Anak kecil itu berlari menghindar. Bersembunyi di balik tangga melingkar menuju lantai atas rumahnya. Matanya memandang sedih pada kedua orang dewasa di depannya yang saling mengumpat satu sama lain.

Ia memejamkan matanya saat lengan mungilnya di tarik menuju dapur. Ditempatkan di tengah keduanya. Ia membuka mata dan mendapati pandangan jijik dari kedua orang tuanya.

"Anak sialan! Pembawa sial! Kau seharusnya mati."

Anak itu menangis sekencang-kencangnya. Membuat pria paruh baya itu menggeram kesal dengan amarah yang ditahannya. Lengan besarnya melayang ke atas dan sampai dengan keras mengenai wajah mungilnya hingga terhempas di lantai ubin yang dingin. Tangan mungilnya memegang lemah pipi merahnya.

Ia masih menangis.

Dan matanya memutar. Mendapati ada tubuh lain yang sedang memandangnya sedih dan terluka. Ia mengulurkan lengan kirinya. Berusaha menggapai tubuh mungil yang berdiri di sana memandangnya iba.

"Tolong aku, kakak."

Dan kemudian terdengar adalah bunyi piring jatuh dengan keras serta cairan pekat berbau anyir yang mengalir deras di lantai ubin yang dingin.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BEAUTIFUL DISASTER

Kehancuran Yang Indah

.

.

.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

Rated: M

.

A story by emerallized onyxta

.

Warning: Typo, Badchara, OOC? Darkfic, and many more.

.

Genre: Romance, Drama, Hurt/Comfort, maybe Angst?

.

Don't like don't read. I warn you.

.

.

.


"Because of you, I'm afraid."

Because Of You, Kelly Clarkson.


.

.

.

Sasuke hendak mengetuk kamar sang istri ketika gadis itu pergi meninggalkannya terpaku di saat seperti ini.

Ia butuh penjelasan yang pasti. Apa yang Karin bicarakan pada Sakura? Mengenai masa lalunya 'kah? Atau ada hal lain?

Lengan kekarnya bergerak menyentuh pintu kayu tersebut sebelum ada suara berat yang mengusiknya dari belakang.

"Tuan, saya ingin melaporkan. Gedung Uchiha terbakar di bagian lantai 1 dan satu orang tewas dalam kejadian."

Sasuke memutar tubuhnya dengan cepat. Memandang Kakashi dengan pandangan tajam dan dingin.

"Sial."

Sasuke pergi meninggalkan kamar sang istri. Melangkah mengikuti Kakashi di depan, ia menoleh sebentar pada pintu dingin milik istrinya sebelum benar-benar pergi.

.

.

Sakura mengusap air matanya kasar. Bukan, ia bukan menangisi Sasuke. Ia tidak akan menangisi lelaki arogan dan tidak berperasaan itu. Ia hanya menangisi keadaannya. Lagi. Kenapa harus dirinya yang mengalami hal seperti ini? Apa salahnya?

Ia kecewa. Sasuke menyembunyikan terlalu banyak rahasia dari dirinya. Sakura tak bisa terima. Ia ikut terseret di dalam permainannya. Ia hanya korban disini. Ia hanya orang asing yang dipaksa masuk ke dalam kehidupan lelaki itu.

Mengapa harus Sasuke menyembunyikannya? Apakah lelaki itu punya rahasia dan rencana lain untuk menjebaknya?

Dan setelah Sakura jatuh cinta, Sasuke akan melepaskannya dan menginjak harga dirinya hingga ia lagi-lagi akan merasa dibuang?

Sasuke akan menang jika seperti itu.

Sakura tidak boleh mencintai Sasuke. Ia tidak boleh jatuh cinta. Satu-satunya jalan adalah meninggalkan Sasuke sendirian dan kembali ke kehidupan awalnya.

Kehidupan membosankan yang ditakdirkan Tuhan untuknya.

Sakura memejamkan matanya. Menghembuskan napas pelan hingga paru-parunya terasa kosong akan udara. Ia kembali membuka matanya. Air mata telah terhenti sejak ia memilih untuk pergi ke kamar dan meninggalkan suaminya di sana. Mata hijaunya terlihat redup sambil memandang langit-langit kamar miliknya.

Ia harus memiliki rencana lain. Sasuke tidak main-main dalam ucapannya.

Dan malam itu ia kembali tertidur dengan mimpi buruk yang selalu menghantui malam panjangnya.

.

.

"Kau!"

Sasuke menggebrak meja kayu besar milik pria paruh baya yang sedang menyeringai keji ke arahnya. Kesabarannya sudah habis kali ini. Tak segan-segan ia akan memukul wajah menjijikan milik pria itu dan membunuhnya.

"Kenapa, Sasuke?" Pria itu menyeringai sinis dan berdiri memutari meja besar sambil terkekeh meremehkan. "Kalah langkah dariku?"

"Kau. Akan. Mati." Sasuke berujar dengan penekanan di setiap katanya.

"Sebelum aku mati, biarkan malaikat maut mengetuk pintu ajalmu terlebih dahulu." Pria itu menggelengkan kepalanya. "Sudah terlalu lama aku menunggu hal ini, Sasuke. Menunggu kau menderita hingga tak bisa bangkit lagi."

"Sampai kapanpun kau tak akan bisa, Orochimaru."

Pria itu menaikkan alis satu. "Benarkah?"

Sasuke tersenyum sinis. Ia memandang pria berambut panjang itu dingin. "Aku sudah tahu kelemahanmu."

