The Love I've Never Imagined

by sava kaladze

Disclaimer: Masashi Kishimoto, who else…

Summary:

Haruno Sakura sudah mencintai Uchiha Sasuke sejak pertama kali ia melihatnya...dan seumur hidup ia hanya berniat pemuda itu. Mungkinkah ia jatuh cinta lagi pada pemuda lain?


Chapter 10

.

.

.

Menara Hokage

Ruangan kerja hokage itu serasa dicekam suasana hening. Semua orang yang berada di sana terdiam, lebih tepatnya menunggu sang pemimpin Konohagakure membuka mulutnya terlebih dahulu—memecahkan kebisuan yang membuat udara di sekeliling mereka terasa mencekik leher.

Tsunade duduk di kursi kerjanya dengan wajah serius. Wanita itu menatap lurus ke pemuda yang bersimpuh di lantai ruangan hokage. Ia sedang menilai air muka pemuda itu—menerka apa isi otak pemuda itu saat ini, apa tujuannya kembali pulang, dan apa yang sedang ia rencanakan di dalam pikirannya. Ia benci melakukan hal-hal tersebut, karena jauh di dalam hati kecilnya, ia ingin sekali menganggap pemuda berbaju putih khas ninja Sound ini, adalah remaja berusia 13 tahun yang pernah ia kenal dulu sekali.

Sayangnya, pemuda ini bukan anak itu lagi. Pemuda ini seorang pemuda dewasa yang sadar dan waras, telah melakukan hal-hal buruk dalam usahanya menggali kekuatan yang lebih dan lebih.

Semuanya atas nama dendam.

Aura dingin terpancar dari tubuh pemuda itu. Bukan aura pembunuh yang biasanya terpancar dari seorang Missing-nin, akan tetapi lebih kepada aura kemarahan yang begitu pekat. Kemarahan yang seakan begitu memusingkan. Kemarahan yang sedemikian kentalnya, sampai-sampai siapapun yang berada di dekat pemuda itu akan merasa dibekap oleh keinginan untuk melampiaskan kemarahan itu, meski sesungguhnya mereka tak ingin.

Aura kemarahan yang kapan saja bisa berubah menjadi aura membunuh.

Tsunade menghela nafas dalam-dalam. Ia menumpukan dagunya pada tangan kirinya dan masih tenggelam dalam pertimbangan-pertimbangan khas Hokage, ketika pintu masuk ruang kerja Hokage itu terkuak lebar dan sesosok pirang menghambur ke dalam dengan wajah cemas.

"Baa-chan!"

Pemuda yang duduk bersimpuh itu mengangkat wajahnya menoleh ke arah pintu dan saat itu juga aura dingin yang memang sedari tadi sudah menguar dari tubuhnya, mendadak lebih mendingin dari sebelumnya. Pemuda itu lalu menatap pemuda yang baru saja masuk dengan matanya yang merah dan hitam.

Sharingan.

Semua yang berada di ruangan itu langsung terkesiap dan berdiri dengan kuda-kuda untuk menyerang.

"Hentikan, Sasuke. Apapun yang ingin kau lakukan, enyahkan itu dari pikiranmu sekarang juga. Kau tahu siapa aku dan jangan pernah sedetik pun dalam pikiranmu, kau lupakan siapa aku, atau apa yang sanggup kulakukan. Aku pasti sanggup melakukannya padamu," desis Tsunade dengan tajam pada Sasuke yang masih menatap Naruto dengan sharingan-nya.

Naruto terpana melihat kedua mata merah darah itu menusuk pandangannya dengan sesuatu yang menakutkan. Sesuatu yang bisa diartikan sebagai kemarahan. Kemarahan yang dapat membuat seseorang melakukan hal-hal yang tidak dapat dibayangkan.

"Sasuke…," ujar Naruto dengan suara melayang.

"Aku tidak main-main dengan ucapanku, Uchiha Sasuke," desis Tsunade lagi.

Sasuke mendengus. Ia layangkan pandangan ke wajah Tsunade yang masih duduk dengan tenang di kursinya. Sasuke tahu, Tsunade bukan wanita sembarangan. Bukan sembarang ninja yang bisa menyandang titel hokage. Perlahan mata merah darah itu menghitam. Tsunade pun menghela nafas lega.

"Naruto, lancang sekali kau masuk ke ruanganku! Aku tidak memanggilmu, kan?" Tsunade menatap tajam ke arah Naruto.

