Here we go to chappie 10.

DON'T LIKE DON'T READ!

BLEACH FANFICTION

Ichigo Kurosaki-Rukia Kuchiki

Rated ; T

Indonesian

Adventure, Friendship, Romance.

AU, AT, OOC, TYPOS,

Disclaimer ; Until the end, BLEACH always Kubo Tite's.

Previous chap,

Jika mereka menduga perjalanan malam itu akan berlangsung cepat, maka mereka salah besar. Rukia, terutama yang masih bertanya-tanya, kenapa mereka tak menggunakan teknik shunpo—tapak dewa yang waktu itu digunakan Toushiro Hitsugaya untuk menyambut kedatangannya dengan membawa gadis itu pada sungai jernih di ujung lembah kediaman keluarga Hitsugaya itu. Jalanan yang mereka lalui adalah jalan setapak penuh batu yang meliuk-liuk di bawah kerimbunan pepohonan. Wajar saja, rute yang mereka tempuh kali ini adalah pinggiran hutan lebat dengan pohon-pohon besar yang menjulang. Sinar bulan temaram pun sama sekali tak menembus hingga permukaan tanah, hanya di atas dedauan itu saja sinar rembulan bisa menampakkan sinarnya, membuat dedaunan menjadi berwarna mengkilap pucat.

Sesekali Matsumoto yang berjalan paling depan dan membawa obor api temaram menolehkan kepalanya berkali-kali ke belakang. Ia harus memastikan, kelima remaja itu tak tertinggal jauh dengannya. Perjalanan mereka baru saja dimulai, dan ia tahu, itu tidak mudah untuk remaja-remaja yang baru saja menempuh lintas dimensi menyusahkan. Inoue yang masih setengah shock berjalan dalam langkah tak tentu, terkadang terseok dan harus bersandar pada remaja berkacamata yang tak pernah meninggalkan posisi dibelakangnya. Ishida mengerti, ia memang harus menolong gadis berambut cokelat itu bukan?

"Ano, Matsumoto-san... bisa kita istirahat sebentar?" permintaan dengan nada rendah itu membuat semua berhenti melangkah. Menatap gadis yang mengutarakan permintaan kecilnya itu.

Toushiro Hitsugaya yang berjalan di belakang Ishida melangah mendekati Inoue. Gadis itu membungkuk, memegangi kedua lututnya yang bergetar. Ishida masih terus membantu menopang gadis itu untuk tetap berdiri.

Melihat kondisi Inoue yang mungkin memang nampak memprihatinkan, Toushiro menatap wanita berambut pirang itu dan mengangguk.

"Araa, baiklah Inoue-chan, kita istirahat sebentar. Ne Kurosaki, bisa kau kemari sebentar?" suara Matsumoto yang memperbolehkan mereka untuk beristirahat menampakkan wajah kelegaan pada Inoue dan Ishida. Rukia pun buru-buru mendekati teman satu suitenya itu, menanyakan dengan lirih tentang keadaan gadis itu.

Ada percakapan singkat antara Matsumoto, Ichigo dan Toushiro. Entah tentang rute yang akan mereka pilih, atau tentang ancaman yang mungkin mereka temui jika mereka dengan terpaksa berhenti berjalan di tengah hutan lebat tanpa sinar bulan itu.

Sekarang mungkin sudah hampir dini hari, mengingat udara malam yang terasa membekukan tulang itu. Pakaian mereka yang berlapis haori tebal juga tidak menambah kehangatan pada tubuh mereka.

Ishida menyandarkan tubuh teman berambut cokelatnya itu pada batang pohon besar yang ada di dekatnya. Seakan telah kehabisan energi, Inoue segera terlelap tidur. Wajahnya nampak tirus dan kelelahan.

Mereka duduk melingkar. Tidak ada yang bertanya mengapa mereka tidak menyalakan api unggun untuk mengusir dingin. Duduk memeluk lutut adalah satu-satunya yang mereka lakukan agar tangan dan kaki mereka tidak terasa kebas.

"Mau berapa lama kita di sini, Matsumoto-san?" tanya Rukia yang duduk memeluk lututnya di samping kiri Hitsugaya, tepat berseberangan dengan Ichigo. Rangiku Matsumoto yang berada di sebelah kanan tuannya itu menjawab sambil sedikit menguap,

"Mungkin 2 jam... kau bisa tidur dulu Kuchiki!"

