Tittle : Don't Hate Me

Cast : ~Kim JongIn/Kai

~Lu Han

~Oh Sehun

~Park Chanyeol

~/Find Other Cast/?

Pair : KaiLu/HunHan/ChanHan

Author : SeLuKai

Chapter : 10 of ?

Rate : M

Genre : Angst, Hurt

.

..

...

_Prev_Dont_Hate Me_Chapter#9_

.

..

...

"Kenapa bisa seperti ini Kai?" Chanyeol menatap Kai tidak percaya

Rapat keputusan tentang kepemilikan saham dan proyek baru yang paling besar di negara tersebut baru saja diumumkan.

"Sial!"

Kai melemparkan semua berkas yang ada dihadapannya, dia sendiri merasa ini seperti mimpi.

"Bisa-bisanya si bajingan itu mencuri ide perusahaan kita? Dasar sial!" Kai menghantam meja di hadapannya dengan penuh emosi.

"Kalau saja aku tidak bertugas mengurusi proyek yang di Jepang, pasti aku tau kenapa semua ini bisa terjadi"

Chanyeol mencoba menahan Kai yang kini sudah melukai tangannya sendiri karena terus menghantamkan tinjunya pada benda-benda yang ada di hadapannya.

"Jadi sekarang kau menyalahkanku? Menurutmu kalau aku menyuruhmu yang menangani ini semuanya akan berjalan lancar?" Kai yang tersinggung dengan ucapan Chanyeol kini tangannya sudah berpindah ke leher baju sahabat kecilnya itu dan menatapnya tajam.

"Hey tenangkan dirimu dulu Kai, kau terlihat kacau kalau begini" Chanyeol menanggapinya dengan sabar dan membiarkan Kai yang semakin menjepit lehernya.

"Urus saja urusanmu, aku tidak akan membiarkan perusahaan ini jatuh ke tangan bajingan itu apapun resikonya"

Dengan itu Kai meninggalkan Chanyeol di ruangan yang cukup luas tersebut yang kini menatap Kai dengan tarikan nafas panjang.

Dia memikirkan banyak hal,

'Kenapa mereka bisa kalah kali ini?', Ini belum pernah terjadi dalam sejarah selama ia mengenal Kai, pasti ada sesuatu dibalik semua ini dan Chanyeol akan segera menemukannya.

...

..

.

*****_Don't_Hate_Me_Chapter#10*****

.

..

...

"Hhh~" Luhan menarik nafasnya panjang.

Kebiasaan baru yang sering ia lakukan belakangan ini.

Bukan-

Sekarang lebih tepatnya matanya sedang tertuju pada seseorang di bawah sana yang sedang berbincang dengan dua orang lainnya yang memakai setelan jas rapi khas bos sebuah perusahaan.

"Hhh~"

Lagi-lagi Luhan menghembuskan nafasnya berat.

Dari posisinya sekarang yang berada satu lantai lebih tinggi dari orang-orang dibawah sana yang dari tadi ia perhatikan diam-diam, sangatlah tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang tersebut.

Ya- Luhan sedang memperhatikan sosok yang mempunyai kulit lebih gelap dibandingkan kedua orang lainnya, siapa lagi kalau bukan adik tirinya sendiri- _Kim Jongin_.

Entahlah-

Luhan juga tidak tau apa yang terjadi pada dirinya,

Hampir sudah dua minggu belakangan ini dia tidak pernah melihat Kai disekitarnya, baik di kantor maupun di rumah, ataupun saat mereka berangkat dan pulang bersama, karena Chanyeol sudah mengambil alih tugas tersebut selama dua minggu ini.

Seharusnya Luhan senang karena dengan begitu dia sudah terbebas dari segala siksaan Kai.

Tapi yang Luhan tidak bisa mengerti, kenapa seolah dia menunggu agar sosok itu datang menghampirinya, bahkan kalaupun dirinya harus disiksa dengan berbagai hal yang membuatnya kesulitan, ia merasa itu lebih melegakan daripada Kai menghilang dari hidupnya secara tiba-tiba.

Secara tidak sadar Luhan sudah terbiasa atau bahkan ketergantungan dengan hadirnya sosok Kai di dekatnya, walaupun dengan segala kelakuan buruknya yang terus menyulitkan Luhan.

Saat Kai tidak ada di sekitarnya membuatnya merasa ada yang hilang, tidak bisa ia pungkiri kalau dia juga merindukan sentuhan Kai yang hampir setiap malam memasukkan dirinya pada tubuh Luhan, walaupun setelah itu Luhan akan kesakitan karena permainannya yang teramat kasar.

Seolah tubuh Luhan juga merasa asing saat tidak bertemu dengan tubuh kekar lelaki yang lebih muda darinya itu.

Itulah alasannya kenapa ia berahir disini, berdiri di pembatas balkon lantai dimana dirinya sekarang berada.

