Ada yang bilang, semua indah pada waktunya. Tak peduli sedang tertawa atau menangis, damai atau banyak masalah, suka atau duka. Selama ada dia, selama aku masih bersamanya dan selama dia masih bersamaku, aku percaya semua akan baik-baik saja. Karena semua terasa indah ketika bersamanya.

.

.

.

"Kare ga Aru" by Kazusaki Kuga

Kuroko no Basuke belongs to Fujimaki Tadatoshi

Kare ga Aru is belongs to me

Kagami X Readers

Happy Reading

.

.

.

Hanari meletakkan dua gelas lemon tea beserta beberapa camilan di atas sebuah nampan. Dibawanya nampan yang tidak kosong tersebut ke kamarnya. Sesampainya di kamar, nampan itu diletakkan di meja kecil yang berada di tengah kamarnya. Terlihat dirimu sedang duduk bertopang dagu sambil membaca komik.

"Kau ingat besok hari apa?" tanya Hanari.

"Hari Minggu, tentu saja. Kenapa?" jawabmu tanpa mengalihkan pandangan dari komik.

Hanari menepuk keningnya. "Aku harap kau tidak lupa bahwa besok tanggal 14 Maret."

"Empat belas Maret?" Kau mendongak menatap Hanari. "Oh, White Day?"

"Ya ampun, [Name]-chan, kemana saja kau selama ini? Bukankah di pertokoan sudah banyak yang memajang 'White Day Fair'?" Hanari mulai mengambil cemilan.

"Oh, entahlah. Aku tak terlalu memperhatikan. Apa itu sebabnya besok Kagami mengajakku ke taman bermain?" Kau mengendikkan bahu sesaat kemudian kembali menekuni komik.

"Kagami-kun mengajakmu ke taman bermain? Apa dia tak punya ide untuk ke tempat lain?" gerutu Hanari.

Kau mendelik ke arah sahabatmu itu. "Sejak kapan kau memanggilnya begitu?"

"Entahlah. Sepertinya sudah lama," Hanari menempelkan jari telunjuknya ke dagunya sambil menatap langit-langit kamarnya.

"Ya sudahlah, itu bukan urusanku. Aku harap Kagami tidak lupa menyiapkan balasan untukmu."

"[Name]-chan," panggilan Hanari terdengar serius. "Kau tidak berniat memanggilnya dengan nama kecilnya?"

"Eh?"

"Jangan 'eh'. Aku yakin dia pasti juga menginginkan itu."

Kau terlihat berpikir sejenak. "Tidak."

"Tidak?"

"Aku tidak berminat memanggilnya begitu kalau dia tidak minta."

"[Name]-chan, kau ini."

Kau bahkan meragukan kalimat yang baru saja kau lontarkan. Kau melengos. Mungkin kau harus lebih jujur kepada dirimu sendiri setelah ini.


# # #


"Itte kimasu!" seusai memakai boot pendek sebagai penutup tampilanmu hari ini, kau beranjak berdiri menuju pintu. Begitu pintu terbuka, angin langsung menyeruak masuk, menerpa dress pastel sepanjang paha yang membalut tubuhmu. Namun, kau tak khawatir pahamu terlihat, karena legging hitam panjang yang juga membalut sepanjang kakimu.

GUK!

Kau menunduk. "Lho, Nigou?" Kau menggendong anjing kecil yang tidak asing bagimu itu. Dan tak sulit untukmu menemukan sang pemiliknya.

"Ah, Tetsuya!" Sebelum menghampiri sang sepupu, kau menutup pintu terlebih dahulu. Kemudian tak lupa juga membuka pagar serta menutupnya kembali.

"Doumo," sapa Kuroko, tak lupa dengan senyum sopannya.

"Jalan-jalan bersama Nigou?" terkamu.

Kuroko mengangguk. Terlihat kemudian ia merogoh tas sampingnya, mencari sesuatu. Bersamaan kau menurunkan Nigou dari gendonganmu, si pemilik manik secerah musim panas itu menyodorkan sesuatu. Sebuah hiasan rambut berwarna icy blue dengan motif sebuah bunga besar dengan dedaunan kecil sebagai pelengkapnya yang masih rapi terbungkus plastik.

"Apa ini?"

"Hiasan rambut."

"Maksudku untuk apa?"

Kuroko diam sejenak. Ia hanya memintamu untuk mendekat dan memasangkan jepit itu. "Maaf, aku tidak punya ide lain untuk hadiah White Day. Tapi, kurasa hiasan rambut itu akan cocok denganmu. Happy White Day, [Name]."

Kau mengambil cermin yang sempat kau bawa dari dalam tasmu dan memandang bayanganmu yang terpantul, atau lebih tepatnya aksesoris yang baru menggantung di rambutmu beberapa detik lalu. Lalu, kau tertawa kecil. "Arigatou, Tetsuya. Aku sangat menyukainya."

"Syukurlah. Mau kutemani sebentar?" tawar Kuroko.

Detik berikutnya, kau tengah berjalan bersama sepupumu tersayang itu beserta piaraannya. Sebenarnya Kuroko menolak untuk mengantar sampai tempat janjianmu dengan Kagami. Tapi tentu saja siapa yang bisa menolak paksaanmu. Dari kejauhan, tampak Kagami sudah berdiri menunggumu. Namun rupanya ia tidak sendiri. Sesosok titan ungu sepertinya menemaninya menunggu, yah siapa lagi titan ungu di anime Kurobas selain Murasakibara.

"Kuroko, [Name]," sapa Kagami.

"Euhm, kau tampak bersama teman kencan, Kagami-kun."

"Apa?! Dia bukan teman kencanku! Kau meledekku Kuroko?" sahut Kagami kesal.

Kau hanya tertawa kecil melihat duo sahabat itu. Sampai akhirnya Murasakibara menghampirimu dan berdiri menjulang di hadapanmu. Tanganmu digenggam dan dipaksa menerima sesuatu yang dipegangnya. "Murasakibara? Apa ini?"

"Voucher makan di restoran Perancis yang ada di dekat daerah Shibuya. Gunakan bersama Kaga-chin, ya."

Kau mengamati dua lembar voucher tersebut. "Arigatou, Murasakibara. Tapi, untuk apa ini?"

"[Name]-chin lupa ya? Selamat Hari Putih, [Name]-chin."