Saran itu ditanggapi Rukia dengan gelengan kepala, ia menatap teman satu suitenya yang terlelap lelah di sebelah kirinya itu.

"Apa kita aman?" bukannya paranoid, Ishida hanya memastikan bahwa mereka akan baik-baik saja selama 2 jam kedepan.

"Tch, diamlah kau Ishida!" oh well, siapa lagi yang akan selalu menjawab pertanyaannya itu dengan sinis kalau bukan teman satu kelasnya yang urakan itu.

"Ittaiiiii..." Rangiku Matsumoto yang mencoba menyandarkan tubuh besarnya pada tuannya itu berakhir dengan tersungkur di tanah dengan wajah terlebih dahulu. Tentu saja, mana mungkin Hitsugaya akan membiarkan tubuhnya dijadikan sandaran oleh orang yang bertubuh 3 kali lebih besar darinya itu—bukan berarti ia mengakui kalo memang dirinya, err, chibi?

Ketenangan mereka dalam keadaan tanpa cahaya itu terusik dengan Inoue yang merintih sakit dan memegani lengan atas kirinya dengan erat.

"I-Inoue..."

Semua mendekat, melihat tubuh Inoue yang kejang di pangkuan Ishida itu.

Rintihan kesakitannya yang semakin keras itu membuat Hitsugaya merengsek maju, menyambar lengan kiri Inoue yang terus digenggam erat oleh pemiliknya.

Remaja berambut perak itu tanpa ragu mengambil pisau dari sabuknya, merobek dengan lincah haori yang menutupi lengan kiri Inoue, juga hakama hitam yang dikenakan gadis itu.

Dan, segaris luka sepanjang hampir sepuluh sentimeter nampak kemerahan. Dalam keremangan malam itu, dibantu dengan obor yang segera dinyalakan oleh Matsumoto, nampak jika luka sudah hampir seharian tanpa perawatan. Pagi tadi, serangan.

Hitsugaya menatap dengan seksama lengan Inoue, dan ia terbelalak.

"Kenapa?" Ishida bertanya panik.

"Racun!" jawaban singkat dari Hitsugaya, diikuti teriakan histeris penuh kesakitan dari gadis yang terbaring lemah di pangkuan Ishida tersebut.

Rukia menatap dari tempatnya duduk, teman satu suitenya yang kini dibaringkan di pangkuan remaja berkacamata bening itu. Lengan kiri gadis itu terkulai lemah. Sesekali gemeletuk gigi akibat dingin terdengar. Ya itu suara giginya yang beradu. Dingin, serta perasaan tak menentu saat melihat teman perempuan yang belum begitu lama dikenalnya itu terbaring tak berdaya.

Rangiku Matsumoto sedang mencoba berbicara pada Inoue. Tapi, gadis cokelat itu tak pernah menjawab, hanya merintih sakit.

Saat Rukia menatap kelima orang di depannya itu, Ichigo tengah memegangi erat lengan atas Inoue, diantara luka memanjang yang memerah tersebut.

"Inoue-san, ini akan sedikit sakit, tapi tak ada cara lain jika kita tidak membersihkannya sekarang..." Hitsugaya mencoba memberitahukan informasi ini pada gadis yang terkulai itu.

Tidak ada respon. Ishida yang memangku Inoue mengangguk. Ia membiarkan lengannya di pegang oleh temannya itu. Juga, gadis itu menyembunyikan wajah di dadanya.

Tanpa ragu, atau memang karena dituntut untuk tidak ragu, Hitsugaya dengan tangkas merobek bekas luka itu. Rukia tak sanggup menatap darah yang mengalir deras bersama teriakan teredam temannya itu. Juga, tak sanggup menatap mereka saat tak ada yang mereka lakukan ketika darah itu mengalir.

Rasa sakit yang menembus hingga sumsum tulangnya itu membuat Inoue menggigit haori yang dikenakan Ishida, tangan kanannya yang mencengkeram lengan Ishida seakan membuat tulang remaja kurus itu seperti remuk.

"La-Lakukan sesuatu, Matsumoto-san!" pinta Rukia panik melihat mereka hanya menatap darah segar yang mengalir dari Inoue itu.

