Mungkin ibu adalah orang yang akan menangis di sampingmu saat kau jatuh sakit di tengah malam. Tapi ayah, adalah orang yang akan berlari menembus badai sekalipun hanya untuk mencari apotek yang buka di tengah malam demi membelikan obat untukmu.

Mungkin ibu adalah orang yang akan mengelus pundak mu saat kau mengalami kegagalan. Mengatakankalimat-kalimat penenang bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi ayah adalah orang yang akan menamparmu, memaksamu untuk bangkit dan memulai lagi saat gagal itu datang. Ia memaksamu berdiri, dan tanpa memberikanmu kesempatan untuk merasa terpuruk.

Mungkin ibu adalah orang yang akan mengusap kepalamu sebelum tidur. Membacakan dongeng tentang para peri atau tokoh superhero serta memberimu kecupan di dahi sebagai ucapan selamat tidur. Tapi ayah adalah orang yang rela menghabiskan pagi hingga malamnya untuk bekerja demi dirimu. Memastikan penghasilannya cukup untuk memberimu makan dan pendidikan. Memastikan uang yang didapatnya bisa menyenangkanmu dan membawamu pergi liburan.

Mungkin ibu adalah ornag yang paling rajin datang di pertemuan orang tua di sekolah. Mungkin ibu adalah wali paling siaga yang selalu menyempatkan diri untuk mengambil buku rapormu di sekolah. Namun ayah adalah orang yang akan selalu bangga pada semua yang ada pada dirimu. Ayah adalah orang yang akan senantiasa meng-elu-elukan dirimu di hadapan teman kantornya.

Mungkin ibu adalah orang yang paling banyak menangis untukmu. Tapi ayah adalah orang yang paling banyak menahan diri untuk menangis. Ayah tak punya sisi sentimental yang membuatnya bisa menangis setiap saat hatinya tersentuh. Ayah punya tanggung jawab untuk mengusap airmatamu dan air mata ibumu. Sehingga ayah menahan dirinya sendiri untuk menangis. Menelan susah hatinya hingga sesak menumpuk di dadanya. Andai kau tau, bahwa menangis dalam hati itu lebih menyakitkan.

Kau tau…

Seberapa banyak kau terpaku pada cinta ibu?

Padahal ayah pun mencintaimu sebanyak yang ibu berikan untukmu.

Seberapa banyak kau berterimakasih saat ibu memasak untukmu?

Seberapa banyak kau berterimakasih saat ibu mengantar jemputmu ke sekolah?

Seberapa banyak kau berterimakasih saat ibu bersedia mendengar keluh kesahmu?

Seberapa banyak kau berterimakasih karena ibu telah melahirkanmu kedunia; menjagamu dan merawatmu hingga tumbuh besar menjadi pribadi yang sempurna?

Tapi pernahkah kau berterimakasih pada ayah?

Bukan sekedar berterimakasih atas uang atau benda yang ia berikan untukmu, tapi berterimakasih untuk kerja kerasnya siang dan malam bekerja demi dirimu.

Bukan sekedar berterimakasih karena ia memperbaiki barangmu yang rusak, tapi sungguh-sungguh berterimakasih karena beliau bersedia memberikan waktu dan perhatiannya atas benda-benda rusak milikmu yang butuh ia perbaiki. Padahal ia lelah karena menghabiskan hari-harinya dengan bekerja.

Pernahkah kau berterimakasih pada ayah?

Lelaki pilihan Tuhan yang selalu berdiri di garda paling depan untuk membelamu saat kau di lukai orang. Superhero paling nyata yang selalu mengusahakan yang terbaik untukmu. Tak peduli sekalipun petir diatas kepalanya.

Jadi….

Kapan kau akan memulai berterimakasih pada ayah?

.

Untuk Ayah,

Yang diam-diam menyebut namaku dalam doamu,

lebih sering dari yang ibu lakukan.

