Terimakasih untuk yang sudah membaca dan menunggu kelanjutan cerita ini. Semoga ga bosen yaa.

Just Love Him

Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Oh Sehun, Xi Luhan, Park Hana, Kim Minseok, Others.

Mohon maaf untuk typo yang masih berserakan, Padahal udah aku coba perbaiki. Maaf untuk karakter Baekhyun yang menderita di sini pun dengan Chanyeol yang kejam. Semoga mereka selalu di limpahkan kebahagiaan dan kesehatan di real life mereka. Aamin.

-

Selamat membaca!

-

Suho membalikan tubuhnya begitu pintu kamar tempatnya berada terbuka. Dirinya hendak menghampiri Chanyeol yang tengah mendekap Baekhyun di kedua lengannya sebelum langkahnya terhenti dengan iris terbelalak dan nafas tercekat.

"Chanyeol, apa yang..."

"Berhenti berbicara dan lakukan tugasmu, hyung." Chanyeol berujar dingin sembari membaringkan tubuh Baekhyun di atas ranjang.

"Aku tidak ingin dia mati begitu saja sebelum aku benar-benar menghancurkannya." Lanjut Chanyeol sebelum meninggalkan kamar itu.

Sedikit banyak Suho terhenyak mendengar perkataan Chanyeol, sebelum kemudian menghampiri Baekhyun yang terbaring di tempat tidur. Sejenak Suho memandangi keadaan tubuh Baekhyun. Wajah pucatnya sembab dengan sedikit darah mengering di bibirnya yang bengkak. Tatapannya turun ke tubuh Baekhyun yang terbalut jaket Chanyeol, sebelum turun ke bekas darah yang mengering di sepanjang kakinya.

"Chanyeol benar-benar telah merenggutnya. Sungguh, maafkan aku, Baek. Aku tidak bisa berbuat apapun untuk menghentikannya. Maafkan aku." Lirih Suho sebelum kembali menatap wajah Baekhyun sembari memeriksa detak nadi di lehernya. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya ketika mendapati detak nadi Baekhyun yang lemah.

Suho lalu melarikan tangannya untuk membuka jaket Chanyeol yang melekat di tubuh lelaki mungil itu, sebelum kembali tercekat begitu tubuh kurus Baekhyun terpampang di hadapannya.

Suho tidak pernah menduga Chanyeol akan sebegitunya memperlakukan Baekhyun. Lelaki mungil ini tidak bersalah sedikitpun. Tetapi kenapa dia harus mendapat kesakitan dari kesalahan yang tidak di perbuatnya? Suho benar mengutuk Chanyeol atas perlakuannya terhadap Baekhyun.

-

Suho membuka pintu kamar tempat Baekhyun berada setelah empat jam dirinya memeriksa dan menangani keadaan Baekhyun. Suho menatap tajam wajah Chanyeol yang menatapnya dingin tanpa ekspresi.

"Apa sebenarnya yang kau lakukan padanya?" Tanya Suho dingin.

Chanyeol memutar malas matanya sebelum menjawab. "Hanya melakukan apa yang seharusnya sejak dulu kulakukan padanya." Ujarnya ringan.

Suho mengatupkan rahangnya dengan tangan terkepal, sebelum mencengkram kerah kaos yang di kenakan Chanyeol.

"Aku tidak menyangka kau sebrengsek ini Chanyeol. Dimana nuranimu saat kau memperkosanya dengan begitu biadab, huh?!"

Chanyeol melepas cengkraman Suho di kerahnya sebelum berdecih tidak suka kepada dokter itu.

"Berhenti mencampuri urusanku, dan lakukan saja apa yang seharusnya kau lakukan, Brengsek!" Sentak Chanyeol.

Keduanya terdiam dengan nafas terengah. Suho adalah yang pertama kali memutus tatapan di antara mereka berdua dan memalingkan wajahnya kemudian.

"Katakan bagaimana keadaannya padaku." Ujar Chanyeol dingin.

Suho menghela nafasnya sebelum mengatakan perihal keadaan Baekhyun saat ini.

