MUAHAHAHA...Malam Minggu Tiba, waktu publish massal pun dimulai...

Chapter 10 : Just Live With This

Setelah berkeliling sekitar tiga ratus meter dari lapangan, aku mulai menyadari perasaan mengganjal seperti ada seseorang yang membuntutiku. Aku menoleh ke belakang namun, aku tidak melihat apapun yang ganjil. Aku kembali berjalan pelan sampai tiba-tiba kuputuskan untuk melihat ke arah atas. Dan betapa terkejutnya aku mendapati Miko yang telah ada di atas atap gedung di sampingku dengan kepala melihat ke arahku dari pinggiran pagar pembatas atap.

" OI! SIALAN, KENAPA KAU MEMBUNTUTIKU, HAHH?! " Aku berteriak ke arahnya, kenapa selalu saja dia yang menggangguku coba?!

" KERJAANKU DISANA SUDAH SELESAI, AKU TAK PUNYA KERJAAN LAGI. JADI AKU MENGIKUTIMU. " Apa yang dia bicarakan? Seenaknya saja dirinya.

" HEI, JANGAN SEENAKNYA SAJA MEMBUNTUTIKU HANYA KARENA KAU BOSAN. AKU INI SEDANG BERTUGAS TAHU, JANGAN MENGGANGGKU!!! " Setelahnya kudapati dia segera menggunakan quirknya untuk terbang turun dan berdiri di depanku.

" Tenang saja, aku juga tidak mengganggumu dari tadi, kan? Lagipula kenapa kau tidak berpatroli dari udara? Kalau dari udara kan lebih baik daripada dari darat, apalagi kalau kau dapat membuat daerah penglihatanmu semakin luas dari atas. " Dia menyahutiku dengan santai seolah-olah dia tak melakukan kesalahan apapun, benar-benar menyebalkan.

" Huh, kau pikir aku tidak tahu. Aku tak bisa seperti itu tahu! Kemampuan terbang quirkku terlalu mencolok dan mengganggu penduduk, mana bisa aku menggunakannya dengan bebas tanpa melanggar aturan. " Pandangan matanya terlihat terkejut ketika mendengar jawabanku.

" Hah! Kau ternyata tipe orang yang masih bisa taat aturan, ya. Tak kusangka banget, padahal tampangmu begitu. "

" Memangnya kau pikir aku ini orang yang bagaimana, hah?! Sudahlah kau lebih baik cepat pergi, aku masih sibuk berurusan denganmu. " Kataku sambil berbalik dan berjalan meninggalkannya.

Namun, anehnya tak lama setelah itu kakiku yang hendak melangkah tiba-tiba tidak merasa berpijak diatas aspal yang kulewati, hal ini diikuti dengan sensasi tarikan aneh di punggungku yang memaksa tubuhku terangkat ke udara. Seketika aku melihat kebelakang, dan anehnya kenapa tiba-tiba ada SEPASANG SAYAP BURUNG ANEH DI PUNGGUNGKU COBA ?!! Merasa tahu akan pelakunya aku segera mencari sosoknya yang kini juga berada di udara sepertiku.

" SIALAN KAU!!! CEPAT TURUNKAN AKU BRENGSEK!! SUDAH KUBILANG JANGAN MENGGANGGUKU PATROLI, BODOH! KAU MAU MATI, YA?!! HAAHHH!!! " Aku meronta-ronta di udara. Tapi tindakanku itu masih belum dapat membuat diriku lepas dari ulah gadis gila ini.

" KAU INI TENANGLAH! AKU HANYA INGIN MEMBAWAMU KE TEMPAT YANG LEBIH EFISIEN UNTUK PATROLIMU ITU, BODOH!! JADI DIAMLAH DAN TUNGGU BAIK-BAIK!!!

" Dia malah tidak memperdulikan perkataanku dan seenaknya menerbangkanku bersamanya. DASAR MENYEBALKAN!!! Sebenarnya kemana dia mau membawaku, sial?!

