Chapter kali ini merupakan chapter lompatan. Kejadian kemarin dari persiapan menuju pesta sampai terjadinya kejadian ini akan di ceritakan nanti. Dalam chapter ini di ceritakan dari sudut pandang Sasuke dan juga Author. 'Aku' di sini adalah Sasuke. Tapi jangan khawatir, karena fic ini sudah mau selesai, jadi saya usahakan untuk tidak berlama-lama lagi.
Me and Him
By Ishikawa Ayica
This Story is mine
Naruto milik Masashi Kishimoto
Genre : Reomance/Drama
Pair : SasuSaku
Warning : Gaje, abal, AU, OOC dll
Warning lagi : Don't like Don't read.
6 bulan kemudian.
Aku menyesali langkah kakiku hari itu. Langkah kakiku menuju Amerika, langkah kakiku menuju pesta, dan aku menyesali datangnya hari itu. Jika aku bisa mengembalikan waktu, akan ku kembalikan di mana sebelum semuanya terjadi. Agar aku dapat menahan dia pergi, agar aku dapat mencegah hilangnya tawa khas miliknya, agar aku dapat mengembalikan milikku, agar aku dapat mengembalikan Sakura.
"Sasuke, kau harus istrahat. Kau sudah berjaga seharian penuh. Pergilah, kami akan menunggunya." Seru Sasori yang datang melihat Sasuke sedang duduk termenung.
"Sebentar lagi." Kata Sasuke dingin tanpa memandang Sasori.
'Sifat itu kembali lagi dalam dirinya semenjak kejadian itu.' Batin Itachi menatap adiknya iba.
"Sasuke, apakah harus setiap hari kami memberi taumu untuk istrahat? Kau juga harus memikirkan dirimu." Kata Sasori lagi berusaha tenang dan sabar menghadapi Sasuke.
"Jangan khawatirkan aku." Kata Sasuke yang masih tak bergeming di tempatnya.
Cukup sudah. Kesabaran Sasori menghadapi Sasuke selama beberapa bulan ini telah benar-benar sampai puncaknya. Dengan geram Sasori menarik bahu Sasuke dan memaksa Sasuke untuk berdiri sehingga kini tepat menghadap Sasori. Sasori mencengram kerah kemeja Sasuke yang tak juga di lepaskannya sudah dua hari ini.
"Sasori!" tegur Itachi yang tak suka dengan sikap Sasori memperlakukan Sasuke dengan kasar.
"Berhenti bersikap menyebalkan brengsek! Berhenti bersikap seolah-olah adikku telah tiada!" ucap Sasori penuh amarah pada Sasuke yang menatapnya kosong. Semakin marah Sasori, semakin memuncak rasa ingin memukul seseorang selama beberapa bulan sulit belakangan ini. Sasori benar-benar tidak tau harus berbuat apa pada Sasuke yang keras kepala. Ia tau semuanya adalah musibah yang datang pada mereka, ia cukup tau dengan jelas Sasuke begitu menyayangi adiknya. Tapi Sasori begitu kesal dengan sikap Sasuke yang menyiksa dirinya sendiri di hadapan adiknya yang kini terbaring koma sudah selama 6 bulan ini. Dan semenjak kejadian itu, tawa dalam kedua keluarga benar-benar berakhir.
Aku melepas cengkraman tangan Sasori pada kerah bajuku. Sesak, sudah sesak semenjak 6 blan belakangan ini.
"Jika kau terus mencengkramku begitu kuat, kau bisa membunuhku. Aku tak berniat untuk mati di tangan siapapun, karena aku harus menunggu Sakura bangun." Kata Sasuke dingin tanpa ada emosi ataupun intonasi dalam setiap kata yang di ucapkannya.
"Sudah ku katakan berhenti bertingkah menyebalkan Sasuke. Berhenti bersikap seolah-olah Sakura telah tiada, berhenti bertingkah seolah-olah kaulah yang paling tersiksa. Kau fikir kau saja yang menyayanginya? Jika kau tak menurutiku saat ini, maka akan ku pastikan Sakura di pindahkan ke negara lain tanpa sepengetahuanmu. Akan ku pastikan kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi." Ucap Sasori sungguh-sungguh menatap Sasuke marah.
Aku menatapnya tak suka dengan kata-katanya. Apa maksudnya ancaman itu? Coba saja berani sentuh Sakura, aku akan membunuh siapapun itu. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat dan memberikan tatapan membunuh pada Sasori, sebelum Itachi menepuk pundakku.
