CeRry X DraRry

M

Harry Potter seorang pemuda biasa yang sederhana. Tanpa ia ketahui, sebuah masa lampau mengatakan bahwa dirinya adalah sosok yang sangat penting. Kedua jari manisnya yang terlingkar benang merah sama sekali tidak bisa di lepaskan karena ia telah diikat dalam cinta segitiga di mana dirinya adalah sosok manusia yang aroma darahnya sangat menggiurkan para kaum vampir.

Supernatural—Romache

Harry Potter by J. K. Rowling

Dua Cincin Benang Merah by Mizuki Rae Sichi

Oh tentu saja bagi yang belum kuat uji nyali, bisa undur diri XD karena jangan salahkan author jika readers merasakan desiran darah yang geli, jantung terpacu, tubuh memanas, senyum nista takkan luput, dan mempersulit malaikat mencatat amal buruk untuk mencatat perbuatan XD Berisi unsur YAOI #tentusaja# Lemon & Lime, gaje, abal, kagak vulgar, dll.

.

.

.


Chapter 10—Ketetapan Hati

ALISKU naik sebelah saat melihat sesuatu di belakangku. Aku melihat Cormac mengenakan tuxedo hitam rapi dengan setangkai bunga mawar putih di saku kirinya. Ia berlutut padaku untuk meminta tanganku—untuk berdansa. Untuk sesaat aku hanya terbengong tidak percaya.

"Kau terlihat berantakan, Harry! Biar kubereskan sebentar, ya."

Aku terlonjak kaget saat mendadak mendengar suara Hermione tepat di sampingku. Rasa panik meliputiku saat gadis itu melambaikan tongkatnya lalu cahaya lembut mengelilingiku. Pakaianku yang semula hanya baju hangat berlapis jaket hitam dan jeans biru berubah menjadi tuxedo berwarna putih yang mewah. Rambutku yang semula acak-acakan karena tadi sempat membenamkan diri di kasur menjadi sangat rapi. Tidak hanya itu, kacamataku pun hilang dan aku bisa melihat tanpanya.

"Beres! Semoga berhasil!" gadis berambut pirang madu itu mendekatkan bibirnya pada kupingku lalu membisikan, "Kurasa aku mengerti tentang ramalan Prof. Trelawney, Harry! Tentang dua serigala dan dua singa putih yang memperebutkan seekor rusa. Kau ingat patronus-mu 'kan?" detik berikutnya gadis itu terkikik geli dan menghilang dengan ber-apparate.

Aku sempat terdiam mencerna perkataan Hermione tadi. Lalu saat semuanya sudah terkoneksi sempurna aku hanya mengerutkan alisku. Gadis beriris mata cokelat itu memang benar bahwa selama ini patronus-ku adalah rusa jantan. Tapi kenapa harus rusa yang diperebutkan?

"Harry? Bolehkah aku mengajakmu berdansa?" ajakan Cormac tersebut membuatku agak terkejut dengan pikiran rumitku.

"Tunggu! Sebenarnya ini ada apa?" tanyaku bingung.

"Kau hanya perlu menikmatinya saja, Harry. Lupakan semua rasa sakitmu."

Aku tidak bisa menahan cengiran geliku. Aku menjadi bingung harus berbuat apa. Dan dengan nada yang geli akhirnya aku menjawab, "Tapi jangan salahkan aku jika aku amatiran."

"Serahkan semua padaku." Dia mengedipkan sebelah matanya.

Dengan ragu aku menerima uluran tangannya. Ia tersenyum hangat sambil menggenggam tanganku erat namun tetap lembut. Lalu tangannya yang lain melingkar di pinggangku. Mendadak musik lembut yang entah dari mana mengalun di sini. Hutan terlarang yang semula menyeramkan menjadi sangat cantik. Perlahan entah darimana aku pun tidak tahu—bunga-bunga beraneka warna tumbuh merambat di batang pohon-pohon di hutan ini seperti tirai hidup yang cantik. Beberapa bunga warna-warni pun tumbuh dari tanah tidak jauh dari tempatku berdiri—seperti membuat sebuah lingkaran berkeliling bunga agar aku tidak pergi dari situ mungkin. Lalu taburan lembut bunga-bunga dari langit menghujani kami. Cormac membawaku perlahan dalam sebuah gerakan yang lembut. Kedua mata kami terus beradu dalam diam. Sungguh! Aku hanya menumpangnya saja! Aku tidak pandai berdansa!

