Maaf semua telat banget updatenya hehe... tapi yang penting update kan? #dibakar...
Oke repiu udah yoyo bales di pm... silahkan cek dulu yah...
Kalau belom di bales complain yah hehe..
Udah tanpa babibu langsung aja yoyo persembahkan... jeng jeng jeng...
Naruto itu punyanya kangmas masashi kishimoto
Tapi kalau Monster's punya saya
Boleh di copy tapi ga boleh di paste
Monster's
Drama/Sci-fi
Sakura, Akatsuki, Gaara, Sasuke
Chapter 10
Guinea Pigs of Gaara
"Gaara.."
Cicitan Sakura terdengar bergetar kala emeraldnya tahu siapa yang kini berdiri di hadapannya. Ia mundur satu langkah tapi matanya tidak lepas dari pemuda yang kini menatap obyek di belakang tubuhnya. Sakura sudah bisa menebak siapa itu.
Sasuke.
Sakura tahu kalau saat ini Gaara pasti berusaha mati-matian untuk meredam emosinya saat Temari sang kakak memegang bahunya sambil mengatakan sesuatu yang mungkin bisa menenangkannya.
Sepersekian detik sebelum akhirnya Sakura sadar, Gaara kini telah berada di sampingnya. Ia hanya membelalakan matanya dan menoleh cepat. Dan jantungnya serasa berhenti, saat ia melihat tatapan tajam penuh intimidasi dari pemuda berambut merah, yang kemudian mencengkeram tangannya kuat. Matanya sontak memburam. Butiran kristal bening mengambang menggambarkan apa yang ia rasakan sekarang.
Rasa sakit akibat cengkeraman Gaara bahkan tidak terasa baginya saking takutnya ia akan tatapan Gaara. Pemuda itu menyeretnya pergi. Namun, baru selangkah kaki, Gaara harus lagi-lagi menoleh tajam, saat ia merasa ada yang menahan tangannya. Sakura hanya menoleh pelan menatap sang pelaku yang kini ada di sampingnya itu dengan pandangannya yang masih berkabut ketakutan.
Sasuke.
.
.
Oniks Sasuke menyipit menatap mata hijau yang kini menatapnya dengan tatapan tajam membunuh, kemudian bergulir menatap tubuh yang berdiri kaku dan bergetar di depannya. Alisnya bertemu melihat keanehan pada gadis yang baru beberapa menit yang lalu menciumnya itu.
Ada hubungan apa mereka?
Namun pertanyaan itu sirna begitu saja saat matanya kini membelalak kaget. Seingatnya hanya sedetik ia melepaskan pandangannya dari pemuda itu. Tapi kenapa ia bisa dengan tiba-tiba sudah berada di sisi Sakura dengan waktu secepat itu? Ia menahan nafasnya. Siapa sebenarnya pemuda ini?
Belum sempat jawaban itu terjawab olehnya, ia melihat pemuda berambut merah itu mencengkeram kuat tangan Sakura dan menyeretnya pergi.
Entah insting darimana, reflek ia langsung menahan tangan kokoh itu. Sang pemuda sontak langsung menoleh menatapnya dengan pandangan tajam mematikan. Tapi tidak berpengaruh padanya. Dengan datar ia balik menatapnya.
"Kau menyakitinya, Tuan,"
Hanya sedetik sebelum ia sadar sebuah tangan melayang cepat ke arah wajahnya, sebelum tangan lain menahan tangan itu. Suara jeritan khas perempuan menyadarkannya dari kekagetannya.
Ia membelalakkan matanya.
Pemuda berambut merah itu hendak memukulnya.
Dan ada orang lain yang menahannya, sebelum ia berhasil dipukul pemuda itu.
Ia menoleh cepat ke arah penolongnya. Tubuhnya menegang.
Pemuda ini.
"Sai"
Beriris putih?
Suara yang bergetar menahan tangis di sampingnya menjawab semua pertanyaan di benak Sasuke tentang identitas pemuda penolongnya ini.
Ia menoleh ke arah Sakura kaget dan semakin terkejut melihat reaksi gadis tersebut. Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua? Kenapa ia jadi begitu ketakutan.
"Sudah pernah ku katakan Sabaku-san, jangan pernah membuat Sakura menangis lagi. Kau akan ku buat tidak berbentuk jika itu terjadi,"
Sasuke kembali melirik ke arah pemuda yang berdesis lirih tadi. Lagi-lagi matanya membelalak kaget. Ia berani bersumpah kalau tadi iris pemuda ini berwarna putih. Tapi...
Kenapa sekarang berwarna hitam?
Geraman yang berasal dari pemuda berambut merah menyadarkannya dari keterkejutan. Sasuke kembali memandang pemuda itu.
"Ga.. Gaara hentikan.."
Cicitan Sakura membuat pemuda itu meliriknya tajam. Sasuke dapat melihat bagaimana tubuh gadis itu menegang hanya dengan tatapan tajamnya.
"Ga..Gaara..."
"Kita pergi,"
Suara bariton itu, memotong kata-kata Sakura. Namun, pemuda itu menyerngit tidak suka saat merasa genggaman tangan yang mencengkeram tangannya mengerat. Ia menggeram. Sasuke melirik Sai. Pemuda itu menatap pemuda yang diketahuinya bernama Gaara itu dengan tatapan membunuh.
Sebenarnya siapa mereka berdua?
"Sai, aku.. aku akan baik-baik saja, kau.. kau tidak usah khawatir,"
Sai melirik Sakura tidak suka. Tatapannya melunak melihat wajah memelas gadis itu. Ia tampak berusaha menguatkan dirinya dengan mengusap airmatanya sambil tersenyum.
"Aku akan menemuimu,"
Kata-kata yang membuat Gaara kembali menggeram. Ia merasakan Sai mengendurkan genggamannya. Reflek ia menepis tangan pucat itu. Ia tidak suka dengan cara Sai memandang Sakura. Dengan segera ia menatap mengancam pada Sai sebelum kemudian menarik Sakura pergi meninggalkan dua orang dengan salah seorang memandang yang lain dengan tatapan curiga.
"Siapa kau?"
Sai menoleh ke arah sumber suara. Ia melihat tatapan datar di hadapannya dan seolah tidak mau kalah, ia balas menatap datar pada pemuda itu.
"Siapa kau sebenarnya?" ulang pemuda itu.
Sai hanya menatapnya beberapa detik sebelum kemudian berbalik meninggalkannya.
"Bukan urusanmu,"
M.O.N.S.T.E.R.S
"Gaara, lepaskan aku.."
Pemuda itu tidak menggubris kata-katanya. Hanya terus menyeretnya keluar mobil dan memasuki kediaman Sabaku.
"Gaara lepaskan aku!"
Sakura menaikkan satu oktaf suaranya, membuat pemuda itu menggeram tidak suka kemudian berbalik menatapnya tajam. Di belakang mereka, Temari memandangnya khawatir.
"Apa yang kau lakukan?"
Sakura menatap gugup pada Gaara yang mendesis marah.
"Gaara.."
"Aku tanya apa yang kau lakukan?!"
Teriakan membahana yang memotong kata-kata Temari, membuat tubuh Sakura menegang.
"Memang.. memang apa yang kulakukan?!" Sakura balik membentak.
Bodoh! Ia mengutuk kebodohannya dalam hati. Tidak seharusnya kalimat itu yang keluar. Kenapa susah sekali untuk minta maaf? Ini akan memperparah keadaan.
Tidak. Pemuda itu yang keterlaluan. Dia terlalu berlebihan. Ia sudah muak dengan terus di salahkan. Pertama oleh Karin, sekarang Gaara. Memang apa salahnya?
Nyalinya kembali ciut saat melihat tatapan marah dari Gaara. Ia menelan ludah. Sudah terlanjur. Lebih baik sekalian dikeluarkan saja.
"Memang apa salahku?! Ini semua karena si setan merah itu! Kenapa kau menyalahkanku?!"
Suara bergetar menahan isak itu, membuat Gaara mencengkeram lengannya lebih kuat. Sakura melotot kaget, menggigit bibirnya menahan isakannya agar tidak tumpah.
"Apa itu alasanmu mencium pria lain, eh Akasuna?!" desisnya dingin. Sakura menelan ludahnya menatap jade yang kini menatapnya seolah-olah ingin menelannya bulat-bulat.
"Memang apa hakmu melarangku!"
Jawaban yang akhirnya di sesali Sakura karena detik berikutnya pemuda itu mencengkeram dagunya dan menciumnya beringas. Sakura melotot terkejut dan berusaha memberontak, memukul-mukul dada pemuda itu kalap.
"Gaara!"
Teriakan Temari tidak menghentikan aksinya. Sampai wanita pirang itu berlari ke arah mereka dan mencoba menarik bahu Gaara, memisahkan mereka.
