RE-MAKE STORY
ORIGINAL STORY BY OtsuTaka-chan Amadeus Matsumoto
Cerita ini bukan asli milik saya, cerita ini aslinya milik Otchuu. Aku cuma remake dengan beberapa cerita yang aku ganti nyesuaiin sama Chara disini karena asli ceritanya milik Otchuu tuh OC alias Ori Chara. www aku beHyemiin diri buat minta izin sama Ochuu tuh pas dengerin lagunya Luhan – Our Tomorrow. Rasanya pas dengerin lagu itu langsung kepikiran sama Flo. Karena dulu pas Otchuu bikin cerita ini tuh kita sering banget gosipin teman aku yang namanya dipake sama Otchuu buat nama di FF ini dan ya..
Dan yang pasti aku udah dapat izin dari Otchuu ya~ :3
Kalau mau cerita aslinya silakan PM nanti akan aku kasih linknya .
Happy read and review ? Heheheh
.
- Let Me Be The One -
.
Original Story by Otsu and Re-Make by me, DeathSugar
HunHan
.
.
.
Happy Reading and review please~
.
.
][ DeathSugar ][
Chapter 8
Let Me be the ONE
Present and Enjoy reading, guys ..
…
.
.
Dalam kamar mandi itu, Daina bersandar pada dinding kamar mandi. Ia mencoba mencari kebenaran akan keputusannya sendiri; menyetujui tentang perasaan sang adik pada Luhan. Bohong. Daina berbohong tentang keputusannya sendiri saat itu, membiarkan perasaan Sehun berkembang pada pemuda manis yang juga ia sayangi layaknya adik itu.
Daina tahu, adiknya begitu menyayangi Luhan bahkan lebih dari adik seperti awal yang Sehun katakan. Namun Daina tidak sampai sejahat itu untuk membohongi sang adik tentang bagaimana perasaannya yang sebenarnya pada Luhan. Luhan itu manis dan baik—bahkan ia tidak meragukannya. Tapi Luhan dan Sehun itu laki-laki.
Daina tahu Luhan anak yang baik, dan jujur Daina tidak mempermasalahkan hubungan mereka. Tapi sungguh, jauh dalam hatinya ia tidak bisa membiarkan ini terjadi. Hati kecilnya—jauh didalam hatinya ia ingin Sehun tetap dengan kodratnya sebagai lelaki normal. Menikah dengan seorang perempuan dan kemudian mempunyai anak. Jauh dalam hatinya, Daina tidak ingin hanya menjadi penonton 'perasaan' yang Tuhan benci ini.
Namun apa ia ada hak? Cinta tidak mengenal apapun. Cinta tidak pernah salah. Cinta hanya akan salah jika mengenal ras, kasta dan begitu juga gender seseorang. Namun Daina juga tidak sampai hati untuk menyalahkan Luhan untuk ini. Ia tahu si mungil itu rapuh; walau ia tahu si mungil itu mencoba terlihat tegar, dan Sehun dimana letak kerapuhan itu. Daina tahu adiknya itu ingin menjaganya, dan ia dia setega itu untuk menjauhkan mereka. Itu sama Daina menyakiti keduanya. Dia yang membuat Sehun menyadari perasaannya dan kemudian memisahkan mereka? Sungguh, Daina tidak sejahat itu. Dia masih memiliki hati.
"Ya Tuhan.." suaranya terdengar lirih, bergetar menahan air matanya. "apa kau sedang menghukum mereka?" Daina sesak memikirkan tentang itu. Menghembuskan nafas, Daina bisa mendengar suara Sehun dari balik pintu kamar mandi.
"kau bangun?" mungkinkah Luhan sudah bangun?
"kenapa kau.. datang, Sehunnie?" itu suara Luhan. Walau pelan dan lemah, Daina masih sanggup untuk mendengarnya. "pergi dan jangan datang lagi.." Daina semakin menajamkan pendengarannya ketika ia samar-samar mendengarnya kalimat dari si mungil.
