Tittle : The Past
Cast : Xi Luhan and all the member.
Warning And Disclaimer : seluruh member milik keluarga dan tuhan-nya, saya hanya pinjam nama dan ide cerita murni milikku.
HEY YA! Ini chapter terakhir, maaf gak ngasih kabar sebelum-sebelumnya tapi ini apa adanya. Jadi kalau ada kekurangan mohon maaf. Sebenarnya mau dibikin 2 chapter terakhir tapi kalau dua panjangnya nanggung. Jadi ini chapter terakhir dan masih ada epilogue sih.
Terimakasih untuk semua yang udah nge-review, memberi saran dan kritik hingga aku bisa menyelesaikan ini. Aku membuat cerita ini singkat, padat dan jelas. Aku gak mau buat ff ini melalang buana kayak sinetron Indonesia dan sampai lupa tujuan awalnya.
Menulis sebuah cerita dengan latar belakang kerajaan itu susahnya minta ampun. Apalagi Korea (gak hanya Korea sih) yang mengharuskanku membuat perbedaan tata bahasa formal, tidak formal dan ditambah lagi ini cerita time travel yang berarti ada bahasa masa depan.
But, ini sudah berakhir. So please, give me your best review.
Previously on 'The Past'
"Hyung," panggilnya. "pilihan pertama yang ditawarkan oleh Suho hyung lebih memungkinkan daripada meminta Sungmin sunbae-nim melakukan kejahatan." Kai bisa melihat dengan jelas bahwa Luhan menunggu kalimat selanjutnya dengan ngeri. Apapun yang akan dikatakan Kai nanti, bisa dipastikan adalah ide konyol dan gila. "Wajahmu lebih cantik…
"ANDWAE!" seru Luhan sebelum Kai bisa melanjutkan kalimatnya. Ia bangkit dan menjauh dari Kai yang terlihat seperti pembawa virus mematikan. "AKU TIDAK MAU! AKU MANLY, KAU TAHU ITU?! SURUH SAJA CHANYEOL, BAEKHYUN, XIUMIN HYUNG ATAU SEHUN! WAJAH MEREKA LEBIH MANIS!"
Kai menutup matanya dan meringis pelan. Telinganya kini berdengung akibat teriakan Luhan. "Yeolli hyung dan Baekkie hyung diperlukan karena mereka adalah pemain music, lalu apa hyung tidak berpikir kalau Kibum sunbae-nim akan mengenali Xiumin hyung dan Sehun sebagai tentara kerajaan walaupun mereka telah didandani habis-habisan." Ujar Kai yang tak mau kalah. "Aku tahu kau manly tapi bagaimana bisa kau masih tergila-gila pada Sehun yang tingkahnya seperti bocah lima tahun dan bersikap seperti gadis remaja?"
Luhan memberengut. "Kibum sunbae-nim sudah pernah melihatku, apa ia takkan menyadari ada wanita yang mirip cenayang Guan?"
Kai melihat anggota tersisa. "Kau tidak mengharapkanku meminta Kris hyung atau Chen kan?"
"Tao! Tao! Tao, kau bisa menggunakan Tao!" pekik Luhan yang merinding ketika membayangkan Kris dan Chen dalam balutan hanbok wanita. Apakah ia tidak tahu bahwa lebih mengerikan membayangkan Tao menjadi pendamping gisaeng dan jangan lupakan tampangnya dalam hanbok?
"Maaf, apa yang terjadi?" sahut Tao ketika namanya diteriakan oleh tuannya.
Luhan memandangnya seperti orang bodoh namun segera beralih. "Yang jelas jangan gunakan Lay walaupun ia terlihat cantik dan manis tapi kita membutuhkan tenaganya disini dan bersiap-siap untuk kemungkinan buruk serta kau tak mungkin menggunakan Suho yang bahkan tak bisa berdiri dengan benar."
Luhan menoleh ke arah Kyungsoo yang terpaku karena teriakannya. Ia menghela napas kesal. Ia tak mungkin mendorong Kyungsoo kebarisan depan bahkan untuk berbicara saja bisa dipastikan pria mungil itu tak bisa. Lagi ia menghela napas dan mengangguk pasrah.
Tak ada yang berani mengutarakan isi pikirannya kecuali si polos Baekhyun yang merasa penasaran dengan pemikirannya. "Maafkan hamba, tapi mengapa tuan memanggil keluarga kerajaan dengan sunbae-nim, dan jika hamba boleh tahu apakah arti dari sunbae-nim?"
Suho menatap Baekhyun cukup lama, seperti orang bingung. Ia membuka mulutnya namun tak satu pun kata keluar. "Sudahlah, kau takkan mengerti." Ia memalingkan wajahnya.
*The Past*
Utusan Eropa telah tiba, para keluarga dan pelayan kerajaan dibuat sibuk olehnya. Yang mengalami ketentraman hanya pavilion yang ditempati oleh Luhan. Ia sama sekali tidak peduli dengan hiruk pikuk yang terjadi. Ia hanya peduli bagaimana cara mendapatkan gelas dari pedagang Eropa tanpa membayar sepersen pun dan menyesali mengapa ia menyuruh Min Seok mengembalikan barang tiruan yang sebelumnya kepada pemiliknya.
"Apa yang Luhan ge pikirkan?" suara Kris mengganggu focus Luhan.
Luhan bangkit dan menarik Kris keluar dari paviliunnya, berjalan mengitari taman istana. "Aku memikirkan bagaimana caranya mendapatkan cawan tiruan itu dari pedagang barat." Kris terdiam, ia memilih untuk mendengarkan cerita tuannya lebih seksama. "Kau tahu aku akan menyamar dan mencuri cawan itu tapi resikonya juga sangat besar. Jika saja aku mencurinya dan tepat saat itu Kibum sunbae-nim datang dan melihatku melakukannya, bagaimana?"
"Lalu, mengapa Luhan ge memerlukan cawan tiruannya? Apa hubungannya dengan segala resiko itu?"
"Aku hanya berpikir, jika Kibum sunbae-nim datang saat aku mencurinya. Mungkin aku mempunyai waktu untuk menyembunyikan yang asli dan meletakkan yang palsu pada tempatnya sehingga tidak mengundang kecurigaan sama sekali." Kris tidak menjawab. "Apa yang mengganggumu?"
"Sejujurnya, saya merasa tidak rela membiarkan Luhan ge memasuki kediaman pangeran Ki Hwa dan melakukan pekerjaan kotor itu." ungkap Kris, tangannya mengepal menahan amarah. "Saya merasa gagal melindungi anda dan membuat anda terkirim ke kandang singa."
Luhan terkikik, tidak peduli dengan raut kaget milik Kris. Ia tidak menjawabnya dan berjalan ke arah Sujeongjeon, meninggalkan Kris yang terpaku. "Ayo Kris, kenapa kita tak melihat utusan barat yang berada di Geunjeongjeon?"