Naruto masih memandangi Sasuke dengan mata birunya yang menyiratkan perasaan bersalah. "Aku mau menemui Sasuke, Baa-chan. Ada yang ingin aku jelaskan."

"Uchiha Sasuke tidak untuk ditemui siapapun, Naruto. Tidak juga kau. Statusnya sekarang adalah tahanan ANBU. Ia tidak berhak bicara dengan siapapun, tanpa seizinku selaku Hokage," timpal Tsunade dingin.

Naruto merengut,"Tapi Baa-chan…"

"Jangan sembarangan denganku, Naruto."

"Aku mau bicara sebentar saja dengan Sasuke…"

"Ia tidak akan bicara dengan siapapun, sebelum ia bicara denganku!"

"Paling tidak biarkan aku berada di sini saja…Tsunade-sama," pinta Naruto dengan suara memelas.

Tsunade terdiam. Naruto susah diajak kompromi, ia paham itu. Anak itu sangat keras kepala, apalagi jika menyangkut Sasuke. Sasuke selalu menjadi sahabatnya yang hilang, bukan seorang missing-nin.

"Baiklah, tapi ingat…tutup mulut dan jangan bicara sembarangan di ruanganku. Paham?" kata Tsunade akhirnya.

Naruto mengangguk.

"Uchiha Sasuke, seharusnya kau sekarang sudah berada di tahanan ANBU, karena sebagai seorang missing-nin, di sanalah tempatmu berada," ujar Tsunade pelan. Ia lalu memandangi sekeliling ruangan. Hatake Kakashi berdiri di sudut ruangan. Hyuuga Neji dan Nara Shikamaru berjaga di kanan kiri Sasuke. Shizune berada tepat di sebelah Tsunade. Ada dua ninja bertopeng ANBU berjaga di depan pintu. Naruto berdiri tak jauh dari Sasuke—masih memandangi Sasuke dengan intens. Tsunade agak heran, Sakura tidak langsung menghambur ke ruangan ini dengan Naruto.

Tsunade melanjutkan perkataannya, "Akan tetapi, ada beberapa pertimbangan yang menahanku langsung menjebloskanmu ke dalam tahanan ANBU. Pertama, kau masuk ke dalam wilayah Konoha tanpa kekerasan, yang mana itu sangat aku hargai. Neji dan Shikamaru juga melaporkan bahwa kau dengan sukarela mengikuti mereka tanpa perlawanan. Kedua, beberapa waktu yang lalu kau membawa kakakmu, Uchiha Itachi, ke Konoha dan menghilang begitu saja. Jujur, itu sangat mengejutkanku. Kami semua tahu bagaimana dendamnya dirimu pada Itachi dan sungguh tak masuk akal, kau membawa Itachi yang terluka parah, kembali kemari, di mana sesungguhnya kau bisa membiarkannya mati, seperti yang kau inginkan selama ini."

Semua mata tertuju pada pemuda berbaju putih yang bersimpuh di tengah-tengah ruangan. Pandangannya masih lekat tertuju pada sang hokage. Matanya yang hitam kebiruan seakan ingin mengatakan sesuatu, akan tetapi mulutnya masih terkunci rapat.

"Biarkan aku berdiri," kata Sasuke tanpa emosi.

Tsunade mengangguk. Sasuke lalu berdiri dengan perlahan. Dirapikannya bajunya yang sedikit kusut, lalu kembali memusatkan pandangannya ke arah Tsunade.

"Bicaralah," perintah Tsunade singkat.

Sasuke tak langsung menjawab. Ia mengedarkan pandangan dingin ke sekeliling ruangan. Semua yang menangkapnya masih ada di ruangan ini, juga Kakashi-sensei, Shizune dan Naruto. Sakura tidak ada. Ada sedikit keheranan menyeruak di dalam hati pemuda Uchiha itu. Biasanya di mana ada Kakashi dan Naruto, Sakura pasti berada tak jauh dari mereka berdua. Apakah Sakura menghindar dariku, setelah apa yang kulihat? Lagi-lagi ada rasa nyeri menjalar di hati Sasuke.

"Aku ingin memulihkan statusku sebagai ninja Konoha," kata Sasuke dengan tegas.

Semua yang ada di ruangan itu tersentak. Satu pun dari mereka tak menyangka kalimat seperti itu yang akan keluar dari mulut Uchiha Sasuke.

