Yosh! Lama tak jumpa! OMG akhirnya bisa update lagi! Maaf dan terima kasih sebesar-besarnya bagi para Readers yang menantikan update fanfic (gaje) ini! Kami juga berusaha agarbisa update... tapi, banyak yang menghalang /cries/ kami usahakan akan akan update sebulan sekali, atau selang-seling karena bakal ada cerita baru yang akan kami buat~

Dibaca juga ya~ w)v


This Story Based On

Fatal Frame – True Ending

Fatal Frame II: Crimson Butterfly - Promise Ending

Fatal Frame III: The Tormented - Alternate Ending

Fatal Frame IV: Mask of The Lunar Eclipse - Second Ending

Fatal Frame V: The Raven-Haired Shrine Maiden - Good Ending

Disclaimer

Fatal Frame © TECMO-KOEI

All of Out Character / our OC (Original Charecter) © Para Author KepoNeko

Summary

Entah ini hanya permainan takdir atau hanya kebetulan belaka, Rikka Rahmadhati dan kedua temannya Andra dan Nizar mendapatkan kesempatan studi ke Jepang. Dengan dibawah bimbingan langsung dari mentor mereka, Ren Houjou, Kei Amakura, dan Rei Kurosawa mereka melakukan penelitian budaya di gunung Seinaru (Seinaruyama). Tapi, rupanya ada misteri besar dibalik tempat itu yang menyebabkan mereka semua terlibat oleh kutukan penuh dengan dendam dan penyesalan.

Genre

Humor, Horror (?), Supernatural, Mystery, Fantasy (?)

Rating

( R-13 ? / R-15 ? )

Warning

Gaje, Horror nggak jelas, Humor maksa nan garing, bahasa amberegul, typo(?), kemungkinan adanya kadungan OOC dari karakter lainnya (yang bukan OC kami), kemunculan pairing tiba-tiba (?)

Don't Like, Don't Read. Plese don't Flame

Hope you like it,

Fatal Frame ~ Burning of Sin

~ Chapter 10 ~ Kokuhaku no Heya [Confession Room]

"S-Sae...!"

Tubuh Mayu kaku saat tatapannya beradu dengan iris hitam pekat milik gadis yang berwajah mirip dengannya.

"Sae? Sae siapa?" tanya Andra menoleh pada Mayu, pemuda itu tampak biasa-biasa saja, berbeda dengan reaksinya cukup berbeda dengan Mayu.

Dengan tangan yang gemetaran, Mayu menunjuk ke arah salah satu cermin, di mana pantulan Sae berada. Andra yang mengikutin arah yang ditunjuk pun Mayu hanya bisa berekspresi kebingungan saat melihat pantulan cermin di sebrang sana, hanya ada pantulan dirinya dan Mayu di sana.

"Kau ini kenapa, Mayu-san? Di sana cuma ada pantulan kita doang kok".

Gadis itu langsung menggeleng cepat dan berbicara dengan intonasi yang lebih keras.

"Tidak! Sae ada di sana,Andra-san! Dia ada di sana!"

Bersamaan dengan terlontarnya ucapan Mayu, suara tawa gila mulai yang menggelegar mulai terdengar di dalam ruangan itu. Andra yang mendengar suara tawa itu pun menoleh ke segala arah untuk mencari sumber tawa, sementara Mayu hanya bisa menutup telinga dan mundur perlahan sampai punggungnya tertabrak pintu keluar yang sudah tertutup entah sejak kapan.

"Ini tidak nyata, kau sudah tidak ada, aku sudah terlepas darimu," rancau Mayu dengan mata yang tertutup rapat dan kepala yang tertunduk.

"What the hell...? Tawa siapa tuh..?"

Di lain pihak Andra yang masih menoleh kesana-kesini, dirinya mulai menyadari bahwa di setiap cermin terdapat cipratan darah yang masih segar, bahkan bau amisnya semakin lama semakin tercium oleh indra penciumannya. Cipratan-cipratan darah di cermin itu terpangpang jelas membentuk jejak telapak tangan yang seakan-akan menggambarkan baru saja ada pembantaian atau penyiksaan masal di dalam ruangan ini.