Kris mengikuti Luhan tanpa suara, ia masih terlarut dalam pemikirannya dan semakin runyam ketika Luhan tak mengatakan apapun perihal penyesalannya. Luhan berhenti ketika setengah jalan menuju ruang takhta, begitu pula dengan Kris.
Suara tangisan khas anak kecil menghentikan mereka. Perlahan tapi pasti, Luhan melangkahkan kakinya menuju asal suara. Ia cukup kaget menemukan anak kecil dalam balutan jas dan berambut pirang, bersimpuh sesengukan disamping Sujeongjeon. Bocah itu terus menangis dan berulang kali menghapus air matanya.
"Why you ended up here, boy?" sapa Luhan yang mensejajarkan dirinya dengan anak laki-laki itu.
"I'm lost." Balasnya.
Tangan Luhan terulur menghapus air mata dan menarik bocah itu bangun dari tanah. "Follow me, I'm gonna show you the way. By the way, what's your name?"
"Carlos,"
"Hmm, don't cry ok?" anak laki-laki itu hanya mengangguk. "Sebaiknya kita segera menuju ruang pertemuan. Bisa dipastikan utusan barat sedang panic mencari bocah ini."
"Aku tidak tahu Luhan ge bisa bahasa barat?" Kris memandang Luhan takjub.
"Anggap saja salah satu kemampuan cenayang," dusta Luhan yang kembali terkikik.
Tak begitu lama, mereka sampai di ruang pertemuan dan bayangan Luhan tentang kekacauan ini terbukti sekarang. Para utusan berjalan kesana kemari memanggil nama Carlos sedangkan sang pangeran berdiri mencoba menenangkan wanita yang menangis memanggil putranya.
"Mommy!"
Bocah itu berlari menuju ibunya yang merentangkan tangannya lebar. Luhan berjalan pelan menuju wanita itu dan memberi salam pada Sungmin. "Your son, madam." Ujarnya.
"Jendral Choi, tarik seluruh pasukan. Katakan pada mereka bahwa putra dari utusan barat telah ditemukan." Titahnya pada Min Seok yang tak disadari keberadaannya oleh Luhan.
Min Seok mengangguk dan pergi dari hadapan mereka. tidak seberapa lama, Suho menghampiri mereka dengan nafas terengah-engah. "Hamba dengar, putra utusan barat telah ditemukan."
Sungmin mengangguk. "Cenayang Xi yang menemukannya."
Baru saja Luhan akan menjawab, ibu dari Carlos mendekati. "Thank you so much, thanks for bringing my son here."
"its an honour, madam." Balas Luhan semempesona mungkin.
"What can I do to pay back your kindness, miss."
Suho menahan tawanya yang kini terdengar seperti orang tersedak. Sedangkan Luhan menatap wanita dihadapannya geram. "Well, you can pay me back with not call me a 'miss'" balas Luhan, rasanya ia sudah muak dengan parasnya yang terlalu cantik. "I'm a man, madam."
"Oh, I'm sorry." Ujarnya tulus sembari menutup mulutnya. "I thought you were a lady."
"I'm such a man, a manly one." Ucap Luhan pelan namun masih bisa didengar oleh wanita itu dan Suho yang lagi-lagi menahan tawanya.
"You dressed like a girl, Mister?"
"I'm sorry for dressed like a girl. But this is my outfit, the Oracle outfit. And my name is Luhan Xi but Luhan for short." Ujar Luhan terdengar benar-benar marah kali ini. "If you don't mind, I have to take my leave." Luhan memberi hormat pada Sungmin sebelum menghilang dari hadapan mereka.
"Wow, She's…I mean, he's very mad." Ucap Suho lirih, memandang punggung itu menjauh.
*The Past*
"Ada apa kalian kemari?" Luhan menatap curiga pada Kai dan Suho yang tiba-tiba muncul di paviliunnya. "Aku sedang tidak ingin ditemui, pergilah."
Kai membalas tatapan Luhan dengan heran. "Mungkin terlalu lama didunia ini membuatmu melupakan posisi kita sesungguhnya disini. Kenapa kau bertingkah seperti bangsawan brengsek, hyung?"
"Kalau kuingat lagi, akhir-akhir ini Luhan hyung terlihat terbiasa dengan semua perubahan di dunia ini." Suho meletakkan sebuah kotak di meja dan menarik Luhan untuk terduduk dari ranjangnya. "Kau bahkan terbiasa memakai kata 'cawan' dibanding 'gelas'. Dimana Lay?"
Luhan mengedikkan bahunya dan memandang Suho yang keluar dari kamarnya. "Kurasa ia menyukainya?"
Kai mendengus, ia berjalan menuju kotak itu dan mulai membuka ikatan-ikatan. "Sebaiknya hyung memerhatikan sekitar dirimu, jangan terlalu terpaku pada Sehunnie-mu itu. Suho hyung sudah menyukai Lay hyung bahkan sebelum kita terlempar kedunia ini." Luhan hanya ber-oh ria. "Apa kau hanya bisa duduk disana dan sama sekali tidak penasaran dengan isi kotak ini?"
"Untuk apa kau membuka talinya Kkamjjong?" Suho kembali bersama Kris, Lay dan Tao. "Itu hanya hiasan."
Kai menghempaskan dirinya ke kursi dan menunggu Suho berhasil membuka kotak itu. "Ini hadiah dari utusan Eropa karena hyung menyelamatkan anaknya." Ungkap Suho sebelum bisa ditanya. "Ia juga meminta maaf karena memanggilmu 'miss'."
Mata Kai segera berkilau cerah ketika kata terakhir disebutkan. Ia menoleh ke arah Luhan yang siap menerkamnya jika saja Kai mengeluarkan kalimat hinaan. Bunyi klik terdengar ketika Suho berhasil membukanya. Kilat mata Suho menjadi bahagia ketika melihat isi kotak tersebut.
"Kita tak perlu mengeluarkan sepersen pun uang," pandangan mata Suho dan Luhan bertemu. "utusan itu menghadiahimu gelas sampanye." Luhan dan Kai segera bangkit melihat isi kotak itu serta tersenyum cerah. Suho menutup kotak itu dan menyerahkannya pada Tao. "Simpanlah disuatu tempat." Pintanya yang segera di patuhi.
Kai mengikuti arah pandangan Kris yang memandang punggung Tao. Ketika Kris memalingkan wajahnya, mata mereka saling bertemu dan Kai yakin tanpa kekuatan cenayang Luhan pun, ia tahu bahwa sebuah pergolakan besar terjadi pada batin Kris. "Ada apa Kris hyung?"
Kris menundukkan kepalanya dan tak menjawab. "Apa masalahku yang akan menyamar masih mengganggumu?" tanya Luhan khawatir. "Aku tidak apa-apa, sungguh."
Cukup lama Kris tidak menjawabnya. Ketika Luhan akan beralih, kepala Kris menggeleng pelan dan terangkat. Ia menatap Luhan, Kai dan Suho sendu. "Ini bukan masalah penyamaran, Luhan ge? Walaupun saya hanya pengawal rendahan dan bodoh, tapi saya mengetahui sesuatu tengah disembunyikan." Kini Kai, Suho dan Luhan yang tak menjawab.
