Hem.. Akhirnya update ! XD Setelah menunggu inspirasi selama satu bulan dan membaca salah satu fanfic SasuSaku –tragedy pula, beuh!-, semangatku untuk update kembali membara ! Oke, gak usah basa-basi. Silakan baca setelah itu jangan lupa REVIEW ya… Maaf udah buat kalian menunggu lama, nyari inspirasi dulu. Hehe… :) -jadi inget koran Sindo, hoho..-

Disclaimer : Naruto © Masashi Kisihimoto


Chapter 7

Tugas Melelahkan

Pagi mulai tiba. Terdengar suara cicit burung-burung di luar jendela, menyambut pagi yang cerah. Matahari pun mulai terbit sedikit demi sedikit dari arah timur, memunculkan cahaya yang hangat bagi dunia. Embun subuh perlahan-lahan hilang disinari cahaya matahari, berubah jadi setetes air yang jatuh dari daun.

Sasuke membuka matanya perlahan, sudah pagi. Dia melihat ke jendela kamarnya yang tirainya sudah dibuka, sinar matahari pun menyeruak masuk ke dalam kamarnya. Sasuke menghela nafas, pasti ini kerjaan Itachi. Padahal, dia lebih suka jika disaat dia bangun lampu masih menyala dan tirai masih tertutup. Lebih tenang menurutnya. Tapi ini ? Tirai sudah terbuka lebar-lebar, ditambah dengan suara cicitan burung yang berada di pohon dekat jendela kamarnya.

Setelah kesadarannya sudah terkumpul semua, Sasuke bangkit dari tempat tidurnya. Namun ketika dia duduk di tepi tempat tidur…

"Auwh.."

Sasuke meringis, kepalanya terasa senut. Tapi dicobanya untuk tenang dan merilekskan kepalnya, dan rasa senut itu pun hilang begitu saja. Setelah itu, dia pergi ke kamar mandi dan mencuci mukanya di wastafel. Ditatapnya wajahnya yang basah di cermin. Heran, dia merasa heran. Sakit kepala macam apa yang menyerangnya akhir-akhir ini ? Dia tidak tahu sakit kepala itu datang darimana. Seingatnya, rasa sakit itu pernah dirasakannya sewaktu masih kelas 3 SMP dan setelahnya tidak pernah dia rasakan lagi. Tapi sakit kepala itu kambuh ketika dia mulai aktif di grup band. Setiap dia terlalu konsentrasi pada lagu, ada saja waktu untuk sakit kepala itu menyerangnya. Jadi membuatnya sedikit terganggu.

Tapi toh, dia jadi terbiasa dengan sakit kepala langganannya itu. Setiap dia latihan, dia selalu membawa obat penghilang rasa sakit yang dibeli Itachi. Ya, yang dibeli Itachi. Kadang-kadang dia ingin sekali membeli obat itu sendiri, tapi Itachi melarangnya. Alasannya, karena jenis obat itu hanya kakaknya saja yang tahu.

Setelah mencuci wajahnya, Sasuke pergi ke ruang makan. Terlihat Itachi sedang memasak sesuatu. Melihat Itachi memasak, dia jadi ingat dengan almarhumah ibunya. Kira-kira disaat dia masih SD, dia melihat Itachi diajari memasak oleh ibunya. Saat itu, Itachi sedang belajar memasak telur dadar. Tapi, karena kelamaan didiamkan di penggorengan (mana dibaliknya lama pula), jadilah telur itu gosong. Dan akhirnya dia menertawakan Itachi, jadilah kejar-kejaran antar kakak beradik tersebut.

Tapi, lama kelamaan Itachi bisa dibilang koki. Atau mungkin chef. Kakaknya jadi ahli dalam memasak, sejak orang tuanya meninggal. Dan masakannya pun enak-enak, sama seperti masakan ibunya.

Ketika Sasuke masuk ke ruang makan, Itachi menyapanya sambil memotong sayuran.

"Selamat pagi, Sasuke !"

Sasuke membalas sapaan kakaknya dengan malas, "Pagi juga..".

"Hei, bagaimana keadaanmu ? Sakit kepalamu terasa lagi tidak ?", tanya Itachi sambil memotong sayuran lagi, kali ini yang dipotongnya adalah tomat.

"Entahlah, tadi terasa sedikit tapi lama-lama hilang. Hah… Dasar sakit kepala aneh.", Sasuke menjawab sembari duduk di meja makan, melihat Itachi memasak.