"Sasori hanya mencoba untuk menggertakmu. Mengertilah, kau juga harus istrahat Sasuke. Sakura tidak akan bangun jika kau seperti ini, dan jika Sakura mengetahui kau kacau selama 6 bulan terakhir ini, apa menurutmu ia akan baik-baik saja? Sakura mungkin akan mengutuk dan menyalahkan dirinya sendiri karena sikapmu saat ini." Nasehat Itachi pada Sasuke yang membulatkan mata lebar-lebar mendengar nasehat Itachi.
Aku tak akan mau jika itu terjadi. Itu tak boleh terjadi. Aku menatap Sendu seorang gadis yang terbaring dengan selang infus dan alat bantu pernafasan di ranjang itu. Seseorang yang tak menampakan lagi emerald indahnya selama 6 bulan ini. Seseorang yang membuat dunia ku kosong dengan menghilangnya dia.
"Kembalilah, Sakura." Kata Sasuke menatap sendu kekasihnya tersebut. Sasuke kemudian mengambil jasnya yang tersampir di kursi tempat ia duduk menemani Sakura tadi dan berjalan keluar.
"Tolong jaga Sakura sampai aku kembali." Kata Sasuke begitu sampai di dekat pintu.
"Tak perlu kau minta. Dia adikku kalau kau lupa." Kata Sasori sarkastik pada Sasuke.
Itachi memperhatikan adiknya yang saat ini melihat padanya. Lingkaran hitam di bawah mata, rambut acak-acakan dan pakaian yang jauh dari kata rapi, membuat Itachi iba pada adik satu-satunya tersebut. Itachi menganggukan kepalanya kemudian Sasuke berjalan keluar dengan perlahan dalam diam.
"Kau tak harus semarah itu Sasori. Kalau tak ku paksa kau juga sudah seperti adikku saat ini." Kata Itachi menegur Sasori yang mendekat dan merapikan selimut Sakura.
"Aku hanya tak ingin adikmu terus menyiksa dirinya sendiri. Ini bukan kesalahannya, kami semua tau itu, kau juga tau hal itu. Aku hanya tak ingin Sakura menyalahkan dirinya nanti jika ia tau Sasuke terus menyiksa dirinya sendiri atas penyesalan pada sesuatu yang tidak pernah di lakukannya." Kata Sasori menatap adiknya sendu. Itachi hanya diam seribu bahasa. Tidak ada yang dapat di katakan maupun di lakukannya. saat ini, semua orang sangat sensitif dan mudah marah sehingga ia harus hati-hati dalam bertutur kata.
"Apa mimpimu indah? Seberapa indah hingga kau begitu betah? Kau ada dimana? Apakah ada kedamaian di dalam sana? Seberapa damai hingga kau tak juga kembali? Kau tak ingin kembali memelukku? Aku merindukanmu, gadis kecilku." Kata Sasori membelai rambut adiknya itu. Ia begitu merindukan Sakura, ia ingin Sakura segera sadar agar ketakutannya berhenti. Sasori takut kehilangan Sakura. Sasori takut akan kehilangan adik satu-satunya yang selalu ia impikan lebih dari impiannya. Dan air mata yang mengalir menuruni pipinya menjadi saksi bisu betapa ia menyayangi Sakura.
Itachi tak dapat berkata apapun, ia hanya memberikan tepukan di pundak Sasori, berharap agar tepukan kecil itu bisa membuat Sasori kuat menghadapi semua ini. Itachi begitu tau sebesar apa kasih sayang Sasori pada adiknya itu, sama seperti Itachi yang begitu menyayangi Sasuke. Sasori hanya membenamkan wajahnya sambil menggenggam tangan Sakura, Itachi menatap sendu kearahnya juga kearah Sakura. Sebelum Itachi melihat air bening mengalir di pipi Sakura yang masih tak membuka mata.
"Sasori." Kata Itachi memanggil Sasori. Sasori mengangkat wajahnya dan menatap Sakura. Ia terbelalak kaget mendapati adiknya menangis. Segera di hapusnya air mata yang semakin deras itu dengan perlahan.
"Aku tau kau mendengar. Berjuanglah untuk kembali, kami akan menunggumu. Sasuke juga sedang menunggu. Aku tau kau kuat Sakura, untuk itu segeralah kembali, agar aku dapat memelukmu lagi." Ucap Sasori menghapus air mata Sakura dan sedikit tersenyum.
.
.
