Disclaimer:
Naruto [Masashi Kishimoto] and High School DxD [Ichie Ishibumi]
Saya tidak mengambil keuntungan materi apapun dari fanfiksi yang saya publish.
.
Lime or Lemon
Drama, Suspense, Romance, Friendship, Family, Fantasy, Spiritual, and etc.
Rate : M
Type : Crossover
.
Warning! : OOC, OC, Typo(s), AU, AR, AT, Lime, Lemon, NTR and many more!
.
Chapter 10 Alive
.
.
Waktu terus bergulir, kesepuluh nominasi terbaik masih menunggu di belakang panggung. Terlihat raut wajah yang harap-harap cemas di antara mereka. Begitupun dengan Naruto, ada suatu hal yang harus ia bayar dengan memenangkan festival musik ini. Jiwanya berusaha fokus di antara aliran darah yang melaju dengan deras dan jantung yang berdegup kencang.
Di Zeep Tokyo Hall adalah sebuah tempat untuk memulai mimpinya. Mimpi yang banyak mengorbankan orang-orang yang ia sayangi. Semoga saja jerih payahnya menghasilkan.
.
.
Pukul 8.15 pm waktu Tokyo dan sekitarnya...
Sorak sorai tepuk tangan mewarnai sebuah lagu pembukaan yang dibawakan Uchihas Band. Lagu yang mampu membakar semangat personil band yang sedang berjuang meraih mimpinya. Setelah lagu itu selesai dibawakan, Darui langsung menghampiri para personil band Uchihas. Di hadapan kamera tv yang sedang on, Darui menyapa ketiga personil band tersebut.
"Yo, yo, whats up, Bro!" Darui mengajak personil band untuk berjabat tangan dan berpelukan.
Ajakan Darui disambut hangat oleh ketiga personil yang kemudian berkumpul di samping kiri Darui.
"Apa kabar kalian, dua tahun sudah masa jabatan sebagai Japanese Band di musim pertama dan tahun ini akan segera tergantikan. Apa harapan kalian bagi generasi J-Band berikutnya?" tanya Darui kepada ketiga personil band.
Para penonton antusias menunggu jawaban dari Uchihas Band.
"Ya, sebelumnya kami ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak penyelenggara ajang ini dan juga Sony Music Entertaiment Jepang. Yang mana kami dapat mewujudkan mimpi kami sebagai band yang diperhitungkan.
"Dan juga buat jajaran divisi pemerintahan yang telah memberikan hadiahnya. Terima kasih. Kami dapat melakukan study S2 di Eropa!" teriak Izuna sambil memegang mic yang ia ambil dari standing mic saat ia bernyanyi.
Tentu saja teriakan Izuna disambut tepuk tangan para penonton.
Jepang merupakan negara dengan seni anime/manga tertinggi di dunia. Banyak karya mendunia yang dihasilkan dari negeri Sakura ini. Hal inilah yang membuat pemerintah selalu men-support aktifitas kesenian yang berada di Jepang.
Setelah Izuna memberikan kata sambutan, mic itu kemudian ia berikan kepada Shisui, bergantian memberikan komentar.
"Untuk kami, semuanya sangat berarti. Dari keluarga, kerabat, sahabat dan juga para Uchihas Lovers di mana saja. Sekali lagi terima kasih, kalian sungguh luar biasa!"
Shisui kemudian bertepuk tangan memberikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung karir mereka. Tentunya penonton juga ikut bertepuk tangan dengan gemuruhnya.
"Harapan kami, siapapun yang akan memenangkan festival musik di tahun atau musim kedua ini, semoga dapat mempertahankan mimpi sampai kalian lelah bermimpi."
Itachi juga ikut bersuara, ia berbicara dengan mic yang dipegangi Shisui.
"Wow! Masukkan yang bagus, Itachi. Kata-katamu sungguh menginspirasi diriku yang sedang lelah. Hahahaha." Darui tertawa sendiri.
"Baiklah, terima kasih untuk Uchihas Band. Silahkan kembali ke alamnya," ledek Darui kepada ketiganya sambil berjabat tangan.
Uchihas band lalu beranjak kembali ke belakang panggung, kepergian mereka disambut teriakan para penonton yang juga menjadi fans mereka. Tak lupa ketiga personil band itu membungkukkan badan dan mengangkat kedua tangannya sebagai penghormatan kepada para penonton yang hadir sebelum mereka benar-benar meninggalkan panggung pementasan.
"Yosh, kita sudah melihat lagu pembukaan yang dibawakan Uchihas Band. Saatnya kita melihat urutan band yang akan tampil malam ini secara acak, yaitu tidak bergantung poin saat masuk final.
Tapi sebelumnya, kita ke Karin yang sudah berada di spesial room yang sedang menunggu sesuatu. Silahkan, Karin!" Darui mempersilahkan Karin mengambil alih.
