"I was free with every road as my home. No limitations and no commitments. But then summer passed and winter came and I fell short for safety. I fell for its spell, slowly humming me to sleep, because I was tired and small, too weak to take or handle those opinions and views, attacking me from every angle. Against my art, against my self, against my very way of living. I collected my thoughts, my few possessions and built isolated walls around my values and character. I protected my own definition of beauty and success like a treasure at the bottom of the sea, for no one saw what I saw, or felt the same as I did, and so I wanted to keep to myself.
You hide to protect yourself." ―
Charlotte Eriksson

.

.

.

.

Seminggu berlalu

Seorang pria tampan menyandarkan dirinya di kursi yang sengaja dia pasang di balkon apartemennya tidak lupa juga dengan laptop yang ada di pangkuannya, dia memikirkan kembali hal – hal yng telah terjadi pada dirinya dan orang – orang yang disayanginya. Jika dia diberikan satu permintaan apa yang ingin dia kabulkan, dia hanya berharap kejadian yang merubahnya seperti monster tidak pernah terjadi. Dia tidak menyesal terlahir di dunia ini, karena dia bertemu dengan beberapa orang yang dapat dia katakana sahabat untuk membantunya mengangkat bebannya membantunya agar bisa menerima dunia ini dan menerima dirinya terlahir di tempat ini.

Dia tumbuh tanpa kasih sayang orang tua ataupun keluarga. Dia dibesarkan dikumpulan manusia – manusia yang memilih jalan pintas atas segalanya, Dibesarkan dikumpulan manusia yang hidup di dunia hitam. Oleh sebab itu dia sempat tidak mempercayai kata sahabat. Dia benci semua orang atas yang dia terima. Dia dari luar terlihat kuat akan tetapi sebenarnya dia rapuh dan butuh orang lain untuk menggenggam tagannya keluar atau memerlukan orang lain yang dapat dia percaya agar terus berada disisinya sebagai tempatnya bersandar dan menerima dirinya apa adanya. Dia yang dulu hanya anak kecil polos yang tidak mengetahui apapun harus merasakan kerasnya dunia. Orang – orang dewasalah yang dengan goisnya menghancurkan sesosok malaikat kecil rapuh dan membuatnya menjadi iblis menyeramkan yang akan melakukan apapun agar rasa sakitnya terbalaskan. Ya mereka lah yang harus merasakan hal yang mereka tuai sendiri.

Tersadar dari fikirannya, diapun mengklik kata ok yang terdapat dalam layar laptopnya. Sambil memasang senyum sinis. Ya dia tidak salah apa-apa.

.

.

.

.

Video porn dari istri salah satu orang terkaya di Seoul tersebar. Pemilik perusahaan Choi yaitu Choi Jin Hyuk saat ini sedang dimintai keterangan atas Video istrinya yang tersebar. Belum ada konfirmasi baik pihak istri ataupun Presdir Choi sendiri.

Jungkook yang mendengar itu langsung berlari keluar rumahnya. Ya dia mengetahui bahwa itu adalah orang tua minki sahabatnya. Dia berharap bisa menemukan Minki karena saat ini Minki sedang bersedih pastinya atas kasus yang menimpa ummanya. Dia tidak perlu menghawatirkan ummanya karena saat ini ummanya sedang bersama dengan ahjumma dan juga Ahjussinya.

Ketika hampir sampai di depan rumah Minki, dia melihat banyak wartawan yang sudah berkumpul. Dia menghelahkan nafasnya karena yakin dia tidak mungkin dapat masuk dirumah itu melihat banyaknya wartawan yang saat ini berkumpul.

Jungkook berjalan dengan lesu ke sungai Han, itu adalah tempat kesukaan Minki. Minki pernah mengatakan padanya, walaupun kemungkinan kecil dia berada ditempat itu mengingat didepan rumah Minki banyak wartawan.

Skip sungai Han

Jungkook berjalan – jalan disekitar, dia menggigit bibirnya. Dia kasihan dengan Minki dan berharap bisa berada didekat Minki saat ini untuk menguatkannya. Tatapan matanya berhenti kearah Namja cantik yang sedang duduk dikursi sambil memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya. Dari postur tubuhnya dia yakin itu Minki.

"Minki-ah"Jungkook mendudukan dirinya disamping Minki, Minki yang mendengar suara sahabatnya langsung mengarahkan pandangannya kearah suara yang dia yakini milik salah satu sahabatnya.

"Jungkook"Minki langsung memeluk Jungkook erat dan menangis. Jungkook hanya bisa terdiam sambil mengelus – elus bahu sahabatnya ini.

Setelah tenang, Jungkook mengambil tisu yang ada di kantungnya dan membantu mengelap bekas air mata Minki.

"Aku tidak mau pulang" Kata Minki Lirih.

"Orang tuamu pasti mencarimu" Jungkook mengelus – elus rambut Minki

"Tidak akan Kookie-ah tidak ada yang perlu di jelaskan, ini mungkin balasan untuk ummaku" Katanya sambil menggigit bibirnya.

"Balasan? Ummamu itu orang yang baik jadi tidak mungkin" Kata Jungkook sambil menepuk bahu Minki

"Anni, kau tidak tau dia seperti apa. Dan kuharap kau tidak pernah membenciku karena ummaku"Minki memeluk Jungkook lagi dengan erat.