"Dan kau berpikir aku sendiri tak tahu apa kelemahanmu?!"

Sasuke terdiam. Memandang penuh ancaman pada pria yang sedang menatapnya dingin.

"Kau akan mati. Akan aku pastikan kau, Sasori, dan putrimu Shion akan mati di tanganku. Ingatkan aku satu hal, Akatsuki akan ku habisi. Aku tidak pernah main-main."

Sasuke tertawa pelan di akhir kalimatnya. Ia memutar tubuhnya membelakangi Orochimaru dan melangkah pergi. Meninggalkan pria paruh baya itu yang sedang menatapnya dengan datar.

"Ingatlah, Sasuke. Dalang di balik kematian orang tua istrimu adalah kau."

Sasuke menghentikan langkahnya. Ia mengepalkan kedua tangannya erat di sisi tubuhnya yang bergetar. Mengabaikan Orochimaru yang menyeringai di balik punggungnya dan memilih untuk pergi.

.

.

"Kau tidak akan pernah berpikir untuk lari dariku."

Sakura menghentikan kegiatannya mengemasi pakaian miliknya yang disimpan rapi di dalam lemari besar yang disediakan Sasuke untuknya. Kepala merah mudanya menoleh dan mendapati Sasuke di belakang tubuhnya sambil memandang dirinya tajam dan dingin. Kedua tangannya tersembunyi di balik saku celananya. Kemeja putihnya sudah terbuka dua kancing atasnya dan lengannya ditarik hingga siku. Menampilkan Sasuke Uchiha setelah selesai bekerja.

"Jika kau berpikir seperti itu, kau salah."

Sasuke menaikkan alis satu. Membuat Sakura mendengus dan kembali merapikan pakaiannya ke dalam koper besar miliknya saat ia pergi ke bandara mencari kakaknya.

"Kondisi saat ini sedang berbahaya. Tetaplah untuk tinggal. Kau tidak akan selamat jika kau berani keluar dari sini."

"Katakan itu sekali lagi jika aku sudah keluar dari tempat terkutuk ini."

Sakura menarik kopernya menuju pintu kamar sebelum ada lengan lain yang mendorong koper miliknya kasar dan menariknya ke dinding hingga punggung mungilnya terasa sakit saat membentur dinding kamar.

"Kau tidak akan bisa lari dariku, Sakura."

Sasuke mengurungnya dengan kedua tangannya berada di sisi kepala merah mudanya. Sakura memandang Sasuke tajam. Ia berontak dengan berteriak minta tolong. Tapi nihil. Mereka semua takut pada Sasuke. Bukan pada dirinya.

"Lepaskan aku, brengsek!"

Sasuke tersenyum sinis. Ia mendekatkan wajahnya hingga berjarak beberapa centi dari wajah cantik istrinya. Menghirup napas dalam-dalam, ia menatap mata teduh itu dalam-dalam.

"Karena apapun yang terjadi, kau tidak akan pernah meninggalkanku sendiri."

Dan Sakura hendak mengeluarkan protesnya sebelum ada bibir tipis yang menempel pada bibir mungilnya. Melumatnya lembut dan penuh perasaan. Membuat kedua mata hijaunya membulat terkejut.

Ciuman itu masih berlangsung. Berubah menjadi panas saat kedua tangan Sasuke berpindah memegang wajahnya dan sesekali meremas pinggangnya. Ciuman penuh menuntut dan tak sabaran. Sakura bisa merasakannya.

Tubuhnya masih terdiam. Tidak merespon apa yang akan di lakukan Sasuke padanya. Ia menatap wajah tampan itu dingin saat kedua mata kelamnya terpejam. Sasuke menikmatinya sedangkan ia tidak.

Sasuke melepas ciumannya. Ia menatap Sakura dingin lebih dari sebelumnya. Kedua tangannya berpindah menggenggam kedua tangan istrinya. Mata kelamnya menatap wajah itu lekat.

Tak lama ada pukulan keras yang mengenai belakang kepalanya. Membuat matanya secara cepat menutup dan tubuhnya terjatuh ke depan. Sasuke dengan sigap langsung memeluknya. Menopang tubuh mungil yang jatuh pingsan di tubuh besarnya.

"Karena yang ku lakukan saat ini adalah untuk dirimu, kau milikku dan akan selalu seperti itu."

.

.

Sakura terbangun di tengah malam dan mendapati dirinya berada di dalam kamar besar. Ini kamar miliknya.

Ia bangun dan mendudukkan dirinya bersandar pada bantal besar di ujung ranjang. Lengannya terulur dan mendapati ada segelas susu putih ditambah air putih yang menemaninya. Pasti Ayame yang menaruhnya di sini.

Sakura dengan rakus meminum air putih tersebut dan meneguknya kasar. Tenggorokannya terasa kering. Semuanya terjadi terlalu cepat. Percobaan lari dari Sasuke lagi-lagi gagal. Ia kembali berbaring. Mengistirahatkan tubuh mungilnya yang terasa lelah dan sakit di beberapa titiknya. Sasuke membuatnya pingsan tadi!

Meremdamkan kekesalannya, ia kembali berbaring dan memejamkan matanya. Kembali tertidur.

Tak lama sosok dalam kegelapan itu muncul dari sudut ruangan. Menampilkan pria bertopeng hitam dengan seringai menyeramkan yang terlihat di wajahnya yang hanya sebagian tampak. Masih dengan sosok yang sama seperti sebelumnya. Sosok yang mengamati tubuhnya dari jauh.