Kamera TV lalu berubah menuju suatu ruangan seperti aula dengan panggung kecil tempat pementasan drama.
"Ya, terima kasih, Darui," sahut Karin saat kamera menyorot dirinya.
"Baiklah semuanya, sekarang kita berada di sebuah ruang pementasan drama bagi karya tulis yang masuk sepuluh besar. Perlu diketahui, pementasan ini sudah dimulai pada pukul satu siang tadi. Dan saat ini tengah menunggu keputusan juri siapa yang pantas masuk ke posisi tiga besar yang akan ditayangkan secara live di panggung festival. Kira-kira siapa ya? Hemmmm...hmm..." Karin bergumam sendiri.
"Baiklah, kita akan bertanya langsung kepada salah satu author drama kita. Hai apa kabar?" tanya Karin kepada seseorang.
Tayangan itu membuat jantung Naruto berdegup kencang. Ia kenal baik dengan seseorang yang di wawancarai Karin, sang host.
"Kabarku baik," jawab sang author yang mengenakan jumpsuit hitam. Gadis itu berpakaian serba hitam.
'Akeno ...,' batin Naruto berbisik saat melihat sosok gadis yang diwawancarai Karin. Ia beranjak berdiri dari duduknya berniat menjemput Akeno, tapi Sasuke menahan Naruto.
"Naruto, fokuslah demi mimpimu."
Sasuke yang juga melihat tayangan itu berusaha membuat sang teman fokus terhadap impiannya. Dan kata-kata itu dapat meredam hasrat Naruto yang ingin menemui Akeno.
"Bagaimana perasaanmu saat menunggu pengumuman tiga besar?" Karin melanjuti pertanyaannya.
Akeno tersenyum ke arah kamera lalu iapun menjawab.
"Menang atau kalah itu sudah biasa dalam perlombaan, yang jelas aku melakukan sebaik yang kumampu dan tinggal menunggu hasil akhir. Harapan itu akan selalu ada," jawab Akeno yang ditanggapi keterkejutan Naruto yang menonton tayangan itu.
'Akeno ... tunggu aku ...,' batin Naruto.
Rupanya karya tulis Akeno masuk di sepuluh besar nominasi drama kampus terbaik.
"Genre apa yang kamu ambil dalam karya yang diikutsertakan?" tanya Karin lagi. Akeno pun menjawabnya.
"Aku mengambil genre drama, hurt/comfort," jawab Akeno lagi.
"Wow! Hurt/comfort. Membayangkannya saja aku tidak mampu," sahut Karin saat membayangkan genre yang menurutnya memilukan itu.
"Terima kasih atas jawabannya, ya."
Karin lalu menutup perbincangannya dengan Akeno lalu melihat ke arah kamera.
"Baiklah pemirsa, tadi sekilas tentang info. Oh, tidak! Sekilas tentang seleksi final karya tulis yang dilakukan sepuluh nominasi terbaik dengan sepuluh dewan juri. Kita nantikan saja hasil akhirnya, dan kita kembali ke Darui." Karin berucap sambil tersenyum.
Kamera TV lalu segera kembali menyorot Darui yang berada di atas panggung festival.
"Yosh! Terima kasih, Karin. Telah mewakili para author hebat di sana." Darui menyahuti perkataan Karin.
"Baiklah, segera saja kita akan melihat urutan secara acak band yang akan tampil malam ini. Di mulai dari urutan pertama performance." Darui segera mengalihkan pandangan ke arah layar lebar.
Sontak saja para personil band semakin cemas bukan main saat layar lebar itu mulai menayangkan urutan secara acak band yang akan tampil.
DAFTAR BAND PERFORMANCE MALAM FINAL FESTIVAL MUSIK BAND KAMPUS MUSIM KEDUA, SEBAGAI BERIKUT...
Layar lebar itu kemudian memperlihatkan kesepuluh foto band yang akan tampil dan beberapa detik kemudian layar lebar itu menunjukkan hasil acakannya.
"Apaa?!" Sakura terkejut melihat nama bandnya.
"Oh, sial!" Naruto mendengus kesal.
"Kalian tenangkan diri," pinta Sasuke kepada yang lain.
Sai hanya tersenyum di saat mendapati nama bandnya berada di urutan terakhir.
"Aku bisa tidur sebentar jika seperti ini," ucap Naruto yang lemas karena ternyata D'Justice berada di urutan kesepuluh alias tampil terakhir.
"Hei, sudah!" Sasuke menepuk punggung temannya.
Ada rasa kecewa yang menghampiri Naruto dan personil lainnya. Tapi yang namanya kompetisi harus dapat menerima dengan 'legowo'.
.
.
.
Pukul 9.00 pm.
Pentas pertunjukkan drama pertama telah dilakukan. Band urutan kedua akan segera unjuk gigi.
