Revenge

"Kookie, kau mau kemana?" Jimin tak sengaja melihat Jungkook di depan apartemennya.

Jungkook mengangkat bahu. "Aku juga belum tahu. Boleh aku duduk disini, kan sunbae?" Ia menunjuk ke kursi di depan jendela apartemen Jimin.

"Silakan." Jimin juga ikut duduk di sampingnya. Pintu 104 terbuka dan Taehyung keluar dari sana dengan tampang kusut dan rambut berantakan. "Kau sudah makan malam, Kookie?" Sengaja Jimin menguatkan suaranya lalu menutup pintu itu lagi. Saat pintu kembali dibuka, Taehyung sudah mencuci mukanya dan rambutnya tersisir rapi.

"Aku belum lapar. Kalian akan makan diluar lagi?" Taehyung mengangguk sedangkan Jimin memelototi Taehyung tidak setuju. "Ada lauk di tempatku, kau mau, sunbae? Rasanya tidak separah yang kalian bayangkan, tenang saja."

Kedua orang itu mengangguk setuju dan langsung mengikuti Jungkook ke apartemennya. Jungkook mengambilkan makanan dari lemari. Saat akan memberikannya pada Jimin, terdengar suara ketukan di pintu depan.

Taehyung yang membukakan pintu karena dilihatnya Jungkook dan Jimin masih di dapur. "Yoongi Hyung?" "Kau?"

"Sunbae, kau sudah datang? Maaf membuatmu menunggu." Jungkook sudah keluar dari dapur disusul Jimin yang sama terkejutnya dengan Taehyung, hampir menjatuhkan mangkuk yang dipegangnya.

"Kalian mau pergi? Kemana?" Taehyung tak bisa menahan diri untuk bertanya. Jimin ingin memeluk Taehyung karena berhasil menyuarakan pikirannya.

"Ne. Kalian mau ikut?" Jungkook berpaling ke Yoongi. "Sunbae, mereka ikut, kan?" Yoongi hanya mengangkat bahu pasrah.

Jimin merasakan nyeri di dadanya, tapi ia lebih sedih lagi saat melihat Taehyung. Pria itu lebih dari sekedar penasaran dengan kedatangan Yoongi ke apartemen Jungkook, karena yang dia tahu, seorang Min Yoongi tak pernah melakukan hal-hal yang berbau keakraban seperti ini.

"A-aku ikut!" Taehyung langsung menunjuk dirinya sendiri.

"Tae-tae, kita belum makan malam."

"Memangnya kalian akan kemana?" Dia masih penasaran.

"Studio. Tidak perlu berisik, kalau mau datang saja sendiri. Ayo, Jungkook. Mereka sudah tahu tempatnya, biarkan mereka makan malam dulu."

"Kami tidak ikut, kami sudah membuat janji dengan Jin hyung, benar kan, Taehyung-ah?" Bujuk Jimin lagi. Dia tidak ingin Taehyung melihat apa yang tak perlu dilihat. Dia tidak ingin terjadi sesuatu lagi pada temannya itu. Jimin memberi cubitan kecil di punggung Taehyung agar pria itu diam.

Sebelum Taehyung bicara lagi, Jimin segera menarik Taehyung keluar dari apartemen Jungkook. "Terimakasih, Kookie. Lain kali giliranku masak untukmu, ya." Katanya sebelum beranjak.

Dengan sigap Jungkook mempersiapkan mantel dan topinya sebelum mereka juga pergi. "Apa tidak masalah menggunakan studionya di malam hari seperti ini, sunbae?"

"Aku tidur disana sepanjang waktu dan tak melihat ada masalah apapun."

"Kamarmu pasti banyak sarang laba-labanya karena terlalu sering kau tinggalkan."

"Kau saja yang menempatinya, aku tidak keberatan."

*

Di meja makan, dua orang dengan kegalauan yang sama seolah menikmati makan malamnya tapi tak tampak sesuap pun yang masuk ke mulut mereka. Taehyung dan Jimin sama-sama melamun di depan makanan masing-masing.