Bersamaan ucapan selamat dari Murasakibara, tangannya yang super besar itu menyusup ke antara sela-sela rambutmu di lehermu. Begitu tangannya sudah ditariknya kembali, sebuah kalung dengan batu ukuran sedang sewarna safir menggantung di lehermu.

"Bukan batu permata asli, sih. Tapi semoga [Name]-chin suka."

Kau memandang kalung itu. Jarang-jarang seorang Murasakibara bisa bersikap romantis begini. Tapi, para kisedai memang biasanya OOC kalau hal itu menyangkut dirimu. "Arigatou, Murasakibara. Aku suka sekali!" ujarmu senang.

Dan tiba-tiba sebuah lengan kekar bertengger di sekeliling leher depanmu. "Sudah ngobrolnya? Ayo kita pergi, [Name]!" Ternyata lengan itu milik Kagami, dan kini ia tengah menyeretmu pergi dari sana.

"Kaga-chin tidak ingin mengucap salam jumpa padaku? Jangan cemburu padaku, ya. Perayaan Hari Putih kan cuma setahun sekali," ucap Murasakibara polos bak anak kecil.

"Berisik. Baiklah, terima kasih sudah menemaniku, Murasakibara," akhirnya Kagami menuruti kemauan pemuda almamater Yosen itu. "Aku pergi."

"Jaa ne, Tetsuya, Murasakibara!" serumu sambil melambaikan tangan, sedang tangan yang satunya memegang lengan Kagami yang nyaris mencekik lehermu. Dan masih dengan keadaan diseret Kagami tentunya.

Setelah kau dan Kagami sudah menjauh, Murasakibara juga ikut melingkarkan lengannya di leher Kuroko. "Kau juga temani aku main ya, Kuro-chin." Tentu menyeretnya juga sama seperti Kagami menyeretmu.

"Chotto, Murasakibara-kun! Jangan cekik aku. Murasakibara-kunkkh!"

Baiklah, kita kembali padamu bersama Kagami dan biarkan si ungu dan si biru muda bersama nasib mereka sendiri.

Kau berjalan berdampingan dengan kekasihmu, Kagami (siapa lagi). Tangan kirimu masih memegang dua voucher pemberian Murasakibara sedangkan tangan kananmu digenggam oleh Kagami. Kau mengernyit begitu merasakan genggaman Kagami tiba-tiba mengerat.

"Nande?"

"Nandemonai," jawab Kagami.

Kau mengamati raut muka Kagami untuk mencoba membaca pikirannya. Hei, ekspresinya itu mudah ditebak. "Kau cemburu?"

"Kau juga memberi coklat untuk mereka?" Kagami malah balik bertanya.

"Tentu saja."

Masih dengan raut muka kesal, Kagami menatap tajam kalung yang melingkari lehermu. Melihat tingkahnya, kau tahu bahwa daritadi ia mengamati selama kau bersama Murasakibara. Wajah cemburunya malah membuatmu semakin ingin menggodanya.

Kagami menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kalau tidak salah, Murasakibara memberimu voucher makan gratis, kan? Baiklah, mau makan dulu sekarang? Belum masuk jam makan siang, sih."

"Boleh."

Jawaban singkatmu membuat kesimpulan dan jadilah kalian ke restoran Perancis yang dimaksud Murasakibara dahulu sebelum ke taman bermain. Kita skip perjalanannya dan anggap saja kalian sudah di restoran (*author seenaknya sendiri). Karena belum masuk jam makan siang seperti yang dibilang Kagami, restoran tersebut cukup sepi pengunjung meski masih ada sepasang dua pasang orang disana.

Setelah memesan dan sambil menunggu pesanan, tanpa kau sadari Kagami tengah memandangi hiasan yang menggantung di rambutmu.

"Nani?" tanyamu membuyarkan lamunan Kagami.

"A-ah, iie. Jepit rambutmu bagus," jawabnya kikuk.

Kau menaikkan alis. "Terima kasih. Ini balasan White Day dari Tetsuya tadi pagi."

Oh, itu sebabnya kau datang bersamanya tadi, batin Kagami, kesal karena sudah didahului dua orang: Kuroko dan Murasakibara. Ditopangnya dagunya dengan sebelah tangan. Kedua rubynya tidak lepas dari sosokmu yang tengah melihat-lihat menu sambil menanti datangnya makanan. Sesekali matanya menyipit melihat hiasan rambut dan kalungmu. Kemudian beralih ke segala yang ada di atas meja. Mulai dari lilin, pot bunga kecil dengan bunganya tentu saja, sekotak tisu, hingga sebuah jam meja kecil.

Beberapa menit kemudian. "Maaf menunggu."

Hening pun ikut menemani kalian ketika pelayan membawakan pesanan dan meletakkannya di atas meja serta selama menikmati pesanan masing-masing. Dan jangan bertanya seperti apa pesanan Kagami. Hampir semua piring yang memenuhi meja adalah pesanan sang Tiger. Dia bahkan mengeluh ingin minta tambah beberapa porsi lagi karena porsi makanan Perancis yang memang sedikit. Namun, kau menolak karena merasa kasihan pada kokinya serta tidak ada lagi kapasitas di atas meja untuk menampung beberapa buah piring lagi.

"Kau kelihatan bahagia sekali," komentar remaja bersurai merah kehitaman di hadapanmu itu.

"Tentu saja! Makan gratis di restoran Perancis adalah impianku sejak dulu. Lihat, daging sapi di Beef Bourguignon ini begitu lembut. Rasanya ingin tiap hari makan seperti ini," balasmu. Membuat Kagami hanya tertawa kecil. "Dan dessertnya cake cokelat putih, pas sekali dengan tema White Day hari ini."

"Kalau memang kau ingin yang seperti ini, aku bisa membuatkanmu tiap hari."

"Eh?"

Dan detik itu juga, ingin rasanya kau mengabadikan momen itu ketika dimana Kagami berwajah seperti melamarmu. Rona merah sewarna surainya sempurna menghiasi wajahnya sampai ke kupingnya. "Kau seperti ingin melamarku." Dan satu kalimat ucapanmu sukses membuat Kagami makin mirip dengan tomat yang siap dipetik.

"[NAME]CCHI~!"

