The Doll
Disclaimer : Furudate Haruichi
Warning : OC, OOC, Sho-ai, typo dll.
Hinata mencari orang tuanya kesana kemari. Hinata memang merasa aneh, karena tadinya dia sedang berada di kamarnya, berbicara dengan Yuuki. Namun saat sadar, Ia berada di gudang yang berada di bawah tangga lantai dua.
Sembari memeluk boneka beruang, Ia menatap sekilas ke arah Jam yang tengah menunjukkan pukul lima subuh.
"Kemana perginya Ibu, Ayah dan juga. . Natsu?" gumamnya sembari memeriksa setiap ruangan yang ada.
'Brak' suara barang jatuh dari arah dapur mengalihkan atensi Hinata.
Dengan memberanikan diri, Hinata menuju asal suara yang menarik perhatiannya.
"Apa Ibu sedang memasak, lalu bahannya tak sengaja terjatuh?" untuk kesekian kalinya Hinata bergumam.
Mengintip dari pintu masuk dapur, Hinata mengedarkan pandangan kesekeliling dapur yang sunyi.
'Apa Yuuki?! Di. . Dia memang arwah, tapi kurasa dia tak mungkin menjahiliku kan?!' batin Hinata mengeratkan pelukannya terhadap boneka yang ada di dekapannya.
"Mungkin hanya tikus?" gumam Hinata untuk kesekian kalinya agar tetap bersikap tenang.
Grep
Sebuah tangan melingkar di pinggang ramping Hinata, membuat Hinata terlonjak kaget dan gemetar tiba-tiba. Ia gundah dan takut disaat bersamaan. Takut jika tangan yang melingkar di pinggangnya ini tak memiliki tubuh. Yang dalam artian hanya tangan saja.
Membayangkannya saja membuat detak jantung Hinata berdegup dengan kencang dan tak lupa keringat dingin yang mulai membasahi wajahnya.
"Shoyo." panggil seseorang.
Hinata merasa panas dingin disaat bersamaan sekarang.
"S. . sssi. . siapa kau." ucap Hinata terbata dan Ia tak ingin berbalik untuk melihat siapa yang memeluknya dari belakang itu.
Gambaran tangan melayang membayangi Hinata.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Ini aku, Yuuki. Dan oh apa-apaan wajahmu sekarang Shoyo? Kau takut?" ucap Yuuki sembari melepas pelukannya.
Hinata merasa sedikit tenang sekarang, sedikit loh ya.
Hinata berbalik ke arah Yuuki dan masih setia mendekap boneka beruang.
"A. . Apa yang tadi kau lakukan?! Da. . Dan bisa aku bertanya?"
"Tentu saja Oremo Hime-sama." sahut Yuuki tersenyum.
"A. . apa kau tahu dimana orang tua dan adikku? em. . Kau tidak melakukan apa-apa pada mereka kan?"
Senyum Yuuki seketika luntur.
"Kenapa kau membicarakan mereka Shoyo? Bukankah kau hanya ingin bersamaku." ucap Yuuki menunduk.
"Yya. . aku memang bilang begitu, tapi. . aku ingin tahu sekarang dimana mereka? da. . dan Kau tidak melukai mereka kan?" ucap Hinata mencoba memastikan bahwa Keluarganya baik-baik saja.
"Aku tidak tahu." sahut Yuuki datar.
"Yuu. . Yuuki" ucap Hinata takut-takut, ketika merasa aura Yuuki mulai berubah.
"Kau. . tidak akan bisa kembali lagi Shoyo. Aku tak akan melepaskanmu." Yuuki menatap Hinata intens dengan iris mata yang tadinya berwarna zamrud berubah menjadi merah darah.
"Yu. . Yuuki apa yang ingin kau la. . lakukan." Hinata mundur setiap Yuuki mendekatinya.
"Tak ada jalan kembali bagimu Shoyo. Aku tak akan membiarkanmu pergi dariku. Lagi." ucap Yuuki semakin dekat.
Hinata terus mundur Hingga akhirnya menabrak tembok. Hinata mulai panik, memperhatikan sekeliling, mencari cara untuk lari. Namun, kakinya seakan dipaku, tak bisa digerakkan lagi.
Yuuki semakin dekat, satu tangannya sudah terulur menyentuh pipi putih milik Hinata.
Tubuh Hinata bergetar. Sungguh, sekarang Hinata sangat ketakutan sekarang. Boneka yang tadinya ia pegang terlepas dan terjatuh di lantai.
Yuuki membelai wajah Hinata. Tangan dinginnya itu terus mengelus pipi Hinata sembari tersenyum-ah tidak mungkin bisa dibilang sebuah seringaian.