Saat ia mendapat kabar dari Chanyeol kalau hari ini Kai sudah tiba di kantor,

ternyata lelaki yang hampir tidak pernah tersenyum itu baru kembali dari luar negeri dan mengunjungi beberapa tempat yang berhubungan dengan pekerjaannya.

Tanpa sadar Luhan langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menuju tempat tersebut,

tapi Luhan tetaplah seorang budak bagi Kai dan itu masih membuat dirinya untuk sadar dimana posisinya berada,

dia hanya berani menatap orang yang tidak ia lihat dua minggu belakangan itu dari jauh.

"Ada apa denganku?"

Luhan buru-buru menghentikan senyumnya saat tanpa sadar bibirnya ikut mengembangkan senyum ketika Kai dibawah sana melempar senyum tipisnya kepada dua kolega bisnisnya itu sebelum mereka terlihat berjabat tangan.

"Sadarlah Luhan"

Luhan sibuk memukuli kepalanya sejenak dan mengumpati dirinya sendiri.

Dan saat ia menoleh kembali ke tempat Kai tadi,

tempat tersebut sudah kosong dan dua orang lainnya juga sudah tidak terlihat disana.

"Apa dia akan pergi lagi?" Gurat kecewa tidak bisa Luhan sembunyikan dari wajahnya.

Luhan juga bukan orang yang terlalu bodoh, walaupun ia tidak begitu memahami tentang perusahaan dan bisnis, tapi ia sadar kalau saat ini Kai sedang menghadapi kesulitan yang menimpa perusahaannya.

Luhan tau Kai sibuk melakukan yang terbaik,

dia tidak akan pernah membiarkan miliknya diambil orang lain,

apalagi itu menyangkut warisan dari orang tuanya, perusahaan ini salah satunya.

Luhan tau dia tidak bisa apa-apa kalau Kai memang akan sangat sibuk,

Memang dirinya siapa berani menghalangi Kai?

"Hhh~"

Luhan kembali menarik nafas panjang.

"Merindukanku huh?"

Luhan terlonjak kaget saat dirinya berbalik berniat kembali melakukan pekerjaannya, kepalanya sudah menyentuh dada bidang sosok yang dari tadi ia perhatikan.

"Aku-"

Luhan tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

Ini terlalu tiba-tiba untuknya, dia tidak menduga akan bertemu Kai disini.

Ada rasa senang dan juga sedikit rasa takut yang ia rasakan saat tangan Kai yang sudah tidak pernah menjamah tubuhnya tiba-tiba saja menarik pinggangnya intim.

"Jangan menatapku begitu, aku bisa saja menggagahimu disini sekarang juga"

Luhan segera mengalihkan pandangannya menuju lantai, terlalu betah untuknya menatap wajah Kai sehingga ia melupakan kalau Kai tidak suka dengan itu.

"Aku tidak menyuruhmu menunduk bitch" Kai megangkat dagu Luhan perlahan yang membuat pandangan mereka kembali bertemu.

"Sepertinya bibir ini sudah terlalu lama dibiarkan tidak bengkak" Kai mengelus bibir Luhan dengan jemarinya.

Sebelum ahirnya ia mendekatkan wajahnya, mengikis habis jarak diantara mereka yang membuat Luhan menahan nafasnya.

"Mph~"

Luhan melenguh pelan dan meremas ujung bajunya sendiri dengan kuat saat Kai dengan sengaja menekan miliknya dibawah sana sambil terus meminta akses masuk ke dalam mulut Luhan.

"Akh~"

Dan itu selalu berhasil,

Kai segera menelusuri isi mulut Luhan dengan lidahnya yang lihai, tidak memperdulikan kalau sekarang tangan kecil Luhan sudah berpindah meremas bahunya unutuk menahan keseimbangan tubuhnya.

Selama beberapa menit mereka tidak bergeming,

Kai melahap bibir dan mulut Luhan dengan tidak sabar, menyalurkan seberapa banyak ia merindukan rasa manis dari bibir ini.

Saat dirasa dirinya akan kehilangan kendali, Kai mulai melepaskan tautan bibir mereka seiring dengan wajah Luhan yang memerah karena kehabisan oksigen yang mengisi paru-parunya.

Luhan langsung meraup oksigen sebanyak banyaknya saat tautan bibir mereka lepas, dan ia menatap orang dihadapannya saat ia merasakan lengan kekar itu kembali melingkar di pinggangnya.

"Aku merindukan tubuhmu~" Luhan merinding saat suara serak Kai menyapa telinganya diiringi hembusan nafas disana,

"Hari ini kau pulang bersamaku"

Setelah menyempatkan diri mengecup bibir Luhan sekali lagi, Kai melepaskan tangannya dari pinggang Luhan dan berjalan meninggalkan Luhan yang terdiam disana.