Naruto bersama ketiga personil band D'Justice malah tidur di sebuah ruang fitting baju yang telah disediakan. Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum tampil.
.
.
.
Pukul 10.00 pm.
Naruto masih tertidur pulas, tidak dengan Sakura yang telah terbangun. Ia memutuskan untuk memesan makanan untuk ketiga personil band lainnya. Seusai makanan itu telah sampai, Sakura lalu membangunkan ketiga personil bandnya untuk makan bersama.
.
.
.
Pukul 11.00 pm
Pentas drama kedua sudah dilakukan dan enam band telah tampil. Naruto, Sasuke dan Sai malah asik berendam di air hangat sebelum pentas mereka dimulai, begitu juga dengan Sakura. Mereka rela menaiki scooter menuju tempat pemandian yang tidak jauh letaknya dari stadion festival.
"Seru sekali malam ini," gumam Naruto sambil terus berendam.
"Hei, kau cepatlah. Sudah enam band yang tampil." Sasuke beranjak pergi dari hadapan Naruto.
"Ya, ya. Kau tenang saja, Sasuke," sahut Naruto yang kemudian mengikuti Sasuke untuk segera membilas tubuhnya. Sedang Sai sudah tampak segar saat keluar dari kamar mandi.
.
.
.
Pukul 11.45 pm.
Keempat personil sudah tiba di belakang panggung. Saat mereka tiba band urutan kesembilan baru saja memulai aksinya.
"Hufft, untung saja." Sakura yang sudah tampak fresh itu sangat khawatir jika bandnya akan terlambat .
"Tenang, Sakura. Kiba tidak akan berbohong." Naruto menanggapi Sakura dengan tersenyum lebar seperti tanpa dosa.
"Mereka mana tahu jika kita melakukan hal bodoh seperti ini, hahahaha." Sai tiba-tiba tertawa sendiri yang membuat ketiga personil lain bingung.
"Tumben kau, Sai, dapat tertawa," ejek Naruto.
Sai benar-benar merasakan keseruan semenjak bergabung dengan band milik Sasuke.
"Tak apa, aku hanya heran dengan kalian saja. Hahahaha." Sai lagi-lagi tertawa.
"Bisa-bisanya kami melakukan hal seperti ini, begitu maksudmu?" tanya Sakura lagi.
"He-em." Sai mengangguk, tak percaya akan waktu yang telah ia lalui bersama ketiga temannya itu.
"Oke, baiklah. Kita bersiap-siap, dua lagu lagi. Sakura, kau sudah menyiapkan diri?" tanya Sasuke.
"Siapp!"
Sakura menunjukkan jempol tangan kanannya kepada Sasuke pertanda ia sudah siap untuk beraksi.
"Baiklah, mari kita berdiri." Sasuke mengintruksi personil bandnya.
Mereka berdiri melingkar lalu berangkulan.
"Mari kita berdoa sebelum pertunjukkan ini dimulai. Ingat! Fokus, fokus dan fokus!" seru Sasuke memberi semangat.
Mereka mengangguk lalu memulai doa bersama. Setelahnya tangan mereka bertumpuk, dimulai Sasuke, diikuti Sai, Naruto dan Sakura.
"D'Justice!" teriak Sasuke.
"For the world!" sahut keempatnya serempak.
Akhirnya pertunjukkan mereka akan segera di mulai. Here they are...!
.
.
.
Pukul 00.01 am.
Tepat pergantian hari band kesembilan baru saja menyelesaikan aksinya. Di belakang panggung, Naruto dan kawan-kawan sudah bersiap dengan segala apa yang direncanakan.
"Kita pasti bisa memenangkan perlombaan ini, yakinlah!"
Sasuke menepuk pundak kanan Naruto dan Sai serta memegang erat tangan sang kekasih.
"Mari kita sambut ..."
Darui memberi aba-aba untuk D'Justice agar bersiap masuk ke dalam panggung.
"D...Jus...tice...!" seru Darui dan kemudian keempat personil band D'Justice masuk ke dalam panggung.
Sorak sorai menyertai kedatangan mereka dan seketika lampu panggung pun mati.
Saat lighting dimatikan, Sasuke segera menuju drum yang berada di tengah panggung. Sai ke sisi kanan panggung tempat di mana keyboard berada, dan Naruto segera memegang gitar listrik yang sudah tersedia di sisi kiri panggung. Sakura sendiri sudah bersiap di sisi sebelah kanan panggung, ia tampak memegang sesuatu.
Tak lama, Sasuke memberi aba-aba dengan memukul stik drum-nya tiga kali. Lalu Naruto mulai masuk memainkan intro diikuti Sai mengaransemen nada di keyboard-nya.
Inilah D'Justice...
.
.
.
