Setelah Tiga Kali, Berarti Jodoh
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
© Julie Khoyul
Happy reading!
-The Power of Doanya Taemin-
Taemin sedang manyun di meja belajarnya saat Kangin mengintip ke dalam kamar. Kangin masuk kemudian menyapa cucunya itu. Dia juga bertanya, ada apa Taemin terlihat sebegitu mengenaskan, manyun, bengong sambil melihat lurus ke tembok didepannya?
Tak ada hal aneh di temboknya, cuma ada selembar kertas yang ditempelkan Wonwoo . Kira-kira tiga minggu yang lalu kertas itu mulai berada disitu. MUMS RULES, begitu bunyi kalimat pertama yang ditulis besar ditengah kertas. Tadinya Taemin kira, itu bentuk sayangnya Wonwoo padanya, tapi ternyata kertas itu adalah bentuk kekuasaan Wonwoo sebagai Mommy-nya.
Point pertama, I cook it, you eat it. Taemin sudah merasa bahagia saat itu. Mommy-nya bisa masak, itu hebat. Kemudian saat dia menelepon Heechul, Taemin basa basi bertanya. Apa benar Mommy-nya bisa masak? Heechul jawab bisa. Taemin sudah siap me-list makanan favorite-nya agar suatu saat nanti dimasakkan oleh Wonwoo untuknya. Tapi niatannya me-list makanan gagal setelah Heechul menambahkan, "masak air untuk menyeduh mie instan". Kalau itu dari umur tiga tahun Taemin juga bisa. Dan ternyata, kalimat I cook it, you eat it, itu lebih mengarah pada apapun makanan yang disodorkan Wonwoo padanya, Taemin harus memakannya. Seperti makan buah masam dipagi hari, makan sup sayur disiang hari dan minum teh dimalam hari.
Point-point berikutnya juga sama menyiksanya bagi Taemin. I buy it, you wear it. Wonwoo membelikan Taemin 7 stel piama warna biru dan harus dipakai setiap malam. Taemin tak suka warna biru, dia sukannya ungu, tapi apa dayanya Taemin untuk menolak. Ada lagi point yang mengharuskan Taemin duduk dan belajar sampai jam 9 malam, bahkan Wonwoo sering menungguinya sampai-sampai bergerakpun Taemin merasa tak sanggup. Saat Taemin ingin menolak, Wonwoo tidak merespon. Kenapa? 'CAUSE I'M THE MUM!". Itu ditulis paling bawah, sama besarnya dengan kalimat pertama.
"Kau sudah selesai belajar?", tanya Kangin sambil ikut memperhatikan tulisan di kertas itu. Taemin menggeleng, yang artinya dia duduk dan membuka buku tapi dari tadi matanya nanar memandang tulisan ditembok.
Kalau menurut Kangin, apa yang dilakukan Wonwoo itu berdampak bagus pada Taemin. Semenjak ada Wonwoo , sekitar sebulanan ini, Kangin merasa diorangkan. Dihormati. Ada yang menyapanya setiap pagi dan petang, ada yang mau bercengkrama dengannya saat makan malam. Bahkan Mingyu dan Taemin juga menyapanya setiap hari walau harus dimarahi dulu oleh Wonwoo .
Rules dari Wonwoo itu juga bagus. Minggu pertama kertas itu dipasang, nilai PR Taemin yang biasanya 10 kecil sudah naik jadi 45. Dan ulangan yang minggu ini sudah jadi 65. Kan bagus? Kangin merasa kehadiran Wonwoo membawa dampak baik untuk anak dan cucunya. Yah mungkin bagi Mingyu , Taemin dan pembantu-pembantunya, cara yang dipakai Wonwoo agak berlebihan, tapi Kangin masa bodoh. Sekali-kali dia juga ingin melihat Mingyu dan Taemin lebih disiplin, lebih menghargai orang dan bisa sayang satu sama lain. Kalau soal pembantunya yang sering diomeli Wonwoo , itu mungkin cuma efek kekesalan Wonwoo karena susah mengatur Mingyu dan Taemin, jadi pembantunya kena imbasnya.
"Sekarang sudah jam 9, kau boleh istirahat". Taemin melirik ke jam dimejanya. Benar jam 9, waktunya belajar habis dan Taemin sudah boleh melakukan aktifitas lain sebelum dia berangkat tidur.
Sebenarnya perintah belajar dari Wonwoo tidak sampai berjam-jam. Wonwoo mengajak makan malam lebih cepat, sekitar jam 8 selesai. Setelah itu Taemin diharuskan masuk kamarnya dan belajar sampai jam 9. Cuma sejam, tapi bagi Taemin sejam seperti setahun. Selama ini, dia belajar cuma saat disekolah saja. Kalau ada PR dia akan berangkat pagi-pagi lalu mencontek. Saat gilirannya mengerjakan PR untuk dicontek temannya, PR-nya akan dikerjakan pengasuhnya. Itu alasan Taemin tak pernah dapat nilai bagus di PR dan ulangannya.
Taemin menutup bukunya kemudian tanpa mengemasi dan merapikan meja, dia mematikan lampu belajar. Bocah itu lalu beranjak, mengajak appa-nya beralih ke tempat tidur.
"Appa, aku capek!", adunya sambil naik ke ranjang kemudian merebah. Sepertinya dengan merebah ke kasur, capeknya hilang.
"Cuma belajar sejam kau sudah mengeluh, Min". Taemin mendengus sebal. Baginya belajar lebih melelahkan dari pada bermain. "Kau mau jadi apa kalau besar nanti?"
"Jadi dokter", jawabnya mantap, tapi kemudian berfikir ulang. Dia mau bilang jadi guru, tapi urung. Seperti kebanyakan murid di sekolahnya kalau ditanya cita-cita akan menjawab jadi dokter atau jadi guru. Pengasuhnya bilang, jadi dokter dan guru itu harus pintar. Taemin tidak masuk kriteria orang pintar, jadi dia tak mungkin bisa jadi dokter maupun guru. "Jadi anaknya Mommy saja"
"Kenapa, tidak jadi pengusaha seperti Daddy-mu?"
"Tidak mau", tolaknya. "Jadi anaknya Mommy saja enak. Nanti bisa ke tokonya eomma, makan es krim disana, makan kue, diajak jalan-jalan. Minggu kemarin eomma dan Seungkwan hyung membelikan aku sepatu bagus, Appa"
"Oh ya!", Kangin sok kaget. "Kalau mau jadi anak-nya Wonwoo kenapa tak menuruti perintahnya?"
"Kan sudah"
"Tapi tak iklas"
"Iklas", sahut Taemin cepat. Taemin manyun lagi setelahnya. "Appa!"
"Hn?"
"Aku tak suka buah, sukanya kue. Aku juga tak suka sayur, enakkan es krim. Aku tak suka teh juga, aku suka susu". Kangin tersenyum mendengarnya. Begitu dia bilang iklas. "Aku tak suka belajar, Appa!"
"Katanya kau mau jadi anak-nya Wonwoo . Melakukan perintahnya dengan iklas, kenapa masih mengeluh?"
"Iklas", sahutnya lagi. "Eh Appa, Iklas itu siapa ya?"
Bicara dengan bahasa apapun dengan Taemin, akhirnya akan jadi begini. Taemin susah kalau disuruh belajar, makanya banyak hal yang dia tak tahu. Termasuk kata Iklas barusan. Dia pikir setiap kata yang baru didengarnya harus berarti sebuah benda atau nama manusia?