"Aku tidak lapar."

"Aku tidak bernafsu makan."

"Makanlah sesuatu, Jimin."

"Kau juga belum makan apa-apa. Makanlah."

Akhirnya mereka sama-sama tidak menyentuh makanan itu sama sekali sampai semua makanan dingin.

*

Jin merasa tidak enak karena berlama-lama dengan pekerjaannya dan terlalu sering membatalkan janji dengan Namjoon, jadi hari ini ia ingin memberi kejutan untuk pria itu, Taehyung dan adik-adiknya yang lain.

Hari sudah mulai hangat, mungkin sekarang sekitar jam sebelas siang, tapi semua pintu di lantai dua apartemen itu masih tertutup rapat. Jin mulai dengan menggedor pintu 102 dan Namjoon keluar dengan wajah mengantuknya tapi segera pergi ke kamar mandi begitu ia sadar siapa yang datang ke tempatnya.

Setelah itu Jin menngetuk pintu 103. Hoseok sudah bangun, dan sedang mandi. Ia kemudian berjalan ke pintu 104. Sebelum mengetuk, tiba-tiba saja pintu itu sudah menganga lebar dan Jimin menampakkan diri dari dalam. Wajahnya sendu.

"Apa Taehyung masih tidur?" Jimin mengangkat bahu, tidak tahu. Mereka kemudian mengecek ke kamar Taehyung dan terkejut karena kamar itu kosong.

"Pantas saja sepi sekali sejak tadi. Kupikir dia masih tidur." Gumam Jimin.

Hoseok dan Namjoon juga datang ke tempat Jimin. Mereka kemudian berkumpul di ruang tengah. Beberapa saat kemudian, Taehyung datang dengan membawa makanan ringan penuh di dalam kantung besar yang dipegangnya.

Mereka langsung memeriksa isi kantung belanja tersebut. "Biskuit coklat, coklat karamel, coklat vanilla, lalu coklat bubuk~ kau sedang masa penyuburan badan, ya?" Teriak Jimin dari ruang tengah. Taehyung masih mengganti bajunya di kamar dengan yang lebih santai.

"Jangan ambil coklat bubukku. Makan saja yang lain asalkan bukan yang itu." Taehyung mengingatkan. Setelah mengganti pakaian, dia bergabung dengan hyung-nya yang lain dan menikmati makanan ringan yang dibawanya.

"Memangnya sejak kapan kau mau minum coklat panas, huh?" Jimin melirik Hoseok.

"Oh, tentang itu. Dia terbangun kemarin malam dan tiba-tiba minta coklat panas. Aku juga sempat heran."

Taehyung tak menjawab. Kakaknya ikut menimpali, "Jimin-ssi, bukannya kau bilang suka musik sejak kau suka Yoongi?" Jimin mengangguk dan menunduk malu-malu. "Jadi kenapa kau masih heran? Mungkin saja Taehyung kita ini sedang menyukai orang yang menyukai coklat panas." Katanya dengan nada menyindir.

Jimin dan Hoseok tersenyum mengerti. Sementara itu Taehyung sendiri tidak mau mendengarkan pembicaraan mereka dan memilih makan lebih banyak coklat. Setelah makan tiga biscuit ia merasa moodnya kembali membaik.

Di tengah kerusuhan mereka memperebutkan coklat, Jin pergi keluar dan masuk lagi dalam beberapa menit. Ia membawa Jungkook bersamanya. "Kau darimana saja?" Jungkook duduk bersama mereka di ruang tengah. "Aku mengetuk pintumu sampai ratusan kali tapi kau tidak menyahut sama sekali."

"Maaf, hyung. Aku tidak tidur di apartemen. Ini, aku baru saja pulang, dari studio."

"Kau tidur di studio? Dan Yoongi hyung…?" Taehyung mengambang kalimatnya, tak sanggup melanjutkan bayangannya sendiri. Hoseok menepuk jidat, tak habis pikir karena Taehyung benar-benar seperti buku yang terbuka. Perasaannya tergambar terlalu jelas di wajahnya –dan perkataanya.