Intro
Naruto, Sasuke dan Sai kompak bermain intro dan memperpanjang lebih lama tidak seperti lagu aslinya. Perpanjangan intro itu digunakan Sakura untuk performance yang tak biasa. Ia meluncur menggunakan skateboard dari sisi kanan panggung sambil membawa bendera kampusnya lalu mengitari panggung. Sontak saja hal itu membuat para penonton bertepuk tangan dengan riuhnya, bersorak sorai dengan keras terutama Kiba beserta para pasukkan.
Band terakhir membuat rasa kantuk juri hilang seketika, dan bendera itu kemudian ditancapkan oleh Sakura di sebuah lubang tiang yang berada di sisi kanan panggung setelah ia mengitari satu putaran penuh. Tiang itu memang sengaja dibuat Naruto dan Sasuke saat gladi resik dilakukan.
Performance mereka berbeda dan gila, para penonton serempak mengangkat tangannya sambil berjingkrakkan. Dan lagupun mulai dinyanyikan...
.
.
.
Kamera menyorot Naruto sebagai backing vokal, terlihat penonton yang ikut berteriak sambil mengangkat tangan kanannya ke atas. Lalu kamera itu menyorot Sasuke yang memukul drum-nya.
Saat interloude, Naruto maju ke depan panggung menaiki sebuah kursi pendek berbentuk persegi. Lalu ia memainkan melodinya. Semua penonton berteriak, tak terkecuali Akeno yang ikut menonton performance Naruto, Akeno tampak terkesima.
Para penonton berjingkrak mengikuti irama lagu yang dibawakan D'Justice. Sakura pun ikut berdiri di atas kursi yang disediakan untuk atraksi.
Di ending melodi, Sakura mengajak penonton mengangkat kedua tangan ke atas lalu bertepuk tangan secara serempak. Kemudian mengarahkan mic-nya ke arah penonton untuk bernyanyi bersama.
Dan lagu itu terus dinyanyikan, hingga ke bait terakhir. Bersemangat dan begitu memukau.
Beberapa saat kemudian, kamera itu menyorot mereka dari depan panggung saat lagu telah selesai dinyanyikan. Ribuan penonton bertepuk tangan melihat performance pertama D'Justice. Lima dari sepuluh dewan juri memberikan standing ovation (berdiri sambil bertepuk tangan) diikuti satu persatu dewan juri lainnya. Hanya satu dewan juri yang duduk, yaitu Hatake Kakashi dari kategori Eksistensi Band.
Terdengar teriakan menggema yang menyemangati mereka. Lagu kedua yang merupakan original song akan segera mereka bawakan secara akustik. Mereka pun bersiap-siap.
Sementara Akeno tampak berusaha lebih maju ke depan panggung, ia berdesakkan untuk menemui Irina yang memang sudah dari awal datang untuk men-support Sai.
'Naruto, akhirnya ... impianmu ...,' bisik batin Akeno sambil terus berusaha maju ke arah depan.
.
.
.
Di lain tempat...
"Jadi, Naruto telah memutuskan hubunganmu?" tanya sosok gadis berambut biru yang tak lain adalah Xenovia.
Saat itu Rias tengah berdua bersama Xenovia tanpa Sona. Mereka tengah asik mabuk di meja bar.
"Jadi, bagaimana rencanamu ke depan? Aku masih dapat bagianku, kan?" tanya Xenovia sambil meminum wisky-nya.
"Haaahhh! Kau selalu memikirkan bagianmu. Tenang sajalah, aku tidak akan pernah lupa akan bantuanmu, Xenovia!" Rias berbicara tanpa arah, ia benar-benar mabuk.
"Ya, baguslah kalau begitu. Berarti selama ini bantuanku tidak kembali dengan tangan kosong. Hahaha."
Xenovia tertawa, ia mengingat bagaimana dirinya membantu Rias untuk mengadu domba Akeno dan Naruto.
'Hah! Asal keuntungan kudapat, aku tidak peduli pada siapapun pada apapun,' gumam Xenovia sambil memegang wine dengan tangan kirinya.
Rias frustasi, maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Niatnya mendapatkan keduanya sekaligus, malah ia kehilangan salah satunya. Atau malah mungkin keduanya. Ia terus-menerus meminum alkohol sampai malam semakin larut. Untung saja ada Xenovia. Kalau tidak, mungkin ia akan jadi korban gangbang di dalam bar.
Ya, kadang sifat tamak dapat membunuh diri sendiri.
.
.
.
Kembali ke panggung.
D'Justice mempersipakan performance lagu ketiga mereka. Sakura segera mengambil bass lalu mulai mengecek sound bass-nya. Naruto beralih menjadi vokal di lagu ketiga ini. Tentu saja, formasi D'Justice sangat buruk jika dipandang hanya dari satu sisi. Tapi, sangat fantastis jika dipandang dari segi personal. Karena keeempat personil dapat berganti peran.