Sosok hitam itu mendekat. Menatap Sakura dengan pandangan mata tajam yang penuh misteri. Lengannya terulur untuk mengelus wajah cantik yang sudah tertidur pulas itu dengan lembut.

Ia mendekatkan wajahnya hingga napas mereka saling beradu. Pedang tajamnya tersembunyi di balik punggung besarnya. Ia semakin mendekatkan wajahnya hingga bibirnya mengecup pelan dahi lebar milik gadis di bawahnya.

"Sampai kapanpun kau akan selalu menjadi order kecil ku, gadis manis."

Bibir itu turun secara perlahan dan berhenti tepat di atas bibir tipis Sakura yang mengeluarkan dengkuran kecil samar. Bibir itu perlahan bergerak mencium dan melumat pelan bibir manis di bawahnya hingga lama dan dalam. Ia kembali menarik bibirnya dan memandang wajah tertidur itu lekat-lekat.

"Aku mencintaimu, Sakura Haruno."

Dan sosok itu menghilang di balik gelapnya malam. Menyisakan udara dingin yang terasa mencekam menusuk kulit hingga ke dalam tulang terdalam.

.

.

Sasuke mengamati gedung miliknya dengan rasa marah. Di sana masih tersisa bekas-bekas terbakar saat api melahap semua isi di dalamnya. Tak ada jejak mencurigakan di dalamnya. Polisi masih dalam proses pengejaran pelaku di balik insiden ini.

Sasuke menatap dalam ruangan ini sampai suara Kakashi membuyarkan lamunannya.

"Tuan, aku rasa dalang di semua ini adalah Akatsuki."

Sasuke menganggukkan kepalanya mengerti. Ia berbalik dan menatap Kakashi datar. "Hn. Aku tahu. Bereskan ini semua. Pastikan tak ada jejak Akatsuki yang tertinggal di sini. Mereka semua adalah lawanku. Polisi tidak boleh mengetahuinya."

Kakashi mengangguk mengerti dan menyuruh beberapa pengawal yang sudah bersiap di belakangnya untuk membereskan tempat tersebut.

"Aku sudah menanggung semua biaya untuk keluarga Totsuki dan anak-anaknya. Mereka mendapat jaminan dariku. Hidup mereka tidak akan kekurangan setelah kepala keluarga mereka tewas karena kejadian ini."

Sasuke melangkah pergi ketika dering ponsel miliknya berbunyi dan menghentikan langkahnya.

"Kau gagal dalam misimu kali ini, Sasuke. Kau bodoh. Jiraiya masih hidup sampai sekarang. Apa maumu, bocah? Kau mau menantangku?! Hanya membunuh tua bangka itu kau gagal?"

Suara Orochimaru meninggi di akhir kalimat. Sasuke mendengus pelan dan berjalan melalui Kakashi yang sedang menatapnya penuh ingin tahu. Ia berhenti sebentar dan menatap Kakashi sekilas dari ekor matanya.

"Hn. Aku menantangmu, Orochimaru."

Dan Sasuke menutup panggilan itu secara sepihak, lalu berjalan pergi. Meninggalkan Kakashi dan beberapa pengawalnya di sana.

.

.

Sakura mempercepat langkahnya saat ponsel miliknya berbunyi dengan nama Tenten yang tertera di sana. Tenten sudah menjemputnya dan ia menunggu di halaman parkir rumah sakit. Tidak ketinggalan pula nama Sasuke yang masuk ke dalam daftar panggilan tak terjawab miliknya.

15 missed call from Sasuke.

Sakura mengerucutkan bibirnya kesal. Ia lagi-lagi harus kalah dan tertahan di penjara mewah milik suaminya. Apakah ia harus mencoba dengan cara memotong pergelangan tangannya dan menunjukkan aksinya pada Sasuke? Dirasa tidak. Sasuke akan menertawakannya dan mengejek tingkahnya. Ia bukan orang yang putus asa dan berpikiran pendek mengenai hal itu.

Sakura tersenyum tipis pada Tenten yang mengangguk dari kejauhan saat sosok mungilnya terlihat di pintu utama rumah sakit. Ia melangkah mendekati Tenten dengan cengiran polosnya. Tenten sudah lama menunggunya.

"Maafkan aku, Tenten. Maaf jika menunggumu terlalu lama."

Tenten menggeleng sambil tersenyum tipis dan digantikan wajah tegas seperti biasa. "Tidak apa-apa, Nyonya. Kami semua khawatir dengan keselamatan anda. Beberapa kali nomor anda tidak aktif dan anda tidak menjawab panggilan telepon dari kami maupun Tuan."

Sakura tersenyum kecut dan kembali mengangguk meminta maaf dan dibalas anggukan kecil oleh Tenten.

Mobil mewah itu melesat menjauh dari halaman parkir rumah sakit dan menghilang di tikungan jalan raya besar menuju pusat kota.

.

.

Sakura membuka pintu dan mendapati Sasuke sedang berdiri di sana. Menghentak-hentakkan kakinya kasar dan beberapa kali terlihat berjalan memutar. Ia sedang gelisah.

Sasuke menoleh dan melihat Sakura sedang berdiri terpaku di sana. Ia melangkah mendekati sang istri dan mendapat teriakan nyaring yang membuatnya terkejut hingga telinganya terasa mau pecah.

"Aku siap berdebat."

Sakura menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan alisnya terangkat satu. Memandang Sasuke datar saat wajah lelaki itu terlihat terkejut karena mendapat teriakan keras darinya. Rasakan itu!

