MR DHAMPYRE

.

.

.

.

.

"jangan asal bicara, aku tidak pernah berpacaran dengan mu, lagi pula..." jeno memberi jeda pada kata-katanya.

"... dia ini pacar ku" tangannya menarik jaemin kesamping tubuhnya.

Deg...

Renjun merasa tepat didadanya terasa sangat sakit. Bahkan matanya mulai memanas dan mulai terisi dengan genangan air yang tidak bisa ia bendung lagi.

"jeno!" Ucap jaemin sambil menepuk lengan jeno yang berada disampingnya

"maaf mungkin anda salah orang" jaemin membungkukkan badannya sedikit, dan berjalan melewati renjun begitu saja.

Renjun membalik badannya menatap punggung jeno yang semakin menjauh. Air matanya terus mengalir tanpa henti, dan tangannya meremat bagian dadanya yang terasa amat sangat sakit.

"ge... Ada apa?" Suara seseorang menyapa telinga renjun dari belakang. Sesegera renjun mengusap air matanya. Renjun membalikan tubuhnya, menegakkan kepalanya. Dengan senyum yang merekah diwajahnya, renjun berjalan menghampiri orang tersebut.

"tidak, tidak ada... Emm... Mari kita pulang" ucap renjun sambil menggandeng tangan orang tersebut dengan sedikit tarikan untuk menjauh dari tempat itu.

Jaemin tengah menatap jeno intens. Sejak mereka sampai disebuah café tak ada obrolan yang mereka berdua lontarkan. Sampai pada akhirnya, jaemin yang merasa bosan memecah keheningan dengan pertanyaannya.

"jeno, kau yakin tidak pernah mengenal orang tadi?" Tanya jaemin memecah keheningan.

Jeno memutar matanya malas kemudian menggelengkan kepalanya.

"kau serius?" Tanya jaemin memastikan.

Jeno hanya mengangguk sebagai balasan dari pertanyaan jaemin.

"tapi aku seperti pernah mengenalnya!" Seru jaemin.

Jeno tak berniat menanggapi hal tersebut, dirinya lebih tertarik dengan segelas minuman bersoda yang dipesannya tadi.

"jeno...?" Panggil jaemin pelan, namun jeno masih dapat mendengarnya dengan jelas.

"apa lagi ?" Jeno menatap jaemin tepat di kedua manik coklatnya.

"soal yang tadi..." Ucap jaemin dengan ragu-ragu.

Jeno hanya masih menatap sambil menunggu apa yang akan diucapkan jaemin setelahnya.

"... Apa kau serius ?" lanjut jaemin berucap.

Jeno sedikit bingung dengan ucap jaemin. Hal apa yang dimaksud jaemin disini. Jika tentang orang yang tadi makanya jeno serius tidak mengenal orang itu. Tapi jika hal lain, jeno belum tau hal apa yang dimaksud jaemin.

...

...

Tokk

Tokk

Tokk

"Ge... keluar lah, waktunya makan malam" ucap justin dari luar kamar renjun.

Tidak ada balasan dari dalam sana. Justin sudah disana selama 30 menit, namun renjun tidak menjawab sama sekali.

Pada akhirnya justin menyerah, ia memilih meninggalkan renjun dikamarnya. Sebenarnya justin tau kalau kamar kakaknya itu tidak terkunci, hanya saja dia tau kalau renjun tidak ingin diganggu untuk saat ini.

Sementara itu renjun tengah membenamkan tubuhnya diatas kasur, dengan selimut yang menutup tubuhnya.

Matanya sembab, kulitnya semakin memucat. Tidak ada suara selain hanya isakan kecil yang sesekali lolos dari bibir renjun. Pikirannya masih memutar ulang kejadian tadi siang.

"jeno..." Gumam renjun pelan dalam isakkannya.

Renjun berusaha bangkit dari tidurnya. Berjalan lemah kearah balkon kamarnya.

Memandangi langit malam adalah hal yang menyenangkan bagi renjun. Bintang yang bertaburan berdampingan dengan bulan yang bersinar terang, membuat suasana malam ini amat sangat indah.

"waktuku tidak lama lagi..." Gumam renjun kepada langit malam.