Apapun itu yang baru saja terjadi, Luhan tidak merasakan sakit seperti biasanya,

ciuman Kai kali ini tetap kasar tapi entah kenapa Luhan merasa Kai sangat lembut tadi,

bahkan sekarang pipinya mulai panas saat mengingat kecupan terakhir Kai dibibirnya.

Luhan menatap punggung Kai yang sudah sangat jauh dihadapannya, walaupun ia masih merasa takut tapi itu tertutupi dengan rasa senang yang entah dengan alasan apa Luhan merasakan itu sekarang.

.

..

..

Sepanjang perjalanan, baik Kai maupun Luhan hanya diam tanpa berniat membuka pembicaraan apapun.

Tapi sekarang Luhan benar-benar ingin bertanya kemanakah mereka akan pergi saat Luhan sadar jalan ini bukan jalan menuju rumah Kai.

Tapi langsung ia urungkan saat Kai sudah menghentikan mobilnya dan segera turun.

Tanpa disuruh Luhan mengikutinya,

Kai tidak memperdulikan itu, ia melangkahkan kakinya menuju toko yang banyak menjual bunga dengan bermacam ragam disana.

Seolah bisa membaca situasi, Luhan tidak mengikuti sampai ke dalam.

dia berdiri kaku di depan toko tersebut.

"Berikan aku bunga termahal yang cocok untuk wanita cantik"

Luhan masih bisa mendengar dengan samar.

ok sekarang Luhan mengerti-

"Apakah sekarang Kai sudah menemukan wanita yang ia sukai? Ah atau mungkin saja mereka sudah berkencan'

Pasalnya selama ini Luhan tidak pernah melihat Kai dekat dengan wanita manapun yang mungkin menarik perhatiannya, bahkan kalau diingat lagi dengan gaya hidupnya yang bebas dan penuh dengan pemuasan nafsu, Luhan tidak pernah melihat Kai membawa wanita lain untuk menemaninya tidur.

'Atau mungkin Kai melakukannya diluar?'

Memikirkan itu saja membuat Luhan meremas kecil ujung bajunya, perasaan aneh itu datang lagi.

Dia melangkahkan kakinya untuk kembali ke mobil, ini jelas urusan pribadi Kai dan tidak seharusnya ia mengikutinya tadi.

Kai belum juga keluar dari dalam sana dan perhatian Luhan tertuju pada toko boneka yang tidak jauh dari toko bunga tempat Kai berada.

Daripada bosan menunggu di mobil, tidak ada salahnya kan Luhan membiarkan dirinya melihat lihat disana?

"Wah! boneka rusanya sangat lucu~"

Luhan tidak bisa menahan lengkungan di bibirnya saat menemukan boneka rusa dengan ukuran sedang duduk manis di dalam lemari kaca toko tersebut.

"Kau mirip sekali dengan bamby~ ah aku rindu" Luhan mengelus boneka rusa itu dari luar kacanya, ia dulu mempunyai boneka pemberian papanya yang mirip dengan itu, -boneka kesayangan Luhan.

Tapi sekarang entah dimana boneka itu saat dirinya mulai pindah ke korea dan tinggal di rumah Kai.

"Boneka itu cocok denganmu pemuda manis" Luhan menggaruk pipinya canggung saat tertangkap basah oleh sang pemilik toko.

"Ambillah, kami lagi mengadakan diskon hari ini aku akan memberikannya setengah harga"

Mata Luhan langsung berbinar.

"Wah~ benarkah?"

Dulu, walaupun Luhan membuka seluruh tabungannya ia tidak pernah mampu membeli boneka tersebut karena harganya yang memang lumayan mahal untuk orang segolongan Luhan.

Sampai ahirnya papanya memberikan itu sebagai hadiah kelulusannya, Luhan tidak akan pernah melupakan kenangan manis itu, senyumnya semakin lebar.

"Kalau begitu bungk-"

Hampir saja Luhan menggali kuburannya sendiri-

Syukurlah ia segera tersadar saat tangannya dengan semangat merogoh sakunya namun tidak menemukan apapun di sana.

Ingat kalau Luhan adalah orang termiskin di dunia sekarang yang tidak memiliki uang satu sen pun?

"Jadi mau warna yang mana?" Sang pemilik toko tidak melepaskan senyumnya.

"Ah- itu~ maap aku tidak jadi mengambilnya" Luhan tersenyum canggung dan merasa tidak rela meninggalkan boneka itu disana, tapi apa boleh buat-

Karena tidak enak dengan pemilik toko yang masih setia menunggu dengan senyum manisnya,

Ahirnya Luhan membalikkan tubuhnya untuk beranjak dari sana.

Sungguh kesempatan yang sangat disayangkan.

"Hhh~"

Dengan tarikan nafas yang semakin berat,

Luhan melangkah sambil menunduk dengan pikirannya yang suram.