"Jangan bertingkah menyebalkan."

Kerutan di dahi lebar Sakura terlihat. Sasuke memang ingin berdebat dengannya.

"Siapa? Aku? Kau yang menyebalkan, bodoh!"

Sasuke menyeringai geli padanya. Apa-apaan ini?

"Kau tidak menjawab teleponku." Sasuke berujar datar sambil menunjuk ponsel hitam miliknya yang sedari tadi di genggamnya.

Sakura mendengus kecil dan memandang ponsel itu sebentar. "Ponselku mati."

"Hn. Kau tidak bisa menipuku, Sakura. Tak mungkin ponselmu mati sejak pagi."

Sakura memandang sang suami dengan pandangan malas. "Untuk apa aku berbohong?"

Sasuke mengangkat alisnya satu dan kembali menurunkan bahunya acuh. Perdebatan selesai. Ia tidak ingin berdebat. Ia sedang lelah.

"Masakkan sesuatu untukku, aku ingin makan. Cepat!"

Dan suara bentakan di akhir kalimat membuat Sakura memandang Sasuke terkejut sebelum berlari cepat menuju dapur dan menghindari tatapan tajam milik lelaki itu.

.

.

Sakura memandang Sasuke yang sedang menatapnya ketika dirinya menyajikan kari hangat di atas meja makan. Ia menghela napas dan melangkah mendekati sang suami.

"Makanlah. Aku ingin membersihkan tubuh terlebih dahulu."

Sakura berujar pelan dan meninggalkan Sasuke sendirian setelah lelaki itu mengangguk setuju.

Sakura berlari dari kamar miliknya menuju meja makan dan Sasuke masih berada di meja makan sambil menyantap makan malamnya. Lelaki itu terlihat kelaparan. Lihatlah porsi makannya, melebihi pria normal lainnya.

"Kau menyeramkan jika sedang lapar."

Sakura mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Sasuke di depannya. Ia melihat sang suami menaikkan alis satu dan kembali melanjutkan kegiatannya.

"Aku lapar. Makanlah dan tak ada pembicaraan lagi."

Sakura menghela napas pelan dan menyendok salad dari mangkuk ke atas piring miliknya dan mulai menyantapnya dalam keheningan.

Sasuke sudah selesai dengan acara makannya. Ia menaruh sendok dan garpu miliknya di atas piring dan menatap Sakura yang sedang memakan makanannya.

Sakura menghentikan kegiatannya dan memandang Sasuke dengan tanya saat lelaki itu memilih untuk menatapnya ketimbang pergi menuju kamarnya untuk beristirahat.

"Ada apa?"

Sakura menaruh garpu miliknya dan meneguk segelas air putih yang berada di sisi piringnya.

Sasuke diam. Tidak berniat menjawab pertanyaannya. Lelaki itu hanya menatapnya layaknya patung. Tidak bergerak dan helaan napasnya juga tidak terdengar.

"Aku akan menembak kepalamu jika kau berani pergi dari sini."

Sakura mendongak dan mendapati mata kelam itu menatapnya tajam dan dingin. Oh, Sasuke sudah kembali ke alam sadarnya. Berubah menjadi sosok menyeramkan dan arogan seperti biasa.

Sakura menaikkan alis satunya. Menantang. "Kau berani?"

Sasuke menyeringai sinis di sana. "Mengapa tidak?"

Sakura meneguk ludahnya kasar. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain saat mata kelam itu menatapnya penuh intimidasi dan tajam secara bersamaan.

Sakura memilih mengabaikan jawaban dari suaminya dan melanjutkan makan malamnya ditemani tatapan lain yang mengawasi gerak-geriknya.

.

.

Sakura mencuci peralatan makannya setelah makan malam selesai. Ia mencuci tangan mungilnya di wastafel yang tersedia dan mengelapnya dengan kain hingga bersih. Ia berbalik dan mendapati Sasuke berdiri di sana. Menatapnya.

Sakura menghela napas dan melangkah hendak melalui sang suami sebelum ada lengan kekar yang menahannya dan kemudian memeluknya dari belakang.

"Katakan kau tak akan pergi dari sini."

Suara Sasuke terdengar pelan dan penuh perasaan di sana. Sakura menarik napas cepat dan berusaha melepaskan lengan kekar yang sedang memeluknya erat.

Lengan itu terlepas dan Sakura memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan tubuh Sasuke di depannya.

Mata hijaunya menatap wajah itu dalam-dalam. Mencoba memasuki dan mencari celah ke dalam mata kelam lelaki di depannya. Mencari arti tersembunyi di balik mata itu selama ini.

"Aku tak pernah bisa mengerti dirimu, Sasuke. Kau begitu membingungkan untukku."

Sakura membuang napas pelan. Wajah cantiknya masih setia membalas tatapan datar dari suami di depannya.

"Ada banyak hal yang kau sembunyikan dariku. Jujur, aku tak pernah ingin tahu apa yang kau lakukan," Sakura memandang bibir suaminya saat mata kelam itu berubah menjadi dingin. "Tapi di sisi lain aku juga ingin tahu apa itu. Kau selalu menahanku pergi. Tidak pernah mengizinkanku bebas. Aku hanya menjadi bebanmu. Bukan begitu?"

Sakura tersenyum tipis ketika menyelesaikan kalimatnya. Mata hijaunya kembali menatap mata kelam milik suaminya saat mata itu berubah datar. Sasuke memang penuh misteri, pikirnya.