"... Kupikir, hidup ku akan abadi. Tapi nyatanya meski sudah jadi vampire pun aku akan mati juga" adu renjun pada angin yang bersemilir sejuk menerpa wajah pucatnya.

"... Seharusnya aku paham, bahwa sesuatu yang dilarang adalah hal yang tidak baik..." Isakkan renjun telah usai dan kini hanya curahan isi hatinya.

"aku hanya tinggal menunggu waktu, yang akan membantuku untuk menghilang selamanya" renjun kembali meremat dadanya yang terasa menyakitkan sejak tadi. Bahkan rasa lebih sakit saat bibir mungilnya mengumamkan satu nama yang membuatnya menjadi lemah sebagai seorang vampire.

...

..

.

.

.

Pagi ini adalah pagi terburuk bagi seorang lee jeno. Pasalnya semalam dirinya tidak tidur sama sekali, dan baru bisa tertidur pukul setengah tujuh pagi dan terbangun pukul tujuh kurang seperempat. Ditambah cuaca pagi ini yang mendung, membuat dirinya frustrasi karna tidak dapat tidur dengan nyenyak dan nyaman.

Jeno memutuskan untuk membasuh dirinya. Pikirnya, setelah mandi akan membuat tubuhnya lebih segar.

Setelah selesai mandi dan berpakaian jeno menatap keluar jendela. Ternyata hujan sudah berjatuhan dengan derasnya, ditambah sedikit kabut putih tipis yang menyelimuti seluruh kota.

"kenapa langitnya gelap sekali..." Gumam jeno setelah menatap langit yang menggelap.

"... Apa besok akan kiamat" guamam jeno sekali lagi, diiringi tawa kecil.

"jeno waktunya makan" taeyong muncul dari balik pintu. Mengagetkan jeno yang tengah larut melihat jauh keluar jendela.

" sebentar hyung" jeno menutup jendela kamarnya.

'jika besok semua akan berakhir, maka biarkan aku bahagia bersama renjun' seketika batin jeno terdiam setelah satu nama terucap oleh batinnya.

'tunggu, siapa itu renjun ?' kini pikirannya yang berbicara

Jeno memegangi kepalanya yang seketika merasa sakit. Sekilas adegan terputar didalam kepalanya.

"aakkhhh... Sakithh.." Jeno meringis kesakitan, tangannya menarik rambutnya sendiri berharap rasa sakit itu akan menghilang.

Hasilnya nihil, rasa sakit itu semakin menjadi ditambah dengan ingatan yang sepertinya hilang terus terputar dikepalanya.

"apa kau ingin mengagetkan ku?"

"tidak..."

"lalu ?"

"...aku ingin mendorongmu kebawah,njunie!"

"aahhhkkk... Sakitthhh, raakhh saahhkk nya, sakit sekali, aahhkk" jeno terus menarik rambutnnya, sekarang posisinya sudah meringkuk dilantai kamarnya yg dingin.

"sudah ku bilangkan, kau bisa mengatakan apa pun yang kau tau tentang aku..."

"...aku sudah mengira kalau kau sudah mengetahui siapa aku sebenarnnya..."

"kau adalah vampire bukan !"

"akkhhh, hyung" jeno berteriak memanggil taeyong, berharap hyungnya itu bisa membantu meredakan rasa sakit ini.

"aku mencintai manusia. Sejak 150 tahun lalu. Aku selalu mengikutinya, aku selalu menunggunya untuk bereinkarnasi, aku selalu mendatanginya disetiap malam"

"TAEYONG HYUNG...!" jeno berteriak kencang memanggil hyungnya, sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

CEKLEK

Pintu kamar jeno terbuka. Menampakkan raut wajah taeyong yang terlihat panik seketika setelah melihat jeno yang terbaring dilantai, dengan darah yang mengalir dari hidungnya.

"JENO...!" pekik taeyong khawatir. Berlari mendekati jeno dan dengan sekuat tenanga mengendong tubuh tak berdaya jeno diatas ranjangnya.

Taeyong berlari menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya dan kembali kekamar jeno. Taeyong menghubungi doktor yang pernah merawat jeno sebelumnya.

.

.

.

.