"Mayu-san, kita harus segera keluar dari sini! Tempat ini berbahaya!"

/Tanpa diberi tahu juga tau, Ndra... #Authormulaigondok/

Panggilan Andra hanya terdengar sayup-sayup di telinga Mayu, namun gadis itu tetap mendongak untuk melihat Andra, namun sayangnya yang dia lihat bukan hanyalah sang pemuda yang berdiri di depannya, tapi juga sosok Sae yang siap mencabik Andra dari belakang.

"Andra-san! Di belakangmu!" seru Mayu panik.

Sesuai peringatan Mayu, Andra refleks menoleh dengan kamera yang sudah siap, namun dirinya tidak melihat apapun di belakang sana.

'Huh?'

Pemuda itu baru saja berpikir bahwa Mayu sudah salah lihat. Namun tiba-tiba, terasa ada cakar panjang yang menebas dadanya, menembus kulit, otot, dan juga tulang rusuknya. Dada Andra terasa mati rasa, bersamaan dengan sensasi dingin yang menusuk mulai menyebar melalui otot-ototnya dan hampir membuat jantungnya berenti seketika.

"Aargh!"

Kedua kaki pemuda itu berusaha mempertahankan keseimbangan, sementara tangannya yang memegang kamera erat tanpa sengaja menekan tombol 'tembak', membuat sebagian ruangan itu diterangi oleh sinar blitz dan menangkap sosok hitam yang berada tepat di depan Andra. Sosok itu mengeluarkan suara yang menyakitkan telinga, sebelum akhirnya menghilang bersamaan dengan sinar blizt yang meredup.

"Uukh... Tadi itu apaan...?"

"Andra-san! Daijoubu desuka? (Andra-san! Kau baik-baik saja?)"

Di tengah rasa sakit yang melanda dadanya, Andra yang mendengar suara lembut Mayu pun sedikit menoleh padanya. Dilihat gadis itu seperti ingin menghampirinya dan memeriksa keadaannya, namun apa daya, Mayu hanya bisa menempel pada pintu dengan seluruh tubuh yang gemetar ketakutan.

"Y-ya, mungkin... ha hha..." jawab Andra sambil mencoba bernafas dengan paru-paru yang semakin terasa mati rasa, bau amis dari cipratan darah di cermin-cermin itu juga hanya membuat dadanya bertambah sesak.

Pemuda itu mulai menggertakkan gigi.

"Mayu-san, apa kau dapat melihat mahluk yang menyerangku tad'kani..?"

"Ah, d-dia..."

'Huh? "Dia"? Emangnya itu setan berwujud orang ya tadi..? Perasaan tadi cuma bayangan item doang,' renung Andra heran.

Pemuda itu kemudian merasakan getaran lemah dari Camera Obscura, bersamaan dengan lampu filamen yang sudah bersinar merah redup. Mengetahui bahwa mahkluk tak kasatmata itu mulai mendekatinya lagi, Andra segera beranjak dari tempat dia berdiri.

Sialnya rasa sakit di dada Andra malah semakin bertambah seiring dia menggerakan tubuhnya. Sembari menahan rasa sakit, Andra pun berbalik setelah merasa sudah mengambil jarak yang cukup jauh. Pemuda itu pun mengangkat Camera Obscura-nya dan mencoba melihat makhluk itu dari lubang kamera.

'Tuh setan juga gak keliatan dari nih kamera lagi... Bangke!'

Panik, pemuda itu mulai memotret ke segala arah tanpa memperdulikan jumlah film yang semakin berkurang. Di saat Andra akan memotret untuk yang ke-15 kalinya, tiba-tiba ia mendengar suara yang tidak manusiawi tepat di samping telinga kanannya.

"Andra-san! Awas!"