"apa maksudmu, Lu?" ada nada kaget yang Daina bisa dengar dari jawaban Sehun.
"Jauhi aku.. aku tidak ingin membawamu kedalam dunia semu-ku." Daina memejamkan matanya, merasakan suatu yang menusuk ulu hatinya. Bahkan sebelum ini Luhan telah memikirkan ini semua? Bahkan tentang Sehun?
"kau tidak pernah menyeretku kedalam duniamu. Sama sekali tidak. Aku yang ingin masuk."
"Lalu.. ciuman itu.." hening sejenak, "bukankah kamu menganggapku sebagai adikmu?"
Daina mengigit bibir bawahnya ketika ia mendengar kalimat itu. Ciuman? Kapan? Sehun mencium Luhan? Seketika kakinya terasa tidak berdaya.
"I-itu..aku.. sebenarnya aku—"
"Pergilah Hunnie, sebelum kau menyesal."
"Menyesal untuk apa? Lu, kau kenapa?"
"aku.. aku hanya tidak mau membuatmu menjadi sepertiku. Aku tahu, kau kasihan padaku, karena itu kau menganggapku adik."
"Lu, kau kenapa? Apa maksudmu mengatakan kalau aku hanya kasihan padamu?"
"kau hanya terbawa perasaan! Jauhi aku, kau akan menyesal nantinya! Aku ini Gay!"
"Luhan! Berhenti berkata konyol seperti ini!" terdengar suara Sehun sedikit membentak, Daina tahu mungkin Sehun merasa kesal. "Aku menyayangimu! Aku ingin berada disampingmu! Aku menyukaimu!"
Daina bisa mendengar suara Sehun yang mungkin sudah terlalu lelah dengan kata-kata Luhan yang mungkin membuatnya merasa sakit. Tapi sungguh, Daina tidak menyangka akan secepat itu Sehun mengatakan perasaannya. Daina menghela nafas, mencoba untuk masih menajamkan pendengarannya.
"..kau tahu itu salah, apa yang kau rasakan itu semu.. kau tak boleh menyukaiku."
"berhenti bicara hal konyol, Luhan! Aku menyukaimu!"
"Tapi aku tidak menyukaimu!" kali ini suara Luhan terdengar lebih keras, "pergilah Sehun. Jangan libatkan dirimu lebih jauh." Mendengar itu Daina menghela nafas berat. Kenapa semua jadi serumit ini?
Daina bisa mendengar dengan jelas ketika Sehun masih tetap dengan pendiriannya. Dia tidak akan meninggalkan Luhan walau Luhan tidak menyukainya. Daina tahu sifat adik terkecilnya itu. Dia tidak akan menyerah sebelum apa yang ia inginkan berada dalam genggaman tangannya.
"Aku tidak ingin menyakitimu, Sehun. Aku—"
"Bahkan dengan penolakanmu tadi kau sudah menyakitiku! Jangan meminta hal tidak mungkin padaku; seperti menjauhimu! Itu menyakitiku!"
Daina menghela nafas, mengusap air matanya yang jatuh di wajah cantiknya. Si cantik itu tidak bisa membiarkan perdebatan antara Sehun dan Luhan lebih jauh. Daina buka pintu kamar mandi itu, membuat Luhan ataupun Sehun menoleh kearahnya. Luhan tertegun ketika ia melihat Daina. Daina menghela nafas, menatap Luhan dan Sehun bergantian.
"Cukup, Hunna.. Luhan butuh istirahat.. lebih baik kau pulang."
"aku tidak akan pergi, Nunna. Aku—"
"Luhan butuh istirahat!"
Sehun beralih menatap Luhan, si mungil itu hanya tertunduk diranjang. Tangan-tangan mungilnya memainkan selimutnya tidak tenang. Tak mendapatkan reaksi apapun dari Luhan, Sehun berdecak kesal. Keluar dari ruangan bangsal itu dan menutup pintunya kasar.