"Apa yang kau lakukan?!" tegur Temari yang tidak mendapat respon sama sekali dari orang yang ditegur. Jangankan merespon, melirik saja tidak. Pemuda itu hanya menggeram marah menatap Sakura yang berusaha mengatur nafasnya.
"Kau membuatku marah, Sakura," desisnya sebelum menarik Sakura sebelum gadis itu mampu mencerna kata-katanya barusan.
Ia menarik Sakura memasuki sebuah kamar, dan belum sempat sang gadis bisa memprotes, dengan segera ia menghempaskan tubuh Sakura ke atas kasur. Gadis itu menjerit kecil dan menatap pemuda itu panik.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Kau tidak akan pernah ku lepaskan," ucapnya sebelum menutup pintu kamar itu dan menguncinya dari luar.
Sakura membelalakan matanya dan berlari menuju pintu.
"Apa yang kau lakukan! Buka pintunya!" teriak Sakura, menggedor-gedor pintu kamar itu. Tapi tidak dihiraukan sang pemuda. Dengan segala emosinya ia langsung menendang pintu itu sebagai pelampiasan kemarahannya.
Menahan tangisnya sejenak, ia langsung merogoh saku jaketnya dan menemukan ponselnya. Dengan lincah, jemarinya kemudian menari di atas layar touchscreen ponsel itu mencari kontak seseorang. Dan saat kontak itu sudah tersambung, pecahlah tangisnya.
"Nii-san,"
M.O.N.S.T.E.R.S
"Aku tidak akan membiarkannya keluar dari rumah ini,"
Sasori mendengus mendengar kata-kata Gaara kemudian beralih menatap Pein yang sedang duduk bersilang di kursi santai menatap ke arahnya, Kankuro dan Gaara yang sedang berbincang atau lebih tepatnya berdebat, dengan tatapan meminta pendapat. Namun yang di lihatnya hanya Pein yang terdiam membisu membuang wajahnya keluar jendela.
Sialan. Apa yang harus dikatakan kini? Ia sangat tahu bagaimana perilaku pemuda merah di hadapannya kini. Mengambil paksa adiknya itu hanya dapat memperkeruh suasana. Ia kemudian menatap Kankuro yang kini menatap tajam pada dirinya. Ia reflek mendengus frustasi. Mengutuk ulah adik pinknya yang membuat suasana jadi canggung begini.
Saat ini mereka berada di kediaman Sabaku. Setelah mendapat telepon dari Sakura, ia dan Pein langsung menuju ke tempat dimana adiknya itu berada dan langsung di hadang oleh pemuda berambut merah ini. Oh yeah, terlalu berlebihan.
"Jangan terlalu berlebihan, Sabaku-san. Kau tidak mungkin menahan Sakura selamanya disini," ucapnya yang disambut tatapan tajam dari Gaara.
"Aku akan membunuhmu, jika kau berani membawanya," jawaban yang membuat Sasori menyerngit tidak suka. Hei, siapa pemuda ini sampai ia ingin menguasai adiknya.
"Kau pikir siapa dirimu?"
"Cukup,"
Suara bariton datar menghentikan perdebatan mereka. Gaara melirik tajam pada Pein yang masih melempar pandangannya keluar jendela. Pria berambut jingga itu menoleh ke arahnya.
"Cukup hentikan lelucon ini sampai disini,"
"..."
"Tempat Sakura bukan disini, dia harus pulang dan menyelesaikan tugasnya sesuai dengan perjanjian kerjasama kita,"
"Grrrrggghhh,"
Pein sadar apa yang sudah di tangkap pendengarannya dan penglihatannya. Gaara yang sedang menggeram, matanya memerah dan taringnya memanjang.
"Gaara!"
Teriakan Temari tidak mempengaruhi apapun. Pein menatapnya datar.
"Sampai kapan kau mau seperti ini?"
"Grrrrggghhhh,"
"Aku tidak peduli dengan masalah pribadi kalian, aku hanya akan peduli dengan tujuan kita dan juga Sakura,"
"Gggrrrrghhh,"
"Sudah pernah ku katakan berkali-kali, aku akan membunuhmu jika kau macam-macam dengan Sakura..."
"..."
"Karena itu sekarang tolong hentikan semua ini, karena aku benar-benar sudah muak,"
Gaara perlahan-lahan menjadi tenang. Namun, tatapan tajamnya masih melekat kuat menatap sosok pria berambut jingga yang kini beranjak menuju kamar yang entah sejak kapan ia tahu Sakura berada di situ. Ia menggeram.
"Aku akan berada di dekatnya sepanjang waktu,"
Pein menghentikan langkahnya mendengar kata-kata Gaara. Pemuda itu seperti..
Meminta ijin padanya?
Entahlah.
Ia kembali melanjutkan langkahnya.
"Hn, aku tidak peduli,"
M.O.N.S.T.E.R.S
"Dasar pemuda brengsek! Huwaaa!"
"Dia itu sudah gila, nii-chan!"
Sasori mendengus untuk kesekian kalinya mendengar tangisan Sakura. Ia melirik adik yang kini duduk di sampingnya itu, kemudian menatap Pein yang ada di hadapannya. Anak tertua di keluarga mereka itu hanya melirik Sakura sekilas dari spion di depannya, kemudian melempar pandangannya keluar jendela mobil. Ia kembali menghela nafas gusar.
"Sudah hentikan tangis bodohmu itu, kau sendiri yang salah,"
Sakura sontak menoleh murka ke arah Sasori sambil menghapus kasar airmatanya.
"Apa kau bilang?!"
Sasori berdecak kesal mendengar suara menggelegar dari Sakura. Kepalanya seperti mau pecah menghadapi adik perempuan satu-satunya ini.
"Jadi sekarang kau mau menyalahkan aku, hah?!"
Sasori memijit pelipisnya frustasi.
"Ini salah setan merah itu! Dia yang memancingku duluan!"
"Bisa kau hentikan itu sekarang?"
Sasori menggumam frustasi yang diikuti dengan tangis kesal dari Sakura yang kembali pecah seperti tidak puas dengan kata-kata Sasori.
"Aku tidak peduli dengan semua jawabanmu. Sekarang yang kuinginkan kau fokus dengan tujuan kita dan berhenti berbuat ulah,"
Sakura memukul kaca di sebelahnya menyalurkan kekesalannya. Ia terisak sambil menggumamkan kata 'menyebalkan' berkali-kali sebelum kemudian tangisnya perlahan menghilang terganti dengkuran halusnya saat ia jatuh tertidur karena kelelahan.
Sasori menghela nafas melihatnya, lalu membawa kepala Sakura agar bersandar di pundaknya.
"Sepertinya akan ada yang menjaganya lebih over daripada kau," celetuknya yang membuat Pein menatapnya dari spion mobil. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya sebentar ke arah adik perempuannya sebelum kemudian kembali menatap keluar.
"Hn,"
M.O.N.S.T.E.R.S
Sasuke tidak beranjak dari duduknya. Hanya memandang pemuda yang kini berada di hadapannya dengan tubuh yang sedikit menegang.
"Apa yang kau katakan itu benar?" tanyanya dengan nada dingin.
"Aku mendapat info ini dari pihak yang dekat dengannya. Ia mengatakan kalau gadis itu memang berasal dari klan Akasuna. Ia mengubah nama keluarganya saat ia debut pertama dan memakai nama keluarga ibunya sampai sekarang,"
Sasuke mengepalkan tangannya kuat.
"Dan kini aku tahu kenapa ia bisa berada di rapat waktu itu bersama dengan Akasuna dan Itachi. Sepertinya ia terlibat dengan kerjasama mereka yang akan datang. Dan itu melibatkan Sabaku-sama juga,"
Sasuke menyeringai sarkastik. Apa ini yang namanya takdir?
"Dan aku rasa kau bisa mengerti kenapa mereka tampak begitu dekat kemarin..."
"Aku mengerti Shikamaru,"
"..."
"Aku benar-benar tidak percaya ini?"
"Apa yang akan kau lakukan?"
Sasuke menatapnya datar dan..
Bimbang?
Entahlah. Shikamaru agak sedikit bingung mengungkapkannya.
"Aku tidak tahu, Shikamaru,"
Dan Shikamaru harus menautkan kedua alisnya bingung saat untuk pertama kalinya ia melihat sahabatnya itu menunjukan kegelisahannya.
M.O.N.S.T.E.R.S
Sakura tidak habis pikir apa yang ada di pikiran Gaara. Semenjak kejadian penciumannya terhadap Uchiha brengsek itu, sang pemuda selalu muncul di rumah sakit menjemputnya –paksa– sebelum ia berhasil meloloskan dirinya. Dan akhirnya ia harus mengarang banyak alasan pada Sai agar ia bisa bolos latihan di agencynya.
