Disclaimer: karakter bukan milik penulis, Tulisan dibuat untuk hiburan dan tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan.


-Virtual Boyfriend-

Chapter 10

...

..

.

8k gais.

UPDET CEPET KAN, GAES? HUAHA.

Gak nyangka ini chap terakhir :" dan usia ff ini udah 2 tahun sendiri (dan saya pun masih jomblo) /EYA EYA. Gak nyangka akhirnya akika bisa namatin ff multi chapter ane ini, huhu :" Berasa kayak mau ngelepas anak buat dikawin orang

Meski ff (sok) humor ini gagal buat kalian ngakak, tapi semoga seenggaknya kalian bisa senyum malu-malu harimau waktu baca ff amberegul ameseyuw ini yak.

.

.

(Semoga) Enjoy, gaes!

Warning: AU. OOC. Humu. Menye. Garing. De el el.

Take your own risks ;) risiko baca ff gaje ini ditanggung sendiri ya gais ;))

.

.

.

.

.

Karena tidak dikejar (bahkan sudah dengan sengaja melambat-lambatkan langkah berharap Suho akan muncul dengan heroiknya), Lay dengan semangat dan tubuh yang selemas-lemasnya memilih untuk mengendarai bus menuju kompleks apartemennya karena hari sudah menggelap. Langkahnya sengaja diseret-seret, seolah dia adalah jomblo paling menyedihkan di dunia.

Hampir.

.

Dia menyusuri jalanan lenggang nan sepi itu seorang diri. Giginya bergemeletuk kedinginan karena memakai pakaian seadanya. Salahnya juga sih yang sok sok pakai acara melarikan diri dramatis seperti tadi.

Mana epic fail, pula.

Nyesel deh nyesel.

.

Sebenarnya, bohong kalau Lay bilang dia tidak merasa senang—harapan nistanya terkabul.

Money ternyata tak lain dan tak bukan adalah tetangganya sendiri. Orang yang selama ini menjadi poros kegalauan hatinya. Dan Lay merasa bodohsekali, ternyata selama ini dia menggalaukan orang yang sama.

Dan sekarang, setelah ia mengetahui kalau Money itu Suho, lantas apa? Sekarang hubungan mereka mau dibawa kemana? Pacaran beneran?

.

Atau cukup... sampai disini saja?

.

Dia bahkan tidak tahu apa Suho masih akan menerimanya setelah lelaki itu mengetahui kalau unicorn itu dirinya. Musuhnya. Tetangganya. Bawahannya. Babuny—

Gak.

Lay masih menolak.

.

Bisa saja setelah ini Suho berubah illfeel dan memutuskan menjauh. Bisa saja kan kemudian Suho bertambah jijik kepadanya, menjaga jarak dengannya, hilang dari peradaban hidupnya.

Selamanya.

.

Selama lama lama lamanya.

.

Mama.

Itu semua terlalu nyelekit untuk dipikirkan.

Bodoh sekali. Kenapa dulu mereka tidak jujur satu sama lain saja mengenai identitas mereka? Kalau sejak awal begitu, semua drama ini tidak akan terjadi. Lay tidak perlu menanggung rasa beban sakit hati ini. Perasaannya yang diombang-ambing tak tentu arah antara Money dan Suho yang ternyata satu tubuh.

Kenapa oh kenapaaaaaa?

Tapi Money—si Suho, pernah bilang,

"Tidak. Nanti jadinya tidak seru. Bukankah akan menyenangkan nantinya jika suatu saat kau mengetahui bahwa ternyata mungkin saja aku ini sahabatmu sendiri? teman sekelasmu? tetanggamu? atau mungkin saja musuhmu?"

Lay ingat Money dulu pernah bilang begitu saat sesi perkenalan mereka.

Dan atas dasar itulah mereka sama-sama menyimpan identitas mereka, berkomitmen untuk tak sekalipun mengungkit-ungkit informasi pribadi mengenai diri masing-masing.

Mereka berpacaran tanpa bermodalkan apa-apa kecuali rasa percaya. Unicorn dan Money menjalin hubungan tanpa tahu siapa yang ada di balik layar, membiarkan waktu yang akan membimbing semuanya. Hingga suatu saat mereka benar-benar ditakdirkan untuk bertemu.

Dan jika memang berjodoh, kalau memang sudah jalannya begitu, pasti tidak akan kemana juga.

Itu komitmen mereka.

.

Tapi setelah mengetahui semuanya, Lay jadi bimbang sendiri.

.

Money bilang semua bakal lebih seru kalau seperti itu. Tapi sekarang, keanyataannya bagaimana? Kalau sudah begini, dia mau apa? Apakah itu berarti dia dan Suho memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh?

.

Buktinya, lelaki itu tidak ada usaha untuk mengejarnya, sampai sekarang.

Syedih.

.

Langkahnya terhenti sejenak saat telinganya sempat menangkap suara grasak-grusuk dari arah belakang. Dia menoleh siaga, namun tidak ada siapapun, atau bahkan apapun di belakangnya. Jalanan kosong melompong. Tidak tanda-tanda kehidupan sejahtera dimanapun juga.

.

Lay menegak ludah.

Kalo bukan hantu, berarti penjahat.

Mampus.

Peduli setan sama imej manly—Lay ketakutan, demi pisang.

.

Kalo nanti dia dibius, diculik, lalu dikirim jadi tki bagaimana?

Siapa nanti yang akan mewarisi harta keluarga Zhang? Siapa nanti yang menggantikan peran sebagai anak paling tampan kedua orang tuanya? Siapa nanti yang akan memberi kedua orangtuanya cucu? Siapa yang nanti bakal nikahin Suho? Siap—

Lagi.

Dia mendengar suara grusak-grusuk itu lagi.

Dengan cekatan dia menyembunyikan diri di belakang tembok salah satu bakery's shop yang kebetulan tutup. Tangan direntangkan dan punggung menempel tembok. Nafasnya terengah dan jantungnya berpacu cepat.

Kalau dia tidak punya modal bela diri, maka satu-satunya cara hanya dengan menjebak orang iseng itu.

.

Lay sudah siap berperang.

Sayang dia tidak bawa pedang.

.

...Well, ada sih pedang.

.

Tapi Lay rasa pedangnya itu kurang pantas dikeluarkan disaat-saat krusial begini.

Jadi dia simpan dulu pedangnya baik-baik.

.

Ia pegang sepatu sebagai barang substitusi. Karena percayalah, kalau keadaan terpepet, pada dasarnya semua barang punya nilai esensinya sendiri-sendiri. Jadi jangan remehkan the power of kepepet.

Grasak grusuk lagi.

Lay pasang kuda-kuda, siap menerjang.

.

Dan ketika bayangan itu datang—

THUAK.

"BEGAL BEGAL!"

"MANA BEGALNYA? MANA? MANAAAAA?"

.

Orang yang dia timpuk malah panik sendiri.

.

Lay pending aksi defense-nya.

Dia hentikan timpuk manja sepatunya untuk menilik siapakah gerangan yang sudah dia jadikan korban salah sasaran. Kok rasa-rasanya dia kenal sama cowok dengan ransel dan wajah yang ditutupi masker polkadot ini—

.

Dan ketika masker polkadot itu diturunkan—

.

"Aisyah..."

.

"Ha—"

"M-maksudku, Joonmyun. M-maaf aku kelepasan," dia terpesona selama sepersekian detik, lalu memalingkan wajah. Kok ya di saat-saat seperti ini masih bisa-bisanya dia terbawa suasana?

Omong-omong, ternyata yang menguntitnya bukan begal beneran.

Lagipula,

.

...apa yang bisa dibegal dari seorang Zhang Yixing?

.

Lay bersyukur untuk itu.

.

Dia menoleh lagi, mengamati si tetangganya yang kini mengusap-usap kepalanya dengan kernyitan kesakitan. Lay jadi merasa bersalah, "Kamu... nggak papa kan?"

C.i.e.

"Gila, senat senut nih." Suho mendesis, "tenagamu sudah kayak tenaga kuda."

"Maap deh," ujarnya setengah niat, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, mendecak keras-keras, "Lagipula ngapain jalan ngendap-ngendap gitu?" Namun realisasi seakan baru menamparnya tepat di pipi, dia menunjuk-nunjuk atasannya dengan tidak sopannya, "Ha! Kau ngikutin aku ya?" kedua matanya memicing curiga, "Kenapa? Khawatir pasti?"

...harap-harapnya sih begitu.

Suho yang masih mendesis kesakitan akhirnya mendongak. Tidak terima begitu saja karena secara tidak langsung dia dikatai sebagai penguntit, "Siapa yang ngikutin?"

"Ya kau lah!"

"Jangan sembarangan nuduh, horse!"

"Terus ngapain kau bisa sampai disini? Dihipnotis?" Lay memutar mata kesal.

Decakan otomatis keluar dari bibir Suho yang berkacak pinggang, "Kau lupa kalau kita tetanggaan?"

Lay mengetuk dagu,

"Eh iya ya?"

Always Lay.

Always understanding.

Suho mendengus berat. Badannya berputar arah, berjalan mendahului Lay begitu saja, otomatis mengabaikan teriakan heboh dari yang bersangkutan.

.

Suara derap langkah kaki.

"Joonmyunnnnnnnn!"

Terabaikan.

"Stop stop, kamu terlalu kenceng hhhhhh!"

Masih terabaikan.

"Pelan-pelan dong, aku nggak kuat—"

Suho berhenti tiba-tiba, membuat Lay yang berlari mengejarnya menubruk punggungnya, keras. Hingga membuatnya kehilangan keseimbangan.

Tubuh Lay oleng, jatuh terduduk ke tanah dengan bokong sebagai materas. Berbagai macam hewan kebun binatang sudah siap meluncur dari ujung lidahnya karena efek terkejut, sebelum kemudian diinterupsi oleh sang ketua senat sendiri,

"Jangan teriak-teriak gitu, kenapa sih? Norak, tahu. Mana teriakanmu ambigu gitu. Bisa-bisa aku dituduh nganu-anuin kamu."

Lay bangkit dari tanah, menepuk-nepuk belakang celananya yang ternodai pasir. Dia hanya memeletkan lidah nantang, yang hanya dibalas Suho dengan bola mata yang berputar tak peduli. Sang atasan kembali berjalan mendahului, sementara Lay bersusah payah menyamakan langkah agar tidak tertinggal lagi. Akhirnya kini mereka berjalan bersisian dalam jarak dua meter.

Keduanya berjalan dengan dilingkupi keheningan. Lagi-lagi keheningan memuakan ini.

.

Baik Suho dan Lay sama-sama membenci ini.

.

Suho sebagai yang lebih tua dan lebih waras, mencoba memecah situasi awkward yang membelenggu mereka. Dia bersihkan tenggorokannya dengan deheman,

"Kau kedinginan?"

Lay menahan hasratnya untuk menangis terharu karena (akhirnya) dia dapat perhatian, namun ditutupinya dengan kerlingan stay cool dan menjawab—

"Aku tidak butuh jaketmu."

Bagus, Zhang Yixing. Sekali-kali pertahankan harga dirimu. Buktikan kalau kau bukan receh—

"Geer. Yang mau minjemin jaket juga siapa?" Dengusan kasar Suho luncurkan, menimbulkan uap yang tampak menyembul begitu jelas di antara dinginnya malam,

"Jaketnya ori tahu. Mahal."

Lay lemes.

Namun sesuatu tiba-tiba terlempar ke wajahnya.

"Dahek—"

"Pakai tuh."