Teriakan khas itu langsung menyeruak melenyapkan segala keheningan yang ada di muka bumi. Begitu surai blonde itu muncul, kau langsung tenggelam dalam pelukan mautnya.

"Kise, kau bisa membunuhnya," sela Kagami.

"Wah, sedang kencan bersama Kagamicchi, ya? Kalau begitu aku pinjam [Name]cchi sebentar ssu. Boleh, kan?"

"Apa maksudmu, Kise?" tanyamu masih berusaha lepas dari pelukan supernya.

"Sudah ikut saja ssu!"

Kagami hanya diam melihatmu diseret Kise ke arah...

Toilet?

BRAK... Spontan Kagami langsung berdiri tak ingin tinggal diam melihat kekasihnya diseret ke arah toilet dengan lawan jenisnya selain dirinya. Secepat cahaya ia langsung menyusul Kise yang dengan cepatnya juga sudah memasuki ruang privasi tersebut.

"Kise, apa yang kau lakukan bersama [Name] di...toilet?" Kagami langsung menurunkan tensinya begitu melihat Kise hanya berdiri di depan toilet perempuan.

"Are, kenapa Kagamicchi menyusul kemari? Aku hanya ingin membuat sedikit kejutan ssu. Kagamicchi balik ke tempat tadi saja. Tenang, aku tidak akan berbuat macam-macam pada [Name]cchi ssu!"

Terpaksa karena dorongan Kise, Kagami pun kembali ke meja tempat kalian memesan makanan tadi. Dan beberapa menit lamanya ia menunggu, Kagami terus bergerak-gerak gelisah, khawatir apa yang diperbuat Kise padamu.

"Kagamicchi tidak perlu gelisah lagi ssu. Aku sudah selesai. Selamat menikmati makanan kalian lagi," ucapan Kise menolehkan kepala Kagami dengan cepat. Dan bayanganmu langsung terpantul di kedua rubynya. Tidak ada lagi dress pastel yang membalut tubuhmu. Yang ada sekarang adalah gaun merah sederhana dengan sedikit renda di beberapa bagian namun tidak meninggalkan kesan elegan yang menutupi tubuhmu.

"Sudah kuduga [Name]cchi pasti akan cantik sekali dengan gaun itu. Selamat Hari Putih ssu! Maaf aku sempat mengganggu kencan kalian." Setelah meninggalkan satu pelukan lagi, Kise langsung beranjak pergi, bagai datang tak dijemput pulang tak diantar.

"Maaf ya." Kau pun kembali duduk di kursimu semula.

"Tidak. Sebetulnya kau sangat manis. Tapi..."

"Tapi?"

"...Aku tidak rela kalau harus pria lain yang membuatmu begini cantik di depanku."

BLUSH... Kepalamu langsung berasap akibat mukamu yang memerah sempurna mendengar kata-kata yang tidak biasa diucapkan oleh seorang Kagami Taiga. Seperti dugaanmu, dia pasti cemburu.

"Sebaiknya kita segera menghabiskan makanan kita sebelum hari beranjak makin siang," ucap Kagami mengalihkan pembicaraan yang sebenarnya ingin membuatnya segera lenyap dari hadapanmu, malu sendiri dengan perkataannya.

"Hai."

Setelah membayar akibat voucher dari Murasakibara tidak cukup untuk porsi Kagami yang luar biasa, kau dan Kagami beranjak menuju tujuan utama, taman bermain. (*Kenapa di taman bermain? Karena author yang idenya sempit. Gomen ne TT-TT).

Kembali kita skip perjalanannya, dan sampailah kalian ke sebuah taman bermain. Sementara Kagami membayar tiket masuknya, kedua irismu berkeliling memantulkan beragam wahana yang ada disana. Oh, jangan lupakan bintang-bintang serta kilauan yang memancar di sekelilingmu. Salahkan waktu yang membuatmu sudah lama tidak ke taman bermain.

"[Name]?"

"[Name]-chan!"

"Eh?" Kau menoleh begitu ada dua suara familiar menyapa indra pendengaranmu. "Aomine? Momoi!"

"Yo!"

"Biar kutebak, kau pasti sedang kencan dengan Kagamin, kan?" cengir Momoi.

Kagami yang baru selesai membayar tiket masuk terkejut begitu melihat sudah ada dua orang bersamamu. "Kenapa kalian ada disini?"

"Diamlah. Kami akan langsung pergi begitu urusan kami selesai," sahut Aomine sambil mengajakmu ke bangku terdekat.

"Benar. Kami tidak bermaksud mengganggu kencan kalian, kok," tambah Momoi dengan cengirannya yang makin lebar.

Bersamaan ketika kau duduk di bangku, Aomine menurunkan tas kertas berukuran besar yang dibawanya. Dikeluarkannya isinya, sebuah kardus yang siapapun akan tahu begitu melihatnya, kardus sepatu. Kardus pun dibuka dan sepasang sepatu berhak tinggi warna karamel disodorkan di depan kakimu.

"Jangan bilang kalau itu juga balasan untuk White Day?" Kagami langsung nyemprot.

"Tentu saja. Apa lagi?" balas Aomine santai, sesantai ia melepas sepatu boot pendekmu.

"Apa yang mau kau lakukan?! [Name] bisa memakainya sendiri!"

"Apa sih? Dasar berisik! Satsuki, tahan dia. Pokoknya aku mau memakaikannya pada [Name]."

"Siap! Maafkan aku, Kagamin. Ini juga demi membuat [Name]-chan lebih cantik."

Kau hanya bisa diam mendengar kegaduhan itu. Begitu pula selama Aomine memakaikan sepatu baru itu pada kedua kakimu. Begitu selesai, Aomine menggenggam tanganmu dengan maksud membantumu berdiri.

"Lepaskan tanganmu darinya!" Lagi-lagi Kagami langsung nyemprot.

"Kau mau membiarkan [Name] terjatuh?" sahut Aomine dengan wajah mulai bosan.

"Aku tidak akan terjatuh, Aomine," tukasmu, namun tetap menerima uluran tangan Aomine. Sudah dibilang, kan? Melihat wajah cemburu Kagami malah membuatmu semakin ingin menggodanya.

"Kyaaa... Kau benar-benar manis, [Name]-chan! Kau tahu kalau saja aku tidak menemaninya belanja, Dai-chan hampir memberimu baju diskon. Sungguh bodoh!"