Aku kembali ke rumah dengan mempertimbangkan saran Sasori. Sudah selama 6 bulan ini aku seperti tak bernyawa, ku rasa hidup mulai mempermainkanku. Di saat aku sedang menunggu Sakura pekerjaan perusahaan yang membutuhkan konsentrasiku semakin meningkat, mau tak mau Itachi-lah yang akhirnya menanganinya. Terima kasih pada Itachi yang mau mengerti dengan keadaanku. Aku tau tak seharusnya aku begini, namun aku tak bisa mengalahkan emosiku. Semuanya kacau, aku tak dapat menahan amarahku dan penyesalanku yang membuat Sakura koma selama 6 bulan ini. Seandainya malam itu aku bisa lebih menjaganya.
.
.
-6 bulan lalu-
Perayaan pertunangan di kediaman Hyuuga benar-benar megah. Terlihat begitu banyak tamu yang datang dengan pakaian yang sangat mewah. Semuanya sangat bahagia kecuali 2 orang. Sasuke yang biasa saja, dan Sakura yang masih membenci pesta.
"Sakura, tenang sedikit." Gusar Sasuke pada kekasihnya tersebut. Sedari 20 menit lalu Sakura selalu menghentak-hentakan kakinya, ataupun menggigit kuku-kuku jarinya, memainkan anak rambutnya yang setengah tergerai, memakan cemilan yang di sediakan, minum lebih dari 2 gelas vodka , ataupun bolak-balik kamar mandi yang di rasa Sasuke tak perlu, sehingga membuat Sasuke harus terus mengawasi gerak gerik Sakura dan Sasuke tau, gadisnya itu tengah bosan stadium akhir.
"Aku bosan Sasuke-kun." Rengek Sakura pada Sasuke yang kemudian menarik Sakura ke sudut ruangan.
"Kalau di dengar Hyuuga bagaimana? Kau ini." Kata Sasuke lagi menegur Sakura.
"Kalau begitu temani aku minum lagi." Kata Sakura sambil mengamit lengan Sakura dan tersenyum senang.
"Tidak. Kau bisa mabuk." Tolak Sasuke tegas pada Sakura.
"Tidak akan. Vodka tidak bisa membuatku mabuk Sasuke-kun" ucap Sakura tersenyum senang lagi.
'Gadis gila' batin Sasuke frustrasi.
"Sudahlah Sakura. Ayo kembali ke pesta dengan catatan kau harus tenang dan jangan minum atau makan lagi. Kau tak tau kau terlihat gendut sekarang." Kata Sasuke bermaksud membuat Sakura untuk bisa bersikap tenang namun malah sebaliknya. Sasuke membawa Sakura kembali ke kerumunan pesta sambil memberi salam pada beberapa kolega yang bekerja sama dengan Uchiha dan Haruno. Namun di luar dugaan, Sakura benar-benar tenang, yang tadinya Sakura selalu berbicara berlebihan kini hanya tersenyum dan diam saja, sesekali menunduk. Merasa heran Sasuke membawanya ke balkon.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke khawatir.
"Sa-Sasuke-kun." Panggil Sakura dengan mata berkaca-kaca seperti akan menangis.
"Hey, kau kenapa?" tanya Sasuke panik.
"Bagaimana ini, aku gendutan. Ya ampun Sasuke aku sedang memakai gaun, apa aku terlihat seperti ibu-ibu gendut? Sasuke-kun ayo jawab yang jujur. Sasuke-kun kalau kau meninggalkanku hanya karena aku gendut aku tak akan memaafkanmu. Sasuke-kun.." rengek dan racau Sakura panjang lebar. Sasuke yang menatap Sakura khawatir malah mengacak rambutnya frustrasi.
"Ya ampun Sakura." Geram Sasuke tambah frustrasi menatap Sakura dengan aneh.
"Apa?" tanya Sakura dengan ekspresi takut seperti Sasuke akan mengatakan kalimat putus saat itu juga. Tentu saja itu hanya fikiran Sakura. Hey Sasuke, tak taukah kau kata gendut adalah kata yang tak seharusnya kau ucapkan untuk seorang wanita terutama kekasihmu, beginilah jadinya jika kau berkata sembarang tanpa berpikir panjang.
"Sudahlah. Aku tak bermaksud begitu. Kau tidak gendut dan kau baik-baik saja. Ok?" kata Sasuke menenangkan Sakura. Namun sayangnya Sakura malah menatap Sasuke curiga.