"Keberadaanku hanya menghambatmu, Sasuke. Mari kita lupakan perjanjian itu. Anggap aku temanmu? Bagaimana?"

Sasuke menggeleng cepat. Ia melangkah mundur menjauhi Sakura satu langkah. Membuat gadis berambut merah muda itu menaikkan alisnya bingung.

"Jika kau ingin aku tetap tinggal di sini karena ingin menghancurkanku, kau menang," Sakura mengepalkan kedua tangannya erat-erat. "Tapi perlu kau ingat satu hal, aku akan bangkit dan membalas semuanya."

"Aku tidak akan pernah menganggapmu teman," Sasuke menatap wajah cantik itu datar. "Sampai kapanpun."

"Aku hanya tak ingin kau pergi. Itu saja."

Sakura menarik napasnya cepat dan menghembuskannya kasar.

"Hn. Jika kau ingin perjanjian itu batal. Aku sangat menyetujuinya."

Sasuke melangkah menjauhi Sakura menuju tangga melingkar. Kepala ravennya menoleh dan memandang wajah cantik itu sekali lagi sebelum benar-benar pergi dari sana.

"Kau boleh pergi jauh dariku suatu hari nanti. Aku akan melepasmu pergi."

Sasuke pergi, meninggalkan sang istri dengan pandangan bertanya.

.

.

Sasuke berjalan menuju taman belakang saat mendengar suara tertawa sang istri dari taman belakang rumahnya. Dan benar, ia menemukan Sakura sedang bermain dengan burung-burung merpati yang terbang bebas di atasnya sambil sesekali mematuk makanan yang berada di telapak tangan mungil Sakura.

Wajahnya terlihat berseri karena terpaan sinar matahari pagi. Jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi dan Sakura sudah bersemangat seperti ini? Gadis aneh.

Tawa bebas meluncur begitu saja dari bibir mungilnya. Sasuke bisa melihatnya jelas. Ia belum pernah melihat Sakura tertawa selepas itu sebelumnya. Gadis itu hanya tersenyum kecil dan tertawa sekadarnya. Tidak pernah selebar dan selepas ini. Pemandangan ini benar-benar langka.

Sasuke tersenyum samar saat Sakura berlari mengejar burung merpati berwarna putih itu memutari taman belakang dan taman bunga yang sengaja di tanamnya di belakang rumah. Menambah kesan indah dan sejuk secara bersamaan. Matahari masih belum menunjukkan sinarnya. Hawa dingin masih terasa menusuk kulit.

Mata kelamnya tanpa sengaja menatap bahu milik Sakura yang terdapat luka bakar dan itu terlihat sangat jelas di sana. Wajahnya mengeras. Wajah santai sebelumnya berubah menjadi datar dan dingin. Luka bakar itu menamparnya keras secara batin.

Sasuke tanpa sadar melangkah mendekati Sakura dan berdiri tegak di samping tubuh istrinya. Membuat Sakura mendongak dan tertawa melihat Sasuke di sampingnya. Bersyukurlah, Sakura masih terbawa dalam keadaan. Bermain-main dengan burung merpati itu membuat moodnya bagus hari ini.

"Ku pikir kau belum bangun," ucap Sakura sambil tersenyum manis dengan kedua tangannya memegang lembut burung merpati putih yang ditangkapnya.

"Lihatlah, Sasuke. Ia terlihat menggemaskan. Aku suka sekali." Sakura bergerak menggoyangkan burung merpati itu digenggamannya dan mengangkatnya tinggi. Membuat mata kelam itu memperhatikan apa yang dilakukan dirinya.

"Hn."

"Kau tak ingin sarapan? Aku sudah membuatkannya untukmu." Sakura berujar pelan tanpa menoleh pada sang suami di sampingnya. Mata hijaunya masih menatap kagum pada burung merpati yang ditangkapnya.

"Kau seperti anak kecil."

Sakura mengabaikan perkataan Sasuke di sampingnya dan memilih untuk bermain bersama beberapa burung merpati lainnya yang masih terbang dan sesekali mendarat di atas rumput taman untuk mencari makanan yang disebar Sakura di sana.

Sakura berjalan mendekati Sasuke yang masih berdiri tegak menatapnya. Ia berdiri di samping suaminya dan menatap ke depan taman dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Ku biarkan kau bebas, merpati kecil." Sakura tersenyum manis dan melepas merpati itu terbang bersama kelompoknya menuju luar taman. Meninggalkan Sakura bersama Sasuke di taman. Hanya mereka berdua. Merpati itu terbang menjauh dari keduanya.

"Kenapa kau melepasnya?"

Sakura tersenyum kecil saat merpati-merpati itu mulai terbang tinggi hingga tak lagi terlihat di manik hijaunya.

"Jangan pernah takut untuk melepas merpati terbang, karena yang terbaik akan selalu pulang." Sakura menoleh dan tersenyum pada Sasuke yang menatapnya dalam tak terbaca. Ia berbalik menuju dapur. Meninggalkan Sasuke yang berdiri di sana dengan pikirannya.

Karena yang terbaik akan selalu pulang…

Dan kata-kata itu berputar di dalam kepalanya bak putaran piring hitam yang mengalun lembut tak henti. Mengalun lembut bersama melodi yang mengiringinya.

.

.

Sakura melambaikan tangannya ke atas pada Ino. Oh, betapa menyenangkannya hari ini. Ia pergi ke rumah sakit untuk bekerja dan mendapati Ino sedang berkunjung ke sana. Suasana hatinya sedang membaik hari ini. Bagaimana tidak? Tadi pagi ia sarapan bersama dengan sang suami dan Sasuke tidak lagi menyebalkan seperti sebelumnya. Ya walaupun berbeda sedikit. Hanya sedikit. Dan selanjutnya ia kembali menjadi seperti biasa.

