Title: Captivated
Genre: Romance, Drama
Rating: T
Pairing: Yunjae
Disclaimer: Yunho belong to Jae Joong, Jae Joong belong to Yunho. Yang saya miliki hanya ceritanya ^^
Warning: Yaoi, typo(s), yunjae, alur seadanya, DON'T LIKE DON'T READ, NO BASHING
.
.
Chapter 10
.
.
"Kenapa Yunho hyung tidak mengantarmu pulang?" tanya Changmin di balik kemudinya sesaat setelah ia menjemput kakak sepupunya di rumah sakit.
"Dia ada urusan," jawab Jaejoong singkat. Pemuda cantik itu hanya menatap datar ke arah luar melalui kaca jendela mobil. Terlalu banyak pikiran yang merayapi otaknya.
"Yeoja itu lagi?"
"Hmm," angguk Jaejoong malas. Saat ini pikirannya benar-benar tidak bisa tersinkron dengan baik.
"Kenapa yeoja itu selalu saja menganggu acara kalian sih? Dia benar-benar menyebalkan." Changmin berdecak kesal sambil memegang erat kemudinya dengan menahan emosi.
"Ara kecelakaan jadi Yunho juga harus sering mengunjunginya," ungkap Jaejoong setelah menghela nafasnya.
Changmin mengangkat alisnya kemudian menyeringai, "Kecelakaan? Baguslah. Kenapa tidak langsung mati saja sekalian," sumpahnya asal. Anak ini, sepertinya rem di mulutnya sudah benar-benar blong. Yah ucapan pedas seperti ini bukanlah perkara aneh bagi Jaejoong yang sudah beberapa kali menjadi korban keganasan mulut tajam sepupunya itu.
Plaakk!
Jaejoong langsung menyambar lengan Chnagmin yang sedang memegang kemudi hingga si tiang itu mengaduh kesakitan.
"Aawww appo hyung," rintih Changmin sambil mengusap lengannya yang sudah dijadikan korban keganasan geplakan tangan Jaejoong.
Jaejoong melotot ke arah Changmin dan bicara dengan penuh penekanan. "Jaga mulutmu itu. Ucapan itu bisa jadi doa, tahu! Dasar bodoh. Lama-lama kusumpal juga mulutmu."
Namun bukan Changmin namanya kalau mudah tergertak seperti itu, yah buktinya sekarang dia hanya membalas ucapan Jaejoong dengan cengiran santai. "Asal dengan makanan aku mau di sumpal. Satu lagi, aku ini jenius jadi kata bodoh itu haram hukumnya untukku."
"Ckckck." Jaejoong mendecakkan lidahnya heran melihat kelakuan ajaib Changmin.
Jaejoong kembali menatap ke arah luar jendela di sampingnya, hening kembali menerpa. Jaejoong kembali menyibukkan pikirannya dengan masalah yang selalu saja mendera kisah percintaannya dengan Yunho, sementara Changmin? Dia hanya fokus dengan tugasnya menyetir dan mungkin sambil sibuk memikirkan menu makanan apa untuk cemilan malamnya nanti, ck. -_-
"Changmin-ah..." tiba-tiba Jaejoong memecah keheningan dengan memanggil Changmin.
"Hmm? Wae?"
"Geu yeoja... dia benar-benar lawan yang kuat, dia punya senjata yang tidak kuduga sama sekali," ucap Jaejoong dengan pandangan yang masih menatap keluar dan dengan nada suara yang lemah seolah dia sudah siap menyerah pada masalahnya.
Changmin mengerutkan keningnya. "Musun soriya?"
"Changmin-ah, menurutmu apa aku juga harus melukai diriku sendiri agar Yunho perhatian padaku?" Terbersit ide gila di otak Jaejoong yang membuat Changmin langsung melayangkan protes keras.
"Eeiiii kali ini aku yang akan menyumpal mulut hyung. Jangan bicara sembarangan. Hyung ini bicara apa? Melukai diri sendiri apanya? Hyung tidak boleh dan tidak akan pernah melakukan itu," ucap Changmin mencak-mencak.