"Harry… kau tahu, aku sangat mencintaimu. Tapi, aku sadar… aku bukanlah yang terbaik untukmu." Gumam Cormac. Aku hanya menatapnya lurus, "Jadi, inilah terakhir kali aku kontak denganmu. Aku hanya ingin kau bahagia dengan pilihan hatimu. Tapi ketahuilah! Hatiku akan selalu terbuka lebar untukmu." Ia membelai pipiku sekilas lalu melepaskanku begitu saja.

Kukira aku akan jatuh, namun ternyata aku terjatuh dalam pelukan seseorang yang juga bertuxedo hitam. Orang itu menggenggam tanganku lalu melingkarkan tangan lainnya di pinggangku. Mataku membulat saat melihat orang yang hendak mengajakku bendansa ini. Pacarku…

"Viktor?" gumamku tidak percaya. Lalu ia membawaku dalam gerakan dansa yang lembut.

Seperti biasa ia memandangku dengan lekat, "Harry… aku sangat merindukanmu. Kau tambah cantik ya?"

Aku memicingkan mataku sambil bertampang malas, "Aku laki-laki, Viktor Krum."

Ia tertawa kecil, "Ah, senang ya masih bisa menggodamu untuk yang terakhir kali." Ia terdiam sejenak namun kami masih tetap bergerak lembut. Mataku menyirit heran karena keganjilan yang dibuat oleh orang-orang ini. Ia menatapku lagi, "Kuakui, hati memang selalu tidak bisa dipaksakan. Aku tahu kau tersiksa dengan hubungan jarak jauh ini. Kau masih membuka hatimu pada masa lalu. Dan aku sama sekali tidak bisa menghancurkannya." Ia menghela napas pendek lalu tersenyum, "Senang bisa memilikimu walau hanya sebentar. Kau… mampu menaklukan lelaki normal sekalipun. Kau bagai mutiara yang langka di laut terdalam. Masalahnya mutiara cantik itu ternyata sudah ada yang punya."

Aku mengerutkan alisku, "Tunggu… maksudmu apa sih?"

Ia tersenyum lalu mengecup bibirku sekilas, "Aku gagal. Benang merah kalian terlampau kuat hingga membuat tenagaku terkuras. Aku gagal mengubah namamu menjadi Harry Krum." Kami terkikik geli, "Kau bukan piala bergilir, Harry. Dan aku sadar betul! Jadi dengan berat hati aku melepasmu." Mataku menatapnya bingung, "Ini dansa terakhir kita. Dan kuharap kau tidak keberatan utuk menciumku. Untuk yang terakhir kalinya."

Melihat semua ini sepertinya aku mulai paham. Perlahan-lahan mereka yang mengetahui bahwa aku tidak begitu kuat menjalin cinta dengan mereka memutuskan untuk mundur. Oh, aku begitu terharu dengan ini. Akhirnya mereka peka juga.

Lalu mengingat permintaan terakhirnya aku pun menciumnya. Kami saling melumat dengan lembut. Tidak ada paksaan atau pun nafsu. Hanya membuat sebuah kenangan manis di sebuah perpisahan.

"Kurasa itu cukup, Viktor."

Viktor lalu melepaskan ciuman kami. Aku dan Viktor lalu menengok ke sumber suara yang sangat tidak asing. Wajahku sangat panas dan aku terus mengulum senyum. Lalu Viktor menyentuh pipiku lembut.

"O iya, aku ingin jujur kepadamu. Sebenarnya aku ini juga sesosok manusia serigala sama seperti Cormac."