"Appa, Appa, Mommy kenapa ya?"
"Kenapa apanya?"
"Sebentar baik, sebentar galak, sebentar baik lagi, sebentar galak lagi. Begitu. Kenapa ya?"
"Mana? Wonwoo selalu baik padaku". Iya, itu ajaibnya. Cuma baik pada Kangin saja. Terkadang Taemin iri kalau Appa-nya bisa ngobrol santai dengan Mommy-nya, sedangkan dia harus dibentak-bentak. "Itu tandanya Wonwoo perhatian padamu. Yang penting kan tidak galak selamanya". Wonwoo memang kadang baik. Saat Mingyu pulang, Wonwoo akan mengomel pada Mingyu , tapi sebentar kemudian hilang marahnya dan bersikap baik ke semua orang termasuk Taemin. Seperti kali ini, Mingyu belum pulang makanya Wonwoo mengomel sedari tadi. "Kau bilang capek, tidur saja!"
"Belum malam, aku tak bisa tidur". Taemin menarik papa bear yang selalu berada di ranjangnya, tapi tak bisa. Dari pertama papa bear dihadiahkan Mingyu padanya, diletakkan di ranjang Taemin, sampai sekarang boneka beruang itu belum berpindah tempat sama sekali. Tamin selalu ingin main dengan papa bear, tapi dia masih belum bisa memindahkan boneka itu. Besar sih, Taemin tak sanggup. "Aku mau main dengan papa bear dulu", tambahnya yang berarti dia butuh pertolongan Kangin untuk menggeser bonekanya lebih dekat.
Kangin menarik boneka beruang itu lebih dekat. Taemin segera menyambut dan memeluknya. Papa bear bulunya banyak, jadi geli. Enakkan tidur dengan Mommy-nya. Tapi kalau jam segini, saat Daddy-nya belum pulang, mana mau Wonwoo tidur dengannya. Seperti biasanya, Taemin akan diusir Wonwoo saat ingin tidur bersama. Tapi malamnya, entah Taemin sudah tidur atau belum, dia akan dibangunkan Daddy-nya. Kalau tak bangun, dia akan diangkat dan dipindahkan di kamar Daddy-nya. Pokoknya yang Taemin tahu, tiap pagi dia terbangun diranjang yang sama dengan Daddy dan Mommy-nya.
"Mommy bisa tidak ya, jadi baik terus?"
"Wonwoo itu baik. Kau saja yang harus lebih menurut padanya"
"Sudah, tapi Mommy masih galak", protesnya. "Appa, kau bisa buat Mommy baik padaku, tidak?"
"Kalau kau maunya begitu, mintalah pada Tuhan. Sebelum tidur, berdoalah yang baik pada-Nya", tutur Kangin.
"Memangnya bisa?"
"Tuhan itu maha pengabul. Kalau kau berdoa minta yang baik, Tuhan akan kabulkan"
Setelah ber-Oh lebar, Taemin segera pasang pose mengantuk. Dia menguap juga lebar-lebar. Akting seperti biasanya, tapi selalu terlihat gagal dimata orang lain. Taemin pura-pura mengantuk, setelah itu dia pura-pura akan tidur agar bisa berdoa pada Tuhan. Dia kan ingin Mommy-nya tidak galak lagi, ingin Mommy-nya lembut dan penyayang seperti Eomma-nya.
"Appa, aku mau tidur ya?" Kangin tahu Taemin pura-pura, tapi dia mengangguk. "Aku mau berdoa sekarang ya?", Kangin mengangguk juga. Taemin menengadahkan kedua tangannya keatas, diikuti Kangin. Dan dia mulai berdoa. "Tuhan, Appa bilang kau maha pengabul. Benar ya?"
"Yah, kau ini. Berdoa yang baik!", tegur Kangin. Masa berdoa harus bawa-bawa nama Kangin, pake acara tanya dulu pada Tuhan segala.
"Tuhan," ulangnya. "Aku akan tidur, aku berdoa ya?", Taemin ditoel Kangin, diisyaratkan untuk berdoa yang baik lagi. Iya sih, selama ini Taemin tak pernah berdoa. Kalau ada orang berdoa, dia cuma mengaminkan, dan sekarang dia berdoa sendiri, kan susah. "Tuhan, Mommy biasanya baik, biasanya galak. Aku tak mau Mommy galak, boleh buangkan Mommy yang galak kan, Tuhan? Mommy yang baik saja biarkan di rumah. Itu saja, aku mau tidur dulu. Hooooaaaemmm!", gayanya menguap lebar. Entahlah maksud doa Taemin apa, dan ditambah menguap pura-pura segala. Memang Tuhan akan mengabulkan hal demikian? "Terima kasih Tuhan. Besok aku akan berdoa lagi. Amin!", tutupnya sambil menggeser posisi hendak tidur. "Appa, kau tak amin kan doaku?"
"Doamu tak baik, Min. Lain kali berdoa jangan begitu"
"Iya, iya. Nanti aku minta Mommy mengajariku berdoa!". Berdoa tentang Wonwoo , minta diajari Wonwoo ? Kalau bukan Taemin taka ada orang berbuat demikian. "Aminkan saja!", perintahnya tak sopan. Mungkin memang Wonwoo ditakdirkan disini untuk merubah Mingyu dan Taemin jadi sopan.
"Amin!", ucap Kangin terpaksa. "Sekarang tidurlah, aku akan segera keluar!"
"Tapi besok Momny sudah jadi baik, kan?"
"Doamu kurang baik. Semoga saja Tuhan mengabulkannya! Tidurlah sekarang, jaljayo!", ucap Kangin sambil mulai beranjak.
"Jaljayo!"
MEANIE
"Kau dari mana?", tanya Wonwoo yang melihat Mingyu memasuki kamarnya.
"Kerja. Tadi sudah kubilang padamu aku akan terlambat sebentar"
Mingyu juga dikenai peraturan oleh Wonwoo . Salah satunya pulang kerja sebelum jam makan malam. Tadi Mingyu memang sudah bilang akan terlambat sebentar. Biasanya selesai makan malam jam 8, sekarang jam 9 lebih 10 menit. Kalau dibandingkan sebelumnya, terlambat sekitar sejam bukan masalah kan, tapi bagi Wonwoo itu masalah. Mingyu boleh terlambat, tapi tidak lebih dari 15 menit. Dan perintah Wonwoo itu mutlak.
"Kerja betulan atau belok jalan dulu?", tanyanya lagi. Datar tapi menyelidik.
"Kerja betulan!"
Mingyu meletakkan tas kerjanya, melepas jas, sepatu dan kaos kakinya. Dia akan mandi dulu sebelum mendekat pada Wonwoo . Pengalaman kemarin kemarin, Wonwoo akan mengomel keras kalau sebelum mandi Mingyu berjalan mendekat padanya.
"Anak buahku menang tander, aku memeriksa laporannya dulu dan memberikan arahan untuk kerjanya besok", terang Mingyu sesuai yang dilakukannya tadi.
"Ada siapa saja saat kau memberi pengarahan anak buahmu tadi?"
"Ada mereka saja"
"Sekertarismu?" Wonwoo masih saja tak suka dengan sekertaris Mingyu , padahal Mingyu sudah bilang telah mengganti sekertarisnya dengan orang lain. Mingyu berbohong soal itu, tapi nampaknya Wonwoo masih belum percaya.
"Dia sudah pulang!"
"Awas kau berbohong padaku. Aku berada disini bukan untuk kau bohongi, Mingyu . Jangan mentang-mentang kau yang punya rumah ini, kau yang membayar semua pengeluaran di rumah ini lalu kau mau semena-mena padaku!"