"Bisa saja dengan melakukan hal seperti itu Yunho akan sepenuhnya berpaling padaku. Mungkin sesuatu yang lebih parah dari kecelakaan yang dialami Ara, menurutmu apa? Apa aku harus melompat dari gedung? menabrakan diri? minum racun? atau..."
Sebelum racauan Jaejoong semakin ngawur dan ngaco Changmin pun buru-buru menyanggah. "Hyung geumanhae! Apa kau salah minum obat? Dimana akal sehatmu? Kalau kau mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti itu lagi aku akan benar-benar marah padamu."
"Keundae Changmin-ah..." Jaejoong menatap lirih ke arah Changmin.
"Anggap kita tidak membicarakan ini jadi hentikan omong kosongmu. Bicara itu sekali lagi maka aku akan memutuskan hubungan persaudaraan kita dan aku tidak akan pernah mengenalmu, arasseo?!" raut muka Changmin saat ini benar-benar terlihat kesal dengan nafas yang memburu menandakan bahwa emosinya siap meledak kapanpun.
Jaejoong menghembuskan nafasnya dan berucap lemah, "Hmm araseo."
Suasana kembali hening dan cenderung mencekam. Jelas saja, tidak pernah terpikirkan oleh Changmin bahwa hyungnya itu mempunyai ide gila, idiot dan tidak berdasar sepeerti itu. Dari semua ucapan hyungnya sepanjang sejarah kehidupannya yang dilewati bersama Jaejoong, baru kali inilah Changmin mendengar sesuatu yang tidak masuk akal keluar dari mulut kakak sepupu yang sangat disayanginya itu. Go Ara sial, gara-gara wanita itu Changmin harus mendengar kalimat nista keluar dari bibir cherry menggoda hyung cantiknya.
Namun sama halnya dengan Changmin, Jaejoong sendiri pun tak pernah mengira bahwa bisa-bisanya ia terpikirkan hal bodoh semacam itu. ia tidak tahu apa yang telah merasukinya tadi hingga ia berani mengeluarkan kata-kata yang membuat Changmin menahan emosi begitu. Go Ara dan Jung Yunho, dua mahluk itu benar-benar telah meracuni otak Jaejoong.
Keheningan itu pun berlanjut hingga mobil Changmin tiba di depan pintu gerbang mansion keluarga Kim.
"Tidurlah hyung, hyung pasti butuh istirahat. Dan ingat! Sekali kau berbuat bodoh, aku tidak akan pernah memaafkanmu sampai 7 reinkarnasi sekalipun, kau mengerti?" ancam Changmin setelah ia mengantar Jaejoong ke depan pintu masuk rumah keluarga Kim.
"Araseo. Mianhae, tadi aku hanya sedang tidak waras"
"Eoh, hyung memang sudah gila."
Jaejoong mencibir kesal. "Ck. Ngomong-ngomong sampai kapan kau berada di Seoul? Apa kabar hotel di Jeju? Kau melalaikan tugasmu sebagai direktur Shim Changmin."
"Ada Kyuhyun yang mengurusnya untuk sementara waktu. Besok sore aku kembali lagi ke Jeju. Ada urusan yang harus kulakukan dulu disini," jawab Changmin santai.
"Apa itu?" tanya Jaejoong dengan kerutan di keningnya.
"Mau tahu saja. Sudah sana masuk dan langsung tidur. Jangan pikirkan si yeoja pengganggu itu, tidak baik untuk perkembangan otakmu." Changmin membalikkan tubuh Jaejoong dan mendorongnya pelan.
"Iya iya, cerewet! Sana pergi! Aku bosan melihat wajahmu," usir Jaejoong di ambang pintu sambil mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Changmin cepat pergi sari sana.
"Eheeiii, ya hyung!..."
"Anyyeong!"
Braakk!
Jaejoong menutup pintu rumahnya dengan keras, mengacuhkan si jangkung yang sedang mendengus kesal.
"Aissshhh, dia pikir siapa yang selalu memberinya konsultasi selama ini?. ck, harusnya aku minta traktir makan dulu tadi," ocehnya sambil kembali memasuki mobil SUV mewahnya itu.
.
.
