Suasana arena pertandingan begitu bising menjelang laga antara Konoha Gakuen melawan Too Gakuen.

Animo penonton kentara terpancar dari raut wajah mereka yang duduk di tribune.

Seorang gadis berambut merah muda terlihat memasang raut kesal. Ia terus menerus memandang arlojinya dan arah pintu masuk berkali-kali.

"Ahomine, Naru-Baka! Jika tim kalah karena keterlambatan kalian, aku tidak akan segan membawa mimpi buruk menjadi kenyataan." Satsuki duduk dengan meremas handuk kecil dalam genggamannya.

Di dekat Satsuki, Wakamatsu tak kalah kesalnya dengan sikap dua orang itu. Ia bersumpah bakal memberi hukuman berat untuk Naruto dan Daiki usai pertandingan ini.

.

Hosh ... hosh ...

"Masih jauh?" Napas Naruto tersengal.

"Tidak. Dua kilometer lagi."

"Agggrrh ... sial!"

Naruto dan Daiki langsung berlari usai turun dari bus. Keduanya terpaksa turun dua halte dari stadion tempat tim mereka bermain, lantaran lalu lintas yang padat hingga bus terjebak kemacetan.

Ini bisa dijadikan pemanasan sebelum bertanding. Tapi tetap gila untuk dua orang yang bisa-bisanya bangun kesiangan, hanya gara-gara pulang larut saking terlalu asyik berbincang dengan tim Seirin dan sempat-sempatnya pula tersesat.

.

Kemarin malam,

Maji Burger masih terasa ramai dengan kumpulan remaja berjaket putih dengan aksen merah dan dua orang berpenampilan beda.

Pukul 22.00 obrolan masih berlanjut, hingga seorang perempuan berambut cokelat pendek menginterupsi.

"Sudah larut. Besok kalian ada pertandingan melawan Konoha Gakuen, bukan?" Riko menunjuk Naruto dan Daiki.

Perempuan itu sedikitnya sudah menganalisis kekuatan fisik pemuda pirang di sana dalam perbincangan. Semua standar. Namun kelebihannya, kekuatan kakinya berada di atas para pemain Seirin. Sudah pasti Naruto dapat melompat tinggi dan berlari dengan sangat cepat. Itulah yang sudah Riko tahu.

"Point guard terbaik Junior High dua tahun lalu. Itu bukan penghargaan yang didapat secara kebetulan." Riko membatin sambil menatap Naruto yang memandangi arlojinya.

"Kau benar, aku sampai lupa waktu," ucap Naruto tak ingin mendapat amukan dari tim besok pagi.

"Sebaiknya kita semua pulang." Sosok laki-laki berkacamata menegaskan. Dia adalah kapten tim Seirin. Semua anggota pun menyetujuinya.

Mereka lantas bergegas bersiap pulang. Semua orang di sana berjalan menuju pintu keluar.

"Sampai bertemu lagi, Aomine-kun, Uzumaki-kun." Lelaki berambut baby blue melambaikan tangan kepada Daiki dan Naruto.

Daiki mengangguk, sementara Naruto membalas lambaian tangan tersebut.

"Mereka orang-orang yang ramah." Naruto menoleh ke arah Daiki yang sudah berbalik.

"Jika sudah di lapangan, mereka bisa menghancurkanmu dengan kerja sama." Daiki pun berjalan lebih dahulu. Sedangkan Naruto hanya mendengarkan dan mengikutinya.

.

Hanya duduk memandangi jalanan yang sepi pengguna, mobil pun sekadar sesekali melintas.

Mereka segera memasuki bus tak lama setelah bus berhenti di hadapan mereka. Tak ada yang bersuara baik Naruto dan Daiki. Keduanya menikmati perjalanan, hingga sesuatu yang janggal dirasa oleh Naruto.

"Daiki, bukannya kita harusnya berbelok ke kanan?" Naruto terbingung dengan jalur bus yang tengah ia naiki.

"Kita salah naik bus." Dengan malas Daiki berujar. Sungguh kebodohan yang tak kunjung sirna dari sejawat kecilnya itu.