"Dia masih disana. Katanya akan segera kembali begitu ia selesai dengan pekerjaannya." Jungkook tersenyum bangga. "Yoongi sunbae luar biasa, aku tidak tahu dia sehebat itu dalam menulis lagu dan bermain piano." Pria dengan coklat ditangannya langsung terduduk lesu.

"Karena itulah aku menyuruhnya ikut lomba itu. Sayangnya dia masih juga tidak mau ikut." Sahut Namjoon yang sejak tadi hanya menonton televisi –dia tidak terlalu suka coklat.

"Tenang saja, sunbaenim. Yoongi hyung sudah janji akan ikut lomba itu."

Namjoon meloncat berdiri. "Benar?" Jungkook mengangguk bersemangat.

"Karena itulah dia masih disana. Yoongi sunbae mulai latihannya hari ini." Ia memperlihatkan sebuah video di ponselnya pada Jin, Namjoon dan Hoseok.

Di sofa, Jimin hanya menatapi ponselnya sendiri. Berkali-kali ia ingin mengirim pesan pada Yoongi tapi selalu dibatalkannya. Dilemanya tak kalah rumit dibanding Taehyung. Apa yang ingin dijaganya adalah perasaan Jungkook, Taehyung, dan perasaannya sendiri, tapi itu tidaklah mungkin. Akan ada yang terluka.

Ini situasi yang tidak menyenangkan baginya. Membiarkan Taehyung tersakiti karena prinsipnya tapi harus terus-terusan melihat orang yang membuatnya kebingungan, sedangkan Jungkook sudah mulai dekat dengan Yoongi. Ia tak tahu harus memilih untuk menyerah seperti halnya Taehyung pada Hoseok, atau menjadi anak kecil yang merengek minta permen di antara Jungkook dan Yoongi.

Argh! Ini terlalu rumit, terlalu rumit! Jimin membuang bungkus coklatnya ke lantai lalu pergi ke kamarnya. Taehyung memanggilnya berkali-kali tapi tak diindahkannya sama sekali.

"Mungkin dia masih mengantuk, biarkan saja. Jungkook, ambil coklatnya! Taehyung membelinya banyak sekali." Kata Hoseok berusaha menetralkan suasana yang tiba-tiba tegang, tapi tentunya dia lebih tahu apa yang terjadi dengan orang itu. "Omong-omong, kenapa kau memanggil Jin hyung dengan sebutan 'hyung' sementara aku masih dipanggil 'sunbae-nim'? Seolah-olah kau lebih dekat dengan pria ini dibanding kami saja." Hoseok pura-pura merajuk.

Taehyung mendelik baru menyadarinya juga. Ia tak mengerti kenapa banyak sekali yang terlewat olehnya selama ini. Tentang Yoongi dan Jungkook, lalu sekarang Jin dan Jungkook.

Kenapa juga aku harus memikirkannya? Ini bukan urusanku, katanya dalam hati tapi tetap saja ia merasa terganggu. Membayangkan Jungkook dan Yoongi ada dalam studio dan tidur bersama, sunguh membuat Taehyung tak nyaman. Memangnya apa yang bisa dilakukan dua pria dalam satu ruangan saat waktunya tidur? Batinnya lagi.

Tapi di detik berikutnya ia teringat apa yang dilakukannya dengan Jungkook saat berkunjung ke apartemennya pertama kali. Mereka makan bersama, minum coklat panas, mengobrol. Kemudian ingatan itu tiba-tiba berubah dengan bayangan Jungkook yang sedang mengobrol dengan Yoongi. Mereka makan bersama, minum coklat panas, lalu…

"Aku hanya mau bersikap sopan." Jungkook menyandarkan kepalanya ke sofa. Sesaat kemudian dia tersentak. "Kenapa aku merasa aneh saat duduk disini?" dia menatap ke sofa yang didudukinya.