"Tubuhnya demam tinggi. Nutrisi yang sama sekali tidak memasuki tubuhnya membuat keadaanya sangat lemah saat ini. Aku sudah memberinya nutrisi ketubuhnya melalui benang infus. Aku pun sudah mengobati beberapa luka di tubuhnya." Ucap Suho.

Ditatapnya wajah Chanyeol yang tidak berekspresi, sebelum melanjutkan ucapannya.

"Luka di kepalanya kembali terbuka, aku telah mengganti perbannya dengan yang baru. Keadaan paling parah sebenarnya adalah di anusnya. Lubang anusnya lecet dan robek, mengharuskan aku untuk memberinya beberapa jahitan disana. Darahnya sudah berhenti. Untuk saat ini biarkan Baekhyun beristirahat penuh, Chanyeol. Aku akan merawatnya jika kau mengizinkan."

"Tidak perlu." Chanyeol langsung menjawab tawaran Suho tanpa pikir panjang.

Suho menghela nafasnya. Sungguh, dirinya sangat takut Chanyeol akan melakukan hal yang lebih gila lagi kepada Baekhyun. Suho masih terbayang bagaimana keadaan Baekhyun sebelum dirinya menangani lelaki mungil itu. Memar dan luka di beberapa bagian, pun keadaan memilukan di bagian anusnya. Suho bergetar tidak sanggup membayangkan betapa besar kesakitan yang di rasakan Baekhyun saat pemerkosaan itu berlangsung.

"Baiklah. Hubungi aku jika sesuatu yang buruk terjadi." Ucap Suho sebelum kemudian meninggalkan mansion Chanyeol.

Karna pada kenyataannya, Suho tidak mampu membantah semua ucapan Chanyeol. Seberapa besarpun keinginan Suho untuk melindungi Baekhyun, tidaklah ada apa-apanya jika sudah berhadapan dengan Chanyeol. Karna Suho tahu dengan jelas semua hal yang terjadi adalah buah dari perbuatannya. Pada dasarnya, Suho hanyalah pecundang yang hanya mampu menonton semua hal yang terjadi saat ini, untuk menutupi hal yang telah dilakukannya di masa lalu.

-

Chanyeol memasuki kamar tempat Baekhyun berada. Lelaki mungil itu masih terlelap dalam pingsannya.

Di tatapnya lekat wajah pucat Baekhyun. Masih terbesit dengan jelas dalam ingatan Chanyeol bagaimana wajah ketakutan dan kesakitan yang lelaki mungil itu tunjukan. Bukan iba lagi yang Chanyeol rasakan saat itu. Melainkan perasaan puas ketika lelaki mungil itu meraung tidak berdaya di bawah kuasanya.

Chanyeol sendiri tidak menyangka jika tubuh Baekhyun begitu memberinya kenikmatan. Bibirnya yang selembut kapas, kulit putihnya yang mulus tanpa cacat, terlebih lubang anusnya yang sempit. Chanyeol akui dirinya menggila saat merasakannya. Terbukti dari dirinya yang berkali-kali melepaskan hasratnya di dalam Baekhyun.

Chanyeol menatap jarum infus yang tertancap di punggung tangan Baekhyun, sebelum kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada wajah Baekhyun.

"Kau tidak akan mengalami hal ini jika saja kau tidak memiliki hubungan apapun dengan si keparat Sehun, dengan Hana, dan terlebih jika kau tidak menolak perasaanku kala itu. Aku sangat membencinya, brengsek." Chanyeol berujar dingin dengan tangan terkepal.

Chanyeol lalu menarik kasar selimut yang menutupi tubuh Baekhyun, membuangnya asal ke lantai, memperlihatkan tubuh kurusnya yang tanpa busana. Jika beberapa saat yang lalu Chanyeol membawa tubuh Baekhyun yang penuh bercak darah dan sperma, Kini tubuh halus itu telah bersih. Suho pasti yang telah membersihkannya.