Dan hari ini juga.
Ia mengintip dari jendela ruang kerjanya. Pemuda itu sedang berdiri bersandar pada mobil sedan hitamnya, melipat tangannya di dada sambil menatap ke arah gedung rumah sakit. Sakura mendengus. Apa pemuda itu ingin menahannya seperti tawanan? Hei, dia juga punya kehidupan pribadi di luar rumah sakit dan juga rumahnya.
Sakura hanya bisa menghela nafas frustasi. Sudah pernah ia mencoba melarikan diri, dan hasilnya? Ia selalu tertangkap oleh sang pemuda. Ia melupakan fakta kalau pemuda itu adalah seekor serigala dengan penciuman dan pendengaran yang tajam. Ia tersenyum sarkastik.
Tetapi ia tidak peduli lagi, kali ini ia harus melarikan diri. Ia membuka lemari di ruangan itu dan mengambil kaos dan jeans Shizune-senpai kemudian melepas semua pakaian di tubuhnya dan memakai kaos dan jeans tersebut. Terakhir ia memakai jas dokter Shizune. Sedikit bersyukur dengan kebiasaan sang senpai yang membawa baju dan kaos di lemari baju yang disediakan sebagai cadangan jika mendapat shif malam mendadak. Matanya kemudian melirik parfum di atas meja kerja seniornya itu. Langsung saja ia menyambar parfum itu, dan menyemprotkannya ke seluruh tubuhnya.
Kalau Gaara bisa melacaknya karena bau tubuhnya, maka dia akan menghilangkannya.
Tersenyum sinis, ia kemudian melangkah menuju pintu darurat belakang dan hendak melangkah keluar jika saja sebuah tangan menariknya ke belakang. Ia sudah mau berteriak sebelum tangan itu dengan cepat menutup mulutnya dari belakang.
Apa itu Gaara?
Sial.
Ia ingat dengan peringatan yang lebih menjurus ke ancaman pemuda itu, saat ia mencoba melarikan diri kemarin. Hell, ia akan mati setelah ini. Mungkin kali ini ia harus bersujud minta pengampunan pada pemuda itu. Terlarut dalam kepanikannya, ia kemudian hanya pasrah mengikuti sang penculik yang menyeretnya ke sebuah mobil.
Hei, dia seperti mengenali mobil ini?
"Sudah sampai, ayo kita pergi,"
Suara bariton itu memecahkan suasana panik di antara mereka sebelum kemudian ia melepaskan dekapannya pada mulut Sakura.
Sakura spontan menoleh menatap sang penculik yang kini mencoba mendorongnya masuk mobil. Wajahnya berubah sumringah. Ia ingin berteriak memanggil nama pemuda itu sebelum sang pemuda menempelkan telunjuk di bibirnya.
"Kau cerdas," ucapnya sebelum mengacak rambut Sakura dan memberi kode agar gadis itu masuk ke dalam mobil.
"Aku ingin bicara," ucapnya pada sang gadis yang hanya dijawab dengan anggukan mengerti. Merakapun masuk ke dalam mobil dan melesat meninggalkan rumah sakit.
M.O.N.S.T.E.R.S
"Maafkan aku, Sai! Aku benar-benar minta maaf," isak Sakura di hadapan pemuda di hadapannya kini.
Sailah yang tadi menyeretnya tadi. Dan saat ini mereka sedang berada di kafe dekat agencynya, bertemu pertama kali setelah sekian lama tidak bersua setelah kejadian kemarin. Sakura bagai di telan bumi. Awalnya Sai mengira gadis itu menghindar. Namun, semua terjawab saat ia mencoba menjemput Sakura di Rumah Sakit. Pantas saja ia selalu tidak bisa datang ke agency. Ada yang mengawalnya seperti tahanan teroris. Ia berdecih kesal.
Dan saat ini Sakura sudah menceritakan semua pembicaraan tentang proyek ayahnya yang menyebabkan Sai seperti ini. Menceritakan semua detainya. Sampai semua orang yang juga bernasib sama dengannya. Dan itu termasuk pemuda berambut merah dan juga Akasuna Pein, kakak Sakura. Ia menghela.
"Ini bukan salahmu, untuk apa kau minta maaf," ucapnya tenang.
Sakura bersyukur Sai bukanlah orang seperti Gaara. Walaupun ia selalu berlebihan mengkhawatirkan dirinya, sifatnya cenderung seperti Itachi yang lembut. Bertahun-tahun bersama Sai, membuat gadis itu paham betul tentang dirinya.
Karena itulah, Sakura sangat merasa bersalah dengan pemuda itu. Bagaimanapun, keluarganyalah yang menyebabkan semua ini terjadi.
"Aku berjanji akan menemukan antigen yang nii-san maksud Sai. Untukmu, demi dirimu," ucapnya masih dengan isak tangisnya.
Sai kembali menghela nafas mendengarnya. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Sakura kemudian menarik gadis itu dalam pelukannya. Sakura hanya semakin memperkeras tangisnya di bahu Sai.
"Aku menyayangimu, Sai. Aku menyayangimu,"
Sebuah kehangatan menyusup di hati Sai mendengar kata-kata Sakura itu.
"Jadi percayalah padaku untuk kali ini saja,"
"Hn,"
M.O.N.S.T.E.R.S
Mata Gaara berubah merah melihat pemandangan di hadapannya kini. Nafasnya memberat. Sai mengacak rambut Sakura setelah mereka keluar dari mobil hitam pemuda itu. Jadi ini yang dilakukan gadis itu setelah lolos darinya sore tadi? Ia menggeram saat mengingat bagaimana penantian panjangnya kemudian berbuah nihil saat tahu kalau gadis itu sudah tidak berada di Rumah Sakit tempatnya bekerja. Begitu yang ia dengar dari salah satu staf Rumah Sakit tersebut.
Ia sudah dipermainkan oleh gadis pink itu.
Gadis itu melambaikan tangan pada mobil yang kini menjauhinya dan kemudian berbalik dan hendak melangkah masuk ke dalam rumahnya sebelum ia di kejutkan dengan tubuh tegap yang kini berdiri di hadapannya.
"Darimana saja kau?"
Sakura menatap horor pada Gaara. Sedang apa pemuda ini di rumahnya? Ia menelan ludahnya susah payah dan melirik ke arah dalam rumahnya mencari sosok kakak-kakaknya yang mungkin bisa menyelamatkannya dari situasi ini. Tapi jangankan sosok, bayangan mereka saja tidak kelihatan. Kemana saja duo bodoh menyebalkan itu?
Merasa sudah tidak dapat melakukan apa-apa lagi, Sakura akhirnya hanya bisa mendesah pasrah.
"Aku pergi dengan Sai,"
Sakura menjawab tanpa memandang wajah Gaara. Dan itu membuat sang pemuda tambah murka. Dengan cepat dicengkeramnya lengan Sakura, yang sontak saja membuat gadis itu berjengit kaget menatap matanya. Sakura menautkan dua alisnya was-was melihat mata Gaara yang sudah memerah.
Ia takut? Tentu saja.
Tapi menghindar di saat seperti ini bukanlah pilihan yang tepat. Berada di sekitar pemuda itu untuk beberapa waktu akhir ini, membuatnya mulai bisa mengenal sosok pemuda berambut merah, yang menurutnya sudah masuk ke dalam kategori psikopat itu. Terlalu jahat juga jika ia menyebutnya seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur frustasi dengan tingkah Gaara yang terlalu over itu.
"Apa yang kau lakukan dengannya?" desisan Gaara yang memang lirih namun dengan ekspresi itu tentu saja Sakura tahu kalau ia benar-benar marah.
Sakura menghembuskan nafasnya mencoba menekan emosinya. Dua api jika di satukan akan menciptakan kebakaran besar. Itu yang sedang ia sugestikan dalam otaknya sekarang. Bagaimanapun ia adalah dokter, dan pemuda ini adalah pasiennya. Ia harus bisa menjadi air agar bisa menyembuhkannya.
Ia menatap Gaara dengan pandangan lelah. Lelah menahan ketidaksukaannya atas sikap pemuda ini.
"Aku hanya menjelaskan beberapa hal, kalau itu yang ingin kau ketahui. Dan jika kau ingin tahu apa yang aku bicarakan dengannya, bisakah kita bahas besok? Karena aku lelah sekali sekarang," jawabnya dengan nada lelah. Jujur, ia memang sedang lelah dengan semua keadaan yang sudah di laluinya hari ini.
Rahang Gaara mengeras mendengar jawaban gadis yang sudah diklaim miliknya itu. Ia mempererat cengkeraman dan itu membuat Sakura menatapnya kesal.