Matsumoto tidak berkata apa-apa. Hanya menatap Rukia dengan senyum tipis. Karena memang tujuan meraka adalah mengalirkan racun yang ada di bekas luka itu, dan satu-satunya cara hanya dengan membuat darah di sekitar luka itu mengalir keluar.

"Inoue-san, Inoue-san, kau bisa mendengarku? Inoue-san?" Ishida mencoba mengalihkan pikiran gadis itu dari rasa sakitnya. Hanya saja, Inoue tetap memejamkan mata, menggigit haori Ishida sekeras yang ia bisa untuk meredam teriakannya.

Ichigo mengambil bekas robekan haori hitam temannya itu, mengikatnya dengan erat di atas bekas luka Inoue. Menghentikan dengan paksa aliran darah yang mengaliri lengannya.

Lengan Inoue yang memang sudah pucat kini membiru akibat kekurangan pasokan darah, tapi hanya itu satu-satunya cara agar racun dari bekas luka yang ada ditubuhnya tidak mengalir semakin lebar bersama aliran darah.

"Inoue-san, bisakah kamu berkonsentrasi untuk menyembuhkan lukamu? Seperti yang di ajarkan Yoruichi-san padamu? Inoue-san?" Ishida masih terus mencoba mengajak gadis itu bicara,

"Sudahlah Ishida-kun, dia tidak akan bisa melakukannya saat ini!" Rangiku Matsumoto

"Kita juga harus melanjutkan perjalanan agar segera sampai, nanti, Kyoraku-san akan bisa menangani hal seperti ini!" wanita berambut pirang itu mulai mengemasi pedangnya dan bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan.

"Bisakah kalian berdua bergantian menggendongnya?" lanjut wanita paruh baya itu sambil menatap Ichigo dan Ishida. Kedua remaja yang ditatap itu mengangguk yakin.

Kali ini, meski tubuh rampingnya dibebani oleh berat tubuh Inoue, Ishida tetap mencoba berjalan dengan tegak. Ichigo menatap kedua temannya itu.

Mereka melanjutkan perjalanan meski dengan langkah yang begitu lambat mengingat ada satu dari mereka yang terluka.

Lengan kiri Inoue tergantung lemah di samping kepala Ishida. Matsumoto yang menjadi pemandu jalan kali ini, diikuti Ishida yang menggendong Inoue dan kemudian Ichigo. Hitsugaya berjalan paling belakang, sementara itu Rukia yang berjalan di depannya sesekali berhenti, menarik napas panjang sambil menyembunyikan wajahnya di balik poni rambut hitamnya. Ia miris menatap Inoue yang masih dalam keadaan kesakitan.

"Dia tidak apa-apa..." gumam Hitsugaya lirih, sekedar gadis mungil di depannya itu saja yang mendengar.

"Ta-tapi, kenapa baru sekarang, kalau memang ia menerimanya tadi pagi?"

Hitsugaya mengangkat bahunya sedikit.

"Entahlah, hanya saja—sudahlah, jangan khawatirkan itu."

Rukia mendadak menghentikan langkahnya, berbalik menatap Hitsugaya dengan tajam.

"Kau—kau pikir... dia, dia temanku dan aku yang membawanya ke dunia—"

Hitsugaya membalas tatapan Rukia dengan mata dingin,

"Bisakah kau diam dulu? Kemarahanmu tidak akan membuatnya baik-baik saja!"

Kedua remaja itu masih saling menatap, Rukia dengan tatapan tajamnya dan Hitsugaya dengan mata dinginnya yang membekukan.

"Oi kalian berdua, bisakah percepat langkah?" Ichigo yang sudah agak jauh di depan mereka menyempatkan berhenti dan menunggu dua orang rekannya yang justru berhenti di jalan itu.

Rukia menundukkan wajahnya, berbalik dan kembali melangkah. Hitsugaya mengikuti dengan diam di belakangnya.

Tch, dasar anak-anak! Pikir Hitsugaya dalam diamnya. Ia yang tak pernah memiliki orang tua sejak lahir tak pernah tahu rasanya bermanja dan menjadi anak-anak. Ia dipaksa oleh keadaan untuk tumbuh dewasa secara mendadak. Dipaksa oleh takdir untuk mengemban tanggung jawab yang mungkin belum saatnya. Persetan dengan semua omong kosong menikmati masa remaja yang menyenangkan, semua itu tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Karenanya, ia tak pernah memahami kenapa anak-anak hilang dari dimensi lain ini bersikap terlalu cengeng dan sentimentil.