Itulah hal terakhir yang didengar Andra sebelum dirinya terlempar ke samping kiri dan menabrak beberapa cermin di dinding. Camera Obsura yang dipegangnya erat tadi itu terjatuh menghantam tanah keras namun tidak dengan Andra, sebaliknya tubuh pemuda itu menempel di cermin atau lebih tepatnya tertahan oleh tangan-tangan berlumuran darah yang keluar dari cermin.

"Ughh... fak!" umpat Andra seraya berusaha terbebas dari genggaman tangan-tangan yang semakin mengeratkan genggamannya itu.

'Kampret, gak mao lepas lagi!'

Pemuda itu masih berusaha melepaskan diri, namun bukannya bebas, dirinya malah semakin terjerat, ditambah lagi dengan adanya hawa dingin yang semakin melemaskan otot-otonya. Disaat kekuatannya mulai habis, Andra bisa merasakan kematiannya tiba, bahkan kematian itu telah berdiri tepat dihadapannya.

Mata Andra terbelalak begitu melihat bayangan hitam besar yang siap mengakhiri hidupnya. Andra pun refleks menutup mata dan pasrah menerima apapun yang akan menimpa dirinya. Tapi tiba-tiba, yang ia rasakan hanyalah cipratan air bersamaan dengan suara teriakan kesakitan yang bergema di dalam ruangan.

Begitu Andra membuka mata, betapa senangnya ia saat melihat Mayu berdiri di belakang makhluk hitam yang telah menguap menjadi asap dan menghilang. Di tangan gadis itu terdapat botol kosong yang sebelumnya berisi holy water dari sisa pertarungan di hutan.

"Andra-san, bertahanlah".

Ucap Mayu seraya menjatuhkan botol kosong dan cepat-cepat mengambil kamera, dengan sigap ia segera menembak tangan-tangan merah yang membelenggu pergerakan Andra sejak tadi. Andra langsung terkulai lemas begitu tangan-tangan itu melepaskannya, beruntung Mayu lebih cepat menangkap tubuhnya sebelum jatuh menghantam tanah.

"Andra-san, Daijoubu desuka?" tanya gadis itu ketika menjatuhkan diri ke posisi berlutut karena tidak dapat menahan beban tubuh Andra.

Sementara Andra sendiri hanya meletakan kepalanya di bahu Mayu sambil mengatur pernapasan agar menjadi normal kembali.

"Hh.. hha... Arigatou na, Mayu-san".

"Un".

Mayu mengangguk pelan sebelum menoleh ke sekeliling demi mencari sosok Sae. Tak perlu waktu lama untuk menemukan gadis gila itu, karena sekarang ini dia sedang berdiri di belakang Mayu. Keduanya saling bertatapan walau Mayu menatapnya dengan keraguan sementara Sae balik menatapnya sinis.

"Sae-"

"Beraninya kau merebut Yae".

Mata Mayu langsung menyipit begitu mendengar perkataan mahluk tiruan KW Super di depannya.

"Mio bukanlah Yae! Dia adalah saudaraku".

"Aah, iya... Dia adalah saudaramu," pupil hitam Sae menatap Mayu lekat-lekat, sampai Mayu pun dapat melihat refleksi dirinya di dalam kegelapan pekat itu, "Karena jika tidak, mana mungkin dia menderita seperti sekarang".

Sae tersenyum puas saat melihat warna di wajah Mayu menghilang.

". . . . T-Tidak..." nafas gadis berambut cokelat itu tercekat, ia tidak siap mendengar semua ini.

"Kaulah yang membuatnya menanggung semuanya... saat kau terjatuh.. saat kau ingin melakukan ritual..." kabut hitam pun mulai menyelimuti di sekitar Sae, "padahal kau tahu apa yang akan terjadi padanya kalau kalian melakukan ritual itu".

"H-Hentikan...! Aku tidak-"

"Karena keegoisanmu dia menderita! Saudara macam apa kau ini?!" ucapnya bersamaan sebuah senyuman sadis yang terukir di bibir pucat Sae, "Kau hanya bisa membuat hidup adikmu sengsara".