Lay memandangi sepasang sarung tangan yang kini ada di telapak tangannya yang terbuka, memandangi benda itu sejenak sebelum beralih kepada Suho dengan seulas senyum congkak di wajah.

"Kenapa? Sarung tangannya enggak ori?"

"Memang bukan, ini cuman kw tiga jadi nggak masalah."

Cukup tahu.

"...Hngh."

Tak terasa kompleks hunian mereka sudah ada di depan mata. Berdua mereka menyusuri lobbi kemudian naik ke tangga—apartemen mereka tidak punya lift, memang. Sepanjang perjalanan diisi dengan sesi jegal-menjegal dan jambak-menjambak t-shirt yang sempat beberapa kali kena tegur tetangga.

Untunglah mereka sampai ke lantai tiga masih dalam keadaan utuh, sehat sentosa—mereka sudah terlalu expert, lagipula. Kini keduanya sudah berada di depan pintu masing-masing dengan punggung saling membelakangi.

Lay mencoba mencuri-curi pandang melewati bahunya, menunggu pergerakan apapun dari Suho, namun sayangnya tak kunjung datang. Lay mengumpat rendah. Harapannya di taken sama tetangga depan rumah pupus sudah.

Dia baru saja akan mengubek-ubek tasnya untuk mencari kuncinya yang mungkin terselip, saat suara selembut sutra itu menyapa gendang telinganya.

"Yixing... "

Lay membeku, tubuhnya seolah mati rasa detik itu juga. Suho jarang sekali memanggilnya Yixing.

"...Ya?"

"Aku mau mengatakan sesuatu."

Ia menerka-nerka kalau kini Suho sudah berbalik badan, menjadi menghadapnya. Namun Lay masih menolak berbalik, jadi Lay tidak tahu ekpresi wajah yang seperti apa yang dikenakan pemuda itu saat ini. Apakah kalem? Berblushing blushing? Mupeng—

"...Apa?"

"...Anu itu..."

.

Tidak salah lagi. Positif.

Reaksi yang gugup mengindikasikan Suho pasti mau confess. Astaga jantung, kuat-kuat ya. dia nggak siap—

.

"Boxermu—keliatan."

"..."

.

Koreksi, tolong.

.

"Coba diulang."

"Aku mau bilang, kalau daritadi boxermu keliatan."

Holysh—

.

Lay cepat cepat berbalik, kedua tangan itu kini telah berpindah fungsi menutupi aset bagian belakang tubuhnya dan menempelkannya ke pintu rapat-rapat.

.

Suho smirk.

Lay tengsin.

.

"Ungu polos—"

"Diem!"

Suho ngakak.

That little shit.

Memalingkan muka, Lay mencoba membenahi letak celananya. Ya Tuhan, malunya nggak ketulungan. Kenapa dia tidak sadar kalau dari tadi dalemannya live show duluan. Dia menyorot Suho dengan kerlingan ganas untuk terakhir kali, kemudian berbalik badan untuk menutupi wajahnya yang seolah tak berbentuk lagi saking malunya.

"Tunggu dulu—Aku belum selesai." cegah pria itu sebelum Lay sempat melakukan usahanya untuk mencari kunci apartemennya di dalam tas yang tadinya sempat tertunda.

Lay memutar mata,

"Kalau ini masih tentang boxer-boxeran—"

"Bukan, ini bukan tentang boxer-boxeran, suwer."

.

Lay luluh.

.

.

Helaan nafas panjang.

.

"Ini tentang kita,"

.

.

Kita...

Kita, dia bilang.

.

Oh Em Ge.

.

Telinganya menangkap suara decitan sepatu yang mengetuk lantai tak berirama di belakangnya—Suho gugup.

Lay memutuskan untuk membalik tubuh dan menghadap si lawan bicara. Untuk yang kedua kalinya mereka berdiri berhadap-hadapan, benar-benar bertukar pandang—di depan pintu apartemen masing-masing.

Rona semu diwajahnya tak bisa dikontrol lagi.

Suho yang menyadarinya mendengus keras,

"Tuh kan geer lagi."

"S-siapa juga yang Geer!"

Pandangan penuh rasa tidak percaya tertuju kepada yang lebih muda "Lalu kenapa wajahmu merah-merah begitu?"

Lay membuang muka, balas mendengus, "Wajahmu juga merah, tahu."

"Ini karena efek dingin. Kau tahu kan suhu yang berubah bisa membuat manusia jadi—"

"Jadi ngomong nggak sih, om?" potong Lay dengan nada tak sabaran. Dia juga gugup setengah mati, tahu. Dan Suho yang nge-rambling macam itu sama sekali tidak meminimalisir kegugupannya, asal tahu saja.

"Oke. Oke. Jadi begini... " Lay melihatnya menarik nafas banyak-banyak lalu menghembuskannya perlahan-lahan sebelum memulai. Lay hampir saja melorot ke lantai jika ia tidak berpegangan pada kusen pintu, saat tiba-tiba manik hitam pekat itu menatapnya lekat-lekat.

Suho mengunci pandangannya, tepat di mata.

.

"Mungkin aku serius dengan apa yang terjadi dengan kita di dunia maya."

.

Lay memekik tertahan.

Amsyong.

.

Di depannya Suho merendahkan kepala, menghindari kontak mata.

Suaranya lamat-lamat, nyaris seperti bisikan. Namun Lay menangkapnya dengan jelas, meski diselingi oleh suara debar jantungnya yang bertalu-talu di dalam sana.

"...Can we make it real?

"...Apa?"

"Iya can we—"

"Pakai bahasa manusia, plis. Kurang paham."

Sebiji satu ini benar-benar...

"...Kau memang perusak momen, Zhang."

Suho menghembuskan nafas panjang-panjang, antara nervous dan jengkel.

"Maksudku, kita bisa mengulanginya dari awal. Menjalani hubungan yeah, emm... secara lebih nyata? Aku pingin nggak muna untuk sekarang. Maksudku oke, sejak awal kita ketemu aku ngerasa ya..." Suho menggantukan kalimatnya mencoba mencari-cari kata yang tepat, dia menggaruk pipinya asal,"..beda. Iya, beda. Kamu aneh, iya. Abstak, iya. Nyebelin, iya. Norak, iya. Kere, lumayan—"

Lay mendelik.

"Tapi kamu... unik. Apalagi kamu punya dimple. Jadi bohong banget kalau aku bilang kau nggak yeah, eum, charming. Yah, walau bukan cinta pandangan pertama juga sih, tapi semenjak kita sering adu mulut, kau seolah jadi menginvasi pikiranku, tiap harinya." Suho mendongak, buru-buru meralat saat dia melihat aura Lay yang berubah blink-blink,

"Bukan berarti aku nggak bisa hidup tanpa kamu ya. Tapi sebenernya akan jauh lebih baik lagi kalo kamu jadian sama aku. Masa depanmu bakal lebih terjamin kalo sama aku. Dan kalo nanti kita nikah, kita bakal punya keturunan—kamu yang melahirkan, aku yang kasih dukungan—yang punya gen unik dari kamu dan gen super jenius dari aku. Ya kalo itu bisa sih, yang penting kita usaha dulu. Tapi bukan berarti aku desprate banget ngarep bisa jadian sama kamu lho ya."

Useless sudah.

Sedang kulit wajah Suho sudah berubah semerah kutil matang.

.

Suho ini memang tidak pandai menyatakan perasaan. Dia bingung mau bilang kalau iya—intinya, dia ini memang suka sama Yixing dan ia ingin membuat pemuda itu jadi miliknya seorang.

Sudah, itu saja.

Tapi kata-katanya seolah jadi bertele-tele—tak berujung, dan nonsense.

Suho memandangi si pemuda di seberang koridor dengan ekpresi mengkritisi. Jantungnya berdetak tak terkontrol menunggu jawaban dari seberang.

.

Tapi...

.

Suho berhipotesa kalo si tetangga sepertinya tidak menaruh perasaan yang sama.

Zhang Yixing hanya diam saja, mengerjap pun tidak. Tak ada pergerakan berarti, pandangannya kosong tak bernyawa.

.

So, bisa dibilang dia ini ditolak kan? Cintanya cuman sebelah tangan ya kan?

.

Kok... nyesek?

.

Cuman gara gara ditolak Yixing ya?

.

Kok... sakit?

.

Padahal dia sudah rela merendahkan harga diri hanya untuk makhluk satu ini, eh yang bersangkutan tampak tidak tanggap.

.

Suho mendesah panjang setelah tak mendapat respons berarti. Air muka kecewanya tak bisa dikamuflasekan begitu saja, "Sudahlah. Nggak usah dipikirkan. Yang tadi anggap saja khilaf."

Suho mencoba menjaga bahunya agar tetap tegak ketika dia berputar badan untuk memasukkan kuncinya ke dalam lubang, menggumam seperti 'bodohnya nggak ketulungan.' dan 'dasar nggak peka.' Sedetik setelah ia menyentuh permukaan dingin handle pintu, baru dia mendengar suara Lay yang menahan pergerakannya.

"Joonmyun, t-tunggu."

"Ya?" tanyanya dengan sungkan, masih enggan berbalik.

Terdengar helaan nafas panjang dari balik punggungnya terlebih dahulu sebelum Suho bisa mendengar suara itu meraihnya kembali,

"Aku... nggak tahu mau jawab gimana..."

"Kamu nggak usah merasa terpaksa—"

"Aku nggak terpaksa kok!" Lay memotong cepat-cepat. Dia tidak mau menambah kesalahpahaman lain. Karena...

...karena dia juga yakin dengan perasaan ini.

.

Tidak ada yang dipaksakan.

Lay tidak meminta atau mengharapkannya. Rasa itu mengalir begitu saja tanpa bisa dicegah.

Peduli setan lah.

"Bohong kalau aku bilang aku tidak tertarik padamu. Bahkan aku sudah menyukaimu sejak aku melihatmu pindah kesini—kalau kamu peka. Iya kalau kamu nggak serese itu—aku pasti udah ngecengin kamu duluan," Lay memberi jeda agak lama disana untuk efek dramatisir, "Jujur, sebenarnya aku juga bingung—antara senang atau harus sedih waktu tahu kamu itu Money. Ini semua terlalu tiba-tiba dan aku tidak pernah tahu selama ini kamu menaruh perasaan yang sama. Aku nggak pernah nyangka—"

Akhirnya Suho sudi menggeser pandangan untuk menatapnya. Lay tak bisa membaca ekpresi apapun yang bekelebat di wajah pria itu. Bibirnya yang tadi terkatup membuka kembali, ingin menyambung perkataannya yang sempat tertunda. Tapi pemuda Korea itu sudah terlebih dahulu menyela,

"Aku ngerti kok. Aku juga dulu selalu merasa bersalah pada Unicorn kalau kita lagi berdua." Suho menggosok-gosok tengkuknya, "Err... apalagi waktu aku menciummu di taman malam itu."

"Soal ditaman itu..." Lay jadi bernostalgia. Begitu detail kejadian malam itu menyergap otaknya, wajahnya kembali bersemu malu.

Bibir yang menyatu, lidah yang bertarung, tangan yang menggerepe, mmmhhh hhh—

Nyink.

Ngelamun jorok.

"Kamu beneran kan?" Bola matanya bergerak gelisah, "Nggak cuman karena misteltoe itu...kan?"

Suho melipat tangannya di belakang punggung, kemudian menyandarkannya ke pintu kayu. Kaki disilangkan kalem— "Nggak lah. Kalau alasannya cuma karena misteltoe, kita nggak mungkin semenikmati begitu dan betah lama- lama."