~*bleach*~

Mentari sudah hampir kembali tenggelam saat rombongan ekspedisi itu sampai di sebuah tempat mirip gua dengan pintu kayu tebal. Bagian depan gua itu tak terawat, rumput-rumput tetap tinggi seolah tak pernah terjamah manusia. Ichigo yang mendapat giliran menggendong Inoue meletakkan gadis itu di atas batu datar yang cukup lebar. Cowok orange itu menghela napasnya kelelahan. Tidak hanya Ichigo saja yang merasakan hampir semua energi tubuhnya menipis, semuanya merasakan hal yang sama.

Rukia menyandarkan tubuhnya pada pintu kayu tebal yang menutupi mulut gua itu, tidak berpikir untuk bertanya berada dimana mereka saat ini. Hanya saja, Matsumoto tengah diam memegangi pita suaranya dengan dua jari.

Tak lama kemudian ketika Rukia mendengar langkah kaki pelan dari balik pintu yang menjadi sandarannya. Gadis itu bergegas pergi, siaga seolah ingin menyambar pedang di pinggangnya. Tapi saat pintu terbuka, ada lelaki dengan senyum lebar dan mata menyipit yang segera menyapa mereka

"Araa... ternyata kalian!"

Matsumoto Rangiku menundukkan tubuhnya dengan hormat,

"Kyoraku-san.." sapa wanita itu. Lelaki yang dipanggil Kyoraku itu hanya tertawa kecil, melambaikan tangannya. Menatap Hitsugaya, kemudian beralih pada Rukia yang masih bersikap siaga.

"Selamat datang pangeran, di kediaman kami. Juga, Kuchiki, terimakasih telah kemari!" lelaki dengan haori bermotif bunga itu membungkukkan badannya ke arah Hitsugaya dan Rukia.

"Cukup basa-basinya Kyoraku, bisa kau tangani gadis ini?" Hitsugaya dengan suaranya yang dingin menunjuk Inoue yang tak berdaya dengan tatapan matanya. Kyoraku mengangguk.

"Serahkan pada saya pangeran, anda bisa segera beristirahat!" lelaki itu menghampiri tubuh Inoue, membawanya dengan mudah dan segera masuk ke balik pintu kayu tebal yang menutupi mulut gua itu.

Matsumoto memimpin keempat remaja kelelahan itu untuk masuk ke dalam gua. Pengap, pikir Rukia awalnya saat menatap besarnya mulut gua yang begitu kecil dan berdebu itu.

Tapi, apa yang gadis itu duga salah besar.

Begitu memasuki gua itu, yang mereka temukan adalah ruangan luas dengan dinding-dinding tanah yang seperti lereng pegunungan. Di dalam ruangan itu juga, terbentang tanah luas yang bahkan menurut Rukia seperti halaman yang ada di depan Karakura Mansion. Memang tak ada tumbuhan hidup, hanya kayu-kayu kering yang ada di tempat itu. Di sudut yang jauh dari pintu kayu gua nampak ada rumah kayu yang dibangun dengan detail seperti Mansion Hitsugaya, meski tak sebesar kediaman pangeran berambut perak itu. Mereka berjalan menyusuri tatanan bersih batu-batu mengkilap yang menuntun mereka menuju rumah kayu di sudut paling dalam gua itu.

"Sebenarnya, tempat apa ini, Matsumoto-san?" tanya Ishida sambil mengangkat kacamatanya yang melorot.

"Fu fu fu, kalian tidak akan menduganya kan? Ada ruangan sebesar ini di dalam tanah!"

"Tempat latihan!" sambung Hitsugaya pendek mengetahui wanita berambut blonde itu terlalu senang bermain-main dengan tebakan.

"Tch, anda merusak mood saya pangeran!"

"Bodoh, mana ada yang peduli dengan semua itu!"

Begitu sampai di rumah kayu itu mereka segera masuk, menemukan ruangan luas yang mungkin biasa di gunakan untuk berlatih—melihat banyakanya goresan memanjang di dinding maupun lantai kayunya, dan jelas sekali, itu goresan pedang. Juga tentang tatanan pedang-pedang logam yang rapi di salah satu dindingnya, hampir mirip dengan dojo di kediaman Hitsugaya.

