.

NARUTO BY MASASHI KISHIMOTO

TRAPPED ALONE BY MerisChintya97

.

.

SasuSaku Fanfiction

.

Sumarry: Sasuke mulai bergerak untuk beraksi. "Apa kau pikir aku akan diam saja?" Seorang Uchiha Sasuke akan melakukan apa saja untuk membalasnya. Dengan segala kelebihan yang dimilikinya Sasuke berhasil mengumpulkan bukti yang cukup untuk menjebloskan Shion dkk kedalam jeruji besi. "Jika kau melakukannya, mantan istrimu akan mati!" Mantan?

.

DLDR

.

.

PART X

Sasuke pov

"Hn. Aku mengerti."

Klik. Aku menutup sambungan telepon terlebih dahulu, ya seperti biasanya. Hari ini seseorang mengajakku bertemu, aku tidak bisa menolaknya karena aku sudah terlalu sering menolak pertemuan dengannya. Dan dapat ku pastikan jika aku kembali menolak pertemuan dengannya, ia akan mengomeliku seperti seorang perempuan. Dan itu sangat menyebalkan.

Aku mengikat tali sepatu kets-ku dengan cukup cepat, menyambar jaket kulit hitam serta kunci mobilku yang tidak jauh dari tempatku mengikat sepatu.

Sebelum benar-benar pergi aku melakukan rutinitasku seperti biasanya yaitu memandangi keadaan sekitar, Hm.. seperti biasa, apartmentku selalu sepi terlebih sekarang Sakura pergi entah kemana setelah kejadian beberapa waktu lalu. Jujur aku merasa bersalah padanya. Tapi aku bisa apa? Sebelum masalahnya kelar, aku ingin Sakura benar-benar jauh dulu dariku. Aku takut sesuatu yang lebih buruk terjadi padanya.

.

.

Ting.

Bunyi terbukanya lift membuatku dengan segera keluar dari dalamnya dan berjalan menuju salah satu mobil yang paling mencolok diantara semua mobil yang ada di dalam basement ini. Aku tidak ingin menyombongkan mobilku, namun itu memang kenyataannya.

.

Mataku sempat melirik seseorang yang kini sedang berjalan dengan agak sedikit ling lung menuju pintu apartment ketika mobilku kini berada di luar apartment. Aku mencoba untuk tidak memperdulikannya, namun apa daya? Hatiku tidak bisa dibohongi jika aku kini sangat mengkhawatirkannya.

.

.

Mobil yang kukemudikan memasuki tempat parkiran, tak jauh dari tempat mobilku terparkir aku melihat seseorang yang sudah sangat ku kenal mencoba menyembunyikan tubuh kecilnya di balik mobil sport merah yang tak lain adalah mobil milik salah satu dokter terkenal di rumah sakit ini. Ya Akasuna Sasori.

Apakah ia menguntitiku? Mengapa ia ada di sini? Bukankah seharusnya ia kini berada di dalam apartment? Apakah mungkin ia tadi sempat melihat mobilku dan mengikutiku hingga kemari? Tetapi apa tujuan ia mengikutiku seperti itu? Mencoba menjadi stalker? Haha.. aku tertawa kecil ketika memikirkannya. Ia mencoba menjadi stalker suaminya sendiri? Oh god! Dia begitu kekanakkan.

Aku berjalan memasuki pintu kaca besar rumah sakit. Jika yang menguntitiku adalah orang lain atau salah satu fans-ku, aku sekarang pasti sudah berhasil menyembunyikan diriku. Tetapi untuk sekarang aku tidak berniat melakukannya. Biarkan saja Sakura menikmati aksinya itu tanpa mengetahui jika aku sudah tahu ia mengikutiku.

Pintu lift pun terbuka, aku masuk kedalamnya. Nah, Sakura.. sekarang apa yang akan kau lakukan?

Betapa kagetnya aku ketika pintu lift nyaris tertutup, seseorang menahannya dengan tangannya terlebih seseorang itu adalah perempuan yang kini masih berstatus sebagai istriku! Ya, dia Sakuraku. Sakura memakai tudung untuk menutupi rambut mencoloknya serta kacamata hitam tebal. Hei! Dimana ia mendapatkannya? Aku berdehem singkat. Biar ku tebak, ia tadi pasti sempat kaget. Haha.. kau memang tidak berbakat menjadi seorang stalker, Sakura..

.

.