"Aku tidak akan membenci siapapun"kata jungkook sambil tersenyum kearah Minki, Minki tersenyum mendengar kata – kata Jungkook.

"Temani aku kerumah ahjussi dan ahjummaku"Minki menarik tangan Jungkook menuju mobil pribadinya. Jungkook hanya bisa mengikuti Minki kemanapun asal sahabatnya itu senang.

Perjalanan yang mereka tempuh tidak terlalu lama hingga sampailah mereka kerumah bergaya eropa klasik dengan taman didepannya. Terlihat sangat hangat rumah ini yang membuat siapapun merasahangat hanya dengan melihat rumah ini.

Minki keluar dari mobilnya tidak lupa sambil menarik Jungkook agar ikut bersamanya. Jungkook sekali lagi hanya pasrah saat Minki menarik tangannya.

"AHJUMMAAAAAAA AHJUSSSIIIIIIIIIII !" teriak minki dengan keras dan tidak lupa menggedor – gedor pintu rumah tersebut. Jungkook yang mendengarkan teriakan Minki dengan refleks menutup telinganya.

"Minki-ah itu ada bell"Jungkook menunjuk kearah bel yang berada pas disamping pintu.

"Nooo aku maunya menggedor – gedor saja biar cepat" Minki memasang cengirannya.

Pintu terbuka dan menampakkan wajah seseorang Jungkook bingung apakah dia Yeoja ataukan Namja, jika dilihat dari style yang dia gunakan, dia terlihat seperti namja sedangkan wajahnya meyakinkan bahwa yang didepannya ini Yeoja.

"Yaak Choi Min Ki, bisakah kau bertamu baik – baik" Ucap namja cantik itu dengan jengah.

"Miaanhaeee chullieee ahjummaa, jangan marah – marah dong nanti cantiknya hilang" Minki langsung memeluk lengan Ahjumma nya yaitu Kim Heechul atau yang sekarang menjadi Choi Heechul. Yang merupakan istri oppa ummanya Choi Si Won.

"Aihhh dasaaar, kau tidak apa – apa hm?" Heechul menghembuskan nafasnya lalu mengelus – elus rambut Minki, dia tau kasus yang menimpa saudari suaminya, walaupun dia tidak menyukai wanita tersebut tetapi tetap saja itu adalah saudari dari suaminya.

"Umm nee" Minki menganggukkan kepanya.

"Minki-ah aku pulang ya. Aku kan sudah menemanimu" Jungkook mengatakan ini dengan pelan tetapi masih dapat didengar oleh Minki dan Heechul.

"Nooo Jungkoook-ahh kau harus disini menginap denganku, tenang saja ahjumma ku tidak menerima bayaran apapun" Minki memegang tangan Jungkook dan mengajaknya masuk kerumah milik ahjummanya.

"yak dasar keponakan kurang ajar, ah iya menginaplah apalagi diluar kelihatannya mendung"Heechul hanya bisa pasrah melihat tingkah laku dari keponakan yang dia sayang, tidak lupa dia mengelus-elus rambut milik Jungkook.

"Ahh ahjumma tinggal masak dulu yaa, ahjussimu ada di ruang tengah"Kata Heechul berjalan menuju dapur, walaupun uang suaminya banyak dan mampu untuk membayar koki. Dia tetap ingin memasakkan keluarganya, dia ingin yang terbaik yang dikonsumsi keluarganya.

Minki menarik Jungkook keruang tengah dimana sedang duduk ahjussinya dilengkapi kopi dan juga Koran di tangannya.

"Ahjussiii akuu dataang" Minki langsung mendudukan dirinya disofa disamping ahjussinya lalu memeluknya erat. Siwon yang menerima pelukan mendadak langsung kaget dan tersedak oleh kopi panas yang dia minum.

"Astaga Choi Min Ki bisa tidak membuat ahjussi kaget hm?"Siwon hanya menggelengkan kepalanya.

"No! itulah hal yang kusuka" katanya sambil memasang cengirannya. Tidak lupa dia menarik Jungkook agar ikut duduk disampingnya.

"Ahjussi sudah mendengar yang terjadi dengan ummamu, mian ahjussi tidak bisa membantu sama sekali" siwon menepuk kepala Minki

"Gwenchanaaa ahjussii" kata Minki sambil tersenyum.

"Tapi harus kau ingat Tuhan itu menciptakan masalah bukan karena dia tidak menyayangi kita, tetapi dia ingin kita menjadi sosok yang kuat. Jadi kalau kau ada masalah maka berbicaralah tentang masalahmu ke Tuhan jangan menjadi anak tersesat" Ceramah Siwon dan dapat anggukan dari Minki, Jungkook juga ikut mendengarkan hal itu dan langsung tersenyum.

"awwwwwwww chullieeee-aaahh" tiba – tiba sebuah bantal sofa mendarat pas mengenai kepala Siwon, ketika dia berbalik dia mendapati istrinya yang menjadi pelaku pelemparan.

"maaf tanganku licin" ucap Heechul cuek lalu berjalan kedapur dengan santainya seakan hal tadi tidak pernah terjadi.

.

.

.

.

TBC