Standar Disclaimer Applied
.
.
The Love Reason © Tsurugi De Lelouch
Chapter 10
.
.
Sabaku no Gaara & Haruno Sakura
.
.
Enjoying for Reading and Reviewing
Y~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*Y.
.
.
.
"Nghh… lanjut-kan… aah…"
Desahan muncul dari bibir wanita musim semi yang telah berkeringat peluh. Pandangannya mengabur tak jelas karena efek minum sake bersama sahabatnya, ia tak mengerti untuk menginginkan lebih dari pria yang ada diatasnya. Entah kenapa, ia kecewa tadinya dengan sang pria menolak untuk menyentuhnya padahal ini malam pertama—malam dimana suami istri menghabiskan waktunya bersama.
Tadinya ia dan suaminya saling bertatapan lalu sang pria menjauhkan dirinya dan duduk lalu wanita itu memeluk dari belakang dengan mencium tengkuk sang pria dan tangannya yang nakal menyentuh dada suami yang terbuka walau kimono masih melekat dan sang pria mulai menyentuhnya sampai tahap sekarang.
Tangan sang pria mulai menanggalkan kimono milik wanitanya dan tubuh kini hanya tertutup bra dan kain tipis yang melindungi daerah intim. Sejenak ragu ia melihat tubuh sang istri yang kini tersisa pakaian dalam saja tapi kedua tangan istrinya mendorong kepalanya hingga bibirnya bertemu kembali dengan saling mengecap… menghisap lalu beradu lidah hingga tetesan saliva mengalir kemudian kembali sang pria mencium leher jenjang yang sudah penuh bercak merah walau samar.
Sang pria tidak menginginkan ini melihat bekas kemerahan membuat hati tercubit—ia berharap esoknya sang istri hanya menganggap gigitan nyamuk. Demi menuntaskan segera—pria itu melepas pelindung terakhir istrinya lalu ia memandang raut ayu istrinya yang sayu namun menggoda. Dirinya pun menghisap dada kiri istrinya sedangkan tangan kanannya memainkan dada kananya lalu tangan kirinya mulai masuk ke dalam daerah intim yang sudah basah.
Lenguhan mulai terdengar merdu di bibir wanita itu seiring sang pria memainkan kegiatannya dengan penuh perasaan.
"Ngghh… shh… Gaara-s-sama… shhh…ooh…"
Orgasme kedua kalinya—wanita itu meracau nama pria yang berada diatasnya—suaminya yang masih memainkan kegiatan hingga ia berhenti dan merasakan cairan orgasme istrinya dari tangan kirinya. Dan dirinya tidak melakukan dengan lambat—ia melepas kimono hingga mereka polos masing-masing. Perlahan milik sang pria itu menggesekkan di daerah intim wanitanya lalu masuk dengan pelan hingga suara nyeri di bibir wanitanya sampai miliknya penuh masuk menyatu dengan tubuh istrinya.
Maju… mundur … maju … mundur… miliknya mendorong dengan tempo cepat lalu tangannya memainkan dada wanitanya yang bergoyang lalu bibir dibungkam oleh bibir sang pria. Mereka melakukan itu sampai decihan keluar dari bibir sang pria walau bibirnya masih menempel di bibir wanitanya karena miliknya ditekan kuat oleh otot daerah intim istrinya lalu sang pria melepaskan ciumannya.
"Shhh… oohhh…. Arghh… shhh… aah… ak-aku…"
Bersamaan pula sang pria mencapai klimaksnya…
"Sigh…arghh…"
Yang menjadi faktor kesalahan adalah sang pria menyemburkan seluruh benih di rahim istri. Ia pun langsung melepas miliknya dari daerah intim wanitanya lalu iris jade-nya memandang wajah istrinya kini tertidur pulas. Tanpa berpikir apapun ia memakai kembali kimononya lalu memakai kembali kimono istrinya kemudian merapikan sprei yang berantakan. Ia pun berjalan agak sempoyongan lalu berbaring sebelah istrinya seraya memejamkan matanya. Rasa sakit yang tergores di hati pria itu karena sudah melanggar perjanjian yang merupakan faktor ketidaksengajaan—minuman sake—entah apa yang akan terjadi besoknya. Ia berharap nantinya pasti sang istri akan tahu hal ini.
"Maafkan aku… Sakura…"
.