" AKU TAK MEMBUTUHKAN BANTUANMU, SIALAN! CEPAT TURUNKAN AKU SEKARANG!!! " Setelahku berteriak seperti itu, tiba-tiba saja tarikan di punggungku menghilang.

Seketika itu kakiku bertemu dengan pijakan baru. Aku yang merasa terkejut segera melihat sekelilingku, dan tanpa kusadari sekarang dapat melihat hampir seluruh bagian kota dari atas sini. Ditambah lagi, jalur rute patroliku dapat dilihat dengan jelas dari sini.

" Bagaimana? Baguskan pemandangannya? Dari sini hampir seluruh kota dapat terlihat jelas, bahkan rute yang biasa kau kelilingi itu juga dapat dilihat dari sini. Aku tak tahu denganmu, tapi menurutku kalau aku ingin mengawasi kota lebih baik aku melakukannya dari sini. Daripada berkeliling tidak punya tujuan seperti yang kau lakukan. " Katanya yang kini telah berdiri di sampingku sambil melihat ke arah kota di bawah kita.

" Huh, jangan seenaknya pamer kemampuan quirkmu kepadaku hanya untuk hal seperti ini. Lagipula bagaimana juga aku bisa tahu kalau tempat seperti ini juga ada? Aku bukan dari daerah sini tahu! " Tanggapku padanya yang kini masih menatap ke pemandangan yang membentang di depan kami.

" Yaelah, kau ini. Karena itu kau kutunjukkan tempat ini, Bodoh. Lagipula kau bisa naik ke tempat ini tanpa menggangu orang. Gedung tempat kita berdiri ini itu sebenarnya kosong, aku tak tahu kenapa bisa dibiarkan seperti ini. Tapi yang jelas dari sini pekerjaan untuk mengawasi kota jauh lebih efisien, kan? " Jelasnya. Mengesalkan, kata-katanya itu memang ada benarnya. Tapi aku tidak mau mengakuinya karena ulahnya yang seenaknya tadi.

" Tch, dasar sialan. Kalau kau hanya ingin menunjukkanku ini kenapa juga kau membawaku dengan cara seperti tadi, bodoh? Kalau aku orang lain kau bisa di tuntut tahu!! "

" Tentu saja karena cara tadi itu lebih mudah dilakukan daripada aku harus menjelaskan dengan detail ke dalam kepala landakmu yang keras itu. Lagipula, kau bukan orang lain yang suka merengek untuk menuntut itu. " Aku hanya membalasnya dengan berdecih, kami pun diam dan mulai melihat ke arah kota. Sesekali kami berganti posisi mengelilingi pagar tepi gedung untuk melihat dari sisi yang lain.

