"A Trip to Find You"
.
A ChanHun GS Fanfiction by Haje
.
.
Bagian 10 (Sorry For Typos)
.
.
.
Pagi ini Sehun jadi orang paling sial di Dunia, ia bangun setelah mendapatkan telepon dari Ibu Chanyeol, beliau meminta Sehun untuk datang ke rumahnya sesegera mungkin. Sehun, dengan rambut kusut dan tubuh setengah sadarnya berlari ke kamar mandi tanpa pikir panjang, akibatnya dia menginjak lantai yang licin oleh pasta gigi –sepertinya bekas semalam- dan jatuh dengan pantat lebih dulu menyentuh lantai. Sakitnya tidak main-main, Sehun yakin dia terjatuh cukup keras, karena suara gedebuk dari tubuhnya yang menghantam lantai sanggup membangunkan seseorang.
Chanyeol yang setengah mengantuk berdiri di pintu kamar mandi, mengamati kekasihnya yang duduk di lantai sembari meringis, tidak segera menolongnya. Chanyeol berpikir yang jatuh adalah sebuah barang dan Sehun sedang mengambilnya. Ia baru sadar ketika Sehun meneriakinya minta tolong. Gadis itu dirangkulnya menuju tempat lain yang lebih kering.
"Kenapa bisa ceroboh sekali sih," gumam Chanyeol sembari mengelus punggung Sehun. "Sakit bagian mana? Biar ku pijat."
Sehun tidak segera menjawabnya, kalau dia menjawab yang sakit adalah bokongnya, masa Chanyeol mau memijat bokongnya? Pemikiran seperti itu membuat Sehun malu sendiri, akhirnya dia memilih untuk menggeleng dan berkata sebentar lagi juga sembuh. Lalu Sehun ingat, yang terakhir kali masuk kamar mandi kan Chanyeol.
"Lain kali bersihkan lantai kamar mandinya, aku jatuh karena pasta gigi itu berceceran di lantai," keluh Sehun.
Chanyeol hanya merengut bingung. Sebagai informasi, semalam dia mabuk jadi dia tidak ingat adegan menumpahkan pasta gigi ke lantai kamar mandi. Entah lah, Chanyeol juga masih agak pusing, dia menggelengkan kepalanya kemudian memilih untuk minta maaf pada Sehun.
"Aku diundang Ibu ke rumah," kata Sehun kemudian, menatap kekasihnya. "Tapi Ibu tidak bilang aku harus datang denganmu."
Chanyeol mengangguk paham. "Ibu ingin berduaan dengan calon menantunya—" ia mencubit hidung Sehun. "Ya sudah, cepat mandi, aku akan mengantarmu."
.
.
Sehun dan Chanyeol berpisah di halaman rumah Chanyeol. Si perempuan masuk ke dalam rumah karena sudah ditunggu Nyonya Park, sedangkan Chanyeol memilih untuk tidak masuk ke rumah, dia bilang masih ada urusan jadi tidak akan mampir. Sehun percaya saja, dia memasuki rumah dengan langkah ceria, bibirnya bersenandung pelan. Dia menyusuri isi rumah sampai ke dapur, baru satu kali datang kesini Sehun sama sekali tidak kebingungan.
Dan tentu saja kalau para perempuan berkumpul apa lagi yang dilakukan selain berbincang, merias diri atau memasak. Sehun disambut dengan Nyonya Park yang sedang sibuk menyampurkan bahan-bahan kue, di samping perempuan itu ada juru masak yang memerhatikan dan sesekali membantu Nyonya rumah yang kesulitan, ada Joohyun juga sedang mencomoti beberapa kukis yang sudah di panggang.
"Oh, Sehunie sudah datang," sapa Nyonya Park, wanita itu meninggalkan adonan kuenya untuk menemui Sehun memeluk kemudian mencium pipi pacar anaknya.
"Apa Sehun terlambat?" tanya Sehun, ia tersenyum pada Joohyun di belakang yang berkedip genit padanya.
"Tidak kok—" jawab Nyonya Park kemudian menuntun Sehun mendekat pada counter. "Kau suka memanggang kue? Nanti bawa beberapa toples untuk di rumah ya, dan untuk Chanyeol juga."
Sehun mengangguk sebagai jawaban, setelah itu Joohyun menawarinya makan satu kukis, menyuapi Sehun saat gadis itu tidak menolak. Sehun tersenyum senang, rasa kukisnya lezat dan renyah, dia memuji Ibu Chanyeol yang lihai membuatnya tapi wanita itu hanya terkekeh dan bilang kalau pekerjaannya sebagian besar berhasil karena dibantu oleh juru masak.