Daina menghela nafas pelan dan menatap Luhan kemudian. melihat si mungil dihadapannya itu menunduk dan seperti mengusap sesuatu di wajahnya manisnya. Daina miris melihat itu. Tangannya terulur, membawa si mungil itu dalam pelukannya. Si mungil menangis.
"maafkan aku Dai-Nunna." Lirih, namun Daina bisa mendengar suara disela isakan itu. "M-ma-af.. a-aku.. S-sehun.. aku membuat Sehun menjadi seperti ini.." bahu kecil itu bergetar. Daina semakin memeluknya erat.
"aku tidak b-bermaksud.. sungguh.." Luhan menatap Daina dengan mata yang sembab, "aku.. aku menyakitinya, Nunna.."
"Tidak. Kau tidak menyakitnya, Lu.." Daina usap air mata itu, mencoba tersenyum, "Jujur padaku.. Luhan, kau menyukai Sehun, 'kan?"
Terlihat sorot keraguan dimata bening itu, menggeleng. Namun Daina tahu Luhan berdusta.
"jangan bohong padaku.. matamu mengatakan sebaliknya.."
"...aku suka...aku senang saat dia memperhatikanku, tapi aku tidak bisa..."
"kalau kau seperti ini.. bukan hanya Sehun yang terluka, Lu. Kau pun juga akan terluka.."
"Tapi.. A-aku.. aku tidak ingin dia sepertiku.." Luhan menggelengkan kepalanya, bahunya semakin bergetar, tidak bisa mengontrol tangisnya, "Sehun terlalu baik, aku tidak mau membuatnya sama sepertiku.."
"Lu.. lakukan apa yang hatimu tuntun jangan—"
"Dai-Nunna marah padaku 'kan? Aku membuat Sehun seperti ini.. A-aku.. sungguh.. maafkan aku.. a-aku tidak bermaksud untuk—"
"Lu.." Daina tersenyum, mengusap lembut pundak si mungil dihadapannya itu sebelum akhirnya mengusap air mata itu. "Sehun sudah bisa memilih jalannya sendiri. Dia tahu apa yang dia lakukan." Daina tersenyum, "So, you love him, right?"
Terdiam cukup lama sampai akhirnya si munggil mengangguk dan semburat merah menghiasi pipinya. Daina tersenyum, mengusap kembali rambut si mungil dihadapannya. Satu masalah selesai dan masalah yang lain menunggu.
。。。
[Luhan's Pov]
.
Aku menoleh melihat jam dinding seraya mengancingkan kemeja putih ku. Ku lihat sudah jam tujuh, tatapanku kembali pada pintu kamar rawat ku yang tertutup. Aku sudah menunggu kurang lebih duapuluh menit, tapi Dai-Nunna belum juga menampakkan batang hidungnya, katanya dia ingin mengajakku jalan-jalan.
Aku selesai memakai kemeja lengan panjangku, dan kini aku hanya diam menunggu. Luka melepuh di bagian tubuh atasku membuatku tidak bisa memakai kaos, sebenarnya aku lebih suka memakai kaos daripada kemeja ini.
Aku duduk di pinggir tempat tidur dengan kaki menjuntai ke bawah. Kejadian siang tadi kembali hinggap di kepalaku. Aku bingung harus bagaimana, aku sudah jujur pada Dai-Nunna kalau aku menyukai adiknya. Aku juga tidak tahu sejak kapan aku menyukainya, aku selalu merasa nyaman di dekatnya, terlebih Sehun juga selalu memperlakukan ku seperti anak kecil. Terlalu lama hidup sendiri membuatku ingin di manja oleh seseorang.
Aku suka dia, tapi aku juga tidak mau merusaknya, bagaimana dengan hidupnya nanti?