Kami terus melakukan hal seperti tadi sampai waktu patroliku habis dan sekarang waktu untuk kembali ke kantor telah tiba. Aku menolak dengan keras ajakan / ledekan Miko yang akan membuatku turun dengan quirknya. Tch, amit-amit! Segera saja aku menggunakan quirkku sendiri untuk mendarat turun dari gedung dan berjalan menuju ke arah kantor bersama Miko yang kini juga ikut berjalan di samping kananku. Dasar cewek menyebalkan.

~~~~~~

Waktuku yang tersisa di kantor hari ini terasa berjalan sangat cepat. Setelah selesai latih tanding sore dengan Miko yang mana tentu aku 'menangkan', aku bersiap-siap untuk pergi ke penginapanku seperti biasanya. Tapi, sebelum aku dapat pergi keluar dari ruangan latihan ini, Hairy tiba-tiba saja memanggilku sesaat setelah ia menjawab telponnya. Aku harap ini bukan sesuatu yang merepotkan, hari ini aku sudah cukup dengan hal-hal yang menguras banyak energi. Satu-satunya hal yang ingin aku lakukan setelah ini adalah segera makan malam dan tidur dengan tenang.

" Dik Bakugou, tadi saya habis menerima telepon dari tempat penginapan anda. Sayangnya mereka tiba-tiba ikut berpartisipasi menggelar festival tahun ini. Mereka bilang kalau mulai dari hari ini mereka akan tutup. " Aku merasa seperti ada bunyi guntur di belakangku setelah mendengar berita ini. Bagaimana tidak?! Setelah aku sering berkeliling di daerah ini, penginapan yang kutempati itu adalah satu-satunya penginapan terdekat dari kantor ini.

" Kalau begitu aku akan tinggal di kantor saja. " Aku memaksa diriku untuk cepat mencari solusi dari masalah yang tiba-tiba mendatangiku ini. Lagipula, kantor kepahlawanan ini terlihat cukup layak untuk tempat tidur malam.

" Oh, oh...maaf tapi sepertinya saya tidak bisa mengijinkan anda untuk tidur disini. " Permintaanku langsung di tolak olehnya. Kenapa masalah ini semakin rumit? Padahal tempat ini sudah cukup untukku, masak aku harus tidur di jalan. Sebelum pikiranku berjalan lebih jauh lagi Hairy berbicara lagi.

" Saya menolak permintaan anda karena selama empat malam ini anda akan tidur di rumah saya. " Tambahnya dengan ceria.

" APAA?!!! " Tanpa sadar aku dan Miko yang masih berada di ruangan yang sama berteriak bersamaaan.

" Tunggu-tunggu, jangan seenaknya mengajak orang untuk tinggal di rumah tanpa sepertujuanku Mak Lampir. " Miko yang kini bangkit dari posisi duduknya di lapangan segera berdiri di hadapan Hairy.

" Itu benar, aku sendiri juga belum menyetujuinya. " Timpalku juga.

" Tentu saja bisa Miko, rumah yang kita tempati kan masih saya yang membayar seluruh tagihan bulanannya. Jadi itu bukti resmi kalau saya orang dewasa yang memegang tanggung jawab. Lagipula, saya tentu tak bisa membiarkan satu-satunya calon pahlawan yang magang disini tinggal bermalam di kantor yang dingin, kan? " Dia mengatakannya dengan nada yang seperti tak ingin untuk ditolak. Kami berdua yang mendengarnya merasa memiliki kesimpulan itu karena telah terbiasa dengan sifat aslinya. Merasa kalau hampir mustahil untuk mengganti pemikiran Hairy, aku dan Miko memilih untuk membiarkannya.

Diskusi mendadak itu segera kami akhiri dengan bersiap-siap untuk meninggalkan kantor dengan tenang.

~~~~~~

Dan sekarang, disinilah aku mendapati diriku berada di depan pintu rumah kecil yang kini telah terbiasa dengan penglihatanku. Sesaat sampai di depan rumah, Miko langsung masuk ke dalam tanpa mengatakan apa-apa, sedangkan Hairy sendiri mempersilakanku untuk segera ikut masuk ke dalam. Aku yang berdiri untuk mengambil gambaran sedikit akan rumah ini juga akhirnya berjalan mengikuti pahlawan di depanku.

Begitu sampai di dalam aku mendapati bahwa dekorasi yang menghiasi bagian rumah ini tidak terlalu terlihat feminim, justru dekorasinya terlihat normal dan terkesan tenang. Hairy menunjukkan kamar yang akan kutempati, dan betapa kagetnya aku ketika melihat siapa pemilik pintu kamar disampingku yang ternyata adalah Miko. Bagaimana aku mengetahuinya? Tentu saja semua orang akan tahu kalau itu kamar gadis itu kalau papan namanya saya tergantung tepat di depan pintunya.

" Hei, apa tidak ada kamar lain? " Tanyaku pada Hairy setelah tahu akan fakta tadi.

" Maaf dik Bakugou, kamar ini satu-satunya yang siap digunakan. Kamar tamu di rumah ini hanya sedikit, apalagi rumah kami memang tidak terlalu luas.

" Aku kecewa ketika mendengarnya. Setelahnya Hairy menyarankanku untuk segera mandi dan menunjukkan letak kamar mandinya yang ternyata berada di samping dapur dan ruang makan.

Di tempat itulah aku melihat Miko yang kini sibuk mengeluarkan bahan-bahan makanan dari dalam kulkas, tunggu jadi yang akan memasak makan malam itu dia.