"Apa aku tidak salah dengar? Kau ingin kembali menjadi ninja Konoha? tanya Tsunade dengan nada tak percaya.

"Ya. Anda tidak salah dengar, Hokage-sama. Aku ingin kembali kemari."

Tampak Naruto setengah meloncat ke arah Kakashi. Wajahnya menyiratkan kebahagiaan yang tak terperi. Kakashi, meski setengah wajahnya terbenam dalam maskernya, menyiratkan perasaan yang sama dari matanya yang tidak tertutup hitai-ate. Yang lainnya hanya menunjukkan ekspresi keterkejutan.

"Tapi kenapa, Sasuke?"

Pertanyaan Tsunade itu membuat Naruto dan Kakashi langsung menoleh ke arah wanita berambut pirang yang sekarang bersikap lebih santai dari sebelumnya itu.

"Kami semua mengenalmu, tahu sejarah masa lalumu, tahu dendam kesumatmu pada Itachi. Lalu kenapa sekarang kau ingin kembali ke Konoha? Tempat yang sengaja kau tinggalkan saat kau memutuskan untuk berguru pada Orochimaru. Bukan itu saja, kau juga telah membunuh Orochimaru dan entah menghilang kemana lagi untuk melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk lainnya, yang kami tidak tahu. Lalu kenapa tiba-tiba, kau kembali begitu saja?" ungkap Tsunade panjang lebar.

Sasuke masih berdiri dengan tenang—tanpa emosi. Ia saling bertukar pandang dengan Tsunade, dengan wanita yang paling disegani di Konoha. Tidak hanya karena statusnya sebagai hokage, tapi juga karena kehebatannya yang membuatnya diakui sebagai salah satu dari tiga sannin legenda.

"Apa harus aku jelaskan alasanku?"

Tsunade menyeringai, "Kecuali jika kau mau Ibiki yang mencari tahu alasannya."

Sasuke mendengus. Tidak ada orang yang mau berurusan dengan Ibiki. Tidak ada orang yang mau isi kepalanya dibongkar oleh interrogator yang satu itu. Setiap manusia ingin memiliki rahasia yang hanya mereka sendiri yang tahu, kan?

"Aku ingin membangun kembali klan Uchiha. Konoha adalah rumahku, tempat klanku berasal. Aku harus kembali kemari untuk melakukannya. Selain itu, aku ingin bicara dengan Itachi."

"Hmmm…" Tsunade tercenung untuk beberapa saat, "Keinginanmu membangun klan Uchiha, sedikit banyak bisa aku pahami. Akan tetapi, menemui Itachi? Aku sungguh tak bisa mengerti. Hingga detik ini, aku tak paham mengapa kau membawa Itachi yang terluka parah ke Konoha? Kau begitu ingin membunuhnya, tapi kemudian kau menyelamatkannya ke Konoha? Lelucon macam apa ini, Sasuke?"

Semuanya memandangi Sasuke dengan rasa ingin tahu.

"Aku akui, aku ingin sekali membalaskan dendam pada Itachi. Aku juga akui, aku telah menempuh cara-cara salah untuk membuat diriku lebih kuat dari Itachi, agar aku mampu mengalahkannya. Itu semua tidak mudah. Orochimaru itu ular dan mau memeliharaku, semata-mata untuk kepentingan pribadinya semata. Akan tetapi…ada hal-hal yang harus aku luruskan dengan Itachi. Aku tidak bisa melakukannya jika ia mati, kan? Itu sebabnya aku membawanya ke Konoha, karena aku yakin, kalian pasti menyelamatkan nyawanya."

Kakashi tersentak, "Maksudmu, bukan dirimu yang melukai Itachi?" tanyanya penasaran.

Sasuke menggeleng,"Akatsuki yang melakukannya."

Lagi-lagi semua orang yang ada di ruangan itu terkejut.

"Akatsuki?" Naruto terdengar tak percaya.

"Bagaimana mungkin Itachi diserang oleh kawan-kawannya sendiri?" Shizune tak sanggup menyembunyikan rasa ingin tahunya sendiri.

"Bukan hanya diserang, mereka ingin menghabisinya," jawab Sasuke singkat. Matanya yang hitam kebiruan mendadak menyorotkan kebencian. Ia benci kenyataan bahwa Akatsuki ingin menghabisi nyawa Itachi, kakak kandungnya.