Untuk Ayah,

Yang selalu mendorongku

untuk melangkah ke depan

tanpa keraguan dan tanpa rasa takut.

Untuk Ayah,

Yang bekerja keras untukku,

bahkan ketika aku tak menyadarinya,

dan lupa berterimakasih atas semuanya.

Untuk Ayah…

Yang selalu mengizinkanku untuk menjadi apa yang aku inginkan.

Memastikan masa depanku berjalan sesuai dengan impianku.

Ayah,

Aku mencintaimu.

.

.

.

© Kakagalau

Proudly Present

.

.

.

ENDLESS

.

.

.

Pada akhirnya Kyuhyun harus menyerah. Penyakit yang bersarang di tubuhnya itu membuatnya kalah dan mengakui diri bahwa ia mulai lelah dan lemah. Minho berusaha keras untuk tidak menangis saat mengetahui kondisi sang ayah kembali menurun. Pemuda itu hanya duduk diam sembari merapal banyak doa. Dan hatinya kemudian merasa takut, bahwa Tuhan takkan mengabulkan doa dari anak durhaka seperti dirinya.

"biar suster saja…" suara lirih Kyuhyun mengudara saat Minho terlihat tengah membersihkan isi kantung urine dari kateter yang dikenakannya ke dalam ember. Padahal Kyuhyun saja merasa jijik pada dirinya sendiri. Kenapa Minho mau-maunya?

Minho tak begitu menanggapi. Ia masih sibuk dengan kegiatannya. Membawa ember itu ke kamar mandi dan membersihkannya di sana.

Kyuhyun ingin menangis. Tak banyak yang bisa ia lakukan sekarang. Tubuhnya terus menerus terasa sakit. Sedikit-sedikit demam, atau kadang muntah yang disambung dengan sesak napas. Saat melihat orang lain yang membersihkan sisa muntahannya sendiri saja Kyuhyun sudah merasa jijik pada dirinya sendiri. Apalagi sekarang? Saat air seninya sendiri saja bahkan dibersihkan oleh orang lain.

"jangan menangis…" ujar Minho seraya mengusap air mata yang mengukir jejak di sudut mata kanan sang ayah. Kyuhyun masih bisa mengendus aroma sabun dari tangan Minho.

"bukankah sekarang ayah terlihat menjijikan? Kau bahkan harus membersihkan kotoran ayahmu."

"ayah tak boleh bilang begitu…" tegur Minho pelan. "Bagaimana aku bisa jadi dokter yang baik kalau aku sedikit-sedikit jijik? Bagaimana aku akan menghadapi pasienku nanti kalau menghadapi ayahku sendiri saja aku sudah menjauh karena jijik?"

"jadi aku mohon ayah jangan bicara begitu lagi." Pinta Minho sambil mengusap lengan ayahnya. "jangan sedih dan merasa kesal… nanti ayah pasti sembuh. Ayah hanya harus bersemangat dan jangan lupa berdoa pada Tuhan."

Mendengar itu, Kyuhyun balas mengusap tangan Minho. Kyuhyun bukan anak kindergarten yang akan menelan mentah-mentah kalimat Minho. Kepastian yang Minho ucapkan itu delusi. Seperti fatamorgana di tengah malam. Sekalipun Kyuhyun percaya tentang adanya keajaiban, tapi harapan tetaplah harus dibuat serealistis mungkin demi menghindari rasa kecewa.

"eung… jangan menyerah, okay?"

"arraseo…."

Minho tersenyum kecil kemudian. "ingin beristirahat?" tanyanya. Pemuda itu melepas alas kakinya dan ikut berebah di samping kiri ayahnya. Kebiasaan yang akhir-akhir ini sering dilakukan Minho pada ayahnya. Terlebih, jika tak ada orang lain lagi yang menjaga ayahnya selain dirinya.

"belum mengantuk."

"ingin makan sesuatu?" tawar Minho lagi.