"Nuguseyo?" tanya Ara ketika ia selesai di periksa oleh suster yang merawatnya dan bertanya kepada seorang namja berperawakan tinggi dengan wajah tampan dan kekanakkan yang sama sekali tidak ia kenal muncul tiba-tiba di ruang rawatnya.
"Shim Changmin imnida. Sepupunya Kim Jaejoong," ucap namja itu. Oho, tidak disangka ternyata Changmin datang mengunjungi Ara. Mungkin inilah urusan yang dimaksud Changmin saat ia mengantar Jaejoong kemarin.
Ara mengangkat alisnya. "Jaejoong-ssi? Maaf tapi aku tak mengenalmu dan aku juga tidak terlalu mengenal Kim Jaejoong-ssi, kami hanya bertemu sekali di Jeju. Jadi aku merasa tidak punya urusan dengan Jaejoong apalagi denganmu."
"Menurutmu mungkin tidak ada, tapi aku punya urusan denganmu disini,"ucap Changmin angkuh sambil berjalan santai mendekati Ara yang sedang mendudukkan tubuhnya di tempat tidur.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya penuh selidik dengan mata yang menatap Changmin tajam.
"Baiklah, kita langsung ke intinya saja. Jangan menggoda Yunho hyung lagi dan jauhi dia. Dia sudah jadi milik Jaejoong hyung," ucap Changmin to the point.
Ara tersenyum kecut. "Kita berdua tidak saling mengenal tapi kau tiba-tiba saja masuk seenaknya ke dalam ruanganku dan langsung memerintahku sesukamu, kau pikir kau siapa? Bukankah sikapmu ini sangat tidak sopan?"
"Aku merasa tidak memerlukan sopan santun disini. Apa kau tahu? Karena keegoisanmu, kau membuat dua orang yang saling mencintainya jadi menderita."
Ara kembali tersenyum sarkastik seolah ucapan Changmin sama sekali tidak membuatnya gentar apalagi takut sedikitpun. "Kau pikir aku tidak menderita? Siapa yang egois disini? Bukankah sepupumu itu yang egois? Aku lebih dulu mengenal Yunho oppa darinya dan aku juga lebih dulu menyukainya, tapi sepupumu merebutnya dariku."
"Tidak ada yang direbut dan merebut disini Ara-ssi. Sejak awal kaulah yang memutuskan untuk melepas Yunho hyung, kalau kau memang menyukainya harusnya kau memilih untuk berada tetap disamping Yunho hyung, bukankah begitu?" ada seringaian yang menghiasi wajah Changmin.
Sial, ucapan Changmin rasanya tepat sasaran. "Tahu apa kau tentang hubungan kami?"
Changmin pun berbalik tanya, "Lalu tahu apa kau tentang hubungan Yunho hyung dan Jaejoong hyung? Daripada kau menguras energimu untuk merebut hati Yunho hyung yang jelas-jelas sudah jadi milik orang lain, bukankah sebaiknya kau fokus untuk menyembuhkan kakimu yang cedera itu?"
"Changmin-ssi, tindakan kekanak-kanakanmu ini benar-benar berlebihan," ucap Ara yang sedang mencoba untuk menahan emosinya.
Changmin pun menanggapinya dengan santai, ia bahkan masih sempat tertawa. "Kekanak-kanakkan? Berlebihan? Hahaha... hei nona apa kau tidak salah? Siapa yang kekanak-kanakkan dan siapa yang berlebihan disini? Kau merengek seperti anak kecil pada Yunho hyung agar dapat menarik simpatinya dengan memanfaatkan keadaanmu. Kakimu itu hanya patah bukannya lumpuh, kakimu masih bisa sembuh dengan terapi jadi kupikir kaulah yang terlalu melebih-lebihkan, bukankah begitu Ara-ssi?"
Ara mencengkram erat seprai ranjangnya, emosi sudah berada di puncak kepalanya namun ia masih bisa menahannya dan kembali membalas. "Changmin-ssi, apa kau tahu kalau kau terlalu banyak mencampuri urusan orang lain meskipun orang itu adalah sepupumu sendiri? Kau bertingkah seolah kau tahu segalanya tentang aku, Yunho ataupun Jaejoong. Keundae... sebenarnya kau tidak tahu apa-apa tentang kami."