Itachi hanya diam saja, karena kesibukannya memasak. Dia memasukkan sayur-sayuran yang dipotongnya kedalam penggorengan. Sasuke merasa penasaran dengan apa yang dimasak Itachi, masak apa dia sampai-sampai sayuran bisa dimasukkan kedalam penggorengan.

"Aniki, kau masak apa sih ?", tanya Sasuke yang mengintip apa dibalik penggorengan tersebut.

"Hoho ! Masakan kebanggaanku ! Nasi Goreng Sayuran ala Chef Uchiha Itachi ! Ada tomatnya lho !", jawab Itachi bangga sambil memperlihatkan isi penggorengannya.

Sasuke hanya sweatdropped melihat tingkah laku kakaknya yang kelewat narsis itu. Dia tahu, terkadang Itachi bisa jadi sombong kalau terlalu membanggakan masakannya. Seperti tadi misalnya.

"Ah sudahlah ! Cepat masaknya, aku lapar ! Lagipula aku kan harus ke sekolah.", sergah Sasuke jengkel.

Sambil mengaduk masakannya Itachi mengernyit heran, "Ke sekolah ? Mau ngapain ? Kan tidak ada kegiatan belajar kan kalau hari sabtu.."

"Aku harus membagikan undangan untuk pesta ulang tahun Sakura dan peringatan satu tahun aku jadian dengannya, kan besok malam pestanya.", Sasuke menjawab sambil memainkan jarinya di meja.

"Oh.. Itu toh, ya aku tahu. Silakan saja kalau kau mau ke sekolah. Tapi sebagai kakak aku tidak akan mengizinkanmu latihan dulu, mengerti ?!", balas Itachi menaik-naikkan spatulanya, lalu kembali mengaduk masakannya.

"Ya, aku tahu.", jawab Sasuke singkat.

Beberapa menit kemudian, nasi goreng buatan Itachi siap. Setelah membereskan peralatan dapur, mereka berdua sarapan bersama ditemani secangkir teh hangat.

--x--

Sudah jam 9 pagi, saatnya beberapa kegiatan ekskul dimulai. Termasuk grup cheerleaders yang diketuai Sakura. Hari ini, Kurenai, guru pembimbingnya menyuruhnya untuk melatih adik kelas. Sejak semester genap dimulai, Sakura diserahi tugas menjadi ketua grup oleh seniornya yang dari kelas 3. Dikarenakan kelas 3 sudah sibuk untuk mempersiapkan ujian dan kelulusan, makanya ekskul pun diserahkan kepada junior.

Sakura sudah berada di dalam gedung olahraga. Terlihat olehnya Ino, Hinata, Tenten, dan Temari. Mereka sedang melatih adik kelas selagi menunggu Sakura datang. Sakura pun segera menghampiri mereka.

"Halo semuanya !", sapa Sakura kepada empat sahabatnya.

Ino, Hinata, Tenten, dan Temari balas menyapa, "Hai, Sakura !"

Sakura melihat ke arah adik-adik kelasnya, dan tersenyum. Mereka semua kelihatan semangat hari ini. Tidak seperti angkatannya dulu. Sewaktu Sakura dan yang lainnya masuk grup cheerleaders, mereka selalu diikuti rasa takut. Karena tampang killer senior-senior mereka. Tapi lama-kelamaan, akhirnya mereka akrab juga dengan para senior seiring waktu.

Sakura juga semangat hari ini. Kenapa ? Karena dia akan membagikan undangan pesta bersama Sasuke. O yeah, pasti akan sangat menyenangkan. Dia ingat, ketika Sasuke kalah telak dengannya saat melakukan suit untuk menentukan pembagian undangan. Dia menang dan tugasnya adalah membagikan undangan dengan nomor ganjil yang ada didalam daftar undangan. Oke, saatnya menunggu Sasuke. Tapi…

Sepertinya dia harus bolos dari kegiatan ekskulnya. Masa' dia mau membagikan undangan sambil melatih adik kelas yang tidak terkira jumlahnya, tidak mungkin dia mau. Sakura berpikir sebentar, mungkin kalau tugasnya diserahkan kepada empat sahabatnya itu…

"Aha ! Teman-teman, kemari sebentar deh !", panggil Sakura sambil mengayunkan tangannya untuk menuju kemari. Ino, Hinata, Tenten, dan Temari langsung menghampiri Sakura.

"Ada apa sih ? Kayaknya penting sekali nih…", tanya Tenten penasaran.