Dentingan lift berbunyi, aku keluar terlebih dahulu meninggalkannya. Dan kali ini aku berjalan dengan sangat cepat sehingga ia tidak bisa terus menerus mengikutiku. Bukan apa-apa, hanya saja aku tidak ingin ia mengetahui sesuatu yang tidak mengenakan jika ia tetap mengikutiku. Aku bersembunyi dibalik dinding yang tidak akan diketahuinya. Benar saja, kini ia kembali bersikap seperti orang ling-lung.

Sakura berbelok arah, memilih jalur kanan dan kembali berlari. Entah setan mana yang berhasil merasukiku, kini akulah yang menguntitinya dari belakang. Melihat ia kebingungan seperti itu kurasa menjadi salah satu kesenangan tersendiri untukku.

.

.

Sakura berhenti melangkah. Akupun melakukan hal yang sama. "Apakah ada alasan yang logis untukku mengada-ngada semua itu padamu?" aku mendengar sesuatu memasuki gendang telingaku, tidak begitu keras karena jarakku yang agak jauh namun aku masih dapat mendengarnya. "Ya.. Sakura memang pernah di culik. Tepatnya dua hari yang lalu. Dan Sasuke.. ia memang sakit parah.." Aku tahu, sekarang selain menjadi seorang penguntit, aku dan Sakura menjadi seorang penguping juga. Tapi—apa katanya? Telingaku masih normal, dan aku tahu itu suara siapa. Akasuna Sasori!

"Psycomatrymous.. Sasuke mengidap penyakit berupa gangguan pada sel-sel otak yang terjadi akibat benturan keras sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan kematian secara perlahan. Ku yakin kau pernah mendengarnya, bukan? Dulu, ketika tahun 1964 seorang pemuda meninggal dalam keadaan tragis karena mengidap penyakit Psycomatrymous." Na-nani? Apakah aku salah mendengar? Aku—mengidap suatu penyakit?

"Nani? Bukankah penyakit tersebut hanyalah mitos belaka" Aku dapat mendengar suara lain di dalam sana. Entah suara siapa, aku tidak dapat mengenalinya. "Tidak! Karena begitu langkanya penyakit tersebut, orang-orang menganggapnya hanya mitos. Persentase kesembuhannya 50% jika ia mau melakukan operasi dalam waktu dekat sebelum penyakit tersebut semakin menggerogotinya—"

Namun, begitu suara Sasori kembali menyahut, aku melihat dengan jelas di depan sana tubuh Sakura semakin menegang dan membuka dengan cukup pelan pintu yang memang tidak tertutup dengan rapat itu.

Normal pov

"P-psycomatrymous?" Sasori menghentikan kata-katanya ketika mendengar suara lain masuk kedalam pembicaraan.

"Sakura?" Gaara menatap tidak percaya pada sosok seorang perempuan yang kini berada diambang pintu masuk. Sakura memasuki ruangan tersebut, cairan bening di mata indahnya mulai keluar. Tatapan mata Sakura hanya berfokus pada satu orang di dalam sana. "Ka-kau bercanda 'kan? Itu bohong 'kan? Jawab aku, Akasuna Sasori!" Gaara dan Sasori saling melempar pandangan bertanya. Gaara menatap harap-harap cemas pada Sasori. Entah apa yang akan di jawabnya, hanya saja Gaara berharap Sasori tidak memberikan jawaban yang mampu membuat Sakura mendadak serangan jantung.

"Kau mendengarnya? Syukurlah.. jadi aku tidak perlu repot-repot memberitahumu." Sakura, Sasori maupun Gaara menatap shock seseorang yang kini berada di ambang pintu dan menjawab semua pertanyaan yang Sakura tanyakan pada Sasori.

"Sasuke-kun?"

"Sasuke?"

.

.

.

-o0o-

"Apa yang kau lakukan disini, hah? Pergi! Cepat pergi! Jangan mengangguku!" Sakura tidak menggubris apa yang Sasuke katakan. "Tidak mau! Aku tidak akan pergi kemanapun, Sasuke-kun!" Onyx Sasuke menatap nyalang perempuan berambut gulali yang kini malah semakin mempersempit jarak di antara mereka. Sakura duduk di tepi ranjang seraya mengambil sesendok bubur panas dan meniupinya, mencoba untuk menyuapi suaminya itu. "Sekarang apa yang kau lakukan? Apa kau tuli? Kau tidak mendengar aku memintamu untuk pergi?" Sakura menahan pergelangan tangan Sasuke dengan tangan kirinya. "Diam dan makanlah!" Sakura mendeathglare Sasuke.