Mataku membulat dan alisku menyirit, "Kenapa kau menyembunyikan ini dariku? Apa kau tidak percaya padaku?"

"Aku hanya tidak mau kau menjauhiku. Tapi, yeah… aku sudah kalah di awal. Aku kalah dari kedua vampir itu." Kami saling bertatapan, "Aku mencintaimu selamanya." Ucapnya tanpa keraguan.

Aku menyentuh pipinya lembut, "Terima kasih. Terima kasih sudah mau mengisi kekosongan hati ini waktu itu. Kau pria yang hebat, Viktor. Mungkin suatu hari nanti kita bisa bersama." Ucapku lembut.

Lalu Viktor melepaskan genggaman tangannya—melepasku begitu saja lalu menghilang sama seperti Cormac tadi. Dengan ragu aku mendekati pemuda yang tadi menginterupsiku dan Viktor. Pemuda gagah yang selama ini adalah jodohku. Pemuda bersurai cokelat yang selama ini selalu melindungiku dan tidak mudah menyerah untuk merebutku kembali.

Aku terkikik kecil saat pemuda beriris cokelat itu berlutut sambil mengulurkan tangannya padaku, "Berdansalah denganku, Hilary."

"Kau bercanda? Kau adalah pemuda yang sama sekali tidak menyerah merebut kembali cintamu ya? Hmm… sebagai hukumannya, dengan senang hati aku ingin berdansa denganmu!" ujarku dengan senyum yang tidak dapat kutahan lagi. Aku menerima uluran tangannya itu. Dan ia langsung membawaku ke dalam posisi dansa. Kami bergerak lembut.

"Senang rasanya cintaku kembali lagi." Ia tersenyum, "Tapi rasanya tidak enak saja. Kau kini lebih suka pada Draco 'kan?"

"Tidak!" timpalku. Buru-buru aku menambahkan, "Maksudku… kau adalah cinta masa laluku dan sekarang. Sementara Draco adalah cintaku yang sekarang dan masa depan."

"Jadi aku hanya masa lalumu?"

"Bukan! Maksudku kau, aku, dan Draco sama-sama saling melengkapi. Kau menempati puzzle masa lalu hingga membuatku terus terikat denganmu dengan benang merah—cinta. Sementara Draco menempati puzzle masa depan, di mana aku juga terikat dengannya untuk terus melanjutkan hidup." Kami sama-sama saling memandang, "Walau mungkin aku egois, tapi aku ingin terus bersama kalian. Rasanya jika salah satu dari kalian pergi, puzzle itu takkan sempurna…"

Kulihat Cedric tersenyum kecil. Ia lalu menatapku dengan lembut, "Kau bisa memilikiku. Dan kau juga bisa memiliki Draco. Kami tersedia hanya padamu." Dia menghentikan gerakannya lalu mengecup dahiku lembut. Ia melepas tanganku, "Ada yang ingin menemuimu lagi." Dan perlahan Cedric menghilang bagai menjadi bunga-bunga yang berterbangan. Tinggallah aku sendirian di situ.

Aku sempat terdiam sambil mengulum senyum. Rasanya pipiku sangat panas dan jantungku berdebar kencang.

"Pangeran yang tampan sudah menuggumu di sini, Love."

Aku tersentak kaget saat mendengar sebuah suara yang sangat kukenal. Aku segera mendongak lalu tersenyum lembut melihat lelaki itu sangat tampan dengan tuxedo hitam rapi. Surai pirangnya sangat berkilau diterpa sinar mentari. Ia tersenyum manis padaku dan mengulurkan tangan kanan pucatnya.

Lalu aku melangkah mendekatinya untuk menerima uluran tangan itu. Ia segera menarikku dan melingkarkan tangan lainnya di pinggulku. Tangannya yang berada dibelakang tubuhku, menekan punggungku agar aku bisa lebih dekat dengannya. Kami berciuman lembut. Karena pasokan oksigenku menipis, kami pun melepaskan ciuman pelepas rindu itu.