"LUHAN AWAS!"

Belum sempat Luhan melihat siapa yang meneriakkan namanya, tubuhnya sudah terhempas dengan keras ke samping.

Dan Luhan bisa melihat pengendara motor itu menatap ke arahnya sebentar lalu dengan ketakutan menancap gasnya sebelum umpatan kasar kembali terdengar di telinganya.

"Dasar bodoh! kau mau mati hah!" Luhan memejamkan matanya, tubuhnya yang terhempas tidak sakit sama sekali karena ia baru menyadari sekarang ia sedang berada dalam pelukan sesorang.

"Kai~" Luhan menatap Kai dengan jarak yang sangat dekat, Kai belum melepaskan pelukannya.

Posisi Luhan sekarang sedikit menindih Kai dan bibir mereka saja hampir bersentuhan dan itu membuat jantung Kai berpacu di dalam sana.

Apakah itu karena efek kajdian barusan?

Entalah-

yang jelas itu membuatnya tidak nyaman dan tiba tiba merasa kesal.

"Sial!" Kai menghempaskan tubuh Luhan yang ada di atasnya lalu bangkit dan meninggalkan Luhan menuju mobilnya.

Luhan yang masih dalam mode kagetnya, segera bangkit dan menyusul Kai, dia tidak mau tertinggal di tempat yang tidak ia kenal ini kan?

Tapi mata Luhan tertuju pada lengan sebelah kiri Kai,

Kemeja putihnya yang sedikit sobek dibagian itu dan ada noda darah disana.

'Apakah Kai terluka saat menyelamatkanku tadi?'

Luhan ingin menyentuhnya tapi Kai sudah membuka pintu mobilnya dan dengan terpaksa Luhan juga melakukan hal yang sama duduk di kursinya.

Saat Kai sudah kembali menyetir, pandangan Luhan tidak bisa beralih dari lengan Kai yang terluka dan berada tepat disebelahnnya.

"Itu- kau terluka"

Dengan mengumpulkan segala keberaniannya, ahirnya Luhan mengeluarkan suaranya saat melihat darah mulai menetes satu persatu dari sana.

Tapi Kai tidak memperdulikannya dan tidak menoleh pada Luhan.

Kai sendiri sebenarnya sedang tidak bisa mengerti dengan dirinya.

.

*Kai pov*

'Ada apa denganku?' Aku merutuk dalam diriku mengabaikan tatapan khawatir dari lelaki di sebelahku saat ini.

'Bukankah tujuan utamaku saat pulang kesini adalah untuk menyakitinya lagi?, dan lagi tadi saat dia memandangku dari atas sana tiba-tiba saja semua niat buruk itu lenyap,

aku hanya ingin cepat-cepat menghampirinya dan memeluknya.'

Dua minggu tidak melihatnya membuatku merasakan hampa dan kosong, dan sehari saja tidak mengagahinya membuatku benar benar akan gila.

Aku tidak menemukan kepuasan apapun saat mencoba melampiaskannya pada wanita jalang ataupun lelaki murahan lainnya,

tidak bisa menemukannya seperti saat aku melakukan itu dengan Luhan'.

Aku membanting kecil setirku dan bisa aku lihat kalau itu membuatnya takut dan mengalihkan pandangannya dari lenganku yang berdarah.

ck- benar-benar penakut,

'Dan untuk apa aku menyelamatkannya tadi?'

Tadi aku berniat memarahinya saat aku kembali dan aku tidak menemukannya ada di mobil.

Aku sedikit khawatir dan tiba-tiba memikirkan dia sedang berusaha kabur membuatku benar benar sangat marah.

Setelah meletakkan bunga yang aku beli di kursi mobil aku langsung membanting pintu dan mencari keberadaan Luhan,

Belum sempat aku mengumpat untuk kesekian kalinya aku bisa menangkap sosok tubuh kecilnya berada tidak jauh dari toko bunga yang tadi aku kunjungi.

Aku melangkahkan kakiku ke sana dan ahirnya aku mengurungkan niatku untuk menariknya saat mendengar percakapannya dengan si pemilik toko.

Aku memperhatikannya yang berjarak beberapa langkah dari tempatku sekarang.

Aku bisa melihat raut kecewa yang jelas di wajahnya saat dia harus merelakan boneka rusa yang tadinya ia tatap berbinar itu disana dan tidak bisa ia bawa pulang.

entah kenapa aku malah menikmati semua kelakuannya,

Aku melihatnya mulai berbalik dengan wajah sedih yang tidak bisa ia sembunyikan, ia menarik nafas dalam dan mulai melangkah dengan menunduk tanpa melihat jalan.

Secara bersamaan aku mendengar suara motor yang melaju dengan kencang ke arah Luhan, Karena memang Luhan sangat dekat berjalan di pinggir jalan, tapi sepertinya lelaki bodoh itu tidak sadar dengan situasi dan masih saja menunduk.