Changmin mengerutkan keningnya. "Mwo?"
Kini Ara mengubah posisinya yang tadinya duduk menjadi berbaring membelakangi Changmin sambil menyampirkan selimut ditubuhnya. "Aku ingin istirahat sekarang, jadi biskaah kau keluar? Apa perlu aku memanggil suster dan petugas keamanan untuk mengusirmu?"
Changmin menghela nafas lalu tersenyum kecut. "Baik, aku akan keluar. Tapi ingat kata-kataku! Sekali kau menyakiti Jaejoong hyung, kupastikan hidupmu tidak akan tenang," ancamnya sebelum akhirnya Changmin benar-benar meninggalkan ruang rawat Ara.
Tepat setelah Changmin keluar dari ruang rawatnya, Ara bergumam, "Kau benar-benar tidak tahu apa-apa." sebelum akhirnya ia memejamkan matanya.
.
.
"Mwo?! Kau pergi menemui Go Ara?" pekik Jaejoong setelah sepupu yang lebih muda dua tahun darinya itu memberitahunya apa yang ia lakukan sebelum si jangkung itu menemuinya sekarang ini di mansion keluarga Kim.
Changmin mengangguk santai. "Eoh, habisnya aku kesal. Dia selalu saja mengganggu hyung dan Yunho hyung," ucapnya sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Jaejoong mendengus sambil berkacak pinggang. "Shim Changmin, kau benar-benar kekanak-kanakkan."
"Aku tidak peduli." Changmin acuh.
"Pabo!" umpat Jaejoong.
"Biar saja." Changmin mengendikkan bahunya.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan itu hah? Kau tidak perlu sampai melakukan hal seperti itu. Ini urusanku." hal yang paling menyebalkan dari seorang Shim Changmin bagi Jaejoong selain mulut pedasnya adalah tindakannya yang selalu saja tanpa pikir panjang dan seenaknya saja.
"Segala yang menjadi urusanmu adalah urusanku juga, arra?. Lagipula aku melakukan ini semata hanya demi dirimu hyung, aku tidak mau dia terus-terusan jadi benalu diantara kau dan Yunho hyung. Ck, Go Ara itu, dia benar-benar pandai membalas kata-kataku."
Jaejoong menatap Changmin dengan tajam seolah ia dapat menghantarkan tenaga listrik dari pancaran sinar matanya yang sanggup melumpuhkan Changmin kapan saja.
Ngeri ditatap secara mengerikan seperti itu Changmin pun kembali bersuara. "Ah sudahlah! Setidaknya aku sudah membantumu dengan memberinya peringatan, eoh?"
"Membantu apanya bodoh?"
Changmin memalingkan wajahnya. "Aiisshh... sudahlah hyung lupakan. Molla molla. Nanti sore aku akan kembali ke Jeju, antar aku ke bandara."
"Shireoh! Panggil supir saja sana," ucap Jaejoong ngambek sambil melenggang menaiki tangga meninggalkan Changmin.
Changmin berdecak kesal. "Ehei, tega sekali kau pada adik sepupumu." pria berpostur tinggi itu pun langsung membaringkan dirinya ke sofa.
.
.
"Maaf kalau kedatanganku mengejutkanmu dan membuatmu tidak nyaman," kata Jaejoong di ruang rawat Ara. Yah, Jaejoong memutuskan untuk menjenguk Go Ara meskipun ada banyak kekesalan didalam diri Jaejoong mengenai wanita yang sekarang berada didepannya ini, mungkin ini dikarenakan hati namja cantik yang satu ini terlalu lembut.
"Wae geuraeyo?" Ara bertanya datar.
"Aku tahu hubungan kita tidak terlalu dekat, tapi kurasa tidak ada salahnya juga kalau aku menjengukmu lagipula aku juga ingin meminta maaf atas kelakuan sepupuku yang bertingkah tidak sopan padamu kemarin. Sepupuku itu meski sudah besar tapi terkadang pemikirannya masih teralalu sempit dan cenderung naif jadi tolong maklumi dan maafkan dia."
"Arasseo, aku mengerti. Tidak kusangka ternyata kau orangnya baik juga," puji Ara, entah itu tulus dalam hati atau tidak.