"Kenapa mereka ingin melakukannya? Apa kesalahan besar yang telah dilakukan Itachi sehingga mereka ingin ia mati?" tanya Tsunade juga dengan nada bingung.

Sasuke menghela nafasnya dalam-dalam. Ia tahu apa yang menyebabkan Akatsuki ingin melenyapkan Itachi dari muka bumi selama-lamanya, akan tetapi ada beberapa hal yang harus ia jernihkan dengan Itachi. Hal-hal yang seharusnya ia bicarakan langsung dengan Itachi. Hal-hal yang mengendap dalam ingatan. Hal-hal menyangkut masa kelam klan Uchiha.

Ia harus bicara dengan Itachi. Harus.

"Aku pikir, seharusnya Itachi yang mengatakan alasannya. Apa kalian belum berhasil membuatnya buka mulut? Atau Ibiki tidak sehebat yang dikatakan orang?" Sasuke menunjukkan seringai yang lebih terlihat seperti senyuman yang mengejek di sudut mulutnya.

Tsunade berpandang-pandangan dengan Shizune. Kondisi Itachi yang sesungguhnya hanya mereka berdua, dan Sakura yang paling mengetahui. Tidak ada orang luar yang tahu, bagaimana Itachi sekarang.

"Aku ingin bicara dengan Itachi," pinta Sasuke.

"Aku tidak bisa meluluskan permintaanmu itu, Sasuke," jawab Tsunade cepat.

"Kenapa?"

Tsunade menarik nafas panjang dan dengan enggan berkata, "Saat kau bawa kemari, Itachi terluka parah dan tak sadarkan diri. Hingga saat ini, ia masih dalam keadaan koma."

"Apa?"

Tsunade menangkap keterkejutan terpancar dari kedua mata pemuda Uchiha itu. Ia seakan tidak percaya bahwa kakaknya hingga saat ini masih belum juga sadar. Wanita paruh baya itu lagi-lagi merasa aneh. Bagaimana mungkin Sasuke yang tujuan dalam hidupnya hanya untuk membunuh Itachi, sekarang begitu kecewa mengetahui kakaknya itu masih dalam kondisi koma? Apa ini Sasuke yang dulu mennggalkan Konoha? Semuanya begitu kontradiktif. Apa alasannya?

Hokage kelima itu tak habis pikir. Ia yakin sekali, Itachi kunci dari semua pertanyaan yang ia punya. Sasuke dan Itachi harus dihadapkan langsung agar mereka bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi.

Itachi harus sadar. Itu harga mati.

"Kapan Itachi akan sadar?"

Tsunade mengangkat bahu, "Sejujurnya? Aku tidak bisa memastikan. Sakura yang bertanggung jawab akan kesembuhannya. Ia khusus merawat Itachi, dan sayang sekali, sampai saat ini ia belum berhasil."

Di sudut ruangan Naruto menggeram perlahan. Bayangan Sakura mencium tangan Itachi berkelebat di benaknya. Seandainya Itachi bangun, apakah pembunuh sadis itu akan membiarkan Sakura melakukan hal seintim itu padanya? Naruto tidak yakin.

Setengah hatinya berharap, Itachi tidak pernah bangkit dari tidur panjangnya.

"Naruto, biasanya Sakura ada bersamamu. Kau tidak memberitahukan padanya bahwa…Sasuke ada di sini?" tanya Tsunade membuyarkan lamunan Naruto.

Naruto terkesiap. Ia melirik Sasuke dan melihat, mata pemuda itu menatapnya tajam dan sebuah cibiran terbentuk tipis di ujung bibirnya.

Sasuke pasti masih marah padaku, katanya membatin.

"Ia sudah tahu, Baa-chan," jawab Naruto lirih.

"Cih!"

Tsunade menyadari cara Sasuke memandang Naruto, tidak seperti layaknya kawan lama yang baru bertemu. Ada kemarahan di matanya.

"Dan ia tidak ke sini? Mengherankan…"

Naruto tertunduk dan merasakan semua mata tertuju padanya. "Sakura kembali ke Rumah Sakit."

Tsunade melirik pada dua ninja ANBU yang berjaga di depan pintu dan berkata dengan lantang," Jemput Sakura di Rumah Sakit. Katakan, kehadirannya diperlukan di sini, saat ini juga!"

Kedua ANBU itu langsung menghilang bagaikan asap.