Naruto menatap sahabatnya dengan malas. Kalau dirinya yang tersesat, itu bisa dibilang wajar lantaran ia sudah empat tahun lebih tidak berada di Jepang.

Daiki sama sekali tak menunjukkan raut bersalah lantaran membuang waktu dengan tersesat.

Mau tidak mau, mereka harus berhenti pada halte berikutnya.

.

Pukul 23:40 keduanya baru tiba di rumah Daiki. Naruto memutuskan menginap, sebab sekolah lebih dekat dari rumah sahabatnya itu.

"Aku punya sesuatu untuk lelaki sejati."

Di kamar Daiki, mereka tak langsung beristirahat. Daiki sibuk membongkar lemarinya untuk menunjukkan sesuatu yang menarik. Naruto pula sama bodohny dengan penasaran akan hal apa yang ingin Daiki tunjukkan.

Bruk!

Daiki menjatuhkan bertumpuk-tumpuk majalah bertuliskan Horikita Mai tepat di depan Naruto.

Shit! Jelas Naruto mengumpat dalam hati. Ternyata yang dimaksud Daiki adalah tumpukan koleksi majalah semi-vulgar miliknya sendiri.

Sosok perempuan berambut hitam dengan balutan bikini putih terpampang besar di sampul depan. Insting kelelakian Naruto terpancing. Bagaimanapun ia normal. Disuguhi pemandangan yang seperti itu, ia laksana rubah yang dipancing dengan makanan favoritnya.

"Boleh?" Dengan wajah bodohnya, Naruto menatap Daiki yang memejamkan mata dengan kedua tangan terlipat di dada. Memasang pose bangga yang mengarah untuk diri sendiri.

"Kau boleh lihat yang mana pun, kecuali yang terbaru. Aku masih belum ingin membukanya." Daiki menggapai edisi terbaru majalah itu kemudian menyamankan diri di ranjang.

Naruto yang masih duduk di lantai menatap halaman demi halaman majalah tersebut.

"Wow! Ukuran G Cup?!" Sepasang iris azure Naruto menatap wanita berambut pirang pucat dengan bikini cokelat. Ukuran bombastis, pose menantang serta tema outdoor membuat si model terkesan liar dan berbahaya.

"Tsunade Senju, bukan?" Aku juga mengaguminya, tetapi tetap Mai-chan nomor satu." Daiki berucap sambil bersantai kemudian membalik halaman majalah di depannya.

Halaman majalah terus berganti. Segala pose dan beberapa model tampak mengisi lembaran tersebut, dan satu pose yang paling menantang jatuh pada model bernama Yamanaka Ino.

Pada lembar itu, berukuran D Cup, Yamanaka Ino terlihat menggenggam sebuah terong berukuran jumbo dengan bibir seksi mengecupnya serta lirikan mata nakal mengarah pada kamera. Kesan super sensual dan sangat memaksa hormon tuk sampai pada puncak.

Dua lelaki normal tersebut sulit tidur karena memandangi lembar-lembar penggugah hasrat, hingga dini hari.

Satu hal yang baru Naruto tahu tentang sahabatnya, Daiki bukan suka bermalas-malasan, tetapi selalu sulit tidur karena memandangi gambar dada padat nan kenyal dan bokong sintal setiap harinya. Jelas saja ia suka mengantuk di siang hari.

Hingga tepat pukul 03:00 AM, keduanya tertidur pulas bersama tumpukan majalah 'panas' berserakan di sekitar mereka

.

.

Hosh ... hosh ...

Lima belas menit kiranya Daiki dan Naruto berlari. "Ayo semangat!" Mantra berkobar dalam hati, menyemangati diri sendiri lantaran beberapa meter lagi mereka kan tiba pada pintu masuk stadion.

Tentu tak ingin waktu semakin banyak terbuang, langkah mereka semakin dipercepat.

.

"Aomine Daiki, Uzumaki Naruto. Selamat datang, kostumnya sudah aku siapkan." Satsuki langsung berujar demikian kala dua lelaki itu sampai di bangku pemain.

Keduanya segera mengambil jersey masing-masing, kemudian berbalik menuju ruang ganti.