Akhirnya Sehun tertarik untuk bergabung dengan Ibu Chanyeol, setelah mencuci tangannya Sehun mendekat pada dua wanita berumur itu dan mulai mempelajari apa saja yang harus dilakukan, Sehun memerhatikan dengan baik, dia menawarkan diri untuk mencetak adonan (yang dia pikir akan mudah) tapi alih-alih jadi berbentuk seperi bunga cantik adonannya malah terlihat seperti gumpalan tepung terigu saja.
"Tidak apa-apa, lakukan saja nanti juga terbiasa," kata juru masak itu, Sehun tersenyum kikuk sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Sehun kalau akhir pekan di New York pergi kemana?" tanya Nyonya Park.
"Sehun ikut kelas yoga setiap akhir pekan," jawab Sehun. "Karena Mama dan Papa benar-benar sibuk, kami jarang punya waktu berlibur sekeluarga."
"Ung, kasihan sekali anak cantik ini," Nyonya Park mencubit pipi Sehun, meninggalkan adonan kue di pipi kiri gadis itu. "Ibu tebak, ini pertama kalinya Sehun membuat kukis?"
Sehun berpikir sejenak. "Mm, tidak juga sih, Sehun sering membuat kukis waktu kecil, setiap sehari sebelum natal orang di rumah pasti membuat kukis— tapi kalau soal membuat kukis dengan seorang 'ibu'... ya, ini pertama kalinya."
Nyonya Park menatap Sehun merasa kasihan, berpikir dalam kepalanya sendiri bagaimana bisa ada orang tua yang tega membiarkan gadis secantik dan semanis Sehun ini hidup kesepian. Dia sendiri sadar, dia bukan orang tua yang baik bagi Chanyeol, tapi setidaknya dia bertindak buruk karena terlalu mengekang anaknya, karena terlalu sayang pada anaknya, bukan mengabaikannya.
"Wah, bentuk kukisnya cantik," Joohyun tiba-tiba berdiri di samping Sehun, sepertinya mulai tertarik melihat adonan kukis yang dicetak oleh Sehun.
"Joohyunie, bantu kak Sehun ya? Taburi permen-permen di mangkok itu ke atas kukisnya, ok?" pinta Sehun lembut. Joohyun ini, sudah dewasa tapi sikapnya seperti anak-anak, sangat ceria dan menggemaskan, Sehun tidak akan tega kalau harus bersikap tegas padanya.
Tanpa diperintah dua kali, Joohyun melakukannya, menaburi permukaan kukis dengan permen warna-warni. Gadis mungil itu melakukan pekerjaannya dengan serius dan hati-hati, Nyonya Park dan Sehun meliriknya, kemudian dua perempuan yang lebih tua itu saling bertatapan dan tersenyum satu sama lain.
"Joohyunie, kalau Bibi yang minta bantuan selalu tidak mau, tapi kalau Sehun yang minta langsung dikerjakan," protes Nyonya Park tidak serius.
Joohyun berdecak. "Itu karena Kak Sehun cantik."
Sehun membulatkan matanya, terkejut tapi juga tersenyum berterimakasih. Sedangkan Nyonya Park mendengus pelan, tapi dia tidak marah pada Joohyun, toh yang dikatakan gadis itu memang benar, Sehun itu cantik, Nyonya Park sendiri sampai heran bagaimana bisa Chanyeol menggaet gadis luar biasa seperti Sehun, dan bagaimana bisa gadis ini tertarik pada putranya yang bandel itu.
"Joohyun suka Sehun?" tanya Nyonya Park.
"Ng."
Sehun terkekeh, sepertinya Joohyun benar-benar fokus pada pekerjaannya menghias kukis.
"Bagus sekali, soalnya Sehun ini nanti jadi kakak iparmu. Ya kan, Sehunie?" kata Nyonya Park diiringi senyum mendamba melihat gadis cantik disampingnya tersipu.
Obrolan itu berakhir dengan Sehun yang tersipu malu, Nyonya Park yang senang karena bisa menggoda Sehun dan Joohyun yang masih konsentrasi melakukan pekerjaannya. Mereka kembali pada fokus masing-masing, kali ini Sehun membantu Nyonya Park memanggang kue, mengatur waktu dan suhu saat memanggangnya, Sehun mengingatnya baik-baik, siapa tahu dia bisa melakukannya nanti saat pulang ke New York, kan lumayan untuk mengisi waktu kosong di rumah.
Sembari menunggu kukisnya matang mereka melakukan pekerjaan lain, membuat jenis kukis yang baru, Nyonya Park mengerjakan adonannya, Sehun mencetaknya dan Joohyun yang selalu suka menghiasnya. Benar-benar menyenangkan bagi Sehun. Dia tidak punya kegiatan seperti ini saat di rumahnya, ya sih, Sehun punya juru masak dan housekeeper yang bisa menemaninya setiap waktu, tapi berbincang dengan mereka benar-benar suatu hal yang canggung.
