Chapter 10


Notes:

Cetak miring - Dialog/cerita masa lalu

Cetak biasa - Dialog /narasi masa kini


Kuil Heiwa, Miyagi, Prefektur Sendai – 10 tahun yang lalu

Tempat masuk kuil itu berlalu lalang dengan orang yang berusaha memadamkan kebakaran. Asap mengepul, api menjalar dengan ganas di ruang masuk kuil itu. Tetua biksu Akabane lebih panik lagi ketika pajangan kain sutra bertoreh Sepuluh Mutiara Kehidupan itu, tersulut api. Sementara dua anak kecil menyembunyikan diri di atas atap kuil itu, dikelilingi debu, dan diliputi sedikit asap. Akabane cilik terbatuk-batuk dengan ringan, tapi matanya berbinar-binar.

"Sumon...?" anak kecil berambut merah itu menengadah dengan bingung.

Anak botak berumur delapan itu menepuk-nepuk kepalanya dengan lembut. Sekilas ia terlihat seperti tersenyum, mata emasnya tampak menenangkan.

"Tenang saja semua akan baik-baik saja. Kita akan keluar waktu kakek sudah tidak marah." anak itu menghapus debu di atas kepala Akabane cilik.

"Gawatnya kamu membakar sepuluh mutiara kehidupan Karma-kun…" ia menghela napas. "Ke-Kebakaran…" anak kecil itu menundukkan kepalanya.

"Kamu ketakutan, Karma..? ia bertanya, anak itu menggelengkan kepala.

"Sepuluh..." Akabane cilik menghisap jarinya. "Ada apa Karma-kun,,?" murid botak itu menepuk-nepuk kepalanya.

"Sepuluh Abu Kehidupan...?" anak itu bertanya dengan polos.

Bocah itu mengedip satu dua kali, tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Seumur hidupnya, murid biksu itu tidak pernah mendengar apapun yang lebih absurd, terutama dari seorang balita berumur tiga. Ia lalu tertawa terbahak-bahak, memegang perutnya. Sungguh absurd. Untuknya, Akabane cilik itu terlalu menarik untuk ditinggalkan sendiri.

"Astaga, kamu memang setan kecil." biksu muda itu menepuk-nepuk kepala teman kecilnya dengan senyum yang geli. Ia lalu memiringkan kepalanya, berkontemplasi.

"Semoga patung kuilnya tidak terbakar ya.." gumamnya.

Demikian keduanya itu akhirnya ditemukan di atap tersebut oleh seorang bhiksuni yang sangat dongkol, tentunya setelah semua keributan dan api itu sudah dipadamkan. Seorang biksu berjenggot menghampiri keduanya, wajahnya sedikit abu-abu dari asap kebakaran –tidak lain dari kakek dari Akabane Karma. Bukannya terlihat marah, ia masih dengan penuh wibawa mempertahankan emosinya.

"Sumon." Ia memanggil remaja yang mendekap seorang anak kecil di sampingnya.

"Ya, guru?" ia menghampiri tetua itu.

"Tolong bawa Karma-kun kembali ke kamarnya."

Remaja berambut merah itu tiba-tiba bergelak tawa, lalu menyilangkan kakinya di atas meja kafe itu. Beberapa kenangan yang diingatnya cukup singkat, tetapi yang paling ia ingat adalah serentetan keonarannya. Anak direktur di depannya cuma mengetuk jarinya di atas meja dengan tidak sabar.

"Lalu...?" dengusnya.

"Aku tidak ingat banyak Asano-chan, aku masih cukup muda waktu itu. Yang kuingat adalah aku bertemu dia pertama kali di sebuah kuil saat berumur tiga." ujar Karma.

"Memangnya kenapa kenapa kamu dititipkan ke kuil..?" tanya remaja berambut jingga itu, nadanya sedikit gusar dipanggil "chan." Karma cuma menengadah, beberapa hal kembali mengambang pada ingatannya. Dimana ia bersama bajingan itu sempat berteman baik dan berlatih bersama.

"Hyahhh!" Akabane cilik melepaskan tendangan, hampir mengenai tempurung lutut biksu kecil di depannya. Pembuat onar mini itu memang sangat hiperaktif.

"Karma-kun jago ya.." anak berambut jelaga di memorinya itu memujinya, menghindar dengan kewalahan.

"Lawan aku Sumon!" bocah itu mengayun-ayun tongkatnya ala shaolin. Murid biksu itu menggelengkan kepala. "Tidak boleh, kakekmu bisa marah."

"Tapi aku pasti bisa menang..!" bocah cilik berambut merah itu mengayun-ayun tongkatnya lagi. Dalam ingatan Karma, ia pun ia sebetulnya cukup kuat untuk usianya. Lalu, murid biksu di ingatannya itu menatapnya, sebuah tatapan yang sebetulnya bermaksud lain.

"Hei, Karma-kun." panggilnya.

"Ya..?" anak kecil itu sibuk memutar-mutar tongkatnya.

"Kamu mau main pisau-pisauan saja mau tidak?" murid biksu itu bertanya.

"Pisau-pisauan?" Akabane cilik menghentikan gerakannya.