"DIAM!"

Bersamaan dengan teriakan Mayu, kabut yang menyelimuti kaki Sae pun meluap ke atas, menyelimuti seluruh ruangan dalam kegelapan disertai dengan suara tawa gilanya yang kembali menggelegar.

"Semua penderitaannya adalah kesalahanmu... salahmu... Karena 'pendosa' sepertimu, hidupnya tidaklah lebih dari kematian.. Dasar pendosa, pendosa... PENDOSAAA!"

Suara lengkingan Sae secara bertahap berubah menjadi berat dan lebih menyakitkan telinga, Mayu pun menutup mata sekaligus telinganya dengan kedua tangan. Namun, meskipun respon Mayu negatif terhadap perkataan Sae, tetapi di dalam hatinya diam-diam setuju akan hal itu.

'Itu benar, akulah yang menyebabkan Mio menderita sampai sekarang… Akulah yang menyebabkannya hidup dalam rasa bersalah. Itu semua kesalahanku… karena aku..-'

"Tidak lebih dari seorang pendosa".

Andra perlahan-lahan mengangkat wajahnya dari bahu Mayu saat merasakan hawa panas dan berat dari tubuh gadis itu. Dia sempat menoleh ke sekeliling untuk melihat situasi, anehnya ruangan ini kembali seperti sedia kala, tanpa bercak darah dan suara tawa gila yang sebelumnya.

"Nih tempat jadi normal lagi…?" ucap Andra sebelum menoleh pada Mayu, "Mayu-san..? oi, Mayu-san..?"

Hening, hanya keheningan yang menjawab panggilan Andra, gadis di hadapannya itu hanya terduduk kaku dengan kepala yang tertunduk. Bayangan poni Mayu membuat Andra tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

"Mayu-san?"

Kali ini Andra memegang pipi Mayu dan mengangkat wajahnya, betapa terkejutnya dia saat melihat pandangan gadis itu penuh dengan kekosongan, hampa tanpa kehidupan. Bahkan iris Mayu yang sebelumnya berwarna cokelat sekarang telah berubah menjadi hitam pekat.

"Anjir! Mayu-san, lo kenapa?!"

'Siapa yang mengatakan hal itu?'

"Akui saja".

Mayu membuka matanya dan melihat seseorang berdiri di depannya. Walau dalam kegelapan, tidak sulit bagi Mayu untuk mengenali adik tersayangnya itu.

"Mio…?"

"Akui saja kalau kau hanya seorang pendosa. Kau juga sudah menyadari hal itu kan, Kak?"

Si adik tersenyum tipis kepada sang kakak yang hanya menatapnya dalam diam.

Suara tawa dalam ruangan itu semakin lama semakin keras, bagai mengejek Mayu yang sekarang benar-benar terbebani dengan kata-kata 'seorang pendosa'.

Gadis itu reflek mendongak saat mendengar suara asing memanggilnya. Di depannya terdapat bayangan besar yang menatapnya dengan mata yang memancarkan cahaya biru terang.

Bagaikan terhipnotis oleh cahaya biru itu, Mayu mulai berdiri dan berjalan mendekati bayangan tersebut. Terlihat kabut hitam berkumpul di sebelah kiri sang bayangan dan membentuk tangan besar yang bertujuan menggenggam Mayu.

"Milikku…"

Tubuh Mayu pun sepenuhnya telah digenggam oleh kumpulan kabut hitam tesebut.

"Kau pikir bisa merebut 'wadahku' dengan semudah itu?"

Tiba-tiba saja tangan sang bayangan bertambah besar, bukan karena kabut hitam yang menambah ukurannya, tapi seperti ada sesuatu yang mendorongnya dari dalam. Tangan itu pun kemudian 'meledak' dan terhempas bersamaan dengan semua kabut hitam yang ada di ruangan itu.

