YO! Minaa!

Akhirnya bisa update juga… maaf telat banget updatenya. Selama liburan ini ternyata Ren malah makin banyak kegiatan. Gak sempat update.

Dan juga sempat kehabisan ide,loh… jadi maaf kalau makin abal… ^^v

Dan untuk permintaan maaf… Ren langsung Upadate sampe chap akhir! Hohoho…


Oke, Langsung aja balas reviews:

*Rose: makasih ya… udah terus ngikutin fic abal atu ini. *bow* KyuuNaru memang manis. Minato gak bikin Naru nangis kok, paling cuma mewek doank… #digebuk. Maaf ya… updatenya lama T^T

*Wulan-chan: Tenang Naru gak bakalan sedih-sedihan lagi kok… eum, mungkin. #plakk! oke makasih udah ngikutin fic ini, ya wulan… :D

*Rofuneko: hahaha, maybe… kyu-chan 'kan rada-rada. #dibakar Kyuubi. Awalnya Saso memang mau dijadikan kakak… Tapi gak jadi deh, habis udah kebanyakan kakak juga Gaara-nya…*alasan yang aneh* hahaha. Chap 11 Dei sadar, kok. Untuk MinaNaru… dibahas di chap ini tuntas… Oke! Makasih udah ngikutin fic ini…*bow*

*Vii no Kitsune: MinaNaru di tuntaskan(?) di chap ini kok! Untuk request-nya… Maaf banget gak bisa di penuhi. Soalnya udah di konsep muanya hehehe… tapi makasih udah ngikutin fic ini *bow*

*shia naru: maksih udah review… untuk penderitaan Sasuke? Dilihat aja deh… maaf jika gak sesuai keinginan…

*evi chaan / onik-suka-spirel: hahaha iya sama-sama… makasih juga udah ngikutin fic ini.. *bow*

*ruika: hahaha iya… baguslah kalau chap sebelumnya bisa menghibur… untuk Naru nge-dance lagi mungkin udah gak bisa… kenapa? Udah tamat soalnya. Noh, di chap 12. Hehehe makasih udah berkenan ngikutin fic ini… :D

*Ana: Hahaha iya panjang… Ren ampe bingung balasnya, tapi Ren suka loh. MinaNaru di bahas di chap ini, tuntas, kok. Thank's udah nyempatin review sepanjang itu… ^^

*Queen The Reaper: Gomen~ update-nya lama… ternyata gak sesuai harapan untuk bisa update cepat. Maaf ya… tapi Thank's so much udah bersedia stay ngikuti fic ini.. ^0^

*ukkychan: SasuNaru di bahas di chap ini… makasih udah tetap stay ya…

*Rosanaru: MinaNaru udah gak sedih-sedih lagi kok, di chap ini… kalo Shion… nilai ndiri aja yah… hehehe^^ #plak! Thank's ya udah terus ngikutin fic ini… ^^

*Imperiale Nazwa-chan: SasuNaru di simpen dulu untuk chap akhir… hehehe. Yapz! Chap 12 tamat kok, rencananya mau sampe chap 11 aja, ekh, setelah di lihat ternyata kepanjangan, jadi yah… gitu deh. Yosh! KyuuNaru the best! #dibantai duo Uchiha. Oke! Arigatou… ya, masih berkenan ngikutin fic ini XD…

*Kishu Mars: Gomen… updatenya lama… T-T… tapi makasih udah tetap stay di fic ini… XD

*La Nina Que ' Aru-chan: Hahaha… bagus lah kalau chap sebelumnya bisa menghibur… Maksih udah berkenan dengan fic ini… :D

*Eve Lunatique: Hahaha.. FugaMina? Ada tuh di chap akhir… hehehe maaf requestnya gak bisa di turutin… udah tamat soalnya di chap 12. Gak pernah bosen kok… :D Oke, Arigatou ya! udah merespon fic abal ini terus…^o^

*NN: itu inisial, nama alias Ren ndiri kok, A(aoi), C(Choi), J(Jee),S(Sun). maksih udah review…^^


Naruto © Masashi Kisimoto

Hate and Smile written by RenJeeSun

Rated: T

warning: Yaoi, BL, Gaje, OOC, OC, typo bertebaran, dll.

Pairing: SasuNaru

Slight: GaaNaru, ShikaKiba, NejiGaa, ItaKyuu.

Don't like, don't read!

.

::A::C::SN::J::S::

.

3 tahun lalu.

"Ibu!" teriak seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku SMP, sedang berlari dengan semangatnya menuju ke arah seorang wanita berambut merah panjang. Wanita tersebut sedang duduk bersama dengan seorang pemuda berambut pirang panjang, yang tengah membaca sebuah buku.

"Naru! Tidak perlu berteriak seperti itu!" peringat pemuda pirang tersebut pada adiknya, karena merasa acara membacanya terganggu. Dan wanita berambut merah yang merupakan Ibu dari dua pemuda blonde tersebut hanya menggelengkan kepalanya.

"Ada apa Naru?" tanya sang Ibu.

"Ibu, apa benar ada kontes menari di Hall Suna?" ujar Naruto dengan mata berbinar.

"Lalu, jika di sana ada kontes kau mau apa?" ujar pemuda blonde panjang, Deidara, dengan nada malas.

"Aku mau melihatnya, Ibu! ya, ya, ya?" Naruto memasang puppy eyes-nya membuat Kushina menelan ludah gugup. Jika Naruto sudah melancarkan jurus mautnya itu, dijamin siapa pun yang melihatnya akan luluh.

Tapi Kushina berusaha mengabaikan tatapan anak bungsunya itu, ketika dia mengingat pesan suaminya.

"Maaf, Naru … Ayah tidak mengizinkan kita untuk keluar rumah hari ini," jelas Kushina.

Seketika raut wajah Naruto berubah muram, "Kenapa?" lirihnya. Membuat Kushina juga Deidara lagi-lagi harus menguatkan iman.

Dan kali ini, sepertinya mereka berdua benar-benar luluh dengan si bungsu. Lagi pula, siapa yang tega melihat bocah manis satu ini memasang wajah seperti ingin dipungut?

Kushina nampak berpikir sebentar. "Haa~ baiklah Naru … nanti Ibu yang akan menjelaskannya pada Ayah. Dan Ibu rasa, tidak ada masalah jika kita hanya ke Hall saja."