Lay sudah ancang-ancang ingin membantah perkataan Suho namun lidahnya berubah kaku, dan dia bungkam.

Menikmati... lama lama?

Emang iya?

.

... ya dikit sih.

.

Lay gigit bibir bawahnya, mendadak sungkan. Dia menunduk mengamati sepatunya yang diujungnya terselip beberapa butip salju, "Ya maap. Siapa tahu kau cuman khilaf karena terbawa suasana remang-remang."

"Kalau aku kebawa suasana remang remang, kamu nggak bakal cuman aku cium, horse."

Lay mundur teratur. Was-was.

"Sudah malam." ujar Suho, menatap pemuda itu dari atas ke bawah, "Mending kau istirahat deh, aku tidak mau kau sakit,"

Lay terharu.

.

"—kalau kamu sakit aku kan jadi nggak punya babu di ruang senat."

.

...Yeah.

Selalu deh.

Ada pedang di balik celana—pasti ada maunya. Util sekali, memang.

.

Untuk yang kesekian kalinya Suho membalik badan dan hendak menghangatkan diri ke dalam apartemennya, namun lagi-lagi niatan itu belum tersampaikan.

Suho mendesah berat.

"Suho..."

"Apa?"

"B-boleh aku menginap di apartemenmu malam ini?"

Suho mengangkat alis tinggi-tinggi.

Mengerti arti tatapannya, Lay blushing untuk yang kesekian kali.

"B-bukan seperti itu, mesum! Sepertinya kunciku tertinggal di suatu tempat" Ia menggigit bibir, terbata-bata. Gugup tak terkira, "Mungkin tadi tertinggal di kelas, atau di kantin, atau di got, atau kemakan—haha yah, entahlah."

Tangan Suho memainkan handle pintu. Dia memalingkan muka, menyembunyikan senyum kecil yang bermain-main nakal di sudut bibirnya.

.

Alibi.

.

Toh Suho yakin Lay bawa kunci cadangan.

Atau mungkin memang bener-bener ketinggalan.

Bukan sesuatu yang mustahil sih.

.

Tipikal Lay.

.

"Yeah, tentu." Ia membukakan pintu lebar-lebar untuk si tetangga dan mempersilahkannya masuk, "Tapi kita tidur satu ranjang."

"A-Apa—MAU KUBUNUH YA?"

"Aku ngga—"

"Aku bukan lelaki gampangan yang mau mau di rape cuma-cuma sama cowok songong macam kamu—"

"Maksud—"

"Meskipun sekarang kita saling suka, bukan berarti kamu bisa langsung gitu-gituin aku—"

"Yixing aku—"

"Gini gini aku juga punya harga diri—"

"A—"

"Kamu sabar dong. Suatu saat nanti aku pasti bakal mau kok, tapi tidak sekarang. Aku tidak mau terjebak pergaulan bebas—E-eh M-Myun—"

Lay hampir saja terjengkang ke belakang ketika pemuda itu tiba-tiba mendekatkan wajah, kalau saja tidak ada tangan Suho yang melingkar protektif di punggungnya. Sejak kapan tangan terkutuk itu ada disana? Bulu kuduk Lay meremang tinggi saat ujung hidung bangir Suho menempel di tulang dagunya.

"J-joonmyu-"

"Ba-wel," ejanya dengan suara rendah, bagai bisikan. Nafasnya laksana air conditioner yang menerpa wajahnya yang terbakar. "Reaksimu berlebihan, tahu. "

"Habis tiba tiba saja kau ngajak naik ranjang, aku kan panik," Yixing beralasan, mendorong dada pemuda itu agar kungkungannya terlepas dan mereka ada di jarak aman, "Kenapa kita harus satu ranjang? Kenapa dulu— jawab."

"Apartemennya cuman punya satu ranjang. Kalau tidak mau ya silahkan tidur di lantai." Suho beralasan.

"Kan ada sofa!"

"Sofaku rusak."

"Bilang saja modus."

"Sendirinya juga gitu!"

"Tapi modusmu lebih murahan, tahu."

"Bodo amat." Sang pemilik rumah memicingkan mata sebal, tangan terlipat dan ujung sepatu mengetuk lantai tidak sabaran, "Mau masuk tidak? Aku tutup pintunya sekarang!"

"Iya, iya...dasar tante."

"Bilang apa kamu tadi?"

"Iya, ganteng."

.

.

.

"...Geli."

.

.

.

.

.

.

.

.
Begitu sampai di dalam, Lay ijin ngacir ke kamar mandi. Panggilan alam, katanya. Namun akhirnya dia memilih untuk menumpang mandi juga karena tubuhnya terasa gerah dan lengket. Dia sudah meminta sebuah handuk dan baju ganti dari Suho yang diberikan oleh secara cuma-cuma. Baunya enak, omong-omong. Bau Suho.

Wanginya manly—eskulin punya.

Lay ingin tampil lebih. Dia yang biasanya hanya mengenakan boxer, kini memilih mengenakan boxer dan kaos oblong.

.

...Setidaknya ada sedikit peningkatan kan?

.

Setelah berpakaian, Lay berjalan ke depan wastafel untuk bergosok gigi. Pinjam sikat gigi Suho tidak apa-apa kali ya? Toh dia tidak punya penyakit rabies atau apa. Tangan gratilnya meraih gelas tinggi yang terletak di samping keran, kemudian menarik sebuah sikat gigi yang berbentuk mobil-mobilan di ujungnya—Lay menahan tawa, bersumpah dia akan mem-bully Suho karena ini.

Lay bergegas meraih odol yang tergeletak di sisinya yang lain dan melumurinya di atas permukaan sikat gigi secukupnya. Dia gosok giginya dengan pola memutar, memastikannya mengenai seluruh sisi. Tangannya memutar keran air, berkumur-kumur dan membasuh sikat gigi Suho.

Selesai membasuh, Lay mendongak. Mengamati wajahnya lewat pantulan cermin di atas wastafel dalam diam. Dia mendesah ringan. Bia dilihatnya aura kebahagiaan terpancar disana. Jujur saja Lay merasa belum pernah sebahagia ini sebelumnya. Mengingat bagaimana Suho menyatakan perasaan sukanya beberapa saat yang lalu, dan sekarang mereka akan tidur di ranjang yang sama—

.

Omong-omong, soal grepe-menggrepe di luar tadi, Lay tidak benar-benar serius sih.

Itu karena dia malu saja. Kalau sekedar pemanasan, boleh-boleh saja kok—

.

Lay meremas pipinya yang memerah dan memekik—

Kenapa kesannya dia pervert sekali...

.

Suara pintu yang diketuk heboh mengalihkan perhatiannya. Dengan sikat gigi yang masih tergenggam di satu tangan Lay meraih gagang pintu kamar mandi dan mengayunkannya terbuka. Dia langsung di sambut oleh wajah khawatir Suho di ambang.

"Aku dengar suara teriakanmu dari dalam," katanya, "Ada apa? Kamu nggak hamil kan? Mana sini liat test pack-nya—"

Sikat gigi diayunkan untuk menyambit Suho tepat di muka.

"NGACO KAMU. MANA BISA."

Suho meringis kesakitan, mengusap-usap daerah bekas penganiayaannya, "Habis kebanyakan di film-film gitu sih." Lelaki itu mengangkat bahunya, berbalik badan dan berjalan ke atas tempat tidur. Dihempaskan tubuhnya disana, meraih laptop dan meletakannya di pangkuan. Lay yang masih berdiri di ambang pintu kamar mandi hanya mendengus, kemudian berbalik untuk mengembalikan sikat gigi Suho yang sedari tadi masih dia bawa di tangan.

Setelah menaruhnya ke posisi semula, Lay keluar dari kamar mandi dengan menenteng handuk. Dia melempar pandang ke arah Suho, menggerutu saat didapatinya pemuda itu asyik dengan laptopnya, entah mengerjakan apa.

.

Huft.

Ada pacar di rumahnya malah dicuekin. Ya disapa lah, dibuatin makanan lah, dipijitin lah. Apapun.

Intinya. Lay pingin dimanja.

.

Well, secara teknis, secara tidak langsung dia ini pacarnya kan?

.

Ya kan?

.

Bibirnya dia kucir dengan gestur ngambek. Ia meletakkan handuknya ke gantungan, mencuri-curi pandang ke arah Suho yang masih belum memberinya perhatian. Dia berjalan ke arah ranjang dengan langkah kaki yang sengaja dibuat berisik—dan damn it, Suho masih saja mengabaikannya!

Lay haus belaian.

Ia mengayunkan kaki, membaringkan tubuh berlainan sisi dari tempat Suho duduk sekarang dan memilih memunggungi lelaki itu dengan tangan terlipat dan bibir menekuk ke bawah.

"Sudah ngantuk?"

"...Hn."

"Xing xing.."

Xing Xing...

Lay mencengkram bantal kemudian menggigitnya brutal untuk menahan pekikan.

.

AWE AWE. UNYU SEKALEEEEEE.

.

Lay resmi dapat panggilan sayang.

Gakukuh.

"A-apa?"

Lay masih enggan berbalik punggung, namun dia mendengar suara gesekan seprai di belakangnya, dan sesuatu yang berat di letakkan di meja sebelah ranjang. Lay berasumsi itu adalah laptop Suho.

Hening sebentar.

Lipatan kebingungan menghias dahinya setelah beberapa saat berlalu tanpa pergerakan apa-apa. Suho sedang apa si—

"Status kita..." suara lelaki itu terdengar lagi, agak serak. Nadanya mengambang, "Kita pacaran sekarang?"

Lay menelan ludah,

"Terserah kamu mau nganggepnya gimana."

Ya iyalah, bodoh.

Suho menggigiti bibir bawahnya.

"Kalau gitu boleh dong kalau kita..."

Ludah diteguk dari kerongkongan kering milik si pemuda China.

"..Ya?"

"Kalau kita nganu...?"

nganu.

nganu-nganu?

"Aku belum siap, Joon. Gak sabaran banget. Kamu horny y—"

"BUKAN ITU MAKSUDKU." Suho memekik, gemas setengah mampus.

Lay masih (sok) inonsen, "Lha terus?"

"Aku cuman nanya. Boleh nggak kalau kita anu..."

"Anu apa?"

"Kalau kita..."

"Kalau kita apasih?" desaknya tak sabar. Karena terlanjur gemas, akhirnya ia membalik badan. Terkejut ketika ia mendapati wajah Suho yang memerah unyu.

"Eum...kalau kita kissing?"

Lay memperhatikan tangan Suho yang bergerak patah-patah, membuat gestur tangan kanan dan tangan kiri yang saling menempel intim.

Setelah beberapa saat, Lay baru paham.

Suho ternyata pingin itu.

Oke, sekarang mereka berdua sudah sama-sama mirip pantat tomat.

"Kissing..."

"Yeah."

"C-ciuman?"

"Ho'oh."

"Kan sudah pernah."

"Tapi kan beda."

"..."

"..."

"..."

"..."

"B-boleh deh."

"Yang bener?"

"Bener."

"Yakin?"

"Yakin."

"Serius?"

Hening.

"...Aku tinggal tidur nih."

"YA J-JANGAN DONG!"