"Selamat malam semua!" Naruto mulai menyapa para penonton.
Terdengar sahutan dari para penonton saat itu.
"Lagu ketiga ini adalah sebuah lagu jeritan hati dari kami para mahasiswa Jepang, atas kesengsaraan yang terus menerus menimpah saudara-saudara kita di Palestina. Sebuah lagu kami persembahkan untuk kalian semua ..."
Lighting kemudian mati, di dua layar lebar yang berada di sisi kanan dan kiri panggung mulai memperlihatkan sesuatu.
Ya, sebuah klip tentang pembantaian yang terjadi di Palestina. Tentu saja hal itu membuat para penonton berubah roman wajah dan ekspresi.
Kiba dan pasukkan mulai menyalakan lampu handphone mereka sebagai bentuk empati atas tragedi yang menimpah saudara-saudara di Palestina, diikuti para penonton yang hadir. Terlihat sinar terang yang berada di tengah kegelapan.
Lagu itupun mereka nyanyikan bersama. Dan saat berada pada lirik terakhir, terlihat huruf kapital tebal yang muncul di layar panggung.
APA YANG KAU DAPAT DARI PERANG?
Naruto mengakhiri lagu sambil mentikkan air mata, sontak saja para penonton bertepuk tangan dan ikut memberikan dukungan.
"Save Palestine!" teriak Naruto sambil mengangkat tangan kanannya ke atas, dan lighting pun dihidupkan...
"Wow! Seperti sebuah orasi yang sedang berlangsung."
Karin datang mulai mengambil alih panggung, personil D'Justice kemudian kembali ke belakang panggung.
"Semoga saja, pemerintah dapat ikut andil dalam penghentian perang di negara Palestina." Karin ikut berdo'a.
"Baiklah, kesepuluh band sudah memperlihatkan aksinya dan sebentar lagi kita akan menyaksikan pertunjukkan drama teater terakhir. Siapakah yang akan menjuarai festival musim kedua ini?
"Don't go anywhere! We will back." Karin tersenyum ke arah kamera. Intermezo sejenak.
.
.
.
Aksi drama terakhir dimulai, dan tepat pukul 00.50 drama itu berakhir.
Di belakang panggung, kesepuluh dewan juri berdiskusi menentukan siapa pemenang dan runner up terpilih. Hanya dua band yang berhak membuat album.
Terlihat di meja bundar Hatake Kakashi hanya berdiam diri sambil menopang dagu dengan kedua tangannya. Keputusan berat akan diambil olehnya malam ini, kebetulan selisih poin hanya berbanding tipis.
Kira-kira akankah Naruto dan tim berhasil menjuarai festival musik band kampus di musim kedua ini?
.
.
.
Di depan panggung, Akeno telah bertemu Irina. Mereka tengah bercakap-cakap.
"Jadi Sai adalah anggota band itu?" Akeno tak menyangka jika dunia terlalu sempit untuk dirinya.
"He-em, apa ada yang aneh, Akeno?" tanya Irina di tengah keramaian penonton.
"Ah, tidak. Hanya saja ... aku merasa sedikit keliru," jawab Akeno sambil menggaruk kepalanya sedikit.
"Apa kau mengenal salah satu di antara mereka selain, Sai?" Irina bertanya lagi.
"Hem, itu ..." Akeno tampak ragu menjawabnya.
Irina yang saat itu mengenakan t-shirt D'Justice dan celana pensil birunya dipadu sepatu kets cokelat tampak memandangi Akeno yang terlihat bertingkah aneh. Ia kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Oh, ya. Bagaimana karya tulismu?" Irina bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Oh, itu ... aku hanya mampu berada sampai di urutan keempat," jawab Akeno yang sedikit bersedih.
"Sayang sekali ya, tapi tidak apa, Akeno. Dua tahun lagi akan diadakan musim ketiga. Kau kan dapat ikut serta lagi." Irina menyemangati.
"Hem, iya. Terima kasih, Irina." Akeno tersenyum mendapat dukungan dari sang teman.
Mereka kemudian menunggu hasil siapa pemenang dari 10 band dan 3 penulis yang beradu di atas panggung.
.
.
.
Pukul 01.00 dini hari.
"Baiklah pemirsa dan juga para penonton di stadion Zeep Hall, Tokyo. Kini saatnya kita akan melihat bersama-sama siapa yang akan menjadi pemenang The Next Japanese Band musim kedua ini." Darui mengawali.
Seluruh personil band berada berjajar di atas panggung, termasuk tiga orang author yang berdiri sedikit ke tepi kiri sedang Karin dan Darui berada di sisi kanan panggung.
"Tanpa banyak basa basi, langsung saja kita lihat di layar monitor. Silakan ...," lanjut Karin sambil tersenyum.
