.
Our Destiny
Suho : Girl (GS) | Kris : Boy | Yixing : Girl (GS) | Kai | Chanyeol | lead+
Warning : Typo's , Absurd , No Feel
Rated : T+ - M
...
BunnyJoon's Present
...
.
.
.
Ini Part I ya ..
Part II-nya bakal di update secepetnya ^^
Joon uda bener-bener kehilangan readers *sedih*
.
.
.
"Kau pikir Korea itu sebesar apa ? Ujung kukumu ?"
Mungkin celotehan Chanyeol waktu itu ada benarnya, apa Semenanjung Korea benar-benar hanya seujung kuku seorang Kim Junmyeon ?
6 tahun bukan waktu yang singkat untuk dihabiskan meregang satu persatu luka dalam detik demi detiknya. Bahkan ada lautan luas bermuara samudra, juga daratan seluas benua yang memisahkan segala luka dan kepedihan itu. Dan kau tahu ? Takdir itu lucu, mudah memutar balikkan kehidupan seseorang semudah api menjadikan selembar kertas menjadi abu.
Kim Junmyeon bukannya tak berusaha dengan seluruh jiwa raga dan kesungguhan untuk merelakan segala sakit yang pernah Ia terima, dan sayangnya semua terlalu mendarah daging. Mengalir dalam setiap aliran darahnya, bertumbuh melekat pada tulang dalam dagingnya, dan sakit itu bahkan dengan tak tahu dirinya menumpang dalam setiap hembusan nafasnya.
Segala pengkhianatan itu masih begitu jelas tercetak dalam memorinya, hanya saja kepura-puraan dengan dalih melanjutkan hidup memaksanya mengubur segala memori silam di sudut hatinya yang gelap dan berdebu.
Hingga sang takdir dengan kurang ajarnya kembali menjamah relung hati tergelap yang rasanya ingin Junmyeon lebur jadi satu bersama tangis-tangis pilunya di setiap malam.
Kris Wu ..
Zhang Yixing ..
Dan kini ada satu nama lagi, Wu Suho ..
3 insan yang deru nafasnya saja benar-benar merobek kembali luka di hati Suho. Namun nyatanya, di atas semua luka dan kekejaman garis takdir ini dia masih Kim Junmyeon.
Kim Junmyeon yang dengan bodohnya berurai air mata atas kepingan-kepingan pilu yang Kris dan Yixing alami sepeninggalan dirinya. Untaian-untaian derita nestapa yang Kris lantunkan dengan suara lirih nyatanya membawanya jauh kembali ke dalam permainan ini.
Permainan takdir keji, tanpa celah seperti rapatnya kepingan baja ..
.
.
.
Perasaan ini apa namanya ? Entahlah, yang Suho tahu kekosongan dalam dirinya berangsung terisi sesuatu yang begitu hangat dan menenangkan ketika tepat di detik ini di pangkuannya tertidur seorang gadis kecil berambut hitam legam yang memiliki nama yang sama persis dengannya.
Rintik-rintik hujan berlomba-lomba jatuh merusak nuansa musim semi, percikan-percikan airnya menyapa Suho lewat jentikan-jentikan yang beradu dengan kaca mobil, seorang mungil yang berada dalam pangkuannya meringkuk semakin dalam, menghalau hawa dingin yang perlahan menelusup kulit sang gadis kecil dan dengan sigap Suho rapatkan rengkuhan lengannya memberi kehangatan.
"Maafkan Aku karena telah merepotkanmu" ujar Kris pelan
"Mungkin dia kelelahan setelah bermain tadi, tolong tahan sebentar dan setelah sampai Aku akan menggendongnya" Suho tersenyum samar, sibuk mengamati si kecil yang benar-benar tampak kelelahan dan tertidur begitu nyenyak dalam rengkuhannya. Rengkuhan lembut seorang wanita yang sejak tadi dia panggil ibu.
Mungkin semua ini terasa salah, namun Suho tak menemukan sedikitpun apa kesalahannya. Atau semua ini begitu benar ? Namun mengapa Suho tak juga menemukan sebuah kebenaran di sini.