"Jadi, mau dimana?" Lay berusaha bersikap biasa saja walau sebenarnya dia panik luar dalam. Dia menekuk kedua kakinya menjadi ke posisi bersila, menatap Suho meminta jawaban, "Di pipi? Hidung? Dahi? Leher? Bibir? Telinga atau—"

"Di pantat—"

"Suho. Kamu beneran horny ya—"

Suho mendorong dahi pemuda itu hingga si empunya terjungkang tidak elegan ke belakang, "Pikiranmu busuk terus." Dia mendelik tajam, " M-maksudku ya di bibir lah."

"O-oke oke." Lay bangkit dan menegakkan tubuh. Siap kuda-kuda.

Posisi mereka kini masih berada di atas tempat tidur, wajah berhadap-hadapan. Suho menarik napas dan menghembuskannya, mencondongkan kepalanya secara perlahan, inci demi inci. Dari sudut pandang sedekat ini wajah Lay kini ter-display dengan jelas di depan mata. Bulu matanya panjang dan cukup lentik, kulitnya halus memanggil-manggiL untuk dicicip—bibirnya apalagi.

Sementara di depannya Lay berkeringat deras saking gugupnya. Atas, tengah, bawah, semua basah, banjir bandang. Jantung Lay seolah keluar setengah dari dada, meronta-ronta.

"Yixing, kejauhan. Geser dikit dong."

"Oh iya."

Pantat digeser.

"Lagi."

Geser.

"Udah."

"Lagi dong."

Geser geser.

"Udah."

"Belum."

"Udaaaah."

"Lagi do-"

"Myun udah ya." Lay mengangkat tangannya, "Kita udah kayak kotoran nih. Numpuk."

Suho mengangguk paham, "O-oke."

Sang ketua senat mencodongkan wajah, bibir di majukan, dan Lay refleks menutup mata.

This is it.

.

Bibir Suho, aku datang—

.

Kedua bibir itu menyatu. Hanya sekedar menempel, penuh keragu-raguan. Lay tidak tahu pasti apa yang harus diperbuatnya selanjutnya selain tetap mendiamkan bibirnya disana dan menutup mata.

Pikirannya nge-blank seketika.

Merasakan keraguan Lay, Suho berusaha mengajaknya bergerak, dengan lidah kalau perlu. Namun pada akhirnya, dia dibuat cemberut karena Lay justru tak merespons sama sekali.

Suho menarik diri.

"Kenapa kau tidak merespon?"

Lay megap-megap, "Aku tegang oke?"

Suho menyorotnya dengan pandangan sanksi.

"MAKSUDKU BUKAN TEGANG YANG SEPERTI ITU."

"...Oh."

Lay menggosok-gosok ujung hidungnya dengan telunjuk, "Aku cuma gugup, tahu."

"Kau tidak segugup ini saat kita berciuman di taman—"

"ITU BEDA."

"Kau mau suasana kita ikut dibuat remang-remang—"

"JANGAN. ITU LEBIH NGERI, JOON."

Suho mengangkat alis, "Terus?"

"Aku cuman nervous kok," Lay mendengus pelan, meniup helai poninya yang sempat terjatuh menutupi mata. Dia mendekatkan kepalan tangannya ke bibir, berdehem, "Aku s-siap sekarang. Coba lagi oke?"

"Yakin?"

"Positif."

Belum sempat Suho berkomentar apapun, bibirnya sudah diraup oleh Lay di seberang, berbeda dengan yang sebelumnya, kini lelaki itu melakukannya dengan agresif. Satu tangan pemuda itu beristirahat di tengkuknya, sementara tangannya yang lain menangkup rahangnya di tempat.

Suho yang sebenarnya masih diawang-awang mencoba bereaksi cepat. Dia sambut sepasang bibir itu dengan sama antusiasnya. Sensasinya... Kulit ke kulit, bibir ke bibir—Suho tidak bisa mendefiniskannya secara pasti, tapi yang jelas dia menyukainya.

Sangat sangat menyukainya.

Siapa yang sangka jika dia dan rivalnya itu suatu saat nanti akan berada di apartemennya, berbagi ranjangnya, dan berakhir saling memagut bibir seperti ini?

Ciuman itu berlangsung selama beberapa saat. Dengan berbagai ritme dan posisi. Dengan tangan yang bergerilya mencengkram rambut, bahu, sampai turun ke baju.

Sadar akan kebutuhan oksigen, mereka bersamaan melepaskan bibir dari bibir satunya, meski belum ingin. Kini yang tersisa hanya peluh, bibir bawah yang merekah, napas yang memburu, terengah-engah karena terlarut dalam sensasi.

Lay memecah situasi saat itu dengan mendengus, penuh intonasi mengejek.

"Ciumanmu masih buruk."

"Tapi kau menyukainya."

"Biasa saja."

"Kau terlihat menikmatinya."

"Tidak juga."

"Kau bahkan sempat mendesah—"

"GAK."

"—Nghhhh ssh mmm—"

"BERISIK HIH! AKU MAU TIDUR!"

Lay membaringkan diri, dan menutup wajahnya yang terbakar dengan selimut untuk membungkus tubuhnya erat-erat. Lagi-lagi dia memilih memunggungi Suho yang masih tergelak puas.

Horok.

Dia malu sekali.

Suara tawa mengejek itu mereda, hingga akhirnya ia mulai merasakan pergerakan di balik punggungnya. Dia berasumsi jika Suho juga telah membaringkan diri di sisi lain. Bokong mendekati yang satu.

Bokong satu bergeser, menjauh.

Bokong lainnya mendekati bokong satu. Masih keras kepala.

Bokong satu ingin kembali bergeser, tapi karena keterbatasan tempat akhirnya si tuan mengalah.

Sejujurnya Lay lebih memilih untuk berbalik dan menghabiskan malamnya dalam rengkuhan si tetangga—tapi dia tertalu gengsi, maaf maaf saja.

Beberapa menit berselang, sedangkan Lay masih belum bisa menyeret dirinya ke alam mimpi. Masih banyak hal yang berseliweran tak mau diam di kepalanya.

Omong-omong Suho sudah tidur belum ya?

"...Suho."

"Apa?"

Ternyata dia belum tidur.

Lay memainkan ujung selimut iron man milik Suho dengan jari telunjuk, menelusuri motifnya. Dia menggigit bibirnya,

"Aku masih tidak percaya kalo ternyata kau itu Money, maksudku..." Lay mendengus rendah, agak geli dengan situasi yang memerangkap mereka kini. Ini semua terlalu gila untuk ditangkap akal sehat, "Kau ngerasa geli tidak sih kalau dipikir-pikir lagi? Selama ini ternyata kita pacaran di dunia maya, tapi di dunia nyata kita justru sibuk pisuh-pisuhan. Kok bisa kita bego banget ya?"

"Kenapa aku jadi ikut-ikutan bego? Kau aja kali yang bego."

"...Fak."

Namun Suho ikut menambahkan, "Tapi siapa yang sangka? Dulu sempet aku mikir apa jangan-jangan unicorn itu kau. Di Korea ini emang ada orang tidak waras lainnya yang maniak kuda jadian jadian macam unicorn selain dirimu?"

"Ngajak berantem—"

"Mana akunnya tulisannya gede kecil pula. Norak banget—"

"Kayak kau lebih baik saja." Lay membalik badannya. Kedua alisnya menyatu, tak terima. Dia tendang sekuat tenaga bagian bawah—kaki, ya—Suho dari balik selimut.

"Dahel. Money is everything? Pfft. Keliatan sekali songongnya. Aku jadi kasihan sama siapapun yang mau jadi pacarmu. Masa depan mereka pasti suram, Myeon. Hahahahaha—"

"Kau dong."

"...SIAL."

Yixing kini memilih mengalihkan pandangan dengan menatap langit langit kamar sang—kekasih? O-oke, Lay harus mulai membiaskan diri dengan istilah itu mulai sekarang.

Ia menolehkan kepala, mendapati Suho yang kini tengah menutup kedua kelopak matanya. Wajahnya tampak begitu damai, tanpa beban. Ada perasaan hangat luar biasa yang menyeruak di dalam ketika ia membiarkan matanya mengagumi ciptaan Tuhan ini. Tetangganya, rivalnya, atasannya-dan sekarang, lelaki ini adalah kekasihnya.

Rasanya dia begitu—

"...Bahagia."

"Sama."

"Eh?"

Suho membuka kelopak mata, menahan pandangannya di tempat.

Sedetik, dan Suho tersenyum.

Lay buru-buru membuang muka.

.

Duh, nggak kuat.

Suho ganteng banyak.

.

Dia merasakan pemuda itu mendekat hingga punggungnya menempel dengan dada. Lay menahan diri untuk tidak meremang saat ia merasakan tangan itu menari-nari di lengannya.

Sensasinya, yasalam.

"Sudah tidur?"

"...Sudah."

"Kalau sudah kenapa dijawab?"

"...Khilaf."

"Hei kuda?"

"..."

"Ngambek ya?"

"..."

"Kudaaaa~"

"..."

"..."

"Yixing?"

Nama itu dipanggil dengan suara jernih. Yang tegas, dan rendah. Yang menimbulkan efek serius namun tidak terlalu kaku. Suara selimut dan seprai yang bergeser memenuhi ruang dengar. Suho menepuk-nepuk lengannya.

.

"Good night.. Laynicorn."

.

Dia berbisik, takut menganggu.

Satu lengannya terangkat ke udara, terdiam selama beberapa saat. Tak ada pergerakan apapun, namun telunjuknya akhirnya mendaratkan diri di pipi sang tetangga, menelusuri, mengusap permukaannya dengan ringan.

Hingga jarinya mendarat di bibir—bibir yang sama, yang tadi diciumnya.

Suho blushing kuadrat, sadar dia hampir kelepasan. Buru-buru dia menarik tangannya, berbalik dan menyelimuti diri—menyembunyikan wajahnya yang mulai menghangat diantara terpaan ac—angin cendela.

Lay yang sebenarnya belum tidur jelas mengetahuinya. Reaksinya tak jauh beda. Kini mereka berdua tidur saling memunggungi dengan keadaan wajah serupa.

Sedetik, dua detik hingga berubah bermenit-menit, Lay tidak lagi mendengar pergerakan apapun dari sisi yang lain. Maka dia putuskan memanggil,

"...Suho?"

"..."

"...Joon?"

"..."

"..."

"..."

"...Sudah tidur ya?"

Lay memutar tubuh. Ia pandang punggung dengan balutan kaos bergambar mickey mouse yang sudah pecah-pecah itu dalam diam. Dia bergeser mendekat, melongokkan tubuh untuk melihat Suho yang sudah menutup mata rapat, alunan nafas ringan keluar dari belah bibirnya yang tertutup. Dia sudah tidur.

Imut.

Lay menarik nafas dalam-dalam kemudian dengan tekad bulat ia memberanikan diri.

Dia kecup pipi pemuda itu secepat kilat, dan berbalik cepat-cepat.

"Sweet dream, Joonmoney."

Dibalik selimut yang melingkupi keduanya, lengkungan senyum itu tercipta tanpa bisa dicegah.

.

.

.

.

.

.

Namun pagi-pagi butanya, satu lantai dibangunkan oleh teriakan seriosa Lay dari kamar Suho—

.

"YASALAM. AKU LUPA NGERJAIN TUGAS REVIEW JURNALKU. HUWEEEE JOONMYUUUUUUN."

.


.

.

"CIYE YANG JADIAN CIYE."

"YANG ANGET YANG ANGET."

"PEJE PEJE."

"SUDAH CEKIDAW CEKIDAW BELOM?"

"ASIK ASIK JOS."

.

Esoknya, fakultas mereka sudah bagai gedung DPR yang disoraki massa ketika mereka berjalan bersisian melewati gerbang.