Lalu sebelum lelaki itu pergi bekerja, ia berkata pada dirinya untuk berhati-hati dan menggenggam tangannya erat ketika sosok menghilang dibalik mobil hitam yang melesat pergi menjauhi gerbang utama.

Sasuke sangat jarang melakukan hal seperti itu. Sakura berpikir bahwa sang suami sedang tidak sehat dan pikiran warasnya sedang dalam kondisi tak baik. Begitu pikirnya.

Ino mempercepat langkahnya dan berlari ketika Sakura berjalan mendekatinya. Yang didapatinya adalah pelukan kencang khas sahabat saat mereka belum bertemu sejak lama. Oh, betapa Sakura merindukan sosok Ino saat ini.

"Aku merindukanmu, Sakura." Ino memeluk tubuh mungil sahabatnya kencang. Membuat Sakura terkekeh di balik bahu mungilnya. Beberapa pegawai di sana yang melihat mereka tersenyum kecil sebelum kembali dengan kegiatan mereka.

"Kita hanya belum bertemu dua minggu, Ino. Ada apa dengamu?" Sakura melepas pelukan sahabatnya dan menatap wajah cantik bak Barbie itu sambil tersenyum geli.

Ino mengerecutkan bibirnya kesal dan selanjutnya ia tertawa lebar. "Bodoh! Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu."

Sakura tersenyum manis dengan kedua tangan mereka saling terpaut satu sama lain. Sakura menarik tangan itu menuju ruangan kerja miliknya.

"Aku ingin ke toilet dahulu dan memesan makanan di luar sana untuk kita," Ino mengedipkan sebelah matanya dan berhasil membuat Sakura tertawa lebar untuk kesekian kalinya. "Aku takkan lama, Sakura." Tautan tangan mereka terlepas dan tubuh mungil Ino menghilang di balik kerumunan para pasien dan pegawai rumah sakit yang berlalu-lalang.

"Mau pergi kemana?"

Suara sinis itu terdengar jelas dari balik punggungnya. Sakura mengetahui siapa pemilik suara ini. Dengan cepat ia berbalik dan mendapati Shion sedang tersenyum sinis dengan pengawal pribadi wanitanya.

"Ada apa?" Sakura memutar bola matanya bosan. "Ini di rumah sakit, jika kau ingin membuat keributan di sini sebaiknya siap angkat kakimu karena mereka akan mengusirmu."

Shion terkekeh sinis. "Heh? Beraninya kau padaku. Kau pikir kau siapa di sini? Oh, berita yang kudengar, Sasuke membelinya? Dari Yamanaka? Apa aku salah, Haruno?"

Sakura balas mendengus kecil. Mata hijaunya menatap mata bening itu meremehkan. "Tidak, kau tak salah, Shion. Sasuke memang membelinya."

"Dan kudengar juga, kalau kau sekarang berteman baik dengan Yamanaka itu. Hm, tidak kusangka gadis menjijikan sepertimu bisa mendapatkan teman."

Sakura melotot marah pada Shion dengan pandangan tajam. Beberapa pasien dan pegawai di sana tidak peduli dengan pembicaraan mereka. Tak ada yang mengetahui kalau ada aura permusuhan dari dua orang wanita berbeda warna rambut ini.

"Setidaknya aku lebih baik," Sakura memandang sinis Shion dengan tatapan menelisik dari atas rambut wanita itu hingga alas kaki yang digunakannya. "Kau terlihat sendirian kemanapun kau pergi. Kemana temanmu? Mereka pergi?"

Shion mengatupkan bibirnya menahan amarah. Tidak. Ia tidak boleh mengeluarkan emosinya di sini. Ia tidak boleh kepancing. Ini tempat umum.

"Aku akan mengadukan pada Sasuke tentang hal ini."

Sakura tersenyum tipis. "Lelaki itu bisa apa untuk menolongmu?"

"Ia mencintaiku."

Sakura tertawa pelan. Mengejek. "Jika ia berpaling dan mencintaiku? Ingatlah, Shion. Aku ini istrinya bukan kau. Tak wajar jika ia mencintaimu. Itu kesalahan dan dosa besar. Semua orang di dunia ini tahu kalau itu perbuatan yang salah."

"Kau!" Suara Shion meninggi. Tatapan mata mulai mengarah pada mereka berdua. Shion mengabaikannya. Ia melangkah mendekati Sakura dengan suara hak tingginya memekkan telinga gadis berambut merah muda ini.

"Lihatlah dirimu, kau tak ada apa-apanya…" Shion menatap tubuh Sakura dengan pandangan jijik. "Kau selalu memakai sweater lusuh dan celana panjang menjijikkan. Aku tak pernah melihatmu memakai pakaian seksi nan menggoda iman para lelaki. Heh, kau percaya diri sekali Sasuke bisa mencintaimu. Jangan bermimpi terlalu tinggi." Shion melemparkan pandangannya ke arah Kurenai yang berdiri tegak dengan setia di sampingnya.

"Kalau begitu, akan ku buat Sasuke mencintaiku dan berpaling darimu. Aku tidak akan takut akan hal seperti ini lagi, Shion. Aku bukanlah gadis lemah yang akan menangisi keadaan saat kau dengan santainya melempar harga diriku untuk diinjak-injak orang lain," Sakura tersenyum kemenangan ketika menyadari raut wajah Shion yang berubah. "Aku menantangmu, Shion."

