nya! Unya! Gomen for the veeerrryyyy lllaaaattttteeeee uuuuppppdddaaaatttteeee... hampir aja kena writer's block... btw, fanfic Indo jadi banyak, yah?! kereen...
On to the review!
mrs. inuzuka : deuh... yang lagi broken... udah baikan belum, non? um... ntar ya... TAPI AKU TAKKAN BIARKAN KAU MEMBUNUH HINATA!! -ehm-
Reku-maku : un! sebenernya udah kebayang, tapi advis dari anda2 akan sangat membantuku... jadi jangan ragu buat kasih advis, okeh?
CraZy-AneH-GiRL : thanks! jangan bosen baca, yah!
itachi4ever : naniiii?? thanks banget, demo... bukannya anda yang bisa ngapus review anda sendiri?
Re1010 : kiba! iya, kiba aja! (tiba2 dateng lari2 sambil bawa kunai... TIDAAAAAAKKKK!! kabur mode: ON)
nice : yaaay! thanks! mau review juga... jangan bosan baca, yah?!
Hanaoka Haru : aww... thanks! nggak juga... tau gak alesan sebenernya Neji kalah lawan Naruto waktu chuunin exam? soalnya chakranya Neji abis, jadinya gak bisa nyerang lagi...
Yaaayyyy! banyak review! thanks banget!! jangan bosen baca, yup!! sori kalo jadi tambah aneh...
Disclaimer : GROAAAAAARRRRRRR!! -sigh- Naruto bukan punyaku...
X. COUNTDOWN : 7—REALIZATION
Tsunade menoleh ketika mendengar suara pintu diketuk, disusul dengan suara seorang gadis yang memanggilnya.
"Hokage-sama,"
Sang Hokage mendesah dan bangkit berdiri. Ia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah agak lama membungkuk di depan mikroskop, dan berseru. "Masuk!"
Tenten melangkah memasuki ruang penelitian, menjinjing kantung berisi tanaman obat yang dibawa Hinata dari gunung. Gadis itu membungkuk dengan cepat, dan menyerahkan kantung tersebut pada Tsunade. Sang Godaime menerimanya sembari tersenyum cerah.
"Ah, jadi Hinata sudah kembali! Baguslah..."
"Mmm... bagaimana perkembangan penelitiannya, Tsunade-sama?" tanya Tenten, mata cokelatnya memandang mikroskop dengan penuh rasa ingin tahu.
Tsunade menyingkir dan membiarkan Tenten melongok ke mikroskop itu sendiri. Setelah menemukan fokus yang tepat, gadis itu mengubah-ubah posisi lensa mikroskop hingga ia melihat apa yang sedang diteliti Tsunade.
"I... ini..."
Tsunade mengangguk. "Ya, sama dengan racun yang menginfeksi Hinata, namun ini adalah versi yang lebih jinaknya."
Tenten mengangkat kepalanya, dan memandang Tsunade dengan tatapan tidak mengerti. "Versi lebih jinak? Bukankah ini justru versi yang lebih ganas, karena langsung membunuh?"
"Tidak! Ini justru bisa dikatakan sebagai versi yang lebih jinak, karena dia tidak menghancurkan antibodi," ujar Tsunade.
"Tapi, kalau begitu, kenapa Genma-san bisa langsung tewas?"
Menghembuskan napas, Tsunade melangkah ke meja yang berantakan. Wanita itu mengambil setumpuk kertas yang penuh dengan tulisan dan skema, dan memberikannya pada Tenten. Gadis itu menerimanya, dan membacanya sekilas.
"Berdasarkan keterangan dari Sakura, saat Genma tiba di rumah sakit, ia memang sudah dalam keadaan luka parah, mengeluarkan banyak darah. Saat Sakura mengunakan ninjutsu pengobatan, luka-luka Genma tidak mau menutup. Dari situ aku menyadari satu hal,"
Tenten mengangkat kepalanya dari diktat tersebut dan memandang Tsunade.
"Racun yang menyerang Genma menginfeksi trombosit, sehingga membuat darah sulit membeku dan luka sulit menutup. Saat itu, bisa dikatakan Genma meninggal bukan dikarenakan racun, tapi dikarenakan pendarahan akibat dari luka-luka di sekujur tubuhnya. Saat aku membandingkannya dengan sampel racun yang menyerang Hinata, aku menyadari bahwa racun yang menyerang Hinata adalah racun yang lebih spesial. Penyebarannya cepat, namun ia tidak langsung menginfeksi trombosit. Racun itu bercokol di jantung, dan mengganggu detakannya dengan menginfeksi setiap tetes darah yang melewati jantung. Dari situlah racun itu, perlahan tapi pasti mengurangi jumlah trombosit. Dan, ia juga menghancurkan antibodi si penderita."