Sehun pernah mengajak housekeeper-nya berbicara mengenai fashion musim panas yang tidak jadi pembicaraan menyenangkan karena housekeeper itu tidak mengerti, dan hal-hal lainnya yang akhirnya membuat Sehun tetap canggung padanya. Atau pada juru masaknya saat Sehun mencoba membantu masak makan malam, juru masak itu melarangnya memegang pisau, melarangnya dekat-dekat pada kompor, pada akhirnya Sehun juga dilarang masuk ke dapur, katanya dia takut Sehun terluka saat melakukan pekerjaan. Itu konyol.
Di rumah ini Sehun tidak mengalaminya, dia berbincang tentang banyak hal, dia melakukan pekerjaan dan yang paling penting adalah ditemani seorang Ibu.
Bicara soal Ibu, sudah beberapa hari Mama-nya tidak menghubungi Sehun. Biasanya hampir setiap hari wanita itu menyempatkan diri menanyakan kabar Sehun. Kemarin-kemarin Sehun cerita soal dirinya yang berpacaran dengan Chanyeol dan pergi ke rumah orang tua Chanyeol, setalah itu Mama jarang menghubunginya, Sehun pikir itu karena Mama sudah tidak terlalu kuatir, Mama pasti mengira Sehun sudah aman disini dengan Chanyeol dan keluarga Chanyeol.
Tanpa disadari, Sehun menghela napasnya. Hal itu membuat nyonya Park menoleh.
"Kenapa Sehunie?" tanya wanita itu cemas.
"Ah tidak apa-apa," Sehun menjawab sembari tersenyum. "Bu, aku boleh bertanya?"
"Oh tentu, tanyakan saja, soal Chanyeol?" Nyonya Park menatap nya masih cemas.
"Ya, maaf jika ini terlalu lancang, tapi kenapa Ibu terus mengawasi Chanyeol? Apa dia pernah melakukan kesalahan?" tanya Sehun hati-hati. Dia sudah punya pertanyaan ini sejak dulu, rasa ingin tahu itu selalu ada.
Chanyeol kelihatan seperti anak yang baik-baik saja, tapi kenapa orang tuanya bersikap seolah-olah Chanyeol itu kriminal yang perli diawasi dua puluh empat jam, atau katakan saja Chanyeol ini seperti peliharaan yang harus mengikuti kemauan pemiliknya. Sehun jadi curiga jika Chanyeol sebenarnya punya masalah di masa lampau, siapa yang tahu, meskipun Sehun ingin percaya jika Chanyeol memang laki-laki yang baik.
Nyonya Park masih diam, Sehun jadi tidak enak. Tiba-tiba dia merasa terlalu jauh untuk ikut campur dalam urusan keluarga ini, padahal siapa dia? Hanya pacarnya Chanyeol yang baru berstatus kurang dari dua bulan.
"Kalau ini topik yang tidak mau Ibu bahas—"
"Chanyeol itu—" Nyonya Park menyela Sehun dengan cepat, dia melirik Joohyun yang kembali makan kukis yang sudah matang, kemudian juru masak yang masih ada disana mengawasi mereka. "Nanti Ibu ceritakan, ok? Sekarang kita selesaikan dulu kukisnya."
Sehun mengangguk, dia menggigit bibirnya. Menyesal karena sepertinya ia telah membuka satu masalah sensitif di rumah ini, sampai-sampai Joohyun pun tidak boleh tahu.
"Maaf Bu," bisik Sehun pelan, tapi masih dapat didengar oleh Nyonya Park.
Nyonya Park tersenyum lembut, memegang punggung tangan Sehun. "Tidak apa-apa, jangan merasa bersalah."
.
Mereka terbebas dari pekerjaan dapur saat sore hari, raut wajah lelah kentara sekali pada Sehun tapi gadis itu tetap tersenyum mengikuti Nyonya Park naik ke lantai dua, katanya akan dikenalkan pada masa kecil Chanyeol. Joohyun memilih untuk tinggal dibawah menonton televisi. Dua perempuan itu memasuki kamar dengan nuansa biru dan abu-abu yang mendominasi.
Kamar Chanyeol yang sudah lama sekali tidak ditempati pemiliknya, ada satu ranjang besar dengan sprei motif klub sepak bola ternama asal Spanyol, dindingnya dihiasi oleh poster musisi dalam negeri dan luar negeri yang hits pada jamannya, ada lima rak pajangan yang memenuhi ruangan dari ujung ke ujung, isinya miniatur action figure, piala dan piagam penghargaan, miniatur instrumen musik, kumpulan komik dengan series yang lengkap, foto-foto keluarga dan Chanyeol saat masih anak-anak, ada beberapa foto yang menunjukkan Chanyeol setelah dewasa, tapi sangat sedikit.