Masih terlihat jelas kissmark di seluruh bagian tubuh lelaki mungil itu, hasil dari dirinya. Beberapa luka disana juga masih terlihat basah karna salep yang di berikan Suho. Chanyeol menelan ludahnya kasar begitu tatapannya beralih kepada kedua puting Baekhyun yang memerah bengkak. Chanyeol ingat dirinya begitu rakus menyesap puting itu bak bayi yang kehausan kala itu.

Chanyeol semakin menurunkan tatapannya ke daerah selangkangan Baekhyun. Chanyeol mengernyit ketika menyadari Baekhyun yang tidak menegang sama sekali ketika dirinya menyentuhnya saat itu.

"Cih, jadi kau benar lelaki normal?" Chanyeol menyeringai remeh. Entah kenapa dadanya sesak saat menyadarinya. Mungkinkah dirinya...kecewa?

Chanyeol memejamkan kelopaknya erat sebelum kemudian berbalik meninggalkan kamar tersebut. Meninggalkan Baekhyun dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benang menutupi, pun dengan pendingin ruangan yang menyala.

-

Kelopak mata Baekhyun yang terpejam mengerjap dengan kening berkerut. Lelaki mungil itu tersadar begitu dingin yang menusuk dirasakan tubuhnya. Baekhyun hendak menggerakan tangannya dangan masih terpejam untuk mencari selimut.

"Nggh," Baekhyun mengerang ngilu begitu tangannya ia bawa untuk meraba seprai di bawahnya.

"Sa-sakit sekali, apa yang..." Pikiran Baekhyun terhenti ketika bayangan datang bertubi-tubi menghampiri kepalanya.

Baekhyun lalu membuka kedua kelopak bergetarnya. Tangannya terkepal lemah dengan jantung yang berdegup menyakitkan. Iris sipitnya mulai menggenang begitu sepenuhnya mengingat apa yang terjadi, sebelum setetes air mata jatuh menuruni pelipisnya.

Nafasnya tersengal menahan isakan, dengan dada yang naik turun tak beraturan. Baekhyun membawa pandangannya untuk mengitari ruangan tempatnya berada. "kamar yang sama.." Pikirnya.

Baekhyun semakin mengeratkan kepalan tangannya begitu kepalanya menoleh ke samping dan perhatiannya tertuju pada kaca besar di lemari sebrang ranjang. Tubuh pasinya benar dibiarkan telanjang, dengan banyak memar dan bekas-bekas menjijikan disana.

"Kenapa tidak bunuh saja aku sekalian?" Pikir Baekhyun begitu sipitnya tertuju pada jarum infus yang tertancap di punggung tangannya. Darahnya sedikit naik disana akibat kepalan kuat yang di lakukannya.

Isakannya semakin sulit ia tahan hingga dadanya terasa sakit. Ditatapnya kosong langit-langit kamar dengan air mata yang setia mengalir. Dingin yang menusuk tubuhnya, sakit yang menjalari, tidak lagi Baekhyun pedulikan. Pikirannya berkelana. Bagaimana jika Sehun mengetahui keadaannya yang seperti ini? Terlebih bagaimana jika Hana mengetahui dirinya yang menjijikan seperti ini? Masih sanggupkah Baekhyun untuk sekedar menghela nafas di hadapan mereka?

"Ma-maaf," Lirihnya dengan suara serak nyaris hilang.

Baekhyun memejamkan matanya erat menahan segala kesakitan yang menggerogoti hati dan tubuhnya, sebelum kemudian terbelalak dengan kepala menoleh menatap pintu kamar yang terbuka.

Baekhyun memaksakan tubuh telanjangnya untuk terduduk, bibirnya ia gigit kuat begitu sakit luar biasa menjalari setiap inci tububnya. Jantungnya berdentum keras begitu sosok jangkung itu memasuki kamar tersebut. Baekhyun menyeret tubuhnya yang ngilu bukan main untuk merapat dengan kepala ranjang saat sosok jangkung itu melangkah mendekat, setelah sebelumnya mencabut paksa jarum infus di punggung tangannya. Baekhyun semakin beringsut, mengabaikan jejak darah yang di buatnya akibat luka yang kembali terbuka di bagian anusnya.