Sebetulnya menjadi sebuah misteri kenapa Sumon dapat menguasai cara melempar pisau, darimana dan dari siapa pula. Anak itu seperti menyembunyikan sesuatu yang berbahaya di balik sifat-sifat aslinya yang dapat berubah drastis; dari seorang anak bodoh ke anak kuil teladan. Setelah dipikir-pikir, Karma pun merasa itu merupakan sebuah keanehan yang janggal.

"Ya, dia mengajariku cara melempar pisau." timpal Karma, menyeruput tehnya.

Karma lalu teringat bagaimana ia belajar cara menggunakan pisau sebagai senjata andalan, tersembunyi dari siapapun di atap kuil itu, ketika ia masih berumur sekitar empat. Karma hanya geli teringat bahwa ia sudah belajar sesuatu yang cukup berbahaya untuk usianya, ironisnya diajari oleh seorang murid kakeknya yang seharusnya seorang biksu yang memproklamasikan semacam pesan kedamaian. Begitu ironis pula nama kuil itu adalah Heiwa, pikir Karma.

"Lemparanku dulu masih cukup payah." Karma mengingat bentuk tangannya yang masih bulat kecil itu, imut nan lucu berumur empat.

Mantan ketua osis itu menggeleng kepala mendengarnya, tetapi lebih heran dengan keanehan pada biksu kecil di cerita Karma tadi itu.

"Kenapa dia bisa-bisanya mengajari kamu cara bermain pisau..?" tanya Gakushuu.

"Aku tidak tahu, dia entah kenapa lebih tahu dari anak seumurnya, terlebih hal-hal yang berbahaya." jawab Karma dengan datar.

"Tapi bukannya dia biksu kuil...?" terlebih remaja berambut jingga itu tidak mengerti bagaimana seorang murid kuil bisa berakhir seorang yankee, apalagi sampai tahu cara menancap dan melempar pisau segala. Ada yang tidak masuk akal dari semua itu.

"Setelah kupikir-pikir, ia mungkin berpura-pura sebagai biksu teladan. Tapi, sebetulnya dia itu setan berkulit manusia..." Karma mengepalkan tangannya. Gakushuu cuma memperhatikannya sambil menyeruput minuman, menikmati betapa ironisnya seorang Karma memanggil orang lain setan. Seribu pertanyaan masih bersarang di benak Gakushuu, terutama tentang yankee dan biksu di ceritanya itu, sampai pembuat onar berambut merah itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

"Kenapa..?" Asano menatapnya seperti ia sudah sinting.

"Aku jadi teringat sesuatu yang menggelikan." Karma mengusap bibirnya.

"Tolong jangan bertele-tele." remaja berambut jingga itu mengetuk jarinya dengan tidak sabar. Melihat wajahnya yang sedikit frustasi itu membuat Karma sedikit senang.

"Kalau aku beritahu ini, kamu pasti akan mengerti sifat asli orang itu.." ujar Karma, membuat orang di depannya itu menangkat alis dengan penasaran.

"Dia itu orangnya licik seperti ular beludak."

Sebuah hari di kenangannya yang masih lama, Karma teringat masa-masa keonarannya yang masih polos. Bocah berumur tiga atau empat, masih sangat mempercayai dunia dan umat manusia. Bila ia pikir-pikir kembali, ia masih cukup polos untuk mempercayai perkataan orang, tidak seperti dirinya sekarang yang kalkulatif terhadap segala hal. Bisa dibilang, ia sudah tumbuh menjadi orang yang cukup sinis terhadap segala hal.

"Kamu masih kecil sudah bisa meminum kopi, Karma-kun..?" tanya remaja biksu kecil yang kebetulan juga pecinta kopi. Akabane cilik sedang terlihat menyeruput segelas kecil kafein pekat, tentunya setelah dicampur dengan empat sendok makan gula.

"Rasanya enak..." anak kecil itu terus meminumnya dengan nikmat.

"Aku jadi merasa hebat!" oh, betapa ia masih polos saat itu.

"Tahukah Karma, apa kopi paling enak di dunia...?" tanya biksu kecil itu, mata emasnya mengkilat penuh arti. "Apa..?" Akabane cilik menengadahkan kepalanya.

"Yang berada di guci-guci tempat masuk kuil." ujar biksu murid itu dengan wajah yang datar. Karma tidak ingat persis apakah ia sedang bercanda atau serius, tetapi jelas perkataanya itu membawakan musibah kecil ke kuil itu. Akabane cilik seperti yang ia ingat, masih sangat mempercayai umat manusia.

"Kau tahu apa yang terjadi berikutnya..?" ujar Karma sambil mengangkat alisnya, membuat Gakushuu mulai merasa tidak enak.

Karma malah geli mengingat bahwa waktu itu, ia benar-benar mengambil perkataan murid biksu itu. Alhasil ia mencampur abu guci kuil itu dengan persediaan kopi di dapur kuil. Begitu polosnya ia bermain barista cilik, mengira abu kremasi itu cuma kopi yang salah tempatnya.

"AJAHN CAI!" tetua biksu Akabane lari terpontang-panting, ia dapat mengingat muka kakeknya yang pucat, tergopoh-gopoh menghampiri dapur dimana seorang biksu tidak tahu bencana apa yang baru ia sajikan. "Kenapa kopinya terasa seperti abu kremasi...?" mukanya pucat seperti orang mati. Terlebih ketika ia melihat seorang Akabane cilik, duduk di ujung dapur itu sambil bermain-main dengan sekantong linen yang ia duga sebagai –abu kremasi.