Berada dalam mobil Kris dengan memangku buah hati Kris dan Yixing yang menjadi penyebab segala luka dalam hidupnya, menolak tawaran Chanyeol untuk mengantarnya dan hanya meminta Pria itu duduk menunggunya di Bandara dengan janji akan kembali satu jam sebelum penerbangan mereka. Dan gilanya lagi, putaran roda karet itu akan menghantarkan mereka menuju satu nama 'Zhang Yixing'
Suho sendiri tak mengerti dengan perasaannya, saat Suho kecil terus memanggilnya Ibu rasa hangat yang menjalar dalam hatinya tak bisa Ia kendalikan. Sekali lagi Suho tegaskan jika Ia sama sekali tak pernah melupakan siapa gadis kecil ini –penyebab segala takdir kelam dalam hidupnya, dan naasnya Ia seolah tak memiliki kuasa untuk membenci sosok gadis mungil dalam rengkuhannya.
Sepanjang perjalanan hanya rintikan hujanlah satu-satunya nada yang memenuhi telinga keduanya, Kris sibuk dengan kemudi sesekali mencuri pandang dalam diam ke arah Suho dan malaikat kecilnya.
Sementara Suho tengah menyimpan sebuah tanda tanya besar yang terus Ia cari jawabannya dalam renungan "Mengapa Suho kecil bisa memanggilnya Ibu ?" "Mengapa Suho kecil terlihat begitu menyayanginya dan begitu mendambanya padahal ini kali pertama mereka bertemu ?"
Tapi pertanyaan itu akan dia simpan sampai nanti, sampai dia bertemu dengan Yixing dan bertanya langsung kepadanya tentang semua hal ganjil yang mengisi kepalanya, mulai dari pemberian nama hingga kenapa putrinya ini tampak begitu mengenali Suho dan menganggapnya sebagai Ibu, paling tidak Yixing pasti memiliki alasan masuk akal atas semua ini kan ?
Tubuh mungil itu menggeliat resah dan secara reflex tanpa perintah, jemari lentik Suho terangkat dan membelai lembut kepala Suho kecil, menyalurkan rasa sayang yang cukup dalam pada gadis kecil yang baru dia temui untuk pertama kali. Naluri ke Ibuannya bergejolak tanpa sadar.
Kris yang menyaksikan semua interaksi yang dilakukan Suho dengan putrinya di kursi belakang dari kaca spion depan dengan tak tahu malunya merasakan lega yang teramat sangat menelusup dalam hatinya, dia tak kuasa menahan senyum bahagia yang terus menghiasi wajahnya sambil tetap melajukan mobil membelah jalanan lengang Dongdaemun dalam diam.
.
.
.
"Sudah sampai .."
Suho tersentak dari segala macam lamunannya, tak sadar jika tangannya masih membelai lembut puncak kepala Suho kecil saat Kris bersuara memberitahu keberadaan mereka.
Kris membuka pintu penumpang, menggenggam sebuah payung, coba menggendong Suho kecil yang masih terlelap diselimuti mimpinya dengan susah payah, namun terlalu iba untuk membangunkannya karena terlihat sekali jika putri kecilnya ini benar-benar kelelahan. Kemudian disusul Suho yang langsung keluar dari mobil setelahnya bernaung di satu payung yang sama.
Aura dingin –bukan karena hujan- tiba-tiba menyusup dalam relung hati Kim Junmyeon begitu dia menyadari dimana mereka berada, Suho tahu betul tempat apa ini!
Gedung berlantai 3 bergaya Korea modern setelah mengalami beberapa kali renovasi, gerbang megah dengan taman bunga menghiasi nyaris seputarannya. Dan Demi Tuhan semua ini masih sama, sama persis saat 6 tahun lalu, ketika Ia menghantarkan sang buah hati ke sini, ke tempat peristirahatan terakhir setelah rahimnya.
"Columbarium ?!" kenangan dalam dirinya atas luka yang paling dalam sepanjang sejarah garis takdir hidupnya di tarik paksa dari persembunyian, lalu di putar-putar berulang dalam jumlah ribuan kali seolah mengejek, menginjak-injak luka bernanah di hatinya.
Apa tujuan Kris membawanya ke sini ?
Kris telah mengetahui semuanya ?