"Kalau kita kalah mimpi buruk akan menjadi nyata." Suara itu menggema di lorong menuju ruang ganti. Naruto dan Daiki yang mendengar seketika merinding dibuatnya.

Entah karena efek suara yang menggema, atau bukan, mereka hanya merasa suara feminin tersebut seperti ancaman dari malaikat pencabut nyawa.

.

Peluh kian menetes dan letih pun terus menjalar ke seluruh tubuh. Pertandingan sangat berat sebelah tanpa kehadiran dua pemain andalan dari tim berkostum hitam.

Skor saat ini 42 : 58 untuk keunggulan tim yang dipimpin oleh Hyuuga Neji. Sepasang ametis milik pemuda berambut cokelat itu memandang deretan bangku pemain tim lawan. Di sana sudah terdapat dua orang berbeda warna rambut tengah mendengarkan pelatih mereka.

"Time out, Hitam." Sang wasit segera menghentikan permainan untuk sesaat. Kedua tim langsung kembali pada bangku tempat teman mereka berada.

Di bangku Too Gakuen, terlihat Wakamatsu merangkul kedua rekan timnya yang terlambat. "Selesai pertandingan, aku ingin berbicara dengan kalian."

Daiki dan Naruto sedikit merinding. Ya, pasti hukuman yang akan mereka dapat. Tak mampu dielak lagi. Keduanya hanya pasrah, dan berusaha melakukan yang terbaik pada pertandingan ini.

Pertandingan kembali dilanjutkan. Pergantian pemain langsung dilakukan tim berbaju hitam. Masuknya sang ace dan pemain baru berambut pirang pasti akan mengubah alur pertandingan.

"Hampir dua kuarter kita tertinggal." Naruto melihat sisa waktu yang hanya menyisakan 2 menit di kuarter kedua ini.

"Kau hanya perlu mengoper padaku." Daiki masuk ke lapangan lebih dahulu.

Sepasang kelereng biru Naruto hanya memandang sahabatnya. Ia tentu tidak akan selalu mengoper bola pada Daiki. Bukan berarti ia tak percaya pada kemampuan power forward kebanggaan Too Gakuen. Hanya saja, di pertandingan kali ini Naruto ingin bermain lebih powerful. Tidak seperti biasanya yang hanya membangun alur dan memberikan dukungan dari komandonya, tetapi mekakukan penyerangan, pertahanan, sekaligus membangunan alur pertandingan akan ia lakukan.

Pertandingan kembali dimulai. Bola diawali oleh tim Konoha Gakuen.

Sang kapten tim tampak mendribel bola, namun belum sampai setengah lapangan sudah berada Naruto bersiap menghadapinya.

"Kau ingin melakukan one-on-one denganku, Naruto?" Lelaki berambut cokelat itu menghentikan langkahnya. Ia jelas tahu kapabilitas si pemuda pirang.

"Neji?" Naruto memasang wajah terkejut. Ia ingat betul, sosok pemuda di depannya ini tak lain point guard yang ia lawan ketika masih Sekolah Dasar di babak final, sebelum ia pergi ke Amerika bersama mendiang ayahnya.

"Kau mengingatku? Berbeda dengan dia ya?" Tunjuk Neji pada Daiki.

"Tentu saja. Kau sangat berbahaya. Kalau Daiki sudah jelas ia tidak ingat. Ia hanya mengingat cara memasukkan bola ke dalam ring. Majulah, Neji!" Jawab Naruto. Ia segera memasang posisi bertahan.

Neji memberikan senyuman kemudian bergerak liar mencoba melewati Naruto.

Duel sengit langsung ditunjukkan poin guard andalan kedua tim. Daiki yang melihat hal tersebut tentu terkejut. Gerakan pemain lawan memang tak secepat Naruto, tetapi kontrol bolanya lebih hebat dari saat latih tanding sebelum Inter High dimulai.

Satu celah berhasil dibuat oleh Neji. Sela kedua kaki Naruto tampak lebih lebar dari ssbelumnya. Ia langsung memantulkan bola ke sana.

Plak!

Naruto mengarahkan tangannya ke belakang. Tanpa melihat bola ia seolah menyadari posisi bola berada.