Dan lengan itu melayang hendak menampar wajah cantik itu sebelum ada lengan lain yang menahannya.

"Jika kau berani lakukan seperti itu. Kau berhadapan denganku, Shion."

Sakura mendongak dan menatap punggung besar yang berdiri menjulang tepat di depannya. Itu Sasuke. Demi Tuhan, sedang apa ia disini?

Ia bisa melihat Kurenai menunduk sedikit di belakang punggung Shion sebelum wajahnya terlihat datar dan kembali tegas seperti sedia kala. Ada apa ini?

Sakura memutar pandangannya dan banyak dari pegawai serta pasien serta pengunjung sedang menatap dirinya dengan pandangan bertanya. Sakura tersenyum kikuk dan berniat untuk membubarkan mereka semua. Berharap ini semua tidak terjadi. Ia tidak pernah ingin menjadi pusat perhatian siapapun.

"Bubar kalian semua!" Suara teriakan keras dari Ino menggema di sepanjang koridor rumah sakit. Mereka yang memerhatikan kejadian itu kembali melanjutkan kegiatan mereka sebelumnya. Melupakan apa yang terjadi dan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa.

Ino berlari dan memeluk Sakura yang terkejut di balik punggung Sasuke. Mata birunya menatap Shion marah dan kembali menggelap saat menemukan lengan Sasuke menggenggam lengan milik Shion erat.

"Kau," Ino menunjuk Shion dengan telunjuk mungilnya dan kemudian beralih pada Sasuke yang menatap datar dirinya. "Apa-apaan kalian ini? Hah? Mencari ribut di dalam rumah sakit? Dimana otak kalian?!" Suara keras Ino berhasil membawa mereka berdua menuju alam sadarnya masing-masing. Dengan cepat, Sasuke melepas genggamannya dan menatap Ino datar.

Ino mengeluarkan napas kasar dan memutar tubuhnya mendorong Shion yang menatapnya dingin. "Kau si iblis neraka yang kembali mengganggu hubungan mereka. Apa yang kau lakukan di sini?"

Shion masih menatap Ino dengan tajam. "Bukan urusanmu, brengsek!"

Ino hendak menampar Shion ketika Kurenai berdiri menjulang di depan Shion bergerak untuk melindunginya.

"Kau tak lebih seperti sampah yang mengganggu mereka! Pergi dari sini! Aku akan panggilkan satpam untuk menyeretmu dengan pengawal tak berguna milikmu ini ke depan pintu rumah sakit!"

Sakura melangkah untuk menenangkan Ino yang tampak emosi di depan sana. Ia menatap Sasuke dan menyuruh lelaki itu untuk mundur. Ia mengelus punggung Ino dengan sabar dan lembut. Menenangkan emosi sahabatnya.

"Aku tak pernah ingin melihatmu terluka lagi, Sakura," ia menatap Sakura sendu dan kembali menatap Shion tajam. "Bila perlu aku akan menyingkirkan iblis ini dari hidupmu selamanya. Yamakana Ino tidak akan main-main."

Shion tertawa mendengar perkataan Ino di depannya. "Silakan. Aku menantikan hal itu, Yamanaka. Jangan berpikir kau dikenal dari kaum kelas atas dan itu membuatku takut padamu. Kau tak lebih dari sampah jalanan yang terbuang menyedihkan."

Dan tamparan keras itu tepat mengenai pipi putih milik Shion hingga warna merah terlihat jelas.

"Kau brengsek! Mulai sekarang, hidupmu tak akan tenang, Shion!" Ino berteriak kencang mengumpat dan mendorong tubuh Shion menjauh dari pandangannya.

"Pergi, Shion." Suara dingin Sasuke berhasil menciutkan nyalinya. Ia kembali menatap dua gadis berbeda warna rambut itu tajam sekali lagi dan berbalik memutar tubuhnya menjauh dari sana.

"Mau apa dia kesini? Menyakitimu? Kau tak apa? Maafkan aku, Sakura. Seharusnya aku tak meninggalkanmu disini sendirian. Shion berbahaya untukmu." Ino memeluk tubuh mungil Sakura yang berdiri di belakangnya. Sakura balas memeluknya dengan lembut dan berusaha menenangkannya.

"Tidak apa-apa, Ino. Aku baik-baik saja. Terima kasih, itu luar biasa." Sakura tersenyum manis dan dibalas dengan senyuman tipis dari Ino.

Mata birunya, lalu berputar memandang Sasuke yang lebih tinggi darinya tak kalah tajamnya.

"Aku tahu apa hubunganmu dengan Shion sebelumnya, Sasuke," ia melihat tubuh kekar lelaki itu tegang sekilas. "Aku akan membunuhnya terlebih dahulu lalu setelah itu kau jika kau berani menyakiti sahabatku. Persetan dengan bisnis dan lainnya. Aku tak main-main." Bisik Ino tajam.

Sasuke melirik Sakura yang terkejut dengan perkataan Ino di sampingnya.

Ino memeluk Sakura sekali lagi sebelum dirinya berpamitan pergi. Batal sudah pertemuannya dengan Sakura. Ia berjanji akan menemui Sakura lain hari.

Sakura menghela napas dan melirik Sasuke yang melangkah bergerak di sampingnya. Mengambil tangan miliknya dan menariknya pergi. "Kita pulang."

.

.