"KARMA...!" demikian tetua biksu itu merasa terkena serangan jantung.

Ya, di tangan setan cilik itu, ia memegang kantung sutra emas dari guci kuil. Ketika tetua itu menghampiri anak itu, menimbang-nimbang kantung itu di tangannya, ia langsung pingsan terjungkal ke belakang -abu kremasinya sudah ludes setengah.

"K-Karma-" dan kakek itu baru sadar jantungnya tidak kuat dengan semua ini, apalagi ia baru saja meneguk secangkir kopi dengan abu kremasi. Untungnya, para keluarga dari yang bersedih itu, tidak sadar akan bahan rahasia dari kopi yang rasanya aneh itu. Ini sempat membuat Karma bertanya-tanya ketika ia sudah lebih tua, kenapa kakeknya itu bisa mengenal rasanya abu kremasi.

"Oh." begitu Akabane Karma teringat.

Hadiah natalnya tahun lalu itu, tidak lain dari suplemen tulang kuda pulau Jeju dari negeri ginseng. Persis malahan, rasanya sama dengan "bahan rahasia" di kopi itu. Karma memegang perutnya dengan geli sekaligus sedikit jijik. Kopi kalsium, begitu batinnya.

"Astaga, kamu benar-benar menaruh kopi itu Karma..?" Gakushuu cuma bisa menggeleng kepalanya dengan tidak percaya. Dan saat itu juga, dia percaya bahwa makhluk yang duduk bersamanya di kafe itu memang jelmaan setan. Dalam sisa hidup seorang Asano Gakushuu, ia tidak akan pernah melihat secangkir kopi dalam cara yang sama lagi. Ia akan selalu teringat akan abu kremasi, Akabane Karma, dan suplemen tulang. Terima kasih, dasar bajingan.

"Aku melarang kamu datang ke acara kremasiku..." anak direktur itu bergidik dengan ngeri, membayangkan tungku abunya sendiri diseduh dalam secangkir espresso macchiato.

"Ya, itu kopi paling tidak enak yang pernah kucoba dalam seumur hidupku." Karma cuma memegang perutnya, menahan tawa. Anak direktur itu hanya menggeleng-geleng kepala melihat tingkah lakunya itu.

"Rasanya seperti suplemen tulang kuda."

Gakushuu tidak bisa berkomentar apa-apa. Sementara Karma menganggap reaksi di wajahnya itu sangat menggelikan, membuatnya teringat akan perkataan-perkataan kakeknya.

"Apakah anak ini dikirim ke aku untuk kesalahan-kesalahan ku di hidup yang lama." kakek itu mengusapi dadanya. "Amitabha."

Akabane cilik memandang kakeknya dengan ketidakberdosaan yang imut, bulat sempurna. Mulutnya mengunyah pucuk bambu, di sampingnya biksu muda temannya itu yang menepuk-nepuk kepalanya.

"Amitabah..." anak kecil itu melanturkannya dengan ngawur, membuat biksu muda di sebelahnya hampir mati menahan tawa.

"Iya Karma.. Kakek harus amitabah sama kamu."

Ia ingat bahwa kakek itu sepertinya memutuskan untuk membhiksukannya untuk kebaikannya sendiri, memperbanyak bacaan paritta, mumpung orangtuanya belum balik. Setelah dipikir-pikir oleh Karma yang kini, ia memang membuat banyak kekacauan tanpa ia sadari. Ya entah itu membuat kaligrafi di dinding, menakut-nakuti bangau di kolam kuil, sampai memelihara kodok yang berada di kolam lotus.

Kenangan yang paling ia sukai dari kuil itu adalah tamannya yang luas, lalu memperhatikan para biksu berlatih shaolin di taman yang luas itu.

"Oh jadi itu dimana kamu belajar untuk membanting orang, pantas saja." Gakushuu menginterupsi dengan kesal, mengingat dendamnya kepada bajunya; kotor saat ia dibanting Karma ke tanah berlumpur di taman sekolah Kunigaoka. Dan itu baju cadangannya, pula.

"Ya, itu cuma sebentar saja kok. Aku lebih mahir memakai pisau." Karma menyeruput teh panasnya itu, membuatnya teringat dengan rasa nostalgia yang tidak kentara itu -mirip sekali dengan seduhan chai di kuil itu. Anak direktur itu mengernyit tidak suka, mengingat Karma pernah benar-benar hampir membunuhnya dengan sebuah silet sebelum ia diturunkan ke kelas E. Kalau bukan manusia serbabisa Asano Gakushuu lawannya, pasti Karma sudah menewaskan seseorang pada hari itu.

"Aku dulu berteman baik dengannya, ya, sebagian besar dari onar itu gara-gara kelicikannya, sih. Tanpa sadar, ia membuatku melakukan segala keonaran itu yang bisa kubilang, hanya demi memancing reaksi kakek." Karma menyapu rambutnya ke samping, lalu menyeruput minumannya lagi.

"Ya, itu masuk akal. Dan kamu cukup bodoh untuk mengikutinya." sindir Gakushuu.