Chanyeol hanya menatap datar kearah Baekhyun yang menatapnya nanar. Tersenyum remeh begitu mendapati jejak darah pada seprai.

"Be-berhenti mendekat!" Sentak Baekhyun dengan suaranya yang hampir hilang.

Baekhyun memeluk erat kakinya yang tertekuk, semakin merapatkan tubuhnya dengan kepala ranjang, dan menatap nyalang Chanyeol. Chanyeol terkekeh melihatnya, sebelum kemudian menumpukan sebelah lututnya di ranjang, tepat di samping Baekhyun. Baekhyun semakin bergetar hebat ketika Chanyeol menatap lekat tepat kearah matanya. Bak terhipnotis, Baekhyun tidak bisa mengalihkan tatapannya dari mata gelap lelaki itu.

Chanyeol mendengus remeh memperhatikan tubuh Baekhyun, sebelum mengarahkan telapak tangannya pada paha atas Baekhyun begitu pandangannya mendapati darah yang semakin banyak merembes di bawah sana. Baekhyun tersentak dan menepis tangan Chanyeol dari sana.

"Ja-jangan menyentuhku! Berhenti me-menyentuh tubuhku! Kau menjijikan, Brengsek!" Baekhyun terengah begitu bentakan itu dapat ia keluarkan.

Chanyeol terdiam mendengar bentakan Baekhyun, sebelum kemudian menyeringai lalu mencengkram kuat dagu Baekhyun membuat Baekhyun mengerang.

"Benar. Dan si menjijikan ini telah membuatmu lebih menjijikan, sayang. Dan aku akan membuatmu lebih menjijikan lagi jika kau terus menentang diriku." Ujar Chanyeol dengan suara beratnya sebelum menghempas kasar dagu Baekhyun dan berdiri di pinggir tempat tidur.

Di raihnya lima butir obat yang berbeda di atas meja kemudian melemparkannya tepat di samping Baekhyun.

"Minum obatmu," Ujar Chanyeol ringan setelah melemparkan pula sebotol mineral. "Atau...Orang pesuruhku akan melenyapkan Luhan detik ini juga."

Baekhyun menolehkan kepalanya cepat begitu mendengar perkataan Chanyeol.

"Ja-jangan berani-beraninya sedikitpun menyentuh Luhan." Desis Baekhyun dengan menatap tajam Chanyeol.

"Tentu, jika kau mau menuruti semua perintahku." Ujar Chanyeol sebelum kemudian meninggalkan Baekhyun di kamarnya.

Baekhyun meraung begitu pintu kamar tertutup. Pikirannya melayang kepada Luhan di sana. Baekhyun sangat menyayangi kakak tirinya, dia tidak ingin kehilangan Luhan, dan karna itulah Baekhyun meraih pil-pil obat itu untuk di minumnya. Baekhyun meringkuk di atas kasur begitu menelan habis butir pil yang di berikan Chanyeol.

Di cengkramnya seprai di bawahnya menahan sesak yang menjalari dadanya.

"Hyung..." Lirihnya sebelum efek obat yang di telannya membawa kesadarannya.

-

"Mereka masih belum menyerah ternyata. Biarkan mereka melakukan apapun yang ingin mereka lakukan." Ujar Chanyeol dingin kepada seseorang di sambungan teleponnya.

Chanyeol memutar-mutar ponselnya setelah sambungan telepon itu terputus. Seringai tersungging di bibirnya sebelum mendecih kemudian.

"Aku tidak menyangka kau sebodoh itu, Hana." Ucap Chanyeol remeh.

Chanyeol tentu telah menyusun dengan matang rencananya. Memikirkan baik-baik konsekuensinya, dan jangan lupakan orang-orang pesuruhnya yang menyebar di luar sana untuk mengawasi setiap pergerakan yang menyangkut dirinya dan Baekhyun. Bahkan Chanyeol yakin agen FBI saja tidak akan sanggup berhadapan dengannya. Bodohnya Hana yang tidak menyadari itu.