"LUHAN AWAS!"

Entah setan dari mana yang membuatku berlari begitu cepat,

dan tepat sebelum motor itu lepas kendali mengenai tubuh kecilnya aku berhasil memeluknya dan menariknya ke samping.

Aku berusyukur karena sepertinya dia tidak apa apa.

Dia menatapku kaget sekaligus bingung tapi saat aku merasakan bibirnya hampir mnyentuh bibirku aku merasa jantungku akan lepas, aku menghempaskan tubuhnya dan meninggalkannya yang masih bingung disana.

Bahkan aku tidak sadar kalau lenganku sudah terluka kalau dia tidak mengatakannya barusan.

"Sial! Sial! sial!" Aku mengacak rambutku kasar dan membanting setir kembali dengan kasar.

Aku melihatnya bergidik takut dan bergumam 'maaf' dan saat itu aku mengalihkan pandanganku padanya.

*End of Kai Pov*

.

.

"Maaf~" Luhan tidak berani lagi menatapnya saat ia menyadari kalau Kai sudah menghentikan mobilnya dan berhenti menyetir dan kini beralih menatapnya.

Luhan sedikit menyesal karena sudah mengatakan hal tadi yang membuat Kai terlihat sangat marah.

Tapi Luhan juga tidak bisa menahan kekhawatirannya melihat lengan Kai yang terluka.

"Jangan kemana-mana, kalau kau berfikir untuk kabur aku tidak berjanji kalau kau masih ada di dunia ini besok"

Setelah mengatakannya dengan nada yang dingin, Kai segera turun dari mobilnya dan tidak lupa ia membawa bunga yang tadi ia beli.

Luhan sendiri yang dari tadi menahan nafas dan menunduk kini bisa bernafas lega dan mengangkat wajahnya memperhatikan Kai yang mulai melangkah menjauh.

Tubuh tegap dan dengan proporsinya yang sempurna seperti menghipnotis Luhan, padahal Luhan hanya melihat punggungnya saja.

Dengan setelan serba hitam terlihat sangat pas di tubuhnya, rupanya lelaki itu sudah memakai jas hitamnya yang membuat lengannya yang terluka tadi sudah tidak terlihat.

Luhan masih taat menatapnya sampai akhirnya sosok itu berhenti dan mulai berjongkok di depan gundukan tanah yang terlihat terjaga dan mewah.

"Gundukan?"

Dengan mengerutkan keningnya, Luhan mengalihkan pandangannya ke sekeliling, dan ternyata bukan hanya satu gundukan tanah yang tertata rapi dengan nisan yang ada disana.

Seketika Luhan menyadari kalau mereka sedang berada di pemakaman.

Tanpa melihatpun Luhan tau makam siapa yang sedang di kunjungi oleh Kai di depan sana yang masih bisa ia lihat dengan jelas dari dalam mobil ia sekarang berada.

"Jadi bunga tadi untuk ibunya" Luhan melihat Kai yang mulai menundukkan wajahnya di depan sana, ada rasa bersalah di hatinya.

Belum pernah ia melihat Kai seperti ini, terlihat lemah dan rapuh, kemana perginya Kai yang angkuh dan membuat semua orang takut dan tunduk padanya?

Baru kali ini Kai mengajaknya ke pemakaman ibunya, biasanya di hari peringatan kematian ibunya Luhan tidak akan melihat Kai seharian dan saat pulang lelaki itu akan terlihat kacau dan dengan beberapa noda darah di baju serta tangannya,

Dan saat itulah giliran Luhan yang akan disiksa oleh Kai, bedanya tidak sampai membuat tubuhnya babak belur, tapi lebih tepatnya membuat bagian bawahnya sakit tidak tertahankan karena Kai yang akan bermain seperti orang kesetanan malam itu.

Luhan sudah menghafalnya selama lima tahun ini dan dia sudah terbiasa.

Di hari ini Luhan akan melihat Kai yang rapuh dan hanya menutupi semua kesepiannya dengan kekuasaan yang ia miliki.

Ingin rasanya Luhan ke sana dan mengusap punggung adik tirinya itu untuk menenangkannya atau sekedar memberikan kata-kata penghibur.

Tapi langsung Luhan urungkan saat ia teringat kembali perkataan Kai, saat ia ingat akan mamanya, saat ia tahu kalau fakta paling kejam di dunia ini adalah bahwa mamanya lah penyebab lelaki di depan sana mengalami semua kesedihannya, kalau orang yang paling ia sayangi itulah yang menjadi penyebab sosok di depan sana kehilangan ibunya,

"Aku benar-benar merasa sangat buruk, maaf~" Luhan tidak bisa menepis air matanya yang turun begitu saja.