Di sudut kanan ruangan ada undak-undakan seperti panggung mini yang terbuat dari kayu, Sehun menatap sudut itu penasaran, Nyonya Park berbaik hati memberitahu jika dulunya tempat itu diisi oleh drum milik Chanyeol, sekarang drum-nya sudah berpindah mengikuti sang pemilik ke apartemen, bersamaan dengan beberapa alat musik lainnya seperti gitar dan keyboard.
"Dulu rumah ini sangat berisik, meskipun kamar Chanyeol kedap suara tetap saja berisik," kata Nyonya Park sembari melihat sekeliling, sepertinya sedang mengingat masa lalu Chanyeol.
Wanita itu menuntun Sehun untuk duduk di ranjang. "Nah, tunggu disini, Ibu mau mengambil sesuatu dulu."
Sehun mengangguk saja, setelahnya Nyonya Park keluar dari kamar Chanyeol. Sehun yang pada dasarnya penasaran terhadap segala hal, mulai menjelajahi kamar Chanyeol, menyentuh barang-barang Chanyeol yang tersusun rapi dan tidak berdebu. Bisa dipastikan kamar ini dibersihkan setiap hari. Matanya menatap foto Chanyeol satu persatu, Chanyeol waktu kecil sangat gemuk, dia juga pakai kacamata, Sehun terkekeh membayangkan jika Chanyeol masih seperti itu sampai sekarang.
Saat itu Nyonya Park datang membawa beberapa album foto dan sebuah amplop kecil yang sudah usang. Sehun tidak mengerti, tapi ia menghampiri Ibu Chanyeol yang sudah duduk di atas ranjang, gadis itu ikut duduk di sampingnya, menunggu apa yang hendak dikatakan Nyonya Park.
"Kau harus melihat foto-fotonya dulu sebelum Ibu cerita," pinta Nyonya Park.
Mereka mulai membuka lembar pertama, Sehun selalu mengamati dengan teliti bagaimana detail wajah Chanyeol sejak kecil, bagaimana senyum lelakinya tidak pernah berubah sejak dulu, Chanyeol sudah ceria sejak kecil, dan tampan, dan menggemaskan. Lalu ada foto saat Chanyeol menangis, dia terlihat lucu, menangis sambil memeluk anak anjing. Ibu bilang itu saat kakaknya menjahili Chanyeol dan bilang kalau anak anjingnya akan dibawa ke penampungan.
"Anak anjingnya sudah meninggal, sejak itu Chanyeol tidak mau punya peliharaan, dia takut tidak bisa menjaganya dengan baik," tutur Nyonya Park.
"Aku punya satu, namanya Vivi, tapi dia tidak bisa ikut liburan kesini," Sehun tiba-tiba rindu pada anjingnya di rumah, padahal kalau di rumah dia tidak pernah akur dengan Vivi.
Ada begitu banyak foto Chanyeol saat masih kecil, beranjak saat Chanyeol memasuki masa remaja, dia mulai terlihat kurus dan tubuhnya jauh lebih tinggi dari siapa pun, bahkan dari hyung-nya, rambutnya gondrong sampai ke bahu, Chanyeol jadi kelihatan cantik, percampuran antara tampan dan cantik, mirip dengan para idol masa kini.
"Oh, ini, ini waktu Chanyeol menang juara dua kontes model pintar, dia baru dua belas tahun waktu itu," Nyonya Park menjelaskan dengan bangga.
Sehun tersenyum, dalam hatinya ikut bangga. "Dia menggemaskan pakai seragam warna kuning."
"Benar kan? Kulitnya sangat putih, jadi kalau dipadukan dengan kuning dia kelihatan sangat cerah, astaga, anak ini benar-benar matahari," Nyonya Park berbicara sambil mengelus foto Chanyeol, seolah-olah dia benar-benar merindukan anak itu.
Sehun melanjutkan lagi ke halaman berikutnya, terus seperti itu hingga beberapa album selesai dilihat. Semuanya berisi tentang Chanyeol, Sehun merasa senang dan lega karena dari hal ini dia tahu jika Chanyeol adalah lelaki yang baik, mungkin Chanyeol memang hanya jengah, dia ingin hidup berbeda dari apa yang orang tuanya terapkan di rumah. Tersisa satu hal, amplop usang yang sedari tadi disimpan di tumpukan paling akhir. Sehun menoleh pada Ibu, wanita itu mengangguk dan membiarkan Sehun membukanya.
Isinya sebuah surat, ditulis dari masa lampau dengan terburu-buru (dilihat dari tulisannya yang acak-acakan), tintanya nyaris pudar tapi masih bisa dibaca, Sehun mengejanya pelan-pelan, dia bisa bicara bahasa Korea, tapi untuk membaca tulisan tangan Sehun masih butuh bimbingan.
Taeyang, namanya Taeyang.
Katakan saja aku Ibu yang jahat karena membuang nya, tapi dia lebih baik tanpaku. Tolong jaga Taeyang-ku.