.

Jangan salah paham dulu.

.

Bukan karena mentang-mentang sudah jadian lalu mereka berangkat barengan. Bukan begitu, karena sudah pasti mereka akan berakhir diturunkan di jalanan karena dianggap menganggu kepentingan umum.

Klasik.

Seperti biasa Suho naik taksi, sedangkan Lay memilih naik metromini. Kebetulan di depan mereka turun di waktu yang bersamaan. Jadilah keduanya melewati gerbang sambil berjalan beriringan. Sebenarnya Lay sendiri juga tidak tahu kenapa Suho turun dari taksi berbarengan waktu dengannya. Begitu bangun tadi Lay langsung lari terbirit-birit pulang ke apartemennya, buka laptop dan buru-buru mengerjakan tugas.

Memang, duka mahasiswa deadliners.

Masalahnya ini tugasnya Prof Kangin, bruh. Kalau masih ingin keluar hidup-hidup dari kelas beliau, bijaknya sih tetap mengerjakan. Beruntunglah di saat-saat mepet begini ide briliannya justru mengalir dengan lancarnya. Beruntung juga dia sempat menyelesaikan tugasnya tepat waktu walau harus mepet jam masuk. Tapi kenapa Suho jadi ikut-ikutan telat? Lay yakin kok lelaki itu tadi sudah berangkat duluan.

.

Apa jangan-jangan Suho sengaja menungguinya ya?

Ah...

Sekelebat pemikiran itu mampu membuat Lay melayang.

.

Enaknya punya pacar, ya.

.

Tapi efeknya mereka jadi digodain oleh anak-anak yang lain. Nasi sudah menjadi bubur, pacar sudah jadi mantan, gosip sudah terlanjur menyebar. Mereka disoraki di kelas, di ruang sekretariat senat, satpam fakultas hingga dosen pun ikut godain mereka.

.

Yang terakhir sumpah ngeri sekali.

.

Fujoshi fudanshi kampus bereaksi cepat. Komunitas kontroversial itu menempatkan mereka sebagai pasangan fenomenal universitas menggeser posisi Sehun-Luhan di chart puncak.

Digoda begitu keduanya berusaha bersikap biasa saja, hanya melengos dan pura-pura tak mendengar (padahal dalam hati berdebar-debar).

Memang siapa sih yang nyebar gosip duluan?

Setahu Lay dia hanya menceritakan semuanya, dari Money yang ternyata adalah Suho, hingga insiden jadian mereka pada Baekhyun dan Luhan dini hari tadi lewat grup whatsapp

Anjay.

.

Kesalahan besar.

.

Baekhyun dan Luhan kan sama-sama mulut barongsai, embernya kemana-mana.

Memang, jiwa bergosip itu sudah tertanam sejak lama. Meski harus terhalang oleh kodrat gender, Baekhyun dan Luhan tak gentar meneruskan niatan mulia mereka sebagai penyebar informasi (itu sebutan halusnya, titah Luhan). Terlebih untuk kabar gembira yang sangat Mastin mengenai ketua senat dan wakilnya yang akhirnya jadian.

Lay merasa agak malu. Rencananya dia ingin menyembunyikan hubungannya dengan Suho terlebih dahulu, mumpung mereka juga masih anget-angetnya, layaknya ayam kfc yang baru diangkat dari penggorengan.

.

Agak ganjil rasanya kalau mereka berdua yang biasanya dikit-dikit senggol bacok, tiba-tiba berubah sayang-sayangan.

.

Sebenarnya tidak sayang-sayangan juga sih.

.

Toh lagipula meskipun sudah resmi pacaran, tidak lantas membuat mereka mengumbar kemesraan di berbagai tempat. Tak jauh beda dengan ketika mereka menjalin hubungan virtual di exoplanet.

Sulit dipercaya jika kedua manusia itu kini sedang menjalin asmara kalau sesi jeritan, makian, sikut-sikutan hingga jambak-menjambak manja itu masih sering dipraktikan.

Bahkan Lay berani bertaruh kalau cacian dan makian itu lebih banyak terlempar di udara ketimbang satu kata "yank."

.

Dasarnya dua-duanya memang payah di genre romens. Tidak ada yang pandai bersikap romantis. Disuruh menggombal saja mereka sudah tulung-tulung.

.

Lay yang saat itu sedang daydreaming di perjalanannya menuju kantin tidak melihat jalanan. Menabrak seseorang yang pada akhirnya berakibat akan lengsernya tubuh si wakil ketua hingga terpelanting ke belakang berpuluh-puluh meter.

Plis, itu ngalay.

Lay hanya menghela nafas berat. Agaknya bosan karena lagi-lagi dia harus bertabrakan dramatis ala sinetron. Dia mendudukan diri, memunguti buku diktatnya yang berjatuhan dari tasnya yang memang daritadi terbuka—saat ada tangan lain yang mengenggam tangannya, berinisiatif membantu.

Dia mendongak, masih edisi sinetron. Untuk kemudian menemukan wajah sumringah lelaki berambut kecokelatan dengan wajah aristokratnya—

"Halo Yixing."

Lay ingat-ingat lupa. Dia yakin ia pernah melihat wajah ini, tapi dimana ya? Oh ahhhhh—di winterball akhir tahun! Kalau tidak salah namanya Joshua—ah bukan. James, enggak. Jeremy, Junaedi—bukan bukan.

Lay tersenyum lebar. Dia ingat.

"Jonathan?"

Senyum lelaki itu luntur dari peradaban, helaan nafas terlepas. "Aku Jackson, Yixing. Bukan Jonathan."

"Oh iya, maksudku itu," Lay mengangguk-angguk tanpa beban, berdiri dengan tumpukan buku diktat terjepit di satu lengan. Jackson mengikuti. "Ngapain kamu di fakultas ekonomi?" karena Lay ingat kalau Jackson ini anak fakultas seni rupa dan desain.

"Enggak ngapa-ngapain sih, mejeng saja," lelaki itu memasukkan satu tangannya ke dalam saku lalu mengedipkan mata. Lay sempat berpikir kalau dia kelilipan, "Siapa tahu juga ketemu kamu."

Lay memiringkan kepala, tak paham. "Memangnya kenapa kalau ketemu aku?"

Jackson tertawa ringan. Satu tangannya gatal ingin mengusap rambut lembut pemuda berlesung pipi itu, "Ya soalnya—"

...tapi sebelum niatan suci itu sempat terlaksana, atau bahkan sidik jarinya menyentuh satu helai rambut sang pemuda, Jackson dibuat kicep di tempat.

Wajahnya agak memucat, air mukanya ketakutan dan tubuhnya sedikit gemetar dengan pandangan lurus ke depan. "E-ehm Yixing, aku buru-buru n-nih, kucing tetanggaku tiba-tiba mati—" kok kedengarannya familiar—"A-aku d-duluan y-ya. Sampai k-ketemu l-lagi—anu m-maksudku, enggak usah ketemu juga nggak apa apa. Bhay!"

"E-eh Jackson—"

Tapi Lay tidak sempat mencegahnya karena yang bersangkutan sudah ngacir begitu saja.

Lay jadi bertanya-tanya kenapa Jackson berkeringat begitu.

.

Apa dia kebelet pipis ya?

Atau—

"Oi kuda."

Si kuda berjingit, menoleh untuk menemukan Suho sudah ada di sampingnya. Kedua mata sang ketua tak sekalipun lepas dari Jackson yang berlari terbirit hingga sosoknya hilang dari pandangan.

Kening Lay masih memasang kerutan heran, "Sejak kapan kau disitu?"

"Baru saja," jawabnya tak acuh, mengibaskan tangannya asal. Dia memandang Yixing dengan tatapan ingin tahu, "Si Jonathan tadi ngapain?"

"Namanya Jackson, smurf."

"Ya apalah," Suho memutar mata, "Jangan terlalu dekat dengannya. Nanti bau—"

"Apa deh—"

"Ya intinya jangan dekat-dekat dia." Suho berkata, tegas. Nada penuh otoritas tanpa bisa dibantah. "Kau temani aku dulu ke ruang dosen."

Alis Lay menukik tajam, "Ngapain?"

"Ngerese dosen," nadanya datar, sedatar dada Luhan—penuh sarkasme, "Ya enggak lah. Mau bahas jadwal perkuliahan. Dasar bodoh."

Lay yang sejak tadi dibentak-bentak menggerutu, "Kenapa sih? PMS?"

"Berisik."

"Ya kau yang marah marah duluan!"

"Mana sini bukumu," Tanpa permisi Suho merebut tumpukan diktat Lay dari tangan si empunya. Lay mendecak.

"Aku bisa bawa sendiri—"

"Protes, aku cium."

Lay kicep.


.

.

Seminggu setelah mereka jadian, godaan, siulan dan ucapan selamat masih terlempar untuk keduanya. Tidak ada yang berubah signifikan. Mereka masih tetap Suho dan Lay.

.

Tom dan Jerry. Pendek dan tinggi. Atasan dan bawahan. Majikan dan peliharaan.

.

Mereka menjalani hari-hari seperti biasa.

...Walau Lay sering merasa kalau hari-harinya kini terasa lebih berwarna. Jangan bilang Suho!

.

Menyadari bahwa kini dia sudah taken, terlebih taken by Kim Joonmyun itu memang something sekali. Rasa-rasanya dia masih seperti di terbangkan ke alam mimpi.

Disaat-saat begini, Lay akan mencoba curi-curi pandang ke Suho saat dia pikir yang bersangkutan tidak sedang melihat. Begitu pula sebaliknya.

Ketika yang satu kepergok sedang memandangi yang satu lagi, si satu akan membuang muka dan pura-pura tak peduli.

.

Baekhyun dan Luhan bernafsu sekali ingin mengurung dua orang itu di WC semalaman saking gemasnya.

Selalu deh, terhalang gengsi.

.

Walau sebagian besar hari-hari mereka dipenuhi caci maki, keduanya juga tetap punya quality time sendiri. Biasanya mereka habiskan saat-saat itu dengan stay over bergantian di apartemen karena asas pacaran mereka adalah peri keadilan. Hari ini apartemen Lay, besoknya apartemen Suho. Jika pergi kencan maka hari ini yang bayar Suho, besoknya juga tetap Suho. Begitu seterusnya.

Eum... yeah.

Ini keadilan berdasarkan nasib.

.

Perhatian itu diwujudkan dengan hal-hal kecil, seperti Lay yang sengaja menyembunyikan persediaan kopi Suho karena khawatir lelaki itu terlalu banyak mengkonsumsi kopi. Atau Suho yang suka memarahi Lay karena kebiasaan tidak sehatnya yang suka begadang.

Afeksi itu dicurahkan dengan hal-hal sederhana, seperti kedua kaki yang selalu begerumul di bawah selimut ketika mereka tidur bersisian, kedua tangan yang tanpa sadar tergenggam dengan sendirinya, ciuman kecil selamat malam saat mereka berpikir yang bersangkutan sudah terlelap.

Actions speak louder than words.

Walau tanpa kata-kata manis, mereka punya cara sendiri untuk menunjukan kasih sayang itu.

Kurang lebih seperti saat ini—

.

UnicOrnIsMyEVerything: Mon.

UnicOrnIsMyEVerything: Money.

UnicOrnIsMyEVerything: Oi.

UnicOrnIsMyEVerything: Money oi.

UnicOrnIsMyEVerything: Moneeeyyyyy

UnicOrnIsMyEVerything: Oyyyyyyyyyyy

.