Tsunade mengangguk-anggukan kepalanya, lalu bergantian memandang ke arah Sasuke, Naruto dan Kakashi. Ia tersenyum tipis.

"Ini seperti nostalgia bagiku. Ada banyak sekali hal yang harus kau katakan padaku, Sasuke. Juga pada Kakashi dan Naruto."

Lagi-lagi Sasuke mendengus.

.

.

.

.


Bau apek yang tercium samar-samar adalah yang pertama ia cium saat ia berhasil membuka matanya yang terasa berat. Dari balik matanya yang hanya terbuka setengah, ia hanya dapat melihat kelam yang keabu-abuan. Kulitnya yang terbuka dapat merasakan udara yang lembab. Tubuhnya dapat merasakan bahwa ia berada di atas permukaan yang keras.

Butuh waktu agak lama untuk menyadari apa yang terjadi.

Sakura mengerjapkan matanya berkali-kali, menyesuaikan mata yang lama terpajam dengan suasana temaram disekelilingnya. Perlahan otaknya mulai merekonstruksi apa yang terjadi. Potongan-potongan ingatan coba ia susun satu-persatu dan sungguh, yang dapat ia ingat terakhir hanyalah warna merah darah yang menggulung kesadarannya dengan cepat.

Ia tak mampu mengingat sisanya. Yang ia rasakan saat ini hanyalah sakit kepala yang mendera seluruh sel di otaknya tanpa ampun. Bukan itu saja, tulang-tulangnya juga terasa kaku. Ciri khas tubuh yang terlalu lama berbaring pada permukaan yang keras.

Tangan Sakura mencoba menyentuh permukaan tempatnya berbaring. Batu. Pantas saja tulangnya kaku. Berapa lama ia sudah terbaring di sini? Sulit sekali mengingat apa-apa, selain warna merah darah yang serasa membiusnya.

Kunoichi itu mencoba bangkit dari posisinya yang berbaring. Ia duduk dan menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu meneliti dengan seksama tempatnya berada. Ia langsung sadar, ia berada di dalam sebuah gua.

"Sudah bangun?"

Sakura tersentak mendengar sebuah suara baritone khas laki-laki terdengar dari sudut gua. Kontan saja ia menoleh dan mencoba meneliti siapa sosok yang terduduk di sudut gua itu.

Ia terperanjat saat melihat wajah yang muncul dari balik gelapnya gua. Tubuhnya bergetar tanpa ia sadari. Hatinya mencelos begitu saja. Emosinya bercampur aduk dan ia pun tak bisa mengatakan mana yang lebih dominan, senang atau takut.

Sepasang mata merah darah menatapnya dengan dingin. Wajah tampan membingkai kedua mata itu. Sakura langsung mengenali wajah siapa yang sekarang pandangannya tertuju kepadanya.

Kami-sama, betapa aku selalu bertanya-tanya, seperti apa suara yang keluar dari mulutnya? Apa warna bola matanya?

Dan sekarang ia mengetahuinya.

"Itachi-san?"

Di sana, di sudut gua, duduk dengan tenang, tidak lain tidak bukan, pasiennya kesayangannya yang sudah terbaring koma selama lebih dari 1 bulan terakhir. Uchiha Itachi.

Tanpa pikir panjang, Sakura bermaksud untuk mendekatinya. Ia memaksa dirinya untuk bangkit, berjalan ke arah pria itu dan mendudukkan dirinya tepat di sampingnya.

Perlahan ia menyentuh wajah pria Uchiha itu. Jemarinya menyusuri rahang pria yang menatapnya dengan intens itu. Jari-jari itu berhenti di dua mata sharingan milik Itachi.

"Kami-sama, k-kau…ak-akhirnya bangun…" bisik Sakura dengan perasaan haru yang meluap. Perasaan tidak percaya dan lega bercampur baur. Perasaan yang membuatnya menitikkan airmata kebahagiaannya.

Itachi menatap tajam ke arah kunoichi berambut merah muda itu. Ia mendapati bahwa gadis yang sedang menangis di depannya ini, memiliki mata hijau yang sangat indah. Ia tak pernah menyangka, medic-nin yang selalu ia dengar suaranya dalam tidur panjangnya itu, memiliki mata berwarna seindah zamrud.

Mata hijau yang menatapnya itu membuat Itachi merasa…nyaman.