Jaejoong tersenyum tulus. "Komawo. Aku tidak akan lama-lama, hanya itu yang ingin kusampaikan padamu. Kalau begitu aku pergi dulu, semoga kau cepat sembuh." Jaejoong menundukkan kepalanya kemudian membalikkan badannya untuk segera pergi dari sana.
"Yunho oppa..." ucapan Ara sontak membuat Jaejoong menghentikan langkahnya.
Ara pun melanjutkan kata-katanya sambil menatap pungung Jaejoong dengan sinis. "Apa kau mau memberikannya padaku? Sudah sejak lama aku menyukai Yunho oppa, kini setelah aku tidak bisa menari lagi yang kubutuhkan hanya dia. Seperti yang kubilang tadi, kau adalah orang yang baik hati jadi maukah kau menyerahkannya padaku?"
Jaejoong menghembuskan nafas berat, tidak menyangka kalau Ara akan menyerangnya saat ini. Ia pun kembali berbalik menghadap Ara. "Tolong jangan bicara seolah-olah Yunho adalah barang yang bisa dioper-oper dengan mudah."
Ara tersenyum sinis. "Ah benar juga, dari awal Yunho oppa itu sudah jadi milikku jadi sebenarnya kaulah yang telah merebutnya dariku, benar kan Kim Jaejoong-ssi?"
"Aku tidak merasa merebut siapapun. Asal kau tahu, Yunholah yang pertama menyatakan cintanya duluan padaku."
"Geurae? tapi kau juga harus tahu dulu Yunho jugalah yang menyatakan cintanya duluan padaku."
"Tapi kau menolaknya..."
Dengan semangat Ara langsung menyanggah. "Ani, aku tidak menolaknya. Aku hanya ingin dia menungguku, tapi kau datang tiba-tiba dan mengacaukan segalanya."
Jaejoong membalas tak kalah sinis. "Bukan salahku kalau ternyata Yunho terpikat olehku. Kau tahu kenapa akhirnya dia berpaling darimu? Karena dia lelah menunggumu. Kau membiarkan dia menunggu terlalu lama hingga membiarkan hatinya menghapus namamu dengan sendirinya dan tanpa sadar, dia telah melupakan perasaannya padamu." Ucapan Jaejoong cukup mampu menusuk Ara.
"Mwo?" Ara tercekat. Tidak pernah ia sangka kalau Jaejoong berani membalas kata-katanya seperti ini, ia kira Jaejoong berbeda dengan Changmin yang mengira bahwa namja cantik itu mungkin bisa digertak dengan mudah.
"Mianhae Ara-ssi, aku tidaklah sebaik yang kau kira. Aku tidak akan pernah melepaskan Yunho untukmu. Meskipun dia baik dan perhatian padamu, tapi aku yakin yang dia lakukan hanyalah sebatas untuk sahabat kecilnya. Jadi sekali lagi aku bilang, aku tidak akan pernah menyerahkan Yunho padamu, apa kau mengerti?" Jaejoong menaikkan dagunya sedikit, menunjukkan bahwa ia bukanlah lawan yang mudah dikalahkan. Jangan kira Jaejoong itu lemah yang bisa takut hanya dengan sekali serangan, dia namja, lupa? Dia jelas lebih kuat jika dibandingkan dengan Ara yang bisanya hanya merengek pada Yunho.
Namun bukan Ara juga namanya kalau tidak ngotot dan mudah ditumbangkan. Ara itu seperti permen karet yang menempel di rambut, semakin ingin dilepas permen itu semakin menempel dan menjengkelkan. "Benarkah? Lalu bagaimana jika kau salah? Bagaimana jika akhirnya Yunho oppa lebih memilihku dan bukan memilihmu?. Kuberitahu tahu kau satu rahasia, bagaimana jika kubilang kalau aku sengaja menjatuhkan diriku sendiri dan membuat kakiku patah untuk menarik simpati Yunho oppa agar dia berpaling padaku"
Jaejoong membulatkan matanya. "Mwo? Kau sengaja melakukannya?"