"Kau cerewet Satsuki. Ayo pergi. Ah, Selamat Hari Putih, [Name]," ucap Aomine sambil tersenyum padamu, lalu berbalik hendak pergi.

"Jaa, [Name]-chan! Kagamin!" Momoi melambaikan tangannya riang.

"Arigatou, Aomine, Momoi!"

Dan hening kembali menghampiri kalian begitu duo navy blue dan pink itu pergi. Kau pun membungkuk untuk mengambil sepatu bootmu yang sudah dimasukkan Aomine ke dalam tas kertas besar tadi.

Kagami menyodorkan telapak tangannya. "Biar kubawakan."

Dan kau menyerahkan tas di tanganmu. "Bagaimana menurutmu? Apa aku cocok dengan sepatu ini?"

Kagami hanya diam sambil memandangmu dengan tatapan kesal yang begitu kentara. "Cocok," komentarnya singkat.

"Kau masih cemburu pada Aomine?"

"Kau tahu?"

"Siapapun pasti akan tahu. Kau mudah ditebak, Kagami." Mendengar itu, Kagami hanya melengos, muka kesalnya makin kental. "Bagaimana kalau kita naik cangkir putar dulu?"

Tanpa mempedulikan sang ace Seirin yang masih ngambek, kau menggandeng tangannya yang bebas dan segera menyeretnya pergi dari situ.


# # #


Beberapa jam kemudian...

"Kau tunggu disini. Akan kubelikan minuman dingin dulu. Kau mau apa?" tanya Kagami padamu yang baru saja menghempaskan pantat ke salah satu bangku, sedikit khawatir. Tangannya meletakkan tas berisi sepatu milikmu di sebelah bangkumu.

"Jus jeruk saja," jawabmu. Meski tidak berkeringat, tapi kau merasa lelah. Menaiki beberapa wahana membuatmu sedikit lemas, tetapi juga sangat menyenangkan.

"Baiklah."

Seperginya si remaja bermanik merah kehitaman itu, kau menyandarkan punggungmu. Satu helaan nafas baru saja lolos dari kedua bibirmu. Ingin sekali kau memanggil kekasihmu itu dengan nama kecilnya. Namun, gengsi membuatmu mengurungkan niat itu. Berkecamuk dengan pikiranmu sendiri, tanpa kau sadari dua orang yang familiar berjalan ke arahmu.

"[Name]-chan!"

Kau memutar kepala dengan cepat, melihat pelaku yang baru saja memanggil namamu. Terlihat Takao berlari kecil ke arahmu, dibelakangnya Midorima mengekor dengan membawa sebuah boneka bebek berwarna kuning terang berukuran sangat besar, hampir setinggi dirimu. Apa itu lucky itemnya?, tanyamu dalam hati. Terlalu mencolok untuk pria sekeren Midorima.

"Kau tidak mungkin sendirian disini, kan? Mana Kagami?" tanya Takao begitu sampai di dekatmu, sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mungkin bermaksud mencari sosok Kagami.

"Sedang beli minuman. Kalian sendiri kenapa ada disini?" Kau ganti bertanya sambil mulai berdiri. "Apa itu lucky item Cancer hari ini?" tambahmu, lebih kepada Midorima.

Midorima menaikkan kacamatanya yang sebetulnya sama sekali tidak bergeser. "Benar, ini lucky item. Tapi bukan untuk Cancer, melainkan untuk [your zodiac], nanodayo."

"Eh? Zodiacku?"

Tidak peduli padamu yang masih terlihat terkejut, Midorima menyodorkan dan menyerahkan boneka itu. "Se-selamat Hari Putih, [Name]. Terima kasih atas coklatnya," ucap Midorima kemudian sambil menepuk lembut puncak kepalamu, kebiasaannya dari dulu. Dan jangan lupakan warna merah yang menyelubungi muka Midorima sekarang akibat menahan tsunderenya.

"Ah, padahal aku juga ingin coklat buatan [Name]-chan. Apa tahun depan aku bisa dapat coklat yang katanya Shin-chan adalah coklat terenak sedunia?" cengir Takao, yang kemudian mendapatkan deathglare gratis dari Midorima.

Kau tertawa kecil. "Boleh, kalau Takao minta."

"Asyik! [Name]-chan manis sekali kalau tertawa!" Spontan, Takao langsung memelukmu girang seperti baru saja menemukan kucing kesayangan yang sudah lama hilang.

"Menjauh darinya!"

Sebuah suara memergoki kegiatan kalian. Tiga kepala beda surai itu serentak menoleh ke sumber suara bersamaan. Beberapa langkah jaraknya darimu, berdirilah Kagami dengan dengan dua kaleng minuman dingin memenuhi genggaman tangannya. Ia melangkah ke arahmu dengan beberapa perempatan kecil bertengger di keningnya. Setelah menyerahkan salah satu minuman kaleng yang dibawanya padamu, ia menarikmu untuk sedikit lebih jauh dari Midorima maupun Takao.

"Uwaa, Kagami yang cemburu manis sekali, ya! Tidak boleh memonopoli [Name]-chan sendirian, lho!" canda Takao, tertawa.

"Aku tidak mau dengar itu darimu!"

"Sejak kapan Kagami berdiri disana?" tanyamu dan Midorima bebarengan.

Kagami sedikit terlonjak mendengarmu dan Midorima bagai paduan suara. "Sejak 'Selamat Hari Putih, [Name]'."

"Eh?! Sejak tadi, dong?"

Hening sejenak sejak Takao terakhir kali berucap. Lalu, helaan nafas Midorima kemudian berhasil melunturkan suasana.

"Ayo pergi, Takao," ajak Midorima. Tepat ketika ia berjalan dan berselingan dengan Kagami, sang ace Shutoku tersebut berhenti dan menambahkan. "Jika kau berharap aku akan berhenti mengusap kepalanya, itu tidak akan pernah terjadi. Asal kau tahu saja, aku tidak akan pernah menghilangkan kebiasaanku itu terhadap [Name], nanodayo. Jangan bertanya darimana aku tahu kau berpikiran seperti itu."

"Bye bye, [Name]-chan! Kagami!" seruan Takao mengakhiri percakapan kalian hari itu. Kau hanya membalasnya dengan lambaian tangan dan tak lupa juga dengan senyum manis. Tak menyadari Kagami yang melempar deathglare pada Midorima.

