparkan ke ranjang. Sebelum ia bisa bergerak, pria itu sudah naik ke atasnya, tubuh kokoh dan langsing itu menaunginya.
"Tunggu," kata Zitao. "Sebelum kau memaksakan dirimu padaku, aku ingin mendapat kesempatan berbicara secara rasional selama lima menit. Hanya lima menit. Pastinya permintaan itu tidak terlalu berlebihan."
Sorot mata Sehun tajam tanpa ampun. "Jika kau menginginkan percakapan rasional, kau seharusnya pergi ke pria lain. Seungyoonmu."
"Seungyoon," kata Zitao, menggeliat dibawahnya. "Dia bukan milikku, dan—" ditepisnya tangan Sehun saat pria itu menyentuh dadanya lagi. "Hentikan itu. Aku hanya ingin—" tak terpengaruh, pria itu mengarah ke deretan kancing kemeja Zitao, gadis itu mengernyit putus asa. "Baiklah, kalau begitu," tukasnya, "Lakukan sesukamu! Mungkin sesudahnya kita bisa melakukan pembicaraan yang bisa dimengerti." Memutir tubuh dibawah Sehun, ia tengkurap.
Sehun bergeming. Setelah lama ragu, Zitao mendengar pria itu bertanya dengan suara yang jauh lebih wajar, "Apa yang kau lakukan?"
"Aku membuatnya lebih mudah bagimu," terdengar jawaban kesal Zitao. "Teruskan, mulailah lakukan apapun yang kau ingin lakukan."
Hening lagi, lalu, "Kenapa kau tengkurap?"
"Karena begitu cara melakukannya." Zitao memutar tubuh untuk memandang Sehun dari balik pundak. Ketidakpastian tiba-tiba menyengat, membuatnya bertanya, "Ya kan?"
Air muka Sehun kosong. "Apa tidak ada yang pernah mengatakannya padamu?"
"Memang, tapi aku sudah pernah membaca tentang itu."
Sehun berguling menepi, membebaskan Zitao dari berat badannya. Ekspresi pria itu ganjil saat bertanya. "Dari buku apa?"
"Manual kesehatan hewan. Dan tentu saja, aku mengamati bajing dimusim semi, juga hewan dipeternakan dan—"
Ia disela saat Sehun berdeham keras, dan lagi. Melontarkan tatapan bingung pada pria itu. Zitao menyadari Sehun sedang berusaha menahan rasa geli.
Zitao merasa tersinggung. Kali pertamanya diranjang bersama seorang pria, dan pria itu tertawa.
"Coba perhatikan," ujar Zitao serius, "Aku sudah membaca tentang kebiasaan kawin lebih dari dua lusin spesies, dengan bekicot sebagai perkecualian, yang alat kelaminnya berada dileher, mereka semua—" ia berhenti dan mengernyit. "kenapa kau menertawakanku?"
Sehun sudah ambruk, dikuasai geli. Saat mengangkat kepala dan melihat ekspresi terhina Zitao, ia berjuang sekuat tenaga sambil menyemburkan tawa. "Zitao. Aku...aku tidak menertawakanmu."
"Kau menertawakan aku!"
"tidak. Hanya saja..." Sehun menghapus air mata dari sudut mata, dan beberapa gelak tertahan lolos lagi. "bajing..."
"Yah, mungkin bagimu lucu, tapi itu masalah yang sangat serius bagi bajing."
Pernyataan itu menyulut tawa Sehun lagi. Menunjukan ketidak pekaan keterlaluan terhadap hak seproduktif hewan mamalia kecil, Sehun menguburkan wajah dibantal, pundaknya berguncang.
"Apa yang begitu menggelikan dari bajing kawin?" tanya Zitao kesal.
Saat itu Sehun sudah nyaris pingsan mendadak. "Jangan lagi."engahnya. "please."
"Kurasa caranya berbeda pada manusia," ujar Zitao penuh harga diri, diam-malu. "Mereka tidak melakukannya dengan cara yang sama seperti hewan?"
Berjuang mengendalikan diri, Sehun berguling menghadap Zitao. Mata pria itu cerah oleh tawa yang tertahan. "Ya, Tidak. Maksud ku, mereka juga begitu, tapi..."
"Tapi kau tidak menyukainya dengan cara itu?"
Mempertimbangkan cara menjawabnya, Sehun mengulurkan tangan ke rambut Zitao yang acak-acakan, terleps dari jepitnya. "Aku suka. Aku sangat antusis soal itu, sebenarnya. Tapi itu tidak benar untuk kali pertamamu."