"Apa yang disembunyikan oleh mereka, Yi Fan? Luhan ge, penjaga stempel istana, dan Jongin, mereka memberitahu kita semua apa yang mereka ketahui." Lay berucap, terdengar membela ketiga pendusta yang memandang satu sama lain dengan perasaan bersalah. Ketiga orang tersebut menyadari bahwa Kris adalah pengamat terbaik diantara mereka semua, seperti sikap bawaan yang hingga masa depan.
Tao telah kembali namun tak bicara sepatah kata pun ketika menyadari suasana sedang tidak bersahabat. Kris menatap Lay dengan sedih, "Tidakkah kau sadar, mereka berbicara tanpa batas. Menganggap kita semua dalam satu derajat yang sama sedangkan mereka memiliki derajat tinggi. Menurutku itu tidak mungkin terjadi jika mereka tidak menyembunyikan sesuatu dan menggunakan kita?" tangan Kris mengepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih. "Apakah kau tidak menyadari, terkadang mereka menggunakan bahasa yang tidak kita mengerti. Bukan bahasa Guan ataupun Goryeo?"
Lay terlihat mulai terhasut perkataan Kris. Ia berbalik dan menghadap Luhan. "Sesungguhnya saya merasa heran dengan sikap Luhan ge ketika terbangun dari peristiwa yang melibatkan para bandit beberapa waktu yang lalu atau sikap Luhan ge yang memaki, marah padaku dan Tao di pesta ulang tahun ratu Goryeo lalu berubah kembali menjadi Luhan ge yang sekarang?"
"Hyung," panggil Suho dan Kai bersamaan, terlihat pasrah.
"Kenapa harus aku?" seru Luhan tidak terima.
"Kau yang tertua disini." Balas Kai pelan, sudah bersiap jika mendengar teriakan protes Luhan.
Luhan mendesah dan menatap ketiga bawahannya. Ia memijat pelipisnya, "duduklah, ini akan sangaat lama."
*The Past*
Kai mengigit bibirnya sembari menuangkan alcohol kecawan tamu pesta Kibum. Ia melirik takut-takut ke arah Luhan yang hampir telanjang untuk ukuran zaman ini. Bahu mulusnya sudah terekspos jelas sementara seorang bangsawan mulai menciumi tengkuk dan bahu Luhan.
Luhan sendiri tertawa kecil dan mendorong bangsawan itu menjauh. Tanpa diduga-duga menariknya pergi dari ruangan ramai tersebut. Kai harus segera mengundurkan diri dari hadapan tamunya sebelum mengejar Luhan yang dengan gilanya menarik bangsawan itu ke sebuah kamar.
Kai hampir menerjang pintu kamar itu jika Baekhyun yang ikut menyamar menjadi gisaeng membukakan pintu dan mengajaknya masuk. Bangsawan itu terkapar dengan hidung berdarah sementara Luhan berdiri disamping, melempar seluruh sumpah serapah sembari mengibaskan tangannya.
"Kupikir kau sudah gila dengan mengajak tidur bangsawan itu hyung?" ujar Kai polos.
Luhan mendelik kesal membuat Kai menjengit ngeri. "Kupikir aku akan gila kalau tidak segera menyingkirkannya." Ia berbalik menghadap Baekhyun dengan heran. "Apa yang membuatmu ikut menyamar, Baekkie-ah?"
"Dua gisaeng dalam satu misi dipikir oleh Suho hyung adalah bunuh diri. Jadi, yeah seperti yang kau lihat." Sahut Kai sebelum Baekhyun bisa menjawab. Ia menyodorkan garmen atas Luhan yang tertinggal di ruangan pertunjukan tadi.
Luhan memakai pakaiannya dan menatap kedua partner in crime-nya. "Kau tahu kita hanya bertiga dalam misi…"
"Sebenarnya berempat dengan Chanyeol…kau boleh tidak menghitungnya hyung." Kai segera meralat ucapannya ketika tatapan Luhan berubah mengerikan.
"Kulihat tadi Kibum sudah berada di ruangan utama. Jadi kita bisa memulai misinya, Baekkie mana cawannya?" Baekhyun segera memberikan gelas itu pada Luhan yang segera disembunyikannya dibalik lengan bajunya. "Aku harap kalian mengingat rencananya dan ada pertanyaan?"
"Kurasa aku bisa bertanya apa itu 'misi' nanti, bukan?" ujar Baekhyun yang diangguki aneh oleh LUhan dan Kai.
Baekhyun dan Kai segera menuju ruang pertunjukan sementara Luhan menyusuri kediaman Kibum lebih dalam. Menurut informasi terselubung Sehun, Kibum selalu meletakkan barang-barang berharganya diruangan yang terhubung dengan kamarnya. Ia cukup beruntung karena ia tidak perlu bersembunyi karena banyak gisaeng yang berlaluan menuju tujuannya.
Dari balik lengannya yang lain, Luhan mengeluarkan sebuah kertas yang dikatakan Suho dan Minseok sebagai peta. Ia tidak yakin ini peta, mengingat sangat berantakan dan tidak memenuhi standar tapi masih bisa dibaca dan bisa ditolerir.
Merasa seperti mata-mata, Luhan merapatkan tubuhnya di dinding untuk mengecek koridor yang mulai sepi. Ketika merasa aman, ia melanjutkan jalannya yang hampir beberapa langkah menuju ruangan penyimpanan itu. Sayangnya, pintu itu terbuka dengan seorang pria tegap memandanginya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya tajam.
"Hamba hanya melihat-lihat kediaman pangeran Kibum, tuan." Dustanya terbilang lancar dengan suara wanita yang tidak bisa diragukan. "Jika hamba mengganggu, hamba mohon diri."
Luhan segera berbalik arah dan memukuli kepalanya setelah berbelok di koridor. Ia tidak bisa kembali dengan tangan kosong mengingat kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Luhan segera membuka jendela yang berada disampingnya, bersyukur karena rumah zaman dulu rumah jarang yang berlantai dua dan bersembunyi. Ia merangkak perlahan menuju jendela yang dikiranya adalah ruangan penyimpanan tadi dan menunggu hingga lampu di ruangan itu mati.
Tiga jam kemudian.
Luhan harus menahan rutukkannya ketika segala serangga mengganggunya selama penantian. Pesta telah selesai sejam yang lalu dan selama itu ia harus memikirkan rencana kabur yang lain. Ketika lampu telah mati dan suara derap langkah menjauh, ia menunggu beberapa saat sebelum mencongkel jendela dan masuk.
Keadaan gelap gulita didalam ruangan tidak membantu sama sekali. Ia menunggu beberapa waktu tetap terdiam, menyesuaikan matanya dengan kegelapan sebelum berjalan perlahan memeriksa beberapa kotak. Sudah lebih dari setengah jam Luhan terus mencari, adrenalinnya terpompa kuat mengingat bisa saja Kibum tiba-tiba masuk dan memergokinya.