"Uwaaaaahhhhhh, capeknyaaaa...!" Rangiku Matsumoto, wanita itu dengan tanpa basa basi merebahkan tubuhnya di lantai. Membiarkan pedangnya tergeletak begitu saja di sisinya.

Ishida yang memang juga kelelahan pun menjatuhkan tubuhnya di lantai kayu mengkilap itu,

"Chee, kau seperti cewek cengeng Ishida!" CNUTT, remaja berkepala orange itu benar-benar mencari gara-gara.

"Shut up Kurosaki, kau pikir aku tidak tahu dengan gemetarnya lututmu itu?"

Telak, memang, lutut Ichigo terasa cukup terbebani. Yah, bayangkan saja, menempuh perjalanan sejauh itu ditambah dengan beban tubuh orang lain di punggungmu setiap 2 jam tentu saja akan memberikan efek yang melelahkan.

Hitsugaya tidak tergoda untuk tiduran bersantai seperti mereka, ia berjalan menuju ruangan lain dimana Kyoraku baru saja membawa gadis terluka itu masuk untuk ditangani.

Bukannya ia tidak percaya dengan kemampuan lelaki yang sering menjadi lawan latihannya itu, hanya saja ia mau menanyakan sesuatu padanya. Jadi ketika Hitsugaya masuk ruangan itu, Kyoraku mendongakkan wajahnya sesaat dari luka Inoue yang tengah terbalut cahaya kekuningan.

"Nah, apa yang ingin anda tanyakan kali ini, Shiro-chan?" bukan bermaksud membuat remaja perak itu mengamuk, Kyoraku hanya ingin mengingatkannya bahwa ia masih anak-anak. Bahwa mungkin ia masih boleh untuk merasa kesal jika begitu banyak beban ada di pundaknya.

"Gadis itu—"

"Jika yang ingin anda ketahui adalah Rukia Kuchiki, bukankah sebaikanya anda mengajaknya mengobrol mesra sambil berendam di onsen saja, ne pangeran?" kali ini, jelas nada menggoda yang membuat Hitsugaya kesal yang didengarnya.

"Aku tidak tertarik dengan saran hentai-mu itu, beritahukan saja padaku kenapa dia tidak seperti yang aku duga!"

Kyoraku bangkit dari duduknya, menatap Inoue yang tertidur tak sadarkan diri. Ia membuka tempat penyimpanan kecil yang ada di sudut ruang, mengambil sebotol sake dan dua cawan mungil.

"Bisa kita bicara di sambil minum? Saya yakin anda sedang kelelahan."

"Kau pikir minuman macam itu bisa membuatku—"

"Araaa, apa karena anda masih mabuk jika meminumnya?" lagi-lagi ejekan ringan itu terlontar, membuat Hitsugaya menyambar satu cawan mungil itu. Mereka duduk di sebelah futon Inoue yang terlelap, membelakangi gadis itu.

Mereka menuangkan sedikit sake ke cawan masing-masing. Lelaki dengan haori cerah itu langsung menegak isinya dengan anggun. Sementara Hitsugaya hanya menggoyang-goyangkan isi cawan mungilnya. Mungkin ragu apakah harus meminumnya atau tidak. Lagipula, sake bukan sesuatu yang favorit untuknya.

"Saya hanya akan mengulangi apa yang dulu pernah saya sampaikan, bahwa, seperti apapun nanti gadis yang akan kemari itu, ialah yang ditakdirkan untuk anda. Tapi, jangan lupa kalau mereka hidup di dunia yang tidak sama dengan kita pengeran!"

"Tapi, tidakkah kau rasakan juga—"

"Saya mengerti apa yang anda maksudkan. Bagaimanapun, juga tugas anda membuatnya tangguh, bukan? Ia hanya perlu sedikit bantuan anda, dan akan ia temukan sendiri jalan kedepan nantinya."

"Melihatnya terluka saja ia terguncang, lalu?"

"Bukankah itu wajar pangeran, ia merasa yang paling bertanggung jawab akan semua ini!"

"Seharusnya Yamamoto sudah mengajarinya kan?"

"Anda mungkin tidak akan mengerti, tapi nampaknya tidak seperti itu. Mungkin ada alasan kenapa gadis itu tidak seperti yang anda harapkan, dan mungkin juga karena itulah Yamamoto dan Urahara tidak mengajarkannya tentang hal ini!"

"Jadi bagaimana?"