.
.
Bulir-bulir keringat mengalir di wajah pria bertato ai dan ia bangun dari mimpinya lalu pandangannya memasati ke sana kemari. Ia mendapati kedua kakaknya—Temari di kursi sedangkan Kankuro menyenderkan tubuhnya ke dinding. Tiba-tiba kepalanya pening mengingat peristiwa kemarin yang membuat pentengkaran menyakitkan dengan istrinya.
"Arghh… Sakura… Sakura… kumohon… arghh…"
Racauan pemimpin muda itu membangunkan kedua kakaknya yang menjadi panik melihat sang adik memegang kepalanya. Temari sangat khawatir dengan kondisi fisik dan psikis sang adik yang menjadi buruk ketika Sakura—istri adiknya pergi meninggalkannya.
"Gaara, sadarlah adikku… kami akan menemukan Sakura…"
Bukan mereda—jeritan kesakitan Gaara semakin keras dan terdengar pilu hingga Temari memeluk kepala adiknya. Ia juga mencemaskan dengan keadaan Sakura yang kini mengandung buah hati mereka berdua—Gaara dan Sakura. Ia belum menemukan alasan kenapa Sakura meninggalkan adiknya tiba-tiba.
Kankuro yang sedari diam menyuruh Temari untuk meninggalkan Gaara seorang diri di kamar. Mereka pun keluar dari kamar dan Kankuro memasang peredam suara di ruangan tengah di kediaman adiknya.
"Temari, ini masalah serius dan menyangkut mereka berdua."
Temari masih tak bergeming lalu Kankuro melanjutkan pembicaraannya.
"Pernikahan mereka itu dilandasi oleh dua perjanjian yang bertolak belakang. Dari perjanjian pertama—Gaara dan Sakura menyepakati kalau mereka tidak boleh saling menyentuh sebelum saling mencintai lalu yang kedua—para petinggi menyuruh Gaara untuk memiliki keturunan dalam waktu dua bulan."
Mulut Temari seakan mengatup rapat-rapat mendengar penjelasan Kankuro. "Memang ada yang salah, Kankuro? Lalu kau tahu darimana?"
"Aku menemukan gulungan yang tersimpan di laci kamar mereka lalu tentang perjanjian kedua itu aku mendapatkan langsung dari Hidate dan Kizashi-san," seru Kankuro menyerahkan gulungan ke tangan Temari.
Kemudian Temari membaca gulungan itu yang membuatnya kini berspekulasi kalau Sakura meninggalkan Gaara karena melanggar—insiden malam pertama yang membuahkan hasil justru berdampak buruk bagi mereka berdua. Hubungan mereka seakan terikat oleh tali janji dengan warna yang berbeda justru menjatuhkan mereka dalam lubang sandiwara.
"Tapi Kankuro, calon bayi yang ada di rahim Sakura tidak bersalah."
"Iya aku tahu, Temari. Inilah kalau terikat oleh janji—jika dilanggar pasti begini hasilnya. Gaara pasti menyembunyikan rapat-rapat insiden ini. Justru aku kasihan adalah kondisi mereka berdua," gumam Kankuro.
"Kita harus melakukan sesuatu, Kankuro. Bisa bahaya kalau kondisi Gaara begini bisa jadi desa lain tahu maka desa kita diincar," cecar Temari.
"—kecuali desa Konoha."
Netra milik Temari kembali menatap Kankuro. "Maksudmu?"
"Sakura pasti kembali ke Konoha. Itulah rumahnya… dan kenapa kecuali desa Konoha karena ini juga menyangkut hubungan bilateral antar desa kita dan desa Konoha lagipula pemimpinnya adalah sahabat Gaara," jelas Kankuro,
"Kenapa kau yakin kalau Sakura ke sana?"
"Sakura perlu mendinginkan kepalanya dan tempat tujuannya adalah rumahnya—orangtuanya. Dan percayakan saja kepadaku—kau urus para petinggi itu," ucap Kankuro.
"Bagaimana dengan Shion-sama itu?" tanya Temari.
"Ada Hidate yang mengurusnya—kau tenang saja. Yang terpenting mengembalikan hubungan mereka sekarang," tutur Kankuro.
"Ya," seru Temari menghela napasnya yang panjang.
.
.
.
.