" Ah, Miko makan malam hari ini apa? " Hairy tiba-tiba bertanya kepadanya.

" Kare dan kroket daging. Sudah sana cepat mandi! Aku masih sibuk mengurus makanan untuk tiga orang. " Jawabnya tanpa melihat kearah Hairy. Namun, Hairy hanya tersenyum dan menawariku mandi dahulu.

Aku menolak tawarannya dan menyuruhnya agar mandi sebelum diriku dengan mengatakan kalau aku biasanya dapat mandi dengan cepat. Segera setelah aku melihatnya menghilang ke kamar mandi, aku berjalan menghampiri Miko yang kini terlihat sedang mengupas kentang.

" Oi, untuk karenya biarkan aku saja yang mengurusnya. Kau urus saja bagian kroketnya. " Kataku tiba-tiba di hadapannya. Dia yang mendengar ini sesaat memasang muka terkejut lalu cepat-cepat ia hilangkan.

" Oh, ternyata kau juga bisa menawarkan bantuan, ya? Aku terkejut. " Sial! kali ini dia malah mencoba untuk meledekku.

" Dasar bodoh! Aku hanya tidak mau terganggu oleh keluhanmu kepadaku setelah ini. Lagipula bibimu itu juga seenaknya membuatku tinggal disini, jadi setidaknya ada yang harus kukerjakan. " Kataku sambil memotong-motong sayuran untuk kare yang akan kubuat.

" Jadi kau juga tahu sopan santun?! Astaga! Disaat seperti ini harusnya aku juga membalas kalau kau tidak boleh memasak karena kau tamu seperti orang-orang kebanyakan, TAPI tidak aku tidak akan mengatakan itu untukmu. Lakukan saja, lagipula yang membeli bahan-bahan memasak ini juga Mak Lampir, kalau nanti akan terbuang kau yang harus menghadapinya. " Huh, gadis tidak sopan. Dia tidak tahu sehebat apa kare buatanku.

" Tch, terserah kau mau berkata apa. Lihat saja nanti, kupastikan sampai sendok terakhir pun kareku tidak akan terbuang. "

Kami pun akhirnya sibuk memasak masakan masing-masing. Sejenak aku melihat cara memasaknya, ternyata dia luwes juga. Aku jadi hampir menyimpulkan kalau dialah yang selama ini memasak di rumah ini. Segera setelahnya aku mengalihkan perhatianku ke kare yang kumasak saat ini.

Tanpa kami sadari, kami menyelesaikan masakan kami di waktu yang bersamaan. Hairy yang telah selesai mandi mengatakan kalau dia yang kan menata peralatan makannya, dia menyuruh kami untuk mandi. Seperti saat dengan Hairy, aku menyuruhnya untuk mandi mendahuluiku. Entah kenapa hal ini tetap kulakukan, padahal biasanya aku sangat membenci kalau menjadi yang terakhir. Tapi sudahlah, lagipula aku juga ingin duduk istirahat sebentar.

Sekitar dua puluh menit kemudian, kami bertiga sudah duduk di meja makan. Kare dan kroket yang tadi telah dibuat telah tertata rapi di meja menunggu untuk siap dimakan.

" Waahh...aromanya sedap sekali. Ayo segera kita makan selagi hangat. " Hairy yang kini telah duduk di depanku berkata sambil menyendok makanannya. Aku dan Miko yang berada di sampingku segera mengikuti gerakan dari orang dewasa di depan kita itu.

Hal yang pertama kali kurasakan saat memakan masakan itu adalah terkejut. Aku tahu kalau kareku memang rasanya enak, tapi aku tak tahu kalau kroket daging rasanya bisa seenak ini bila dimakan dengan kareku. Astaga!! Dibandingkan kroket yang pernah kubuat rasa kroketnya sangat berbeda dari bayanganku. Bagaimana dia bisa membuatnya?!

Tanpa kusadari, sebenarnya apa yang kini ada di pikiran Miko sendiri juga hal yang sama dengan diriku. Aku begitu memperhatikan makananku sampai-sampai tak menyadari kalau ekspresi yang ia kenakan sekarang seharusnya kulihat.