Tentang anaknya ?
Tentang anak mereka ?
Mungkinkah ?
.
.
.
Pikiran Kim Junmyeon berkecamuk tak menentu, sepanjang langkah Kris dimana Ia hanya mengikuti dalam diam seribu bahasa dengan langkah pelan hampir tak sanggup. Sibuk berkutat atas memori dosa terbesar dalam hidupnya, membunuh buah hatinya dan Kris.
Dan dosa lain miliknya adalah bahwa selama ini, dia merahasiakan semua itu dari Kris, dari seseorang yang sama berhaknya untuk mengetahui dosa besar itu dan seseorang yang sama berhaknya menanggung semua dosa keji itu.
Tubuhnya menegang, saat tahu kemana langkah itu membawanya.
Lantai II Blok A
Suho sama sekali belum hilang ingatan meski 6 tahun lamanya Ia tak memijakkan kakinya di sini, karena di sana .. di dalam ruangan yang berisi lemari-lemari kayu berpintu kaca, salah satunya tempat dimana abu sang buat hati Ia letakkan begitu pilu kala itu dan Kris membawanya ke sini, ke tempat yang sama. Tepat di hadapan –tidak
Ini takdir ..
Seseorang lemah seperti Kim Junmyeon hanya pion yang dapat di gerakkan sesuka hati oleh si pemilik garisnya ..
Kim Junmyeon terisak dalam diam, alih-alih meraung menangisi kembali abu sang buah hati, kini Ia tengah memandang sendu sebuah figura foto yang memasang wajah penuh senyum Zhang Yixing –dengan balutan gaun pengantin sederhana. Perasaan Suho saat ini benar-benar tak bisa digambarkan, hatinya tak karuan.
Dia tak menyangka jika Kris akan membawanya ke tempat ini untuk alasan lain –bukan menuju lemari tempat abu anak mereka di semayamkan tetapi tempat dimana abu kremasi dari mendiang Yixing disemayamkan.
Pandangan mata Suho menatap sayu foto keluarga kecil mereka –Yixing dan Kris beserta Suho kecil yang Ia yakini di ambil di ranjang rumah sakit. Ada beberapa barang pribadi milik Yixing, sebuah kotak beludru berwarna biru pekat kemudian tatapannya bergeser ke sudut belakang, pada sebuah guci sedang berukir bunga krisan, guci putih yang berisi abu raga milik Zhang Yixing.
"Bukankah setelah melahirkan kondisi Yixing di nyatakan stabil, lalu apa ini?" tanya Suho lirih dengan suara pelan yang dipaksakan, Suho merasa kesulitan menemukan suaranya sendiri setelah menerima fakta wanita yang pernah membuat hidupnya sulit ternyata sudah tak ada didunia. Entah kenapa dia pikir bertemu dan menatap Yixing dengan tatapan jijik jauh lebih baik daripada ini.
"Seorang wanita pengidap hemofilia tak memiliki waktu hidup yang panjang" Kris menarik nafasnya dalam "Virus yang menghadirkan penyakit itu dalam tubuh Yixing merenggut kehidupannya sedikit demi sedikit" Nafas Suho tercekat, menatap Kris iba.
"Aku terlalu bahagia setelah tahu Yixing dan anak kami selamat. Dan terlalu bodoh untuk tahu, lebih tepatnya aku terlalu sinting dengan menutup mata rapat-rapat atas penyakitnya dan hanya peduli pada Suho" suara tawa lirih Kris terdengar pilu
"Selamat dan dinyatakan stabil pada proses operasi kelahiran Yixing adalah sebuah keajaiban, bahkan dokter di sana tak menyangka Yixing benar-benar berada pada titik balik itu" pelan Kris diselimuti rasa sesal mendalam yang juga tak luput dari pendengaran Suho
"Ketika itu aku pun tak menaruh rasa curiga sama sekali. Aku hanya terlalu bahagia mereka selamat" Kris menghembuskan nafasnya berat "Dan disitulah letak kesalahanku."
Mendengar penuturan Kris membuat Suho memandang pria itu tak mengerti.