Bola liar di sambut Ozora Aoi untuk melakukan counter attack, namun harus terhenti saat lelaki berkulit putih pucat menghadangnya sambil tersenyum. Tak ada celah sedikit pun untuk melewati Sai.

Ia melihat Naruto memberikannya aba-aba dengan mengangkat tinggi sebelah tangannya, kemudian menunjuk ring lawan sambil berlari. Tentu Ozora mengerti maksud rekannya itu. Ia melakulan crossover lalu melempar bola dengan cepat ke arah ring.

Whuss!

Naruto yang beradu kecepatan dengan Neji, berhasil meninggalkan kapten Konoha Gakuen itu dua meter di belakang.

Naruto melompat tinggi ke arah ring dan berputar membelakanginya untuk melihat bola, dengan sebelah tangannya ia menggapai benda bulat tersebut kemudian mengarahkannya pada ring.

Brak!

Dunk keras dilakukan Naruto, memukau semua orang di sana. Itu adalah alley oop dipadu dengan post up dunk.

Daiki seketika merasa terbakar melihat kehebatan sahabatnya. Ia segera mengambil posisi untuk melakukan pertahanan. Namun fokus matanya masih berada pada Naruto.

"Aku akan mengerahkan semua kemampuanku, Neji." Naruto berujar demikian, seketika membuat laki-laki berambut panjang itu bersemangat.

"Itu yang kuharapkan."

Permaian dimulai kembali, tetapi waktu hanya menunggu detik-detik akhir di kuarter kedua ini.

.

Kuarter ketiga,

Alur pertandingan mulai terasa berbeda. Sangat cepat perputaran bola terjadi, tetapi yang paling mencolok adalah aksi laki-laki pirang bernomor punggung 12 yang menggila di pertandingan ini. Sangat jauh dari karakter permainannya di pertandingan lalu.

Duel lebih sering terjadi antara kedua point guard, jika Neji berhasil membangun alur serangan dengan hebat sebelum Naruto hadir, kali ini semua seolah sia-sia. Penampilan pemuda itu berhasil mematahkan strategi yang dibuat pelatih lawan.

Skor Too Gakuen terus bertambah. Namun Konoha Gakuen juga masih belum ingin menyerah.

Dalam pertandingan kali ini, sosok Aomine Daiki terasa berkurang perannya untuk menggetarkan ring lawan, meski ia tetap fokus pada permainannya. Berbeda dengan Naruto yang menunjukkan keseriusan dalam tiap teknik yang ia tampilkan. Jauh bila dibanding saat melawan Kaijo, di mana Naruto hanya melakukan pertahanan dan membangun alur sambil mengunci pergerakan Kise Ryouta.

Daiki tentu tak ingin kalah dari sahabatnya. Ia juga akan menunjukkan semua kehebatannya.

"Sakurai!" Daiki meminta operan dari sang shooting guard, kemudian langsung melesat cepat melewati Gaara yang terus menyulitkannya tiap berada di dalam garis three point.

Daiki menampilkan gerakan rumit yang sering dilakukan ketika bermain street basket. Hal tersebut berada diuar perhitungan Gaara. Ia memang bisa mengimbangi kecepatan Daiki, tapi tidak untuk dapat menyamakan gerakan rumit dari sosok lelaki bermanik kelam itu.

Brak!

Dunk keras dilakukan Daiki usai melewati penjagaan Gaara. Skor 60 : 54 masih dengan keunggulan Konoha Gakuen yang perlahan terkejar dalam perolehan angka.

Kuarter ketiga terus menerus menampilkan pertarungan sengit kedua tim. Perang poin, terus berlangsung, dan alur permainan terus berganti kepemilikan.

Di penghujung kuarter ketiga, terlihat sekali peluh sudah membasahi pakaian semua pemain. Permainan sama sekali tidak memberikan tempo lambat. Skor berhasil disamakan pada kuarter ketiga.

Angka 65 : 65 menghiasi papan skor, tak terbayangkan betapa sulitnya menjebol pertahanan Konoha Gakuen yang sekarang.