"Jadi..."
"Ya, hal itu menyebabkan si penderita lambat laun akan mudah lelah karena staminanya mudah terkuras. Suhu tubuhnya juga akan tidak normal, sering meningkat dikarenakan leukositnya terus berjuang melawan racun. Jika terluka, akan sulit menutup karena jumlah trombositnya sudah berkurang. Semakin lama, fungsi jantung akan semakin terganggu, dan hal itu menyebabkan ia sering batuk darah."
Tenten tidak berkata apa-apa, gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Oh, jadi karena itu, Hinata sering sekali batuk darah dan memegang dadanya... racun itu pasti sangat membuatnya kesakitan...
"Hokage-sama... tapi anda akan menemukan penawarnya, bukan? Sebelum semuanya terlambat?" tanya gadis itu pelan. Mata cokelat gadis itu menatap sosok wanita yang menjadi idolanya. Penuh harapan.
"Kuharap aku bisa..." bisik Tsunade. Wanita itu mendesah, dan meraih sebuah buku besar berdebu di atas meja. Ia berpura-pura membaca, namun perhatiannya tertuju pada pintu yang tertutup. Pada sosok di baliknya.
"Masuklah, Kurenai. Ada yang harus kubicarakan denganmu."
oOoOo
Hinata terduduk di pinggir kasur. Sebelah tangan gadis itu meraih pergelangan kaki kanannya yang masih dibalut perban, memeriksanya perlahan. Untunglah terkilirnya tidak terlalu parah. Ia mendengar Sakura mengatakan bahwa besok kakinya sudah bisa digunakan untuk berjalan lagi.
Sekarang tanggal berapa? Batin gadis itu, mengingat-ingat. Ia menghitung mundur perlahan-lahan, dan akhirnya ia tersenyum miris saat ia menyadari kenyataan. Tujuh hari lagi...
Tinggal seminggu lagi waktuku, dan aku malah berdiam diri di sini?
Suara pintu terbuka membuat gadis itu menoleh, dan ia menemukan seorang wanita berambut hitam panjang yang agak ikal melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Kurenai-sensei!" sambut Hinata senang, melihat senseinya datang menjenguknya.
Kurenai tersenyum dan berjalan ke sisi tempat tidur gadis itu. Refleks, Kurenai meraih pergelangan kaki Hinata yang terkilir, dan memeriksanya sekilas. "Kau tidak apa-apa, Hinata?"
Hinata terdiam sejenak, namun selanjutnya gadis itu tersenyum. "Aku baik-baik saja kok, Kurenai-sensei! Tadi Sakura-chan mengatakan kalau besok kakiku sudah bisa digunakan lagi..."
Kurenai memandang mata lavender gadis di depannya lekat-lekat. Ia memperhatikan sekujur tubuh gadis itu, dan ia tidak melihat perubahan selain kenyataan bahwa tubuh Hinata terlihat semakin kurus.
Rasanya sulit sekali mempercayai apa yang telah disampaikan Hokage-sama kepadanya... kenyataan mengenai murid yang sangat disayanginya...
Kurenai melangkah masuk. Wajah Jounin itu terlihat waspada. Ia membungkuk sejenak, menghormat kepada sang Hokage, dan mengangguk pada gadis bercepol dua yang berdiri di sebelah beliau.
"Hokage-sama, apakah tidak apa-apa?" tanya Tenten. Sang Godaime mengangguk.
"Sebagai sensei Hinata, Kurenai berhak mengetahuinya... lagipula, kita tidak mungkin menyimpan hal ini terlalu lama..."
Mendengar nama salah satu muridnya disebut, Kurenai langsung bertanya. "Sumimasen, Hokage-sama. Apa yang terjadi dengan Hinata?"
Tsunade menatap mata merah sang Jounin, dan menghela napas. "Duduklah, Kurenai. Ceritanya akan sangat panjang. Dan, tolong jangan beritahukan kisah ini kepada siapapun."
"Memangnya ada apa?"
"Ini permintaan Hinata sendiri. Nah, sekarang, duduklah."
Kurenai menarik sebuah kursi ke depan Tsunade dan Tenten. Iapun duduk, siap mendengar kisah yang sangat mengejutkan yang mengalir dari bibir sang Godaime Hokage.
"Kurenai-sensei?"
Panggilan itu menyentakkan Kurenai dari lamunannya. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Mata merahnya bertemu dengan mata lavender milik Hinata. Raut cemas terlihat di sana.