"Berisik. Aku masih kecil, bodoh."

Orangtuanya saat itu, mengangkut Akabane cilik kembali saat ia berumur empat, setelah mereka menyelesaikan tur mereka mengelilingi mengingat bahwa sepanjang masa kecilnya, sebenarnya ia merasa cukup kesepian, walau ia tidak akan pernah mengakuinya. Mungkin ia sering berbuat onar untuk mencari perhatian, tetapi dalam satu sisi, ia menganggap dirinya sekadar lebih brilian, kreatif dari anak-anak biasa. Deviasi strategis, begitu menurutnya.

"Terima kasih sudah menjaga Karma selama setahun." nona Akabane memeluk tetua biksu itu, terlalu bahagia melepas anak asuh sementaranya itu.

"Sumon, selamat tinggal.." Karma mengingat bahwa ia sebetulnya cukup terpukul ketika berpisah dengan biksu muda itu. Perpisahan adalah selalu, menjadi hal menyakitkan untuknya, walau ia tidak akan mengakui.

Ia tidak terlalu ingat apa-apa dari hari itu, selain dari sebuah hadiah perpisahan dari teman barunya itu. Sebuah papan kaligrafi yang ditulis tangan oleh biksu muda itu, bertulis Akabane Karma, terukir pula hewan zodiac kelahirannya, lengkap dengan stempel kuil. Papan beremblem naga itu masih terkubur di antah berantah gudang rumahnya, mengingatnya membuat Karma ingin membakar papan itu sampai hangus.

"Lalu aku bertemu kembali dengan bajingan itu saat aku lima SD." Karma mendesis tidak suka, terbawa beberapa hal yang tidak ingin ia ingat lagi.

Akabane cilik itu pun bertumbuh menjadi seorang anak kecil yang tidak hanya dipuji sebagai jenius, terutama matematis, tetapi juga mencolok karena suka berbuat onar. Tanpa siapapun, ia seringkali di rumah sendiri tanpa orang tuanya yang tak kunjung berhenti berkeliling dunia. Pekerjaan rumah paling sesekali dibereskan seorang pembantu pulang-pergi, berhubung orangtuanya cukup berada. Bila ia mengingat-ingat lagi; sebetulnya untuk seorang anak berumur sepuluh tahun, ia sudah sangat mandiri -atau malangnya, sangat kesepian.

"Sebelum di Kunigaoka, aku masih bersekolah di Yokohama. Dan disanalah aku bertemu dengannya.." Karma mengusap tengkuknya.

"Bajingan itu ternyata sudah SMP 3 seperti kita sekarang. Dan bajingan itu bukan biksu kuil yang cinta damai lagi." Karma menyeruput tehnya dengan perlahan. Anak direktur itu memesan re-fill, lalu mencerna semua itu. Mendengar masa kecilnya sejauh ini, Gakushuu cuma bisa membayangkan versi kecil dari setan itu pasti jauh lebih atau setidaknya, sama menjengkelkannya.

"Dan demi apa, ia sudah menjadi seorang yankee." timpal Karma.

Akabane cilik itu tidak hanya terkenal di sekolahnya sebagai murid yang brilian, tetapi juga sangat amat jahil. Hobinya untuk membolos itu mungkin dikarenakan hampir tidak adanya pengawasan orang tua. Tetapi di lain sisi,ia juga sangat membanggakan kemampuannya untuk mendapatkan nilai yang membanggakan, apalagi tanpa usaha yang berarti. Orangtuanya tidak perlu khawatir untuknya, sebaliknya ia juga berusaha untuk tidak berkata apa-apa tentang itu.

Dan hari itu, tidak lain dari suatu hari biasa dimana ia berjalan pulang sendiri; tasnya ringan tanpa satu buku pun, sorot matanya bosan setengah mati. Sebuah hari dimana ia sekali lagi kalah melawan kebosanan. Setiap hari baginya adalah perlawanan dengan kesepian, otoritas, dan kebosanan. Tetapi hari itu berbeda -hari itu ia menang telak.

"Yo, Karma." Sebuah suara yang familier, menyambutnya. Seorang remaja berambut jelaga, mata emas yang mengkilat tipis, rambutnya bebas diterpa angin, tengah bersandar pada sebuah tiang listrik.

"Kamu ingat aku, Karma..?" remaja itu berpakaian gakuran hitam bertanya padanya. Anak kecil itu mengenal seragam itu -

-gakuran sekolah negeri.

Bocah berambut merah itu mengedip matanya, lalu mengusapnya lagi. Sudah begitu berbeda dari yang ia ingat, biksu kecil itu sudah menjadi seorang remaja berambut panjang. Terlebih tatapannya sudah berbeda, tetapi wajah itu tidak akan pernah ia lupakan. Pertemuan kembali yang sebetulnya dari segala probabilitasnya, sangat tidak mungkin.

"Sumon..?"

Remaja berambut jelaga itu pun tersenyum, ternyata Akabane cilik itu masih mengingatnya. Demikian pertemuan kembalinya dengan biksu kecil itu yang ternyata sudah menjadi seorang yankee berandal.

"Aku kangen, Karma-kun."