Sakura tersenyum, "Begini teman-teman, boleh tidak aku cuti melatih junior sebentaaaar… saja ? Hari ini saja, ya ?"

"Eit ! Mau lari dari tugas kamu ya ?!", kata Ino menerka.

"Sebentar saja ! Ya ?? Aku kan mau membagikan undangan pesta bersama Sasuke nih !", Sakura memohon sekali lagi.

Mereka berempat saling berpandangan, namun mereka tertawa kecil. Otomatis, membuat Sakura bingung.

"Hei, kenapa sih ??", tanya Sakura bingung atas kelakuan sahabatnya.

Ino dan Tenten masih tertawa kecil, "Ah tidak kok.. Hehe…"

"Jadi, bagaimana ? Boleh kan ?", Sakura memohon lagi.

Mereka berempat berpandangan lagi, dan kemudian tersenyum. Lalu serempak…

"BOLEH DEH ! TAPI KITA DIUNDANG JUGA KAN ??"

Tiba-tiba, suasana jadi hening seketika. Gedung olahraga yang tak dihuni oleh grup cheerleaders saja menjadi sunyi. Semua orang yang ada disitu menatap mereka, tak terkecuali para adik-adik kelas yang sedang latihan. Sakura yang menyadari hal itu langsung memerah wajahnya, dasar heboh !

"A.. Haha… Maaf semuanya ! Silakan latihan lagi, kami tadi terlalu semangat sih. Hehe ! Ayo silakan !", kata Sakura kepada semua orang yang menatap mereka.

Akhirnya, semua orang kembali ke kegiatannya masing-masing. Sakura menghela nafas lega, "Kalian ini ! Bisa tidak sih tanpa teriak ??".

Temari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa malu, "Haha, abis kan seru pestamu itu. Iya kan teman-teman ?"

"Iya, duo pesta. Pesta ulang tahun dan pesta peringatan kau dan Sasuke jadian, iya kan ?", tambah Hinata dengan senyuman imutnya.

"Tentu saja ! Dan kalian pun diundang pastinya ! Sudah ya, aku mau mencari Sasuke dulu !", Sakura membalas dan dia pergi dari gedung olahraga itu.

"Hei, kamu belum dapat izin dari kita !", teriak Ino pada Sakura yang langsung dibalas dengan juluran lidah.

Ino menghela nafas, ada-ada saja. Terpaksa mereka berempat yang melatih adik kelas. Lagipula Sakura kan ketua, mereka menurut saja sih apa yang diminta Sakura. Asalkan itu masih berhubungan dengan grup, bukan yang lain.

"Ayo teman-teman ! Kita latih mereka.", ajak Ino menuju gerombolan adik kelas.


Sakura berjalan menuju gerbang sekolah, menunggu Sasuke datang. Dia melihat isi tas kecil kesayangannya, ada setumpuk undangan yang harus dibagikan. Sakura tersenyum, pasti akan sangat seru saat pembagian undangan nanti. Ayolah ! Cepat datang, Sasuke !

Beberapa menit kemudian, datanglah Sasuke yang mengendarai motor kesayangannya. Sakura segera menghampiri pacarnya itu.

"Sasuke !", panggil Sakura menuju ke tempat Sasuke.

Sasuke segera melepas helmnya dan menoleh ke arah Sakura, "Eh, kau sudah menunggu rupanya ? Lama tidak ?".

"Tidak, baru beberapa menit lalu aku menunggumu. Ternyata kamu datang juga, hehe.. Eh, ayo kita bagikan undangannya !", jawab Sakura sambil menggelengkan kepalanya.

Sakura merogoh isi tasnya dan mengeluarkan setumpuk undangan yang diikatnya dengan pita warna pink. Lalu, dia kembali merogoh isi tasnya. Yang dikeluarkannya kali ini adalah daftar para undangan.

"Nah.. Ini dia daftarnya. Oke, sekarang aku akan membagikan undangannya sesuai daftar undangan. Aku ganjil, kau genap. Oke ?", simpul Sakura lalu membagi undangannya.

Sasuke mengambil daftar undangan tersebut, lalu melihatnya. Hah.. Yang paling menyebalkan adalah daftar genap kedua, dia harus memberikan undangan kepada Shino. Shino adalah salah satu anggota di klub basket, yang juga teman dekat Naruto. Harus siap mental untuk mengunjungi Shino, dia berharap siapa tahu saja dia tidak bersama Naruto.

Dilihat lagi daftar undangannya, sisanya adalah teman satu grupnya dan teman cheerleaders Sakura. Mudah saja untuk memberikannya, daripada memberikan undangan kepada Shino.