"Tapi Bu, Ayah bisa marah nanti," sahut Deidara, merasa tidak setuju dengan keputusan sepihak ibunya. Namun, protesnya itu percuma saja ketika melihat Kushina dengan 'baik'nya melayangkan tatapan mematikan padanya. Hingga Deidara sendiri harus menelan ludah paksa melihatnya.

Oh, ibunya ini memang sangat berbeda jika menyangkut dirinya dan Naruto, tapi akan menjadi lebih berbeda lagi jika menyangkut kakaknya, Kyuubi. Namun bukan berarti Deidara atau Kyuubi merasa cemburu dengan perilaku pilih kasih yang dilakukan ibunya. Bahkan Deidara dan Kyuubi tidak pernah memusingkan hal yang dianggap mereka kekanakan seperti itu dan mereka sangat bersyukur dengan kelahiran Naruto.

Dan jika sudah begini tidak ada yang bisa menghalangi keputusan ibunya itu. Namun bukan tanpa alasan Deidara melayangkan protesnya, karena dia tahu bahwa ayahnya memang sedang mengerjakan suatu hal yang penting dan hal tersebut menyangkut ibunya, namun tanpa ibunya itu ketahui.

"Kalau begitu, ayo kita pergi! Dei, panggilkan Iruka, dia yang akan mengantar kita," perintah Kushina.

"Tidak usah Ibu, biar aku saja yang mengantar kalian," sahut Deidara. 'Setidaknya biar aku yang mengawasi.'

Dan usul Deidara tersebut langsung disetujui Kushina.

Akhirnya, mereka bertiga pun berangkat, tanpa tahu bahwa hal tersebutlah yang akan merubah drastis kehidupan mereka.

.

.

"Ibu, apa nanti aku akan menjadi hebat seperti mereka?" ujar Naruto saat kini mereka telah kembali dalam perjalanan pulang ke rumah. Naruto masih saja antusias dengan pertunjukan yang disugguhkan di Hall Suna tadi, karena sejak tadi dia tidak pernah berhenti mengoceh mengenai kontes menari itu.

Kushina mengulum senyumnya, "Tentu saja! bahkan kau akan menjadi yang paling hebat!"

"Benarkah?" Kushina mengangguk seraya mengacak rambut Naruto.

"Tapi jika kau bisa mengalahkan Kyuu-nii," celetuk Deidara, mengingat pertandingan dance KyuuNaru yang sudah berlangsung tadi malam.

Naruto langsung menatap Deidara kesal dari kaca spion, "Tapi kemarin aku sudah mengalahkannya, kok!"

"Itu 'kan karena Ibu yang menyuruhnya mengalah padamu," ujar Deidara dengan nada mengejek. Naruto menatap ibunya seolah meminta penjelasan dan Kushina hanya bisa tertawa canggung melihatnya.

"Habis … kalau tidak begitu, kau tidak mau tidur jika belum mengalahkan Kyuu-chan dulu," kata Kushina membela diri.

Naruto langsung cemberut dibuatnya.

"Iya, Ibu minta maaf," kata Kushina dengan raut setengah menyesal. "Tapi Ibu yakin, suatu saat, Naru pasti akan lebih hebat dari Kyuubi dan akan menjadi kebanggaan bagi kita semua, benar tidak Dei-Dei?"

"Hu-um!" jawab Deidara dengan gumaman dan kemudian terkekeh kecil saat melihat wajah adiknya itu sudah kembali ceria kembali.

"Baiklah! Aku pasti akan mengalahkan Kyuu-nii dan menjadi yang paling hebat!" ujar Naruto semangat sambil mengepalkan tangannya ke atas. "Lihat saja! Aku janji akan menjadi orang hebat seperti Ibu!"

Dan celotehan Naruto tentang mengalahkan Kyuubi pun berlanjut di dalam mobil tersebut. Membuat gelak tawa terdengar di antara mereka.

Hingga Deidara tidak menyadari sebuah mobil hitam sedang melaju dari arah belakang dan hendak menabrak mobil yang dikemudikannya. Saat Deidara melihat mobil tersebut dan ingin menghindarnya, tak disangka rem mobil tersebut tidak berfungsi.

Tentu hal tersebut membuat Deidara panik mengendalikan mobilnya. Kushina yang menyadari hal itu refleks langsung melindungi Naruto yang duduk di sampingnya pada jok belakang.

Sedangkan Naruto yang tidak mengerti apa pun itu hanya memandang sang ibu yang mendekapnya, bingung.

Kushina tiba-tiba terbelalak ketika melihat sebuah truk yang sepertinya menghadang mobil mereka.

"Dei! AWAS!"

Tiiiiiiinnnnn!

Ciiiiiittttttt!

BRAKK!

BRUAGH!

Spontan Deidara langsung membanting setir ke kiri, namun naas mobil yang ditumpangi mereka benar-benar hilang kendali dan terguling hingga body mobil menabrak pohon di pinggir jalan, dan mengakibatkan penyok yang dalam menghatam tubuh Kushina.

.

.

Tubuh Naruto gemetar hebat, matanya terbelalak lebar saat melihat cairan kental merah mengalir dari kepala ibunya.

Sungguh, kejadian tersebut begitu cepat terjadi, hingga Naruto bahkan tak sadar apa yang telah terjadi. Naruto berusaha menggerakkan lehernya untuk melihat sang kakak dari balik punggung ibunya. Namun, penglihatannya tidak bisa menemukan di mana kakaknya berada.

"I—Ibu … De—Dei-nii."

"Na-ru … kau tidak ap-apa-apa, nak?" tanya Kushina susah payah sambil menahan nyeri pada kepalanya, bahkan dirinya sudah merasa mati rasa pada kakinya yang terjepit.

Naruto tercekat, tidak sanggup melihat keadaan sang ibu, dia mengangguk pelan sebagai jawaban, ketika merasakan tenggorokannya seperti tersumbat oleh sesuatu, efek dari rasa shock yang dialaminya. Pandangannya mengabur ketika air matanya mengalir turun.

Kushina tersenyum lemah padanya.

"He-i, Naru … mau berjanji satu hal pada Ibu?" kata Kushina lirih.

Naruto mengangguk cepat.

"Jaga A—yahmu untuk Ibu, ya? Da—n buatlah mimpimu … menjadi nyata," tambah Kushina dengan nafas yang semakin berat.

Kali ini Naruto merespon pertanyaan sang ibu hanya dengan memeluknya seerat mungkin.

"Ibu bertahanlah … aku mohon …" ujar Naruto dengan suara serak.