"Kau yakin? Sepertinya kau hanya berusaha menenangkanku." Kata Sakura penuh selidik menatap Sasuke.
"Hn. Aku yakin." Kata Sasuke tegas. Sakura akhirnya tersenyum senang dan memeluk Sasuke.
"Awas kalau kau bohong." Ancam Sakura pada Sasuke yang mendengus menahan tawa.
"Tidak akan." Kata Sasuke membalas pelukan Sakura.
"Ya sudah. Ayo kembali ke pesta. Aku ingin menemui Sasori-nii." Ucap Sakura kemudian mengamit lengan Sasuke dan kembali ke pesta.
Sakura dan Sasuke berjalan dengan Sakura mengamit lengan Sasuke, sekali-kali terlihat bercanda dan tertawa.
"Serasi sekali." Cibir seseorang dari belakang Sakura.
Sakura dan Sasuke segera membalikan badan menatap siapa yang baru saja membicarakan mereka, dan alangkah terkejutnya Sakura di buatnya, sementara Sasuke menatap heran wajah asing tersebut.
"Ya ampun, Temari. Apa kabar?" kata Sakura kemudian memeluk Temari begitupun dengan seseorang yang di panggilnya Temari tersebut.
"Baik. Kau tega sekali, aku jauh-jauh ke Amerika kau malah tak datang menyambutku." Ucap Temari cemberut pada Sakura.
"Maaf, aku sedang di jepang. Oh iya, Temari ini tunanganku, Uchiha Sasuke." Kata Sakura mengamit lengan Sasuke.
"Hay, nice to meet you" ucap Temari mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
"Hn." Ucap Sasuke menyambut tangan Temari.
"Sasuke-kun , ini sahabatku Sabaku Temari." Kata Sakura tersenyum senang tanpa beban, tanpa tau Sasuke memandangnya dengan tatapan tak suka.
"Sabaku?" tanya Sasuke dingin.
"Aa, kakak pertamanya Gaara." Ucap Sakura malah semakin tersenyum sementara Sasuke sudah semakin dingin.
"Aku sudah dengar berita pertunangan kalian, semoga sukses yah?" kata Temari memberi semangat dan tersenyum.
'Terdengar seperti sebuah ancaman di telingaku' batin Sasuke malas.
Tiba-tiba seseorang dari belakang memeluk Sakura erat. Sakura terkejut Sasuke memandang dengan tatapan membunuh.
"Ku dengar kau sudah dewasa. Beraninya kau bertunangan dengan seseorang yang bukan Sabaku." Desis orang tersebut di telinga Sakura. Sementara Sakura dan Temari malah tertawa hebat setelahnya.
"Kau tidak berubah, Kankurou." Kata Sakura tertawa bahagia. Dan hal itu membuat Sasuke benar-benar naik pitam.
"Singkirkan tanganmu dari Gadisku." Desis Sasuke dingin kemudian menarik Sakura ke pelukannya. Sakura tersenyum kikuk, Temari terpana, dan Kankurou bengong.
"Emm, Kankurou, ini tunanganku." Kata Sakura berusaha mencairkan suasana.
"Oh, Uchiha kah? Hai. Sabaku Kankurou." Kata Kankurou memperkenalkan diri. Entah Sasuke yang sedang sensitif ataukah memang Kankurou seperti sedang memandang remeh pada Sasuke. Entah yang mana, yang pasti Sasuke merasa Kankurou harus di jauhkan dari Sakura. *Overprotective mode : On* -_- dasar Sasuke.
"Cih." Sasuke mendecih dan berbalik menyeret Sakura menjauh. Sementara Sakura malah tertawa kikuk pada duo Sabaku tersebut sambil mengucapkan maaf. Temari hanya melambaikan tangan pertanda tak masalah baginya, dan Kankurou hanya tertawa sinis.
"Tidakkah mengingatkanmu pada seseorang?" tanya Temari yang mulai meneguk minumannya.
"Siapa? Uchiha itu? Cih, kau pasti bercanda. Sudah pasti kan?" balas Kankurou tersenyum pada kakaknya itu.
"Aa, dia benar-benar mirip dengan Gaara." Kata Temari menyahut dan tersenyum setengah tertawa pada Kankurou.
"Apakah setiap klan punya masing-masing seseorang yang berkepribadian seperti mereka yah?" tanya Kankurou mulai mengoceh aneh.
"Ha?" tanya Temari tak mengerti.