"Bisakah kau berhenti bersikap menyebalkan seperti ini, Tuan Sabaku?!"
Sakura menaikkan satu oktaf suaranya. Sampai kapanpun mengendalikan diri memang bukan ahlinya. Siapa juga yang tahan kalau diperlakukan seperti ini terus.
"Berhentilah dulu membuatku marah, Akasuna!"
Suara melengking dari Gaara, membuat Sakura mau tak mau harus meneguk salivanya lagi.
"Si.. siapa yang membuatmu marah?!"
Walau takut, Sakura benar-benar tidak mau terlihat lemah di hadapan pemuda itu. Ia balik membentak dengan suara melengkingnya.
"Akukan sudah bilang kalau aku hanya menjelaskan beberapa hal pada Sai. Aku tidak melakukan apa-apa!"
Oh ayolah. Sakura bahkan tidak punya kepentingan untuk menjelaskan apa yang ia lakukan dengan Sai. Memang apa hubungannya dengan pemuda berambut merah ini? Sakura mendengus memikirkannya.
Sakura menatap Gaara yang hanya diam menatapnya dalam seolah menelanjanginya dengan semua penuduhan tentang apa yang sudah di lakukannya. Sakura mengerjab gugup.
"Apa?!"
"..."
"Ba.. baiklah,"
"..."
"Aku.. aku memang salah dengan yang kulakukan dengan pemuda gila itu, aku minta maaf.."
Suara Sakura terdengar lirih saat mengucapkannya. Cenderung berbisik. Ia juga membuang mukanya saat mengucapkannya. Tidak ada sahutan dari Gaara. Sakura meliriknya takut-takut dan kembali mendapatkan tatapan yang sama dari sang pemilik jade itu. Tajam yang marah. Ia mendengus.
"Huh,untuk apa juga aku menjelaskannya padamu.."
Belum sempat Sakura melanjutkan kalimatnya, sebuah pelukan memotongnya. Ia membelalakkan matanya.
Gaara memeluknya.
Ia memberontak namun pelukan itu semakin kencang.
"Jangan pernah lakukan itu lagi,"
Sebuah pernyataan atau mungkin perintah mutlak yang membuat Sakura memasang wajah kesalnya, namun ia berhenti memberontak.
Mungkin lebih baik seperti ini.
M.O.N.S.T.E.R.S
Sakura mengerutkan alisnya dalam, tampak kalau ia benar-benar sedang berpikir. Ia kemudian menghela nafas kemudian menutup kasar map di tangannya kemudian melempar ke atas meja di depannya.
"Aku perlu waktu nii-san, aku benar-benar belum paham apa yang ayah pikirkan,"
"Sudah aku duga Akasuna-san, dari awal aku sudah bilang kalau jangan mengandalkan dia,"
Sakura melotot menatap Kankuro. Wajahnya sontak saja cemberut kesal. Pria ini benar-benar bermulut iblis. Ia masih ingat betapa hangat dan perhatiannya pria itu padanya saat pertama mereka ke rumah ini. Dan sekarang? Lihatlah kelakuannya.
Cih. Sakura tersenyum sinis. Tentu saja, politikus kotor sepertinya harus bermulut manis untuk mendapatkan tujuannya. Kalau Gaara tidak menyukainya mungkin ia juga tidak akan bersikap lembut seperti itu.
"Kalau kau cukup pintar, mungkin kau bisa menolongku untuk menjelaskan formula-formula ini,"
Sasori memijit pelipisnya mendengar kata-kata Sakura.
"Sudahlah, Kankuro,"
Suara lembut Temari membuat Sakura berpaling padanya. Wajah kesalnya sedikit luntur saat wanita muda itu kini tengah beralih tersenyum padanya.
"Sakura-chan, kau pelajarilah pelan-pelan data-data itu. Tidak perlu buru-buru. Ini adalah proyek yang menyangkut nyawa, jadi jangan ceroboh,"
Mungkin sekarang Sakura mulai sedikit menghormati wanita itu. Entahlah. Wanita itu terlalu baik untuknya. Terlalu lembut untuk selalu dikasari olehnya. Dan selalu membelanya seperti Itachi. Dan itu membuatnya tidak enak kalau selalu bertingkah tidak sopan padanya. Dan yang lebih membuatnya sedikit menjadi penurut adalah karena wanita itu mengingatkannya pada ibunya. Sama seperti Nyonya Mikoto. Sakura menghela nafas memikirkannya.
Nyonya Mikoto ya?
Sakura jadi ingat tentang janji bertemu lagi dengan wanita itu. Semoga ia melupakannya dan tidak berusaha menghubunginya lagi. Karena kalau itu terjadi...
Ia melirik Gaara yang ternyata kini tengah menatapnya tajam. Tubuhnya mendadak kaku. Ia lalu berpaling cepat dan mengutuki kebodohannya yang berpikir ingin melihat wajah pemuda itu. Cih, pemuda itu seperti tahu apa isi kepalanya.
"Baiklah, aku akan bersabar. Tapi aku juga akan mengajukan sebuah syarat untukmu.."
Sakura mengalihkan pandangannya malas pada Kankuro. Apa lagi mau pria itu?
"Kau akan tinggal bersama kami selama kau mempelajari data-data ayahmu itu,"
Butuh beberapa detik sebelum Sakura berhasil mencerna kata-kata Kankuro tersebut.
"Apa?!"
Sakura syok mendengarnya. Apa maksud pemuda ini?
"Tapi...tapi..."
"Aku akan menyediakan laboratorium dengan peralatan terlengkap. Dan semua peneliti dari Red Clouds akan tinggal 24 jam di laboratorium tersebut. Jadi kau tidak perlu khawatir,"
"Bukan itu maksudku!"
Sakura menaikkan satu oktaf suaranya. Seenaknya sekali pria ini memutuskan sesuatu.
"Aku tidak bisa selalu berada di sini, aku punya kesibukan sendiri. Aku harus kuliah, ke rumah sakit, ke agencyku, aku punya banyak hal yang harus aku lakukan selain mengurusi hal ini.."
"..."
"Aku..aku juga harus memantau Itachi-nii dan Dei-chan. Kau juga tahu kan kalau mereka baru sadar kemarin. Aku harus memantau mereka dan melihat reaksi mereka terhadap mutasi yang mereka alami,"
Mungkin kalau boleh jujur, lebih tepatnya Sakura tidak ingin hidupnya terjebak dari pantauan pemuda merah yang kini merubah rautnya begitu ia menyebut nama Itachi.
"Aku tidak menyuruhmu untuk seharian mendekam di rumah ini Sakura..."
Sakura menatapnya gugup.
"Hah?"
"Aku hanya ingin kau menghabiskan waktumu disini untuk fokus terhadap proyek ini, setelah kau menyelesaikan semua kegiatanmu di luar rumah.."
"Tapi... tapi.."
"Dan kalau soal Itachi dan Deidara, aku rasa kau tidak berkepentingan tentang mereka. Kau bekerja untukku bukan untuk mereka..."
"Apa katamu?!"
Kata-kata Kankuro membuat emosi Sakura naik. Tidak berkepentingan? Enak saja. Bagaimanapun Itachi adalah salah satu orang terdekatnya dan juga orang penting dalam organisasi kakaknya. Tidak penting bagaimana?
"Jangan bicara sembarangan! Itachi dan Deidara itu orang penting di Organisasi nii-san!"
Kankuro mendengus dan melirik Gaara.
"Aku tidak pernah bilang kalau kau tidak boleh memantau mereka..."
Kini Sakura yang mendengus kesal namun tidak menyela.
"Aku hanya terlalu mengenalmu. Kau bukan orang yang serius mengerjakan sesuatu yang tidak kau inginkan. Dan aku tidak ingin kau melakukan hal yang sama pada proyek ini..."
Sakura menggeram. Spontan saja ia berdiri dan menggebrak meja di depannya.
"Jadi kau tidak percaya padaku?!" serunya marah.
Kankuro hanya tersenyum sinis padanya.
"Membaca data-data ayahmu sendiri selama sepuluh menit saja sudah membuatmu jenuh. Apa kau pikir aku akan mempercayaimu bekerja sendiri di luar?"
Kurang ajar. Sakura tidak terima ini. Ia merasa begitu direndahkan. Sakura sudah mau menghujaninya dengan sumpah serapah saat suara Kankuro kembali memotong kata-katanya.
"Jangan kau pikir karena adikku menyukaimu, aku memberi kenyamanan untukmu.."
Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal erat.
"Aku adalah seorang Menteri Pertahanan, dan aku tidak akan memberi toleransi apapun termasuk kepada orang-orang terdekatku sekalipun. Aku akan tegas, terutama terhadap gadis keras kepala sepertimu,"
Sakura menggeram marah.