Kondisi Shion agak membaik setelah kejadian kemarin yang menyisakan luka pahit di hatinya karena di tolak mentah oleh Gaara sendiri padahal ia akan menemaninya karena ia mencintai pemimpin desa itu akan tetapi kenapa pemilik iris jade itu sangat mencintai Sakura yang bahkan harus mencoba melupakan mantan calon suaminya itu.
Tamparan yang dilayangkan dari tangan orang yang dicintainya—Gaara masih terasa walau bekasnya hilang tapi rasa sakit dan hancur mendera pertahanannya dan orang yang tetap memandangnya adalah Hidate. Pemuda itu tak peduli ocehan bahkan cibiran terlontar dari bibir Shion karena menggendong dengan bridal style menuju apartemennya.
"Sudah agak baikan, nona Shion."
Shion bangun dan melirik tajam kepada pemuda yang berani masuk ke dalam kamarnya. Lalu ia memandang penuh selidik.
"Apa yang kau lakukan disini, Hidate?"
Hidate menyilang kedua tangannya di dada. "Aku hanya memastikan tuan putri miko baik-baik saja."
Gadis itu memicingkan mata tak suka dengan pandangan Hidate mengarah padanya lalu tangannya hendak menampar wajah Hidate tapi tertahan oleh tangan pemuda itu sendiri.
"Aku salah apa, nona Shion. Aku bermaksud baik membawamu sampai ke apartemen ini dan menunggumu. Lalu jika kau berpikiran tidak-tidak—aku tidak menyentuhmu sama sekali, karena pengawalmu saja ada di dalam," gerutu Hidate menurunkan tangan Shion.
Lalu Shion membuang muka ke samping dan ia melihat di luar jendela yang mendapati beberapa shinobi berlalu lalang mencari sesuatu.
"Kalau kau bertanya kenapa banyak shinobi yang berlari ke sana kemari. Mereka mencari keberadaan Sakura yang tiba-tiba menghilang tadi malam dan kemungkinan kondisi Kazekage-sama buruk sekarang," gumam Hidate.
Matanya membulat kaget lalu beranjak dari tempat tidur dan akan keluar dari kamar itu kalau saja tangannya ditahan oleh Hidate yang memandangnya datar.
"Lepaskan tanganku, Hidate-san!" pinta Shion.
"Kau mau ke kediaman kazekage-sama untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekatinya—sayangnya tidak, nona Shion," tukas Hidate.
Shion berusaha melepas tangan Hidate yang mencengkram tangannya tapi nihil tidak bisa. "Kalau aku mau kesana, kenapa kau melarangku? Kau bukan siapa-siapa aku?"
"Kau juga bukan siapa-siapa kazekage-sama, nona Shion! Yang ia butuhkan adalah istrinya… Sakura… bukan kau!" ucap Hidate.
"Dia membutuhkan orang yang benar-benar mencintainya—bukan seperti—"
"Yang kazekage sama butuhkan adalah Sakura, nona Shion."
Shion berhasil melepaskan genggaman tangan Hidate dan sebelum melangkah lebih jauh lagi—gadis itu menghentikan langkahnya lalu menatap pemuda itu kembali.
"Aku mencintai Gaara, Hidate. Aku perlu memperjuangkan cintaku apapun yang terjadi!"
"Cinta tidak harus saling memiliki tapi mengorbankan kepada orang yang dicintainya. Biarlah mereka bahagia karena ada satu pengikat mereka sekarang," seru Hidate.
"Apa itu?"
"Anak yang ada di dalam kandungan Sakura, itulah pengikat mereka walau kehadiran tidak di sengaja tapi anak itu tidak bersalah lagipula mereka melakukan itu ketika sudah menikah wajar saja tapi perjanjian itu membuat hubungan mereka seperti ini," jelas Hidate seraya menggarukan kepalanya.
Shion memandang netra milik Hidate dan tidak menemukan keraguan di balik perkataannya lalu raut wajah pemuda itu kelihatan tenang walau ia gagal mendapatkan apa yang dia inginkan terlebih lagi ia merelakannya.
"Kau tidak mengejar Sakura lagi, Hidate-san," tanya Shion.
"Mustahil untuk memisahkan mereka walau hubungan mereka kini renggang tapi pasti mereka bersatu kembali. Mereka butuh waktu untuk mendinginkan kepala masing-masing lagipula mereka sudah menikah, nona Shion," jelas Hidate kembali.