BRUK

Sakura terkejut, Sasuke dengan kasar mendorong tubuh mungil Sakura dari atas kasurnya. "A-aitsui ,," Sakura merintih kesakitan ketika ia merasa sesuatu yang panas mengenai perut dan pahanya. "Pergi! Aku bilang pergi, HARUNO SAKURA!"

DEG!

Sakura menundukan kepala pinky-nya. Sekarang, Sasuke bahkan memanggil dirinya dengan marganya. Air mata Sakura mengalir deras. "Nande? NANDE? NANDE, UCHIHA SASUKE NO BAKAYARO? Kenapa kau seperti ini padaku? Apa salahku, hah? Aku susah payah membuatkanmu bubur, berusaha untuk menyuapimu, tapi apa balasanmu padaku? Kau—" "Apakah aku memintanya? Kau membuatnya sendiri. Itu salahmu! Sekarang pergilah! Aku muak melihatmu." Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Sakura pergi meninggalkan Sasuke sendiri.

.

.

"Jangan pergi.. kumohon.. Sakura.." sebenarnya, itulah yang ingin diucapkan Sasuke, namun ternyata kebalikannyalah yang berhasil keluar dari mulutnya. "Bodoh!" Sasuke menjambak rambut ravennya marah. Marah pada dirinya sendiri. Sasuke mulai mengisak pelan. "Maafkan aku.."

.

.

Sakura mendesah. Berkali-kali ia membolak-balikan badannya, mencoba mencari posisi tidur yang nyaman. Namun sepertinya percuma saja karena tetap saja ia merasa tidak nyaman. Bukan masalah apa-apa, hanya saja suatu hal yang berhasil membuat hatinya tak nyaman tak lain dan tak bukan adalah sosok suaminya. Suami yang sekarang baru ia ketahui mengidap suatu penyakit.

"Yaks! Kau berhasil! Berhasil membuatku bingung, Uchiha Sasuke!" seperti orang kesetanan, Sakura menjambak-jambak rambut merah jambunya. "Heh! Apa salah.. apa salah jika aku mengkhawatirkannya? Apa salah jika aku mengkhawatirkan keadaan suamiku sendiri?" seketika itu juga air matanya kembali menetes, Sakura menarik selimutnya guna menutupi badannya.

.

.

"Baka!"

.

.

.

-o0o-

Sasuke muncul tepat seperti perhitungannya. Ini merupakan kunjungan pertamannya yang sudah ia rencanakan sejak dua hari yang lalu. Ia telah tegak memunggungi pagar halaman, setelah melewati pos keamanan yang terletak di sisi sayap kanan halaman, ia berjalan dengan gaya seperti biasanya, santai dan cool.

Beberapa penjaga halaman menatap cemas-cemas sosok seorang Sasuke yang kini tengah berjalan semakin jauh memasuki kediaman besar Haruka. "Bagaimana ini?" tanya sang satpam kepada salah satu rekannya, dan di jawab dengan sebuah gelengan kepala. "Tidak tahu.."

.

.

.

Tiba di depan pintu, ia menarik bandul kecil pada panel di sebelah kanan bingkai pintu. Di saat yang sama, ia mendongak ke samping, memperhatikan kamera CCTV yang diletakkan di sudut atas teras. Sasuke tersenyum.

Terdengar langkah dari dalam. Kemudian pintu bergerak membuka. Seorang lelaki kira-kira berumur awal 30 tahunan itu dengan sebelah tangan memegang daun pintu yang setengah terbuka. Sikapnya mengatakan bahwa hari ini ia tidak sedang mengharapkan seorang tamu berkunjung.

"Kau—Uchiha Sasuke? Maaf tapi nona sedang tidak ingin di ganggu."

"Hn. Saya tidak lama. Hanya dua puluh menit—mungkin kurang.." Lelaki tersebut menaikan sebelah alisnya ketika mendengar kata yang terucap dari mulut sang tamu. Sedangkan Sasuke hanya menatap malas seseorang yang kini masih dengan setia menghalangi jalannya. "Maaf.. mungkin anda bisa datang di lain waktu. Atau anda bisa meninggalkan memo dan saya akan menyampaikannya pada nona—" "Saya tidak punya waktu lagi…" Sasuke masuk menerobos. Sang pelayan lelaki itu kewalahan dengan sikap Sasuke yang main nerobos saja. "Anda tidak bisa masuk sembarangan, non—" "Anda telah menyita waktu saya!"