Kushina lagi-lagi hanya tersenyum di balik punggung anaknya, ia lalu sedikit melepas pelukan Naruto, hanya sekedar untuk mendaratkan sebuah kecupan di dahinya.

"Jangan terus menangis Naru ... tersenyumlah, karena Ibu sangat menyukai senyummu ..." ujarnya kemudian, sebuah senyum hangat terlukis di wajahnya yang sedang menahan sakit dan beberapa detik kemudian, penglihatan Kushina menjadi gelap.

"Ibu ... " lirih Naruto, air matanya terus mengalir dengan tatapan kosongnya mengarah pada tubuh sang ibu yang tergolek tak bernyawa bersandar pada tubuhnya.

.

.

::A::C::SN::J::S::

.

.

Naruto masih terdiam dengan sebuah amplop coklat di tangannya. Dia tidak tahu harus menjelaskan seperti apa pada ayahnya tentang foto-foto dirinya yang sedang menari saat festival sekolah.

Naruto mengerlikan mata ke arah meja kerja neneknya. Dan neneknya itu hanya mengedikkan bahu, tanda bahwa dia sama sekali tidak tahu tentang masalah foto itu.

"Maaf …" ucap Naruto akhirnya, dengan wajah menunduk dalam.

"Bukan maaf yang ingin aku dengar darimu," sahut Minato, yang langsung menimbulkan rasa sakit untuk kesekian kalinya pada Naruto.

Namun tanpa Naruto ketahui bahwa Minato juga merasakan hal yang sama, karena terus menurus harus menyakiti anaknya itu. Minato harus menahan sekuat tenaga untuk tidak merengkuh Naruto dalam dekapannya saat ini juga dan mengatakan bahwa Naruto tidaklah salah. Tapi mungkin memang dialah yang salah karena lalai melindungi keluarganya.

Dan untuk itulah kali ini Minato bertekad untuk tidak akan membiarkan anak-anaknya mengalami hal yang sama seperti ibunya. Namun, hanya cara inilah yang terpikirkan untuk membuat anaknya itu tidak akan mengalami hal yang sama seperti ibunya.

"Aku tidak mengerti …" ujar Naruto pelan dan menahan rasa sesak di dadanya, "Mengapa Ayah melarangku untuk menari? Padahal, dulu Ayah selalu mendukungku, tapi mengapa sekarang …" Naruto tidak melanjutkan perkataanya, sulit baginya untuk mengungkapkan sikap Minato yang sekarang padanya.

Sesaat keheningan terjadi di ruangan itu.

"Ibumu ... bukan meninggal karena kecelakaan," kata Minato menatap lurus ke arah Naruto.

Naruto tersentak dengan penuturan ayahnya, dan langsung menatap wajah Minato yang kini memasang raut wajah datar, namun ada kilat sedih dan penyesalan yang mendalam dari tatapannya.

"Apa maksud Ayah?"

Minato tidak menjawab, dia mengalihkan pandangannya dari Naruto pada jendela besar yang ada di ruangan itu. Sungguh berat baginya untuk mengatakan kenyataan yang sebenarnya pada anaknya ini.

Hingga akhirnya Tsunade-lah yang angkat bicara, mengerti apa yang dirasakan anaknya. "Ada seseorang yang sengaja menyabotase mobil yang kalian tumpangi saat pulang dari Hall Suna tiga tahun lalu," cerita Tsunade.

Naruto menatap nenek dan ayahnya bergantian dengan raut terkejut.

"Tetapi, beberapa hari sebelumnya, Ayahmu sering menerima surat kaleng yang bertujuan meneror Ibumu. Dan setelah Ayahmu selidiki, ternyata surat-surat tersebut berasal dari saingan Ibumu. Oleh karena itu, Ayahmu meminta Ibumu untuk tidak keluar rumah, berjaga-jaga agar tidak ada yang mencelakakan Ibumu, tapi—"

"—Tapi, karena aku yang meminta Ibu untuk menemaniku pergi, maka kejadian itu terjadi," ujar Naruto memotong perkataan Tsunade. Raut wajahnya nampak sangat terpukul dengan kenyataan yang baru saja didengarnya.

"Bukan begitu Bocah!" sergah Tsunade, sedikit membentak, dia tidak bisa membiarkan cucu kesayangsnnya itu menyalahkan dirinya sendiri. Sudah cukup dia melihat cucunya itu harus merasakan sakit akibat sikap Minato.

"Tapi, memang itulah kenyataan yang terjadi, Nek. Jika saja aku tidak merengek untuk menonton kontes itu, mungkin saja Ibu masih di sini … bersama kita, begitu juga Dei-nii."

Tsunade menghembuskan nafas pelan, "Ya, apa yang kau katakan itu tidaklah salah, namun itu semua hanya sebuah kemungkinan. Karena, tidak mustahil jika Kushina bisa saja meninggal dengan keadaan yang berbeda," ujarnya, membuat Naruto terdiam.

"Dunia yang Ibumu tekuni bukan hanya sebuah permainan untuk mencari ketenaran semata atau hanya sekedar hobi yang bisa kau lakukan di waktu luangmu, namun semua itu penuh dengan rasa tanggung jawab dan memiliki risiko yang tidaklah kecil. Bahkan, tidak menutup kemungkinan hal yang terjadi pada Ibumu juga dapat terjadi padamu," ujar Minato kembali menatap wajah anaknya.

Mendengar penuturan ayahnya itu, mau tidak mau Naruto merasa sedikit aneh. Bolehkah dia mengasumsikan bahwa ayahnya itu seolah ingin … melindunginya?

"Boleh aku tanya satu hal, Ayah?"

Kening Minato sedikit berkerut ketika mendengar pertanyaan itu.

"Apa Ayah membenciku?" Kali ini tatapan Naruto berubah sendu, "Membenciku karena membuat Ibu meninggal?"

Minato tercekat, tidak pernah ia menyangka bahwa Naruto akan menganggap sikapnya ini karena ia membenci anaknya itu.

Sedangkan Tsunade kini hanya bisa memijit pelipisnya sendiri, merasakan sakit kepala yang terasa menyerangnya secara mendadak. 'Mengapa bisa seperti ini?' keluhnya frustasi.

Beberapa detik Minato terdiam.

"Terlepas dari aku membencimu atau tidak," ujarnya, "aku tidak akan membiarkanmu untuk mengikuti jejak Ibumu. Walaupun itu adalah impiamu sekalipun."