Malam sudah semakin larut. Sakura masih berkutat dengan pekerjaan rumah sakitnya. Pekerjaannya tertunda karena kejadian tadi siang. Otaknya kembali berputar secara cepat. Mengapa tiba-tiba Sasuke datang kesana? Siapa yang memberitahunya? Ada perlu apa lelaki itu ke rumah sakit?

Sakura berdiri dan meninggalkan kamarnya. Mencari keberadaan dimana suaminya itu berada. Ia ingin menanyakan pertanyaan yang sejak tadi hinggap di kepalanya.

Lengan mungilnya terulur untuk membuka pintu yang sama sekali belum tersentuh olehnya semenjak ia menginjakkan kaki di sini. Ia ingin tahu ada apa di dalam kamar milik Sasuke. Ketukan pintu yang ketiga kalinya lagi-lagi nihil. Sasuke tidak ada di kamarnya. Apa lelaki itu sudah tidur?

Sakura membuka gagang pintu besi itu perlahan dan matanya membulat takjub saat mendapati desain interior kamar milik suaminya. Sasuke benar-benar hebat menata kamar pribadinya.

Kaki jenjangnya mulai masuk perlahan ke dalam ruangan. Mata hijaunya masih melirik takut-takut jika Sasuke secara tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Dan Sakura akan merasa seperti perampok yang ketahuan mencuri.

Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kecil berwarna coklat yang terdapat di sudut ruangan. Mata hijaunya menatap pintu itu lekat-lekat. Wajahnya menunduk dan mendapati ada satu lembar foto mengintip dari celah pintu paling bawah. Ia mengambil foto itu perlahan dan menatapnya dalam.

Matanya membulat terkejut. Ia memegang foto itu dengan tangan bergetar. Air mata siap tumpah dari pelupuk matanya tanpa bisa ia cegah. Tubuhnya bergetar hebat. Foto itu jelas terlihat menggambarkan sang kakak yang diikat dengan tubuh penuh darah dan luka-luka bekas pukulan dan sayatan beda tajam. Wajah sang kakak terlihat lemah tak berdaya. Sakura tak salah lihat. Cahaya di kamar ini membantunya melihat semua dengan jelas.

Sakura menangis. Ia tak sanggup melihatnya. Ini kakaknya. Kakak yang selama ini di carinya.

Tujuh tahun tak bertemu ia mendapati sang kakak seperti ini kondisinya. Tubuhnya bergetar hebat dengan tangannya yang masih menggenggam foto itu kuat-kuat.

Suara pintu terbuka mengejutkannya. Sasuke masuk ke dalam kamarnya dan terkejut mendapati Sakura berdiri dengan tubuh bergetar sambil memegang foto. Tunggu, foto?

"Sakura?"

Dan Sakura memandang Sasuke tajam bak pembunuh yang bersiap membunuh targetnya. Tatapan mata hijau yang basah karena air mata itu menampar Sasuke. Sakura memegang foto. Dan ia tak tahu foto apa yang digenggam istrinya.

Tatapan Sakura mendingin menatap Sasuke yang semakin maju mendekat ke arahnya. Ia melangkah mundur menjauhi Sasuke yang menatapnya datar namun penuh emosi bergejolak di sana. Wajahnya telah basah dengan air mata.

"Jangan mendekat!" ia berteriak keras dan berhasil membuat tubuh Sasuke membeku di sana.

Ia menangis sekali lagi. Sasuke mengetahuinya dari air mata yang mengalir deras dari mata teduhnya.

"Siapa kau Uchiha Sasuke? Dan foto ini, apa yang kau lakukan pada kakakku?!"

Dan Sasuke diam membeku melihat foto Sasori yang babak belur sedang digenggam oleh istrinya.

Sakura akan mengetahui rahasia terbesarnya selama ini yang ia sembunyikan rapat-rapat dari dunia luar selama hidupnya dan mungkin selamanya.


.

.

.

.

Tbc.

.

.

.

.


Author Note:

Tadinya mau ngelanjutin Ayah mengapa kau membenci kami, tapi idenya mentok dan aku mau ngelanjutin ini fic huhuhu. Harus dipending dulu itu fic. Lagipula ini fic juga mau tamat kokk. Tapi entah kapan :")

Q: Sakuranya jadi lemah. Ga bosen apa buat fic kayak gitu mulu?

A: hahaha dimana lemahnyaaa? Emang kalo nangis itu selalu dikaitkan dengan lemah ya? duh

Q: kenapa sasori benci Sakura?

A: ada deh hihih entar ketauan kok kenapa doi benci adeknyaa :(

Q: update cepet dong

A: tergantung mood sama idenya ya. anak sekolahan maklum ide nya kepentok ama hapalan pelajaran sekolah huhu #curcolneng

Q: sasuke itu baik ya?

A: huuh aslinyaaa yang jahat itu kan yang di sekelilingnyaaaa

Ohyaa saya ga perhatikan typo huhu. Saya ngerjainnya juga ngebut karena hari senin ada deadline dan hari ini email terakhir. Jadi nyelipin waktu gapapa yaa :")

Oiya, kalian (bagi yang gasuka) gausah baca ficnya. Saya udah kasih warning bisa tinggalin halaman ini. Dan please, back to authornya pelan-pelan aja. Saya sebenernya cuek sama flame atau haters tapi kalau keterlaluan bisa bertindak juga. So, saya peringatkan. Mungkin jalan satu-satunya emang ngehapus fic.

Terima kasih bagi yang sudah review, fave, follow XD

Love,

emerallized onyxta