"Gaara dari Sabaku, Sasuke dari Uchiha, Neji dari Hyuuga, dan mungkin akan ada Gaara, Sasuke, dan Neji yang lainnya dari klan-klan lain." Kata Kankurou kemudian tertawa.
"Kau ada-ada saja." Balas Temari yang memandang adiknya aneh. Yah meskipun hal itu benar tapi tetap saja, bagi Temari, Kankurou terlalu berlebihan dengan menyamakan karakter orang seperti itu.
Sedangkan di bagian Sasuke dan Sakura.
"Kenapa membawaku ke taman, Sasuke-kun?" pestanya belum selesai.
"Sepertinya hidupmu di penuhi oleh Sabaku." Kata Sasuke ketus.
'Sepertinya ada yang sedang cemburu' batin Sakura. Sakura malah terkekeh membuat Sasuke semakin kesal.
"Lucu?" tanya Sasuke kesal pada Sakura.
Sakura melingkarkan kedua tangannya di leher Sasuke sehingga Sasuke yang lebih tinggi dari Sakura harus memegang pinggang Sakura agar dia tak jatuh dan menindih Sakura.
"Sasuke-kun, kau sedang cemburu?" tanya Sakura menatap Sasuke tersenyum. Sasuke hanya menundukan pandangan dan menatap Sakura menyipit.
"Menurutmu?" tanya Sasuke pada Sakura.
"Aih, manisnya.." kata Sakura terkikik geli pada sikap Sasuke.
"Hn. Terserah." Kata Sasuke yang berusaha melepaskan tangan Sakura. Tapi dengan cepat Sakura mencium pipi Sasuke, dan memegang kedua pipi Sasuke sehingga mata mereka saling bertemu pandang.
"Terima kasih sudah mencintaiku." Kata Sakura tersenyum.
Hati Sasuke bahagia mendengar ucapan Sakura untuknya.
"Terima kasih sudah menerimaku." Balas Sasuke tersenyum dan memeluk Sakura.
"Sasuke, aku mulai takut kehilanganmu. Bagaimana ini? Ayo tanggung jawab." Kata Sakura setengah bercanda masih memeluk Sasuke.
"Baiklah, aku akan di sisimu selamanya." Kata Sasuke semakin mengencangkan pelukannya.
Saat itulah Aku merasakan firasat buruk. Ku kencangkangkan pelukanku padanya seperti tak ingin kehilangannya, karena dalam pelukan itu hatiku berdebar cepat, debaran sakit yang menyiksaku di setiap detakannya, aku merasa seperti akan kehilangan dia untuk selamanya.
"Sasuke, sesak." Kata Sakura pada Sasuke. Sasuke yang sadar apa yang di lakukannya segara melepas pelukannya. Sasuke tersenyum pada Sakura dan membawa Sakura untuk kembali ke pesta. Namun Sakura menghentikan langkahnya dan menahan lengan Sasuke.
"Jika ada kehidupan setelah kehidupan ini, maukah kau mencintaku lagi di kehidupan selanjutnya?" tanya Sakura tersenyum dan menatap Sakura sendu pada Sasuke. Sakura tak tau apa yang sedang di bicarakannya, ia hanya ingin berkata demikian.
"Sama seperti kau yang selalu mencintaiku, aku akan selalu mencintaimu bahkan di 1000 kehidupan mendatang." Ucap Sasuke kemudian menggenggam tangan Sakura erat. Genggaman yang di buat terpisah oleh waktu, akankah waktu menuntun salah satunya menuju kematian?
Dan begitulah cinta, Ia menyatukan dua hati dalam ikatan batin.
Ikatan yang membuat hati mengetahui pertanda ketika kau akan kehilangan seseorang yang kau sayangi, ikatan yang dapat di pisahkan oleh waktu namun tak pernah bisa di hapus oleh ruang dan waktu yang memisahkannya.
Sakura tersenyum dan kembali berjalan bersama Sasuke menuju pesta. Di sisi taman yang gelap seseorang sedang memperhatikan pasangan tersebut dengan sakit hati.
"Harus ku dapatkan malam ini juga." Kata seseorang di yang memperhatikan Sakura dan Sasuke yang mulai melangkah memasuki kediaman Hyuuga.
"Hey Gaara. Ayo masuk, mau sampai kapan di sini? Acaranya akan segera di mulai." "Ya, aku kesana." Ucap Gaara kemudian melangkah menuju tempat yang sama denga tempat yang di tuju oleh pasangan bahagia tadi.