"Kenapa tidak?"
Sehun memandang Zitao, senyum perlahan melengkungkan bibirnya. Suaranya kian dalam saat bertanya. "Bagaimana kalau ku tunjukan padamu?"
Zitao terkesima.
Menganggp sikap diam gadis itu sebagai tanda setuju, Sehun membaringkannya kembali dan bergerak perlahan ke atas gadis itu. Ia menyentuh Zitao dengan hati-hati, menata tungkai gadis itu, melebarkannya untuk menerima. Kesiap lolos dari bibir Zitao saat gadis itu merasakan pinggul Sehun dipinggulnya. Pria itu bergairah, tekanan tebal menempatkan diri ditubuh Zitao secara intim. Menahan sebagian berat badan pada kedua lengan, Sehun memandang wajah Zitao yang memerah.
"Dengan cara seperti ini," ujarnya sambil mendorong ringan, "...biasanya lebih menyenangkan bagi si wanita."
Gerakan lembut itu mengirimkan sentakan kenikmatan diseluruh tubuh Zitao. Ia tidak bisa bicara, indranya penuh oleh orang itu, pinggulnya melengkung tanpa daya. Dipandang permukaan dada Sehun yang kokoh, dan menggoda.
Sehun menurunkan diri lebih jauh, mulutnya membayang persis diatas bibir Zitao. "Muka dengan muka...aku bisa menciummu sepanjang waktu. Dan bentuk tubuhmu akan menahanku begitu manis...seperti ini..." bibir Sehun menguasai bibirnya dan membujuknya agar terbuka, membangkitkan panas dan kenikmatan dari tubuh Zitao yang mendamba. Zitao bergidik, lengannya terangkat ke sekeliling leher pria itu. Ia merasakan Sehun disepanjang tubuhnya, kehangatan dan berat tubuh pria itu membuatnya terpaku.
Sehun menggumamkan kata sayang, menciumi sepanjang leher Zitao, semantara tangannya menarik kancing kemeja gadis itu dan menyingkap kain hingga terbuka. Zitao hanya mengenakan dalaman atas yang pendek dibawah kemeja, jenis yang biasa dipakai untuk menutup korset. Menarik tali yang berpinggiran renda, Sehun menangkup dada bulat dan pucat, puncaknya sudah kencang dan berwarna merah muda. Kepala pria itu menunduk, dan Sehun membelainya dengan mulut dan lidah. Gigi pria itu mengusap ringan diatas saraf Zitao yang peka. Seiring semua itu, stimulasi berirama yang tanpa henti dibawah...pria itu diatasnya, memilikinya, menggiring hasrat ke tingkat yang mustahil.
Tangan Sehun membuai kepala Zitao saat pria itu menciumnya lagi, dengan mulut terbuka dan dalam, seolah menarik jiwa dari gadis itu. Zitao menyambut sepenuh hati, memegang pria itu dengan tangan dan kaki. Tapi kemudian Sehun melepaskannya dengan seruan serak, dan jauh.
"Jangan," Zitao mendengar dirinya sendiri mengerang. "please—"
Jari Sehun menghampiri bibir Zitao, membelainya agar diam.
Mereka berbaring bersisian, saling menghadap, berusah menenangkan napas.
"Ya Tuhan, aku menginginkamu." Sehun terdengar jauh dari senang oleh kenyataan itu. Ibu jarinya mengusap bibir Zitao yang mekar karena ciuman.
"Meskipun aku membuatmu kesal."
"Kau tidak membuatku kesal." Hati-hati dikancingnya kembali bagian muka kemeja Zitao. "Kupikir kau begitu, awalnya. Tapi sekarang kusadari perasaan itu lebih mirip perasaan yang kau dapat saat kakimu kesemutan. Saat kau kembali bergerak, darah yang mengalir kembali kesana rasanya tidak nyaman...tapi juga bagus. Kau mengerti maksudku?"
"Ya. Aku membuat kakimu meremang."
Senyum muncul dibibir Sehun. "Salah satunya."
Mereka melanjutkan berbaring bersama, saling menatap.
Pria itu memiliki wajah yang paling mengagumkan, pikir Zitao. Kuat, tanpa cacat...akan tetapi terhindar dari kesempurnaan yang dingin oleh garis humor disudut mata, juga oleh isyarat sensualitas yang membatasi mulut. Tanda kematangan usia yang membuat pria itu tampak...berpengalaman. jenis wajah yang membuat jantung wanita berdetak lebih kencang.