"Sasuke, ini undanganmu. Dan ini undanganku. Bagikan ya ke orang-orang yang harus kau beri undangan.", kata Sakura sambil memberikan jatah undangan kepada Sasuke.

Sasuke menerima beberapa undangan yang harus dibagikannya, "Baiklah, aku tahu kok. Tapi…".

Perkataannya langsung disela oleh Sakura, "O ya, sekalian juga kita undang teman les kita. Kau mau tidak ? Lima orang, ya ?".

Sasuke menghela nafasnya, dasar jago ngomong. Sasuke hanya menjawab, "Iya, terserah kau lah.".

Sakura tersenyum riang. Kemudian dia segera pergi meninggalkan Sasuke untuk membagikan undangan. Sasuke yang masih diam ditempat segera berjalan menuju destinasi pertama, yaitu tempat (atau ruangan) dimana grup band-nya biasa latihan. Yaitu… Shinobi Boys – Exclusive Room.

--x--

Sesampainya Sasuke di tempat latihan, dia langsung disambut oleh teman-temannya yang sedang karaoke ria. Chouji dan Kiba yang sedang berkaraoke, langsung berhenti ketika Sasuke datang. Begitu juga Neji yang sedang membaca majalah dan Shikamaru yang sedang tidur-tiduran di sofa hasil beli dari uang kas yang mereka kumpulkan selama ini.

"Hoi, kok gak latihan sih ?", tanya Sasuke langsung tanpa basa-basi.

Chouji yang sedang karaoke bersama Kiba menjawab, "Kan kita capek gara-gara kemarin pentas, memang kamu tidak capek apa ??".

"Ya, aku tahu kok. Aku juga dilarang latihan sama aniki.", balas Sasuke sambil memberikan undangan kepada Kiba, Neji, dan Chouji.

Neji menatap heran undangan tersebut, "Apaan nih ?".

"Buka saja sendiri, nanti kamu tahu.", ujar Sasuke cuek.

Terdengar suara riang Chouji dan Kiba, Neji hanya diam saja. Lalu, tiba-tiba saja Chouji bernyanyi.

"Biar kuputuskan saja..

Ku tak mau hatiku terluka..

Lebih baik kucukupkan saja..

Ku tak mau batinku tersiksa.."

Oh gosh ! Itu adalah lagu yang paling sering dinyanyikan Chouji ! Sasuke sampai bosan mendengarnya berkali-kali. Tiap latihan, dia menyanyikan itu. Bahkan sebelum pentas kemarin dia juga menyanyikan lagu itu ! Daripada Sasuke panas mendengar lagu itu berkali-kali, dia memutuskan keluar dari tempat itu. Tapi, langkahnya tertahan ketika Shikamaru memanggilnya.

"Sasuke, mana undangan buatku ?", tanya Shikamaru menjulurkan tangannya sambil menguap.

"Nanti diberikan Sakura, tunggu saja.", Sasuke menjawab singkat lalu keluar dari ruang latihan.

Shikamaru diam mendengar jawaban Sasuke, lalu menggaruk kepalanya. Kemudian dia menguap dan tidur-tiduran lagi di sofa.


Sakura berjalan ke lapangan basket, mencari Naruto. Juga sekalian memberikan undangan kepada Lee, Gaara, dan Kankurou. Tak lama kemudian, sampailah dia di lapangan basket. Terlihat banyak anak lain juga bermain basket, tapi yang Sakura cari adalah Naruto. Dia mengedarkan pandangannya ke penjuru lapangan, dan… Yap ! Akhirnya dia menemukan Naruto bersama teman-temannya dibawah pohon, kebetulan yang bagus.

Sakura berlari menghampiri Naruto, "Naruto !".

Naruto mendengar ada seseorang yang memanggilnya, ditolehnya kepalanya kesamping. Begitu terkejutnya bahwa yang datang adalah Sakura, yang sangat didambakannya. Naruto langsung berdiri begitu Sakura mendekat.

"Hei, Sakura ! Ada apa ?", tanya Naruto menyambut Sakura.

Sakura mengatur nafasnya terlebih dahulu karena berlari, "Hah… Begini… Aku ingin memberi undangan kepadamu, juga kepada teman-temanmu.".

"Undangan apa itu ?", Naruto bertanya lagi, penasaran.