"Aku setuju,"
Sakura menoleh kaget ke sumber suara. Pein? Hah? Sakura tersenyum sarkastik. Dia kalah telak. Dengan lemas ia jatuh terduduk setelah sebelumnya ia memukul meja lemah di depannya dengan kepalan tangannya.
Yah, semua orang juga tahu seorang Akasuna Sakura tidak mungkin membantah Akasuna Pein.
M.O.N.S.T.E.R.S
Sakura menatap khawatir pada Itachi yang kini menatap lemah pada dirinya. Alat bantu pernafasan dan pendeteksi jantung belum dilepaskan dari tubuhnya. Selang infus masih menancap di tangannya. Gadis itu menggenggam tangan pemuda berambut hitam itu.
"Apa yang kau rasakan Itachi-nii? Apa tubuhmu sakit?"
Sakura sedikit meringis menatap kondisi Itachi saat ini. Apa ini efek yang selalu terjadi begitu ia mengalami mutasi? Mengerikan. Bagaimana tidak, hampir seluruh tubuhnya lebam membiru. Belum lagi luka gigitan dari Gaara sebelumnya. Itachi banyak kehilangan darah. Itu yang membuatnya sadar lebih lama daripada Deidara yang sudah sadar dua hari yang lalu.
Sakura tidak habis pikir. Bagaimana mungkin dengan keadaan seperti ini, Gaara mampu kembali pulih dalam kurun waktu singkat. Mengingat pemuda itu, ia kembali mendengus. Luka gigitan di leher Itachi adalah hasil karya pemuda merah itu. Berterima kasihlah padanya Itachi.
"Aku senang kau di sini, Sakura,"
Sakura menghela nafas prihatin. Ia kemudian menoleh menatap Kakuzu.
"Mana hasil CT Scan tubuh dan organ dalam juga hasil lab darahnya?"
Pria bernama Kakuzu itu menyerahkan semua yang dimintanya. Sakura membaca data-data yang kini ada di tangannya.
"Banyak sel tubuh yang mengalami kerusakan yang sangat tidak wajar. Aku menduga, sel tubuhnya membelah dengan cepat saat mutasi dan pecah saat ia kembali dalam wujud normalnya. Ini yang membuat tubuhnya lebam dan tidak dapat berfungsi normal,"
Sakura menatap Itachi.
"Bisa kau gerakkan tanganmu Itachi-nii?"
Itachi tidak menjawab. Hanya mencoba melakukan yang diperintahkan Sakura. Dan wajahnya yang seperti mencoba meredam rasa sakit membuat Sakura tahu bahwa tubuh Itachi saat ini memang benar-benar belum bisa berfungsi dengan baik.
"Cukup, tidak usah dipaksakan Itachi-nii," perintah Sakura sambil menahan pundak Itachi. Ia lalu menatap Kakuzu kemudian mengangguk.
Setelahnya ia menatap tangan Itachi kemudian mengamati lebam di tangan tersebut dengan teliti. Ia mengambil senter dari saku dokternya kemudian membuka kelopak mata Itachi dan menyenternya, mencoba menguji reaksi pupil pemuda itu terhadap sinar. Dan matanya menyipit kala melihat reaksinya yang begitu lambat. Ia menoleh menatap Kakuzu. Seperti mengerti Kakuzu mengangguk.
"Reaksi lambat itu sudah aku amati saat dia masih tidak sadar. Aku menduga saat mengalami mutasi, seluruh organnya tidak berfungsi seperti biasanya,"
"Bagaimana dengan organ dalam?"
"Hampir sama. Bahkan lebih parah. Lebam yang terjadi pada tubuh juga terjadi pada organ dalam. Bahkan membuat organ-organ tersebut tidak berfungsi baik. Hampir semua fungsi organ dalam di bantu oleh alat-alat medis,"
Sakura menghela nafas kemudian mengalihkan matanya pada Itachi.
"Sepertinya hari ini cukup Itachi-nii. Beristirahatlah. Aku akan kembali besok,"
Ia menatap pemuda itu sebelum kemudian mencium dahinya.
"Maaf," ucapnya lirih kemudian berbalik meninggalkannya tanpa menoleh sedikitpun pada Itachi yang menatapnya dengan mata sayunya.
Sakura menghentikan langkahnya setelah ia keluar dari ruangan itu. Tangannya mengepal. Wajahnya tertunduk menyembunyikan raut bersalahnya. Kakuzu yang ada di belakangnya hanya bisa menatapnya bingung.
"Sakura-san, kau tidak apa-apa?"
"Aku..aku..."
Alis Kakuzu semakin mengerut dalam mendengar jawaban tidak jelas dari Sakura. Kepalan tangan Sakura mengendur, kepalanya mulai terangkat menampilkan rautnya yang seperti kelelahan.
"Kita harus menganalisis sesuatu, Kakuzu-san,"
Kakuzu belum menjawab. Belum mengerti maksud Sakura.
"Menganalisis apa yang terjadi pada tubuh mutan saat ia mengalami mutasi,"
Kakuzu membelalakkan matanya.
"Maksudmu?"
Sakura mengangguk.
"Yah. Dan itu berarti kita membutuhkan relawan mutan yang harus berkorban untuk mengalami mutasi,"
Kakuzu hanya tercengang mendengarnya.
"Dan aku tahu siapa itu,"
M.O.N.S.T.E.R.S
Sakura memutuskan sambungan ponselnya bersamaan saat ia bertemu dengan Gaara di ruang keluarga kediaman Sabaku. Ia mendengus bosan. Sudah dua hari ini ia tinggal di kediaman Sabaku. Dan ia selalu berusaha menghindar berinteraksi dengan ketiganya kecuali kalau benar-benar penting saja. Dan sebenarnya sekarangpun ia tidak ingin bertemu dengan pemuda itu. Namun, mau bagaimana lagi.
Ia memaksakan mengeluarkan senyum basa basi terpaksanya pada sang pemuda yang ditanggapi dengan wajah datar namun mata berkilat penuh makna.
"Aku ingin bertemu dengan Kankuro-san, apa dia ada?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Hn, dia baru pergi ke bandara, dia akan ke Korea selama dua hari,"
Tampaknya Gaara juga bukan orang yang suka basa-basi. Sakura menghela nafas kecewa mendengarnya dan memasang raut berpikir.
"Baiklah, aku pergi dulu," jawabnya kemudian.
Ia sudah akan berbalik sebelum merasa lengannya dicekal oleh Gaara. Ia menatap pemuda itu penuh tanda tanya.
"Kau tidak mencariku?"
Sakura memutar bola matanya. Oh Tuhan. Raut pemuda ini begitu serius dan datar. Dan Sakura benar-benar tidak menduga kalimat norak itu yang akan keluar dari mulut pemuda bertampang datar itu. Sangat tidak keren untuk wajah kerennya.
"Aku tidak ada urusan denganmu," jawab Sakura cuek.
Namun kemudian, entah hanya perasaannya atau tidak, ia melihat kilat kecewa yang melintas sesaat di matanya. Sakura menghela nafas. Pemuda dingin ini ternyata bisa juga bersifat kekanak-kanakan.
"Aku tidak bisa memasak, tapi nanti aku akan pulang ke rumah sebentar, ada yang ingin kuurus. Katakan kau ingin makan apa? aku akan meminta Ayame-san untuk memasakkannya untukmu.."
Sakura melihat Gaara menatapnya penuh makna. Ia menahan nafas. Sedikit grogi.
"Ma.. masakan Ayame-san terbaik di rumahku. Ja.. jadi kau tenang saja. Aku bukannya tidak percaya dengan pelayan di rumahmu ini. Hanya saja Temari-san sedang tidak ada. Dan aku tidak begitu tahu siapa yang mengurusi makanan kalian. Jadi.."
"Kare..."
Sakura mengerjabkan matanya. Ia tidak salah dengarkan? Gaara tadi baru menjawab memotong kata-katanya
"Apa?"
"Aku ingin makan Kare,"
"Ah!"
Sakura mengangguk paham.
"Baiklah, aku akan membawanya nanti. Kau tunggu di rumah saja,"
Sakura tersenyum singkat dengan kaku sebelum kemudian kembali ingin berbalik saat Gaara belum juga melepaskan tangannya. Ia kembali menatap bertanya pada pemuda itu.
"Ada apa lagi?"
"Bisakah lain kali kau yang memasak untukku?"
Sakura mendengus mendengarnya.
"Sudah ku bilang aku tidak bisa memasak,"
Ia memandang kesal pemuda yang menatapnya datar itu.
"Setidaknya maukah kau menanyakan apa yang ingin kumakan setiap hari?"
Sakura menatapnya kaget.
"Selamanya?"