Malu-malu Zitao mengulurkan tangan untuk menyentuh bekas luka tusukan bayonet dipundak Sehun. Kulit pria itu seperti satin licin panas, kecuali bagian lubang gelap tak rata bekas luka yang sudah sembuh. "Pasti dulu ini sakit sekali," bisiknya. "Apa lukamu masih menyakitkan?"
Sehun menggeleng sedikit.
"Kalau begitu...apa yang mengganggumu?"
Pria itu diam, tangannya diletakkan dipinggul Zitao. Sembari berpikir, jari pria itu menyelinap ke balik tepi bawah kemeja Zitao yang tidak dimasukkan, punggung buku jarinya mengelus kulit Zitao.
"Aku tidak bisa kembali menjadi diriku yang dulu saat sebelum perang," akhirnya Sehun berkata. "Dan aku tidak bisa jadi diriku yang dulu saat sedang berperang. Dan jika aku bukan salah satu dari orang itu, aku tidak yakin apa yang tersisa bagiku. Selain mengetahui bahwa aku membunuh lebih banyak pria daripada yang bisa ku hitung." Tatapannya menerawang jauh, seolah menatap mimpi buruk. "Selalu perwira terlebih dahulu—itu membuat mereka tercerai berai—lalu aku memilih sisanya saat mereka berhamburan. Mereka tumbang seperti mainan yang dijatuhkan anak-anak."
"Tapi itu perintah yang kau terima, mereka musuh."
"Aku tidak peduli. Mereka manusia. Ada yang mencintai mereka. Aku tidak akan pernah bisa membuat diriku melupakan itu. Kau tidak tahu seperti apa tampaknya, saat orang ditembak. Kau tidak pernah mendengar orang terluka dimedan perang, memohon air, atau agar seseorang menuntaskan apa yang dimulai musuh—"
Berguling menjauh, Sehun duduk dan menunduk. "Aku bisa kalap," terdengar suara pria itu yang teredam. "Aku mencoba menyerang salah satu pesuruh laki-lakiku kemarin, apa mereka mengatakan itu padamu? Ya Tuhan, aku tidak lebih baik dari pada Janggu. Aku tidak akan pernah bisa berbagi ranjang lagi dengan wanita—aku bisa saja membunuhnya dalam tidur, tanpa menyadari apa yang kulakukan hingga sesudahnya."
Zitao ikut terduduk. "Kau tidak akan melakukan itu."
"Kau tidak tahu itu. Kau begitu lugu." Sehun berhenti dan menarik napas gemetar. "Ya Tuhan. Aku tidak bisa keluar dari ini. Dan tidak bisa hidup dengan ini."
"Dengan apa?" tanya Zitao lembut, menyadari ada hal tertentu yang menyiksa Sehun, semacam kenangan yang tidak bisa ditolerir.
Sehun tidak mendengarnya. Pikiran pria itu berada ditempat lain, mengawasi bayang-bayang. Saat Zitao beranjak mendekat, pria itu mengangkat lengan kiri seolah mempertahankan diri, telapak tangan menghadap ke luar. Sikap hancur itu, yang dibuat dengan tangan yang begitu kuat, mengiris langsung hati Zitao.
Ia merasakan kebutuhan membingungkan untuk menarik Sehun lebih dekat secara fisik, seolah untuk menghindarkan pria itu dari bibir jurang. Sebaliknya, Zitao tetap meletakkan tangan dipangkuan, dan menatap ujung rambut Sehun yang jatuh dileher, otot punggung pria itu menggumpal. Andai saja ia bisa mengelus permukaan keras bergelombang itu. Andai saja ia bisa menentramkan Sehun. Tapi pria itu harus mencari jalan keluarnya sendiri.
"Seorang temanku meninggal saat perang," akhirnya Sehun berkata, suaranya tersendat dan kasar. "Salah satu letnanku. Namanya Song Mino. Dia serdadu terbaik diresimen. Dia selalu jujur. Dia melucu diwaktu yang tidak tepat. Jika kau memintanya melakukan sesuatu, betapapun sulit atau berbahaya nya, tugas itu akan dijalankan. Ia bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk siapapun dari kami. Tentara musuh telah membuat lubang tembak digua besar dan pondok-pondok tua dari batu disisi sebuah bukit. Mereka menembak langsung ke pasukan pendudukan kami—sang jendral memutuskan posisi musuh harus direbut. Tiga kompi Rifle dipilih. Satu kompi kavaleri diperintahkan untuk berkuda menghadapi musuh jika mereka mencoba mengepung kami. Mereka dipimpin orang yang kubenci. Letnan Kolonel Hyunseong. Semua orang membencinya. Dia mengomandani resimen kavaleri yang sama dengan resimen tempat aku pertama mulai jadi tentara."