Tidak disangka bahwa seniornya itu juga merupakan murid yang teladan, sangat mahir secara akademis, bila tidak disisipkan beberapa catatan tambahan karena kekerasan, merokok, dan perkelahian geng. Bocah berambut merah yang masih lima SD itu, tidak menduga perubahan yang drastis itu. Apalagi ia bekas seorang murid biksu kuil. Sumon Eikichii, aa bukan orang yang sama lagi.

"Itu aneh, bukannya dia itu dulu murid biksu..?" Gakushuu menginterupsi.

"Iya, mantan biksu." ujar Karma. "Dia kabur dari kuil kakekku di Miyagi, lalu minggat ke rumah pamannya di Yokohama, tempat dimana aku kebetulan tinggal. Dan ternyata kita satu sekolah negeri." Karma menjelaskan. Ia mengangkat pipa antik yang terletak di atas meja itu, lalu memain-mainkannya.

"Ia kabur dari kuil itu dengan beberapa warisan simpanan kakekku." ujar Karma.

Sumon Eikichii yang dulu dikenalnya sebagai anak yang botak, bertatapan lembut,, puitis, dan patuh pada tetua itu sudah berubah menjadi seseorang yang tidak Karma kenal; berambut panjang disapu ke belakang, mata emasnya lancip penuh akal, dan kerap suka berbuat onar. Pada umur lima belas tahun, dia sudah menjadi pemimpin geng yankee lokal yang jujur saja cukup mengerikan atau mengagumkan untuk usianya. Pemberontak yang pintar seperti dirinya, begitu Akabane cilik dulu berpikir.

"Kamu mau ikut dengan gengku, Karma-kun..?" begitu tawar remaja SMP tiga itu, yang tentu saja dianggap Akabane cilik sebagai tawaran seru dari seorang teman yang lama. Satu lagi usaha untuk melawan kebosanan, demikian ia beralasan.

"Boleh saja." Akabane cilik mengangguk setuju, belum sadar apa yang sebetulnya akan menimpanya.

Karma walau masih kecil, selalu terlihat bersama Sumon dalam berbagai petualangan berbahayanya; entah itu perkelahian geng, vandalisme, sampai membolos kelas. Dari melempar pisau, mempelajari trik-trik jahil, dan bahkan memasuki properti yang terlarang –Karma benar-benar diajari untuk menjadi seorang berandal. Selalu berada di sisi yankee itu, mengikutinya. Tapi ia mengikuti, bukan dalam arti seseorang yang membutuhkan perlindungan orang yang lebih kuat. Ia jauh lebih dari itu.

"Aku merasa saat itu, bahwa aku sungguh mirip dengannya, bahwa ia mengerti diriku yang selalu bosan, sama seperti dirinya. Setiap hari bagi kita adalah sebuah perang melawan kebosanan, sungguh. Hari-hari itu, aku dapat melakukan apa saja yang kuinginkan. Dan itulah kenapa aku mengikutinya."

Dan tentunya bukan karena ia cuma anak kecil biasa, Akabane adalah anak yang lihai menggapai situasi, mulai dari berkelahi sampai berkelakar untuk mengeluarkan dirinya dari banyak masalah. Bahkan pemimpin geng itu tidak ragu-ragu memintanya untuk berkelahi di sampingnya, karena memang Akabane cilik itu jauh lebih dari usianya -ia spesial.

"Jadi kamu dulu itu yankee ingusan...?" Gakushu menginterupsi lagi, kali ini alisnya mengkerut antara kecewa dan mengejek.

"Hei, aku dulu masih kecil, bodoh." Karma melanjutkan, ingin melontarkan segelas teh panas itu ke wajah si mantan ketua osis.

Walau sebetulnya, memang banyak dari keonarannya yang kini terinspirasi dari masa kecilnya yang jauh lebih bermasalah. Tetapi pada dasarnya, Karma bukanlah seseorang yang benar-benar jahat seperti yang banyak orang kira. Mengepalkan tangannya, ia tiba-tiba teringat pada suatu hari di masa kecilnya, mengikuti pemimpin yankee itu. Hari yang cukup kelam.

"Sampah, sampah, sampah..." Pemimpin yankee di memorinya itu terlihat sedang menginjakkan kakinya di atas kepala seorang anak SMA.

Tidak tanggung-tanggung sol sepatunya itu menggesek-gesek pipi orang yang diinjaknya itu, mata emasnya mengkilat dengan kebengisan. Akabane cilik mengernyit, tetapi tidak berkata apa-apa. Barusan mereka menang dari perkelahian geng dengan empat anak SMA, padahal hanya dengan pemimpin geng itu dengan Akabane cilik, berdua. Kalah jumlah pun, pemimpin yankee itu benar-benar tahu cara berkelahi.

"Hei Karma, menurutmu hukuman apa yang pantas untuk sampah semacam ini...?" pemimpin yankee itu menghentak-hentakkan solnya itu di atas wajah yang sudah lembam.

Anak itu cuma melihat orang yang berada di bawah kakinya, ekspresi wajahnya tidak terbaca. Keempat anak SMA itu sudah jatuh di tanah, tidak berkutik. Menurut anak kecil itu, kemenangan sudah cukup, tetapi tidak untuk pemimpin yankee itu. Ia ingin meratakan semua musuhnya di bawah kakinya.