Haruskah ia lari sekarang?
M.O.N.S.T.E.R.S
"Kau darimana saja, nii-chan? Kenapa ku telepon baru diangkat?!"
Suara Sakura memenuhi ruang tamu rumah bermodel tradisional Korea itu. Gaara yang saat itu memang sengaja duduk di ruang keluarga untuk menunggu Sakura, menoleh antusias menatapnya, begitu suara heboh itu tertangkap telinganya. Rumahnya tidak pernah seramai ini sebelumnya. Ia mungkin tidak akan bisa tidur dengan tenang kalau suara ini yang akan terus menggema setiap hari di rumah ini.
Setiap hari?
Ia tersenyum tipis tatkala memikirkannya. Sakura berjalan melewati ruang keluarga mengacuhkannya. Sepertinya tidak menyadari keberadaannya saking seriusnya dia menelepon seseorang bisa dipastikan adalah kakaknya itu. Dan Gaara mengerutkan alisnya, tidak suka diabaikan seperti ini. Ia kemudian berdiri dan berjalan mengikuti langkah Sakura.
"Aku di Bandara, Sabaku-san akan kembali ke Korea untuk dua hari ke depan,"
"Bandara?!"
Sakura menghentikan langkahnya kemudian tersenyum sinis. Yeah, dia tahu kalau Kankuro dan Temari akan ke Korea. Tapi kenapa tidak ada yang mengatakannya kepadanya? Ia bahkan tidak akan tahu kalau ia tidak bertanya pada Gaara.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakan kepadaku kalau mereka akan ke Korea?! Ada hal yang ingin ku katakan pada mereka!"
Ia kembali melanjutkan langkahnya dengan sedikit menghentak kakinya kesal menuju dapur.
"Kau serumah dengan mereka, kenapa kau bisa tidak tahu?"
Sakura mendengus sejadi-jadinya. Ia meletakkan kasar bungkusan di tangannya di meja saja tidak tahu. Ia jarang ada di rumah ini kecuali pada malam hari saja. Itupun jarang sekali ia berinteraksi dengan mereka. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di laboratorium.
"Tidak ada yang memberitahu padaku! Bagaimana aku bisa tahu kalau tidak ada yang memberitahu padaku?!" semprotnya kesal.
"Memangnya ada apa?"
"Aku ingin melakukan sesuatu tentang proyek ini. Hanya sebuah analisis. Tapi aku perlu persetujuan mereka.."
"Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan,"
"Apa?"
Sakura mengerutkan alisnya tidak mengerti.
"Sabaku-san memberimu kebebasan untuk melakukan semuanya tanpa ijin darinya. Ia hanya ingin info mengenai keberhasilanmu saja,"
Sakura mendengus namun nampak tengah berpikir.
"Apa ini tidak apa-apa kalau berkaitan dengan Gaara? Aku ingin melakukan CT Scan tubuhnya yang..."
"Lakukan apa saja padanya sesukamu, Sakura,"
Sakura menaikkan sebelah alisnya. Ini bukan suara Sasori, dan ia kenal suara ini.
"Sabaku-san?"
"Aku titip Gaara selama dua hari aku ke Korea, oke?"
Sakura mendengus. Terselip nada menggoda dari kata-kata pria itu. Cih, tidak cocok dengan pria bermulut iblis sepertinya. Ambigu. Apa maksud pria busuk itu?
"Apa yang... hallo? Hei aku belum selesai bicara!"
Sakura menatap kesal pada ponsel di tangannya. Ia sudah mau mengomel lagi sebelum ia sadar kalau ada orang lain di dapur ini. Ia menoleh pada pelayan rumah ini yang sedari tadi berdiri di hadapannya. Menatapnya takut-takut karena dirinya yang mengomel tidak jelas. Mungkin juga jarang melihat orang yang mengomel sepertinya di rumah ini. Entahlah. Yang jelas sekarang ia sedikit meringis tidak enak pada pelayan itu.
"Bisa kau panaskan lagi Kare ini dan hidangkan untuk Gaara-san?" tanyanya sambil mendorong bukusan yang tadi dibawanya. Dapat dilihatnya sang pelayan menatapnya gugup.
"Ada apa?" tanyanya bingung. Ia benar-benar tidak tahu apa yang salah. Pelayan itu tampak panik. Ia menggerak-gerakkan tangannya di depan dada.
"Ah, tidak-tidak. Saya hanya bingung, Nona,"
Sakura menaikkan satu alisnya.
"Bingung?"
"Tuan Gaara tidak pernah makan Kare sebelumnya. Beliau selalu hanya ingin makan steak setiap hari. Jadi saya agak heran kenapa Nona bisa tahu makanan kesukaannya waktu kecil,"
Sakura makin bingung.
"Steak? Masakan kesukaan waktu kecil?"
Pelayan itu mengangguk.
"Yang ku dengar, waktu kecil Tuan Gaara suka sekali Kare buatan ibunya. Aku juga dengar, beliau selalu menghabiskan sendiri Kare buatan ibunya,"
"..."
"Namun, saat berumur dua belas tahun, beliau cenderung lebih menyukai daging setengah matang daripada makanan yang lain walau masih tetap bisa makan yang lain. Namun, setelah kematian ibunya, beliau tidak pernah lagi makan makanan lain selain daging setengah matang,"
Alis Sakura bertaut dalam. Tampak sedang berpikir
"Jadi saya hanya heran kenapa sekarang Tuan Gaara mau makan Kare lagi,"
"Ah.."
Entahlah. Sakura tidak tahu harus berkomentar apa. Hanya ada sesuatu yang mengganjal yang melintas di otaknya, namun ia agak susah mendeskripsikannya.
Situasi kaku itu pecah saat ponselnya kembali berdering dan nama Sai tertera di ponselnya itu. Ia menghela nafasnya sejenak sebelum mengangkatnya. Dari sudut matanya ia melihat sang pelayan membungkuk sekilas sebelum pergi mengerjakan perintahnya.
"Ada apa Sai?"
Ia membuka kulkas untuk mengambil air dingin dari dalamnya.
"Sakura, kau baik-baik saja? Kudengar kau akhir-akhir ini pulang lebih awal dari Rumah Sakit?"
Sakura mengapit ponselnya di bahu dan telinga saat tangannya mengambil gelas dan menuangkan air dingin yang tadi ia ambil itu .
"Uhm yeah, entah apa yang nii-san lakukan. Aku mendapat dispensasi dari Rumah Sakit untuk bisa pulang lebih awal. Kau tahukan alasannya? Proyek?"
"Apa kau sudah mendapat kemajuan dari proyek itu?"
Sakura meletakan gelasnya yang sudah kosong.
"Katakan saja yang ingin kau katakan Sai, tidak usah basa basi. Ada apa dengan agency?"
Terdengar suara kekehan dari seberang.
"Kau benar-benar cerdas seperti biasa.."
Pujian yang hanya dibalas dengan helaan nafas bosan dari Sakura.
"Aku hanya ingin bertanya apa kau sudah mengaransemen lagu yang kemarin ku berikan? Produser meminta untuk segera di kirimkan. Produser akan segera menjadwalkan rekaman kita,"
Sakura menepuk dahinya.
"Aduh Sai, untung kau ingatkan. Aku sudah mengaransemen sejak lama. Tapi aku lupa menyerahkan ke Produser..."
Sakura berlari keluar dari dapur.
"Tunggu aku! Aku akan segera ke sana!" katanya sebelum memutuskan sambungan ponselnya.
Namun baru beberapa langkah keluar dari dapur, ia terkejut saat melihat Gaara yang sudah berdiri di perbatasan antara dapur dan ruang makan. Sontak saja langkahnya terhenti.
"Kau mau kemana?" tanya pemuda itu datar.
Sakura mencoba tersenyum.
"Ah.. Aku akan ke agency sebentar. Aku harus menyerahkan aransement lagu baru bandku. Kau makan duluan saja Gaara," jawab Sakura sambil hendak kembali berlari namun kembali terhenti kala lengannya di cekal pemuda itu. Ia menatap pemuda itu tidak sabar.
"Kapan kau pulang? Aku ingin makan bersamamu,"
Sakura menatap pemuda itu dengan raut bingung. Jujur saja ia pusing dengan tingkah pemuda ini.
"Aku tidak tahu. Kau makan saja duluan. Kalau kau ingin makan bersamaku, nanti aku akan bawakan Takoyaki. Kita akan makan Takoyaki bersama. Kalau sekarang aku tidak bisa, aku harus pergi. Sampai jumpa," ucapnya sebelum menepis tangan Gaara kemudian melesat pergi sebelum sang pemuda kembali menahannya.
Gaara hanya memandang Sakura tidak suka. Kemudian berdecih.