Sehun terdiam, larut dalam kenangan. Bulu mata yang setengah turun menjatuhkan bayang-bayang yang tajam dipipi.
"kenapa dia begitu dibenci?" pancing Zitao pada akhirnya.
"Hyunseong sering kejam tanpa alasan. Senang menghukum karena suka begitu, bahkan mengurangi jatah makan untuk pelanggaran yang paling kecil. Aku pernah membantah apa yang dia perintahkan, dan dia menuduhku sebagai tentara yang tidak kompeten." Sehun menghembuskan napas gemetar perlahan. "Hyunseong-lah alasan utama aku setuju dipindah ke Brigade Rifle, posisi dimana aku tak harus selalu bersitegang dengannya. Kami membuka tembakan, tentara musuh membalasnya, dan kami menandai posisi yang harus kami rebut. Kami maju membawa senjata...menjatuhkan sebanyak yang kami bisa...lalu pertempuran berubah menjadi pertarungan jarak dekat. Aku terpisah dari Mino dalam perkelahian itu. Tentara musuh mendesak kami saat bantuan mereka datang...lalu peluru dan granat mulai berjatuhan. Tak henti-henti. Orang-orang disekelilingku tumbang...tubuh mereka terbuka, luka menganga. Lengan dan punggungku terbakar oleh pecahan peluru. Aku tidak bisa menemukan Mino, dan kami harus mundur. Aku meninggalkan Janggu menunggu dipinggir medan perang. Kupanggil dia, dan dia datang. Melewati semua api neraka itu, Janggu keluar bersamaku untuk mencari para pria yang terluka dalam gelap. Dia memanduku ke dua pria yang tergeletak didasar bukit. Salah satu dari mereka adalah Mino."
Zitao memejam mual saat menarik kesimpulan yang akurat. "Dan yang satu lagi Kolonel Hyunseong," ucapnya.
Sehun mengangguk muram. "Hyunseong sudah terlempar dari kuda. Kudanya lenyap. Sebelah kakinya patah...peluru melukai sisi tubuhnya...ada kemungkinan besar dia bisa bertahan hidup. Tapi Mino...tubuh bagian depannya terkoyak menganga. Dia hampir tak sadar sepenuhnya. Sekarat perlahan. Aku ingin aku yang begitu, seharusnnya begitu. Aku selalu mengambil resiko. Mino-lah yang hati-hati. Dia ingin pulang ke keluarganya, dan ke wanita yang dia sayangi. Aku tidak tahu kenapa bukan aku yang mati. Itulah nerakanya perang—semua berupa kemungkinan. Kau tidak pernah tahu apakah kau akan jadi yang berikutnya. Kau bisa mencoba bersembunyi, dan mortir akan menemukanmu. Kau bisa berlari langsung ke musuh, dan sebutir peluru mungkin tersangkut di dalam senapan, dan kau selamat. Semua soal nasib." Ia mengeraskan rahang melawan gemetar akibat emosi. "Aku ingin membawa mereka berdua ke tempat aman, tapi tak seorang pun bisa membantu. Dan aku tidak bisa meninggalkan Hyunseong disana. Jika dia tertangkap, musuh akan mendapatkan informasi intelijen penting dari dia. Dia punya akses ke semua pesan milik jenderal, tahu segalanya tentang strategi dan pasokan...semuanya."
Zitao menatap tampak samping wajah Sehun yang paling sedikit menoleh. "kau harus menyelamatkan Kolonel Hyunseong terlebih dulu," bisiknya, dadanya perih oleh iba dan kasihan saat akhirnya ia mengerti. "Sebelum bisa menyelamatkan temanmu."
"Kukatakan pada Mino 'Aku akan kembali untukmu. Aku akan kembali, aku bersumpah. Kutinggalkan Janggu bersamamu.' Ada darah dimulutnya. Aku tahu dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa. Janggu tinggal disampingnya, dan aku mengangkat Hyunseong, memanggulnya, dan membawanya kembali ke barak. Saat aku kembali untuk Mino, langit membara, asap membuat sulit melihat lebih dari beberapa meter ke depan. Amunisi berkilat seperti petir. Mino lenyap. Benar-benar lenyap. Mereka telah membawanya. Janggu terluka—seseorang menusuknya dengan bayonet. Salah satu telinganya menggantung—ada bekas kasar akibat waktu itu tidak dijahit dengan benar sesudahnya. Aku tinggal disamping Janggu dengan senapanku, dan kami mempertahankan posisi sampai kompi Rifle maju lagi. Akhirnya kami merebut lubang tembak itu, dan selesai sudah."