"Aku tidak tahu, Sumon." jawab anak kecil itu dengan ragu.

"Kalau begitu... " pemimpin yankee itu melontarkan sebuah pemantik pada Akabane cilik, lalu ditangkapnya di udara.

"Bakar." ujar remaja itu, mata emasnya mengkilat. Anak kecil itu melihat remaja berambut jelaga itu dengan perasaan tidak tenang. Karma masih teringat kegilaan di matanya itu, karena sekilas, sungguh, benar-benar iblis tatapannya. Ia langsung sadar bahwa Sumon yang ia kenal itu, menikmati dalam hal menyiksa orang.

"Coba kau bakar dia saja, Karma-kun." yankee itu semakin menghentakkan solnya di atas anak SMA yang mulai meronta-ronta mendengar perintahnya itu.

"TOLONG JANGAN BAKA-." Rintihan orang di bawahnya itu tidak dihiraukannya, malah ia semakin meratakan wajahnya. Akabane cilik cuma terdiam memegang pemantiknya, menganggap pembuktiannya ini sudah mulai kelewatan. Ia tidak bergerak selangkah pun.

"Aku tidak mau." ujarnya dengan tegas, membuat mata emas itu menatapnya dengan tidak suka. Kecewa.

"Ayo, Karma-kun. Membakar ujung rambut tidak akan membunuhnya, kok."

Di situlah Akabane cilik mulai sadar akan sifat sesungguhnya; ketika pemimpin yankee itu mengambil sebuah pemantik cadangan dari kantongnya, lalu menekan kepala anak SMA itu keras-keras dengan sepatunya.

"HENTIKAN..! TOLONG..! TOLONG..!-" ia mengingat suara minta tolong, lolongan lirih dari anggota geng yang tersulut api itu. Akabane cilik mengingat dengan jelas, bahwa remaja berambut jelaga itu menyulut rambut anak SMA itu sampai terbakar. Kepalanya masih diinjak di bawah kaki Sumon, apinya menyala selagi ia meronta-ronta. Sebuah pemandangan yang mengerikan,dimana ia mengancam anak SMA itu untuk memanggil anak buahnya untuk memadamkan api.

"Brutal..." batin Gakushuu, membayangkan kekejian itu dengan ngeri.

Anak direktur itu menelan ludah mendengarnya, karena jelas-jelas anak SMP yang masih waras tidak akan setega-teganya menyulut rambut orang sampai terbakar. Muka remaja berambut merah di depannya itu kelam, seperti membuka luka lama.

"Tapi tahukah hal yang terparah..?" Karma lalu menatap Gakushuu lekat-lekat.

"Apa..?" ada gemuruh tidak enak di dada remaja berambut jingga itu.

"Dia memaksa anak buah anak SMA itu untuk mengencingi temannya sendiri, supaya ia tidak mati terbakar."

Karma yang masih kecil, tentunya menggagap beberapa dari hal ini sudah lewat keterlaluan, bahkan untuk dirinya. Ia masih belum tahu apa yang harus ia harapkan, atau banyak hal yang benar atau salah. Ia diajarkan bahwa apa yang di luar geng, apa yang melawannya, memang harus dilawan balik. Tidak jarang pula ia berpartisipasi langsung dalam kekerasan berlebihan ini, entah berapa banyak ia tidak menghitungnya. Mungkin menjadi sebuah pertanyaan besar, kenapa ia tetap mengikuti yankee itu, meski ia jelas-jelas seorang iblis yang berjalan di bawah sinar matahari.

"Kamu tahan melakukan hal-hal seperti itu..?" remaja di depannya bertanya heran.

"Ya, tidak tentu saja. Tapi pada waktu itu, dunia geng itu benar-benar hukum rimba, Asano-kun. " jawab Karma. "Anak teladan sepertimu mana mengerti."

"Cih. Tapi setidaknya, aku tidak sebodoh kamu sampai menekuk ekor di bawah perlindungan seorang yankee." Gakushuu mengangkat alisnya, pandangannya seperti melihat plebian. Menyebalkan, batin Karma. Dia benar-benar ingin melempar teh panas itu ke muka sombongnya.

"Bukan aku butuh perlindungan, bodoh. Kekuatan itu punya arti, apalagi bila seseorang ada di sisimu untuk menjaminnya. Kekuatan itu bukan kebutuhan, tapi hanya alat. " Karma alih-alih naik darah, hanya sedikit kesal.

"Ada sesuatu yang berbeda ketika menginjak orang itu menjadi hal yang mudah. Dan ketika kamu mulai terbiasa menyiksa orang-" Anak direktur itu menatap sekilas, kegilaan masa lalu di mata Karma.

"Kamu pelan-pelan menumbuhkan keinginan untuk menyiksa orang."

Memang pada dasarnya, Karma menganggap Sumon sebagai figur kakak sekaligus teman yang dekat. Kalau pada biasanya, pemimpin yankee itu memang menjadi seorang senior yang bisa diandalkan. Selain itu, ia dapat dengan tidak berperasaan melakukan hal-hal keji, seperti merusak hidup orang tanpa pamrih. Walau ia mengerikan pada semua orang, tetapi yang Akabane cilik tahu itu bahwa ia baik padanya. Baginya, itu sudah cukup. Ia percaya sosok itu tetap akan di sampingnya, melawan segala yang menghadang mereka-

"Tapi aku salah total." Karma teringat pahitnya hari-hari itu.