Setelah kedua orang itu menghilang dan kembali hanya tinggal kalian berdua, kau kembali menghempaskan pantatmu di bangku tadi sambil memangku boneka barumu. Begitu pula Kagami ikut duduk di sebelahmu. Wajahnya terlihat kesal saat melihatmu senyum-senyum sendiri sambil memeluk boneka besar itu.

"Jangan senyum-senyum sendiri seperti itu," protesnya, sambil kemudian meneguk minuman yang dipegangnya.

Kau menaikkan sebelah alismu. "Kau mudah cemburu, ya?"

BRUSH... Dan Kagami menyemburkan minuman yang sudah masuk ke dalam mulutnya.

"Ew, Kagami jorok."

"Si-siapa yang cemburu?" Dengan kasar Kagami mengusap mulutnya dengan lengannya. Di saat yang bersamaan, kedua rubynya menatap sesuatu yang menggantung di punggung bonekamu. "Apa itu yang menggantung disana?"

"Nani?" Mengikuti jari telunjuk Kagami, kau memutar bonekamu secara vertikal. Memang ada yang menggantung disana, sebuah bingkisan plastik yang diikatkan pada kalung di leher boneka bebek itu. "Kenapa aku tidak menyadarinya, ya." Kau pun melepaskan ikatan bingkisan itu dan membuka isinya.

"Ini permen putih," kau melahap satu buah. Manis. "Dasar Midorima, tsunderenya itu benar-benar kronis. Tapi kalau tidak tsundere mungkin dia tidak akan memberikan kejutan manis seperti ini. Kagami mau? Manis, lho." Dan kau menyodorkan plastik itu kepadanya.

Kagami memandangmu dan bingkisan yang kau pegang bergantian. "Tidak usah," jawabnya singkat. Mungkin kau tidak tahu bahwa sekarang dirinya lagi-lagi kesal karena kau menyebut Midorima manis.

Kau menggembungkan sebelah pipimu, kesal menerima penolakan. Kemudian, kau ambil salah satu permen bulat dalam bingkisan plastik itu dan langsung menyodorkannya sampai di depan mulut Kagami. "Aahm..." bimbingmu.

Reflek, si remaja pemilik surai merah gelap itu langsung membuka mulutnya dan melahap permenmu, sampai-sampai ujung ibu jari dan telunjukmu ikut tenggelam di dalam kedua bibirnya.

"Mou, jangan makan jariku juga," protesmu, namun diselingi tawa. "Bagaimana rasanya?"

"Kau benar, memang manis," jawabnya. Kau pun tersenyum senang.

CHU...

Dan tanpa kau sadari kemudian, Kagami mencuri satu ciumanmu. "Tapi tetap saja kekasihku lebih manis."

BLUSH... Seketika itu juga kau merasakan aliran darahmu dengan cepat mengalir ke wajahmu. Dalam hatimu, terdengar jeritan-jeritan seperti teriakan bagai fansgirling.

Hening kembali selang beberapa detik. Ingin rasanya kau berbicara sesuatu untuk sekedar mencairkan suasana. Dasar Kagami, membuat jantungan saja. Gara-gara kejutan itu, kau jadi susah mau bicara apa, kan. Tapi, untung saja remaja di sebelahmu itu berhasil mengeluarkan suaranya. Sebelum berbicara, terlihat pemuda itu menghitung sesuatu dengan jarinya.

"Apa kau juga memberi coklat pada Akashi?"

Heh? Cemburu lagi? Apa dia tadi menghitung teman-temanmu dari Teikou yang sudah memberimu hadiah White Day? "Kenapa bertanya begitu?" jawabmu dengan bertanya.

"Etto... Kalau benar, berarti sebentar lagi giliran Akashi kan yang memberi hadiah padamu," balasnya sedikit melengos.

Wah, ternyata benar dia menghitung anggota Kiseki no Sedai yang datang padamu hari ini. "Memangnya kau tidak suka?"

Bukannya aku tidak suka, tapi mengingat penampilan cantikmu hari ini karena hadiah dari mereka, membuatku kesal karena keduluan. Batin Kagami berkata namun pikirannya berteriak 'tidak akan aku berkata begitu!'. Oh, ayolah, apalagi yang harus dilontarkan pria bernama Taiga itu untuk menjelaskan tapi tidak membuatmu salah paham.

"Sudah jelas, kan? Taiga cemburu karena kedekatan kami padamu, [Name]."

Dan detik itu juga Kagami menggeser pantatnya secepat suara menjauhi posisi Akashi yang berdiri beberapa meter darimu, hampir saja ia menghempas tanah kalau tidak mengerem tepat sampai di pinggir bangku. Demi Kise yang suatu saat nanti akan botak, sejak kapan pemuda crimson itu berdiri disana? Di tangannya bertengger sebuah buket bunga mawar merah dengan ukuran yang bisa dibilang sangat besar.

"Aku sudah disini sejak kau menyebut namaku, Taiga."

Mampus kau, Taiga, ia akan mempermalukanmu sekarang. Entah bagaimana otak udangnya bisa berpikir macam itu.

"Tenang saja. Aku kemari hanya ingin memberi ini pada [Name]. Aku tidak akan mempermalukanmu sekarang," Akashi memunculkan seringainya sambil berjalan mendekat ke bangku tempatmu duduk, tangan kanannya mengambil salah satu mawar dari buket yang dibawanya lalu mematahkan setengah tangkainya. Seperti menunjukkan bahwa suatu hari nanti nyawa Kagami akan berada di tangannya.

Kau berdiri dan meletakkan boneka dari Midorima itu di bangku bekas tempatmu duduk. "Cukup. Berhentilah bicara dengan pikiran Kagami, Akashi. Dan Kagami, berhentilah berpikiran macam-macam. Kalian membuatku bingung," ujarmu akhirnya menengahi.

"Oh, maaf sudah membuatmu bingung, [Name]." Dan Akashi tiba di hadapanmu. Mawar yang sudah ia patahkan setengah tangkainya tadi diselipkannya di telinga kananmu. "Happy White Day." Kemudian buket bunga mawar yang dibawanya itu diserahkan padamu. "Mungkin lebih cocok mawar putih untuk White Day ini, tapi kurasa mawar merah yang lebih cocok untukmu tidak ada salahnya."