Ia mendesah pelan dan memilih mencoba mengajak suara dikepalanya untuk berkomunikasi. Setelah beberapa saat, ia berjalan menuju bawah meja dan menyadari sebuah lantai kayu yang bisa dibuka. Pelan-pelan ia mengangkat tutupnya dan melihat kotak yang dibawa Kibum saat mengunjungi para pangeran.
Tanpa ragu ia membuka dan menukar gelas itu. Ia harus menelan ludahnya susah payah ketika gelas yang dibawanya berbeda jauh dengan gelas didalam kotak itu. dengan tangan gemetar Luhan mengembalikan semuanya seperti semula.
"Setidaknya Kibum tidak akan tahu akulah pencurinya," gumamnya kecil. Luhan segera keluar dari ruangan itu melalui jendela tadi. Perlu kesabaran penuh untuk melewati beberapa penjaga yang masih terjaga semenjak pesta tadi.
Luhan berdiri di hutan terletak dibelakang kediaman Kibum sebelum suara gaduh menyeruak dari belakangnya. Teriakan menggelegar Kibum menyadarkannya dari rasa penasaran dan membuatnya segera berlari menuju hutan lebih dalam. Ia terus berlari sembari mengutuk hanbok-nya yang menyulitkannya berlari sehingga membuatnya menjinjingnya tinggi.
Suara derap langkah dan komando Kibum membuat Luhan tersadar bahwa Kibum mengendus pencuri gelasnya ke hutan ini serta jaraknya yang dekat. Tanpa pikir panjang, Luhan menggali tanah dengan kedua tangannya dan mencungkil batu dengan jarinya hingga berdarah.
Ia tak punya banyak waktu sampai Kibum menemukannya. Suara ringikan kuda semakin mendekat, membuatnya mau tidak mau berlari lagi dengan meninggalkan bekas gundukan yang tertutupi dedaunan. Luhan memekik ketika sebuah anak panah menghujam bahu kanannya, ia tidak peduli dan tetap berlari membuatnya menerima anak panah di paha kanannya hingga jatuh terjerembab dan terengah-engah.
Dengan rasa sakit darah yang terus mengalir memaksa Luhan untuk tetap terlungkup hingga sebuah tangan menarik lengannya kasar hingga terduduk. Wajah Kibum terlihat heran dan juga kaget mendapatinya dalam pengejaran pencuri. Namun sedetik kemudian, sebuah seringaian terpatri di wajahnya.
"Saya tidak menyangka seorang cenayang Guan memakai pakaian wanita dan berdandan layaknya gisaeng." Luhan mendengus selagi menahan ringisannya yang bisa membuatnya semakin terlihat menyedihkan. "Dan ditemukan dalam pengejaran pencuri."
"Aku tidak mengerti maksud anda dengan pencuri, pangeran Kibum." Dalih Luhan, "Jika anda bertanya mengapa hamba bisa berpakaian seperti ini dan apa yang hamba lakukan disini? Hamba bisa menjawabnya." Luhan menyukai monolognya yang entah muncul dari mana. "Hamba ingin menghadiri pesta pangeran namun terhalang dengan gelar hamba, itu sebabnya hamba menyamar."
Seringaian Kibum semakin melebar. "Kita akan buktikan itu!" ia menghempas tubuh Luhan ke tanah dan memerintahkan pengawalnya menyeret Luhan kembali ke kediamannya.
Para tabib hanya mengobati luka Luhan seadanya dan segera mengurung dalam gudang penyimpanan yang lebih buruk daripada kandang ternak sekalipun. Pakaian putihnya sudah tidak berbentuk bercampur lumpur, keringat dan darahnya. Ia hanya bisa menahan tangisan dan ringisannya sementara demam tinggi menyerangnya, ia berharap ini semua hanya mimpi buruk yang sangat panjang.
Guyuran air dingin menyadarkan Luhan akan tempatnya. Matahari sudah bersinar tinggi dan Kibum duduk dalam lindungan bayangan. Dengan angkuh, Kibum berjalan lambat-lambat mendekatinya. Namun wajah datar sedikit bergetar ketika menyadari sikap aneh dan aura asing yang terpancar dari Luhan.
Ia menjaga jarak sebelum sesuatu buruk menimpa dirinya mengingat yang berada dihadapannya adalah cenayang tinggi Guan. "Sekarang, beritahu dimana cawan Yeon Chan kau sembunyikan?"
Luhan tertawa keras sekali dan meremehkan. Ia mendelik menatap Kibum tanpa gentar. "Meskipun kau pangeran Goryeo, kau tak lebih dari putra selir." Ejek Luhan tak kalah angkuh dan penuh penghinaan. "Kau tak berhak mempertanyakan dan memperlakukan cenayang tinggi Guan seperti ini?"
Suara pukulan membuat kepala Luhan berputar kesamping dan sudut bibirnya mengeluarkan darah. "Cenayang Xi, anda melupakan bahwa disini akulah yang berkuasa." Ujar Kibum yang kini marah besar.
"Tapi anda melupakan bahwa Goryeo dalam kekuasaan Guan." Seringai mengejek tak lepas dari wajah Luhan yang mulai menampilkan memar dalam waktu singkat, menunjukkan betapa keras pukulan dari Kibum. "Yang seperti anda ketahui sendiri maksud perkataanku," Ia menekankan setiap kata yang terlontar dari mulutnya. "posisiku lebih tinggi dibanding raja kalian."
"Bunuh dia!" titahnya pada para pengawalnya. Kibum berbalik dan berniat melangkah kembali memasuki kediamannya sebelum tawa menghina Luhan menghentikannya. Wajah datar itu berubah menjadi ketakutan.
Semua tali besar yang mengikatnya perlahan-lahan mengurai dan menghilang bagai ditelan. Pandangan mata Luhan menjadi sangat mengerikan diikuti pupil matanya yang berubah merah. Dalam kedipan mata, Kibum tertarik dan berlutut dihadapan Luhan. Ia menepuk pelan wajah sang pangeran dan segera mengembalikan tamparan kerasnya.
"Bagaimana mungkin pangeran hina sepertimu membunuhku?" Ujar Luhan lirih, ia berdiri dan membuat Kibum terikat dikursi yang tadinya diduduki. "Bahkan rajamu tak bisa membunuhku, hmm?" ia mengibaskan pakaiannya dari debu dan tersenyum licik. "Aku bisa menurunkanmu dari gelar serta takhtamu sekarang dengan sekali jentikan jari terlebih lagi, aku mempunyai bukti kaulah yang membunuh Kyuhyun."
"Kau tidak mungkin…." Seruan Kibum segera terhenti dengan kibas tangan Luhan.
"Apa yang tidak mungkin untukku, Kibum-ah." Luhan berucap dengan nada sinis luar biasa dan duduk dipangkuan Kibum seraya mengusap wajah tampan itu. "Sekarang jagalah sikap dan langkahmu dihadapanku karena aku bukanlah Luhan yang kau tangkap semalam." Ia mengecup singkat bibir Kibum sebelum menghilang dalam kedipan mata.