Money_is_everything: Apa sih?

.

UnicOrnIsMyEVerything: Tatap aku.

Money_is_everything: Emoh.

.

UnicOrnIsMyEVerything: Cepet otewe tatap aku.
UnicOrnIsMyEVerything: Cepet.
UnicOrnIsMyEVerything: Cepet.
UnicOrnIsMyEVerything: cpt. gpl.
UnicOrnIsMyEVerything: Cepeeeettttt.

.

.

Dengan helaan nafas dramatis dan wajah dongkol, Suho menemukan wajah senewen Lay yang mendelik ke arahnya dari arah seberang. Saat ini keduanya memang sedang berada di ruang senat setelah mereka selesai rapat membahas project awal tahun, sedang anggota senat yang lain sudah beranjak pergi satu demi satu.

Suho memicingkan mata, ponsel terjepit di satu tangan.

"Apa?"

Bukannya mendapat jawaban dari seberang, justru ponselnya yang berdenting nyaring. Bola matanya berputar malas. Ogah-ogahan dia melirik layar,

.

.

UnicOrnIsMyEVerything: Aku tidak mau tahu. Kau harus belikan aku mug unicorn yang kau pecahkan di ruang tamu kemarin. Itu barang limited edition, tai.

UnicOrnIsMyEVerything: *tau. sori typo.

Money_is_everything: Bullshiet. Aku mencium unsur kesengajaan disini

UnicOrnIsMyEVerything: Itu nggak penting, Joon! Yang penting, mug kuuuuu!

.

.

Jadi ceritanya waktu itu mereka sedang bergerumul di sofa.

.

Berduaan.

Menggeliat, menggelinjang, pekikan, jeritan

.

Mereka main gelitikan.

.

Jangan piktor.

.

Lay yang saat itu kaget karena titik sensitifnya digoda, mendorong Suho hingga terjungkal. Suho yang begerak defensif mencoba mencari pegangan. Tangannya tidak sengaja menyambar mug kesayangan sang pacar hingga jatuh ke lantai apartemen, pecah berkeping-keping.

Lay mendiamkannya semenjak itu.

.

Walau Suho sudah berusaha meminta maaf dengan gaya semanis apapun, seperti—

"Wahai adinda, sudikah kiranya engkau memaafkan kakanda yang berlumur dosa ini?"

.

Tapi bukannya mendapat ciuman di bibir, dia justru dapat cium dari aspal karena Lay langsung menendang bokongnya detik itu juga.

.

Memang, ya. Cowok itu serba salah.

...Tapi Lay kan cowok juga.

.

Gundah sudah.

.

Ding!

UnicOrnIsMyEVerything: ITU BENDA BERHARGA, FYI SAJA.
UnicOrnIsMyEVerything: SUHOOOOOO. AKU NGENES BANGET NIH.
UnicOrnIsMyEVerything: PELIS

.

.

Suho mendecak keras, dia pelototi pacarnya yang menatapnya di kejauhan dengan ponsel tersangga di kedua tangan.

"Kenapa nggak ngomong langsung aja sih?"

.

Ding!

.

Suho menahan geraman.

.

UnicOrnIsMyEVerything: Aku masih ngambek, ingat?

.

Kali ini bola mata yang berputar diikuti dengan helaan nafas pasrah.

.

.

Money_is_everything: Iya. Nanti beli. Selusin kalau perlu :)))))))

.

.

Kesalahan.

.

Karena di seberang sana, Lay yang menekuk-nekuk wajah berubah sumringah. Senyum lebar menghias di wajah, bola matanya berbinar binar.

.

"Makasih ya, tampan."

Mual.

.

.

Namun meski begitu, Suho tetap sayang—jangan bilang Lay.


.

.

.

.

Ini adalah bulan ketiga setelah mereka resmi jadian—bukan berarti Lay ngitung, oke?—dan pasangan itu menemukan diri mereka berada di kamar apartemen milik sang pemuda china.

Si pemilik kamar terbungkus selimut di atas ranjang. Bergulung-gulung tisu baik yang baru maupun bekas mengepung di sekitarnya, sementara Suho mengomel di sisinya yang lain. Si ketua senatnya itu tengah mengusap sisi wajahnya yang memang sebelumnya dipenuhi keringat dingin dengan sebuah handuk basah di tangan.

"Gini nih akibat ngeyel."

"..."

"Kalo memang capek, ya jangan dipaksa."

"..."

"Aku kan sudah bilang jangan suka begadang, makanya kalau ngerjain tugas jangan mepet-mepet. Kau sih, nggak mau dengar."

"..."

"Kalau sudah sakit gini siapa yang susah?"

"..."

"Bikin orang repot saja."

"Berisik, Myun. Kepalaku makin pusing, tahu."

Usapan berubah menjadi garukan.

"AAUGH—"

"Siapa suruh pusing? Itu karena memang kau saja yang ngeyel dibilangin."

Lay mendesah pasrah, ia mengangkat tangannya dengan lemas,

"Iya, iya. Aku salah. Maap, oke?"

Suho mengiyakan tak acuh, kemudian menyampirkan handuknya di sisi baskom. Melihat Lay lemas begitu membuat Suho tidak tega harus buang-buang nafas untuk marah-marah. Tapi itu karena Suho merasa khawatir semata. Sejak tiga hari yang lalu Lay mengeluh pusing dan susah tidur. Kemarin malam tubuhnya menggigil disertai keringat dingin mengucur deras.

Suho memang tidak menunjukannya, tapi dia khawatir, tentu saja.

Dia memaksa Lay ke dokter walau langsung ditolak mentah-mentah oleh yang bersangkutan. Akhirnya insiden geret-menggeret hingga gendong-gendongan terpaksa dilakoni oleh dua manusia berbatang itu di lantai lobbi. Baru kemudian Lay memilih mengalah dan pasrah saja pada apa yang hendak dilakukan Suho padanya—dia terlalu lemas dan pusing untuk diajak beragumen.

Suho mendecak, memutar badan untuk menjumput beberapa butir obat di dalam plastik yang diletakkan di meja sisi tempat tidur. Beberapa saat yang lalu Suho sudah berhasil membuat Lay menelan sarapannya walau hanya dalam beberapa suap sendok.

"Minum obatnya."

"Gak mau. Obatnya pait."

"Pait mana sama mukanya Kyuhyun sunbae kalo lagi marah marah?"

Lay meliriknya malas,

"Kamu ngelawak?"

"...Dikit." Suho nyengir, namun cengiran itu langsung terganti oleh senyum segaris yang memancarkan aura tak ingin dibantah, "Cepet minum obatnya!"

Gelengan.

"Aku nggak mau."

"Ngeyel ya."

"Bodo."

"Nggak mah sembuh, hmm?"

"Ya mau lah. Tapi aku nggak mau minum obat!"

Suho memijat pelipisnya, frustasi. "Ya gimana mau sembuh, anjir. Kalo gak sembuh-sembuh, tambah parah, terus mati—"

"Jahat sekali—"

"Ya makanya minum!"

"GAK. MAU. Gak denger ya?"

Suho mengetuk-ngetukan jadi ke dagu, menimang-nimang.

"Hmmm sepertinya harus pake cara kasar nih—"

"Cara kasar ap—EUM mPPH—huMPft- SU-MMMPH—PHUAH."

.

Semua terjadi begitu cepat.

Tahu-tahu obat yang awalnya terjepit di antara bibir Suho itu sudah berhasil di telan oleh si pemuda China. Menyisakan nafas yang terengah-engah dan wajah yang memanas, terutama si lelaki yang berada di bawah.

Muka dong muka. Tolong dikondisikan.

"GILA YA? Kau bisa membunuhku, kampret!"

Bahu yang naik tak acuh menjadi respon, "Kan aku bilang cara kasar—"

"Ya tapi caramu itu gak wajar, mana nafsuan lagi!"

"Yang penting kau sudah minum obat."

"SINTING!"

"Sinting for you~"

Lay melempar bantal, tak kena sasaran karena Suho gesit menghindar.

"Terus kalo kamu ikutan sakit gimana? Kan virus bisa menular lewat kontak bibir."

Ya secara tidak langsung, Lay kan mengkhawatirkan keadaan sang pacar.

"Ya biarin. Biar gantian kamu yang gantian jadi babu lah ya, HAHAHA—"

Bantal terlempar. Strike.

"Hei Xing,"

"Apa?"

"Main dokter-dokteran yuk—"

Lay sudah membekap mulut Suho—masih dengan bantal, sayangnya.

.

.

.

.

.

..

Suasana siang itu begitu terik, menyelimuti wilayah dimana empat lelaki (sepertinya begitu) tengah melepas dahaga di sudut kantin fakultas ekonomi. Suasana bising mendominasi kantin yang ramai sesak, berjubel mahasiswa-mahasiswi yang membutuhkan asupan energi.

Keempat manusia berjenis kelamin sama yang menempati meja dekat counter tampak tidak merasa terganggu dengan suara kebisingan yang ada, karena sebenarnya mereka sendirilah salah satu penyumbang polusi udara di kafetaria tersebut—well, sebanarnya dua orang saja, dua orang yang lain hanya mengobservasi dari jarak aman.

"Sebenarnya kau mencintaiku tidak sih?"

"Kamu aja nggak pernah bilang kau mencintaiku kok. Kenapa aku harus?"

"Aku mau kau duluan yang mengatakannya."

"Biasanya yang duluan mengatakan, dia yang bakal ditinggalkan."

Sendok menyaplak, keras.

"DAFUQ—"

"MANA ADA TEORI SEPERTI ITU, DASAR MENYEBALKAN."

"YA ELAH, NYANTAI AJA KALI."

Sementara dua orang itu beradu mulut, Baekhyun dan Luhan menonton dari tepian dengan tangan menyangga dagu, berasa menonton srimulat.

"Han.."

"Hmm?"

"Apa jangan-jangan mereka perang di ranjang juga ya?" Baekhyun menanyai si kakak tingkat, pandangan tak sekalipus lepas dari kedua temannya yang masih ribut di seberang. "Ribut antara siapa yang nganu dan dianu,"

"Iya ya," Luhan menanggapi dengan kepala terangguk-angguk, menggumam. "Di ronde pertama mereka pasti udah capek duluan duluan gara gara ribut mulu. Hmmmmm lemah."

"Aku yakin Suho yang di atas," Baekhyun beragumen, punggung ditegakan kalau sudah membahas urusan ranjang, "Habis mukanya Suho ambigu gitu."

Namun Luhan punya argumen sendiri, "Tapi Lay orangnya sok ngatur, gengsian pula."

"Tapi Suho kan atasan Lay, jadi pasti dia yang mengatasi."

"Tapi Lay lebih tinggi. Mungkin juga berpengaruh pada tingginya ukuran—"

"Aku tetep yakin Suho yang menang."

Akhirnya perang mulut itu menjalar ke meja satunya, ribut soal siapa yang mengatasi dan diatasi. Sementara yang jadi objek perbandingan tak ambil pusing, sibuk dengan pertengkaran mereka sendiri.

"Cuman ada satu cara buat membuktikannya."

Luhan dan Baekhyun sepakat untuk mensaplak bagian belakang kedua orang itu dengan buku diktat dari balik tas Baekhyun,

"BADAK—"

Luhan dan Baekhyun mengangguk-angguk paham,

"Oh Yixing..."

"APA SIH?" Lay mendesis kesakitan, memijat tempat kejadian perkara penganiyaan barusan, "Ngapain oi?"