"Astaga, hadiahmu tidak kalah besarnya dari Midorima. Arigatou, Akashi," kau mencium wangi mawar itu sejenak. "Sebenarnya aku tidak berharap kalian memberiku hadiah segini mewahnya hanya untuk coklat kecil buatanku."

"Jangan begitu, [Name]. Kami tulus menghadiahkan ini semua untuk coklat paling enak buatanmu yang katamu kecil tadi. Benar begitu, kan, Taiga?" Akashi sedikit memiringkan kepalanya, memandang ke arah Kagami yang masih menatapnya horor melewati bahumu. "Atau kau belum memberikan hadiahmu? Ah, tentu saja itu bukan urusanku. Tapi, aku akan senang sekali kalau berhasil mendahuluimu memberi hadiahku untuk [Name]ku tersayang."

"Kau bisa saja, Akashi," tawamu senang. "Mau bergabung bersama kami?"

"Itu pertanyaan bodoh, [Name]. Tentu saja aku tidak akan ikut. Aku tidak ingin mengganggu kencan kalian. Maaf aku sudah terlalu banyak bicara. Tapi mengerjai Taiga itu sangat menyenangkan, benar kan, [Name]?" Akashi pun berbalik, bersiap untuk pergi.

"Kau benar!" Dan kali ini kau tertawa ke arah Kagami. Kemudian menoleh lagi ke arah Akashi yang mulai berjalan menjauh. "Sekali lagi arigatou, Akashi. Jaa ne!"

Akashi hanya membalas salammu dengan mengangkat sebelah tangannya. Mengisyaratkan 'sampai jumpa' dan 'selamat bersenang-senang'.

"Kau terlihat puas menertawaiku, [Name]," sahut Kagami membenarkan duduknya.

"Hihi, tidak kok," kau berkata begitu namun masih terlihat jelas kau tertawa senang atas hadiah yang diberikan Akashi. "Baiklah, karena hari sudah semakin sore, selanjutnya wahana terakhir. Mau naik apa?"

Kagami memandangmu ragu. Kemudian akhirnya ia menghela nafas. "Terserahmu sajalah."

"Oke, ayo kita naik bianglala!"

"Bianglala?"

"Sebenarnya aku takut ketinggian kalau naik bianglala. Tapi kalau ada Kagami, kurasa tidak apa-apa."

"Takut ketinggian? Lalu kenapa kau ingin naik bianglala?"

"Karena aku ingin."

Dan akhirnya Kagami memutuskan untuk mengalah. Ia membantumu membawakan boneka hadiah dari Midorima dan tak lupa juga menenteng tas besar berisi sepatumu tadi. Sesampainya di depan loket wahana yang kau inginkan itu, kalian menitipkan boneka dan tas sepatu tadi dan juga buket mawar dari Akashi di penitipan barang, tentu saja karena semua itu terlalu besar. Langsung saja setelah menitipkan barang-barang itu, kalian menaiki salah satu gondola yang sudah dibukakan pintunya oleh salah satu petugas perempuan yang bertugas di wahana itu. Dan bianglala itu mulai berputar membawa kalian naik.

"Ka-Kagami, boleh aku pegang tanganmu? Aku sedikit pusing," ucapmu sambil menatapnya namun sedikit menunduk.

Sebelum menjawab, Kagami menyodorkan tangannya. "Kapanpun kau mau, Princess," godanya. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke jendela luar. "Lihat, [Name], pemandangan kota dari sini indah bukan?"

Dengan sedikit takut-takut, kau menoleh mengikuti pandangan kekasihmu. Pemandangan kota yang katanya Kagami indah tadi pun memantul di kedua irismu. Memang indah seperti kata-katanya, apalagi ditambah pemandangan matahari yang hampir terbenam mengingat hari sudah semakin sore. Tiba-tiba, kau merasakan tangan Kagami menyelipkan sesuatu di salah satu jarimu.

"Happy White Day, [Name]." Setelah berucap demikian, ia mengangkat tanganmu dan mencium sesuatu yang baru saja ia pasangkan di jarimu. Sebuah cincin dengan batu ruby sebagai mata cincinnya, kemilaunya sewarna kedua iris Kagami. Kemudian kecupan Kagami berlanjut ke punggung telapak tanganmu.

"Aku tahu aku yang paling terlambat memberikan hadiah ini. Sejujurnya aku memang cemburu seperti ucapanmu dan juga Akashi melihat penampilanmu hari ini. Jepit rambut biru muda dari Kuroko, kalung safir dari Murasakibara, gaun merah dari Kise, sepatu coklat dari Aomine, ditambah kau yang memeluk boneka pemberian Midorima..." jeda sejenak, tangan kanan Kagami membelai bunga mawar yang masih tertancap di telingamu."...juga bunga mawar dari Akashi, semua itu membuatmu terlihat sangat cantik hari ini. Mengingat itu semua pemberian pria lain, rasanya aku ingin memelukmu kala itu juga serta mengumandangkan pada mereka atau bahkan dunia bahwa kau hanya milikku. Aku jadi posesif, ya? Tapi, melihat dirimu yang tertawa senang bisa menghilangkan kekesalanku. Jadi, biarkan aku memasangkan cincin ini sebagai penutup untuk lebih mempercantik dirimu."

Kau tertegun. Sangat. Pasalnya, seorang Kagami yang dikenal bodoh dan terlalu polos itu bisa mengucapkan serentetan kata yang hampir sepanjang shinkansen itu dengan penuh makna di dalamnya. Darimana ia dapatkan semua kata-kata itu? Daripada terharu, kau lebih terkejut saat ini.

"Haha, kau pasti bingung bagaimana aku bisa berkata seindah itu," sombongnya, membantumu menghilangkan keterkejutanmu. "Biar kutebak, ini pasti kali ketujuh kau mendapat ucapan White Day hari ini?"

"Tapi, Kagami, coklatku waktu itu sudah hancur, untuk apa kau memberikan balasan di White Day hari ini?" tanyamu seadanya. "Dan kau benar, kau orang ketujuh yang memberikan ucapan itu."

"Karena aku ingin," jawab Kagami meniru ucapanmu beberapa waktu lalu. "Yah, meski aku tidak tahu kenapa kau membawa coklatku itu pulang dan bukannya memberikannya padaku," tambahnya sambil mengendikkan bahu.