"Tidak bertemu selama beberapa bulan membuatku sangat rindu. Sepertinya kau tambah cantik saja, Love." Tangan pucatnya membelai pipiku lembut.

"Aku ini laki-laki, Draco!" gerutuku pelan—heran karena sejak tadi aku dipanggil "cantik" terus. Lalu kami sama-sama tertawa di tengah tarian lembut kami. Kami saling bertatapan dengan lekat dan terdiam.

"Menikahlah denganku, Harry."

Mataku membulat lalu aku tertawa, "Kau masih terpacu adrenalin untuk memusnahkan horcrux, ya?" namun perlahan tawaku menghilang saat melihat matanya tulus menatapku. Aku lalu menunduk dan menggeleng, "Tidak. Tidak untuk sekarang, Draco."

Dia mendengus, "Dua kali kau menolak ajakanku untuk menikah. Kenapa?"

"Bukan apa-apa… aku hanya ingin menyelesaikan pendidikanku. Lagipula aku ingin menjadi auror. Kita masih punya banyak waktu, hey." Jelasku lembut sambil membelai wajahnya agar tidak merusak suasana hatinya.

"Tapi aku takut kau menghilang kembali, Harry! Aku tidak mau kehilanganmu lagi!"

Aku segera menggenggam kedua tangannya sambil tersenyum lembut, "Percayalah! Aku takkan pernah pergi darimu. Aku selalu di sini," aku menempelkan telapak tanganku di dada bidangnya, "di hatimu!"

Draco mengambil tanganku yang menempel di dadanya, lalu ia menempelkan tanganku ke pipinya, "Aku sempat menanyakan ini pada Prof. Trelawney. Dan katanya kau akan mempunyai dua orang di hatimu. Dan dua orang itu adalah aku dan Cedric." Aku terbelalak dan terus mendengarkannya, "Walau suamimu nanti adalah Cedric, tapi belahan jiwamu adalah aku, Harry!" alisku mengerut heran, "Aku tidak mau, Harry! Aku ingin kau menikah denganku! Bukan dia!"

"H-hey! Ramalan itu ilmu yang tidak pasti! Bisa saja melenceng?"

"Tapi bagaimana jika itu nyata?!" ia tetap egois dengan ucapannya. Aku hanya menghela napas. Rasanya aku sedang berhadapan dengan balita. Ia menggenggam tanganku, "Aku hanya mau menikah denganmu, Harry! Aku ingin…"

Kublokir bibirnya yang bawel dengan bibirku. Hanya kecupan singkat. Namun Draco malah menarik wajahku untuk berciuman lebih dalam dan agresif. Aku sedikit memekik pelan saat ia menggigit-gigit bibir bawahku dan memasukan lidahnya dengan kalap. Tubuhku dipeluk lebih dalam sehingga aku menjadi sesak. Aku mendorong tubuhnya pelan untuk melepaskan ciuman kami. Dan begitu ia melepaskannya, aku menarik napas sepuas-puasnya. Aku agak terkejut saat ia menggigit bibir bawahku lagi.

"Hey, aku ini masih membutuhkan oksigen! Aku ini hanya setengah vampir. Bukan seluruh vampir." Gerutuku. Ia malah terkikik geli.

"Bagaimana kalau aku mengubahmu?" tawarnya namun dengan seringaian jahil. Aku hanya menaikan sebelah alisku, "Tidak, tidak, Love. Aku mana sanggup mengambil jiwamu. Aku tidak mau membuatmu terbunuh,"

Aku menyipitkan mataku, "Memang mengubah manusia biasa menjadi vampir itu sulit ya?"

"Kalau orang lain yang tidak kucinta sih, mungkin aku bisa-bisa saja. Itu hal mudah. Tapi bayangkan saja jika kau disuruh untuk membunuhku menggunakan kutukan tak termaafkan dengan sengaja dan melihat senyumku untuk yang terakhir kalinya?"

"Eh? A-aku sama sekali tidak tahu." Gumamku pelan.