Daiki pertama kali melihat kemampuan penuh sahabatnya hanya bisa terperangah. Ia tak dapat membayangkan bila Naruto berada sebagai lawan. Sensasi berdebar, atmosfer panas, rasa letih yang luar biasa pasti akan ia rasa.

Stamina yang sangat besar dimiliki Naruto, pemuda pirang tersebut tak tampak terengah sedikit pun. Hanya peluh saja keluar dari tubuhnya. Hingga kuarter ketiga berakhir, masih tampak normal napas laki-laki bermanik biru itu.

Satsuki memberikan handuk pada Daiki yang memerhatikan Naruto, hal itu menjadi perhatian dari Satsuki.

"Naruto-kun memiliki stamina dua kali lebih besar darimu, Dai-chan. Aku tidak bisa membayangkan latihan seperti apa yang ia lakukan di luar latihan tim."

Daiki semakin merasa bahwa dirinya harus lebih sering ikut berlatih, bukan bermalas-malasan seperti yang ia lakukan biasanya.

Kuarter keempat pun dimulai, bola diawali Too Gakuen. Menyerang dan bertahan harus terus mereka tingkatkan demi menggapai kemenangan hari ini.

Bola berada dalam kuasa Naruto, laki-laki bernomor 12 tersebut langsung melakukan drive, ciri permainan dari street basket ia perankan. Bermain dengan alur cepat turut andil dalam tahap menuju kemenangan bila mampu mengendalikannya.

Di hadapannya berdiri sosok Neji yang bersiap menghentikannya. Ia langsung mengoper pada Ozora, kemudian memberikan drive cepat usai melakukan fake terhadap Sai. Langkahnya terhenti ketika Kankuro berada tepat di depannya, ia langsung melakukan tembakan 2 angka kala Kankuro belum berada pada posisi yang baik untuk memblokirnya.

Blesh!

Keunggulan di kuarter keempat berhasil direbut Too Gakuen. Dengan kompak, tim berkostum biru itu kembali mengatur pertahanan. Konoha Gakuen tak kan bertekuk lutut. Mereka adalah tim yang luar biasa, meski tahun lalu tidak berhasil lolos Inter High pun juga Winter Cup.

Perang angka terjadi kembali di kuarter keempat.

Saling menambah angka demi kemenangan yang merupakan harga mutlak untuk melaju ke putaran berikutnya. Hingga pada 3 menit terakhir, Too Gakuen masih menjaga keunggulannya, skor 84 : 80.

Di bangku penonton terlihat tim Seirin baru saja datang untuk menonton pertandingan ini. Mereka tak menyangka kejutan yang diberikan Konoha Gakuen. Tim debutan itu mampu menahan Too Gakuen dalam perang angka.

Kagami memperhatikan rivalnya bermain sangat baik, namun di samping itu, sosok pemain bernomor punggung 12 berhasil menarik atensinya. Pemuda yang seharusnya berposisi sebagai point guard terlihat beroperasi ke seluruh lini, mendominasi lapangan seolah menjadi teritorial kekuasaannya.

Hingga pada penghujung akhir pertandingan, si point guard bernomor punggung 12 masih menguasai semua lini. Dribel cepat yang ia laksanakan, berhasil melepaskan diri dari double team yang berusaha mengunci pergerakannya, namun tak membuahkan hasil.

Naruto kini tepat berada di atas area free throw, ia segera melompat beberapa langkah dari garis, disusul Kankuro yang berada tempat di bawah ring. Laki-laki berambut cokelat itu berusaha menghentikan Naruto. Namun dengan tiba-tiba Naruto mengoperkan bolanya pada Daiki yang baru saja lepas dari penjagaan Gaara.

Daiki langsung melakukan fade away, lantaran Gaara langsung berlari menutup jalur Daiki menuju ring.

Blesh!

Bola berhasil masuk dengan sempurna.

Skor 94 : 91 mengakhiri pertandingan.

Di bangku pemain Too Gakuen tampak para anggota melompat senang atas kemenangan hari ini.

.

.

.

Purnama membulat sempurna nun jauh tinggi di sana, berjarak ribuan kaki dari tempatnya berdiri.