"Tapi.." Suara lelaki itu terhenti. Ia tidak tahu kapan datangnya. Tahu-tahu ia merasakan cengkraman kuat pada lehernya. Ia sesak napas dan berusaha meronta namun tiba-tiba saja sebuah benda dingin memasuki tubuhnya. Dan seketika itu aliran darahnya bergejolak. Detik setelahnya, pandangannya mengabur, seluruh benda seperti melayang , hingga mendadak sesuatu yang hitam menutupi pandangannya.

Sasuke menarik tangan kanannya yang menempel pada lambung si pelayan. Ia menggosok-gosok ujung benda lancip itu pada bahu si pelayan, sebelum ia membiarkan tubuh si pelayan itu jatuh terduduk dengan kepala bersandar pada dinding dasar anak tangga.

Sasuke menyimpan benda lancip itu ke balik pakaiannya. Kemudian, perlahan-lahan menaiki anak tangga. Mata onyx-nya menatap dingin sosok yang telah tak bernyawa itu sekali lagi. "Merepotkan.." gumamnya.

.

.

Ruangan lantai dua tidak seluas ruangan lantai bawah. Tapi, ini sebuah ruangan yang terbias penuh oleh cahaya matahari, yang hadir melewati dua jendela besar yang menghadap ke halaman belakang. Dinding ruangan dihiasi dengan berbagai macam lukisan serta foto-foto sang pemilik rumah. Dan tepat di sisi ruangan yang bersebrangan dengan jendela yang menghadap ke halaman depan terdapat sebuah ranjang dengan ukuran king size.

Sasuke menghentikan pandangannya pada ranjang tersebut. Meski terhalang dengan selimut yang begitu tebal menggulung tubuh sang wanita, ia dapat memastikan keberadaan seseorang yang sedang di carinya. Rambut pirang panjangnya terkesan begitu acak-acakan.

Uchiha Sasuke mendekat dan menyapa. "Haruka Shion…?" Sosok di atas ranjang berpaling kaget ketika mendengar suara dingin nan menusuk yang sudah sangat di kenalnya memasuki gendang telingannya. Ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, mata violet Shion menatap shock sosok di depannya sekarang. Sebenarnya sedari tadi ia tidak tidur, berulang kali Shion mencoba menutup matanya namun apalah daya, matanya tidak kunjung tertutup. Juga sebelumnya, ia telah mendengar langkah seseorang yang menaiki anak tangga dan membuka pintu kamarnya, awalnya ia mengira itu pelayan pribadinya namun ternyata dugaannya salah.

"A-apa yang kau lakukan disini? Mana pelayanku?" tanyanya kaget. Sasuke menyeringai, membuat bulu kunduk Shion menegak. "Pelayanmu sedang menyiapkan minuman. Bisa bicara sebentar?" kebohongan terpencar dengan begitu jelasnya di mata onyx tajam Sasuke. Tapi sepertinya Shion tidak ingin mengambil pusing kebohongan tersebut. "Bicaralah. Aku akan mendengarkan!" Sasuke kembali menyeringai mendengar perkataan yang terucap dan terkesan di tegar-tegarkan padahal ia sudah merinding dengan suasana yang ada sekarang. "Ini soal masa lalu.." Sasuke sengaja menghentikan kata-katanya, mencari kembali ekspresi yang belum ia temukan pada wajahnya Shion, tapi Sasuke tetap belum menemukannya. Shion tetap memasang wajah seperti sebelumnya.

"Soal tabrak lari.. tabrak lari yang kau lakukan pada malam itu...,pada seorang Haruno Sakura…" Dan—bingo! Sasuke menemukannya. Shion mencengkram erat buku-buku jarinya hingga memucat.

.

.

.

Glek

TOBECONTINUE

A/N: Hallooooo… Ketemu lagi sama aku di chap 10 xD maaf kalau kurang panjang.. pekerjaanku di tempat magangku banyak sekali :( setiap hari pasti ada pekerjaan yang nambah padahal yang satu juga belum selesai. Jadi harap di maklumi kalau masih pendek dan agak lama updatenya..

Ah! Terimakasih banyak buat yang sudah memberikan support padaku lewat kotak Review, di dalam kesibukanku yang berkepanjangan ini, Review dari kalianlah yang membuatku semangat untuk melanjutkan FF ini. Terimakasih buat para review :D .. Arigatou ne ..

Next? Review yaa :D ..

Salam hangat,,

MerisChintya97