"Kenapa? Sofanya bagus." Hoseok meraba-raba permukaan sofa untuk menemukan apa yang membuat Jungkook tidak nyaman.

"Kurasa bukan karena kursinya. Aku juga bingung."

Di pinggir sofa, Jin dan Namjoon duduk berangkulan menutupi wajah mereka dengan bantal. Terdengar suara tawa teredam dari arah sana. Jin melepas bantalnya lalu melirik adiknya. Wajah Taehyung memerah seperti tomat, dia pura-pura konsentrasi dengan coklatnya, padahal Jin dan Namjoon tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu.

Jungkook menoleh karena mendengar Jin memanggilnya. "Mungkin kau sedang de javu." Anak itu masih diam tidak mengerti. Jin melanjutkan, "Coba kau ingat lagi, apa kau pernah duduk di sofa ini sebelumnya?"

"Kurasa pernah." Jungkook terkejut karena tiba-tiba kepala Taehyung berputar cepat dan sekarang sedang menatapnya tajam.

"Jadi kau mengingatnya? Lalu kenapa kau pura-pura lupa?!" Ia membuang napas dengan sengaja. "Seolah-olah aku yang melakukannya lebih dulu." Taehyung bergumam kecil.

Hoseok, Jin dan Namjoon juga ikut menatapnya. "Sunbae, kita sedang membicarakan apa?"

Taehyung tak tahan lagi. Ia berdiri dan mendekati Jungkook ke sofa. "Wah! Kau masih pura-pura? Kau ini keterlaluan sekali. Aku tidak bisa tidur berhari-hari karena ulahmu dan kau dengan santainya bilang 'tidak ingat apapun'. Kau cari mati, ya?"

"Su-sunbae?!" Jungkook duduk meringkuk di atas sofa. Wajahnya pucat seketika. Tak pernah dilihatnya ekspresi Taehyung sedingin ini.

Untungnya Jin langsung menengahi mereka. Dia mendorong adiknya kembali ke tempat duduknya semula. "Biarkan aku yang menjelaskannya padamu." Jin menoleh pada Jungkook. "Jungkook, bisa kau buatkan coklat panas untuk kita semua? Di dalam kantung itu ada bubuk instan."

Segera Jungkook mengambil benda yang ditunjuk dan langsung pergi ke dapur. Hoseok mengikutinya untuk membantu. Taehyung juga pergi, ke kamarnya.

Di dapur, Hoseok melihat Jungkook masih terlihat takut, terkejut, bingung. "Memangnya kau lupa sama sekali dengan kejadian itu?" katanya sambil menuangkan bubuk ke dalam gelas.

"Sunbae, bisa kau ceritakan padaku apa yang terjadi? Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan dan kenapa tiba-tiba Taehyung sunbae jadi marah padaku?"

Hoseok menarik napas panjang sebelum mulai bicara. "Jadi, waktu itu kau mabuk, karena Jimin~"

"Aku mabuk?" Potongnya. Jungkook membelalakkan matanya tidak percaya. "Lalu siapa yang kucium kali ini?" katanya langsung.

Dahi Hoseok mengerut bingung. "Kupikir kau tidak ingat sudah mencium seseorang."

Akhirnya ia menceritakan beberapa pengalamannya di masa lalu dengan teman-temannya dulu saat mereka minum bir untuk pertama kalinya. "…Lalu yang ketiga kalinya, aku mencium guruku sendiri. Ada seorang temanku yang usil menuang minuman beralkohol dalam gelasku. Guruku itu marah sekali, keesokan paginya malah aku yang dihukum padahal aku tidak ingat sampai temanku yang menceritakannya. Aku tidak pernah mau minum lagi setelah itu." Jelasnya. Hoseok megap-megap antara ingin tertawa atau memukul Jungkook.

"Kalau Taehyung sunbae… Apa mungkin, dia yang aku…" Hoseok langsung mengangguk. Jungkook spontan menutup mulutnya. "Oh, tidak!"