"Gaara-sama, Kare yang dibawa Nona Sakura sudah saya panaskan. Apa Tuan ingin makan sekarang?"
Gaara melirik pelayan perempuan yang tadi diperintahkan Sakura untuk menghangatkan Kare yang ia bawa.
"Aku akan makan setelah Sakura pulang,"
M.O.N.S.T.E.R.S
Sakura memasuki kediaman Sabaku dengan langkah yang sedikit terseok-seok. Ia benar-benar lelah. Lelah dan lapar. Ia menatap bungkusan Takoyaki di tangannya. Mendengar cerita pelayan tadi, ia tidak yakin kalau Kare yang ia bawa masih ada. Pemuda merah itu pasti sudah menghabiskannya. Ia menghela nafas.
Ya sudahlah.
Melangkah pelan menuju ruang makan, ia melirik jam tangan merah di tangan kirinya kemudian kembali menghela nafas. Jam sebelas malam. Yeah, waktu yang sangat tepat untuk makan malam. Ia tersenyum sinis.
Salahkan produser rekamannya yang tadi tanpa rencana awal langsung mengajaknya, Sai dan Naruto untuk membahas konsep MV terbarunya. Yah, susah punya manager dari anggota band sendiri, apalagi orangnya sebodoh Naruto. Bukannya mengatur jadwal, semua jadwal mereka pasti terlaksana dengan mendadak. Mungkin ia harus merekomendasikan orang lain pada CEOnya nanti.
Lamunannya buyar saat ia melihat beberapa pelayan perempuan sedang berdiri berjejer dekat ruang keluarga menundukan kepalanya tidak tenang. Ia mengangkat sebelah alisnya.
"Ada apa? Kenapa kalian belum tidur?"
Seorang pelayan menatapnya takut-takut kemudian melirik menatap seseorang yang duduk di ruang keluarga. Sakura ikut menoleh ke arah pandang sang pelayan. Ia semakin bingung melihat orang tersebut.
"Kenapa baru pulang?"
Gaara menatapnya tajam. Sakura menghela nafas lelah.
"Ada rapat mendadak tadi," ucapnya cuek sambil kembali melangkah menuju ruang makan.
Ia meletakkan bungkus Takoyakinya sebelum matanya menangkap Kare yang tadi ia bawa dari rumahnya masih utuh dalam panci berkompor di atas meja. Ia menyerngit bingung, kemudian kembali melangkah cepat ke ruang keluarga.
"Kenapa Kare yang ku bawa masih ada? Kau tidak makan?" tanyanya langsung pada pemuda berambut merah itu dengan raut kesal.
Tidak ada jawaban. Gaara hanya menatapnya tajam. Sakura mendengus kemudian berpaling pada para pelayan.
"Ada apa ini? Kenapa dia tidak makan? Aku sudah perintahkan untuk memanaskan Karenya kan?!" bentaknya pada para pelayan yang membuat mereka mundur satu langkah karena takut.
"Ma.. maaf Nona. Ka.. kami sudah melakukan apa yang Nona suruh. Sungguh.." cicit salah satu pelayan.
"Itu.. itu benar Nona. Tuan Gaara ingin menunggu Nona pulang untuk makan bersama," sambung pelayan yang lain yang membuat rahang Sakura jatuh.
Oh ayolah. Pemuda ini tidak bodohkan? Sakura kini jadi tahu kenapa para pelayan itu belum tidur dan tampak ketakutan melihat kedatangannya. Ia melangkah cepat kearah pemuda itu kemudian menjitak kepalanya.
"Apa yang kau lakukan? Kalau kau sakit bagaimana?!"
Para pelayan melotot. Beberapa dari mereka sampai menutup mulutnya. Baru pertama kali ada yang berani menjitak kepala majikannya yang paling di takuti di Korea. Bahkan Kankuro dan Temari tidak berani berkata kasar padanya.
"Kankuro menitipkanmu padaku. Kau pikir apa yang harus aku katakan kalau dia melihatmu sakit?! Kau suka aku di hina olehnya?!"
Sementara Gaara sedikit membelalakkan matanya. Ia terkesima. Jitakan Sakura di kepalanya memang tidak berarti baginya. Tapi entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang hangat menyusup di hatinya karena jitakan itu. Entahlah. Ia tidak bisa mendeskripsikannya. Ia menatap Sakura yang masih mengomel dengan pandangan penuh arti.
"Kalian cepat panaskan lagi Karenya! Dan siapkan makan malam untuknya!" perintahnya sambil menatap pelayan dengan pandangan kesal. Para pelayan itu kemudian berhamburan meninggalkannya yang kini kembali menatap Gaara dengan dengusan kesalnya.
"Cepat makan dan jangan membuatku kesal!" semburnya sebelum kemudian berbalik untuk melangkah pergi.
Namun belum sempat ia melangkah, ia terkejut kala tubuhnya di rengkuh dari belakang oleh dua buah tangan yang melingkar di bahu dan perutnya. Ia menoleh ke samping dan mendapati kepala Gaara yang menyusup ke perpotongan bahunya. Menghirup semua aroma manis tubuhnya.
"Ga.. Gaara?"
Ia ingin berontak saat suara berat menghentikan aksinya.
"Aku ingin selamanya seperti ini,"
Alisnya bertaut bingung.
"Aku mencintaimu,"
Sakura mendengus.
"Kau milikku selamanya,"
Sakura tahu ia harusnya marah. Sama seperti sebelum-sebelumnya.
Namun, entah mengapa, kali ini ia seperti tidak punya energi untuk itu semua. Ia hanya menghela nafas kemudian memegang tangan kokoh itu.
"Oke aku tahu. Jadi sekarang apa kita bisa makan? Aku lelah, ingin makan dan segera tidur,"
Gaara mengendurkan pelukannya kemudian menghadap pada Sakura yang sekarang menatapnya lelah. Gadis itu menariknya ke ruang makan kemudian mereka berdua mendudukan diri di kursi yang ada.
"Aku membeli Takoyaki kalau kau suka,"
Sakura membuka bungkusan yang tadi ia bawa, menusuk sebuah Takoyaki kemudian memasukkannya ke mulut. Ia agak berdecak kesal saat seorang pelayan merebut Takoyaki di hadapannya.
"Maaf Nona. Biar kami sajikan Takoyaki ini di piring. Tidak sopan memakan langsung dari kotaknya,"
Sakura memutar matanya bosan. Ia menyangga dagunya dengan tangan sambil tetap mengunyah Takoyaki yang berhasil ia masukkan ke mulut.
"Yeah, bahkan waktu aku pingsan kelaparanpun tetap aku harus menaati peraturan kan?" dengusnya kesal.
Sang pelayan hanya meringis mendengarnya. Sakura sedikit bersemangat saat sepiring nasi kini tersaji di hadapannya. Ia kemudian menyendok Kare yang ada di hadapannya ke atas nasi, mengambil sendok dan hendak makan sebelum matanya menatap Gaara yang masih diam menatapnya. Ia menghela nafas dan melirik para pelayan yang hanya diam menatap mereka. Ia menggaruk pelipisnya. Kemudian mengambil nasi di hadapan pemuda itu dan kembali menyendok Kare ke atas nasi pemuda itu.
"Oh baiklah, apa sekarang aku juga yang menjadi pelayan di rumah ini karena peraturan?" katanya sarkastik.
Ia mendengar tertawa cekikikan dari para pelayan yang hanya di jawabnya dengan lirikan kesal yang membuat para pelayan spontan diam dan menunduk. Ia mendengus meletakkan nasi Kare ke hadapan Gaara. Ia kembali makan dan melirik Gaara yang masih menatapnya dalam.
"Ada apa? Kenapa tidak makan?"
Gaara hanya bergumam ambigu sebelum kemudian menatap nasi Kare di hadapannya dan mengambil sendoknya. Ia menyuapkan sendok pertamanya dan senyumnya tipis sedikit terukir di wajahnya. Ini mengingatkannya pada ibunya. Ia kembali menatap Sakura yang kini menatapnya was-was.
Apa bisa ini berlangsung terus?
"Bagaimana? Enak kan?"
"Hn,"
Sakura mendengus. Wajahnya yang penuh was-was hilang terganti dengan raut malas. Yeah, apa yang mau ia harapkan? Gaara, sang pemuda dingin menjawab penuh antusias kalau makanan ini enak? Jangan harap. Kalaupun iya, pujian itu bukan untuknya. Tapi untuk Ayame-san. Lagipula ia juga tidak butuh pendapat.
Gaara sudah akan menyendokkan suap keduanya, saat ponsel Sakura berdering. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya. Sai?
"Ada apa Sai?"
Ia menjawab telepon itu langsung. Genggaman Gaara pada sendok mengerat saat telinganya mendengar nama Sai.