Baekhyun nyengir polos, tanpa dosa. "Ngetes,"

"NGETES APA. DASAR KALIAN—"

Suho mencoba menengahi, "Berisik Xinggggg, marah-marah terus daritadi. Tambah bau tanah, tahu—"

"SIAPA YANG KAMU SEBUT BAU TANAH?"

"YA KAMU!"

"Enak saja. Luhan tuh yang bau tanah—dia kan paling tua!"

"—LAH KOK AKU DIBAWA-BAWA?"

Baekhyun yang saat ini paling waras berusaha melerai, "Oi oi. Kalian nggak capek apa bertengkar terus—"

"GAK USAH IKUT CAMPUR."

Baekhyun pundung.

.

Luhan sudah lari manja ke pelukan si adik tingkat tsundere akut Oh Sehun, mengadu kalau dia habis dikatain bau tanah oleh Suho dan Lay dimeja seberang.

.

Dan Baekhyun ditinggal sendiri. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing.

Berasa jomblo, padahal bukan.

.

Sori beri stroberi. Dia sudah beda spesies ya, mblo. Dia sudah naik kasta, sudah taken. By the one and only Park Chanyeol.

.

Dia fokuskan perhatiannya pada ponsel di tangan kanan, matanya menyusuri halaman instagram. Dia buka notif, senyum tersungging lebar. Demi neptunus. Setelah menunggu berbulan-bulan, akhirnya Baekhyun berhasil dapat barang endorsan. Niat ingin pamer menyeruak, maka dia panggil sahabatnya.

"Eh eh Lay, aku dap—Oh ya ampun..."

.

—Namun Baekhyun menyesal karena detik ketika dia mendongakkan kepala, dia menemukan mereka berdua sudah terlibat perang mulut di meja depan.

.

Mereka memang tak pernah berubah.

Semua orang juga tahu, kalau Suho dan Lay memang tak pernah lepas dari yang namanya perang mulut.

.

Well, walau sekarang perang mulut dalam artian yang sebenarnya.

.

Beberapa detik berlalu,

"Oi."

Dihiraukan.

"Gais."

Kecipak air. Lenguhan.

"Hoi, udahan dong."

Sekarang malah disusul desahan-desahan erotis.

Baekhyun mendongkol.

.

Kemudian dia menoleh ke Luhan sudut kantin—dan demi nanas, mendapati kakak tingkatnya tengah making-out dengan Sehun—volumenya sengaja dikeras-keraskan, seolah menolak kalah.

Gusti.

.

Tabahkanlah ia yang dikelilingi sahabat hina-hina.

.

Namun tatapannya beralih pada ponselnya setelah sebuah getaran cinta dia rasakan dari sakunya. Baekhyun meraihnya, mengusap layar dan membuka pesan. Dari Chanyeol.

.

From: Chanyeol mumumu❤

Ayoooo wazzzzap Baekkie hyung. AgY aPHa? ❤❤❤❤ miss u already (╭ ̄3 ̄)╭

.

Baekhyun tersenyum lebar, Chanyeol datang di saat yang tepat. Seolah mengingatkan Baekhyun bahwa kini dia tidak sendiri, bahwa dia punya tempat bersandar seperti dua temannya yang lain.

(dan bahwa dia bisa membalas mereka dengan making out lebih hot dengan Chanyeol nanti—pegang janji Baekhyun untuk yang satu ini.)

Dengan antusias dia mengetikan balasan.

.

To: Chanyeol mumumu❤

Lagi di cafetaria, Yeollie~ :* AWWW. Bukannya sepuluh menit yang lalu kita baru ketemu ya?

.

From: Chanyeol mumumu❤

Aku tanpamu butiran debu, hyung :*

.

To: Chanyeol mumumu❤

(≧▽≦)づ

Laf yu :*

.

From: Chanyeol mumumu❤

Laf yu too, Baekkie hyung :*

.

Senyum tulus tersungging di bibirnya.

.

.

Yah, sepertinya inilah happy ending untuk mereka—

.

"JOONMYUN—Itu tanganmu—TANGANMU JANGAN MAJU-MAJU—Mmmmhhhm."

.

—atau tidak.

.

.

.

.

Ini adalah sebuah kisah

Tentang dua lelaki sinting

Tentang smurf berekening dan kuda bunting

Yang digoyahkan oleh belaian insting

.

Mereka berdebat, nyaris tak pandang tempat

Namun rasa itu datang seenak jidat,

Menghentikan pun rasanya tak sempat

.

Mereka bertengkar, inginnya menghindar

Sampai suatu ketika mereka tersedar,

Hati mereka mulai berdebar,

.

Orang bilang ini karma,

Namun kisah ini berakhir bahagia

.

.

Mereka yang dulunya lawan,

Kini berakhir menjadi pasangan.

.

Mereka yang dulunya musuh,

Kini menjadi satu dan utuh

.

.

.


Selesai.


...


NOTE PANJANG!

ENDINGNYA GARING KRENYES KEJU GIMANA GETO IYA, ANE TAHU. MERASA GAGAL.

Aku mau ngalay nih, Yang gak kuat boleh lambai tangan ke kamera XD

Yang jelas, aku cuman mau bilang kalau... SUMPAH DEMI PISANG NANAS MANGGIS DAN EKSTRAK-EKSTRAKNYA, AKIKA NAMATIN FIC VIRTUAL BOYFRIEND, MAMAH :""" YANG JELAS AKU GAK AKAN BISA SAMPE DI CHAPTER 10 INI TANPA BANTUAN KALIAN, PARA READERS, FAVORITERS, FOLLOWERS. BAIK YANG TERANG-TERANGAN MAUPUN YANG NGUMPET NGUMPET :3.

Kalian yang syudah berbaik hati meluangkan secuil waktu berharga kalian cuman buat ngetik review ff gaje nan lenjeh punya akuh, mencet tombol fave dan follow, bahkan sampe rela ngirimin aku PM buat ngingetin updet, KALIAN EMEJING DAN ZUPERRRR SEKALI. AKU CINTA KALIAN SEMUWAH.

POKOKNYA AKU MAU NGUCAPIN TERIMA KASIH SEBANYAK-BANYAKNYA, VEROM DA BOTTOM OF MA HEART.

Maapkan dengan ending yang apa adanya tadi ya, maapkan segala kekurangan dari ff ini, baik dari segi tulisan, plot, update, dialog, deskrip, font, spasi, paragraf, titik, koma, emot—/dibekep/ sampai kelakuan absurd sksd authornya, mohon dimaafkan yaaa.

.

.

Sempet ada beberapa question (eaaaak sok nginggris) sepanjang ff ini yg baru bisa saya jawab karena mesti kelupaan -,- memang minta digaruk authornya.

Tsundere itu apa? itu sih istilah dari jepang buat menggambarkan karakter yg gak suka menunjukan perasaan aslinya ke publik, jadi semisal dia menyukai seseorang, dia bakal berbuat kebalikan dari perasaannya, misalnya kayak membully, mengacuhkan, de el. Intinya dia cenderung suka menyembunyikan perasaannya. setahu saya sih gitu LOL.

Senat disini kayak BEM ya? Ho'oh, senat disini BEM Univ yaa ^^ karena saya nulis chap 1 masih jaman susah (/GAK) jaman SMA, dan msh inonsen sama kuliah-kuliahan. Terus karena nggak pingin terlalu Indonesia banget saya ganti aja jadi senat, bukan BEM hehe. Terus bukan presiden juga tapi ketua. Pencalonannya juga bukan pasangan, tp sistemnya siapa yg menempati posisi tertinggi itu si ketua, sedangkan posisi kedua akan dijadikan si wakil, begitu. Semoga bisa diterima HAHA.

Usia Suho-Lay berapa sih? Pokoknya mereka sudah masuk kepala 2 /lupa saya

Suho kaya kok tinggal di apartemen butut? Kan Suho ingin merakyat :))))

Gak naik rate nih? /ENDAK SANGGUP BIKINNYA. Soalnya yang lain pedang-pedangan, mereka mainnya pedang beneran.

Sukses kuliah yaaa. /TERIMA KASIH T.T/ jurusan apa? jurusan Solo-Yogya /GAK/, di jurusan psikologi, sekalian rawat jalan /NGIK.

Author jenis kelaminnya apa? Saya juga gak tau *otewe ngecek*

Author orang jawa? Aaaa aku ra mudeng boso jowo

Author ada medsos? buahahaha. nanti kaget kalo liat kalemnya saya di medsos.

Author... waras? HAHA. Masih tanya... haha... ha. Ya enggaklah.

.

.

.

dipersembahkan untuk orang-orang spesial ini, yang sudah meluangkan waktu untuk ngetik review dan menggila sepanjang perjalanan Virtual Boyfriend ini. Yang setia 2 tahun sama saya. Maafkan aku yang sok ngartis dan belum sempet menyapa kalian semua secara personal. Terima kasih karena SARAN, KRITIK, REVIEW KECENYA CEMANCEMAN. KAKAK-KAKAK SEMUA YANG REVIEW TIAP CHAPTERNYA :""" TERHURA BANGET. Kurang setia apa coba sista-agan ini buat dijadiin pacar :3 Muahahaha.

.

.

.

CHAP 1:

I'm Tiramisu, reevalina, bambicheonsa, MeliZaZhang, Exoppyongs, cicaalamanda1, selvian. summer , kaijong, Xyln, mapo-gu, xoxos, joonxing, awlia sulaynis, deva tuice, Amelia Chamberlain, yuracchi , XiuBy PandaTao , Minori Anra , parkchanyeol. chanyeol.35 , Waan Mew , v-sign, Regichann, chanyy, Luminious , Slhan, Hunhanfeel , yareyare , GhostMiyasakura, YR Park , baby chapter, d , munakyumin137 Maple Fujoshi2309 , lolamoet , VinKev Rin Fujoshi'24 , Nenek , baoziben , nananunu Chendol , dunkin' dounats , Xiao yueliang , bellayoonfany , Kim Zuki , nragogi, AmbarAmbarwaty , Guest , , gtp14012000 , doomega , otpsforlife , Violet Fraise , nita , , nonnapurple , baekji , Jeseey , sendaljepit , yehethunhan , Fujiwara-je , AnjarW , Shin Min Ah , Eclaire Delange , purplexing , fitriws21 , Guest , kyeoptafadila , Tsuki Janko , VS-125 , naranari , alysaexostans , chenma , exostalker , Phylindan, BabyChennie , wasastudent , Nada Lim , kimsangraa , Laibel , Stalkers

...

CHAP 2:

parkchanyeol. chanyeol. 35 , baby , d , Maple Fujoshi2309 , lolamoet , Guest , Xiao yueliang , nragogi , AmbarAmbarwaty , Wu Fanli , , Jeseey , LeeEunin , absurd , xingsfu, madam , K. Kaitou , changlittledeer , kingradin17 , sendaljepit , haelay5 , meismonster , puplexing , xoxos , kimsangraa , VS-125 , alysaexostans , jinahyoo , wkwkwk , del10 , kiyungcu, bubblechanbaek , ia , yehethunhan , MimiJJW , lololol, naranari , Ira Putri , Phylindan , Tsuki Janko , Guest , chindrella cindy , , hyunyoung , joonxing , Kang Hyena , ChanKai Love Love , , Sheiyuki , chenma , Eclaire Delange , younlaycious88 , jxngwoo , AlmightyVict , amoebbang , Nada Lim , AnjarW

...