Kau hanya tertawa menutupi kenyataan bahwa saat itu kau cemburu dan merasa kalah dengan coklat buatan Hanari untuknya. "Tidak ada alasan khusus, lupakan saja. Haha.."

"Maaf aku hanya bisa memberikan ini."

"Nani? Tidak, ini sudah lebih dari cukup, Kagami. Kau tahu, keberadaanmu sendiri bagiku merupakan hadiah terbesar yang pernah kudapat. Kau ingat dulu aku membencimu? Tapi lihat, sekarang aku begitu menyukaimu. Aku begitu mensyukuri kau ada di sampingmu sekarang. Dan aku percaya, selama ada dirimu, aku akan baik-baik saja. Seperti saat naik bianglala ini. Aku takut ketinggian, tapi ketika tahu kau ada disini bersamaku, menemaniku, aku bisa mengalahkan rasa takut itu. Jangan menyesali apapun yang kau berikan padaku, karena aku tidak pernah menyesal bisa bersamamu."

Dan kini ganti Kagami dibuatmu tertegun. Beberapa detik kemudian ia pun tersenyum. Dan beberapa detik kemudian lagi tiba-tiba wajahnya memerah hebat. Ia kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela untuk menghindari kontak mata denganmu saat itu, merasa malu sendiri.

"Na-nan desu ka? Mukamu memerah drastis. Apa kau demam?" tanyamu khawatir.

Namun, ia menepis tanganmu yang hendak menyentuh dahinya. "Tidak, aku tidak demam. Aku hanya memikirkan sesuatu dan kurasa aku perlu memberitahukannya padamu."

"Apa itu?"

Kagami diam sejenak. Tapi kau terus berusaha menatapnya, menunggunya berkata dan memberitahunya bahwa kau penasaran dan ingin tahu sekarang juga. Hingga akhirnya ia memegang kedua tanganmu dengan kedua tangannya juga dengan serius. Sebelum berucap, ia menghela nafas dahulu seolah sedang menghilangkan kegugupannya.

"Suatu saat nanti, ketika aku melamarmu, kau mau menerimanya? Aku ingin menikahimu suatu hari nanti, [Name]."

Kau kembali tertegun. Namun detik berikutnya kau tersenyum, hampir tertawa. Padahal tadi ia sudah berkata panjang lebar dan juga romantis. Tapi, lamaran kali ini terdengar sedikit biasa dan tidak ada romantis-romantisnya.

"Aku tahu mungkin terlalu cepat untuk mengatakan itu, mengingat hubungan kita baru berjalan beberapa minggu. Tapi, aku akan mencoba untuk tidak pernah lari darimu, [Name]. Aku tidak ingin menyakiti hati seorang gadis lagi. Selain itu, aku juga...tidak ingin kehilangan dirimu. Aku merasa sangat nyaman ketika bersamamu."

Lalu, kau tertawa. Tapi, memang inilah dirinya. "Aku tahu. Ya, aku akan menerimanya, Taiga." Dan kau rasa ini adalah saat yang tepat untuk memanggil namanya.

Kedua manik rubynya sedikit melebar mendengar persetujuanmu dan juga dirimu yang memanggil namanya. Saking senangnya, genggaman tangannya pada tanganmu langsung mengerat. Namun, ia hanya menunduk dan terlihat sedikit bergetar, tertera jelas bahwa ia menahan kebahagiaannnya itu. Hingga kau mengaduh kesakitan, ia langsung melepas genggaman tangannya.

"Ma-maaf, aku kelepasan, ya. Tapi, aku terlalu bahagia sampai-sampai ingin memelukmu sekarang juga. Karena tidak ingin membuatmu ketakutan karena bianglala ini akan bergoyang, jadi aku menahannya."

"Haha, tidak apa. Aku baik-baik saja," tawamu.

"Aku ingin menciummu sekarang. Boleh?"

Dan secepat kilat kau memutar kepala menoleh padanya, terkejut mendengar permintaannya yang tiba-tiba itu. Wajahnya benar-benar mirip kepiting rebus. Dengan terpatah-patah antara senang, ingin tertawa, dan menahannya, kau pun mengangguk.

Kagami pun mendekat untuk meraih wajahmu. Sebelumnya, ia sempat tersenyum bahagia padamu dan dibalas dengan senyuman olehmu juga. Kemudian ia pun menutup matanya dan bersiap menikmati bibir lembutmu.

GREK...

"Terima kasih sudah menaiki wahana ini. Semoga hari anda menye... Eh?!"

Kau langsung mendorong tubuh Kagami hingga ia terbentur nyaris terpental dari dinding di belakangnya, membuat bianglala itu sedikit bergoyang. "Ma-maaf. Baiklah, kami akan segera tu-"

"Maaf, bisa kami naik satu putaran lagi? Tentu saja akan kubayar lagi nanti," Kagami tiba-tiba menyahut dan memotong kalimatmu yang belum selesai. Ia mengusap punggungnya yang habis terbentur akibat menerima doronganmu yang seperti ignite pass milik Kuroko.

"Ah... Ha-ha'i! Tentu saja," kemudian petugas wanita yang ikut memerah itu pun menutup kembali pintu bianglala yang kalian tempati. Dan bianglala kembali berputar.

"Apa maksudmu satu putaran lagi?" tanyamu menginterogasi, padahal mukamu masih merah padam akibat kepergok beberapa detik lalu.

Sebelum menjawab pertanyaanmu, Kagami kembali mendekat padamu. "Tentu saja karena aku belum mendapat apa yang menjadi permintaanku tadi. Tega sekali kau menghantamku dengan tinjumu," keluh Kagami, tetap pada posisinya beberapa senti dari wajahmu.

"Etto... Go-gomen na... Itu bukan tinju, Tetsuya yang mengajarkan itu padaku."

Kagami hanya menghela nafas. "Ya sudahlah."

Dan tanpa babibu lagi, ia pun mencium bibirmu sebelum datang gangguan lain. Tidak lembut tidak juga kasar, namun mencerminkan khas dirinya. Beberapa menit kedua bibir kalian berpagut, Kagami melepasnya untuk memberimu kesempatan menghirup oksigen, dan kemudian ia meraup bibirmu lagi, lalu melepasnya lagi, dan memagut lagi. Hal itu terjadi beberapa kali. Hingga setelah bosan dengan bibir, Kagami menurunkan kecupannya menuju leher jenjangmu. Mengecupnya beberapa kali. Namun, sebelum ia sempat memberikan kissmark padamu, kau menarik kasar rambut merahnya, membuatnya merintih kesakitan.