Sebenarnya kalau dihubungkan antara keterlambatan Mingyu dan sifat semena-mena yang dituduhkan Wonwoo padanya, tak ada connect-nya. Tapi beginilah Wonwoo selama sebulan ini. Apa yang Wonwoo omelkan, Mingyu harus terima. Dan soal kejelasan status, sah atau belum, Wonwoo sudah jadi nyonya rumah disini. Dia punya kuasa untuk mengatur rumah seperti maunya. Mingyu , Taemin dan semua pembantunya harus menurut padanya. Lalu Kangin, sebagai orang yang dihormati Wonwoo , sepertinya tidak keberatan dengan tingkah Wonwoo . Dia membiarkan Wonwoo berbuat semaunya, asal tidak menyebabkan siapapun keluar dari rumah ini. Sekarang siapa yang lebih tepat disebut semena-mena?
"Tidak. Aku berkata benar". Selain soal sekertarisnya, Mingyu tak pernah berbohong. Dia sedikit paranoid kalau Wonwoo marah dan mengancam akan pulang ke rumahnya sendiri. Mingyu cuma takut, kejadian saat Wonwoo tak disampingnya dulu membuatnya sakit-sakitan, muntah-muntah dan berasa mau mati saja. Dia butuh Wonwoo , itu intinya. "Aku akan mandi dulu!", pamitnya.
"Bagus kalau kau sudah paham, aku tak suka bicara dengan orang yang bau!" Wonwoo mendecih, mencibir Mingyu . Tapi kemudian memanggilnya kembali sebelum Mingyu masuk kamar mandi. "Mingyu!"
"Hn?". Mingyu berhenti melangkah. Saat dia berbalik didapatinya Wonwoo memicing tajam padanya.
"Kemari kau!", perintahnya kasar.
"Aku belum mandi"
"Aku bilang kemari!"
"Aku bau"
"Kusuruh kemari dan kau menolak perintahku, Mingyu !", bentaknya. "Mau kau bau atau apapun, kalau kuperintah segera menurut padaku!", tambahnya.
Mingyu tak mau berdebat. Lagi pula dia tak pandai berdebat kalau lawannya Wonwoo . Yang dikatakan Wonwoo selalu melenceng dari pembahasan. Mingyu membela diri sedikit saja, hasilnya Wonwoo akan mengomel keras-keras. Masih seperti saran Soonyoung , dia butuh mengumpulkan bukti agar Soonyoung bisa menyimpulkan keadaan out of character-nya Wonwoo dan memberi solusi. Sementara itu, Mingyu perlu kesabaran ekstra.
Mingyu mendekat, tapi memberi jarak. Wonwoo mengisaratkan lebih dekat lagi, mendekat lagi hingga kemudian Wonwoo menarik kasar kerah kemeja Mingyu . Mingyu berasa tercekik karena memang sengaja Wonwoo menarik kerahnya kuat kuat. Dia sedang memperhatikan noda yang dilihatnya tadi.
"Apa ini? Kau main gila dengan yeoja mana?"
Astaga. Ternyata Wonwoo menemukan noda merah di kerah kemeja Mingyu . Tidak berbentuk seperti bekas bibir, tapi Wonwoo mengasumsikannya sebagai noda lipstik.
"Aku tidak main gila dengan yeoja manapun", bela Mingyu . Mingyu berani bersumpah dia tak pernah main gila.
"Kalau bukan yeoja, lalu kau main gila dengan namja? Namja mana yang mau pakai lipstik?", bentak Wonwoo membuat Mingyu memundurkan wajahnya tapi kemudian ditarik kasar kembali oleh Wonwoo . "Jadi begini kelakuanmu diluaran. Lalu kau anggap aku ini apa? Aku bukan panjangan yang hanya berfungsi menghiasi rumahmu". Wonwoo cuma mau lebih berarti bagi Mingyu .
"Won, aku tidak main gila", sangkal Mingyu .
"Terserah kau", marahnya.
Wonwoo mendorong jauh tubuh Mingyu .
"Won, aku tidak main gila", ulangnya. "Aku punya kau, untuk apa harus main gila dengan orang lain?"
"Bisa jadi untuk apapun. Aku tak bisa baca isi pikiranmu, Mingyu . Kalaupun kau berbohong, akupun tak akan tahu"
"Won,". Mingyu mendekat lagi pada Wonwoo . Dia hanya ingin menjelaskan.
"Jangan mendekat padaku! Kau tahu aku tak suka bicara dengan orang bau, kan?" Dan Mingyu urung mendekat.
Mingyu jadi sedikit cemas. Memang setiap malam mereka bertemu, Wonwoo akan mengomel padanya. Tapi mengomel soal main gila, ini baru pertama kali. Biasanya Wonwoo mengomel karena Mingyu pulang dengan baju lusuh. Mengomel saat Mingyu mandi terlalu lama. Mengomel karena Mingyu mandi tak bersih dan Wonwoo masih mencium bau busuk dari tubuh Mingyu . Pokoknya Wonwoo mengomel atas sesuatu yang sepele. Dituduh main gila, sepertinya bukan hal sepele.
"Aku akan mandi, kita bicara lagi setelah ini", pamit Mingyu sambil tergesa berjalan ke kamar mandi.
Wonwoo mendecih setelah Mingyu menghilang dibalik pintu kamar mandi. Dia tahu Mingyu lari dari tuduhannya. Lalu, Wonwoo akan luluh setelah Mingyu selesai mandi? Memaafkan Mingyu dan kembali baik pada mahkluk kurang pencahayaan itu? Jangan harap.
Sebulan yang lalu, tepatnya malam sesaat Mingyu menyatakan cinta pada Wonwoo , Mingyu pikir ucapan cintanya telah menjinakkan kegalakan Wonwoo . Memang Wonwoo jadi manis setelah itu, Wonwoo bangun setengah tiga, kemudian membangunkan Mingyu untuk menemaninya makan sereal. Mingyu tak mau bangun waktu itu, dan Wonwoo dengan sendirinya pergi kedapur, membuat sereal multi grainnya seperti yang diajarkan oleh pembantunya sebelum tidur. Semua memang sudah disiapkan sedari sore, dan waktu itu Wonwoo tinggal menuang sereal dan memanaskan susu. Saat akan mulai makan, Mingyu menyusul Wonwoo didapur. Karena mau bagaimanapun, Mingyu tak akan tega membiarkan Wonwoo beraktifitas sepagi itu, dan Mingyu menemaninya makan.
Selesai makan, Wonwoo masih bersikap manis. Mengucapkan terima kasih karena Wonwoo , kemudian kembali ke kamar untuk tidur. Mingyu tidur, Wonwoo tidak. Kan sebentar lagi pagi, Wonwoo akan jogging lagi. Nah disitulah awal perkiraan Mingyu meleset. Pagi, sekitar jam 5, arah waktu yang tepat untuk jogging, Wonwoo membangunkan Mingyu . Tidak manis lagi, dia langsung menyibakkan selimut Mingyu , mencubit lengannya dan sekalian menempeleng kepala Mingyu . Ketika Mingyu sudah terbangun masih linglung dengan keadaan, Wonwoo pindah ke Taemin dan bocah itu mendapat perlakuan sama seperti Daddy-nya. Taemin sedikit beruntung karena tidak ditempeleng juga. Dari situ Mingyu tahu kalau ucapan cintanya bisa menjinakkan Wonwoo , tapi tak permanen.