Namun gelengan sebagai mode penolakan halus yang didapatkan Minho. Kyuhyun nampak menerawang sejenak. Mengamati sore berhujan di luar sana. "kau… tak sibuk?"

"aku punya banyak waktu luang untuk menemani ayah." Minho tersenyum. "butuh sesuatu?"

Kyuhyun menggeleng lagi. "temani ayah mengobrol saja."

Minho mengangguk seraya membagi selimut untuk dirinya sendiri dan sang ayah. Pemuda itu memiringkan tubuhnya agar bola matanya bisa terfokus menatapi garis wajah tegas milik sang ayah. Tangannya memijit pelan lengan sang ayah yang berada di dekatnya. "ayah punya topik bagus?"

"hm… selama bukan hal yang terkait dengan kedokteran, ayah pikir ayah masih bisa mengimbangi apapun tema obrolan kita. Politik, ekonomi… bahkan gossip terbaru selebriti." Minho melihat ayahnya tersenyum; yang secara tidak disadari membuatnya balas tersenyum juga.

"ayah tau tentang gossip selebriti juga?"

"haha… putrinya Changmin yang paling kecil masuk ke dunia modeling. Kemarin ia membawa beberapa majalah berisi gambar putrinya –dan, yeah… ada banyak gossip yang tercecer di majalah itu." Terang Kyuhyun. "jadi ayah rasa, ayah masih bisa mengobrol denganmu meski kita akan membicarakan gossip artis."

Minho balas tertawa. "aku bahkan sudah tidak sempat baca koran apalagi majalah. Aku tak begitu hapal berita sekarang." Ia berdecak pura-pura kesal. "ayah sepertinya punya banyak waktu luang."

Kyuhyun terkekeh saja. "bagaimana kuliahmu?" tanyanya kemudian.

"sibuk." Ujar Minho seperti bocah pengadu. "aku harus menganalisis beberapa jurnal dan disertasi milik professor-professorku demi beberapa tugas kuliah."

"ayah yakin, kau akan jadi dokter yang sangat hebat."

"tentu saja."

Kyuhyun kembali terkekeh saat putranya terdengar menyombong."lalu… kapan kau akan menikah?"

Minho nyaris tersedak air liurnya sendiri. "a-aku belum berfikir ke arah sana."

Kyuhyun meremas jemari Minho yang sedari tadi memijit lengannya. "kau… takut untuk menikah?"

"…" pemuda itu memalingkan wajahnya.

"hanya karena ayah gagal dalam membina rumah tangga, bukan berarti kau akan mengalami kegagalan yang sama seperti ayah, Minho. Tuhan menggariskan takdir yang berbeda untuk setiap orang, sekalipun mereka terlahir dari darah yang sama." Ujar Kyuhyun.

"aku hanya belum bertemu dengan orang yang cocok."

"memangnya kau cari yang seperti apa?"

"eum… aku mencari perempuan yang bisa merawat ayah."

Kyuhyun terkekeh kecil yang disambung dengan batuk agak berat. Minho sampai sedikit kaget dan memijit dada ayahnya agar napas beliau terasa lebih ringan.

"kau cari istri atau cari perawat untuk ayah?"

"dua-duanya." Canda Minho.

"aigoo… serakah sekali."

"ck… kalau begitu, aku akan menikahi perempuan yang di terima ayah sebagai menantu. Jadi, apakah ayah akan mengajukan syarat khusus untuk perempuan yang aku nikahi?"

"tentu saja."

"baiklah… type perempuan seperti apa yang ingin ayah jadikan sebagai menantu?"