Helai bermanya melambai ditiup angin. Dari balkon rumah, ia melihat beberapa orang tengah sibuk mempersiapkan pesta kebun untuk sang kakak yang besok genap berusia 18 tahun. Usia yang mana merupakan fase dari tahap-tahap menuju dewasa.

"Semoga kakak menyukainya."

.

Lantunan merdu dari biola menemani langkah para undangan memasuki area pesta. Gemerlap cahaya yang menempel pada rumpun di taman, ditambah tata ruang yang epic menambah kesan cantik kebun yang biasanya ketika senja datang mulai ditutupi oleh selimut gelita.

Tamunya sebenarnya tidak banyak. Hanya teman-teman sang kakak dari sekolahnya, dan beberapa sejawat main pemuda berhelai merah itu.

Kue bertingkat tiga berada di atas meja di tengah-tengah area. Sejumlah minuman dan makanan tersaji pada meja-meja bulat yang masing-masing di kelilingi oleh kursi-kursi putih.

Tema hari ini bebas. Tak ada dress code khusus, sebab sang kakak tidak begitu begitu suka aturan mengikat yang terkesan rumit bagi teman-temannya.

Malam ini Sara terlihat sangat cantik dalam balutan dress tosca dengan rok menggembung dan aksen bling-bling di sekitar area dada. Rambutnya di kuncir ke belakang, ia tampak memakai lensa kontak berwarna violet untuk matanya yang minus.

Atensi para tamu yang hadir--kebanyakan adalah laki-laki--tak ayal tertuju pada gadis itu. Ia bak menjelma jadi Cinderella yang memukau. Sosok yang mana sulit membuat seorang berkedip lagi usai menatapnya.

"Sial. Tak kusangka bocah itu memiliki adik yang manis." Kotaro mengambil segelas jus jeruk dan meneguknya.

"Hmm ... hmm ... sudah kuduga kau bakal tertarik."

"Hei, jangan bandingkan aku denganmu Reo nee. Aku kan normal. Mana mungkin aku tak tertarik pada gadis secantik itu."

"Bagimu ular yang memakai rok juga cantik."

"Enak saja!"

Sementara dua sahabatnya sedang sibuk berdebat, Eikichi lebih memilih menikmati steak tenderloin yang di sajikan secara percuma. Kapan lagi memakan daging khas dalam gratis yang biasanya dijual sangat mahal?

Eikichi meneguk ludah entah yang keberapa kali. Setelah satu potong berhasil masuk ke mulutnya, raut tak terjabarkan terlukis di wajah pemuda setinggi hampir dua meter itu.

"Ini nikmat sekali ~"

Egggghhh ...

Sendawa Eikichi yang keras membuat beberapa orang yang duduk dan berdiri di dekat meja mereka seketika menoleh.

"Dasaaaaar!" Dalam hati pemilik rambut pirang mengumpat.

Pletak!

.

"Kakak?"

Rupanya pemuda itu dari tadi berdiri di tempat ini. Padahal, beberapa menit sebelumnya Sara telah mencarinya ke berbagai tempat. Harusnya dia segera turun dan menyapa teman-temannya. Tetapi rasanya sang kakak tidak benar-benar senang dengan pesta ini.

"Kak?"

Sara dan sang kakak hanya beda satu setengah tahun. Fakta Sara mengetahui ia memiliki saudara ialah saat dirinya duduk di kelas satu Sekolah Menengah Pertama. Ya, ia dan Sasori merupakan saudara kandung seayah, namun tidak seibu.

Ibu Sasori merupakan wanita yang tidak benar-benar dinikahi ayahnya. Kini perempuan cantik berambut merah itu telah meninggal sebab penyakit kanker menggerogoti rahimnya tiga tahun terakhir sebelum ia wafat.

Masa-masa SMP Sasori habiskan di Amerika. Baru pada tahun ajaran baru di mulai, Sasori akhirnya pulang ke Jepang.

Mulanya sang kakak tinggal bersamanya di Tokyo. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama sebab Sasori memilih Kyoto untuk melanjutkan pendidikannya.