Draco mengangkat daguku agar aku bisa menatap ketulusan hatinya, "Aku bersumpah! Aku akan melindungimu, Harry! Aku tidak mau kehilanganmu. Kau juga harus berjanji, ya?"

Aku mengangguk mantap, "Pasti! Aku akan berjanji!"

Kami berciuman dengan lembut lalu saling diam setelahnya—hanya tubuh kami yang terus bergerak sesuai alunan musik. Aku menyandarkan kepalaku di dada bidangnya dan dia dengan senang hati mempersilahkannya. Ia juga sesekali mencium rambutku.

"Harry?"

Mendengar panggilannya aku pun menatapnya, "Ya?"

"Liburan natal kali ini apakah kau mau pulang ke rumah Pamanmu?"

Aku menyiritkan alisku sambil tersenyum, "Tentu saja. Ke mana lagi aku akan pulang? Ke rumah Paman Vernon? Yang benar saja? Aku tidak mau mengulang masa pahit itu lagi." Alisku naik sebelah melihat matanya menjadi seolah putus asa, "Kenapa?"

"Aku hanya takut itu terjadi…"

"Maaf?" tanyaku meminta penjelasan darinya.

"Tidak! Itu mungkin hanya pikiran paranoidku saja. Kau tahu, menemui calon mertua itu rasanya memang menegangkan."

Aku tertawa keras, "Ya ampun, Draco! Kau sampai begitunya! Baiklah, kau tidak akan kupaksa untuk bertemu Paman Sirius besok kok,"

.

.

.

Ruang rekreasi Gryffindor tampak sepi saat aku baru saja sampai. Berpakaian seperti ini membuat beberapa orang menyiritkan alis dan berbisik-bisik. Tentu saja karena sampai saat ini aku masih memakai setelan tuxedo putih yang umumnya digunakan untuk pesta—dan kini aku berkeliaran di lingkungan sekolah dengan ini. Sialnya aku tidak membawa jubah gaib tadi. Tapi untungnya di sini sekarang sedang sepi.

Namun saat aku hendak menuju kamar, seorang gadis yang sangat kukenal sedang duduk di sofa dekat perapian. Ia menatapku sambil tersenyum. Dan aku membalas senyumnya.

"Darimana kau, Harry? Kau terlihat tampan berpakaian resmi seperti itu," gadis bersurai merah menyala itu mendekatiku.

Dengan sedikit terbata aku menjawab, "Err… aku, yeah ada sedikit urusan tadi. Kau sendirian saja di sini, Ginny?"

Ginny tersenyum sambil merapikan dasi kupu-kupuku yang agak menceng, "Dulu kukira kau akan berpakaian seperti ini dan aku memakai gaun putih yang cantik. Aku berjalan di altar dan kau sudah menungguku untuk mengikat janji suci."

Alisku naik sebelah dan aku tertawa hambar, "Aku harap dulu juga begitu. Tapi, kenyataan berubah. Kita harus berubah karena takdir."

"Bagaimana kalau aku merubah takdir itu? Tolong biarkan aku mengulangnya sekali lagi!"

Aku menggenggam kedua tangannya dan menatapnya lurus—aku dapat melihat air mata terkumpul di pelupuk matanya.

"Harry, kau tahu 'kan aku sudah menyukaimu sejak pertama kali bertemu? Kau tahu 'kan seberapa besar cintaku?" ia kini menangis terisak. Wajahnya yang dipenuhi air mata kini tertunduk. Aku menjadi iba melihat pundaknya yang bergetar dan suaranya yang terisak, "Harry… kembalilah." Pintanya dengan suara parau.

"Maaf, Ginny. Aku tidak bisa."

"Kenapa?!" ia mendongak menatapku. Aku melihat wajahnya sangat merah dan air matanya menganak sungai.

"Karena aku sudah memiliki Draco dan Cedric." Jawabku dan dia terlihat sangat terpukul. Ia melepaskan tanganku dan berlari menuju kamar perempuan. Aku hanya menatap punggungnya nanar, "Maafkan aku, Ginny!"