Shion memejamkan matanya sesaat lalu menghela napasnya. "Sebernanya aku egois tidak, Hidate-san?"
"Kau tidak egois. Kau benar untuk memperjuangkan cintamu namun caramu yang salah, itu saja."
"Hahaha, caraku yang salah. Seharusnya aku harus tahu diri kalau mereka akan mencintai walau pada awalnya hubungan mereka kaku," seru Shion.
Hidate mengacak rambut Shion. "Pada akhirnya kau mengerti juga, nona Shion."
"Cintaku gagal lagi," gumam Shion pelan.
"Tidak gagal karena masih ada aku disini, nona Shion."
Shion mengerucutkan bibirnya sebal. "Cih dasar!"
.
.
.
.
Rasa lelah mendera di wajah iryonin muda yang kini sedikit lagi menapaki tempat tujuannya. Walau kondisi tubuhnya lemah terlebih ia sedang mengandung—dirinya susah payah untuk menyeimbangkan tubuhnya untuk berdiri. Pandangannya mulai mengabur dan hanya bayang-bayang saja.
Kebetulan dua wanita sedang lewat dan hendak keluar dari gerbang desa lalu salah satu wanita mengenal kunoichi yang berjalan sempoyongan itu.
"S-Sakura-chan…"
Pandangan ninja penjaga dan wanita yang lain beralih lalu kaget—segera mereka berdua menghampiri Sakura.
Sakura menatap lemah kemudian lama kelamaan iris teduh tidak fokus lalu badannya ambruk beruntung wanita beriris Aquamarine memapahnya dan menatapnya khawatir.
"Saki… Sakii…"
Ino menepuk wajah sahabatnya lalu mengisyaratkan kepada Genma untuk menggendong Sakura ke kediamannya sementara Hinata menuju tempat hokage—lebih tepatnya kantor suaminya.
Tak berlangsung lama mereka berada di depan kediaman Ino dan disambut pria yang menggaruk kepalanya dan terkejut dengan wanita yang digendong oleh Genma. Segera pria itu mempersilahkan langsung masuk ke dalam rumah dan merebahkan Sakura di tempat tidur milik Ino kemudian Genma pamit permisi dan meninggalkan dua insan masih terpaku disana seraya menatap wanita musim semi terbaring disana.
"Kau menemukan dimana, Ino?" tanya pria itu.
"Shika, kebetulan aku dan Hinata keluar gerbang desa lalu menemukan Sakura berjalan kesini," jawab Ino kemudian memeriksa kondisi fisik sahabatnya.
Alangkah terkejutnya sampai Shikamaru menatap tubuh kekasihnya yang agak menegang setelah memeriksa tubuh Sakura.
"Ada apa, Ino?" tanya Shikamaru menepuk pundak kekasihnya.
"Dia ceroboh sekali bahkan tidak memikirkan kondisinya sama sekali," gerutu Ino tanpa menjawab ucapan Shikamaru.
Shikamaru menatapku aneh, "memang ada apa, Ino?"
"Sakura sedang mengandung, Shika! Dia ini kenapa sih kabur ke sini pasti kazekage-sama mencemaskannya," keluh Ino.
"Jadi dia sendirian ke sini, Ino?" tanya Shikamaru lagi
"Iya, Shika. Pasti mereka disana sangat cemas. Apa yang dipikirkan oleh Sakura sih?"
Tok..tok…
Shikamaru beranjak dari kamar Ino lalu membukakan pintu dan mendapati Naruto dan Hinata berada di depan rumah. Iapun mempersilahkan suami istri masuk dan menuju kamar Ino. Reaksi yang ditunjukkan oleh Naruto sama halnya dengan Ino—ia tidak percaya kalau Sakura kembali ke desa Konoha.
"Dia kemari sendiri, Ino?" tanya Naruto memandang miris kondisi fisik sahabatnya itu.
Ino mengangguk pelan. "Itu benar Naruto. Aku tak habis pikir dengan Sakura yang pergi sendirian kesini padahal ia sedang mengandung."
"Sakura hamil, Ino?" tanya Naruto lagi.
Naruto menepuk dahinya hingga Hinata mengelus lengan suaminya untuk menenangkannya. "Naruto-kun pasti memikirkan kondisi kazekage-sama juga bukan?"