"Kurenai-sensei? Daijoubu ka?" tanya gadis itu khawatir.
Sang Jounin hanya mengangguk. Kata-kata Tenten masih terngiang di benaknya.
"Jangan katakan kepada siapapun... karena... bahkan Hiashi-pun mungkin tidak mengetahui hal ini..."
"Tapi, hal ini tidak mungkin disembunyikan, Tsunade-sama!"
"Hinata sendiri yang memintanya."
"Kenapa?"
Kali ini Tenten yang menjawab, diiringi seulas senyum sedih. "Karena... Hinata tidak ingin menjadi beban..."
Kurenai memaksakan seulas senyum. Wanita itu menepuk pundak Hinata pelan, sebelum beranjak pergi.
"Semoga cepat sembuh, Hinata," ucapnya. "Kutunggu di lapangan training besok, bersama Kiba dan Shino. Ingat, training besok tidak akan mudah. Kau akan bekerja keras karena hari ini kau sudah tidak berlatih."
Hinata tersenyum mendengar kalimat senseinya tersebut.
"Hai, Kurenai-sensei!"
oOoOo
Dengan lincah, gadis berambut pink itu melompat-lompat dari dahan satu pohon ke pohon yang lain. Mata zambrud indah miliknya bergerak ke kanan dan kiri, mencari-cari sesuatu.
Sakura menghentikan lajunya saat ia menemukan tempat yang dimaksud. Ia melompat ke tanah, dan langsung berlari menghampiri serumpun tanaman obat yang terletak di pinggir gua.
"Huff, untung ketemu. Kalau nggak, aku nggak akan bisa menyelesaikan ramuanku," ucap Sakura, tersenyum senang.
Gadis itu membungkuk dan mulai memetik tanaman tersebut. Ia membutuhkan daun tanaman itu untuk membuat ramuan obat yang ia baca di buku milik Tsunade. Konon, ramuan itu juga dapat digunakan untuk melemahkan virus apapun yang menyerang tubuh manusia.
Tiba-tiba, gadis itu merasakan gerakan di belakangnya. Ia berpura-pura membungkuk, sementara itu benaknya menghitung.
Satu, dua, tiga—lima, sepuluh, dua belas... mereka terlalu banyak! Siapa mereka? Auranya tidak bersahabat... apakah mereka musuh?
Refleks Sakura berbalik. Ia sempat menangkap kilasan sosok hitam yang melompat menyembunyikan diri, namun selebihnya ia tidak melihat apa-apa. Gadis itu menajamkan matanya, dan merasakan aura-aura penyerangnya. Mereka semua bersembunyi... namun aku akan membuat mereka keluar, dan akan membuat mereka terpaksa merasa menyesal telah memata-mataiku!
Gadis itu mengumpulkan chakra di tangan kanannya, dan meninju tanah di bawahnya.
"SHANNARO!!"
BLAAAAARRRRRRR!!
Bumi terbelah dikarenakan pukulan Sakura. Pepohonan di sekitarnya bertumbangan karena tanah penopang mereka tiba-tiba terpecah belah. Sosok-sosok berbaju hitam di atasnya pun meompat turun.
Mata hijau zambrud indah milik Sakura menatap sosok-sosok di depannya menantang, tanpa rasa takut. Gadis itu membetulkan sarung tangannya, mengibaskan rambutnya, dan menyeringai.
"Kenapa diam saja? Ayo maju, dan akan kubuat kalian menyesal telah berani mencoba melawanku."
oOoOo
Pertarungan tidak terelakkan. Sesungguhnya itu adalah pertarungan yang sangat tidak seimbang, namun saat inilah kenyataan bahwa Haruno Sakura adalah salah seorang kunoichi terkuat dapat dibuktikan.
Gadis itu melompat ke udara, berputar di atas para penyerangnya. Kedua tangannya dengan cepat menyelipkan dua buah exploding tag di punggung dua orang ninja berbaju hitam itu. Sakura melompat ke atas pohon, dan kedua tangannya bergerak dengan cepat, membentuk sebuah seal.
"JIBAKU FUDA : KASSEI!"
BLAAARRRR!!
Dua tubuh ninja tersebut meledak menjadi serpihan. Sakura tersenyum di balik rimbunnya dedaunan. Bagus, dua sudah jatuh. Ini mestinya membuat nyali mereka sedikit ciut.
CRAAAKKK!!
Sakura tersentak ketika sejumlah kunai berdesingan melewatinya, salah satunya menyerempet bahunya, menyisakan goresan berdarah di sana. Orang-orang ini... mereka sama sekali tidak gentar walaupun sudah ada kawan mereka yang mati...