.

.

.

Liburan natal sudah tiba. Aku menghela napas lelah sekaligus lega saat kakiku akhirnya sudah membawaku ke rumah Paman Sirius. Senyumku tentu tak bisa kutahan saat Paman menyambutku dengan hangat. Selama ini hanya Paman Siriuslah yang mengerti diriku—semenjak aku memutuskan untuk kabur dari kediaman keluarga Dursley yang kejam. Padahal merekalah satu-satunya keluarga yang kupunya, namun rasanya aku seperti sendirian waktu itu dan lebih tersiksa karena keluarga Dursley sangat membenciku. Dan duniaku menjadi cerah sejak Paman Sirius—yang waktu itu kukira adalah orang jahat ternyata adalah orang baik. Dia ternyata adalah ayah baptisku dan juga dulu adalah sahabat sejati ayahku. Aku sangat beruntung memilikinya sekarang.

"Lama tidak berjumpa denganmu, Son!" ujarnya sambil memelukku erat, "Bagaimana kabarmu?"

"Spektakuler, Paman!" jawabku dengan senyum lima jari.

Kami lalu mengobrol lama hingga malam untuk melepas kerinduan. Aku sudah menganggap pria berambut ikal sebahu berwarna hitam ini sebagai ayahku sendiri. Aku tidak tahu sifat ayah kandungku yang sebenarnya—karena ia dan ibuku meninggal saat aku masih berada di ayunan kamar. Namun kata orang, sifatnya sama seperti Paman Sirius—ramah, jahil, asik, dan mempunyai selera humor yang tinggi.

"O iya, hubunganmu dan Ginny sudah sampai mana?"

Mendengar pertanyaan itu membuat senyumku pudar dan lidahku menjadi kelu. Aku bingung untuk menjawabnya. Namun aku meremas celana bagian pahaku untuk bertekad bahwa aku tidak perlu menutupi ini semua. Toh nantinya juga akan diketahui 'kan?

"Sebenarnya," mendadak tenggorokanku menjadi kering, "Aku sudah lama putus dengannya."

Raut jahilnya berubah menjadi serius, "Lho kenapa? Kurasa kalian serasi."

Aku menggeleng, "Kau tidak mengerti karena kau bukan aku, Paman."

"Baiklah aku mengerti. Ah, lalu sekarang kau bersama siapa?"

Ini dia pertanyaan yang sangat kutakutkan. Aku hanya takut Paman Sirius kecewa bahwa anak baptisnya ini ternyata seorang homoseksual. Dan dengan segenap kenekatan aku menjawab, "A-aku kini memiliki dua kekasih." Rasanya jantungku berdebar kencang menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi.

Paman Sirius terlihat menampakan senyum jahilnya, "Wow! Kau hebat sekali, Harry! Mati satu tumbuh seribu, bukan begitu?" ia tertawa dan aku hanya meringis serba salah, "Ternyata kau mewarisi sifat nakal James juga!"

"Tapi Paman," kataku di sela tawanya yang terus membahana di ruangan ini, "dua pacarku adalah laki-laki dan mungkin kau akan sulit pecaya bahwa mereka adalah vampir."

Mendadak tawanya berhenti begitu saja membuatku takut—apalagi tatapan kagetnya. Kami sama-sama terdiam selama beberapa lama. Aku menggulung bibirku karena bingung harus membuka topik pengalih. Namun aku terkesiap saat melihat tatapan tajam paman.

"Putuskan mereka! Dan kembalilah pada Ginny!"

Mataku terbelalak dan tubuhku kaku, "Ta-tapi, Paman! Kenapa?"

"Mereka itu vampir, Harry! Kaum vampirlah yang membunuh kedua orang tuamu! Apa kau tidak mengerti?!"

"Aku sangat mengerti, Paman! Tapi merekalah yang dulu menyelamatkanku!"