CHAP 3

baby, d, Maple Fujoshi2309, Lolamoet, Caplang Yeol BBH, Baoziben, Xiao yueliang , Kim Zuki , Wu Fanli , Albert , , baekji , Ms. Do12 , Senpaice , nuna , luhan, qwertyxing , mian the fujo , Guest , iridescent , Hyomilulu , BabyMoonLay , Veria-313 , Guest (Salsabila Byun), LeeEunin , ChenMinDongsaeng14 , ia , Exo fangirl , purplexing , cha yoori , bubblechanbaek , alysaexostans, heeriztator , Guest, Eclaire Delange , Guest , bambicheonsa , CHENMA , Auro Rain , Tsuki Janko , Yuyuchan EXO , uwiechan92 , evilkyung , 3K121418 , exo , delayciouslaymontea , amoebbang , kimsangraa , Ira Putri , dyakuro34-7 , bentkriss , Kimsangraa, kiyungcu , yixingjiayouuuu , joonxing , chindrella cindy , meismonster , Phylindan , oneofsquids , park eun soo , realkkeh , younlaycious88 , K. Kaitou, mimijjwkrissy , akibintin , ChanKai Love Love , ferina. refina , jxngwoo , SophiaWu , kyeoptafadila

CHAP 4:

: d , munakyumin137 , Maple Fujoshi2309 , lolamoet , baekyeoliiiii , Xiao yueliang, Kim Zuki , AmbarAmbarwaty , Wu Fanli , Rich L. Khalifa , Albert , YeoSyeo , doubleAA10 , isyarahfeni , giegie98 , krystfu , Fujoshi Panda , suhohoho , baekkie-do , renewtshn , chanbaekiss , Dea , Alexara , chenchen , yehetsehunnie , guardian-xing , Princess Zhang , gtp14012000 , shileedaelee99 , kimsangraa , Veria-313 , heeriztator , luhan , Soororo , sehunswind , ia , A Y P, chenma , HealersXing , Sheiyuki , ChanKai Love Love , masbuloh , , arr , Yuyuchan EXO , IchaByun , nur991fah , alysaexostans , bambicheonsa , Ms. Do12 , purplexing , delayciouslaymontea , chindrella cindy , lol , Kyute , 333 , Joe , noname , Guest(salsabila Byun), Eclaire Delange , doomega , aninkyuelf , ACX , HULK , Ira Putri , Guest , taolita , joonxing , Anne , joonxing , mimijjwkrissy , ferina. refina , realkkeh , exindira , Hyomilulu , qwertyxing, SodariBangYifan , Phylindan , MommyTao , younlaycious88 , ChenMinDongsaeng14 , Phcxxi, arvita. kim

...

CHAP 5:

Waan Mew , d , munakyumin137 , Maple Fujoshi2309, Xiao yueliang , Kim Zuki , jouleyang, RJ , wonwoo, daisywither, AmbarAmbarwaty samwan dakteu, ZITAO00 , Hwangjie , sydmooo , Akai Momo , PCY , MAMAHYIXING , kimsangraa , warmsweater , xing mae30 , anon , mian the fujo , kira , chichan , Guest (Salsabila Byun), ROHore , Guest , LeeEunin , Wu Fanli , hyunyoung , Eclaire Delange , Y. Sunshine , darkshad , lolita , xxx , nur991fah , seluve , ryuusukeichi , yeolatte , keyungsu , heeriztator , doubleAA10 , chindrella cindy , vanillastardust , Phylindan , luhan , zaladevita , Azura Eve , ia , Kimmie , BaekLuluDeer , doremifaseul , mimijjwkrissy , alysaexostans , Lalice Park , Yuyuchan EXO , wasastudent, Myeon , yuyu , clockwork , A Y P , chenvespa , Guest , sehunswind , KimChanBaek , D , pacarnya dancing petals {NGAKAK}, ferina. refina , Albert , taorisxoxo, chenma , JokerSii , parkdwarf , K. Kaitou , zhangurls , YeoSyeo , hibiki kurenai , aninkyuelf , Mokuji , Huang Minseok , qwertyxing , .5815 , Hyomilulu , penghulu kaisoo , Ha Eun Soo , renewtshn , evilkyung , younlaycious88 , bambicheonsa , Choi Arang , arvita. kim , exindira , AnjarW , Veria-313 , SodariBangYifan , Alexara , fuawaliyaah , Violet Fraise , realkkeh

...

CHAP 6

D, munakyumin137, Maple Fujoshi2309, lolamoet, alyasparks, BaekMomx, tiara, Sukay, sunbaenim, Guest, Senpaice, Veria-313, laliceeuuu, Wu Fanli, Fujoshiexost couple GabGra , sycarp , wuziper , myeonxing kim , hosigie , evilkyung , dunkin' dounats , ladywufan , lalaland , CuteEvil300799 , ia ,Guest , Xiao yueliang , nananunu , xiaoming , SungRin Shin , dbyhun , jouleyang , Auro Rain , Kim Zuki , ssagaji , IchaByun , Guest , exoluxione , wasastudent , Rakan , Yuyuchan EXO , aquaryoung21 , jihye , daisywither , kolorchanyeol , taekwound , Lalice Park , kira , shou.k , riztaobby , Fuji jump910 , Guest , ROHore , yeolatte , alysaexostans , Yejin Han , j12 , drabbleselu , hyunyoung , Guest , shfly9 - Kim , sehunonyo , sapphiregirl , nur991fah , , xxxsly , RJ , spring-pastel , PCY , Eclaire Delange, hunhan shipper , joonxing , Kwon Yonghwa4910 , joonstar , Sheiyuki , Myeon , exindira , doubleAA10 , AmbarAmbarwaty , SimbaRella , aninkyuelf , noonatokki , Ha Eun Soo , Ms. Do12 , Phylindan , gtp14012000, , kkkwon , qwertyxing , Cungik , ferina. refina , LeeEunin , guardian-xing , EXO12LOVE , YeoSyeo, chenma , myunicorn91 , younlaycious88 , arvita. kim , xobechan56 , A Y P

...

CHAP 7:

Carolineakim, munakyumin137, Maple Fujoshi2309 , lolamoet , Fujoshi Panda , Kim Candy , jouleyang , Fanteusey , Wu Fanli , mamik , Yuseong Han , iwaaa , baekyeoliiiii , Areumdawo , purplexing , sweetyYeollie , Black Readers , rknarz , CapLangYeollie , Ginnyeh , ia , Fuji jump910 , baoziben , akai with azul , helena , Guest , alysaexostans , nur991fah , PCY , FanFanXing , Novelee , ItsChoiDesy , yoonji01 , ariee125 , doubleAA10 , SehunGotik , guest , SodariBangYifan ,fani. icons , 94RiChan00 , Phylindan , K. Kaitou , Myeon ,nila. rachmatalazza , ROHore , alyasparks , AmbarAmbarwaty , LeeEunin , selvianakpopers290 , isyarahfeni , chanbaekiller , 98Rikeyy , XO12LOVE , darkshad , amoebbang , GabyGaluh , Choi Arang , faul , Eclaire Delange , A Y , Huang Minseok , noonatokki , chenma , LSA Princess Of EXO Planet , evilkyung , myunicorn91 , DijaminMasihPerawan , 410 , BaekMomx , jongdear

...

CHAP 8:

SunBaek, OneTen , pacarnya chanyeol , Jjjjangyogirl , Guest , chanyy , yeolcy , doomega , mbak yixing , Pegasus00 , Prxochnyl633 , choHunHan , miyah oh , byounbi , marchtaotao , Anaknya Syuman , yang menantimu , 0110JY , Mamah , chanon , faridaanggra , Jung NaeRa , carolineakim , ftyu , potato , XXCJHXX , kireina , hambaallah , sulay ship , Amelia307 , Chendol , Kim Candy , AlienBaby88 , VURRYKL , munakyumin137 , ChanKai Love , Guest , bbok eum dalk, pearlywink , ia , fujoshistan , zhanglyxing , doubleAA10, herzana00kurnia , Areumdawo , Ira Putri , shou. k , Maple Fujoshi2309 , Croissant is LUV , Black Readers , rzkxordn , chindrella cindy , Yuseong Han , lolamoet , 809 , aitalee , nur991fah , Sugus , Baek Momx , Guest , Yuyuchan EXO , K. Kaitou , laliceeuuu , reader , purplexing , VinKev Rin Fujoshi'24 KJS'11 , Gemma Gasturi , dunkin' dounats , Pisang , alysaexostans , Ms. Do12 , 97 , sunbaenim , hm , exoblush , Rich L. Khalifa , Yuseong Han , aninkyuelf , Guest , aiayanaa , LSA Princess Of EXO Planet , Richa Byun926 , chenma , DijaminMasihPerawan , younlaycious88 , Thenextholangkaya , Fanteusey , Waan Mew , Eclaire Delange , eunwoo , egiii , yuuyo , guardian-xing , Ha Eun , Kayshone , wonwoo , Soororo , myunicorn91 , fa , Oh Lu-Yan , A Y P , Hyomilulu , tantei23 , noonatokki

...

CHAP 9:

salsamutia, Sheiyuki, apersonnn, cessadyaz , 12 , Lalice Park , fujoshistan , keyungsu , Cheonsa Kim , Guest 1, Guest 2, , Black , CuteEvil300799 , kimsangraa , FufuJuseyoo , SuLYismyeverything , AlienBaby88 , OneTen , sydmooo , K. Kaitou , doomega , itsima , Kim Candy , Prxochnyl633 , KJMZYX , v-sign , r , elsaseptiana20 , doubleAA10 , UNicOrn , Guest , Yeju Yang , fitrianicute77 , hunhun , ANISEED ACORN , VinKev Rin Fujoshi'24 KJS'11 , lunev , Fujoshi Panda , Xinger XXI , Pecinta sulay , marchtaotao , aitalee , someone , fuyunghai , mumu , emay , hunhan. ylbii , nur991fah , carolineakim , Money Is Everything , Myeon , chindrella cindy , SilentB , hhmm , naeqeh , parkxbyun , Guest 3, Guest 4, lightsaber , alter. go , Anak CB , littletawn , balihooo , Eclaire Delange , Huang Minseok , purplexing , bbok eum dalk , xingmyun , parkchanyeol. chanyeol. 35 , sena407 , windxlight , A Y P , ferina. refina , qwertyxing , Guest , Hwang0203 , choHunHan , lolamoet , SLhan , chenma , herzana00kurnia , KimElsa17 , Oh Lu-Yan , myunicorn91 , Pegasus00 , Xiao yueliang , ArikaNisaXO2606 , MinieZhang , Veria-313 , aiayanaa , Phylindan , Maple Fujoshi2309 , Amelia307 , kensopu , Guest , Zahra492 , arvita. kim , guardian-xing , Sherli898 , Mokuji , Iphonenya suho , Anaknya Syuman , Waan Mew , munakyumin137 , WindHealer

...

Maapkan kalo semisal ada nama yang terlewat, cinta-cinta. soalnya kadang dari word kesini pada suka ngilang :" MAAFKEEN.

.

Dan yang udah jadi alarm updateku di Pm juga, kakanda-kakanda quh parkchanyeol. chanyeol. 35 , Estelle Wu, carolineakim

MUAH MUAH.

terima kasih sudah rela mendampingi saya—di pelaminan, coret—mendampingi saya sampe di chapter 10 ini, sayang-sayangkuh SEMUA ^^ sampai jumpa di epilog (dan ff selanjutnya, kalau ada)

CIAO, SAMPAI JUMPA. HAPPY NEW YEAR. SUKSES SELALUH.