*The Past*
"Hyung!" teriakan Kai membuat semua mata menoleh ke arah pintu masuk kediaman Chen. Ia segera menghambur dan memeluk Luhan erat, hampir terisak. "Aku sangat mengkhawatirkanmu! Kenapa kau tidak kembali?"
Luhan menyentak Kai hingga terhuyung dan ditangkap oleh Sehun yang kini mendelik kesal padanya. Ia hanya mendengus dan melenggang memasuki kediaman Chen lebih dalam.
"Hyung, ada apa denganmu? Kau terlihat berbeda?" seru Suho yang kini menjaga jarak dengan Luhan.
Luhan berbalik, mengamati satu persatu wajah yang menatapnya intens. Ia terkikik. "Aku berbeda?" ulangnya jenaka, tapi segera berubah menjadi datar. "Karena aku bukan Xi Luhan dari masa depan, siapa pun namamu. Aku Xi Luhan, cenayang Guan dari masa ini." ia melanjutkan langkahnya tapi kembali berbalik. "Satu lagi, aku tidak peduli dengan semua kebaikan Luhan yang kalian kenal. Tapi, akulah yang sekarang menguasai tubuh ini. Jadi, hentikan sikap ketidaksopanan kalian."
Tak ada yang berbicara, Suho dan Kai memandang Luhan horror. "Apa cenayang ini tak punya satupun pelayang?" teriakan Luhan dari sebuah ruangan membuat Lay dan Kris segera masuk dan memulai apa yang memang mereka lakukan dari dulu. Melayani Luhan.
"Apa kau bodoh? Kau menyakitiku!" cacian Luhan membuat Lay tersentak dan menunduk dalam ketika membersihkan lukanya. Ia mengangkat wajahnya dari Lay dan menemukan ekspresi sedih dari Kai dan Suho tapi tidak peduli sama sekali.
Ia memperbaiki duduknya setelah Lay selesai. "Yang mana bocah yang bernama Sehun itu?" Sehun berjengit tidak suka tapi tidak bisa berkata apa-apa dan maju menunjukkan dirinya. Luhan mendecih sebal sebelum beralih ke arah Kyungsoo, Baekhyun, Lay dan Chen. "Kalian bersihkan tubuh pangeran Kyuhyun sebelum kalian bawa kehadapanku, pastikan ia tidak menguarkan bau bangkai atau balsam apapun."
"Maaf tuan."
"Jangan bertanya dan lakukan saja." Chen segera menutup mulutnya dan pergi bersama yang lain. kini Luhan beralih pada Sehun yang berdiri dihadapannya. Ia berdiri dan mengitari Sehun yang terlihat risih.
"Apa yang mengganggu anda…tuan?" tanya Suho mewakili Sehun yang tak memiliki kuasa apapun terhadap Luhan. Ia juga terdengar canggung mengatakan tuan kepada Luhan.
"Kalian pergilah ke hutan yang terletak di belakang kediamana Kibum. Carilah cawan itu, Luhan yang kalian kenal menyembunyikannya disana." Perlahan semua orang mulai meninggalkan ruangan yang terasa berat dan mengerikan. "Semuanya terkecuali gisaeng itu dan Sehun."
Kai menghela napas kasar dan berhenti sebelum mendekati Luhan yang masih berdiri angkuh ditengah bersama Sehun. "Apa yang tuan perlukan?"
"Ada sebuah pisau belati di pavilion istana, aku melekatkannya dibalik meja. Aku mau kau mengambilnya beserta beberapa barang-barangku. Pastikan kau tidak terlihat oleh Kibum." Titahnya dan segera dituruti Kai dengan senang hati untuk menghilang dari hadapan Luhan.
Sehun tetap berdiri dengan pandangan yang tidak menutupi rasa jengah dan risih ketika Luhan memutarinya sembari memperhatikannya secara intens. Rasa tidak sukanya bertambah ketika cenayang itu menggumamkan sesuatu dalam bahasa Guan dengan nada merendahkan. Ia sedikit terkejut ketika sebuah kursi mengenai belakang lututnya dan membuatnya terduduk. Keterkejutannya bertambah saat Luhan duduk dipangkuannya, membelai wajah dengan senyuman yang jauh dari normal dan mencium paksa bibirnya.
Tanpa kata, Luhan bangkit dari posisinya dan meninggalkan Sehun yang masih terpaku di ruangan itu. mengusap bibirnya pelan, mencoba menelan informasi tentang apa yang barusan terjadi padanya.
Malam menjelang, Min Seok kembali ke kediaman Chen dan tidak sengaja memasuki ruangan dimana Luhan yang tengah memakai pakaian kebesarannya. Membuatnya segera berbalik, berniat keluar sembari menyemburkan permintaan maaf. Namun pintu itu sama sekali tak terbuka dan membuatnya terkunci bersama Luhan yang terlihat tidak keberatan sama sekali.
"Apa kau sudah menemukan cawannya?" tanya Luhan sembari memakai pakaian dalamnya. Ia menahan tawa meremehkannya ketika Min Seok menoleh sedikit dan cepat-cepat menyembunyikan wajahnya. "Dan apakah akan terus menerus menunjukkan punggungmu padaku?"
Min Seok berbalik dengan setengah hati dan cukup menyukuri bahwa Luhan sudah setengah berpakaian. "Maaf Cenayang Xi, hamba belum dapat menemukan cawan tersebut. Malam ini, pencarian akan tetap dilaksanakan."
"Batalkan! Jika kau terus melanjutkannya, pengawal Kibum akan menyadari pergerakan kalian dan ikut berburu cawan itu." sergah Luhan, sebuah suara klik keras dan pintu mengayun terbuka membuat Min Seok menoleh. "Suruh yang lain membawa mayat Kyuhyun keluar dan tempatkan tepat dibawah bulan." Min Seok mengangguk dan segera keluar tanpa bertanya. Sedangkan Luhan mengambil belati dibalik lengannya dan mulai mengasahnya.
Jasad Kyuhyun diletakkan sesuai dengan perintah Luhan. Membuatnya terlihat jelas dengan kulit melekat pada tulangnya dan terlihat kering. Semuanya kecuali Luhan yang tengah menatap jijik jasad dihadapannya telah berdiri mengelilinginya dengan kain merah tertarik dari perut Kyuhyun yang dililit.
Luhan mulai berucap dengan bahasa yang tak dimengerti siapapun, ia melepas pakaian atas Kyuhyun dan mengayunkan belati yang telah diasahnya, membelah melintang dada Kyuhyun. Tak ada yang keluar dari perut itu mengingat Kyungsoo, Kris, Tao dan Chen telah mengeringkan cairan tubuh itu sebelumnya.
Kain merah yang dipegang semua orang mulai tertarik dan seruan Luhan yang memerintahkan mereka untuk menahannya segera dipatuhi. Tangan lentik Luhan mulai membuka irisan itu dan menggenggam jantung yang sudah lama tak berdetak itu.