"ayah ingin perempuan setia yang mendampingi putra ayah kelak; perempuan yang akan selalu bertahan disisimu –bagaimanapun keadaanmu." Ujar Kyuhyun sambil menatap lekat pada langit-langit kamarnya. "ayah ingin perempuan cerdas yang mendampingi putra ayah kelak; perempuan yang tau bagaimana cara menjaga harga dirinya dan harga diri suaminya, perempuan yang punya cukup ilmu dan kasih sayang untuk menjaga dan mendidik cucu-cucu ayah kelak, perempuan yang bisa menjaga hartamu dengan baik. Ayah ingin perempuan cantik yang mendampingi putra ayah kelak; perempuan yang memiliki kecantikan fisik dan hatinya, sehingga kau bisa jatuh cinta padanya setiap hari –dan tak mampu berpaling"

"kriteria ayah untuk calon menantumu terdengar terlalu sempurna." Ujar Minho sambil memeluk erat ayahnya. Ia ingin menangis. "aku khawatir tak bisa menemukan menantu idaman ayah."

Kyuhyun menoleh ke arah Minho kemudian. Giliran ia yang menghapus air mata putranya. "tapi lebih dari apapun, ayah ingin perempuan yang mendampingimu nanti adalah perempuan yang selalu bisa membuatmu bahagia. Hanya itu doa ayah untukmu…"

Minho mengangguk dalam rengkuhan ayahnya. Berterimakasih atas doa ayah untuknya –namun ia tak mengucapkannya.

"kenapa… ayah tak menikah lagi setelah lama berpisah dari ibu?"

Kyuhyun mengeratkan pelukannya pada Minho. Mengambil napas sejenak sebelum menjawab, "karena ayah belum menemukan perempuan yang bisa membuat ayah bahagia seperti ibumu."

"ayah terlalu menutup diri…" lirih Minho. "padahal ayah bisa punya kehidupan baru yang lebih baik jika ayah mau memulai lagi. Seperti ibu dan Siwon daddy."

Kyuhyun tersenyum miris. "hati manusia memang aneh, bukan? Karena terbiasa dengan rasa sakitnya, semuanya jadi tak terlalu menyakitkan lagi."

"ibu beruntung karena dicintai oleh pria sepertimu." Ujar Minho. "aku harap suatu hari nanti ia akan sadar betapa beruntungnya ia karena pernah memilikimu, ayah."

.

.

.

.

.

Minho menenteng rantang bubur lobak dan samgyetang di tangannya. Wajahnya lelah, tapi tetap terlihat sumringah. Sengaja Minho berkeliling Tokyo demi mencari dua makanan khas Korea itu; karena sang ayah ingin makan itu, , saat paman Shim dan paman Lee datang ke rumah sakit, Minho berpesan pada dua orang itu untuk menjaga ayahnya sebentar –sedangkan ia akan mencari makanan yang diinginkan sang ayah.

Sayang sekali bahwa mencari restoran Korea di Jepang ini ternyata sedikit sulit. Ada beberapa kedai yang menjual makanan serupa, tapi jelas mereka tidak memberikan citarasa Korea. Belum lagi, ada bahan makanan yang tidak boleh dikonsumsi ayahnya, hingga Minho harus memesan makanan itu dengan banyak kata jangan di dalamnya. Setelah satu jam lebih, akhirnya ia mendapatkan pesanan ayahnya juga. Sehingga ia bisa kembali ke rumah sakit dengan cukup riang meski kelelahan sehabis berkeliling tak bisa ditutupinya.

Seorang mahasiswa koas menghampiri Minho tiba-tiba. Ada banyak peluh di dahinya. Nampak seperti orang yang baru saja kelelahan berlari. "aku mencarimu sedari tadi, dokter Minho…"

"mencariku?" Minho mengernyitkan dahi. "ada apa?"

Air muka dokter muda itu berubah. Dan itu seperti mengantarkan sebuah firasat buruk. Minho mendadak gemetar dan berlari menuju kamar rawat ayahnya. Dan kakinya langsung terasa lemas saat memandangi paman Lee dan paman Shim berada di luar kamar rawat ayahnya. Sedangkan dari celah pintu yang terbuka itu, ia bisa melihat beberapa orang berjubah putih di dalam kamar rawat ayahnya.