Hari-hari berikutnya, Mingyu mengucapkan cinta dimalam mereka hendak tidur. Tentunya setelah Wonwoo mengomel dulu. Paginya juga, sebelum berangkat kekantor, berpamitan sambil mengucapkan cinta. Wonwoo akan jadi manis, lalu mengantarkan Mingyu kedepan pintu. Dia akan meminta kecupan singkat di dahi dan menuturkan kalimat-kalimat perpisahan kecil. "Jaga diri dijalan, menyetir mobil yang fokus dan telepon aku kalau sudah sampai kantor". Persis seperti drama suami istri di TV. Ucapan cinta Mingyu tak permanen, jadi Wonwoo cuma manis dipagi hari, siangnya tentu mengomel seperti biasa. Mengomeli pembantu, menyuruh-nyuruh mereka seenaknya. Dan kalau Wonwoo belum puas, dia akan menelepon Mingyu lalu meluapkan kekesalannya. Taemin? Setelah beberapa hari diomeli Wonwoo , dia lebih suka pulang sore. Main dulu dengan teman-temannya atau belok jalan ke cafenya Heechul. Walau sekebal apapun, kadang Taemin juga bosan diomeli.
Kali ini, Mingyu dituduh main gila. Main gila itu hal yang bersiko. Mingyu sudah punya Wonwoo , dan Wonwoo itulah yang menyebabkan timbulnya resiko kalau sampai Mingyu main gila dengan orang lain. Bisa jadi Wonwoo akan pergi dari rumahnya, yang lebih gawat kalau Wonwoo bunuh diri. Eh, itu lebih tidak mungkin. Wonwoo akan membunuh selingkuhan Mingyu , itu yang paling mungkin. Jadi untuk apa Mingyu mau main gila kalau resikonya sebesar itu? Lagi pula Mingyu mencintai Wonwoo , dan Wonwoo seorang saja sudah membuat hidup Mingyu bahagia.
Mingyu selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi dengan badan segar. Mingyu belum memakai pakaian selain handuk melingkar di pinggulnya. Dia mau mengucapkan cinta pada Wonwoo sesegera mungkin. Tak akan dibiarkannya Wonwoo marah berlarut-larut. Dengan cintanya, walau tak berdampak permanen pada Wonwoo , paling tidak iblis itu jinak sesaat. Yang paling penting, tuduhan main gilanya terlupakan. Mingyu dan Wonwoo , bisa bermanis-manis berdua malam ini kan.
"Won!". Eh, Wonwoo tak ada ditempat. Tadi dia duduk diranjang situ, kemana sekarang? "Wonwoo !", panggil Mingyu ke segala arah ruang tidurnya.
Kamarnya tak ada tempat persembunyian selain kamar mandi. Kalau Wonwoo tak diranjang, jelas dia keluar kamar. Bodoh kalau Mingyu sampai memanggil, manggilnya disitu. Kemudian Mingyu keluar kamar, menuju kamar paling dekat. Kamar Taemin. Siapa tahu Wonwoo ngambek dan pindah ke situ. Saat Mingyu memeriksa ke dalam, cuma ada Taemin tidur di ranjangnya. Kalau begitu pasti kedapur, lalu Mingyu ke dapur setelahnya. Dan sampai di dapur, dia tak menemukan Wonwoo juga. Wonwoo kemana?
MEANIE
"Hachuuuu!", Taemin menggosok-gosok hidungnya kemudian kembali memeluk Mommy-nya.
Mommy-nya berbulu? Bulunya masuk hidung.
"Hachuuuu!", Taemin bersin lagi.
Selesai menggosok hidungnya lagi, Taemin mulai membuka mata. Hah, ada papa bear disampingnya. Kenapa dia tak bangun di kamar daddy-nya? Taemin melihat kearah jam weker, waktunya bangun untuk sekolah.
"Papa bear, kenapa aku tak bangun di kamar Daddy? Aku tak ikut Mommy jogging, nanti Mommy marah"
Taemin buru-buru bangun, dia segera keluar kamar dan berlari cepat-cepat ke kamar Mingyu . Saat Taemin melongok ke dalam, tak ada siapa-siapa disana. Jangan-jangan Mingyu dan Wonwoo masih jogging dan Taemin tak diajak hari ini? Atau mereka sudah bersiap kerja dan sekarang sedang di ruang makan untuk sarapan? Setelah tak mendapati Mingyu dan Wonwoo di kamar, dia segera beranjak. Mau ke ruang makan, siapa tahu orang tuanya ada disana.
"Nonna!", pengasuh Taemin menghentikan langkahnya yang tadinya akan ke ruang lain. "Kau lihat Momny?"
"Tidak!", jawabnya singkat kemudian kembali berjalan pergi.
Mungkin memang ada benarnya saat Kangin membiarkan Wonwoo mengatur-atur rumahnya. Mulai dari Mingyu , Taemin dan pembantunya sepertinya memang perlu diajari sopan santun. Atau jangan-jangan Taemin itu selain ketularan Mingyu dan Soonyoung , juga karena pengasuhnya tak mengajarkan ilmu kesopanan padanya. Kalau didepan Kangin, semua pembantunya hormat, tapi tak tahu dibelakang bagaimana?
"Min, kau mau sekolah tidak? Cepat mandi, nanti kau terlambat!", suruh pengasuhnya yang berbalik dulu sebelum jauh. Setelah mengatakan itu, dia pergi lagi.
Taemin mencibir pengasuhnya. Main perintah saja, dia kan masih mau mencari Mommy-nya. Lalu Taemin meneruskan perjalanannya ke dapur, siapa tahu Mommy-nya disana membantu ahjumma memasak. Ya walau tidak mungkin, patut dicoba dicari disana.
"Ahjumma, mana Mommy?"
"Mommy?", ahjumma meletakkan spatulanya ke teflon kemudian mencari-cari Wonwoo disekitarnya. "Tidak ada disini!" Kalau itu Taemin juga sudah tahu, Mommy-nya tak ada disini.
"Kau lihat Mommy?"
"Tidak. Coba kau cari di depan, kalau ketemu bilang pada Mommy salad buahnya sudah kubuat"
Teamin mencibir ahjumma juga. Kenapa dia harus disuruh suruh? Siapa yang pembantu disini? Ahjumma pakai buat salad segala, coba sekali saja ahjumma tak menuruti Wonwoo , Taemin tak akan makan buah sayur pagi-pagi begini.
Taemin melenggang ke arah luar rumah, siapa tahu Wonwoo dan Mingyu memang belum pulang jogging. Taemin mau menunggu mereka di luar. Saat di luar, ada ahjussi baik hati sedang membersihkan mobil. Taemin memghampirinya kemudian duduk di emperan dekat ahjussi yang sedang bekerja.
Lima menit kemudian dia capek sendiri duduk diam saja.
"Ahjussi!"
"Eh, ada Taemin", la dari tadi ahjussi tak lihat Taemin disitu? "Sedang apa disini?"
"Menunggu Mommy. Kau lihat Mommy?"
"Tidak. Memangnya Mommy kemana?" Kelihatannya ahjussi baik hati tak tahu keberadaan Wonwoo , dia ditanya balik nanya. "Aku belum melihatnya keluar rumah"
Biasanya saat rombongan Taemin, Wonwoo dan Mingyu berangkat jogging, ahjussi sudah bangun. Dia akan sibuk diluar rumah. Membuka gerbang, mengecek halaman dan sekitar rumah, dan hal-hal lain. Mereka selalu berpapasan di halaman. Jadi kalau ahjussi bilang belum melihat Wonwoo keluar, berarti Wonwoo masih di dalam rumah.