Gadis itu melompat kembali ke bawah, mengumpulkan chakra di kakinya. Sekuat tenaga ia menendang tanah di bawahnya.
"SHANNAROOO!!"
BLAAAARRRR!!
Lagi-lagi bumi bergetar, dan lebih banyak tanah yang terpecah belah. Beberapa ninja lawannya langung terbenam ke dasar bumi. Tendangan Sakura benar-benar telah menghancurkan daerah di sekitarnya. Gadis itu berdiri di tengah-tengahnya. Sekujur tubuhnya siap untuk menyerang.
Salah seorang lawannya yang masih tersisa tidak menyia-nyiakan kesempatan itu; ia melempar sejumlah kunai ber-exploding tag ke arah Sakura.
BLAAAARRRR!!
Ledakan dari exploding tag itu mengguncang tanah di sekitarnya. Namun, yang terlihat hanyalah serpihan-serpihan kayu. Sakura tidak terlihat di manapun.
Cih, hanya kawarimi! batin ninja tersebut. Tiba-tiba, ia merasakan logam dingin menusuk punggungnya, disusul dengan suara Sakura.
"Teknik murahan seperti itu tidak akan membunuhku, tahu!"
DUGH! Ninja itupun terjatuh ke tanah, kehilangan kesadarannya setelah tengkuknya dipukul oleh Sakura. Gadis itu berbalik, dan menemukan masih banyak ninja berbaju dan bermasker hitam lain yang tegak di depannya, siap menyerang.
Napas Sakura sudah mulai tersengal-sengal. Keringat mengalir dari dahinya.
Sial. Ini akan memakan waktu yang cukup lama.
oOoOo
Gadis lima belas tahun itu terhuyung sedikit, namun ia masih bisa berdiri. Di sekitarnya bergelimpangan beberapa ninja bermasker hitam, tidak sadarkan diri. Wilayah di sekitarnya berantakan. Tanah-tanah retak, beberapa bagian amblas, dan yang lain malah mencuat ke atas dikarenakan pukulan dan tendangan gadis tersebut.
Sakura mengusap peluh yang mengalir di wajahnya, menatap kekacauan di sekitarnya.
"Huh. Itulah hasilnya kalau berani bermain-main dengan seorang ninja Konoha," ucap Sakura.
Gadis itu sedang berusaha mengobati luka-luka di tubuhnya, saat tiba-tiba ia merasakan aliran chakra yang cukup besar dari arah depan. Namun ia tidak bisa menghindar, karena semuanya berlangsung terlalu cepat.
"HAKKE... ROKUJYUUYON SHO!"
Tubuh Sakura tersentak ke belakang seiring dengan gerakan yang sangat cepat dari sosok yang tiba-tiba muncul di depannya itu. Rasa sakit menyerang sekujur tubuhnya, bersama dengan keenam puluh empat tenketsunya yang tertutup.
Tidak...
Mungkin...
"ROKUJYUUYON SHO!"
Sentakan terakhir itu membuat tubuh Sakura terhempas ke tanah. Ia menjerit saat merasakan wajahnya menghantam ke tanah dengan cukup keras. Gadis itu mengaduh kesakitan, dan ia merasakan seluruh tubuhnya kaku. Ia mencoba menggerakkan badannya, namun rasa sakit malah menerpanya.
"Kau tidak akan bisa bergerak. Aku sudah menutup 64 tenketsumu."
Sakura mendengar suara dingin dari sosok pria di depannya.
"S... siapa..." suara gadis itu pelan, berusaha memfokuskan matanya di sela kesadarannya yang semakin menurun.
Kepala Sakura refleks terangkat ketika pria itu menjambak rambutnya. Mata zambrud milik gadis itu menatap sosok penyerangnya dengan tidak percaya.
Tidak mungkin...
"Sampaikan salamku pada Hiashi-sama." ucap suara dingin itu, sebelum pukulannya membuat gadis itu kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Mata itu... Ti... dak... mungkin... di... dia...
cliffhanger!! Yeaaah!!
um... maaf yah, bagian pertarungannya gak seru... bukan spesialis pertarungan, sih! tapi aku coba ngelakuin sebaik yang aku bisa... trus aku juga mencpba menjelaskan 'sisi ilmiah' dari racun itu... sori kalo gak nyambung bin aneh bin gak bisa dimengerti... harap maklum... ulangan biologi jelek...
jangan lupa review!! Ja ne...
Jibaku Fuda: Kassei -- Exploding Tag: Active
Hakke Rokujyuuyon Sho -- Eight Trigrams Sixty-Four Palms