Ku angkat wajahku mendengar suara pintu yang di buka, ku lihat Dai-Nunna masuk dengan cengiran di bibirnya, ia tampak cantik dengan dress merah maroon-nya yang simpel dan manis, rambutnya di biarkan teruai dan di lehernya tergantung sebuah kamera.
"Maaf aku telat" ucapnya berjalan ke arahku, membiarkan pintu kamar rawat terbuka. Aku mengangguk, rasanya malu bertatapan dengan Dai-Nunna karena aku ingat sudah menangis di depannya siang tadi.
"Tadi aku ada janji dengan teman jadi sedikit telat" kata Dai-Nunna sambil meletakkan tas tangannya ke sebelahku.
"Kencan ya?" tebakku, wajah Dai-Nunna memerah, aku cuma tersenyum.
"Sudah siap?" tanya Dai-Nunna, aku mengangguk.
"Kita akan kemana?" tanyaku seraya turun dari ranjang. Dai-Nunna membantuku, ia mengambil kursi roda yang ada di bagian depan tempat tidurku dan membukanya.
"Ada cafe baru di depan Taman Kota, aku mau mengajak mu kesana" kata Dai-Nunna sambil mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Memang ada apa di cafe itu?"
"Waffle ice cream, ah, ini dia" ucap Dai-Nunna dan mendesis pelan di akhir kalimatnya.
Ia menoleh padaku dengan membawa sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang berwarna abu-abu dengan beberapa tombol kecil di pinggir benda itu.
"Ini untukmu" ucapnya sambil menarik tangan kananku dan meletakkan benda itu ke telapak tanganku.
"Apa ini?" tanyaku bingung memperhatikan benda yang ku pegang ini.
"Itu recorder, kau bisa menceritakan masalahmu kesana kalau kau tidak ingin berbagi dengan siapapun"
"Eh? Terima kasih"
"Yep! ayo aku bantu"
Dai-Nunna memegangi lenganku, dengan pelan aku duduk di kursi roda, karena kata Dokter Lee aku masih lemah akibat teraphy jadi aku menggunakan kursi roda. Ku simpan di saku kemejaku recorder pemberian Dai-Nunna, ia mendorong kursi rodaku keluar kamar lalu menutup pintu kamar rawatku dan kembali mendorong kursi rodaku menyusuri lorong.
Saat menuju ke bagian depan Rumah Sakit aku dan Dai-Nunna membicarakan cafe yang di maksud Dai-Nunna. Aku benar-benar berterima kasih padanya, kalau Dai-Nunna tidak ada, mungkin aku akan mengurung diri memikirkan perihal siang tadi dan juga tentang Sehun.
Aku dan Dai-Nunna menunggu beberapa menit sampai jalan sedikit lebih lenggang karena di ujung jalan masih lampu merah. Dai-Nunna mendorong kursi rodaku menyebrang jalan menuju Taman Kota.
"Ya ampun! Aku lupa tas ku!" ujar Dai-Nunna, aku menoleh padanya yang berdiri di belakang kursi rodaku.
"Aku ambil dulu ya, tunggu disini" kata Dai-Nunna panik sambil menepuk pundakku. Aku mengangguk.
Ku edarkan pandanganku ke sekitar Taman, ku ulurkan ke dua tanganku pada roda dan menjalankannya ke bundaran taman. Rasanya benar-benar repot memakai kursi roda, aku sempat berhenti memutar roda karena angin yang meniup rambutku, benar-benar menyusahkan karena rambutku sudah agak panjang, juga aku tidak bawa karet rambut.
Aku melihat ke depan, pada sosok pemuda tinggi berambut hitam pendek yang memakai celana basket biru dan kaus hitam. Pemuda itu Kai, ia membawa kantong plastik kecil. Jadi, Sehun juga ada di Taman ini?