Layar lebar itu kemudian mengambil alih acara, kesepuluh band kampus dan tiga author tampak gugup dan cemas. D'Justice terlihat berpegangan tangan. Dari kanan ke kiri, Sasuke, Sakura, Naruto dan Sai. Mereka tampak menundukkan wajah menunggu hasil.
Pegangan erat Sakura pada Sasuke membuat hati Sasuke makin berdebar, begitu pun dengan Naruto yang sudah siap menjatuhkan diri jika bandnya diluar harapan.
MALAM FINAL FESTIVAL BAND DAN DRAMA KAMPUS JEPANG MUSIM KEDUA. KESEPULUH DEWAN JURI TELAH MUTLAK MEMUTUSKAN...
DEBB
DEBB
DEBB
Jantung Naruto semakin berdegup kencang tak terkendali, keringat mulai bercucuran di keningnya.
NUMBER TEN, CONGRATULATIONS FOR...
Alunan musik yang sengaja dimainkan membuat suasana semakin menengang.
GREEN LEAF FROM WASEDA UNIVERSITY
Layar lebar kemudian memunculkan poin-poin penilaian mengapa band asal kampus Waseda berhak mendapat peringkat kesepuluh.
"Wow, so amazing! Congrat to Green Leaf yang mendapat 910 poin dari kesepuluh dewan juri." Karin bersuara.
"Untuk para personil band Green Leaf dipersilahkan mengambil tempat di sebelah kiri panggung." Darui meminta kepada personil band untuk mengambil tempat.
"Baiklah, kita lanjutkan di urutan kesembilan. Silakan ..." Darui meminta kepada layar lebar untuk mengumumkannya lagi.
Hasil keputusan dewan juri adalah mutlak yang diambil berdasarkan hasil audisi pertama sampai malam final. Dengan skor 20:80. Sehingga malam final menyumbang skor 80% dari total keseluruhan point.
Tak ada yang tidak mungkin dalam sebuah pertandingan termasuk perlombaan musik dan drama. Dan berikut daftar band yang berhasil menduduki posisi kesembilan sampai dengan posisi keempat.
Peringkat - Nama Band - Asal Kampus - Total Poin
9 - Aksara - Universitas Tsukuba - 912
8 - The Greatest - Universitas Kyushu - 920
7 - Titan - Universitas Hokkaido - 930
6 - Angel Fall - Universitas Nagoya - 936
5 - Red Devil - Universitas Tohoku - 945
4 - Hayaku - Universitas Osaka - 955
Betapa senang hati Naruto tidak mendapati nama bandnya di peringkat kesepuluh sampai keempat. Riuh tepuk tangan dan suara teriakkan menggema memenuhi stadion buatan Sony Music Entertaiment Jepang itu.
Terlihat di sana, raut wajah bahagia terpancar dari keempat personil band D'Justice.
.
.
.
"Selamat untuk para pemenang. Urutan hanya sebagai formalitas poin bukan berarti kita kalah atau lemah."
Karin memberi tepuk tangan untuk ketujuh personil band yang telah disebutkan oleh layar lebar.
"Baiklah, saatnya kita melaju ke tiga besar. Are you ready?!" Darui mengarahkan mic yang ia pegang ke arah penonton.
READY!
Teriak penonton yang sudah tidak dapat bersabar.
"Baiklah, data tiga besar sudah berada di tangan kita sekarang. Kami meminta kepada ketiga band silahkan maju ke depan panggung," pinta Darui mengarahkan.
Ketiga band kampus tersebut kemudian maju ke depan panggung, masing-masing para pendukungnya berteriak-teriak memanggil nama band mereka.
Siapakah yang akan menjadi juara di musim kedua?
"Dewan Juri memutuskan, selamat kepada ..."
Suara musik yang kian lama kian membesar membuat suasana panggung tampak mengerikan. Naruto, Sasuke, Sai dan Sakura terlihat memejamkan kedua matanya sambil berdoa.
"Selamat kepada ...," ucap Darui melanjuti.
"THE...PURPLE...!" seru Darui dan Karin serempak.
Riuh tepuk tangan mewarnai arena pementasan saat band yang bernama The Purple asal kampus Kyoto menjadi juara ketiga di malam final festival musik dan drama kampus Jepang musim kedua.
"Selamat kepada The Purple yang berhasil mendapatkan 975 poin, berbeda 20 poin dengan band di peringkat keempat." Darui melanjuti.
Layar lebar itu kemudian memunculkan data rinci hasil penilaian juri.
"Baiklah, saatnya kita umumkan pemenang di musim kedua ini. Siapapun yang menjadi pemenang bukan menjadi persoalan yang pelik. Karena bagaimanapun kalian yang sudah berada di sini adalah pemenangnya!" seru Darui menyemangati.
"Ya, tapi sebelumnya kami akan mengumumkan pemenang festival drama kampus musim kedua ini." Karin melanjuti.