"Ehm.. Besok, akan diadakan pesta di rumahku. Pesta ulang tahunku dan pesta peringatan satu tahun aku dan Sasuke jadian. Dan kalian diundang, datang ya !", jawab Sakura menjelaskan sambil memberikan undangan itu.

Naruto melihat isi undangan itu, tertulis…

Peace & Love

Sasuke-Sakura

Lagi-lagi, Naruto merasa iri akan kedekatan sahabatnya itu. Sebentar lagi, mereka berdua akan semakin akrab dan dekat. Tak lagi berhubungan sahabat, dan itu artinya Naruto harus mundur. Malang sekali nasibnya. Tapi dia tidak mau tinggal diam, dia harus melakukan sesuatu.

"Huwa.. Baiklah, Sakura ! Aku dan teman-teman akan datang ke pestamu, pasti !", seru Naruto dengan rasa hati yang berlawanan.

"Benarkah ? Terima kasih ya !", balas Sakura tersenyum riang.

Tiba-tiba saja, Lee menyeletuk, "Eh, kau tidak bersama Sasuke ?".

Sakura dengan senyumannya berkata, "Aha.. Dia juga sedang membagikan undangan kok.".

Lee hanya ber-oh ria, lalu dia diam. Beberapa menit kemudian, datanglah seseorang yang ditunggu mereka. Tak lain tak bukan adalah Shino.

"Halo, teman-teman ! Maaf ya lama.", kata Shino datar, yang disambut dengan sorakan Lee dan yang lain.

Sakura tertawa melihat hal itu, kemudian dia teringat sesuatu. Kalau tidak salah, Shino adalah daftar undangan yang dapat kejatahan dibagi Sasuke. Sudah dapat atau belum ya undangannya…

"Shino, kau sudah dapat undangan dari Sasuke belum ?", sahut Sakura tiba-tiba.

Shino menoleh ke arah Sakura, "Sudah, kebetulan aku bertemu dia tadi."

Sakura mengangguk mendengar jawaban Shino. Setelah memberikan semua undangan, dia pergi dari tempat itu dan menuju tempat selanjutnya. Hari sudah mulai siang, matahari mulai terik. Membuat Sakura sedikit berkeringat karena sinar matahari yang terus memanasinya. Tapi bukan namanya kalau dia mengeluh, dia masih saja bersemangat membagikan undangan.

Dilihatnya daftar para undangan, berikutnya adalah Shikamaru. Hah.. Tanggung sekali. Sakura berpikir, harusnya undangan untuk Shino biar dia saja yang berikan sedangkan undangan untuk Shikamaru biar Sasuke yang berikan. Sakura memukul dahinya, baru sadar sekarang. Dia biarkan undangan untuk kedua sahabat karibnya, biar dia berikan terakhir agar bisa bertemu Sasuke. Sekarang, tujuannya adalah Shikamaru. Ouwh, berarti dia harus berjalan jauh dari lapangan basket menuju gedung sekolah.

Daripada lama, akhirnya Sakura berlari lagi. Ya, seharian ini dia sudah terlalu banyak berlari, meski matahari menyengat sangat panas. Mungkin karena dia terlalu bersemangat atau apa, entahlah. Dia tidak mementingkan hal itu, yang dia pentingkan sekarang adalah pembagian undangan harus selesai tepat waktu. Sekarang, Sakura sedang berlari menaiki tangga. Ruang latihan Sasuke ada di lantai 2. Sakura mulai terengah-engah, kelelahan. Tak lama kemudian, akhirnya dia sampai di depan pintu ruangan itu.

Kemudian, ketika dia menggeser pintu ruangan tersebut, dia merasa sangat pening. Pusing. Dan perlahan-lahan tubuhnya ambruk seketika, yang disertai dengan seruan Neji yang kebetulan tidak berada jauh di dekat pintu.

--x--

"Tempat apa ini ?"

Sakura memandang ke sekeliling, hitam. Semuanya hitam. Sakura berada di ruangan hampa, tak ada apa-apa.

"Kenapa ini ? Kenapa tidak ada apa-apa ?"

Namun, tiba-tiba saja dia melihat seseorang yang jatuh perlahan dari atas. Dan ketika sampai dibawah, seseorang itu terkapar bersimbah darah. Sakura terbelalak terkejut, sekaligus ketakutan. Siapa ? Siapa orang yang jatuh itu ? Akhirnya, Sakura mendekati seseorang tersebut. Begitu terkejut dan shocknya dia, saat dia tahu bahwa itu adalah…

"Sa… Sasuke…!"