Jinjingan di tangannya jatuh begitu saja, saat paman Shim tiba-tiba saja memeluknya. Tak peduli bahwa makanan yang baru dibelinya itu berceceran kemana-mana. Sekarang hati dan pikirannya dipenuhi firasat buruk –dan ia benci itu.

"ada apa?" lirih Minho. "ayah kenapa?"

Tapi yang di dapat Minho hanya tepukan ringan dari paman Shim-nya.

"paman… biasanya hanya dokter Park yang memeriksa ayah. Kenapa sekarang banyak sekali?" Tanya Minho. Pemuda itu masih dalam mode penyangkalan akan keadaan. Hatinya sakit.

"paman… ayah baik-baik saja sebelum aku tinggal tadi. Kenapa sekarang…" air mata pemuda itu jatuh.

Ia melangkah pelan ke kamar rawat ayahnya. Melihat pria tua yang kurus itu terpejam, membuat Minho langsung menghambur ke sisi ayahnya. Ia masih bisa mendengar ayahnya bernapas kasar, tapi entah kenapa hatinya terasa sangat sakit. Ia bahkan tak tau sejak kapan dokter memasangkan elektrokardiograf pada ayahnya. Tapi pemuda itu bisa melihat jelas jigjag melemah disana.

"ayah melakukannya lagi…" lirih Minho. "ayah bersembunyi dariku lagi…"

"apa ayah tak ingin melihatku? Sehingga ayah menyuruhku pergi membeli makanan?"

"bukankah aku sudah bilang untuk menunggu?"

"kenapa saat aku datang, ayah malah tidur? Padahal aku membawakan pesanan ayah. Ayah bilang ingin makan samgyetangdan bubur lobak, tadi. Sekarang aku sudah datang…."

Minho meraba tubuh ayahnya. Sebelah bagiannya sudah mulai dingin. Orang-orang disana menepuk pelan punggung Minho. Seolah meminta Minho mengucap kalimat perpisahan dengan baik. Tapi mereka tidak mengerti. Mereka tidak mengerti betapa menyusahkannya mengucap kalimat perpisahan di saat seperti ini.

"ayah tak boleh meninggalkanku seperti ini…" mohon Minho. "kau bilang kau selalu ingin melihatku, sekarang aku ada disini –jadi ayah jangan memejamkan mata seperti itu. Bangun dan lihat aku…"

"ayah tak boleh meninggalkanku seperti ini…" sekali lagi Minho memohon. "bukankah aku sudah bilang bahwa ayah pasti akan sembuh… ayah hanya harus lebih bersemangat lagi."

Minho bisa merasakan bahwa ayahnya membalas genggaman tangannya sejenak –sebelum napas putus-putus itu berhenti. Dan suara melengking dari ekg mulai mengudara. Tapi Minho tak bisa menerima itu. Ia mencoba menekan dada ayahnya –berharap detak jantung itu kembali. Namun usahanya tak membuahkan hasil.

"defibrillator. Kumohon…"

"detak jantungnya sudah berhenti, Minho." Ini suara dokter Park.

Dan Minho balas menggeleng sambil tetap pada upayanya membawa ayahnya kembali. "kumohon…" pemuda itu memelas.

Paman Lee menarik Minho mundur dari pembaringan ayahnya. Namun pemuda itu bergeming di tempatnya. Menghitung dari satu sampai sepuluh seraya menekan dada ayahnya. Tapi apa? Bahkan sampai ia merasa lelah, upayanya tetap tak berhasil. Minho menangis keras. Ia bahkan berteriak saat dokter menyatakan waktu kematian sang ayah. Ia marah. Hatinya sesak dan lelah. Hingga Minho akhirnya berhenti meronta saat kegelapan merengkuh kesadarannya.

.

.

Kenangan Minho bersama ayahnya hanya sampai ia berusia enam tahun. Lalu kemudian semuanya berubah menjadi kebencian. Mendadak Minho rindu pada ayahnya di diam-diam selalu memeluknya sepulang kerja, saat Minho sedang pura-pura tidur.