Secara bersamaan ia juga merindukan mamanya, jadi ia sangat tau bagaimana perasaan Kai sekarang.

Kalau di ingat lagi kematian mamanya dengan Ibu Kai hanya berjarak dua hari,

Bedanya Kai sangat beruntung karena bisa berkunjung ke sini kapan saja ia merindukan ibunya.

Sedangkan Luhan?

Sudah lima tahun lebih ia tidak pernah bisa melampiaskan kerinduannya pada mamanya ataupun papanya, karena semenjak malam itu, semuanya berubah, Luhan tidak pernah tau lagi apa kabar dengan China, tempat asalnya, dia sudah terperangkap di dunia baru yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

Luhan sendiri belum terlalu faham bagaimana jalan cerita ia sampai seperti ini, bagaimana ia ahirnya mempunyai saudara laki-laki seperti Kai, bukankah itu artinya mereka satu Ayah? Apakah Kai tidak ingin menemui ayahnya juga? Yang Luhan tau kalau papanya _Kim Min Hoo berada di pemakaman yang berdekatan dengan makam mamanya, dan jauh di China sana.

"Hhh~ tentu saja dia ingin, tapi kami terlanjur merusak semuanya"

Lagi-lagi hanya rasa bersalah yang Luhan dapatkan, ia baru mengingat kalau memang yang dikatakan Kai benar, bukankah itu berarti papanya yang juga ayah Kai sudah berselingkuh di belakang ibu Kai? Sebut saja kalau mamanya lah yang menjadi wanita penganggu di keluarga Kai.

"Oh Tuhan kenapa aku tidak menyadarinya dari dulu, kalau aku tau aku tidak akan membiarkan mama melakukan hal sekeji itu" Luhan menangkupkan wajahnya pada kedua tangannya.

Bahunya bergetar membayangkan wajah bahagia mamanya saat mereka bertiga bersama dulu, ia tidak pernah menyangka kalau mamanya akan berbuat dosa sebesar itu, ingin berteriak rasanya, Luhan ingin menyalahkan seseorang atas semua ini, tapi dia tidak bisa, hanya dirinya lah yang tersisa disini sekarang, hanya dia yang bisa menebus semua itu, yang sayangnya dia sendiri tidak tau bagaimana caranya selain hanya dengan mengikuti semua kemauan orang yang sudah menjadi korban dari semua kejadian pahit di masa lalu.

"Penyesalanmu tidak akan mengubah apapun" Luhan mengangkat wajahnya dengan mata yang memerah karena menahan air matanya yang kembali mendesak ingin keluar.

Matanya langsung bertatapan dengan milik Kai yang memancarkan aura gelapnya namun tercetak samar kilatan kesedihan disana, bahkan Luhan berasumsi kalau Kai tadi sempat menangis di sana.

"Kau pikir ibuku akan hidup kembali dengan penyesalanmu ini huh?" Tangan Kai sudah berpindah mencengkram dagu Luhan.

Luhan memejamkan matanya dan air matanya lolos dari sana, perkataan Kai benar dan itu membuatnya semakin merasa buruk.

"Kau lihat kan bitch? Karena kelakuanmu dan wanita jalang itu, ibuku harus berbaring disana" Cengkramannya sudah berpindah ke leher Luhan.

Kai tidak bisa mengendalikan emosinya, berapa kali pun ia berpikir untuk merelakan ibunya yag sudah pergi, hanya kekesalan dan dendam yang semakin bertambah dalam dirinya.

Dia tidak akan pernah bisa menerima semua ini, seharusnya dia masih bisa hidup bahagia dengan keluarga yang utuh, tapi semua itu harus hilang karena orang di hadapannya ini dan wanita sialan yang sudah melahirkannya.

"Akh~ sakit" Luhan memegang tangan Kai yang semakin menekan lehernya yang membuatnya tidak bisa bernafas.

Kai tidak perduli, saat ini suasana hatinya benar-benar buruk, biasanya setiap hari peringatan kematian ibunya ia akan melampiaskannya dengan memukuli orang lain siapapun yang ia inginkan, tidak jarang orang yang menjadi pelampiasannya kehilangan nyawa di hari itu. Apapun bisa Kai lakukan agar emosinya benar benar bisa ia lampiaskan dan dia akan mengurus semuanya dengan rapi agar setelah itu dia tidak mendapatkan masalah.

Hey membunuh sudah menjadi hal yang tidak asing lagi bagi seorang Kai.

Dan hari ini dia tidak bermaksud melampiasakan semua pada orang di hadapannya, dia hanya ingin menunjukkan berapa besar dosa dan kesalahan yang sudah di perbuat oleh wanita yang melahirkan Luhan, ia ingin Luhan benar-benar merasa menyesal dan bersalah, bukankah dengan begitu mereka sedikit impas? Karena bukan hanya Kai yang terluka disini tetapi Luhan juga harus merasakannya.