"Aku akan cari didalam!"
Taemin berjalan masuk rumah lagi, saat itu dilihatnya Kangin sudah rapi mau kekantor. Appa-nya itu baru keluar kamar hendak ke ruang makan. Kangin sibuk mengancingkan lengan kemejanya. Sedangkan tangan sebelah menenteng tas kerja.
"Min, Min, sini!", panggil Kangin mendahului Taemin yang akan memanggilnya. "Pegangkan tas ku!", katanya yang langsung menyerahkan tas dipelukan Taemin.
"Appa, kau lihat Mommy?"
"Kau yang selalu bersamanya, kenapa tanya padaku?". Kangin selesai mengancingkan lengan kemeja, dia memgambil balik tasnya dan berlanjut jalan ke ruang makan. "Tanya ahjumma sana!"
"Ahjumma tak tahu. Noona juga tak tahu. Ahjussi baik hati juga tak tahu", jawabnya sambil menguntit Kangin ke ruang makan. "Appa, Mommy kemana?"
"Aku juga tak tahu. Coba kau tanya Daddy-mu"
"Daddy tak ada", jawabnya sambil naik ke kursi. Taemin duduk tepat disebelah Kangin. "Appa, Mommy hilang ya?", tanyanya mulai sedih. "Jadi aku tak punya Mommy lagi?", tambahnya lebih sedih lagi. "Appa, Mommy kemana?"
"Kalau Wonwoo ada kau bilang dia galak, tak mau menurutinya. Sekarang dia tak ada kau cari-cari"
"Kan dia Mommy-ku. Kan aku anaknya. Kalau Mommy hilang harus dicari"
Kangin menghela nafas maklum. Dari kecil Taemin tak punya ibu, belum pernah memanggil orang dengan panggilan Eomma atau Mommy. Jadi kalau Wonwoo dipanggilnya Mommy, mana mau dia manggil orang lain dengan sebutan sama. Wonwoo sudah dianggap sebagai ibunya, mana mau juga Taemin kehilangan ibu yang baru didapatkannya.
"Apa Tuhan yang hilangkan Mommy ya?", tanyannya lagi sambil mencebik mau menagis. Kalau memang iya Wonwoo dihilangkan Tuhan, berarti itu salahnya Taemin. Dia yang minta menghilangkan Wonwoo kan? "Tapi kan aku mintanya Mommy yang galak dihilangkan, bukan Mommy-ku dihilangkan"
"Sudah kubilang berdoa yang baik, semalam"
Kangin tahu maksudnya Taemin. Bocah itu mau Wonwoo jadi baik padanya. Maunya sifat galak Wonwoo yang hilang, tapi cara doanya saja yang salah.
"Aku belum belajar berdoa dari Mommy, Mommyku sudah dihilangkan", adunya sedih. Sedih sekali, mukanya Taemin juga tampak benar benar muram. Dia tak salah ekspresi kali ini. "Tuhan masih maha pengabul kan, Appa?". Kangin mengangguk. "Aku mau berdoa lagi boleh? Doa sekarang ya? Aku mau Mommy pulang, Appa!"
"Tidak bisa sekarang. Kau harus mandi dulu, sarapan, pergi sekolah dan nanti malam saat hendak tidur baru berdoa lagi" Kangin bukan mau melarang Taemin berdoa. Dia cuma mau mengajarkan kalau berdoa itu harus dengan baik. Lagi pula tidak mungkin juga Wonwoo benar benar hilang seperti kata Taemin. Paling juga keluar dengan Mingyu , atau sudah berangkat ke cafe-nya pagi-pagi. "Sekarang kau mandi dulu dan bersiap sekolah. Ku tunggu kau disini"
"Tapi nanti malam temani aku berdoa pada Tuhan ya, Appa. Kalau kau tak ikut nanti Tuhan tak mengabulkan doaku bagimana?"
"Iya, iya. Cepat mandi sana, nanti kau terlambat ke sekolah!", usir Kangin.
Taemin turun dari kursinya, dia berjalan lambat-lambat meninggalkan ruang makan. Sebentar kemudian berhenti dan berbalik ke arah Kangin.
"Appa, Mommy pasti pulang kan kalau aku berdoa lagi nanti malam?"
"Asal kau berdoa dengan baik. Cepat mandi sana!", usir Kangin lagi. Tapi Taemin bergeming.
"Appa,"
"Mandi!", perintah Kangin sebelum cucunya sempat berucap lagi. Dan Taemin baru pergi setelah mencibir Appa-nya.
MEANIE
"Em, ada apa Mingyu ?", tanya Soonyoung pada sahutan diteleponnya.
"Young, Wonwoo pergi dari rumah!", adu Mingyu sambil mendesah pasrah dari ujung telepon. "Aku sudah mencarinya dari semalam, belum ketemu"
Dari semalam, setelah bertengkar atau lebih tepatnya dibilang mengomeli Mingyu , menuduh Mingyu main gila dengan yeoja diluaran, Wonwoo pergi dari rumah. Mingyu sudah mencarinya. Awalnya cuma ke kamar Taemin, ke dapur, ke kamar pembatu-pembantunya sampai terpaksa ke kamar Kangin juga, tapi Mingyu tak menemukan Wonwoo . Mingyu segera tahu Wonwoo ke luar rumah saat dia menemukan pintu depan tak terkunci. Dia segera berlari keluar rumah, mencari disekitar kemudian keluar pagar setelah tak mendapati Wonwoo diarea situ. Dan diluarpun Mingyu tak menemukan Wonwoo .
Mingyu memanggil-manggil Wonwoo di depan pagar rumahnya, tentunya masih dalam keadaan baru selesai mandi serta masih pakai handuk saja. Seperti orang gila berteriak-teriak dikesunyian malam, tapi untungnya tak ada tetangga ataupun orang yang sedang lewat. Selamat, dia tak dianggap gila, tapi nyatanya Mingyu mulai gila saat itu. Wonwoo pergi dari rumah. Wonwoo -nya yang kembali tinggal dengannya baru sebulan, pergi meninggalkannya? Bagaimana Mingyu tak gila. Dia cinta Wonwoo , tapi ditinggalkan lagi.
Selesai menggila sejenak di depan pagar dan tak mendapatkan hasil, Mingyu kembali berlari ke dalam rumah. Berlari lebih cepat ke arah kamarnya. Mingyu sesegera mungkin memakai baju, memengambil kunci mobil lalu mencari Wonwoo dengan mobilnya. Tujuan pertama ke cafe, tapi Wonwoo tak ada. Mingyu susah berfikir, cafe jelas sudah tutup malam malam begitu. Kemudian dia segera memutar arah kerumah Wonwoo . Disana bahkan tak seorangpun dirumah. Mingyu lupa kalau seminggu ini Heechul ikut Hangeng ke China. Dan cafepun, anak buah Heechul yang menghandle. Mingyu cuma duduk diteras rumah Wonwoo saat dia tak tahu lagi harus cari kemana. Dia benar-benar tak paham kebiasaan Wonwoo pergi selain di cafe dan rumahnya. Semalaman Mingyu merenungi nasib hilangnya Wonwoo di teras itu, pagi ini dia baru bisa mengadu pada Soonyoung .