" Enaakkk Sekaliii!!! " Suara Hairy tiba-tiba memecah keheningan sesaat diantara kami. Walaupun begitu aku secara diam setuju dengannya.

" Enak sekali! Sungguh!! Ini benar-benar menjadi makanan terenak yang pernah saya rasakan. Biasanya masakan Miko memang sangat enak, tapi ternyata dik Bakugou juga pintar memasak dengan baik sekali. Kalian berdua benar-benar kombinasi koki yang baik. " Wajahku memerah mendengar perkataannya, dan ternyata aku juga tak mengalami hal itu sendiri.

" HE..HENTIKAN!! JANGAN SEENAKNYA BERKATA MEMALUKAN SEMBARANGAN!!! " Sialnya lagi wajahku malah semakin memerah setelah aku berkata seperti itu.

" DIAMLAH MAK LAMPIR!! JANGAN MEMBUAT MALU DIRIKU DIDEPANNYA, DONK!!! " Miko memberikan protesnya walaupun dengan muka yang juga memerah.

" Sudah-sudah, tapi benar lho. Saya sangat bersyukur sekali ada kalian, kita jadi bisa makan malam dengan makanan seenak ini. Kalau saya yang memasak jelas tidak akan jadi seperti ini. " Kata-kata pahlawan ini membuat gadis di sampingku mendengus.

" Apaan?! Kalau kau dibiarkan memasak adanya kau hanya akan membunuh kita semua dengan masakan anehmu itu tahu! Bagaimana juga kau bisa membuat sup miso sampai berwarna keunguan seperti dulu itu masih menjadi misteri. Jadi, karena aku masih sayang nyawa lebih baik kau jangan memikirkan ide seperti itu lagi, kumohon." Haahh...sup miso ungu?! Benar-benar aneh, aku harap aku tak pernah memakan benda itu.

" Mikoo...jangan bicara seperti itu di depan tamu. Saya kan belum tahu kalau supnya dulu akan jadi seperti itu. " Hairy malah memberikan wajah pura-pura sakit hati kepada Miko, namun sepertinya hanya dibaikan mentah-mentah oleh keponakannya itu.