Sehun mengerutkan keningnya tidak mengerti, isi surat itu benar-benar singkat dan tidak jelas. Tidak ada nama pengirim dan... pokoknya benar-benar tidak jelas. Sehun menatap Ibu lagi meminta penjelasan.
Nyonya Park menghela napas gusar. Ia menceritakan lagi kejadiannya. Malam itu saat perayaan Chuseok, Park sekeluarga pergi ke festival lampion, seperti orang-orang pada umumnya, mereka jalan-jalan, makan dan bermain-main di wahana yang disediakan. Chanwoo (kakaknya Chanyeol) yang saat itu baru tujuh tahun ingin naik skuter.
Sudah hampir malam saat Chanwoo mulai main, meskipun begitu masih ada beberapa anak dan orang tua di wahana itu. Tuan dan Nyonya Park duduk mengawasi putranya dari undak-undakan di atas arena sembari makan dan mengobrol. Mereka cukup lama membiarkan Chanwoo bermain, hingga hanya tersisa beberapa orang saja disana, saat itu lah mata Nyonya Park menemukan Chanyeol (yang dulunya adalah Taeyang).
"Dia hanya pakai kaos lusuh warna kuning dan celana pendek, ada tas kecil di punggungnya— Chanyeol sedang main mobil-mobilan, dan terus tertawa saat mobil di dorong oleh penjaganya." Nyonya Park menjelaskan.
Sampai bagian ini saja Sehun sudah mau menangis, dia menunduk, mencari tangan Ibu kekasihnya untuk digenggam, tangan wanita itu bergetar, dingin dan terasa sangat lemah.
Chanyeol kecil begitu gembira, tidak tahu jika sesuatu yang malang akan menimpanya. Chanwoo sudah selesai main, tapi Nyonya Park bilang dia ingin melihat anak-anak yang tersisa di wahana, akhirnya Ayah dan Chanwoo mengikuti Ibu, mereka duduk di dekat wahana sembari makan jajanan yang sudah dibeli Ayah, sementara mata wanita itu terus mengawasi si kecil berkaos kuning.
Sampai wahana hendak ditutup tidak ada yang menjemput anak malang itu, penjaga yang kebingungan akhirnya hanya menuntun Chanyeol keluar kemudian membiarkan anak laki-laki itu terlantar, dia sempat melirik keluarga Park curiga, tapi kemudian menggeleng dan berlalu begitu saja. Nyonya Park bergegas turun setelah sepi, menghampiri anak laki-laki itu dan menuntunnya mendekat pada suami dan anaknya.
"Heol, dia adik kecil yang tertabrak skuterku tadi," kata Chanwoo kaget.
"Kenapa?" tanya Tuan Park melihat gelagat istrinya yang tidak biasa.
"Seperti nya anak ini dibuang oleh keluarganya, aku sudah mengawasinya sedari tadi," kata Nyonya Park kasihan.
Chanyeol waktu itu mungkin baru tiga tahun, dia baru bisa sedikit bicara dan hanya menatap orang-orang disekitarnya kebingungan. Keluarga di depannya berdiskusi, Tuan Park hendak melaporkan ini ke polisi atau pada pantia festival tapi Nyonya Park ingin Chanyeol dibawa pulang saja.
"Akhirnya Chanyeol pulang dengan kami, tapi Ayah tetap membuat laporan dan mengusut kasusnya, sampai sekarang Ibu kandung Chanyeol tidak ditemukan, jadi kami sepakat saja menjadikan Chanyeol anak kami," tutur Nyonya Park.
"Tapi...—" Sehun kehilangan kata-kata, dia menarik napasnya. "Chanyeol tidak cerita padaku soal ini."
"Tidak, dia tidak tahu soal ini," Sehun terkejut. "Makanya, sekarang Ibu memintamu untuk merahasiakannya, akan lebih baik kalau Chanyeol tidak tahu."
"Lalu apa Chanyeol tidak ingat?" tanya Sehun lagi.
Nyonya Park menggeleng. "Tidak, dia masih sangat kecil waktu itu, kami juga melakukan banyak hal agar Chanyeol tidak ingat masa lalunya, kami mengganti identitasnya, kami menguburnya dengan banyak kenangan manis di rumah ini, membuatnya benar-benar lupa kemalangannya dan hanya mengingat 'aku bahagia di rumah ini', kami sangat sayang pada Chanyeol."
Sehun mengangguk paham, air matanya menetes juga, dia mengusapnya perlahan, mulai sekarang dia hanya perlu diam dan tidak bertanya macam-macam pada Chanyeol.