Luhan menusuk jantung itu dengan kuku cukup dalam sehingga membuat lubang kecil dan dengan gerakan cepat, ia mengiris telapak tangannya. Membiarkan darahnya yang menetes melumuri jantung itu dan merembes melalui lubang yang dibuatnya.
Luhan mundur perlahan sembari menahan darahnya yang terus menetes menjauhi jasad itu dan keluar dari lingkaran yang buat oleh yang lain. "Lepas kainnya," ujar Luhan lirih pada Chen disampingnya. Chen segera melepasnya dan diikuti oleh yang lain. Mereka menyaksikan kain-kain itu membalut jasad Kyuhyun sepenuhnya.
"Apa yang terja…" Chen hendak bertanya ketika ia menemukan Luhan sudah tergelatak pingsan di tanah yang kotor. "CENAYANG XI!"
*The Past*
Ringisan kecil membuat semua kepala menoleh ke sosok Luhan yang menggeliat kecil diranjangnya, masih di kediaman Chen. Mata rusa itu perlahan terbuka dan menguap lebar, ia mengerjap dan duduk ditepi ranjang sebelum menyadari semua tatapan.
"Ada apa?" tanya Luhan sembari menggaruk kepalanya tapi, gerakan itu terhenti. Luhan menatap aneh semuanya. "Bagaimana aku bisa disini? Bukankah aku ditangkap Kibum?"
"Luhan hyung?" panggil Kai ragu-ragu. Ia mulai mendekati Luhan. "Luhan hyung, itu kah kau?"
"YAK KKAMJJONG, APAKAH KAU BUTA SAMPAI TAK MENGENA…" seruan Luhan terhenti ketika Kai menerjangnya dalam sebuah pelukan.
"HYUNG, JANGAN BIARKAN CENAYANG XI YANG SATU LAGI KELUAR. CUKUP SEHARI SAJA IA KELUAR! IA SANGAT MENGERIKAN!" racauan Kai membuat Luhan tersadar akan mimpinya. Mimpi buram tentang dirinya yang sangat otoriter dan menakutkan yang ternyata sebuah kenyataan.
"J..j..ja..di, cenayang sebenarnya keluar?" Mereka mengangguk kaku, Luhan segera menghempaskan Kai membuat bocah itu menghantamkan bokongnya dengan lantai keras. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh arah hingga yang dicarinya ditemukan. "YA TUHAN, AKU….AKU…AKU MENGHIDUPKAN SESEORANG! AKU MELANGGAR HUKUM ALAM! AKU MENGHIDUPKAN SESEORANG YANG SUDAH MATI! AKU... " tamparan keras dari Suho membuat Luhan menoleh ke arahnya. "YAK KENAPA KAU MELAKUKAN ITU?"
"Duduklah hyung!" pinta Suho yang segera menyeret Luhan untuk duduk. "Kau menghidupkan pangeran Kyuhyun pasti ada sebabnya?"
"Dan kalian harus menjelaskan kenapa aku bisa mati dan terbangun dengan teriakan histeris kalian?" suara Kyuhyun membuat Luhan memekik dan menggelung dirinya ketakutan.
"Sebaiknya, pangeran Kyu Hwa tidak bicara terlebih dahulu. Luhan hyung…tidak, kami masih merasa ketakutan mendalam karena anda." Ucapan Min Seok membuat Kyuhyun menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kenapa kau menghidupkan Kyuhy…SAKIT!" teriak Kai ketika mendapatkan pukulan keras dikepalanya. Ia beringsut menjauhi Suho dan mendekati Kyungsoo, mencoba mendapatkan perhatian dengan sentuhan kasih sayang. Jangan lupakan delikan Sehun yang menatap tak suka pada Kyungsoo.
Pertanyaan tak terselesaikan dari Kai membuat Luhan termenung memikirkan jawabannya. Ia memandang kosong sosok sang pangeran yang menatapnya bosan. "Karena…dia darah ketigabelas."
Lama terdiam, Lay berucap dengan sedih. "Berarti seluruh darah yang diperlukan sudah terkumpul. Jika Luhan ge kembali ke masanya, yang menempati tubuh itu.." Lay, Tao dan Kris saling pandang dengan tatapan takut. "Apakah bisa Luhan ge tidak kembali? Aku lebih suka Luhan ge daripada cenayang Xi!"
Tak ada yang memungkiri bahwa mereka semua menyukai sosok Luhan daripada cenayang Xi tapi gelengan dari Luhan, Suho dan Kai membuat mereka tak berkutik. "Xiumin hyung, aku menyembunyikan cawan Yeon Cha dibawah pohon besar tak jauh dari kediaman Kibum." Ujar Luhan lambat-lambat.
"Akan saya ambilkan." Sahut Min Seok yang segera pergi. Tak lama Sehun, Kris dan Chanyeol pergi meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Kyungsoo dan Sehun.
"Lay. Tao. Aku tahu kalian tidak menyukai sikapku yang lain tapi aku yakin dia akan merubah sikapnya." Ungkap Luhan merasa sedih dengan sisinya yang lain.
"Kalau kau tidak menyukai posisi kalian ketika cenayang Xi kembali." Ucapan Kyuhyun membuat mereka menoleh ke arahnya. "Aku bisa membebaskanmu darinya."
"Kalian bisa tinggal disini, aku juga akan sering ke Guan mengingat aku seorang pedagang." Seru Chen ceria, menawarkan bantuan. "Keahlian kalian juga sangat membantu."
Luhan hanya mampu tersenyum memandang kedua pelayannya sendu. Setidaknya ketika ia kembali, Lay, Tao dan Kris mempunyai tempat lain untuk bersandar jika saja dirinya yang lain tetap menjadi dirinya. Ia perlahan pergi meninggalkan ruangan itu meskipun ia sadar seluruh pasang mata menatap punggungnya.
Langit masih gelap tapi Luhan tahu bahwa sebentar lagi matahari akan segera terbit. Ia menghirup udara segar dan menatap langit yang pekat. Ia berharap Min Seok akan segera menemukan gelas yang bisa membuatnya pulang.
Bukannya ia tidak menyukai kehidupan dimasa ini, hanya saja ia tidak berasal disini dan apapun yang bukan pada masanya tidak seharusnya bertahan lama. Selain itu, ia lebih memilih Sehun yang menyanyanginya daripada Sehun yang menyukai Kai.
Suara derik pintu membuat Luhan menoleh dan menatap mata Sehun yang keluar dari sebuah ruangan. Tanpa sadar, Luhan mengalihkan pandangannya dan memainkan pakaian cenayang yang masih ia kenakan. Entah mengapa, ia tidak sanggup menoleh ke arah Sehun yang mendekatinya. Mungkinkah ia terlalu sakit atas sikap yang ditunjukkan Sehun terhadap Kai secara tidak sadar?
"Sebaiknya Cenayang Xi kembali kedalam, angin malam tidak sehat untuk kesehatan anda." Pintanya lembut.