Chanyeol menggertakan rahangnya begitu pikirannya teralihkan kepada Baekhyun. Perasaan menjijikan itu selalu hadir di antara kebenciannya. Chanyeol selalu menyangkal jika dirinya masih memiliki perasaan itu terhadap Baekhyun. Chanyeol jelas membenci lelaki mungil itu, hingga berkeinginan untuk menghancurkannya selebur-leburnya. Namun kekecewaan yang dirasakannya ketika Baekhyun selalu menolaknya tidak menjadikannya terbiasa. Chanyeol sakit mendapatinya.

Di lemparnya ponsel di genggamannya begitu pikirannya semakin larut. Chanyeol melepas kaos yang di kenakannya sebelum berjalan ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya di bawah Shower untuk sejenak mendinginkan kepalanya.

-

Chanyeol memasuki kamar Baekhyun dengan semangkuk bubur di tangannya. Jika sebelumnya Chanyeol membuatnya sendiri, maka untuk kali ini juru masaknya lah yang membuatnya. Kim Minseok.

Benar, Chanyeol telah membayar lelaki itu untuk bekerja dengannya. Bukan hanya juru masak, Chanyeol pun telah menugaskan sebagian pesuruhnya untuk berjaga di mansionnya. Mengingat Baekhyun yang pernah melarikan diri.

Minseok sedikit banyak telah mendengar tentang lelaki tahanan tuannya itu dari bodyguard di mansion itu. Dirinya hanya perlu menutup pandangannya, menulikan pendengarannya, membisukan suaranya, mengenai hal itu. Maka semuanya aman. Seperti pekerja Chanyeol yang lainnya.

Heran mengapa Chanyeol mampu membayar mereka semua? Itu karna beberapa hari yang lalu Chanyeol telah mendapatkan kepercayaan ayahnya dengan menyetujui permintaan ayahnya untuk mengurus perusahaannya disini. Maka seluruh pendapatan menjadi miliknya. Hana tidak mengetahuinya tentu saja. Karna gadis itu tidak begitu peduli dengan pekerjaan ayahnya.

Chanyeol bahkan sudah menghentikan Baekhyun dari pendidikannya. Sedang Chanyeol akan menyelesaikan pendidikannya dalam waktu dekat. Berterimakasihlah pada otak jenius yang dimilikinya, hingga semua menjadi sangat mudah bagi Chanyeol.

Chanyeol menghentikan langkahnya tepat di samping tempat tidur, dimana Baekhyun terbaring meringkuk dengan tubuh menggigil. Di letakannya mangkuk ditangannya ke atas meja, sebelum menumpukan sebelah lututnya di atas ranjang dengan kudua tangan terulur meraih punggung dan paha Baekhyun. Di angkatnya pelan tubuh kurus itu, kemudian membaringkannya dalam posisi yang benar. Chanyeol bangkit menuju lemari untuk mengambil sweater hangatnya.

Chanyeol kembali menghampiri Baekhyun dan memakaikan dengan hati-hati sweater kuning itu ke tubuh Baekhyun. Setelah terpasang dengan benar, Chanyeol menghubungi seseorang melalui telepon yang tersedia di atas meja. Chanyeol tentu tidak akan membiarkan siapapun melihat tubuh Baekhyun. Kecuali Suho, dokter pribadinya.

"Antarkan handuk dan air hangat ke kamar Baekhyun sekarang." Ujarnya dingin.

Chanyeol memandang lekat wajah basah Baekhyun dengan sebelah tangan terulur menyingkirkan poni yang menutupi sebagian matanya. Bukankah perlakuan Chanyeol sangat manis? Jika saja mereka berada dalam suatu hubungan kasih sayang. Chanyeol sendiri tidak tahu kenapa dirinya memperlakukan Baekhyun selembut itu.

"Masuk." Ucapnya begitu suara ketukan pada pintu terdengar.

Minseok melangkah ragu dengan wadah kecil di tangannya dan handuk di pundaknya. Minsoek meletakan wadah berisi air hangat itu di atas meja berikut dengan handuknya.

"Kau melihatnya? Bukankah dia sangat indah?" Tanya Chanyeol.