Tsunade langsung menatap Minato tak percaya. 'Apa-apaan ini?'

Dia tidak pernah berpikir bahwa Minato akan mengatakan hal kejam itu pada anaknya. Ok, memang sebelumnya Tsunade tahu apa yang dilakukan Minato selama ini adalah untuk melindungi anaknya itu. Tapi bukan berarti Tsunade setuju jika Minato menghancurkan impian anaknya.

Naruto tersenyum miris mendengar pernyataan ayahnya itu. Sekarang, Naruto benar-benar dibuat bingung dengan sikap ayahnya. Di satu sisi Naruto merasa ayahnya seolah melindunginya. Karena takut dirinya mengalami hal yang sama dengan ibunya, namun di sisi lain ayahnya juga seolah ingin menghancurkan impiannya. Impian yang juga sangat ibunya dukung.

Lalu, apa yang sekarang harus dia lakukan? Apakah mengikuti kemauan ayahnya dan membuang impiannya?

Atau menentang ayahnya? dan mungkin akan membuat hubungan mereka berdua menjadi lebih buruk.

Sungguh, saat ini Naruto benar-benar diberikan pilihan yang sulit. Namun ditengah kebingungan tersebut sekelebat ingatan tentang ibunya kembali datang.

" … Tapi Ibu yakin, suatu saat Naru pasti akan lebih hebat dari Kyuubi dan akan menjadi kebanggaan buat kita semua, … "

"He-i, Naru … mau berjanji satu hal pada Ibu?"

" Jaga A—yahmu untuk Ibu, ya? Da—n buatlah mimpimu … menjadi nyata."

Naruto ingat, kata-kata ibunya itu benar-benar membekas dalam hatinya dan saat itu dia memang langsung bertekad untuk menjadi anak yang seperti ibunya inginkan.

Dan mungkin inilah saatnya dia membuktikan hal itu pada ibunya dan juga ayahnya. Dia akan membuktikan bahwa impiannya itu bukan hanya sekedar permainan untuk mendapatkan ketenaran atau hanya sebuah hobi yang dia lakukan ketika dirinya merasa bosan, seperti yang ayahnya katakan. Namun impiannya adalah sebuah cita-cita yang akan menjadi tujuan hidupnya.

Setelah beberapa saat berkutat dengan pikirannya. Naruto menatap langsung ke arah sapphire ayahnya yang sama dengan miliknya, dalam tatapannya terpancar sebuah keyakinan yang kuat.

"Maaf, jika aku mengecewakan Ayah. Tapi aku akan tetap meraih impianku itu," kata Naruto mantap.

Sesaat Minato tertegun, namun wajahnya tampak datar dan pandangan matanya belum percaya dengan pilihan anaknya.

"Keyakinan yang bagus," ujarnya, "tapi, itu tidaklah cukup. Bukankah tadi kau sudah dengar sendiri risiko apa yang ditanggung oleh ibumu?" Dan terdengar seolah dia ingin meruntuhkan keyakinan anaknya itu. 'Keyakinan itu saja belum cukup, Nak,' Minato membatin.

"Minato!" seru Tsunade kesal, karena ucapan anaknya itu dirasa sudah terlalu berlebihan. Namun Minato mengabaikan seruan ibunya, dan masih mengamati reaksi dari Naruto.

"Aku tetap tidak akan menyerah, Ayah!" yakin Naruto. "Dulu, seseorang pernah mengatakan padaku bahwa sebuah cita-cita itu harus diraih walau sesulit apa pun risikonya. Dan aku mengerti bahwa memang benar dunia yang ibu tekuni itu tidaklah mudah. Tapi aku yakin, jika semua itu bisa diatasi dengan sebuah kerja keras yang tulus."

Kali ini sebuah senyum tipis terukir di wajah Naruto. "Lagi pula aku yakin, Ibu tidak akan setuju jika aku menyerah dengan impianku, hanya karena takut dengan risiko yang akan kuhadapi kelak," tambahnya lagi.

Tsunade langsung tersenyum puas mendengar penuturan cucunya itu. Sedangkan, Minato kini terdiam, dia tahu siapa 'seseorang' yang dimaksud anaknya itu. Karena seseorang itu adalah dirinya sendiri, dalam hati dia merasa bangga pada anaknya yang ternyata kini telah memahami maksudnya itu.

Mau tidak mau Minato ikut tersenyum tipis, sebuah senyum yang akhirnya Naruto lihat lagi setelah sejak tiga tahun lalu hilang dari ayahnya.

Perasaan bahagia kini memenuhi hati Naruto. Sungguh, baginya membuat orang tuanya dapat tersenyum karena dirinya merupakan suatu hal yang lebih berharga dari ketenaran yang mungkin akan diraihnya kelak.

Beberapa saat semuanya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

Lalu Minato mendekat ke arah Naruto dan kemudian meletakan telapak tangannya kanannya pada pundak anaknya itu.

"Kau tahu, Nak," ujarnya, "bagi orang tua sepertiku, melihat anaknya tumbuh menjadi dewasa adalah suatu hal yang paling dinantikan, dan akhirnya aku bisa melihat hari itu terwujud. Dan aku menganggap bahwa keyakinanmu tadi adalah sebuah langkah awal darimu yang kini telah beranjak dewasa, dan aku juga berharap, kau bisa membuktikan semua yang kau katakan tadi."

Naruto mematung, terkesiap dengan kata-kata ayahnya. Tanpa sadar matanya kini tengah berkaca-kaca, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa, dan langsung menerjang Minato untuk memeluk ayahnya itu seerat mungkin.

Minato sendiri menepuk kepala anaknya itu lembut.

Namun tidak sampai satu menit Naruto melepas pelukannya, dan mendongak menatap ayahnya yang kini terlihat sedang mengerutkan keningnya.

"Jadi … apa itu berarti, Ayah memaafkanku?"

Perlahan, kerutan di kening Minato menghilang dan tatapan penuh penyesalan kini ditujukan pada Naruto yang langsung membuatnya terhenyak.

"Kau tidak salah, Nak. Ayah yang salah karena telah menyakitimu … maafkan Ayah yang selama ini seolah tidak memedulikanmu, membuatmu berpikir bahwa Ayah membencimu."

Tatapan polos karena bingung terlihat di bola sapphire Naruto.

"Apa maksud Ayah?"