"Young, aku belum menikahinya", adunya lagi. Suaranya terdengar malas atau lebih tepatnya sedih. "Kau tahu Wonwoo dimana? Aku merindukannya, Young"
Soonyoung menghela nafas kasihan. Ternyata Mingyu juga bisa benar-bemar sedih. Satu-satunya yang bisa membuat sahabatnya jadi seperti itu cuma Wonwoo . Soonyoung menoleh sejenak ke ranjangnya, yah disitu ada orang penyebab kesedihan sahabatnya. Wonwoo semalam menginap di rumah Soonyoung . Si iblis itu sedang asyik main game di laptop Mingyu sekarang, tanpa peduli nasib Mingyu yang merana ditinggalkannya.
Wonwoo mengedor pintu rumah Soonyoung tadi malam. Soonyoung mana bisa dengar, dia ada di dalam kamarnya, jauh dari pintu utama. Andai saja Wonwoo mau memencet bel tak perlu dia berdiri lama didepan rumah Soonyoung , menggedor pintu terus-terusan dan memanggil serta memaki si empunya rumah. Soonyoung baru membukakan pintu saat dia dapat telepon dari nomer-nya Mingyu . Dan ternyata yang menelepon itu Wonwoo . Wonwoo beralasan bosan bertemu Mingyu , dan dia sedang marah dengan manusia setengah es itu, makanya dia memaksa menginap di rumah Soonyoung . Yang Soonyoung heran, Wonwoo bilang bosan dengan apapun yang berbau Mingyu , tapi dia membawa handphone Mingyu , membawa tas kerja beserta laptop-nya. Dia juga membawa bantal sendiri dari rumahnya.
"Wonwoo ,..", sebenarnya Soonyoung mau bilang Wonwoo ada di rumahnya, tapi dilirik Wonwoo nyali Soonyoung hilang entah kemana. "Mungkin Wonwoo pulang sebentar ke rumahnya"
"Aku sekarang ada di depan rumahnya. Tak ada orang disini", sangkal Mingyu kalang kabut. "Young, bantu aku mencarinya. Dia belum kunikahi, belum kuhamili, dan dia sudah pergi lagi!". Mingyu berlebihan, tapi sepertinya dia benar. Kalau dulu dia berencana akan menghamilinya dulu agar bisa dinikahi, sekarang pikirannya lebih baik sedikit. Menikahi dulu baru dihamili. "Young,,", panggilnya sambil memelas.
Seandainya Soonyoung dan Mingyu bisa telepati, Soonyoung akan bilang pada sahabatnya itu kalau Wonwoo ada di rumahnya lewat bahasa batin. Soonyoung juga mau mengadu, tepatnya menyuruh Mingyu segera membawa Wonwoo dari sini karena mulai Wonwoo datang Soonyoung merasa tak tenang. Wonwoo merebut ranjang empuknya, saat Soonyoung pasrah dan akan beranjak ke kamar tamu, dia dilarang Wonwoo . Diomeli, dikatai tak suka kedatangan Wonwoo , hingga Soonyoung diancam tak akan bisa melihat muka Jun lagi. Demi Tuhan itu ancaman terberat bagi Soonyoung . Tak bisa melihat Jun, baginya hampir sama seperti tak melihat matahari terbit. Dan Soonyoung menyetujui menemani Wonwoo tidur, tapi dia tidur di sofa. Makanya dia mau Mingyu segera membawa Wonwoo jauh-jauh dari rumahnya.
"Mungkin, dia ikut Heechul Eomma ke China", tambah Soonyoung ngaco.
"Jelas tidak, mereka sudah berangkat seminggu yang lalu. Kau tahu itu juga kan?"
"Mungkin, dia menyusul kesana", Soonyoung tambah ngaco. Sejujurnya dia melakukan ini, agar Mingyu curiga padanya lalu datang ke rumahnya dan mendapati Wonwoo disini.
"Kau gila, Young. Tidak mungkin", pekik Mingyu . Gila teriak gila, si Mingyu ini. "Young, kau teman baikku. Bantu aku cari dia!", pintanya terdengar seperti pesakitan di telinga Soonyoung .
"Mingyu !"
"Soonyoung , kau mau membantuku? Terima kasih, kau memang sahabat baikku". Belum juga Soonyoung bicara apa-apa. "Kau segera telpon aku kalau menemukan Wonwoo -ku lebih dulu. Aku akan coba mencarinya lagi", tutur Mingyu frustasi tapi tak mau menyerah. Dia harus menemukan Wonwoo -nya lagi.
"Mingyu !"
"Soonyoung", serobot Mingyu . "Aku janji padamu Young, kalau Wonwoo berhasil kutemukan, kubawa kembali ke rumah, tak akan kubiarkan dia pergi. Akan segera kutiduri dia, kuhamili secepatnya lalu kunikahi". Tapi ternyata Mingyu masih berpikiran bejat juga, demi dapatkan Wonwoo seutuhnya. "Kalau dia menolak, akan kugunakan obat-obat yang dulu kau berikan padaku. Aku masih menyimpannya di laci kamarku. Kukunci rapat agar tak ada orang tahu"
Dan beginilah reaksi manusia setengah es kalau sedang jatuh cinta. Ditinggal cintanya pergi, dia jadi gila. Disisi lain, memiliki teman seperti Mingyu memang sangat menguntungkan. Kalau sedang punya keinginan akan dikejarnya sampai dapat. Tapi untuk saat ini, sisi buruk masih menaungi Soonyoung karena Wonwoo ada di rumahnya sekarang.
"Young, aku akan cari Wonwoo sekarang. Kau juga harus mencarinya sekarang!", perintah Mingyu sambil bersiap menutup telepon. "Jangan lupa telpon aku kalau kau lebih dulu menemukannya"
"Ya!", telepon ditutup Soonyoung . Lalu Soonyoung mulai galau. Orang yang akan dicarinya sedang duduk diranjangnya sekarang, lalu dia harus bagaimana?
"Kau tak perlu berpura-pura mencariku. Berangkat saja ke kantormu, bekerjalah yang baik. Nanti sore jangan lupa bawa sekotak sereal dan susu seperti biasa. Lalu antar aku pulang", perintah Wonwoo tanpa memandang Soonyoung sama sekali. Dia fokus mengotak atik laptop-nya.
Itu bentuk penyiksaan yang didapat Soonyoung dari Wonwoo . Maunya Soonyoung tak ingin bertatap muka dengan Wonwoo , tapi Wonwoo memerintahkannya setiap sore untuk datang ke rumahnya membawa sekotak sereal dan susu. Soonyoung sudah mengajukan diri membelikan banyak sereal dan susu agar bisa disimpan, maksudnya supaya dia tidak perlu bolak balik ke rumah Mingyu dan bertemu Wonwoo . Tapi Wonwoo menolak, jelmaan iblis itu tetap memerintahkannya datang membawa sekotak sereal multi grain dan susu. Walaupun itu soal sepele, bertemu dengan Wonwoo sudah menyiksa batin Soonyoung , apalagi tiap hari.
"Kenapa kau tak pulang sekarang saja, kalau kau disini tak ada yang menemanimu", bujuk Soonyoung . Padahal dia cuma mau rumahnya bersih dari iblis.
"Kau tak suka aku disini?"
"Bukan begitu, Won. Aku cuma tak tega melihat Mingyu frustasi karena kau tinggal. Dia itu sangat mencintaimu, dia barusan bilang sangat merindukanmu. Won, kalaupun Mingyu punya salah maafkan dia". Mingyu tidak benar-benar salah kok, Wonwoo saja yang ingin memarahi Mingyu lalu kabur kemari. "Aku sahabat Mingyu , tahu betul sifatnya. Walau dia itu susah berekspresi, sebenarnya dia itu tulus padamu!", tutur Soonyoung sambil harap-harap cemas.