Karin lalu mengumumkan siapa yang mendapat juara pertama di musim kedua drama kampus Jepang. Sementara itu Sasuke terlihat menyemangati para personil band-nya.
"Bagaimana, apa kalian sudah merasa puas akan hasil ini?" tanya Sasuke kepada yang lain.
Sakura dengan cepat menanggapi pertanyaan Sasuke.
"Aku sangat bersyukur, Sasuke-kun, aku tidak pernah menyangka sebelumnya kita dapat melesat sampai sejauh ini," sahut Sakura.
"Ya, itu karena kekompakkan dan kebersamaan kita yang berhasil memukau para dewan juri." Sai menambahkan.
Naruto tampak diam saja, ia tidak sanggup mengontrol dirinya saat itu. Tangannya gemetaran, jantungnya berdegup kencang menunggu hasil. Keringat dingin pun tak henti-hentinya keluar dari dahinya yang licin.
"Naruto." Sakura mencoba menyapa Naruto yang berada di samping kirinya.
"Hem, iya. Aku sudah merasa bahagia masuk ke dua besar di musim ini. Juara atau tidak sekarang bukan suatu hal yang aku pusingkan. Karena kita sudah mencapai puncak dan pihak Sony Music akan mendukung pembuatan album kita. Itu cukup untukku," ujar Naruto mencoba menutupi keinginannya menjadi juara pertama.
"Ya, itu benar Naruto. Manusia tidak akan merasa puas dengan apa yang didapat. Cukup syukuri dan jaga semua yang telah kita raih. Hal itu sudah lebih dari sekedar menjuarai suatu perlombaan. Bukankah kata-kata itu yang kau lontarkan dulu saat kita bertarung di final?" Sasuke mengingat kembali awal pertemuannya dengan Naruto.
"Ehem! Sepertinya masih ada yang dirahasiakan dariku," gerutu Sakura sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Eh, sudah. Kita selesaikan nanti. Lihat, host sudah bersiap mengumumkan." Sai juga sudah tidak sabar mendengar kabar.
Ketiga personil band yang lain menuruti perkataan Sai. Mereka kembali fokus ke hasil penilaian dewan juri.
"Baiklah, kami ucapkan selamat kepada ketiga author terpilih malam ini. Hadiah sudah bisa dibawa pulang ya," canda Darui kepada dua orang author wanita dan satu orang author pria yang berhasil masuk di peringkat tiga besar.
"Ya, itu benar. Tapi belum selesai, Darui. Saatnya kita mengumumkan siapa yang menjadi pemenang di musim kedua ini. Dan perlu diketahui, kesepuluh nominasi akan dibuatkan sebuah album kompilasi. Dan untuk juara pertama dan runner up akan dibuatkan mini album langsung dari pihak Sony Music Entertaiment Jepang," tukas Karin.
"Dan bukan hanya itu, Karin (menoleh ke arah Karin). Untuk juara pertama akan mendapat bea siswa S2 di Eropa dan runner up-nya akan mendapat bea siswa S1 di Jepang. Vocher belanja senilai satu juta yen untuk juara pertama dan tujuh ratus ribu yen untuk runner up serta sebuah Free Card, makan gratis selama satu tahun di dua restoran cepat saji ternama di Jepang." Darui melanjuti sambil tersenyum lebar.
"Baiklah, langsung saja kita umumkan. Pemenang atau juara pertama festival musik band kampus Jepang di musim kedua. Selamat kepada ..."
Kedua band yang sudah berada di depan panggung saling berpegangan tangan.
"Selamat kepada...!"
Darui berseru semakin kencang diiringi irama musik yang semakin menegangkan. Darui dan Karin lalu berucap bersamaan.
"Selamat kepada ... Black...Pepper!" seru keduanya. Tiba-tiba sebuah lagu selebrasi diputar.
Lagu selebrasi itu mewarnai kemenangan band bernama Black Pepper dari Institute Teknologi Tokyo. Hal ini juga menandakan bahwa D'Justice asal Universitas Tokyo menyabet gelar runner up di ajang festival band kampus Jepang di musim kedua.
"Selamat kepada band Black Pepper yang berhasil meraih total poin sebanyak 989 dari kesepuluh dewan juri kita malam ini. Dan juga kami ucapkan selamat kepada D'Justice yang berhasil menjadi runner up dengan perolehan skor 984 dari kesepuluh dewan juri." Darui menjelaskan.
D'Justice harus berbangga hati dan berpuas diri atas pencapaian yang mereka raih. Bagaimanapun D'Justice meraih skor tertinggi di malam final dari kesepuluh dewan juri. Tapi, penilaian dilakukan sejak awal audisi membuat dirinya harus bangga menjadi runner up.
"Baiklah pemirsa dan para penonton di stadium, mari kita sambut juara pertama dan runner updi musim kedua ini." Karin mengajak semuanya bertepuk tangan.