Minseok yang mendengar pertanyaan Chanyeol , segera mengangkat kepalanya yang tertunduk untuk memperhatikan sosok mungil yang di maksud.

Minseok tertegun. Apakah sosok itu benar seorang lelaki? meskipun wajah pucat pasi itu basah, meskipun kelopak tertutup itu bengkak, meskipun bibirnya kering dan terdapat luka, Minseok masih melihat kecantikan di wajah mungil itu. Tubuh mungilnya tenggelam di balik sweater yang di kenakannya, dan kaki kurusnya yang tidak tertutupi terlihat sangat halus tanpa bulu. Meskipun Minseok dapat melihat adanya memar di pergelangan kaki dan kedua paha bawahnya, namun tidak mengurangi keindahan tungkai itu.

Benar, sosok itu sangat indah. Namun kenapa nasib buruk harus menghampiri lelaki seindah dirinya?

"Be-benar tuan. Tuan Baekhyun sangat indah." Lirih Minseok kembali menundukan kepalanya.

Chanyeol tersenyum tipis mendengarnya. Sebelum senyum tipis itu tergantikan dengan seringai di bibirnya.

"Dan dia telah membuatku membencinya. Membuatku ingin menghancurkannya."

Minseok bergetar dalam berdirinya mendengar suara berat itu. Dirinya semakin menunduk takut.

Chanyeol menghela nafas kemudian. "Kau akan sering bertemu dengannya mulai besok. Aku mempercayakan dia padamu selama aku tidak berada di sini."

Minseok terkejut mendengar perkataan Chanyeol. Bagaimana jika perlakuannya terhadap Baekhyun menuai kesalahan?Namun tidak ada bantahan yang mampu ia ucapkan. "Ba-baik, Tuan."

"Kau bisa pergi sekarang."

Minseok segera melangkah meninggalkan kamar itu setelah membungkuk hormat ke arah Chanyeol.

Sepeninggalan Minseok, Chanyeol segera meraih handuk dan wadah itu ke arah kaki Baekhyun. Di tekuk dan di lebarkannya kedua kaki Baekhyun sebelum menempatkan dirinya di antara kaki itu. Chanyeol membasahi handuk itu dan memerasnya. Kemudian membawanya untuk membersihkan bagian selangkangan Baekhyun yang dipenuhi noda darah.

Chanyeol menelan ludahnya kasar begitu lubang Baekhyun yang memerah terlihat di pandangannya. Bagian itu terlihat membengkak dengan benang jahitan terdapat disana. Sejenak di lihatnya wajah tenang Baekhyun di atas sana. Efek obat tidur dari obat yang di telannya, sepertinya benar-benar bekerja.

Chanyeol kembali mengalihkan pandangannya pada selangkangan Baekhyun. Melanjutkan kegiatannya dengan nafas yang mulai terengah. Setelah bagian itu bersih, Chanyeol lalu mengoleskan salep yang di bawanya ke bagian itu. Nafasnya ia tahan begitu telunjuknya menyentuh bagian luar lubang anus itu.

Chanyeol segera meluruskan kaki Baekhyun dan membenarkan kembali sweaternya sebelum memindahkan wadah berisi air itu. Chanyeol menghembuskan nafasnya yang terengah. Kemudian mendudukan dirinya di tepi ranjang setelah menyelimuti Baekhyun sebatas perut.

"Apa yang kau lakukan, Chanyeol?" Geramnya sebelum Kembali menatap wajah Baekhyun dengan tatapan datarnya. "Bangunlah."

Bagaikan mantra, ucapan Chanyeol benar membuat lelaki mungil itu mengernyit dan membuka perlahan kelopaknya. Matanya terasa perih ketika ia buka, membuatnya harus mengerjap beberapa kali. Baekhyun meringis begitu nyeri kembali merayapi tubuhnya.

"Jangan bergerak." Ujar Chanyeol dingin.

Baekhyun terhenyak mendengar suara berat itu. Dirinya lalu menoleh untuk mendapati lelaki itu di sampingnya. Baekhyun hendak mendudukan tubuhnya sebelum tangan besar lelaki itu menahan pundaknya.