Hari itu masih jelas di memorinya, semester terakhir dari sekolah dasarnya, dalam kata lain, ia sudah menjadi seorang bocah enam SD. Setelah hampir dua tahun terlibat perkelahian geng, ia benar-benar di atas rata-rata bila menyangkut kombat fisik dan intelek. "Street smarts" begitu istilahnya untuk keahliannya yang paling dibanggakan itu, setelah kemampuan melempar pisau, tentunya.

Ia berhasil menghindari beberapa suspensi berkat pemimpin yankee yang cerdik itu, terlebih memang Karma tidak punya celah secara akademis, kecuali dalam hal membolos kadang-kadang. Memang sejauh itu, setiap hari adalah kemenangan mudah terhadap kebosanan. Terlalu mudah.

"Hei Karma, kamu bisa membantuku untuk sesuatu." yankee yang selalu berpakaian gakuran itu suatu hari bertanya padanya.

"Ada apa, Sumon..?" bocah itu bertanya, sambil memainkan sebuah pemantik.

"Seseorang mencuri barang milikku, sebuah kiseru panjang. Kau tahu, itu kan...?" tanya pemimpin yankee itu. Akabane cilik mengedip satu, dua kali.

"Kiseru..? Itu pipa tembakau jaman Edo itu kan..?" anak kecil itu mengingat pelajaran sejarahnya yang seminggu lalu itu. Pemimpin yankee itu tersenyum. "Kamu memang pintar, Karma. " ia menepuk kepalanya dengan gemas.

"Itu barang yang sangat mahal, geng Amatsuki dari sekolah negeri barat mengambilnya dariku." Ujarnya sambil menyulut sebuah cerutu. "Mereka menerobos masuk apartemenku." –pemimpin geng itu sebetulnya tinggal sendiri.

"Mereka itu geng apa, Sumon..?" tanya Akabane cilik, mengeluarkan pisau lemparnya.

Pemimpin yankee itu meniup asap dari cerutunya, mata emasnya memperhatikan pisau di tangan anak kecil itu.. "Geng yang cukup baru yang sudah kuintai untuk beberapa lama. Mereka mungkin ingin balas dendam karena aku menghajar anak buahnya." ujar remaja itu.

"Kenapa kau bisa bertemu dengan mereka..?" tanya Akabane cilik. Ia baru saja mengikuti darmawisata sekolah ke Tokyo, sehingga ketinggalan seminggu bernilai kabar seputar geng itu.

"Ya, mereka berusaha menjambretku. Gagal, tentu saja." ujar yankee itu, lalu menghisap cerutunya. Ia menghembuskan asap berbentuk melingkar.

"Kita habisi saja." ujar Akabane cilik dengan datar, memain-mainkan pemantik di tangannya.

"Tentu. Tapi kita butuh sebuah rencana, Karma-kun."

Demikian Akabane cilik dikirim ke sarang geng Amatsuki di timur Yokohama , dipersenjatai dengan sebuah pisau lipat, beberapa pisau lempar, sebuah pemantik, dan pencongkel lubang kunci. Yang disebut pemimpin yankee itu adalah rencana yang bagus sebenarnya, tetapi remaja berambut merah itu cuma bisa menggeleng kepala mengingat betapa bodohnya ia untuk menerima misi itu.

"Kamu akan menyusup untuk mengambilnya, mengulur waktu sambil memancing mereka keluar dari sarang mereka. Lalu kita akan mengepung mereka, bagaimana..?"

"Serahkan padaku." Demikian Akabane cilik menerimanya, pecaya diri dengan kemampuannya untuk mengintai lawan, juga kepada kesetiakawanan di sisinya. Ternyata itu menjadi kesalahan terbesarnya.

"Ini mudah sekali." gumamnya, menavigasi melalui gedung tua yang menjadi markas geng Amatsuki itu dengan gesit. Dinding-dinding sekelilingnya dipenuhi grafiti dan pipa ledeng yang menetes, jelas-jelas sudah tidak dihuni bertahun-tahun lamanya. Melewati lantai berlumut, becek, dan dinding berhias sarang laba-laba, perkara gampang. Sejauh ini ia dapat menyelinap dengan lancar, belum ada satu pun anggota geng yang terlihat.

"Aneh." Karma dapat merasakan betapa heningnya gedung itu yang seharusnya dipenuhi yankee. Perasaannya tidak enak, namun ia terus saja menembus hingga sampai pusat gedung itu. Melewati liku-liku gedung itu dan akhirnya ia menemukan ruangan persis seperti dideskripsikan Sumon, sebuah meja bilyar yang berdebu di lantai atas.

"Inikah tempatnya...?."

Terbengkalai. Dan benar, di atas meja bilayar itu berserakan berbagai macam barang mulai dari pemantik, pisau lipat, cerutu mahal, kaleng-kaleng bir, dan jaket sekolah. Melihat ke sekelilingnya, bocah itu dengan perlahan-lahan menghampiri meja itu, mencari pipa yang disebut Sumon itu. Ada sesuatu yang berwarna keemasan, melingkar panjang di samping beberapa kaleng bir. Matanya sekejap membelalak kaget, ketika mendapati bahwa pipa tembakau yang dimaksud itu -kiseru antik warisan keluarga Akabane.