Tapi semuanya di luar kendali, rasanya sangat berbeda saat orang yang merenggut kebahagiaanmu di hari seperti ini ada di hadapanmu.

Kai sudah siap membunuh Luhan saat ini juga, setan dalam dirinya sudah menguasai sepenuhnya.

Luhan menutup matanya, dia juga memikirkan hal yang sama, lebih baik baginya untuk menyusul mamanya dan terlepas dari semua ini.

Drrt

Drrt~

Drrt...

Tapi sepertinya,

tuhan tidak pernah berpihak pada Luhan,

Kai sudah melepaskan tangannya yang mencekik leher Luhan yang sudah memerah,

Setelah meraih ponselnya Kai segera menjawabnya.

"..."

"Kau dimana?"

Luhan yang sudah berhasil menetralkan nafasnya memperhatikan Kai dalam diam, dia sudah tidak menangis hanya terbatuk sesekali karena tenggorokannya yang masih terasa kering.

Luhan bisa melihat rahang Kai yang mengeras mendengar jawaban dari seseorang di seberang sana.

"..."

"Aku kesana sekarang"

Tanpa menatap Luhan, Kai sudah menjalankan mobilnya.

Luhan tau kalau sesuatu sedang menganggu pikirannya sampai ia sudah lupa niatnya untuk membunuh Luhan tadi,

Tapi Luhan tidak mau menggali kuburannya, dia hanya memilih diam dan mengamati jalan dari kaca jendelanya, membiarkan pikirannya yang kini juga berkecamuk dan membuatnya merasa tidak nyaman, hari ini benar-benar buruk.

Setelah sekitar setangah jam diselimuti keheningan yang terasa mencekam di dalam mobil, ahirnya mereka sampai.

Luhan tau saat Kai sudah memarkirkan mobilnya di depan sebuah cafe yang sangat besar dan mewah bahkan hanya untuk golongan cafe itu lebih pantas di sebut dengan hotel berbintang kalau menurut Luhan.

Luhan tidak tau apakah dia harus ikut turun saat Kai sudah membuka pintu mobilnya dan turun dari sana,

Luhan tau betul kalau Kai sedang ada dalam urusan penting sekarang, karena dari tadi wajah Kai benar benar sangat serius dan sedikit tegang walaupun ia menyamarkannya dengan ekspresi datar andalannya.

Pada ahirnya Luhan memilih untuk tinggal dan tidak ikut campur, Kai sudah melangkah masuk ke dalam sana dan Luhan tidak bisa lagi melihatnya dengan jelas karena pembatas kaca yang begitu angkuh menempel menjadi dinding dari cafe tersebut.

Luhan mendesah dan kembali mengusap mukanya kasar dengan telapak tangannya yang dingin.

"Seandainya ada yang bisa ku lakukan untuk menebus ksalahan itu, agar kau tidak membenciku lagi Kai, aku akan melakukannya"

Luhan menatap sendu pada Kai yang terlihat samar di dalam sana.

Luhan benar-benar serius dengan pilihannya yang akan menuruti semua kemauan Kai asalkan lelaki itu perlahan lahan bisa maafkannya dan juga mamanya,

walaupun rasanya itu mustahil mengingat seberapa besar kebencian Kai padanya, tapi tidak ada salahnya kan Luhan berharap? Walaupun kemungkinan itu sangat tipis dan sangat mustahil.

Luhan menegakkan kepalanya saat ia mendapati sosok Kai sudah mendekat ke arahnya, sepertinya urusannya sudah selesai, akan tetapi kenapa wajahnya seperti itu?

Sepertinya terjadi sesuatu yang salah di dalam sana.

Luhan menunggu sampai ia terkejut karena Kai yang langsung menghantamkan tangannya pada setir mobilnya untuk kesekian kalinya, dapat Luhan lihat tinjunya yang memerah.

"Brengsek! Sial!" Kai membantingnya lagi tidak perduli dengan Luhan, mungkin dia saja sudah lupa kalau Luhan ada disana.

Luhan takut, tapi rasa prihatinnya lebih kuat melihat Kai yang sangat kacau seperti ini.

Luhan tau ini hari yang berat untuk Kai karena tepat pada hari ini ia kehilangan ibunya beberapa tahun yang lalu, tapi sepertinya masalah lain terus menambah beban Kai di hari ini.

.

"Kau akan melukai dirimu" Sebelum Kai membuat tangannya berdarah karena terus menghantamkannya dengan keras, Luhan menahannya-

Entah keberanian dari mana yang Luhan dapatkan, terserah kalau Kai akan membunuhnya karena sudah lancang, Luhan tidak perduli, bukankah dia sudah siap kalau memang harus berakhir seperti itu?

Kai menatapanya tidak suka, dan Luhan masih menahan tangannya yang terkepal, dan Luhan melakukannya dalam keadaan yang benar benar sadar.

"Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?"

Nadanya membeku di telinga Luhan tapi dia tidak akan menyerah, ada rasa bertanggung jawab dalam dirinya yang harus bisa membuat beban Kai sedikit terangkat.

karena bagaimanapun Luhan berpikir dia lah yang menyebabkan kesedihan terbesar untuk Kai.

"Aku hanya ingin mengurangi sedikit bebanmu" Kai masih memeperhatikan tangannya yang ditahan oleh Luhan.

"Tau apa kau sialan!" Kai menepis tangannya tidak suka.

"Kau boleh pura-pura kuat, kau juga boleh membunuhku setelah ini-" Luhan menatapnya takut kemudian menelan ludahnya kasar sebelum berani melanjutkan kalimatnya.

"Tapi izinkan aku menebus kesalahanku dan mengurangi bebanmu hari ini" Kai menautkan alisnya.

Luhan menatap Kai dengan penuh keyakinan walaupun sekarang tangannya tidak berhenti saling bertaut gelisah dan mulai berkeringat karena menekan rasa takutnya.

"Memang apa yang bisa kau lakukan hm?" Kerutan di dahi Kai sudah berubah jadi smirk mengerikan ketika bisa menangkap kegelisahan Luhan, emosinya secara otomatis sudah mereda, dia sudah tidak tertarik dengan setir mobil di hadapannya.

Mahluk disebelahnya kini jauh lebih menarik untuk dia banting, di banting di kasur misalnya.

"Apapun, aku akan berusaha melakukan yang terbaik" Luhan menjawab ragu tapi dia sudah membuat pilihan.

"Kau tau kan kalau ini tidak berhasil kau akan berada dalam masalah besar?" Kai mengelus bibirnya yang memucat membuat Luhan meneguk ludahnya kasar.

"Aku tau, sudah ku bilang kau bahkan boleh membunuhku" Luhan memberikan senyumnya dan itu membuat hati Kai merasa nyaman.

"Call, tunjukkan apa yang bisa kau lakukan" Kai sudah mejauhkan wajahnya sebelum akal sehatnya hilang dan melumat bibir Luhan.

Dia sadar kalau sekarang bukan waktunya untuk bersantai dan bermain-main, apalagi dengan sesuatu yang tidak pasti dan mengikuti apa yang ingin Luhan perbuat.

Semua yang dia rencanakan tidak ada yang berjalan lancar,

Laporan dari Baro saat mereka bertemu tadi benar-benar membuat semua harapan Kai mengambang di udara, seolah kesibukan dan usaha yang ia lakukan selama dua minggu terakhir ini tidak ada hasilnya, dia tetap kalah dalam investasi sahamnya di perusahaannya sendiri.

Kolega bisnis yang ia andalkan pun tiba tiba saja memutar haluan dan berpihak pada si bajingan bermarga Oh itu, secara otomatis posisinya semakin kuat dan sangat mustahil bagi Kai untuk bisa memenangkan semua ini.

Kai belum pernah merasakan kesulitan sebesar ini selama hidupnya.

Dan dengan segela kepenatan yang membuat kepalanya terasa berputar, Kai ingin membebaskan dirinya hari ini dari semua urusan bisnis dan perusahaan yang membuat lehernya terasa di cekik oleh dasinya sendiri, tidak ada salahnya kan membiarkan Luhan berusaha membuatnya terkesan,

Dan kalau saja ia gagal, Kai juga tidak akan merugi karena dia akan punya alasan yang lebih tepat untuk menghukum namja cantik itu,

Membayangkan hukumannya saja sudah bisa membuat bebannya sedikit terangkat.

Dan dengan smirk yang tidak bisa ia sembunyikan, Kai mulai melajukan mobil mewahnya.

.

..

...

"..."

Seseorang menatap lekat mobil Kai yang mulai menjauh.

"Aku yakin Luhan bersamanya"

"..."

Lelaki berbadan tegap itu menarik sudut bibirya mendengarkan jawaban dari sambungan ponselnya.

"Tentu- aku akan membawanya padamu sesuai rencana"

Dengan itu dia memutuskan sambungan teleponnya dengan seseorang di seberang sana,

"Tamatlah kau Kim Jongin" Ia meremas kuat ponselnya seolah itu adalah Kai yang ingin ia remukkan secepat mungkin.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

tobecontinued/?

.

..

...

...

...

Aq update nih :'v

Makasih buat yang udah support dan ngasih saran positif, aku seneng deh bacanya itu penyemangat buat lanjutin ff ini.

Janji bakal di kelarin sampai end kok. Sorry kalau slow update :'v

Kakak sibuk dik/?

Ok jan lupa tinggalin jejak sayangqu, see you next chapt, kalo banyak responnya aku fast update deh

Spam komen saja aku suka/?