Ruangan yang tadinya terselimuti dengan kabut hitam sekarang terselimuti oleh kabut merah darah. Bahkan sang bayangan yang juga terkena efek dari hempasan kabut merah tadi, bagaikan terkena cambukan yang sangat kuat.

"AARRRGGHH...!" teriakan tidak manusiawi memenuhi ruangan dan meredam suara tawa gila yang masih terdengar.

Suara tawa yang lain pun ikut bergabung dengan teriakan sang bayangan, mata bayangan yang tadinya berwarna biru kini telah berubah menjadi warna kuning nyalang, menandakan kemarahan yang besar.

Sementara gadis di depannya tampak tidak terpengaruh dengan hal itu, si gadis Amakura hanya kembali tertawa pelan sebelum akhirnya mendongak dan balik menatap sang bayangan.

"Ternyata kau tidak sekuat yang kuduga".

Tanpa diduga sang bayangan, tiba-tiba kabut merah di sekitar tubuh gadis itu bergerak liar dan mengikat dirinya dengan erat.

"AARRRRGH! KAU!"

"Inilah yang kau dapat karena telah menggangguku," bisik Sae penuh dengan amarah.

Gadis gila itu kemudian mengangkat tangannya dan kabut merah mulai berkumpul di antara mereka berdua, membentuk sebuah makhluk yang terlahir dari jiwa yang dikorbankan dengan cara yang sadis.

Ya, makhluk yang menjadi lawan terakhir Mio di desa Minakami. Kusabi.

"Musnahkan dia".

Tanpa basa-basi Kusabi langsung melakukan apa yang diperintahkan Sae. Dengan sekali tebas menggunakan cakar panjangnya, makhluk tanpa kulit itu berhasil membelah tubuh depan sang bayangan. Tidak hanya itu, kabut merah yang mengikat sang bayangan juga mengeratkan ikatannya bersamaan dengan telapak tangan Sae yang perlahan-lahan mengepal.

Saat tangan Sae mengepal sepenuhnya, bayangan itu musnah seketika bahkan tanpa sempat berteriak kesakitan.

Jejak-jejak kabut hitam sisa sang bayangan menguap di udara dan menghilang. Begitu juga dengan Kusabi yang ikut melebur menjadi kabut merah dan menghilang, meninggalkan Sae yang kini sedang meregangkan lehernya, kelelahan terlihat jelas diwajahnya.

Sae kemudian menoleh ke belakang, menatap tajam pada seseorang di sana. Setelah 2 tahun mengabiskan waktu dalam tubuh yang sama, tetap saja belum membuat mereka mengenal satu sama lain.

"Di sini sudah beres," ucap Sae seraya menoleh ke depan lagi, "Lebih baik kau juga membereskan yang di luar sana".

Hening sesaat sebelum Sae melanjutkan kata-katanya dalam bisikan.

"Dan cepatlah selamatkan Yae".

"...yu... Mayu!"

Mata Mayu sontak terbuka bersamaan dengan terlontarnya seruan Andra. Kembali ke dunia nyata, gadis itu berada dalam posisi badan yang sedang tersender ke dinding, di sekeliling tubuhnya terdapat banyak pecahan cermin.

'Ap… apa yang terjadi-aw!'

Telapak tangan kiri Mayu sempat tergores pecahan cermin ketika mengubah posisi duduk. Ia kemudian mengangkat telapak tangan kirinya dan melihat lembaran film berwarna biru pudar tidak jauh dari pecahan cermin yang mengores tangannya.

"Mayu!"

"Huh?"

Mayu segera mendongak begitu namanya dipanggil, ia dapat melihat Andra yang tengah berdiri tidak jauh dari Mayu dengan tangan yang memegang Camera Obsura. Ketika mengalihkan perhatiaannya dari Andra, gadis itu baru menyadari bahwa seisi ruangan ini porak-poranda, sebagian bingkai cermin dan pecahan cermin berserakan dimana-mana.

"Andra-san, apa yang terjadi di sini?"