"Itulah yang terjadi. Kurasa aku paham sekarang. Tapi masalahnya sekarang Taehyung, dia jadi~"

"Hyung, biarkan aku bicara dengannya sebentar." Jungkook terlompat mundur, terkejut karena tiba-tiba orang yang sedang mereka bicarakan sudah muncul di dapur.

Melihat wajah Taehyung sudah lebih tenang, Hoseok pun melangkah ke luar meninggalkan mereka. Semoga saja tidak ada yang terluka saat mereka keluar nanti, ujarnya dalam hati.

Jungkook menundukkan kepalanya, tidak berani melihat Taehyung lagi. Bagaimanapun Taehyung adalah seniornya dan ia tak ingin membuat kesalahan karena berani melawannya. Dan lagi Kim Taehyung adalah adik dari pria yang sudah banyak berjasa untuknya. Ia sudah pasrah menerima apapun yang akan dilakukan Taehyung padanya meskipun itu akan mematahkan hidungnya atau giginya, atau mungkin membuat matanya lebam. Tidak apa.

"Kenapa kau menunduk terus? Lihat aku." Taehyung sudah berjalan semakin dekat ke Jungkook.

"Ma-af, sunbae-nim. Aku minta maaf, soal kejadian itu. Aku tidak sengaja, sungguh! Kau boleh memukulku kalau kau mau." Jungkook menyodorkan pipi kirinya.

Taehyung maju lagi selangkah lebih dekat sambil tersenyum sinis. "Tidak sengaja? Tidak sengaja. Baiklah, kukabulkan permintaanmu, tapi memukul pipi tidak seru. Bagaimana kalau kuhancurkan saja hidungmu?"

Pria itu menurut. Wajahnya kembali dihadapkan kedepan, ia menatap langsung ke mata Taehyung. Dalam hati ia berjanji tidak akan mau minum setetes minuman alcohol jenis apapun, tidak akan pernah, tidak akan.

Ketika mereka sudah sangat dekat, Taehyung menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam. Saat dia kembali membuka mata, wajah putus asanya mengagetkan Jungkook. "Vanila– Aku suka vanilla." Bisiknya di telinga Jungkook.

Jungkook membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu namun Taehyung langsung menghentikannya dengan menempelkan bibirnya ke bibir Jungkook. Ia mundur beberapa langkah tapi bibir Taehyung terus melekat padanya seolah tak bisa terlepas. Sekarang ia sudah terpojok di dinding, tangan Taehyung mengurung sisi kiri dan kanan pinggangnya.

"Sunbae… sunbae apa yang kau~ Sunbae, dengarkan aku~" Taehyung kembali menempelkan bibirnya. Berkali-kali Jungkook mendorong bahu Taehyung tapi pria itu malah mengunci tangannya. Napas hangat Jungkook yang menyapu wajahnya membuat Taehyung menggila. Ia mencoba mendesakkan lidahnya, tapi Jungkook menahan giginya terkatup rapat.

"Taehyung-ah!" Taehyung tak bereaksi. Ia masih saja bermain-main di bibir Jungkook. "Ajak Jungkook makan siang bersama. Taehyung… Taehyung!" Sekali lagi suara Jin memanggilnya dari ruang tengah.

Ciumannya melambat lalu akhirnya ia melepaskan wajahnya dari pria yang berdiri gemetar di depannya. Ia mengangkat kepala Jungkook dengan kedua tangannya, membuat mata mereka bertemu. "Maaf, ya. Aku tidak sengaja." Katanya enteng sebelum keluar dari dapur meninggalkan Jungkook jatuh terduduk di lantai.

*

Selesai makan, Jimin menyisihkan satu mangkuk sup lalu ditutupnya rapat. "Aku akan ke tempat Jungkook sebentar." Ia berdiri membawa mangkuk itu di tangannya. "Kurasa dia sakit. Wajahnya pucat sewaktu pergi tadi."