Kini Ara yang meninggikan dagunya dan memandang Jaejoong dengan sarkastik. "Apa yang akan kau lakukan? Aku mempertaruhkan karir baletku yang sudah menjadi separuh dari hidupku, pertunjukanku yang gemilang dengan tim hebat di Paris, impianku sejak kecil dan masa depanku yang berharga hanya untuk Yunho oppa, ottae? Apa kau bisa melakukan sesuatu sepertiku? Apa kau bisa mempertaruhkan segalanya demi Yunho oppa?"
Jaejoong menelan salivanya dengan susah payah, nafasnya sudah memburu cepat. "Tidakkah sikapmu sudah terlalu jauh?"
"Memangnya kenapa? Semua ini kulakukan demi Yunho oppa. Kau tidak akan mendapatkan apa-apa kalau kau tidak mengorbankan apapun."
Jaejoong menghembuskan nafas berat. "Geurae. Kita lihat saja nanti siapa yang akan dipilih Yunho, kau atau aku?. Jika Yunho memilihmu aku akan menyerah dan melepaskan Yunho, aku bahkan tidak akan menganggu kehidupan kalian dan muncul di hadapan kalian lagi. KEUNDAE! Jika Yunho memilihku, aku tidak akan pernah melepaskannya untukmu sekalipun kau memohon-mohon. Tidak akan kubiarkan kau menyentuhnya bahkan hanya untuk seujung kuku pun dan aku harap kau tidak akan pernah mengganggu hubungan kami lagi. Ottae?" tantang Jaejoong.
Ara tersenyum menyebalkan. "Arraseo. Dugoboja!" (lihat saja nanti).
Setelah Ara menerima tantangannya, dengan kesal Jaejoong langsung membalikkan badannya bergegas keluar dari ruang rawat Ara yang entah kenapa semakin lama semakin membuat Jaejoong sesak.
Namun, Ara lagi-lagi menghentikkan langkah Jaejoong saat namja ini mendengar suara Ara yang menelpon Yunho.
"Yunho oppa? Naya. Oppa, besok aku akan melakukan terapi pertamaku , aku ingin oppa datang untuk menemaniku, ne?... Oppa bisa?... Geurae, gomawo."
Jaejoong melirik tajam ke arah Ara.
"Aku bilang pada Yunho oppa agar dia mau menemaniku terapi besok dan dia menyetujuinya. Kalau kau bisa mencegahnya untuk tidak menemuiku atau setidaknya kau bisa mengajaknya pergi juga dan dia datang padamu bukan padaku, maka kau menang. Asal kau tahu, Yunho oppa tidak pernah sekalipun melanggar janjinya padaku." Jaejoong mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Go Ara, wanita ini benar-benar lawan kuat yang menyusahkan.
BRRAAKK!
Jaejoong menutup pintu ruang rawat Ara dengan kasar hingga menimbulkan suara nyaring yang nyaris membahana di sepanjang lorong.
Ara kembali tersenyum sinis namun senyuman itu pudar seiring dengan wajahnya yang berubah sendu. "Dasar bodoh. Kalian semua benar-benar bodoh... keundae nado paboya," bisiknya lemah dengan sebelah tangan memegangi dahinya.
.
.
Jaejoong memukul stir mobilnya dengan keras. Hatinya berdenyut sakit dan ada banyak kekesalan yang tertimbun dihatinya.
"Sial!" umpat Jaejoong kesal, ia mencengkram erat kemudinya.
Kenapa mempertahankan Yunho saja sulitnya minta ampun begini?
Namja cantik itu memejamkan matanya dan mengatur nafasnya yang sempat memburu itu agar lebih tenang. Jaejoong menyandarkan punggungnya ke kursi mobilnya kemudian ia meraih ponselnya setelah ia mengatur nafasnya.
Jaejoong mendial nomor 1, nomor panggilan cepat untuk kekasihnya, Yunho.
"Yoboseyo?" sapa pria tampan itu saat ia mendapati panggilan telpon dari kekasih tercintanya.
"Yun-ah...," gumam Jaejoong lemah dan sedikit bergetar. Ia menggigit bibirnya ragu.
"Hmm Boo, wae?" suara berat itu kembali menyahutnya membuat debaran jantung Jaejong mulai berdetak liar.