"Jangan bertanya sekatang, Mayu. Dan tolong jangan pelor di tempat begini!" jawab Andra dengan nada yang sedikit panik, "Mayu, apa kau masih bisa melihat mahluk itu?"

Jelas yang dimaksud Andra adalah makhluk yang baru saja dimusnakan Sae di dalam alam bawah sadarnya tadi.

Si sulung Amakura langsung menoleh ke kanan-kiri selama beberapa saat sebelum akhirnya menemukan makhluk hitam tanpa wujud itu dilangit-langit.

"Andra-san, di atas!"

Andra pun mengikuti instruksi Mayu dan menjepret ke arah langit-langit tanpa menunggu lingkaran cahaya dalam layar frame terbentuk. Walaupun cara pemakaiannya masih tidak akurat, setidaknya tembakan Andra sedikit berefek karena menggunakan film type-61.

Sang bayangan mengeluarkan suara serak menyakitkan lalu berpindah tempat dengan cara menguapkan diri menjadi kabut hitam dan berkumpul kembali ditempat yang berbeda.

"Samping kirimu!"

Geraman kesakitan terdengar di dalam ruangan saat sinar flash mengikis kabut hitam yang membentuk wajah sang bayangan.

"Mahluk apaan ini?"

Kening Andra berkerut ketika melihat langsung monster apa telah dilihat Mayu. Bayangan itu memanatap Andra dengan mata kuning yang menyala penuh kemarahan, tangan gelapnya memegang sisi kanan wajah yang mulai menguap demi mempertahankan bentuk semula, ditambah lagi dengan suara serak beserta asap hitam yang keluar dari mulutnya menambah kesan yang mengerikan.

"J-jangan-jangan bentar lagi mao kiamat, dajjalnya udah keluar…" tutur Andra ngawur.

Mata kiri sang bayangan berkedut dan tiba-tiba saja wujudnya berubah menjadi mulut yang besar yang siap melahap Andra. Bagaikan adegan di sinetron yang akan tertabrak mobil padahal mobilnya masih diujung gang, Andra berteriak sangat kencang.

Namun, gerakan mulut itu terhenti seketika begitu kabut merah darah muncul disekitarnya dan mengikatnya dengan erat.

"Andra-san! Pakai kameranya! Tunggu sampai lingkarannya terbentuk, baru kau tekan tombolnya," seru Mayu yang ingin sekali menambahkan kata 'bodoh' dalam ucapannya. Mayu aja gregetan, apalagi yang duo sahabatnya ya?

'Bagaimana mungkin selama ini Andra-san tidak tau cara menggunakan Camera Obscura dengan benar? Dan kenapa aku baru menyadari itu sekarang?' pikir gadis itu heran.

Begitu mendengar ucapan Mayu, ekspresi Andra langsung mencerminkan perkataan 'Eh? Jadi selama ini gue salah ya!?'

Tanpa basa-basi lagi, pemuda itu langsung mengarahkan kameranya ke monster mulut didepannya. Menunggu hingga lingkaran cahaya dalam layar frame terbentuk seperti saran Mayu, bahkan sampai lampu merah kecil di atas frame berkedip.

"Die. you son of bitch!"

Andra menekan tombol kamera sekali.

Sinar flash yang sangat menyilaukan segera keluar dari kamera, menelan seluruh isi ruangan dengan warna putih yang membutakan mata. Baik Andra dan Mayu reflek menutup mata erat mereka, telinga mereka mendengar teriakan menyakitkan sang bayangan yang lama-kelamaan menghilang dalam keheningan.

Begitu membuka kedua mata mereka, tiba-tiba pandangan Andra maupun juga Mayu berubah. Mereka seperti melihat ruangan yang sama dengan ruangan tempat mereka berada sekarang ini, namun agak sedikit berbeda.