"Letnan Mino tidak pernah ditemukan?" tanya Zitao lemah.
Sehun menggeleng. "Dia tidak dikembalikan dipertukaran tahanan. Dia tidak mungkin hidup lama setelah ditangkap. Tapi aku bisa saja menyelamatkan dia. Aku tidak akan pernah tahu. Ya Tuhan." Mengeringkan air mata dengan lengan kemeja, Sehun terdiam.
Pria itu seperti sedang menunggu sesuatu...simpati yang tidak akan dia terima, kutukan yang tidak pantas dia dapatkan. Zitao bertanya-tanya apa yang akan dikatakan orang yang jauh lebih bijak atau lebih berpengalaman daripada dirinya. Ia tidak tahu. Yang bisa ia tawarkan hanya kebenaran. "Kau harus mendengarkanku," kata Zitao, "Itu pilihan yang mustahil. Dan Letnan Mino...tidak akan menyalahkanmu."
"Aku menyalahkan diriku sendiri," Sehun terdengar letih.
Betapa Sehun pasti muak dengan kematian, pikir Zitao iba. Betapa lelah oleh duka dan rasa bersalah. Tapi yang ia katakan adalah, "Yah, itu tidak masuk akal. Aku tahu pasti kau tersiksa memikirkan dia meninggal sendirian, atau lebih buruk lagi, ditangan musuh. Tapi bukan cara kita meninggal yang penting, melainkan cara kita hidup. Semasa Mino hidup, dia tahu dirinya di cintai. Dia punya keluarga dan teman. Itu sebanyak yang bisa dimiliki pria manapun."
Sehun menggeleng. Tidak berhasil. Tak ada kata yang bisa membantu pria itu.
Zitao kemudian meraih pria itu, tak bisa lagi menahan diri lebih lama. Ia membiarkan tangannya meluncur lembut diatas kulit pundak pria itu yang hangat. "Menurutku tak seharusnya kau menyalahkan diri sendiri." Katanya. "bukan salahmu kau dihadapkan pada pilihan yang mengerikan. Kau harus memberi waktu yang cukup pada diri sendiri untuk membaik."
"Berapa lama itu dibutuhkan?" tanya Sehun getir.
"Entahlah," aku Zitao. "Tapi kau punya waktu seumur hidup."
Tawa sinis lepas dari mulut Sehun. "Itu terlalu lama."
"Aku mengerti kau merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Mino. Tapi kau sudah dimaafkan untuk apapun dosa yang menurutmu kau buat. Kau sudah dimaafkan," Zitao berkeras sementara Sehun menggeleng. "Cinta memaafkan segalanya. Dan begitu banyak orang—" Zitao berhenti saat merasakan seluruh tubuh Sehun tersentak.
"Apa yang kau bilang?" didengarnya bisik pria itu.
Zitao menyadari kesalahan yang baru saja dibuatnya. Lengannya jatuh menjauhi pria itu.
Darah mulai bergemuruh ditelinganya, jantungnya berdentam begitu gila hingga ia merasa akan pingsan. Tanpa berpikir, ia menghambur menjauhi Sehun, turun dari ranjang, ke tengah ruangan.
Bernapas terangah tak karuan, zitao berbalik menghadap Sehun.
Sehun menatapnya, mata pria itu berkilau dengan cahaya gila aneh. "Sudah kuduga," bisik pria itu.
Zitao bertanya-tanya apakah Sehun akan mencoba membunuhnya.
Ia memutuskan tidak menunggu untuk mengetahui jawabannya.
Ngeri memberinya kecepatan seperti terwelu yang ketakutan. Ia melesat sebelum Sehun bisa menangkapnya, bergegas ke pintu, menyentaknya terbuka, dan menghambur ke tangga utama. Sepatu botnya menghasilkan dentam kencang aneh dianak tangga saat ia meloncat turun.
Sehun mengikutinya ke ambang pintu, melaungkan namanya.
Zitao tidak berhenti sedetikpun, tahu Sehun akan mengejarnya begitu pria itu berpakaian.