Aku bangkit perlahan, berusaha berdiri dengan ke dua kaki ku. Aku bertekat untuk bicara dengannya, ku langkahkan kaki ku mengejar Kai. Tiba-tiba saja aku tidak merasakan lemas lagi.
"Kai-ssi!" panggilku keras.
Kai berhenti berjalan dan menoleh. Ia terlihat kaget melihatku, meski raut wajahnya masih tetap tenang, ia berbalik menghadapku.
"Ada apa?" tanya Kai. Aku menarik nafas pelan, berusaha menguatkan hati ku.
"Aku minta maaf" ucapku sambil membungkuk dalam. Kai tidak merespon, ku lirik kakinya, dan dia masih berdiri di depanku. Aku pun kembali berdiri tegak, balas menatap sorot matanya yang tajam.
"Kau tau apa yang kau lakukan ini?" tanya Kai, ada nada tidak suka di suaranya. Aku mengangguk.
"Aku tidak bisa membohongi diriku. Aku suka Sehun" ujarku.
"Aku tidak peduli kau suka Sehun atau tidak, yang penting jauhi dia"
"Aku sudah melakukannya! Aku bukan siapa-siapa Sehun yang seenaknya bisa memaksanya!"
"Kau akan menyesal sudah membuat Sehun seperti ini"
"Aku tau! Tapi kau bisa mempercayaiku kalau aku tidak akan membalas perasaannya!"
"Bukankah hal itu akan melukainya juga?"
"Aku juga tidak mau Sehun masuk terlalu dalam. Aku tahu seperti apa rasanya, dan aku tidak mau melibatkannya"
Kai hanya menatapku. Aku tahu pasti dia sangat peduli pada Sehun, mana mungkin dia akan diam saja kalau sahabatnya sedang mengarah pada hal yang tidak baik.
"Kau hanya akan merusak hidupnya" ucap Kai dingin. Dadaku seperti di hujam pisau, rasanya sakit.
Tatapan mataku beralih pada sosok tinggi di belakang Kai yang aku tidak tahu sejak kapan dia berada di sana. Sehun. Tubuhku mematung, ku lihat Kai yang menyadari perubahan raut wajahku pun ikut menoleh ke belakang punggungnya.
Apa dia mendengar percakapan kami?
"Kau bicara apa pada Luhan?" tanya Sehun pada Kai, sorot matanya sangat tidak bersahabat.
.
[Sehun's Pov]
.
Aku mendapati Kai sedang bicara dengan Luhan, saat aku mau menyusulnya karena Kai terlalu lama membeli minuman. Aku dengar kalimat terakhir yang di lontarkan Kai, dan instingku berkata kalau ada sesuatu di antara mereka. Aku menatap Kai meminta jawaban, dan aku bisa merasakan tatapan Luhan yang kaget melihatku.
"Aku bilang padanya untuk menjauhimu" ucap Kai, aku memicingkan mata mendengarnya.
"Apa kau bilang?"
"Dia memberi dampak buruk untukmu Hun, kau jadi 'sakit' gara-gara dia 'kan?"
Aku menoleh pada Luhan yang diam menunduk.
"Aku yang mau dekat-dekat dengannya, bukan Luhan yang membuatku seperti ini!" kataku emosi. Aku tidak terima kalau Luhan di salahkan karena aku suka padanya.
"Kau pikir aku terima kau jadi 'sakit' gara-gara dia?!" Kai menunjuk pada Luhan.
"berhenti menyalahkan Luhan! Dia sudah menyuruh ku pergi dan dia tidak suka padaku!"
Kai mendengus pelan dan tersenyum meremehkan.
"Kau yakin dia tidak suka padamu?" tanyanya membuatku menoleh pada Luhan.
"Terserah, aku sebagai sahabatmu tidak terima kau jadi bengkok seperti ini" kata Kai, ia berjalan melewatiku.
Aku diam, tidak tahu harus mengatakan apa. Luhan masih berdiri diam menunduk, sayup-sayup aku mendengar suara isakan darinya.