Seperginya Jimin, Hoseok langsung menoleh pada Taehyung yang sejak tadi diam, hanya memandangi makanannya. "Sebenarnya apa yang kau lakukan pada anak itu? Kau tidak memukulnya, kan?"

"Tidak." Hoseok hampir bernapas lega sebelum ia mendengar kelanjutannya. "Tapi memang hampir saja terjadi, karena dia bilang menciumku tidak sengaja, aku jadi makin kesal."

Jin menepuk bahu Taehyun pelan. "Taehyung-ah, dia memang tidak sengaja." Ia kemudian menceritakan tentang kelainan Jungkook yang satu itu pada adiknya. Hoseok juga ikut menceritakan apa yang didengarnya tadi dari Jungkook.

"Aku pernah punya teman yang seperti itu sebelumnya, jadi aku maklum saat Jungkook cerita tadi. Dia garang seperti singa, tapi setelah mabuk dia akan mengelus rambut siapa saja yang ada di dekatnya. Yah, meskipun kuakui yang terjadi di Jungkook ini memang lebih parah, setidaknya dia tidak menyakiti orang lain saat mabuk." Hoseok mengakhiri ceritanya. Reaksi Taehyung beragam, merasa aneh, gemas, kasihan, tapi ia lebih merasa malu, malu pada dirinya sendiri karena sudah salah paham.

"Bagaimana ini?" Jimin sudah kembali lagi. Mangkuk yang tadi dibawanya masih utuh dan wajahnya terlihat cemas. "Dia tidak ada disana, kurasa begitu. Aku mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada yang menyahut. Apa dia benar-benar sakit? Bagaimana ini, hyung?"

Jin juga jadi ikut cemas. Ia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Jungkook. Teleponnya tersambung tapi langsung terputus dua detik kemudian. Dia mematikan telepon dariku? Tidak biasanya Jungkook seperti ini. batinnya.

"Apa dia mengangkat teleponmu?"

"Tidak, biarkan saja dulu. Semua orang butuh privasi, Jimin." Jawab Jin menenangkan, tapi matanya melirik Taehyung. Ia merasa perlu menginterogasi adiknya itu sesegera mungkin.

*

Hari sudah gelap saat Jin memutuskan untuk kembali ke apartemennya sendiri. Kali ini Namjoon tak berhasil membujuknya untuk tetap tinggal. Jimin ikut dengannya dan minta diturunkan di depan kampus.

"Kau pasti sedang khawatir lagi." Mereka sudah beranjak dari halaman parkir gedung apartemen. Jin melirik kotak bekal yang dibawa Jimin. "Apa kau masih menyukainya?"

Jimin balas tertawa kecil. "Andai saja hatiku adalah kotak ajaib, aku pasti bisa menghilangkan perasaan yang menyenangkan atau menyakitkan hanya dalam satu ketukan dan mantra. Sayangnya aku tidak punya itu."

"Kau sama seperti Taehyung dulu, dan aku suka kegigihan kalian. Hoseok masih mau merespon bentuk kasih sayang dari Taehyung, tapi Yoongi–" Jin menghela napas berat. " –aku heran kenapa Yoongi masih dingin padamu, dan kenapa juga kau masih bertahan di sisinya?"

"Yoongi hyung tidak mengusirku ataupun menyuruhku mendekat. Aku tidak ada di sisinya, hyung. Selama ini aku merasa ada di tengah-tengah, tapi sekarang sepertinya aku sudah ada di ujung, sudah jauh."

"Maksudmu?"

"Dia menemukan orang lain. Ah, aku tidak bisa marah atau kesal pada orang itu dan Yoongi hyung. Gadis yang sebelumnya dekat dengan Yoongi saja masih belum bisa kumaafkan, sekarang malah ditambah lagi dengan yang ini. Rasanya aku ingin kabur, tapi tetap saja aku datang padanya seperti orang bodoh begini. Bagaimana ini, hyung?"