"Aku tahu!"
Mingyu memang tulus, Wonwoo tahu itu. Cuma manusia es itu belum mengucapkan cinta dengan tulus, makanya cinta yang dibalaskan Wonwoo padanya juga musiman, sebentar cinta, sebentar tidak. Tapi dilubuk hati Wonwoo , dia cinta Mingyu . Entah sejak kapan perasaan seperti itu tumbuh, yang Wonwoo ingat saat dia tidur dengan Mingyu kedua kalinya. Saat itu hatinya berdesir melihat wajah Mingyu , Mingyu menjadi sangat tampan kali itu. Iya, dia marah, pikirannya mengajak memerangi Mingyu , tapi hatinya ingin bersanding dengan Mingyu . Maka dari itu Wonwoo ikut pulang ke rumah Mingyu .
Semalam tidur disini, Wonwoo tak merasa enak. Dia dapat ranjang empuk, tapi tak bisa mengalahkan rasa nyaman sewaktu dibelai Mingyu . Dia bisa menguasai tempat luas dan hangat di kamar Soonyoung , tapi juga tak bisa memberikan keluluasaan serta kehangatan seperti saat berada dipelukan Mingyu . Sesuatu yang dibutuhkannya hanya Mingyu , Wonwoo juga merindukan Mingyu , tapi tak tahu kenapa bawaannya ingin marah terus kalau sudah bertemu dengan manusia es itu.
"Aku cuma disini sampai sore. Kau bisa antar aku pulang, setelah itu kau tak akan kuganggu lagi!". Soonyoung tak yakin janji Wonwoo barusan, tapi daripada dia ditumpangi tinggal Wonwoo lebih lama lagi, turuti saja dulu.
"Baiklah kalau itu maumu!", nanti sore kuantar kau pulang. "Kau tahu seisi rumahku, kalau butuh apa-apa cari saja sendiri!". Soonyoung beranjak ke kamar mandi setelah itu, dia perlu ke kantor, pokoknya kemana saja asal tidak di rumah dengan Wonwoo .
MEANIE
"Tuhan, Appa bilang Kau masih maha pengabul!"
Saat Taemin mulai berdoa bersama Appa-nya, kebetulan Mingyu lewat didepan kamarnya yang tak ditututup. Mingyu berhenti sejenak, tertarik dengan doa yang akan Taemin panjatkan.
Mingyu baru pulang dari pencariaan yang tak membuahkan hasil. Dari malam kemarin sampai malam ini, dia lupa makan, lupa mandi, dan melupakan semua hal demi menemukan Wonwoo . Sekarang dia pulang dalam keadaan mengenaskan. Mukanya lusuh, sama lusuhnya dengn pakaian yang dikenakannya. Jalannya gontai dan lemah seakan tenaganya juga ikut dibawa pergi Wonwoo . Nasib seorang Mingyu jadi buruk gara-gara ditinggal pergi sehari, coba kalau selamanya, dia sudah pasti mengering karena menahan rindu.
"Tuhan, maaf ya aku tak bisa berdoa yang baik", lanjutnya setelah dinasehati Kangin. Tuhan itu maha pengabul bukan cuma karena Kangin yang bilang, Tuhan maha pengabul untuk selama-lamanya. Asalkan berdoa tulus dan baik, kalau Tuhan berkehendak pasti dikabulkan. "Kemarin aku salah berdoa, Mommy Kau hilangkan. Sekarang boleh aku minta Mommy Kau pulangkan?". Sebenarnya Kangin ingin menasehati Taemin lagi, tapi dibiarkannya dulu. Walaupun Taemin bersikap tak sopan pada Tuhan, tapi Kangin tahu bocah itu meminta sjngguh sungguh. "Tidak apa-apa Mommy-ku galak, yang penting Mommy kembali. Kau kasihan padaku kan. Aku tak punya Mommy kalau Mommy-ku tak Kau kembalikan"
Mingyu hampir tak mengakui Taemin sebagai anak. Mendengar pengucapan doa Taemin, Mingyu sanksi kalau besarnya nanti Taemin bisa jadi pembisnis sepertinya dan Kangin. Taemin itu bodoh, kalimat halusnya Taemin tidak begitu pintar dan itu bukan sifat keturunan keluarga Kim. Tapi kalau melihat Taemin menyayangi, merindukan Wonwoo sama sepertinya, Mingyu suka rela mengakuinya jadi anak. Karena Mingyu dan Taemin sama-sama mencintai Wonwoo sebagai calon suami dan calon anak, mereka butuh kekompakan mengusahan kepulangan Wonwoo secepatnya. Dengan Mingyu yang mencari dan Taemin yang berdoa.
Tapi Mingyu tak tahu, cita-cita Taemin bukan jadi pengusaha sepertinya dan Kangin. Taemin cuma mau jadi anaknya Wonwoo .
"Sudah dulu, aku mau tidur. Hoooaeemmm!", gayanya menguap. Berbohong pura-pura mengantuk. "Tuhan, kalau bisa pulangankan Mommy nanti malam saja pas aku tidur. Ok? Ok ya. Amin!", tutupnya yang ikut diamini Kangin. Dan dari luar kamar, Mingyu ikut mengaminkan dalam hati.
Mingyu melangkah menjauh dari kamar Taemin. Doa Taemin sudah selesai, Mingyu lebih memilih ke kamarnya karena setelah itu Taemin dimarahi Kangin disana. Doanya tak baik, benar benar tak baik. Tapi asal itu doa permintaan agar Wonwoo pulang, sejelek apapun bentuknya, Mingyu akan mengaminkan. Mingyu lesu dan ogah-ogahan saat membuka pintu kamar. Lampu nakas tiba-tiba menyala saat dia berjalan masuk.
"Dari mana kau?", tanya seseorang. Seseorang yang suaranya amat dirindukan Mingyu . Seseorang yang hilang seharian ini, dicari tidak ketemu dan sekarang muncul lagi disini.
"Won!", sapa Mingyu gembira. Buru-buru dia menghampiri Wonwoo , tapi berhenti di tengah-tengah ruang saat Wonwoo mengkodekannya untuk berhenti. "Won, kau dari mana? Aku mencarimu dari semalam"
"Kau ini ku tanya malah balik nanya"
"Won!", Mingyu benar-benar ingin meloncat ke ranjang. Memeluk Wonwoo erat meluapkan rindu.
"Jangan mendekat. Aku tak suka bicara dengan orang bau. Sana pergi mandi!", perintah Wonwoo tapinya tak ditanggapi Mingyu . "Mandi kubilang!"
"Semalam kutinggal mandi kau menghilang"
"Aku tak akan pergi kemanapun. Cepat mandi sana!" Mingyu masih bergeming. "Kau tak mandi, aku pergi dari sini!", ancamnya kejam.
Mingyu buru-buru berlari ke kamar mandi. Dia akan mandi kilat agar tak ditinggalkan Wonwoo lagi. Yang penting tak bau, Mingyu sudah bisa mendekati Wonwoo .
Sedari sore sebenarnya Wonwoo sudah pulang diantar Soonyoung . Dia, Soonyoung dan Kangin sempat makan malam bersama, ngobrol sebentar lalu Soonyoung pulang dan Wonwoo masuk kamar. Kenapa Taemin tak tahu? Bocah itu sejak pulang sekolah siang tadi, masuk kamarnya dan tak keluar lagi. Main dengan papa bear dia bilang. Main tanya jawab soal hilangnya Mommy. Bahkan untuk makanpun dibawakan pengasuhnya ke kamar.