"Semakin dewasa Chanyeol semakin pintar, kau tahu? Lambat laun dia curiga, dia bertanya mana fotonya sewaktu masih bayi, dia bertanya dimana barang-barangnya sewaktu bayi, dia bertanya lahir dimana, dan banyak hal lainnya, aku berbohong sebaik mungkin tapi sepertinya Chanyeol tidak mudah percaya, dia bahkan bertanya-tanya kenapa dirinya berbeda sekali dengan orang-orang yang ada di rumah—"
Benar. Sehun tahu itu, Chanyeol pernah cerita soal pemikirannya yang tidak sepaham dengan keluarganya, tentang segala hal dari dirinya yang terasa tidak cocok lagi dengan keluarga Park ini. Jadi, sekarang Sehun tahu jawabannya tapi dia tidak bisa memberitahu Chanyeol, dia harus membiarkan lelaki itu tenggelam dalam ketidaktahuannya.
"Makanya Ayah berkeras pada Chanyeol, dan Ibu terus-terusan mengawasinya, supaya kami tahu Chanyeol mencari tahu sampai sejauh apa—" Nyonya Park menggenggam tangan Sehun. "Sekarang Sehun sudah tahu, Ibu lega karena cerita padamu. Kau satu-satunya gadis yang dikenalkan oleh Chanyeol, sejak dengan Sehun, Chanyeol jadi cukup sering menghubungi Ibu, makanya Ibu senang, Ibu ingin Sehun yang menjaga Chanyeol saat Ibu dan Ayah tidak bisa."
Entah Sehun harus senang atau bagaimana? Wanita di depannya benar-benar lembut, dan baik hati, dia sudah mau mempercayakan anaknya pada Sehun, gadis yang bahkan belum dikenalnya genap seminggu.
"Setidaknya terimakasih, karena sudah mau pada anakku," kata Nyonya Park, dia tersenyum lembut kemudian mengecup kening Sehun.
Akhirnya Sehun benar-benar menangis, dia menangis sembari memeluk wanita itu. "Aku yang terimakasih, terimakasih Ibu sudah mau menjadi Ibu Chanyeol dan menjadikannya ada untukku," katanya disela-seka isakannya.
Nyonya Park terkekeh. "Sudah jangan menangis, nanti Chanyeol curiga."
Sehun mengangguk tapi dia masih menangis, mengeratkan pelukannya pada perempuan yang lebih tua yang kemudian dibalas dengan hangat dan penuh kasih sayang.
.
.
Sehun dijemput oleh Chanyeol setelah makan malam, dia menghampiri kekasihnya di dalam mobil dengan senyum yang lebih manis dari biasanya, tangannya membawa bingkisan berisi kukis yang sudah dibuatnya seharian bersama Ibu, juru masak dan Joohyun. Kemudian Sehun mencium Chanyeol di pipi hingga laki-laki itu terkejut.
"Tumben sekali," kata Chanyeol, dia mengusak rambut Sehun. "Kau sudah keramas?" rambut Sehun terasa lembab di tangannya.
"Ng. Sekalian mandi di kamarmu, air hangatnya terbaik," kata Sehun ceria, meskipun begitu dia tidak bisa menutupi suara seraknya sehabis menangis.
"Kau kenapa? Suaramu seperti kodok," kata Chanyeol terkekeh. Ia mencubit hidung Sehun.
"Ah, itu.. karena seharian kerja di dapur sembari ngobrol, sepertinya aku kurang minum," Sehun menjelaskan, dia bohong, tentu saja. Sehun yakin Chanyeol pasti curiga.
"Sudah biasa, pekerjaan perempuan kalau sedang berkumpul pasti menggosip, kali ini apa topiknya?" tapi Chanyeol tidak curiga sama sekali.
"Tentang kukis tentu saja, kami kan habis membuat kukis," jawab Sehun.
Chanyeol mendengus, percakapan mereka berhenti dan Chanyeol fokus menyetir, sementara Sehun melihat ke jalanan, mengamati kendaraan yang melintas dan para pejalan kaki di trotoar, ramai sekali, Sehun jadi agak pusing, tubuhnya lelah, Sehun tidak mau memungkirinya, seharian berdiri di dapur membuatnya kehilangan nyaris separuh dari jiwanya, ditambah cerita mengejutkan tentang Chanyeol, Sehun sudah ingin bertemu ranjang dan tidur saja sampai besok siang.
Mereka berhenti di lampu merah, antrian kendaraan cukup panjang dan sepertinya mereka akan terjebak macet. Sehun menghela napas lelah, dia melirik Chanyeol, lelaki itu juga tampak lelah, bajunya dan rambutnya sama kusutnya dengan raut wajahnya, jadi Sehun menyimpulkan jika ini bukan waktu yang tepat untuk bicara.
Dia menatap keluar jendela lagi, kali ini pada layar besar di atas gedung yang sedang menampilkan breaking news, Sehun menontonnya, penyampai beritanya ganteng, pikir Sehun.
Bisnis gelap terbongkar, setelah ditelusuri ternyata berpusat di ruang bawah tanah.