Kyoraku tersenyum mendengar pertanyaan itu.

"Bantu dia untuk menjadi tangguh pangeran! Saya tahu, mungkin hanya anda yang paling sesuai untuk tugas itu!"

Hitsugaya mengangkat cawan mungil itu ke bibirnya, menyesap cairan bening di dalamnya dengan mata terpejam.

"Anak Kurosaki itu, sudahkah dia menemukan pedangnya?"

"Hanya masalah waktu nampaknya, anda tenang saja pengeran..."

Tch, bagaimana mungkin bisa tenang jika ternyata keadaan yang ada seperti ini?

"Ah benar juga, anda harus melihat ini," Kyoraku mengeluarkan lembaran kertas jerami berwarna kuning pucat dari balik haorinya. Melebarkannya di lantai.

Hitsugaya menarik alisnya, menatap heran.

"Bertahun-tahun saya memikirkannya, mungkin di tempat-tempat inilah serpihan Houg yang lain. Sebaiknya perjalanan anda berdasarkan ini, tapi, tidak menutup kemungkinan anda punya pandangan lain tentang hal tersebut."

Hitsugaya menatap lembaran kertas yang nampak seperti peta buta itu,

"Distrik-distrik ini..."

"Ya, ya, saya tahu apa yang anda pikirkan. Semua distrik asing dan jelas sekali bukan tempat aman. Tapi, justru karena itu juga saya bisa menduga," jelas lelaki itu sambil kembali menuangkan sake ke cawan mungilnya.

~*bleach*~

"Begitu..." Toushiro Hitsugaya yang tengah menyandarkan pedangnya di sudut ruang memberikan tanggapan singkat.

"Karena misi ini tidak ada artinya jika tidak anda selesaikan sendiri, bukan begitu Kyoraku-san?"

"Yare~, jangan tanyakan padaku Rangiku!" senyuman kecil itu juga menghiasi wajah lelaki setengah baya tersebut.

"Atau, jangan bilang kalian tengah menyembunyikan sesuatu lagi!" SNAP, dugaan remaja dengan rambut sewarna salju itu sempat membuat kedua orang dewasa yang seruangan dengannya mengedipkan mata kaget dua atau tiga kali.

"Ahahaha, mana mungkin pangeran.."

"Anda terlalu banyak tidak percaya pangeran, ahahaha..."

Kalau kalian kira dengan jawaban setengah grogi itu mampu meyakinkan Hitsugaya, maka kalian salah besar. Ia masuk dalam kategori anak dengan otak jenius, kau tahu?

Tapi, remaja itu tengah tidak ingin mengorek entah rahasia apalagi yang disembuyikan oleh para pengasuhnya itu. Lagipula, apa yang sedang mengganggu pikirannya saat ini adalah tentang misi mereka. Dan, yang membuatnya cukup kesal saat ini adalah saat pengasuh yang merawatnya sejak bayi tiba-tiba mengatakan mengundurkan diri dari perjalanan mereka. Bukan dalam arti bahwa ia dibiarkan sendiri menyelesaikan misinya, hanya saja, wanita dengan rambut pirang itu mengaku akan tinggal di kediaman Kyoraku-san untuk hari-hari kedepan, jadi itu artinya ia tak akan menyertai misinya kali ini. Dan, tentu saja hal ini membuat remaja dengan mata hijau emeralad itu mempertanyakan alasan yang melatarbelakanginya. Tentu saja, kalau orang yang tak pernah meninggalkan punggungnya selama lebih dari 15 tahun ini tiba-tiba mengaku tidak bisa lagi meneruskan tugasnya, tentu hal itu kan membuatmu bertanya juga, bukan?

"Jadi, oyasumi taichou!" yah, begitulah. Rangiku dengan sigap meninggalkan ruangan tempat Hitsugaya akan merebahkan tubuhnya itu. Jangan tanyakan tentang Kyoraku, sebab lelaki dewasa itu sudah menghilang tanpa kata sejak jawaban tak meyakinkannya beberapa saat yang lalu.

Hitsugaya menggantungkan haori putih tebalnya di ujung ruangan. Ia menarik futon yang tergulung dan melebarkannya. Kelelahan tubuhnya akibat perjalanan jauh mereka kali ini membuatnya ingin sesegera mungkin terlelap.