"Won!", Mingyu sudah selesai mandi, memakai piamanya lalu buru-buru naik ke ranjang. Dia mendekat pada Wonwoo secepatnya kemudian mendekapnya. "Aku merindukanmu!", katanya jujur.
Wonwoo juga merindukan Mingyu , merindukan semua yang ada di rumah ini malahan. Tapi kalau sudah bertemu Mingyu , bawaannya emosinya naik terus. Dia selalu ingin mengomeli Mingyu walau tanpa sebab.
"Jangan peluk-peluk, badanku sakit semua!". Mingyu memang merenggangkan pelukannya tapi tidak melepaskan tubuh Wonwoo . "Hari ini kau kau main gila dengan yeoja mana?"
"Aku tidak main gila. Dari malam kemarin sampai hari ini aku sibuk mencarimu", bela Mingyu memelas karena dituduh main gila lagi.
"Kemarin itu apa?"
"Tidak tahu. Aku tidak main gila, Won. Aku cuma mencintaimu!", ucapnya tulus. Lagi pula noda merah kemarin jelas bukan noda lipstik, Wonwoo tahu itu, tapi dia memang ingin memarahi Mingyu saja. Kalau kejadian kabur dari rumah, itu dia anggap pindah tidur kerumah Soonyoung . Sesuatu yang tak terduga mengikuti mood-nya. "Won, jangan pergi lagi. Nanti aku bisa gila!", pintanya.
Sejak ada Wonwoo , Mingyu jadi melow. Diluar seperti manusia es hidup berjalan, bekerja dan melakukan aktivitas tanpa banyak bicara, tapi dihadapan Wonwoo dia itu budak. Bukan budak seperti dulu, sekarang sudah jadi budak cinta. Seperti yang disimpulkan Soonyoung dulu, Mingyu memang mencintai Wonwoo . Dan baru-baru ini Mingyu sadar semuanya benar, bukan setengah setengah seperti dulu. Mingyu cinta Wonwoo , dan hal itulah yang merubahnya jadi melow didepan Wonwoo .
Setelah mengucapkan cinta, Mingyu tak ditolak lagi oleh Wonwoo . Bahkan dia dapat ijin mencium Wonwoo sesukanya. Mingyu mulai dari pucuk kepala Wonwoo , dahinya, pelipis, mata, pipi, hidung dan, tidak jadi sampai bibirnya. Mingyu didorong Wonwoo saat mau menyatukan bibir mereka. Mingyu sedih, kan yang ditunggu-tunggu adalah bagian itu. Tapi dia tak bisa mencoba lagi.
"Panggilkan Taemin, kita tidur sekarang!"
"Won!", dia mau sekali saja mencium bibir Wonwoo . Kalau dihitung kapan terakhir kali mereka berciuman bibir, sekitar dua bulan yang lalu. Itu tepatnya waktu mereka tidur bersama yang kedua. Lama sekali kan? Mingyu juga rindu berciuman dengan Wonwoo .
"Lain kali saja!" Wonwoo seakan tahu apa yang diminta Mingyu . "Aku lelah, Mingyu "
"Won!", ulangnya hampir mirip rengekan.
"Besok!"
"Won!"
"Kau bawa Taemin kemari atau aku yang pindah kesana?"
Mingyu bergerak. Bangkit dari ranjang dan segera beranjak ke kamar anaknya. Yah ini kendalanya, kalau setiap malam Taemin ikut tidur bersamanya dan Wonwoo , kapan dia bisa menjalankan misinya? Dia perlu menghamili Wonwoo . Dan caranya dengan menidurinya. Lalu masak iya dia melakukannya di depan Taemin? Mingyu butuh saran Soonyoung soal ini.
MEANIE
"Auuuu! Kenapa kau mencubitku tiap pagi?", protes Mingyu saat tepat pukul lima dia dibangunkan Wonwoo .
"Jogging!".
Ya ampun, badan Mingyu sakit karena kemarin terus mencari Wonwoo tanpa istirahat. Dia juga lupa makan, baru merasakan lapar jam setengah tiga tadi. Mingyu menemani dan ikut serta makan sereal dengan Wonwoo . Rasanya tidak enak, tapi dia lapar. Tapi karena Wonwoo yang membuatkan untuknya, dimakan sajalah. Kalau tak enakpun, yang penting makannya bersama Wonwoo itu sudah cukup.
"Won, aku lelah. Kita tak usah jogging hari ini saja!", pinta Mingyu mengiba.
"Kemarin sudah tak ada jogging"
"Tapi aku mencarimu!"
"Salah sendiri mencariku jam segitu". Memang tak ada benarnya kalau berhadapan dengan Wonwoo . "Bangun sekarang!"
"Won, mencarimu itu bukan kesalahan. Itu karena aku mencintamu. Sungguh!", Modus agar Wonwoo membiarkannya tidur lagi.
"Kau mau tidur lagi? Ya sudah, aku jogging sendiri. Jangan cari aku kalau aku tak pulang!" Duh ternyata kali ini ucapan cintanya Mingyu tak mempan. Apa jangan-jangan Wonwoo sudah kebal?
Taemin terbangun ketika mendengar berisik disampingnya. Mengerjak ngerjak sejenak menyesuaikan penglihatan, kemudian terbelalak saat matanya menangkap sosok Mommy disampingnya. Taemin buru-buru duduk dan memastikan sendiri.
"Mommy?" Wonwoo dan Mingyu menoleh padanya. "Mommy, Tuhan sudah memulangkanmu? Terima kasih Tuhan, Kau mengabulkan doaku!", katanya sambil menengadahkan kedua tangannya keatas.
Taemin memeluk Wonwoo sebentar kemudian melihat ke meja sebelah, jam lima pagi waktunya menemani Wonwoo jogging. Dia sudah janji mau jadi anaknya Wonwoo , mau menuruti permintaan Wonwoo dengan iklas. Taemin tak masalah lagi punya Mommy galak, dari pada diambil Tuhan lalu dia tak punya Mommy.
"Mom, ayo jogging! Ayo Dad, siap-siap!"
"Daddy-mu tak mau ikut. Kita pergi berdua saja!", Wonwoo dan Taemin beranjak dari ranjang dan Mingyu menyusul. "Kau mau kemana? Aku dan Taemin mau berangkat jogging, kau mau berangkat main gila dengan yeoja diluar sana?"
"Aku sudah punya kalian, tak mungkin main gila Won" Lagi pula jam segini yeoja manapun juga sedang tidur.
"Aku ikut kalian jogging!"
"Cepat bersiap!", komando Wonwoo .
Wonwoo sudah kembali, kembali ke rumah dan kembali menjadi tukang perintah. Seluruh penghuni rumah harus bersiap menjalani rutinitas yang sama seperti sebelumnya mulai dari pagi ini. Jogging, sarapan plus buah, disuruh-suruh, diomeli dan semuanya. karena Wonwoo adalah nyonya rumah disini.
.
.
.
To be continue
.
.
Ini lama aku tau..
.
Aku lagi mencari jati diri akhir-akhir ini *eaaa~
.
Maaf kalau masih ada typo yaa
.
Biasa.. ini dadakan edit nya pas udah nyadar ini hampir 2 minggu sejak update terakhir hehe~
.
Okey see u.. moga besok-besok kilat ye
.
Pyung!