"Aku selalu ingin tahu apa warna matamu, Itachi-san. Seharusnya aku bisa mengira kalau matamu—sharingan."

Tangan Itachi bergerak menyentuh jemari yang sedang menyentuh wajahnya, lalu dengan ringan menepis jari-jari mungil itu dari wajahnya. Sakura terbelalak melihat apa yang dilakukan Itachi.

"Itachi-san…"

"Jangan sentuh wajahku dengan tanganmu itu, Kunoichi. Tidak ada wanita yang boleh menyentuh seorang Uchiha," tukasnya dengan nada dingin.

Sakura menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tidak percaya akan apa yang baru saja ia dengar. Itachi…

"Itachi-san, maaf. Aku lega sekali kau akhirnya bangun dari koma. Sungguh, aku tidak bermaksud apa-apa…" kata Sakura—berusaha menjelaskan apa yang terjadi.

Ada senyuman tipis terulas di sudut bibir Itachi. Sangat tipis sehingga Sakura tak mungkin dapat melihat senyuman itu di suasana yang temaram seperti di tempat itu.

"Aku…koma?"

"Ya. Lebih dari sebulan kau tak sadarkan diri. Tubuhmu terluka sangat parah saat Sasuke membawamu ke Konoha."

Seharusnya Itachi kaget akan informasi itu, tapi ia tetap tenang. Ia sudah tahu bahwa Sasuke yang menyelamatkannya. Tapi mungkin Sakura tidak tahu, bahwa ia sudah tahu. Ia pun tahu bahwa Sakura adalah medic-nin yang merawatnya. Ia dengar semuanya dari mulut gadis itu sendiri. Gadis itu yang tidak tahu bahwa ia sudah mendengarnya.

Itachi memutuskan ingin bermain sedikit.

"Siapa kau?"

Wajah Sakura terlihat kebingungan.

"Aku Haruno Sakura. Aku medic-nin yang ditugaskan oleh hokage untuk menyembuhkan luka-lukamu, Itachi-san," jawabnya.

Itachi menjauhkan pandangannya dari kunoichi yang masih menatapnya dengan bingung itu.

"Jadi maksudmu, aku berhutang budi padamu, Kunoichi?"

"Aku tidak berkata begitu, Itachi-san. Aku hanya ditugaskan oleh hokage."

"Kau tahu siapa diriku, Kunoichi?"

Sakura mengangguk,"Ya. Kau Uchiha Itachi. Akatsuki."

Itachi mendadak terdiam. Akatsuki. Mereka mencoba membunuhnya. Pein, Konan dan yang lainnya mencoba membunuhnya, karena akhirnya mengetahui siapa Uchiha Itachi yang sesungguhnya. Mereka tahu, loyalitas diri Uchiha Itachi yang sesungguhnya, tidak ia berikan pada Akatsuki.

"Kau tahu, apa yang telah kulakukan pada klanku, Kunoichi?"

Mata hijau Sakura menyipit. Ia mulai terganggu dengan cara Itachi menyebut dirinya, Kunoichi. Sakura memandang pria di depannya dengan kesal.

"Tentu saja aku tahu. Kau membantai anggota klanmu dalam satu malam dan hanya meninggalkan adikmu yang masih hidup, untuk hidup dalam dendam."

Itachi menyeringai penuh kebencian. Ia benci diingatkan pada malam penuh darah itu. Malam di mana ia membunuh satu-persatu anggota klan Uchiha, bahkan kedua ayah dan ibunya. Malam di mana ia membunuh hati nuraninya sendiri.

"Kau ternyata tahu banyak tentangku, Kunoichi. Sungguh tak dapat kupercaya. Untuk seorang gadis yang terlihat bodoh, kau cukup pintar juga."

Sakura terpana. Gadis bodoh?

"Tentu saja. Aku sahabat adikmu, Sasuke. Kau tidak lupa kalau kau masih punya adik, Itachi-san?"

Itachi mendengus.

"Kau tidak takut padaku, Kunoichi? Tidak takut kalau aku akan membunuhmu, seperti aku membunuh anggota klanku? Atau musuh-musuhku yang lain?"

Dada Sakura berdegup dengan kencang. Ia tak pernah membayangkan jikalau Itachi bangun, ia akan menghadapi seseorang yang penuh dengan nafsu membunuh seperti ini. Itachi yang ia temui tiap hari adalah Itachi yang tenang, Itachi yang damai, Itachi yang selalu mendengarkan semua keluh-kesahnya, Itachi yang ia bayangkan sebagai Itachi yang tak pernah membantai klannya. Itachi yang ia inginkan.