Mereka sudah sampai di depan kampus. Jimin turun dengan bekal yang dibawanya. Sebelum pergi Jin menjawab pertanyaan Jimin. "Kau bisa kabur, tapi tidak bisa sembunyi. Daripada berlarut-larut dalam kesedihanmu sendiri, lebih baik kau menunjukkan apa yang bisa kau tunjukkan. Kalau kau menyukainya, lakukan semua yang ingin kau lakukan untuk bisa membuatnya bahagia. Tapi pada akhirnya nanti, biarkan dia yang memilih. Kau tidak akan menyesal –tidak akan pernah, karena kau sudah mencurahkan semuanya, jadi kau akan merasa puas."

Jimin langsung beranjak ke studio begitu mobil Jin menghilang dari pandangan. Suasana di studio sangat hening. Tidak ada jejak keberadaan Yoongi di dalam sana kecuali kertas partitur yang berserakan di atas piano.

Kemudian terdengar suara air dari arah kamar mandi. Kemungkinan besar Yoongi yang ada di dalam sana. Jimin meletakkan bekal yang dibawanya di atas sofa dan bersiap pergi. Saat akan membuka pintu, ia malah berpapasan dengan Yoongi.

"Mencari aku?"

Ia membungkuk memegangi dadanya, lalu mengatur napasnya agar kembali normal. "Kalau aku kena serangan jantung, sudah pasti kau yang akan kusalahkan pertama kali, hyung!"

"Maaf, maaf." Yoongi terkekeh. "Kenapa kau kesini?"

"Memangnya untuk kesini harus punya alasan?"

"Ne."

Ia kemudian sadar Yoongi datang dari pintu depan lalu teringat suara air dari kamar mandi. "Hyung, apa ada orang selain kau disini? Aku mendengar suara dari kamar mandi."

"Aku tidak tahu. Tadi siang aku pergi dengan teman lamaku dan baru pulang sekarang. Kenapa tidak kau tanya saja langsung?"

"Tidak, aku takut."

"Kalau itu hantu, dia tidak akan berani menakutimu." Jimin menggaruk kepalanya bingung. "Karena kau lebih menakutkan daripada hantu." Lanjutnya lagi lalu tergelak dengan leluconnya sendiri.

Jimin tidak bereaksi, dia benar-benar penasaran dengan isi kamar mandi itu. Suara airnya masih terdengar sampai sekarang. "Jin hyung datang siang tadi dan memasak banyak makanan. Jungkook bilang kau sedang giat berlatih jadi makanannya kubawa kesini." Ia menunjuk kotak biru tua di atas sofa. "Aku mau pulang saja, hyung."

"Kenapa kau pulang?" Dahinya mengerut tidak setuju.

"Aku tidak tahu kenapa kau bisa betah tidur disini malam hari, tapi menurutku ini menyeramkan, hyung. Malam yang gelap di kampus, sendirian… Wah! Aku pulang saja."

Yoongi segera menahan lengan Jimin dan menariknya duduk di sofa. "Aku juga akan pulang setelah ini." Dia membuka kotak bekal dan mulai memakan isinya.

Mau tak mau Jimin akhirnya memilih untuk menunggu Yoongi sampai selesai makan. Ia berusaha mengabaikan suara-suara itu sebisanya dengan memfokuskan perhatiannya pada Yoongi.

"Apa yang kau suka dariku?" Tanya Yoongi masih dengan mulut penuh makanan.

"Semuanya." Balas Jimin apa adanya.

"Kau terlalu jujur. Berikan jawaban yang lebih spesifik."

"Kau seksi."

"Penglihatanmu bagus."

"Kau jenius, dan itu seksi. Aku tidak akan pernah menemukan seseorang sepertimu dimanapun."

Yoongi mendesah lalu menggelengkan kepalanya. "Masih terlalu jujur."

"Jadi aku harus berbohong sedikit?"

"Kau boleh mencobanya."

"Baiklah." Jimin terdiam sejenak.

"Aku menyukaimu, hyung."