"Hentikan, Taiga no hentai! Jangan lakukan itu disini, ini masih tempat umum. Dan bagaimana kalau petugas tadi memergoki kita lagi?"

"Berarti kau mau melakukannya di tempat lain?" Spontan, Kagami membalas demikian dan langsung melupakan rasa sakit akibat jambakanmu tadi.

Dan tentu saja mendengar itu kau kembali blushing parah. "A-aku tidak berkata begitu! Jangan-"

Sebelum kau menyelesaikan kalimatmu, Kagami menarikmu ke dalam pelukannya. "Hai, hai. Aku tahu. Aku tidak akan melakukannya kalau kau tidak mengizinkan. Tapi, ayo kita lakukan itu suatu saat nanti, dan juga punya anak. Lalu aku akan memberinya nama-"

"Pikiranmu terlalu jauh, Taiga," potongmu sambil balas memeluknya juga. Karena masih belum lama meninggalkan puncak tertinggi, kau pikir tidak apa-apa.

"Aku terlalu senang kalau memikirkanmu, [Name]. Aku sangat mencintaimu."

Kau pun semakin menenggelamkan dirimu dalam dekapannya. "Aku juga sangat mencintaimu."

.

.

.

E N D

.

.

.


(A/N)

Doumo!

Yattaaaaa! Akhirnya selesai juga! Chapter terakhir sekaligus yang paling panjang. Apa ada yang kecewa dengan kejadian di bianglala? Kuga sengaja menghentikannya karena kalau tidak fic ini bisa-bisa berubah rating menjadi M.

Karena Kuga nggak begitu mengerti dengan White Day di Jepang, cerita kali ini butuh sampai beberapa revisi. Kuga bingung mikirin kisedai harus ngasih hadiah apa, dari yang Kuga baca di internet, hadiah White Day itu kira-kira lebih mahal dari coklat yang diberikan waktu Valentine. Ngenes liat coretan-coretan dan juga beberapa yang harus dihapus dan diketik ulang. Jadi mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada yang salah.

Oh, untuk yang bertanya arti dari judul fic ini, "Kare ga Aru", kalau menurut terjemahan Kuga kira-kira artinya 'Selama ada dirinya' atau 'Selama ada dia', maksudnya seperti ketika readers 'bersamanya' gitu. Dan kata "Kare" disini berarti dia laki-laki, itu dimaksudkan untuk Kagami sebagai main pairing disini. Tapi mungkin judul dengan ceritanya nggak nyambung -_- Jujur Kuga paling lemah bikin judul.

Apa fanservice nya cukup? Setidaknya mungkin sedikit lebih fluffy dari chapter-chapter sebelumnya. Dan Kuga bukan orang yang pandai humor atau romance, jadi mohon dimaklumi untuk cerita yang biasa ini. Kuga yakin disini nggak ada humor-humornya Oh, oh, apa ada juga yang bertanya-tanya bagaimana duri di mawar pemberian Akashi tidak menyakiti telinga [Name]?

Udahan nyampahnya. Lalu, saatnya untuk balasan review...

Michelle hadiwijaya : Ini sudah diupdate Dan terima kasih atas jeritannya yang lumayan membantuku mendapat semangat lagi, haha. Kalau soal sequel, aku nggak bisa janji bakal bikin. Soalnya dari awal emang nggak niat bikinin sequel, selain itu juga sudah terbayang cerita lain di pikiranku. Gomen na~~

Arisa Hamada : Wah, disini Kagami memang gampang banget cemburu, xixixi. Arti Kare ga Aru sudah Kuga jelaskan di atas. Aduh maaf Kuga nggak bisa janji bakal bikin sekuel. Karena nggak biasa nulis cerita sepanjang ini, jadi Kuga nggak bisa mikirin mau bikin sekuel yang gimana. Pikiran Kuga udah mentok.. Gomen na :'

Rovi chan : Karena Kuroko sudah banyak jadi main pairing, pasti dia akan , jiwa detektif Rovi-san sedang bangkit! Bisa anda jelaskan keanehan apa yang anda cium pada Hanari? Karena author sendiri yang nulis ini nggak tahu ada keanehan apa, wakakak. Karena fic ini cukup sampai disini, jadi masalah Hanari pun kuhentikan sampai disini juga. Karena Kuga nggak mau bikin ending yang nggantung dengan Hanari yang masih benci sama [Name]. Terima kasih sudah membaca

Miyuki : Astaga, makasih sudah menyumbang jeritan untuk fic ini. Ini sudah update chap 10, semoga suka dan bisa bikin jerit-jerit lagi bacanya :D

AoiKitahara : Terima kasih sudah doki-doki :D Kuga senang sekali. Terima kasih juga sudah menunggu final chapter ini. Dan terima kasih juga buat jempolnya Akashi, sekalian orangnya pun nggak masalah *plak

Kayuyu : Maaf Kuga nggak bisa bikin cerita yang lebih panjang lagi :' Terima kasih sudah membaca

Mey-chan 5872682 : Uwah terima kasih atas review dan jawaban panjang lebarnya. Membantu sekali. Dan Kuga juga pikir lebih baik update secepatnya dan minta maaf sebanyak-banyaknya karena terlambat update meski belum lebaran. Terima kasih banyak sudah membaca ^^

Kiichan elpeu : Mungkin tetep musuhan ada menariknya juga, tapi itu kalau ficnya masih bersambung. Dan chapter ini rencananya mau dibikin full moment sama Kagami, tapi kupikir juga mungkin asyik kasih pengganggu, dan jadilah ada Akashi dkk juga (*author yang jahat)
Kuga nggak tahu fanservice yang benar-benar 'wow' itu gimana, tapi semoga chapter ini tidak mengecewakan.

Dan beribu terima kasih lainnya Kuga bagikan juga buat all readers, silent readers, fav, follows, reviews, dan yang lain kalau masih ada lagi. Ini cerita panjang Kuga yang kedua setelah 'Twins of Kuroko' [promosi]. Jaa ne minnatachi \^o^/

Thanks a lot for reading~