Minato tersenyum sedih, "Asal kau tahu, Nak. Ayah tidak pernah membencimu," ujarnya, "Awalnya, Ayah memang ingin melarangmu untuk tidak mengikuti jejak Ibumu, karena takut hal yang sama akan terjadi padamu. Tapi setelah kepergian Kyuubi, Ayah sadar bukan diriku yang dapat menentukan masa depan kalian. Akan tetapi hanya kalian sendirilah yang bisa menentukannya."

"Aku tidak mengerti …" kata Naruto, "lalu, mengapa Ayah tetap melarangku menari? dan bersikap seolah menghindariku hingga memindahkanku ke Konoha?" tuntut Naruto dengan raut bingung.

"Karena aku ingin memastikan sesuatu."

"Memastikan sesuatu?"

"Ya, aku hanya ingin memastikan keseriusanmu tentang apa yang selama ini kau impikan. Aku melakukan itu, karena aku tidak ingin hal itu hanya sekedar kau jadikan kegiatan di waktu senggangmu saja, yang artinya, kau hanya main-main. Sedangkan, risiko yang kau hadapi dari kegiatanmu itu tidaklah mudah, dan bisa berakibat fatal," jelas Minato.

"Dan aku bukan menghindarimu, namun hanya masih disibukan dengan kasus kematian Ibumu, yang akhirnya setelah tiga tahun dapat terungkap. Jika mengenai kepindahanmu ke Konoha, itu karena aku ingin kau menemani Nenekmu yang kesepian di sini," tambah Minato seraya mengerlingkan mata pada Tsunade yang kini melotot ke arahnya.

"Jadi, Nak, bisakah kau menepati kata-katamu tadi dan membuat kami bangga?" tanya Minato lembut.

Naruto tersenyum cerah, "Tentu saja! Kerena aku juga sudah bernjanji pada Ibu," ujarnya semangat. Minato langsung mengacak surai pirang anaknya itu. Tsunade sendiri tersenyum bahagia, melihat pemandangan di depannya.

Dan tak lama bell pergantian pelajaran pun terdengar.

"Sebaiknya kau masuk kembali kelasmu bocah!" perintah Tsunade dan langsung membuat Naruto merenggut tidak suka.

"Nenekmu benar. Cepatlah! Nanti kau bisa terlambat mengikuti pelajaran," kata Minato.

Namun, kali ini tidak ada penolakan dari Naruto. Walaupun wajahnya terlihat tidak rela karena merasa belum puas melepas rindu dengan sang Ayah. Sebenarnya Minato juga merasakan hal yang sama, namun apa boleh buat.

"Baiklah …" kata Naruto akhirnya, dan berjalan menuju pintu dengan enggan, namun baru dua langkah dia berjalan, Naruto kembali berbalik dan menatap ke arah ayah dan neneknya bergantian.

"Bolehkah, aku minta satu hal?" tanya Naruto serius.

Sejenak Minato dan Tsunade saling berpandangan. "Katakan," sahut Minato.

"Berjanjilah kalian akan tetap bersamaku. Karena, jika tanpa kalian aku tidak akan menjadi apa-apa."

Minato tersenyum hangat, "Pasti, Nak," ujarnya. Mendengar itu Naruto langsung tersenyum senang dan kembali berjalan keluar.

Pintu tertutup menyisakan Tsunade dan Minato yang masih menatap kepergian Naruto.

"Dia cucu-Ku," kata Tsunade, terselip nada bangga yang jelas pada suaranya.

Minato mengernyitkan kening ketika mendengar nada kepemilikan dalam perkataan ibunya. Padahal Minato tahu bahwa ibunya itu hanya merasa bangga dengan sikap dewasa anaknya. Akan tetapi, perasaan Minato tetap saja tidak terima ketika ibunya itu seolah mengklaim anaknya.

"Dia anak-Ku," sahut Minato tidak mau kalah.

Sesaat pandangan mereka bertemu.

Tidakkah kalian pikir ini konyol? Memperebutkan seorang anak yang jelas-jelas keturunan kalian sendiri?

"Cucu-Ku!" Nada suara Tsunade meninggi.

"Anak-Ku." Namun tidak begitu dengan Minato.

"Cucu-Ku!"

"Anak-Ku, Ibu."

Tsunade berdecak dengan memasang tatapan skeptis, "Seorang Ayah, seharusnya tidak bersikap kejam pada anaknya. Bahkan kau membuatku ingin memukulmu karena pikiran gilamu untuk melindungi Naruto di balik sikap kejammu dan kau menyakitinya."

Minato tertohok, tapi masih berusaha mempertahankan wajah tenangnya. "Seorang Nenek seharusnya bersikap baik pada cucunya, bukan sering membentaknya," balas Minato, "Lagi pula ada yang mengatakan, kegilaan dan kejeniusan itu perbandinganya hanya sebatas benang tipis, Ibu … "

Tsunade hanya memutar kedua bola matanya, tidak terpengaruh dengan perkataan anaknya itu. Asal tahu saja, Tsunade tidak merasa bersalah dengan hal itu, lagi pula memang sudah sifatnya seperti itu. Bukankah sifat alami seseorang itu tidak mudah untuk dirubah?

Dan Tsunade mengakui bahwa anaknya ini memang jenius, namun di balik kejeniusannya itu, kadang kala pikiran Minato sulit ditebak, dan sering kali mengemukakan ide-ide yang tidak masuk akal. Entah harus bersyukur atau meratap, karena hal itu kini menurun pada anak sulungnya, Kyuubi. Bersyukur bahwa Deidara tidak memiliki pemikiran ekstrem seperti itu, walaupun masih dengan kejeniusan yang tetap dimilikinya namun itu diimbangi dengan kelembutan yang dimiliki Khusina.

"Ya, ya, ya, terserah apa yang kau katakan, yang jelas dia tetap CUCU-KU," kata Tsunade dengan penekanan pada kata 'cucu-ku'.

Minato mendengus pelan mendengarnya. 'Benar kata orang, semakin tua, sifat kekanakan seseorang itu akan semakin tampak,' batin Minato. 'Sabar … sabar …'

"Tapi tidak kusangka, dia akan mengira bahwa kau membencinya."

Minato hanya diam, tapi dalam hati dia menyetujui perkataan ibunya.

"Namun, walaupun kau benar-benar membencinya sekalipun. Aku berani bertaruh, bahwa dia bisa meruntuhkan kebencianmu itu dalam waktu singkat."

Minato menahan untuk tidak memutar bola matanya, ketika mendengar kata 'bertaruh' dari mulut ibunya. Bukan rahasia lagi jika Ibunya ini gemar bertaruh.