"Apa kau sudah sampai di rumah?"
Sakura memutar bola matanya.
"Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan? Aku sudah sampai, Tuan terima kasih.."
Belum selesai ia mengucapkan kata-katanya. Ponselnya di rebut oleh Gaara yang kini berdiri di hadapannya dengan sorot tajam.
"Apa bisa kalau sedang makan denganku, kau tidak menjawab telepon?"
Ia menatap Sakura tidak suka yang dibalas gadis dengan helaan nafas frustasi.
"Apa ini juga aturan di rumah ini?"
"..."
Tidak ada jawaban membuat sang gadis menepuk dahinya.
"Baiklah...baik, ayo cepat makan,"
Sakura lelah untuk berdebat dan kembali mengambil sendok dan menyuapkan Karenya mengabaikan tatapan tajam dari Gaara yang kini sudah kembali mendudukan dirinya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan meletakkan sendoknya, menatap pemuda yang masih setia menatapnya itu.
"Ano.. Gaara-san..."
Ia menatap Gaara hati-hati.
"Aku akan melakukan sesuatu padamu untuk penelitian ini..."
"..."
"Mungkin akan sedikit menyakitkan..."
"..."
"Tapi apapun yang terjadi, aku harap kau tetap percaya padaku, oke?"
Gaara hanya diam menatap Sakura datar dan itu membuat Sakura salah tingkah.
"Ano...a.. aku tidak ada maksud apa-apa. Walau aku memang tidak begitu suka denganmu, aku tidak suka melihat orang lain menderita karena aku,"
Kata-kata yang membuat Gaara menyerngit tidak suka. Ia menggebrak meja dan itu membuat Sakura terkaget-kaget.
"Jangan pernah mengatakan itu lagi!" desisnya marah.
Dan Sakura hanya bisa menelan ludah dan mengangguk tanpa tahu ucapan yang mana yang membuat pemuda itu marah.
M.O.N.S.T.E.R.S
"Dari yang sudah aku jelaskan, emosilah yang mempengaruhi gen. Ini berarti adrenalinlah yang berperan besar dalam proses mutasi,"
Sakura mengangguk menatap Kakuzu kemudian beralih menatap satu per satu wajah tim penelitinya.
"Karena itulah aku ingin benar-benar mencari tahu, apa yang dilakukan adrenalin pada tubuh mutan sampai mengalami mutasi seperti itu. Karenanya aku akan melakukan penelitian itu pada Gaara-san. Satu-satunya mutan yang paling mudah dipancing emosinya,"
"Kapan kita akan melakukannya, Sakura-san?"
Sakura menatap Kakuzu. Kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo Sakura, ada apa?"
Jawaban di seberang membuat Sakura kembali menatap Kakuzu dan timnya.
"Bisa kau ke tempatku besok, Sai?"
M.O.N.S.T.E.R.S
Sai menatap kediaman Sabaku dengan sorot yang dingin menahan rasa tidak sukanya. Ia baru tahu kalau Sakura kini tinggal di tempat itu. Ia segera saja menuju pintu masuk kemudian disambut pelayan wanita yang memang sudah di perintah Sakura untuk menjemputnya. Ia di bawa ke sebuah ruangan yang sepertinya adalah ruang keluarga dimana kini Sakura sudah duduk di salah satu sofa di ruangan itu.
"Sakura!" panggilnya sedikit berseru membuat sang gadis spontan berdiri menghadap dirinya.
Dapat di lihat sudut matanya sosok lain yang kini berdiri di ujung tangga atas seperti datang dengan segera karena tahu kedatangannya. Ia juga tahu kalau sang gadis tahu sosok itu dari matanya yang sedikit melirik ke arahnya.
Ia melihat Sakura meneguk ludahnya gugup. Ada apa ini?
"Sakura, kenapa kau tak bilang kalau kau tinggal di sini?" tanyanya menepis semua kebingungannya akan situasi ini.
Sang gadis tersenyum kaku kepadanya.
"Itulah mengapa aku mengundangmu ke sini, Sai,"
Sai mengerutkan alisnya bingung.
"Aku tidak ingin kau salah paham,"
Sai melihat Sakura menegukkan salivanya sebelum kemudian mengatakan kata-kata yang membuatnya syok.
"Aku menyukaimu,"
Sai tahu ada yang salah dengan gadis ini.
"Karena itu tolong jangan berpikir yang aneh-aneh ya?"
Dengan raut takut gadis itu saat mengucapkan semua kata-katanya itu.
"Aku hanya menyukaimu,"
"Grrrrrrgggghhh,"
Dan juga geraman yang kini tertangkap indera pendengarannya. Ia menatap ke arah sosok yang sejak tadi memperhatikan mereka dan membelalak matanya saat menatap sosok yang kini menatapnya dengan mata merahnya. Taringnya memanjang.
"Sakura..."
"Aku di sini karena penelitian yang pernah ku ceritakan padamu kau ingatkan?"
Gaara. Separuh tubuh pemuda itu kini berubah menjadi wujud yang membuat pemuda berambut hitam itu semakin membelalakan matanya.
"Sakura.."
"Jangan salah paham oke?"
Kukunya memanjang dan seluruh tubuhnya kini di penuh bulu. Telinganya memanjang menyerupai telinga serigala. Sai menelan ludah.
"Sakura!"
Pemuda itu membentak gadis yang kini menatapnya kaget dengan mata yang sedikit berair. Ia tahu. Sangat tahu kalau gadis itu tahu apa yang kini terjadi dengan Gaara. Tapi kenapa dia diam saja? Malah cenderung memancing pemuda itu untuk semakin marah?
Dan lagi-lagi ia harus membelalak kaget saat gadis itu melakukan hal yang tidak pernah terlintas sedikitpun di benaknya untuk di lakukan di saat seperti ini.
Sakura menciumnya.
Tepat di bibirnya.
Menciumnya lembut.
Ia menahan nafasnya.
Bahkan ia tidak tahu saat Gaara sudah bermetamorfosis dengan sempurna. Serigala. Dan ia kembali dalam kesadarannya saat Sakura menerjang tubuhnya cepat. Mereka berguling di lantai. Ia menatap wajah ketakutan Sakura dan merasakan tangannya yang gemetar. Ia menyadari apa yang terjadi kini.
Gaara menyerangnya.
Dan Sakura menyelamatkannya.
Ia spontan berdiri dan memasang kuda-kudanya saat ia mendengar suara Sakura.
"Se..sekarang,"
Sai melirik Sakura yang berdesis lirih sambil masih terdiam linglung. Syok mungkin. Suaranya terdengar bergetar takut.
"Aku bilang sekarang!"
Sai tercekat saat mendengar desingan puluhan peluru meluncur ke target yang sama.
"Aaaauuuuuummm,"
Spontan saja ia langsung melempar matanya ke depan. Menuju target yang kini sudah mulai limbung dengan tubuh penuh jarum suntik mini. Hanya dalam beberapa detik sebelum tubuh serigala Gaara tumbang karena jarum suntik pelumpuh syaraf yang diberikan padanya beraksi.
Sai menatap Sakura yang kini mencoba berdiri dengan tubuh gemetarnya.
"Ada apa ini, Sakura,"
Matanya sedikit melirik beberapa orang berbaju putih yang kini mulai keluar dari persembunyiannya mendekati tubuh serigala Gaara yang kini hanya bisa mengaum marah dan kesakitan karena tubuhnya yang tidak bisa di gerakkan.
Sakura tidak menatapnya. Hanya menatap Gaara sambil memeluk tubuh gemetarnya seperti berusaha menenangkan diri.
"Bawa dia ke laboratorium sekarang. Siapkan CT Scan dan ambil sample darahnya. Cek Protein RNA dan analisis sel tubuhnya. Lihat apa kode DNAnya ada yang berubah dari tubuh aslinya,"
"..."
"Kita akan lihat apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh mutasi ini,"
Dan Sai tidak bisa berkata apa-apa saat mendengar semua intruksi gadis itu. Ia mengerti kalau saat ini sang gadis pasti mempertaruhkan semua keberaniannya untuk melakukan hal yang mungkin ia takutkan.
Ia hanya mendekat dan memeluk tubuh yang bergetar hebat itu.
"Sudah selesaikan? Jadi tenanglah. Jangan takut. Aku di sini. Aku akan menolongmu,"
Kata-kata yang membuat Sakura memeluk tubuh itu dengan bahu yang bergetar. Sai tidak tahu apa gadis itu menangis atau tidak. Yang jelas ia hanya ingin memberitahunya bahwa ia akan selalu berada di sisinya apapun keadaannya.
TBC
Oke, sepertinya saya mungkin mulai oleng...
Apa agak aneh?
Mohon kritik sarannya yah?