"Luhan..." panggilku mendekatinya. Ku rendahkan kepalaku menatap wajahnya, ku usap air matanya pelan.
"Aku minta maaf..." ucapnya pelan.
"Tidak, aku yang minta maaf..." kataku sambil menyentuh pipinya dan mengahadapkan wajahnya padaku.
Matanya basah, aku tidak rela melihatnya menangis gara-gara tuduhan Kai tadi.
"...aku yang membuatmu jadi seperti ini..."
Aku menggeleng. "Seharusnya aku menurutimu dulu, tapi aku tidak mau, karena aku ingin ada di sampingmu Lu, jangan salahkan dirimu" ujarku.
"...aku..."
"Aku yang ingin dekat-dekat denganmu, bukan kamu yang membuatku seperti ini. Ku mohon jangan menangis"
Luhan tidak menatapku, aku sedikit membungkuk untuk memeluknya karena tubuh mungilnya dan Luhan tidak menolak saat aku peluk. Melihatnya menangis membuatku ingin melindunginya, aku tidak akan membiarkannya menangis lagi. Aku tidak perduli dengan tatapan orang-orang yang melewati kami, aku ingin tangis Luhan berhenti, dan ku rasakan ke dua tangan balas memeluk pinggangku. Aku tersenyum. Dia tidak menolakku..
.
To Be Continued~
.
.
Numpang Curhat :
Aniwei, aku mau tanya cerita ini ngebosenin kah ? atau alurnya terlalu lambat ? jujur aku suka cerita punya Otsu ini karena alurnya ringan, cuma fokus ke tokoh utama, si Flo (Luhan) dan Kevin (Sehun).
Aku nulis ini ngebayangin Luhan di MV Tian Mi Mi dan Sehun pas di nature republic. Kek yang di cover image ini ff. alur ceritanya simpel dan ga ribet, maka dari itu aku mau re-make ff ini.
Awal nulis juga mau beneran total re-make dari bahasa penulisannya. Cuma setelah dipikir lagi.. ff ini ga bakalan cocok sama gaya tulisanku yang menurutku masih terlalu berbelit penyampaiannya. Bahasa tulisanku juga ga bagus. Aku masih banyak belajar. Hahah makanya dari kata-katanya tetep pake punya Otsu hanya dengan sedikit perubahan biar ga banyak. :'3
Betewe lagi, kalian lebih suka cerita pake author pov atau chara pov ? ._. Itu di awal cerita pake Author POV. Aslinya itu Daina's POV kalo versi aslinya. Jadi kira-kira sejenis gitulah kalau aku nulis cerita—lebih tepatnya tergantung mood aku aja. Jadi kalian lebih suka Luhan and Sehun's POV atau pake Author's POV ? ._.
Ah terlalu sulit untuk nge-remake chapter ini. Hahaha :'3 silakan tinggalkan jejak setelah baca fanfic ini nyaw~ kritik saran akan saya terima dengan senang hati asal reviewnya pake bahasa yang baik dan sopan. Hehe '3')/
Kalau mau nge-bash sini jangan modal guest. *asah golok* *jedugh
Ah iya .. mungkin bakal dilanjut setelah lebaran ya. Cuma ya tetep ga bisa janjiin apdet cepet. Hehehe :'3
Makasih yang udah mau baca dan review. Makasih buat siders yang baca juga. Aku cinta kalian. *pelukin atu-atu*
Yang nungguin Shadow sama The Lost Symbol sabar yak. The Lost Symbol kayaknya ga bakalan dilanjut. :'v udah ilang duluan moodnya. *sapuin serpihan kokoro* tapi Shadow tetep lanjut kok. Palingan abis lebaran apdetnya www
Bentar lagi lebaran inih..
Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir bathin~ *salam-salam*
.
.
Salam kode-kodean~
520 !
.
13 July 2015
© DeathSugar