Pintu ruangan itu terbuka, di balik pintu tersebut muncullah seorang pria yang agak sedikit paksaan masuk ke dalam ruangan itu oleh dua orang pendeta yang mengawalnya, pria memasuki ruangan yang dipenuhi dengan cermin itu. Pria itu hanya minta untuk duduk di tengah-tengah ruang tersebut, namun setelah kedua pendeta tersebut meninggalkannya sendirian, mulai ada keanehan dengan dirinya.

Awalnya ia duduk seperti biasa, namun tidak lama kemudian pria itu semakin menunduk dan juga membisikan sesuatu.

Pandangan itu mulai memburam, lalu tiba-tiba berfokus kepada pantulan pria di cermin tersebut. Andra dan juga Mayu dapat melihat ada sosok bayangan hitam menyerupai manusia yang seperti mengelilingi pria tersebut, sama dengan mahluk tadi.

Di saat bersamaan pula pria itu mulai berteriak ketakutan dan histeris, bersamaan dengan itu tiba-tiba pandangan berubah seketika menjadi seperti sebuah lorong gelap yang panjang, dan berubah kembali menunjukan sebuah kobaran api yang besar.

"!?"

Andra sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ia lihat barusan. Apa itu ingatan dari hantu tadi? Atau ingatan yang tersimpan di ruangan ini yang menjadi saksi bisu? Andra sedikit teringat perkataan teman bertengkarnya (a.k.a Rikka), bahwa sebuah benda mati maupun sebuah ruangan dapat menyimpan sebuah kenangan dari apa yang terjadi di suatu tempat.

"Andra-san.. Apa kau tadi melihat sesuatu..?" tanya Mayu yang memecahkan keheningan.

"Iya," balas singkat Andra, Dirinya langsung terfokus dengan pecahan cermin besar yang ada di depannya. Sejak kapan cermin itu pecah?

Pemuda itu kemudian melangkah ke lubang yang terlihat akibat cermin yang menutupinya pecah. Sepertinya lubang itu adalah sebuah jalan rahasia, pikir pemuda itu.

"Apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan Mayu?"

"Un," balas Mayu singkat dengan anggukan, "sepertinya ini jalan yang ditujukan oleh 'pengelihatan' tadi.. Aku merasa Mio pasti ke tempat yang ada di luar gua ini," lanjutnya.

"Baiklah, Ayo".

Andra dan Mayu pun mulai memasuki lorong (lebih tepatnya gua) tersebut. Suasana yang cukup mencekam langsung terasa begitu mereka berdiri di mulut gua, apalagi cahaya sangatlah minim dan hawa dingin beserta lembab menjadi satu menambah suasana makin tidak mengenakan.

"!? S-sore wa... (I-Itu...)" gumam Mayu pelan setelah keheningan saat mereka mulai berjalan memasuki gue tersebut.

Gadis bersurai cokelat itu perlahan-lahan menghentikan langkahnya dan menatap 'sesuatu' yang sangat ganjil namun sangatlah familiar baginya, yaitu...

"Kupu-kupu merah..."

Andra yang juga menghentikan langkahnya hanya terdiam melihat dua ekor kupu-kupu merah tersebut. Baiklah, sekarang Andra bingung. Bagaimana bisa dua ekor kupu-kupu itu berda di dalam gua yang gelap dan lembab begini? Rasanya gua bukanlah tempat yang disukai oleh kupu-kupu pada umumnya.

"Bagaimana bisa...?" gumam Mayu.

"Apa artinya kedua kupu-kupu itu menuntun kita menuju ke tempat Mio..?"

Mayu hanya terdiam, namun, tanpa pikir panjang Mayu langsung melangkahkan kakinya mengikuti kedua kupu-kupu merah itu. Sedangkan Andra pada akhirnya hanya mengikuti langkah Mayu. Entah kenapa Mayu merasa kalau kedua kupu-kupu merah itu akan menunjukan jalan menuju ke tempat Mio. Walaupun dirinya memang merasa sedikit ragu, mengingat ia pernah membawa Mio beserta dirinya ke dalam bahaya karena mengikuti seekor kupu-kupu merah.

"Ini.. Di mana..?"

To Be Continue