Ayahnya menyewakan sebuah apartemen guna sang kakak tinggal. Tentu semua orang tahu, sekolah paling elit yang konon berisikan siswa-siswi cerdas di Kyoto bernama apa.

"Kakak tidak turun?"

Kado darinya masih ia sembunyikan di balik punggung. Berdebar rasanya. Habisnya, pemuda itu selalu memasang wajah dingin. Sara urung menjumpai Sasori dalam kondisi tersenyum.

"Kakak cepat turun. Ibu dan ayah menanti di bawah. Oh iya, aku punya sesuatu untuk Kakak loh. Ini hal kecil sih, tapi kuharap Kakak menyukainya."

Netra hazel Sasori menangkap bayang kotak berwarna biru tua yang dibungkus lagi dengan pita merah jambu.

Sara tampak malu-malu menyerahkannya. Batinnya diselimuti keraguan, tetapi ia percaya sang kakak bakal tetap menerima meski tidak suka.

"... untukku?"

Sara mantap mengangguk, "Aku tidak tahu hal lain yang Kakak suka kecuali basket. Jadi aku membelikan ini untukmu. Kemarin aku tidak sengaja melewati toko sepatu, dan--"

Buagg ...

Terlemparlah kotak itu ke lantai hingga isi di dalamnya keluar. Sepasang sepatu berwarna putih bercorak biru muda.

Sara terang tersentak melihat ini. Ia tak percaya sang kakak justru membuangnya.

"Ka-Kakak?"

"Kau hanya tahu satu dari yang kusuka kan? Kau tak tahu apa yang ku benci kan? Kau ingin tahu apa yang paling tidak kusuka di dunia ini?"

Manik Sara berkaca-kaca. Sungguh ia tidak mengerti dengan apa yang sang kakak ucap.

"Kau, keluargamu, ibumu, ayahmu, semua orang yang membuat ibuku menderita, aku membencinya!"

"Hah, lucu sekali. Kalian memungutku dengan belas kasihan. Memungutku setelah ibuku mati. Lalu dengan begitu kalian dapat mengklaim diri kalian malaikat? Aku tidak ingin pesta seperti ini, Sara. Aku tak perlu dimanja seperti kau dengan segala fasilitas penuh sejak kau keluar dari rahim ibumu!

"Kau tahu bagaimana menderitanya ibuku semasa hidup? Kau ingin tahu bagaimana rasanya dicampakkan dan si berengsek itu lebih memilih jalangnya? Kau takkan mengerti, Sara. Kau lahir dari keluarga sempurna, kesempurnaan yang didapat secara picik dengan menghancurkan orang lain."

Sasori melewati Sara yang berdiri mematung tanpa suara. Senyap, isaknya perlahan keluar bersama bulir air matanya yang tumpah.

Jadi ini alasan mengapa sang kakak selalu dingin?

Sara tidak tahu harus bersikap bagaimana. Jujur, ia sakit ibu dan ayahnya, yang notabene juga ayah lelaki itu, dikata-katai demikian.

Sara juga tahu bila hati ibunya tak kalah meronta ketika mendengar pria itu berujar ia punya satu anak lagi.

Bagaimana ibunya berusaha menerima segala kenyataan tersebut? Kenyataan pahit dibohongi selama bertahun-tahun, tidak hanya Sasori yang sakit, ia pun merasakan hal yang sama.

Menunduk, Sara merasakan kakinya melemas.

Dari bawah terdengar sang pembawa acara memulai dengan basa-basi khas candaan.

Selanjutnya, terdengar riuh tepuk tangan bersahutan dengan tawa.

Ia tak ingin turun. Wajahnya terlalu kacau untuk sebuah pesta spesial

.

.

.

Bersambung

.

Hallo~

Baka DimDim di sini, Dimdim cuman mau bilang. Jangan protes soal pair. Nikmatin aja ceritanya~~

Baka DimDim dan Kimono'z adalah Tuhan dalam cerita ini, kami bertarung untuk pair mana yang akan berlabuh.

Dimdim sedang memperjuangkan Naruto x Satsuki sekuat tenaga/jadi tenang aja/ :v

Selamat membaca:))