Makan malam pun berjalan lancar dengan disertai komentar dan cerita-cerita yang berasal dari kedua perempuan yang ikut duduk bersamaku ini. Sesekali aku juga ikut dibicarakan seenaknya, dan hal itu membuatku kesal dengan tindakan mereka. Malam pun semakin larut bersama selesainya kami makan.

~~~~~~

Tiba-tiba mataku terbuka dan keluar dari alam tidur yang kurasakan tadi. Melihat pemandangan dari kamar yang sementara kutempati ini masih gelap gulita kusimpulkan kalau ini masih dini hari. Aku merasa tenggorokanku terasa kering. Dengan malas aku menendang selimutku kesamping dan bangkit dari ranjang ini untuk mengambil segelas air dari dapur, lalu kembali tidur lagi.

Beberapa langkah lagi sebelum aku mencapai dapur di rumah ini, hal yang tak kupikirkan adalah bahwa lampu di dapur ternyata menyala dan kalau kau memasang telinga baik-baik kau dapat mendengar bunyi ketikan laptop. Aku memutuskan untuk melihat siapa orang yang membuat suara itu, pikiran pertamaku pada saat itu orang yang berada di dalam dapur adalah Hairy yang bekerja, namun ternyata aku salah.

Miko lah yang kini duduk dimeja makan sambil menghadap laptopnya, dia terlihat benar-benar tidak menyadari diriku yang kini berdiri di depan pintu dapur. Kakiku reflek berjalan ke arahnya.

" Oi, kau ngapain malam-malam begini?"

" Kataku segera setelah berada dekat di sampingnya. Reaksinya ketika aku mulai bertanya sangat lucu, dia terkaget dan hampir jatuh dari kursi yang sedang didudukinya, laptopnya juga ikut tergeser sedikit ke tepi meja. Oh yeah, ini benar-benar terbayarkan walau aku harus bangun di dini hari seperti ini, pikirku sambil menyeringai terhibur melihat reaksinya.

" Apa yang kau lakukan, sih?! Malam-malam begini malah mengagetkan orang lain. " Katanya sambil membenarkan posisi laptopnya kembali seperti semula.

" Nah, hanya ingin minum air tiba-tiba. Kenapa kau tadi terlihat ketakutan? " Aku menikmati wajahnya yang mulai kesal karena nada ledekan di kata-kataku.

" Siapa juga yang takut, bodoh. Sana cepat minum terus pergi! Aku masih sibuk. " Jawabnya cuek sambil kembali mengetik di laptopnya. Aku yang tak terlalu menghiraukan sikap cueknya memutuskan untuk segera mengambil air dan pergi. Tapi, ternyata rasa penasaran yang seharusnya biasa kutahan tiba-tiba membesar. Aku melirik sedikit ke arah isi dari layar laptopnya disana aku dapat melihat judul tulisan file yang bertuliskan seperti sebuah judul cerita, namun sebelum aku dapat membaca tulisan lain yang diketiknya dia tiba-tiba menutup layar laptop dan menoleh ke arahku.

" Jangan seenaknya mengintip laptopku, sialan! " Katanya sambil mendekap laptop didadanya.

" Apaan?! Itu salahmu sendiri mengetik di tengah malam seperti ini. Jangan salahkan aku kalau aku menjadi penasaran. Lagipula memangnya apa yang kau tulis, cerita? " Tanyaku segera kepadanya.

" Brengsek!! Kau sudah melihatnya, ya. Dasar kurang ajar! Sudahlah terserah kau saja. Kalau kau mau mengatakan sesuatu lagi katan saja sekarang? " Katanya sambil kembali duduk dan membuka file di laptopnya lagi. Sesaat ia terdiam seperti menungguku untuk menjawabnya lagi.

" Memangnya aku mau mengatakan apa padamu lagi? aku kesini hanya untuk minum air tahu." Kataku sambil duduk dan mulai menyeruput segelas air putih yang baru saja aku ambil dari kulkas. Tangannya yang sedari tadi mengetik berhenti sejenak, ia mengalihkan tatapannya ke arahku.

" Kau..tidak ingin mengomentariku atau apa? Maksudku AKU sekarang sedang menulis cerita. Kau benar-benar tidak mau mengatakan apa-apa setelah melihat hal ini?! " Katanya kaget sambil menunjuk dirinya.

" Iya, memangnya apa yang harus kukomentari dari hal itu. Kalau kau ingin tahu kenapa aku tidak mengomentarimu, aku sama sekali tidak peduli kalau kau sedang melakukan hal seperti ini. Toh, kalau kau memang menyukainya tinggal lakukan saja sesukamu. " Kataku simple. Aku dapat melihat matanya berkedip setelahnya.

" Heh, tak kuduga ternyata kau bisa juga mengatakan hal sebijak itu. Jangan-jangan kau masih ngelindur terus berjalan kemari. " Sekarang malah dia yang berusaha bermain-main denganku, astaga!! dasar gadis menyebalkan.

" Berisik, aku mau tidur. Kau tidurlah juga! Kalau besok sampai kalah dariku lagi jangan salahkan aku. " Kataku sambil mendengus dan berjalan menuju kamarku. Karena pada saat itu aku sudah membalikkan badanku aku jadi tidak menyadari sebuah senyuman tipis yang tersungging di wajah gadis kurang ajar di belakangku.

Setelahnya aku akhirnya dapat kembali ke alam mimpiku dengan tenang sampai sinar mentari mulai datang di keesokan paginya.

~~~~~~~~~

# Terimakasih karena telah membaca semuanya...

# Kalau misalnya di cerita ini ada banyak kesalahan, aku benar2 minta maaf...

# Untuk mengingatkan lagi, ini adalah fanfic pertamaku

# Silakan tulis kritik dan saran kalau kalian berminat ( aku akan sangat senang membacanya )