"Pasca dinyatakan stabil, seharusnya Yixing masih tetap mendapatkan perawatan intensif dari dokter ahli, tapi Ia bersikeras untuk segera kembali ke Seoul, dia sudah tidak betah tinggal lebih lama lagi di Jerman, dia selalu mengatakan jika dia sangat sehat dan tak ada masalah dengan tubuhnya." Suho yang masih mendengarkan secara seksama penjelasan dari Kris, merasa suara Pria itu semakin berat seperti menahan sebuah kepedihan yang mendalam, dan untuk alasan yang Suho sendiri tak mengerti, dada Suho semakin sesak seolah dapat merasakan kepedihan itu.
"Delapan bulan setelah melahirkan kondisi Yixing memburuk, Aku tak tahu apa tetapi ada yang tak beres dengan bekas operasinya yang dulu dinyatakan baik-baik saja dan Yixing nyaris meregang nyawa kala itu"
Secara refleks Suho menutup mulutnya dengan kedua tangan, Suho bagai kembali dihantam sebuah karang kokok berduri mendengar penuturan Kris mengenai kondisi lanjutan Yixing, matanya kembali memanas, merasa syok dengan runtutan kabar yang dia dengar.
"Bersyukur Yixing untuk sekali lagi mampu melewati masa kritisnya, kondisinya kembali stabil pasca koma selama lebih dari satu minggu dan di rawat lebih dari dua bulan" diakhir kalimatnya, Kris menatap Suho tanpa ekspresi, tapi Suho kenal Kris sangat baik, mampu melihat kabut duka yang sangat dalam tengah menyelimuti pria itu.
Ada perasaan kurang ajar membuncah dengan tak tahu dirinya di rasakan wanita itu. Melihat Kris begitu pilu terperosok dan tergores pedihnya takdir, ingin Suho mendekap erat Pria yang sejujurnya masi sangat Ia cintai saat ini.
Namun tidak, Suho masih tahu diri tentang siapa dirinya ..
"Kondisi Yixing setelahnya tak lagi sama, Yixing harus menjalani hari-harinya di atas kursi roda. Ia tak boleh terluka, tak ada darah atau bahkan benturan terlalu keras menghantam tubuhnya karena efeknya akan sangat fatal"
"Tapi Yixing adalah sosok yang tangguh, dia orang yang sangat gigih dan tak mau menyerah pada kondisinya saat itu. Keberadaan Suho, keberadaan malaikatnya lah yang menjadi satu-satunya semangat"
Suho bergumul dengan air mata deras miliknya yang entah atas dasar apa benar-benar tak bisa Ia tahan. Dalam diam menahan isakannya namun tetap terfokus pada semua kalimat lirih yang mengudara dari bibir Kris.
"Yixing mengikuti semua pengobatan terbaik, aku melakukan semua hal yang dapat aku lakukan. Tapi kembali lagi, Tuhanlah yang menentukan hasil akhir dari semua usaha kami"
Kris kembali menarik nafasnya dalam, mengatur emosinya yang bergejolak tak kuasa menatap orang yang paling Ia cintai di dunia ini terpuruk dalam tangis "Musim gugur tahun lalu Yixing menghembuskan nafas terakhirnya, Tuhan mengakhiri penderitaan Yixing setelah dia berjuang melawan penyakitnya selama hampir 4 tahun"
Musim gugur tahun lalu, itu berarti sudah nyaris dua tahun berlalu. Suho benar-benar tak sanggup lagi mendengar semua penuturan Kris tentang apa yang sudah terjadi, tentang banyak hal yang ia lewatkan mengenai kehidupan pria masa lalunya ini.
"Dia selalu berkata ada satu hal yang Ia takutkan jika kematian datang menjemputnya terlalu cepat .." Suho menoleh, menanti lanjutan kalimat Kris dengan perasaan tak menentu, Kris menghela nafasnya pelan lalu kembali melanjutkan kalimatnya "Yixing takut jika Suho tak mengenal siapa wanita hebat yang sesungguhnya telah berkorban paling besar untuk kehadirannya di dunia ini, wanita yang merelakan seluruh hidupnya porak-poranda demi membiarkan Suho dapat melihat mentari dan wanita itu adalah Kau, dirimu .. Kim Junmyeon"
Dan raungan nanar yang menyeruak mengisi setiap sudut ruangan itu adalah milik Kim Junmyeon, Kim Junmyeon yang tengah bersimpuh tak mampu lagi menahan bobot tubuhnya, Kim Junmyeon yang tengah mengungkapkan semua kesedihan dalam dirinya, Kim Junmyeon yang tak menyangka ..