Lee ahn berdiri didekat ruang depan, tampak khawatir dan tercengang. "Nona Huang? Apa—"
"Aku rasa dia akan keluar dari kamarnya sekarang," kata Zitao cepat, turun melompati anak tangga terakhir. "Waktunya aku pergi."
"Apa dia...apa anda..."
"Jika dia minta kudanya dipasangi sadel," kata Zitao kehabisan napas. "Tolong lakukan dengan perlahan."
"Ya, tapi—"
"Selamat tinggal."
Zitao berpacu meninggalkan rumah seperti dikejar setan.
.
.
.
TBC
.
.
.
Long time no see keudongan eotteohke jinaettni? Neomu oraetdongan kidaryeottji ije eodi anga, baby don't worry XD adakah yang masih merindukanku #sambil nyanyi lagu nya dedek2 Ikon...aduh suka lagu ini gara2 liat Youtube fanmade pas MAMA moment EXOBobbyBI, telat ya :3 biar, lagi demen ma ni lagu sama Airplane nya Ikon...gw curhat #plaks
Sehun sudah bilang 'Thudah Kuduga' loh...gimana-gimana :3
_Dandeliona96: semangat banget ya...ini udah lanjut...gimana menurutmu dah tahu belom si Sehunie :3
_Lily Levia: kgk tahu si sehun menboong mulu dia bawaannya...idih tahu ajah kamu XD seseorang yang lagi sesuatu tepatnya :v tp jujur kata2 dinovel ada yang ngena banget buatku bukan hanya dibuku yang ini sih.
_Guest: iya ini lanjut :3
_Zitaooneheart: Uaaapppaaa? Capek layao :p panggil saja namaku bunga :v atau Om -_- jangan deng...terserah deh mo panggil apa asal jangan yang jelek, tapi biasanya aku dipanggil yeobo ma Sehun kkkkkk...ditunggu next chapternya dapat salam muah dari Zizi ni :*
_Dasya: uhuhu ini ini aku gemes pas bagian Zitao yang volos :3
_Mara997: dia dihantui masa lalu chingu T.T ehemnya ditunda dulu...soalnya blom waktunya.
_KissKris: iya kan :3
_Ko Chen Teung: iya terima kasih mau nunggu...aduh aku pengen bangen novel yang married by morning nya say.
_Anjar W: ayo ayo ayo XD ikutan bawa pompom...tuhkan...Mino disimpen buat ini, yang selalu menghantui pikiran Sehun...iya ntar moga ketemu lagi #hope
_Marctaotao: moga tambah gregetan ma chap besok :3
_Baby niz 137: NC mulu yeth yang ditunggu -_- #sama :v ditunggu ntar deh.
_Aiko Vallery: iya thanks ^^
_annisakkamjong: aku lagi nonton fanmade huntao lagunya eyes nose lips btw...aduh kangen momen huntao T.T mianhe mianhe hajima... thanks ya semoga bisa fast update lagi.
_Nana Huang: ayo yang blom cukup umur hati-hati...jangan biarkan aku ntar ditangkap pak pol karena meracuni anak dibawah umur ntar aku gk bisa update lg T.T ...becanda deng...pokoknya ini bacaan jgn dipraktekin sebelum waktunya y #sokBijak :3 akunya.
_Aulchan12: dan jawabannya adalah...
_Lvenge: ini udah lanjut XD
_Sweetykamjong: amin :3 thanks ya.
_ Ariyanindud aya: sehun emang selalu bikin nyesek..ini udah lanjut jangan nangis cupcup
_Jeon hyeun: tbc nya gini lagi, gimana dong hayati :3
_Ammi gummy: aku malah pengen gigit bibir mas cahyo yg gemesin #plaks
_dumb-baby-lion: Mino bias ku gmn dong~~~... kok aku malah suka ma bapaknya chanhyun ya btw :3 namanya juga cinta...beli gih XD aku juga pengen beli lagi soalnya...iya ini juga lanjut chingu :3
_bellasung21: habis waktu mevet buat lanjutin ...nih aku kasih TBC lagi biar greget :3
_nindyarista: kgk nc cuman pemanasan ajah biar keliatannya hot padahal sih...yah gitulah
_Fleur Choi: nih update :3 jgn tereak2 ntar dikira gila ma tetangga aku gk tega liatnya :v
_ciandys: hooh tuh si sehun...Zitao kalau maunya ena ena gmn dong :/ #plaks mesum
See you next chapter everybody ;) sorry typonya ya...