Jaejoong menelan salivanya agak sulit. "Bisakah kita bertemu?"
"Jigeum?"
"Ani, besok. Kau bisa?"
"Hmm... tunggu sebentar... sepertinya aku punya janji."
Jaejoong menggeleng pelan, tidak, apakah janji itu janjinya bertemu dengan Ara? "Pokoknya aku ingin bertemu denganmu besok. Kau harus datang Yun, aku tidak mau tahu!" paksa Jaejoong.
Yunho tersenyum. "Aigoo, uri boojae kenapa eoh?"
Jaejoong memiijit pelipisnya, "Kumohon datanglah." namja tampan kekasihnya itu tidak tahu saja bahwa sekarang Jaejoong begitu dipusingkan sekali karenanya. Rasanya kepala Jaejoong ingin meledak saat itu juga.
"Araseo, aku akan datang kalau sempat."
Mendengar kata 'kalau sempat' membuat Jaejoong jadi sangsi sendiri. "Kalau kau tidak datang, aku tidak tahu aku akan berubah jadi apa." bagi Jaejoong mungkin ini sudah bisa dibandingkan dengan pertaruhan hidup dan mati. Karena hanya Yunholah yang mampu memberikannya kebahagiaan dan membuat hidupnya serasa lengkap. Apa jadinya ia tanpa Yunho?
"Eiii jangan menakutiku Boo, arasseo arasseo aku akan datang. Tunggulah, ne?"
Jaejoong mengangguk pelan. "Hmm..."Namun, persetujuan Yunho tidak serta merta membuat hatinya langsung lega sebelum ia menyaksikan sendiri Yunho datang padanya bukan pada Ara.
"Geurae. saranghae." ada sekelumit perasaan hangat yang merambati hatinya begitu Yunho mengucapkan kata cinta untuknya.
"Nado," bisik Jaejoong dengan dirinigi tetesan air mata yang jatuh begitu saja tanpa perintahnya.
"Boo..." sesaat sebelum Jaejoong menutup telponnya, namja menawan ini kembali mendengar suara Yunho memanggilnya. Jaejoong kembali menaruh telponnya di dekat telinganya, ia terdiam menunggu Yunho melanjutkan kalimatnya.
Suara Yunho kembali terdengar. "Neomu saranghae, jeongmal saranghae. Tolong jangan pernah ragukan itu. Aku mencintaimu. Sepenuh hatiku," ucap Yunho dengan suara yang terdengar begitu dalam seolah ia menaruh semua keseriusannya hanya untuk mengucapkannya.
Jaejoong tersenyum sambil mengangguk, resah yang menderanya semenjak daritadi seolah menguap begitu saja dan berganti oleh luapan perasaan bahagia yang menenangkan hatinya. Ucapan Yunho seolah menjadi kekuatan tersendiri baginya.
"Hmm... Arra," lirih Jaejoong lembut.
'Aku juga Yun. Tapi kau harus tahu, memperjuangkanmu begitu sangat sulit bagiku. Jadi kumohon, datanglah padaku dan jangan pernah tinggalkan aku.'
.
.
TBC
.
.
Bagaimanaaa? Saya hanya mampu melanjutkan ceritanya sampai segini untuk chap ini. maaf kalau chap ini semakin membuat para reader kesal atau malah mengecewakan dengan jalan ceritanya, maaf juga Yunjae moment-nya belum bisa saya munculkan. ^^v
Haayyooo yang kesal siapa? Yang penasaran siapa? Hehehe ^^
Chap depan mudah-mudahan END terus EPILOG yah, horeeee akhirnya bisa namatin juga FF ini dan semuanya berkat reader-deul. Khamsahamnida *bow*
Saya sangat berterima kasih sekali untuk review yang kalian berikan untuk saya, rata-rata review dari kalian sangat membuat saya semangat dan termotivasi untuk terus meneruskan cerita ini. review kalian benar-benar bermanfaat sekali untuk perkembangan menulis saya yang masih perlu banyak belajar ini. sekali lagi, khamsahamnida.
Kalau ada saran dan kritik tolong kasih tahu yah tentunya harus yang membangun dan dengan bahasa yang enak dibaca ^^
Terima kasih sudah membaca ^^