Air mata pun jatuh dari mata emerald-nya itu, tak kuat menahan kekagetan yang sangat. Dia menggoyang-goyangkan tubuh Sasuke yang berlumuran darah, apa maksud semua ini ?

"Sakura !"

Terdengar suara seseorang memanggilnya, Sakura mengedarkan pandangannya. Suara siapa itu ?

"Sakura, bangunlah ! Apa yang terjadi ?!"

Sakura tahu suara itu, itu adalah suara Sasuke. Tapi… Sasuke berada dihadapannya. Apa maksud semua ini ?

"Sakura !!"

Panggilan itu terdengar kembali, membuat dirinya sedikit takut dan gemetaran. Sasuke sudah mati dihadapannya, tapi kenapa masih terdengar suaranya ? Dia jadi semakin ketakutan saja, badannya gemetar.

"Kenapa ini… Kenapa… TIDAK !!"

--x--

Sakura membuka matanya. Yang dia lihat sekarang adalah Sasuke dengan penuh wajah khawatir. Air matanya turun perlahan-lahan, dan lama-kelamaan menjadi deras. Kemudian, dia langsung memeluk Sasuke erat. Sasuke merasa heran akan keadaan Sakura saat ini, ada apa dengan dia ?

"Sakura, kau kenapa ?", tanya Sasuke khawatir sambil mengelus kepala Sakura.

Sakura terisak-isak, "A.. A.. Aku… Bermimpi…"

"Mimpi apa ?", ulang Sasuke lagi, penasaran.

Sakura tak bisa menghentikan tangisannya, dia begitu shock melihat mimpi yang sangat buruk baginya. Apa yang dia perbuat sehingga dia bisa bermimpi seperti itu ? Dia takut, takut mimpi itu menjadi kenyataan.

"Aku… bermimpi… kau.. meninggal..", jawab Sakura lirih sambil berusaha menghentikan tangisannya.

Sasuke terkejut bukan main, matanya sedikit terbelalak. Dia diimpikan Sakura, dia mati. Lalu, dia makin erat memeluk Sakura. Dia tak ingin itu terjadi, tak ingin. Jika dia mati, kandaslah keinginan dia untuk bersama Sakura. Mungkin saja, Naruto akan merebut Sakura.

"Sudah, tak usah menangis. Lagipula itu cuma mimpi kan ? Tidak mungkin aku mati, hidupku masih panjang.", kata Sasuke menenangkan Sakura yang masih menangis.

Sakura melepas pelukannya, menghapus air matanya yang turun deras. Kemudian dia tersenyum, "Benar juga ya, masa depan kita masih panjang."

Sasuke pun balas tersenyum, "Iya."

Sakura baru menyadari, bahwa dia sekarang berada di ruang kesehatan. Setelah perasaannya membaik, dia dan Sasuke keluar dari ruang kesehatan. Sasuke merangkulnya, agar perasaannya sedikit tenang.

"Semoga tidak terjadi apa-apa..", Sakura berharap sambil menggengam kedua tangannya.


Next Chapter

Chapter 8

Saatnya mempersiapkan pesta ! Sasuke dan Itachi bersama kawan-kawannya datang ke rumah Sakura untuk membantu mempersiapkannya dekorasi. Sakura merasa berterima kasih pada Itachi karena sudah membantu. Namun, karena Sasuke tidak bekerja apa-apa dia memaksa Kisame agar dia saja yang melakukannya. Lalu, tiba-tiba saja…


Wuah ! Selesai juga ! XD Butuh perjuangan keras untuk menulis chap ini, sampe-sampe aku ngelanjutinnya di warnet karena ada perlu. Khukhu… Mana sewaktu aku nulis ini, aku dapet berita bahwa temenku ilang entah kemana. Halah, ganggu konsen aja ! –misuh2- Oke, aku bikin chap ini agak terburu-buru. Jadi maaf klo ada yang kurang atau apalah, dan maaf juga…

Itachi jadi OOC ! –apa nggak?-

O ya, aku berterima kasih juga kepada acara Ala Chef yang dibintangi Farah Quinn. Wih ! Masakannya mantep-mantep ! –ngiler- Trus, thanks buat ST12 dengan lagunya "Cari Pacar Lagi". And… Semuanya aja deh, haha… -puyeng, gaje-

Hah, sudahlah. Tanpa basa-basi aku mau berterima kasih sekaligus minta maaf ya atas kekuarangan chap ini… O ya, jangan lupa juga. REVIEW ya ! XD

Thanks for RnR !

Azumi Uchiha