"Mengapa Ibu begitu yakin?"

Tsunade menatap Minato lekat. "Apa kau ingat BakOro?"

Minato butuh beberapa detik untuk mengingat siapa yang dimaksud ibunya. Dan akhirnya dia mengingat seorang pria aneh seumuran ibunya, berkulit menyerupai mayat, yang selalu menyeringai mengerikan dan Minato benar-benar yakin bahwa bola mata emas semirip mata ular itu adalah asli. Ya, dia merupakan salah satu teman ibunya, seorang Ilmuan aneh, pecinta Ular, Orochimaru. atau Kyuubi dan ibunya sering memanggilnya dengan BakOro-Baka Orochimaru.

"Memangnya, apa hubungan Naruto dengannya?"

"Aku yakin, kau masih ingat kejadian saat Naruto berumur lima tahun, saat di mana BakOro berubah, dari seorang pembenci anak kecil dan menjadi pedofil seperti sekarang."

Minato mengangguk. Dalam benaknya berputar ingatan beberapa tahun silam. Minato ingat, dulu, si Orochimaru itu sangat membenci anak kecil, namun entah karena apa suatu hari Orochimaru malah mengajak Naruto menemaninya melakukan riset-nya tentang ular. Naruto yang masih kecil dan memiliki keingintahuan yang besar pun hanya mengangguk setuju, karena saat itu Naruto memang memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap reptile berukuran panjang dan hobi mendesis itu, tapi tentu saja tidak sefanatik Orochimaru.

"BakOro pernah bercerita padaku, suatu hari Naruto datang menemuinya sambil tersenyum polos dan di tangan Naruto saat itu ada seekor ular (ularnya jinak) sepanjang satu meter dan di tunjukan pada BakOro," cerita Tsunade, "Nah, semenjak itulah BakOro jadi tidak membenci anak kecil lagi."

"Ibu yakin, saat itu kebencian BakOro terhapus oleh senyum polos cucuku itu," ujarnya lagi. "Ternyata benar bahwa sebuah senyum itu bisa menghapus kebencian dalam diri seseorang," tambah Tsunade bangga dengan teori-nya sendiri.

Minato malah bengong mendengar penuturan ibunya itu.

"Ibu, kau terlalu berlebihan," sahut Minato menatap Ibunya aneh. "Yang kudengar, Naruto hanya menyelamatkan ular Orochimaru dari keisengan Kyuubi yang ingin mengulitinya."

"Lalu, bagaimana kau bisa menjelaskan BakOro yang tiba-tiba akrab dengan Naruto?"

"Tentu saja karena Orochimaru hanya ingin berterima kasih pada Naruto."

"Tapi tetap saja BakOro bisa menjadi pedo seperti saat ini, awal mulanya karena Naruto membuatnya terpesona dengan senyum polos seorang anak kecil," kata Tsunade kekeuh dengan pendapatnya.

Minato mengehela nafas pasrah, tidak mau mendebat ibunya lebih jauh. 'Mengapa jadi membahas Orochimaru?'

Mendadak Minato teringat satu hal. 'Berbicara soal teman lama …'

"Ah, iya! Ibu, Jiraya-san menitip salam padamu, dia ingin kau menerima lamarannya."

Tsunade langsung memandang anaknya sengit. "Katakan padanya, aku menolak."

"Oh, ayolah … aku tahu Ibu kesepian, sebaiknya terima saja lamarannya. Kurasa Jiraya-san cukup … unik," kata Minato dengan nada menggoda.

"Jangan menggodaku 'Ayah kejam'. Karena kau yang lebih kesepian daripada aku," sindir Tsunade pedas.

Minato tidak merasa tersinggung sama sekali dengan perkataan ibunya, malah dia berusaha menahan tawanya ketika melihat semburat merah di pipi ibunya.

.

::A::C::SN::J::S::

.

Naruto mengehela nafas, saat ini dia sedang termenung di atap sekolah setelah pertemuannya beberapa saat yang lalu dengan ayahnya. Dia tidak mengikuti perintah nenek dan ayahnya untuk memasuki kelas. Yah, tepatnya saat ini dia membolos pelajaran.

Memikirkan tentang pertemuan di ruang Kepala sekolah tadi, ada yang mengganjal dalam pikirannya. Sehingga membuatnya tidak mungkin menyimak pelajaran di kelas.

Memang tadi dengan tegas dia mengatakan untuk mewujudkan impiannya, namun dia sama sekali belum memikirkan bagaimana dirinya memulai semua itu.

Bertindak tanpa berpikir dulu, huh?

Tapi entah mengapa dirinya sama sekali tidak menyesal dengan keputusan itu. Malah membuatnya bersemangat.

Naruto terus termenung sambil duduk bersandar di pagar pembatas, membenamkan kepalanya di atas lututnya yang ditekuk dengan kedua tangan memeluk lututnya.

Hingga beberapa saat kemudian, terdengar seseorang membuka pintu atap sekolah.

"Sedang apa kau di sini, Dobe ?" tanya orang tersebut yang ternyata adalah Sasuke.

Sasuke menaikkan satu alisnya, merasa heran karena tidak mendapat jawaban dari Naruto. Lalu dia berdiri menyandar pada pagar pembatas di samping kanan Naruto.

"Bukankah kau tadi dipanggil kepala sekolah?"

Naruto tidak menjawab dan hanya terdengar desahan pelan darinya. Dia lalu mengangkat kepalanya dan menumpukan dagunya pada lututnya. Sebenarnya dia juga ingin melontarkan pertanyaan, mengapa si teme-muka tembok ini ada di sini? Tapi pertanyaan itu diurungkannya dan malah mengajukan pertanyaan lain.

"Teme … apa yang akan kau lakukan untuk membuat seseorang bangga padamu?"

Sasuke terdiam sesaat. Ingin dia bertanya, mengapa Naruto menanyakan hal itu, namun akhirnya dia lebih memilih untuk menjawab saja.

"Aku tidak tahu, ada apa denganmu, Dobe," Sasuke melirik ke arah Naruto sekilas. "Tapi aku tidak pernah berpikir untuk membanggakan orang-orang di sekitarku, karena tanpa aku melakukan hal itu pun, mereka sudah bangga pada diriku," tambahnya.

Naruto langsung mencibir, mendengar kalimat panjang nan narsis dari Sasuke. Sebenarnya dalam hati Naruto membenarkan kalimat Sasuke barusan.