Tapi, suara tapakan kaki ringan yang ada di koridor rumah itu membuatnya kembali duduk, juga siluet gadis mungil yang tertangkap pandangan matanya membuat remaja itu justru kehilangan semua kantuk yang menyerang.

Ia mebiarkan futonnya dingin di tengah ruangan dan melangkahkan kakinya menuju pintu geser ruangan luas itu, juga, tangan kirinya yang sigap menarik pedangnya dari sudut ruang.

Ketika ia sampai di bagian luar bangunan kayu tempat mereka semua berniat menghabiskan malam—yang tak ada bedanya siang atau malam di gua itu, sebab suasana yang ada selalu temaram seolah waktu tak beranjak dari menjelang pagi, menemukan gadis dengan rambut hitam keunguan yang tengah berdiri, dengan pedang putih ramping di tangannya. Gadis itu hanya menatap pedangnya dengan mata sayu, pita putih yang menjadi hiasan di pangkal pedangnya bergerak-gerak karena mungkin tangan gemetarnya tak bisa menstabilkan pedang ramping itu dalam genggamannya.

"Jadi, tak bisa tidur?"

Suara Hitsugaya yang menghampiri membuat gadis mungil itu tersentak.

"Ah, tidak, hanya..."

"Mau mencoba pedangmu?" tanya Hitsugaya sambil mendekat pada Rukia. Berdiri di hadapannya.

"Maaf?" dengan sedikit menelengkan kepalanya, gadis itu bertanya heran.

"Maksudku, mau mencoba menebas dengan pedang cantikmu itu?" yah, remaja dengan rambut sewarna salju itu hanya ingin membantu. Meski ia menawarkan bantuannya sambil membuang pandangan. Blushing?

Rukia menatap pedangnya, kemudian pada remaja yang menatapnya dengan mata tajam hijau emerald yang ada di hadapannya.

"Aku—"

Kata-kata Rukia terputus karena Hitsugaya yang sudah menarik Hyourinmaru dari sarungnya kini menodongkan pedang tajam itu di wajah Rukia.

Apa dia gila? Pikir Rukia terbelalak.

"Angkat pedangmu!" itu bukan perintah, bukan permintaan. Lebih seperti ancaman bagi Rukia. Oh, bayangkan saja ada seseorang yang menodongkan pedang tajam di wajahmu dan berkata dengan nada dingin. Tentu terdengar seperti ancaman.

Jadi, setelah menarik napas sejenak, gadis itu mengangkat pedang putihnya. Yang kemudian memunculkan segaris senyuman di wajah remaja berambut putih yang mengancamnya itu.

Tanpa bicara lagi, Rukia mengambil jarak beberapa langkah, hanya untuk kemudian berlari dengan strateginya menyerang Hitsugaya Toushiro.

Suara tumbukan logam yang melengking di malam itu menimbulkan rona kelegaan di wajah sang pengasuh yang tengah menyalakan lilin di ruangannya. Juga tawa kecil tertahan dari lelaki yang kini menikmati sakenya di bawah sinar bulan temaram di luar gua.

"Please, tengah malam seperti ini dan anak nakal itu mencari masalah!" Ichigo berguling di atas futonnya. Menutupi telinganya dengan lengan. Berisik, batinnya mendengar suara penuh urgensi di luar dinding kayu ruang yang ia tempati.

"Bilang saja kau cemburu, Kurosaki!"

"Shut up, aku hanya butuh tidur!"

"Oh, benar sekali, meskipun setengah jam terakhir ini kulihat matamu terbuka lebar!" sinis, kebenaran yang terungkap itu.

"Ishida?"

"Hm?"

"Kau mau kubunuh?"

~*bleach*~

Suasana dingin dan sunyi pagi itu di sekitar distrik ke 27 dimensi 1 tercabik oleh para remaja yang terburu melangkahkan kaki-kaki mereka, kanan di depan kiri. Selalu, bergantian. Mereka berlari menyusuri pinggir sungai kecil yang mengalir deras. Tidak pernah menolehkan lagi kepala mereka. Sebisa mungkin kelima remaja itu berharap telah menempuh jarak sejauh yang memungkinkan untuk kaki lelah mereka.

Tak lama setelah mereka bangun pagi tadi ketika Kyoraku-san menyuruh berkemas dan meninggalkan gua temaram itu.

Hanya ada satu hal yang bisa menjelaskan mengapa para dewasa itu menyuruh dengan wajah panik yang dipaksa untuk nampak tenang.