"Sekali vampir ya vampir!" teriaknya membuatku terkesiap, "Kau tahu 'kan, aku ini manusia serigala! Jangan mencoba mengakrabkan klan kami!"

"Bukankah jika kalian akrab akan menjadi baik? Dan asal Paman tahu, aku ini juga vampir!"

"Astaga Harry! Apakah mereka mengubahmu, huh?! Benar-benar kurang ajar!"

"Tidak! Aku memang vampir, tapi tidak seluruhnya. Aku ini setengah vampir! Apakah Paman tidak mengerti kenapa dulu Voldemort mengincarku dan membunuh kedua orang tuaku? Dan apakah Paman tidak berpikir siapa yang menyelamatkanku saat itu lalu membunuh Voldemort untuk sesaat?" napasku memburu saat melantangkan itu semua.

Paman Sirius menghela napas. Ia lalu terlihat melamun, "Harry, dengar! Mungkin kau sudah mengerti masa lalumu, tapi yang kuminta adalah jangan mengulang masa lalu! Aku hanya takut semua terulang lagi! Aku tidak mau masalah ini kembali di ungkit dan melebar." Nadanya melunak namun tetap tegas.

"Tidak Paman! Percayalah! Lagipula aku yakin Voldemort sudah benar-benar mati! Karena semua horcrux-nya sudah dihancurkan."

"Kau tidak mengerti, Harry! Aku hanya mempunyai firasat buruk."

"Itu hanya perasaanmu saja!"

"Tidak!" bentaknya, "Besok, aku akan menjodohkanmu dengan Ginny!"

Aku segera berdiri, "Kau bukan orang tuaku yang sesungguhnya! Kau tidak berhak mengaturku!"

"Aku ayah baptismu! Aku pengganti orang tuamu!"

"Hanya pengganti 'kan? Bukan benar-benar?" entah kenapa rasanya hatiku sangat panas dan aku mengambil koperku kembali dan berjalan keluar—mengabaikan teriakan Paman Sirius yang terus menahanku agar tidak pergi. Aku pun tidak tahu harus pergi ke mana. Tapi kurasa aku sangat butuh tempat untuk mendinginkan diri.

Aku sudah berlari terlalu jauh—kuyakin Paman Sirius takkan mengejarku. Dan kini aku tidak tahu harus pergi ke mana. Kuseret koperku menuju sebuah jalan sempit yang gelap untuk beristirahat sejenak. Koperku yang berat ini membuatku kesusahan untuk menyeretnya. Sebuah ide gila muncul di otakku. Aku ingin memakai sihir agar aku bisa pergi dengan mudah. Namun detik berikutnya aku sadar bahwa kini aku sedang di dunia muggle.

Aku bisa menebak bahwa kini sudah pukul dini hari. Dan sialnya di sini sangatlah gelap dan sangat dingin—aku bahkan tidak bisa melihat apapun. Aku sama sekali tidak mempunyai alat muggle—senter ataupun lilin. Satu-satunya yang bisa kuharapkan adalah tongkat sihirku ini. Sebuah bayangan berkelebat cepat sekali di hadapanku membuatku reflek melancarkan mantra,

"Lumos!"

Untungnya tiada apapun di situ. Aku mengedarkan mataku ke segala penjuru arah—dengan tongkatku sebagai penerangnya. Tiada apapun kecuali tong sampah dan kucing liar. Jantungku berdegub kencang menantikan apa yang selanjutnya akan terjadi. Dan…

DUAR!

Mendadak suara keras mampir di pendengaranku dan seketika itu aku langsung mengangkat tangan untuk menutupi mataku dari cahaya menyilaukan yang mendadak muncul...

Sambil berteriak aku merapat ke tembok, tepat pada waktunya. Sedetik kemudian, sepasang ban dan lampu luar biasa besar berdecit berhenti tepat di tempatku berdiri tadi. Ketika aku menoleh, aku melihat ban dan lampu itu milik bus ungu cerah bertingkat tiga yang muncul begitu saja entah dari mana. Huruf-huruf emas di kaca depannya bertuliskan "The Knight Bus"—Bus Ksatria.