Sehun mengernyit membaca judul berita yang disampaikan oleh sang anchor, sementara dia terus berbicara Sehun memerhatikan dengan seksama, tayangan itu menunjukkan beberapa orang yang tertangkap dalam transaksi bisnis gelap narkoba. Sehun kenal tempatnya, dimana lagi kalau bukan di Zonk, dia hafal detail setiap ruangan.
"Chanyeol kau sudah tahu?" tanya Sehun.
"Sudah, kejadiannya tadi pagi—"
"Kenapa tidak bilang? Jadi kau pergi untuk urusan ini?!" Sehun menyela, bertanya bercampur kesal, maksudnya dia kuatir jika Chanyeol terlibat, Chanyeol kan DJ di tempat itu yang bisa kapan saja disangkut pautkan dengan perkara ini.
"Aku tidak mau kau—"
"Kuatir? Justru kalau kau menyimpannya dariku aku merasa semakin kuatir!" Sehun berdecak frustasi, mengambil ponselnya dari saku jaket. "Aku harus menghubungi Minseok oppa atau Baek—"
"Tidak perlu Sehun," Chanyeol menarik ponsel Sehun lalu menyimpannya dalam genggamannya. "Mereka baik-baik saja."
Mata Sehuh nemicing tajam. "Kembalikan ponselku," Chanyeol tidak mengikutinya. "Chanyeol kalau kau terus begini aku semakin curiga, berikan ponselku dan biarkan aku menghubungi Baekhyun."
Chanyeol bergeming. Sehun mengepalkan tangannya, dia menoleh ke luar jendela, kemudian menatap Chanyeol lagi yang masih menggenggam ponsel Sehun di tangan kiri dan stir di tangan kanan.
"Ya sudah, ambil saja ponselku, aku tidak pulang denganmu."
Chanyeol tidak sadar, dia lengah saat Sehun membuka pintu dan berlari ke sebrang jalan, Chanyeol hendak menyusulnya, tapi baru juga ia akan membuka pintu, klakson di belakangnya berbunyi nyaring. Chanyeol menutup lagi pintu mobilnya, lampu sudah hijau, yang dibelakang menyalip Chanyeol dan mengumpat pada lelaki itu penuh kekesalan.
"Heh kunyuk! Kalau bawa mobil yang benar dong!!"
"Apa?! Bangsat!!!" balas Chanyeol kesal, dia memukul stirnya, mencari jalan keluar tercapat, matanya bergantian menatap jalan dan mencari Sehun di trotoar.
Tapi Sehun tidak ditemukan.
.
.
Sehun, ditemani Minseok akhirnya bertemu dengan Baekhyun. Yang membuat Sehun kesal adalah ia bertemu dengan Baekhyun di ruang tunggu tahanan, Baekhyun sudah memakai baju tahanan dan duduk di ruangan terpisah. Mereka saling diam sampai Minseok bersuara dan menanyakan apakah Baekhyun baik-baik saja. Saat itu kekesalan Sehun langsung memuncak.
"Dasar bego! Apa sih yang kau pikirkan? Kenapa mau disuruh menjual barang begitu?!" Sehun meremas tangannya sendiri, dia ingin sekali meninju kaca di depannya atau menghajar Baekhyun saking kesalnya.
"Sehun, sabar," bisik Minseok menenangkan.
"Diam Oppa! Dia benar-benar bego! Kau sudah sering aku ingatkan, jangan mau ditawari pekerjaan kotor begitu! Uangmu jadi bartender tidak cukup buat biaya hidup? Ha?!"
"Sehun—" Minseok menegurnya lagi, dia takut kalau Sehun terus-terusan kesal Baekhyun malah ikut terpancing.
Dan benar saja.
"Ya! Aku kerja kotor begini untuk uang, aku butuh biaya tambahan, Kakak ku di desa terlilit hutang, lalu mau bayar dari mana kalau bukan aku yang kerja banting tulang? Mudah bagimu bicara begitu, aku sudah berpikir ratusan kali dan akhirnya mengambil jalan ini karena tidak tahu harus bagaimana lagi!"
"Lalu kenapa tidak memberitahu aku? Aku bisa bantu, tapi kau mengambil keputusan sendirian, kau lupa punya teman?" Sehun masih berapi-api, dan kali ini Minseok menyerah. Mereka sudah terlanjur saling emosi.
"Ha!" Baekhyun tertawa sarkatis. "Yang lupa punya teman itu kau, Sehun. Sejak dengan Chanyeol kau berubah, apa-apa Chanyeol, semuanya tentang Chanyeol, pernah tidak kau memikirkan aku meski hanya sedikit saja? Pernah tidak kau bertanya lagi kapan aku libur karena kau ingin aku menemanimu keluar jalan-jalan?! Bagaimana bisa aku menghubungimu kalau kau selalu peduli tentang Chanyeol saja?!"