.
Lama wanita itu terisak, sibuk mengurai perih dalam dirinya. Kehadiran Suho kecil, kemunculan Kris, pernderitaan Yixing serta kematian wanita itu. Semuanya terlalu berlebihan ..
Kim Junmyeon menarik nafasnya dalam, mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang terkuras habis oleh tangisnya, mencari sedikit saja kekuatan untuk berucap mengenai satu pertanyaan yang terus menghantuinya "Lalu, Bagaimana Zhang Yixing melakukan ini semua ?" Suho menatap Kris dalam "Bagaimana Zhang Yixing membuat Suho mengenal siapa diriku ?"
.
.
.
-tbc-
.
.
.
Ini berasa lucu, lucu aja sih karena selama ini Joon gak pernah bales review readers dan sekarang musti bales review yang ngedumel soal 'GAK MASUK AKAL' piuhhh~
.
'Masuk Akal'
Dari pertama kali kamu, kalian, saya buka browser dan ngetik ' ' nyari-nyari FICTION buat di baca, yang kita semua lakuin itu udah GAK MASUK AKAL! Karena semua isi cerita di sini TIDAK MASUK AKAL! Jadi kalo anda komentar di tulisan saya dan ngedumel bilang apa yang saya tulis gak masuk akal, saya pikir anda salah tempat! Kalau anda mau bahas sesuatu yang REAL Dunia Kedokteran, yang masuk akal menurut anda, mungkin kita bisa ketemu di kelas kedokteran!
.
Apa tulisan saya hari ini masih TIDAK MASUK AKAL bagi anda ?
.
FYI, Sebanyak 70% Hemofilia disebabkan karena faktor genetik atau faktor keturunan (dimana Ayah adalah seorang penderita dan Ibu adalah seorang pembawa sifat yang menyebabkan seorang anak laki-laki/perempuan menderita penyakit ini) dan 30% lainnya memeliki bermacam-macam sebab seperti Kurangnya zat pembeku darah, Kurangnya protein yang berperan dalam proses pembekuan darah, juga Hemofilia dapat terjadi melalui mutasi gen spontan (Virus). Virus yang merusak sistem kromosom dalam tubuh sehingga membuat seseorang menderita hemofilia dengan diagonis dadakan (tidak merupakan bawaan dari lahir).
Dan juga yang harus anda ketahui, bahwa penderita Hemofilia tak lantas sama sekali tidak memiliki kesempatan hidup yang lebih sedikit panjang. Penderita Hemofilia tak lantas MATI dalam kurun waktu singkat, karena telah banyak di temukan berbagai macam obat dan suntikan-suntikan untuk mencegah/menghambat terjadinya penyakit ini!
Saya tidak pernah bilang di tulisan ini jika Yixing menderita Hemofilia sebagai bawaan dari lahir, bukankah SUDAH saya tuliskan jika Yixing didiagnosa mengidap kelainan ini ketika terjadi sesuatu yang tak beres dengan kandungannya ? Dan saya benarkan jika wanita penderita Hemofilia memiliki resiko jauh lebih besar dibanding Pria sehingga menyebabkan semua dari mereka hanya memiliki hidup yang singkat. Dan semua teori itu saya tulis di Chapt ini dengan kematian Zhang Yixing yang di sebabkan penyakit itu. MASIH TIDAK MASUK AKAL ?
.
Saya menulis di sini TIDAK DI BAYAR, TIDAK MENDAPAT SEPESERPUN KEUNTUNGAN. Termasuk Anda, Anda membaca tulisan saya TIDAK SAYA BAYAR dan TIDAK MENDAPAT SEPESERPUN KEUNTUNGAN, jadi silahkan tinggalkan apapun yang saya tulis jika menurut anda semuanya hanya sebuah KETIDAK MASUK AKALAN BELAKA!.