Kemudian seorang kondektur memakai seragam ungu melompat turun dari bus dan mulai berteriak-teriak, "Selamat datang di Bus Ksatria, transportasi darurat untuk para penyihir yang tersesat. Julurkan saja tongkatmu, naiklah ke atas, dan kami bisa membawamu ke mana saja kau ingin pergi. Namaku Stan Shunpike, dan akulah kondekturmu malam ini..."

Aku menaikan sebelah alisku dengan heran. Aku ingat bahwa jika seorang penyihir yang tersesat di dunia muggle melancarkan mantra, maka bus mengerikan ini akan muncul—dan aku baru sadar bahwa tadi aku melancarkan mantra lumos seperti beberapa tahun lalu saat aku kabur dari rumah Keluarga Dursley. Mengingat tongkatku masih menyala aku pun segera mematikannya dengan mengucapkan nox. Untuk sesaat aku ragu akan masuk ke bus aneh ini atau tidak. Namun aku tidak punya pilihan lain. Aku meneguk ludahku, "Bawa aku ke Leaky Cauldron di London!" aku pikir mungkin aku bisa menyewa kamar di sana untuk beberapa malam lalu pergi ke Diagon Alley untuk mengambil galleon di Bank Gringotts. Karena di belakang tempat minum kumuh itulah—Leaky Cauldron, ada jalan ajaib menuju Diagon Alley.

.

.

.

Sesampainya di sana tentu saja si pemilik tempat minum bernama Tom itu menyambutku. Aku memesan satu kamar di lantai dua—sama seperti dulu. Tom membawakan koperku menuju kamar dan aku mengikutinya. Sesampainya di kamar aku segera merebahkan diri—melepas semua penat yang menempel. Dadaku naik-turun untuk mengatur napas. Perlahan aku mendengar sayup-sayup suara yang sangat kukenal tidak jauh dari kamarku. Alisku menyirit dan kupertajam pendengaranku. Karena rasa penasaran ini semakin membesar, aku pun keluar kamar untuk mencari suara itu. Dan ternyata suara itu berasal dari kamar di sebelah kamarku persis. Aku terkesiap saat pintu kamar itu mendadak terbuka. Dan mataku langsung terbelalak.

"Draco?"

TBC (To Be Continued)


Nyehehehe XD tuh kali ini saya perpanjang ceritanya jadi 11 halaman (di Ms. Word) XD

Oke nggak banyak cingcong lagi, mari balas repiu! :D


Anisa Phantomhive

Jiahahaha XD kip calem~ ntar juga Drarry mendominasi kok ;)

O iya turut berduka cita atas file milikmu yang hilang TwT tabahkanlah hatimu~

Sankyuu udah RnR :* :D #hug


ReDevil10

Dan jawabannya adalah…. Semua semenya! XD

Eh? Jangan panggil saya senpai ^^'a saya belum jadi senpai /masih abal-abal XD

Oke sankyuu udah RnR :* :D #hug


FlawlessHand

Nyehehe ini udah :D ah serius? Sankyuu banget _ /padahal ini abal XD

Dan sankyuu udah RnR :* :D #hug


Euishifujoshi

Jiahahaha XD terserah padamu saja, senpai XD saya mah manut saja X3 aku rapopo~ aku rapopo~ ^o^ #joget sambil nyanyi #taboked

Dan tumben ngga login? :D /lupakan pertanyaan gaje ini

Oke sankyuu udah RnR :* :D #hug


Guest

Ya sudah dimanipu…. Eeeehhhh! Tuh kan jadi salah nulis XD #plak

Beneran kok XD suer dikewer-kewer XD #plak

Sankyuu ya atas RnRnya :* :D #hug


Guest

Ini sudah dilanjut :D sankyuu udah RnR :* :D


Yosh! Itu dia balasan-balasan untuk para repiewer :D dan untuk para silent readers juga sankyuu udah mau mampir :D #hug

Sampai bertemu lagi~