To be continued
Area Balas Review :
Terima Kasih Minna-san sudah mengikuti sampai hari ini.
Mungkin beberapa chapter lagi menuju The end. Author usahakan untuk cepat, karena saya juga merasa meng-update terlalu lambat. Syaa juga masih harus memperbaiki beberapa bagian yang sudah saya tulis agar nantinya tidak menambah konflik yang malah bikin absurd. Sekian dulu, saatnya balas review.
Hari Si petualang : Nih dah di update. ^_^ Terima Kasih sudah mereview.
Tamii-chan : Nggak kok, nggak bermaksud buat Gaara jahat, author kan juga sayang sama Gaara, nanti bakal di jelasin di chapter-chapter depan apa sebenarnya yang membuat Sakura koma. ^_^ Thanks atas review-nya
Sonedinda2 : Ha'i. Terima kasih atas review-nya. ^_^
Hatake Ridafi kun : heheh, nggak sampai sana kok ceritanya. Sip, saya usahakan untuk tidak terlalu lama, karena sejujurnya saya juga mulai capek nulisnya :D ^_^ Terima kasih atas reviewnya.
Kumada Chiyu : Haha, Sip. Ini dah update. Terima Kasih atas review-nya.
: Terima Kasih kalau begitu. Saya usahakan. Terima kasih sudah mereview ^_^
zhao mei-mei : Ya, saya usahakan. Terima kasih atas dukungan dan reviewnya ^_^
Uchiha sesura-chan : Heheh, sip. Ini diah di lanjutkan lagi, terima kasih sudah mereview. ^_^
Alifa Cherry blossom : Hehehe, syukur kalau suka. Saya usahakan untuk update kilat. Eh? Fict-ku yang mana lagi yang mau di update? Ini fict-ku yang ke 9 kalau nggak salah, 8 fict yang lainnya udah The end kok. Yang masih nunggak yah fict ini doank. ^_^ Terima kasih sudah mereview.
Eureka eklesius : soal Gaara itu nanti saya pertimbangkan lagi. Soalnya author mulai malas ngetik. Hehehe, Terima kasih sudah mereview.
Ramen Panas : Itulah yang namanya fiksi. Mana ada fiksi yang sesuai kenyataan? Kalaupun ada itu merupakan kebetulan semata. Apakah saya harus menjelaskan lagi arti dari fiksi? Silahkan, anda tak bacapun tak ada ruginya bagi saya. Soal konsisten atau tidak, jika mengikuti cara berpikir anda saya rasa anda lebih tidak konsisten, karena setau saya di dunia di manapun itu tidak ada RAMEN PANAS YANG BISA MEMBACA ATAUPUN MEREVIEW SEBUAH CERITA FIKSI.
Nawu : sedang saya usahakan. Terima kasih sudah membaca dan mereview ^_^
Hanazono yuri : Sayangnya yang di lakukan Gaara belum tayang di chapter ini senpai ^_^ harap sabar menanti ^_^ Terima kasih sudah mereview.
Zezorena : Hehehe, begitukah? Terima kasih sudah mereview ^_^
Iea8 : Sip. Terima kasih atas dukungan dan review-nya ^_^
Saya sepenuhnya menyadari akan kekurangan penulisan saya, namun sebagai reviewers yang baik, jika anda sekalian ingin mengkomplen jika anda tidak menggunakan akun resmi setidaknya tinggalkan review yang masuk akal dan tidak memancing emosi author, kita sama-sama belajar, untuk itulah ada yang namanya review. Apa gunanya anda mereview jika hanya ingin menjatuhkan mental orang lain, sejujurnya saya orang yang keras kepala, jadi jika ada yang berpikir untuk melakukan hal-hal yang membuat saya menyerah sebaiknya anda hentikan. Saya sudah berjanji pada reviewers dan readers saya bahwa saya akan menyelesaikan setiap tulisan saya, jadi meskipun saya telat update atau ada beberapa bagian cerita yang membuat anda tidak nyaman saya akan tetap melanjutkannya hingga akhir.
Mohon maaf bagi para pembaca dan review yang sudah merasa tidak nyaman dengan bacotan ini, saya agak emosi ^_^ tapi tenang saja, ini hanya merupakan pendapat pribadi saya. yak sekian untuk hari ini.
Terima kasih telah membaca, Terima kasih telah mereview dan Terima kasih telah sempat berkunjung ^_^
Sampai berjumpa di episode selanjutnya ^_^