Itachi yang duduk di hadapannya sekarang, jelas bukan Itachi yang ia harapkan akan bangkit dari tidur panjangnya.

"Untuk apa membunuhku? Kau tak punya dendam apapun padaku, Itachi-san?"

"Kau benar, Kunoichi. Akan tetapi, kau seorang ninja Konoha. Tidak ada yang perlu kau banggakan dengan menjadi seorang ninja Konoha."

Sakura beranjak berdiri dengan cepat. Ia tatap Itachi dengan garang.

"Uchiha Itachi, sungguh aku tak mengira kau seperti ini. Aku tahu semua kejahatanmu, akan tetapi selama ini aku tetap berharap, saat kau sadar dari koma, kau bukanlah pembunuh kejam yang semua orang katakan itu. Saat kau bangun, kau adalah orang yang baru. Akan tetapi, aku salah. Kau tetap saja seorang Uchiha yang…sombong! Dan satu lagi, namaku Sakura. sekali lagi Sakura, bukan Kunoichi!"

Selesai mengatakannya, Sakura langsung berlari menuju muka gua. Pintu keluar gua terlihat terang karena cahaya matahari yang masuk melewati muka gua itu. Sakura tahu, dari arah itulah ia dapat keluar dari gua itu.

Meninggalkan Itachi yang sombong itu.

Ia baru akan melangkahkan kaki melewati muka gua itu, ketika ia merasa sesuatu menahan tangan kanannya. Lebih tepatnya, menarik tangan kanannya. Ia menoleh dan mendapati Itachi berdiri tepat di belakangnya. Menarik tangannya. Menahannya untuk pergi dari sini.

"Lepaskan aku, Itachi."

"Tidak."

"Lepaskan tanganku!"

"Mau kemana kau?"

"Tentu saja kembali ke Rumah Sakit."

"Tidak perlu."

"Apa maksudmu? Lepaskan tanganku! Aku mau pergi dari sini!"

Itachi menyentak tangan Sakura dan menarik tubuh mungil gadis itu mendekat padanya. Dalam waktu sekejap, tubuh mereka sudah saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Sakura terkesiap menyadari sosok pria yang selama ini hanya ia lihat sebagai sosok lemah yang tak sadarkan diri, sekarang berdiri dengan tegap di depannya. Sangat dekat dengannya. Saking dekatnya, ia dapat merasakan panas tubuh yang terpancar dari tubuh pria yang berpakaian biru itu.

Tiba-tiba ia merasa wajahnya memerah karena malu.

Sakura berusaha menarik tangannya dari cengkraman Itachi, akan tetapi pria itu tetap tak mau melepaskannya. Ia menatap Sakura dengan tatapan yang dingin. Mata merah darah.

Mendadak Sakura ingat segalanya. Ia ingat bahwa hal terakhir yang ia lihat sebelum pingsan adalah mata sharingan Itachi yang sewarna dengan merah darah. Itachi yang menyebabkannya pingsan dengan genjutsu-nya!

"Apa maumu, Itachi? Kenapa kau membawaku kemari? Aku tidak pernah berbuat jahat padamu. Aku telah mencoba merawatmu dengan seluruh kemampuanku dan mengapa saat kau sadar, kau malah meninggalkan Rumah Sakit dan membawaku kemari?"

Itachi masih menatap Sakura dengan mata merah darahnya.

'Itachi san…kalau kau bangun, aku berjanji akan membawaku ke tempat paling indah di Konoha. Indah sekali, Itachi san. Aku yakin kau belum pernah pergi ke sana…dan kau pasti setuju denganku saat melihat tempat itu.'

Ucapan Sakura yang didengarnya samar-samar itu kembali terngiang-iang telinga Itachi. Perkataan yang belum pernah diucapkan seorang gadis mana pun kepada pria yang seumur hidupnya dilabeli pembunuh berdarah dingin seperti dirinya.

"Itachi-san, lepaskan tanganku!"

'Kalau kau bangun, aku tidak hanya akan mengajakmu ke tempat rahasiaku itu saja. Aku akan masakkan apapun masakan yang ingin kau rasakan. Katakan saja dan aku akan langsung membuatkannya khusus untukmu…pasti itu.'