Tentu semua orang tahu dengan kepintaran dan bentuk fisiknya, maka hal itu saja sudah membuat orang-orang di sekitarnya bangga pada Sasuke. Tapi tetap saja Naruto tidak akan pernah mengakui hal tersebut secara langsung.

"Selain menyebalkan kau kelewat narsis, Teme."

"Hn."

"Aku pikir kau sudah bertobat dengan dua huruf itu, setelah kalimat panjangmu tadi," sindir Naruto ketus.

Entah mengapa, jika bersama senpai-nya satu ini, Naruto selalu tidak bisa menahan kata-kata sindiran atau ejekan terlontar dari mulutnya.

"Hn."

Naruto memanyunkan bibirnya, karena merasa Sasuke sama sekali tidak terpengaruh dengan sindiranya.

Memang benar, di antara mereka sering sekali terjadi pertengkaran kecil tidak bermutu, bahkan sejak awal pertemuan keduanya. Namun walaupun terselip perasaan kesal satu sama lain, tentu saja rasa kesal itu hanya berlaku sementara. Intinya, tidak mereka ambil hati. Hanya pertengkaran kecil untuk sekedar penghibur bagi mereka di antara kesibukan atau pun masalah mereka, dan anehnya hal itu telah mereka pahami walau tanpa perjanjian kata sebelumnya.

Yang tanpa sadar membuat mereka semakin dekat dengan sendirinya, seolah itulah takdir mereka. Dan seperti yang diketahui sebelumnya, membuat bungsu Uchiha memenuhi takdir tersebut, melalui perasaan cinta yang tidak pernah sekalipun dia perlihatkan. Dan kini perasaan itu telah memperlihatkan wujudnya, untuk mengikat benang merah takdir kepada seorang pemuda yang memiliki tingkat kepolosan dan ke-dobe-an; yang hanya mempunyai perbandingan, sebelas : dua belas, menurut bungsu Uchiha tersebut.

Semilir angin berhembus pelan, membuat rambut raven Uchiha mengayun, dan blonde jabrik pemuda di sebelahnya menjadi lebih tidak teratur.

Sejenak, mereka hanya menikmati suasana damai yang tengah melanda. Hingga Naruto membuka suaranya kembali.

"Maaf …" ujar Naruto lirih, dan hampir tak terdengar oleh Sasuke. Wajah stoic Sasuke menghilang dua detik berganti dengan raut wajah bingung, dan berusaha mencerna apa yang didengarnya.

'Si dobe ini minta maaf? Apa kepalanya baru saja terbentur?' Sasuke membatin heran.

"Kepalaku baik-baik, saja, Teme. Dan aku memang baru saja minta maaf padamu," kata Naruto.

Sasuke tersentak, 'Dia membaca pikiranku?'

"Hn," gumam Sasuke menganggap kalau itu hanya kebetulan.

"Teme, setidaknya kau bisa mengatakan sesuatu ketika seseorang meminta maaf padamu, bukan dengan gumaman tidak jelas seperti itu."

"Hn."

"Teme! Aku benar-benar tidak bisa membaca pikiranmu. Jadi berhentilah membuatku kesal," gerutu Naruto menengadah ke arah Sasuke yang masih berdiri di sampingnya, dan langsung menatapnya tajam.

Namun Sasuke hanya memandang lurus ke depan. Sedikit lega bahwa ternyata Naruto tadi hanya kebetulan menebak apa yang dipikirkannya.

"Minta maaf apa, Dobe ?" sahut Sasuke datar.

"Kesepakatan itu … " Naruto kembali membenamkan wajahnya pada lututnya, sedikit berat mengucapkannya.

"Hn?"

"Iya, aku minta maaf karena sudah mengatakan hal yang tidak-tidak padamu," ujar Naruto, "tapi tetap saja, kau tidak bisa mengklaim orang seenaknya, Tem—"

Deg!

Naruto tercekat saat mengangkat kepalanya dan melihat kilat onyx tepat berada di hadapannya. Entah sejak kapan Sasuke merubah posisi dengan berlutut, mensejajarkan tubuhnya dengan Naruto yang tengah duduk.

"Aku tidak menerima maafmu," ujar Sasuke.

"Ke-kenapa?" Naruto merutuk dalam hati ketika tanpa sadar dirinya mendadak gagap.

"Kau tahu ..." ujar Sasuke sambil mengarahkan tangannya menyentuh pipi tan kenyal Naruto, "... aku tidak memberi maaf secara cuma-cuma."

"Ka-kau! sejak kapan jadi matre, Teme?" ketus Naruto, berusaha menutupi kegugupannya.

Sentuhan Sasuke yang terasa dingin itu membuat dirinya seolah tersengat listrik, merasakan tubuhnya meremang. Bahkan untuk menepis tangan Sasuke yang kini bergerak lembut di pipinya saja dia tidak sanggup. Yang kini dia lakukan hanya berusaha sekuat mungkin untuk menetralkan dentaman jantungnya, yang entah sejak kapan menghentak semakin liar.

Oh, asal kalian tahu, reaksi ini bukan hanya sekali Naruto rasakan. Bahkan hanya dengan berdekatan dengan Sasuke saja sudah berefek tidak sehat bagi jantungnya. Namun hal itu selalu Naruto tutupi dengan sikap ketusnya. Entah sejak kapan Naruto mulai melihat Sasuke dengan cara yang berbeda. Akan tetapi, Naruto selalu mengabaikan perasaan yang selalu melandanya itu, selalu merasa bahwa hal itu hanya karena dia kesal dengan sikap senpai yang selalu mengatainya bodoh.

Sasuke tentu saja merasakan tubuh Naruto yang bergetar di bawah tangannya, dan dalam hati dia menyeringai senang akan hal itu.

Sasuke mengabaikan nada ketus yang dilontarkan Naruto, "Dobe, asal kau tahu, aku tidak seenaknya mengklaim orang," katanya tenang.

"Apa maksudmu?"

"Ck, aku tahu, kau tidak akan mengerti."

"Itu karena kau yang tidak menjelaskannya, breng—mmpph!"

Mata Naruto melebar shock, saat merasakan bibir Sasuke kini telah menekan bibirnya. Naruto sama sekali tidak menyadari sejak kapan tangan Sasuke berpindah dari pipinya pada tengkuknya dan tangan Sasuke yang bebas mengunci gerakkannya.