"Ku bilang jangan bergerak." Desisnya.

Baekhyun lantas terdiam dengan kepala tertunduk. Tubuhnya bergetar dengan tangan mencengkram erat selimutnya. Sebegitu takutnyakah Baekhyun kepada Chanyeol?

Chanyeol menghela nafasnya mendapati hal itu. "Aku tidak akan menyakitimu jika kau menuruti semua perkataanku, Baekhyun." Ujarnya.

Baekhyun masih pada posisinya, sebelum tubuhnya kembali tersentak begitu Chanyeol menyelipkan lengannya di bawah punggungnya. Baekhyun hendak meronta sebelum suara Chanyeol mengintrupsinya.

"Aku hanya membantumu untuk terduduk." Ujar Chanyeol.

Baekhyun semakin menunduk dengan nafas tercekat begitu mendapati wajah Chanyeol yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya. Baekhyun bisa merasakan hembusan nafas hangat lelaki itu di pipinya.

Chanyeol menjauhkan tubuhnya begitu memastikan Baekhyun dapat duduk bersender pada tumpukan bantal yang di tatanya.

Chanyeol meletakan mangkuk berisi bubur itu di pangkuan Baekhyun. Tanpa sadar tangannya meraih kedua tangan Baekhyun yang masih mencengkram selimut untuk mengalihkananya pada mangkuk.

"Habiskan buburnya. Jangan bergerak dan membuat lukamu kembali terbuka. Kau tahu akibatnya jika menentang perkataanku, Baekhyun." Ujar Chanyeol sebelum berlalu pergi meninggalkan kamar Baekhyun.

-

Seperginya Chanyeol, Baekhyun menatap kosong mangkuk di pangkuannya. Jarinya ia arahkan untuk menyentuh sendok di mangkuk itu. Baekhyun menyuapkan sesendok bubur kedalam mulutnya dengan setetes air mata jatuh menuruni pipinya.

"Apa yang sebebarnya kau inginkan, Chanyeol? Kau menyakitiku, kau melukaiku, kau menghancurkan harga diriku, lalu kau mengobatiku, merawatku, sebenarnya apa maumu?" Ucap Baekhyun dalam hati.

Baekhyun terus menyuap bubur itu dalam isakannya hingga tak tersisa. Baekhyun meratapi hidupnya yang menyedihkan. Chanyeol mempermainkannya, menginjak -nginjak harga dirinya. Bisa saja Baekhyun mengakhiri hidupnya saat ini juga, jika dirinya tidak mengingat seseorang yang sangat di kasihinya di sana.

Baekhyun mengusap kasar air matanya setelah menelan habis bubur di mulutnya. Di raihnya sebotol mineral di sampingnya sebelum menegak habis isinya.

Baekhyun kembali meraung, menangisi ketidakberdayaan dirinya. Menggosok kasar tubuhnya yang terbalut sweater kuning lembut milik Chanyeol. Untuk apa Chanyeol memakaikannya pakaian dan selimut? Kenapa tidak biarkan saja dirinya mati kedinginan?

Baekhyun menyenderkan tubuhnya lelah pada tumpukan bantal di bawahnya. Isak tangis masih terdengar darinya. Baekhyun tidak peduli lagi. Baekhyun bahkan tidak berharap Sehun akan menolongnya. Baekhyun merasa tidak memiliki muka lagi untuk di tampakan pada sehun, terlebih Hana kekasihnya. Baekhyun malu. Pun malu pada dirinya sendiri yang sangat lemah untuk ukuran lelaki.

Lelah dengan pertikaian batin yang di alaminya, Baekhyun kembali jatuh tertidur dengan sisa air mata di wajahnya.

Bersambung..

-

Capter ini udah lumayan panjang kan? Mulai kedepannya aku akan berusaha buat bikin Chapter yang lumayan panjang. Hanya saja, butuh beberapa waktu untuk akhirnya aku up. Karna seperti yang udah aku bilang sebelumnya, aku ngetik cerita ini pake hp, jadi agak susah. Mohon review dan dukungannya.

Terimakasih :3