"Apa maksudnya..?" anak kecil berambut merah itu tidak mempercayai yang ia lihat.

"Sebuah pipa beremblem naga, diukir dengan relik emas." Deskripsi pemimpin yankee itu, sebelum ia menyusup masuk, mengambang kembali di kepalanya. Dan kenapa benda yang berada di depannya itu, malahan sebuah kiseru warisan yang seharusnya di tangan kakeknya..? Ada sesuatu yang sangat amat janggal.

"HEI! KAMU..!"

Sebuah suara berteriak dari ambang pintu masuk, ternyata seorang yankee dari geng Amatsuki. Kaget sekaligus bingung, Akabane cilik langsung menyambar kiseru itu dan berlari ke ujung pintu lainnya. Tetapi terlambat, kedua pintu masuk ruangan itu sudah dihalangi anggota geng penghuni gedung itu. Ia terkepung, mata merkuri itu memindai keadaannya dengan cepat. Langkahnya semakin mundur, terpojok di tengah ruangan itu, ia tetap waspada. Benar-benar situasi yang tidak menguntungkan; lima anggota geng SMA dan tiga lainnya SMP, semuanya melawannya, bocah SD yang berdiri sendiri. Eight to one.

"Dasar tikus, mau nyolong ya..?" seorang anggota berbadan besar melangkah menghampirinya. Akabene cilik tidak berkutik, mata merkurinya memandang lawannya itu; berotot, tinggi, dan tiga kali lebih besar darinya. Analisa keadaan seperti meluncur gesit di otaknya, ia mengeluarkan belatinya. Dalam keadaan genting seperti ini, apa boleh buat.

Syut-demikian ia menggores tempurung lutut orang itu, mempergunakan perbedaan tinggi yang besar dengan lawannya. Luka itu membuat anggota geng itu sempat lengah, namun sialnya masih cukup cepat untuk menangkap kerah baju Karma. Ia pun terbanting ke tanah.

BRAK! –kaki anggota itu hampir meratakan perutnya, kalau saja Akabane cilik tidak cepat mengguling ke samping. Tak kehilangan akal, pembuat onar kecil itu meloncat tinggi ke lawannya, lalu mengeluarkan dua senjata kebanggaannya, tidak lain dari-

"Wasabiii...!" teriaknya, menyemprotkan dua setengah odol wasabike mata anggota geng itu. Lawannya langsung melolong kesakitan, memegang matanya yang pedas perih itu, membuat anggota geng lain datang menyerbunya. Kondimen itu memang senjata yang paling ia banggakan.

"SINI KAU...!" demikian ia terkepung dengan tujuh orang anggota geng yang setidaknya dua kali lebih besar darinya, semua mengejar kepalanya, dan sangat amat marah. Ada yang memegang palang besi, beberapa berpisau, semuanya pasti kelas berat. Tapi anak kecil itu tidak lari; bersenjata sisa selusin odol wasabi, pisau lempar, sebuah pemantik, pencolok kunci, dan sebuah pisau lipat, Akabane cilik malah menyeringai , matanya tidak takut pada apapun. Ia malah mengacungkan jari pada mereka, menguji nyali.

"Hei, kalian." bocah itu lalu bersiul seperti memanggil anjing.

Memang, bila seorang bocah SD yang biasa terkepung kawanan yankee yang mengamuk seperti keadaannya saat ini, pasti sudah tamat riwayatnya. Apa probabilitasnya seorang anak ingusan mengalahkan sekawanan yankee? Tapi ia bukan anak kecil biasa-

"Sini, kalau kalian berani." tantang setan kecil itu.

-dia Akabane Karma.

-Tbc.


Author's Note:

Rupanya aku juga bingung kenapa quotation marknya ke bawah, bukan seperti " ", itu karena language Word settingsnya selama ini german coba hahaha terus lupa diubah balik lagi, kebiasaan buruk (maaf). Ke depannya gak akan lagi, maaf readers! Juga ke krisar typos dan koreksinya makasih banget.

Wew sudah 20,000 + words dan 41 reviews?! Thank you so much! Sebetulnya author belum pernah bikin fic yang ada karakter non-canon, agak takut dengan reaksi pembaca sejauh ini. Tapi sejauh ini makasih sudah menerima (?) karakter baru ini, kalau yang ingin memberi review boleh krisarnya.

Thanks pada org2 yang terus drop by kasih review, terutama Re-Yuu untuk inputnya yang sering.

Lagi berpikir untuk dua hal; bikin ending alternate ke AC original, atau mengakhiri fanfiction ini di arc ini. Sebetulnya cerita PD III ini sudah dirancang sampai ending Korosensei dibunuh/diselamatkan, tetapi ada keraguan berkaitan plot aslinya Yuseii Matsu. Walau bisa diselesaikan dengan kedua duo PD III ini akhirnya bekerja sama, ini pertimbangan yang sulit haha.

P.S. Menurut kalian Akabane cilik gimana ya berantemnya kalau dikepung yankee? ;)