Luhan menggeleng masih tidak menatap Sehun. "Aku tidak bisa. Melihat Lay dan Tao membuatku sedih. Tapi aku tak bisa melakukan apapun Sehunna." Luhan mengangkat wajahnya dan membuat pergerakan yang mengagetkan Sehun. Ia segera menangkup wajah Sehun dan mengecup bibir ranum itu sekilas. "Anggap saja ucapan perpisahan, my darling."
Sosok itu masih terpaku ketika Luhan berjalan menjauhinya menuju sisi lain dari halaman kediaman itu. Sehun menatap punggung sempit milik Luhan tak kalah sendu. "Aku harap bisa mengenalmu lebih jauh, Cenayang Xi." Ujarnya dan memasuki ruangan dimana semuanya berkumpul.
Penantian Luhan berhenti ketika lembayung jingga mulai nampak di timur dan Chen menghampirinya. "Luhan hyung, Jenderal Choi Young telah kembali dan meminta anda untuk melihat keaslian dari cawan Yeon Cha."
"Jja, bantu aku berdiri, Chen-ah." Pinta Luhan sembari mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Chen. Mereka berjalan berdampingan menuju aula utama dikediaman Chen. "Chen-ah, apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu tadi?"
"Maafkan saya, Luhan hyung tapi ucapan apa yang anda maksudkan?"
"Tentang kau membiarkan Lay, Kris dan Tao berada disini?"
Chen tersenyum hangat. "Tentu saja, Luhan hyung. Mereka akan menjadi sahabat baik yang setia, meskipun ingatan tentang Tao yang memukuliku di pasar Guan selalu teringat ketika menatapnya." Ia mengakhirinya dengan tawa. "Tapi tidak bisa memungkiri bahwa mereka akan menjadi obat untuk kesepianku di kediaman sebesar ini."
Luhan memandang Chen penuh arti. Kini ia menyadari sorot bahagia dari diri Chen yang selalu terdiam ketika mereka berkumpul di rumah ini. Pria tampan itu terlalu kesepian didalam rumahnya yang terlalu besar tanpa kawan yang bisa diajaknya bicara.
Perlahan, Luhan bisa melihat warna kuning menguar dari tubuh itu. Ia sedikit terkejut dengan warna yang tiba-tiba muncul namun suara dikepalanya yang mengatakan apa arti dari warna tersebut menenangkannya. Ia tersenyum dan menggenggam tangan Chen menuju aula utama.
Sebuah gelas bening berdiri kokoh di tengah ruangan, semua mata memandangnya dengan rasa keingintahuan yang besar. Min Seok berdiri ketika Luhan memasuki ruangan. "Apakah ini cawan Yeon Cha yang anda maksud, tuan?"
Luhan menatap gelas berkaki itu dengan teliti, suatu warna coklat menguar dari benda mati itu dengan aura berat yang melingkupi ruangan membuatnya menganggukkan kepala. Perasaan aneh karena melihat warna yang menguar dari tubuh semuanya membuat kepalanya berputar dan aura berat itu membuat nafasnya tersengal. Namun lagi-lagi suara di kepalanya membuatnya harus kembali tenang.
"Kkamjjong-ah, bisakah kau mengambilkan sebuah belati dari…" kalimat Luhan terhenti ketika Kai meletakkan belati putih yang seharusnya tersimpan dibalik meja di pavilion istana. "Bagaima.."
"Cenayang Xi yang satu lagi sudah menyuruhku mengambilnya. Sepertinya belati itu sangat sakti?"
Luhan tidak memperdulikan ucapan Kai dengan segera mengiris lengan Min Seok melintang dan membiarkannya menetes di dalam gelas itu. Pekikan kaget dari beberapa orang tak mengurungkan Luhan menjauhkan lengan Min Seok dari gelas itu hingga menumpuk kecil didasar gelas.
Ia melepaskan tangan Min Seok yang segera di ambil alih oleh Lay dengan wajah yang masih terlihat kaget. Dan tanpa kata ia mengiris tangannya dan melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan pada Min Seok, setelah itu menyodorkan belati itu pada Kris yang segera mengiris lengannya juga.
Luhan memperhatikan semuanya dengan sedih tapi juga bersemangat. Ia tidak sabar untuk pulang dan menikmati hidupnya dalam sorotan kamera, seluruh kemewahan peradaban dan tentu saja Sehun-nya. Tapi ia juga tidak bisa memungkiri bahwa ia sedikit sedih meninggalkan Lay, Kris, dan Tao dalam ketidakpastian. Ia hampir meneteskan air mata ketika Sehun mengiris lengannya dan memberikan belati itu kepada Kyuhyun sebagai orang terakhir.
"Ugh! Aku tidak menyangka akan meminum darah seperti vampire." Keluh Kai dengan ekspresi jijik dan sedikit meringis ketika tidak sengaja mengiris lengannya terlalu dalam dan harus dibebat. Luhan mendelik kesal pada Kai yang masih sempat-sempatnya berkomentar dan mengambil gelas itu. namun ketika jari Luhan bersentuhan dengan kaki gelas itu, semua darah yang terkumpul memudar menjadi air bening biasa. "Wow, kurasa kau benar-benar cenayang hyung."
Ada sebersit keraguan dihatinya perihal cara kembali mereka. ia mempunyai ketakutan tentang air yang akan diminumnya ini gagal membawanya pulang atau lebih buruknya, malah semakin melemparnya jauh ke masa lalu.
Ia menatap seluruh wajah familiar yang sebentar lagi akan ditinggalkanya dengan wajah pucat. Mungkin ia terlalu takut dengan segala kemungkinan. Luhan mendekatkan bibirnya ke ujung gelas dan meneguknya sedikit serta memberikannya pada Suho yang menatapnya penasaran namun ikut menenggaknya, begitu pula dengan Kai.
Luhan hampir saja jatuh jika saja Min Seok dan Sehun tidak menangkapnya, pandangan matanya mengabur dan kepalanya terasa berat. Ia berjuang melawan rasa sakit yang menyerang dadanya dan mengambil seluruh oksigen dari paru-parunya. "Jangan melawannya, Luhan. Ketika kau bangun kau sudah kembali." Suara dikepalanya kembali berucap dan mau tidak mau ia menurutinya.
*The Past*
Lampu neon putih menghampiri pandangan Luhan ketika ia pertama kali membuka matanya. Terbaring dalam ruangan serba putih serta selang infus dan alat bantu nafas terhubung ke tubuhnya. Tangan perlahan naik menekan pelipisnya dan menyadari sebuah kain membebat kepalanya.
"HYUNG, KAU SUDAH SADAR!" pekikan Baekhyun segera disambut suara Chanyeol yang memanggil dokter seperti orang gila. "Ya tuhan, hyung. Kau membuat kami takut. Sudah seminggu kau tak sadar!"
"Sogogi," ujarnya pelan, tenggorokannya terasa kering dan sakit untuk bicara. "Jangan teriak. Kepalaku sakit."