"Pasti ada yang terjadi diantara mereka. Aku yakin itu," gumam Naruto. "Sebaiknya aku mengirim surat ke desa Suna sekarang."
"Sebaiknya biar aku saja yang mengiriminya, Naruto," pinta Ino.
Naruto mengangguk kepalanya lalu Ino beranjak darisana lalu keluar akan tetapi melihat dua orang shinobi dan menyerahkan gulungan ke tangan Ino lalu kedua orang itu pergi. Kemudian Ino kembali ke dalam dan menyerahkan gulungan peda Hokage ke enam—Naruto.
Iris biru langit milik Naruto membaca isi gulungan itu dan ia hampir menjatuhkan gulungan ke lantai jika saja tangan Shikamaru menangkap benda itu.
"Apa yang tertulis disana, Naruto-kun?" tanya Hinata cemas.
"Gaara kabur dari desa dan kondisi Suna agak kacau karena menghilangnya Gaara. Astaga ada apa ini?" gumam Naruto memijit keningnya.
"Kau tidak apa-apa, Naruto-kun?" Hinata memegang kening sang suami.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Bisa bahaya desa Suna tanpa pemimpin dan pasti ini ancaman besar. Aku harus kembali ke kantor, Shikamaru ikut aku. dan—" pandangan Naruto mengarah ke istrinya, " kuminta kau menemani Ino disini. Jaga Sakura-chan."
"Baiklah, Naruto-kun."
Naruto dan Shikamaru keluar dari kediaman Ino lalu kembali ke kantor. Seraya berjalan menuju kantor Hokage. Naruto bergumam hingga langkah Shikamaru terhenti.
"Apa maksudmu, Naruto?"
"Aku yakin kalau Gaara akan kemari dan ketika dia muncul maka tahan dia sampai aku ada yang akan menghadapinya," tukas Naruto.
"Jangan bilang kau akan menghabisi Gaara, Naruto?" ucap Shikamaru berintervensi.
Putra tunggal Minato Namikaze hanya tersenyum miris. "Aku tidak akan menghajarnya lagipula dia suami Sakura-chan. Lihat saja nanti."
"Terkadang senyummu itu membuatku takut, Naruto."
"Hhhm… Nanti kau minta Chouji, Kiba, dan Lee untuk menjaga gerbang kalau Gaara memaksa masuk ke sini."
"Lalu aku? buat apa kau menyuruhku untuk mengikutimu, Naruto?" tanya Shikamaru sebal.
"Ada sesuatu khusus untuk kau lakukan, Shikamaru."
"Mendokusai na…"
.
.
.
.
Kondisi yang tidak bersahabat tidak membuat pria bertato Ai melanjutkan perjalanan untuk mencari sang istri yang menghilang tanpa jejak setelah pentengkaran hebat kemarin malam. rasa nyeri masih terasa di hati Gaara mengingat wajah Sakura yang kecewa akan kebohongan yang ia lakukan.
Ia tidak peduli dengan fisiknya yang lemah akibat tidak mau memakan apapun untuk mengisi perutnya lagipula ia tidak bisa makan kalau tidak ada Sakura disampingnya. Biar saja sang ayah yang berada di alam baka akan menertawakan akan tingkahnya saat ini. Ini juga menyangkut wanita yang ia cintai juga calon anaknya yang berada di rahim Sakura.
Gaara menggerakan pasirnya asal jika langkahnya terhalang apapun. Ia hanya fokus untuk menemui istrinya dan menjelaskan semuanya dengan kepala dingin namun langkahnya terhenti—dirinya berdecih sebal dengan sosok pria yang menghalanginya untuk lewat.
"Kazekage-sama, cukup sampai disini langkah anda untuk memasuki kawasan hutan desa ini!" tegas pria menyilang kedua tangannya.
"Aku ingin menemui istriku. Dan aku yakin kalau Sakura ada di Konoha," seru Gaara mulai menggerakan pasir untuk menyerang pria itu.
Netra kelam milik pria itu memandang langit dan tersenyum. "Kami sungguh berterima kasih dengan jalur cepat yang anda buat untuk menghubungkan desa kami dan Suna sehingga anda mampu kesini dengan cepat." Tangannya mulai membentuk segel dan menyerukan jurus yang ia lontarkan.