"Aku tak akan membiarkanmu bersama mereka. Aku tak akan segan-segan untuk melukai mereka. Termasuk dua orang yang dengan beraninya bilang menyukaimu itu." ucap Yuuki. Hinata hanya diam, Ia masih gemetar ketakutan.
"Kalaupun kau memilih bersama mereka, Aku akan membuatmu bersamaku. Termasuk kalau itu harus membunuhmu. . . Shoyo."
Mata Hinata seketika membola, Ia kaget bukan main. Benarkah ini Yuuki. Yuuki yang sering bermain dengannya saat kecil.
"Kenapa menampakkan wajah terkejut seperti itu Shoyo?" Kini Yuuki mulai menyentuh permukaan bibir Hinata yang bergetar.
Yuuki mendekatkan bibirnya ke arah telinga Hinata.
"Walaupun kau memohon untuk bersama mereka sekalipun, aku tetap akan membuatmu bersamaku. Dan cara agar membuatmu bersamaku selamanya hanya dengan . . . Membunuhmu." ucap Yuuki tepat ditelinga Hinata.
"Karena. . Aku menyukaimu. Jadi tidak mungkin aku memberikanmu pada orang lain. Aku akan melukai siapa saja yang ingin mengambilmu dariku. Apalagi kepada pemuda yang bernama Kageyama itu, aku tak akan segan-segan dengannya." tambah Yuuki dengan seringaiannya.
"Ti. . Tidak. Ku. . Kumohon. Jangan lukai siapa. . pun." ucap Hinata.
"Tidak sampai kau benar-benar selalu bersamaku. Aku sudah lelah selalu menunggumu didalam gudang. Menunggumu untuk menjemputku waktu itu. Kau tak tau rasanya terkurung didalam boneka dan disegel kemudian diasingkan dari orang yang disayanginya." Tangan Yuuki kini beralih ke leher jenjang Hinata. Ia menatap wajah Hinata yang kini nampak pucat karena ketakutan.
Melingkarkan tangannya di leher jenjang Hinata dengan maksud mencekiknya.
"Yu. . Yuuki ku. . kumoh. . hon. Ja. . .jangan. . la. . lakukan ini." ucap Hinata yang tahu apa yang akan dilakukan Yuuki. Sedetik kemudian Hinata merasa cengkaraman Yuuki semakin erat dilehernya.
"uhuk. . Yuuki, uhuk ku. . kumoho. .n. . le. . lepaskan aku."
Yuuki hanya menggeleng dan tetap melakukan aksinya. Ia semakin mengeratkan cengkramannya di leher putih Hinata. Dapat Ia lihat, Hinata yang ada di depannya mulai sulit bernafas.
"Sebentar lagi. . Shoyo." gumamnya.
'BRAK' suara pintu di banting dengan keras dan derap langkah orang berlari mendekati tempat Hinata dan Yuuki berada.
"HINATA!!" teriak Orang yang tadi membanting pintu. Ia tak melihat Yuuki tapi dapat dilihatnya Hinata yang seakan sulit bernafas.
"Ck. . pengganggu." gerutu Yuuki kemudian melepaskan cengkramannya.
Hinata merosot jatuh terduduk di lantai sembari menatap orang yang mulai mendekatinya.
"Ka. . Kageyama."
"Sstt. . Kau tidak apa-apa? Apa dia melukai. . . mu." ucapan Kageyama terdengar mengecil diakhir ketika melihat leher Hibata yang terlihat membiru.
Hinata menatap Yuuki yang tengah berdiri dibelakang Kageyama.
Yuuki bicara tanpa suara pada Hinata. Namun, Hinata tau apa yang tengah diucapkan oleh Yuuki. Setelah mengucapkan sesuatu pada Hinata, Yuuki menghilang entah kemana.
Hinata nampak takut kembali, matanya menyiratkan ketakutan yang sangat, membuat Kageyama Khawatir.
Kageyama mendekap Hinata erat, mencoba menenangkan Hinata.
"Kageyama aku takut.. hiks. . aku takut dia. . dia akan. . hiks. ."
"Tak akan terjadi apa-apa Hinata. Tenang saja." Kageyama mengusap punggung Hinata mencoba membuatnya tenang.
"Tap. . Tapi dia. . dia bilang hiks. . dia."
"Hinata tenang, ada aku disini. Tenanglah." Kageyama mengeratkan pelukannya.
'Aku akan melindungimu Hinata.' batin Kageyama.
*TBC
Udah lama gak update The doll. . Gomenne minna-san , Hika-chan baru bisa ngeupdate ini fict sekarang. .
Terima kasih sudah mau berkunjung. Dan Selamat Tahun Baru Minna-san~~
Maaf juga kalau masih ada kekurangan ne~