Kedua band itu lalu mengangkat kedua tangannya memberikan salam ke arah penonton.
"Tak ada gading yang tak retak, begitupun dengan kami. Sampai jumpa di musim ketiga."
"Festival Musik dan Drama Kampus se-Jepang!" seru Karin dan Darui kompak.
"Sampai jumpa!" Karin menutup perjumpaan.
Lagu Haruka Kanata kembali diputar sebagai lagu penutup. Kesepuluh band dan ketiga author saling bersalaman. Tak lama kesepuluh dewan juri naik ke atas panggung memberikan selamat kepada pemenang dan runner up, begitupun dengan Uchihas Band yang menjadi juara pertama di musim pertama.
Ada yang unik saat Sasuke bersalaman dengan personil Uchihas band, terlihat ketiganya menjitak pelan kepala drummer berambut emo itu.
Balon-balon berterbangan dari langit-langit panggung, diikuti kertas-kertas kecil yang berwarna-warni ikut menghujani panggung selebrasi, mereka terus disorot kamera TV Tokyo sampai lagu Haruka Kanata selesai diputarkan.
Dari depan panggung terlihat Akeno yang menangis karena terharu. Bagaimanapun Akeno turut berbahagia atas apa yang berhasil diraih Naruto, sang mantan.
.
.
.
Beberapa menit setelah pentas usai, Naruto dan kawan-kawan memasuki sebuah ruangan khusus yang berisi awak media. Ruangan yang telah dipersiapkan agar para awak media dapat mewawancarai dengan tertib.
Selama wawancara berlangsung, Kiba beserta para pasukkan bergegas menuju ruangan tersebut. Begitupun dengan Akeno yang ingin secara langsung mengucapkan selamat kepada sang mantan. Status hubungan yang sekarang ini menjadi jarak dan penyebab mengapa ia tidak dapat bersama Irina. Irina yang notabene merupakan kekasih Sai dapat mengikuti kemana sang kekasih pergi.
Akeno berlari menuju ruang wawancara itu, saat ia hampir tiba ia melihat Naruto beserta Sai, Sakura dan Sasuke dari kejauhan yang baru saja keluar dari dalam ruangan. Akeno terus mendekat. Tetapi, langkahnya terhenti di saat Kiba bersama mahasiswa lain mengerubungi personil band D'Justice itu.
"Selamat, Naruto. Kami tunggu makan-makannya," ucap Kiba yang menyambut Naruto dan yang lain keluar dari dalam ruangan.
"Ya, bagaimana jika bonus makan gratis itu kita habiskan saja, setuju?!" tanya Kiba kepada pasukkannya.
"SETUJU!" jawab para pendukung D'Justice.
"Ya, ya, ya. Tenang saja," sahut Naruto sambil tertawa diikuti Sasuke, Sai dan Sakura.
Akeno hanya dapat memandangi Naruto dari jauh, matanya berlinang air mata kebahagiaan yang belum sempat tersampaikan.
"Selamat ya, Naruto," ucapnya pelan sambil terus memandangi Naruto di antara teman-teman kampus yang mengerubunginya.
Akeno kemudian tertunduk sedih, ia berniat meninggalkan Naruto. Tetapi, tiba-tiba...
"Kau ingin mendapatkan tanda tangannya, ya?" tanya seseorang dari belakang Akeno.
Akeno masih tidak menggubrisnya.
"Jika itu yang kau inginkan, aku bisa menggantikannya," ucap seseorang itu lagi.
Akeno tersadar jika ada seseorang yang sedang berbicara kepadanya. Ia kemudian membalikkan badan ke asal suara.
"Ka-kamu..."
Akeno terkejut seorang pemuda ternyata tengah berada di belakang badan Akeno.
Pemuda itu kemudian mengusap dahi Akeno yang berkeringat dengan tangan kanannya. Tanpa Akeno sadari, secara tidak sengaja Naruto melihat adegan itu. Terlihat jelas di kedua bola mata birunya.
"Ayo pulang, Akeno."
Pemuda itu kemudian menggenggam erat tangan kiri Akeno. Mereka kemudian pergi sambil berpegangan tangan.
'Akeno ...'Naruto berusaha keluar dari lingkaran teman-temannya tapi tak bisa.
'Akeno, kau datang untukku?'' tanyanya dalam hati tidak mampu menemui sang mantan yang terus berlalu pergi.
Ada rasa sakit saat melihat Akeno diusap dahinya oleh pria lain. Tapi Naruto mencoba mengerti, bahwa rasa sakit yang ia rasakan belum ada apa-apanya dibanding rasa sakit yang Akeno rasakan karena ulah dirinya.
'Tunggu aku, Akeno ...,' ucapnya sambil terus memandangi kepergian sang mantan.
.
.
.
TBC