Orang-orang yang mengejar mereka mungkin telah tahu keberadaan rombongan kecil para remaja itu di tempat yang bagi mereka cukup aman.

Hitsugaya Toushiro, yang berjalan paling depan memegang pedangnya erat. Sesekali ia harus menyabetkan pedang rampingnya itu untuk membuka jalan. Yah, bagaimanapun pinggir sungai bukan jalan rata tanpa hambatan. Semak-semak tinggi dengan daun kaku menghalangi langkah mereka.

"Bisakah kita hah, hah, berjalan lebih hah, pelan, hah.. Hitsugaya-kun?"

Lagi-lagi Inoue yang lengannya baru saja pulih—jangan heran kenapa luka separah itu sembuh dalam semalam, kalau Shunshui Kyoraku yang kau bicarakan, ia selalu punya banyak cara untuk semua masalah— meminta karena ia merasa jantungnya mau meledak, err, itulah efek kalau kau berlari hampir satu jam tanpa berhenti.

Mereka mulai melambatkan langkah.

"Really, tidak bisakah kita berjalan dengan normal?" Rukia. Ia tahu, Inoue tidak pernah menjadi siswa dengan kesehatan yang bagus selama mereka menjalani sekolah menengah di Karakura High. Hitsugaya Toushiro hanya memberinya tatapan pendek. Tidak menjawab, tapi akhirnya mereka hanya berjalan. Tidak lagi berlari seperti mengejar setan yang baru saja membunuh keluargamu.

Tak ada lagi percakapan di antara mereka, kecuali hanya Rukia yang sesekali menanyakan keadaan pada teman berambut cokelatnya itu.

"Mungkin kita bisa mencari sesuatu untuk dimakan? Ayolah, kita melewatkan sarapan pagi ini..." yah, kita tahu, gerutuan siapa yang nampak kesal itu. Benar, Kurosaki Ichigo.

"Tidak. Kita akan berhenti nanti di distrik 28. Bukan saat yang tepat!"

"Apa? Guys, bukankah kalian lapar? Kelinci bakar mungkin membantu,"

Jernihnya air sungai yang mengalir deras itu tentu saja tidak mengurangi rasa lapar. Kau tahu lah, seperti apa perihnya melewatkan sarapan, padahal 2 hari lalu juga mereka tidak mendapat sarapan layak, makan siang atau pun dinner yang bagus.

"Tch," Ichigo mendesah kesal melihat protesnya tidak ditanggapi serius.

Ia yang berjalan paling belakang sesekali menggaruk kepala orangenya itu. Yah, memang bukan ia yang menjadi pemimpin perjalanan. Jadi, semua keputusan ada di tangan cowok pendek itu kan?

"Oi Rukia,"

Cewek dengan rambut hitam keunguan itu menolehkan kepalanya sedikit.

"Kau punya sesuatu untuk dimakan?"

"Ck, kau pikir kita piknik?"

"Ayolaah, aku lapar!"

"Deal with it!"

"Ayolaah Rukia, bukankah menyenangkan bisa makan kelinci bakar?" ups, seharusnya Ichigo ingat kecintaan gadis itu akan kelinci. Tapi,

"Ya, dan kemudian aku akan membunuhmu!"

Lagipula, memangnya di dimensi ini akan ada kelinci?

~*bleach*~

Pemuda-pemuda dengan jubah putih itu tengah berjongkok di pinggir sebuah sungai. Satu dari mereka yang bermata biru dengan rambut serupa mengamati jejak kaki samar yang ada di sepanjang jalan itu.

"Bagaimana, Grimm?" tanya partner dengan mata hijau tua yang memiliki corak kehitaman yang berdiri di sampingnya.

Grimmjow, pemuda dengan rambut biru itu itu tersenyum menyeringai.

"Dekat, mereka dekat!"

Tanpa ada kata lagi, kedua orang itu segera berlari, dengan kecepatan serupa shunpo menuju arah matahari terbit. Mengikuti bau orang yang mereka cari. Lebih tepatnya, mengikuti reiatsu samar yang tertinggal di semak-semak yang ada di sekitar sungai berarus deras tersebut. Menuju mangsa mereka.

~*bleach*~

To be Continued on chappie 11

Nah, mind to review?

Saia menunggu kritikannya, minna ^^