Tidak pernah ada satu gadis pun yang menjanjikan hal semanis memasakkan masakan apapun yang ia mau dalam hidupnya. Sejak usia 13 tahun, ia tak pernah punya kesempatan untuk mendekati maupun didekati gadis lagi dalam hidupnya. Itu semua karena pada usia 13 tahun itulah ia menghabisi klannya dan menghilang sebagai seorang missing-nin.

"Uchiha Itachi, apa maumu? Cepat katakan dan biarkan aku pergi!"

'Dan jika kau minta lebih dari itu…lebih dari tempat terindah di Konoha dan masakanku, apapun saja milikku…aku akan berikan padamu.'

Tidak ada satu orang gadis pun dalam hidup Itachi—dalam hidup kelam Uchiha Itachi—menjanjikan akan memberikan apa saja yang merupakan miliknya pada diri Itachi. Pada diri seorang sampah seperti Itachi. Pada diri seorang yang sudah dibenci seluruh orang seperti Itachi.

"Lepaskan aku, Itachi."

Itachi masih menatap kedua bola mata hijau Sakura yang terlihat ketakutan dengan tatapan mata merah darahnya yang menusuk kalbu.

Saat kesempatan untuk mendapatkan semua janji yang sudah diucapkan gadis itu tiba di depan matanya, akankah ia membuang kesempatan emas itu begitu saja?

"Aku tak bisa membiarkanmu pergi, Kunoichi," kata Itachi dengan perlahan.

Sakura mendengus,"Apa maksudmu?"

Mata merah darah Itachi memudar. Dua bola mata abu-abu muncul menggantikan mata merah darah yang sedari tadi menatap Sakura lekat-lekat.

"Kau sudah berjanji padaku, Kunoichi. Seorang ninja selalu menepati janji yang ia buat."

"Janji? Apa janji yang pernah kuucapkan padamu? Aku tak pernah menjanjikan apa-apa!" pekik Sakura.

Itachi menutup matanya dengan perlahan. Mencoba membayangkan dirinya yang tertidur panjang dan mendengar semua perkataan yang dikatakan seorang gadis penolongnya. Suara lembut yang ingin sekali ia lihat pemiliknya. Suara yang kerap datang padanya dengan nada putus asa, nada senang, nada kesal, nada marah, dan juga nada penuh pengharapan.

Suara milik gadis yang sekarang menatapnya penuh ketakutan.

"Tidak sadar bukan berarti tidak mendengar, Sakura," desis Itachi.

Sakura terperanjat. Ia mencoba mengartikan perkataan Itachi, akan tetapi ia takut meyakini makna di balik perkataannya.

"Bawa aku ke tempat rahasiamu. Itu janjimu."

Sakura terpaku di tempatnya berdiri. Ia tak lagi berusaha menarik tangannya dari cengkraman Itachi. Ia hanya terpaku begitu saja di lantai. Otaknya yang cerdas mulai menerjemahkan informasi yang baru saja ia dengar. semua perkataannya, semua janjinya, semua yang ia lakukan berkelebat satu-persatu di ingatannya.

Sakura menyentuh bibirnya dengan lemas. Ciumannya. Apakah Itachi tahu ia telah dengan lancang memeluk dan menciumnya saat ia tak sadar?

Kami-sama, apa yang harus aku lakukan?

Sakura dan Itachi masih berpandangan satu sama lain. Masih terpaku di tempat mereka berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Masih tenggelam dalam pemikiran mereka masing-masing.

Mereka berdua tidak tahu bahwa saat mereka sedang sibuk menelaah pemikiran dan perasaan mereka masing-masing, ruang kerja Konoha dihebohkan oleh hilangnya sosok sang medic-nin dan pasiennya yang sedang terbaring koma.

.

.

.

.

To be continued

.

.


A/N:

Akhirnya berhasil update juga fiuhh..

Cerita ini selalu membutuhkan energy lebih dari saya untuk menulis dan merangkai ceritanya, karena butuh pemikiran lebih dari saya pribadi. Awalnya cerita ini tidak banyak dibaca dan direview, akan tetapi saya cukup surprise bahwa perlahan ada saja yang review, story alert dan taruh cerita ini di Favorite list. Untuk itu semua, saya sangat berterima kasih. Review teman-teman sekalian, bagaikan udara untuk saya bernafas hehehehe