Sasuke terus menekan lembut dan melumat bibir atas bawah Naruto secara bergantian. Sasuke menikmati apa yang dia lakukan pada bibir Naruto yang sangat terasa pas dengan bibirnya, dan menyeringai saat Naruto melenguh pelan atas perlakuannya.

Naruto merasakan tubuhnya bergetar, sensasi bibir Sasuke benar-benar membuatnya terbuai, perlahan tubuhnya yang tadi menegang, kini merileks. Dia tidak pernah berpikir di balik sikap dingin dan anggkuhnya, Sasuke bisa memperlakukannya selembut ini.

Naruto merasakan suhu tubuhnya meningkat drastis hingga membuat wajahnya merona pekat, akibat sensasi lembut Sasuke yang seolah bisa membuatnya meleleh kapan saja.

Dia sama sekali tidak membalas perlakuan Sasuke. Dia hanya memejamkan matanya, sesekali melenguh, menikmati dominasi bibir Sasuke padanya. Mencengkram celananya erat, berusaha menahan sensai lembut yang seolah bisa membuatnya melayang, bahkan untuk sekedar berpikir saja kini dia susah melakukanya.

Sasuke sendiri, kini menaikkan intensitas lumatannya dan menjulurkan lidahnya bermaksud meminta akses lebih untuk memasuki rongga hangat Naruto, dan hal itu dilakukannya tanpa kesulitan, karena sejak tadi pun mulut Naruto sudah sedikit terbuka.

Naruto mengerang pelan, saat lidah Sasuke mulai menginvasi seluruh rongga mulutnya, menyebabkan tetesan salivanya mengalir dari sudut bibirnya hingga ke dagu. Sasuke terus berusaha menjangkau seluruh isi rongga mulut Naruto. Tanpa peduli paru-paru Naruto kini menjerit meminta pasokan oksigen. Naruto sedikit memberontak dalam kuncian Sasuke, memberi sinyal untuk menghentikan perbuatan Sasuke, hingga membuatnya sulit bernafas. Dan beruntung Sasuke akhirnya mau melepaskan dirinya di detik terakhir dirinya hampir saja hilang kesadaran.

Sasuke hanya menyeringai sambil menjilat bibirnya sendiri, yang masih merasakan sensasi bibir Naruto yang kini terlihat memerah pekat dan menggoda. Sedangkan, Naruto masih berusaha menetralkan nafasnya dengan meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Dan membersihkan lelehan salivanya sendiri dengan punggung tangannya.

"Dengan ini, aku menerima maafmu, Dobe."

Naruto langsung melotot pada Sasuke, namun tidak satu pun kata yang keluar dari mulut Naruto, yang kini hanya bisa membuka dan menutup.

"Hn, akan tetapi, aku tidak akan mencabut kata-kataku, tentang kau yang menjadi milik-Ku," lanjut Sasuke.

"Aku bukan property mu!" jerit Naruto kesal, setelah sadar dari rasa terkejutnya dan puas menghirup udara yang dia butuhkan.

"Jangan mengatakan seolah-olah bahwa aku ini barang yang bisa kau pakai dan kau buang kapan saja!" Habis sudah kesabaran Naruto, belum sempat dia mencerna kejadian yang baru saja terjadi padanya; meminta maaf, dicium sebagai syarat, dan lagi-lagi diklaim seenaknya.

Sedangkan Sasuke hanya melayangkan tatapan intens pada Naruto yang kini wajahnya telah memerah, karena marah.

"Sudah kuduga, kau tidak akan mengerti," ujar Sasuke membuat Naruto hendak protes, namun tidak jadi saat Sasuke lagi-lagi membuatnya terdiam dengan dentaman jantung abnormalnya.

"Apa kau lebih suka jika aku menginginkanmu sebagai kekasihku?" lanjutnya datar.

Sungguh lidah Naruto terlalu kelu untuk mengatakan apa pun saat ini, dia bahkan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Kekasih? Apa dia tidak salah dengar? Hei, bahkan sebelumnya Naruto pun tidak mendengar bahwa senpai yang selalu dianggapnya menyebalkan ini suka padanya.

Lagi pula, pertanyaan macam apa itu? Mengapa terkesan seolah dirinyalah yang menginginkan Sasuke?

Terkesan sangat egois.

Lalu bagaimana dengan Sasuke sendiri?

Tidak akan ada yang percaya bahwa Sasuke kini telah menunggu dengan gugup apa yang akan dikatakan Naruto dengan pertanyaannya tadi. Oh, tapi hal itu tentu saja ditutupi dengan baik oleh wajah stoic miliknya. Sasuke terlalu gengsi untuk menyatakan bahwa dirinya benar-benar telah jatuh terlalu dalam pada seorang Namikaze Naruto.

"Naru—"

Drrrrrt … Drrrrt … Drrrt …

Belum sempat Sasuke mengutarakan maksudnya, getaran pada saku celananya kontan membuat keningnya berkedut kesal. Karena dianggap mengganggu moment berharganya untuk mendapat kepastian dari pertanyaannya tadi.

Sasuke tidak melepas tatapannya sedikit pun pada Naruto yang kini masih mematung dengan wajah merona, membuatnya tampak lebih manis di mata Sasuke. Dan tangannya merogoh sakunya mengambil iPhone miliknya dan tanpa melihat siapa gerangan yang menelpon, langsung saja dia menjawab panggilan tersebut.

"Hn."

"Kau di mana?" Terdengarlah suara Neji di seberang sambungan. Membuat Sasuke melontarkan kutukan kesal dalam hatinya.

Naruto dapat melihat raut wajah Sasuke menampakkan ekspresi kesal ketika seseorang entah siapa berbicara padanya.

"Hn."

"Ck, cepat kembali! Kepala sekolah memintamu mengantar laporan festival kemarin."

"Dua menit." Setelah Sasuke mengatakan hal itu, dia langsung saja memutus sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya.

"Pulang sekolah, tunggu aku di kelasmu," pesan Sasuke singkat, setelah itu dia berdiri dengan sebelumnya mengecup bibir Naruto sejenak. Dan pergi meninggalkan Naruto yang lagi-lagi hanya bisa membeku dengan kedua belah bibir yang terbuka dan mata yang mengerjap-ngerjap lucu.

' Tolong seseorang katakan padaku bahwa ini hanya mimpi buruk...?' batin Naruto tak percaya.

Benarkah itu mimipi buruk di saat kau menikmatinya Naru? =_="a

.

.

TBC…

.

.