"Kagemane no jutsu…"
Dengan cepat jurus itu mengikat langkah Gaara. Pemimpin desa itu memicingkan matanya kesal. "Apa maumu Shikamaru? Aku hanya membawa kembali Sakura ke Suna!"
"In perintah Hokage-sama. aku tidak membiarkan anda pergi sampai ia kemari untuk berbicara denganmu, kazekage-sama."
Gaara berdecih. "Lalu buat apa menahanku dengan jurusmu itu, Shikamaru?"
"Aku bertanya sesuatu padamu dan menyangkut sahabat kekasihku walau ini terdengar merepotkan—apakah kalian berdua membuat suatu janji?"
"Tidak ada hubunganmu, Shikamaru."
"Iya, ini tidak ada hubunganku tapi ada hubungan dengan kekasihku, kazekage-sama. sampai sekarang Sakura menggumamkan namamu lalu apa yang istrimu katakan di dalam igauannya?" tukas Shikamaru.
Mendapati lawan bicaranya diam, Shikamaru melanjutkan perkataannya. "Dia mengatakan kalau 'Gaara-sama… Gaara-sama.. dia membohongiku…Gaara-sama… aku mencintaimu…" itu yang ia katakan! Apakah itu benar kau membuat janji?"
Gaara tertawa pelan. "Tak kusangka ahli strategi yang jenius mampu menebaknya. Tapi—" melihat langit ia tersenyum perlahan jurus itu tidak mengikatnya lagi dan Shikamaru sendiri membiarkan pemimpin desa itu melewatinya lalu menyerahkan pada Naruto.
"—jurusmu sekarang tidak mengikatku lagi."
Dirinya pun melanjutkan perjalanan sesaat kepalanya pusing ketika sedikit lagi mencapai gerbang Konoha dan lagi ia ditahan oleh shinobi Konoha. Dengan gerakan pasir ia menyerang keempat shinobi itu tanpa peduli itu adalah rekan Naruto lalu tanpa sadar kehadiran seseorang membuat Gaara terdiam menatapnya.
"Hentikan itu, Gaara!"
"Naruto…"
.
.
.
"Gaara-sama … aku mencintaimu…"
Suara berdenging di kepala Gaara membuat pandangannya tidak fokus lalu ia bergumam lirih.
"Sakura, aku juga mencintaimu…"
Sama halnya dengan Sakura yang masih bergelung di alam mimpi menyebutkan kata yang sama berulang kali dan ia mendengar suara berat pria yang ia kenal. "Gaara-sama…"
.
.
.
.
.
.
.
*To Be Continued*
Tsurugi Notes (Wulanz Aihara)
Legaaaaaaaa…. Membuat chapter ini paliing lama dari chapter sebelumnya dan mungkin ini terpanjang. Sungguh hasilnya tidak memuaskan aaa-tidak… padahal sudah kususun jadi berantakan tidak sesuai denganku. Walau begitu kaku menghadirkan karya ini untuk kalian.
Terimakasih buat kalian semua sudah mereview, mengfollow dan mengfavorit karyaku ini. Spesial buat kalian…
Thanks for reviewing chapter 1-9
naomi, Ayano Futabatei, Miharu Kazuhime, Deauliaas, Voila Sophie , Shiokaze, Dijah-hime , Chintya Hatake-chan , Sherry Hoshie Kanada, miikodesu , Baka Iya SS , Api Hitam AMATERASU , Mizuira Kumiko , Moku-Chan, taintedIris, Kurousa Hime , dan Kira-chan Narahashi , Sakusasu 4ever, Tun'z, Rieki Kikkawa , aikuromi, taintedIris , Sparyeulhye, Kira-chan Narahashi, Moku-Chan,Hime Hime Chan, Rieki Kikkawa, Sherry Hoshie Kanada, KunoichiSaki Mrs Uchiha Sasuke , I Love Mo, Vamfict lovers, miikodesu, ,namina88, sasa-hime, ,namina88, Malecha Clare , NarutoisVIP ,Guest, Kaname, Guest, , Kiki RyuEunTeuk, FYLIN-chan, soee intana, hankira, hanazono yuri,Fortunemelo, Aden L kazt, firuri ryuusuke, Yume-chan,moku chan males login
Palembang, 02 Maret 2013
Tsurugi De Lelouch