Justin masih berdiri didepan kamar sang kakak, renjun. Sudah 1 jam justin disana berharap gegenya akan membukakan pintu untuknya. Namun sia-sia, renjun tak membukakan pintu. Dengan kesal justin membuka paksa pintu kamar renjun.

"Renjun ge...!" Pekik justin saat melihat renjun yang terbaring tak berdaya dilantai kamarnya yang dingin.

Justin mengangkat tubuh ringkuh kakaknya, kulit mereka saling bersentuhan. Dingin, itu hal yang justin rasakan saat kulit putih pucatnya bersentuhan dengan kulit pucat milik renjun, kakaknya.

Setelah membaringkan renjun diranjangnya, justin ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan kakaknya. Saat ini tidak ada siapapun dikastil tempat tinggal mereka. Hanya ada beberapa pengawal dan maid dikastil itu. Ingat mereka semua adalah vampire.

.

.

Renjun mulai membuka matanya perlahan dan kembali menutup mata saat dirasa sinar lampu yang begitu terang. Mata renjun mulai menyelusuri kamarnya itu. Disampingnya, ada adiknya yang tengah terpejam. Renjun sering kali iri dengan justin, adiknya itu. Kadang justin bisa bersikap lebih dewasa dibandingkan dirinya dan juga, justin lebih kuat darinya.

Tangan renjun mencoba mengusap surai kecoklatan milik justin. Namun baru hendak menyentuhnya, justin lebih dulu membuka matanya membuat renjun sedikit kaget.

"ge, kau tak apa ?", renjun membalasnya dengan menggelengkan kepalanya.

"apa kau merindukan seseorang yang bernama, Lee Jeno?" Tanya juatin lagi.

Kali ini pertanyaan justin membuat renjun terkejut. Darimana dia tau nama lee jeno, renjun bahkan tak pernah bercerita kepada siapa pun tentang jeno kecuali pada jaehyun, hyung yang sudah merawatnya saat renjun dibuang dari kerajaannya dan juga lucas.

"ge, jika itu benar ku harap manusia itu tidak melupakan mu..." Justin terdiam sejenak, tangannya meraih tangan renjun kemudian menggenggamnya erat.

"... Aku hanya takut, kau akan menghilang".

Kata terakhir dari justin membuat renjun ingin menangis. Jelas-jelas kemarin jeno tak mengingatnya sama sekali, dan sekarang tubuh renjun pun mulai semakin melemah.

"maaf kan gege..." Renjun mencoba menahan air matanya dari tadi. Justin yang mengetahui akan hal itu, tengah mencoba menenangkan renjun.

"... Gege tau ini adalah sebuah kesalahan tapi gege sudah mencintainya" renjun sudah tak bisa menahannya lagi. Tangisannya mulai pecah, air matanya pun sudah mulai mengalir.

Justin mencoba menenangkan renjun dengan mengelus tangan dan juga pungung renjun.

"aku menyayanginya, aku menyayangi lee jeno" tangis renjun semakin pecah saat justin memeluknya dengan erat.

.

.

.

.

.

"RENJUN!" Pekik jeno saat dirinya tiba-tiba terbangun dari tidurnya.

Taeyong langsung menghampiri jeno setelah mendengar teriakan jeno dari kamarnya.

"jeno, ada apa?" Ucap taeyong yang melihat keringat diwajah tampan adiknya itu.

"hyung, aku merindukan renjun, aku ingin bertemu dengannya" ucap jeno saat taeyong tengah memeluknya guna menenangkan adiknya.

.TBC.

Akhirnya chap 10 selesai juga, setelah melewati banyaknya rintangan untuk menyelesaikan chap ini.

Disini aku nambahin justin buat jadi adiknya renjun, soalnya kan dari kemaren ini adiknya renjun belom ada namanya kan? Nah jadilah justin aku angkat menjadi adiknya renjun.

Maaf yang udah buat kalian nunggu lama dan maaf juga kalo ceritanya udah mulai ngebosenin.

kadang otak saya lagi benar-benar buntu, jadinya suka gak ada ide buat ngelanjut.

Tapi karna kalian semua para readers jadi saya berusaha buat ngelanjut ini cerita dan saya udah janji buat lanjut cerita ini sampe selesai, sampe tamat lah pokoknya.

Makasih bangat udah mau nunggu cerita ini