"Oh, ya. Maaf."
Baekhyun segera menyingkir dan digantikan pria tua dalam jas putih yang memeriksa seluruh tubuhnya. "Luhan baik-baik saja." Ucap dokter itu terlihat takjub. "Aku tak menyangka 3 orang dari kalian akan sadar di waktu yang sama."
Luhan mengeryit heran. "Tiga orang. Seingatku hanya aku yang bertengkar dengan Sehun?"
Chanyeol mendecih. "Yah hanya hyung yang bertengkar hingga berdarah-darah, tapi Kai dan Suho hyung pingsan karena terlalu lelah menjaga hyung." Ia memekik sakit ketika Baekhyun menyubit perutnya.
"Kau membuat Luhan hyung merasa bersalah." Maki Baekhyun sebal. "Jangan khawatirkan masalah itu hyung. Mereka terlalu egois untuk menjaga dirimu sendirian. Sebaiknya hyung istirahat saja."
"Sehun? Dimana Sehun?"
Baekhyun dan Chanyeol mendesal kesal. "Dia ada di dorm, hanya saja ia sedikit sakit karena merasa bersalah pada hyung." Ungkap Baekhyun dengan senyuman lelah. "Tenang saja, Sehun akan segera menerjangmu dengan air mata berleleran kemana-mana."
Dan benar saja setengah jam kemudian, Sehun menerjang pintu ruang rawatnya dengan air mata mengucur deras dan segera memeluk Luhan dengan gumaman permintaan maaf. Luhan harus berteriak minta tolong ketika Sehun memeluknya terlalu keras hingga mencekiknya.
"Bagaimana keadaanmu Luhan?" tanya Xiumin yang memijit pelipisnya pelan. "Kau tak tahu bencana apa yang disebabkan bocah sialan ini kepada kami semua."
"Maafkan aku hyung." Ujar Sehun masih terisak di sudut ranjang Luhan.
"Yah. Yah. Yah. Aku sudah lelah mendengarmu minta maaf selama seminggu ini." sahut Chen jengah juga. "Jangan terlalu menyalahkan diri."
Tepat ketika Chen menyelesaikan kalimatnya. Kai dan Suho masuk berserta para penjaga mereka, membuat kamar rawat Luhan penuh sesak. Luhan tersenyum menyambut mereka.
"Akhirnya kau sadar juga hyung!" seru Kai bahagia.
"Kita juga baru sadar hari ini, Kkamjjong!" sahut Suho yang segera menghempaskan dirinya ke sofa empuk di sudut ruangan. "Aku harap manager mau memberikan libur beberapa hari lagi untuk beristirahat." Semuanya mendesah menyetujui, tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya jadwal mereka kedepan terlebih lagi ditambah dengan jadwal kepopularitasan mereka yang disebabkan insiden Luhan.
Luhan mengelus puncak kepala Sehun dengan penuh kasih sayang. "Kenapa kau menekuk wajahmu Sehun?" bocah itu masih terdiam. "Sudahlah, jangan kau pikirkan lagi. Ini bukan salahmu, ini hanya kecelakaan."
"Wow, kukira Luhan hyung akan memarahi Sehun habis-habisan." Bisik Chanyeol pada Baekhyun tapi bodohnya ia, semuanya masih bisa mendengarnya.
"Tidak ada yang bisa marah pada Sehun jika bocah itu sudah memasang wajah seperti itu, terlebih lagi air matanya hanya berhenti ketika tidur." Balas Baekhyun sedikit prihatin.
Luhan yang mendengar itu merasa setengah sedih karena keadaan Sehun lebih kurus daripada terakhir kali ia ingat dan setengah bahagia karena Sehun sangat menyesali perbuatannya juga sangat memperhatikannya.
"Kau kenapa KKamjjong?" pertanyaan Kris membuat Luhan menoleh.
Kai melihat Sehun sekilas dan bergidik ngeri. "Tidak, hanya masih mengingat mimpi burukku tadi. Aku tak mau itu terjadi."
"Aku juga punya mimpi buruk." Suho mendesah lega. "Tapi setidaknya aku sudah bangun."
"Mimpiku tidak buruk tapi berakhir buruk dengan tawa Chanyeol." Sahut Baekhyun yang mendelik sebal pada couple-nya yang satu itu.
"Mimpiku juga berakhir buruk dengan lengkingan Chen." Timpal Xiumin tak kalah sebal.
"Hey, aku takkan berteriak kala…"
"Berhenti bicara mimpi buruk, aku lelah!" seru Kris yang memang terlihat sangat lelah yang segera kembali membaringkan tubuhnya di sofa sebelah Suho.
Aktivitas mereka kembali seperti semula dan Luhan sangat bersyukur ketika mimpinya selama ia koma hanya sekedar mimpi. Mimpinya tentang menjadi cenayang dan petualangan tidak masuk akal yang harus ia alami selama ia tertidur menjadi momok yang menakutkan untuknya kembali tertidur.
Tapi hal-hal aneh kini ia alami. Berbagai aura-aura yang membuat matanya lelah serta kepalanya yang pusing terus ia alami. Terkadang suatu gambaran aneh pernah ia lihat ketika sedang berlatih menari, membuatnya membatu di tengah latihan.
"Istirahatlah hyung." Ujar Sehun sembari memberikan sebotol minuman yang segera ditenggak habis oleh Luhan.
"Kenapa gege terus terlihat bingung?" seru Tao dari sudut ruangan.
Luhan harus mengerjapkan matanya beberapa kali ketika melihat aura cherry pink memancar dari Tao sebelum akhirnya hilang. "Hanya sedikit pusing."
"Mungkin kepalamu harus diistirahatkan lebih lama." Sahut Suho, khawatir.
"Tidak apa-apa." Luhan menggeleng lemah dan beralih ke Sehun. "Aku mau membeli minuman, kau mau apa Sehunna?"
Sehun terlihat khawatir tapi ia segera tersenyum. "Teh saja, hyung."
Luhan segera keluar dari ruang latihan mereka dan menuju mesin minuman di lantai dasar. Ia segera memasukkan uang koin dan mengambil beberapa kaleng minuman sebelum berbalik menuju lift yang mengantarnya ke lantai ruang latihannya.
"Apa kabar Kyuhyun sunbae-nim?" sapanya.
"Baik. Bagaimana denganmu?" ujarnya ketika Luhan selesai menekan tombol. "Kau baru saja membeli minuman?"
"Aku baik sunbae-nim, hanya terkadang sedikit pusing." Balasnya dan memberikan sekaleng kopi kepada Kyuhyun.
"Hmm terimakasih. Sebaiknya kau mengistirahatkan dirimu."
"Iya sunbae-nim." Balas Luhan dan segera menunduk hormat ketika Kyuhyun keluar dari lift.
"Oh ya." Kyuhyun berbalik sebelum pintu lift kembali tertutup. "Tidak baik seorang Cenayang Xi terlalu lelah."
END
This is the end of The Past. Review juseyo!