Sekarang, Minho tak tau dengan apa yang ia lakukan. Ia hanya berdiri di samping peti mati ayahnya, menyalami pelayat yang datang untuk memberi penghormatan terakhir pada sang ayah. Kepalanya terasa kosong, tapi ia tetap memaksakan diri. Beberapa wartawan datang. Dan itu cukup membuat Minho kesal –karena mereka sibuk meliput disaat dirinya dilanda kesusahan hati seperti ini. Tapi lagi-lagi Minho hanya diam. Ia tak punya cukup tenaga untuk mengusir orang-orang yang mencari keuntungan dari kesusahannya ini. Baiklah, lagipula wartawan itu butuh berita agar mereka bisa makan. Beruntung, paman Shim dan paman Lee membantu mengerem aksi para wartawan itu agar tak terlalu berlebihan dan mengganggu ketertiban umum dalam meliput.

Para pelayat kebanyakan dari kalangan pebisnis. Ada beberapa yang sengaja datang dari luar Jepang demi memberikan lainnya adalah teman-teman Minho saat sekolah di Jepang dulu –juga guru-gurunya. Beberapa dosennya saat kuliah di Korea pun datang memberikan penghormatan. Minho tak pernah tau bahwa ayahnya punya relasi sebanyak ini. Ibu kandungnya dan Siwon datang, tapi Minho bahkan tak punya senyum untuk diberikan pada mereka. Hatinya terasa pecah menjadi jutaan keping dan kemudian tercecer terbawa angin.

Mereka bilang, bagi laki-laki, ayah adalah perpanjangan dirinya*. Mungkin mereka benar. Karena saat Minho kehilangan ayahnya, saat itu juga ia merasa kehilangan dirinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kau tau,

Kenapa ayah begitu mencintai ibumu?

Karena ibumu telah melahirkanmu ke dunia ini.

Tak ada alasan bagi ayah membenci ibumu,

Karena jika ayah membenci ibumu, berarti ayah mengutuk keberadaanmu.

Sedangkan bagi ayah, kau adalah anugrah terindah yang pernah ayah miliki.

Kau tau…

Sesekali lelaki boleh menangis.

Jadi jika saat mengingat ayah kau ingin menangis, maka menangislah.

Jangan menyimpan sesakmu di dalam dada.

Karena ayah tak ingin kau merasa sakit sendirian.

Karena nanti, ayah tak lagi disisimu untuk menyeretmu bangkit dari rasa terpuruk.

Mungkin ayah tak pernah mengatakannya padamu.

Mungkin ayah bukanlah orang yang hangat untukmu.

Tapi ayah hanya ingin kau tau bahwa ayah bangga padamu.

Jangan merasa kecil dan merendah.

Jangan terus diam karena rasa bersalah.

Karena bagaimanapun dirimu, ayah akan selalu bangga padamu.

Minho…

Doa ayah untukmu sederhana.

Dimanapun dan bersama siapapun dirimu, ayah hanya ingin kau bahagia.

-CKH-

Hal apa yang paling menyakitkan saat kau di tinggal pergi?

Rasa kehilangan? Mungkin.

Kenangan yang tersisa? Mungkin.

Tapi Minho menyadari satu hal yang membuatnya merasa sangat menyesal saat melihat peti mati ayahnya masuk ke dalam tanah. Satu hal sederhana, namun perasaan menyesalnya tersisa terus dalam dada.

Minho sadar bahwa ia tak sempat berterimakasih atas apa yang telah ayah lakukan untuknya. Ayah bahkan tak pernah mengetahui seberapa berharganya ia untuk Minho. Bahkan saat Minho berteriak mengucapkan terimakasih, ayah takkan mendengarkan lagi.

Jadi... kapan kau akan mulai berterimakasih?

Pada ayah,

Yang telah menjadi pria paling hebat untukmu.

.

.

.

.

.

KKEUT

.

.

.

.

(*) dikutip dari K-Drama Doctors