Sehun merasa ulu hatinya ditonjok dengan keras, dia meremat tangannya yang bergetar. Ucapan Baekhyun memukulnya tepat sasaran. Mata Sehun mulai berkaca-kaca, wajahnya memerah karena segala emosi tercampur aduk di kepalanya.
"Kenapa diam? Aku benar kan?" tanya Baekhyun.
"Tidak," Sehun menjawab dengan suaranya yang bergetar. "Aku memang selalu dengan Chanyeol apa-apa Chanyeol, ini itu Chanyeol, tapi kau sadar tidak? Aku begini karena kau menghindari ku, sejak aku bilang aku pacaran dengan Chanyeol kau jadi jarang menghubungiku, aku main di Zonk kau mengabaikanku dan minta aku pergi dengan Chanyeol saja. Orang pertama yang membuangku itu kau Byun! Kau benar-benar kekanakan kalau mempermasalahkan soal ini sampai-sampai tidak mau menghubungiku lagi!"
"Itu karena aku mau padamu cewek bego!" kata Baekhyun, suaranya pecah di akhir dan dia berdiri setelah menggebrak meja.
Petugas di belakangnya sudah siaga, mengantisipasi jika Baekhyun berbuat anarkis. Tapi tidak, pemuda itu memilih untuk berbalik dan minta diantarkan kembali ke sel tahanannya.
"Sudah jangan menjengukku lagi, aku tidak perlu dipedulikan olehmu."
Meninggalkan Sehun yang terkejut di tempat.
Minseok menghampirinya, mengusap bahu Sehun lembut. Sehun menangis, menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Kenapa hari ini jadi kacau sekali.
"Baekhyun..." bisik Sehun lirih.
"Sudah tidak apa-apa, dia pasti emosi karena terlalu banyak masalah, nanti setelah kepalanya dingin dia mau bicara baik-baik denganmu," kata Minseok, dia memeluk Sehun, mengelus rambut yang lebih muda darinya. "Sekarang pulang saja, sudah malam."
Sehun mengangguk. "Aku tidak mau pulang ke apartemen."
"Kenapa? Bukannya Chanyeol menunggu disana?" tanya Minseok heran. Sehun memberikannya tatapan yang memberi tahu kalau Sehun dan Chanyeol juga sedang ada masalah. Akhirnya Minseok tersenyum lembut. Mengusap pipi adik manisnya dengan lembut.
"Ya sudah, pulang ke rumah Oppa saja, nanti tidurnya dengan Luhan, ok?"
Sehun mengangguk, mereka keluar dari tempat itu dan pulang naik mobil Minseok. Sehun, selama diperjalanan hanya diam saja, kepalanya pening luar biasa, tubuhnya lelah dan akhirnya dia tidak sanggup untuk tetap membuka mata.
Membiarkan dunia mimpi menariknya dalam-dalam, dia tidak ingin menghadapi kenyataan. Untuk sekarang saja.
.
.
TBC
.
HALOOOO
Wah apa ini? Kenapa jadi begini? Chanhunnya kurang!
Iya, aku nebak pasti ada aja yang bakal bilang begitu haha. Chapter ini bukan spesial Chanhun seperti biasanya, aku pengen menyelipkan momen Sehun dengan yang lain, dengan Ibunya Chanyeol yang terasa sangat manis dan gak kalah romantis dari ChanHun, dengan Baekhyun yang agak tragis, dengan Minseok juga. Aku pengen menyampaikan kalau hidup Sehun tidak melulu tentang Chanyeol, dan aku pikir bakal bosen juga kalau tiap chapter liat mereka romantis-romantisan, takut kebanyakan keju atau apa lah hehe.
Oh ya, aku juga kepikiran soal rate ff ini, aku pilih rate M di profilenya karena aku pikir ini emang cocoknya dibaca sama anak gede ya, jadi rate M itu gak harus selalu ada adegan ranjang, bisa jadi M karena latarnya, bahasanya, genrenya, pokoknya ada berbagai faktor yang bikin aku nentuin ini masuk rate M. Tapi nanti kalau memang ada adegan begitu, bakal aku peringatkan, biar yang gak kuat bisa skip aja hehe.
Dan terimakasih untuk yang sudah review, fav dan follow, seperti biasa, kalian adalah semangatku (ceilah). Pokoknya jangan bosen-bosen review ya, panjang pendek juga sama neng diterima kok.
Terus, aku berterimakasih jama Jongahn yang sudah notice aku di ffnya dan ngajakin collab, waaaa gile pas tau itu gue berasa mau jungkir balik saking senengnya haha
Eh satu lagi, yang punya akun wp, boleh lah di follow akun aku, namanya : @Halonaj (Human Protector). Aku belum publish apa-apa disana, mau publish juga belum ada yang baru. Saran kalian aku publish ATTFY disana juga jangan?
Udah si itu aja, terimakasih ya, see you in next chapter.
Salam Sayang
Halona Jill
